by admin admin | Apr 21, 2026 | Berita Utama, Edukasi, Kegiatan Guru
Siang itu, suasana Perpustakaan SD Islam Bintang Juara terasa berbeda. Tidak ada suara riuh siswa seperti biasanya, namun energi yang hadir tetap terasa hidup. Para guru duduk melingkar, membawa buku catatan, laptop, dan tentu saja semangat untuk belajar. Hari itu, Selasa, 21 April 2026, menjadi salah satu momen penting dalam perjalanan peningkatan kualitas pembelajaran melalui kegiatan Kombel Telaga Ilmu dengan tema “Merancang Asesmen Pembelajaran Mendalam” bersama Bu Nawang Wulan, M.Pd., dari Litbang Yayasan Dewi Sartika.
Kegiatan ini bukan sekadar forum diskusi biasa. Ia menjadi ruang refleksi, ruang bertumbuh, sekaligus ruang untuk menyadari kembali makna sejati dari sebuah proses belajar.
Merancang Asesmen Bermakna: Bukan Sekadar Nilai
Selama ini, asesmen sering kali dipahami sebagai angka. Sebuah hasil akhir yang menunjukkan sejauh mana siswa “berhasil” dalam belajar. Namun, dalam sesi ini, perspektif tersebut perlahan digeser.
Bu Nawang membuka sesi dengan sebuah pertanyaan sederhana, namun menggugah, “Apakah asesmen yang kita lakukan benar-benar mencerminkan pemahaman anak?”
Pertanyaan itu membuat ruangan sejenak hening.
Karena pada kenyataannya, tidak semua nilai tinggi menunjukkan pemahaman yang mendalam. Dan tidak semua nilai rendah berarti anak tidak mampu. Di sinilah pentingnya merancang asesmen yang tidak hanya mengukur hasil, tetapi juga memahami proses.
Asesmen pembelajaran mendalam menekankan bahwa belajar bukan sekadar mengingat, tetapi memahami, mengaitkan, dan menerapkan.
Belajar Melihat dari Perspektif Siswa
Dalam sesi ini, para guru diajak untuk “berpindah posisi”. Tidak lagi sebagai pengajar, tetapi sebagai pembelajar.
- Bagaimana rasanya menjadi siswa yang hanya dinilai dari angka?
- Bagaimana rasanya ketika usaha tidak terlihat, hanya hasil yang diperhatikan?
Diskusi demi diskusi mengalir. Dari pengalaman pribadi, hingga refleksi di kelas masing-masing. Di sinilah mulai terlihat bahwa asesmen yang baik adalah asesmen yang:
- Memberi ruang bagi proses berpikir
- Menghargai usaha, bukan hanya hasil
- Membantu siswa memahami dirinya sendiri
Karena sejatinya, asesmen bukan untuk menghakimi, tetapi untuk membimbing.
Menggali Makna “Pembelajaran Mendalam”
Pembelajaran mendalam bukan tentang materi yang banyak, tetapi tentang pemahaman yang kuat. Bu Nawang menjelaskan bahwa pembelajaran mendalam terjadi ketika siswa:
- Mampu mengaitkan materi dengan kehidupan nyata
- Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi
- Terlibat aktif dalam proses belajar
- Mampu merefleksikan apa yang dipelajari
Dalam konteks ini, asesmen harus selaras dengan tujuan tersebut.
Artinya, bentuk asesmen tidak harus selalu berupa tes tertulis. Bisa berupa:
- Proyek
- Presentasi
- Diskusi
- Refleksi diri
- Observasi proses
Pendekatan ini membuka wawasan baru bagi para guru. Bahwa ternyata, banyak cara untuk “melihat” pemahaman siswa.
Dari Teori ke Praktik
Yang membuat kegiatan ini semakin bermakna adalah sesi praktik langsung. Para guru dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil. Setiap kelompok diminta untuk merancang contoh asesmen pembelajaran mendalam sesuai dengan mata pelajaran masing-masing.
Diskusi menjadi semakin hidup. Ide-ide bermunculan. Ada yang merancang asesmen berbasis proyek, ada yang membuat rubrik penilaian reflektif, ada pula yang mengembangkan asesmen berbasis studi kasus.
Menariknya, dalam proses ini, para guru tidak hanya berpikir tentang “apa yang dinilai”, tetapi juga:
- Bagaimana cara menilai
- Mengapa hal tersebut penting
- Apa dampaknya bagi siswa
Di sinilah terlihat bahwa asesmen yang baik lahir dari pemahaman yang utuh.
Menguatkan Peran Guru sebagai Pembimbing
Salah satu poin penting yang ditekankan dalam kegiatan ini adalah perubahan peran guru. Guru bukan lagi sekadar pemberi materi, tetapi menjadi fasilitator, pembimbing, dan pengamat proses belajar.
Dalam asesmen pembelajaran mendalam, guru dituntut untuk:
- Lebih peka terhadap proses belajar siswa
- Memberikan umpan balik yang konstruktif\
- Mendorong refleksi diri siswa
- Menjadi teladan dalam berpikir kritis
Peran ini memang tidak mudah. Namun, justru di sinilah letak keindahannya. Karena ketika guru bertumbuh, siswa pun ikut bertumbuh.
Refleksi: Belajar Tidak Pernah Selesai
Menjelang akhir sesi, suasana kembali hening. Namun kali ini bukan karena bingung, melainkan karena penuh makna.
Setiap guru diminta untuk menuliskan refleksi pribadi:
- Apa yang dipelajari hari ini?
- Apa yang ingin diperbaiki ke depan?
