fbpx
Khotmil Qur’an & Imtihan ke-2 SD Islam Bintang Juara: Awal Perjalanan Menjaga Cahaya Al-Qur’an

Khotmil Qur’an & Imtihan ke-2 SD Islam Bintang Juara: Awal Perjalanan Menjaga Cahaya Al-Qur’an

Suasana haru dan penuh syukur menyelimuti aula acara pada Ahad, 14 Juni 2026. Satu per satu kakak shalih dan shalihah melangkah memasuki ruangan dengan wajah penuh kebanggaan. Mereka bukan sekadar hadir sebagai peserta acara, tetapi sebagai khatimin yang telah menuntaskan salah satu perjalanan penting dalam belajar Al-Qur’an.

Hari itu, SD Islam Bintang Juara menyelenggarakan Khotmil Qur’an & Imtihan ke-2, sebuah kegiatan yang menjadi bentuk tasyakuran atas kelulusan peserta didik dalam program EBTAQ (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Qiraaty) sekaligus momentum untuk menunjukkan kemampuan membaca Al-Qur’an, tajwid, dan gharib yang telah mereka pelajari selama bertahun-tahun.

Namun sejatinya, Khotmil Qur’an bukanlah garis akhir. Justru inilah awal perjalanan yang sesungguhnya: perjalanan menjaga, mencintai, dan mengamalkan Al-Qur’an sepanjang kehidupan.

Apa Itu Khotmil Qur’an dan Imtihan?

Bagi sebagian orang tua, istilah Khotmil Qur’an dan Imtihan mungkin masih terdengar asing.

Khotmil Qur’an adalah prosesi syukur atas keberhasilan peserta didik menyelesaikan tahapan pembelajaran membaca Al-Qur’an sesuai standar yang ditetapkan. Sementara Imtihan merupakan ujian terbuka yang bertujuan menunjukkan kemampuan peserta dalam membaca Al-Qur’an, memahami ilmu tajwid, serta mengenali bacaan gharib di hadapan para tamu undangan dan orang tua.

Melalui kegiatan ini, anak-anak belajar bahwa membaca Al-Qur’an bukan sekadar mampu melafalkan huruf demi huruf, tetapi juga memahami kaidah bacaan yang benar serta membangun kedekatan dengan Kalamullah.

Disambut Rebana, Dihantar Doa

Acara dipandu oleh Pak Ali As’ad yang mengawali kegiatan dengan suasana hangat dan khidmat.

Ketika rebana An Najma Senior mulai mengalunkan shalawat, satu per satu khatimin memasuki ruangan acara. Kehadiran mereka disambut tepuk tangan penuh bangga dari para orang tua yang telah membersamai proses belajar Al-Qur’an selama bertahun-tahun.

Setelah menempatkan diri di atas panggung, para khatimin memberikan salam kepada seluruh hadirin. Wajah-wajah cerah mereka menjadi gambaran kebahagiaan atas pencapaian yang diraih.

Prosesi kemudian dilanjutkan dengan Khotmil Qur’an yang berlangsung khusyuk. Setiap ayat yang dibaca mengalun indah memenuhi ruangan, menghadirkan suasana yang menenangkan hati.

Sebagai penutup prosesi khotmil, Ustaz Dzikron memimpin doa khotmil Qur’an. Para hadirin menengadahkan tangan, memohon keberkahan agar ilmu yang telah dipelajari menjadi cahaya dunia dan akhirat bagi seluruh peserta.

Ujian Terbuka yang Menguji Kepercayaan Diri

Setelah prosesi khotmil selesai, acara berlanjut pada sesi Imtihan.

Pada tahap ini, para khatimin menunjukkan kemampuan membaca gharib dan tajwid yang telah mereka pelajari selama proses pembelajaran Qiraaty.

Menariknya, sesi Imtihan tidak hanya berupa pembacaan materi. Para hadirin juga diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan tajwid maupun bacaan gharib.

Suasana menjadi semakin hidup. Satu per satu pertanyaan diajukan. Para khatimin mengangkat tangan dengan penuh percaya diri untuk menjawab. Sesekali terdengar tepuk tangan dan lirih suara hamdallah penuh syukur ketika jawaban yang diberikan tepat dan meyakinkan.

Dari seluruh peserta yang hadir, sebanyak 13 khatimin berhasil menjawab tantangan yang diberikan dan mendapatkan apresiasi dari panitia. Momen ini menunjukkan bahwa pembelajaran Al-Qur’an yang mereka jalani bukan sekadar hafalan teori, tetapi benar-benar dipahami dan mampu diterapkan.

Saat Air Mata Tak Lagi Bisa Disembunyikan

Puncak haru acara terjadi ketika seluruh khatimin turun dari panggung untuk meminta restu kepada kedua orang tua. Langkah kaki yang sebelumnya mantap mendadak terasa berat.

Beberapa anak mulai menundukkan kepala. Sebagian orang tua tampak berusaha menahan air mata. Ketika tangan-tangan kecil itu mencium tangan ayah dan bunda, suasana berubah menjadi sangat emosional.

Pelukan hangat menjadi bahasa cinta yang tidak memerlukan banyak kata. Ada perjuangan yang teringat. Ada doa-doa yang selama ini dipanjatkan diam-diam. Ada kesabaran mendampingi anak belajar membaca huruf demi huruf hingga akhirnya berdiri di panggung sebagai khatimin.

Banyak mata yang berkaca-kaca menyaksikan momen tersebut. Karena setiap keberhasilan anak selalu menyimpan cerita perjuangan keluarga di belakangnya.

Menjaga Hafalan Lebih Berat daripada Menghafal

Setelah prosesi sungkem selesai, acara dilanjutkan dengan pesan bermakna dari Kepala SD Islam Bintang Juara, Nur Shofwatin Ni’mah, S.Pd., Gr., dan Ketua Yayasan Dewi Sartika Semarang, Dyah Indah Noviyani, S.Psi., M.Psi., Psikolog.

Keduanya menyampaikan pesan yang memiliki benang merah yang sama. Bahwa keberhasilan menyelesaikan pembelajaran Qiraaty dan mengikuti Khotmil Qur’an bukanlah akhir perjalanan.

Justru tantangan berikutnya adalah menjaga. Menjaga hafalan. Menjaga bacaan. Menjaga kebiasaan berinteraksi dengan Al-Qur’an setiap hari. Orang tua memiliki peran yang sangat besar dalam proses tersebut.

