fbpx
BBOT Kelas 4B: Mengenal Teks Rekon melalui Game Interaktif dan Bermakna

BBOT Kelas 4B: Mengenal Teks Rekon melalui Game Interaktif dan Bermakna

Pernahkah kakak-kakak mencoba menceritakan kembali sebuah pengalaman, tetapi tiba-tiba bingung harus memulai dari mana?

  • “Waktu itu kejadiannya apa dulu, ya?”
  • “Setelah itu apa?”
  • “Terus bagaimana akhirnya?”

Menceritakan sebuah pengalaman ternyata membutuhkan lebih dari sekadar mengingat apa yang pernah terjadi. Anak perlu menyusun kembali peristiwa agar orang lain dapat mengikuti ceritanya dengan mudah.

Hal inilah yang dipelajari oleh kakak-kakak kelas 4B SD Islam Bintang Juara dalam kegiatan BBOT (Belajar Bersama Orang Tua) pada Senin, 14 September 2026.

Bersama Bunda Fiqih Nindya, Bunda dari Kak Kayla, kakak-kakak diajak mengenal teks rekon melalui game interaktif dan bermakna.

Belajar teks rekon kali ini pun terasa berbeda. Bukan sekadar membuka buku, membaca pengertian, lalu mengerjakan soal. Kakak-kakak diajak bermain, berpikir, mengingat urutan kejadian, hingga akhirnya menyusun teks rekon mereka sendiri.

Dan perjalanan belajar ini nantinya akan berlanjut menjadi sebuah karya bersama: antologi teks rekon kakak-kakak kelas 4B.

Mengenal Teks Rekon dengan Cara yang Menyenangkan

Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, teks rekon berkaitan dengan bagaimana seseorang menceritakan kembali suatu pengalaman atau peristiwa.

Namun, bagi anak-anak, memahami konsep tersebut akan terasa lebih dekat ketika mereka dapat menghubungkannya dengan pengalaman yang mereka miliki sendiri.

Karena itu, kegiatan BBOT kali ini dikemas melalui game interaktif.

Kakak-kakak tidak hanya menjadi pendengar, tetapi ikut terlibat dalam proses pembelajaran. Mereka diajak berpikir, mengingat, berdiskusi, dan menyusun informasi berdasarkan peristiwa yang ada.

Dari permainan tersebut, konsep yang semula mungkin terdengar seperti istilah dalam pelajaran Bahasa Indonesia menjadi sesuatu yang lebih konkret.

Teks rekon ternyata dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Ketika kakak menceritakan kembali pengalaman liburan, kegiatan di sekolah, pengalaman mengikuti suatu acara, atau kejadian menarik bersama teman, sebenarnya kakak sedang belajar bagaimana mengomunikasikan kembali sebuah pengalaman kepada orang lain.

Dari Game, Anak Belajar Menyusun Urutan Peristiwa

Salah satu tantangan ketika menulis cerita pengalaman adalah menentukan urutan kejadian.

Sebuah pengalaman tentu memiliki rangkaian peristiwa. Ada sesuatu yang terjadi terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan kejadian berikutnya, hingga akhirnya sampai pada bagian penutup.

Jika urutannya tidak jelas, pembaca akan kesulitan memahami cerita. Melalui kegiatan yang interaktif, kakak-kakak kelas 4B mendapatkan kesempatan untuk memahami pentingnya menyusun peristiwa secara runtut.

Mereka belajar bahwa ketika ingin menceritakan kembali sesuatu, tidak cukup hanya dengan mengatakan: “Aku pergi ke sana. Terus aku melakukan ini. Terus ada itu.”

Cerita perlu disusun agar pembaca seolah-olah dapat mengikuti perjalanan yang sedang diceritakan.

Di sinilah kemampuan berpikir runtut mulai dilatih.

  • Anak belajar mengingat.
  • Anak belajar memilih informasi.
  • Anak belajar menyusun.
  • Dan anak belajar menyampaikan kembali.

Ketika Pengalaman Anak Menjadi Bahan untuk Menulis

Hal menarik dari pembelajaran teks rekon adalah bahan ceritanya dapat berasal dari pengalaman yang dekat dengan anak.

Anak tidak harus mencari cerita yang jauh atau rumit. Pengalaman mereka sendiri dapat menjadi sumber tulisan.

  • Apa yang pernah dilakukan?
  • Apa yang terjadi?
  • Siapa saja yang terlibat?
  • Bagaimana urutannya?
  • Apa yang dirasakan atau dipelajari dari pengalaman tersebut?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini dapat membantu anak menggali kembali pengalaman yang tersimpan dalam ingatan. Proses tersebut membuat kegiatan menulis menjadi lebih personal.

Anak bukan sekadar menulis karena mendapatkan tugas. Mereka sedang menceritakan sesuatu yang pernah mereka alami.

Dengan begitu, menulis dapat menjadi ruang bagi anak untuk mengolah pengalaman menjadi sebuah cerita yang dapat dipahami dan dinikmati orang lain.

Dari Menyusun Teks Rekon Menuju Sebuah Karya

Setelah mengenal konsep dan berlatih melalui kegiatan interaktif, perjalanan belajar kakak-kakak kelas 4B tidak berhenti pada satu kali kegiatan.

Kakak-kakak kemudian diajak untuk menyusun teks rekon. Setiap tulisan akan menjadi bagian dari proses menghasilkan karya bersama. InsyaAllah, hasil akhir dari pembelajaran ini akan dikembangkan menjadi antologi teks rekon karya kakak-kakak kelas 4B.

Bayangkan ketika nanti setiap tulisan terkumpul menjadi satu buku.

  • Ada banyak pengalaman.
  • Ada banyak sudut pandang.
  • Ada banyak cerita.

Dan semuanya berasal dari kakak-kakak yang belajar menuliskan pengalaman mereka sendiri.

Buku tersebut nantinya bukan sekadar kumpulan tugas Bahasa Indonesia. Ia dapat menjadi jejak proses belajar—sebuah bukti bahwa pengalaman sederhana yang dimiliki anak dapat diolah menjadi karya yang bermakna.

Menulis Juga Melatih Anak Menghargai Pengalaman

Ada satu pembelajaran lain yang secara tidak langsung tumbuh melalui proses menulis teks rekon. Ketika anak diminta mengingat kembali sebuah peristiwa, mereka belajar bahwa pengalaman memiliki cerita.

Sebuah kegiatan yang sebelumnya terasa biasa saja dapat menjadi sesuatu yang menarik ketika diceritakan kembali dari sudut pandang mereka.

Proses menulis juga mengajak anak memperhatikan detail. Mereka perlu mengingat apa yang terjadi, memilih bagian yang ingin diceritakan, kemudian mengubahnya menjadi kata-kata.

Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya berkaitan dengan kemampuan berbahasa. Anak juga belajar mengorganisasi pikiran dan mengomunikasikan pengalaman.

BBOT: Ketika Orang Tua Menjadi Bagian dari Perjalanan Belajar

Kehadiran Bunda Fiqih Nindya dalam kegiatan BBOT menjadi bagian dari semangat Belajar Bersama Orang Tua di SD Islam Bintang Juara.

Melalui kegiatan seperti ini, orang tua tidak hanya hadir dalam kehidupan sekolah anak sebagai pendamping, tetapi juga dapat menjadi bagian dari pengalaman belajar yang memberikan warna berbeda.

Anak mendapatkan pengalaman bahwa belajar dapat dilakukan bersama banyak orang.

  • Ada guru.
  • Ada orang tua.
  • Ada teman.
  • Dan ada berbagai pengalaman yang dapat menjadi sumber pengetahuan.

Kolaborasi tersebut juga menjadi pengingat bahwa proses pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam kelas. Pengalaman belajar dapat hadir melalui percakapan, permainan, interaksi, dan karya yang dibuat bersama.

Dari Satu Kegiatan, Menjadi Cerita yang Bisa Dibaca Banyak Orang

BBOT kelas 4B kali ini mungkin hanya berlangsung dalam satu hari. Namun, proses belajar yang dimulai dari kegiatan tersebut diharapkan dapat terus berlanjut.

Dari mengenal teks rekon. Kemudian bermain dan memahami konsep. Lalu menyusun kembali pengalaman. Hingga akhirnya menghasilkan tulisan.

Dan insyaAllah, tulisan-tulisan tersebut akan dikumpulkan menjadi sebuah antologi teks rekon. Sebuah karya yang suatu hari nanti dapat dibaca kembali oleh kakak-kakak dan mengingatkan mereka pada proses belajar yang pernah dilalui bersama.

Sebab, pendidikan bukan hanya tentang berapa banyak materi yang berhasil diingat.

Pendidikan juga tentang bagaimana anak mampu mengolah pengalaman menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi keterampilan, dan keterampilan menjadi sebuah karya.

Melalui BBOT kelas 4B, kakak-kakak belajar bahwa setiap pengalaman memiliki cerita. Dan setiap cerita, ketika disusun dengan baik, dapat menjadi karya yang bermakna.

Hari ini belajar menulis pengalaman. Esok, pengalaman itu menjadi sebuah karya.

Semoga proses menyusun antologi teks rekon ini menjadi perjalanan yang menyenangkan bagi kakak-kakak kelas 4B—sekaligus menjadi pengingat bahwa setiap anak memiliki cerita, setiap cerita memiliki makna, dan setiap karya adalah bagian dari perjalanan untuk terus tumbuh menjadi bintang dan juara.*** (CM-MRT)

Guru Bercerita: Mengenal Bu Yayuk Fitriani dalam Merancang Pembelajaran dan Menemani Langkah Pertama

Guru Bercerita: Mengenal Bu Yayuk Fitriani dalam Merancang Pembelajaran dan Menemani Langkah Pertama

Memasuki jenjang sekolah dasar bukan hanya tentang berpindah dari satu lingkungan belajar ke lingkungan yang baru. Bagi anak, ini adalah langkah pertama menuju pengalaman belajar yang lebih luas—mengenal rutinitas baru, membangun kemandirian, berinteraksi dengan lebih banyak orang, sekaligus mulai menghadapi berbagai tantangan dalam proses belajar.