Jawaban yang muncul begitu beragam, namun memiliki satu benang merah yang sama: keinginan untuk menjadi lebih baik.
- Ada yang menyadari bahwa selama ini terlalu fokus pada hasil.
- Ada yang ingin mulai memberi ruang refleksi bagi siswa.
- Ada pula yang merasa tertantang untuk mencoba metode baru.
Dan semua itu berawal dari satu kesadaran: belajar adalah proses yang tidak pernah selesai.
Dampak Nyata bagi Pembelajaran
Kegiatan Kombel Telaga Ilmu ini bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi membawa dampak nyata bagi pembelajaran di kelas. Dengan asesmen yang lebih bermakna:
- Siswa merasa lebih dihargai
- Proses belajar menjadi lebih hidup
- Guru lebih memahami kebutuhan siswa
- Pembelajaran menjadi lebih relevan dengan kehidupan nyata
Ini bukan perubahan instan. Namun, langkah kecil yang konsisten akan membawa perubahan besar.
Menutup dengan Harapan
Belajar merancang asesmen pembelajaran mendalam mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Namun, makna yang dibawa akan terus hidup dalam setiap proses belajar di kelas. Kombel Telaga Ilmu telah menjadi ruang yang mengingatkan kembali bahwa: mengajar bukan hanya tentang menyampaikan, tetapi tentang memahami. Dan asesmen bukan hanya tentang menilai, tetapi tentang membimbing.
Semoga langkah kecil ini menjadi awal dari perubahan besar. Menuju pembelajaran yang lebih bermakna. Menuju generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga sadar akan proses belajarnya.
Karena pada akhirnya, pendidikan bukan tentang siapa yang paling cepat, tetapi siapa yang paling memahami.*** (CM-MRT)
by admin admin | Apr 20, 2026 | Edukasi, Kegiatan Siswa
Pagi itu, suasana kelas 4A dan 4B SD Islam Bintang Juara terasa berbeda dari biasanya. Bukan hanya buku dan alat tulis yang tersusun rapi di meja, tetapi juga gelas ukur, cangkir, sumbu lilin, hingga cairan berwarna kuning yang mungkin sering kita temui di dapur: minyak jelantah.
Namun siapa sangka, dari bahan yang sering dianggap limbah ini, kakak shalih-shalihah akan belajar sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar praktik membuat lilin.
Kegiatan Belajar Bersama Ahli (BBA) kali ini menghadirkan sosok inspiratif, Yuli Kuswanti, S.I.Pust., seorang pegiat literasi yang juga memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan hidup. Tema yang diangkat pun sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari, yaitu “Aroma Terapi dari Minyak Jelantah: Mengubah Limbah Menjadi Produk Bernilai.”
Dari Limbah Menjadi Peluang
Sebelum praktik dimulai, Bunda Yuli membuka sesi dengan sebuah pertanyaan sederhana, “Kalau minyak bekas dipakai menggoreng, biasanya dibuang ke mana?”
Beragam jawaban pun muncul. Ada yang bilang dibuang ke selokan, ada juga yang menyimpannya untuk dipakai kembali. Dari sini, kakak shalih-shalihah mulai diajak berpikir lebih dalam: apakah kebiasaan tersebut sudah tepat?
Bunda Yuli kemudian menjelaskan bahwa minyak jelantah yang dibuang sembarangan dapat mencemari lingkungan, terutama air dan tanah. Jika terus dibiarkan, limbah ini bisa berdampak buruk bagi kehidupan makhluk hidup.
Namun di balik itu, tersimpan potensi besar. Minyak jelantah ternyata bisa diolah menjadi berbagai produk bermanfaat, seperti sabun hingga lilin aromaterapi.
Di sinilah pembelajaran menjadi hidup. Kakak tidak hanya mendengar teori, tetapi juga memahami makna di baliknya—bahwa setiap masalah bisa menjadi peluang jika kita mau berpikir kreatif.
Menghidupkan Konsep Melalui Praktik Nyata
Kegiatan ini merupakan bagian dari kontekstualisasi Project Based Learning dengan tema “Perubahan Energi dan Wujud Zat.” Apa yang sebelumnya hanya dipelajari melalui buku, kini benar-benar bisa dilihat dan dirasakan langsung.
Proses pembuatan lilin aromaterapi dimulai dengan langkah pertama: menyaring minyak jelantah. Kakak shalih-shalihah terlihat antusias saat melihat bagaimana minyak yang awalnya keruh perlahan menjadi lebih bersih.
Langkah berikutnya adalah mencampurkan minyak jelantah dengan asam stearat. Perbandingannya cukup sederhana, yaitu 3:1. Untuk 300 ml minyak, dibutuhkan 100 gram asam stearat.
Ketika campuran tersebut dipanaskan, kakak-kakak mulai menyaksikan perubahan wujud yang nyata. Dari cair, perlahan menjadi lebih kental, lalu siap dituangkan ke dalam cetakan.
Beberapa kakak menambahkan pewarna agar lilin terlihat lebih menarik. Ada yang memilih warna cerah, ada pula yang tetap mempertahankan warna alami. Sumbu pun dipasang dengan hati-hati, menjadi penanda bahwa lilin siap digunakan.
Momen paling ditunggu akhirnya tiba. Ketika lilin mulai mengeras, rasa bangga terlihat jelas di wajah kakak shalih-shalihah. Mereka tidak hanya berhasil membuat sebuah produk, tetapi juga memahami proses ilmiah di baliknya.
Lebih dari Sekadar Praktik
Kegiatan ini bukan hanya tentang membuat lilin. Ada banyak nilai yang tertanam secara perlahan namun mendalam.
