Semua orang tua cinta anaknya. Apakah anak menerima cinta orang tuanya?
Ayah Bunda, kalimat di atas adalah salah satu insight yang didapat pada saat pelatihan Karunia Cinta Remaja (KCR) yang diampu oleh Abah Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari. Setelah vakum selama pandemi, alhamdulillah SD Islam Bintang Juara bisa kembali menghadirkan Abah Ihsan ke Semarang.
Usai menggelar PSPA (Program Sekolah Pengasuhan Anak) pada bulan Agustus 2022, SD Islam Bintang Juara menghadirkan Abah Ihsan dalam Program Disiplin Anak (PDA) dan Karunia Cinta Remaja (KCR). Dua pelatihan lanjutan PSPA tersebut diadakan secara dua hari berturut-turut, yaitu tanggal 5-6 November 2022.

Adakah Ayah Bunda yang hadir dalam program tersebut? Alhamdulillah.
Saat membawakan materi KCR, Abah Ihsan menyampaikan banyak hal penting. Rasa-rasanya satu artikel tidak akan mampu menuliskan semua hal penting tersebut.
Maka izinkanlah kali ini kami membagikan secuil penyebab kenakalan remaja. Mengapa usia-usia remaja rawan terjadi penyimpangan dan perilaku negatif?
Bagaimana untuk mencegah terjadinya kenakalan remaja? Yuk dibaca lebih lanjut artikelnya, Ayah Bunda.
Contents
Siapa yang Disebut dengan Remaja?
Banyak sumber menyebutkan bahwa tidak ada istilah remaja di dalam Islam. Sebenarnya bukan hanya di Islam, istilah remaja memang baru dikenal pada era industrialisasi. Istilah ini baru muncul pada 100 tahun terakhir.
Ada banyak referensi berbeda menyangkut siapa yang disebut remaja. Menurut WHO, remaja (teenagers) merupakan anak-anak dengan range usia 10 – 20 tahun.
Sementara menurut PBB, usia 15 – 24 tahun dikategorikan sebagai pemuda (Youth). Nah, kalau Ayah Bunda lebih condong pada referensi yang mana nih?

Bahkan dalam hukum positif, istilah remaja sama sekali tidak disebut lo, Ayah Bunda. Pada Kitab Undang-undang Hukum Perdata Pasal 330, disebutkan usia dewasa mulai dari 21 tahun. Atau mereka yang sudah menikah sebelum 21 tahun.
Dalam UU Perkawinan No 16/ 2019, disebut anak-anak apabila usianya 0 – 18 tahun. Usia 19 tahun sudah dikategorikan dewasa.
Pada UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan No 22/ 2019 pasal 81 ayat 21, batas usia anak adalah 16 tahun. Usia 17 sudah masuk kategori dewasa.
Kalau ditilik dari segi medis, seseorang disebut remaja ketika masuk fase pubic. Fase tersebut mulai dari haid sampai 2 tahun setelahnya, ketika organ reproduksi telah siap.
Tiga Penyebab Kenakalan Remaja, Bisakah Dicegah?
Setelah mengetahui bahwa sebenarnya remaja adalah sebuah istilah baru, Ayah Bunda juga perlu tahu mengapa di usia-usia 13 – 19 tahun banyak muncul kenakalan remaja. Abah Ihsan dalam paparan materinya membagi dua jenis perilaku negatif remaja.
Pertama ada yang disebut dengan Deviation (penyimpangan perilaku). Perilaku yang masuk pada kategori ini adalah hal-hal yang melanggar norma agama dan masyarakat.
Kedua ada yang disebut sebagai Delinquent (kejahatan), yaitu perilaku yang melanggar norma hukum.
Kedua jenis perilaku negatif remaja tersebut bisa terjadi karena beberapa sebab. Alasan-alasan di balik kenakalan remaja dipaparkan oleh Abah Ihsan melalui tiga teori. Berikut ini tiga teori tersebut, Ayah Bunda:

1. Rational Theory
Individu sebagai penyebab utama atas perilaku negatif tersebut. Dilandasi oleh pilihan, interest/ minat atau keinginan, dan motivasi dari diri sendiri. Hal ini bisa terjadi karena kurang iman, ilmu dan pendidikan.
Ayah Bunda sering mendengar ada orang tua yang mengumpat anak remajanya dengan kata ‘Kurang Ajar’? Sesungguhnya di balik umpatan tersebut, orang tua sedang mencela dirinya sendiri.
Di balik anak yang kurang ajar, bukankah sebenarnya ada orang tua yang kurang mengajar?
2. Differential Theory
Kenakalan disebabkan oleh salah pergaulan. Banyak kasus terjadi anak yang dulunya baik karena bergaul dengan anak-anak nakal berubah perilakunya menjadi buruk.
Oleh karenanya pastikan Ayah Bunda mengajarkan anak memilih teman. Buatlah zonasi pergaulan berdasarkan karakter agama keluarganya:
- Zona merah: Anak dilarang untuk bergaul dengan anak-anak yang masuk zona ini. Zona ini berisi anak-anak yang akhlaknya tidak baik (sering berkata kasar, memukul, dll), sering mengajak keburukan dan lalai mengerjakan ibadah. Anak-anak diperbolehkan bermain dengan anak-anak di zona ini dengan catatan diajak ke rumah sendiri, sehingga Ayah Bunda bisa mengawasi perilaku dan kegiatan bermain anak.
- Zona kuning: Anak-anak yang masuk ke zona ini, perilakunya masih cukup aman, tetapi karakter agama keluarganya kurang baik (sosialisasi dengan tetangga kurang, jarang hadir pada acara-acara pengajian, dsb). Anak diperbolehkan bermain dengan teman-temannya di zona kuning, tetapi harus berhati-hati.
- Zona hijau: Teman yang dikategorikan zona hijau adalah anak berperilaku sopan, rajin sholat, sering mengajak kebaikan, orang tuanya juga sekufu (sama-sama mau belajar agama dan parenting). Anak-anak dalam zona hijau adalah teman bergaul yang aman.
3. Social Disorganization Theory
Menurut teori yang ketiga ini, kenakalan remaja disebabkan oleh hilangnya pranata masyarakat yang menjaga harmoni. Orang tua yang sibuk bekerja, guru yang kelebihan beban, sekolah yang tidak adaptif dengan perubahan, keluarga tidak lagi menjadi madrasah tetapi hanya menjadi peternakan.
Harmoni yang hilang ini kemudian melahirkan perilaku individualis, hanya memikirkan dirinya sendiri dan kurang empati. Dari lingkungan yang seperti inilah kemudian lahir para remaja BLAST (Boring, Lonely, Angry, Stress dan Tired).
Apakah Ayah Bunda pernah mendengar istilah BLAST? Kalau Ayah Bunda sudah pernah mengikuti seminar atau webinar dari Ibu Elly Risman, pastinya sudah tidak asing lagi dengan istilah tersebut.