Karena itu, pembelajaran di kelas 1 membutuhkan lebih dari sekadar target akademik. Bu Yayuk Fitriani, S.Pd., Gr., Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum sekaligus Wali Kelas 1A SD Islam Bintang Juara, melihat bahwa setiap proses pembelajaran perlu dirancang dengan memahami karakteristik dan perkembangan anak. Bagi beliau, kurikulum bukan sekadar dokumen, melainkan ruh pendidikan yang menjadi ikhtiar untuk menentukan arah tumbuhnya anak sebagai calon pemimpin muslim.

Mengenal Lebih Dekat Sosok Bu Yayuk Fitriani

Setelah sebelumnya kita mengenal Bu Ni’mah lebih dekat, hari ini MinBin akan mengajak Ayah Bunda untuk berkenalan lebih dekat dengan salah satu assabiqunal awwalun lainnya dari SD Islam Bintang Juara. Yuk, kita kulik bagaimana perjalanan Bu Yayuk Fitriani bertumbuh bersama SD Islam Bintang Juara!

1. Bisa diceritakan perjalanan Ibu hingga mendapat amanah sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum sekaligus Wali Kelas 1A?

Pertama kali bergabung pada Juni 2018, SD Islam Bintang Juara akan berusia 1 tahun. Saat itu saya mendapat amanah untuk membantu Bu Ni’mah dalam mengurus perizinan SD Islam Bintang Juara. Kemudian di tahun ajaran 2018/2029 saya mulai menerima amahan untuk membersamai Kakak kelas 1 angkatan 2 dan sampai saat ini masih mendampingi Kakak-kakak kelas 1 SD Islam Bintang Juara.

2. Apa yang membuat Ibu tertarik pada dunia pendidikan dan pengembangan pembelajaran?

Bagi saya pendidikan merupakan dunia yang penuh warna dan dinamis seperti manusia. Dunia pendidikan menjadi tempat untuk terus belajar dan berkembang. Saya merasakan beragam pengalaman interpersonal dan intrapersonal diperoleh dalam dunia pendidikan. Saya berharap kehadiran saya di dunia pendidikan dapat memberikan warna, kebermanfaatan dan menjadi tempat calon pemimpin berproses.

Sudut Pandang Sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum

Selain diamanahi sebagai Wali Kelas 1A, Bu Yayuk Fitriani juga mendapat peran bermakna sebagai seorang Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum. Seperti apa ya beliau memandang sebuah kurikulum sekolah?

3. Apa arti kurikulum bagi Ibu? Apakah sekadar dokumen pembelajaran atau sesuatu yang lebih besar?

Bagi saya kurikulum bukan sekedar dokumen pembelajaran. Kurikulum adalah ruh dalam pendidikan. Dimana guru berikhtiar merancang dan menentukan arah pendidikan sebagai alat, ide dan doa yang akan digunakan untuk mencerdaskan insan manusia.

4. Ketika merancang pembelajaran, apa yang paling Ibu pertimbangkan agar sesuai dengan kebutuhan anak?

Karakteristik siswa sebagai profil serta perkembangan anak menjadi pertimbangan besar dalam merancang pembelajaran. Karena hal tersebut dapat membantu saya sebagai guru untuk menentukan stimulasi pembelajaran yang dapat diterapkan di kelas.

5. Bagaimana sekolah memastikan pembelajaran tidak hanya mengejar capaian akademik?

Pembelajaran tidak hanya berbicara tentang akademik, namun stimulasi fisik motorik bagi kelas-kelas rendah (kelas 1 – 3) juga adanya nilai-nilai ketauhidan yang butuh disampaikan dalam setiap pertemuan pembelajaran. Hal ini sejalan dan selaras dengan visi Bintang Juara yang hendak membersamai anak-anak dalam prosesnya menjadi calon pemimpin muslim yang berilmu dan berakhlakul karimah serta bermanfaat.

6. Apa makna pembelajaran yang joyful, mindful, dan meaningful bagi Ibu dalam praktik sehari-hari?

Pembelajaran yang joyful, mindful, dan meaningful dalam setiap pembelajaran dihadirkan agar anak merasakan bahwa belajar merupakan kegiatan yang menyenangkan sehingga anak dapat memperoleh hal-hal bermakna untuk dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Anak-anak diajak untuk mencintai ilmu dengan beragam aktivitas dalam pembelajaran yang tidak hanya mendengarkan guru berbicara dan mencatat namun juga kegiatan yang bermakna untuk kehidupannya saat ini dan akan datang.

7. Bagaimana sekolah memberikan ruang agar anak dapat belajar melalui pengalaman, bukan hanya mendengarkan penjelasan guru?

Sekolah tak hanya memberikan teori namun juga praktik langsung dalam pembelajaran melalui kegiatan percobaan, observasi lingkungan, diskusi dengan teman, pengamatan, wawancara dengan warga sekolah yang bahkan mulai dikenalkan sejak anak kelas 1 SD.

8. Seberapa penting memberikan kesempatan kepada anak untuk bertanya, mencoba, dan menemukan jawabannya sendiri?

Dalam setiap pembelajaran anak diberikan kesempatan untuk bergantian berpendapat. Anak dipantik oleh guru untuk menyampaikan pengalaman belajar yang telah dimiliki untuk menemukan pengalaman belajar baru dalam kelas.

9. Bagaimana kurikulum memberi ruang bagi perbedaan potensi dan gaya belajar setiap anak?

Dalam penyusunan pembelajaran kurikulum berperan untuk memberikan ragam aktivitas dengan tujuan pembelajaran yang sama. Hal ini sebagai wadah bagi anak belajar dengan stimulasi ragam gaya belajar sehingga belajar akan lebih bermakna.

galeri kegiatan bu yayuk fitriani

Sudut Pandang Bu Yayuk Fitriani Sebagai Guru Kelas 1

Mengajar kelas awal tentu saja memiliki beragam tantangan. Yuk, kita simak lebih dalam bagaimana perjalanan bu Yayuk Fitriani mendampingi kakak shalih-shalihah melewati transisi PAUD – SD

10. Sebagai Wali Kelas 1A, apa tantangan paling menarik ketika mendampingi anak-anak yang baru memasuki jenjang SD?

Tantangan mendampingi kelas 1A muncul di awal adalah membaca pola belajar dalam proses adaptasi anak. Memahami kondisi sosial emosi anak dengan kondisi di rumah sehingga pendampingan ketika di sekolah dapat bersinergi dan menguatkan.

11. Apa yang sebenarnya perlu dibangun terlebih dahulu pada anak kelas 1 selain kemampuan membaca, menulis, dan berhitung?

Hal-hal yang mendasar yang butuh dibangun dari kelas 1 diantaranya adalah kemandirian misalnya dengan datang ke sekolah dan lancar berpisah, juga kesiapan motorik anak.

12. Bagaimana membantu anak beradaptasi dari dunia PAUD menuju kehidupan sekolah dasar?

Untuk membantu proses adaptasi anak, saya sebagai guru butuh terus menemukan formula dalam mendampingi proses diantaranya dengan bridging kurikulum. Kegiatan transisi jenjang PAUD butuh disiapkan dengan ragam stimulasi fisik, motorik dan menyisipkan materi SD. Hal ini menjadi penting untuk dikembangkan dan terus dievaluasi agar anak-anak optimal dalam belajar.

13. Bagaimana Ibu melihat hubungan antara kemandirian anak dengan keberhasilan mereka dalam belajar?

Kemandirian merupakan aspek basic yang butuh terus dipupuk. Karena kemandirian anak memberikan dampak pada kesiapan belajar yang penuh dengan tantangan kedepannya. Maka sebelum terjun pada tantangan yang lebih challenging, anak butuh kita siapkan dengan ragam kemandirian terutama dalam memenuhi kebutuhan diri seperti mudah berpisah dengan orang tua saat hari pertama, mengenali dan menjaga barang milik sendiri, berani menyampaikan kebutuhan diri pada guru seperti izin ke toilet atau izin mengisi botol minum, mulai menyiapkan perlengkapan belajar, mulai belajar mencuci alat makan yang digunakan, mulai belajar menyapu dan mengepel.

14. Ketika anak mengalami kesulitan belajar, bagaimana sebaiknya guru merespons?

Kesulitan belajar merupakan tantangan yang membutuhkan proses pendampingan. Setiap anak memiliki tantangan masing-masing dalam belajar dan berinteraksi. Sebagai guru, kita perlu mengidentifikasi kebutuhan siswa dengan melakukan beragam pendekatan. Misalnya dengan mengajak ngobrol dan menceritakan kegiatan di rumah, menanyakan perasaan di sekolah, menggali informasi tentang pendampingan orang tua dari cerita anak dan melakukan proses konfirmasi dengan orang tua agar dapat menemukan alternatif cara untuk mendampingi kesulitan yang dialami anak.

15. Bagaimana sekolah melihat kesalahan anak dalam proses pembelajaran?

Sekolah merupakan wadah untuk menerima dan memberikan rasa aman untuk terus bertumbuh. Guru sebagai orang dewasa senantiasa memberikan pijakan dan pendampingan kepada setiap proses yang sedang dialami anak. Guru memberikan ragam pijakan pada anak baik dalam berupa teladan, pijakan ilmiah melalui buku maupun nasihat yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah untuk mendampingi anak ketika melakukan kesalahan agar dapat menemukan solusi dan hikmah sehingga anak dapat berproses untuk memperbaiki diri.

