fbpx
Belajar Tertib Berlalu Lintas Melalui BBOT Kelas 2C SD Islam Bintang Juara Bersama Ayah Kak Arkan

Belajar Tertib Berlalu Lintas Melalui BBOT Kelas 2C SD Islam Bintang Juara Bersama Ayah Kak Arkan

Pernahkah Ayah Bunda mengajak anak berjalan kaki di trotoar, menunggu kendaraan di tepi jalan, atau menyeberang saat bepergian bersama keluarga? Aktivitas yang terlihat sederhana ini ternyata menyimpan pelajaran penting tentang keselamatan, kedisiplinan, dan kepedulian terhadap sesama pengguna jalan.

Belajar Tertib Berlalu Lintas, Dimulai dari Kebiasaan Kecil

Memahami aturan lalu lintas bukan hanya tentang mengenali simbol pada rambu-rambu. Anak juga perlu belajar kapan harus berhenti, di mana seharusnya berjalan, serta bagaimana memastikan keadaan aman sebelum menyeberang jalan.

Semangat itulah yang menjadi bagian dari kegiatan BBOT (Belajar Bersama Orang Tua) Kelas 2C SD Islam Bintang Juara pada Jumat, 16 Oktober 2026, dengan tema “Aku Anak Tertib Berlalu Lintas”.

Kegiatan ini menghadirkan AKBP Muhammad Rosid Ridho, S.I.K., ayah dari Kak Arkan, yang turut didampingi oleh Bunda Kak Arkan. Melalui kegiatan ini, para siswa mendapatkan kesempatan untuk belajar langsung mengenai keselamatan berlalu lintas dengan cara yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Kegiatan BBOT kali ini juga berkaitan dengan Project-Based Learning (PjBL) Lalu Lintas, sehingga pembelajaran di kelas menjadi lebih bermakna melalui pengenalan materi dan praktik secara langsung.

Mengenal Rambu Lalu Lintas Melalui Poster

Kegiatan diawali dengan pengenalan berbagai rambu lalu lintas. Ayah Kak Arkan membagikan poster kepada para siswa sebagai media belajar untuk membantu mereka mengenali rambu dan memahami pentingnya aturan di jalan.

Melalui poster, anak-anak dapat mengamati bentuk dan simbol rambu yang biasa dijumpai ketika bepergian. Media visual seperti ini membantu menghubungkan materi pembelajaran dengan situasi nyata yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari.

Rambu lalu lintas bukan sekadar tanda yang dipasang di pinggir jalan. Setiap rambu memiliki fungsi untuk memberikan petunjuk, peringatan, atau larangan demi menjaga ketertiban dan keselamatan pengguna jalan.

Dengan mengenal rambu sejak usia sekolah dasar, anak-anak mulai belajar bahwa setiap pengguna jalan memiliki aturan yang perlu dipatuhi. Mereka juga diajak memahami bahwa menaati aturan bukan semata-mata karena takut ditegur, melainkan karena keselamatan diri sendiri dan orang lain harus menjadi prioritas.

Pembelajaran ini menjadi bekal penting agar anak semakin sadar bahwa sikap tertib perlu diterapkan setiap kali berada di lingkungan jalan raya.

Praktik Isyarat Berhenti dari Depan dan Belakang

Tidak berhenti pada pengenalan poster, Ayah Kak Arkan juga mengajak para siswa mempraktikkan cara memberikan isyarat berhenti dari arah depan dan belakang.

Melalui praktik ini, anak-anak mendapat kesempatan untuk mencoba gerakan secara langsung, bukan hanya mendengarkan penjelasan. Mereka belajar memperhatikan posisi tubuh, memahami isyarat, serta mengenali bahwa komunikasi di jalan memiliki peran penting dalam keselamatan.

Pengalaman praktik membantu anak menghubungkan pengetahuan dengan tindakan. Anak tidak hanya mengetahui bahwa ada isyarat tertentu dalam situasi lalu lintas, tetapi juga memperoleh gambaran tentang bagaimana isyarat tersebut diperagakan.

Pembelajaran seperti ini menjadi bagian penting dalam PjBL Lalu Lintas. Anak memperoleh pengalaman belajar yang lebih konkret melalui kegiatan mengamati, mendengarkan, dan mencoba.

Tentu saja, praktik yang dilakukan di lingkungan pembelajaran merupakan pengenalan awal. Ketika berada di jalan raya yang sebenarnya, anak tetap perlu didampingi orang dewasa dan mengikuti aturan keselamatan yang berlaku.

galeri BBOT Kelas 2C belajar berlalu lintas

Memahami Aturan di Trotoar dan Jalan Raya

Selanjutnya, para siswa diajak memahami perbedaan fungsi trotoar dan jalan raya.

Trotoar merupakan ruang yang diperuntukkan bagi pejalan kaki. Karena itu, ketika berjalan di tepi jalan yang memiliki trotoar, anak perlu dibiasakan menggunakannya, bukan berjalan di jalur kendaraan.

Sementara itu, jalan raya merupakan ruang pergerakan berbagai kendaraan yang memiliki potensi bahaya bagi pejalan kaki. Anak perlu memahami bahwa bermain, berlari tanpa memperhatikan keadaan, atau berjalan sembarangan di jalur kendaraan bukanlah tindakan yang aman.

Melalui pengenalan ini, siswa belajar bahwa setiap bagian jalan memiliki fungsi masing-masing. Memahami fungsi tersebut membantu anak mengetahui tempat yang tepat untuk berjalan dan mengapa mereka harus berhati-hati ketika berada di dekat kendaraan.

Pembiasaan sederhana, seperti berjalan di trotoar, tetap berada dekat orang dewasa saat bepergian, serta tidak bermain di jalan raya, dapat menjadi langkah awal untuk menanamkan perilaku tertib berlalu lintas.

Belajar Menyeberang Jalan dengan Aman

Salah satu keterampilan penting yang perlu dipahami anak adalah tata cara menyeberang jalan.

Dalam kegiatan BBOT ini, siswa diajak mengenal pentingnya menyeberang dengan memperhatikan kondisi lalu lintas dan memilih tempat yang aman. Pengetahuan ini perlu dilatih secara berulang agar anak tidak menyeberang hanya karena melihat orang lain melakukannya.

Secara umum, beberapa kebiasaan yang perlu dikenalkan kepada anak ketika menyeberang jalan antara lain:

  • Berhenti sejenak sebelum menyeberang. Jangan langsung melangkah ke jalan tanpa memperhatikan keadaan.
  • Pilih tempat penyeberangan yang aman. Gunakan zebra cross atau fasilitas penyeberangan yang tersedia.
  • Perhatikan kondisi lalu lintas. Lihat keadaan jalan dan pastikan kendaraan berhenti atau situasi benar-benar aman.
  • Menyeberang bersama orang dewasa. Anak usia sekolah dasar tetap perlu didampingi, terutama ketika menghadapi jalan yang ramai.
  • Tetap waspada selama menyeberang. Hindari bermain atau menggunakan gawai ketika berada di jalan.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia juga menyediakan materi edukasi tentang cara aman menyeberang jalan untuk membantu memperkuat pemahaman keselamatan pada anak. Baca materi Cara Aman Menyeberang Jalan.

Melalui pembelajaran ini, anak diharapkan semakin memahami bahwa menyeberang jalan membutuhkan perhatian dan kehati-hatian. Keberanian saja tidak cukup; keselamatan harus menjadi pertimbangan utama.

BBOT kelas 2C

BBOT dan PjBL: Pembelajaran yang Dekat dengan Kehidupan Anak

Kegiatan BBOT merupakan salah satu kesempatan untuk menghadirkan pengalaman dan pengetahuan orang tua ke dalam proses pembelajaran di sekolah. Anak dapat belajar dari pengalaman nyata, sementara orang tua turut mengambil peran dalam mendukung pendidikan.

Pada BBOT Kelas 2C kali ini, keterkaitan dengan PjBL Lalu Lintas membuat materi yang dipelajari terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Rambu-rambu, trotoar, jalan raya, dan tata cara menyeberang bukanlah hal yang hanya dibahas dalam buku. Semuanya dapat ditemukan ketika anak berangkat sekolah, berjalan bersama keluarga, atau bepergian menggunakan kendaraan.

Pembelajaran berbasis pengalaman seperti ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengamati, mencoba, dan menghubungkan pengetahuan dengan situasi nyata. Anak pun memiliki bekal untuk menerapkan kebiasaan tertib berlalu lintas dalam aktivitas sehari-hari.

Lebih dari sekadar memahami aturan, anak belajar tentang disiplin, tanggung jawab, kehati-hatian, dan kepedulian terhadap keselamatan orang lain.

Menumbuhkan Generasi yang Tertib dan Bertanggung Jawab

Melalui kegiatan BBOT bertema “Aku Anak Tertib Berlalu Lintas”, siswa Kelas 2C SD Islam Bintang Juara diajak memahami bahwa keselamatan di jalan merupakan tanggung jawab bersama.

Terima kasih kepada AKBP Muhammad Rosid Ridho, S.I.K., ayah Kak Arkan, beserta Bunda Kak Arkan, yang telah berbagi pengetahuan dan mendampingi proses belajar para siswa. Kehadiran orang tua dalam kegiatan pembelajaran menjadi salah satu bentuk sinergi antara keluarga dan sekolah untuk mendukung tumbuh kembang anak.

Semoga pengalaman belajar ini menjadi langkah kecil yang bermakna dalam membiasakan anak menaati aturan, berhati-hati saat berada di jalan, dan peduli terhadap keselamatan diri sendiri maupun orang lain.

