fbpx
Mengetuk Langit di Pagi Hari: Doa Bersama Kelas 6 Sambut TKA

Mengetuk Langit di Pagi Hari: Doa Bersama Kelas 6 Sambut TKA

Pagi ini, Jumat, 24 April 2026, suasana di lapangan upacara SD Islam Bintang Juara terasa berbeda. Langit masih teduh, angin berhembus lembut, dan langkah kaki kakak shalih-shalihah dari kelas 1 hingga kelas 6 berjalan lebih tenang dari biasanya. Hari itu bukan sekadar hari sekolah biasa. Hari itu adalah momen istimewa: Istighosah dan Doa Bersama dalam rangka persiapan menghadapi TKA untuk kakak kelas 6.

Semua berkumpul dalam satu lingkaran harapan. Guru, siswa, dan seluruh elemen sekolah menyatu dalam satu tujuan: memohon kemudahan, kelancaran, dan keberkahan dari Allah SWT.

Doa Bersama Kelas 6 Sambut TKA dengan Sejuta Harapan

Kegiatan dibuka dengan penuh kekhusyukan, dipimpin oleh Pak Ali. Suara dzikir mulai menggema, pelan namun dalam. Kalimat-kalimat istighfar dilantunkan bersama, mengalir seperti aliran air yang menenangkan hati. Dalam momen itu, setiap anak belajar bahwa ada kekuatan besar dalam doa—bahwa sebelum berusaha menaklukkan soal-soal ujian, ada satu hal yang harus dikuatkan terlebih dahulu: hubungan dengan Allah.

Istighosah bukan hanya tentang membaca doa bersama. Ia adalah proses menyadari bahwa manusia memiliki keterbatasan. Bahwa sekuat apa pun usaha kita, tetap ada ruang untuk berserah diri. Dan di sinilah pendidikan karakter itu tumbuh—dari kesadaran, dari kerendahan hati, dan dari keyakinan.

Di barisan depan, kakak kelas 6 duduk dengan lebih hening. Wajah-wajah mereka menyimpan banyak rasa—antara semangat, harap, dan mungkin juga sedikit cemas. TKA bukan sekadar ujian akademik. Ia adalah gerbang menuju fase berikutnya. Maka wajar jika momen ini terasa begitu penting.

Namun, yang menarik, mereka tidak menghadapi ini sendirian.

Seluruh adik kelas turut hadir, ikut mendoakan. Sebuah pelajaran berharga tentang kebersamaan dan ukhuwah. Bahwa dalam perjalanan meraih cita-cita, kita tidak berjalan sendiri. Ada doa-doa yang mengiringi, ada dukungan yang menguatkan.

Setelah rangkaian istighosah, kegiatan dilanjutkan dengan doa penutup yang dipimpin oleh Pak Arif. Dalam doa tersebut, dipanjatkan harapan agar seluruh siswa kelas 6 diberikan kemudahan dalam memahami soal, ketenangan dalam mengerjakan, dan hasil terbaik yang penuh keberkahan.

Suasana semakin haru ketika doa selesai.

Musofahah dan Doa Restu

Satu per satu, kakak kelas 6 berdiri dan berjalan mendekati para guru. Mereka melakukan musofahah, berjabat tangan, menundukkan kepala, dan meminta doa restu. Sebuah tradisi sederhana, namun sarat makna.

Di balik genggaman tangan itu, tersimpan rasa hormat, cinta, dan harapan. Di balik ucapan lirih “mohon doanya ya, Pak, Bu…”, tersimpan keyakinan bahwa doa guru adalah salah satu kunci keberkahan ilmu.

Momen ini menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan hanya tentang transfer ilmu, tetapi juga tentang hubungan hati—antara murid dan guru, antara usaha dan doa, antara ikhtiar dan tawakal.

Manfaat Istighosah dan Doa Bersama

Kegiatan Istighosah dan Doa Bersama ini juga mengajarkan kepada seluruh kakak shalih-shalihah bahwa kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak belajar, tetapi juga seberapa dalam kita bersandar kepada Allah.

Bagi kakak kelas 1 hingga 5, ini adalah pembelajaran yang sangat berharga. Mereka melihat langsung bagaimana kakak kelas 6 mempersiapkan diri, bukan hanya dengan belajar, tetapi juga dengan memperkuat spiritualitas. Sebuah bekal yang kelak akan mereka lakukan juga saat berada di posisi yang sama.

Sementara bagi kakak kelas 6, kegiatan ini menjadi penguat mental dan emosional. Rasa cemas yang mungkin muncul perlahan tergantikan dengan ketenangan. Karena mereka tahu, mereka tidak sendiri. Ada doa dari guru, dari teman, bahkan dari seluruh lingkungan sekolah.

Lebih dari itu, kegiatan ini menanamkan nilai bahwa setiap langkah besar dalam hidup harus diawali dengan doa. Bahwa ikhtiar terbaik adalah yang diiringi dengan tawakal.

Istighosah juga melatih anak untuk mengenali emosi mereka—merasa cemas itu wajar, merasa takut itu manusiawi. Namun, mereka diajarkan cara mengelola perasaan tersebut dengan mendekat kepada Allah, bukan dengan menghindar atau menyerah.

Di sinilah letak keindahan pendidikan berbasis nilai. Anak-anak tidak hanya dipersiapkan untuk cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara spiritual dan emosional.

Menjelang akhir kegiatan, suasana kembali hangat. Senyum mulai merekah, obrolan ringan terdengar di antara kakak-kakak. Ada semangat baru yang tumbuh. Ada keyakinan yang semakin kuat.

