by admin admin | Sep 24, 2026 | Artikel, Edukasi, Kegiatan Guru, Profil Guru
Pendidikan anak tidak hanya berlangsung di dalam ruang kelas. Ada pengalaman, interaksi, kegiatan bersama, dan berbagai proses keseharian yang ikut membentuk karakter serta kemampuan anak dalam menjalani kehidupan.
Melalui Guru Bercerita, Bu Siti Maqfiroh, S.Si., Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan sekaligus Penanggung Jawab SPMB SD Islam Bintang Juara, berbagi cerita tentang perjalanan mendampingi siswa, membangun jiwa kepemimpinan, hingga pentingnya sinergi sekolah dan orang tua dalam pendidikan.
Mengenal Bu Siti Lebih Dekat
Setiap perjalanan memiliki titik awal. Sebelum berbicara tentang kesiswaan, kepemimpinan, dan pendidikan anak, mari MinBin ajak Ayah Bunda dan kakak shalih-shalihah mengenal lebih dekat perjalanan Bu Siti bersama Bintang Juara serta hal yang membuatnya memilih untuk terus mendampingi anak-anak.
1. Bisa diceritakan perjalanan Ibu hingga mendapat amanah sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan dan PJ SPMB?
Pertemuan saya dengan Bintang Juara terjadi pada tahun 2017. Saat itu saya masih mahasiswa. Saya mendapat tawaran untuk mengisi kegiatan ekstrakurikuler di SD Islam Bintang Juara. Kemudian pada perjumpaan pertama, saya diajak untuk brainstorming dengan Bunda Vivi Psikolog, saya pun mendapat amanah menjadi guru ekstrakurikuler. Namun saat itu sifatnya masih mitra, karena saya berada di lembaga yang berbeda.
Pertama kali mengisi kegiatan ekskul, saya jatuh cinta pada pandangan pertama dengan sekolah ini. Yang saya kagumi sejak hari pertama adalah nilai-nilai yang ditanamkan ke anak-anak, walaupun saat itu SD Islam Bintang Juara belum ada bangunannya. Kemudian, setelah lulus kuliah tahun 2018 akhir, saya resmi bergabung di SD Islam Bintang Juara. Awalnya saya ditawarkan untuk membantu di pengembangan PKBM Bintang Juara.
Sebagai latihan, saya diberi amanah menjadi guru pendamping siswa berkebutuhan khusus. Kemudian, setelah itu saya mendapat amanah sebagai guru Bahasa Jawa. Selama menjadi guru pendmaping dan guru Bahasa Jawa, saya juga masih aktif untuk mengelola ekskul dan menjadi koordinator beberapa kegiatan.
Event pertama yang saya ketuai adalah kegiatan MPLS tahun 2021-2022 pada masa pandemi. Alhamdulillah di tahun 2023 SDIBJ mendapat Guru Bahasa Jawa, dan saya mendapat amanah sebagai Koordinator Bidang Kesiswaan, Humas dan SPMB hingga tahun 2026 (saat ini).
2. Apa yang membuat Bu Siti tertarik mendampingi siswa di luar ruang kelas?
Hal yang membuat saya semangat dan tertarik mendampingi siswa berkegiatan di luar kelas adalah karena begitu banyaknya ilmu yang Allah SWT hamparkan melalui beragam pengalaman di luar kelas. Saya semangat ketika mendampingi anak-anak mendapat pengalaman di lapangan, melalui praktik langsung dalam kehidupan.
Menurut saya, pembelajaran di dalam kelas bagi anak-anak itu ibarat belajar di laboratorium, di mana banyak hal yang dapat dikondisikan. Namun, ketika anak-anak berkegiatan di luar kelas melalui beragam pengalaman, seperti kunjungan ke suatu tempat, pertandingan, mengikuti pelatihan, magang, dll, disitulah karakter anak diuji dan disitulah momen mendebarkan bagi seorang guru untuk melihat perkembangan karakter anak didiknya.
3. Apa sebenarnya peran bidang kesiswaan dalam perjalanan pendidikan seorang anak?
Peran utama waka Kesiswaan adalah membantu Kepala Sekolah dalam proses merencanakan, mengkoordinasikan, membina dan melakukan evaluasi seluruh kegiatan yang berkaitan dengan peserta didik supaya berkembang secara optimal. Sehingga seluruh proses sejak awal (SPMB) hingga anak-anak lulus, tidak terlepas dari peran bidang kesiswaan.
Lebih dari Sekadar Akademik
Bagi Bu Siti, pendidikan anak tidak berhenti pada apa yang terjadi di dalam kelas. Ada iman, karakter, pengalaman, potensi, hingga berbagai keterampilan yang perlu tumbuh bersama agar anak berkembang secara utuh.
4. Menurut Ibu, apa yang perlu dibangun dari seorang anak selain kemampuan akademik?
Selain aspek akademik, tentu ada banyak sekali aspek yang perlu dibangun dari seorang anak. Hal pertama dan utama yang perlu dibangun adalah membangun kedekatan anak dengan Allah SWT (memupuk keimanan anak sejak dini).
Keimanan ini yang akan menjadi pondasi bagi orang tua dan anak untuk membangun karakter diri, kemampuan sosial dan kepemimpinan (leadership), ketahanan mental dan emosional (resilience), kemandirian dan ketrampilan hidup (life skill), serta menjadi filter diri dalam mengembangkan kreativitas dan potensi (non akademik).
5. Bagaimana sekolah membantu anak menemukan potensi, minat, dan kepercayaan dirinya?
Sebagai sebuah lembaga yang menaungi anak dengan beragam karakter dan potensi, sekolah merancang beragam program untuk melihat perkembangan potensi siswa. Baik melalui kegiatan intrakurikuler, kokurikuler atau ekstrakurikuler. Selain memberikan layanan program, tentu sekolah juga berupaya untuk membangun komunikasi dengan orang tua untuk bersama mengawal perkembangan anak dalam menemukan potensi, minat dan rasa percaya diri.
Tanpa sinergi aktif dari pihak sekolah dan orang tua, maka layanan program yang telah dirancang oleh sekolah tidak dapat tercapai secara optimal. Sebagus apapun program yang dirancang, tidak dapat terlepas dari peran orang tua untuk berpartisipasi aktif.
6. Mengapa kegiatan di luar pembelajaran seperti ekstrakurikuler, outing, dan berbagai pengalaman bersama penting bagi anak?
Kegiatan di luar kelas, sesungguhnya bukanlah kegiatan yang terpisah dengan kegiatan pembelajaran di dalam kelas. Kegiatan ini menjadi satu kesatuan dengan pembelajaran di dalam kelas dan dari pengalaman yang diperoleh anak di luar kelas akan menunjang bagaimana perkembangan anak di dalam kelas, pun sebaliknya. Setiap proses pembelajaran (baik di dalam kelas maupun di luar kelas) adalah satu kesatuan komponen yang mendukung siswa berkembang secara optimal baik dari aspek soft skill maupun hard skill.
Menumbuhkan Anak sebagai Bagian dari Komunitas
Tumbuh bersama orang lain juga merupakan bagian penting dari perjalanan anak. Di sekolah, anak tidak hanya belajar tentang dirinya sendiri, tetapi juga belajar diterima, berinteraksi, bekerja sama, dan menghadapi berbagai dinamika bersama teman.
7. Bagaimana sekolah menciptakan lingkungan yang membuat anak merasa diterima dan menjadi bagian dari komunitas?
Kunci utama dalam mewujudkan hal tersebut adalah memberikan program sesuai tahap perkembangan anak. Sehingga anak dapat berpartisipasi secara optimal. Dalam satu program besar, sekolah akan mem-breakdown program menjadi spesifik.
Misalnya, dalam kegiatan QLC (Quranic Leadership Camp), kegiatan dirancang menjadi berbeda untuk siswa kelas 3 dan siswa kelas 4-6. Kemudian dalam kegiatan Leadership Journey, dirancang sesuai kebutuhan siswa kelas 1-6.
Kegiatan bukan hanya diklasifikasikan berdasarkan perbedaan tingkatan kelas, namun secara lebih spesifik juga adalam topik-topik kegiatan disusun berdasarkan kebutuhan siswa.
8. Ketika anak menghadapi konflik dengan teman, bagaimana sekolah membantu mereka belajar menyelesaikannya?
Prinsip yang dibangun di SD Islam Bintang Juara ketika ada anak berkonflik adalah menuntaskan sebelum mereka keluar dari pintu sekolah untuk pulang. Guru akan menjadi mediator untuk siswa yang berkonflik. Budaya yang dibangun di sekolah adalah melatih seluruh warga sekolah untuk dapat memberikan informasi secara faktual. Berbekal informasi faktual yang disampaikan inilah menjadi sarana guru untuk melihat permasalahan secara objektif dan menuntaskan persoalan.
Membangun Jiwa Pemimpin Sejak Dini
Menjadi pemimpin bukan sekadar berani berdiri di depan banyak orang. Di SD Islam Bintang Juara, jiwa kepemimpinan dibangun melalui berbagai kebiasaan sederhana yang dekat dengan keseharian anak, sekaligus berlandaskan nilai-nilai Islam.
9. Bagaimana sekolah menumbuhkan jiwa kepemimpinan anak sejak usia sekolah dasar?
Sebagai sekolah yang memiliki visi untuk membangun Calon Pemimpin Muslim, SDIBJ merancang program kepemimpinan sejak anak datang hingga pulang. Ketika kita membahas tentang Jiwa Kepemimpinan, maka ini menjadi topik yang luas. InsyaaAllah seluruh program-program di SDIBJ sejak anak datang ke sekolah hingga dijemput pulang dirancang untuk menumbuhkan jiwa kepemimpinan anak.
Melatih anak menjadi seorang pemimpin, bukan hanya melatih anak untuk berani tampil di depan. Namun, bagaimana anak mampu berkembang karakter positifnya, mampu melayani dirinya sendiri (mandiri), membiasakan anak bertanggung jawab mencari solusi ketika melakukan kesalahan, bertanggung jawab dengan amanah yang diberikan, jujur (menyampaikan informasi secara faktual), dan mampu berkolaborasi dengan banyak guru dan teman adalah bekal untuk tumbuh menjadi seorang Pemimpin.
10. Apa makna “Sekolah Calon Pemimpin Muslim” dalam praktik kesiswaan sehari-hari?
Dalam praktik di Bidang Kesiswaan, Visi “Sekolah Calon Pemimpin Muslim” menjadi sebuah jangkar dalam Bidang Kesiswaan menyusun program. Setiap Program yang dirancang dipastikan memiliki ‘ruh’ untuk mengembangkan karakter Islamic Leadership peserta didik. Baik kegiatan kokurikuler atau ekstrakurikuler.
11. Bagaimana nilai-nilai Islam diterapkan dalam pembinaan siswa, bukan hanya diajarkan?
Nilai-nilai Islam di SD Islam Bintang Juara dialirkan kepada peserta didik dalam kehidupan sehari-hari di sekolah melalui kalimat pijakan. Selain melalui pijakan yang dilakukan secara intensif, juga melalui momen-momen yang telah dikondisikan, misalnya melalui insternalisasi nilai-nilai Islam melalui kegiatan pembelajaran di dalam kelas, memanfaatkan waktu-waktu transisi untuk membacakan buku dengan muatan nilai Islam, murajaah dan dengan menyediakan koleksi buku-buku bacaan berkualitas yang selaras dengan nilai-nilai ketauhidan.

Memilih Sekolah yang Sejalan dengan Visi Keluarga
Memilih sekolah merupakan salah satu keputusan penting dalam perjalanan pendidikan anak. Karena itu, sebelum melihat fasilitas maupun berbagai program, ada hal yang lebih mendasar yang perlu dipertimbangkan: apakah visi pendidikan sekolah sejalan dengan visi yang dibangun keluarga?
12. Sebagai penanggungjawab SPMB, apa yang sebenarnya ingin Ibu pahami dari sebuah keluarga sebelum mereka memilih sekolah?