Kakak belajar bahwa ilmu tidak berhenti di buku. Mereka belajar bahwa perubahan energi dan wujud zat bukan sekadar konsep, tetapi sesuatu yang terjadi di sekitar mereka setiap hari.
Lebih dari itu, mereka juga belajar tentang tanggung jawab terhadap lingkungan. Bahwa menjaga bumi bisa dimulai dari langkah kecil, seperti tidak membuang limbah sembarangan dan mencoba mengolahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat.
Interaksi dengan narasumber juga membuka wawasan baru. Kakak melihat bahwa profesi dan minat bisa saling terhubung—bahwa seorang pegiat literasi pun bisa berkontribusi dalam isu lingkungan.
Menumbuhkan Pola Pikir Kreatif dan Solutif
Di era saat ini, kemampuan berpikir kreatif dan solutif menjadi salah satu keterampilan penting yang perlu dimiliki anak-anak. Kegiatan seperti ini menjadi salah satu cara efektif untuk menumbuhkan kemampuan tersebut.
Ketika kakak melihat minyak jelantah, mereka tidak lagi hanya melihat limbah. Mereka mulai melihat potensi. Mereka mulai bertanya, “Apa lagi yang bisa kita buat dari ini?”
Pertanyaan sederhana ini adalah awal dari pola pikir inovatif.
Belajar yang Bermakna, Dampak yang Nyata
Kegiatan BBA ini menjadi bukti bahwa belajar bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan sekaligus bermakna. Kakak tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga pengalaman yang akan mereka ingat dalam jangka panjang.
Dari sebuah lilin kecil, kakak belajar tentang ilmu, lingkungan, kreativitas, hingga tanggung jawab. Semua terangkai dalam satu kegiatan yang sederhana namun penuh makna.
Ke depan, harapannya kakak shalih-shalihah tidak hanya berhenti pada pengalaman ini. Mereka bisa membawa semangat ini ke rumah, bahkan mengajak keluarga untuk mulai peduli terhadap pengelolaan limbah.
Karena sejatinya, perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Dan hari itu, langkah kecil itu dimulai dari minyak jelantah… yang berubah menjadi cahaya.*** (CM-MRT)
by admin admin | Apr 18, 2026 | Artikel, Berita, Edukasi, Kegiatan Orang Tua
Sabtu pagi, 18 April 2026, suasana SD Islam Bintang Juara terasa berbeda. Tidak ada hiruk pikuk anak-anak seperti biasanya. Kursi-kursi tersusun rapi, dan satu per satu Ayah Bunda mulai hadir dengan wajah penuh harap. Hari itu bukan sekadar pertemuan biasa—melainkan ruang belajar bersama untuk memahami satu hal penting: emosi anak ternyata berakar dari ketenangan orang tua.
Acara dimulai tepat waktu, meskipun peserta belum sepenuhnya hadir. Bu Ni’mah membuka kegiatan dengan pesan sederhana namun mengena—bahwa kedisiplinan waktu adalah bagian dari pendidikan calon pemimpin muslim. Dari awal, Ayah Bunda diajak untuk menyadari bahwa setiap kebiasaan kecil yang ditanamkan hari ini akan membentuk karakter anak di masa depan.
Lalu, suasana menjadi lebih hening ketika Bu Ni’mah mengajak semua yang hadir untuk menengok kembali teladan terbaik dalam mengelola emosi—Rasulullah ﷺ. Sosok yang tetap tenang bahkan ketika dihina dan disakiti. Dari sini, Ayah Bunda diajak merenung, bahwa regulasi emosi bukan sekadar teori, tapi bagian dari keimanan dan kedekatan kepada Allah.
Cerita demi cerita mengalir, membuka kesadaran bahwa seringkali kita sebagai orang tua tanpa sadar memperlakukan anak seperti orang dewasa. Kita berharap mereka langsung memahami, langsung patuh, langsung bisa mengelola diri. Padahal, anak-anak masih dalam proses belajar—dan mereka belajar dari siapa? Dari kita.
Di sinilah titik balik pemahaman itu muncul. Apa yang terjadi pada anak, sejatinya adalah cermin bagi orang tuanya. Ketika anak mengalami kesulitan, sakit, atau konflik, itu bukan sekadar “masalah anak”, melainkan juga panggilan refleksi bagi orang tua. Sudahkah kita cukup hadir? Sudahkah kita cukup tenang?
Ketika Ketenangan Orang Tua Menjadi Pondasi Emosi Anak
Materi utama disampaikan oleh Ibu Diah Indah Noviyani, S.Psi., M.Psi., Psikolog atau yang akrab dipanggil dengan Bunda Vivi Psikolog—seorang praktisi yang telah lama mendampingi perkembangan anak dan keluarga. Dengan gaya penyampaian yang hangat dan membumi, beliau mengajak Ayah Bunda memahami bahwa emosi anak tidak muncul begitu saja. Ia dipelajari, ditiru, dan dibentuk dari lingkungan terdekatnya—terutama orang tua.
Sejak bayi, anak merekam ekspresi. Cara kita tersenyum, cara kita berbicara, bahkan cara kita merespon masalah—semuanya tersimpan dalam memori mereka. Maka tidak heran, jika anak mudah marah, bisa jadi karena ia sering melihat kemarahan. Jika anak sulit tenang, mungkin karena ia jarang melihat ketenangan.
Ketenangan bukan berarti tanpa emosi. Marah, sedih, kecewa—semuanya adalah hal yang wajar. Namun yang menjadi pembeda adalah bagaimana emosi itu dikelola. Di sinilah peran orang tua menjadi sangat krusial.