Karena mereka telah belajar satu hal penting hari itu bahwa usaha terbaik adalah yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, dan disempurnakan dengan doa yang tulus.

Istighosah dan Doa Bersama ini bukan sekadar agenda rutin. Ia adalah momen pembentukan karakter. Momen di mana anak belajar tentang harapan, kesabaran, keikhlasan, dan kepercayaan kepada Allah.

Dan mungkin, di antara semua pelajaran yang didapat hari itu, ada satu hal yang akan terus mereka ingat:

Bahwa setiap langkah menuju masa depan, selalu dimulai dengan menundukkan diri… dan mengetuk langit lewat doa.***

Belajar Mengolah Minyak Jelantah: Jadi Lilin Cantik & Ramah Lingkungan!

Belajar Mengolah Minyak Jelantah: Jadi Lilin Cantik & Ramah Lingkungan!

Pagi itu, suasana kelas 4A dan 4B SD Islam Bintang Juara terasa berbeda dari biasanya. Bukan hanya buku dan alat tulis yang tersusun rapi di meja, tetapi juga gelas ukur, cangkir, sumbu lilin, hingga cairan berwarna kuning yang mungkin sering kita temui di dapur: minyak jelantah.

Namun siapa sangka, dari bahan yang sering dianggap limbah ini, kakak shalih-shalihah akan belajar sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar praktik membuat lilin.

Kegiatan Belajar Bersama Ahli (BBA) kali ini menghadirkan sosok inspiratif, Yuli Kuswanti, S.I.Pust., seorang pegiat literasi yang juga memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan hidup. Tema yang diangkat pun sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari, yaitu “Aroma Terapi dari Minyak Jelantah: Mengubah Limbah Menjadi Produk Bernilai.”

Dari Limbah Menjadi Peluang

Sebelum praktik dimulai, Bunda Yuli membuka sesi dengan sebuah pertanyaan sederhana, “Kalau minyak bekas dipakai menggoreng, biasanya dibuang ke mana?”

Beragam jawaban pun muncul. Ada yang bilang dibuang ke selokan, ada juga yang menyimpannya untuk dipakai kembali. Dari sini, kakak shalih-shalihah mulai diajak berpikir lebih dalam: apakah kebiasaan tersebut sudah tepat?

Bunda Yuli kemudian menjelaskan bahwa minyak jelantah yang dibuang sembarangan dapat mencemari lingkungan, terutama air dan tanah. Jika terus dibiarkan, limbah ini bisa berdampak buruk bagi kehidupan makhluk hidup.

Namun di balik itu, tersimpan potensi besar. Minyak jelantah ternyata bisa diolah menjadi berbagai produk bermanfaat, seperti sabun hingga lilin aromaterapi.

Di sinilah pembelajaran menjadi hidup. Kakak tidak hanya mendengar teori, tetapi juga memahami makna di baliknya—bahwa setiap masalah bisa menjadi peluang jika kita mau berpikir kreatif.

Menghidupkan Konsep Melalui Praktik Nyata

Kegiatan ini merupakan bagian dari kontekstualisasi Project Based Learning dengan tema “Perubahan Energi dan Wujud Zat.” Apa yang sebelumnya hanya dipelajari melalui buku, kini benar-benar bisa dilihat dan dirasakan langsung.

Proses pembuatan lilin aromaterapi dimulai dengan langkah pertama: menyaring minyak jelantah. Kakak shalih-shalihah terlihat antusias saat melihat bagaimana minyak yang awalnya keruh perlahan menjadi lebih bersih.

Langkah berikutnya adalah mencampurkan minyak jelantah dengan asam stearat. Perbandingannya cukup sederhana, yaitu 3:1. Untuk 300 ml minyak, dibutuhkan 100 gram asam stearat.

Ketika campuran tersebut dipanaskan, kakak-kakak mulai menyaksikan perubahan wujud yang nyata. Dari cair, perlahan menjadi lebih kental, lalu siap dituangkan ke dalam cetakan.

Beberapa kakak menambahkan pewarna agar lilin terlihat lebih menarik. Ada yang memilih warna cerah, ada pula yang tetap mempertahankan warna alami. Sumbu pun dipasang dengan hati-hati, menjadi penanda bahwa lilin siap digunakan.

Momen paling ditunggu akhirnya tiba. Ketika lilin mulai mengeras, rasa bangga terlihat jelas di wajah kakak shalih-shalihah. Mereka tidak hanya berhasil membuat sebuah produk, tetapi juga memahami proses ilmiah di baliknya.

Lebih dari Sekadar Praktik

Kegiatan ini bukan hanya tentang membuat lilin. Ada banyak nilai yang tertanam secara perlahan namun mendalam.

Kakak belajar bahwa ilmu tidak berhenti di buku. Mereka belajar bahwa perubahan energi dan wujud zat bukan sekadar konsep, tetapi sesuatu yang terjadi di sekitar mereka setiap hari.

Lebih dari itu, mereka juga belajar tentang tanggung jawab terhadap lingkungan. Bahwa menjaga bumi bisa dimulai dari langkah kecil, seperti tidak membuang limbah sembarangan dan mencoba mengolahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Interaksi dengan narasumber juga membuka wawasan baru. Kakak melihat bahwa profesi dan minat bisa saling terhubung—bahwa seorang pegiat literasi pun bisa berkontribusi dalam isu lingkungan.