16. Bagaimana nilai-nilai Islam diintegrasikan ke dalam pembelajaran sehari-hari?

Pembelajaran di SD Islam Bintang Juara yang holistik dengan perkembangan siswa, kami rancang untuk selalu terkait dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Tidak hanya pada saat materi pembelajaran Pendidikan Agama Islam & Budi Pekerti. Namun semua mata pelajaran, kegiatan dan proses interaksi anak kami upayakan untuk terhubung dengan nilai-nilai ketauhidan sesuai Al-Qur’an dan Sunnah.

Guru Ideal dan Kolaborasi dengan Orang Tua dalam Kacamata Bu Yayuk Fitriani

Seperti apa sosok guru ideal di masa sekarang menurut Bu Yayuk dan bagaimana cara beliau berkolaborasi dengan orang tua?

17. Menurut Ibu, seperti apa guru yang ideal di tengah perubahan kebutuhan anak dan perkembangan zaman?

Guru yang dapat dinamis dengan perkembangan zaman dengan menghadirkan pembelajaran yang bermakna. Mampu memilah dan terus mencoba berinovasi dalam menghadirkan pembelajaran yang update issue dan tetap membawa nilai ketauhidan. Guru yang mau mencoba menjalin kedekatan dengan anak dan orang tua demi terwujudnya pendidikan optimal bagi anak.

18. Apa peran Ayah Bunda dalam mendukung proses pembelajaran anak di rumah?

Melalui buku komunikasi tiap pekan dan penyampaian laporan hasil belajar tiap 3 bulan sekali, orang tua dapat memantau perkembangan anaknya dan memberikan pendampingan sesuai dengan catatan yang telah diberikan oleh wali kelas. Orang tua sebagai pendidik utama dapat berkontribusi aktif dalam proses tumbuh kembang serta proses belajar yang sedang dilakukan Kakak melalui kegiatan recalling di rumah.

Bahkan recalling tidak hanya ditujukan sebatas tentang pelajaran apa yang didapatkan anak namun juga sebagai proses pendampingan anak untuk menggali perasaan anak, memberikan validasi perasaan anak dan melakukan diskusi terbimbing ketika anak mengalami kesulitan. Baik kesulitan dalam bersosialisasi atau beradaptasi dengan teman, kegiatan atau pembelajaran di sekolah.

Visi dan Pesan Bermakna Bu Yayuk Fitriani untuk Kakak Shalih-shalihah dan Ayah Bunda

Menutup perbincangan MinBin dengan Bu Yayuk Fitriani, ada pesan-pesan bermakna yang beliau sampaikan untuk kakak shalih-shalihah dan ayah bunda.

19. Jika anak-anak kelas 1A kelak berada di kelas 6, perubahan seperti apa yang ingin Ibu lihat dari mereka?

Semoga Kakak kelas 1A kelak sudah mulai memahami dan mempraktikan nilai ketauhidan dengan tidak malu berbuat baik tanpa banyak pijakan, menghargai semua teman, saling membantu dalam kebaikan, kematangan emosi dengan mulai inisiatif mencari solusi ketika mengalami sebuah kendala atau tantangan. Mulai menemukan bidang yang sesuai dengan potensi yang dimiliki.

20. Apa pesan Ibu untuk Ayah Bunda yang sedang membersamai anak memasuki fase awal sekolah dasar?

Mari Ayah Bunda kita dampingi putra putri yang merupakan amanah terbesar dari Allah SWT. Mari persiapkan diri Kakak untuk memasuki masa pendidikan sekolah dasar dengan bekal kelekatan emosi sehingga proses adaptasi dan kemandirian Kakak akan lebih mudah untuk berkembang.

21. Jika harus merangkum peran Bu Yayuk sebagai Wakasek Bidang Kurikulum sekaligus wali kelas 1A dalam satu kalimat, apa yang ingin disampaikan?

Menjadi guru adalah jalan untuk terus menjadi pembelajar yang terus bertumbuh menjadi diri yang lebih baik dalam membersamai benih-benih calon pemimpin muslim masa depan.

Pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang apa yang berhasil anak kuasai, tetapi tentang siapa yang sedang mereka tumbuhkan menjadi. Kemandirian, kemampuan beradaptasi, keberanian berkomunikasi, pengalaman belajar yang bermakna, serta nilai-nilai ketauhidan menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut.

Sekolah dan keluarga pun memiliki peran yang saling menguatkan agar anak dapat melalui setiap tahap perkembangan dengan lebih siap dan percaya diri. Sebagaimana pesan Bu Yayuk, menjadi guru adalah jalan untuk terus menjadi pembelajar yang bertumbuh menjadi diri yang lebih baik dalam membersamai benih-benih calon pemimpin muslim masa depan.

Sampai jumpa pada episode Guru Bercerita selanjutnya. Ayah Bunda mau berkenalan lebih dekat dengan siapa nih?***(CM-MRT)

Qur’anic Leadership Camp dan Journey 2026: Menumbuhkan Pemimpin Muslim dengan Iman, Ilmu, dan Akhlak

Qur’anic Leadership Camp dan Journey 2026: Menumbuhkan Pemimpin Muslim dengan Iman, Ilmu, dan Akhlak

Tenda mungkin berdiri di lapangan. Api dan perlengkapan memasak mungkin menjadi bagian dari kegiatan. Alam menjadi tempat untuk menjelajah dan bermain.

Namun, Qur’anic Leadership Camp (QLC) dan Qur’anic Leadership Journey (QLJ) dalam Pramutara 2026 bukan sekadar tentang itu. Ada perjalanan yang lebih panjang sedang dimulai. Perjalanan untuk belajar menjadi pemimpin muslim.

Bukan hanya pemimpin yang berani berdiri di depan dan memberikan arahan, tetapi pemimpin yang terus bertumbuh dengan iman, ilmu, dan akhlak.

Inilah semangat yang hadir dalam diri Pramutara (Pramuka Bintang Juara) pada rangkaian kegiatan Qur’anic Leadership Camp & Journey 2026.

Rangkaian Kegiatan Qur’anic Leadership Camp dan Journey 2026

Kegiatan ini dirancang dengan pengalaman yang berbeda sesuai dengan jenjang kelas. Kakak kelas 3–6 mengikuti Qur’anic Leadership Camp, sementara kakak kelas 1–2 mengikuti Qur’anic Leadership Journey.

  • Tempatnya berbeda.
  • Aktivitasnya berbeda.
  • Tantangannya pun berbeda.

Tetapi tujuan akhirnya tetap sama: menumbuhkan calon pemimpin muslim yang mampu memberi manfaat bagi sesama.

QLC: Belajar Memimpin Melalui Sebuah Perjalanan

Bagi kakak kelas 3–6, Qur’anic Leadership Camp menjadi bagian dari pengalaman belajar yang lebih luas. QLC bukan hanya tentang siapa yang paling kuat mendirikan tenda, paling cepat menyelesaikan tantangan, atau paling berani menjelajah.

Di dalamnya ada kesempatan untuk belajar tentang diri sendiri dan orang lain. Ada proses bekerja bersama. Ada tantangan yang perlu diselesaikan. Ada pengalaman yang menuntut keberanian, tanggung jawab, dan kemandirian.

Semua pengalaman tersebut menjadi ruang belajar untuk mengenal arti kepemimpinan secara lebih nyata.

Karena seorang pemimpin tidak selalu berada di posisi paling depan. Terkadang, pemimpin adalah seseorang yang mau membantu temannya. Terkadang, pemimpin adalah seseorang yang tetap berusaha ketika menghadapi kesulitan.

Dan terkadang, pemimpin adalah seseorang yang mampu mengingatkan dirinya sendiri untuk tetap melakukan sesuatu yang benar meskipun tidak ada yang melihat.

Di sinilah nilai iman dan akhlak menjadi bagian penting dalam kepemimpinan.

Kelas 3: Pengalaman Pertama Menjadi Bagian dari QLC

Tahun ini, kakak-kakak kelas 3 mendapatkan pengalaman yang istimewa. Mereka menjalani pengalaman pertama mengikuti Qur’anic Leadership Camp di lapangan SD Islam Bintang Juara.

Lokasinya memang berbeda dari kakak kelas 4–6 yang menjalani QLC di alam terbuka, tetapi pengalaman pertama ini tetap menjadi sebuah langkah penting.

Kelas 3 mulai mengenal bagaimana rasanya mengikuti kegiatan kepemimpinan dalam suasana yang berbeda dari pembelajaran sehari-hari.

Bagi mereka, ini adalah kesempatan untuk mencoba.

  • Mencoba lebih mandiri.
  • Mencoba bekerja bersama.
  • Mencoba menghadapi tantangan.
  • Mencoba bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan kelompok.

Pengalaman pertama tidak harus langsung sempurna. Justru dari pengalaman pertama itulah anak belajar bahwa menjadi seorang pemimpin adalah sebuah proses.

Kelas 4–6: Bertumbuh Bersama di Bumi Perkemahan Medini

Sementara itu, kakak kelas 4–6 menjalani QLC di Bumi Perkemahan Medini. Berada di lingkungan yang berbeda memberikan pengalaman yang berbeda pula.

Alam menjadi bagian dari ruang belajar mereka. Berbagai aktivitas yang dilakukan bersama menjadi kesempatan untuk mengembangkan keberanian, kemandirian, kerja sama, dan tanggung jawab.

