fbpx
In-House Training Pertolongan Pertama: Bekal Penting Guru Menjaga Keselamatan Anak di Sekolah

In-House Training Pertolongan Pertama: Bekal Penting Guru Menjaga Keselamatan Anak di Sekolah

“Bu Guru, Kakak jatuh…”

Kalimat sederhana itu mungkin terdengar biasa. Namun dalam hitungan detik, seorang guru harus mampu mengambil keputusan yang tepat. Haruskah anak dipindahkan? Bagaimana jika pingsan? Apa yang dilakukan ketika anak tersedak saat makan? Atau bagaimana menghentikan perdarahan sebelum tenaga medis datang?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi pengingat bahwa menjadi guru bukan hanya tentang mengajar di depan kelas. Guru juga menjadi sosok pertama yang hadir ketika anak membutuhkan pertolongan.

Berangkat dari kesadaran tersebut, SD Islam Bintang Juara menyelenggarakan In-House Training “Pertolongan Pertama Terkait Kesehatan pada Anak” pada Kamis, 25 Juni 2026. Kegiatan ini menghadirkan narasumber Pak Eka Dafid Zakaria, S.Kep., Ners, ASN Kementerian Kesehatan yang bertugas di RSUP Dr. Kariadi Semarang.

Pelatihan ini menjadi salah satu upaya sekolah dalam memperkuat kompetensi guru, sehingga mampu menciptakan lingkungan belajar yang semakin aman, sehat, dan siap menghadapi kondisi darurat.

Guru adalah Penolong Pertama Sebelum Tenaga Medis Datang

Dalam kehidupan sekolah, kondisi darurat bisa terjadi kapan saja. Anak terpeleset saat olahraga, tersedak ketika makan bersama, mengalami luka saat bermain, hingga tiba-tiba pingsan karena kelelahan.

Pada situasi seperti ini, guru menjadi first responder atau orang pertama yang memberikan bantuan sebelum anak mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.

Melalui pelatihan ini, Pak Eka menjelaskan bahwa pertolongan pertama (P3K) merupakan tindakan cepat dan tepat yang diberikan kepada korban kecelakaan maupun kondisi kegawatdaruratan sebelum mendapatkan penanganan di fasilitas kesehatan.

P3K bukan bertujuan menggantikan dokter atau tenaga medis. Sebaliknya, P3K menjadi jembatan keselamatan yang dapat mencegah kondisi korban menjadi lebih parah.

Keselamatan Anak Menjadi Tanggung Jawab Bersama

Dalam sesi pembuka, peserta diajak memahami bahwa kondisi darurat dapat terjadi di mana saja, kapan saja, dan kepada siapa saja.

Pak Eka juga menjelaskan bahwa perlindungan terhadap peserta didik memiliki landasan hukum yang jelas. Guru memiliki tanggung jawab untuk menjaga keselamatan siswa selama proses pendidikan berlangsung.

Karena itu, kemampuan memberikan pertolongan pertama bukan lagi menjadi keterampilan tambahan, melainkan bagian dari profesionalisme seorang pendidik.

Memahami Prinsip Dasar Sebelum Memberikan Pertolongan

Sebelum praktik penanganan berbagai kondisi darurat, seluruh peserta terlebih dahulu memahami tujuan utama pertolongan pertama, yaitu:

  • mencegah kecacatan maupun kondisi korban semakin memburuk,
  • menyelamatkan nyawa,
  • memberikan bantuan awal sebelum mendapatkan penanganan lanjutan.

Namun yang tidak kalah penting adalah memahami prinsip dasar sebelum menolong.

Pak Eka mengingatkan bahwa seorang penolong harus memastikan tiga hal terlebih dahulu:

  • aman bagi diri sendiri,
  • aman bagi lingkungan sekitar,
  • aman bagi korban.

Dengan memahami prinsip tersebut, guru dapat memberikan bantuan secara efektif tanpa menambah risiko baru.

Mengenal Peralatan P3K yang Wajib Dimiliki Sekolah

Pelatihan juga membahas perlengkapan dasar yang sebaiknya tersedia di kotak P3K sekolah. Di antaranya meliputi pembalut cepat, pembalut gulung, pembalut segitiga, kapas, plester, kasa steril, gunting, serta pinset.

Guru tidak hanya mengenal fungsi masing-masing alat, tetapi juga mempelajari kapan dan bagaimana menggunakannya sesuai kondisi korban. Pengetahuan sederhana ini sangat penting karena sering kali tindakan awal yang benar mampu mempercepat proses pemulihan anak.

Simulasi Penanganan Kondisi Darurat yang Sering Terjadi di Sekolah

Salah satu bagian yang paling menarik dalam pelatihan adalah pembahasan mengenai kondisi-kondisi yang paling sering dijumpai di lingkungan sekolah.

1. Penanganan Anak Pingsan

Peserta mempelajari langkah-langkah ketika menemukan anak kehilangan kesadaran sementara.

Mulai dari memindahkan korban ke tempat yang aman, melonggarkan pakaian yang ketat, memosisikan kaki lebih tinggi dari kepala, memeriksa kemungkinan adanya luka lain, hingga mengetahui kapan korban harus segera dirujuk ke rumah sakit.

Guru juga diingatkan bahwa penggunaan aroma menyengat untuk membantu mengembalikan kesadaran hanya dilakukan pada kondisi tertentu dan tidak boleh menjadi satu-satunya tindakan.

2. Cara Menolong Anak yang Tersedak

Kondisi tersedak menjadi salah satu keadaan darurat yang membutuhkan respons cepat.

Dalam pelatihan ini, guru mempraktikkan langkah awal membantu korban agar tetap batuk bila masih memungkinkan.