Menumbuhkan Pola Pikir Kreatif dan Solutif

Di era saat ini, kemampuan berpikir kreatif dan solutif menjadi salah satu keterampilan penting yang perlu dimiliki anak-anak. Kegiatan seperti ini menjadi salah satu cara efektif untuk menumbuhkan kemampuan tersebut.

Ketika kakak melihat minyak jelantah, mereka tidak lagi hanya melihat limbah. Mereka mulai melihat potensi. Mereka mulai bertanya, “Apa lagi yang bisa kita buat dari ini?”

Pertanyaan sederhana ini adalah awal dari pola pikir inovatif.

Belajar yang Bermakna, Dampak yang Nyata

Kegiatan BBA ini menjadi bukti bahwa belajar bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan sekaligus bermakna. Kakak tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga pengalaman yang akan mereka ingat dalam jangka panjang.

Dari sebuah lilin kecil, kakak belajar tentang ilmu, lingkungan, kreativitas, hingga tanggung jawab. Semua terangkai dalam satu kegiatan yang sederhana namun penuh makna.

Ke depan, harapannya kakak shalih-shalihah tidak hanya berhenti pada pengalaman ini. Mereka bisa membawa semangat ini ke rumah, bahkan mengajak keluarga untuk mulai peduli terhadap pengelolaan limbah.

Karena sejatinya, perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Dan hari itu, langkah kecil itu dimulai dari minyak jelantah… yang berubah menjadi cahaya.*** (CM-MRT)

Serunya Belajar Macapat Gambuh: Kelas 4B Menyanyi Penuh Makna

Serunya Belajar Macapat Gambuh: Kelas 4B Menyanyi Penuh Makna

Pagi itu suasana kelas 4B di SD Islam Bintang Juara terasa berbeda. Tidak hanya buku dan alat tulis yang disiapkan, tetapi juga semangat baru untuk belajar sesuatu yang unik dan penuh makna. Pada Kamis, 16 April 2026, kakak shalih–shalihah mengikuti kegiatan BBA (Belajar Bersama Ahli) bersama narasumber istimewa, Ayah Ari Setyawan, seorang Guru Bahasa Jawa dari SMA 6 sekaligus ayah dari Kak Neyva.

Tema yang diangkat kali ini begitu khas dan sarat nilai budaya: Belajar Menyanyikan Tembang Macapat Gambuh.

Namun, kegiatan ini bukan sekadar belajar menyanyi. Lebih dari itu, kakak shalih–shalihah diajak menyelami makna di balik setiap bait tembang, memahami aturan-aturannya, hingga merasakan bagaimana budaya lokal bisa menjadi sarana pembentukan karakter.

Mengenal Tembang Macapat: Warisan Budaya yang Sarat Makna

Ayah Ari membuka sesi dengan memperkenalkan apa itu tembang macapat. Beliau menjelaskan bahwa macapat adalah salah satu bentuk puisi tradisional Jawa yang tidak hanya indah untuk didengar, tetapi juga penuh dengan pesan kehidupan.

Salah satu jenis tembang macapat yang dipelajari hari itu adalah Gambuh.

Tembang Gambuh dikenal sebagai tembang yang mengandung pesan tentang kecocokan, keharmonisan, dan kebijaksanaan dalam menjalin hubungan. Nilai-nilai ini sangat relevan untuk kehidupan sehari-hari, terutama dalam membangun hubungan dengan teman, keluarga, maupun lingkungan sekitar.

Sejak awal, kakak shalih–shalihah mulai memahami bahwa belajar macapat bukan hanya tentang suara yang merdu, tetapi juga tentang memahami pesan yang ingin disampaikan.

Memahami Aturan: Guru Gatra, Guru Wilangan, dan Guru Lagu

Agar bisa menyanyikan tembang macapat dengan baik dan benar, Ayah Ari memperkenalkan tiga unsur penting yang harus dipahami, yaitu:

  • Guru Gatra: Guru gatra adalah jumlah baris dalam satu bait tembang.
  • Guru Wilangan: Guru wilangan adalah jumlah suku kata dalam setiap baris.
  • Guru Lagu: Guru lagu adalah bunyi vokal di akhir setiap baris.

Ketiga unsur ini menjadi aturan utama dalam tembang macapat. Tanpa memahami ketiganya, tembang tidak akan sesuai dengan pakem atau aturan yang berlaku.

Melalui penjelasan yang sederhana dan contoh yang mudah dipahami, Ayah Ari membantu kakak shalih–shalihah mengenal struktur tembang dengan cara yang menyenangkan.

Beberapa kakak bahkan terlihat mencoba menghitung jumlah suku kata sambil tersenyum, seolah menemukan tantangan baru yang seru.

Menyanyi dengan Rasa: Memahami Lirik adalah Kunci

Salah satu pesan penting yang disampaikan oleh Ayah Ari adalah bahwa menyanyikan tembang macapat tidak cukup hanya dengan suara yang merdu. Yang lebih penting adalah memahami makna dari lirik yang dinyanyikan.

Tanpa memahami maknanya, tembang hanya akan terdengar sebagai rangkaian nada tanpa jiwa. Namun ketika maknanya dipahami, setiap bait akan terasa hidup dan mampu menyampaikan pesan kepada pendengar.

Ayah Ari mengajak kakak shalih–shalihah untuk mencoba merasakan isi tembang Gambuh. Dengan pendekatan ini, mereka tidak hanya belajar seni, tetapi juga belajar empati, penghayatan, dan kepekaan terhadap makna.

