fbpx
Khotmil Qur’an & Imtihan ke-2 SD Islam Bintang Juara: Awal Perjalanan Menjaga Cahaya Al-Qur’an

Khotmil Qur’an & Imtihan ke-2 SD Islam Bintang Juara: Awal Perjalanan Menjaga Cahaya Al-Qur’an

Suasana haru dan penuh syukur menyelimuti aula acara pada Ahad, 14 Juni 2026. Satu per satu kakak shalih dan shalihah melangkah memasuki ruangan dengan wajah penuh kebanggaan. Mereka bukan sekadar hadir sebagai peserta acara, tetapi sebagai khatimin yang telah menuntaskan salah satu perjalanan penting dalam belajar Al-Qur’an.

Hari itu, SD Islam Bintang Juara menyelenggarakan Khotmil Qur’an & Imtihan ke-2, sebuah kegiatan yang menjadi bentuk tasyakuran atas kelulusan peserta didik dalam program EBTAQ (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Qiraaty) sekaligus momentum untuk menunjukkan kemampuan membaca Al-Qur’an, tajwid, dan gharib yang telah mereka pelajari selama bertahun-tahun.

Namun sejatinya, Khotmil Qur’an bukanlah garis akhir. Justru inilah awal perjalanan yang sesungguhnya: perjalanan menjaga, mencintai, dan mengamalkan Al-Qur’an sepanjang kehidupan.

Apa Itu Khotmil Qur’an dan Imtihan?

Bagi sebagian orang tua, istilah Khotmil Qur’an dan Imtihan mungkin masih terdengar asing.

Khotmil Qur’an adalah prosesi syukur atas keberhasilan peserta didik menyelesaikan tahapan pembelajaran membaca Al-Qur’an sesuai standar yang ditetapkan. Sementara Imtihan merupakan ujian terbuka yang bertujuan menunjukkan kemampuan peserta dalam membaca Al-Qur’an, memahami ilmu tajwid, serta mengenali bacaan gharib di hadapan para tamu undangan dan orang tua.

Melalui kegiatan ini, anak-anak belajar bahwa membaca Al-Qur’an bukan sekadar mampu melafalkan huruf demi huruf, tetapi juga memahami kaidah bacaan yang benar serta membangun kedekatan dengan Kalamullah.

Disambut Rebana, Dihantar Doa

Acara dipandu oleh Pak Ali As’ad yang mengawali kegiatan dengan suasana hangat dan khidmat.

Ketika rebana An Najma Senior mulai mengalunkan shalawat, satu per satu khatimin memasuki ruangan acara. Kehadiran mereka disambut tepuk tangan penuh bangga dari para orang tua yang telah membersamai proses belajar Al-Qur’an selama bertahun-tahun.

Setelah menempatkan diri di atas panggung, para khatimin memberikan salam kepada seluruh hadirin. Wajah-wajah cerah mereka menjadi gambaran kebahagiaan atas pencapaian yang diraih.

Prosesi kemudian dilanjutkan dengan Khotmil Qur’an yang berlangsung khusyuk. Setiap ayat yang dibaca mengalun indah memenuhi ruangan, menghadirkan suasana yang menenangkan hati.

Sebagai penutup prosesi khotmil, Ustaz Dzikron memimpin doa khotmil Qur’an. Para hadirin menengadahkan tangan, memohon keberkahan agar ilmu yang telah dipelajari menjadi cahaya dunia dan akhirat bagi seluruh peserta.

Ujian Terbuka yang Menguji Kepercayaan Diri

Setelah prosesi khotmil selesai, acara berlanjut pada sesi Imtihan.

Pada tahap ini, para khatimin menunjukkan kemampuan membaca gharib dan tajwid yang telah mereka pelajari selama proses pembelajaran Qiraaty.

Menariknya, sesi Imtihan tidak hanya berupa pembacaan materi. Para hadirin juga diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan tajwid maupun bacaan gharib.

Suasana menjadi semakin hidup. Satu per satu pertanyaan diajukan. Para khatimin mengangkat tangan dengan penuh percaya diri untuk menjawab. Sesekali terdengar tepuk tangan dan lirih suara hamdallah penuh syukur ketika jawaban yang diberikan tepat dan meyakinkan.

Dari seluruh peserta yang hadir, sebanyak 13 khatimin berhasil menjawab tantangan yang diberikan dan mendapatkan apresiasi dari panitia. Momen ini menunjukkan bahwa pembelajaran Al-Qur’an yang mereka jalani bukan sekadar hafalan teori, tetapi benar-benar dipahami dan mampu diterapkan.

Saat Air Mata Tak Lagi Bisa Disembunyikan

Puncak haru acara terjadi ketika seluruh khatimin turun dari panggung untuk meminta restu kepada kedua orang tua. Langkah kaki yang sebelumnya mantap mendadak terasa berat.

Beberapa anak mulai menundukkan kepala. Sebagian orang tua tampak berusaha menahan air mata. Ketika tangan-tangan kecil itu mencium tangan ayah dan bunda, suasana berubah menjadi sangat emosional.

Pelukan hangat menjadi bahasa cinta yang tidak memerlukan banyak kata. Ada perjuangan yang teringat. Ada doa-doa yang selama ini dipanjatkan diam-diam. Ada kesabaran mendampingi anak belajar membaca huruf demi huruf hingga akhirnya berdiri di panggung sebagai khatimin.

Banyak mata yang berkaca-kaca menyaksikan momen tersebut. Karena setiap keberhasilan anak selalu menyimpan cerita perjuangan keluarga di belakangnya.

Menjaga Hafalan Lebih Berat daripada Menghafal

Setelah prosesi sungkem selesai, acara dilanjutkan dengan pesan bermakna dari Kepala SD Islam Bintang Juara, Nur Shofwatin Ni’mah, S.Pd., Gr., dan Ketua Yayasan Dewi Sartika Semarang, Dyah Indah Noviyani, S.Psi., M.Psi., Psikolog.

Keduanya menyampaikan pesan yang memiliki benang merah yang sama. Bahwa keberhasilan menyelesaikan pembelajaran Qiraaty dan mengikuti Khotmil Qur’an bukanlah akhir perjalanan.

Justru tantangan berikutnya adalah menjaga. Menjaga hafalan. Menjaga bacaan. Menjaga kebiasaan berinteraksi dengan Al-Qur’an setiap hari. Orang tua memiliki peran yang sangat besar dalam proses tersebut.