Dalam praktik sederhana, Ayah Bunda diajak untuk mulai dari hal kecil. Misalnya, ketika emosi memuncak, beri jeda 30 detik sebelum merespon anak. Waktu singkat ini ternyata sangat berharga untuk menghindari respon impulsif yang bisa melukai hati anak.
Anak Butuh Dibimbing, Bukan Sekadar Dikontrol
Salah satu poin penting yang menguat dalam sesi ini adalah perbedaan antara mengontrol, mengarahkan, dan membimbing. Mengontrol itu mudah—cukup dengan perintah. Mengarahkan sedikit lebih baik—memberi instruksi. Namun membimbing adalah level tertinggi, karena membutuhkan keteladanan, kesabaran, dan kesadaran penuh.
Membimbing berarti orang tua juga terus belajar. Tidak bisa hanya menyuruh tanpa memberi contoh. Tidak bisa hanya menuntut tanpa memahami.
Di sinilah tantangan terbesar parenting modern muncul. Di tengah kesibukan dan distraksi, terutama gadget, seringkali kehadiran orang tua menjadi “setengah”. Secara fisik ada, tapi secara emosi tidak sepenuhnya terhubung.
Padahal, anak sangat membutuhkan koneksi. Koneksi yang dibangun melalui percakapan hangat, sentuhan, dan kebersamaan sederhana.
Arah Diri: Bekal Penting Sejak Dini
Dalam sesi ini juga dibahas tentang pentingnya self-direction atau arahan diri. Banyak anak, bahkan hingga remaja dan dewasa, yang belum memiliki kemampuan ini. Mereka tidak benar-benar memahami apa yang mereka butuhkan, apa tujuan hidupnya, dan bagaimana mengambil keputusan.
Akar dari masalah ini seringkali sudah muncul sejak kecil—ketika anak tidak dilatih untuk mengenali dirinya sendiri.
Anak yang memiliki arahan diri akan lebih mandiri, lebih tangguh, dan tidak mudah terpengaruh lingkungan. Namun untuk mencapai itu, orang tua perlu membangun fondasi sejak dini.
Caranya? Dengan memberi ruang anak untuk berpikir, berdiskusi, dan mengambil keputusan sederhana. Bukan dengan selalu mengontrol atau memaksakan kehendak.
Regulasi Emosi Itu Dilatih, Bukan Dituntut
Regulasi emosi bukan kemampuan instan. Ia harus dilatih secara bertahap. Dalam praktiknya, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan di rumah:
Mulai dari mengenali emosi anak—membantu mereka memberi nama pada perasaan yang muncul. Lalu mengelola emosi dengan cara yang tepat, seperti menarik napas, berbicara, atau menenangkan diri. Dan yang tidak kalah penting, mengekspresikan emosi dengan cara yang baik dan tidak merugikan orang lain.
Ketika anak tantrum, jangan melabeli dirinya nakal. Bisa jadi ia belum tahu cara mengekspresikan emosinya. Di sinilah peran orang tua untuk hadir, bukan menghakimi.
Validasi perasaan anak, bantu ia tenang, lalu ajak refleksi. Dari sinilah anak belajar bahwa setiap emosi punya tempat, tapi juga punya batas.
Gadget, Lingkungan, dan Tantangan Zaman
Salah satu isu yang juga dibahas adalah pengaruh gadget terhadap emosi anak. Paparan berlebihan dapat membuat anak lebih mudah marah, sulit fokus, bahkan kehilangan daya juang.
Namun solusi bukan sekadar melarang. Orang tua perlu bijak mengelola—memberi batasan, mendampingi, dan yang terpenting, mengganti waktu layar dengan interaksi nyata.
Selain itu, lingkungan pergaulan juga menjadi faktor yang tidak bisa dikontrol sepenuhnya. Maka yang bisa dilakukan adalah memperkuat pondasi di rumah—dengan komunikasi terbuka, aturan yang jelas, dan kedekatan emosional.
Menjadi Orang Tua yang Terus Belajar
Menutup sesi, Ayah Bunda diajak untuk kembali pada satu kesadaran penting—tidak ada orang tua yang sempurna. Semua sedang belajar, bertumbuh, dan berproses.
Namun satu hal yang bisa diupayakan adalah terus memperbaiki diri. Karena perubahan pada orang tua, akan diikuti perubahan pada anak. Ketenangan bukan hanya membuat suasana rumah lebih damai, tapi juga menjadi investasi jangka panjang bagi masa depan anak. Karena pada akhirnya, anak tidak hanya butuh orang tua yang pintar, tapi orang tua yang hadir, tenang, dan mampu membimbing dengan hati.
Di akhir kegiatan, satu pesan terasa begitu kuat dan membekas:
Ketenangan orang tua adalah kekuatan pengasuhan. Dan dari ketenangan itulah, anak-anak belajar menjadi pribadi yang matang, tangguh, dan siap menghadapi masa depan.
Karena membesarkan anak bukan tentang menjadi sempurna—melainkan tentang terus belajar, bersama.*** (CM-MRT)
by admin admin | Apr 16, 2026 | Artikel, Berita, Edukasi, Kegiatan Siswa
Pagi itu suasana kelas 4B di SD Islam Bintang Juara terasa berbeda. Tidak hanya buku dan alat tulis yang disiapkan, tetapi juga semangat baru untuk belajar sesuatu yang unik dan penuh makna. Pada Kamis, 16 April 2026, kakak shalih–shalihah mengikuti kegiatan BBA (Belajar Bersama Ahli) bersama narasumber istimewa, Ayah Ari Setyawan, seorang Guru Bahasa Jawa dari SMA 6 sekaligus ayah dari Kak Neyva.