Jika sumbatan tidak keluar, peserta mempelajari teknik back blow (tepukan punggung) serta abdominal thrust (Heimlich maneuver) sesuai prosedur keselamatan.

Pak Eka juga menegaskan bahwa apabila sumbatan tidak berhasil dikeluarkan, korban harus segera dibawa menuju fasilitas kesehatan terdekat.

3. Penanganan Luka dan Perdarahan

Guru juga dibekali langkah-langkah sederhana ketika menghadapi luka terbuka.

Dimulai dari mencuci tangan sebelum memberikan pertolongan, menggunakan pelindung saat menangani luka, menghentikan perdarahan dengan memberikan tekanan langsung, membersihkan luka menggunakan air bersih atau cairan pembersih yang sesuai, kemudian menutup luka menggunakan kasa steril.

Materi ini sangat relevan mengingat anak-anak aktif bergerak sehingga risiko terjatuh atau terluka cukup tinggi selama kegiatan belajar maupun bermain.

4. Pertolongan Awal pada Luka Bakar

Selain luka akibat benturan, peserta juga mempelajari penanganan awal pada luka bakar.

Guru diajarkan untuk segera menghentikan sumber panas, mendinginkan area luka menggunakan air mengalir, tidak mengoleskan bahan-bahan tertentu yang belum terbukti aman, kemudian menutup luka dengan kain atau kasa steril sebelum membawa korban ke fasilitas kesehatan apabila diperlukan.

Langkah sederhana tersebut terbukti mampu mengurangi tingkat kerusakan jaringan apabila dilakukan dengan benar.

Menjadi Guru yang Sigap, Tanggap, dan Peduli

Pelatihan ini bukan sekadar menambah pengetahuan teknis mengenai kesehatan.

Lebih dari itu, kegiatan ini memperkuat budaya sekolah yang mengedepankan keselamatan peserta didik sebagai prioritas utama.

Guru tidak diharapkan menjadi tenaga medis. Namun setiap guru diharapkan memiliki kesiapan mental, ketenangan, serta kemampuan mengambil tindakan awal yang benar ketika menghadapi situasi darurat.

Ketika seluruh pendidik memiliki bekal yang sama, maka lingkungan sekolah akan menjadi tempat belajar yang semakin aman, nyaman, sekaligus memberikan rasa percaya kepada orang tua.

Sekolah Aman Dimulai dari Guru yang Terus Belajar

Di SD Islam Bintang Juara, peningkatan kompetensi guru dilakukan secara berkelanjutan, tidak hanya pada aspek pembelajaran dan pendidikan karakter, tetapi juga pada kemampuan menjaga kesehatan dan keselamatan peserta didik.

Melalui In-House Training Pertolongan Pertama Terkait Kesehatan pada Anak, para guru kembali diingatkan bahwa setiap tindakan kecil yang dilakukan dengan cepat dan tepat dapat memberikan dampak yang sangat besar bagi keselamatan anak.

Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang membantu anak menjadi cerdas. Pendidikan juga tentang memastikan setiap anak tumbuh dalam lingkungan yang aman, terlindungi, dan didampingi oleh guru-guru yang selalu siap hadir ketika mereka membutuhkan.***

*Dikembangkan dari infografis rangkuman Bu Fia (Guru Kelas 6 SD Islam Bintang Juara)

Guru yang Kompak Lahir dari Fun Hiking & Adventure Bersama

Guru yang Kompak Lahir dari Fun Hiking & Adventure Bersama

“Kalau ingin berjalan cepat, berjalanlah sendiri. Tapi kalau ingin berjalan jauh, berjalanlah bersama.”

Kalimat sederhana itu terasa begitu nyata saat seluruh guru SD Islam Bintang Juara mengikuti FUN Hiking & Adventure “Bugar Bersama Melaju ke Curug Secepit dan Kali Kesek” pada Rabu, 24 Juni 2026.

Sekilas, kegiatan ini tampak seperti agenda rekreasi. Ada touring bersama menggunakan sepeda motor, berjalan kaki menyusuri jalur alam, menikmati segarnya air terjun, hingga makan bersama di alam terbuka.

Namun di balik setiap langkah yang ditempuh, tersimpan tujuan yang jauh lebih besar: membangun tim guru yang sehat, kompak, dan siap melayani peserta didik dengan energi terbaik.

Guru yang Hebat Juga Perlu Mengisi Energi

Selama satu tahun pelajaran, guru menghabiskan begitu banyak waktu untuk mendampingi siswa.

  • Menyusun pembelajaran.
  • Menyelesaikan administrasi.
  • Mendengarkan cerita anak.
  • Menenangkan yang sedang kecewa.
  • Menyemangati yang hampir menyerah.

Semua dilakukan dengan sepenuh hati.

Karena itulah, setelah melalui berbagai rangkaian kegiatan akademik hingga akhir semester, SD Islam Bintang Juara menghadirkan sebuah momen untuk berhenti sejenak, menghirup udara segar, sekaligus mengisi kembali energi.

Bukan sekadar beristirahat. Melainkan bertumbuh bersama.

Perjalanan Dimulai dengan Semangat yang Sama

Sejak pagi, para guru berkumpul dengan semangat yang berbeda dari biasanya. Hari itu bukan membawa laptop atau perangkat mengajar. Melainkan perlengkapan perjalanan dan senyum yang tak henti mengembang.

Rombongan kemudian memulai touring bersama menuju Curug Secepit, sebuah destinasi alam yang menawarkan suasana sejuk, rimbunnya pepohonan, serta gemericik air yang menenangkan.

Perjalanan dengan sepeda motor menjadi pembuka kebersamaan. Di sepanjang jalan, canda, sapaan, dan obrolan ringan mengalir begitu alami.