Karena menjadi anak tertib berlalu lintas bukan hanya tentang mengetahui aturan, tetapi juga membiasakan diri untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

SD Islam Bintang Juara terus berupaya menghadirkan pembelajaran yang bermakna untuk menumbuhkan generasi muslim yang berilmu, berakhlakul karimah, disiplin, dan bermanfaat bagi sesama.*** (CM-MRT)

Belajar Memahami Perkembangan Anak Melalui School Touring SD Islam Bintang Juara

Belajar Memahami Perkembangan Anak Melalui School Touring SD Islam Bintang Juara

Memilih sekolah untuk anak bukan sekadar menentukan tempat belajar membaca, menulis, dan berhitung. Ada hal lain yang tak kalah penting: bagaimana anak belajar bersosialisasi, mengelola emosi, membangun kebiasaan baik, dan tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak mulia.

Karena itu, mengenal sekolah secara langsung menjadi langkah penting bagi orang tua sebelum menentukan pilihan pendidikan untuk buah hati.

Semangat inilah yang terasa dalam kegiatan School Touring Batch 1 SD Islam Bintang Juara yang merupakan rangkaian SPMB TP. 2027/2028 pada Selasa, 6 Oktober 2026. Melalui kegiatan ini, sekitar 30 pasang calon orang tua siswa mendapat kesempatan untuk melihat lebih dekat suasana pembelajaran, mengenal manfaat program-program sekolah, sekaligus berdiskusi mengenai perkembangan anak bersama Bunda Vivi Psikolog.

Tidak hanya tentang pembelajaran di kelas, kegiatan ini juga membuka ruang diskusi mengenai persoalan yang kerap menjadi perhatian orang tua, salah satunya bagaimana memahami dan menyikapi konflik antaranak di lingkungan sekolah.

Mengenal Sekolah Bukan Hanya dari Brosur

Informasi tentang sekolah memang dapat diperoleh melalui website, media sosial, maupun brosur. Namun, melihat langsung proses pembelajaran memberikan pengalaman yang berbeda.

Dalam School Touring, orang tua berkesempatan mengamati bagaimana kegiatan belajar berlangsung, bagaimana guru mendampingi siswa, serta bagaimana nilai-nilai pendidikan diterapkan dalam keseharian.

SD Islam Bintang Juara mengembangkan pembelajaran yang tidak hanya berfokus pada penguatan akademik, tetapi juga pada pembentukan adab, akhlak, kecakapan hidup, dan nilai-nilai kepemimpinan Islam. Proses pendidikan dirancang agar anak dapat belajar sesuai tahap perkembangannya sekaligus membangun kebiasaan baik yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui penjelasan mengenai program-program sekolah, orang tua diajak memahami bahwa setiap kegiatan memiliki tujuan pendidikan. Anak tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga mendapat kesempatan untuk melatih kemandirian, kreativitas, fokus, kontrol diri, dan kemampuan bekerja sama.

Dengan melihat langsung lingkungan belajar, orang tua dapat memperoleh gambaran yang lebih utuh tentang proses pendidikan yang akan dijalani anak.

Memahami Perkembangan Anak Bersama Bunda Vivi Psikolog

Salah satu sesi yang menjadi bagian penting dari School Touring Batch 1 adalah diskusi mengenai tumbuh kembang anak bersama Bunda Vivi Psikolog.

Setiap anak memiliki karakter, pengalaman, dan tahap perkembangan yang berbeda. Karena itu, perilaku yang muncul dalam keseharian perlu dipahami dengan melihat konteksnya, bukan hanya dari apa yang terlihat di permukaan.

Anak yang marah ketika mainannya diambil, misalnya, mungkin masih belajar menyampaikan keinginan dengan tepat. Anak yang kesulitan menunggu giliran bisa jadi masih membutuhkan pendampingan untuk mengembangkan kontrol diri. Sementara itu, perilaku yang menyakiti teman tetap perlu dihentikan dan diarahkan agar anak memahami batasan serta dampak tindakannya.

Di sinilah pentingnya peran orang dewasa. Orang tua dan guru perlu membantu anak mengenali emosi, memahami aturan, belajar menyampaikan kebutuhan, serta menemukan cara yang lebih baik untuk menyelesaikan masalah.

Memahami perkembangan anak bukan berarti membiarkan perilaku yang tidak tepat. Sebaliknya, pemahaman tersebut membantu orang dewasa memberikan respons yang lebih sesuai dengan kebutuhan anak, tanpa mengabaikan keamanan dan kenyamanan orang lain.

galeri kegiatan school touring batch 1 spmb 20272028

Mengapa Anak Tidak Boleh Terburu-buru Diberi Label?

Dalam diskusi mengenai persoalan antaranak, Kepala SD Islam Bintang Juara, Bu Ni’mah, mengingatkan bahwa orang dewasa tidak seharusnya terburu-buru melabeli seorang anak sebagai pelaku bullying ketika terjadi perselisihan.

Sebelum mengambil kesimpulan, kita perlu memahami apa yang sebenarnya terjadi. Apakah anak sedang mengalami konflik dengan temannya? Apakah ia kesulitan mengendalikan emosi? Apakah perilaku tersebut sudah terjadi berulang kali? Adakah ketimpangan kekuatan di antara anak-anak yang terlibat?

Pertanyaan-pertanyaan ini penting agar respons yang diberikan tidak keliru.

Konflik dapat terjadi ketika kontrol diri anak masih berkembang

Pada usia sekolah dasar, kemampuan mengelola emosi, mengendalikan impuls, dan menyelesaikan masalah masih perlu terus dilatih. Ketika keinginannya tidak terpenuhi, anak mungkin bereaksi secara spontan, seperti merebut barang, berteriak, mendorong, atau mengucapkan kata-kata yang menyakiti temannya.

Sebagian anak masih membutuhkan banyak kesempatan untuk berlatih menunggu giliran, menerima penolakan, berbagi, dan mengungkapkan perasaan dengan kata-kata yang tepat.

Dukungan terhadap perkembangan sensori motorik juga menjadi salah satu bagian dari stimulasi yang dapat diberikan sesuai kebutuhan anak. Melalui aktivitas seperti bergerak, bermain di luar ruangan, menyusun balok, melakukan permainan koordinasi, dan kegiatan fisik terarah, anak memperoleh kesempatan untuk melatih kemampuan tubuh serta belajar merespons rangsangan dan situasi dengan lebih terarah.

Namun, stimulasi sensori motorik bukan satu-satunya cara untuk mengatasi kesulitan kontrol diri. Anak tetap membutuhkan pendampingan dalam mengenali emosi, memahami aturan, berkomunikasi, dan memperbaiki perilaku yang keliru.

Konflik dan bullying perlu dibedakan

Konflik antarteman dapat muncul karena perbedaan keinginan, kesalahpahaman, atau kemampuan bekerja sama yang masih berkembang. Sementara itu, bullying atau perundungan memiliki karakteristik yang lebih spesifik.

Menurut StopBullying.gov, bullying melibatkan perilaku agresif yang tidak diinginkan, adanya ketimpangan kekuatan, serta perilaku yang terjadi berulang kali atau berpotensi berulang. Bentuknya dapat berupa tindakan fisik, ucapan yang menyakitkan, ancaman, penyebaran rumor, maupun pengucilan yang disengaja. Baca penjelasan tentang karakteristik bullying.

Meskipun demikian, bukan berarti konflik biasa boleh diabaikan. Perilaku seperti memukul, mendorong, atau menghina tetap perlu ditangani, sekalipun belum memenuhi karakteristik bullying.

Yang perlu dihindari adalah memberi label pada identitas anak sebelum memahami situasinya. Anak perlu belajar bertanggung jawab atas perilakunya, tetapi ia juga membutuhkan kesempatan untuk memperbaiki diri.

Pendekatan yang lebih tepat adalah berfokus pada tindakan yang terjadi, mendengarkan pihak-pihak yang terlibat, memastikan semua anak aman, dan memberikan pendampingan yang sesuai. StopBullying.gov juga mengingatkan pentingnya memahami situasi sebelum menentukan apakah suatu kejadian termasuk bullying. Pelajari panduan merespons bullying.

Dengan cara ini, orang dewasa tidak hanya berusaha menghentikan masalah yang sedang terjadi, tetapi juga membantu anak belajar menyelesaikan persoalan dengan lebih sehat.

Pengaruh Gadget terhadap Perilaku Anak: Apa yang Perlu Diwaspadai?

Selain interaksi langsung dengan teman, lingkungan digital juga menjadi hal yang perlu diperhatikan dalam memahami perilaku anak.

Dari berbagai kejadian yang ditemui di lingkungan sekolah, terdapat anak-anak yang menggunakan kosakata buruk atau menunjukkan perilaku kasar yang menyerupai hal-hal yang mereka lihat dalam video maupun permainan digital.

Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa konten yang dikonsumsi anak perlu mendapat perhatian serius. Anak bisa meniru kata-kata, gaya bicara, gerakan, maupun cara menyelesaikan masalah yang dilihatnya. Sementara itu, kemampuan mereka untuk menilai apakah suatu perilaku pantas ditiru masih terus berkembang.

Hal ini bukan berarti setiap anak yang menggunakan gadget pasti akan menunjukkan perilaku negatif. Namun, tanpa pemilihan konten dan pendampingan yang memadai, anak dapat terpapar bahasa atau perilaku yang belum sesuai dengan usianya.

Karena itu, mengontrol penggunaan gadget bukan hanya soal membatasi durasi, tetapi juga memastikan apa yang ditonton dan dimainkan anak.

Apa yang dapat dilakukan orang tua di rumah?

Ada beberapa langkah yang dapat diterapkan untuk membantu anak membangun kebiasaan digital yang lebih sehat.

