“Kenapa ya, anak ini tidak bisa diam?”
“Kenapa setiap diberi tugas harus diingatkan berkali-kali?”
“Kenapa ada anak yang begitu percaya diri, sementara temannya sangat pendiam?”
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu hampir setiap hari ditemui guru di ruang kelas. Namun, jawaban terbaik sering kali bukan tentang anak yang bermasalah, melainkan tentang anak yang sedang bertumbuh.
Berangkat dari pemahaman tersebut, SD Islam Bintang Juara mengadakan In-House Training bertema “Milestone Perkembangan Anak SD” pada Selasa, 23 Juni 2026 bersama Bunda Vivi Psikolog. Pelatihan ini menjadi salah satu bentuk komitmen sekolah untuk memastikan setiap guru memahami bahwa setiap perilaku anak selalu memiliki alasan yang berhubungan dengan tahap perkembangannya.
Sebab, mengajar bukan sekadar menyampaikan materi. Mengajar berarti memahami siapa yang sedang belajar di hadapan kita.
Contents
Ketika Guru Memahami Tahap Perkembangan Anak
Dalam sesi pelatihan, Bunda Vivi Psikolog mengajak seluruh guru melihat kembali bagaimana anak berkembang sejak usia 7 hingga 11 tahun.
Usia sekolah dasar bukan sekadar masa ketika anak belajar membaca, berhitung, atau menghafal pelajaran. Pada masa inilah berbagai aspek perkembangan bertumbuh secara bersamaan, mulai dari fisik, bahasa, kemampuan berpikir, hingga keterampilan sosial dan emosional.
Jika guru memahami karakteristik setiap tahap perkembangan tersebut, maka pembelajaran akan menjadi jauh lebih bermakna.
Guru tidak lagi hanya bertanya, “Mengapa anak ini seperti ini?”
Namun mulai bertanya,
“Apa yang sedang berkembang dalam dirinya?”
Perubahan sudut pandang inilah yang menjadi inti dari pelatihan tersebut.
Usia 7 Tahun: Membangun Rasa Aman untuk Belajar
Bunda Vivi Psikolog menjelaskan bahwa anak usia tujuh tahun sedang berada pada fase transisi menuju dunia sekolah yang lebih serius.
Mereka mulai belajar menulis lebih rapi, mengenali simbol, memperkaya kosakata, sekaligus belajar mengikuti aturan. Namun secara sosial, anak usia ini masih membutuhkan rasa aman yang tinggi. Tidak sedikit yang masih mudah tersinggung, malu, atau memilih menyendiri ketika menghadapi situasi baru.
Karena itu guru perlu menciptakan suasana kelas yang hangat, penuh apresiasi, serta memiliki rutinitas yang jelas. Permainan kooperatif, aktivitas motorik, membaca bersama, hingga proyek sederhana menjadi cara efektif untuk membantu mereka belajar tanpa kehilangan rasa percaya diri.
Usia 8 Tahun: Energi Besar yang Perlu Diarahkan
Memasuki usia delapan tahun, energi anak meningkat pesat. Mereka senang bergerak, aktif berbicara, menyukai tantangan, dan mulai mampu menghasilkan berbagai karya sederhana.
Di sisi lain, anak juga mulai belajar bekerja sama dalam kelompok. Mereka belajar memahami aturan, menyelesaikan konflik kecil, sekaligus mengenal arti tanggung jawab.
Bunda Vivi Psikolog mengingatkan bahwa pada usia ini anak membutuhkan banyak kesempatan untuk bergerak. Karena itu aktivitas belajar tidak selalu harus dilakukan sambil duduk di bangku.
Permainan edukatif, eksperimen sederhana, proyek kreatif, hingga kegiatan luar ruang menjadi bagian penting untuk mengoptimalkan perkembangan mereka.
Usia 9 Tahun: Mulai Mengenal Diri Sendiri
Saat memasuki usia sembilan tahun, perkembangan anak mulai terlihat lebih kompleks. Mereka mulai mampu berpikir lebih logis sekaligus semakin sadar terhadap dirinya sendiri.
Di sisi lain, emosi mereka juga mulai mengalami perubahan. Ada kalanya mereka tampak percaya diri, tetapi di waktu lain mudah merasa cemas atau sensitif.
Pada tahap ini guru memiliki peran penting dalam membantu anak mengenali emosinya. Diskusi kelas, refleksi harian, proyek kolaboratif, hingga pembelajaran berbasis masalah menjadi sarana untuk melatih kemampuan berpikir sekaligus membangun empati.
Bunda Vivi juga menekankan pentingnya membangun komunikasi positif. Bahasa yang baik dari guru akan membentuk cara anak berbicara kepada dirinya sendiri maupun kepada orang lain.
