fbpx

Masya Allah tak terasa telah mendekati penghujung ramadhan ya, Ayah Bunda. Berbondong-bondong orang mulai memenuhi masjid untuk melakukan iktikaf. Ayah Bunda tahukah keutamaan iktikaf pada sepuluh hari terakhir ramadhan?

Apabila Ayah Bunda telah mengetahuinya, tentu tidak heran bukan kenapa pada akhir ramadhan banyak yang melakukan iktikaf. Sebagai informasi, iktikaf atau biasa disebut i’tikaf berasal dari bahasa Arab yang artinya berdiam diri pada sesuatu.

Sementara arti yang sekarang berkembang yaitu ibadah sunnah yang dilakukan dengan cara menetap di masjid sementara waktu. Selama di masjid, Ayah Bunda bisa melakukan beragam aktivitas ibadah yang bisa mendekatkan diri kepada Allah, seperti berdzikir, mendirikan shalat sunnah ataupun membaca Al Quran.

Sebagai informasi, orang yang melakukan iktikaf disebut dengan mu’takif atau ‘aakif. Apakah Ayah Bunda sudah melakukan iktikaf?

Apabila Ayah Bunda belum memulai beriktikaf, yuk baca terlebih dahulu informasi mengenai iktikaf yang insya Allah bisa menambah semangat untuk menjalankan ibadah sunnah ini.

Siapa Saja yang Boleh Iktikaf?

Sebagian besar mu’takif adalah laki-laki, tetapi tidak ada larangan bagi perempuan yang ingin beriktikaf lo, Ayah Bunda. Sebagaimana termaktub dalam hadits Rasulullah SAW berikut ini;

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: “Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadan hingga beliau diwafatkan oleh Allah. Lalu istri-istri beliau beri’tikaf setelah beliau wafat. Muttafaqun ‘alaih.” (HR. Bukhari dan Muslim).

siapa saja yang boleh beriktikaf

Dari hadits tersebut bisa disimpulkan bahwasanya perempuan diperbolehkan beriktikaf. Namun para ulama memiliki kesamaan pendapat terkait syarat yang harus dipenuhi perempuan agar bisa beriktikaf.

Pertama, apabila perempuan sudah menikah, maka ia harus mendapat izin dari suaminya. Kedua, seorang perempuan boleh datang beriktikaf asalkan tidak menimbulkan fitnah.

Waktu untuk Iktikaf

Iktikaf merupakan ibadah sunnah yang lebih banyak dilakukan pada bulan ramadhan. Padahal sebenarnya iktikaf bisa dilakukan di luar bulan Ramadhan lo, Ayah Bunda.

Selain itu iktikaf juga boleh dilakukan tanpa berpuasa terlebih dahulu. Hanya saja memang karena keutamaan iktikaf pada sepuluh hari terakhir ramadhan yang sangat luar biasa, tak heran jika ibadah ini lebih populer di bulan Ramadhan.

Berikut ini hadits Rasulullah SAW yang menjadi landasan untuk banyak beriktikaf di sepuluh hari terakhir ramadhan:

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah beri’tikaf di sepuluh hari pertengahan ramadhan, lalu I’tikaf pada tahun tersebut sampai pada malam keduapuluh satu, yaitu malam beliau keluar I’tikaf. Pada pagi harinya, beliau berkata barang siapa yang beri’tikaf bersamaku maka hendaklah beri’tikaf di sepuluh terakhir.” (Bukhori 1887)

Sedangkan untuk lama iktikafnya, beberapa ulama memiliki perbedaan pendapat. Ada yang berkata minimal sehari semalam, ada pula yang berkata bahwa waktu untuk melakukan iktikaf minimal semalam sama.