Sebagai PJ SPMB hal yang penting untuk diketahui dari Ayah Bunda yang sedang mencari sekolah adalah visi pendidikan yang dibangun dalam keluarga tersebut. Karena sebagai lembaga pendidikan, sekolah berperan sebagai mitra dari Ayah Bunda yang memiliki visi yang selaras dengan sekolah. Tanpa adanya visi selaras yang diperjuangkan, maka layanan yang kami berikan tidak akan mencapai hasil optimal.
13. Menurut Ibu, apa yang sebaiknya dipertimbangkan Ayah Bunda ketika memilih sekolah dasar untuk anak?
Sekolah dasar adalah jenjang sekolah yang paling panjang perjalanannya. Selama proses menempuh pendidikan di jenjang SD, peserta didik mengalami dua masa transisi yang utama yaitu fase transisi dari anak pra sekolah menjadi siswa SD dan yang kedua adalah masa transisi dari masa pra baligh menjadi baligh.
Maka, dari dua perkembangan fitrah yang krusial ini, Ayah Bunda memilih sekolah dasar yang dapat menjadi partner terbaik untuk mengawalnya. Baik dari segi pendampingan guru, program dan layanan komunikasi yang informatif dan faktual. Karena dengan bekal 3 aspek tersebut, orang tua dapat mengawal perkembangan anak dengan tenang, insyaaAllah.
14. Selain fasilitas dan prestasi, hal apa yang menurut Ibu penting dilihat orang tua dari sebuah sekolah?
Seperti yang telah saya sampaikan pada pertanyaan sebelumnya, tiga aspek penting yang perlu Ayah Bunda lihat ketika memilih sekolah:
- Bagaimana pendampingan guru
- Program-program pendidikan dari anak datang hingga pulang
- Layanan komunikasi yang informatif dan faktual
Ayah Bunda juga bisa menggunakan prinsip 5P dalam menentukan sekolah.
Ketika Sekolah dan Orang Tua Menjadi Partner
Pendidikan anak membutuhkan perjalanan yang tidak hanya ditempuh oleh sekolah. Ketika sekolah dan orang tua hadir sebagai partner, berbagai proses pendampingan dapat dilakukan dengan komunikasi, keterlibatan, dan tujuan yang sama.
15. Bagaimana sekolah memastikan anak dan keluarga yang bergabung tidak hanya menjadi “siswa baru”, tetapi menjadi bagian dari keluarga Bintang Juara?
Bagi tim Bintang Juara, orang tua adalah partner dalam pendidikan anak. Poin pertama yang harus disadari bersama bahwasanya program pendidikan ini bukanlah program transaksional, di mana ketika orang tua sudah mengeluarkan biaya kemudian dapat terlepas dari proses-proses pendampingan.
Sekolah menempatkan orang tua sebagai partner dalam memperjuangkan layanan pendidikan terbaik untuk anak. Maka sekolah menyusun program-program juga untuk mendampingi orang tua tumbuh menjadi orang tua pembelajaran sepanjang hayat, antara lain:
- mulai dari membangun komitmen orang tua di awal penerimaan,
- melakukan pendampingan hasil asesmen perkembangan anak melalui kegiatan silaturahim dan penyerahan hasil asesmen orang tua siswa baru,
- mengundang orang tua dalam kegiatan silaturahim dan pemaparan program untuk melibatkan orang tua dalam proses pendidikan selama satu tahun pelajaran yang akan dilaksanakan,
- memberikan layanan komunikasi melalui buku komunikasi,
- menyediakan program-program parenting sesuai kebutuhan orang tua.
Melalui forum-forum ini, sekolah terbuka untuk membangun diskusi komunikasi yang sehat dengan orang tua. Sehingga harapannya orang tua merasa terlibat dan sekolah merasakan kehadiran orang tua dalam proses pendidikan anak.
16. Apa tantangan terbesar dalam mendampingi karakter anak di tengah perubahan zaman dan pengaruh lingkungan?
Tantangan terbesar dalam mendampingi karakter anak di tengah perubahan zaman dan pengaruh lingkungan adalah apabila prinsip-prinsip yang dibangun di rumah belum selaras dengan prinsip-prinsip di sekolah. Kemudian aspek kedua adalah, orang tua yang belum hadir secara utuh dalam mendampingi pendidikan anak.
17. Bagaimana sekolah bekerja sama dengan orang tua ketika anak membutuhkan pendampingan khusus dalam hal perilaku atau perkembangan sosialnya?
Ketika anak membutuhkan pendampingan khusus dalam hal perilaku atau perkembangan sosial, wali kelas akan melaporkan kepada orang tua melaui daring atau luring (sesuai kebutuhan). Wali kelas akan melakukan pengamatan selama rentang waktu tertentu, apabila tidak ada perubahan, maka pendampingan akan dilakukan oleh Kepala Sekolah. Apabila telah dilakukan pendampingan oleh Kepala Sekolah dan tidak ada progres perubahan maka akan dilakukan pendampingan orang tua oleh Psikolog Sekolah.
Dari Pengalaman Hari Ini, Menuju Pemimpin Masa Depan
Setiap pengalaman dalam mendampingi anak meninggalkan cerita dan pelajaran tersendiri. Dari berbagai pengalaman tersebut, Bu Siti melihat sebuah harapan besar: bagaimana anak-anak Bintang Juara tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, berakhlakul karimah, dan mampu memberikan manfaat di masa depan.
18. Apa momen sebagai bidang kesiswaan yang paling berkesan bagi Ibu?
Alhamdulillah setiap kesempatan memberikan pengalaman bermakna yang memiliki kesan tersendiri. Setiap fase memiliki hikmah:
- Momen SPMB menjadi momentum bertemu dengan banyak Ayah Bunda yang memiliki cerita beragam, sehingga secara tidak langsung memperkaya pengalaman hidup dari cerita-cerita yang diperoleh.
- Momen berkolaborasi dengan Kepala Sekolah dalam merancang program untuk anak dan orang tua juga menjadi momentum untuk belajar banyak hal (membaca perkembangan anak untuk menentukan program yang tepat sesuai kebutuhan, menggerakkan tim untuk ekseskusi dan melakukan evaluasi untuk terus meningkatkan layanan, dan bagaimana mengambil keputusan dengan beragam pertimbangan).
- Momen berkomunikasi dengan orang tua menjadi momentum untuk memahami cara pandang orang tua dan bagaimana menyusun program dan memberikan layanan yang dapat membantu orang tua.
19. Jika membayangkan anak-anak Bintang Juara beberapa tahun ke depan, karakter seperti apa yang ingin Ibu lihat?
Saya turut mendoakan beberapa tahun ke depan visi “Sekolah Calon Pemimpin Muslim” telah tumbuh dan berkembang menjadi profil-profil anak-anak yang menjadi pemimpin masa depan.
Anak-anak yang tumbuh percaya diri dengan segala potensi terbaiknya. Anak-anak yang dapat menginspirasi bukan hanya karena prestasi, tetapi juga karena akhlakul karimah dalam dirinya yang bersinar terang dan memberikan cahaya kebaikan untuk orang-orang yang ada dalam lingkungannya.
Saya berdoa dimanapun anak-anak berkarya ke depan, mereka mampu menjadi pribadi yang berani dengan lantang menegakkan apa yang haq dan yang batil.
20. Apa pesan Ibu untuk Ayah Bunda yang sedang mempertimbangkan sekolah terbaik sebagai tempat bertumbuh putra-putrinya?
Ayah Bunda, pendidikan jenjang SD merupakan pondasi pendidikan yang panjang waktu dan perjuangannya. Sebelum memutuskan untuk memilih sekolah, mantapkan visi keluarga, kenali lebih dalam karakter anak, dan pilih sekolah yang Ayah Bunda yakin dapat menjadi teman berjuang memberikan pondasi pendidikan terbaik. Senantiasa memohon kepada Allah untuk dipertemukan dengan sekolah terbaik untuk memberikan bekal dunia akhirat.
21. Jika harus merangkum peran Bu Siti sebagai Wakasek Kesiswaan dan PJ SPMB dalam satu kalimat, apa yang ingin disampaikan?
Terus bergerak memberikan pendidikan terbaik, untuk menyiapkan generasi Calon Pemimpin Muslim penggerak peradaban terbaik, insyaaAllah.
Pada akhirnya, mendampingi anak adalah proses yang membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Sekolah dan keluarga perlu berjalan sebagai partner agar anak tidak hanya tumbuh dengan kemampuan akademik, tetapi juga memiliki keimanan, karakter, kemandirian, dan keberanian untuk memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Seperti pesan Bu Siti, terus bergerak memberikan pendidikan terbaik untuk menyiapkan generasi calon pemimpin Muslim penggerak peradaban terbaik, insyaaAllah.
Sampai jumpa pada episode Guru Bercerita berikutnya, Ayah Bunda dan kakak shalih-shalihah!*** (CM-MRT)
by admin admin | Sep 8, 2026 | Artikel, Edukasi, Kegiatan Guru, Profil Guru
Memasuki jenjang sekolah dasar bukan hanya tentang berpindah dari satu lingkungan belajar ke lingkungan yang baru. Bagi anak, ini adalah langkah pertama menuju pengalaman belajar yang lebih luas—mengenal rutinitas baru, membangun kemandirian, berinteraksi dengan lebih banyak orang, sekaligus mulai menghadapi berbagai tantangan dalam proses belajar.
Karena itu, pembelajaran di kelas 1 membutuhkan lebih dari sekadar target akademik. Bu Yayuk Fitriani, S.Pd., Gr., Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum sekaligus Wali Kelas 1A SD Islam Bintang Juara, melihat bahwa setiap proses pembelajaran perlu dirancang dengan memahami karakteristik dan perkembangan anak. Bagi beliau, kurikulum bukan sekadar dokumen, melainkan ruh pendidikan yang menjadi ikhtiar untuk menentukan arah tumbuhnya anak sebagai calon pemimpin muslim.
Mengenal Lebih Dekat Sosok Bu Yayuk Fitriani
Setelah sebelumnya kita mengenal Bu Ni’mah lebih dekat, hari ini MinBin akan mengajak Ayah Bunda untuk berkenalan lebih dekat dengan salah satu assabiqunal awwalun lainnya dari SD Islam Bintang Juara. Yuk, kita kulik bagaimana perjalanan Bu Yayuk Fitriani bertumbuh bersama SD Islam Bintang Juara!
1. Bisa diceritakan perjalanan Ibu hingga mendapat amanah sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum sekaligus Wali Kelas 1A?
Pertama kali bergabung pada Juni 2018, SD Islam Bintang Juara akan berusia 1 tahun. Saat itu saya mendapat amanah untuk membantu Bu Ni’mah dalam mengurus perizinan SD Islam Bintang Juara. Kemudian di tahun ajaran 2018/2029 saya mulai menerima amahan untuk membersamai Kakak kelas 1 angkatan 2 dan sampai saat ini masih mendampingi Kakak-kakak kelas 1 SD Islam Bintang Juara.
2. Apa yang membuat Ibu tertarik pada dunia pendidikan dan pengembangan pembelajaran?
Bagi saya pendidikan merupakan dunia yang penuh warna dan dinamis seperti manusia. Dunia pendidikan menjadi tempat untuk terus belajar dan berkembang. Saya merasakan beragam pengalaman interpersonal dan intrapersonal diperoleh dalam dunia pendidikan. Saya berharap kehadiran saya di dunia pendidikan dapat memberikan warna, kebermanfaatan dan menjadi tempat calon pemimpin berproses.
Sudut Pandang Sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum
Selain diamanahi sebagai Wali Kelas 1A, Bu Yayuk Fitriani juga mendapat peran bermakna sebagai seorang Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum. Seperti apa ya beliau memandang sebuah kurikulum sekolah?
3. Apa arti kurikulum bagi Ibu? Apakah sekadar dokumen pembelajaran atau sesuatu yang lebih besar?
Bagi saya kurikulum bukan sekedar dokumen pembelajaran. Kurikulum adalah ruh dalam pendidikan. Dimana guru berikhtiar merancang dan menentukan arah pendidikan sebagai alat, ide dan doa yang akan digunakan untuk mencerdaskan insan manusia.