Tema yang diangkat kali ini begitu khas dan sarat nilai budaya: Belajar Menyanyikan Tembang Macapat Gambuh.
Namun, kegiatan ini bukan sekadar belajar menyanyi. Lebih dari itu, kakak shalih–shalihah diajak menyelami makna di balik setiap bait tembang, memahami aturan-aturannya, hingga merasakan bagaimana budaya lokal bisa menjadi sarana pembentukan karakter.
Mengenal Tembang Macapat: Warisan Budaya yang Sarat Makna
Ayah Ari membuka sesi dengan memperkenalkan apa itu tembang macapat. Beliau menjelaskan bahwa macapat adalah salah satu bentuk puisi tradisional Jawa yang tidak hanya indah untuk didengar, tetapi juga penuh dengan pesan kehidupan.
Salah satu jenis tembang macapat yang dipelajari hari itu adalah Gambuh.
Tembang Gambuh dikenal sebagai tembang yang mengandung pesan tentang kecocokan, keharmonisan, dan kebijaksanaan dalam menjalin hubungan. Nilai-nilai ini sangat relevan untuk kehidupan sehari-hari, terutama dalam membangun hubungan dengan teman, keluarga, maupun lingkungan sekitar.
Sejak awal, kakak shalih–shalihah mulai memahami bahwa belajar macapat bukan hanya tentang suara yang merdu, tetapi juga tentang memahami pesan yang ingin disampaikan.
Memahami Aturan: Guru Gatra, Guru Wilangan, dan Guru Lagu
Agar bisa menyanyikan tembang macapat dengan baik dan benar, Ayah Ari memperkenalkan tiga unsur penting yang harus dipahami, yaitu:
- Guru Gatra: Guru gatra adalah jumlah baris dalam satu bait tembang.
- Guru Wilangan: Guru wilangan adalah jumlah suku kata dalam setiap baris.
- Guru Lagu: Guru lagu adalah bunyi vokal di akhir setiap baris.
Ketiga unsur ini menjadi aturan utama dalam tembang macapat. Tanpa memahami ketiganya, tembang tidak akan sesuai dengan pakem atau aturan yang berlaku.
Melalui penjelasan yang sederhana dan contoh yang mudah dipahami, Ayah Ari membantu kakak shalih–shalihah mengenal struktur tembang dengan cara yang menyenangkan.
Beberapa kakak bahkan terlihat mencoba menghitung jumlah suku kata sambil tersenyum, seolah menemukan tantangan baru yang seru.
Menyanyi dengan Rasa: Memahami Lirik adalah Kunci
Salah satu pesan penting yang disampaikan oleh Ayah Ari adalah bahwa menyanyikan tembang macapat tidak cukup hanya dengan suara yang merdu. Yang lebih penting adalah memahami makna dari lirik yang dinyanyikan.
Tanpa memahami maknanya, tembang hanya akan terdengar sebagai rangkaian nada tanpa jiwa. Namun ketika maknanya dipahami, setiap bait akan terasa hidup dan mampu menyampaikan pesan kepada pendengar.
Ayah Ari mengajak kakak shalih–shalihah untuk mencoba merasakan isi tembang Gambuh. Dengan pendekatan ini, mereka tidak hanya belajar seni, tetapi juga belajar empati, penghayatan, dan kepekaan terhadap makna.
Belajar Disiplin melalui Aturan Tembang
Selain memahami struktur dan makna, kakak shalih–shalihah juga diajak untuk mengenal aturan-aturan saat menyanyikan tembang macapat. Dalam tembang macapat, ada tata cara yang harus diperhatikan, mulai dari ketepatan nada, pengucapan, hingga kesesuaian dengan guru lagu.
Hal ini secara tidak langsung melatih anak-anak untuk menjadi pribadi yang teliti, disiplin, dan bertanggung jawab terhadap apa yang mereka pelajari. Mereka belajar bahwa dalam seni sekalipun, ada aturan yang harus dihormati. Dan justru dari aturan itulah keindahan bisa tercipta.
Momen Paling Ditunggu: Menyanyikan Gambuh Bersama
Setelah memahami teori dan mencoba berlatih, tibalah momen yang paling ditunggu-tunggu: menyanyikan tembang Gambuh bersama-sama.
Suasana kelas berubah menjadi lebih hidup. Dengan penuh semangat, kakak shalih–shalihah mengikuti arahan Ayah Ari untuk melantunkan tembang Gambuh.
Meskipun masih dalam tahap belajar, suara mereka terdengar kompak dan penuh antusias. Ada yang masih malu-malu, ada yang mulai percaya diri, namun semuanya larut dalam pengalaman belajar yang menyenangkan.
Momen ini menjadi bukti bahwa belajar budaya tidak harus membosankan. Justru bisa menjadi pengalaman yang seru, berkesan, dan penuh makna.
Belajar Budaya, Membentuk Karakter
Kegiatan BBA ini memberikan lebih dari sekadar pengetahuan tentang tembang macapat. Melalui kegiatan ini, kakak shalih–shalihah belajar banyak hal penting, seperti:
- Menghargai warisan budaya lokal
- Melatih kepekaan rasa dan empati
- Mengembangkan kedisiplinan melalui aturan
- Meningkatkan kepercayaan diri saat tampil
- Memahami bahwa setiap karya memiliki makna dan pesan
Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, kegiatan seperti ini menjadi sangat penting untuk menjaga agar generasi muda tetap mengenal dan mencintai budayanya sendiri.
