by admin admin | Mar 9, 2026 | Artikel, Edukasi, Kegiatan Siswa, Religi
Pekan terakhir sebelum pembagian rapor tengah semester dua selalu menjadi waktu yang dinanti oleh kakak shalih–shalihah di SD Islam Bintang Juara. Biasanya, pekan ini diisi dengan program Leadership Journey, sebuah rangkaian kegiatan pembelajaran yang dirancang untuk menumbuhkan karakter kepemimpinan, kemandirian, dan kedewasaan pada anak.
Namun kali ini terasa berbeda. Kalender menunjukkan bahwa pekan tersebut bertepatan dengan bulan Ramadan—bulan yang penuh keberkahan. Maka kegiatan Leadership Journey pun disesuaikan dengan nuansa Ramadan.
Hari pertama, Senin, 9 Maret 2026, dibuka dengan kegiatan istimewa bernama SBQ (Sehari Bersama Al-Qur’an). Tujuannya sederhana tetapi sangat mendalam:
mengajak kakak shalih–shalihah lebih dekat dengan Al-Qur’an, bukan hanya membaca, tetapi juga memahami, merasakan, dan menumbuhkan kecintaan terhadap kitab suci umat Islam itu.
Sehari Bersama al-Qur’an dalam Tiga Bentuk Berbeda
Agar kegiatan lebih fokus dan sesuai dengan tahap perkembangan anak, SBQ dibagi menjadi tiga titik kegiatan berdasarkan jenjang kelas.
Kelas 1 & 2: Mengenal Makna Surah Al-Qadr
Di ruang kelas 2A dan 2B, kakak kelas 1 dan 2 berkumpul bersama Pak Ali. Suasana terasa hangat dan penuh semangat.
Pak Ali memulai kegiatan dengan mengajak anak-anak mengenal salah satu surah yang sangat istimewa dalam Al-Qur’an, yaitu Surah Al-Qadr. Dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, kakak shalih–shalihah diajak memahami makna turunnya Al-Qur’an pada malam Lailatul Qadr.
Pak Ali menjelaskan bahwa malam Lailatul Qadr adalah malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Anak-anak mendengarkan dengan penuh perhatian, membayangkan betapa besarnya keutamaan malam tersebut.
Setelah memahami maknanya, kegiatan dilanjutkan dengan penyimakan bacaan salat. Kakak dipanggil satu per satu untuk menemui guru mengaji. Di sana, bacaan salat mereka disimak dengan teliti.
Kegiatan ini sangat penting. Karena membaca Al-Qur’an dan bacaan salat dengan benar merupakan fondasi ibadah seorang Muslim sejak kecil. Anak-anak belajar memperbaiki tajwid, pelafalan huruf, dan kelancaran membaca.
Dari ruang kelas sederhana itu, proses kecil sedang terjadi: menanamkan cinta Al-Qur’an sejak dini.
Kelas 3 & 4: Mengenal Keutamaan Tilawah Al-Qur’an
Sementara itu di ruang kelas 3A dan 3B, kakak kelas 3 dan 4 mengikuti sesi bersama Pak Solekan. Kegiatan dimulai dengan membahas 10 keutamaan membaca Al-Qur’an (tilawah).
Dengan gaya penyampaian yang penuh semangat, Pak Solekan menjelaskan bahwa membaca Al-Qur’an bukan sekadar ibadah biasa. Ia memiliki keutamaan yang luar biasa, di antaranya:
- Mendapat ketenangan hati
- Mendapat 10 kebaikan untuk setiap huruf yang dibaca
- Menghilangkan sifat iri dan dengki
- Mendapat syafaat di hari akhir
- Dimasukkan ke surga oleh Allah SWT
- Menjadi sebaik-baik manusia
- Akan ditemani malaikat
- Mendapat dua pahala bagi orang yang belajar membaca Al-Qur’an; pahala membaca al-Qur’an dan pahala tekad belajar
- Diangkat derajatnya oleh Allah
- Dijauhkan dari siksa kubur dan api neraka
Kakak shalih–shalihah tampak kagum mendengar betapa besar keutamaan membaca Al-Qur’an.
Namun pembelajaran tidak berhenti di sana. Pak Solekan kemudian mengenalkan seni membaca Al-Qur’an atau An-Naghom fil Quran—teknik memperindah suara saat tilawah. Anak-anak diajak memahami bahwa membaca Al-Qur’an juga bisa dilakukan dengan irama yang indah tanpa mengubah makna.
Beliau menjelaskan sejarah munculnya seni membaca Al-Qur’an, yang dipengaruhi oleh budaya syair dalam tradisi Arab serta berbagai perkembangan sejarah Islam.