Namun, sekali lagi, pengalaman bermalam di alam bukanlah tujuan akhir. Tenda hanyalah tempat mereka belajar. Perjalanan dan tantangan hanyalah media. Yang jauh lebih penting adalah nilai yang mereka bawa dari setiap pengalaman tersebut.

  • Ketika seorang anak belajar menyelesaikan tugas bersama kelompok, ia sedang belajar tentang tanggung jawab.
  • Ketika ia membantu teman yang mengalami kesulitan, ia sedang belajar tentang kepedulian.
  • Ketika ia berani mencoba sesuatu yang baru, ia sedang belajar tentang keberanian.
  • Dan ketika ia mampu tetap menjaga adab dalam setiap prosesnya, ia sedang belajar bahwa kepemimpinan tidak dapat dipisahkan dari akhlak.

QLJ Kelas 1–2: Belajar Memimpin dari Hal-Hal Sederhana

Bagaimana dengan kakak kelas 1–2?

Mereka belum mengikuti camp seperti kakak kelas 3–6. Sebagai gantinya, mereka mengikuti Qur’anic Leadership Journey (QLJ) dengan kegiatan yang berlangsung di lingkungan sekolah.

Meski lebih sederhana, bukan berarti pengalaman belajarnya lebih kecil. Kakak kelas 1–2 diajak mengenal beragam tepuk Pramuka dan mengikuti leadership games.

Aktivitas tersebut menjadi cara yang sesuai dengan usia mereka untuk mulai mengenal nilai-nilai kepemimpinan.

Pada usia ini, kepemimpinan dapat diperkenalkan melalui hal-hal sederhana.

  • Belajar mengikuti aturan.
  • Belajar menunggu giliran.
  • Belajar bekerja sama.
  • Belajar berani mencoba.
  • Belajar mendengarkan.
  • Belajar menghargai teman.

Dari permainan sederhana, anak mulai mengenal bahwa melakukan sesuatu bersama-sama membutuhkan komunikasi dan sikap saling menghargai. Inilah perjalanan awal sebelum mereka nantinya tumbuh menuju tantangan kepemimpinan yang lebih besar.

Dari Pramuka Menuju Kepemimpinan Qur’ani

Jika diperhatikan, QLJ dan QLC memiliki tahapan pengalaman yang berbeda sesuai perkembangan anak.

  • Kelas 1–2 mulai mengenal kepemimpinan melalui permainan dan aktivitas sederhana.
  • Kelas 3 mendapatkan pengalaman pertama mengikuti QLC.
  • Kelas 4–6 mulai menghadapi pengalaman yang lebih luas melalui kegiatan di Bumi Perkemahan Medini.

Tahapan tersebut menggambarkan bahwa kepemimpinan tidak dibentuk dalam satu kegiatan.

Ia tumbuh sedikit demi sedikit.

  • Dari kebiasaan kecil.
  • Dari keberanian mencoba.
  • Dari pengalaman bekerja sama.
  • Dari kemampuan bertanggung jawab.
  • Dari belajar mengambil keputusan.
  • Dan dari proses memahami bahwa ilmu yang dimiliki seharusnya membawa manfaat bagi orang lain.

Karena itu, Pramutara di SD Islam Bintang Juara tidak hanya ditempatkan sebagai kegiatan kepramukaan. Ia menjadi salah satu ruang pendidikan karakter untuk mempersiapkan anak menghadapi kehidupan dengan bekal yang lebih utuh.

Qur’anic Youth Leader: Tumbuh dengan Iman, Unggul dengan Ilmu

Seluruh perjalanan QLJ dan QLC bermuara pada satu tujuan yang sama:

“Qur’anic Youth Leader: Tumbuh dengan Iman, Unggul dengan Ilmu, Santun dalam Akhlak, Berdampak bagi Sesama.”

Kalimat tersebut menjadi pengingat bahwa kepemimpinan dalam perspektif Qur’ani bukan hanya tentang kemampuan memimpin orang lain.

Sebelum mampu memimpin orang lain, seorang anak perlu belajar memimpin dirinya sendiri.

  • Memimpin keinginannya.
  • Memimpin sikapnya.
  • Memimpin tanggung jawabnya.
  • Dan belajar memilih apa yang benar dan bermanfaat.

Ilmu membuat anak memiliki bekal untuk melangkah. Iman menjadi arah. Akhlak menjadi cara. Dan kebermanfaatan menjadi tujuan.

Membawa Pulang Lebih dari Sekadar Cerita

Setelah kegiatan selesai, mungkin ada cerita tentang tenda yang didirikan, permainan yang berhasil dimenangkan, perjalanan yang melelahkan, atau momen seru bersama teman.

Namun, semoga ada sesuatu yang jauh lebih penting yang ikut dibawa pulang.

Semoga kakak-kakak shalih-shalihah pulang dengan sedikit lebih mandiri daripada ketika berangkat.

  • Sedikit lebih berani.
  • Sedikit lebih peduli.
  • Sedikit lebih bertanggung jawab.
  • Dan sedikit lebih memahami bahwa menjadi pemimpin bukan tentang menjadi yang paling hebat di antara yang lain.

Menjadi pemimpin adalah tentang bagaimana kemampuan yang kita miliki dapat digunakan untuk membawa kebaikan dan memberi manfaat bagi sesama.

Pramutara 2026 melalui Qur’anic Leadership Camp & Journey menjadi salah satu bagian dari perjalanan panjang tersebut. Sebab calon pemimpin masa depan tidak lahir hanya dari ruang kelas.

Mereka tumbuh dari pengalaman, tantangan, keteladanan, pembiasaan, ilmu, iman, dan akhlak yang terus ditanamkan sejak dini.

Semoga setiap langkah dalam QLJ dan QLC tahun ini menjadi bekal bagi kakak-kakak shalih-shalihah untuk terus bertumbuh.

Tumbuh dengan iman. Unggul dengan ilmu. Santun dalam akhlak. Dan kelak, menjadi pemimpin yang mampu memberi dampak bagi sesama.*** (CM-MRT)

Memilih Sekolah, Menentukan Langkah: Menyiapkan Anak Menuju Jenjang SMP

Memilih Sekolah, Menentukan Langkah: Menyiapkan Anak Menuju Jenjang SMP

Pagi itu, Sabtu, 29 Agustus 2026, suasana di SD Islam Bintang Juara terasa hangat sekaligus penuh keseriusan. Puluhan orang tua siswa kelas 4, 5, dan 6 berkumpul dalam acara Parenting Class. Di antara riuh rendah tanya jawab dan lembar catatan yang siap diisi, ada satu pertanyaan menggantung di benak banyak Ayah dan Bunda yang anaknya mulai menapak usia pra-remaja: “Ke mana anak kita akan melanjutkan sekolah setelah lulus SD nanti?

Sering kali, pertanyaan tersebut memicu deretan kekhawatiran baru. Apakah anak siap dengan pergaulan SMP? Bisakah mereka mengikuti tuntutan akademik yang lebih kompleks? Ataukah justru kita, sebagai orang tua, yang sebenarnya belum siap melepaskan sebagian kendali?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukanlah hal yang berlebihan. Memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi memang membawa perubahan. Anak akan berhadapan dengan aturan yang berbeda, tuntutan akademik yang semakin kompleks, relasi sosial yang semakin luas, serta kebutuhan untuk memiliki kemandirian belajar yang lebih besar. Karena itu, persiapan menuju SMP sebenarnya bukan hanya tentang memilih sekolah, tetapi juga tentang menyiapkan anak menghadapi perubahan dan tantangan baru.

Untuk menjawab keresahan tersebut, SD Islam Bintang Juara menghadirkan Ibu Dyah Indah Noviyani, S.Psi., M.Psi., Psikolog—atau yang akrab disapa Bunda Vivi Psikolog. Beliau merupakan Ketua Yayasan Dewi Sartika sekaligus founder PAUD & SD Islam Bintang Juara. Dalam sesi berharga tersebut, Bunda Vivi membagikan wawasan mendalam tentang bagaimana orang tua seharusnya bersikap dan melangkah dalam memilih sekolah lanjutan untuk buah hati.

Parenting Class bertema “Memilih Sekolah, Menentukan Langkah” ini tidak berhenti pada pertanyaan, “SMP mana yang bagus?” Lebih jauh, orang tua diajak mengubah cara pandang: sekolah seperti apa yang tepat untuk anak kita, dan bagaimana kita menyiapkan anak agar mampu menjalani pilihan tersebut?

Pesan Bermakna dari Korsatpen Gunungpati

Parenting class kali ini sangat istimewa. Tidak hanya Bunda Vivi Psikolog yang hadir, tetapi hadir pula Ibu Sri Hartati, S.Pd., M.Pd. selaku Korsatpen Gunungpati.

Pada kesempatan tersebut, Bu Tatik menyampaikan beberapa program Dinas Pendidikan Kota Semarang berkaitan dengan memilih sekolah lanjutan. Salah satu yang disampaikan oleh beliau adalah Program ASSIK.

Bagi Ayah Bunda yang ingin putra-putrinya melanjutkan ke SMP Negeri, Bu Tatik menyampaikan jika terdapat empat jalur yang bisa dilalui, yaitu:

  • Jalur Domisili (sebelumnya zonasi): Kuota minimal 40%, untuk calon murid berdasarkan wilayah tempat tinggal.
  • Jalur Afirmasi: Kuota minimal 20%, untuk anak dari keluarga kurang mampu atau penyandang disabilitas.
  • Jalur Prestasi: Kuota minimal 25%, untuk calon murid dengan prestasi akademik maupun non-akademik.
  • Jalur Mutasi (perpindahan tugas orang tua): Kuota maksimal 5%, termasuk bagi anak guru.