4. Ketika merancang pembelajaran, apa yang paling Ibu pertimbangkan agar sesuai dengan kebutuhan anak?
Karakteristik siswa sebagai profil serta perkembangan anak menjadi pertimbangan besar dalam merancang pembelajaran. Karena hal tersebut dapat membantu saya sebagai guru untuk menentukan stimulasi pembelajaran yang dapat diterapkan di kelas.
5. Bagaimana sekolah memastikan pembelajaran tidak hanya mengejar capaian akademik?
Pembelajaran tidak hanya berbicara tentang akademik, namun stimulasi fisik motorik bagi kelas-kelas rendah (kelas 1 – 3) juga adanya nilai-nilai ketauhidan yang butuh disampaikan dalam setiap pertemuan pembelajaran. Hal ini sejalan dan selaras dengan visi Bintang Juara yang hendak membersamai anak-anak dalam prosesnya menjadi calon pemimpin muslim yang berilmu dan berakhlakul karimah serta bermanfaat.
6. Apa makna pembelajaran yang joyful, mindful, dan meaningful bagi Ibu dalam praktik sehari-hari?
Pembelajaran yang joyful, mindful, dan meaningful dalam setiap pembelajaran dihadirkan agar anak merasakan bahwa belajar merupakan kegiatan yang menyenangkan sehingga anak dapat memperoleh hal-hal bermakna untuk dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Anak-anak diajak untuk mencintai ilmu dengan beragam aktivitas dalam pembelajaran yang tidak hanya mendengarkan guru berbicara dan mencatat namun juga kegiatan yang bermakna untuk kehidupannya saat ini dan akan datang.
7. Bagaimana sekolah memberikan ruang agar anak dapat belajar melalui pengalaman, bukan hanya mendengarkan penjelasan guru?
Sekolah tak hanya memberikan teori namun juga praktik langsung dalam pembelajaran melalui kegiatan percobaan, observasi lingkungan, diskusi dengan teman, pengamatan, wawancara dengan warga sekolah yang bahkan mulai dikenalkan sejak anak kelas 1 SD.
8. Seberapa penting memberikan kesempatan kepada anak untuk bertanya, mencoba, dan menemukan jawabannya sendiri?
Dalam setiap pembelajaran anak diberikan kesempatan untuk bergantian berpendapat. Anak dipantik oleh guru untuk menyampaikan pengalaman belajar yang telah dimiliki untuk menemukan pengalaman belajar baru dalam kelas.
9. Bagaimana kurikulum memberi ruang bagi perbedaan potensi dan gaya belajar setiap anak?
Dalam penyusunan pembelajaran kurikulum berperan untuk memberikan ragam aktivitas dengan tujuan pembelajaran yang sama. Hal ini sebagai wadah bagi anak belajar dengan stimulasi ragam gaya belajar sehingga belajar akan lebih bermakna.

Sudut Pandang Bu Yayuk Fitriani Sebagai Guru Kelas 1
Mengajar kelas awal tentu saja memiliki beragam tantangan. Yuk, kita simak lebih dalam bagaimana perjalanan bu Yayuk Fitriani mendampingi kakak shalih-shalihah melewati transisi PAUD – SD
10. Sebagai Wali Kelas 1A, apa tantangan paling menarik ketika mendampingi anak-anak yang baru memasuki jenjang SD?
Tantangan mendampingi kelas 1A muncul di awal adalah membaca pola belajar dalam proses adaptasi anak. Memahami kondisi sosial emosi anak dengan kondisi di rumah sehingga pendampingan ketika di sekolah dapat bersinergi dan menguatkan.
11. Apa yang sebenarnya perlu dibangun terlebih dahulu pada anak kelas 1 selain kemampuan membaca, menulis, dan berhitung?
Hal-hal yang mendasar yang butuh dibangun dari kelas 1 diantaranya adalah kemandirian misalnya dengan datang ke sekolah dan lancar berpisah, juga kesiapan motorik anak.
12. Bagaimana membantu anak beradaptasi dari dunia PAUD menuju kehidupan sekolah dasar?
Untuk membantu proses adaptasi anak, saya sebagai guru butuh terus menemukan formula dalam mendampingi proses diantaranya dengan bridging kurikulum. Kegiatan transisi jenjang PAUD butuh disiapkan dengan ragam stimulasi fisik, motorik dan menyisipkan materi SD. Hal ini menjadi penting untuk dikembangkan dan terus dievaluasi agar anak-anak optimal dalam belajar.
13. Bagaimana Ibu melihat hubungan antara kemandirian anak dengan keberhasilan mereka dalam belajar?
Kemandirian merupakan aspek basic yang butuh terus dipupuk. Karena kemandirian anak memberikan dampak pada kesiapan belajar yang penuh dengan tantangan kedepannya. Maka sebelum terjun pada tantangan yang lebih challenging, anak butuh kita siapkan dengan ragam kemandirian terutama dalam memenuhi kebutuhan diri seperti mudah berpisah dengan orang tua saat hari pertama, mengenali dan menjaga barang milik sendiri, berani menyampaikan kebutuhan diri pada guru seperti izin ke toilet atau izin mengisi botol minum, mulai menyiapkan perlengkapan belajar, mulai belajar mencuci alat makan yang digunakan, mulai belajar menyapu dan mengepel.
14. Ketika anak mengalami kesulitan belajar, bagaimana sebaiknya guru merespons?
Kesulitan belajar merupakan tantangan yang membutuhkan proses pendampingan. Setiap anak memiliki tantangan masing-masing dalam belajar dan berinteraksi. Sebagai guru, kita perlu mengidentifikasi kebutuhan siswa dengan melakukan beragam pendekatan. Misalnya dengan mengajak ngobrol dan menceritakan kegiatan di rumah, menanyakan perasaan di sekolah, menggali informasi tentang pendampingan orang tua dari cerita anak dan melakukan proses konfirmasi dengan orang tua agar dapat menemukan alternatif cara untuk mendampingi kesulitan yang dialami anak.
15. Bagaimana sekolah melihat kesalahan anak dalam proses pembelajaran?
Sekolah merupakan wadah untuk menerima dan memberikan rasa aman untuk terus bertumbuh. Guru sebagai orang dewasa senantiasa memberikan pijakan dan pendampingan kepada setiap proses yang sedang dialami anak. Guru memberikan ragam pijakan pada anak baik dalam berupa teladan, pijakan ilmiah melalui buku maupun nasihat yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah untuk mendampingi anak ketika melakukan kesalahan agar dapat menemukan solusi dan hikmah sehingga anak dapat berproses untuk memperbaiki diri.
16. Bagaimana nilai-nilai Islam diintegrasikan ke dalam pembelajaran sehari-hari?
Pembelajaran di SD Islam Bintang Juara yang holistik dengan perkembangan siswa, kami rancang untuk selalu terkait dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Tidak hanya pada saat materi pembelajaran Pendidikan Agama Islam & Budi Pekerti. Namun semua mata pelajaran, kegiatan dan proses interaksi anak kami upayakan untuk terhubung dengan nilai-nilai ketauhidan sesuai Al-Qur’an dan Sunnah.
Guru Ideal dan Kolaborasi dengan Orang Tua dalam Kacamata Bu Yayuk Fitriani
Seperti apa sosok guru ideal di masa sekarang menurut Bu Yayuk dan bagaimana cara beliau berkolaborasi dengan orang tua?
17. Menurut Ibu, seperti apa guru yang ideal di tengah perubahan kebutuhan anak dan perkembangan zaman?
Guru yang dapat dinamis dengan perkembangan zaman dengan menghadirkan pembelajaran yang bermakna. Mampu memilah dan terus mencoba berinovasi dalam menghadirkan pembelajaran yang update issue dan tetap membawa nilai ketauhidan. Guru yang mau mencoba menjalin kedekatan dengan anak dan orang tua demi terwujudnya pendidikan optimal bagi anak.
18. Apa peran Ayah Bunda dalam mendukung proses pembelajaran anak di rumah?
Melalui buku komunikasi tiap pekan dan penyampaian laporan hasil belajar tiap 3 bulan sekali, orang tua dapat memantau perkembangan anaknya dan memberikan pendampingan sesuai dengan catatan yang telah diberikan oleh wali kelas. Orang tua sebagai pendidik utama dapat berkontribusi aktif dalam proses tumbuh kembang serta proses belajar yang sedang dilakukan Kakak melalui kegiatan recalling di rumah.
Bahkan recalling tidak hanya ditujukan sebatas tentang pelajaran apa yang didapatkan anak namun juga sebagai proses pendampingan anak untuk menggali perasaan anak, memberikan validasi perasaan anak dan melakukan diskusi terbimbing ketika anak mengalami kesulitan. Baik kesulitan dalam bersosialisasi atau beradaptasi dengan teman, kegiatan atau pembelajaran di sekolah.
Visi dan Pesan Bermakna Bu Yayuk Fitriani untuk Kakak Shalih-shalihah dan Ayah Bunda
Menutup perbincangan MinBin dengan Bu Yayuk Fitriani, ada pesan-pesan bermakna yang beliau sampaikan untuk kakak shalih-shalihah dan ayah bunda.
19. Jika anak-anak kelas 1A kelak berada di kelas 6, perubahan seperti apa yang ingin Ibu lihat dari mereka?
Semoga Kakak kelas 1A kelak sudah mulai memahami dan mempraktikan nilai ketauhidan dengan tidak malu berbuat baik tanpa banyak pijakan, menghargai semua teman, saling membantu dalam kebaikan, kematangan emosi dengan mulai inisiatif mencari solusi ketika mengalami sebuah kendala atau tantangan. Mulai menemukan bidang yang sesuai dengan potensi yang dimiliki.
20. Apa pesan Ibu untuk Ayah Bunda yang sedang membersamai anak memasuki fase awal sekolah dasar?
Mari Ayah Bunda kita dampingi putra putri yang merupakan amanah terbesar dari Allah SWT. Mari persiapkan diri Kakak untuk memasuki masa pendidikan sekolah dasar dengan bekal kelekatan emosi sehingga proses adaptasi dan kemandirian Kakak akan lebih mudah untuk berkembang.
21. Jika harus merangkum peran Bu Yayuk sebagai Wakasek Bidang Kurikulum sekaligus wali kelas 1A dalam satu kalimat, apa yang ingin disampaikan?
Menjadi guru adalah jalan untuk terus menjadi pembelajar yang terus bertumbuh menjadi diri yang lebih baik dalam membersamai benih-benih calon pemimpin muslim masa depan.
Pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang apa yang berhasil anak kuasai, tetapi tentang siapa yang sedang mereka tumbuhkan menjadi. Kemandirian, kemampuan beradaptasi, keberanian berkomunikasi, pengalaman belajar yang bermakna, serta nilai-nilai ketauhidan menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut.
Sekolah dan keluarga pun memiliki peran yang saling menguatkan agar anak dapat melalui setiap tahap perkembangan dengan lebih siap dan percaya diri. Sebagaimana pesan Bu Yayuk, menjadi guru adalah jalan untuk terus menjadi pembelajar yang bertumbuh menjadi diri yang lebih baik dalam membersamai benih-benih calon pemimpin muslim masa depan.
Sampai jumpa pada episode Guru Bercerita selanjutnya. Ayah Bunda mau berkenalan lebih dekat dengan siapa nih?***(CM-MRT)
by admin admin | Aug 25, 2026 | Artikel, Berita, Berita Utama, Kegiatan Guru, Profil Guru
Setiap sekolah memiliki cerita tentang bagaimana ia bertumbuh, dan di baliknya selalu ada orang-orang yang terus belajar, bertanya, dan berupaya memberikan yang terbaik untuk anak. Dalam Guru Bercerita kali ini, SD Islam Bintang Juara mengajak Ayah Bunda mengenal lebih dekat Bu Nur Shofwatin Ni’mah, S.Pd., Gr., Kepala SD Islam Bintang Juara, tentang perjalanan beliau dalam membersamai sekolah, memaknai kepemimpinan, melihat potensi setiap anak, hingga membangun budaya belajar yang terus bertumbuh.