Anak-anak membutuhkan lingkungan yang mendukung agar kedekatan mereka dengan Al-Qur’an tetap tumbuh hingga dewasa. Karena sejatinya, keberhasilan pendidikan Al-Qur’an tidak diukur dari seberapa cepat anak menyelesaikan jilid atau lulus ujian, tetapi dari seberapa lama nilai-nilai Al-Qur’an hidup dalam kesehariannya.

Penyerahan Ijazah dan Kebanggaan Keluarga

Sebagai penanda kelulusan program EBTAQ, seluruh khatimin menerima ijazah secara bergantian. Senyum bangga terlihat dari wajah anak-anak maupun orang tua yang mendampingi. Setelah menerima ijazah, setiap keluarga mengabadikan momen istimewa melalui sesi foto bersama.

Bagi sebagian orang tua, ini bukan sekadar foto kelulusan. Ini adalah dokumentasi perjalanan panjang mendampingi anak belajar membaca Al-Qur’an sejak awal. Perjalanan yang dipenuhi kesabaran, pengulangan, motivasi, dan doa yang tak pernah putus.

Selamat kepada 37 Khatimin

SD Islam Bintang Juara mengucapkan selamat kepada seluruh khatimin yang telah menyelesaikan tahapan pembelajaran Qiraaty dan mengikuti Khotmil Qur’an & Imtihan ke-2:

Kak Dinka, Kak Farabi, Kak Djuna, Kak Aqasha, Kak Yossy, Kak Damar, Kak Davin, Kak Azka, Kak Satria, Kak Daffa, Kak Fatih, Kak Dzakwan, Kak Rafif, Kak Ibra, Kak Gilby, Kak Mahrez, Kak Azzam, Kak Fakhri, Kak Ibrahim, Kak Amiira, Kak Yulia, Kak Sophia, Kak Shafna, Kak Aira, Kak Najma, Kak Jehan, Kak Keyna, Kak Faiha, Kak Naura, Kak Pandan, Kak Talita, Kak Masha, Kak Nura, Kak Neyva, Kak Hafsa, Kak Helga, dan Kak Hanum.

Semoga pencapaian ini menjadi awal dari perjalanan yang lebih indah bersama Al-Qur’an. Karena Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca ketika kecil, tetapi untuk dicintai sepanjang hayat. Dan semoga setiap huruf yang telah dipelajari menjadi cahaya yang menerangi langkah mereka, dunia hingga akhirat.***

Akhirussanah Angkatan IV: Jejak Calon Pemimpin Tangguh  yang Mengharu Biru

Akhirussanah Angkatan IV: Jejak Calon Pemimpin Tangguh yang Mengharu Biru

Ada pertemuan yang memang ditakdirkan untuk berakhir pada perpisahan. Namun bukan berarti perpisahan selalu menyisakan kesedihan. Kadang, ia justru menjadi ruang untuk mensyukuri perjalanan panjang yang telah dilalui bersama.

Suasana itulah yang terasa begitu kuat dalam kegiatan Tasyakuran dan Akhirussanah Kelas VI Angkatan ke-4 SD Islam Bintang Juara yang diselenggarakan pada Sabtu, 6 Juni 2026 di Gedung BBGP Jawa Tengah, Jalan Mr. Koesbiyono Tjondrowibowo, Pakintelan, Gunungpati, Semarang.

Mengusung tema “Jejak Sang Calon Pemimpin Tangguh: Cerdas Berilmu, Santun Berperilaku”, kegiatan ini menjadi penanda berakhirnya perjalanan enam tahun pendidikan dasar bagi 16 kakak shalih dan shalihah Angkatan IV SD Islam Bintang Juara.

Namun lebih dari sekadar acara kelulusan, akhirussanah ini menjadi perayaan perjalanan tumbuh, belajar, berjuang, dan bermimpi bersama.

Enam Tahun yang Penuh Cerita

Enam tahun lalu, mereka datang dengan seragam yang masih kebesaran. Ada yang masih malu berbicara di depan kelas. Ada yang belum lancar membaca. Ada yang masih perlu ditemani saat beradaptasi dengan lingkungan sekolah.

Hari itu, semua kenangan itu seolah diputar kembali. Dalam setiap senyum yang terlihat, tersimpan ribuan cerita yang tidak akan pernah terlupakan. Cerita tentang tugas pertama. Cerita tentang sahabat pertama. Cerita tentang guru-guru yang sabar mendampingi. Dan cerita tentang mimpi-mimpi yang mulai tumbuh sejak mereka duduk di bangku sekolah dasar.

Pesan-Pesan Bermakna yang Mengaduk Perasaan

Rangkaian acara dipenuhi berbagai pesan penuh makna dari wali kelas, kepala sekolah, hingga Ketua Yayasan Dewi Sartika. Masing-masing menyampaikan pesan yang bukan hanya menjadi bekal untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya, tetapi juga bekal kehidupan.

Mereka mengingatkan bahwa kecerdasan akademik penting, tetapi akhlak mulia jauh lebih penting. Bahwa kesuksesan sejati bukan hanya tentang prestasi yang diraih, tetapi tentang manfaat yang diberikan kepada orang lain. Bahwa perjalanan setelah lulus SD justru baru dimulai.

Namun di antara semua pesan yang disampaikan hari itu, ada satu momen yang membuat suasana ruangan berubah menjadi begitu haru.

Ketika Kak Daffa Tak Kuasa Menahan Haru

Perwakilan siswa kelas VI angkatan IV, Kak Daffa, maju ke depan untuk menyampaikan pesan dan kesan. Awalnya ia tampak tenang. Namun perlahan suaranya mulai bergetar.

Ia mencoba melanjutkan kalimat demi kalimat, tetapi rasa haru yang selama ini tersimpan akhirnya tak mampu lagi disembunyikan. Bagaimana mungkin tidak?

Enam tahun bukan waktu yang singkat. Sebentar lagi ia dan teman-temannya akan melanjutkan perjalanan ke sekolah yang berbeda-beda. Mereka yang selama ini belajar, bermain, bercanda, dan bertumbuh bersama akan menempuh jalan masing-masing.

Dalam pesannya, Kak Daffa menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh guru yang telah mendidik mereka sejak kelas 1 hingga menyelesaikan pendidikan di kelas 6. Ucapan sederhana itu terdengar begitu tulus. Dan mungkin menjadi representasi dari perasaan seluruh siswa Angkatan IV pada hari itu.

Untaian Nada yang Menyimpan Banyak Kenangan

Suasana haru semakin terasa melalui berbagai penampilan istimewa yang dipersembahkan sepanjang acara.

Kelas VI membuka rangkaian penampilan dengan “Senandung Perpisahan” yang dipersembahkan untuk guru-guru tercinta, teman-teman sekelas, serta adik-adik kelas.