Anak-anak membutuhkan lingkungan yang mendukung agar kedekatan mereka dengan Al-Qur’an tetap tumbuh hingga dewasa. Karena sejatinya, keberhasilan pendidikan Al-Qur’an tidak diukur dari seberapa cepat anak menyelesaikan jilid atau lulus ujian, tetapi dari seberapa lama nilai-nilai Al-Qur’an hidup dalam kesehariannya.

Penyerahan Ijazah dan Kebanggaan Keluarga

Sebagai penanda kelulusan program EBTAQ, seluruh khatimin menerima ijazah secara bergantian. Senyum bangga terlihat dari wajah anak-anak maupun orang tua yang mendampingi. Setelah menerima ijazah, setiap keluarga mengabadikan momen istimewa melalui sesi foto bersama.

Bagi sebagian orang tua, ini bukan sekadar foto kelulusan. Ini adalah dokumentasi perjalanan panjang mendampingi anak belajar membaca Al-Qur’an sejak awal. Perjalanan yang dipenuhi kesabaran, pengulangan, motivasi, dan doa yang tak pernah putus.

Selamat kepada 37 Khatimin

SD Islam Bintang Juara mengucapkan selamat kepada seluruh khatimin yang telah menyelesaikan tahapan pembelajaran Qiraaty dan mengikuti Khotmil Qur’an & Imtihan ke-2:

Kak Dinka, Kak Farabi, Kak Djuna, Kak Aqasha, Kak Yossy, Kak Damar, Kak Davin, Kak Azka, Kak Satria, Kak Daffa, Kak Fatih, Kak Dzakwan, Kak Rafif, Kak Ibra, Kak Gilby, Kak Mahrez, Kak Azzam, Kak Fakhri, Kak Ibrahim, Kak Amiira, Kak Yulia, Kak Sophia, Kak Shafna, Kak Aira, Kak Najma, Kak Jehan, Kak Keyna, Kak Faiha, Kak Naura, Kak Pandan, Kak Talita, Kak Masha, Kak Nura, Kak Neyva, Kak Hafsa, Kak Helga, dan Kak Hanum.

Semoga pencapaian ini menjadi awal dari perjalanan yang lebih indah bersama Al-Qur’an. Karena Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca ketika kecil, tetapi untuk dicintai sepanjang hayat. Dan semoga setiap huruf yang telah dipelajari menjadi cahaya yang menerangi langkah mereka, dunia hingga akhirat.***

PHBI Iduladha 2026 : Ini yang Dibekalkan SD Islam Bintang Juara untuk Siswa

PHBI Iduladha 2026 : Ini yang Dibekalkan SD Islam Bintang Juara untuk Siswa

“Ah, masih kecil. Nanti juga paham sendiri.”

Kalimat seperti itu mungkin pernah terdengar ketika membicarakan pendidikan agama untuk anak-anak. Padahal justru pada usia sekolah dasar inilah nilai-nilai kehidupan mulai tertanam kuat dalam diri mereka. Apa yang dilihat, didengar, dan dipelajari hari ini akan menjadi bekal yang mereka bawa hingga dewasa.

Karena itulah SD Islam Bintang Juara menggelar kegiatan PHBI (Peringatan Hari Besar Islam) Iduladha pada Selasa, 26 Mei 2026. Kegiatan ini tidak hanya mengajak siswa mengetahui tentang Iduladha sebagai sebuah perayaan keagamaan, tetapi juga memahami makna yang terkandung di baliknya.

Sebab di SD Islam Bintang Juara, anak-anak tidak hanya diajak mengenal “apa” yang dilakukan dalam agama, tetapi juga memahami “mengapa” dan “untuk apa” ibadah itu dilakukan.

PHBI Iduladha 2026: Belajar Nilai Kehidupan dari Kisah Nabi Ibrahim

Suasana pembelajaran hari itu terasa berbeda. Kakak shalih dan shalihah diajak menyelami kembali kisah yang menjadi dasar peringatan Iduladha, yaitu keteladanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Melalui kisah tersebut, anak-anak belajar bahwa Iduladha bukan sekadar tentang hewan qurban.

Lebih dari itu, Iduladha mengajarkan tentang keikhlasan, ketaatan kepada Allah, kesabaran, pengorbanan, dan kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai inilah yang menjadi pondasi penting dalam membentuk karakter seorang calon pemimpin muslim. Namun tentu saja cara penyampaiannya disesuaikan dengan usia dan tahap perkembangan masing-masing siswa.

Kelas 1–2: Mengenal Iduladha dan Makna Ikhlas

Bagi siswa kelas 1 dan 2, pembelajaran difokuskan pada pengenalan dasar tentang Iduladha melalui cerita yang dekat dengan dunia anak-anak. Mereka diajak mendengarkan cerita Pak Ali tentang Jono dan Beki, dilanjut dengan kisah Nabi Ibrahim AS yang mendapat perintah dari Allah SWT. Dari cerita tersebut, anak-anak mulai memahami arti ikhlas dalam bentuk yang sederhana.

Guru mengajak siswa berdiskusi tentang berbagai situasi yang mereka temui sehari-hari. Misalnya ketika harus berbagi makanan dengan teman, membantu orang tua di rumah, atau menerima keputusan yang mungkin tidak sesuai keinginannya.

Dari situ anak-anak belajar bahwa ikhlas bukan hanya ada dalam cerita para nabi, tetapi juga bisa dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran yang disampaikan dengan bahasa sederhana membuat nilai-nilai besar menjadi lebih mudah dipahami oleh anak-anak.

Kelas 3–4: Memahami Haji dan Salat Id

Memasuki kelas 3 dan 4, pemahaman siswa mulai berkembang lebih luas. Pada jenjang ini, kakak shalih dan shalihah diajak mengenal berbagai ibadah yang berkaitan dengan momen Iduladha, seperti ibadah haji dan salat Id.

Mereka belajar bahwa jutaan umat Islam dari berbagai negara berkumpul di Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji. Anak-anak juga dikenalkan dengan beberapa rangkaian ibadah haji serta makna persatuan umat Islam yang terkandung di dalamnya. Selain itu, mereka juga mempelajari pelaksanaan salat Iduladha, mulai dari tata cara hingga hikmah yang terkandung di dalamnya.