Bagi Bu Ni’mah, menjadi pemimpin bukan hanya tentang memberi arah, tetapi juga tentang melayani, mendampingi, dan bersama-sama menciptakan lingkungan pendidikan yang membuat setiap anak memiliki ruang untuk berkembang menjadi versi terbaik dirinya.
Mengenal Sosok Bu Nur Shofwatin Ni’mah
Tak sedikit ayah bunda yang baru berkenalan dengan SD Islam Bintang Juara bertanya-tanya siapakah guru-guru di balik Sekolah Calon Pemimpin Muslim Ini. Untuk mengawali proses ta’aruf ini, MinBin akan mengajak Ayah Bunda berkenalan lebih dekat dengan sosok perempuan muda yang diamanahi menjadi Kepala Sekolah.
1. Bisa diceritakan tentang diri Ibu, perjalanan sebagai pendidik, dan bagaimana akhirnya mendapat amanah sebagai Kepala SD Islam Bintang Juara?
Saat saya masih menjadi mahasiswa, saya sudah tertarik untuk mendalami lebih jauh tentang anak berkebutuhan khusus dan program pendidikan orangtua. Saya menulis karya ilmiah tentang program pendidikan orangtua yang lolos dalam pemilihan Mahasiswa Berprestasi kala itu. Waktu PPL, saya juga melakukan stimulasi pada anak yang terindikasi berkebutuhan khusus.
Di desa, saya juga mendirikan taman baca untuk murid ngaji orangtua saya. Lalu dari semua proses itu, akhirnya Allah SWT mempertemukan saya dengan Sekolah Islam Bintang Juara. Amanah pertama saya adalah sebagai guru pembimbing khusus, yang mana saya kala itu buta informasi dan ilmu, sempat merasa berat dan hampir menyerah. Lalu saya berusaha bertanya “apa maksud Allah memberi saya amanah ini.
Melalui shalat istikharah, Allah seolah mengingatkan “bukankah kamu ingin S2 dalam bidang psikologi perkembangan anak, ini diberi praktiknya langsung, kenapa mau menyerah?” Dari hasil istikharah ini, membulatkan tekad saya, bahwa amanah apapun adalah proses yang Allah berikan untuk menempa diri kita. InsyaAllah selalu ada hal baik.
Saya lalu membuat rancangan program dan timeline sebagai GPK untuk anak yang saya ampu, dari dia kelas 3 hingga lulus. Namun ternyata Allah berkehendak lain, saya hanya diberi amanah mendampingi dia selama 6 bulan. Bulan ke-7 saya diberi amanah menyusun kurikulum SD sekaligus membantu proses perizinan pendirian sekolah. Saya juga pernah memperoleh amanah sebagai guru kelas, guru mata pelajaran bahasa Jawa sembari menjadi humas yang mengelola media sosial sekolah, serta guru ngaji sekaligus pula kepala sekolah.
Alhamdulillah semua proses tersebut saya syukuri, karena dari proses itu saya banyak belajar, mendengar, mengamati, dan mencari solusi. Setiap amanah menempa saya untuk menjadi pribadi yang berkesadaran. Sadar bahwa saya makhluk Allah, sadar akan ketentuan Allah, saya bahwa saya juga makhluk sosial, sadar bahwa hidup di dunia ini berbatas waktu maka harus mengupayakan menjadi sebaik-baik manusia, meski selalu ada saja PR nya untuk diri saya sendiri.
2. Apa yang membuat Ibu memilih dan bertahan di dunia pendidikan?
Dengan berada di dunia pendidikan, saya dapat mengingatkan diri saya untuk Iqro’ sebagaimana firman Allah yang pertama. Dunia pendidikan menjadi alarm untuk diri saya, bahwa manusia itu tidak boleh berhenti belajar, dan juga harus bermanfaat. Dunia pendidikan adalah jantung dari ditumbuhkannya iman, taqwa, adab, ilmu, serta proses kebermanfaatan. Dan saya ingin selalu diingatkan dan didekatkan dengan itu. Melihat anak didik dan teman-teman guru, sebagai proses belajar untuk diri saya.
3. Apa arti menjadi Kepala Sekolah bagi Ibu—apakah lebih banyak tentang memimpin, melayani, atau mendampingi?
Menjadi kepala sekolah adalah bagian dari proses menempa diri, sebuah amanah untuk memperluas peran, dari mendidik diri, mendidik anak biologis, mendidik anak ideologis serta sarana untuk hablun minannaas. Menjadi kepala sekolah itu tidak hanya tentang memimpin, melayani, atau mendampingi, ketiganya tentunya menjadi poin penting yang harus saya perankan dalam menjalankan amanah ini. Namun menjadi kepala sekolah tidak akan terlepas dari poin memberikan teladan, dengan teladan maka saya dapat memimpin dengan arah, melayani dan mendampingi dengan hati yang diniatkan karena Allah.
Selama proses saya menjadi guru, saya belajar bahwa mendidik membutuhkan kesabaran, kasih sayang, ketegasan, sekaligus kehadiran. Nilai-nilai itulah yang saya bawa ketika menjalankan amanah sebagai Kepala Sekolah. Saya tidak hanya ingin menjadi orang yang memberikan arahan, tetapi juga seseorang yang mampu hadir, mendengarkan, memahami, dan menguatkan. Jadi, jika ditanya apakah menjadi Kepala Sekolah lebih banyak tentang memimpin, melayani, atau mendampingi, bagi saya jawabannya adalah ketiganya tidak dapat dipisahkan.
Saya memimpin untuk memberi arah, melayani untuk menumbuhkan kepercayaan, dan mendampingi untuk menumbuhkan potensi. Menjadi Kepala Sekolah adalah sebuah amanah untuk menghadirkan perubahan yang bermakna, bukan hanya membuat sekolah menjadi lebih baik, tetapi membuat orang-orang di dalamnya merasa dihargai, didukung, bertumbuh, dan memiliki harapan. Saya ingin menjalankan amanah itu dengan memaknai bahwa setiap anak yang hadir di sekolah adalah titipan yang harus kita jaga, setiap guru adalah mitra yang harus kita kuatkan, dan setiap langkah kecil menuju kebaikan adalah bagian dari proses pendidikan.
Bagaimana Bu Nur Shofwatin Ni’mah Memandang Anak
4. Ketika melihat seorang anak, hal pertama apa yang ingin Ibu lihat selain kemampuan akademiknya?
Hal pertama yang ingin saya lihat adalah siapa dia dan bagaimana dia. Siapa dia artinya saya butuh mengenal identitas diri (nama, tempat tinggal, hal yang disukai, hal yang tidak disukai, saudara, dan teman).
Saya juga butuh mengenali kondisi emosi yang muncul pada dirinya, serta kemampuannya dalam mengidentifikasi kebutuhan diri. Sedangkan bagaimana dia, adalah saya butuh memahami bagaimana cara dia memberi respon kepada lingkungan termasuk benda-benda di sekitar serta orang yang ditemui. Sejauh mana kemampuan dia dalam beradaptasi, meregulasi diri, sehingga tumbuh kemauan untuk mau belajar dan akhirnya mampu menyesuaikan.
5. Menurut Ibu, seperti apa anak yang disebut “juara” di SD Islam Bintang Juara?
Anak juara adalah anak yang tumbuh menjadi versi terbaik dari dirinya, berkembang dari pondasi awal tahap perkembangan mereka. Anak yang berhasil beradaptasi pada proses transisi TK ke SD, anak yang berhasil bangun lebih awal untuk shalat subuh, anak yang berhasil memutuskan berbagi makanan untuk teman yang sedang lapar atau tidak membawa bekal, anak yang siap mengantri, anak yang siap berkata sesuai fakta, anak yang meminta maaf saat salah, meminta tolong saat mengalami kesulitan, anak yang mengucapkan terimakasih saat dibantu, anak yang berhasil mengatasi rasa takut, rasa malas, anak yang mengingat Allah dimanapun mereka berada, anak yang berhasil mengambil hikmah dari proses belajar mereka. Itu adalah beberapa deskripsi anak juara.
6. Bagaimana sekolah memastikan setiap anak memiliki ruang untuk berkembang sesuai potensi dan karakternya masing-masing?
Pada tahap awal kami berupaya mengenal setiap siswa melalui kegiatan profiling perkembangan baik aspek spiritual, sensori motorik, bahasa dan komunikasi, tahap kegiatan main, dan kognitif. Hasil pemetaan itu menjadi pijakan bagi guru dalam mendampingi dan merancang pengalaman belajar yang lebih tepat bagi mereka. Ruang tumbuh itu juga kami hadirkan tidak hanya melalui akademik.
Anak diberi kesempatan menemukan dan mengembangkan minat serta bakatnya melalui berbagai kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler, sementara pembelajaran akademik menggunakan beragam pendekatan seperti Project Based Learning, Problem Based Learning, Discovery Learning. Jadi anak memiliki banyak pintu untuk menunjukkan bahwa dirinya mampu dan berharga.

Memimpin Berlangsungnya Pembelajaran di SD Islam Bintang Juara
7. Apa yang ingin Ibu pastikan selalu hadir dalam setiap proses pembelajaran di SD Islam Bintang Juara?
Yang ingin saya pastikan selalu hadir dalam setiap proses pembelajaran adalah ruhiyyah guru yang menyemai makna, memberi kasih sayang dan kesempatan untuk bertumbuh. Setiap anak memperoleh ruang untuk mencintai proses belajar, mencintai dan mengenal diri dan perannya, mengenal Allah sebagai tuhannya dan memiliki keberanian untuk menjadi pribadi yang bermanfaat.
8. Bagaimana sekolah menjaga agar pembelajaran tidak hanya mengejar nilai, tetapi tetap joyful, mindful, dan meaningful?
Pada proses perancangan pembelajaran adaptif, kami menjadwalkan program diskusi guru berbasis tahap perkembangan anak. Ini adalah moment quality control dari tim manajemen sekolah untuk implementasi pembelajaran agar tetap joyful, mindful, meanningful. Kami memfasilitasi anak untuk tidak selalu belajar dengan duduk, mendengar, dan mengerjakan soal. Mereka dapat belajar melalui eksperimen, permainan, seni, proyek, eksplorasi lingkungan, diskusi, bahkan kegiatan di luar kelas misalnya magang adab. Dengan begitu, mereka mengalami sendiri proses menemukan pengetahuan serta memaknai pengetahuan yang mereka peroleh.
9. Bagaimana nilai-nilai Al-Qur’an dan Hadits diterjemahkan dalam kehidupan sekolah sehari-hari, bukan hanya dalam pelajaran agama?
Kami berupaya menanamkan nilai-nilai tersebut melalui pembiasaan dan keteladanan dalam keseharian dari anak kami terima hingga dijemput orangtua. Anak belajar adab kepada Allah melalui doa, ibadah, rasa syukur, dan kecintaan kepada Al-Qur’an. Mereka belajar adab kepada guru dengan menghormati dan mendengarkan. Mereka belajar adab kepada teman dengan berbagi, bekerja sama, menjaga perasaan, meminta maaf, dan menolong.
Adab, doa, hadits, surah-surah dalam Al Qur’an bukan hanya untuk dihafal, namun diterapkan selama anak berada di sekolah. Kami juga berusaha agar anak tidak berhenti pada pertanyaan ‘apa hukumnya?’, tetapi sampai pada ‘mengapa Allah mengajarkan ini kepada kita, dan bagaimana saya mengamalkannya?
Misalnya ketika belajar tentang qurban, anak tidak hanya mengetahui sejarah dan tata caranya, tetapi diajak memahami nilai ikhlas, pengendalian diri, berbagi, dan ketaatan kepada Allah. Nilai tersebut kemudian dihubungkan dengan kehidupan mereka—saat bermain, membantu orang tua, menghormati guru, maupun berbagi dengan sesama.