Belajar Disiplin melalui Aturan Tembang

Selain memahami struktur dan makna, kakak shalih–shalihah juga diajak untuk mengenal aturan-aturan saat menyanyikan tembang macapat. Dalam tembang macapat, ada tata cara yang harus diperhatikan, mulai dari ketepatan nada, pengucapan, hingga kesesuaian dengan guru lagu.

Hal ini secara tidak langsung melatih anak-anak untuk menjadi pribadi yang teliti, disiplin, dan bertanggung jawab terhadap apa yang mereka pelajari. Mereka belajar bahwa dalam seni sekalipun, ada aturan yang harus dihormati. Dan justru dari aturan itulah keindahan bisa tercipta.

Momen Paling Ditunggu: Menyanyikan Gambuh Bersama

Setelah memahami teori dan mencoba berlatih, tibalah momen yang paling ditunggu-tunggu: menyanyikan tembang Gambuh bersama-sama.

Suasana kelas berubah menjadi lebih hidup. Dengan penuh semangat, kakak shalih–shalihah mengikuti arahan Ayah Ari untuk melantunkan tembang Gambuh.

Meskipun masih dalam tahap belajar, suara mereka terdengar kompak dan penuh antusias. Ada yang masih malu-malu, ada yang mulai percaya diri, namun semuanya larut dalam pengalaman belajar yang menyenangkan.

Momen ini menjadi bukti bahwa belajar budaya tidak harus membosankan. Justru bisa menjadi pengalaman yang seru, berkesan, dan penuh makna.

Belajar Budaya, Membentuk Karakter

Kegiatan BBA ini memberikan lebih dari sekadar pengetahuan tentang tembang macapat. Melalui kegiatan ini, kakak shalih–shalihah belajar banyak hal penting, seperti:

  • Menghargai warisan budaya lokal
  • Melatih kepekaan rasa dan empati
  • Mengembangkan kedisiplinan melalui aturan
  • Meningkatkan kepercayaan diri saat tampil
  • Memahami bahwa setiap karya memiliki makna dan pesan

Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, kegiatan seperti ini menjadi sangat penting untuk menjaga agar generasi muda tetap mengenal dan mencintai budayanya sendiri.

Menjaga Budaya, Menjaga Identitas

Kegiatan Belajar Bersama Ahli (BBA) bersama Ayah Ari Setyawan menjadi salah satu langkah nyata dalam mengenalkan budaya kepada anak-anak sejak dini. Karena sejatinya, budaya bukan hanya tentang masa lalu. Budaya adalah bagian dari identitas yang harus dijaga dan diwariskan.

Melalui tembang macapat Gambuh, kakak shalih–shalihah tidak hanya belajar menyanyi. Mereka belajar memahami kehidupan, merasakan makna, dan menanamkan nilai-nilai kebaikan dalam diri mereka.

Dan dari kelas sederhana di hari itu, sebuah langkah kecil telah dimulai; menjaga budaya, sambil membentuk generasi yang berkarakter.*** (CM-MRT)

Serunya Magang Adab di Pands: Belajar Kerja Sambil Menjaga Akhlak

Serunya Magang Adab di Pands: Belajar Kerja Sambil Menjaga Akhlak

Pagi itu suasana terasa berbeda bagi kakak shalih-shalihah kelas 5 SD Islam Bintang Juara. Kali ini seragam sekolah yang mereka kenakan tidak hanya digunakan belajar di dalam kelas, melainkan melahirkan semangat baru untuk belajar langsung dari dunia nyata. Selama tiga hari, mulai Selasa hingga Kamis, 14–16 April 2026, mereka mengikuti kegiatan Magang Adab di Pands Muslim Store.

Ini bukan sekadar kunjungan biasa. Ini adalah pengalaman belajar yang dirancang untuk menanamkan nilai tanggung jawab, kemandirian, dan tentu saja adab dalam bekerja.

Magang Adab ini merupakan kali ketiga diselenggarakan di Pands Muslim Store. Pesertanya adalah seluruh kakak kelas 5, serta satu kakak kelas 6 yang tahun sebelumnya belum sempat mengikuti. Meski konsepnya serupa dengan tahun-tahun sebelumnya, pengalaman yang dirasakan setiap anak tetap terasa baru, menantang, dan penuh makna.

Belajar dari Dunia Nyata, Bukan Sekadar Teori

Setibanya di lokasi, kakak shalih-shalihah langsung dibagi menjadi tiga kelompok besar sesuai area tugas masing-masing: gudang, toko, dan studio. Setiap area menghadirkan pengalaman yang berbeda, namun memiliki satu benang merah yang sama; belajar bekerja dengan penuh tanggung jawab.

Di area gudang, kakak belajar bahwa pekerjaan yang terlihat sederhana ternyata membutuhkan ketelitian tinggi. Mereka membantu mengemas kerudung dan pakaian, menyortir alat sensor sesuai ukuran, hingga mengantarkan barang ke toko. Aktivitas ini melatih fokus, ketelitian, dan kesabaran.

Tidak sedikit dari mereka yang awalnya menganggap pekerjaan ini mudah, namun kemudian menyadari bahwa kesalahan kecil saja bisa berdampak besar. Dari sinilah mereka mulai memahami arti bekerja dengan sungguh-sungguh.

Berpindah ke area toko, suasana terasa lebih dinamis. Kakak shalih-shalihah belajar menata baju di rak agar terlihat rapi dan menarik. Mereka juga berlatih melayani pembeli dengan sopan dan ramah.