Anak-anak kemudian diperkenalkan dengan beberapa jenis ragam lagu dalam tilawah, di antaranya:
- Lagu Bayyati
- Lagu Shoba
- Lagu Hijjazi
Melalui video contoh, kakak shalih–shalihah mendengarkan bagaimana setiap lagu memiliki nuansa yang berbeda. Setelah itu, mereka diajak mencoba menirukan irama tersebut.
Ruang kelas pun berubah menjadi tempat belajar yang penuh semangat. Ada yang masih malu-malu, ada yang mulai berani mencoba. Semua belajar memperindah bacaan Al-Qur’an dengan cara yang menyenangkan.
Kelas 5 & 6: Muhasabah dan Refleksi Diri
Di titik ketiga, kakak kelas 5 dan 6 mengikuti sesi bersama Pak Zaki. Kegiatan dimulai dengan sebuah pengingat yang sangat mendalam: bersyukur atas nikmat usia. Pak Zaki mengajak kakak shalih–shalihah merenungkan waktu yang telah Allah berikan.
- Apakah waktu itu sudah digunakan dengan baik?
- Apakah fasilitas yang Allah berikan sudah dimanfaatkan untuk kebaikan?
Pertanyaan-pertanyaan itu mengajak anak-anak melakukan muhasabah diri.
Pak Zaki juga mengingatkan bahwa saat belajar agama atau menuntut ilmu (tholabul ilmi), yang paling utama adalah memperbaiki diri sendiri sebelum memperbaiki orang lain.
Dalam sesi ini, kakak juga dikenalkan dengan empat golongan manusia yang dirindukan oleh surga, yaitu:
- Ahli Al-Qur’an (orang yang rajin membaca Al-Qur’an)
- Orang yang menjaga lisannya
- Orang yang memberi makan kepada orang lapar
- Orang yang berpuasa di bulan Ramadan
Pak Zaki menjelaskan bahwa orang yang membaca Al-Qur’an dengan penuh keyakinan akan mendapatkan pertolongan dari Al-Qur’an itu sendiri. Bahkan disebutkan bahwa orang yang khatam Al-Qur’an di bulan Ramadan akan didoakan oleh 60.000 malaikat.
Sebagai penutup, Pak Zaki mengajak kakak shalih–shalihah untuk menjadi orang yang bertakwa—yaitu mereka yang menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, baik ketika sendirian maupun di tengah keramaian.
Kegiatan kemudian ditutup dengan membaca Surah Yasin bersama-sama, menghadirkan suasana yang khusyuk dan penuh ketenangan.
Menumbuhkan Generasi Qurani Sejak Dini
Kegiatan Sehari Bersama Al-Qur’an bukan sekadar agenda Ramadan. Kegiatan ini adalah upaya membangun fondasi spiritual anak-anak sejak usia dini. Melalui SBQ, kakak shalih–shalihah belajar bahwa Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca saat pelajaran agama.
Al-Qur’an adalah pedoman hidup. Mereka belajar membaca dengan benar. Belajar memahami makna. Belajar merasakan kedekatan dengan firman Allah.
Dari ruang-ruang kelas sederhana itu, benih-benih generasi Qurani sedang ditanam. Generasi yang hatinya dekat dengan Al-Qur’an. Generasi yang menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya dalam hidupnya.
Karena ketika anak-anak tumbuh bersama Al-Qur’an, insyaAllah mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang kuat, berakhlak mulia, dan mampu memberi manfaat bagi umat.***
by admin admin | Feb 20, 2026 | Artikel, Berita Utama, Edukasi, Kegiatan Siswa
Bagi sebagian orang, Jumat mungkin hanya penutup pekan sekolah. Namun di SD Islam Bintang Juara, Jumat justru menjadi hari istimewa—hari pembentukan karakter, penguatan kebiasaan baik, dan ruang bagi potensi untuk tumbuh.
Setiap pekan, kegiatan Jumat dilakukan secara bergantian. Beda pekan, beda kegiatan. Anak-anak pun selalu menanti dengan antusias, “Hari ini Jumat apa?”
Rangkaian Kegiatan Jumat di SD Islam Bintang Juara
Empat program utama mengisi rangkaian Hari Jumat di sekolah ini: Jumat Literasi, Jumat Sehat, Jumat Bersih, dan Bintang Juara Bersinar. Masing-masing bukan sekadar kegiatan rutin, tetapi bagian dari pembelajaran hidup.
1. Jumat Literasi: Menantang Pikiran, Menguatkan Nalar
Suasana kelas terasa lebih hening dari biasanya. Di tangan kakak shalih–shalihah bukan hanya buku bacaan, tetapi juga lembar tantangan literasi numerasi.
Dalam Jumat Literasi, anak-anak diajak mengikuti beragam tantangan yang mengasah kemampuan membaca, memahami informasi, berpikir kritis, hingga memecahkan masalah numerasi. Tidak selalu dalam bentuk soal tertulis. Kadang berupa teka-teki logika, permainan kata, analisis cerita pendek, atau tantangan menghitung berbasis kehidupan sehari-hari.