Kadang, kekompakan memang tidak dibangun di ruang rapat. Tetapi justru lahir dari perjalanan sederhana seperti ini.

Memulai Hari dengan Pemanasan

Sesampainya di lokasi, seluruh peserta melakukan pemanasan bersama. Bukan tanpa alasan. Hiking membutuhkan kesiapan fisik agar tubuh tetap nyaman selama perjalanan.

Lebih dari itu, pemanasan menjadi simbol bahwa setiap tantangan selalu lebih mudah dihadapi ketika dipersiapkan dengan baik. Hal sederhana yang juga berlaku dalam dunia pendidikan.

Guru yang terus belajar dan mempersiapkan diri akan lebih siap menghadapi dinamika pembelajaran setiap harinya.

Menyusuri Jalur Menuju Curug Secepit

Langkah demi langkah mulai menapaki jalur menuju Curug Secepit.

  • Ada jalan berbatu.
  • Ada tanjakan.
  • Ada turunan.
  • Ada pula jalan setapak yang harus dilalui dengan hati-hati.

Sesekali terdengar suara, “Hati-hati jalannya.” “Pelan-pelan saja.” “Tunggu teman yang masih di belakang.”

Kalimat-kalimat sederhana tersebut menggambarkan budaya yang selama ini juga hidup di SD Islam Bintang Juara. Tidak meninggalkan yang tertinggal. Tidak berjalan sendiri. Tetapi saling memastikan seluruh anggota tim dapat mencapai tujuan bersama.

Sesampainya di Curug Secepit, rasa lelah seakan terbayar lunas. Suara air yang jatuh dari ketinggian, udara yang sejuk, dan hijaunya pepohonan menghadirkan ketenangan yang sulit ditemukan di tengah padatnya aktivitas sehari-hari.

Alam kembali mengingatkan bahwa berhenti sejenak bukan berarti berhenti bertumbuh. Justru dari jeda itulah energi baru sering lahir.

Makan Bersama, Menguatkan Kebersamaan

Setelah menikmati keindahan alam, kegiatan dilanjutkan dengan makan bersama. Tidak ada sekat. Tidak ada jabatan. Semua duduk melingkar, berbagi makanan, berbagi cerita, dan saling tertawa.

Sebelumnya para guru juga saling bertukar kado. Membuka kado dari sesama pejuang tangguh semakin menghangatkan kebersamaan hari itu.

Dalam dunia pendidikan, hubungan antarguru memiliki peran yang sangat penting. Guru yang saling mengenal dan saling mendukung akan lebih mudah bekerja sama dalam mendampingi peserta didik.

Kebersamaan sederhana seperti ini menjadi investasi yang sering kali tidak terlihat, tetapi dampaknya sangat terasa di lingkungan sekolah.

Menguatkan Hati Lewat Salat Berjamaah

Sebelum melanjutkan perjalanan ke Kali Kesek, seluruh peserta juga melaksanakan Salat Zuhur berjamaah. Momen ini menjadi pengingat bahwa di mana pun berada, hubungan dengan Allah SWT tetap menjadi prioritas utama.

Kebersamaan tidak hanya dibangun melalui aktivitas fisik. Namun juga melalui ibadah yang dilakukan bersama-sama. Inilah nilai yang selalu dihidupkan di SD Islam Bintang Juara.

Bahwa keseimbangan antara kesehatan jasmani, kebersamaan sosial, dan penguatan spiritual menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari budaya sekolah.

Menutup Perjalanan di Kali Kesek

Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Kali Kesek. Suasana yang masih asri memberikan kesempatan bagi seluruh guru untuk menikmati keindahan alam sekaligus melepas penat setelah menjalani satu tahun pembelajaran.

Di tempat ini, percakapan semakin hangat. Tidak lagi membahas pekerjaan. Melainkan cerita kehidupan, keluarga, pengalaman, hingga harapan-harapan baru untuk tahun pelajaran berikutnya.

Kadang, hubungan profesional justru menjadi semakin kuat ketika manusia di dalamnya saling mengenal sebagai pribadi.

Kebugaran yang Mendukung Profesionalisme Guru

Melalui kegiatan ini, para guru tidak hanya berolahraga. Mereka juga belajar bahwa menjaga kesehatan merupakan bagian dari profesionalisme. Guru yang sehat memiliki energi lebih untuk mendampingi peserta didik.

  • Lebih fokus saat mengajar.
  • Lebih sabar saat menghadapi tantangan.
  • Lebih bersemangat dalam menciptakan pembelajaran yang menyenangkan.

Karena itu, menjaga kebugaran bukan semata-mata untuk diri sendiri. Tetapi juga menjadi bentuk tanggung jawab dalam memberikan layanan pendidikan terbaik bagi anak-anak.

Team Building Tidak Selalu Dilakukan di Dalam Ruangan

Banyak pelatihan kepemimpinan dilakukan melalui presentasi atau diskusi. Namun pengalaman langsung sering kali memberikan pembelajaran yang jauh lebih membekas.

Dalam hiking ini, para guru belajar tentang komunikasi.

  • Belajar saling membantu.
  • Belajar menyesuaikan langkah.
  • Belajar menunggu.
  • Belajar memimpin.
  • Sekaligus belajar mengikuti.

Semua nilai tersebut merupakan fondasi penting dalam membangun budaya kerja yang sehat. Ketika guru saling percaya, koordinasi menjadi lebih mudah. Ketika komunikasi terjalin dengan baik, pelayanan kepada siswa pun akan semakin optimal.