Namun sebagian ulama lainnya juga berpendapat bahwa selama memasuki masjid dan berniat iktikaf, Ayah Bunda sudah bisa mendapat pahala beriktikaf, walau hanya beberapa jam.

waktu iktikaf

Syarat untuk Melakukan Iktikaf

Adapun syarat melakukan iktikaf sebagai berikut;

  • Hanya boleh dilakukan di dalam masjid
  • Dilarang keluar dari masjid kecuali karena hajat atau ada keadaan darurat

Syarat tersebut disampaikan oleh Allah SWT dalam firmanNya pada Quran Surat Al Baqarah: 187;

“Janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya.”

Tata Cara Melakukan Iktikaf

Apabila Ayah Bunda ingin beriktikaf, silakan untuk melakukan langkah-langkah berikut;

tata cara beriktikaf

1. Membaca Niat

Ada dua niat iktikaf yang bisa dipilih;

  • Nawaitul i’tikaafa fii haadzal masjidi lillaahi ta’aalaa. Artinya: “Saya niat iktikaf di masjid ini karena Allah SWT,”
  • Nawaitu an a’takifa fii haadzal masjidi maa dumtu fiihi. Artinya: “Saya niat iktikaf di masjid ini selama saya berada di dalamnya.”

Kalau Ayah Bunda biasa menggunakan niat yang mana?

2. Berdiam Diri dan Melakukan Berbagai Amalan

Sebagaimana arti katanya, saat melakukan iktikaf, Ayah Bunda dipersilakan untuk berdiam diri di dalam masjid. Sembari berdiam diri, Ayah Bunda bisa melakukan berbagai amalan seperti berdzikir, bertafakkur, ataupun membaca Al Quran.

3. Menghindari Perbuatan yang Tidak  Berguna

Ada kalanya saat beriktikaf Ayah Bunda bertemu dengan rekan atau kerabat, kemudian justru  terlibat pembicaraan yang gayeng. Nah, hal seperti ini sebaiknya dihindari, Ayah Bunda.

Karena tujuan iktikaf adalah untuk beribadah, sebaiknya Ayah Bunda menghindari melakukan hal-hal yang tidak ada manfaatnya agar ibadah iktikaf bisa lebih sempurna. Walaupun melakukan hal-hal tersebut  tidak membatalkan iktikaf, tetapi bisa mengurangi nilai iktikaf.

Selama iktikaf, Ayah Bunda tetap boleh memejamkan mata. Bagaimanapun tubuh memiliki hak untuk beristirahat. Apabila dirasa tubuh meminta haknya untuk diistirahatkan, Ayah Bunda bisa tidur beberapa saat untuk mengumpulkan tenaga sebelum memulai ibadah lainnya.

5 Keutamaan Iktikaf pada Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan

Siapa yang tak ingin masuk dalam barisan umatnya Rasulullah Muhammad SAW bukan? Makanya, ayo beriktikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan, Ayah Bunda.

Berikut ini keutamaan iktikaf yang bisa didapatkan apabila Ayah Bunda melakukannya di sepuluh hari terakhir Ramadhan:

keutamaan iktikaf pada sepuluh hari terakhir ramadhan

1. Berkesempatan untuk Mendapatkan Malam Lailatul Qadar

Disebutkan bahwa Lailatul Qadar adalah malam penuh kemuliaan yang lebih baik dari seribu bulan, sebagaimana termaktub dalam Quran Surat Al Qadar: 3 – 5;

“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.”

Namun kapan tepatnya Lailatul Qadar terjadi, tidak ada yang benar-benar mengetahuinya. Allah SWT merahasiakan waktunya, tetapi memberikan pertanda sebagaimana terdapat pada hadits-hadits berikut;

  • “Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari)
  • “Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari)
  • “Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir, namun jika ia ditimpa keletihan, maka janganlah ia dikalahkan pada tujuh malam yang tersisa.” (HR. Muslim)
  • “Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan pada sembilan, tujuh, dan lima malam yang tersisa.” (HR. Bukhari)

Dalam hadits-hadits tersebut terjelaskan bahwa Lailatul Qadar hadir pada sepuluh hari terakhir ramadhan. Walaupun waktu tepatnya tidak ada yang benar-benar mengetahui.