Setiap lirik yang dinyanyikan seakan membawa hadirin menelusuri kembali perjalanan panjang mereka selama enam tahun terakhir. Tak lama kemudian, giliran perwakilan adik kelas mempersembahkan lagu “Sayonara”.

Penampilan sederhana itu justru menjadi salah satu momen paling menyentuh.

Usai bernyanyi, adik-adik kelas memberikan kenang-kenangan kepada seluruh kakak kelas VI sebagai simbol cinta, penghormatan, dan doa untuk perjalanan mereka selanjutnya.

Resik Sesarengan dan Makna Silaturahim

Keindahan budaya Nusantara turut hadir melalui penampilan Tari Resik Sesarengan. Tarian ini menggambarkan pentingnya kerja sama dalam menjaga lingkungan dan kehidupan bersama.

Lebih dari itu, tarian tersebut menjadi simbol bahwa meskipun kelak berada di tempat yang berbeda, silaturahim harus tetap dijaga. Karena persahabatan yang dibangun dengan kebaikan tidak akan pernah dibatasi oleh jarak.

Untuk Ayah dan Bunda, Terima Kasih

Jika ada satu sosok yang paling banyak berkorban sepanjang perjalanan pendidikan anak, tentu mereka adalah ayah dan bunda. Karena itu, salah satu penampilan paling menyentuh datang dari kelas VI yang secara khusus dipersembahkan untuk orang tua mereka.

Setelah penampilan selesai, kakak shalih dan shalihah memberikan bunga kepada ayah dan bunda masing-masing. Ada pelukan. Ada senyum. Ada air mata. Dan ada begitu banyak rasa syukur yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Momen sederhana itu menjadi pengingat bahwa keberhasilan anak tidak pernah lepas dari doa, perjuangan, dan cinta tanpa syarat dari orang tua.

Ketika Orang Tua Turut Menyampaikan Cinta

Suasana haru berlanjut ketika perwakilan orang tua kelas VI mempersembahkan lagu “Saat Kau Telah Mengerti”. Lagu tersebut dinyanyikan oleh para bunda dengan penuh penghayatan.

Bagi banyak orang tua yang hadir, lagu itu terasa seperti surat cinta yang selama ini tersimpan untuk anak-anak mereka. Penampilan tersebut kemudian dilanjutkan dengan pemberian apresiasi kepada seluruh kakak shalih dan shalihah kelas VI.

Monolog Ibu Pertiwi yang Menggugah Kesadaran

Menjelang penghujung acara, hadirin kembali dibuat terpukau melalui penampilan pamungkas. Kak Syabil membawakan Monolog Ibu Pertiwi, diiringi paduan suara kelas VI yang menyanyikan lagu “Ibu Pertiwi”.

Penampilan ini tidak hanya indah secara artistik, tetapi juga menghadirkan refleksi mendalam tentang kondisi bangsa dan peran generasi muda di masa depan. Seolah menjadi pengingat bahwa anak-anak yang hari itu lulus dari sekolah dasar adalah generasi yang kelak akan menentukan arah negeri ini.

Penyematan Samir yang Sarat Makna

Prosesi penyematan samir dan penyerahan ijazah menjadi salah satu puncak acara yang paling dinanti. Satu per satu siswa dipanggil ke atas panggung.

Bu Shilvi membacakan profil masing-masing siswa dengan hangat dan penuh kebanggaan. Di layar besar, ditampilkan slideshow yang menggambarkan perjalanan mereka.

Menariknya, tayangan tersebut memperlihatkan transformasi dari sosok anak berseragam toga menuju berbagai profesi dan cita-cita yang mereka impikan di masa depan.

Ada yang bercita-cita menjadi dokter. Ada yang ingin menjadi guru. Ada yang ingin menjadi pengusaha. Ada pula yang bermimpi menjadi pemimpin yang membawa manfaat bagi banyak orang.

Visual tersebut menjadi simbol bahwa pendidikan bukan hanya tentang apa yang dicapai hari ini, tetapi tentang mimpi besar yang sedang dipersiapkan untuk masa depan.

Perpisahan yang Menjadi Awal Perjalanan Baru

Kegiatan ditutup dengan pemutaran video dokumenter perjalanan siswa sejak kelas 1 hingga kelas 6.

Tawa, tingkah lucu masa kecil, kegiatan belajar, perlombaan, outing class, hingga momen-momen kebersamaan selama enam tahun diputar kembali di hadapan seluruh hadirin.

Beberapa tersenyum. Beberapa tertawa. Dan tak sedikit yang diam-diam menyeka air mata. Karena mereka sadar, sebuah babak telah selesai. Namun kisah mereka belum berakhir.

Akhirussanah Angkatan IV SD Islam Bintang Juara bukanlah garis akhir. Ini adalah awal dari perjalanan baru bagi para calon pemimpin tangguh yang telah ditempa selama enam tahun.

Selamat melangkah, kakak shalih dan shalihah. Teruslah menjadi pribadi yang cerdas berilmu, santun berperilaku, dan bermanfaat bagi sesama. Semoga setiap jejak langkah yang kalian tinggalkan hari ini menjadi awal dari jejak-jejak kebaikan yang lebih besar di masa depan.***

Anak Cerdas Digital Itu Bukan Sekadar Jago Gadget

Anak Cerdas Digital Itu Bukan Sekadar Jago Gadget

Suasana Kelas 5 SD Islam Bintang Juara pagi itu terasa berbeda. Anak-anak tampak antusias sejak awal kegiatan dimulai. Di depan kelas, laptop sudah disiapkan, beberapa alat tulis tertata rapi, dan wajah-wajah penuh rasa penasaran mulai memenuhi ruangan.

Hari itu, kakak shalih-shalihah Kelas 5 mengikuti kegiatan BBOT (Belajar Bersama Orang Tua) bersama Ayah Aji Purwinarko, ayah dari Kak Satria.

Bukan narasumber biasa. Ayah Aji merupakan dosen Program Studi Teknik Informatika FMIPA UNNES, peneliti sekaligus praktisi di bidang pengembangan teknologi pendidikan berbasis Artificial Intelligence (AI), dan saat ini sedang melanjutkan studi doktoral (S3) di Universitas Gadjah Mada.

Dengan tema “Aku Anak Cerdas Digital”, kegiatan ini mengajak anak-anak memahami bagaimana menggunakan teknologi dengan aman, sopan, dan bijaksana.

Karena di zaman sekarang, kemampuan menggunakan teknologi bukan lagi sekadar tambahan. Tetapi sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak-anak. Namun yang lebih penting, anak-anak perlu belajar menjadi pengguna teknologi yang cerdas, bukan sekadar pengguna yang pasif.