Karena Anak Berhak Didampingi oleh Guru yang Bahagia

Fun Hiking & Adventure bukan sekadar perjalanan menuju Curug Secepit dan Kali Kesek. Lebih dari itu, perjalanan ini menjadi ruang bagi para guru untuk mengisi ulang energi, mempererat persaudaraan, sekaligus memperkuat komitmen sebagai satu tim yang memiliki tujuan yang sama.

Sebab pendidikan yang berkualitas lahir dari guru-guru yang terus belajar, menjaga kesehatan, dan saling menguatkan. Di SD Islam Bintang Juara, kebersamaan bukan hanya diajarkan kepada siswa. Tetapi juga dipraktikkan oleh para guru dalam setiap langkah perjalanan mereka.

Karena pada akhirnya, anak-anak berhak bertumbuh bersama guru-guru yang sehat, bahagia, kompak, dan selalu siap melangkah bersama menuju masa depan yang lebih baik.***

Guru Belajar Milestone Anak, agar Setiap Potensi Tumbuh Tepat Waktu

Guru Belajar Milestone Anak, agar Setiap Potensi Tumbuh Tepat Waktu

“Kenapa ya, anak ini tidak bisa diam?”

“Kenapa setiap diberi tugas harus diingatkan berkali-kali?”

“Kenapa ada anak yang begitu percaya diri, sementara temannya sangat pendiam?”

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu hampir setiap hari ditemui guru di ruang kelas. Namun, jawaban terbaik sering kali bukan tentang anak yang bermasalah, melainkan tentang anak yang sedang bertumbuh.

Berangkat dari pemahaman tersebut, SD Islam Bintang Juara mengadakan In-House Training bertema “Milestone Perkembangan Anak SD” pada Selasa, 23 Juni 2026 bersama Bunda Vivi Psikolog. Pelatihan ini menjadi salah satu bentuk komitmen sekolah untuk memastikan setiap guru memahami bahwa setiap perilaku anak selalu memiliki alasan yang berhubungan dengan tahap perkembangannya.

Sebab, mengajar bukan sekadar menyampaikan materi. Mengajar berarti memahami siapa yang sedang belajar di hadapan kita.

Ketika Guru Memahami Tahap Perkembangan Anak

Dalam sesi pelatihan, Bunda Vivi Psikolog mengajak seluruh guru melihat kembali bagaimana anak berkembang sejak usia 7 hingga 11 tahun.

Usia sekolah dasar bukan sekadar masa ketika anak belajar membaca, berhitung, atau menghafal pelajaran. Pada masa inilah berbagai aspek perkembangan bertumbuh secara bersamaan, mulai dari fisik, bahasa, kemampuan berpikir, hingga keterampilan sosial dan emosional.

Jika guru memahami karakteristik setiap tahap perkembangan tersebut, maka pembelajaran akan menjadi jauh lebih bermakna.

Guru tidak lagi hanya bertanya, “Mengapa anak ini seperti ini?”

Namun mulai bertanya,

“Apa yang sedang berkembang dalam dirinya?”

Perubahan sudut pandang inilah yang menjadi inti dari pelatihan tersebut.

Usia 7 Tahun: Membangun Rasa Aman untuk Belajar

Pola perkembangan anak 7 tahun

Bunda Vivi Psikolog menjelaskan bahwa anak usia tujuh tahun sedang berada pada fase transisi menuju dunia sekolah yang lebih serius.

Mereka mulai belajar menulis lebih rapi, mengenali simbol, memperkaya kosakata, sekaligus belajar mengikuti aturan. Namun secara sosial, anak usia ini masih membutuhkan rasa aman yang tinggi. Tidak sedikit yang masih mudah tersinggung, malu, atau memilih menyendiri ketika menghadapi situasi baru.

Karena itu guru perlu menciptakan suasana kelas yang hangat, penuh apresiasi, serta memiliki rutinitas yang jelas. Permainan kooperatif, aktivitas motorik, membaca bersama, hingga proyek sederhana menjadi cara efektif untuk membantu mereka belajar tanpa kehilangan rasa percaya diri.

Usia 8 Tahun: Energi Besar yang Perlu Diarahkan

pola perkembangan anak 8 tahun

Memasuki usia delapan tahun, energi anak meningkat pesat. Mereka senang bergerak, aktif berbicara, menyukai tantangan, dan mulai mampu menghasilkan berbagai karya sederhana.

Di sisi lain, anak juga mulai belajar bekerja sama dalam kelompok. Mereka belajar memahami aturan, menyelesaikan konflik kecil, sekaligus mengenal arti tanggung jawab.

Bunda Vivi Psikolog mengingatkan bahwa pada usia ini anak membutuhkan banyak kesempatan untuk bergerak. Karena itu aktivitas belajar tidak selalu harus dilakukan sambil duduk di bangku.

Permainan edukatif, eksperimen sederhana, proyek kreatif, hingga kegiatan luar ruang menjadi bagian penting untuk mengoptimalkan perkembangan mereka.

Usia 9 Tahun: Mulai Mengenal Diri Sendiri

pola perkembangan anak 9 tahun

Saat memasuki usia sembilan tahun, perkembangan anak mulai terlihat lebih kompleks. Mereka mulai mampu berpikir lebih logis sekaligus semakin sadar terhadap dirinya sendiri.

Di sisi lain, emosi mereka juga mulai mengalami perubahan. Ada kalanya mereka tampak percaya diri, tetapi di waktu lain mudah merasa cemas atau sensitif.

Pada tahap ini guru memiliki peran penting dalam membantu anak mengenali emosinya. Diskusi kelas, refleksi harian, proyek kolaboratif, hingga pembelajaran berbasis masalah menjadi sarana untuk melatih kemampuan berpikir sekaligus membangun empati.