Pembelajaran ini membantu siswa memahami bahwa Iduladha bukan hanya tentang satu ibadah tertentu, tetapi merupakan bagian dari rangkaian syariat Islam yang saling berkaitan. Dengan pemahaman tersebut, anak-anak tidak hanya mengetahui bahwa salat Id dan haji dilakukan saat Iduladha, tetapi juga memahami alasan dan makna di balik pelaksanaannya.

Kelas 5–6: Simulasi Proses Penyembelihan Hewan Qurban

Sementara itu, siswa kelas 5 dan 6 mendapatkan pengalaman belajar yang lebih mendalam. Mereka diajak untuk melakukan simulasi proses penyembelihan hewan qurban serta mempelajari tata cara pelaksanaannya sesuai syariat Islam.

Kegiatan ini menjadi pengalaman yang sangat berharga karena anak-anak dapat menyaksikan secara nyata proses yang selama ini mungkin hanya mereka dengar melalui cerita atau lihat melalui video.

Guru menjelaskan berbagai aspek penting dalam ibadah qurban, mulai dari syarat hewan qurban, adab penyembelihan, hingga tujuan utama dari ibadah tersebut. Melalui pengamatan langsung, siswa belajar bahwa qurban bukan sekadar menyembelih hewan.

Qurban adalah simbol ketundukan kepada Allah SWT, wujud rasa syukur atas nikmat-Nya, serta bentuk kepedulian kepada masyarakat yang membutuhkan. Pembelajaran kontekstual seperti ini membantu anak memahami agama secara lebih utuh dan bermakna.

Menanamkan Nilai Sebelum Menjadi Kebiasaan

Salah satu tantangan pendidikan karakter saat ini adalah bagaimana membantu anak memahami nilai, bukan sekadar menghafal informasi. Anak mungkin dapat menjawab pertanyaan tentang Iduladha dengan benar. Namun yang lebih penting adalah apakah mereka memahami pesan yang terkandung di dalamnya.

Karena itulah kegiatan PHBI Iduladha di SD Islam Bintang Juara dirancang tidak hanya berorientasi pada pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter.

  • Ketika anak belajar tentang ikhlas, mereka sedang belajar mengendalikan ego.
  • Ketika belajar tentang qurban, mereka sedang belajar berbagi.
  • Ketika memahami kisah Nabi Ibrahim, mereka sedang belajar tentang ketaatan kepada Allah.

Nilai-nilai tersebut tidak tumbuh dalam satu hari. Ia perlu ditanamkan berulang kali melalui pengalaman belajar yang menyenangkan dan sesuai dengan perkembangan anak.

Pendidikan Agama yang Dekat dengan Kehidupan Anak

Di SD Islam Bintang Juara, pendidikan agama tidak berhenti pada hafalan atau teori di dalam kelas. Anak-anak diajak menghubungkan pelajaran agama dengan kehidupan nyata mereka sehari-hari.

Mereka belajar bahwa nilai Islam dapat diterapkan saat bermain bersama teman, membantu orang tua, menghormati guru, hingga berbagi dengan orang lain. Dengan cara inilah agama menjadi sesuatu yang hidup dan dekat dengan keseharian mereka.

Karena tujuan pendidikan Islam bukan hanya membuat anak mengetahui ajaran agama, tetapi membantu mereka menjadikan nilai-nilai tersebut sebagai bagian dari karakter dirinya.

Menyiapkan Generasi yang Memahami Makna

PHBI Iduladha tahun ini menjadi salah satu ikhtiar SD Islam Bintang Juara dalam menyiapkan generasi muslim yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki pemahaman agama yang kuat dan bermakna.

Melalui pembelajaran yang disesuaikan dengan usia, anak-anak diajak bertumbuh secara bertahap dalam memahami ajaran Islam. Mulai dari belajar tentang ikhlas, mengenal ibadah haji dan salat Id, hingga memahami makna qurban secara langsung. Karena karakter tidak dibangun dalam semalam. Ia tumbuh perlahan, dari cerita yang didengar, pengalaman yang dijalani, dan keteladanan yang dilihat setiap hari.

Semoga bekal yang ditanamkan sebelum Iduladha ini menjadi benih kebaikan yang terus tumbuh dalam hati kakak shalih dan shalihah, serta mengantarkan mereka menjadi generasi yang mencintai Allah, memahami agamanya, dan siap menebarkan manfaat bagi sesama.*** (CM-MRT)

Mengetuk Langit di Pagi Hari: Doa Bersama Kelas 6 Sambut TKA

Mengetuk Langit di Pagi Hari: Doa Bersama Kelas 6 Sambut TKA

Pagi ini, Jumat, 24 April 2026, suasana di lapangan upacara SD Islam Bintang Juara terasa berbeda. Langit masih teduh, angin berhembus lembut, dan langkah kaki kakak shalih-shalihah dari kelas 1 hingga kelas 6 berjalan lebih tenang dari biasanya. Hari itu bukan sekadar hari sekolah biasa. Hari itu adalah momen istimewa: Istighosah dan Doa Bersama dalam rangka persiapan menghadapi TKA untuk kakak kelas 6.

Semua berkumpul dalam satu lingkaran harapan. Guru, siswa, dan seluruh elemen sekolah menyatu dalam satu tujuan: memohon kemudahan, kelancaran, dan keberkahan dari Allah SWT.

Doa Bersama Kelas 6 Sambut TKA dengan Sejuta Harapan

Kegiatan dibuka dengan penuh kekhusyukan, dipimpin oleh Pak Ali. Suara dzikir mulai menggema, pelan namun dalam. Kalimat-kalimat istighfar dilantunkan bersama, mengalir seperti aliran air yang menenangkan hati. Dalam momen itu, setiap anak belajar bahwa ada kekuatan besar dalam doa—bahwa sebelum berusaha menaklukkan soal-soal ujian, ada satu hal yang harus dikuatkan terlebih dahulu: hubungan dengan Allah.

Istighosah bukan hanya tentang membaca doa bersama. Ia adalah proses menyadari bahwa manusia memiliki keterbatasan. Bahwa sekuat apa pun usaha kita, tetap ada ruang untuk berserah diri. Dan di sinilah pendidikan karakter itu tumbuh—dari kesadaran, dari kerendahan hati, dan dari keyakinan.

Di barisan depan, kakak kelas 6 duduk dengan lebih hening. Wajah-wajah mereka menyimpan banyak rasa—antara semangat, harap, dan mungkin juga sedikit cemas. TKA bukan sekadar ujian akademik. Ia adalah gerbang menuju fase berikutnya. Maka wajar jika momen ini terasa begitu penting.