Anak Cerdas Digital Itu Seperti Apa?

Di awal kegiatan, Ayah Aji mengajak anak-anak berdiskusi ringan tentang kehidupan digital mereka sehari-hari.

  • Siapa yang suka menonton YouTube?
  • Siapa yang pernah menggunakan AI?
  • Siapa yang pernah mencari informasi lewat internet?

Hampir semua tangan terangkat.

Anak-anak memang hidup di era yang sangat dekat dengan teknologi. Namun Ayah Aji mengingatkan bahwa menjadi anak cerdas digital bukan berarti sekadar pintar mengetik, cepat menggunakan gadget, atau tahu banyak aplikasi.

Anak cerdas digital adalah anak yang mampu menggunakan teknologi dengan aman, sopan, bertanggung jawab, dan bijaksana.

  • Mereka tahu mana informasi yang baik.
  • Tahu bagaimana berkomunikasi dengan benar.
  • Dan tahu kapan teknologi digunakan untuk belajar, bukan sekadar hiburan.

Belajar Jadi Robot dan Programmer

Kegiatan semakin seru ketika anak-anak diajak praktik menjadi robot dan programmer. Dalam permainan ini, beberapa anak berperan sebagai “robot”, sementara yang lain menjadi “programmer”.

Tugas programmer adalah memberikan instruksi yang jelas dan berurutan agar robot dapat menyelesaikan tugas dengan benar. Awalnya suasana langsung ramai dengan tawa.

Ada robot yang salah jalan. Ada yang berhenti karena instruksinya tidak jelas. Ada pula yang justru melakukan hal lucu karena perintah yang diberikan terlalu ambigu.

Dari permainan sederhana itu, anak-anak belajar tentang algoritma. Ayah Aji menjelaskan bahwa komputer bekerja berdasarkan instruksi yang runtut dan jelas. Jika perintahnya salah atau tidak lengkap, maka hasilnya juga tidak sesuai.

Di sinilah anak-anak mulai memahami bahwa kecerdasan digital bukan hanya tentang bisa menggunakan teknologi. Tetapi juga tentang kemampuan berpikir runtut, logis, dan teliti.

“Anak cerdas digital bukan sekadar bisa ngetik,” jelas Ayah Aji. “Tapi mampu memberikan perintah yang urut, tepat, dan benar.”

Belajar Cerdas Digital dengan Aplikasi Buatan Ayah Aji

Kegiatan selanjutnya makin menarik. Ayah Aji telah mempersiapkan aplikasi istimewa untuk mengenalkan kakak-kakak tentang cerdas digital dengan cara yang interaktif. Ada empat misi di dalamnya:

Misi 1: Mengurutkan Algoritma

Setelah memahami konsep dasar algoritma melalui permainan, anak-anak melanjutkan ke Misi 1: Mengurutkan Algoritma. Dalam tantangan ini, setiap kelompok diminta menyusun langkah-langkah suatu aktivitas secara berurutan.

Kegiatan ini melatih anak-anak untuk berpikir sistematis dan memahami bahwa teknologi bekerja berdasarkan pola yang terstruktur. Tanpa disadari, kemampuan seperti ini juga sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Karena berpikir runtut membantu anak belajar menyelesaikan masalah dengan lebih baik.

Misi 2: Menjadi Detektif Pesan Digital

Suasana semakin menantang saat masuk ke Misi 2: Detektif Pesan Digital. Pada sesi ini, anak-anak diminta memilih mana pesan digital yang aman, mencurigakan, atau berbahaya.

Beberapa contoh pesan yang diberikan ternyata cukup mirip dengan situasi nyata yang sering ditemui anak-anak di internet. Kakak belajar untuk mewaspadai bila ada pesan dari orang tidak dikenal, adanya tautan mencurigakan, serta pesan yang tampak ramah tetapi sebenarnya berpotensi membahayakan.

Anak-anak terlihat serius berdiskusi bersama kelompoknya. Mereka mulai memahami bahwa dunia digital tidak selalu aman.

Karena itu, penting bagi anak-anak untuk berhati-hati sebelum membalas pesan, membagikan informasi pribadi, atau membuka tautan tertentu. Kegiatan ini menjadi latihan penting agar anak-anak memiliki kesadaran digital sejak dini.

Misi 3: AI Teman Belajar atau Jalan Pintas?

Salah satu sesi yang paling menarik adalah Misi 3 tentang penggunaan Artificial Intelligence (AI).

Di era sekarang, banyak anak mulai mengenal AI untuk mencari jawaban, membuat gambar, hingga membantu mengerjakan tugas. Namun Ayah Aji mengajak anak-anak memahami bahwa AI harus digunakan dengan bijak.

Anak-anak diminta memilih aktivitas mana yang boleh dilakukan menggunakan AI, mana yang tidak boleh, dan mana yang harus didampingi orang tua atau guru.

Diskusi pun berlangsung seru. Ada yang berpendapat apakah AI boleh membantu mencari ide cerita. Di lain sisi, ada yang memberikan pendapat tentang penggunaan AI untuk tugas sekolah. Ada pula yang mulai memahami bahwa AI seharusnya menjadi teman belajar, bukan jalan pintas untuk menghindari proses berpikir.

Ayah Aji menjelaskan bahwa teknologi seharusnya membantu manusia berkembang, bukan membuat manusia malas berpikir. Karena itu, anak-anak perlu tetap belajar memahami proses, bukan hanya mengejar hasil instan.

Misi 4: Membuat Poster Janji Digital

Sebagai penutup, anak-anak mendapatkan Misi 4: Membuat Poster Janji Digital.

Sebelum membuat poster di atas kertas, setiap kelompok terlebih dahulu menuliskan ide dan rancangan menggunakan laptop. Setelah itu, rancangan tersebut diwujudkan menjadi poster kreatif yang penuh warna dan pesan positif.

Isi poster pun beragam. Ada yang menulis janji untuk menggunakan gadget seperlunya. Ada yang mengingatkan pentingnya sopan santun saat bermain internet. Ada pula yang menuliskan ajakan menggunakan teknologi untuk belajar dan berkarya.

Kegiatan ini bukan hanya melatih kreativitas anak, tetapi juga membantu mereka merefleksikan bagaimana seharusnya bersikap di dunia digital.

Kelompok tercepat dan paling kompak mendapatkan apresiasi khusus dari Ayah Aji. Namun lebih dari sekadar hadiah, seluruh anak sebenarnya sudah mendapatkan pengalaman belajar yang sangat berharga.