Bunda Vivi juga menekankan pentingnya membangun komunikasi positif. Bahasa yang baik dari guru akan membentuk cara anak berbicara kepada dirinya sendiri maupun kepada orang lain.

Usia 10 Tahun: Saat Karakter Mulai Menguat

pola perkembangan anak 10 tahun

Anak usia sepuluh tahun mulai menunjukkan kemampuan bekerja sama yang semakin baik. Mereka menikmati diskusi, senang berbagi pendapat, dan mulai mampu melihat suatu persoalan dari berbagai sudut pandang.

Pada fase ini kemampuan berpikir abstrak mulai berkembang. Anak juga mulai menikmati kegiatan membaca lebih lama, presentasi sederhana, hingga proyek yang membutuhkan kerja sama tim.

Guru dapat memberikan lebih banyak kesempatan kepada siswa untuk memimpin kelompok, berdiskusi, menyampaikan ide, serta menyelesaikan tantangan bersama. Bukan hanya hasil akhirnya yang dihargai, tetapi juga proses mereka belajar mendengarkan dan menghargai pendapat teman.

Usia 11 Tahun: Menjelang Remaja, Membutuhkan Pendampingan Lebih Dalam

pola perkembangan anak 11 tahun

Menurut Bunda Vivi, usia sebelas tahun merupakan masa awal menuju remaja. Perubahan fisik mulai tampak. Perasaan menjadi lebih sensitif. Keinginan untuk didengar semakin besar.

Mereka mulai mempertanyakan banyak hal, memiliki argumentasi yang lebih kuat, dan ingin dipercaya. Pada saat yang sama mereka juga sedang belajar mengenali kekuatan serta kelemahan dirinya.

Karena itu pembelajaran tidak cukup hanya mengembangkan aspek akademik. Guru perlu menghadirkan ruang diskusi, refleksi, proyek kolaboratif, latihan mengambil keputusan, hingga kesempatan untuk memecahkan masalah nyata.

Dengan demikian anak belajar menjadi pribadi yang bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional.

Guru Bukan Sekadar Pengajar, tetapi Pembimbing Kehidupan

Salah satu pesan yang paling mengena dari Bunda Vivi adalah bahwa guru memiliki posisi yang sangat strategis dalam perjalanan tumbuh kembang anak.

  • Guru menjadi teladan melalui sikap, ucapan, dan tindakan.
  • Guru memberi ruang bagi anak untuk mencoba, gagal, lalu bangkit kembali.
  • Guru bukan orang yang selalu memberikan jawaban, tetapi orang yang membantu anak menemukan jawabannya sendiri.

Karena itu keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari nilai rapor. Namun juga dari keberanian anak mencoba.

  • Kemampuan bekerja sama.
  • Kepedulian kepada teman.
  • Rasa percaya diri.
  • Dan karakter yang tumbuh setiap harinya.

Kolaborasi Guru dan Orang Tua Menjadi Kunci

Dalam pelatihan ini juga ditekankan bahwa memahami perkembangan anak bukan hanya tugas guru. Orang tua dan sekolah perlu memiliki pemahaman yang sama agar anak mendapatkan pengalaman belajar yang konsisten, baik di rumah maupun di sekolah.

Ketika guru memahami karakter anak di kelas, sementara orang tua memahami kebutuhan anak di rumah, proses pendidikan akan berjalan jauh lebih efektif. Anak merasa didukung oleh lingkungan yang memiliki tujuan yang sama.

Inilah mengapa SD Islam Bintang Juara terus mendorong budaya belajar, tidak hanya bagi siswa, tetapi juga bagi seluruh guru.

Belajar Memahami Sebelum Menilai

Pelatihan bersama Bunda Vivi Psikolog menjadi pengingat bahwa setiap anak memiliki ritme perkembangan yang berbeda.

  • Ada yang cepat berbicara tetapi membutuhkan waktu lebih lama untuk mengelola emosi.
  • Ada yang unggul dalam akademik tetapi masih belajar bekerja sama.
  • Ada yang sangat aktif bergerak karena memang tubuhnya sedang berada pada fase perkembangan tertentu.

Semuanya membutuhkan pendampingan yang tepat, bukan perbandingan.

Melalui In-House Training “Milestone Perkembangan Anak SD”, para guru SD Islam Bintang Juara semakin diperkaya dengan wawasan tentang bagaimana menghadirkan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak.

Karena tujuan pendidikan bukan mempercepat anak menjadi dewasa. Melainkan memastikan setiap tahap pertumbuhan mereka berlangsung dengan sehat, bahagia, dan penuh makna.

Sebab ketika guru memahami perkembangan anak, setiap perilaku bukan lagi dianggap sebagai masalah. Melainkan kesempatan untuk mendampingi mereka tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, berkarakter, dan siap menghadapi masa depan.***

*Dikembangkan dari infografis rangkuman Bu Fia (Guru Kelas 6 SD Islam Bintang Juara)

Merancang Asesmen Bermakna: Belajar Mendalam Bersama Kombel Telaga Ilmu

Merancang Asesmen Bermakna: Belajar Mendalam Bersama Kombel Telaga Ilmu

Siang itu, suasana Perpustakaan SD Islam Bintang Juara terasa berbeda. Tidak ada suara riuh siswa seperti biasanya, namun energi yang hadir tetap terasa hidup. Para guru duduk melingkar, membawa buku catatan, laptop, dan tentu saja semangat untuk belajar. Hari itu, Selasa, 21 April 2026, menjadi salah satu momen penting dalam perjalanan peningkatan kualitas pembelajaran melalui kegiatan Kombel Telaga Ilmu dengan tema “Merancang Asesmen Pembelajaran Mendalam” bersama Bu Nawang Wulan, M.Pd., dari Litbang Yayasan Dewi Sartika.