Misalnya, kakak diminta membaca sebuah cerita lalu menemukan pesan moralnya. Atau memecahkan persoalan sederhana yang berkaitan dengan perbandingan, pengukuran, hingga pengolahan data ringan.
Manfaat Jumat Literasi tidak hanya pada peningkatan kemampuan akademik. Anak-anak belajar:
- Memahami informasi dengan cermat
- Berpikir runtut dan logis
- Meningkatkan konsentrasi
- Menguatkan daya analisis
Di era banjir informasi seperti sekarang, kemampuan literasi dan numerasi adalah bekal penting agar anak tidak sekadar menerima informasi, tetapi mampu memahaminya dengan bijak.
2. Jumat Sehat: Menumbuhkan Cinta pada Gaya Hidup Sehat
Pekan berikutnya, suasana Jumat berubah menjadi lebih segar. Anak-anak datang membawa bekal sehat dari rumah—buah potong, sayur rebus, salad sederhana, atau makanan bernutrisi lainnya.
Dalam Jumat Sehat, kakak shalih–shalihah diajak membangun kebiasaan hidup sehat sejak dini. Mereka duduk bersama, menikmati bekal yang dibawa, dan saling berbagi cerita tentang manfaat makanan sehat.
Guru juga mengingatkan pentingnya gizi seimbang: karbohidrat, protein, vitamin, mineral, dan serat. Anak-anak belajar bahwa makanan bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang energi dan kesehatan tubuh.
Selain itu Jumat Sehat juga bisa diisi dengan senam pagi bersama seluruh siswa dari kelas 1 – 6 bersama ibu bapak guru.
Manfaat Jumat Sehat sangat terasa:
- Membiasakan pola makan sehat
- Mengurangi konsumsi makanan instan berlebihan
- Meningkatkan kesadaran gizi
- Menguatkan kebersamaan saat makan bersama
- Membiasakan berolahraga
Anak-anak yang terbiasa membawa dan menikmati bekal sehat cenderung lebih sadar terhadap pilihan makanannya. Anak yang sudah terbiasa berolahraga sejak kecil juga akan lebih mudah membiasakan olahraga di masa dewasanya. Kebiasaan kecil ini bisa menjadi fondasi gaya hidup sehat hingga dewasa.
3. Jumat Bersih: Menanamkan Kepedulian dan Tanggung Jawab
Ada Jumat yang diisi dengan suara sapu menyapu halaman, kain lap yang membersihkan meja, dan tawa ringan saat bekerja bersama.
Dalam Jumat Bersih, kakak shalih–shalihah membersihkan area sekolah—kelas, halaman, taman, dan sudut-sudut yang perlu dirapikan. Kegiatan ini bukan sekadar kerja bakti, tetapi bagian dari pendidikan karakter.
Anak belajar bahwa kebersihan bukan hanya tugas petugas kebersihan. Lingkungan yang nyaman adalah tanggung jawab bersama.
Dari Jumat Bersih, anak-anak mendapatkan banyak pelajaran:
- Tanggung jawab terhadap lingkungan
- Kerja sama tim
- Kepedulian terhadap fasilitas bersama
- Disiplin menjaga kebersihan
Ketika anak terbiasa menjaga lingkungan sekolah, diharapkan kebiasaan itu terbawa hingga ke rumah dan masyarakat.
4. Bintang Juara Bersinar: Ruang untuk Unjuk Bakat
Ada Jumat yang terasa lebih meriah. Panggung sederhana disiapkan. Wajah-wajah penuh percaya diri maju satu per satu.
Dalam program Bintang Juara Bersinar, setiap kelas mendapatkan giliran untuk menampilkan bakat dan potensi terbaiknya. Ada yang membaca puisi, menyanyi, menari, bermain musik, bercerita, hingga menampilkan karya kreatif lainnya.
Kegiatan ini memberi ruang bagi setiap anak untuk bersinar sesuai keunikan masing-masing. Tidak semua anak unggul di bidang akademik, tetapi setiap anak memiliki potensi.
Manfaat Bintang Juara Bersinar sangat besar:
- Meningkatkan rasa percaya diri
- Melatih keberanian tampil di depan umum
- Mengasah kreativitas
- Menghargai bakat teman
Anak belajar bahwa setiap orang punya kelebihan. Tugas kita bukan membandingkan, tetapi mengembangkan potensi diri sebaik mungkin.
Jumat yang Mendidik Sepenuh Hati: Beda Pekan, Beda Pengalaman
Keempat kegiatan ini dilakukan secara bergantian. Satu pekan bisa diisi Jumat Literasi, pekan berikutnya Jumat Sehat, lalu Jumat Bersih, dan seterusnya.
Pergantian ini membuat anak-anak tidak bosan. Mereka belajar bahwa pembentukan karakter tidak dilakukan dalam satu cara saja, melainkan melalui beragam pengalaman.