Informasi mengenai jalur penerimaan tersebut menjadi salah satu bekal penting bagi orang tua untuk mulai memahami pilihan pendidikan yang tersedia. Namun, sesi bersama Bunda Vivi kemudian mengajak Ayah dan Bunda melihat bahwa jalur masuk hanyalah salah satu bagian dari perjalanan.

Sebelum sibuk mengejar sekolah tertentu, ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar:

sudahkah kita benar-benar mengenal anak kita?

galeri pembukaan kegiatan parenting class memilih sekolah

Sekolah Bukan “Pabrik” atau “Laundry”

Di awal pemaparannya, Bunda Vivi mengajak orang tua merenungkan kembali hakikat sebuah lembaga pendidikan. Ketika mencari SMP, apa hal pertama yang Ayah dan Bunda lihat? Akreditasi A? Fasilitas gedung yang megah?

Kalau semua sekolah memiliki fasilitas yang bagus dan terakreditasi A, bagaimana kita menentukan sekolah yang paling tepat untuk anak kita?” tutur Bunda Vivi.

Beliau menegaskan bahwa sekolah yang bagus belum tentu sekolah yang tepat untuk setiap anak. Anak bukanlah “produk” yang dimasukkan ke dalam tempat tertentu untuk langsung menghasilkan prestasi. Sekolah bukan pabrik, bukan pula tempat “laundry” di mana orang tua tinggal menyerahkan anak dan berharap keluar dalam keadaan sempurna.

Sekolah adalah lembaga pendidikan yang menjunjung tinggi nilai agama, norma sosial, ilmu pengetahuan bermanfaat, serta pembentuk karakter. Oleh karena itu, kunci utama dalam memilih sekolah terletak pada prinsip Fit with the Child—keselarasan antara sekolah dengan kebutuhan serta kondisi anak dan keluarga.

Dengan sudut pandang ini, proses memilih sekolah menjadi lebih personal. Bukan lagi sekadar, “Sekolah mana yang paling terkenal?” Melainkan: “Sekolah mana yang paling sesuai dengan anak saya?”

Apa Itu Fit with the Child?

Konsep Fit with the Child mengingatkan orang tua bahwa setiap anak memiliki profil yang berbeda. Karena itu, sekolah yang ideal perlu selaras dengan beberapa aspek penting dalam kehidupan anak dan keluarga.

Materi Parenting Class menekankan setidaknya delapan hal yang perlu dipertimbangkan:

  • Prinsip nilai dalam keluarga.
  • Keimanan dan ketauhidan.
  • Karakter positif yang ingin dibangun.
  • Kebutuhan perkembangan anak.
  • Potensi atau bakat umum dan khusus anak.
  • Minat anak.
  • Kondisi keluarga, termasuk kemampuan ekonomi.
  • Arah pendidikan dan masa depan anak.

Artinya, memilih sekolah tidak dapat dilepaskan dari konteks keluarga dan kondisi anak secara utuh. Sebab tidak ada sekolah yang sempurna. Yang perlu dicari adalah kesesuaian antara tuntutan sekolah dengan kapasitas dan kebutuhan anak.

3 Langkah Strategis Memilih Sekolah Lanjutan

Agar orang tua tidak salah arah, Bunda Vivi Psikolog merumuskan tiga langkah penting yang perlu dilakukan.

1. Mengenali Anak Secara Utuh

Sebelum bertanya “Anak saya cocok sekolah di mana?”, tanyakan dulu: “Anak saya itu seperti apa?”

Orang tua perlu memahami profil anak secara menyeluruh, meliputi karakter, potensi atau bakat, minat, dan kebutuhan. Karakter positif yang dapat diperhatikan antara lain religiusitas, kemandirian, tanggung jawab, percaya diri, empati, dan disiplin.

Kemudian, pahami pula bakat umum, yaitu kemampuan dasar yang dimiliki setiap orang, serta bakat khusus, yaitu kemampuan unik yang dapat muncul ketika dilatih secara konsisten.

Minat juga tidak kalah penting. Apa yang disukai anak? Aktivitas apa yang membuatnya bersemangat? Sementara kebutuhan perlu dilihat sesuai dengan tahapan usia dan perkembangan anak.

Bunda Vivi juga mengingatkan agar orang tua tidak hanya melihat kelebihan anak.

Anak yang memiliki kemampuan akademik tinggi belum tentu siap menghadapi tantangan di sekolah yang sangat kompleks dan kompetitif. Sebaliknya, anak dengan kemampuan akademik sedang bukan berarti tidak mampu berkembang di sekolah yang baik.

Yang perlu dicari adalah kesesuaian antara tuntutan sekolah dan kapasitas anak.

2. Mengenali Sekolah: 5P Profil Sekolah

Setelah mengenali anak, saatnya melakukan riset terhadap sekolah yang menjadi pilihan.

Bunda Vivi menyarankan orang tua tidak hanya mengandalkan informasi dari satu sumber. Ayah dan Bunda dapat mulai dengan mengunjungi website atau media sosial sekolah, melakukan survei dengan datang langsung ke sekolah, serta bertanya kepada alumni dan orang tua siswa.

Kemudian, gunakan 5P Profil Sekolah sebagai bahan pertimbangan:

  • Prinsip: Apakah prinsip nilai sekolah sesuai dengan prinsip nilai keluarga? Termasuk akidah, tauhid, akhlak, adab, dan ibadah.
  • Pendidikan: Bagaimana kualitas kurikulum dan proses pembelajarannya?
  • Pengasuhan: Bagaimana sekolah memperlakukan anak ketika anak melakukan kesalahan, kurang disiplin, atau terlibat konflik?
  • Pengembangan Potensi: Apakah sekolah memberikan ruang bagi eksplorasi dan optimalisasi bakat serta minat anak?
  • Partnership: Apakah sekolah memiliki program yang menguatkan keselarasan dan kerja sama dengan orang tua?

Lima hal ini membantu orang tua melihat sekolah secara lebih menyeluruh. Bukan hanya gedungnya, bukan hanya prestasinya, tetapi juga bagaimana sekolah mendidik, mengasuh, mengembangkan, dan bekerja sama dengan keluarga.

Akidah dan Tauhid sebagai Pondasi

Bagi keluarga Muslim, keselarasan nilai menjadi bagian yang sangat penting. Pertanyaannya bukan sekadar, “Apakah sekolah mengajarkan agama?” Tetapi lebih jauh: “Apakah prinsip agama hadir dalam kehidupan sehari-hari di sekolah?”

Dalam materi Parenting Class, Bunda Vivi mengajak orang tua memperhatikan tiga hal: apa yang diajarkan, apa yang dibiasakan, dan apa yang diteladankan.

Agama bukan hanya pengetahuan. Nilai tersebut diharapkan hadir dalam ibadah, perilaku, akhlak, dan adab. Keteladanan guru dan seluruh warga sekolah juga menjadi bagian penting dari budaya pendidikan.

Dengan demikian, bagi keluarga Muslim, alurnya bukan sekadar: belajar agama → tahu agama. Tetapi diharapkan berkembang menjadi: akidah & tauhid → akhlak & adab → ibadah → kebiasaan → karakter.

Kenali Beragam Pilihan Sekolah

Saat memilih sekolah lanjutan, orang tua juga perlu mengetahui bahwa pilihan tidak hanya terbatas pada satu jenis SMP.

Dalam materi Parenting Class, beberapa pilihan yang dapat dipertimbangkan antara lain SMP Negeri, SMP Islam Swasta, MTs, SMP Islam plus boarding/pondok pesantren, pondok pesantren, hingga PKBM. Masing-masing memiliki karakteristik dan fokus yang berbeda.

Begitu pula dengan kurikulum. Sekolah dapat memiliki kurikulum nasional, internasional, maupun kekhasan sekolah.

Karena itu, pertanyaannya kembali kepada anak dan keluarga:

Kebutuhan apa yang ingin dipenuhi? Nilai apa yang ingin dijaga? Potensi apa yang ingin dikembangkan? Dan seperti apa arah pendidikan yang ingin ditempuh?

3. Menyelaraskan dan Menentukan Pilihan

Setelah mengenali anak dan sekolah, langkah berikutnya adalah menyelaraskan dan menentukan pilihan. Diskusikan pilihan tersebut bersama anak.

Dengarkan pendapatnya dengan terbuka. Jika terdapat pemahaman yang kurang tepat, orang tua dapat membantu meluruskan. Namun, Bunda Vivi juga menegaskan bahwa orang tua tetap memiliki kewenangan dalam mengambil keputusan. Setelah berikhtiar dan berdiskusi, pilihan tersebut dapat dikuatkan dengan istikharah.

Ini menjadi pengingat penting: melibatkan anak bukan berarti seluruh keputusan diserahkan kepada anak.

Anak didengarkan. Orang tua membimbing. Kemudian keluarga menentukan langkah bersama dengan mempertimbangkan nilai, kebutuhan, dan kemaslahatan anak.

Sekolah sebagai Partner Orang Tua

Memilih sekolah juga berarti memilih partner dalam pendidikan anak.

Bunda Vivi mengingatkan bahwa pendidik terbaik tetaplah orang tua, sedangkan lembaga pendidikan terbaik tetaplah rumah. Rumah dan sekolah perlu saling selaras dan bersinergi.

Maka, setelah memilih sekolah, tanggung jawab orang tua tidak selesai. Justru perjalanan baru dimulai.

Akan ada beragam tantangan, bahkan mungkin ujian. Karena itu, orang tua perlu terus menguatkan keselarasan prinsip nilai antara rumah dan sekolah, mengutamakan akhlak dan adab, menjaga komunikasi, membiasakan konfirmasi, serta terlibat aktif dalam kegiatan sekolah.