1. Periksa konten sebelum diberikan kepada anak.

Jangan hanya melihat judul atau tampilan awal video. Perhatikan juga bahasa, adegan, dan perilaku yang muncul di dalamnya. Hal serupa berlaku untuk permainan digital yang dimainkan anak.

2. Dampingi anak saat menggunakan gadget.

Sesekali, orang tua dapat menonton atau bermain bersama anak. Jika muncul kata-kata kasar atau tindakan yang tidak pantas, jelaskan dengan bahasa sederhana mengapa perilaku tersebut tidak baik untuk ditiru.

3. Buat aturan penggunaan gadget yang konsisten.

Tentukan kapan anak boleh menggunakan perangkat, berapa lama penggunaannya, serta situasi ketika gadget perlu disimpan, misalnya saat makan, belajar, beribadah, atau berinteraksi bersama keluarga.

4. Sediakan kegiatan alternatif yang menarik.

Anak tetap membutuhkan kesempatan untuk bergerak, bermain bersama teman, membaca buku, membuat karya, dan melakukan aktivitas fisik. Kegiatan-kegiatan ini memberi ruang bagi anak untuk belajar melalui pengalaman nyata dan interaksi langsung.

5. Berikan teladan dalam berkata dan bersikap.

Anak belajar dari apa yang dilihatnya setiap hari, termasuk cara orang dewasa berbicara ketika marah, menyelesaikan perselisihan, dan menggunakan perangkat digital. Keteladanan di rumah menjadi bagian penting dari pendidikan karakter.

Pendampingan ini tidak perlu dilakukan dengan memarahi anak setiap kali ia meniru sesuatu yang kurang tepat. Orang tua dapat menjadikan momen tersebut sebagai kesempatan untuk menjelaskan, mengarahkan, dan membangun kebiasaan yang lebih baik.

Pendidikan Anak Membutuhkan Kerja Sama Sekolah dan Orang Tua

Sekolah memiliki peran dalam mendampingi anak belajar, membangun adab, mengembangkan kontrol diri, dan menciptakan lingkungan yang aman. Namun, proses tersebut tidak berhenti ketika anak pulang ke rumah.

Apa yang dibiasakan di sekolah perlu diperkuat melalui pendampingan keluarga. Sebaliknya, kebiasaan dan pengalaman anak di rumah juga penting untuk dipahami oleh guru agar pendampingan yang diberikan dapat berjalan lebih selaras.

Ketika sekolah menemukan perilaku yang perlu mendapat perhatian, komunikasi dengan orang tua membantu kedua pihak memahami situasi secara lebih utuh. Orang tua pun dapat menyampaikan kebiasaan anak di rumah, termasuk pola penggunaan gadget dan jenis konten yang dikonsumsi.

Kerja sama ini bukan untuk saling menyalahkan, melainkan untuk mencari langkah yang paling bermanfaat bagi perkembangan anak.

Dengan komunikasi yang terbuka dan konsisten, sekolah dan keluarga dapat membantu anak memahami batasan, mengelola emosi, menghargai orang lain, serta belajar bertanggung jawab atas tindakannya.

Pada akhirnya, tujuan pendidikan bukan sekadar membuat anak mengetahui mana perilaku yang benar dan salah. Lebih dari itu, anak perlu dibimbing agar memahami alasan di balik aturan, mampu memperbaiki kesalahan, dan tumbuh menjadi pribadi yang berilmu, berakhlakul karimah, serta bermanfaat bagi sesama.

Nilai-nilai inilah yang terus diupayakan melalui proses pendidikan di SD Islam Bintang Juara.

Yuk, Kenali SD Islam Bintang Juara Lebih Dekat!

School Touring Batch 1 pada Selasa, 6 Oktober 2026 menjadi kesempatan bagi calon orang tua siswa untuk melihat langsung proses pembelajaran, mengenal program-program sekolah, dan berdiskusi mengenai perkembangan anak bersama Bunda Vivi Psikolog.

Bagi Ayah Bunda yang belum berkesempatan hadir, masih ada kesempatan untuk mengenal SD Islam Bintang Juara lebih dekat melalui School Touring Batch 2 pada Selasa, 20 Oktober 2026.

SD School Touring Batch 2

Mari mengenal lebih dekat lingkungan belajar yang mendukung tumbuh kembang anak, menguatkan nilai-nilai Islami, dan menumbuhkan karakter calon pemimpin muslim masa depan.

Untuk informasi dan pendaftaran School Touring Batch 2, Ayah Bunda dapat menghubungi admin SD Islam Bintang Juara melalui kanal resmi sekolah.

Sebab, memilih sekolah bukan hanya tentang tempat anak menuntut ilmu, tetapi juga tentang lingkungan tempat mereka belajar menjadi pribadi yang lebih baik.*** (CM-MRT)

Ketenangan Orang Tua Menumbuhkan Kematangan Perkembangan Anak, Pesan Parenting SD Islam Bintang Juara

Ketenangan Orang Tua Menumbuhkan Kematangan Perkembangan Anak, Pesan Parenting SD Islam Bintang Juara

Pernahkah Ayah Bunda menghadapi situasi ketika anak tidak mau makan, sulit diminta melakukan sesuatu, atau bertengkar dengan saudaranya? Dalam kondisi lelah dan terburu-buru, suara orang tua mungkin meninggi. Nasihat berubah menjadi bentakan, sementara persoalan yang semula sederhana justru berakhir dengan tangisan dan suasana yang tidak nyaman.

Setelah semuanya berlalu, terkadang muncul pertanyaan dalam hati, “Tadi seharusnya aku bisa merespons dengan lebih baik, ya?”

Mengasuh anak memang bukan perjalanan yang selalu mudah. Orang tua juga memiliki emosi, tanggung jawab, kelelahan, dan persoalan yang perlu diselesaikan. Namun, di tengah berbagai tantangan tersebut, ada satu hal penting yang perlu terus dipelajari: bagaimana menjaga ketenangan agar dapat mendampingi anak dengan lebih bijaksana.

Inilah pesan utama dalam kegiatan Parenting Wali Murid Kelas 1 SD Islam Bintang Juara pada Sabtu, 3 Oktober 2026, dengan tema “Ketenangan Orang Tua Menumbuhkan Kematangan Perkembangan Anak”. Materi disampaikan oleh Bunda Dyah Indah Noviyani, S.Psi., M.Psi., Psikolog atau yang akrab dipanggil dengan Bunda Vivi Psikolog.

Kegiatan dipandu oleh Bu Dina sebagai pembawa acara dan diawali dengan doa yang dipimpin oleh Pak Fachry. Sebelum memasuki materi utama, Bu Nur Shofwatin Ni’mah, S.Pd., Gr., selaku Kepala SD Islam Bintang Juara menyampaikan pesan bermakna mengenai perkembangan siswa kelas 1 selama setengah semester menjalani pembelajaran di sekolah.

Melalui pertemuan ini, orang tua diajak melihat bahwa mendampingi anak bukan hanya tentang mengoreksi perilakunya, tetapi juga tentang kesediaan orang dewasa untuk terus belajar, mengevaluasi diri, dan bertumbuh bersama anak.

Pesan Bermakna Bu Ni’mah: Belajar Menali Sepatu, Belajar Mengelola Emosi

Dalam pengantarnya, Bu Ni’mah mengajak wali murid melihat perkembangan anak kelas 1 melalui pengalaman sederhana yang terjadi dalam keseharian di sekolah. Salah satunya adalah proses belajar menali sepatu.

Bagi orang dewasa, mengikat tali sepatu mungkin terlihat seperti keterampilan kecil yang mudah dilakukan. Namun, bagi anak yang sedang belajar mandiri, kegiatan tersebut membutuhkan koordinasi gerakan jari, ketelitian, konsentrasi, kesabaran, dan latihan berulang.

Ketika tali sepatu belum berhasil diikat, anak mungkin merasa kesal. Ketika simpulnya terlepas, ia perlu mencoba kembali. Ketika hasilnya berbeda dari yang diharapkan, ia belajar menghadapi rasa kecewa.

Di balik aktivitas sederhana itu, terdapat kesempatan bagi anak untuk melatih keterampilan motorik sekaligus belajar menghadapi emosi ketika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginannya.

Pengalaman tersebut mengingatkan orang tua bahwa proses perkembangan anak tidak selalu berlangsung secepat yang diharapkan orang dewasa. Ada keterampilan yang perlu dilatih berkali-kali, ada kesalahan yang perlu diperbaiki, dan ada emosi yang masih perlu didampingi.

Bu Ni’mah juga menyoroti proses anak dalam meminta dan memberikan maaf. Terkadang, persoalan yang telah berlalu masih diungkit kembali hingga beberapa hari kemudian, bahkan setelah satu minggu.

Hal ini menjadi pengingat bahwa memahami sebuah kesalahan, menerima permintaan maaf, dan belajar berdamai dengan perasaan membutuhkan proses. Anak tidak selalu langsung mampu menuntaskan persoalan emosional hanya karena orang dewasa menganggap masalahnya sudah selesai.

Karena itu, anak membutuhkan pendampingan untuk mengenali perasaannya, memahami situasi, serta belajar menyelesaikan konflik secara lebih sehat.

Pesan Bu Ni’mah menjadi pengantar yang kuat bagi materi utama: ketika anak masih belajar mengelola dirinya, orang tua pun perlu belajar mengelola responsnya.

Ketenangan Orang Tua: Mulai Dari Menyadari Anak Terlahir Membawa Fitrah dan Potensi

Mengawali materinya, Bunda Vivi Psikolog mengingatkan bahwa nama yang diberikan kepada anak adalah doa. Di balik sebuah nama, ada harapan, nilai, dan cita-cita yang ingin ditumbuhkan orang tua dalam perjalanan hidup buah hatinya.