Hari Jumat di SD Islam Bintang Juara bukan sekadar pengisi jadwal. Ia adalah ruang tumbuh.
- Melalui literasi, anak menguatkan akal.
- Melalui pola hidup sehat, anak menjaga kesehatan tubuh.
- Melalui kebersihan, anak membentuk tanggung jawab.
- Melalui panggung bakat, anak menemukan percaya diri.
Pendidikan sejati bukan hanya soal nilai rapor, tetapi tentang kebiasaan baik yang terus ditanamkan.
Karena pada akhirnya, yang diharapkan bukan hanya anak yang cerdas secara akademik, tetapi juga sehat, peduli, dan berani bersinar sesuai potensi yang Allah titipkan.***
by admin admin | Feb 17, 2026 | Artikel, Berita, Berita Utama, Edukasi, Kegiatan Siswa, Pembelajaran, Religi
Matematika sering dianggap rumit. Pecahan, perbandingan, angka desimal—semuanya terdengar serius. Namun di kelas 4B, Senin, 9 Februari 2026, pelajaran pecahan berubah menjadi pengalaman seru dan penuh rasa ingin tahu.
Melalui kegiatan BBOT (Belajar Bersama Orang Tua), kakak shalih–shalihah kelas 4B belajar bersama Ayah Arief Radityo Cahyo Bawono, orang tua dari Kak Xaquil. Tema yang diangkat pun unik: “Membedah Rahasia Perbandingan Bahan Pembersih.”
Alih-alih mengerjakan soal di buku, kakak diajak langsung bereksperimen membuat cairan pembersih lantai dan cairan cuci piring. Dari sinilah konsep pecahan dan perbandingan menjadi nyata.
Pecahan Itu Nyata, Bukan Sekadar Angka
Ayah Kak Xaquil memulai dengan pertanyaan sederhana: “Kenapa cairan pembersih tidak digunakan langsung tanpa dicampur air?”
Diskusi pun dimulai. Anak-anak mulai menyadari bahwa cairan pembersih biasanya harus diencerkan agar aman dan efektif. Dari sinilah muncul istilah baru yang diperkenalkan:
- Dilusi: campuran antara air dan chemical (bahan kimia).
- Residu: sisa dari bahan yang digunakan.
Kakak kelas 4B terlihat antusias saat menyadari bahwa pelajaran pecahan ternyata digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Eksperimen Membuat Cairan Pembersih Lantai & Cuci Piring
Ayah Arief kemudian menjelaskan perbandingan untuk membuat cairan pembersih lantai, yaitu 1:40 (chemical : air). Artinya, untuk setiap 1 bagian chemical, dibutuhkan 40 bagian air. Jika menggunakan botol ukuran 300 ml, maka perhitungannya, dibutuhkan 7.5 ml chemical untuk diisikan dalam botol tersebut.
Anak-anak mulai menghitung bersama. Pecahan dan desimal yang biasanya terlihat sulit, kini menjadi bagian dari eksperimen nyata.
Ayah juga memberikan contoh praktis: jika menggunakan ember, kira-kira dibutuhkan 2 tutup botol cairan pembersih lantai untuk campuran air yang sesuai.
Eksperimen berlanjut dengan membuat cairan cuci piring. Kali ini perbandingannya berbeda: 1:2 (chemical : air). Artinya, jika menggunakan 1 bagian chemical, maka ditambahkan 2 bagian air.
Namun ada catatan penting. Cairan cuci piring sebaiknya dibuat secukupnya saja. Jika masih ada sisa dan disimpan terlalu lama, justru bisa menjadi tempat berkembangnya bakteri.
Pelajaran pun semakin lengkap. Kakak tidak hanya belajar menghitung, tetapi juga memahami prinsip kebersihan dan kesehatan.
Satu hal penting yang ditekankan adalah urutan mencampur: Masukkan air terlebih dahulu, baru kemudian chemical. Ini untuk keamanan dan hasil campuran yang lebih stabil. Selain itu agar tidak menghasilkan banyak busa, alih-alih dikocok, botol bisa dinaikturunkan dengan pelan.
Belajar Aman: Pentingnya Label dan Keselamatan
Selain belajar perbandingan, kakak kelas 4B juga belajar tentang keselamatan.
Ayah menyarankan menggunakan botol air minum bekas sebagai wadah cairan pembersih agar lebih hemat dan ramah lingkungan. Namun label bawaan harus dilepas agar tidak membingungkan.
Botol tidak boleh dibiarkan polos. Harus diberi label baru yang jelas bertuliskan “Cairan Pembersih”. Mengapa? Karena jika tidak diberi tanda, bisa saja ada yang salah mengira itu air minum dan meminumnya. Tentu berbahaya.
Di sini, anak-anak belajar bahwa matematika dan sains selalu berjalan berdampingan dengan tanggung jawab.