Kegiatan ini bukan sekadar forum diskusi biasa. Ia menjadi ruang refleksi, ruang bertumbuh, sekaligus ruang untuk menyadari kembali makna sejati dari sebuah proses belajar.

Merancang Asesmen Bermakna: Bukan Sekadar Nilai

Selama ini, asesmen sering kali dipahami sebagai angka. Sebuah hasil akhir yang menunjukkan sejauh mana siswa “berhasil” dalam belajar. Namun, dalam sesi ini, perspektif tersebut perlahan digeser.

Bu Nawang membuka sesi dengan sebuah pertanyaan sederhana, namun menggugah, “Apakah asesmen yang kita lakukan benar-benar mencerminkan pemahaman anak?”

Pertanyaan itu membuat ruangan sejenak hening.

Karena pada kenyataannya, tidak semua nilai tinggi menunjukkan pemahaman yang mendalam. Dan tidak semua nilai rendah berarti anak tidak mampu. Di sinilah pentingnya merancang asesmen yang tidak hanya mengukur hasil, tetapi juga memahami proses.

Asesmen pembelajaran mendalam menekankan bahwa belajar bukan sekadar mengingat, tetapi memahami, mengaitkan, dan menerapkan.

Belajar Melihat dari Perspektif Siswa

Dalam sesi ini, para guru diajak untuk “berpindah posisi”. Tidak lagi sebagai pengajar, tetapi sebagai pembelajar.

  • Bagaimana rasanya menjadi siswa yang hanya dinilai dari angka?
  • Bagaimana rasanya ketika usaha tidak terlihat, hanya hasil yang diperhatikan?

Diskusi demi diskusi mengalir. Dari pengalaman pribadi, hingga refleksi di kelas masing-masing. Di sinilah mulai terlihat bahwa asesmen yang baik adalah asesmen yang:

  • Memberi ruang bagi proses berpikir
  • Menghargai usaha, bukan hanya hasil
  • Membantu siswa memahami dirinya sendiri

Karena sejatinya, asesmen bukan untuk menghakimi, tetapi untuk membimbing.

Menggali Makna “Pembelajaran Mendalam”

Pembelajaran mendalam bukan tentang materi yang banyak, tetapi tentang pemahaman yang kuat. Bu Nawang menjelaskan bahwa pembelajaran mendalam terjadi ketika siswa:

  • Mampu mengaitkan materi dengan kehidupan nyata
  • Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi
  • Terlibat aktif dalam proses belajar
  • Mampu merefleksikan apa yang dipelajari

Dalam konteks ini, asesmen harus selaras dengan tujuan tersebut.

Artinya, bentuk asesmen tidak harus selalu berupa tes tertulis. Bisa berupa:

  • Proyek
  • Presentasi
  • Diskusi
  • Refleksi diri
  • Observasi proses

Pendekatan ini membuka wawasan baru bagi para guru. Bahwa ternyata, banyak cara untuk “melihat” pemahaman siswa.

Dari Teori ke Praktik

Yang membuat kegiatan ini semakin bermakna adalah sesi praktik langsung. Para guru dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil. Setiap kelompok diminta untuk merancang contoh asesmen pembelajaran mendalam sesuai dengan mata pelajaran masing-masing.

Diskusi menjadi semakin hidup. Ide-ide bermunculan. Ada yang merancang asesmen berbasis proyek, ada yang membuat rubrik penilaian reflektif, ada pula yang mengembangkan asesmen berbasis studi kasus.

Menariknya, dalam proses ini, para guru tidak hanya berpikir tentang “apa yang dinilai”, tetapi juga:

  • Bagaimana cara menilai
  • Mengapa hal tersebut penting
  • Apa dampaknya bagi siswa

Di sinilah terlihat bahwa asesmen yang baik lahir dari pemahaman yang utuh.

Menguatkan Peran Guru sebagai Pembimbing

Salah satu poin penting yang ditekankan dalam kegiatan ini adalah perubahan peran guru. Guru bukan lagi sekadar pemberi materi, tetapi menjadi fasilitator, pembimbing, dan pengamat proses belajar.

Dalam asesmen pembelajaran mendalam, guru dituntut untuk:

  • Lebih peka terhadap proses belajar siswa
  • Memberikan umpan balik yang konstruktif\
  • Mendorong refleksi diri siswa
  • Menjadi teladan dalam berpikir kritis

Peran ini memang tidak mudah. Namun, justru di sinilah letak keindahannya. Karena ketika guru bertumbuh, siswa pun ikut bertumbuh.

Refleksi: Belajar Tidak Pernah Selesai

Menjelang akhir sesi, suasana kembali hening. Namun kali ini bukan karena bingung, melainkan karena penuh makna.

Setiap guru diminta untuk menuliskan refleksi pribadi:

  • Apa yang dipelajari hari ini?
  • Apa yang ingin diperbaiki ke depan?

Jawaban yang muncul begitu beragam, namun memiliki satu benang merah yang sama: keinginan untuk menjadi lebih baik.

  • Ada yang menyadari bahwa selama ini terlalu fokus pada hasil.
  • Ada yang ingin mulai memberi ruang refleksi bagi siswa.
  • Ada pula yang merasa tertantang untuk mencoba metode baru.

Dan semua itu berawal dari satu kesadaran: belajar adalah proses yang tidak pernah selesai.

Dampak Nyata bagi Pembelajaran

Kegiatan Kombel Telaga Ilmu ini bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi membawa dampak nyata bagi pembelajaran di kelas. Dengan asesmen yang lebih bermakna:

  • Siswa merasa lebih dihargai
  • Proses belajar menjadi lebih hidup
  • Guru lebih memahami kebutuhan siswa
  • Pembelajaran menjadi lebih relevan dengan kehidupan nyata

Ini bukan perubahan instan. Namun, langkah kecil yang konsisten akan membawa perubahan besar.