Namun, tugas pengasuhan tidak berhenti pada pemberian nama atau harapan baik. Anak juga membutuhkan lingkungan yang mendukung potensi fitrahnya agar dapat berkembang secara optimal.

Dalam materi yang disampaikan, Bunda Vivi mengutip hadis riwayat Bukhari dan Muslim tentang setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Pengasuhan dan lingkungan memiliki peran penting dalam perjalanan perkembangan anak.

Anak memiliki potensi untuk beriman, belajar, mengenal lingkungan, dan membangun pemahaman tentang kehidupan. Hal itu tampak dalam keseharian mereka yang penuh rasa ingin tahu: banyak bertanya, mencoba berbagai hal, bergerak aktif, dan sesekali melakukan kesalahan.

Perilaku tersebut tidak selalu berarti anak sedang membangkang atau sengaja menyulitkan orang tua. Bisa jadi, ia sedang mengeksplorasi lingkungan, belajar memahami batasan, atau mencoba melakukan sesuatu yang belum dikuasainya.

Karena itulah, Bunda Vivi mengajak orang tua melakukan refleksi sebelum mengoreksi anak.

Apakah perilaku anak memang perlu diarahkan? Apakah orang tua sedang menghadapi persoalan yang membuatnya mudah tersulut? Adakah kelelahan atau emosi yang belum terselesaikan sehingga respons terhadap anak menjadi lebih keras daripada yang diperlukan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan untuk menyalahkan orang tua, melainkan membuka ruang kesadaran bahwa pengasuhan merupakan proses dua arah. Anak membutuhkan bimbingan, sedangkan orang tua membutuhkan kesiapan untuk memberikan bimbingan tersebut.

Reaktif atau Responsif? Dua Cara Menghadapi Perilaku Anak

Salah satu pembahasan penting dalam parenting ini adalah perbedaan antara respons reaktif dan respons responsif.

Dalam situasi yang memancing emosi, orang tua yang reaktif cenderung langsung meledak, meninggikan suara, atau sibuk mencari siapa yang salah. Kritik dapat terasa seperti serangan, sementara masalah yang dihadapi anak justru semakin sulit diselesaikan.

Sebaliknya, sikap responsif berarti berusaha mengelola emosi, memahami situasi, dan mencari solusi dengan lebih tenang serta bijaksana.

Bayangkan ketika anak menolak makan.

Respons reaktif mungkin berupa bentakan, ancaman, atau desakan agar anak segera menghabiskan makanannya. Respons responsif dimulai dengan berhenti sejenak, memahami apa yang terjadi, kemudian mengajak anak berbicara dengan nada yang lebih terkendali.

Bukan berarti orang tua harus selalu menyetujui keinginan anak. Batasan tetap diperlukan. Namun, batasan dapat disampaikan tanpa mempermalukan, menakut-nakuti, atau meluapkan kemarahan secara berlebihan.

Bunda Vivi menegaskan bahwa anak tidak belajar mengelola emosi hanya dari ceramah atau nasihat, tetapi juga dari cara orang tua merespons dan bereaksi dalam kehidupan sehari-hari.

Sejak bayi, anak mulai mengenali pola emosi melalui ekspresi wajah, bahasa tubuh, ucapan, dan tindakan orang-orang terdekatnya. Cara orang tua menghadapi kekecewaan, konflik, dan kelelahan menjadi bagian dari pengalaman yang diamati anak.

Artinya, ketika orang tua ingin anak belajar berbicara dengan tenang, meminta maaf, atau menghadapi masalah tanpa melukai orang lain, orang tua juga perlu berusaha memperlihatkan keterampilan tersebut.

Ketenangan Orang Tua dan Perkembangan Emosi Anak

Ketenangan bukan berarti orang tua tidak pernah marah. Orang tua tetap manusia yang bisa merasa kesal, kecewa, sedih, dan lelah.

Yang penting adalah kemampuan mengenali emosi tersebut, tidak bereaksi secara berlebihan, dan memilih tindakan yang lebih bijaksana.

Dalam materinya, Bunda Vivi memperkenalkan konsep emotion coaching, yaitu pendampingan agar anak mampu mengenali, memahami, dan mengelola emosinya dengan bantuan orang dewasa.

Pendekatan ini sejalan dengan penelitian tentang pelatihan orang tua berbasis emotion coaching yang diterbitkan pada 2022. Uji terkontrol terhadap 119 orang tua yang mengalami kesulitan menangani perilaku anak usia sekolah dasar menemukan bahwa kelompok yang mengikuti pelatihan menunjukkan penurunan perilaku oposisi anak dan gejala ADHD yang dilaporkan orang tua, serta peningkatan aspek positif dalam hubungan orang tua dan anak. Temuan ini mendukung pentingnya keterampilan orang tua dalam mendampingi perilaku dan emosi anak. (Sumber: PubMed, 2022)

Dalam praktiknya, anak perlu belajar bahwa semua emosi dapat dikenali dan dibicarakan, tetapi tidak semua perilaku boleh dilakukan.

Anak boleh merasa marah, tetapi tidak boleh memukul. Anak boleh merasa kecewa, tetapi tetap perlu belajar menyampaikan perasaannya tanpa menyakiti orang lain.

Dengan pendampingan yang konsisten, anak mendapatkan kesempatan untuk memahami perbedaan antara perasaan yang sedang dialami dan tindakan yang dipilihnya.

galeri kegiatan parenting kelas 1

Dampak Ketenangan Orang Tua pada Perkembangan Kognitif Anak

Ketenangan dalam pengasuhan tidak hanya berkaitan dengan perkembangan emosi. Materi Bunda Vivi juga membahas kaitannya dengan perkembangan kognitif anak usia sekolah dasar.

Salah satu konsep yang diperkenalkan adalah executive function, yaitu keterampilan kognitif yang membantu anak mengendalikan dorongan, mengatur pikiran dan perilaku, serta memilih respons yang sesuai dengan situasi.

Keterampilan ini mencakup memori kerja (working memory), fleksibilitas kognitif, perencanaan, dan pengambilan keputusan.

Dalam kehidupan sehari-hari, keterampilan tersebut dibutuhkan ketika anak perlu mengikuti instruksi, menyelesaikan tugas, menunggu giliran, berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain, atau mencari solusi saat menghadapi kesulitan.

Materi parenting yang disampaikan Bunda Vivi merujuk pada penelitian Neukomm dan Jacquin (2025) yang melibatkan 481 pasangan orang tua dan anak. Penelitian tersebut melaporkan korelasi positif antara regulasi emosi orang tua dan kemampuan anak dalam memusatkan perhatian serta memori.

Materi juga mengutip penelitian longitudinal Rungsattatharm dan rekan-rekan (2025) yang menganalisis 195 anak ketika berusia sembilan tahun. Pengasuhan positif pada usia empat dan enam tahun—termasuk kehangatan, kepekaan, responsivitas, dukungan, dan interaksi positif—berhubungan dengan lebih sedikit kesulitan fungsi eksekutif dan masalah perilaku, serta regulasi diri dan resiliensi yang lebih baik.

Temuan tersebut menjadi pengingat bahwa pengalaman anak di rumah turut berperan dalam proses perkembangannya. Lingkungan yang mendukung dan interaksi yang positif memberikan kesempatan bagi anak untuk berlatih mengatur diri, menyelesaikan persoalan, dan belajar menghadapi tantangan.

Orang Tua Adalah Guru Pertama dan Utama

Bunda Vivi mengingatkan bahwa rumah merupakan lembaga pendidikan pertama dan utama bagi anak. Di rumah, anak mulai mengenal nilai, prinsip kehidupan, kebiasaan, dan ajaran agama.

Orang tua bukan hanya penyedia kebutuhan fisik, tetapi juga teladan yang diamati anak setiap hari.

Dalam konteks pendidikan Islam, pengasuhan ini berkaitan erat dengan tanggung jawab menjaga keluarga sebagaimana diingatkan dalam QS. At-Tahrim ayat 6. Tanggung jawab tersebut tidak hanya menyangkut keselamatan fisik, tetapi juga pembinaan jiwa, akhlak, dan emosi.

Bunda Vivi juga mengajak orang tua meneladani Rasulullah ﷺ dalam mengelola amarah. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, orang kuat digambarkan bukan semata-mata sebagai orang yang menang dalam pergulatan, melainkan orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.

Nilai ini relevan dalam kehidupan keluarga. Orang tua mungkin memiliki alasan untuk kecewa atau marah, tetapi tetap perlu berusaha memilih kata dan tindakan yang tidak melukai anak.

QS. Ali Imran ayat 134 juga mengingatkan tentang keutamaan menahan amarah dan memaafkan orang lain. Sementara itu, QS. Ali Imran ayat 159 menekankan pentingnya kelembutan dalam berinteraksi.

Melalui nilai-nilai tersebut, anak dapat melihat bahwa pengendalian emosi bukan sekadar keterampilan psikologis, tetapi juga bagian dari pembentukan akhlak seorang muslim.

Tiga Kesalahan Pengasuhan yang Perlu Dievaluasi

Dalam sesi materi, Bunda Vivi mengajak orang tua mengenali beberapa respons yang dapat menghambat proses belajar emosi anak.

Pertama, membentak atau menyuruh anak diam ketika sedang emosi.

Ketika anak sedang menangis atau marah, ia membutuhkan bantuan untuk memahami perasaannya. Bentakan dapat membuat situasi semakin tegang dan menyulitkan percakapan yang sehat.

Kedua, mengabaikan emosi anak atau langsung menawarkan hadiah.

Ketika anak kecewa, orang tua mungkin ingin segera menghentikan tangisnya dengan iming-iming hadiah. Padahal, anak juga perlu belajar mengenali dan menghadapi perasaan yang muncul, bukan hanya mengalihkannya.