Cara Bu Ni’mah Memimpin Guru dan Budaya Sekolah
10. Menurut Ibu, seperti apa guru yang ideal untuk mendampingi anak-anak di zaman sekarang?
Guru yang ideal untuk anak zaman sekarang adalah guru yang mau terus belajar, terbuka terhadap ilmu, terbuka terhadap setiap tahap perkembangan anak, kuat secara tauhid. Guru yang hangat tetapi tegas, dekat dengan siswa tetapi memiliki batas, mampu mengajar dan juga mampu mendengarkan. Guru yang tidak terburu-buru memberi label ketika anak sulit memahami informasi atau melakukan kesalahan. Guru yang melihat potensi sebelum melihat kekurangan siswa. Guru yang berhasil menyadari bahwa dirinya dan siswanya sedang sama-sama berproses untuk belajar.
11. Bagaimana Ibu membangun budaya agar guru juga terus belajar dan berkembang?
Kami memfasilitasi guru dengan diadakannya komunitas diskusi yang rutin dilakukan, minimal satu kali dalam satu pekan, yang didampingi langsung oleh Psikolog Sekolah atau Kepala Sekolah atau Koordinator Litbang Yayasan. Selain itu pada komunitas diskusi tersebut, guru dapat saling berbagi, baik tantangan maupun praktik baik yang telah dilakukan. Kepala sekolah, litbang atau psikolog sekolah bertindak sebagai pemimpin pembelajaran dan teladan dalam proses belajar tersebut.
Kami saling sharing program pelatihan bermakna untuk dapat diikuti, ketika ada guru yang tuntas mengikuti pelatihan atau seminar juga ada sesi desiminasi kepada guru lain. Dimana kami berada, disitu adalah area diskusi kami. Literatur yang mendukung baik berupa buku atau literatur digital lain juga kami sharingkan.
12. Apa yang paling Ibu jaga dalam budaya kerja dan budaya belajar di sekolah?
Yang saya upayakan jaga dalam budaya kerja dan belajar adalah saling menghormati, saling berkomunikasi yang sifatnya membangun dan semangat untuk bertumbuh, menguatkan, serta saling mengambil hikmah atau pembelajaran hidup. Saya ingin sekolah menjadi tempat di mana guru merasa aman untuk belajar, bertanya, menyampaikan pendapat, mencoba hal baru, bahkan mengakui ketika ada sesuatu yang belum berhasil.
Begitu juga anak-anak. Mereka harus merasa aman untuk bertanya, mencoba lagi, dan menjadi dirinya sendiri. Bagi saya, sekolah yang sehat adalah sekolah di mana orang dewasa di dalamnya juga merasa bertumbuh, dihargai, dan memiliki tujuan yang sama sehingga dapat memberikan yang terbaik untuk anak didiknya.
Kolaborasi Sekolah dan Keluarga
13. Mengapa kolaborasi antara sekolah dan Ayah Bunda menjadi penting dalam pendidikan anak?
Karena anak tumbuh tidak hanya dalam lingkungan sekolah, namun lingkungan rumah juga menjadi lingkungan utama dalam proses pendidikan mereka. Orang tua adalah orang yang paling mengenal anak dalam kehidupan sehari-hari, sementara guru memiliki perspektif dari pengalaman anak di lingkungan belajar. Ketika dua perspektif ini dipertemukan, kita bisa memahami anak secara lebih utuh. konsistensi antara rumah dan sekolah sangat penting dalam pembentukan karakter.
Nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, adab, kemandirian, kepedulian, dan disiplin tidak cukup diajarkan melalui satu mata pelajaran. Anak perlu melihat nilai itu dipraktikkan secara konsisten dalam kesehariannya. Maka jika kolaborasi berjalan dengan baik, sekolah dan rumah adalah laboratorium utama yang mematangkan proses pendidikan mereka.
14. Apa yang paling Ibu harapkan dari Ayah Bunda dalam membersamai pendidikan putra-putrinya?
Hal yang saya harapkan adalah kehadiran ayah bunda. Tidak hanya hadir secara fisik, tapi juga hadir dengan perhatian, pengertian dan doa serta hadir menanamkan tauhid. Saya berharap kita sebagai orangtua tidak terburu-buru menasehati sebelum memberikan teladan, tidak terburu-buru menuntut sebelum mengajak banyak mendengarkan dan menggali kebutuhan anak-anak, tidak terburu-buru membandingkan dengan anak lain. Tetapi kita menjadi orangtua yang melihat, menemani dan menghargai setiap proses tumbuh kembang anak kita.
Saya juga berharap kita bisa menjadi teladan dalam menanamkan tauhid dalam ruhiyyah kita serta anak kita. Tugas kita adalah membantu mereka menemukan potensi terbaik yang Allah titipkan dalam dirinya, menumbuhkannya dengan ilmu dan akhlak, lalu mempersiapkan mereka agar kelak mampu menjadi manusia yang bermanfaat. Mari kita membersamai anak, bukan sekadar mengarahkan mereka.
Mari berjalan di samping mereka, bukan selalu berjalan di depan mereka. Karena anak-anak tidak hanya membutuhkan orang dewasa yang menunjukkan jalan, tetapi juga orang dewasa yang bersedia menemani perjalanan.

Tantangan dan Refleksi Sebagai Kepala SD Islam Bintang Juara
15. Apa tantangan terbesar memimpin sekolah di tengah perubahan zaman dan kebutuhan anak yang terus berkembang?
Tantangan terbesar memimpin sekolah di tengah perubahan zaman adalah bagaimana kami bisa terus bergerak maju tanpa mematikan akar filosofi. Anak-anak kita tumbuh di dunia yang sangat cepat berubah. Teknologi berkembang, informasi begitu mudah diakses, cara anak berkomunikasi berubah, kebutuhan belajarnya pun semakin beragam. Sekolah tidak bisa mendidik anak hari ini dengan cara yang sepenuhnya sama seperti mendidik anak sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu. Tetapi di tengah semua perubahan itu, ada hal-hal yang tidak boleh ikut berubah: iman, adab, akhlak, kejujuran, rasa tanggung jawab, kepedulian, dan kecintaan kepada Allah.
Tantangan saya sebagai kepala sekolah adalah bagaimana nilai-nilai yang fundamental itu tetap kuat, sementara cara kita menghadirkannya kepada anak terus kita inovasikan. Tantangan berikutnya adalah memahami anak sebagai pribadi yang terus berkembang. Tidak ada satu pendekatan yang cocok untuk semua anak. Setiap anak memiliki potensi, karakter, kebutuhan, dan ritme perkembangan yang berbeda. Maka guru juga harus terus belajar agar tidak hanya menguasai materi, tetapi mampu membaca kebutuhan anak.
Di sinilah saya melihat bahwa memimpin sekolah sebenarnya adalah juga memimpin proses belajar orang-orang dewasa di dalamnya. Saya harus memastikan guru memiliki ruang untuk bertumbuh, mencoba pendekatan baru, dan saling belajar. Karena kita tidak mungkin meminta anak menjadi pembelajar sepanjang hayat jika gurunya sendiri berhenti belajar.
Tantangan lainnya adalah menjaga keseimbangan antara prestasi dan proses tumbuh kembang anak. Kita tentu ingin anak-anak berprestasi. Tetapi saya tidak ingin angka dan pencapaian membuat kita lupa bahwa mereka adalah anak-anak yang sedang tumbuh. Mereka membutuhkan ruang untuk bermain, bertanya, mencoba, beristirahat, membangun pertemanan, dan mengenal dirinya sendiri. Anak bukan proyek yang harus segera selesai. Mereka adalah amanah yang proses tumbuhnya perlu kita hormati.
Karena itu, bagi saya, menjadi kepala sekolah di zaman sekarang membutuhkan dua hal sekaligus: keberanian untuk berubah dan kebijaksanaan untuk tahu apa yang boleh dan tidak boleh berubah. Jadi, tantangan terbesar bukan bagaimana membuat sekolah terlihat paling modern. Tantangannya adalah bagaimana membuat sekolah tetap relevan dengan zamannya, tetapi tetap memiliki akar yang kuat.
Dan saya berharap SD Islam Bintang Juara menjadi sekolah yang seperti itu: akarnya kuat pada iman dan nilai-nilai Islam, tetapi cabang-cabangnya terus tumbuh mengikuti kebutuhan zaman.
Karena dunia yang akan dimasuki anak-anak kita mungkin belum bisa kita prediksi. Tetapi kita bisa mempersiapkan mereka dengan bekal yang tidak lekang oleh zaman: iman yang kokoh, akhlak yang baik, kemampuan belajar, keberanian menghadapi perubahan, dan hati yang selalu ingin memberikan manfaat.
16. Ketika sebuah program atau kebijakan sekolah tidak berjalan sesuai harapan, bagaimana Ibu menyikapinya?
Ketika sebuah program atau kebijakan tidak berjalan sesuai harapan, maka hal yang saya lakukan adalah bertanya pada diri saya sendiri “Apa yang dapat kami pelajari dari situasi ini?”
Saya ingin membangun budaya di mana evaluasi bukan ruang untuk menghakimi, tetapi ruang untuk belajar. Guru dan tim perlu merasa aman untuk mengatakan, ‘Bagian ini belum berjalan’, tanpa takut langsung disalahkan. Dari sana kami bisa melihat data, mendengarkan pengalaman guru, melihat respons anak, dan bila diperlukan meminta masukan dari Ayah Bunda. Setelah itu, kami mencoba membedakan: apa yang perlu diperbaiki, apa yang perlu disederhanakan, apa yang perlu dihentikan, dan apa yang justru perlu dilanjutkan dengan cara yang berbeda.
Saya juga berusaha menjaga agar evaluasi tetap kembali pada pertanyaan utama: “Apakah ini benar-benar memberikan dampak baik bagi anak?” Karena program sekolah bukan dibuat untuk membuat sekolah terlihat sibuk atau memiliki banyak kegiatan. Setiap kebijakan seharusnya bermuara pada tumbuh kembang anak.
Sebagai kepala sekolah, saya pun harus siap menerima bahwa tidak semua keputusan saya selalu benar. Memimpin bukan berarti harus selalu memiliki jawaban. Kadang-kadang justru kita perlu mengatakan, “Mari kita lihat lagi. Mungkin ada cara yang lebih baik. Bagaimana menurut analisa bapak ibu guru?” Saya ingin guru-guru juga belajar bahwa refleksi adalah bagian dari profesionalitas. Kita mencoba, mengamati, mengevaluasi, memperbaiki, lalu mencoba lagi. Begitu pula dalam mendampingi anak. Karena sekolah yang baik bukan sekolah yang tidak pernah mengalami kegagalan. Sekolah yang baik adalah sekolah yang mau belajar dari setiap kegagalan dan terbuka untuk memperbaiki diri.
17. Apa hal yang paling membuat Ibu merasa “inilah alasan saya menjadi pendidik”?
Ketika menjadi pendidik, saya senantiasa menyiapkan cermin di depan diri saya, bahwa saya harus terus mendidik diri. Dengan menjadi pendidik berarti saya diberi kesempatan untuk hadir pada fase kehidupan seseorang yang sangat penting. saya ikut menyaksikan ketika seorang anak sedang mencari tahu siapa dirinya, apa yang ia sukai, apa yang ia mampu, bagaimana ia menghadapi kesulitan, bagaimana ia memperlakukan orang lain, dan bagaimana ia belajar menjadi manusia.
Saya melihat setiap anak di sekolah bukan hanya sebagai siswa. Saya membayangkan, mereka adalah anak yang juga sangat dicintai oleh Ayah Bundanya. Ada keluarga yang menitipkan harapan kepada kami. Ada orang tua yang percaya bahwa sekolah akan membantu anaknya tumbuh menjadi pribadi yang baik.
Maka ketika melihat seorang anak berkembang meskipun mungkin hanya dalam hal kecil, saya merasa bahwa amanah ini begitu berharga. Ada anak yang hari ini akhirnya berani tampil di depan kelas. Ada yang mulai mampu meminta maaf. Ada yang belajar berbagi. Ada yang sebelumnya selalu mengatakan ‘aku tidak bisa’, kemudian mau mencoba sekali lagi. Ada yang menemukan bahwa ternyata ia memiliki bakat yang selama ini belum ia sadari.