Namun, yang menarik, mereka tidak menghadapi ini sendirian.

Seluruh adik kelas turut hadir, ikut mendoakan. Sebuah pelajaran berharga tentang kebersamaan dan ukhuwah. Bahwa dalam perjalanan meraih cita-cita, kita tidak berjalan sendiri. Ada doa-doa yang mengiringi, ada dukungan yang menguatkan.

Setelah rangkaian istighosah, kegiatan dilanjutkan dengan doa penutup yang dipimpin oleh Pak Arif. Dalam doa tersebut, dipanjatkan harapan agar seluruh siswa kelas 6 diberikan kemudahan dalam memahami soal, ketenangan dalam mengerjakan, dan hasil terbaik yang penuh keberkahan.

Suasana semakin haru ketika doa selesai.

Musofahah dan Doa Restu

Satu per satu, kakak kelas 6 berdiri dan berjalan mendekati para guru. Mereka melakukan musofahah, berjabat tangan, menundukkan kepala, dan meminta doa restu. Sebuah tradisi sederhana, namun sarat makna.

Di balik genggaman tangan itu, tersimpan rasa hormat, cinta, dan harapan. Di balik ucapan lirih “mohon doanya ya, Pak, Bu…”, tersimpan keyakinan bahwa doa guru adalah salah satu kunci keberkahan ilmu.

Momen ini menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan hanya tentang transfer ilmu, tetapi juga tentang hubungan hati—antara murid dan guru, antara usaha dan doa, antara ikhtiar dan tawakal.

Manfaat Istighosah dan Doa Bersama

Kegiatan Istighosah dan Doa Bersama ini juga mengajarkan kepada seluruh kakak shalih-shalihah bahwa kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak belajar, tetapi juga seberapa dalam kita bersandar kepada Allah.

Bagi kakak kelas 1 hingga 5, ini adalah pembelajaran yang sangat berharga. Mereka melihat langsung bagaimana kakak kelas 6 mempersiapkan diri, bukan hanya dengan belajar, tetapi juga dengan memperkuat spiritualitas. Sebuah bekal yang kelak akan mereka lakukan juga saat berada di posisi yang sama.

Sementara bagi kakak kelas 6, kegiatan ini menjadi penguat mental dan emosional. Rasa cemas yang mungkin muncul perlahan tergantikan dengan ketenangan. Karena mereka tahu, mereka tidak sendiri. Ada doa dari guru, dari teman, bahkan dari seluruh lingkungan sekolah.

Lebih dari itu, kegiatan ini menanamkan nilai bahwa setiap langkah besar dalam hidup harus diawali dengan doa. Bahwa ikhtiar terbaik adalah yang diiringi dengan tawakal.

Istighosah juga melatih anak untuk mengenali emosi mereka—merasa cemas itu wajar, merasa takut itu manusiawi. Namun, mereka diajarkan cara mengelola perasaan tersebut dengan mendekat kepada Allah, bukan dengan menghindar atau menyerah.

Di sinilah letak keindahan pendidikan berbasis nilai. Anak-anak tidak hanya dipersiapkan untuk cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara spiritual dan emosional.

Menjelang akhir kegiatan, suasana kembali hangat. Senyum mulai merekah, obrolan ringan terdengar di antara kakak-kakak. Ada semangat baru yang tumbuh. Ada keyakinan yang semakin kuat.

Karena mereka telah belajar satu hal penting hari itu bahwa usaha terbaik adalah yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, dan disempurnakan dengan doa yang tulus.

Istighosah dan Doa Bersama ini bukan sekadar agenda rutin. Ia adalah momen pembentukan karakter. Momen di mana anak belajar tentang harapan, kesabaran, keikhlasan, dan kepercayaan kepada Allah.

Dan mungkin, di antara semua pelajaran yang didapat hari itu, ada satu hal yang akan terus mereka ingat:

Bahwa setiap langkah menuju masa depan, selalu dimulai dengan menundukkan diri… dan mengetuk langit lewat doa.***

Puncak Festival Ramadan: Penguatan Idulfitri dan Apresiasi Talenta Siswa

Puncak Festival Ramadan: Penguatan Idulfitri dan Apresiasi Talenta Siswa

Suasana aula sekolah pagi itu terasa berbeda. Senyum ceria, rasa penasaran, dan semangat kebersamaan memenuhi ruangan ketika kakak shalih–shalihah berkumpul untuk mengikuti Puncak Festival Ramadan Calon Pemimpin Muslim di SD Islam Bintang Juara.

Kegiatan yang dilaksanakan pada Jumat, 13 Maret 2026 ini menjadi penutup rangkaian kegiatan Ramadan yang telah berlangsung selama beberapa hari sebelumnya. Acara dipandu dengan hangat dan penuh semangat oleh Pak Amir dan Bu Laila, yang mengajak seluruh peserta menikmati setiap momen kegiatan dengan penuh kegembiraan.

Puncak Festival Ramadan tidak hanya menjadi momen pengumuman pemenang lomba. Lebih dari itu, kegiatan ini juga diisi dengan penguatan materi tentang Idulfitri, penampilan inspiratif dari para peserta terbaik, serta pembagian apresiasi kepada siswa-siswi yang telah menunjukkan bakat dan usaha terbaik mereka.

Penguatan Materi Idulfitri: Kembali kepada Kesucian

Sebelum memasuki sesi pengumuman pemenang festival, kegiatan diawali dengan penguatan materi tentang Idulfitri yang disampaikan oleh Pak Ali.

Dalam pemaparannya, Pak Ali menjelaskan bahwa Idulfitri memiliki makna yang sangat mendalam. Secara bahasa, Idulfitri berarti kembali kepada kesucian. Setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh di bulan Ramadan, umat Islam diharapkan kembali menjadi pribadi yang lebih bersih—baik hati, pikiran, maupun perbuatannya.

Pak Ali juga mengajak kakak shalih–shalihah memahami berbagai hal penting yang berkaitan dengan salat Idulfitri.

Beliau menjelaskan bahwa waktu pelaksanaan salat Idulfitri dimulai sejak matahari terbit hingga sebelum waktu zuhur. Ini berbeda dengan salat Jumat yang dilaksanakan pada waktu zuhur.

Selain waktu pelaksanaan, terdapat juga perbedaan dalam jumlah takbir pada salat Idulfitri.