Menutup dengan Harapan

Belajar merancang asesmen pembelajaran mendalam mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Namun, makna yang dibawa akan terus hidup dalam setiap proses belajar di kelas. Kombel Telaga Ilmu telah menjadi ruang yang mengingatkan kembali bahwa: mengajar bukan hanya tentang menyampaikan, tetapi tentang memahami. Dan asesmen bukan hanya tentang menilai, tetapi tentang membimbing.

Semoga langkah kecil ini menjadi awal dari perubahan besar. Menuju pembelajaran yang lebih bermakna. Menuju generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga sadar akan proses belajarnya.

Karena pada akhirnya, pendidikan bukan tentang siapa yang paling cepat, tetapi siapa yang paling memahami.*** (CM-MRT)

Ruang Tumbuh Sang Guru Tangguh: Perayaan Hari Guru yang Bikin Haru

Ruang Tumbuh Sang Guru Tangguh: Perayaan Hari Guru yang Bikin Haru

Hari Guru Nasional memang jatuh setiap tanggal 25 November, tetapi di SD Islam Bintang Juara, semangat merayakannya mulai terasa berbulan-bulan sebelumnya. Ada energi yang berbeda, geliat yang pelan tapi pasti tumbuh menjadi sebuah karya besar, karya yang bukan hanya ditonton—tetapi benar-benar dirasakan: film musikal “Ruang Tumbuh Sang Guru Tangguh.”

Awal Mula: Sebuah Ide untuk Menghormati Guru

Cerita ini dimulai tiga bulan sebelum Hari Guru tiba. Di sebuah ruang diskusi sederhana, para guru dan tim kreatif SD Islam Bintang Juara sepakat: “Tahun ini, kita ingin memberi sesuatu yang berbeda.

Dari ide itulah naskah film mulai ditulis. Naskah yang tidak hanya bercerita tentang guru, tetapi tentang ruang tumbuh bagi setiap anak—ruang yang dibangun dengan cinta, kesabaran, dan ketangguhan para pendidik.

Proses Pemilihan Pemeran: Kakak Shalih-Shalihah Jadi Bintang

Dalam proses casting, anak-anak kelas 4–6 menunjukkan antusiasme yang luar biasa. Tahap demi tahap mereka jalani—mulai dari membaca dialog, mengekspresikan emosi, hingga memerankan adegan tertentu.

Setelah proses panjang, ditetapkanlah pemeran utama dan pendukung; gabungan antara kakak shalih-shalihah dan guru. Semua bersiap, bukan hanya untuk bermain peran, tetapi untuk menyampaikan pesan besar melalui seni.

Bekal Keaktoran: Belajar Langsung dari Praktisi

Agar akting semakin hidup, SD Islam Bintang Juara bekerja sama dengan Teater Lingkar, dipandu oleh praktisi teater, Om Adinar Pay (Om Pay).
Dalam beberapa sesi latihan, anak-anak belajar tentang:

  • konsentrasi,
  • penghayatan karakter,
  • ekspresi wajah,
  • koreografi,
  • hingga teknik dasar membaca dialog.

Latihan-latihan ini bukan sekadar persiapan untuk tampil, tetapi juga menjadi pengalaman berharga dalam membangun kepercayaan diri dan keterampilan komunikasi anak.

Film Musikal: Tujuh Lagu yang Menghidupkan Cerita

Film ini bukan film biasa. Ia merupakan film musikal, yang memadukan dialog dan lagu sebagai jembatan emosi.
Tak tanggung-tanggung, tujuh lagu diciptakan khusus untuk menghidupkan alur cerita. Mulai dari lagu penuh semangat, reflektif, hingga lagu yang membuat penonton menitikkan air mata.

Proses shooting berlangsung berpekan-pekan. Cuaca panas, pengulangan adegan, hingga latihan ekstra tidak menyurutkan semangat para pemain. Semua percaya bahwa karya ini akan menjadi hadiah terindah bagi guru.

Hari Penayangan: Haru yang Melebur di Ruang Lantai 2

Selasa pagi, setelah upacara Hari Guru selesai, seluruh kakak shalih-shalihah kelas 1–6 naik ke lantai 2. Layar besar telah dipasang, kursi-kursi disusun rapi. Ruangan penuh, tetapi hati terasa lebih penuh lagi.

Ketika film diputar, tawa dan haru bergantian terdengar. Anak-anak melihat teman-temannya di layar. Guru-guru melihat dedikasi mereka direkam melalui lensa kamera. Semua larut dalam rasa syukur.

Film “Ruang Tumbuh Sang Guru Tangguh” bukan sekadar tontonan, tetapi sebuah perayaan:

perayaan cinta, perayaan dedikasi, perayaan perjalanan seorang guru.

Bagi Ayah Bunda yang terlewat belum menonton filmnya, bisa menyaksikannya di sini:

Kejutan Lain: Launching Buku Antologi Puisi Guru

Belum selesai sampai di situ. Pada Hari Guru Nasional 2025, para guru dan tenaga kependidikan SD Islam Bintang Juara juga meluncurkan Buku Antologi Puisi berjudul “Lentera yang Tak Pernah Padam.”

lentera yang tak pernah padam

Buku ini berisi kumpulan puisi dari para guru—catatan hati, refleksi perjalanan mendidik, dan pesan-pesan hangat untuk peserta didik. Launching buku ini menjadi penegasan bahwa guru tidak hanya mengajar, tetapi juga berkarya, merawat pikiran, dan menghidupkan jiwa.