Menjaga Budaya, Menjaga Identitas
Kegiatan Belajar Bersama Ahli (BBA) bersama Ayah Ari Setyawan menjadi salah satu langkah nyata dalam mengenalkan budaya kepada anak-anak sejak dini. Karena sejatinya, budaya bukan hanya tentang masa lalu. Budaya adalah bagian dari identitas yang harus dijaga dan diwariskan.
Melalui tembang macapat Gambuh, kakak shalih–shalihah tidak hanya belajar menyanyi. Mereka belajar memahami kehidupan, merasakan makna, dan menanamkan nilai-nilai kebaikan dalam diri mereka.
Dan dari kelas sederhana di hari itu, sebuah langkah kecil telah dimulai; menjaga budaya, sambil membentuk generasi yang berkarakter.*** (CM-MRT)
by admin admin | Apr 15, 2026 | Artikel, Berita, Edukasi, Kegiatan Siswa
Pagi itu suasana terasa berbeda bagi kakak shalih-shalihah kelas 5 SD Islam Bintang Juara. Kali ini seragam sekolah yang mereka kenakan tidak hanya digunakan belajar di dalam kelas, melainkan melahirkan semangat baru untuk belajar langsung dari dunia nyata. Selama tiga hari, mulai Selasa hingga Kamis, 14–16 April 2026, mereka mengikuti kegiatan Magang Adab di Pands Muslim Store.
Ini bukan sekadar kunjungan biasa. Ini adalah pengalaman belajar yang dirancang untuk menanamkan nilai tanggung jawab, kemandirian, dan tentu saja adab dalam bekerja.
Magang Adab ini merupakan kali ketiga diselenggarakan di Pands Muslim Store. Pesertanya adalah seluruh kakak kelas 5, serta satu kakak kelas 6 yang tahun sebelumnya belum sempat mengikuti. Meski konsepnya serupa dengan tahun-tahun sebelumnya, pengalaman yang dirasakan setiap anak tetap terasa baru, menantang, dan penuh makna.
Belajar dari Dunia Nyata, Bukan Sekadar Teori
Setibanya di lokasi, kakak shalih-shalihah langsung dibagi menjadi tiga kelompok besar sesuai area tugas masing-masing: gudang, toko, dan studio. Setiap area menghadirkan pengalaman yang berbeda, namun memiliki satu benang merah yang sama; belajar bekerja dengan penuh tanggung jawab.
Di area gudang, kakak belajar bahwa pekerjaan yang terlihat sederhana ternyata membutuhkan ketelitian tinggi. Mereka membantu mengemas kerudung dan pakaian, menyortir alat sensor sesuai ukuran, hingga mengantarkan barang ke toko. Aktivitas ini melatih fokus, ketelitian, dan kesabaran.
Tidak sedikit dari mereka yang awalnya menganggap pekerjaan ini mudah, namun kemudian menyadari bahwa kesalahan kecil saja bisa berdampak besar. Dari sinilah mereka mulai memahami arti bekerja dengan sungguh-sungguh.
Berpindah ke area toko, suasana terasa lebih dinamis. Kakak shalih-shalihah belajar menata baju di rak agar terlihat rapi dan menarik. Mereka juga berlatih melayani pembeli dengan sopan dan ramah.
Interaksi langsung dengan pelanggan menjadi pengalaman berharga. Mereka belajar menyapa, menawarkan bantuan, hingga menjaga sikap saat berbicara. Di sinilah adab benar-benar diuji—bagaimana bersikap santun dalam situasi nyata.
Dari Kamera hingga Percaya Diri
Sementara itu, di area studio, pengalaman tak kalah seru menanti. Kakak shalih-shalihah diajak untuk berperan sebagai model sekaligus fotografer. Mereka belajar berpose di depan kamera, sekaligus mencoba memotret teman-temannya.
Bagi sebagian anak, berdiri di depan kamera bukanlah hal yang mudah. Ada rasa malu, canggung, bahkan tidak percaya diri. Namun perlahan, dengan dukungan teman dan pembimbing, mereka mulai berani mencoba.
Dari sini, muncul satu pembelajaran penting: keberanian tidak datang dari rasa siap, tapi dari kemauan untuk mencoba.
Di sisi lain, saat memegang kamera, mereka belajar bahwa setiap hasil yang baik membutuhkan proses. Mengatur angle, pencahayaan, hingga fokus—semuanya membutuhkan ketelitian dan kesabaran.

Magang Adab: Lebih dari Sekadar Bekerja
Yang membuat kegiatan ini istimewa bukan hanya aktivitasnya, tetapi nilai yang dibangun di dalamnya. Kakak shalih-shalihah tidak hanya belajar “cara bekerja”, tetapi juga “bagaimana bersikap saat bekerja”.
Mereka belajar datang tepat waktu, mengikuti arahan, bekerja sama dalam tim, hingga menyelesaikan tugas dengan penuh tanggung jawab. Lebih dari itu, mereka belajar bahwa pekerjaan apapun, selama dilakukan dengan niat yang baik dan adab yang benar, akan menjadi bernilai ibadah.
Magang Adab ini juga menjadi sarana untuk mengenalkan dunia kerja sejak dini, namun dengan pendekatan yang sesuai dengan usia anak. Tidak ada tekanan, yang ada justru pengalaman menyenangkan yang membangun karakter.