Pembelajaran Kontekstual yang Bermakna
BBOT 4B hari itu membuktikan bahwa matematika tidak berdiri sendiri. Pecahan dan perbandingan hadir dalam kehidupan sehari-hari—di dapur, di kamar mandi, bahkan di ruang kelas.
Anak-anak belajar:
- Menghitung perbandingan secara nyata
- Memahami konsep dilusi
- Menjaga keselamatan penggunaan bahan kimia
- Bertanggung jawab terhadap lingkungan
Wajah kakak shalih–shalihah terlihat puas. Mereka tidak hanya mengerti rumus, tetapi tahu bagaimana menerapkannya.
Kegiatan bersama Ayah Arief Radityo Cahyo Bawono menjadi pengalaman belajar yang tak terlupakan. Dari botol bekas, cairan pembersih, dan hitungan sederhana, kakak kelas 4B memahami bahwa ilmu itu hidup dan dekat.
Hari itu, rahasia perbandingan benar-benar terbongkar. Dan kakak kelas 4B pulang bukan hanya membawa catatan, tetapi juga pemahaman bahwa belajar bisa hadir dalam bentuk yang praktis, berguna, dan menyenangkan.***
by admin admin | Feb 16, 2026 | Artikel, Berita, Berita Utama, Edukasi, Kegiatan Siswa, Pembelajaran
“Sedia payung sebelum hujan.”
Kalimat yang sering didengar itu ternyata menyimpan pelajaran penting bagi kakak shalih–shalihah kelas 1C. Pada Senin, 9 Februari 2026, kegiatan BBOT (Belajar Bersama Orang Tua) 1C menghadirkan narasumber istimewa: Bunda Surya Wilantika, orang tua dari Kak Ghumaisa.
Tema yang diangkat sederhana namun sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: Cuaca.
Pagi itu, suasana kelas terasa berbeda. Meja sudah disiapkan untuk praktik kecil. Wajah kakak shalih–shalihah tampak penasaran. Apa hubungannya payung, hujan, dan cuaca?
Mengenal Cuaca Lewat Gambar yang Dekat dengan Anak
Bunda Surya memulai sesi dengan mengajak kakak mengenal apa itu cuaca. Tidak langsung dengan definisi panjang, tetapi melalui gambar-gambar menarik—matahari bersinar cerah, awan mendung, hujan turun, dan angin bertiup.
“Kalau langitnya cerah dan panas, itu cuaca apa?” tanya Bunda.
“Cerah!” jawab kakak serempak.
“Kalau banyak awan hitam?”
“Hujan!”
Diskusi ringan itu membuat anak-anak menyadari bahwa cuaca adalah kondisi udara yang bisa berubah setiap hari. Kadang panas, kadang mendung, kadang hujan. Dari sini, mereka mulai memahami mengapa kita perlu bersiap—termasuk membawa payung saat langit terlihat gelap.
Saatnya Praktik: Bagaimana Hujan Terjadi?
Bagian yang paling ditunggu pun tiba: eksperimen proses terjadinya hujan.
Bunda Surya menyiapkan:
- Segelas air panas
- Kertas bekas bungkus snack
- Beberapa potong es batu
Air panas dimasukkan ke dalam gelas. Uap tipis mulai terlihat naik perlahan. Gelas kemudian ditutup dengan kertas snack. Di atas kertas itu, Bunda meletakkan es batu.
Kakak shalih–shalihah mengamati dengan penuh perhatian. Perlahan, es batu mulai mencair. Tak lama kemudian, titik-titik air muncul di bagian bawah kertas.
“Lihat! Tetesan hujan!” seru salah satu kakak.
Momen itu menjadi ajaib. Anak-anak menyaksikan langsung bagaimana uap air naik, bertemu suhu dingin, lalu berubah menjadi titik-titik air—mirip proses hujan di alam.
Bunda Surya menjelaskan dengan bahasa sederhana: ketika air di bumi terkena panas matahari, air menguap naik ke langit. Di atas, udara lebih dingin. Uap itu berubah menjadi titik air, berkumpul menjadi awan, lalu turun sebagai hujan.
Eksperimen sederhana ini membuat konsep yang biasanya sulit menjadi mudah dipahami.
Belajar Sains dengan Cara Menyenangkan
Kegiatan BBOT 1C ini menunjukkan bahwa belajar sains tidak harus rumit. Dengan alat sederhana yang mudah ditemukan di rumah, anak-anak bisa memahami proses alam yang luar biasa.
Lebih dari itu, kakak shalih–shalihah belajar untuk mengamati, bertanya, dan menyimpulkan. Mereka tidak hanya mendengar penjelasan, tetapi melihat langsung perubahan yang terjadi.
Rasa ingin tahu pun tumbuh. Ada yang bertanya kenapa es bisa mencair. Ada yang penasaran apakah semua awan pasti turun hujan. Diskusi kecil itu menjadi bukti bahwa pembelajaran bermakna sedang terjadi.