Pada rakaat pertama terdapat tujuh kali takbir, dan jika ditambah dengan takbiratul ihram, maka jumlahnya menjadi delapan kali takbir. Setelah itu dilanjutkan dengan membaca surah pendek, dan yang disunnahkan adalah Surah Al-A’la.

Sedangkan pada rakaat kedua, terdapat lima kali takbir. Jika ditambah dengan takbiratul qiyam, jumlahnya menjadi enam kali takbir.

Agar penjelasan semakin mudah dipahami, Pak Ali kemudian mengajak Kak Syabil dan Kak Nadhif untuk maju ke depan menjadi model praktik salat Idulfitri. Dengan contoh langsung, kakak shalih–shalihah dapat melihat secara jelas urutan gerakan dan bacaan salat Idulfitri.

Pak Ali juga mengajarkan niat salat Idulfitri, yaitu:

“Ushalli sunnatan li ‘iidil fithri rak‘ataini ma’muuman lillaahi ta‘aalaa.”

Artinya: Saya niat salat sunnah Idulfitri dua rakaat sebagai makmum karena Allah Ta’ala.

Di akhir sesi, Pak Ali juga mengingatkan beberapa sunnah sebelum melaksanakan salat Idulfitri, di antaranya:

  • Makan terlebih dahulu sebelum berangkat salat
  • Mandi untuk menyambut Idulfitri dengan niat karena Allah Ta’ala
  • Berhias secukupnya, mengenakan pakaian terbaik dan wewangian
  • Berjalan kaki menuju tempat salat, serta dianjurkan mengambil jalur berbeda saat berangkat dan pulang
  • Mengumandangkan takbir sebagai bentuk pengagungan kepada Allah

Penjelasan ini menjadi bekal berharga bagi kakak shalih–shalihah agar dapat menyambut Idulfitri dengan pemahaman yang benar.

Penampilan Bermakna dari Peserta Terbaik

Setelah sesi penguatan materi, acara dilanjutkan dengan penampilan istimewa dari para peserta terbaik Festival Ramadan.

Salah satu penampilan yang menarik perhatian adalah ceramah dari Kak Akhtar, yang menjadi peserta terbaik Da’i Cilik kelas tinggi. Dalam ceramahnya, Kak Akhtar menyampaikan pesan tentang pentingnya adab seorang anak kepada orang tua dan guru.

Ia mengingatkan bahwa ridha Allah sangat bergantung pada ridha orang tua, sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW. Pesan yang sederhana namun penuh makna ini disampaikan dengan penuh percaya diri.

galeri penampilan bermakna puncak festival ramadan

Selanjutnya, suasana menjadi lebih meriah dengan penampilan Kak Sena dan Kak Balya yang menyanyikan lagu Rukun Iman. Lagu tersebut mengajak semua yang hadir untuk kembali mengingat dasar-dasar keimanan dalam Islam.

Tidak kalah menarik, Kak Ayra tampil membawakan cerita Islami tentang Nabi Nuh AS, nabi yang dikenal dengan kisah bahteranya yang menyelamatkan orang-orang beriman dari banjir besar.

Penampilan lain datang dari Kak Ihsan, yang menyampaikan ceramah bertema Nuzulul Qur’an, serta Kak Ganendra yang bercerita tentang salah satu sahabat Rasulullah, Usamah bin Zaid, seorang pemimpin muda yang dipercaya Rasulullah memimpin pasukan di usia yang sangat muda.

Acara penampilan ditutup dengan duet merdu dari Kak Naura dan Kak Neyva, yang membawakan lagu Islami dengan penuh penghayatan.

Puncak Festival Ramadan: Pengumuman Peserta Terbaik

Momen yang paling ditunggu-tunggu akhirnya tiba: pengumuman pemenang Festival Ramadan Calon Pemimpin Muslim. Sorak sorai dan tepuk tangan meriah mengiringi setiap nama yang dipanggil. Berikut daftar peserta terbaik dalam berbagai cabang lomba:

1. Festival Azan

A. Kelas Rendah

  • Juara 1: Fatih (2A)
  • Juara 2: Zaky (3A)
  • Juara 3: Dipa (2A)

B. Kelas Tinggi

  • Juara 1: Royan (5)
  • Juara 2: Naoki (4B)
  • Juara 3: Farabi (6)

2. Festival Da’i Cilik

A. Kelas Rendah

  • Juara 1: Ihsan (3B)
  • Juara 2: Alin (3A)
  • Juara 3: Hafsa (3B)

B. Kelas Tinggi

  • Juara 1: Akhtar (5)
  • Juara 2: Hasna (4A)
  • Juara 3: Zahra (6)

3. Festival Kaligrafi

A. Kelas Rendah

  • Juara 1: Afsenia (3A)
  • Juara 2: Jezira (3A)
  • Juara 3: Feisya (3B)

B. Kelas Tinggi

  • Juara 1: Al Kindi (4A)
  • Juara 2: Damar (4B)
  • Juara 3: Ghaza (5)

4. Festival Tahfiz

A. Kelas Rendah

  • Juara 1: Hisyam (3B)
  • Juara 2: Oki (1C)
  • Juara 3: Kaira (1B)

B. Kelas Tinggi

  • Juara 1: Hya (5)
  • Juara 2: Banyu (5)
  • Juara 3: Fakhri (4B)

5. Festival Duet Islami

A. Kelas Rendah

  • Juara 1: Sena – Hanya (2A)
  • Juara 2: Gentala – Jaziel (3A)
  • Juara 3: Rama – Karuna (1A)

B. Kelas Tinggi

  • Juara 1: Naura – Neyva (4B)
  • Juara 2: Satria – Gesang (5)
  • Juara 3: Syabil – Aqasha (6)

6. Cerita Islami

A. Kelas Rendah

  • Juara 1: Aira (3B)
  • Juara 2: Hanif (3A)
  • Juara 3: Abim (3B)

B. Kelas Tinggi

  • Juara 1: Ganendra (4A)
  • Juara 2: Aleena (4A)
  • Juara 3: Sophia (4B)

7. Pengetahuan PAI & BTQ

A. Kelas Rendah

  • Juara 1: Rafif (3A)
  • Juara 2: Nura (2A)
  • Juara 3: Rumaisa (1B)

B. Kelas Tinggi

  • Juara 1: Thalita (5)
  • Juara 2: Moza (4A)
  • Juara 3: Lina (4B)

8. Festival Tartil

Khusus untuk festival ini hanya diperuntukkan bagi kelas tinggi, terutama yang sudah belajar Qiraaty Juz 27 dan Ghorib. Dan inilah para peserta terbaiknya:

  • Juara 1: Yossi (5)
  • Juara 2: Nadhif (6)
  • Juara 3: Allea (5)

Menumbuhkan Calon Pemimpin Muslim

Puncak Festival Ramadan bukan hanya tentang memenangkan perlombaan. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi sarana bagi siswa untuk belajar percaya diri, berani tampil, serta menyalurkan bakat dan potensi yang dimiliki.