Pengalaman Pertama yang Tak Terlupakan
Bagi kakak shalih-shalihah kelas 5, ini adalah pengalaman pertama mereka terlibat langsung dalam aktivitas seperti ini. Wajar jika di awal mereka merasa bingung atau ragu.
Namun seiring berjalannya waktu, mereka mulai terbiasa. Bahkan banyak di antara mereka yang justru merasa senang dan ingin mencoba lagi.
Tawa, cerita, dan pengalaman selama tiga hari ini menjadi kenangan yang tidak mudah dilupakan. Dari yang awalnya hanya “ikut kegiatan”, berubah menjadi “mengerti makna”.
Bekal untuk Masa Depan
Magang Adab di Pands Muslim Store bukan sekadar agenda tahunan. Ini adalah bagian dari proses panjang dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat dalam karakter.
Melalui kegiatan ini, kakak shalih-shalihah belajar bahwa dunia nyata membutuhkan lebih dari sekadar ilmu. Dibutuhkan sikap, etika, dan tanggung jawab.
Nilai-nilai inilah yang diharapkan akan terus mereka bawa, bukan hanya saat di sekolah, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari hingga masa depan nanti.
Karena pada akhirnya, kesuksesan bukan hanya tentang apa yang kita tahu, tapi bagaimana kita bersikap.
Dan dari langkah kecil di Pands Muslim Store ini, semoga menjadi awal dari perjalanan panjang menuju masa depan yang lebih cerah—dengan adab sebagai pondasinya.*** (CM-MRT)
by admin admin | Mar 13, 2026 | Berita, Edukasi, Religi
Suasana aula sekolah pagi itu terasa berbeda. Senyum ceria, rasa penasaran, dan semangat kebersamaan memenuhi ruangan ketika kakak shalih–shalihah berkumpul untuk mengikuti Puncak Festival Ramadan Calon Pemimpin Muslim di SD Islam Bintang Juara.
Kegiatan yang dilaksanakan pada Jumat, 13 Maret 2026 ini menjadi penutup rangkaian kegiatan Ramadan yang telah berlangsung selama beberapa hari sebelumnya. Acara dipandu dengan hangat dan penuh semangat oleh Pak Amir dan Bu Laila, yang mengajak seluruh peserta menikmati setiap momen kegiatan dengan penuh kegembiraan.
Puncak Festival Ramadan tidak hanya menjadi momen pengumuman pemenang lomba. Lebih dari itu, kegiatan ini juga diisi dengan penguatan materi tentang Idulfitri, penampilan inspiratif dari para peserta terbaik, serta pembagian apresiasi kepada siswa-siswi yang telah menunjukkan bakat dan usaha terbaik mereka.
Penguatan Materi Idulfitri: Kembali kepada Kesucian
Sebelum memasuki sesi pengumuman pemenang festival, kegiatan diawali dengan penguatan materi tentang Idulfitri yang disampaikan oleh Pak Ali.
Dalam pemaparannya, Pak Ali menjelaskan bahwa Idulfitri memiliki makna yang sangat mendalam. Secara bahasa, Idulfitri berarti kembali kepada kesucian. Setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh di bulan Ramadan, umat Islam diharapkan kembali menjadi pribadi yang lebih bersih—baik hati, pikiran, maupun perbuatannya.
Pak Ali juga mengajak kakak shalih–shalihah memahami berbagai hal penting yang berkaitan dengan salat Idulfitri.
Beliau menjelaskan bahwa waktu pelaksanaan salat Idulfitri dimulai sejak matahari terbit hingga sebelum waktu zuhur. Ini berbeda dengan salat Jumat yang dilaksanakan pada waktu zuhur.
Selain waktu pelaksanaan, terdapat juga perbedaan dalam jumlah takbir pada salat Idulfitri.
Pada rakaat pertama terdapat tujuh kali takbir, dan jika ditambah dengan takbiratul ihram, maka jumlahnya menjadi delapan kali takbir. Setelah itu dilanjutkan dengan membaca surah pendek, dan yang disunnahkan adalah Surah Al-A’la.
Sedangkan pada rakaat kedua, terdapat lima kali takbir. Jika ditambah dengan takbiratul qiyam, jumlahnya menjadi enam kali takbir.
Agar penjelasan semakin mudah dipahami, Pak Ali kemudian mengajak Kak Syabil dan Kak Nadhif untuk maju ke depan menjadi model praktik salat Idulfitri. Dengan contoh langsung, kakak shalih–shalihah dapat melihat secara jelas urutan gerakan dan bacaan salat Idulfitri.
Pak Ali juga mengajarkan niat salat Idulfitri, yaitu:
“Ushalli sunnatan li ‘iidil fithri rak‘ataini ma’muuman lillaahi ta‘aalaa.”
Artinya: Saya niat salat sunnah Idulfitri dua rakaat sebagai makmum karena Allah Ta’ala.
Di akhir sesi, Pak Ali juga mengingatkan beberapa sunnah sebelum melaksanakan salat Idulfitri, di antaranya:
- Makan terlebih dahulu sebelum berangkat salat
- Mandi untuk menyambut Idulfitri dengan niat karena Allah Ta’ala
- Berhias secukupnya, mengenakan pakaian terbaik dan wewangian
- Berjalan kaki menuju tempat salat, serta dianjurkan mengambil jalur berbeda saat berangkat dan pulang
- Mengumandangkan takbir sebagai bentuk pengagungan kepada Allah
Penjelasan ini menjadi bekal berharga bagi kakak shalih–shalihah agar dapat menyambut Idulfitri dengan pemahaman yang benar.