Teknologi Harus Diiringi Karakter

BBOT kali ini menjadi pengingat bahwa pendidikan digital tidak cukup hanya mengajarkan anak cara menggunakan teknologi. Yang jauh lebih penting adalah membentuk karakter mereka saat menggunakan teknologi tersebut.

  • Anak-anak perlu belajar tentang tanggung jawab.
  • Tentang keamanan digital.
  • Tentang etika berkomunikasi.
  • Dan tentang bagaimana tetap menjadi pribadi yang baik meskipun hidup di era serba digital.

Karena teknologi akan terus berkembang. AI akan semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Namun nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, dan kebijaksanaan tetap menjadi pondasi utama yang harus dimiliki anak-anak.

Belajar Teknologi dengan Cara Menyenangkan

Melalui kegiatan BBOT ini, anak-anak belajar bahwa teknologi bukan sesuatu yang harus ditakuti. Teknologi bisa menjadi alat yang sangat bermanfaat jika digunakan dengan benar. Dan belajar tentang dunia digital ternyata bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan, interaktif, dan dekat dengan kehidupan anak-anak sehari-hari.

Tawa yang terdengar selama permainan, diskusi kelompok yang seru, hingga poster-poster penuh warna menjadi bukti bahwa belajar tidak selalu harus membosankan. Semoga melalui kegiatan ini, kakak shalih-shalihah Kelas 5 semakin tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga memiliki adab dan tanggung jawab dalam menggunakannya.

Karena di masa depan nanti, dunia tidak hanya membutuhkan anak-anak yang pandai menggunakan teknologi. Tetapi juga anak-anak yang bijak saat memegangnya.*** (CM-MRT)

Hardiknas 2026 di SD Islam Bintang Juara: Bukan Sekadar Karya, Tapi Belajar Adab

Hardiknas 2026 di SD Islam Bintang Juara: Bukan Sekadar Karya, Tapi Belajar Adab

Pagi itu suasana SD Islam Bintang Juara terasa berbeda. Jumat, 8 Mei 2026, halaman sekolah dipenuhi wajah-wajah ceria kakak shalih-shalihah yang datang membawa semangat berkarya dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional atau Hardiknas.

Namun peringatan Hardiknas tahun ini tidak hanya diisi dengan lomba atau kegiatan seremonial biasa.SD Islam Bintang Juara menghadirkan tema yang  sangat dekat dengan tantangan pendidikan masa kini:

“High Tech, High Manners for My Teacher.”

Sebuah tema sederhana, tetapi memiliki makna yang mendalam.

Di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat, anak-anak tidak hanya perlu tumbuh menjadi generasi yang cerdas secara akademik dan digital. Mereka juga perlu memiliki adab, empati, serta rasa hormat kepada guru dan orang-orang di sekitarnya.

Karena teknologi tanpa akhlak bisa kehilangan arah. Dan kecerdasan tanpa adab tidak akan membawa keberkahan.

Melalui kegiatan Hardiknas ini, seluruh siswa dari kelas 1 hingga kelas 6 diajak mengekspresikan rasa cinta dan penghormatan kepada guru melalui karya kreatif yang sesuai dengan jenjang usia mereka.

Hardiknas 2026 di SD Islam Bintang Juara: Ketika Pendidikan Tidak Hanya Tentang Nilai

Sejak pagi, suasana kelas dipenuhi antusiasme. Anak-anak terlihat sibuk mempersiapkan alat gambar, kertas warna, hingga ide-ide kreatif yang akan mereka tuangkan dalam karya masing-masing.

  • Ada yang berdiskusi dengan teman.
  • Ada yang mulai menggambar perlahan.
  • Ada pula yang terlihat berpikir serius menentukan pesan terbaik untuk gurunya.

Di balik kegiatan sederhana itu, sebenarnya ada proses pendidikan yang sedang tumbuh. Anak-anak belajar mengekspresikan rasa hormat. Belajar menuangkan pikiran dengan kreatif.

Dan belajar bahwa guru bukan sekadar orang yang mengajar di kelas, tetapi juga sosok yang membersamai proses tumbuh mereka setiap hari.

Kelas 1 dan 2: “Untuk Guruku: Karya dan Sikap Terbaikku”

Untuk kakak-kakak kelas 1 dan 2, kegiatan Hardiknas mengangkat tema “Untuk Guruku: Karya dan Sikap Terbaikku”.

Pada usia ini, anak-anak masih belajar memahami bagaimana cara menunjukkan kasih sayang dan penghormatan kepada guru melalui tindakan sederhana.

  • Ada yang membuat gambar penuh warna untuk gurunya.
  • Ada yang menuliskan pesan singkat penuh ketulusan.
  • Ada pula yang berusaha menunjukkan sikap terbaiknya sepanjang kegiatan berlangsung.

Beberapa anak tampak begitu serius menggambar sosok guru kesayangannya di depan kelas. Ada gambar guru dengan senyum lebar, ada yang menggambar dirinya sedang belajar bersama guru, bahkan ada yang menambahkan hati dan tulisan “Terima Kasih Guruku”.

Meski sederhana, karya-karya itu terasa sangat tulus. Karena bagi anak-anak usia awal sekolah dasar, cinta sering kali hadir lewat gambar, warna, dan tindakan kecil yang jujur dari hati mereka.

Melalui kegiatan ini, anak-anak belajar bahwa menghormati guru tidak hanya lewat ucapan, tetapi juga melalui sikap sehari-hari.

Kelas 3: “Poster Karyaku, Pesan Manis untuk Guruku”

Berbeda dengan kelas kecil, kakak-kakak kelas 3 mulai diajak menuangkan gagasan mereka melalui poster kreatif bertema “Poster Karyaku, Pesan Manis untuk Guruku”.

Kegiatan ini melatih anak-anak untuk menyampaikan pesan positif dengan lebih terstruktur dan komunikatif. Poster-poster yang dibuat pun beragam.

  • Ada yang menuliskan ajakan untuk menghormati guru.
  • Ada yang membuat ilustrasi tentang pentingnya sopan santun di sekolah.
  • Ada pula yang menuliskan pesan terima kasih kepada guru yang telah sabar membimbing mereka belajar.

Warna-warni poster memenuhi ruang kelas dengan suasana hangat dan penuh semangat. Menariknya, banyak anak mulai memahami bahwa guru bukan hanya mengajarkan pelajaran matematika atau bahasa Indonesia.

Tetapi juga mengajarkan kesabaran, kedisiplinan, hingga cara menjadi pribadi yang baik. Dan pemahaman seperti inilah yang menjadi pondasi penting dalam pendidikan karakter anak.