Ketiga, menggunakan gadget sebagai penenang instan.

Gadget mungkin dapat mengalihkan perhatian anak untuk sementara. Namun, jika selalu digunakan untuk menghentikan tangisan atau kemarahan, anak kehilangan sebagian kesempatan untuk berlatih mengenali dan mengelola emosinya bersama orang tua.

Emosi anak usia sekolah dasar masih berkembang. Karena itu, mereka membutuhkan orang tua sebagai pelatih emosi, bukan sekadar pemberi perintah.

Tujuannya bukan menghilangkan semua emosi negatif, melainkan membantu anak melewatinya dengan cara yang aman dan konstruktif.

Emotion Coaching: Mendampingi Anak Tanpa Mengabaikan Batasan

Lalu, bagaimana orang tua dapat menjadi pelatih emosi bagi anak?

Bunda Vivi menjelaskan beberapa langkah yang dapat dilakukan dalam pendekatan emotion coaching.

  • Menyadari emosi anak. Perhatikan perubahan ekspresi wajah, gerakan tubuh, ucapan, dan perilaku anak.
  • Melihat emosi sebagai kesempatan untuk terhubung. Ketika anak marah atau sedih, orang tua dapat menggunakan momen tersebut untuk membangun kedekatan dan mengajarkan keterampilan emosi.
  • Mendengarkan dengan empati. Berikan perhatian penuh dan usahakan memahami apa yang dirasakan anak sebelum memberikan nasihat.
  • Membantu anak memberi nama pada emosinya. Misalnya, “Kamu kecewa karena belum mendapat giliran, ya?”
  • Menetapkan batasan dan mencari solusi. Terima perasaannya, tetapi tetap arahkan perilakunya agar aman dan tidak menyakiti orang lain.

Dalam praktiknya, orang tua dapat mengatakan, “Ayah tahu kamu sedang marah karena mainan itu dipakai adik. Kamu boleh marah, tetapi tidak boleh merebut atau memukul. Yuk, kita cari cara agar kalian bisa bergantian.”

Kalimat semacam ini membantu anak merasa didengarkan sekaligus memahami batasan yang perlu dihormati.

Pendekatan emotion coaching juga mendapat dukungan dari penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Affective Science pada 2025. Penelitian tersebut mengamati interaksi ibu dan anak usia tiga hingga empat tahun dan menemukan hubungan dinamis antara pendampingan emosi oleh ibu dan beberapa perilaku regulasi anak, seperti keterlibatan dan kepatuhan pada kondisi tertentu. Hasilnya juga menunjukkan bahwa hubungan tersebut dapat berbeda sesuai usia dan jenis emosi, sehingga pendampingan perlu disesuaikan dengan kebutuhan anak. (Sumber: Affective Science, 2025)

galeri kegiatan parenting kelas 1 part 2

Simulasi Bersama Wali Kelas: Belajar Merespons Situasi Nyata

Materi tidak berhenti pada penjelasan teori. Dalam sesi simulasi, Bu Ni’mah bersama wali kelas 1—Bu Yayuk, Bu Novi, dan Bu Dina—mempraktikkan cara menghadapi berbagai situasi yang mungkin muncul dalam keseharian anak.

Beberapa contoh yang dibahas antara lain ketika anak tidak mau makan atau ketika dua anak berebut sesuatu.

Melalui simulasi tersebut, orang tua mendapatkan kesempatan untuk melihat perbedaan antara respons yang reaktif dan respons yang lebih tenang.

Ketika anak tidak mau makan, misalnya, orang tua dapat mulai dengan memahami situasinya, bukan langsung memarahi. Ketika anak berebut, orang tua dapat membantu mengenali perasaan masing-masing, menetapkan batasan, dan mengarahkan mereka mencari solusi.

Simulasi ini menjadi pengingat bahwa keterampilan pengasuhan perlu dilatih. Mengetahui teori saja belum tentu membuat seseorang mampu menerapkannya ketika sedang lelah atau menghadapi situasi yang memancing emosi.

Karena itu, latihan, refleksi, dan kesediaan untuk mencoba kembali menjadi bagian penting dari perjalanan menjadi orang tua yang lebih responsif.

Tiga Tahap Mengelola Emosi Orang Tua

Bunda Vivi juga memperkenalkan tiga tahapan regulasi emosi yang dapat dilatih orang tua dalam kehidupan sehari-hari.

1. Memantau emosi

Sadari apa yang sedang dirasakan. Apakah sedang marah, kecewa, cemas, atau kelelahan? Mengenali emosi membantu orang tua memahami kondisi dirinya sebelum merespons anak.

2. Mengevaluasi emosi

Berhenti sejenak untuk melihat situasi dengan lebih jernih. Apakah respons yang ingin diberikan akan membantu menyelesaikan masalah, atau justru memperbesar konflik?

3. Mengubah respons emosi

Setelah memahami situasi, pilih tindakan yang lebih positif dan konstruktif. Orang tua dapat menurunkan volume suara, mengatur napas, atau menunda percakapan sampai dirinya lebih siap.

Dalam materi, Bunda Vivi juga membagikan beberapa cara menghadapi emosi negatif, yaitu diam dan menjaga lisan, mengubah posisi tubuh serta mengatur napas, membaca ta’awudz dan berwudu, memilih aktivitas yang membuat tubuh dan pikiran lebih rileks, kemudian kembali menghadapi masalah dengan pikiran yang lebih jernih.

Jika orang tua merasa sangat lelah, beristirahat sejenak juga dapat menjadi pilihan yang bijaksana selama anak tetap berada dalam kondisi aman.

Hal yang perlu dihindari adalah memendam emosi tanpa mengolahnya atau justru meluapkannya secara berlebihan. Orang tua perlu menyadari kondisi diri dan menjaga kesehatan agar stres tidak terus menumpuk.

Bangun Koneksi Sebelum Mengoreksi Anak

Salah satu pesan yang ditekankan Bunda Vivi adalah pentingnya membangun koneksi sebelum melakukan koreksi.

Koneksi tersebut dimulai dengan memperkuat hubungan dengan Allah SWT melalui pembiasaan salat, doa, zikir, tilawah, dan murajaah. Rutinitas pagi yang terarah dapat menjadi bagian dari upaya membangun kesiapan jiwa sebelum menjalani aktivitas sehari-hari.

Keluarga juga dapat menyepakati rutinitas yang mendukung kesehatan jiwa dan raga, seperti berolahraga, berbincang, bermain bersama, menulis jurnal harian, serta berbagi tugas rumah tangga.

Aturan dan konsekuensi juga perlu dibicarakan dengan jelas agar anak memahami batasan yang berlaku di rumah. Dalam menyampaikan pesan, orang tua dapat menggunakan kalimat yang ringkas, jelas, dan sesuai dengan usia anak, disertai perhatian penuh ketika berkomunikasi.

Koneksi bukan berarti orang tua selalu menuruti keinginan anak. Koneksi berarti membangun hubungan yang membuat anak merasa aman untuk menyampaikan perasaannya, sementara orang tua tetap menjalankan perannya dalam memberikan arahan.

Ketika hubungan emosional terjaga, koreksi dapat menjadi bagian dari proses belajar, bukan sekadar pengalaman dimarahi.

Menjadi Orang Tua yang Terus Belajar

Parenting wali murid kelas 1 SD Islam Bintang Juara bersama Bunda Vivi Psikolog mengajak orang tua melihat kembali makna ketenangan dalam pengasuhan.

Ketenangan bukan tanda bahwa orang tua tidak pernah menghadapi kesulitan. Ketenangan adalah kemampuan untuk menyadari emosi, mengelola respons, dan tetap berusaha membimbing anak dengan bijaksana.

Perjalanan itu dapat dimulai dari hal sederhana: berhenti sejenak sebelum membentak, mendengarkan sebelum menasihati, menerima perasaan sebelum memberikan solusi, serta meminta maaf ketika orang tua melakukan kesalahan.

Anak tidak membutuhkan orang tua yang selalu sempurna. Anak membutuhkan orang tua yang bersedia menyadari perannya, memperbaiki diri, dan terus belajar membangun komunikasi yang sehat.

Melalui kegiatan ini, SD Islam Bintang Juara berharap sinergi antara sekolah dan keluarga semakin kuat dalam mendampingi tumbuh kembang siswa. Sebab, kematangan perkembangan anak tidak hanya dibentuk melalui pembelajaran di kelas, tetapi juga melalui pengalaman dan keteladanan yang mereka temui di rumah.

Mari menjadi orang tua yang terus bertumbuh, agar anak memiliki ruang yang aman untuk belajar, mengenali emosinya, dan berkembang sesuai fitrahnya.

Karena ketika orang tua belajar mengelola diri, mereka sedang memberikan salah satu bekal berharga bagi anak: teladan untuk menghadapi kehidupan dengan tenang, tangguh, dan berakhlakul karimah.*** (CM-MRT)

Guru Bercerita: Bu Siti Maqfiroh Mendampingi Anak, Membangun Komunitas

Guru Bercerita: Bu Siti Maqfiroh Mendampingi Anak, Membangun Komunitas

Pendidikan anak tidak hanya berlangsung di dalam ruang kelas. Ada pengalaman, interaksi, kegiatan bersama, dan berbagai proses keseharian yang ikut membentuk karakter serta kemampuan anak dalam menjalani kehidupan.

Melalui Guru Bercerita, Bu Siti Maqfiroh, S.Si., Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan sekaligus Penanggung Jawab SPMB SD Islam Bintang Juara, berbagi cerita tentang perjalanan mendampingi siswa, membangun jiwa kepemimpinan, hingga pentingnya sinergi sekolah dan orang tua dalam pendidikan.