Dari panggung kecil tempat mereka membaca Al-Qur’an, bercerita tentang kisah para nabi, hingga menyampaikan ceramah, tumbuh benih-benih calon pemimpin Muslim masa depan. Generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak mulia, keberanian, dan semangat untuk menyebarkan kebaikan.

Karena sejatinya, Ramadan adalah waktu terbaik untuk melatih diri menjadi pribadi yang lebih baik, dan melalui kegiatan seperti inilah nilai-nilai tersebut mulai ditanamkan sejak dini kepada kakak shalih–shalihah di SD Islam Bintang Juara.*** (CM-MRT)

Festival Ramadan Calon Pemimpin Muslim: Ajang Mengasah Bakat dan Karakter Siswa

Festival Ramadan Calon Pemimpin Muslim: Ajang Mengasah Bakat dan Karakter Siswa

Bulan Ramadan adalah bulan yang sangat mulia bagi umat Islam. Pada bulan inilah Allah SWT melipatgandakan pahala setiap amal kebaikan. Pintu rahmat dan keberkahan dibuka seluas-luasnya bagi setiap hamba yang ingin memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Sayangnya, tidak sedikit orang yang justru menjadikan puasa sebagai alasan untuk bermalas-malasan. Padahal, jika kita melihat perjalanan sejarah Islam, justru pada bulan Ramadan banyak peristiwa besar yang terjadi.

Rasulullah SAW dan para sahabat tetap aktif berdakwah dan melakukan berbagai perjuangan besar pada bulan Ramadan. Semangat mereka menunjukkan bahwa Ramadan bukan waktu untuk melemah, tetapi justru menjadi momen terbaik untuk meningkatkan amal dan kebaikan.

Semangat inilah yang ingin ditanamkan kepada siswa-siswi SD Islam Bintang Juara melalui kegiatan Festival Ramadan Calon Pemimpin Muslim.

Kegiatan ini menjadi salah satu program yang dirancang untuk memberikan ruang bagi kakak shalih–shalihah dalam menyalurkan potensi, sekaligus menumbuhkan karakter positif selama bulan Ramadan.

Menghidupkan Bulan Suci dengan Kegiatan Positif melalui Festival Ramadan

Festival Ramadan bukan sekadar perlombaan biasa. Kegiatan ini dirancang sebagai sarana pembelajaran yang menyenangkan sekaligus bermakna.

Melalui berbagai cabang festival Islami, kakak shalih-shalihah diajak untuk:

  • menampilkan kemampuan terbaik mereka,
  • belajar tampil percaya diri,
  • melatih keberanian berbicara di depan umum,
  • sekaligus memperdalam pemahaman agama.

Selain itu, kegiatan ini juga menjadi tahap awal pemetaan potensi siswa untuk mempersiapkan delegasi sekolah dalam ajang Lomba Mata Pelajaran Pendidikan Agama dan Seni (MAPSI).

Dengan demikian, festival ini tidak hanya bersifat kompetitif, tetapi juga menjadi bagian dari proses pembinaan bakat siswa secara berkelanjutan. Yang tidak kalah penting, kegiatan ini juga bertujuan untuk menumbuhkan karakter pejuang, kreativitas, dan rasa percaya diri pada diri setiap anak.

Festival Ramadan dilaksanakan pada hari Rabu – Kamis, 11 – 12 Maret 2026. Hari Rabu adalah pelaksanaan festival untuk kelas 1-3, sementara hari Kamis adalah pelaksanaan festival untuk kelas 4-6. Kegiatan ini dilaksanakan bergantian dengan Jelajah Budaya Islam di Nusantara.

Ragam Cabang Festival untuk Kelas 1–3

Kakak kelas 1 hingga kelas 3 mengikuti berbagai cabang lomba yang dirancang sesuai dengan tahap perkembangan mereka.

Salah satu cabang yang menarik adalah lomba Azan dan Iqomah. Dalam lomba ini, siswa belajar melantunkan panggilan salat dengan suara lantang dan penuh keberanian. Selain melatih vokal, kegiatan ini juga menanamkan kecintaan terhadap ibadah salat sejak dini.

Ada juga lomba kaligrafi dengan tulisan “Bismillahirrahmanirrahim”. Melalui kegiatan ini, anak-anak belajar menulis huruf Arab dengan indah sekaligus melatih kesabaran dan ketelitian.

Pada cabang Da’i Cilik, siswa menyampaikan ceramah singkat dengan berbagai tema menarik, seperti:

  • hikmah dan manfaat berpuasa,
  • adab terhadap orang tua dan guru,
  • pentingnya berteman tanpa bullying,
  • peristiwa Nuzulul Qur’an,
  • serta keutamaan malam Lailatul Qadar.

Melalui kegiatan ini, kakak shalih-shalihah belajar menyampaikan pesan kebaikan kepada orang lain dengan cara yang sederhana namun bermakna.

Selain itu, terdapat juga lomba tahfiz Al-Qur’an yang dibagi menjadi tiga level, disesuaikan dengan pencapaian hafalan masing-masing kakak. Adapun levelnya sebagai berikut:

  • Level 1 (Surat Ad-Dhuha sampai An-Naas)
  • Level 2 (Surah Al-Buruj sampai Al-Lail)
  • Level 3 (Surah An-Naba’ sampai Al-Insyiqaq)

Penilaian dilakukan berdasarkan makharijul huruf, tajwid, kelancaran bacaan, serta adab saat membaca Al-Qur’an.

Lomba berikutnya yaitu cerita Islami, siswa diminta menceritakan kisah para nabi yang mendapat gelar Ulul Azmi, yaitu:

  • Nabi Nuh AS
  • Nabi Ibrahim AS
  • Nabi Musa AS
  • Nabi Isa AS
  • Nabi Muhammad SAW

Melalui kisah-kisah ini, kakak shalih-shalihah belajar tentang keteguhan iman, kesabaran, dan perjuangan dalam menyampaikan kebenaran.