Kelas 4–6: “Komik Adab: The Heroic Student”

Sementara itu, kakak-kakak kelas 4 hingga 6 mendapatkan tantangan yang lebih kompleks dan kreatif melalui kegiatan “Komik Adab: The Heroic Student”.

Dalam kegiatan ini, siswa diminta membuat komik bertema adab dan perilaku baik seorang pelajar.

Suasana kelas terlihat begitu hidup. Anak-anak mulai berdiskusi menentukan alur cerita, tokoh, hingga pesan moral yang ingin disampaikan melalui komik mereka.

  • Ada yang membuat cerita tentang siswa yang membantu guru.
  • Ada yang mengangkat kisah tentang meminta maaf ketika berbuat salah.
  • Ada pula yang membuat cerita tentang pentingnya sopan santun terhadap teman dan guru di era digital.

Menariknya, banyak siswa mulai menghubungkan kehidupan sehari-hari mereka dengan tantangan zaman sekarang. Tentang bagaimana tetap menjaga adab meskipun teknologi semakin dekat.

Tentang bagaimana menjadi pelajar yang cerdas tanpa kehilangan rasa hormat kepada orang lain. Dan tentang bagaimana menjadi “heroic student” bukan karena paling hebat atau paling terkenal, tetapi karena memiliki akhlak yang baik.

High Tech Harus Diimbangi High Manners

Tema “High Tech, High Manners” terasa sangat relevan dengan kehidupan anak-anak hari ini.

  • Mereka hidup di era yang penuh teknologi.
  • Belajar menggunakan gadget.
  • Dekat dengan media sosial.
  • Cepat mendapatkan informasi dari internet.

Namun di tengah semua kemajuan itu, pendidikan adab tetap menjadi pondasi utama.

Melalui kegiatan Hardiknas ini, SD Islam Bintang Juara ingin menanamkan bahwa kemampuan teknologi harus berjalan seiring dengan kemampuan menjaga sikap dan akhlak.

Karena kecanggihan teknologi tidak akan bermakna tanpa hati yang baik. Anak-anak perlu belajar menggunakan teknologi untuk hal positif, sekaligus tetap menghormati guru, orang tua, dan sesama.

Pendidikan Karakter Dimulai dari Hal Sederhana

Kegiatan Hardiknas ini juga menjadi pengingat bahwa pendidikan karakter tidak selalu harus dilakukan melalui ceramah panjang. Kadang, nilai-nilai penting justru tumbuh lewat kegiatan sederhana yang menyenangkan.

  • Lewat gambar.
  • Lewat poster.
  • Lewat cerita komik.
  • Dan lewat interaksi kecil yang dilakukan anak-anak setiap hari.

Saat anak belajar membuat karya untuk guru, mereka sedang belajar menghargai. Saat anak menulis pesan baik, mereka sedang belajar empati. Dan saat anak membuat komik tentang adab, mereka sedang belajar memahami mana perilaku yang baik dan mana yang perlu diperbaiki.

Menjadi Generasi Cerdas dan Berakhlak

Menjelang kegiatan selesai, hasil karya anak-anak dipenuhi warna, kreativitas, dan pesan-pesan penuh makna.

Namun lebih dari sekadar hasil akhir, yang paling penting adalah proses yang mereka jalani selama kegiatan berlangsung.

  • Proses berpikir.
  • Proses merasakan.
  • Dan proses memahami bahwa pendidikan bukan hanya tentang nilai akademik.

Tetapi juga tentang bagaimana menjadi manusia yang beradab.

Melalui peringatan Hardiknas 2026 ini, SD Islam Bintang Juara terus berikhtiar menghadirkan pendidikan yang tidak hanya membentuk anak-anak cerdas, tetapi juga memiliki hati yang lembut, sikap yang baik, dan karakter yang kuat.

Karena di masa depan nanti, dunia bukan hanya membutuhkan generasi yang pintar menggunakan teknologi. Tetapi juga generasi yang tetap menjaga adab di tengah pesatnya perkembangan zaman.*** (CM-MRT)

Serunya Jadi Tim Penyelamat! Kelas 3 Belajar Mitigasi Bencana di BPBD

Serunya Jadi Tim Penyelamat! Kelas 3 Belajar Mitigasi Bencana di BPBD

Hari itu suasana berbeda terasa sejak pagi di SD Islam Bintang Juara. Kakak shalih-shalihah kelas 3 tampak begitu antusias. Ada yang sibuk memastikan topinya sudah dipakai, ada yang menggenggam botol minum erat-erat, dan ada pula yang tidak berhenti bertanya,
“Benarkah nanti bisa naik mobil evakuasi?”

Kamis, 7 Mei 2026 menjadi pengalaman belajar yang tidak biasa bagi kakak kelas 3. Melalui kegiatan Outing Class, mereka diajak mengunjungi Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Semarang yang berlokasi di Kompleks Terminal Penggaron, Kota Semarang.

Bukan sekadar jalan-jalan, outing class kali ini menjadi petualangan penuh ilmu tentang kebencanaan, keselamatan, dan bagaimana cara menyelamatkan diri saat bencana terjadi.

Kelas 3 Belajar Mitigasi Bencana Langsung Bersama Ahlinya

Sesampainya di lokasi BPBD, kakak shalih-shalihah disambut hangat oleh para petugas. Wajah penasaran langsung terlihat ketika mereka melihat berbagai kendaraan besar terparkir di area BPBD.

“Ini mobil apa?”
“Kalau banjir pakainya yang mana?”
“Kalau gempa bagaimana menyelamatkan orang?”

Pertanyaan demi pertanyaan terus bermunculan.

Kegiatan pertama dimulai dengan touring mengenal kendaraan dan alat-alat yang digunakan dalam proses evakuasi bencana. Kakak diajak melihat langsung:

  • Truk evakuasi
  • Jeep penyelamat
  • Kapal karet
  • Tenda darurat
  • Dapur umum bencana
  • Berbagai perlengkapan keselamatan lainnya

Tidak sedikit yang terpukau ketika melihat ukuran kendaraan evakuasi yang besar dan kokoh. Petugas BPBD menjelaskan bahwa setiap alat memiliki fungsi yang berbeda, tergantung jenis bencana yang terjadi.

Dari sini kakak mulai memahami bahwa penanganan bencana membutuhkan kerja sama banyak pihak dan peralatan yang tepat.

Merasakan Jadi Korban Evakuasi

Salah satu momen yang paling seru adalah ketika kakak diberi kesempatan naik truk evakuasi.

Dengan tertib, mereka naik satu per satu ke atas kendaraan. Sepanjang perjalanan singkat itu, kakak diajak membayangkan bagaimana situasi saat terjadi bencana.