Peran Orang Tua dalam Pembelajaran Anak
Kehadiran Bunda Surya sebagai narasumber memperlihatkan betapa pentingnya kolaborasi antara sekolah dan orang tua. Anak-anak merasa bangga karena orang tua temannya bisa berbagi ilmu di kelas.
BBOT bukan sekadar program, tetapi ruang kebersamaan. Anak belajar bahwa ilmu bisa datang dari siapa saja—termasuk dari orang tua yang peduli dan mau terlibat.
Dari Cuaca ke Karakter
“Sedia payung sebelum hujan” ternyata bukan hanya tentang cuaca. Ini juga tentang kesiapan. Anak-anak belajar bahwa penting untuk bersiap sebelum sesuatu terjadi.
- Belajar membawa payung saat mendung.
- Belajar menjaga kesehatan saat cuaca berubah.
- Dan belajar memahami alam sebagai ciptaan Allah yang penuh hikmah.
Alhamdulillah, sesi BBOT 1C hari itu berjalan dengan penuh keceriaan. Kakak shalih–shalihah pulang membawa pemahaman baru tentang cuaca—dan mungkin juga cerita seru untuk dibagikan di rumah.
Karena belajar tentang hujan hari itu bukan hanya soal air yang turun dari langit, tetapi tentang rasa ingin tahu yang terus bertumbuh.***
by admin admin | Feb 13, 2026 | Berita, Berita Utama, Edukasi, Kegiatan Siswa, Pembelajaran
Ramadan memang belum tiba, tetapi getarannya sudah terasa kuat di lingkungan SD Islam Bintang Juara. Ada semangat yang tumbuh perlahan. Ada hati-hati kecil yang mulai dipersiapkan. Karena menyambut Ramadan bukan sekadar menunggu tanggal di kalender—melainkan menyiapkan diri agar menjadi lebih baik.
Rangkaian Tarbiyah Ramadan 1447 Hijriah di SD Islam Bintang Juara
Selama tiga hari berturut-turut, mulai Rabu hingga Jumat, 11–13 Februari 2026, kakak shalih–shalihah mengikuti Rangkaian Tarbiyah Ramadan SD Islam Bintang Juara. Setiap harinya menghadirkan pengalaman yang berbeda, namun memiliki tujuan yang sama: menumbuhkan kesiapan ilmu, hati, dan amal dalam menyambut bulan suci.
Rabu, 11 Februari 2026: Tarbiyah Ramadan & Pembagian Buku Ramadan
Hari pertama dibuka dengan kegiatan Tarbiyah Ramadan dan Pembagian Buku Ramadan. Kegiatan ini dibagi menjadi dua kelompok besar agar materi sesuai dengan tahap perkembangan anak.
Kelas Tinggi (Kelas 4–6): Menguatkan Pemahaman dan Kesadaran
Kakak kelas 4–6 didampingi oleh Pak Zaki. Sesi dimulai bukan dengan ceramah panjang, melainkan dengan recalling—mengajak kakak mengingat kembali apa saja yang penting diketahui tentang Ramadan.
- “Ramadan itu bulan apa?”
- “Apa tujuan kita berpuasa?”
- “Selain puasa, ibadah apa saja yang dianjurkan?”
Tangan-tangan terangkat. Jawaban mengalir: puasa, tarawih, tadarus, zakat, sedekah, menahan amarah. Diskusi terasa hidup. Kakak tidak hanya menyebutkan, tetapi mulai memahami makna di baliknya.
Pak Zaki kemudian menguatkan kembali esensi Ramadan sebagai bulan pembinaan diri. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga menjaga lisan, pikiran, dan perbuatan. Ramadan adalah kesempatan memperbaiki diri.
Kelas Rendah (Kelas 1–3): Memahami Ramadan dengan Ceria
Sementara itu, kakak kelas 1–3 didampingi oleh Pak Ali dan Pak Rizki. Pendekatannya tentu berbeda. Anak-anak diajak menonton video animasi Rico tentang berpuasa.
Melalui tayangan yang ringan dan menyenangkan, kakak belajar tentang apa itu puasa, kapan waktu berpuasa, serta hal-hal sederhana yang perlu dijaga selama Ramadan. Setelah menonton, Pak Ali dan Pak Rizki memberikan penjelasan dasar dengan bahasa yang mudah dipahami.
- Apa itu niat?
- Kenapa tidak boleh makan dan minum saat puasa?
- Bagaimana jika lupa?
Semua dijelaskan sesuai kebutuhan usia mereka. Tidak terlalu berat, tetapi cukup untuk membangun pemahaman awal yang kuat.