Hal-hal kecil itulah yang sering kali menjadi kemenangan terbesar seorang pendidik. Ketika ia semakin dekat dengan Allah, semakin menghormati orang lain, semakin mandiri, dan mulai bertanya, ‘Apa yang bisa saya lakukan untuk membantu?’ Di situlah saya merasa bahwa pendidikan sedang benar-benar terjadi. Semoga dengan menjadi pendidik, saya ikut menyalakan cahaya kecil dalam diri setiap anak, membantu mereka percaya bahwa mereka berharga, mereka mampu, dan Allah menitipkan sesuatu yang istimewa dalam diri mereka.
Visi dan Pesan Bermakna Bu Ni’mah untuk Kakak Shalih-shalihah dan Ayah Bunda
18. Jika suatu hari anak-anak yang sekarang belajar di sini sudah dewasa, seperti apa sosok yang ingin Ibu lihat dari mereka?
Saya berharap dimanapun mereka berada kelak, mereka membawa jejak dari nilai-nilai yang pernah mereka dapatkan di sekolah, berupa iman, akhlak, kemauan untuk belajar, peduli dan yakin bahwa dirinya mampu memberikan manfaat. Semoga mereka menjadi pribadi yang dekat dengan Allah, anak yang ketika memiliki ilmu, tidak menjadikannya alasan untuk merasa lebih tinggi, justru semakin rendah hati dan semakin ingin bermanfaat. Menjadi orang yang percaya diri tetapi tidak sombong, mampu memimpin tetapi juga mau melayani, memiliki prinsip tetapi tetap terbuka untuk belajar, teguh dan tangguh saat menghadapi tantangan.
19. Apa yang ingin Ibu wariskan kepada SD Islam Bintang Juara selama mendapat amanah sebagai Kepala Sekolah?
Kalau suatu hari nanti amanah saya sebagai Kepala Sekolah di Bintang Juara selesai, saya berharap tidak hanya meninggalkan program atau capaian. Saya ingin meninggalkan budaya. Budaya yang membuat setiap orang di sekolah memaknai bahwa setiap anak adalah amanah, setiap anak memiliki potensi, dan setiap anak berhak bertumbuh dengan cara terbaiknya.
Saya juga ingin meninggalkan budaya belajar dan bertumbuh bersama. Saya berharap guru-guru di Bintang Juara tidak pernah merasa bahwa mereka sudah selesai belajar. Mereka terus belajar, mencoba, memperbaiki, dan saling menguatkan. Karena sekolah yang baik bukan sekolah yang merasa sudah hebat, tetapi sekolah yang selalu merasa masih punya ruang untuk menjadi lebih baik.
Saya ingin budaya kerja yang saya tinggalkan adalah budaya yang memiliki standar yang tinggi, tetapi tidak kehilangan empati. Kita boleh mengejar prestasi, tetapi jangan mengorbankan proses tumbuh anak. Kita boleh berbeda pendapat, tetapi tetap saling menghormati.
Saya juga berharap dapat meninggalkan budaya kolaborasi yang kuat dengan Ayah Bunda. Bahwa sekolah dan keluarga bukan dua pihak yang saling menuntut, tetapi dua pihak yang bergandengan tangan karena memiliki tujuan yang sama: memberikan yang terbaik untuk anak.
Dan yang paling saya harapkan, saya ingin meninggalkan semangat untuk terus menjaga ruh Bintang Juara. Bahwa di tengah perubahan zaman, teknologi, tuntutan prestasi, dan berbagai perkembangan pendidikan, kita tidak kehilangan akar yakni iman, Al-Qur’an dan Hadits, adab, cinta kepada anak, dan keyakinan bahwa setiap anak adalah bintang.
Semoga ketika suatu hari saya sudah tidak lagi berada pada amanah ini, nilai-nilai baik yang pernah kita perjuangkan tetap hidup bahkan tumbuh lebih besar daripada ketika saya masih menjabat. Saya ingin terus melihat guru-gurunya masih saling menguatkan, anak-anaknya masih belajar dengan bahagia dan bermakna, Ayah Bunda masih merasa menjadi bagian dari perjalanan pendidikan, dan setiap orang masih percaya bahwa pendidikan adalah tentang menumbuhkan manusia.
Mungkin itulah warisan yang paling ingin saya tinggalkan. Karena pada akhirnya, jabatan kepala sekolah akan selesai, tetapi budaya yang kita bangun semoga terus berjalan. Program bisa berganti, pemimpin bisa berganti, generasi bisa berganti tetapi semangat untuk menjadikan Bintang Juara sebagai rumah tumbuh bagi anak-anak dan setiap orang yang ada dalam naungannya semoga tidak pernah berhenti. Jika kelak Bintang Juara menjadi sekolah yang terus bertumbuh, tetapi tetap hangat, berakar pada iman, menghargai setiap anak, dan melahirkan manusia-manusia yang membawa manfaat bagi kehidupan, saya akan merasa bahwa amanah ini telah meninggalkan jejak yang berarti.
20. Jika harus menyampaikan satu pesan kepada setiap anak dan Ayah Bunda di SD Islam Bintang Juara, apa yang ingin Ibu katakan?
Untuk anak-anak tersayang, jangan pernah lalai tempat kembali kita melalui sujud terdalam kita kepada Allah. Nak, setiap dari kalian jika hari ini belum bisa, bukan berarti tidak mampu. Kalian butuh waktu untuk mengenali diri kalian, kembangkan dan pantang menyerahlah, suatu saat akan ada hasil dari apa yang kalian upayakan. Setiap orang punya waktunya sendiri untuk tumbuh, dan Allah telah menyiapkan jalannya melalui ikhtiar yang kalian lakukan. Jadilah anak yang tidak hanya menjadi pintar sesuai potensi kalian, tetapi juga menjadi bermanfaat dengan ilmu yang membuat kalian semakin dekat dengan Allah. Nak, setiap kalian adalah bintang, yang memiliki cahayanya sendiri.
Untuk Ayah Bunda, terimakasih telah menjadi partner tumbuh bersama menjadi orangtua. Ayah Bunda, saya tahu menjadi orangtua tidaklah mudah, tapi mari kita upayakan untuk menjadi orangtua yang mau belajar. Belajar hadir, belajar mendengarkan, belajar memaknai proses anak-anak kita. Setiap perkembangan kecil hari ini ada upaya besar dari mereka, dan juga sebuah kemenangan besar yang berarti bagi anak kita. Kita perlu mengingat bahwa pendidikan adalah perjalanan bukan perlombaan. Semoga Allah selalu memampukan kita senantiasa bersyukur menjadi orangtua dan menguatkan diri kita agar amanah mengemban tanggungjawab sebagai orangtua.
MasyaAllah… jawaban-jawaban Bu Ni’mah memberikan secercah cahaya bagi Ayah Bunda yang masih bertanya-tanya bagaimana sih kurikulum SD Islam Bintang Juara dibuat, seperti apa sih orang-orang di baliknya. Dan seperti inilah sosok yang diamanahi menjadi pemimpin di sekolah ini. InsyaAllah melalui tanya jawab ini bisa memberikan gambaran bagaimana ruang tumbuh di Sekolah Islam Bintang Juara dibangun. Bukan hanya untuk muridnya, tetapi juga untuk guru dan orang tuanya.
Pada akhirnya, sekolah bukanlah tempat yang pernah benar-benar selesai belajar. Ada anak yang terus bertumbuh, guru yang terus belajar, orang tua yang terus membersamai, dan sistem pendidikan yang perlu terus dievaluasi agar tetap relevan dengan kebutuhan zaman. Melalui perjalanan dan pemikiran Bu Ni’mah, kita kembali diingatkan bahwa menjadi Sekolah Calon Pemimpin Muslim bukan sekadar tentang capaian hari ini, tetapi tentang bagaimana seluruh ekosistem sekolah terus bertumbuh dengan tetap berpegang pada nilai-nilai Islam. Sebab bagi SD Islam Bintang Juara, setiap proses belajar, setiap refleksi, dan setiap upaya memperbaiki diri pada akhirnya bermuara pada satu tujuan: membersamai setiap anak untuk tumbuh sebagai pribadi yang berilmu, berakhlakul karimah, dan bermanfaat.*** (CM-MRT)
by admin admin | Aug 15, 2026 | Artikel, Edukasi, Kegiatan Guru, Kegiatan Orang Tua
Sabtu, 15 Agustus 2026, guru dan wali murid SD Islam Bintang Juara memenuhi auditorium Universitas Ivet dengan dresscode warna merah menyala. Selain merah putih yang mewarnai, auditorium Ivetsuara tawa, sorak dukungan, dan semangat kebersamaan. Pagi itu, suasana sekolah terasa berbeda. Bukan hanya peserta didik yang hadir, tetapi juga para orang tua melalui paguyuban serta seluruh pendidik dan tenaga kependidikan.
Dalam rangkaian Semarak Kemerdekaan SD Islam Bintang Juara, sekolah menghadirkan Perlombaan Persahabatan yang mempertemukan keluarga besar sekolah dalam suasana yang hangat dan penuh kegembiraan.
Tidak ada sekat antara guru dan orang tua. Tidak ada suasana kelas yang kaku. Hari itu, semuanya menjadi satu tim besar yang sama-sama ingin bermain, tertawa, dan merayakan kemerdekaan Indonesia.
Sebab, di balik keseruannya, ada pesan yang jauh lebih penting: pendidikan terbaik lahir dari kolaborasi yang hangat antara sekolah dan keluarga.
Memulai Semangat dengan Senam Bersama
Pagi dimulai dengan senam bersama.
Para orang tua, guru, dan tenaga kependidikan bergerak mengikuti irama. Gerakan demi gerakan dilakukan bersama, terkadang kompak, terkadang justru mengundang tawa ketika ada yang terlambat mengikuti gerakan.
Namun, bukankah justru di situlah keseruannya?
Tidak perlu menjadi yang paling lincah. Tidak perlu menjadi yang paling sempurna. Yang penting adalah bergerak bersama.
Senam bersama menjadi pembuka yang sederhana untuk membangun energi positif sebelum memasuki rangkaian perlombaan. Selain menjadi aktivitas fisik, momen ini juga memberikan kesempatan bagi warga sekolah untuk berinteraksi dalam suasana yang lebih santai.
Karena hubungan antara sekolah dan keluarga tidak hanya dibangun melalui rapat atau komunikasi mengenai perkembangan anak. Terkadang, hubungan itu juga tumbuh dari tawa, permainan, dan pengalaman yang dilakukan bersama.
Ketika Paguyuban Orang Tua Turun ke Arena
Setelah senam, giliran para anggota paguyuban orang tua murid menunjukkan semangatnya dalam berbagai perlombaan. Ada Estafet Sarung, Gobak Sodor, hingga Memasukkan Pensil ke dalam Botol.
Setiap permainan menghadirkan tantangan yang berbeda. Dalam estafet sarung, koordinasi dan kekompakan menjadi kunci. Peserta harus bekerja sama agar sarung dapat berpindah dengan lancar dari satu anggota ke anggota lainnya.
Sementara dalam Gobak Sodor, strategi dan komunikasi menjadi bagian penting. Permainan tradisional yang sudah dikenal oleh banyak generasi ini kembali menghadirkan keseruan ketika dimainkan bersama.
Ada pula lomba Memasukkan Pensil ke dalam Botol yang menguji ketelitian, koordinasi, dan kesabaran.
Hal-hal sederhana seperti ini justru membuat perlombaan terasa dekat. Tidak membutuhkan perlengkapan yang rumit. Tidak membutuhkan arena yang megah.
Cukup permainan sederhana, teman satu tim, dan semangat untuk bersenang-senang bersama.
Di sela-sela perlombaan, terdengar sorakan dan dukungan dari peserta lain. Ada yang memberi semangat kepada rekan satu tim, ada yang tertawa ketika strategi tidak berjalan sesuai rencana, dan ada pula yang terus mencoba sampai berhasil.
Semua menjadi bagian dari cerita kebersamaan hari itu.
Guru Juga Ikut Bertanding!
Kalau biasanya para pendidik menjadi orang yang mengatur kegiatan dan mendampingi peserta didik, kali ini mereka juga turun langsung ke arena.