Interaksi langsung dengan pelanggan menjadi pengalaman berharga. Mereka belajar menyapa, menawarkan bantuan, hingga menjaga sikap saat berbicara. Di sinilah adab benar-benar diuji—bagaimana bersikap santun dalam situasi nyata.

Dari Kamera hingga Percaya Diri

Sementara itu, di area studio, pengalaman tak kalah seru menanti. Kakak shalih-shalihah diajak untuk berperan sebagai model sekaligus fotografer. Mereka belajar berpose di depan kamera, sekaligus mencoba memotret teman-temannya.

Bagi sebagian anak, berdiri di depan kamera bukanlah hal yang mudah. Ada rasa malu, canggung, bahkan tidak percaya diri. Namun perlahan, dengan dukungan teman dan pembimbing, mereka mulai berani mencoba.

Dari sini, muncul satu pembelajaran penting: keberanian tidak datang dari rasa siap, tapi dari kemauan untuk mencoba.

Di sisi lain, saat memegang kamera, mereka belajar bahwa setiap hasil yang baik membutuhkan proses. Mengatur angle, pencahayaan, hingga fokus—semuanya membutuhkan ketelitian dan kesabaran.

galeri magang adab di Pands

Magang Adab: Lebih dari Sekadar Bekerja

Yang membuat kegiatan ini istimewa bukan hanya aktivitasnya, tetapi nilai yang dibangun di dalamnya. Kakak shalih-shalihah tidak hanya belajar “cara bekerja”, tetapi juga “bagaimana bersikap saat bekerja”.

Mereka belajar datang tepat waktu, mengikuti arahan, bekerja sama dalam tim, hingga menyelesaikan tugas dengan penuh tanggung jawab. Lebih dari itu, mereka belajar bahwa pekerjaan apapun, selama dilakukan dengan niat yang baik dan adab yang benar, akan menjadi bernilai ibadah.

Magang Adab ini juga menjadi sarana untuk mengenalkan dunia kerja sejak dini, namun dengan pendekatan yang sesuai dengan usia anak. Tidak ada tekanan, yang ada justru pengalaman menyenangkan yang membangun karakter.

Pengalaman Pertama yang Tak Terlupakan

Bagi kakak shalih-shalihah kelas 5, ini adalah pengalaman pertama mereka terlibat langsung dalam aktivitas seperti ini. Wajar jika di awal mereka merasa bingung atau ragu.

Namun seiring berjalannya waktu, mereka mulai terbiasa. Bahkan banyak di antara mereka yang justru merasa senang dan ingin mencoba lagi.

Tawa, cerita, dan pengalaman selama tiga hari ini menjadi kenangan yang tidak mudah dilupakan. Dari yang awalnya hanya “ikut kegiatan”, berubah menjadi “mengerti makna”.

Bekal untuk Masa Depan

Magang Adab di Pands Muslim Store bukan sekadar agenda tahunan. Ini adalah bagian dari proses panjang dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat dalam karakter.

Melalui kegiatan ini, kakak shalih-shalihah belajar bahwa dunia nyata membutuhkan lebih dari sekadar ilmu. Dibutuhkan sikap, etika, dan tanggung jawab.

Nilai-nilai inilah yang diharapkan akan terus mereka bawa, bukan hanya saat di sekolah, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari hingga masa depan nanti.

Karena pada akhirnya, kesuksesan bukan hanya tentang apa yang kita tahu, tapi bagaimana kita bersikap.

Dan dari langkah kecil di Pands Muslim Store ini, semoga menjadi awal dari perjalanan panjang menuju masa depan yang lebih cerah—dengan adab sebagai pondasinya.*** (CM-MRT)

Festival Ramadan Calon Pemimpin Muslim: Ajang Mengasah Bakat dan Karakter Siswa

Festival Ramadan Calon Pemimpin Muslim: Ajang Mengasah Bakat dan Karakter Siswa

Bulan Ramadan adalah bulan yang sangat mulia bagi umat Islam. Pada bulan inilah Allah SWT melipatgandakan pahala setiap amal kebaikan. Pintu rahmat dan keberkahan dibuka seluas-luasnya bagi setiap hamba yang ingin memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Sayangnya, tidak sedikit orang yang justru menjadikan puasa sebagai alasan untuk bermalas-malasan. Padahal, jika kita melihat perjalanan sejarah Islam, justru pada bulan Ramadan banyak peristiwa besar yang terjadi.

Rasulullah SAW dan para sahabat tetap aktif berdakwah dan melakukan berbagai perjuangan besar pada bulan Ramadan. Semangat mereka menunjukkan bahwa Ramadan bukan waktu untuk melemah, tetapi justru menjadi momen terbaik untuk meningkatkan amal dan kebaikan.

Semangat inilah yang ingin ditanamkan kepada siswa-siswi SD Islam Bintang Juara melalui kegiatan Festival Ramadan Calon Pemimpin Muslim.

Kegiatan ini menjadi salah satu program yang dirancang untuk memberikan ruang bagi kakak shalih–shalihah dalam menyalurkan potensi, sekaligus menumbuhkan karakter positif selama bulan Ramadan.

Menghidupkan Bulan Suci dengan Kegiatan Positif melalui Festival Ramadan

Festival Ramadan bukan sekadar perlombaan biasa. Kegiatan ini dirancang sebagai sarana pembelajaran yang menyenangkan sekaligus bermakna.