Di akhir sesi, baik di kelas tinggi maupun rendah, kakak menerima Buku Ramadan yang akan menjadi panduan ibadah dan refleksi selama bulan suci. Buku ini bukan sekadar lembaran tugas, melainkan sahabat perjalanan spiritual mereka.
Hari pertama ditutup dengan senyum dan rasa penasaran. Ramadan terasa semakin dekat.
Kamis, 12 Februari 2026: BBM – Bersih-bersih Masjid dan Musala
Hari kedua diisi dengan kegiatan penuh makna: BBM (Bersih-bersih Masjid dan Musala).
Kakak kelas 3–5 berangkat ke masjid dan musala sekitar sekolah. Sapu di tangan, lap kain dibawa, dan hati yang siap beramal. Membersihkan karpet, merapikan sajadah, menyapu halaman—semua dilakukan bersama.
Kegiatan ini bukan sekadar kerja bakti. Dari hal sederhana ini, kakak shalih–shalihah belajar menjadi muslim yang peduli dan bermanfaat bagi masyarakat.
Membersihkan rumah Allah menjadi jalan untuk membersihkan hati. Setiap debu yang disapu seolah mengingatkan bahwa hati pun perlu dibersihkan dari iri, malas, dan amarah.
Ini adalah amalan spesial menyambut Ramadan.
Sementara itu, kakak kelas 1–2 dan kelas 6 mendapat tugas membersihkan area sekolah. Kelas 6 sebelumnya harus menuntaskan ujian praktik, sehingga mereka kemudian mendapat amanah mendampingi adik-adik kelas 1 dan 2.
Pemandangan yang indah terlihat: kakak kelas 6 membimbing adik-adiknya. Mengajarkan cara menyapu, mengingatkan untuk berhati-hati, dan bekerja sama. Ramadan benar-benar menjadi momen pembinaan karakter.
Jumat, 13 Februari 2026: Pawai Ramadan – Syiar yang Berjalan
Hari ketiga menjadi puncak yang paling meriah: Pawai Ramadan.
Bersama PAUD Islam Bintang Juara, kakak shalih–shalihah berbaris rapi. Mereka membawa manggar yang telah dibuat di rumah masing-masing. Warna-warni hiasan menghiasi barisan, menciptakan suasana penuh semangat.
Langkah kecil mereka menyusuri area perkampungan dekat sekolah. Shalawat dilantunkan bersama. Suaranya mungkin sederhana, tetapi getarannya terasa kuat.
Ini bukan sekadar pawai. Ini adalah syiar. Doa yang berjalan. Harapan yang dikibarkan bersama. Harapan untuk hati yang lebih bersih. Ibadah yang lebih kuat. Dan diri yang lebih baik dari kemarin.
Warga sekitar menyambut dengan senyum. Ada kebahagiaan yang menular. Anak-anak belajar bahwa Ramadan bukan hanya tentang diri sendiri, tetapi juga tentang menghadirkan kebaikan bagi lingkungan sekitar.
Ramadan Dimulai dari Persiapan Hati
Rangkaian Tarbiyah Ramadan ini menunjukkan bahwa menyambut bulan suci tidak cukup dengan menunggu hilal terlihat. Persiapan harus dimulai jauh-jauh hari—dengan ilmu, amal, dan kebersamaan.
- Melalui tarbiyah, kakak memahami makna Ramadan.
- Melalui bersih masjid, kakak belajar peduli dan beramal.
- Melalui pawai, kakak belajar bersyiar dan berbagi semangat.
Di SD Islam Bintang Juara, Ramadan bukan sekadar agenda tahunan, tetapi proses pembinaan karakter yang berkelanjutan.
Kini, Ramadan semakin dekat. Dan pertanyaannya bukan lagi, “Kapan Ramadan tiba?” Tetapi, “Sudah sejauh mana kita menyiapkan diri?”
Kalau ayah bunda, sudah menyiapkan kegiatan apa di rumah untuk menyambut Ramadan bersama kakak shalih–shalihah?***
by admin admin | Feb 5, 2026 | Artikel, Berita, Edukasi, Kegiatan Siswa, Pembelajaran
Belajar untuk anak kelas 1 bukan sekadar mengenal angka dan huruf. Lebih dari itu, belajar adalah proses memahami dunia—melalui benda di sekitar, cerita, dan pengalaman yang bermakna. Inilah yang dirasakan kakak shalih–shalihah Kelas 1B SD Islam Bintang Juara dalam kegiatan BBOT (Bintang Juara Bersama Orang Tua) bertajuk “Aku dan Benda di Sekitarku: Lebih Berat atau Lebih Ringan?”, yang dilaksanakan pada Kamis, 5 Februari 2026.
Kegiatan ini terasa istimewa karena menghadirkan Ayah Rais Kandar dan Bunda Karina Yudono, orang tua dari Kak Inayah, yang mengajak kakak shalih–shalihah belajar dengan cara sederhana, konkret, dan penuh makna.