Yang tidak kalah penting: terus belajar, berikhtiar, dan berdoa.

Pesan bermakna kegiatan parenting class memilih sekolah

Kesiapan Anak Tidak Sama dengan Kesiapan Orang Tua

Ada satu bagian dalam Parenting Class yang mungkin menjadi bahan perenungan bagi banyak Ayah dan Bunda.

Kadang-kadang, anak sebenarnya sudah siap. Tetapi orang tua yang masih khawatir.

  • “Bagaimana kalau anak saya tidak bisa?”
  • “Bagaimana kalau salah pergaulan?”
  • “Bagaimana kalau tidak bisa mengikuti pelajaran?”
  • “Bagaimana kalau jauh dari rumah lalu sakit?”

Kekhawatiran tersebut sangat manusiawi. Namun, orang tua perlu belajar membedakan antara kekhawatiran orang tua dan kebutuhan anak.

Pertanyaan yang perlu direnungkan bukan hanya: “Apakah anak saya sudah siap?” Tetapi juga: “Apakah anak yang belum siap, atau kita sebagai orang tua yang belum siap melepaskan sebagian kendali?”

Inilah mengapa persiapan menuju SMP sebaiknya dilakukan sejak anak masih berada di kelas 4, 5, dan 6. Tidak perlu menunggu beberapa bulan menjelang kelulusan.

5 Dimensi Kesiapan Anak Menuju SMP

Lantas, apa saja yang perlu disiapkan?

Disampaikan oleh Bunda Vivi, kesiapan anak dipetakan ke dalam beberapa dimensi penting, yaitu spiritual-moral, kemandirian, emosional, sosial, kognitif, dan akademik.

  • Spiritual-Moral: Anak belajar menjalankan nilai agama dengan kesadaran diri yang semakin berkembang dan matang.
  • Kemandirian: Anak belajar mengelola diri, waktu, barang pribadi, serta tanggung jawabnya.
  • Emosional: Anak belajar menghadapi perubahan, mengelola stres, dan menyikapi kegagalan.
  • Sosial: Anak perlu memiliki kemampuan membangun relasi yang sehat dan menyelesaikan konflik dengan bijak.
  • Kognitif: Anak perlu siap memahami berbagai konsep yang semakin kompleks.
  • Akademik: Anak perlu memiliki kesiapan mengikuti tuntutan pembelajaran pada jenjang yang lebih tinggi.

Jadi, kesiapan masuk SMP tidak hanya tentang nilai rapor atau kemampuan mengerjakan soal. Ada manusia utuh yang perlu dipersiapkan.

Bagaimana Melatih Kesiapan Anak Sejak SD?

Kabar baiknya, kesiapan tersebut tidak harus dibangun dalam waktu singkat. Ada banyak hal yang dapat mulai dilatih sejak anak berada di kelas 4, 5, dan 6.

  • Pertama, bangun growth mindset atau pola pikir berkembang. Ajarkan anak bahwa kemampuan bukan sesuatu yang selalu tetap. Anak dapat belajar, berlatih, melakukan kesalahan, dan berkembang.
  • Kedua, mulai melatih kemandirian tingkat lanjut. Berikan kepercayaan secara bertahap agar anak semakin mampu mengelola dirinya, waktunya, barang-barangnya, serta tanggung jawabnya.
  • Ketiga, bukalah ruang diskusi terbuka atau deep talk mengenai dinamika dunia remaja. Jangan menunggu anak menghadapi masalah baru kemudian membicarakannya. Jadikan rumah sebagai ruang aman untuk bertanya, bercerita, dan berdiskusi.

Ketenangan dan keterbukaan menjadi kunci.

Anak yang tahu bahwa rumah adalah tempat yang aman untuk kembali akan memiliki ruang untuk belajar menghadapi dunia yang semakin luas.

galeri kegiatan parenting class memilih sekolah

Memilih Sekolah, Sesungguhnya Menentukan Langkah

Menjelang akhir Parenting Class, pesan yang disampaikan terasa sederhana, tetapi sangat dalam:

Saat kita memilih sekolah, maka kita sedang menentukan langkah.

Bukan berarti pilihan sekolah akan menentukan seluruh masa depan anak. Namun, pilihan tersebut menjadi salah satu lingkungan yang akan menemani anak bertumbuh, belajar, membangun relasi, mengenal dirinya, dan mengembangkan potensi.

Karena itu, ada enam hal yang perlu terus diingat orang tua:

  • Kenali anak.
  • Selaraskan nilai.
  • Siapkan langkah.
  • Libatkan anak.
  • Dampingi perjalanan anak.
  • Doakan, doakan, terus doakan—mohon ridho Allah.

Pada akhirnya, menjadi orang tua pun merupakan proses pembelajaran sepanjang hayat.

Anak belajar tumbuh. Orang tua belajar mendampingi. Sekolah belajar menjadi partner. Dan semuanya membutuhkan proses, kesabaran, komunikasi, serta doa.

Memilih sekolah lanjutan bukan tentang mencari sekolah yang paling sempurna. Bukan pula tentang mengejar sekolah yang paling bergengsi. Tetapi tentang menemukan lingkungan yang selaras dengan nilai keluarga, kebutuhan anak, potensi yang dimiliki, serta arah pendidikan yang ingin ditempuh.

Maka, untuk Ayah dan Bunda kelas 4, 5, dan 6 SD Islam Bintang Juara, perjalanan menuju SMP tidak perlu dimulai dengan kepanikan. Mulailah dengan mengenali. Kemudian memahami. Lalu berdiskusi. Setelah itu, menyiapkan.

Dan ketika waktunya tiba, melangkahlah bersama anak dengan keyakinan bahwa setiap ikhtiar telah dilakukan sebaik mungkin. Sebab anak tidak hanya membutuhkan sekolah yang tepat. Anak membutuhkan orang tua yang bersedia terus belajar menjadi partner terbaik dalam setiap langkahnya.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing setiap ikhtiar Ayah dan Bunda dalam mengantarkan putra-putri tercinta menjadi generasi yang saleh, bertauhid kokoh, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi sesama. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin. (CM-MRT)

ASSIK Semarang: Apa yang Perlu Disiapkan Siswa SD?

ASSIK Semarang: Apa yang Perlu Disiapkan Siswa SD?

Bagi orang tua dan siswa sekolah dasar di Kota Semarang, istilah ASSIK dan TKA mungkin mulai sering terdengar. Keduanya berkaitan dengan asesmen kemampuan siswa dan menjadi bagian penting dalam upaya menghadirkan data capaian belajar yang lebih objektif.

ASSIK merupakan singkatan dari Asesmen Standar Siswa Kota Semarang, yaitu instrumen asesmen yang diinisiasi oleh Dinas Pendidikan Kota Semarang. Dalam perkembangannya, pembahasan mengenai asesmen standar siswa juga berkaitan dengan Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang merupakan asesmen dengan standar dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

Lantas, apa sebenarnya tujuan asesmen ini? Mengapa siswa perlu mengikutinya? Dan bagaimana sebaiknya orang tua serta sekolah mempersiapkan anak?

Apa Itu ASSIK?

Secara sederhana, ASSIK dapat dipahami sebagai bagian dari upaya pemerintah daerah untuk memperoleh gambaran mengenai capaian kemampuan akademik siswa secara lebih terukur.

Asesmen seperti ini bukan semata-mata bertujuan mencari siapa siswa yang memperoleh nilai paling tinggi. Data yang dihasilkan dapat digunakan untuk memvalidasi capaian belajar, memetakan kemampuan siswa, serta menjadi bahan evaluasi bagi sekolah dan pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan.

Dalam konteks Kota Semarang, asesmen standar juga memiliki kaitan dengan proses Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB). Nilai atau hasil asesmen dapat menjadi salah satu informasi penting dalam proses seleksi, khususnya pada jalur yang mempertimbangkan capaian akademik.

Dinas Pendidikan Kota Semarang sendiri terus melakukan koordinasi dan penguatan persiapan teknis pelaksanaan TKA, termasuk melalui kegiatan pembekalan bagi sekolah, guru kelas, proktor, dan teknisi. Salah satunya terlihat dalam webinar persiapan teknis TKA SD yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Kota Semarang pada Maret 2026.

Apa Kaitannya ASSIK dengan TKA?

Di sinilah orang tua perlu memahami bahwa ASSIK dan TKA tidak serta-merta merupakan dua istilah untuk ujian yang sama.

ASSIK merupakan istilah yang digunakan dalam konteks asesmen standar yang diinisiasi di tingkat Kota Semarang. Sementara itu, TKA atau Tes Kemampuan Akademik merupakan asesmen yang diselenggarakan berdasarkan kebijakan dan standar Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

Keduanya dapat beririsan dalam tujuan, terutama dalam memperoleh gambaran kemampuan akademik siswa secara objektif. Namun, teknis pelaksanaan, kebijakan, peserta, maupun pemanfaatan hasilnya dapat mengikuti ketentuan masing-masing.

Karena kebijakan pendidikan dapat diperbarui dari waktu ke waktu, orang tua sebaiknya selalu mengacu pada informasi terbaru dari sekolah, Dinas Pendidikan Kota Semarang, dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

Mengapa Asesmen Standar Dibutuhkan?

Ada satu pertanyaan yang mungkin muncul di benak orang tua:

“Bukankah kemampuan anak sudah terlihat dari nilai rapor?”

Nilai rapor memang menjadi bagian penting dalam melihat perkembangan belajar anak. Namun, nilai tersebut berasal dari proses pembelajaran dan penilaian yang berlangsung di masing-masing sekolah.