Para guru mengikuti beberapa perlombaan, yaitu Peraturan Baris Berbaris (PBB), Estafet Sarung, dan Futsal.
Dalam lomba PBB, kekompakan menjadi tantangan utama. Setiap gerakan membutuhkan koordinasi dan keseragaman. Satu orang bergerak tidak sesuai aba-aba saja bisa membuat barisan terlihat berbeda.
Pesan sederhana pun kembali terlihat: sebuah tim dapat berjalan baik ketika setiap anggotanya mau mendengarkan dan bergerak bersama.
Semangat tersebut berlanjut dalam Estafet Sarung. Kemudian, suasana semakin meriah saat para guru bertanding dalam futsal.
Lapangan yang biasanya menjadi ruang aktivitas peserta didik kini menjadi arena pertandingan para guru. Ada strategi, kerja sama, kecepatan, dan tentu saja semangat sportivitas.
Menang atau kalah menjadi bagian dari permainan. Yang lebih penting adalah bagaimana seluruh peserta dapat menikmati proses, menghargai lawan, dan tetap menjaga suasana persahabatan.
Mengapa Orang Tua Perlu Terlibat dalam Kegiatan Sekolah?
Kegiatan seperti Perlombaan Persahabatan mungkin terlihat sebagai aktivitas rekreatif. Namun, keterlibatan orang tua dalam kegiatan sekolah memiliki makna yang lebih besar.
Anak melihat bahwa sekolah bukan tempat yang hanya menjadi tanggung jawab guru. Sekolah adalah lingkungan yang dapat menjadi ruang tumbuh bersama antara anak, guru, dan keluarga.
Ketika orang tua hadir dan terlibat, anak dapat melihat sebuah pesan sederhana: “Ayah dan Bunda peduli dengan sekolahku.”
Begitu pula ketika guru dan tenaga kependidikan membuka ruang kebersamaan dengan orang tua, terbangun hubungan yang lebih dekat. Kolaborasi seperti ini penting karena pendidikan anak tidak berlangsung hanya selama jam sekolah.
Di sekolah, anak mendapatkan pengalaman belajar bersama guru dan teman. Di rumah, anak mendapatkan pengasuhan dan keteladanan dari keluarga. Ketika keduanya saling mendukung, anak mendapatkan lingkungan yang lebih konsisten untuk tumbuh.
Pendidikan Terbaik Lahir dari Kolaborasi
Semarak Kemerdekaan SD Islam Bintang Juara menjadi salah satu bentuk nyata dari semangat partnership antara sekolah dan keluarga. Sekolah tidak hanya mengajak orang tua untuk datang ketika ada agenda tertentu.
Lebih dari itu, sekolah ingin membangun hubungan yang memungkinkan orang tua menjadi bagian dari perjalanan pendidikan anak. Karena pada akhirnya, guru dan orang tua memiliki tujuan yang sama:
mendampingi anak tumbuh menjadi pribadi yang baik, mandiri, berkarakter, dan bermanfaat.
Perlombaan Persahabatan menjadi salah satu cara sederhana untuk memperkuat hubungan tersebut.
Ketika orang tua dan guru tertawa bersama, bermain bersama, dan saling memberikan dukungan, anak-anak pun belajar melihat arti kebersamaan secara langsung. Mereka belajar bahwa kerja sama bukan hanya materi yang dipelajari di kelas.
Kerja sama adalah sesuatu yang dapat dilakukan dalam kehidupan nyata.
Doorprize: Kejutan di Pengujung Acara
Setelah berbagai perlombaan selesai, Semarak Kemerdekaan belum berakhir. Ada satu momen yang tentu tidak kalah ditunggu-tunggu: pembagian doorprize.
Satu per satu hadiah dibagikan, menghadirkan rasa penasaran sekaligus kegembiraan bagi warga sekolah yang mengikuti kegiatan. Hingga akhirnya, kejutan terbesar datang.
Doorprize utama berupa sepeda lipat berhasil diraih oleh Kak Arsyad, siswa kelas 3C. Hadiah tersebut menjadi penutup manis dari rangkaian kegiatan Semarak Kemerdekaan.
Bukan hanya karena hadiahnya, tetapi karena momen tersebut menambah satu lagi cerita menyenangkan dalam perayaan kemerdekaan tahun ini.
Merayakan Kemerdekaan dengan Cara yang Bermakna
Kemerdekaan sering kali dirayakan melalui berbagai perlombaan. Namun di SD Islam Bintang Juara, semangat tersebut juga menjadi kesempatan untuk menguatkan hubungan antarmanusia di dalam komunitas sekolah.
- Dari senam bersama, kita belajar bergerak bersama.
- Dari estafet sarung, kita belajar bekerja sama.
- Dari Gobak Sodor, kita belajar menyusun strategi dan berkomunikasi.
- Dari permainan memasukkan pensil ke dalam botol, kita belajar sabar dan teliti.
- Dari PBB, kita belajar kekompakan.
- Dari futsal, kita belajar sportivitas.
Dan dari seluruh rangkaian kegiatan, kita belajar satu hal yang lebih besar:
pendidikan membutuhkan kebersamaan.
Anak-anak tidak tumbuh sendirian. Ada keluarga yang mendampingi. Ada guru yang membersamai. Ada lingkungan yang ikut membentuk.
Karena itu, ketika sekolah dan keluarga berjalan dalam arah yang selaras, anak mendapatkan ruang yang lebih kuat untuk bertumbuh.
Bersama Menjadi Bagian dari Perjalanan Anak
Sabtu itu mungkin akan dikenang sebagai hari ketika orang tua dan guru saling beradu cepat dalam estafet sarung, berusaha menaklukkan Gobak Sodor, bertanding futsal, atau tertawa bersama saat mengikuti senam.
Namun lebih dari sekadar keseruan perlombaan, ada sebuah pesan yang ingin terus dibawa pulang:
Kita tidak sedang mendidik anak sendirian.
Sekolah membutuhkan keluarga. Keluarga membutuhkan sekolah. Dan di tengah keduanya, ada anak-anak yang sedang tumbuh dan membutuhkan orang dewasa yang mau berjalan bersama.
Inilah semangat Semarak Kemerdekaan SD Islam Bintang Juara.
Merdeka bukan hanya tentang mengenang perjuangan masa lalu, tetapi juga tentang membangun masa depan melalui generasi yang tumbuh dalam lingkungan penuh dukungan, kolaborasi, dan keteladanan.
Sebab mungkin, salah satu bentuk perjuangan kita hari ini adalah memastikan anak-anak mendapatkan lingkungan terbaik untuk tumbuh.
Dan untuk mewujudkannya, kita perlu bergerak bersama. Sekolah dan keluarga. Guru dan orang tua.
Hari ini bermain bersama. Besok, insyaallah, bersama-sama mengantarkan anak-anak menjadi generasi yang mampu memberikan manfaat bagi Indonesia.*** (CM-MRT)
by admin admin | Jun 26, 2026 | Kegiatan Guru
“Bu Guru, Kakak jatuh…”
Kalimat sederhana itu mungkin terdengar biasa. Namun dalam hitungan detik, seorang guru harus mampu mengambil keputusan yang tepat. Haruskah anak dipindahkan? Bagaimana jika pingsan? Apa yang dilakukan ketika anak tersedak saat makan? Atau bagaimana menghentikan perdarahan sebelum tenaga medis datang?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi pengingat bahwa menjadi guru bukan hanya tentang mengajar di depan kelas. Guru juga menjadi sosok pertama yang hadir ketika anak membutuhkan pertolongan.
Berangkat dari kesadaran tersebut, SD Islam Bintang Juara menyelenggarakan In-House Training “Pertolongan Pertama Terkait Kesehatan pada Anak” pada Kamis, 25 Juni 2026. Kegiatan ini menghadirkan narasumber Pak Eka Dafid Zakaria, S.Kep., Ners, ASN Kementerian Kesehatan yang bertugas di RSUP Dr. Kariadi Semarang.
Pelatihan ini menjadi salah satu upaya sekolah dalam memperkuat kompetensi guru, sehingga mampu menciptakan lingkungan belajar yang semakin aman, sehat, dan siap menghadapi kondisi darurat.
Guru adalah Penolong Pertama Sebelum Tenaga Medis Datang
Dalam kehidupan sekolah, kondisi darurat bisa terjadi kapan saja. Anak terpeleset saat olahraga, tersedak ketika makan bersama, mengalami luka saat bermain, hingga tiba-tiba pingsan karena kelelahan.
Pada situasi seperti ini, guru menjadi first responder atau orang pertama yang memberikan bantuan sebelum anak mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.
Melalui pelatihan ini, Pak Eka menjelaskan bahwa pertolongan pertama (P3K) merupakan tindakan cepat dan tepat yang diberikan kepada korban kecelakaan maupun kondisi kegawatdaruratan sebelum mendapatkan penanganan di fasilitas kesehatan.
P3K bukan bertujuan menggantikan dokter atau tenaga medis. Sebaliknya, P3K menjadi jembatan keselamatan yang dapat mencegah kondisi korban menjadi lebih parah.
Keselamatan Anak Menjadi Tanggung Jawab Bersama
Dalam sesi pembuka, peserta diajak memahami bahwa kondisi darurat dapat terjadi di mana saja, kapan saja, dan kepada siapa saja.
Pak Eka juga menjelaskan bahwa perlindungan terhadap peserta didik memiliki landasan hukum yang jelas. Guru memiliki tanggung jawab untuk menjaga keselamatan siswa selama proses pendidikan berlangsung.
Karena itu, kemampuan memberikan pertolongan pertama bukan lagi menjadi keterampilan tambahan, melainkan bagian dari profesionalisme seorang pendidik.
Memahami Prinsip Dasar Sebelum Memberikan Pertolongan
Sebelum praktik penanganan berbagai kondisi darurat, seluruh peserta terlebih dahulu memahami tujuan utama pertolongan pertama, yaitu:
- mencegah kecacatan maupun kondisi korban semakin memburuk,
- menyelamatkan nyawa,
- memberikan bantuan awal sebelum mendapatkan penanganan lanjutan.
Namun yang tidak kalah penting adalah memahami prinsip dasar sebelum menolong.
Pak Eka mengingatkan bahwa seorang penolong harus memastikan tiga hal terlebih dahulu:
- aman bagi diri sendiri,
- aman bagi lingkungan sekitar,
- aman bagi korban.
Dengan memahami prinsip tersebut, guru dapat memberikan bantuan secara efektif tanpa menambah risiko baru.
Mengenal Peralatan P3K yang Wajib Dimiliki Sekolah
Pelatihan juga membahas perlengkapan dasar yang sebaiknya tersedia di kotak P3K sekolah. Di antaranya meliputi pembalut cepat, pembalut gulung, pembalut segitiga, kapas, plester, kasa steril, gunting, serta pinset.
Guru tidak hanya mengenal fungsi masing-masing alat, tetapi juga mempelajari kapan dan bagaimana menggunakannya sesuai kondisi korban. Pengetahuan sederhana ini sangat penting karena sering kali tindakan awal yang benar mampu mempercepat proses pemulihan anak.
Simulasi Penanganan Kondisi Darurat yang Sering Terjadi di Sekolah
Salah satu bagian yang paling menarik dalam pelatihan adalah pembahasan mengenai kondisi-kondisi yang paling sering dijumpai di lingkungan sekolah.
1. Penanganan Anak Pingsan
Peserta mempelajari langkah-langkah ketika menemukan anak kehilangan kesadaran sementara.
Mulai dari memindahkan korban ke tempat yang aman, melonggarkan pakaian yang ketat, memosisikan kaki lebih tinggi dari kepala, memeriksa kemungkinan adanya luka lain, hingga mengetahui kapan korban harus segera dirujuk ke rumah sakit.
Guru juga diingatkan bahwa penggunaan aroma menyengat untuk membantu mengembalikan kesadaran hanya dilakukan pada kondisi tertentu dan tidak boleh menjadi satu-satunya tindakan.