Tidak hanya itu, kakak kelas 1–3 juga mengikuti lomba cerita Islami serta duet lagu Islami. Lagu-lagu yang bisa dipilih antara lain:

  • Ramadan Tiba – Opick
  • Rukun Iman – Nussa Official
  • Nabi Putra Abdullah
  • Aku Cinta Allah dan Rasul

Melalui kegiatan bernyanyi, kakak shalih-shalihah dapat mengekspresikan kecintaan mereka kepada Allah dan Rasulullah dengan cara yang menyenangkan.

Cabang lainnya adalah pengetahuan PAI dan BTQ, yang menguji pemahaman siswa tentang huruf hijaiyah, rukun iman, rukun Islam, kisah para nabi, serta fiqih dasar seperti tata cara salat dan puasa.

Cabang Festival untuk Kelas 4–6

Kakak kelas 4 hingga 6 mengikuti cabang festival yang tidak jauh berbeda. Namun ada satu cabang yang lebih menantang dan mendalam, yaitu tartil Al-Qur’an. Di mana peserta membaca ayat Al-Qur’an dengan tajwid yang benar serta irama yang indah. Surah yang dibacakan dipilih secara acak saat peserta akan tampil, sehingga kakak shalih-shalihah harus benar-benar mempersiapkan diri.

Selain tartil Al-Qur’an, cabang festival lainnya sama dengan kelas 1-3, hanya berbeda level tantangannya saja.

Untunk cabang kaligrafi, kakak kelas 4-6 harus membuat tulisan lafal tahlil “La ilaha illallah”. Sementara itu, pilihan lagu untuk lomba duet lagu Islami juga berbeda, yaitu:

  • Rindu Muhammadku – Haddad Alwi & Vita
  • Marhaban Ya Ramadan – Haddad Alwi
  • Sholawat Ala Muhammad – Opick
  • Assalamualaikum – Opick

Pada cabang Pengetahuan PAI dan BTQ, kakak shalih-shalihah diuji pemahamannya tentang tajwid, makna surat Al-Fatihah, Al-Kafirun, dan Ad-Duha, serta berbagai materi keislaman seperti rukun iman, kisah nabi, zakat, hingga sifat wajib dan mustahil bagi Allah.

Manfaat Festival Ramadan bagi Siswa

Kegiatan Festival Ramadan memberikan banyak manfaat bagi perkembangan siswa.

  1. Menumbuhkan rasa percaya diri. Kakak shalih-shalihah belajar tampil di depan banyak orang dan menyampaikan kemampuan terbaik mereka.
  2. Melatih keberanian dan mental kompetitif yang sehat. Kakak belajar berusaha dengan maksimal dan menerima hasil dengan sikap sportif.
  3. Mengembangkan kreativitas dan bakat. Setiap cabang festival memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengeksplorasi potensi yang mereka miliki.
  4. Memperdalam pemahaman agama. Melalui kegiatan seperti tahfidz, tartil, ceramah, dan pengetahuan PAI, kakak semakin mengenal ajaran Islam secara lebih mendalam.

Yang paling penting, kegiatan ini membantu menanamkan nilai bahwa Ramadan adalah waktu yang tepat untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.

Membangun Generasi Pemimpin Muslim

Festival Ramadan Calon Pemimpin Muslim bukan hanya tentang menang dan kalah. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan bagian dari upaya membentuk generasi yang berkarakter kuat, percaya diri, dan memiliki kecintaan terhadap nilai-nilai Islam.

Dari panggung kecil tempat kakak shalih-shalihah melantunkan azan, membaca Al-Qur’an, atau menyampaikan ceramah singkat, tumbuh benih-benih calon pemimpin Muslim masa depan. Generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak mulia dan semangat untuk terus melakukan kebaikan.

Karena pada akhirnya, Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Ramadan adalah kesempatan untuk melatih diri menjadi pribadi yang lebih baik. Dan melalui kegiatan seperti inilah, semangat itu mulai ditanamkan sejak dini kepada setiap kakak shalih–shalihah di SD Islam Bintang Juara.

Apakah Ayah Bunda penasaran siapakah yang terpilih menjadi penampil terbaik untuk masing-masing kategori festival? Tunggu informasinya di hari Jumat, 13 Maret 2026 ya!***

Jelajah Budaya Islam di Nusantara: Filosofi Ketupat Lebaran

Jelajah Budaya Islam di Nusantara: Filosofi Ketupat Lebaran

Ramadan bukan hanya tentang ibadah puasa, tarawih, dan tadarus Al-Qur’an. Bulan suci ini juga menyimpan kekayaan tradisi yang menjadi bagian dari perjalanan panjang Islam di Nusantara. Di Indonesia, banyak budaya yang lahir dari pertemuan nilai-nilai Islam dengan kearifan lokal masyarakat.

Hal inilah yang ingin dikenalkan kepada kakak shalih–shalihah melalui kegiatan Leadership Journey hari ke-3 dan ke-4 di SD Islam Bintang Juara. Setelah hari pertama menggelar Sehari Bersama Quran, kali ini Mengangkat tema “Jelajah Budaya Islam di Nusantara”, kegiatan ini mengajak anak-anak memahami makna di balik salah satu tradisi yang sangat identik dengan Hari Raya Idulfitri: ketupat Lebaran.

Kegiatan berlangsung secara bergantian dengan Festival Ramadan. Pada Rabu, 11 Maret 2026, kegiatan diikuti oleh kakak kelas 4 dan 5. Sementara kakak kelas 6 belum dapat bergabung karena sedang mengikuti tryout TKA. Keesokan harinya, Kamis, 12 Maret 2026, giliran kakak kelas 1 hingga 3 yang mengikuti kegiatan serupa.

Meski sederhana, kegiatan ini menjadi perjalanan menarik untuk memahami bagaimana budaya dapat menjadi sarana dakwah yang penuh makna.

Ketupat: Tradisi Lebaran yang Penuh Makna

Ketika Lebaran tiba, hampir setiap rumah di Indonesia menyajikan ketupat. Hidangan dari beras yang dibungkus anyaman daun kelapa ini biasanya disajikan bersama opor ayam, sambal goreng, atau lauk khas lainnya.

Namun di balik bentuknya yang sederhana, ketupat menyimpan filosofi mendalam.

Kata ketupat berasal dari bahasa Jawa, yaitu “ngaku lepat” yang berarti mengakui kesalahan. Filosofi ini berkaitan erat dengan tradisi saling memaafkan yang menjadi ciri khas masyarakat Indonesia saat Idulfitri.