Hal ini bukan tanpa sebab, Ayah Bunda. Dirahasiakannya Lailatul Qadar agar terlihat mana orang yang bersungguh-sungguh dan mana yang bermalas-malasan.

Apabila Ayah Bunda benar-benar ingin mendapatkan berkah Lailatul Qadar, tentu akan melakukan banyak amalan dan mendekatkan diri pada Allah SWT dengan penuh kesungguhan. Salah satunya dengan melakukan iktikaf.

Kesempatan untuk mendapatkan malam Lailatul Qadar pada saat iktikaf lebih terbuka lebar karena Ayah Bunda khusyuk beribadah. Pastikan selama iktikaf, Ayah Bunda memperbanyak doa berikut;

Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwan fa’fu ‘anni. Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, dan Engkau suka memberi maaf, maka maafkanlah aku.”

2. Terhindar dari Perbuatan Maksiat

Dengan melakukan iktikaf, Ayah Bunda akan khusyuk beribadah sehingga akan terhindar dari perbuatan yang sia-sia. Dengan berniat iktikaf, Ayah Bunda akan terlupakan dari urusan-urusan duniawi, seperti bergosip, berbelanja keperluan lebaran dengan kalap ataupun acara-acara buka bersama yang seringkali melalaikan.

3. Salat Menjadi Lebih Khusyuk

Apabila di hari-hari sebelumnya, menegakkan shalat hanya sekadar untuk menggugurkan kewajiban. Maka shalat yang didirikan pada saat iktikaf lebih memiliki nilai karena dikerjakan dengan sungguh-sungguh.

4. Waktu yang Tenang untuk Bermuhasabah

Walaupun tidak ada batasan  untuk melakukan iktikaf di siang hari, tetapi sebagian besar mu’takif beriktikaf di malam hari. Hal itu dikarenakan pada malam hari Ayah Bunda telah terlepas dari segala urusan duniawi, sehingga bisa lebih fokus untuk melakukan amalan-amalan.

Selain berdzikir, mengerjakan shalat sunnah dan membaca Al Quran, Ayah Bunda juga bisa memanfaatkan iktikaf sebagai waktu untuk bermuhasabah. Ayah Bunda bisa melakukan evaluasi apakah selama bulan ramadhan ini telah banyak melakukan perbaikan diri atau justru mengalami kemunduran.

5. Melatih Kesabaran

Pada saat melakukan iktikaf, Ayah Bunda akan berlatih banyak mengenai kesabaran. Hal tersederhana adalah antre untuk berwudhu atau ke kamar kecil.

Selain itu, selama beriktikaf, Ayah Bunda bisa belajar untuk beribadah dengan lebih khusyuk dan tidak tergesa-gesa. Iktikaf akan membuat Ayah Bunda lebih bisa merasakan getaran hati saat melakukan ibadah-ibadah tersebut.

Nah, Ayah Bunda kini telah mengetahui keutamaan iktikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan bukan? Yuk, mulai malam ini rapatkan barisan dan mulai penuhi masjid-masjid terdekat untuk beriktikaf. Kakak shalih-shalihah juga sudah bisa diajak beriktikaf lo.

Selamat menjalani ibadah di penghujung ramadhan, Ayah Bunda. Sampai jumpa pada catatan istimewa Bintang Juara berikutnya.***

Referensi:

  • https://muslim.or.id/84297-hukum-hukum-berkenaan-dengan-itikaf.html
  • https://www.detik.com/hikmah/khazanah/d-6667708/raih-malam-lailatul-qadar-apakah-harus-itikaf-di-masjid
  • https://www.detik.com/hikmah/khazanah/d-6671546/niat-tata-cara-waktu-iktikaf-dan-doa-malam-lailatul-qadar
  • https://muslim.or.id/356-lailatul-qadar-dan-itikaf.html
  • https://www.idntimes.com/life/inspiration/intan-deviana-safitri/keutamaan-itikaf-exp-c1c2?page=all