Kesimpulannya, remaja adalah fase turbulens alias masa-masa penuh badai. Karena pada masa ini terjadi peralihan dari entrofi (ketidakaturan) ke regentropi (keberaturan).
Sistem reproduksi juga sudah mulai aktif, tetapi mereka masih memiliki keterbatasan dalam mengelolanya. Oleh karenanya banyak remaja yang cenderung uring-uringan dan bad mood. Terlebih ketika mereka belum diberikan pijakan tentang mengelola emosi.
Kalau anak-anak sebaiknya beraktivitas dengan banyak main, sedikit bekerja. Orang dewasa beraktivitas dengan banyak bekerja dan sedikit main.
Remaja ada di tengah-tengahnya. Main dan bekerja sama-sama tidak boleh banyak. Kondisi ini yang semakin mengacaukan kondisi fisik dan psikis remaja.
Oleh karenanya agar remaja bisa melewati masa-masa badai ini, Ayah Bunda perlu MENYIAPKANNYA. Dibuat ‘pedih’, dibuat lelah tetapi tetap berada di bawah asuhan orang tua.
Banyak mitos beredar kalau remaja tidak butuh banyak tidur. Faktanya remaja butuh tidur dengan jumlah yang sama atau malah lebih banyak dibandingkan saat mereka anak-anak. Hal ini berdasarkan penelitian dari John Hopkins Institute.
Anak remaja sebaiknya jangan diberikan banyak kesenangan. Karena kesenangan yang tidak terbatas, lama-lama tidak akan terasa senangnya.
Kesenangan sifatnya melalaikan. Oleh karenanya perlu dibatasi agar tidak melalaikan. Untuk membatasi kesenangan, anak-anak perlu dilatih melakukan chores/ kewajiban rumah tangga.
Sementara pada anak remaja, sebaiknya sudah diajak untuk mengerjakan proyek. Misal, melibatkan remaja untuk membuat proyek liburan keluarga. Berikan kesempatan kepada remaja untuk mengelola proyek ini dengan memilih lokasi, itinerary, membuat anggaran, dsb.
Menjadi orang tua dari anak remaja sebaiknya hindari menjadi orang tua reaktif. Orang tua reaktif hanya mampu memadamkan api. Namun api baru bisa saja muncul kembali di lain waktu.
Hal terbaik adalah menjadi orang tua yang proaktif, yaitu orang tua yang mampu ‘menumbuhkan pepohonan’ di tengah ladang kering dan tandus. Di sinilah pentingnya orang tua memiliki dua warisan untuk mencegah terjadinya penyebab kenakalan remaja;

- Ekspresi Cinta – Ekspresi yang seharusnya muncul tanpa menunggu anak bermasalah terlebih dahulu.
- Ekspresi Kemandirian – Bentuk sayang dan cinta orang tua yang sesungguhnya. Bukan sekadar mengasihi (memberi), tetapi melatih dan mempersiapkan anak menjadi mandiri.
Dua ekspresi di atas jika diterapkan dengan tepat akan bisa membuat anak menerima cinta orang tuanya. Apakah Ayah Bunda penasaran dengan penjelasan lebih lanjut terkait dua ekspresi ini? Tunggu catatan Bintang Juara berikutnya ya.
Namun jika Ayah Bunda ingin langsung mendapatkan materi bernas dan ‘ndaging’ dari Abah Ihsan, pastikan untuk bergabung dengan Webinar Islamic Parenting bertajuk Tarbiah Pubertas & Literasi Cinta Remaja.

Webinar tersebut insya Allah akan digelar melalui platform Zoom, pada hari Ahad, 26 Maret 2023. Ayah Bunda, yuk luangkan waktu dari pukul 08.00 – 12.15 untuk belajar langsung dari Abah Ihsan Baihaqi.
Untuk mendaftar, silakan klik: Webinar Islamic Parenting Abah Ihsan. Bagikan juga informasi ini kepada kerabat dan sahabat ya, Ayah Bunda. Terima kasih.***