Dengan kata lain, ketupat bukan sekadar makanan Lebaran. Ia menjadi simbol kerendahan hati manusia untuk mengakui kesalahan dan saling memaafkan setelah menjalani Ramadan.

Warisan Dakwah Sunan Kalijaga

Tradisi ketupat Lebaran diyakini berkaitan dengan dakwah Sunan Kalijaga, salah satu tokoh dari Wali Songo yang menyebarkan Islam di tanah Jawa.

Sunan Kalijaga dikenal sebagai ulama yang menggunakan pendekatan budaya dalam berdakwah. Beliau memahami bahwa masyarakat Jawa pada masa itu sangat dekat dengan tradisi dan simbol-simbol budaya. Oleh karena itu, dakwah dilakukan dengan cara yang bijak, tanpa menghapus budaya lokal, tetapi mengisinya dengan nilai-nilai Islam.

Salah satu contohnya adalah tradisi Bakda Kupat, yang biasanya dilakukan beberapa hari setelah Idulfitri.

Melalui simbol ketupat, Sunan Kalijaga menyampaikan beberapa pesan penting:

  • Ngaku Lepat – Mengakui kesalahan dan saling memaafkan
  • Laku Papat – Empat tindakan penting dalam kehidupan seorang Muslim, yaitu lebaran (selesai berpuasa), luberan (berbagi rezeki), leburan (melebur dosa dengan saling memaafkan), dan laburan (membersihkan diri)

Bentuk anyaman ketupat yang rumit juga memiliki makna simbolis. Anyaman tersebut menggambarkan kesalahan manusia yang sering kali rumit dan saling terjalin. Namun ketika ketupat dibuka, terlihat nasi putih di dalamnya—melambangkan hati yang kembali bersih setelah saling memaafkan.

Melalui simbol sederhana ini, Sunan Kalijaga berhasil menyampaikan pesan dakwah yang mendalam kepada masyarakat.

Belajar Budaya Lewat Video dan Cerita

Dalam kegiatan Jelajah Budaya Islam di Nusantara, kakak shalih–shalihah terlebih dahulu diajak memahami filosofi ketupat melalui penjelasan guru dan tayangan video edukatif.

Melalui video tersebut, anak-anak melihat bagaimana ketupat dibuat dari daun kelapa yang dianyam dengan teliti. Mereka juga belajar bahwa makanan khas Lebaran ini tidak hanya ada di satu daerah, tetapi menjadi bagian dari tradisi di berbagai wilayah Indonesia.

Diskusi pun menjadi hidup. Anak-anak mulai memahami bahwa budaya dan agama bisa berjalan berdampingan untuk menyampaikan pesan kebaikan.

Tantangan Membuat Ketupat dari Pita

Setelah memahami filosofinya, kegiatan dilanjutkan dengan praktik membuat ketupat dari pita untuk kakak kelas 4 dan 5.

Sekilas terlihat mudah. Namun ketika mencoba menganyam pita menjadi bentuk ketupat, ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan.

Ada yang pita anyamannya terlepas. Ada yang bentuknya belum rapi. Ada pula yang harus mencoba berulang kali.

Namun justru di sinilah letak keseruannya.

Beberapa kakak tetap mencoba dengan penuh kesabaran. Mereka tidak mudah menyerah meskipun hasilnya belum sempurna. Pada akhirnya, hanya beberapa anak yang berhasil membuat bentuk ketupat dengan baik.

Meski begitu, semua kakak tetap mendapatkan pengalaman berharga: belajar bahwa proses membuat sesuatu membutuhkan ketekunan dan kesabaran.

Membuat Kartu Lebaran: Menebar Kebaikan

Selain membuat ketupat, kegiatan juga diisi dengan membuat kartu Lebaran.

Setiap anak mendapatkan amplop, kertas untuk menulis pesan, serta gambar hiasan berbentuk masjid yang harus digunting, diwarnai, dan ditempel.

Kartu tersebut tidak boleh diberikan kepada teman atau guru di sekolah. Sebaliknya, kartu harus diberikan kepada tetangga, orang tua, kerabat, atau orang lain di lingkungan rumah.

Tujuannya sederhana namun penuh makna: melatih anak untuk menyampaikan ucapan maaf dan doa secara langsung kepada orang-orang di sekitarnya.

Manfaat Mengirim Kartu Lebaran bagi Anak

Kegiatan membuat dan mengirim kartu Lebaran memiliki banyak manfaat bagi perkembangan anak.

  1. Menumbuhkan rasa empati dan kepedulian: Anak belajar menghargai orang lain dengan menyampaikan ucapan maaf dan doa.
  2. Melatih kreativitas: Proses menggunting, mewarnai, dan menghias kartu melatih keterampilan motorik dan kreativitas anak.
  3. Menguatkan nilai silaturahmi: Dengan memberikan kartu kepada tetangga atau kerabat, anak belajar pentingnya menjaga hubungan baik dengan orang lain.
  4. Menanamkan nilai kerendahan hati: Tradisi meminta maaf saat Lebaran mengajarkan anak untuk berani mengakui kesalahan.
  5. Menghidupkan tradisi positif: Di era digital, kartu Lebaran menjadi cara sederhana untuk menghadirkan sentuhan personal yang hangat.

Belajar Budaya, Memahami Makna

Kegiatan Jelajah Budaya Islam di Nusantara bukan hanya tentang mengenal ketupat atau membuat kerajinan tangan. Lebih dari itu, kegiatan ini mengajak anak memahami bahwa budaya dapat menjadi sarana untuk menyampaikan nilai-nilai Islam.

Dari ketupat, anak belajar tentang mengakui kesalahan dan saling memaafkan.
Dari membuat kartu Lebaran, anak belajar tentang silaturahmi dan berbagi kebaikan.

Tradisi yang tampak sederhana ternyata menyimpan pesan yang sangat dalam.

Dan dari kegiatan kecil seperti ini, kakak shalih–shalihah belajar bahwa menjadi Muslim bukan hanya tentang menjalankan ibadah, tetapi juga tentang menjaga budaya kebaikan yang diwariskan para ulama dan pendahulu kita.

Semoga dari kegiatan ini tumbuh generasi yang tidak hanya mencintai agamanya, tetapi juga bangga dengan kekayaan budaya Islam di Nusantara.*** (CM-MRT)