2. Cara Menolong Anak yang Tersedak
Kondisi tersedak menjadi salah satu keadaan darurat yang membutuhkan respons cepat.
Dalam pelatihan ini, guru mempraktikkan langkah awal membantu korban agar tetap batuk bila masih memungkinkan.
Jika sumbatan tidak keluar, peserta mempelajari teknik back blow (tepukan punggung) serta abdominal thrust (Heimlich maneuver) sesuai prosedur keselamatan.
Pak Eka juga menegaskan bahwa apabila sumbatan tidak berhasil dikeluarkan, korban harus segera dibawa menuju fasilitas kesehatan terdekat.
3. Penanganan Luka dan Perdarahan
Guru juga dibekali langkah-langkah sederhana ketika menghadapi luka terbuka.
Dimulai dari mencuci tangan sebelum memberikan pertolongan, menggunakan pelindung saat menangani luka, menghentikan perdarahan dengan memberikan tekanan langsung, membersihkan luka menggunakan air bersih atau cairan pembersih yang sesuai, kemudian menutup luka menggunakan kasa steril.
Materi ini sangat relevan mengingat anak-anak aktif bergerak sehingga risiko terjatuh atau terluka cukup tinggi selama kegiatan belajar maupun bermain.
4. Pertolongan Awal pada Luka Bakar
Selain luka akibat benturan, peserta juga mempelajari penanganan awal pada luka bakar.
Guru diajarkan untuk segera menghentikan sumber panas, mendinginkan area luka menggunakan air mengalir, tidak mengoleskan bahan-bahan tertentu yang belum terbukti aman, kemudian menutup luka dengan kain atau kasa steril sebelum membawa korban ke fasilitas kesehatan apabila diperlukan.
Langkah sederhana tersebut terbukti mampu mengurangi tingkat kerusakan jaringan apabila dilakukan dengan benar.
Menjadi Guru yang Sigap, Tanggap, dan Peduli
Pelatihan ini bukan sekadar menambah pengetahuan teknis mengenai kesehatan.
Lebih dari itu, kegiatan ini memperkuat budaya sekolah yang mengedepankan keselamatan peserta didik sebagai prioritas utama.
Guru tidak diharapkan menjadi tenaga medis. Namun setiap guru diharapkan memiliki kesiapan mental, ketenangan, serta kemampuan mengambil tindakan awal yang benar ketika menghadapi situasi darurat.
Ketika seluruh pendidik memiliki bekal yang sama, maka lingkungan sekolah akan menjadi tempat belajar yang semakin aman, nyaman, sekaligus memberikan rasa percaya kepada orang tua.
Sekolah Aman Dimulai dari Guru yang Terus Belajar
Di SD Islam Bintang Juara, peningkatan kompetensi guru dilakukan secara berkelanjutan, tidak hanya pada aspek pembelajaran dan pendidikan karakter, tetapi juga pada kemampuan menjaga kesehatan dan keselamatan peserta didik.
Melalui In-House Training Pertolongan Pertama Terkait Kesehatan pada Anak, para guru kembali diingatkan bahwa setiap tindakan kecil yang dilakukan dengan cepat dan tepat dapat memberikan dampak yang sangat besar bagi keselamatan anak.
Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang membantu anak menjadi cerdas. Pendidikan juga tentang memastikan setiap anak tumbuh dalam lingkungan yang aman, terlindungi, dan didampingi oleh guru-guru yang selalu siap hadir ketika mereka membutuhkan.***
*Dikembangkan dari infografis rangkuman Bu Fia (Guru Kelas 6 SD Islam Bintang Juara)
by admin admin | Jun 25, 2026 | Kegiatan Guru
“Kalau ingin berjalan cepat, berjalanlah sendiri. Tapi kalau ingin berjalan jauh, berjalanlah bersama.”
Kalimat sederhana itu terasa begitu nyata saat seluruh guru SD Islam Bintang Juara mengikuti FUN Hiking & Adventure “Bugar Bersama Melaju ke Curug Secepit dan Kali Kesek” pada Rabu, 24 Juni 2026.
Sekilas, kegiatan ini tampak seperti agenda rekreasi. Ada touring bersama menggunakan sepeda motor, berjalan kaki menyusuri jalur alam, menikmati segarnya air terjun, hingga makan bersama di alam terbuka.
Namun di balik setiap langkah yang ditempuh, tersimpan tujuan yang jauh lebih besar: membangun tim guru yang sehat, kompak, dan siap melayani peserta didik dengan energi terbaik.
Guru yang Hebat Juga Perlu Mengisi Energi
Selama satu tahun pelajaran, guru menghabiskan begitu banyak waktu untuk mendampingi siswa.
- Menyusun pembelajaran.
- Menyelesaikan administrasi.
- Mendengarkan cerita anak.
- Menenangkan yang sedang kecewa.
- Menyemangati yang hampir menyerah.
Semua dilakukan dengan sepenuh hati.
Karena itulah, setelah melalui berbagai rangkaian kegiatan akademik hingga akhir semester, SD Islam Bintang Juara menghadirkan sebuah momen untuk berhenti sejenak, menghirup udara segar, sekaligus mengisi kembali energi.
Bukan sekadar beristirahat. Melainkan bertumbuh bersama.
Perjalanan Dimulai dengan Semangat yang Sama
Sejak pagi, para guru berkumpul dengan semangat yang berbeda dari biasanya. Hari itu bukan membawa laptop atau perangkat mengajar. Melainkan perlengkapan perjalanan dan senyum yang tak henti mengembang.
Rombongan kemudian memulai touring bersama menuju Curug Secepit, sebuah destinasi alam yang menawarkan suasana sejuk, rimbunnya pepohonan, serta gemericik air yang menenangkan.
Perjalanan dengan sepeda motor menjadi pembuka kebersamaan. Di sepanjang jalan, canda, sapaan, dan obrolan ringan mengalir begitu alami.
Kadang, kekompakan memang tidak dibangun di ruang rapat. Tetapi justru lahir dari perjalanan sederhana seperti ini.
Memulai Hari dengan Pemanasan
Sesampainya di lokasi, seluruh peserta melakukan pemanasan bersama. Bukan tanpa alasan. Hiking membutuhkan kesiapan fisik agar tubuh tetap nyaman selama perjalanan.
Lebih dari itu, pemanasan menjadi simbol bahwa setiap tantangan selalu lebih mudah dihadapi ketika dipersiapkan dengan baik. Hal sederhana yang juga berlaku dalam dunia pendidikan.
Guru yang terus belajar dan mempersiapkan diri akan lebih siap menghadapi dinamika pembelajaran setiap harinya.
Menyusuri Jalur Menuju Curug Secepit
Langkah demi langkah mulai menapaki jalur menuju Curug Secepit.
- Ada jalan berbatu.
- Ada tanjakan.
- Ada turunan.
- Ada pula jalan setapak yang harus dilalui dengan hati-hati.
Sesekali terdengar suara, “Hati-hati jalannya.” “Pelan-pelan saja.” “Tunggu teman yang masih di belakang.”
Kalimat-kalimat sederhana tersebut menggambarkan budaya yang selama ini juga hidup di SD Islam Bintang Juara. Tidak meninggalkan yang tertinggal. Tidak berjalan sendiri. Tetapi saling memastikan seluruh anggota tim dapat mencapai tujuan bersama.
Sesampainya di Curug Secepit, rasa lelah seakan terbayar lunas. Suara air yang jatuh dari ketinggian, udara yang sejuk, dan hijaunya pepohonan menghadirkan ketenangan yang sulit ditemukan di tengah padatnya aktivitas sehari-hari.
Alam kembali mengingatkan bahwa berhenti sejenak bukan berarti berhenti bertumbuh. Justru dari jeda itulah energi baru sering lahir.
Makan Bersama, Menguatkan Kebersamaan
Setelah menikmati keindahan alam, kegiatan dilanjutkan dengan makan bersama. Tidak ada sekat. Tidak ada jabatan. Semua duduk melingkar, berbagi makanan, berbagi cerita, dan saling tertawa.
Sebelumnya para guru juga saling bertukar kado. Membuka kado dari sesama pejuang tangguh semakin menghangatkan kebersamaan hari itu.
Dalam dunia pendidikan, hubungan antarguru memiliki peran yang sangat penting. Guru yang saling mengenal dan saling mendukung akan lebih mudah bekerja sama dalam mendampingi peserta didik.
Kebersamaan sederhana seperti ini menjadi investasi yang sering kali tidak terlihat, tetapi dampaknya sangat terasa di lingkungan sekolah.
Menguatkan Hati Lewat Salat Berjamaah
Sebelum melanjutkan perjalanan ke Kali Kesek, seluruh peserta juga melaksanakan Salat Zuhur berjamaah. Momen ini menjadi pengingat bahwa di mana pun berada, hubungan dengan Allah SWT tetap menjadi prioritas utama.
Kebersamaan tidak hanya dibangun melalui aktivitas fisik. Namun juga melalui ibadah yang dilakukan bersama-sama. Inilah nilai yang selalu dihidupkan di SD Islam Bintang Juara.
Bahwa keseimbangan antara kesehatan jasmani, kebersamaan sosial, dan penguatan spiritual menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari budaya sekolah.
Menutup Perjalanan di Kali Kesek
Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Kali Kesek. Suasana yang masih asri memberikan kesempatan bagi seluruh guru untuk menikmati keindahan alam sekaligus melepas penat setelah menjalani satu tahun pembelajaran.
Di tempat ini, percakapan semakin hangat. Tidak lagi membahas pekerjaan. Melainkan cerita kehidupan, keluarga, pengalaman, hingga harapan-harapan baru untuk tahun pelajaran berikutnya.
Kadang, hubungan profesional justru menjadi semakin kuat ketika manusia di dalamnya saling mengenal sebagai pribadi.
Kebugaran yang Mendukung Profesionalisme Guru
Melalui kegiatan ini, para guru tidak hanya berolahraga. Mereka juga belajar bahwa menjaga kesehatan merupakan bagian dari profesionalisme. Guru yang sehat memiliki energi lebih untuk mendampingi peserta didik.
- Lebih fokus saat mengajar.
- Lebih sabar saat menghadapi tantangan.
- Lebih bersemangat dalam menciptakan pembelajaran yang menyenangkan.
Karena itu, menjaga kebugaran bukan semata-mata untuk diri sendiri. Tetapi juga menjadi bentuk tanggung jawab dalam memberikan layanan pendidikan terbaik bagi anak-anak.
Team Building Tidak Selalu Dilakukan di Dalam Ruangan
Banyak pelatihan kepemimpinan dilakukan melalui presentasi atau diskusi. Namun pengalaman langsung sering kali memberikan pembelajaran yang jauh lebih membekas.
Dalam hiking ini, para guru belajar tentang komunikasi.
- Belajar saling membantu.
- Belajar menyesuaikan langkah.
- Belajar menunggu.
- Belajar memimpin.
- Sekaligus belajar mengikuti.
Semua nilai tersebut merupakan fondasi penting dalam membangun budaya kerja yang sehat. Ketika guru saling percaya, koordinasi menjadi lebih mudah. Ketika komunikasi terjalin dengan baik, pelayanan kepada siswa pun akan semakin optimal.
Karena Anak Berhak Didampingi oleh Guru yang Bahagia
Fun Hiking & Adventure bukan sekadar perjalanan menuju Curug Secepit dan Kali Kesek. Lebih dari itu, perjalanan ini menjadi ruang bagi para guru untuk mengisi ulang energi, mempererat persaudaraan, sekaligus memperkuat komitmen sebagai satu tim yang memiliki tujuan yang sama.
Sebab pendidikan yang berkualitas lahir dari guru-guru yang terus belajar, menjaga kesehatan, dan saling menguatkan. Di SD Islam Bintang Juara, kebersamaan bukan hanya diajarkan kepada siswa. Tetapi juga dipraktikkan oleh para guru dalam setiap langkah perjalanan mereka.
Karena pada akhirnya, anak-anak berhak bertumbuh bersama guru-guru yang sehat, bahagia, kompak, dan selalu siap melangkah bersama menuju masa depan yang lebih baik.***