Belajar Konsep Berat dan Ringan dengan Cara Nyata
Pembelajaran dimulai dari hal yang sangat dekat dengan dunia anak. Ayah Rais dan Bunda Karina memperkenalkan timbangan sederhana dari hanger. Dengan alat ini, kakak shalih–shalihah diajak membandingkan dua benda: mana yang lebih berat, dan mana yang lebih ringan.
Saat dua benda digantungkan di sisi kanan dan kiri hanger, anak-anak memperhatikan dengan saksama. Ketika salah satu sisi turun, spontan mereka berseru, “Itu lebih berat!” Dari sini, konsep berat dan ringan tidak lagi menjadi istilah abstrak, melainkan pengalaman visual dan nyata.
Kakak shalih–shalihah pun mencoba satu per satu. Mereka belajar bahwa ukuran benda tidak selalu menentukan beratnya. Ada benda kecil yang ternyata berat, dan ada benda besar yang justru ringan. Proses ini melatih rasa ingin tahu dan kemampuan observasi sejak dini.
Cerita yang Membuat Konsep Lebih Hidup
Setelah praktik menimbang, suasana kelas berubah menjadi lebih tenang. Bunda Karina membacakan sebuah cerita sederhana yang mengaitkan konsep berat dengan fenomena alam, yaitu hujan.
Kakak shalih–shalihah diajak membayangkan awan di langit. Awan membawa air di dalam “tubuhnya”. Ketika air itu semakin banyak dan semakin berat, awan tidak mampu menahannya lagi. Maka, air pun jatuh ke bumi sebagai hujan.
Cerita ini membuat anak-anak terkesima. Mereka mulai memahami bahwa konsep berat tidak hanya ada pada benda yang bisa dipegang, tetapi juga ada di alam sekitar. Belajar pun terasa seperti mendengarkan kisah petualangan, bukan pelajaran yang membosankan.
Mengaitkan Ilmu dengan Nilai Kehidupan
Yang membuat kegiatan BBOT ini semakin bermakna adalah saat Ayah Rais mengajak kakak shalih–shalihah berpikir lebih dalam. Ia bercerita bahwa timbangan tidak hanya ada di dunia, tetapi juga ada di akhirat.
Dengan bahasa yang sederhana dan sesuai usia anak, Ayah Rais menjelaskan bahwa kelak amal baik dan dosa manusia akan ditimbang. Setiap perbuatan akan mendapatkan balasan yang setimpal. Pesan ini disampaikan dengan lembut, tanpa menakut-nakuti, namun penuh makna.
Dari sini, kakak shalih–shalihah belajar bahwa konsep berat dan ringan juga bisa dimaknai secara nilai. Amal baik yang banyak akan menjadi “berat” di timbangan kebaikan. Sebaliknya, perbuatan buruk perlu dihindari agar tidak memberatkan timbangan dosa.
Pembelajaran Tematik yang Menyentuh Akal dan Hati
Kegiatan BBOT Kelas 1B menjadi contoh pembelajaran tematik yang utuh. Anak-anak tidak hanya belajar sains dan matematika sederhana, tetapi juga nilai moral dan spiritual. Semua disampaikan melalui pengalaman langsung dan cerita yang dekat dengan dunia mereka.
Pendekatan seperti ini membantu kakak shalih–shalihah memahami pelajaran dengan lebih mudah. Mereka tidak hanya mengingat konsep berat dan ringan, tetapi juga memahami maknanya dalam kehidupan sehari-hari.
Peran Orang Tua sebagai Mitra Pendidikan
Kehadiran Ayah Rais dan Bunda Karina menunjukkan betapa pentingnya peran orang tua dalam proses belajar anak. BBOT menjadi ruang kolaborasi antara sekolah dan keluarga, di mana orang tua turut terlibat aktif sebagai pendamping dan inspirator.
Anak-anak melihat langsung bahwa belajar tidak hanya milik guru di sekolah, tetapi juga bisa dilakukan bersama orang tua. Hal ini menumbuhkan rasa aman, percaya diri, dan semangat belajar yang lebih besar.
Belajar yang Menyenangkan dan Berkesan
Sepanjang kegiatan, wajah kakak shalih–shalihah Kelas 1B dipenuhi rasa antusias. Mereka tertawa, bertanya, mencoba, dan mendengarkan cerita dengan penuh perhatian. Tanpa disadari, mereka telah belajar banyak hal dalam satu kegiatan sederhana.
Melalui BBOT “Aku dan Benda di Sekitarku: Lebih Berat atau Lebih Ringan?”, SD Islam Bintang Juara kembali menegaskan komitmennya menghadirkan pembelajaran yang bermakna—menghubungkan ilmu, pengalaman, dan nilai kehidupan.
Karena sejak dini, anak perlu belajar bahwa ilmu bukan hanya untuk diketahui, tetapi juga untuk dipahami, dirasakan, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.***