Mengenal Bu Siti Lebih Dekat

Setiap perjalanan memiliki titik awal. Sebelum berbicara tentang kesiswaan, kepemimpinan, dan pendidikan anak, mari MinBin ajak Ayah Bunda dan kakak shalih-shalihah mengenal lebih dekat perjalanan Bu Siti bersama Bintang Juara serta hal yang membuatnya memilih untuk terus mendampingi anak-anak.

1. Bisa diceritakan perjalanan Ibu hingga mendapat amanah sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan dan PJ SPMB?

Pertemuan saya dengan Bintang Juara terjadi pada tahun 2017. Saat itu saya masih mahasiswa. Saya mendapat tawaran untuk mengisi kegiatan ekstrakurikuler di SD Islam Bintang Juara. Kemudian pada perjumpaan pertama, saya diajak untuk brainstorming dengan Bunda Vivi Psikolog, saya pun mendapat amanah menjadi guru ekstrakurikuler. Namun saat itu sifatnya masih mitra, karena saya berada di lembaga yang berbeda.

Pertama kali mengisi kegiatan ekskul, saya jatuh cinta pada pandangan pertama dengan sekolah ini. Yang saya kagumi sejak hari pertama adalah nilai-nilai yang ditanamkan ke anak-anak, walaupun saat itu SD Islam Bintang Juara belum ada bangunannya. Kemudian, setelah lulus kuliah tahun 2018 akhir, saya resmi bergabung di SD Islam Bintang Juara. Awalnya saya ditawarkan untuk membantu di pengembangan PKBM Bintang Juara.

Sebagai latihan, saya diberi amanah menjadi guru pendamping siswa berkebutuhan khusus. Kemudian, setelah itu saya mendapat amanah sebagai guru Bahasa Jawa. Selama menjadi guru pendmaping dan guru Bahasa Jawa, saya juga masih aktif untuk mengelola ekskul dan menjadi koordinator beberapa kegiatan.

Event pertama yang saya ketuai adalah kegiatan MPLS tahun 2021-2022 pada masa pandemi. Alhamdulillah di tahun 2023 SDIBJ mendapat Guru Bahasa Jawa, dan saya mendapat amanah sebagai Koordinator Bidang Kesiswaan, Humas dan SPMB hingga tahun 2026 (saat ini).

2. Apa yang membuat Bu Siti tertarik mendampingi siswa di luar ruang kelas?

Hal yang membuat saya semangat dan tertarik mendampingi siswa berkegiatan di luar kelas adalah karena begitu banyaknya ilmu yang Allah SWT hamparkan melalui beragam pengalaman di luar kelas. Saya semangat ketika mendampingi anak-anak mendapat pengalaman di lapangan, melalui praktik langsung dalam kehidupan.

Menurut saya, pembelajaran di dalam kelas bagi anak-anak itu ibarat belajar di laboratorium, di mana banyak hal yang dapat dikondisikan. Namun, ketika anak-anak berkegiatan di luar kelas melalui beragam pengalaman, seperti kunjungan ke suatu tempat, pertandingan, mengikuti pelatihan, magang, dll, disitulah karakter anak diuji dan disitulah momen mendebarkan bagi seorang guru untuk melihat perkembangan karakter anak didiknya.

3. Apa sebenarnya peran bidang kesiswaan dalam perjalanan pendidikan seorang anak?

Peran utama waka Kesiswaan adalah membantu Kepala Sekolah dalam proses merencanakan, mengkoordinasikan, membina dan melakukan evaluasi seluruh kegiatan yang berkaitan dengan peserta didik supaya berkembang secara optimal. Sehingga seluruh proses sejak awal (SPMB) hingga anak-anak lulus, tidak terlepas dari peran bidang kesiswaan.

Lebih dari Sekadar Akademik

Bagi Bu Siti, pendidikan anak tidak berhenti pada apa yang terjadi di dalam kelas. Ada iman, karakter, pengalaman, potensi, hingga berbagai keterampilan yang perlu tumbuh bersama agar anak berkembang secara utuh.

4. Menurut Ibu, apa yang perlu dibangun dari seorang anak selain kemampuan akademik?

Selain aspek akademik, tentu ada banyak sekali aspek yang perlu dibangun dari seorang anak. Hal pertama dan utama yang perlu dibangun adalah membangun kedekatan anak dengan Allah SWT (memupuk keimanan anak sejak dini).

Keimanan ini yang akan menjadi pondasi bagi orang tua dan anak untuk membangun karakter diri, kemampuan sosial dan kepemimpinan (leadership), ketahanan mental dan emosional (resilience), kemandirian dan ketrampilan hidup (life skill), serta menjadi filter diri dalam mengembangkan kreativitas dan potensi (non akademik).

5. Bagaimana sekolah membantu anak menemukan potensi, minat, dan kepercayaan dirinya?

Sebagai sebuah lembaga yang menaungi anak dengan beragam karakter dan potensi, sekolah merancang beragam program untuk melihat perkembangan potensi siswa. Baik melalui kegiatan intrakurikuler, kokurikuler atau ekstrakurikuler. Selain memberikan layanan program, tentu sekolah juga berupaya untuk membangun komunikasi dengan orang tua untuk bersama mengawal perkembangan anak dalam menemukan potensi, minat dan rasa percaya diri.

Tanpa sinergi aktif dari pihak sekolah dan orang tua, maka layanan program yang telah dirancang oleh sekolah tidak dapat tercapai secara optimal. Sebagus apapun program yang dirancang, tidak dapat terlepas dari peran orang tua untuk berpartisipasi aktif.

6. Mengapa kegiatan di luar pembelajaran seperti ekstrakurikuler, outing, dan berbagai pengalaman bersama penting bagi anak?

Kegiatan di luar kelas, sesungguhnya bukanlah kegiatan yang terpisah dengan kegiatan pembelajaran di dalam kelas. Kegiatan ini menjadi satu kesatuan dengan pembelajaran di dalam kelas dan dari pengalaman yang diperoleh anak di luar kelas akan menunjang bagaimana perkembangan anak di dalam kelas, pun sebaliknya. Setiap proses pembelajaran (baik di dalam kelas maupun di luar kelas) adalah satu kesatuan komponen yang mendukung siswa berkembang secara optimal baik dari aspek soft skill maupun hard skill.

Menumbuhkan Anak sebagai Bagian dari Komunitas

Tumbuh bersama orang lain juga merupakan bagian penting dari perjalanan anak. Di sekolah, anak tidak hanya belajar tentang dirinya sendiri, tetapi juga belajar diterima, berinteraksi, bekerja sama, dan menghadapi berbagai dinamika bersama teman.

7. Bagaimana sekolah menciptakan lingkungan yang membuat anak merasa diterima dan menjadi bagian dari komunitas?

Kunci utama dalam mewujudkan hal tersebut adalah memberikan program sesuai tahap perkembangan anak. Sehingga anak dapat berpartisipasi secara optimal. Dalam satu program besar, sekolah akan mem-breakdown program menjadi spesifik.

Misalnya, dalam kegiatan QLC (Quranic Leadership Camp), kegiatan dirancang menjadi berbeda untuk siswa kelas 3 dan siswa kelas 4-6. Kemudian dalam kegiatan Leadership Journey, dirancang sesuai kebutuhan siswa kelas 1-6.

Kegiatan bukan hanya diklasifikasikan berdasarkan perbedaan tingkatan kelas, namun secara lebih spesifik juga adalam topik-topik kegiatan disusun berdasarkan kebutuhan siswa.

8. Ketika anak menghadapi konflik dengan teman, bagaimana sekolah membantu mereka belajar menyelesaikannya?

Prinsip yang dibangun di SD Islam Bintang Juara ketika ada anak berkonflik adalah menuntaskan sebelum mereka keluar dari pintu sekolah untuk pulang. Guru akan menjadi mediator untuk siswa yang berkonflik. Budaya yang dibangun di sekolah adalah melatih seluruh warga sekolah untuk dapat memberikan informasi secara faktual. Berbekal informasi faktual yang disampaikan inilah menjadi sarana guru untuk melihat permasalahan secara objektif dan menuntaskan persoalan.

Membangun Jiwa Pemimpin Sejak Dini

Menjadi pemimpin bukan sekadar berani berdiri di depan banyak orang. Di SD Islam Bintang Juara, jiwa kepemimpinan dibangun melalui berbagai kebiasaan sederhana yang dekat dengan keseharian anak, sekaligus berlandaskan nilai-nilai Islam.

9. Bagaimana sekolah menumbuhkan jiwa kepemimpinan anak sejak usia sekolah dasar?

Sebagai sekolah yang memiliki visi untuk membangun Calon Pemimpin Muslim, SDIBJ merancang program kepemimpinan sejak anak datang hingga pulang. Ketika kita membahas tentang Jiwa Kepemimpinan, maka ini menjadi topik yang luas. InsyaaAllah seluruh program-program di SDIBJ sejak anak datang ke sekolah hingga dijemput pulang dirancang untuk menumbuhkan jiwa kepemimpinan anak.

Melatih anak menjadi seorang pemimpin, bukan hanya melatih anak untuk berani tampil di depan. Namun, bagaimana anak mampu berkembang karakter positifnya, mampu melayani dirinya sendiri (mandiri), membiasakan anak bertanggung jawab mencari solusi ketika melakukan kesalahan, bertanggung jawab dengan amanah yang diberikan, jujur (menyampaikan informasi secara faktual), dan mampu berkolaborasi dengan banyak guru dan teman adalah bekal untuk tumbuh menjadi seorang Pemimpin.