Asesmen standar memberikan perspektif tambahan melalui instrumen yang lebih seragam. Dengan demikian, data yang diperoleh dapat membantu memberikan gambaran yang lebih objektif mengenai kemampuan akademik siswa.

Hasil asesmen juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan evaluasi. Jika ditemukan kemampuan tertentu yang masih perlu diperkuat, sekolah dapat menyusun strategi pembelajaran yang lebih tepat.

Jadi, asesmen sebaiknya tidak dipandang hanya sebagai “ujian penentu masa depan anak”, tetapi sebagai salah satu alat untuk mengetahui posisi belajar anak dan menentukan langkah pengembangan berikutnya.

Tidak Hanya untuk Kelas 6

Salah satu perkembangan menarik dalam kebijakan asesmen di Kota Semarang adalah perhatian terhadap pemetaan kemampuan siswa sejak lebih dini.

Berdasarkan informasi yang beredar mengenai integrasi ASSIK dengan Asesmen Sumatif Akhir Semester (ASAS), pelaksanaan asesmen standar juga diarahkan untuk mencakup siswa pada jenjang kelas 4 dan 5 SD/MI, tidak hanya kelas 6.

Jika diterapkan secara berkelanjutan, pendekatan ini memiliki manfaat penting. Sekolah dapat mengetahui perkembangan kemampuan literasi dan numerasi siswa sebelum mereka berada di tahun terakhir sekolah dasar.

Artinya, kelas 4 dan 5 bukan sekadar masa untuk mengejar nilai, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memperkuat fondasi akademik sebelum anak memasuki jenjang pendidikan berikutnya.

ASSIK Semarang

ASSIK Semarang

Apa yang Perlu Disiapkan Siswa SD?

Persiapan menghadapi asesmen tidak harus dimulai dengan belajar berjam-jam atau memberikan latihan soal tanpa henti.

Justru, persiapan yang baik sebaiknya dilakukan secara bertahap, konsisten, dan menyenangkan.

1. Perkuat Kemampuan Literasi

Literasi bukan hanya kemampuan membaca teks dengan lancar. Anak juga perlu belajar memahami informasi, menemukan ide pokok, menarik kesimpulan, membandingkan informasi, dan menggunakan informasi tersebut untuk menjawab persoalan.

Kebiasaan membaca buku, berdiskusi tentang isi bacaan, serta mengajak anak menceritakan kembali apa yang dibacanya dapat menjadi latihan sederhana di rumah.

2. Latih Kemampuan Numerasi

Numerasi tidak hanya berarti menghafal rumus matematika.

Anak perlu terbiasa menggunakan konsep matematika dalam situasi sehari-hari, seperti membaca tabel, memahami grafik, melakukan perhitungan, memperkirakan jumlah, atau memecahkan masalah sederhana.

Karena itu, orang tua dapat mengajak anak belajar melalui konteks kehidupan nyata.

Misalnya, ketika berbelanja, anak dapat diajak menghitung total harga atau memperkirakan uang kembalian. Ketika memasak, anak dapat belajar tentang ukuran dan perbandingan.

3. Biasakan Membaca Soal dengan Teliti

Kemampuan akademik tidak hanya diuji melalui pengetahuan, tetapi juga kemampuan memahami instruksi.

Ajarkan anak untuk tidak terburu-buru ketika membaca soal. Biasakan mereka mengidentifikasi informasi yang diketahui, memahami apa yang ditanyakan, kemudian menentukan cara menyelesaikannya.

4. Bangun Kemandirian Belajar

Persiapan asesmen merupakan kesempatan untuk membangun kebiasaan belajar mandiri.

Anak dapat dilatih membuat target belajar sederhana, mengatur waktu, memeriksa kembali pekerjaan, dan mengenali materi yang masih belum dipahami.

Kebiasaan tersebut akan jauh lebih bermanfaat dalam jangka panjang dibandingkan sekadar mengejar nilai ujian.

5. Jaga Kondisi Fisik dan Emosional

Anak yang menghadapi ujian membutuhkan kondisi tubuh dan pikiran yang baik.

Tidur cukup, makan dengan baik, bergerak aktif, dan mendapatkan dukungan emosional dari orang tua merupakan bagian dari persiapan yang tidak kalah penting.

Hindari memberikan tekanan berlebihan dengan kalimat seperti, “Kamu harus dapat nilai sempurna.”

Sebaliknya, orang tua dapat mengatakan bahwa ujian adalah kesempatan bagi anak untuk menunjukkan apa yang sudah dipelajari dan berusaha sebaik mungkin.

“TKA: Jujur & Gembira”

Semangat pelaksanaan TKA juga membawa pesan yang menarik: “TKA: Jujur & Gembira.”

Dua kata tersebut mengingatkan bahwa asesmen akademik tidak harus selalu identik dengan ketegangan.

Jujur berarti mengerjakan asesmen berdasarkan kemampuan sendiri. Sementara gembira mengajak anak menjalani proses evaluasi tanpa ketakutan atau tekanan yang berlebihan.

Prinsip ini penting karena hasil asesmen akan lebih bermakna ketika benar-benar menggambarkan kemampuan anak.

Jika anak dibiasakan mengandalkan usaha sendiri, maka nilai yang diperoleh dapat menjadi cermin yang lebih jujur mengenai kemampuan dan bagian yang masih perlu dikembangkan.

Peran Sekolah dan Orang Tua Sama Pentingnya

Mempersiapkan anak menghadapi asesmen bukan hanya tugas guru.

Sekolah berperan memberikan pembelajaran yang bermakna, melakukan pendampingan, memberikan penguatan pada kompetensi yang dibutuhkan, serta menciptakan suasana belajar yang positif.

Di sisi lain, orang tua dapat memperkuatnya melalui kebiasaan sederhana di rumah.

Membaca bersama, mengobrol tentang buku, bermain permainan logika, mengajak anak berhitung dalam aktivitas sehari-hari, atau sekadar memberikan ruang bagi anak untuk bertanya merupakan bentuk dukungan yang sangat berarti.

Dengan begitu, persiapan asesmen tidak terasa seperti program belajar tambahan yang membebani anak.

Bagaimana dengan Jadwal ASSIK 2027?

Untuk orang tua yang mulai mempersiapkan anak menghadapi asesmen pada tahun 2027, penting untuk membedakan antara jadwal resmi dan perkiraan berdasarkan pola pelaksanaan sebelumnya.

Kalender Pendidikan Kota Semarang Tahun Ajaran 2026/2027 telah dipublikasikan oleh Dinas Pendidikan Kota Semarang. Namun, detail jadwal khusus asesmen berikut tahapan teknisnya tetap perlu menunggu pengumuman resmi dari pihak berwenang.

Karena itu, informasi seperti sosialisasi, pendaftaran peserta, simulasi, gladi, pelaksanaan ujian, hingga pengumuman hasil sebaiknya tidak dianggap sebagai jadwal pasti sebelum diterbitkan secara resmi.

Bagi sekolah dan orang tua, langkah terbaik saat ini adalah mempersiapkan kemampuan anak secara bertahap, bukan menunggu mendekati hari ujian.

ASSIK dan TKA Bukan Sekadar Tentang Nilai

Pada akhirnya, asesmen standar seperti ASSIK dan TKA sebaiknya ditempatkan sebagai bagian dari perjalanan belajar anak.

Nilai memang penting. Namun, yang jauh lebih penting adalah kemampuan yang berada di balik nilai tersebut: kemampuan membaca dan memahami informasi, berpikir logis, memecahkan masalah, bernalar, serta menggunakan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, persiapan terbaik bukanlah membuat anak takut terhadap ujian.

Persiapan terbaik adalah membantu anak tumbuh menjadi pembelajar yang percaya diri, mandiri, jujur, dan siap menghadapi tantangan.

Di Sekolah Islam Bintang Juara, proses tersebut dapat terus dibangun melalui pembelajaran yang bermakna, pembiasaan positif, serta pendampingan yang memperhatikan perkembangan anak secara utuh.

Sebab, menjadi juara bukan hanya tentang mendapatkan nilai terbaik.

Menjadi juara adalah tentang terus bertumbuh, berusaha dengan jujur, dan berani memberikan kemampuan terbaik dalam setiap proses belajar.

Maulid Nabi di SD Bintang Juara: Meneladani Kisah, Menumbuhkan Cinta

Maulid Nabi di SD Bintang Juara: Meneladani Kisah, Menumbuhkan Cinta

Senin, 24 Agustus 2026, suasana SD Islam Bintang Juara terasa berbeda. Pagi itu, peserta didik berkumpul dalam satu suasana yang penuh ketenangan sekaligus semangat. Bukan sekadar untuk mengikuti agenda rutin sekolah, tetapi untuk memperingati salah satu momentum penting bagi umat Islam: Maulid Nabi Muhammad saw.

Peringatan Maulid Nabi di SD Islam Bintang Juara tahun ini menjadi ruang bagi peserta didik untuk kembali mengenal sosok Rasulullah saw., menghadirkan rasa cinta kepada beliau, sekaligus mengambil pelajaran dari salah satu peristiwa penting yang berkaitan dengan kelahiran Nabi Muhammad saw.

Kegiatan diawali dengan berselawat bersama.

Suara anak-anak dan seluruh warga sekolah berpadu dalam lantunan selawat. Suasana semakin semarak dengan kehadiran Grup Rebana An Najma Senior yang dipimpin oleh Pak Zakki Akmal Al Hafidz.

Alunan rebana mengiringi lantunan selawat, menciptakan suasana yang hangat dan penuh penghormatan.