Melalui berbagai cabang festival Islami, kakak shalih-shalihah diajak untuk:

  • menampilkan kemampuan terbaik mereka,
  • belajar tampil percaya diri,
  • melatih keberanian berbicara di depan umum,
  • sekaligus memperdalam pemahaman agama.

Selain itu, kegiatan ini juga menjadi tahap awal pemetaan potensi siswa untuk mempersiapkan delegasi sekolah dalam ajang Lomba Mata Pelajaran Pendidikan Agama dan Seni (MAPSI).

Dengan demikian, festival ini tidak hanya bersifat kompetitif, tetapi juga menjadi bagian dari proses pembinaan bakat siswa secara berkelanjutan. Yang tidak kalah penting, kegiatan ini juga bertujuan untuk menumbuhkan karakter pejuang, kreativitas, dan rasa percaya diri pada diri setiap anak.

Festival Ramadan dilaksanakan pada hari Rabu – Kamis, 11 – 12 Maret 2026. Hari Rabu adalah pelaksanaan festival untuk kelas 1-3, sementara hari Kamis adalah pelaksanaan festival untuk kelas 4-6. Kegiatan ini dilaksanakan bergantian dengan Jelajah Budaya Islam di Nusantara.

Ragam Cabang Festival untuk Kelas 1–3

Kakak kelas 1 hingga kelas 3 mengikuti berbagai cabang lomba yang dirancang sesuai dengan tahap perkembangan mereka.

Salah satu cabang yang menarik adalah lomba Azan dan Iqomah. Dalam lomba ini, siswa belajar melantunkan panggilan salat dengan suara lantang dan penuh keberanian. Selain melatih vokal, kegiatan ini juga menanamkan kecintaan terhadap ibadah salat sejak dini.

Ada juga lomba kaligrafi dengan tulisan “Bismillahirrahmanirrahim”. Melalui kegiatan ini, anak-anak belajar menulis huruf Arab dengan indah sekaligus melatih kesabaran dan ketelitian.

Pada cabang Da’i Cilik, siswa menyampaikan ceramah singkat dengan berbagai tema menarik, seperti:

  • hikmah dan manfaat berpuasa,
  • adab terhadap orang tua dan guru,
  • pentingnya berteman tanpa bullying,
  • peristiwa Nuzulul Qur’an,
  • serta keutamaan malam Lailatul Qadar.

Melalui kegiatan ini, kakak shalih-shalihah belajar menyampaikan pesan kebaikan kepada orang lain dengan cara yang sederhana namun bermakna.

Selain itu, terdapat juga lomba tahfiz Al-Qur’an yang dibagi menjadi tiga level, disesuaikan dengan pencapaian hafalan masing-masing kakak. Adapun levelnya sebagai berikut:

  • Level 1 (Surat Ad-Dhuha sampai An-Naas)
  • Level 2 (Surah Al-Buruj sampai Al-Lail)
  • Level 3 (Surah An-Naba’ sampai Al-Insyiqaq)

Penilaian dilakukan berdasarkan makharijul huruf, tajwid, kelancaran bacaan, serta adab saat membaca Al-Qur’an.

Lomba berikutnya yaitu cerita Islami, siswa diminta menceritakan kisah para nabi yang mendapat gelar Ulul Azmi, yaitu:

  • Nabi Nuh AS
  • Nabi Ibrahim AS
  • Nabi Musa AS
  • Nabi Isa AS
  • Nabi Muhammad SAW

Melalui kisah-kisah ini, kakak shalih-shalihah belajar tentang keteguhan iman, kesabaran, dan perjuangan dalam menyampaikan kebenaran.

Tidak hanya itu, kakak kelas 1–3 juga mengikuti lomba cerita Islami serta duet lagu Islami. Lagu-lagu yang bisa dipilih antara lain:

  • Ramadan Tiba – Opick
  • Rukun Iman – Nussa Official
  • Nabi Putra Abdullah
  • Aku Cinta Allah dan Rasul

Melalui kegiatan bernyanyi, kakak shalih-shalihah dapat mengekspresikan kecintaan mereka kepada Allah dan Rasulullah dengan cara yang menyenangkan.

Cabang lainnya adalah pengetahuan PAI dan BTQ, yang menguji pemahaman siswa tentang huruf hijaiyah, rukun iman, rukun Islam, kisah para nabi, serta fiqih dasar seperti tata cara salat dan puasa.

Cabang Festival untuk Kelas 4–6

Kakak kelas 4 hingga 6 mengikuti cabang festival yang tidak jauh berbeda. Namun ada satu cabang yang lebih menantang dan mendalam, yaitu tartil Al-Qur’an. Di mana peserta membaca ayat Al-Qur’an dengan tajwid yang benar serta irama yang indah. Surah yang dibacakan dipilih secara acak saat peserta akan tampil, sehingga kakak shalih-shalihah harus benar-benar mempersiapkan diri.

Selain tartil Al-Qur’an, cabang festival lainnya sama dengan kelas 1-3, hanya berbeda level tantangannya saja.

Untunk cabang kaligrafi, kakak kelas 4-6 harus membuat tulisan lafal tahlil “La ilaha illallah”. Sementara itu, pilihan lagu untuk lomba duet lagu Islami juga berbeda, yaitu:

  • Rindu Muhammadku – Haddad Alwi & Vita
  • Marhaban Ya Ramadan – Haddad Alwi
  • Sholawat Ala Muhammad – Opick
  • Assalamualaikum – Opick

Pada cabang Pengetahuan PAI dan BTQ, kakak shalih-shalihah diuji pemahamannya tentang tajwid, makna surat Al-Fatihah, Al-Kafirun, dan Ad-Duha, serta berbagai materi keislaman seperti rukun iman, kisah nabi, zakat, hingga sifat wajib dan mustahil bagi Allah.