Petugas menjelaskan bahwa kendaraan seperti ini digunakan untuk membantu masyarakat menuju tempat yang lebih aman saat banjir, longsor, atau kondisi darurat lainnya.

Meski dilakukan dalam suasana aman dan menyenangkan, pengalaman ini membuat kakak belajar berempati. Bahwa di luar sana, ada banyak orang yang benar-benar harus dievakuasi saat terjadi bencana.

Mengenal Risiko Bencana Kota Semarang

Kegiatan berikutnya berlangsung di ruang Pusdatin (Pusat Data dan Informasi). Di ruangan ini, kakak melihat peta besar Kota Semarang yang menunjukkan berbagai wilayah dengan risiko bencana tertentu.

Petugas menjelaskan:

  • Wilayah yang rawan banjir
  • Area yang memiliki potensi longsor
  • Daerah dengan risiko genangan air tinggi

Kakak tampak serius memperhatikan penjelasan tersebut.

Melalui kegiatan ini, mereka belajar tentang bentang alam Kota Semarang dan memahami bahwa kondisi geografis sangat memengaruhi risiko bencana di suatu wilayah.

Belajar jadi terasa lebih nyata karena tidak hanya membaca dari buku, tetapi melihat langsung data dan penjelasannya.

Belajar Evakuasi Diri dengan Benar

Setelah itu, kegiatan dilanjutkan di aula utama BPBD. Di sinilah kakak mendapatkan materi penting tentang mitigasi bencana dan evakuasi diri.

Petugas mengajak kakak berdiskusi:

  • “Apa yang harus dilakukan kalau terjadi gempa?”
  • “Kenapa tidak boleh panik?”
  • “Bagaimana cara melindungi diri?”

Kakak juga diajak menonton video simulasi penyelamatan diri saat terjadi gempa bumi. Dari video tersebut, mereka belajar langkah-langkah penting, seperti:

  • Berlindung di bawah meja
  • Melindungi kepala
  • Tidak berebut saat evakuasi
  • Mengikuti jalur penyelamatan

Petugas juga memberikan contoh sederhana bagaimana melindungi kepala menggunakan benda di sekitar, termasuk ember atau tas sekolah. Kegiatan ini membuat kakak memahami bahwa keselamatan diri dimulai dari pengetahuan yang benar.

Simulasi Gempa yang Menegangkan tapi Seru

Puncak kegiatan hari itu adalah simulasi bencana gempa bumi.

Sirine pertama berbunyi. Dengan sigap, kakak segera memakai sepatu dan melindungi kepala menggunakan tas masing-masing. Wajah mereka tampak serius mengikuti arahan petugas.

Sirine kedua berbunyi. Kakak mulai mencari tempat aman sesuai instruksi. Ada yang berlindung, ada yang memastikan temannya aman.

Sirine ketiga berbunyi. Satu per satu kakak berjalan tertib mengikuti jalur evakuasi menuju titik kumpul aman.

Simulasi ini terasa begitu nyata. Meski dilakukan dalam suasana pembelajaran, kakak belajar bahwa saat bencana terjadi, ketenangan dan kesiapan sangat penting.

Belajar yang Tidak Terlupakan

Outing Class ke BPBD ini bukan hanya tentang melihat kendaraan atau mencoba simulasi. Lebih dari itu, kakak belajar:

  • Mengenali tanda-tanda bencana
  • Pentingnya menjaga keselamatan diri
  • Cara bersikap tenang saat kondisi darurat
  • Pentingnya kerja sama dalam situasi bencana

Kegiatan seperti ini menjadi pembelajaran kontekstual yang sangat bermakna bagi anak-anak. Karena ilmu tentang keselamatan bukan hanya untuk dihafal, tetapi untuk dipahami dan dipraktikkan.

Menumbuhkan Kepedulian Sejak Dini

Di akhir kegiatan, kakak shalih-shalihah tampak masih antusias menceritakan pengalaman mereka.

  • Ada yang paling senang naik truk evakuasi.
  • Ada yang terkesan dengan simulasi gempa.
  • Ada pula yang mulai memahami mengapa kita harus siap menghadapi bencana.

Dari kegiatan ini, tumbuh satu hal penting dalam diri anak-anak: kepedulian. Bahwa menjaga diri sendiri juga berarti menjaga orang lain. Bahwa kesiapsiagaan adalah bagian dari tanggung jawab bersama.

Semoga pengalaman belajar di Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Semarang ini menjadi bekal berharga bagi kakak shalih-shalihah. Tidak hanya menambah ilmu, tetapi juga membangun keberanian, kepedulian, dan kesiapan menghadapi berbagai situasi di kehidupan nyata.*** (CM-MRT)

Serunya Outing Class Belajar di Sawah! Kelas 2 SD Islam Bintang Juara Panen Pengalaman Baru

Serunya Outing Class Belajar di Sawah! Kelas 2 SD Islam Bintang Juara Panen Pengalaman Baru

Langit pagi di Desa Wisata Kandri tampak cerah ketika rombongan kakak shalih-shalihah Kelas 2 SD Islam Bintang Juara tiba dengan wajah penuh semangat. Berlokasi di Jl. Kandri Barat No.58, Kandri, Kecamatan Gunung Pati, Kota Semarang, suasana desa yang asri langsung menyambut anak-anak dengan hamparan sawah hijau, udara segar, dan suara alam yang jarang mereka temui di tengah hiruk pikuk kota.

Hari itu bukan sekadar jalan-jalan. Bukan hanya kegiatan refreshing bersama teman-teman. Tetapi sebuah perjalanan belajar yang membawa anak-anak melihat langsung bagaimana alam, cuaca, dan kehidupan petani saling terhubung dalam kehidupan sehari-hari.

Outing Class kali ini menjadi pengalaman yang sangat berkesan. Ada yang untuk pertama kalinya turun ke sawah, menginjak lumpur, menanam padi, hingga heboh menangkap lele bersama.

Dan dari pengalaman sederhana itu, anak-anak belajar banyak hal yang tidak selalu bisa ditemukan di dalam buku pelajaran.

Outing Class Kelas 2: Belajar dari Alam yang Sesungguhnya

Sejak turun dari kendaraan, rasa penasaran langsung terlihat di wajah kakak-kakak Kelas 2. Beberapa anak tampak sibuk melihat area persawahan, sementara yang lain menunjuk petani yang sedang bekerja di sawah.

“Lumpurnya banyak banget!”

“Aku belum pernah masuk sawah!”

Suara-suara antusias terdengar hampir sepanjang perjalanan.

