Di tengah padatnya aktivitas belajar, ada satu momen istimewa yang menjadi ruang jeda sekaligus ruang makna bagi para siswa Bintang Juara. Selasa, 16 Desember 2025, menjadi hari penuh warna melalui kegiatan “Eksplorasi Kearifan Lokal bersama Batik Salma”, yang merupakan bagian dari rangkaian Leadership Journey Semester 1.
Sejak pagi, suasana sekolah terasa berbeda. Aroma malam batik, kain putih yang terbentang, serta canting-canting kecil di tangan anak-anak menghadirkan pengalaman belajar yang tidak biasa. Hari itu, siswa tidak hanya belajar tentang budaya, tetapi juga menyelami nilai kepemimpinan melalui proses, ketekunan, dan rasa bangga terhadap warisan bangsa.
Contents
Batik sebagai Warisan Budaya Bernilai Tinggi
Sebelum praktik dimulai, siswa mendapatkan pengenalan tentang batik bersama Bu Endang dan Tim Batik Salma. Batik dijelaskan sebagai karya seni warisan leluhur Indonesia yang dibuat dengan teknik perintangan warna menggunakan malam (lilin), dan telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia.
Anak-anak juga dikenalkan dengan beberapa jenis batik, antara lain:
- Batik Tulis, dibuat secara manual menggunakan canting, membutuhkan ketelitian dan kesabaran tinggi.
- Batik Cap, menggunakan stempel khusus untuk mempercepat proses pembuatan motif.
- Batik Jumputan, teknik ikat celup yang lebih sederhana dan menyenangkan, sangat cocok untuk anak-anak usia awal.
Pemaparan ini membuka wawasan siswa bahwa setiap motif batik memiliki cerita, filosofi, dan nilai kehidupan.
Pembagian Lokasi, Pembelajaran yang Terstruktur
Agar kegiatan berjalan optimal dan nyaman, praktik membatik dibagi ke beberapa lokasi sesuai jenjang kelas:
1. Pengenalan Batik
Kegiatan pengenalan batik berlangsung di Connecting Lantai 2 ruang kelas 4A, 5, dan 6, dipandu langsung oleh Bu Endang dari Batik Salma.
2. Praktik Membatik Kelas 1 dan 2
Setelah mendapat pemaparan singkat, kakak kelas 1 dan 2 menuju Connecting Lantai 1 untuk praktik membatik dengan teknik jumputan. Tangan-tangan kecil itu dengan penuh antusias mengikat kain, memilih warna, dan menunggu hasilnya dengan rasa penasaran.
3. Praktik Membatik Kelas 3
Sementara itu, kakak kelas 3 melaksanakan praktik membatik di Ruang Kelas 3A dan 3B Lantai 1. Mereka mulai belajar proses yang lebih detail, mengenal pola, dan memahami tahapan membatik secara runtut.
4. Praktik Membatik Kelas 4–6
Di Connecting Lantai 2, kakak kelas 4 hingga 6 mendapat tantangan lebih tinggi: batik tulis menggunakan canting. Dengan penuh konsentrasi, mereka menuangkan malam mengikuti motif yang telah ditentukan. Proses ini melatih kesabaran, ketelitian, dan fokus—nilai penting dalam kepemimpinan.
Lebih dari Sekadar Membatik
Kegiatan ini dirancang tidak hanya sebagai sarana belajar, tetapi juga:
- Refreshing yang bermanfaat, memberi ruang ekspresi dan kegembiraan.
- Melestarikan kearifan lokal, agar budaya tidak hanya dikenang, tetapi dialami langsung.
- Menumbuhkan rasa bangga, sehingga siswa mencintai dan percaya diri menggunakan batik sebagai identitas bangsa.
Melalui kegiatan ini, siswa belajar bahwa kepemimpinan tidak selalu tentang memimpin orang lain, tetapi juga tentang menghargai proses, menjaga warisan, dan bertanggung jawab terhadap nilai budaya.
Mengajak Orang Tua Ikut Belajar Batik
Bagi Ayah dan Bunda yang ingin mengenal lebih dekat dunia batik, Batik Salma Semarang membuka kesempatan untuk belajar langsung di kampung batik:
Jl. Malon, Gunungpati, Kec. Gn. Pati, Kota Semarang, Jawa Tengah 50229.
Eksplorasi kearifan lokal ini menjadi bukti bahwa pembelajaran bermakna lahir dari pengalaman nyata. Dari kain putih yang polos, anak-anak belajar memberi makna—seperti perjalanan mereka menumbuhkan karakter dan kepemimpinan sejak dini. Karena mencintai budaya adalah bagian dari mencintai jati diri bangsa.*** (CM-MRT)