Manfaat Festival Ramadan bagi Siswa

Kegiatan Festival Ramadan memberikan banyak manfaat bagi perkembangan siswa.

  1. Menumbuhkan rasa percaya diri. Kakak shalih-shalihah belajar tampil di depan banyak orang dan menyampaikan kemampuan terbaik mereka.
  2. Melatih keberanian dan mental kompetitif yang sehat. Kakak belajar berusaha dengan maksimal dan menerima hasil dengan sikap sportif.
  3. Mengembangkan kreativitas dan bakat. Setiap cabang festival memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengeksplorasi potensi yang mereka miliki.
  4. Memperdalam pemahaman agama. Melalui kegiatan seperti tahfidz, tartil, ceramah, dan pengetahuan PAI, kakak semakin mengenal ajaran Islam secara lebih mendalam.

Yang paling penting, kegiatan ini membantu menanamkan nilai bahwa Ramadan adalah waktu yang tepat untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.

Membangun Generasi Pemimpin Muslim

Festival Ramadan Calon Pemimpin Muslim bukan hanya tentang menang dan kalah. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan bagian dari upaya membentuk generasi yang berkarakter kuat, percaya diri, dan memiliki kecintaan terhadap nilai-nilai Islam.

Dari panggung kecil tempat kakak shalih-shalihah melantunkan azan, membaca Al-Qur’an, atau menyampaikan ceramah singkat, tumbuh benih-benih calon pemimpin Muslim masa depan. Generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak mulia dan semangat untuk terus melakukan kebaikan.

Karena pada akhirnya, Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Ramadan adalah kesempatan untuk melatih diri menjadi pribadi yang lebih baik. Dan melalui kegiatan seperti inilah, semangat itu mulai ditanamkan sejak dini kepada setiap kakak shalih–shalihah di SD Islam Bintang Juara.

Apakah Ayah Bunda penasaran siapakah yang terpilih menjadi penampil terbaik untuk masing-masing kategori festival? Tunggu informasinya di hari Jumat, 13 Maret 2026 ya!***

Jelajah Budaya Islam di Nusantara: Filosofi Ketupat Lebaran

Jelajah Budaya Islam di Nusantara: Filosofi Ketupat Lebaran

Ramadan bukan hanya tentang ibadah puasa, tarawih, dan tadarus Al-Qur’an. Bulan suci ini juga menyimpan kekayaan tradisi yang menjadi bagian dari perjalanan panjang Islam di Nusantara. Di Indonesia, banyak budaya yang lahir dari pertemuan nilai-nilai Islam dengan kearifan lokal masyarakat.

Hal inilah yang ingin dikenalkan kepada kakak shalih–shalihah melalui kegiatan Leadership Journey hari ke-3 dan ke-4 di SD Islam Bintang Juara. Setelah hari pertama menggelar Sehari Bersama Quran, kali ini Mengangkat tema “Jelajah Budaya Islam di Nusantara”, kegiatan ini mengajak anak-anak memahami makna di balik salah satu tradisi yang sangat identik dengan Hari Raya Idulfitri: ketupat Lebaran.

Kegiatan berlangsung secara bergantian dengan Festival Ramadan. Pada Rabu, 11 Maret 2026, kegiatan diikuti oleh kakak kelas 4 dan 5. Sementara kakak kelas 6 belum dapat bergabung karena sedang mengikuti tryout TKA. Keesokan harinya, Kamis, 12 Maret 2026, giliran kakak kelas 1 hingga 3 yang mengikuti kegiatan serupa.

Meski sederhana, kegiatan ini menjadi perjalanan menarik untuk memahami bagaimana budaya dapat menjadi sarana dakwah yang penuh makna.

Ketupat: Tradisi Lebaran yang Penuh Makna

Ketika Lebaran tiba, hampir setiap rumah di Indonesia menyajikan ketupat. Hidangan dari beras yang dibungkus anyaman daun kelapa ini biasanya disajikan bersama opor ayam, sambal goreng, atau lauk khas lainnya.

Namun di balik bentuknya yang sederhana, ketupat menyimpan filosofi mendalam.

Kata ketupat berasal dari bahasa Jawa, yaitu “ngaku lepat” yang berarti mengakui kesalahan. Filosofi ini berkaitan erat dengan tradisi saling memaafkan yang menjadi ciri khas masyarakat Indonesia saat Idulfitri.

Dengan kata lain, ketupat bukan sekadar makanan Lebaran. Ia menjadi simbol kerendahan hati manusia untuk mengakui kesalahan dan saling memaafkan setelah menjalani Ramadan.

Warisan Dakwah Sunan Kalijaga

Tradisi ketupat Lebaran diyakini berkaitan dengan dakwah Sunan Kalijaga, salah satu tokoh dari Wali Songo yang menyebarkan Islam di tanah Jawa.

Sunan Kalijaga dikenal sebagai ulama yang menggunakan pendekatan budaya dalam berdakwah. Beliau memahami bahwa masyarakat Jawa pada masa itu sangat dekat dengan tradisi dan simbol-simbol budaya. Oleh karena itu, dakwah dilakukan dengan cara yang bijak, tanpa menghapus budaya lokal, tetapi mengisinya dengan nilai-nilai Islam.