Guru pendamping kemudian mengajak anak-anak berkumpul untuk mendengarkan penjelasan singkat mengenai kegiatan yang akan dilakukan hari itu. Anak-anak diajak memahami bahwa sawah bukan hanya tempat menanam padi, tetapi juga bagian penting dari kehidupan manusia.

Dari sawah itulah nasi yang setiap hari dimakan berasal. Dan di balik sepiring nasi, ada kerja keras para petani yang harus menghadapi panas, hujan, hingga perubahan cuaca. Anak-anak pun mulai memahami bahwa alam dan manusia saling terhubung satu sama lain.

Pengalaman Pertama Menanam Padi

Salah satu kegiatan yang paling ditunggu adalah praktik menanam padi langsung di sawah.

Dengan hati-hati, anak-anak mulai turun ke area sawah berlumpur. Ada yang langsung berani melangkah, tetapi tidak sedikit yang awalnya ragu-ragu karena belum pernah merasakan lumpur di kaki mereka.

Begitu kaki mulai masuk ke lumpur, suasana langsung pecah dengan tawa.

“Astaghfirullah, licin!”

“Sepatuku tenggelam!”

Ada yang tertawa geli, ada pula yang berusaha menjaga keseimbangan sambil berpegangan pada temannya.

Namun perlahan, rasa takut berubah menjadi keberanian. Anak-anak mulai mencoba menancapkan bibit padi satu per satu seperti yang dicontohkan oleh pendamping.

Momen ini menjadi pengalaman baru yang sangat berharga. Sebab banyak anak yang selama ini hanya melihat sawah dari jalan atau televisi, kini bisa merasakan langsung bagaimana proses menanam padi dilakukan.

Melalui kegiatan ini, anak-anak belajar bahwa makanan yang mereka makan setiap hari tidak hadir begitu saja.

  • Ada proses panjang.
  • Ada kerja keras.
  • Ada kesabaran.

Dan ada peran alam yang harus dijaga bersama.

Mengenal Hubungan Alam, Cuaca, dan Kehidupan Petani

Selain praktik di sawah, kakak-kakak juga diajak memahami bagaimana cuaca sangat memengaruhi kehidupan petani.

Pemandu menjelaskan bahwa petani harus memperhatikan musim hujan dan musim kemarau sebelum mulai menanam padi. Jika hujan terlalu sedikit, tanaman bisa kekurangan air. Namun jika hujan terlalu deras, tanaman juga dapat rusak.

Anak-anak terlihat serius mendengarkan penjelasan tersebut.

Mereka mulai memahami bahwa alam bukan sesuatu yang bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Ketika alam dijaga dengan baik, manusia juga akan mendapatkan manfaatnya. Sebaliknya, jika lingkungan rusak, maka kehidupan manusia ikut terdampak.

Pembelajaran seperti ini membantu anak memahami konsep secara nyata, bukan hanya lewat teori di kelas.

Heboh Menangkap Lele Bersama

Jika menanam padi menghadirkan pengalaman penuh tantangan, maka sesi menangkap lele menjadi momen paling heboh sepanjang kegiatan.

Begitu melihat kolam lele, anak-anak langsung bersorak antusias. Dengan penuh semangat, mereka turun bersama-sama mencoba menangkap lele menggunakan tangan kosong.

Suasana langsung ramai dipenuhi tawa dan teriakan lucu.

“Aku dapat!”

“Eh lepas lagi!”

“Lele-nya cepat banget!”

Beberapa anak tampak begitu bersemangat mengejar lele ke sana kemari. Ada juga yang awalnya takut memegang lele, tetapi akhirnya memberanikan diri setelah melihat teman-temannya mencoba.

Kegiatan sederhana ini ternyata melatih banyak hal.

  • Anak-anak belajar keberanian.
  • Belajar kerja sama.
  • Belajar mencoba meskipun awalnya takut.
  • Dan yang paling penting, mereka belajar menikmati proses tanpa takut kotor.

Di era ketika banyak anak lebih akrab dengan layar gadget dibanding permainan alam, pengalaman seperti ini menjadi sesuatu yang sangat berharga.

Belajar Tidak Selalu Duduk dan Menulis

Outing Class ke Desa Wisata Kandri menjadi salah satu bentuk pembelajaran kontekstual yang diterapkan di SD Islam Bintang Juara. Anak-anak tidak hanya mendengarkan penjelasan guru, tetapi juga mengalami langsung apa yang sedang dipelajari.

Melalui pengalaman nyata, pembelajaran menjadi lebih hidup dan membekas dalam ingatan mereka. Anak-anak belajar tentang pertanian bukan hanya dari gambar di buku. Tetapi dari lumpur yang mereka pijak sendiri. Dari bibit padi yang mereka tanam langsung. Dan dari cerita para petani yang mereka temui di lapangan.

Hal-hal seperti inilah yang membantu anak memahami bahwa ilmu pengetahuan sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Menumbuhkan Rasa Syukur Sejak Kecil

Di balik seluruh keseruan kegiatan, ada nilai penting yang ingin ditanamkan kepada anak-anak, yaitu rasa syukur.

Ketika anak melihat langsung proses menanam padi, mereka belajar menghargai makanan. Ketika anak melihat kerja keras petani, mereka belajar bahwa setiap nikmat berasal dari usaha yang tidak mudah. Dan ketika anak menikmati alam yang hijau dan asri, mereka belajar pentingnya menjaga lingkungan.

Nilai-nilai seperti ini sangat penting dikenalkan sejak usia dini agar anak tumbuh menjadi pribadi yang peduli, bertanggung jawab, dan menghargai proses kehidupan.

Pulang Membawa Cerita dan Pengalaman Baru

Menjelang kegiatan selesai, wajah anak-anak terlihat lelah tetapi bahagia. Baju yang terkena lumpur dan kaki yang basah justru menjadi bagian dari cerita seru yang ingin segera mereka bagikan kepada ayah bunda di rumah.

  • Ada yang bangga karena berhasil menanam padi untuk pertama kalinya.
  • Ada yang terus bercerita tentang lele yang licin dan sulit ditangkap.
  • Ada pula yang mulai memahami bahwa pekerjaan petani ternyata tidak mudah.

Hari itu, kakak shalih-shalihah Kelas 2 tidak hanya pulang membawa foto-foto kegiatan. Mereka pulang membawa pengalaman. Membawa pelajaran kehidupan. Dan membawa kenangan yang mungkin akan terus mereka ingat hingga dewasa nanti.

Karena terkadang, pembelajaran terbaik memang lahir dari pengalaman sederhana yang dirasakan langsung dengan hati.*** (CM-MRT)