10. Apa makna “Sekolah Calon Pemimpin Muslim” dalam praktik kesiswaan sehari-hari?

Dalam praktik di Bidang Kesiswaan, Visi “Sekolah Calon Pemimpin Muslim” menjadi sebuah jangkar dalam Bidang Kesiswaan menyusun program. Setiap Program yang dirancang dipastikan memiliki ‘ruh’ untuk mengembangkan karakter Islamic Leadership peserta didik. Baik kegiatan kokurikuler atau ekstrakurikuler.

11. Bagaimana nilai-nilai Islam diterapkan dalam pembinaan siswa, bukan hanya diajarkan?

Nilai-nilai Islam di SD Islam Bintang Juara dialirkan kepada peserta didik dalam kehidupan sehari-hari di sekolah melalui kalimat pijakan. Selain melalui pijakan yang dilakukan secara intensif, juga melalui momen-momen yang telah dikondisikan, misalnya melalui insternalisasi nilai-nilai Islam melalui kegiatan pembelajaran di dalam kelas, memanfaatkan waktu-waktu transisi untuk membacakan buku dengan muatan nilai Islam, murajaah dan dengan menyediakan koleksi buku-buku bacaan berkualitas yang selaras dengan nilai-nilai ketauhidan.

galeri kegiatan bu siti maqfiroh

Memilih Sekolah yang Sejalan dengan Visi Keluarga

Memilih sekolah merupakan salah satu keputusan penting dalam perjalanan pendidikan anak. Karena itu, sebelum melihat fasilitas maupun berbagai program, ada hal yang lebih mendasar yang perlu dipertimbangkan: apakah visi pendidikan sekolah sejalan dengan visi yang dibangun keluarga?

12. Sebagai penanggungjawab SPMB, apa yang sebenarnya ingin Ibu pahami dari sebuah keluarga sebelum mereka memilih sekolah?

Sebagai PJ SPMB hal yang penting untuk diketahui dari Ayah Bunda yang sedang mencari sekolah adalah visi pendidikan yang dibangun dalam keluarga tersebut. Karena sebagai lembaga pendidikan, sekolah berperan sebagai mitra dari Ayah Bunda yang memiliki visi yang selaras dengan sekolah. Tanpa adanya visi selaras yang diperjuangkan, maka layanan yang kami berikan tidak akan mencapai hasil optimal.

13. Menurut Ibu, apa yang sebaiknya dipertimbangkan Ayah Bunda ketika memilih sekolah dasar untuk anak?

Sekolah dasar adalah jenjang sekolah yang paling panjang perjalanannya. Selama proses menempuh pendidikan di jenjang SD, peserta didik mengalami dua masa transisi yang utama yaitu fase transisi dari anak pra sekolah menjadi siswa SD dan yang kedua adalah masa transisi dari masa pra baligh menjadi baligh.

Maka, dari dua perkembangan fitrah yang krusial ini, Ayah Bunda memilih sekolah dasar yang dapat menjadi partner terbaik untuk mengawalnya. Baik dari segi pendampingan guru, program dan layanan komunikasi yang informatif dan faktual. Karena dengan bekal 3 aspek tersebut, orang tua dapat mengawal perkembangan anak dengan tenang, insyaaAllah.

14. Selain fasilitas dan prestasi, hal apa yang menurut Ibu penting dilihat orang tua dari sebuah sekolah?

Seperti yang telah saya sampaikan pada pertanyaan sebelumnya, tiga aspek penting yang perlu Ayah Bunda lihat ketika memilih sekolah:

  • Bagaimana pendampingan guru
  • Program-program pendidikan dari anak datang hingga pulang
  • Layanan komunikasi yang informatif dan faktual

Ayah Bunda juga bisa menggunakan prinsip 5P dalam menentukan sekolah.

Ketika Sekolah dan Orang Tua Menjadi Partner

Pendidikan anak membutuhkan perjalanan yang tidak hanya ditempuh oleh sekolah. Ketika sekolah dan orang tua hadir sebagai partner, berbagai proses pendampingan dapat dilakukan dengan komunikasi, keterlibatan, dan tujuan yang sama.

15. Bagaimana sekolah memastikan anak dan keluarga yang bergabung tidak hanya menjadi “siswa baru”, tetapi menjadi bagian dari keluarga Bintang Juara?

Bagi tim Bintang Juara, orang tua adalah partner dalam pendidikan anak. Poin pertama yang harus disadari bersama bahwasanya program pendidikan ini bukanlah program transaksional, di mana ketika orang tua sudah mengeluarkan biaya kemudian dapat terlepas dari proses-proses pendampingan.

Sekolah menempatkan orang tua sebagai partner dalam memperjuangkan layanan pendidikan terbaik untuk anak. Maka sekolah menyusun program-program juga untuk mendampingi orang tua tumbuh menjadi orang tua pembelajaran sepanjang hayat, antara lain:

  • mulai dari membangun komitmen orang tua di awal penerimaan,
  • melakukan pendampingan hasil asesmen perkembangan anak melalui kegiatan silaturahim dan penyerahan hasil asesmen orang tua siswa baru,
  • mengundang orang tua dalam kegiatan silaturahim dan pemaparan program untuk melibatkan orang tua dalam proses pendidikan selama satu tahun pelajaran yang akan dilaksanakan,
  • memberikan layanan komunikasi melalui buku komunikasi,
  • menyediakan program-program parenting sesuai kebutuhan orang tua.

Melalui forum-forum ini, sekolah terbuka untuk membangun diskusi komunikasi yang sehat dengan orang tua. Sehingga harapannya orang tua merasa terlibat dan sekolah merasakan kehadiran orang tua dalam proses pendidikan anak.

16. Apa tantangan terbesar dalam mendampingi karakter anak di tengah perubahan zaman dan pengaruh lingkungan?

Tantangan terbesar dalam mendampingi karakter anak di tengah perubahan zaman dan pengaruh lingkungan adalah apabila prinsip-prinsip yang dibangun di rumah belum selaras dengan prinsip-prinsip di sekolah. Kemudian aspek kedua adalah, orang tua yang belum hadir secara utuh dalam mendampingi pendidikan anak.

17. Bagaimana sekolah bekerja sama dengan orang tua ketika anak membutuhkan pendampingan khusus dalam hal perilaku atau perkembangan sosialnya?

Ketika anak membutuhkan pendampingan khusus dalam hal perilaku atau perkembangan sosial, wali kelas akan melaporkan kepada orang tua melaui daring atau luring (sesuai kebutuhan). Wali kelas akan melakukan pengamatan selama rentang waktu tertentu, apabila tidak ada perubahan, maka pendampingan akan dilakukan oleh Kepala Sekolah. Apabila telah dilakukan pendampingan oleh Kepala Sekolah dan tidak ada progres perubahan maka akan dilakukan pendampingan orang tua oleh Psikolog Sekolah.

Dari Pengalaman Hari Ini, Menuju Pemimpin Masa Depan

Setiap pengalaman dalam mendampingi anak meninggalkan cerita dan pelajaran tersendiri. Dari berbagai pengalaman tersebut, Bu Siti melihat sebuah harapan besar: bagaimana anak-anak Bintang Juara tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, berakhlakul karimah, dan mampu memberikan manfaat di masa depan.

18. Apa momen sebagai bidang kesiswaan yang paling berkesan bagi Ibu?

Alhamdulillah setiap kesempatan memberikan pengalaman bermakna yang memiliki kesan tersendiri. Setiap fase memiliki hikmah:

  • Momen SPMB menjadi momentum bertemu dengan banyak Ayah Bunda yang memiliki cerita beragam, sehingga secara tidak langsung memperkaya pengalaman hidup dari cerita-cerita yang diperoleh.
  • Momen berkolaborasi dengan Kepala Sekolah dalam merancang program untuk anak dan orang tua juga menjadi momentum untuk belajar banyak hal (membaca perkembangan anak untuk menentukan program yang tepat sesuai kebutuhan, menggerakkan tim untuk ekseskusi dan melakukan evaluasi untuk terus meningkatkan layanan, dan bagaimana mengambil keputusan dengan beragam pertimbangan).
  • Momen berkomunikasi dengan orang tua menjadi momentum untuk memahami cara pandang orang tua dan bagaimana menyusun program dan memberikan layanan yang dapat membantu orang tua.

19. Jika membayangkan anak-anak Bintang Juara beberapa tahun ke depan, karakter seperti apa yang ingin Ibu lihat?

Saya turut mendoakan beberapa tahun ke depan visi “Sekolah Calon Pemimpin Muslim” telah tumbuh dan berkembang menjadi profil-profil anak-anak yang menjadi pemimpin masa depan.

Anak-anak yang tumbuh percaya diri dengan segala potensi terbaiknya. Anak-anak yang dapat menginspirasi bukan hanya karena prestasi, tetapi juga karena akhlakul karimah dalam dirinya yang bersinar terang dan memberikan cahaya kebaikan untuk orang-orang yang ada dalam lingkungannya.

Saya berdoa dimanapun anak-anak berkarya ke depan, mereka mampu menjadi pribadi yang berani dengan lantang menegakkan apa yang haq dan yang batil.

20. Apa pesan Ibu untuk Ayah Bunda yang sedang mempertimbangkan sekolah terbaik sebagai tempat bertumbuh putra-putrinya?

Ayah Bunda, pendidikan jenjang SD merupakan pondasi pendidikan yang panjang waktu dan perjuangannya. Sebelum memutuskan untuk memilih sekolah, mantapkan visi keluarga, kenali lebih dalam karakter anak, dan pilih sekolah yang Ayah Bunda yakin dapat menjadi teman berjuang memberikan pondasi pendidikan terbaik. Senantiasa memohon kepada Allah untuk dipertemukan dengan sekolah terbaik untuk memberikan bekal dunia akhirat.