Penampilan Bermakna dari Peserta Terbaik
Setelah sesi penguatan materi, acara dilanjutkan dengan penampilan istimewa dari para peserta terbaik Festival Ramadan.
Salah satu penampilan yang menarik perhatian adalah ceramah dari Kak Akhtar, yang menjadi peserta terbaik Da’i Cilik kelas tinggi. Dalam ceramahnya, Kak Akhtar menyampaikan pesan tentang pentingnya adab seorang anak kepada orang tua dan guru.
Ia mengingatkan bahwa ridha Allah sangat bergantung pada ridha orang tua, sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW. Pesan yang sederhana namun penuh makna ini disampaikan dengan penuh percaya diri.

Selanjutnya, suasana menjadi lebih meriah dengan penampilan Kak Sena dan Kak Balya yang menyanyikan lagu Rukun Iman. Lagu tersebut mengajak semua yang hadir untuk kembali mengingat dasar-dasar keimanan dalam Islam.
Tidak kalah menarik, Kak Ayra tampil membawakan cerita Islami tentang Nabi Nuh AS, nabi yang dikenal dengan kisah bahteranya yang menyelamatkan orang-orang beriman dari banjir besar.
Penampilan lain datang dari Kak Ihsan, yang menyampaikan ceramah bertema Nuzulul Qur’an, serta Kak Ganendra yang bercerita tentang salah satu sahabat Rasulullah, Usamah bin Zaid, seorang pemimpin muda yang dipercaya Rasulullah memimpin pasukan di usia yang sangat muda.
Acara penampilan ditutup dengan duet merdu dari Kak Naura dan Kak Neyva, yang membawakan lagu Islami dengan penuh penghayatan.
Puncak Festival Ramadan: Pengumuman Peserta Terbaik
Momen yang paling ditunggu-tunggu akhirnya tiba: pengumuman pemenang Festival Ramadan Calon Pemimpin Muslim. Sorak sorai dan tepuk tangan meriah mengiringi setiap nama yang dipanggil. Berikut daftar peserta terbaik dalam berbagai cabang lomba:
1. Festival Azan
A. Kelas Rendah
- Juara 1: Fatih (2A)
- Juara 2: Zaky (3A)
- Juara 3: Dipa (2A)
B. Kelas Tinggi
- Juara 1: Royan (5)
- Juara 2: Naoki (4B)
- Juara 3: Farabi (6)
2. Festival Da’i Cilik
A. Kelas Rendah
- Juara 1: Ihsan (3B)
- Juara 2: Alin (3A)
- Juara 3: Hafsa (3B)
B. Kelas Tinggi
- Juara 1: Akhtar (5)
- Juara 2: Hasna (4A)
- Juara 3: Zahra (6)
3. Festival Kaligrafi
A. Kelas Rendah
- Juara 1: Afsenia (3A)
- Juara 2: Jezira (3A)
- Juara 3: Feisya (3B)
B. Kelas Tinggi
- Juara 1: Al Kindi (4A)
- Juara 2: Damar (4B)
- Juara 3: Ghaza (5)
4. Festival Tahfiz
A. Kelas Rendah
- Juara 1: Hisyam (3B)
- Juara 2: Oki (1C)
- Juara 3: Kaira (1B)
B. Kelas Tinggi
- Juara 1: Hya (5)
- Juara 2: Banyu (5)
- Juara 3: Fakhri (4B)
5. Festival Duet Islami
A. Kelas Rendah
- Juara 1: Sena – Hanya (2A)
- Juara 2: Gentala – Jaziel (3A)
- Juara 3: Rama – Karuna (1A)
B. Kelas Tinggi
- Juara 1: Naura – Neyva (4B)
- Juara 2: Satria – Gesang (5)
- Juara 3: Syabil – Aqasha (6)
6. Cerita Islami
A. Kelas Rendah
- Juara 1: Aira (3B)
- Juara 2: Hanif (3A)
- Juara 3: Abim (3B)
B. Kelas Tinggi
- Juara 1: Ganendra (4A)
- Juara 2: Aleena (4A)
- Juara 3: Sophia (4B)
7. Pengetahuan PAI & BTQ
A. Kelas Rendah
- Juara 1: Rafif (3A)
- Juara 2: Nura (2A)
- Juara 3: Rumaisa (1B)
B. Kelas Tinggi
- Juara 1: Thalita (5)
- Juara 2: Moza (4A)
- Juara 3: Lina (4B)
8. Festival Tartil
Khusus untuk festival ini hanya diperuntukkan bagi kelas tinggi, terutama yang sudah belajar Qiraaty Juz 27 dan Ghorib. Dan inilah para peserta terbaiknya:
- Juara 1: Yossi (5)
- Juara 2: Nadhif (6)
- Juara 3: Allea (5)
Menumbuhkan Calon Pemimpin Muslim
Puncak Festival Ramadan bukan hanya tentang memenangkan perlombaan. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi sarana bagi siswa untuk belajar percaya diri, berani tampil, serta menyalurkan bakat dan potensi yang dimiliki.
Dari panggung kecil tempat mereka membaca Al-Qur’an, bercerita tentang kisah para nabi, hingga menyampaikan ceramah, tumbuh benih-benih calon pemimpin Muslim masa depan. Generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak mulia, keberanian, dan semangat untuk menyebarkan kebaikan.
Karena sejatinya, Ramadan adalah waktu terbaik untuk melatih diri menjadi pribadi yang lebih baik, dan melalui kegiatan seperti inilah nilai-nilai tersebut mulai ditanamkan sejak dini kepada kakak shalih–shalihah di SD Islam Bintang Juara.*** (CM-MRT)