Penutup: Hadiah Terindah bagi Guru, Jejak Indah bagi Anak

Perayaan Hari Guru 2025 di SD Islam Bintang Juara menunjukkan satu hal: bahwa penghormatan untuk guru tidak harus berupa acara besar, tetapi bisa berupa karya yang lahir dari proses panjang, kolaborasi, berkeringat, dan saling menguatkan.

Film ini, buku puisi ini, dan seluruh proses kreatifnya adalah bukti bahwa SD Islam Bintang Juara terus melangkah bersama—guru, anak, dan keluarga—dalam satu ruang tumbuh yang penuh cinta.*** (CM-MRT)

Guru SD Islam Bintang Juara Asah Refleksi Pedagogis Bersama Bu Nawang Wulan: Mewujudkan Pembelajaran Mendalam yang Bermakna

Guru SD Islam Bintang Juara Asah Refleksi Pedagogis Bersama Bu Nawang Wulan: Mewujudkan Pembelajaran Mendalam yang Bermakna

Suasana ruang Perpustakaan SD Islam Bintang Juara pada Selasa, 14 Oktober 2025 terasa berbeda. Siang itu, para guru berkumpul dengan penuh semangat dalam kegiatan In House Training (IHT) Komunitas Belajar Telaga Ilmu. Topik yang diangkat kali ini sungguh istimewa: “Refleksi Praktik Pedagogis dalam Pembelajaran Mendalam.”

Kegiatan ini menghadirkan narasumber Bu Nawang Wulan, S.Pd., M.Pd., Koordinator Penelitian dan Pengembangan Yayasan Dewi Sartika, yang membagikan pemahaman mendalam tentang bagaimana praktik pedagogis bisa menjadi kunci untuk menciptakan pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.

Menemukan Makna di Balik Praktik Mengajar

Bu Nawang membuka sesi dengan pertanyaan reflektif,

“Apakah pembelajaran yang kita lakukan selama ini sudah sungguh-sungguh memberi ruang bagi anak untuk memahami, bukan sekadar menghafal?”

Pertanyaan sederhana itu seketika membuat para guru terdiam dan merenung. Ia kemudian menjelaskan bahwa pembelajaran mendalam bukan sekadar strategi mengajar baru, tetapi cara pandang yang menempatkan pengalaman belajar siswa sebagai pusat. Guru bukan lagi satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan fasilitator yang menuntun anak menemukan makna di setiap proses belajar.

Dalam sesi diskusi, para guru berbagi praktik baik mereka masing-masing. Salah satu guru bercerita tentang bagaimana ia menggunakan pendekatan konstruktivisme untuk membantu siswa menemukan konsep matematika melalui permainan. Guru lain berbagi praktik pembelajaran kolaboratif yang menggabungkan siswa reguler dan anak berkebutuhan khusus (ABK), sehingga tercipta suasana belajar yang inklusif dan penuh empati.

Pedagogis yang Menguatkan Profil Lulusan

Bu Nawang menegaskan bahwa praktik pedagogis dalam pembelajaran mendalam sejalan dengan 8 dimensi profil lulusan SD Islam Bintang Juara: Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan YME, Kewargaan, Penalaran Kritis, Kreativitas, Kolaborasi, Kemandirian, Kesehatan, dan Komunikasi.

Untuk mewujudkan kedelapan dimensi itu, guru perlu menghadirkan pengalaman belajar yang autentik dan kontekstual — di mana siswa tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu mengaitkannya dengan kehidupan nyata.

Dalam pembelajaran mendalam, guru dapat menerapkan berbagai model pembelajaran inovatif, seperti:

  • Project-Based Learning (PjBL)
  • Inquiry-Based Learning (IBL)
  • Problem-Based Learning (PBL)
  • Discovery Learning
  • Cooperative Learning

Model-model tersebut membantu siswa berpikir kritis, memecahkan masalah, berkolaborasi, dan berkreasi dalam konteks yang relevan dengan dunia mereka.

Salah satu ide inspiratif yang muncul dari sesi refleksi guru adalah tentang “janji persahabatan” — kegiatan yang bertujuan menumbuhkan inklusivitas di kelas agar semua siswa, termasuk ABK, merasa diterima dan dicintai. Ide-ide seperti ini menjadi bukti bahwa praktik pedagogis yang reflektif dapat melahirkan inovasi sederhana namun berdampak besar.

Refleksi, Kolaborasi, dan Transformasi Guru

Di sesi akhir, Bu Nawang mengajak guru melakukan refleksi pedagogis bersama. Melalui kegiatan ini, para guru SD Islam Bintang Juara diajak tidak hanya menilai apa yang sudah dilakukan, tetapi juga mengapa dan bagaimana mereka bisa memperbaikinya untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih baik.

Dari hasil refleksi, muncul kesadaran baru bahwa guru perlu terus bertransformasi menjadi pembelajar sejati — seseorang yang tidak berhenti belajar, berefleksi, dan berinovasi. Karena hanya guru yang terus tumbuhlah yang mampu menumbuhkan potensi terbaik dalam diri anak-anak.

Kegiatan IHT Kombel Telaga Ilmu hari itu bukan sekadar pelatihan, melainkan ruang tumbuh bersama. Di antara tumpukan buku dan diskusi yang hangat, para guru meneguhkan komitmennya:

✨ Untuk terus belajar agar bisa mendampingi kakak shalih-shalihah dengan lebih baik, lebih bermakna, dan lebih menggembirakan.

Semangat reflektif ini menjadi napas bagi SD Islam Bintang Juara — sekolah yang tak hanya mengajarkan ilmu, tapi juga menumbuhkan jiwa pembelajar sepanjang hayat, baik bagi siswa maupun para gurunya.***