Salah satu contohnya adalah tradisi Bakda Kupat, yang biasanya dilakukan beberapa hari setelah Idulfitri.

Melalui simbol ketupat, Sunan Kalijaga menyampaikan beberapa pesan penting:

  • Ngaku Lepat – Mengakui kesalahan dan saling memaafkan
  • Laku Papat – Empat tindakan penting dalam kehidupan seorang Muslim, yaitu lebaran (selesai berpuasa), luberan (berbagi rezeki), leburan (melebur dosa dengan saling memaafkan), dan laburan (membersihkan diri)

Bentuk anyaman ketupat yang rumit juga memiliki makna simbolis. Anyaman tersebut menggambarkan kesalahan manusia yang sering kali rumit dan saling terjalin. Namun ketika ketupat dibuka, terlihat nasi putih di dalamnya—melambangkan hati yang kembali bersih setelah saling memaafkan.

Melalui simbol sederhana ini, Sunan Kalijaga berhasil menyampaikan pesan dakwah yang mendalam kepada masyarakat.

Belajar Budaya Lewat Video dan Cerita

Dalam kegiatan Jelajah Budaya Islam di Nusantara, kakak shalih–shalihah terlebih dahulu diajak memahami filosofi ketupat melalui penjelasan guru dan tayangan video edukatif.

Melalui video tersebut, anak-anak melihat bagaimana ketupat dibuat dari daun kelapa yang dianyam dengan teliti. Mereka juga belajar bahwa makanan khas Lebaran ini tidak hanya ada di satu daerah, tetapi menjadi bagian dari tradisi di berbagai wilayah Indonesia.

Diskusi pun menjadi hidup. Anak-anak mulai memahami bahwa budaya dan agama bisa berjalan berdampingan untuk menyampaikan pesan kebaikan.

Tantangan Membuat Ketupat dari Pita

Setelah memahami filosofinya, kegiatan dilanjutkan dengan praktik membuat ketupat dari pita untuk kakak kelas 4 dan 5.

Sekilas terlihat mudah. Namun ketika mencoba menganyam pita menjadi bentuk ketupat, ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan.

Ada yang pita anyamannya terlepas. Ada yang bentuknya belum rapi. Ada pula yang harus mencoba berulang kali.

Namun justru di sinilah letak keseruannya.

Beberapa kakak tetap mencoba dengan penuh kesabaran. Mereka tidak mudah menyerah meskipun hasilnya belum sempurna. Pada akhirnya, hanya beberapa anak yang berhasil membuat bentuk ketupat dengan baik.

Meski begitu, semua kakak tetap mendapatkan pengalaman berharga: belajar bahwa proses membuat sesuatu membutuhkan ketekunan dan kesabaran.

Membuat Kartu Lebaran: Menebar Kebaikan

Selain membuat ketupat, kegiatan juga diisi dengan membuat kartu Lebaran.

Setiap anak mendapatkan amplop, kertas untuk menulis pesan, serta gambar hiasan berbentuk masjid yang harus digunting, diwarnai, dan ditempel.

Kartu tersebut tidak boleh diberikan kepada teman atau guru di sekolah. Sebaliknya, kartu harus diberikan kepada tetangga, orang tua, kerabat, atau orang lain di lingkungan rumah.

Tujuannya sederhana namun penuh makna: melatih anak untuk menyampaikan ucapan maaf dan doa secara langsung kepada orang-orang di sekitarnya.

Manfaat Mengirim Kartu Lebaran bagi Anak

Kegiatan membuat dan mengirim kartu Lebaran memiliki banyak manfaat bagi perkembangan anak.

  1. Menumbuhkan rasa empati dan kepedulian: Anak belajar menghargai orang lain dengan menyampaikan ucapan maaf dan doa.
  2. Melatih kreativitas: Proses menggunting, mewarnai, dan menghias kartu melatih keterampilan motorik dan kreativitas anak.
  3. Menguatkan nilai silaturahmi: Dengan memberikan kartu kepada tetangga atau kerabat, anak belajar pentingnya menjaga hubungan baik dengan orang lain.
  4. Menanamkan nilai kerendahan hati: Tradisi meminta maaf saat Lebaran mengajarkan anak untuk berani mengakui kesalahan.
  5. Menghidupkan tradisi positif: Di era digital, kartu Lebaran menjadi cara sederhana untuk menghadirkan sentuhan personal yang hangat.

Belajar Budaya, Memahami Makna

Kegiatan Jelajah Budaya Islam di Nusantara bukan hanya tentang mengenal ketupat atau membuat kerajinan tangan. Lebih dari itu, kegiatan ini mengajak anak memahami bahwa budaya dapat menjadi sarana untuk menyampaikan nilai-nilai Islam.

Dari ketupat, anak belajar tentang mengakui kesalahan dan saling memaafkan.
Dari membuat kartu Lebaran, anak belajar tentang silaturahmi dan berbagi kebaikan.

Tradisi yang tampak sederhana ternyata menyimpan pesan yang sangat dalam.

Dan dari kegiatan kecil seperti ini, kakak shalih–shalihah belajar bahwa menjadi Muslim bukan hanya tentang menjalankan ibadah, tetapi juga tentang menjaga budaya kebaikan yang diwariskan para ulama dan pendahulu kita.

Semoga dari kegiatan ini tumbuh generasi yang tidak hanya mencintai agamanya, tetapi juga bangga dengan kekayaan budaya Islam di Nusantara.*** (CM-MRT)