Usia 10 Tahun: Saat Karakter Mulai Menguat
Anak usia sepuluh tahun mulai menunjukkan kemampuan bekerja sama yang semakin baik. Mereka menikmati diskusi, senang berbagi pendapat, dan mulai mampu melihat suatu persoalan dari berbagai sudut pandang.
Pada fase ini kemampuan berpikir abstrak mulai berkembang. Anak juga mulai menikmati kegiatan membaca lebih lama, presentasi sederhana, hingga proyek yang membutuhkan kerja sama tim.
Guru dapat memberikan lebih banyak kesempatan kepada siswa untuk memimpin kelompok, berdiskusi, menyampaikan ide, serta menyelesaikan tantangan bersama. Bukan hanya hasil akhirnya yang dihargai, tetapi juga proses mereka belajar mendengarkan dan menghargai pendapat teman.
Usia 11 Tahun: Menjelang Remaja, Membutuhkan Pendampingan Lebih Dalam
Menurut Bunda Vivi, usia sebelas tahun merupakan masa awal menuju remaja. Perubahan fisik mulai tampak. Perasaan menjadi lebih sensitif. Keinginan untuk didengar semakin besar.
Mereka mulai mempertanyakan banyak hal, memiliki argumentasi yang lebih kuat, dan ingin dipercaya. Pada saat yang sama mereka juga sedang belajar mengenali kekuatan serta kelemahan dirinya.
Karena itu pembelajaran tidak cukup hanya mengembangkan aspek akademik. Guru perlu menghadirkan ruang diskusi, refleksi, proyek kolaboratif, latihan mengambil keputusan, hingga kesempatan untuk memecahkan masalah nyata.
Dengan demikian anak belajar menjadi pribadi yang bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional.
Guru Bukan Sekadar Pengajar, tetapi Pembimbing Kehidupan
Salah satu pesan yang paling mengena dari Bunda Vivi adalah bahwa guru memiliki posisi yang sangat strategis dalam perjalanan tumbuh kembang anak.
- Guru menjadi teladan melalui sikap, ucapan, dan tindakan.
- Guru memberi ruang bagi anak untuk mencoba, gagal, lalu bangkit kembali.
- Guru bukan orang yang selalu memberikan jawaban, tetapi orang yang membantu anak menemukan jawabannya sendiri.
Karena itu keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari nilai rapor. Namun juga dari keberanian anak mencoba.
- Kemampuan bekerja sama.
- Kepedulian kepada teman.
- Rasa percaya diri.
- Dan karakter yang tumbuh setiap harinya.
Kolaborasi Guru dan Orang Tua Menjadi Kunci
Dalam pelatihan ini juga ditekankan bahwa memahami perkembangan anak bukan hanya tugas guru. Orang tua dan sekolah perlu memiliki pemahaman yang sama agar anak mendapatkan pengalaman belajar yang konsisten, baik di rumah maupun di sekolah.
Ketika guru memahami karakter anak di kelas, sementara orang tua memahami kebutuhan anak di rumah, proses pendidikan akan berjalan jauh lebih efektif. Anak merasa didukung oleh lingkungan yang memiliki tujuan yang sama.
Inilah mengapa SD Islam Bintang Juara terus mendorong budaya belajar, tidak hanya bagi siswa, tetapi juga bagi seluruh guru.
Belajar Memahami Sebelum Menilai
Pelatihan bersama Bunda Vivi Psikolog menjadi pengingat bahwa setiap anak memiliki ritme perkembangan yang berbeda.
- Ada yang cepat berbicara tetapi membutuhkan waktu lebih lama untuk mengelola emosi.
- Ada yang unggul dalam akademik tetapi masih belajar bekerja sama.
- Ada yang sangat aktif bergerak karena memang tubuhnya sedang berada pada fase perkembangan tertentu.
Semuanya membutuhkan pendampingan yang tepat, bukan perbandingan.
Melalui In-House Training “Milestone Perkembangan Anak SD”, para guru SD Islam Bintang Juara semakin diperkaya dengan wawasan tentang bagaimana menghadirkan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak.
Karena tujuan pendidikan bukan mempercepat anak menjadi dewasa. Melainkan memastikan setiap tahap pertumbuhan mereka berlangsung dengan sehat, bahagia, dan penuh makna.
Sebab ketika guru memahami perkembangan anak, setiap perilaku bukan lagi dianggap sebagai masalah. Melainkan kesempatan untuk mendampingi mereka tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, berkarakter, dan siap menghadapi masa depan.***
*Dikembangkan dari infografis rangkuman Bu Fia (Guru Kelas 6 SD Islam Bintang Juara)