Namun, selawat pada pagi itu bukan sekadar lantunan yang dinyanyikan bersama. Ada sebuah rasa yang ingin dihadirkan. Rasa cinta kepada Rasulullah Muhammad saw.

Berselawat, Menghadirkan Cinta kepada Rasulullah saw.

Bagi anak-anak, mengenal Rasulullah saw. tidak cukup hanya dengan mengetahui nama, tempat kelahiran, atau kisah perjalanan hidup beliau.

Mereka juga perlu memiliki kesempatan untuk menumbuhkan rasa cinta kepada Rasulullah saw. Salah satunya melalui selawat.

Ketika anak-anak berselawat bersama, mereka belajar bahwa Rasulullah saw. adalah sosok yang begitu mulia dan dicintai oleh umat Islam. Lantunan selawat menjadi pengingat untuk terus mengenal pribadi beliau, mempelajari akhlaknya, serta berusaha meneladaninya dalam kehidupan sehari-hari.

Karena cinta tidak berhenti pada ucapan. Cinta kepada Rasulullah saw. juga perlu perlahan diwujudkan melalui perilaku.

  • Belajar berkata jujur.
  • Belajar menyayangi sesama.
  • Belajar menjaga amanah.
  • Belajar menghormati orang lain.
  • Belajar menjadi pribadi yang membawa kebaikan.

Nilai-nilai tersebut menjadi bagian dari pendidikan karakter yang ingin terus ditumbuhkan dalam keseharian peserta didik.

Dari Selawat Menuju Tadabbur

Setelah berselawat bersama, kegiatan dilanjutkan dengan tadabbur Surah Al-Fil bersama Pak Ali As’ad.

Jika selawat mengajak anak-anak menghadirkan rasa cinta kepada Rasulullah saw., tadabbur kali ini mengajak mereka melihat kembali sebuah peristiwa besar yang memiliki kaitan dengan kelahiran beliau.

Tahun ini, kegiatan Maulid Nabi mengangkat tema:

“Hancurnya Pasukan Abrahah dan Lahirnya Pemimpin Ummat”

Tema tersebut membawa peserta didik untuk mengenal kembali kisah Pasukan Abrahah dan peristiwa yang diabadikan dalam Surah Al-Fil.

Bagi anak-anak, kisah ini tentu bukan sekadar cerita sejarah. Ada banyak hal yang dapat direnungkan dari peristiwa tersebut.

Mengenal Kisah Pasukan Abrahah melalui Surah Al-Fil

Surah Al-Fil mengabadikan peristiwa ketika Pasukan Abrahah datang menuju Makkah dengan tujuan menghancurkan Ka’bah. Dalam kisah tersebut, Allah menunjukkan kekuasaan-Nya. Pasukan yang datang dengan kekuatan besar tidak mampu mewujudkan tujuannya.

Bagi kakak shalih-shalihah, kisah ini menjadi kesempatan untuk memahami bahwa sebesar apa pun kekuatan manusia, tetap ada kekuasaan Allah SWT.

Tadabbur tidak berhenti pada mengetahui apa yang terjadi. Anak-anak diajak untuk melihat makna di balik sebuah kisah.

Apa yang dapat kita pelajari? Bagaimana seharusnya seorang Muslim memandang kekuasaan Allah? Dan bagaimana sebuah peristiwa yang terjadi menjelang kelahiran Rasulullah saw. dapat menjadi bagian dari perjalanan sejarah yang sangat penting?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini membuat pembelajaran Al-Qur’an menjadi lebih dari sekadar membaca dan menghafal ayat. Anak diajak untuk merenungkan dan mengambil pelajaran.

Ketika Sejarah Bertemu dengan Kelahiran Pemimpin Umat

Tema “Hancurnya Pasukan Abrahah dan Lahirnya Pemimpin Ummat” juga membawa peserta didik pada konteks yang lebih luas. Peristiwa Pasukan Abrahah dikenal sebagai salah satu peristiwa yang berkaitan dengan tahun kelahiran Nabi Muhammad saw.

Di tengah peristiwa besar tersebut, lahirlah sosok yang kelak menjadi pemimpin umat dan Rasul terakhir. Di sinilah kakak shalih-shalihah dapat diajak memahami bahwa kepemimpinan bukan sekadar tentang memiliki kekuasaan atau berada di posisi paling depan.

Kepemimpinan juga tentang akhlak, amanah, keberanian, kasih sayang, dan memberikan manfaat bagi orang lain. Nilai tersebut sangat dekat dengan semangat pendidikan di SD Islam Bintang Juara sebagai Sekolah Calon Pemimpin Muslim.

Anak-anak tidak hanya dipersiapkan untuk menjadi pribadi yang memiliki pengetahuan luas, tetapi juga memiliki karakter dan nilai yang menjadi bekal dalam kehidupannya.

Maulid Nabi sebagai Ruang Pendidikan Karakter

Peringatan Maulid Nabi di sekolah dapat menjadi momentum untuk menghadirkan pembelajaran Islam dengan cara yang dekat dengan dunia anak.

  • Ada selawat yang dapat mereka lantunkan.
  • Ada kisah yang dapat mereka dengarkan.
  • Ada ayat Al-Qur’an yang dapat mereka tadabburi.
  • Dan ada nilai yang dapat mereka bawa dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian, Maulid Nabi bukan hanya kegiatan seremonial yang berlangsung satu hari. Momentum ini dapat menjadi pengingat bagi anak-anak untuk terus mengenal Rasulullah saw. dan menjadikan beliau sebagai teladan.

Sebab semakin seseorang mengenal sosok yang dicintainya, semakin banyak pula nilai yang dapat ia pelajari dan teladani.

Dari Kisah Rasulullah, Belajar Menjadi Pemimpin

Ada satu benang merah yang menarik dari tema Maulid Nabi tahun ini: kepemimpinan.

Rasulullah saw. adalah teladan dalam kepemimpinan. Namun, bagaimana mengenalkan kepemimpinan kepada anak usia SD?

Tentu tidak harus melalui konsep yang berat. Kepemimpinan dapat dimulai dari hal-hal sederhana.

  • Berani bertanggung jawab ketika melakukan kesalahan.
  • Mau membantu teman.
  • Mampu menjaga amanah.
  • Berani mengatakan yang benar.
  • Mau mendengarkan orang lain.
  • Tidak menggunakan kekuatan untuk menyakiti.
  • Dan mampu memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Nilai-nilai tersebut dapat mulai dilatih sejak anak berada di lingkungan sekolah dan keluarga. Karena seorang pemimpin tidak tiba-tiba menjadi pemimpin ketika dewasa. Karakter kepemimpinan dibangun sedikit demi sedikit sejak masa kanak-kanak.

Menghidupkan Maulid dalam Kehidupan Sehari-hari

Setelah kegiatan Maulid Nabi selesai, harapannya bukan berarti pembelajaran pun ikut berakhir. Justru, selawat yang dilantunkan dan kisah yang dipelajari dapat menjadi awal untuk menghadirkan kecintaan kepada Rasulullah saw. dalam keseharian.

  • Ketika anak belajar bersikap santun kepada guru, ia sedang belajar akhlak.
  • Ketika ia mau berbagi dengan teman, ia sedang belajar kasih sayang.
  • Ketika ia mengakui kesalahan, ia sedang belajar kejujuran.
  • Ketika ia menjaga titipan, ia sedang belajar amanah.
  • Ketika ia membantu tanpa diminta, ia sedang belajar memberikan manfaat.

Hal-hal sederhana tersebut dapat menjadi bentuk nyata dari proses meneladani Rasulullah saw.

Sebab tujuan mengenal Nabi bukan hanya agar anak mengetahui kisah beliau, tetapi agar kisah tersebut hidup dalam perilaku mereka.

Dari Maulid untuk Generasi Calon Pemimpin Muslim

Peringatan Maulid Nabi di SD Islam Bintang Juara pada Senin, 24 Agustus 2026 akhirnya menjadi perjalanan belajar yang memadukan selawat, Al-Qur’an, sejarah, dan pendidikan karakter.

Dari lantunan selawat bersama Grup Rebana An Najma Senior yang dipimpin Pak Zakki Akmal Al Hafidz, anak-anak diajak menghadirkan rasa cinta kepada Rasulullah saw.

Dari tadabbur Surah Al-Fil bersama Pak Ali As’ad, mereka diajak mengenal kembali kisah Pasukan Abrahah dan merenungkan kekuasaan Allah SWT.

Dan dari tema “Hancurnya Pasukan Abrahah dan Lahirnya Pemimpin Ummat”, anak-anak mendapatkan pengingat bahwa kehidupan seorang Muslim tidak hanya tentang menjadi pintar, tetapi juga tentang menjadi pribadi yang memiliki nilai, akhlak, dan keberanian untuk memberikan manfaat.

  • Semoga dari setiap selawat yang dilantunkan, tumbuh cinta.
  • Dari setiap ayat yang ditadabburi, tumbuh pemahaman.
  • Dari setiap kisah Nabi yang dipelajari, tumbuh keteladanan.
  • Dan dari setiap pembiasaan kecil yang dilakukan hari ini, tumbuh calon pemimpin Muslim yang berilmu, berakhlakul karimah, dan bermanfaat bagi sesama.

Karena mengenal Rasulullah saw. bukan hanya tentang mengetahui kisahnya. Tetapi tentang belajar mencintai, meneladani, dan meneruskan kebaikan yang beliau ajarkan. ﷺ

Selamat memperingati Maulid Nabi Muhammad saw.

Semoga cinta kepada Rasulullah saw. senantiasa tumbuh di hati setiap anak dan menjadi cahaya yang menuntun langkah mereka dalam menjalani kehidupan. Aamiin.*** (CM-MRT)