21. Jika harus merangkum peran Bu Siti sebagai Wakasek Kesiswaan dan PJ SPMB dalam satu kalimat, apa yang ingin disampaikan?

Terus bergerak memberikan pendidikan terbaik, untuk menyiapkan generasi Calon Pemimpin Muslim penggerak peradaban terbaik, insyaaAllah.

Pada akhirnya, mendampingi anak adalah proses yang membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Sekolah dan keluarga perlu berjalan sebagai partner agar anak tidak hanya tumbuh dengan kemampuan akademik, tetapi juga memiliki keimanan, karakter, kemandirian, dan keberanian untuk memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Seperti pesan Bu Siti, terus bergerak memberikan pendidikan terbaik untuk menyiapkan generasi calon pemimpin Muslim penggerak peradaban terbaik, insyaaAllah.

Sampai jumpa pada episode Guru Bercerita berikutnya, Ayah Bunda dan kakak shalih-shalihah!*** (CM-MRT)

Cara Menumbuhkan Minat Baca Anak di SD Islam Bintang Juara

Cara Menumbuhkan Minat Baca Anak di SD Islam Bintang Juara

Ada banyak cara untuk mengenalkan anak pada dunia yang lebih luas. Salah satunya adalah dengan menumbuhkan minat baca sejak dini. Minat baca ini bisa dikenalkan tentu saja melalui buku.

Lewat sebuah buku, anak bisa berkenalan dengan tempat yang belum pernah dikunjungi, mengenal tokoh yang belum pernah ditemui, memahami kehidupan orang lain, menemukan jawaban atas rasa ingin tahunya, bahkan membayangkan masa depan yang sebelumnya belum pernah terpikirkan.

Namun, membuat anak mencintai buku tentu tidak cukup hanya dengan berkata, “Ayo membaca!” Kecintaan terhadap membaca perlu ditumbuhkan melalui pengalaman yang menyenangkan, lingkungan yang mendukung, serta keteladanan dari orang-orang dewasa di sekitarnya.

Hal inilah yang turut hadir dalam kunjungan Perpustakaan Keliling ke SD Islam Bintang Juara pada Rabu, 16 September 2026.
Kegiatan ini merupakan salah satu program dari Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Semarang yang beririsan dengan upaya SD Islam Bintang Juara dalam meningkatkan budaya literasi di lingkungan sekolah.

Kehadiran perpustakaan keliling bukan sekadar menghadirkan koleksi buku ke halaman sekolah. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi kesempatan bagi anak-anak untuk mengalami secara langsung bahwa membaca dapat menjadi aktivitas yang menyenangkan, dekat, dan penuh penemuan.

Ketika Buku Datang Menjemput Anak

Bagi sebagian anak, menemukan buku yang tepat bisa menjadi awal dari sebuah kebiasaan baru. Ada anak yang menyukai cerita petualangan. Ada yang tertarik dengan hewan, sains, sejarah, tokoh, komik edukatif, atau cerita bergambar. Ada pula yang awalnya hanya tertarik karena melihat sampul buku yang menarik, kemudian mulai membuka halaman demi halaman.

Karena itu, menghadirkan perpustakaan keliling ke sekolah menjadi salah satu cara untuk memberikan pengalaman literasi yang lebih nyata. Anak tidak hanya mendengar bahwa buku itu penting. Mereka dapat melihat, memilih, membuka, membaca, dan menemukan sendiri hal-hal yang menarik perhatian mereka.

Pengalaman seperti ini penting karena membangun budaya membaca bukan semata-mata tentang membuat anak mampu membaca, tetapi juga membantu anak mau membaca.

Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Semarang dalam berbagai kajian literasinya juga menempatkan sekolah sebagai salah satu lingkungan penting dalam membangun kegemaran membaca. Lingkungan sekolah yang menyenangkan dan ramah anak dapat menjadi ruang bagi anak untuk memperluas wawasan melalui aktivitas literasi.

Maka, perpustakaan keliling dapat menjadi salah satu jembatan yang mempertemukan anak dengan pengalaman membaca yang lebih beragam.

Walaupun di sekolah sudah tersedia perpustakaan dengan beragam koleksi buku, kunjungan Perpustakaan Keliling selalu disambut penuh semangat oleh kakak shalih-shalihah. Mengambil buku yang tersusun rapi di rak dalam mobil perpustakaan, menyapa petugas perpustakaan, hingga mengembalikan buku pada petugas ternyata juga menambah pengalaman bermakna bagi para siswa.

Mengapa Menumbuhkan Minat Baca Penting bagi Anak?

Membaca sering kali dipahami sebatas kemampuan untuk mengenali huruf, mengeja kata, lalu memahami kalimat. Padahal, manfaat membaca jauh lebih luas.

1. Membantu Memperkaya Kosakata

Semakin banyak anak berinteraksi dengan buku, semakin banyak pula kata dan ungkapan yang mereka temui. Mereka berjumpa dengan kata-kata yang mungkin tidak selalu muncul dalam percakapan sehari-hari. Dari sinilah kemampuan bahasa anak dapat berkembang secara bertahap.

Penelitian Demir-Lira dan rekan-rekannya dalam Developmental Science yang dipublikasikan PubMed menemukan bahwa interaksi membaca buku antara orang tua dan anak pada usia dini berkaitan dengan kemampuan kosakata reseptif anak ketika memasuki sekolah dasar.

Artinya, pengalaman membaca bersama sejak kecil dapat memberikan bekal bahasa yang terus terbawa dalam perjalanan pendidikan anak.

2. Menguatkan Kemampuan Memahami Bacaan

Membaca bukan hanya tentang seberapa cepat anak menyelesaikan sebuah halaman. Yang lebih penting adalah apakah anak memahami apa yang dibacanya.

Ketika membaca cerita, anak belajar mengenali tokoh, memahami alur, menemukan informasi, menghubungkan sebab dan akibat, serta menarik kesimpulan dari apa yang dibacanya.

Penelitian Çalışkan dan Ulaş yang dipublikasikan IEJEE terhadap siswa kelas 4 sekolah dasar menunjukkan bahwa kegiatan membaca yang melibatkan orang tua memberikan pengaruh positif terhadap pemahaman membaca, motivasi membaca, dan sikap anak terhadap membaca.

3. Menumbuhkan Motivasi untuk Membaca Mandiri

Ada perbedaan besar antara anak yang membaca karena diperintah dan anak yang membaca karena ingin tahu. Tujuan membangun budaya literasi tentu bukan sekadar membuat anak menyelesaikan target jumlah buku. Yang ingin dibangun adalah munculnya motivasi dari dalam diri anak.

Penelitian Cubillos (2023) yang dipublikasikan pada International Literacy Association (ILA) terhadap hampir 330.000 remaja di Chile menemukan adanya hubungan positif antara motivasi membaca orang tua dan frekuensi membaca untuk kesenangan dengan motivasi membaca anak. Hubungan tersebut tetap terlihat setelah mempertimbangkan prestasi membaca anak sebelumnya dan pengaruh teman sebaya.

Dengan kata lain, kebiasaan membaca di lingkungan keluarga dapat ikut membentuk cara anak memandang aktivitas membaca.

4. Membuka Wawasan Anak

Buku memungkinkan anak bertemu dengan dunia yang lebih luas daripada pengalaman sehari-harinya. Anak dapat mengenal kehidupan di tempat lain, memahami profesi, mempelajari sejarah, mengenal berbagai budaya, memahami alam, hingga menemukan berbagai gagasan dan sudut pandang.

Inilah salah satu alasan mengapa budaya membaca penting dalam pendidikan. Anak yang membaca tidak hanya mengumpulkan informasi. Ia sedang belajar memahami dunia.

galeri kegiatan kunjungan perpustakaan keliling

Anak Belajar Cinta Membaca dari Apa yang Dilihatnya

Ada satu hal yang sering terlupakan ketika orang dewasa berbicara tentang kebiasaan membaca anak: keteladanan. Kita dapat berkali-kali mengatakan kepada anak bahwa membaca itu penting. Namun, pesan tersebut akan jauh lebih kuat ketika anak melihat orang dewasa di sekitarnya benar-benar menikmati kegiatan membaca.

Ayah membaca buku. Ibu membaca artikel atau novel. Guru membaca sebelum pembelajaran dimulai. Orang dewasa berdiskusi tentang sesuatu yang baru saja mereka baca. Dari pengalaman sederhana tersebut, anak mendapatkan pesan bahwa membaca bukan sekadar tugas sekolah. Membaca adalah bagian dari kehidupan.

Penelitian Mullan (2010) dalam Journal of Research in Reading yang dipublikasikan Wiley Online Library menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara kebiasaan membaca orang tua dan kebiasaan membaca anak. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa orang tua dapat berperan sebagai role model dalam mempromosikan perilaku membaca.

Maka, membangun anak menjadi pembaca tidak selalu harus dimulai dari anak. Bisa jadi, langkah pertamanya justru dimulai dari orang dewasa. Lalu apa yang bisa kita lakukan?

Tidak dengan menyuruh anak, tetapi dengan menciptakan lingkungan yang gemar membaca

Kadang-kadang orang tua terlalu fokus pada pertanyaan: “Bagaimana supaya anak mau membaca?” Padahal, pertanyaan yang tidak kalah penting adalah: “Seperti apa lingkungan yang membuat anak merasa bahwa membaca itu menyenangkan?”

Membangun lingkungan membaca dapat dimulai dari hal-hal sederhana, antara lain:

1. Biarkan Anak Melihat Orang Dewasa Membaca

Tidak perlu selalu berupa buku pelajaran. Ayah Bunda dan guru di sekolah bisa membaca buku, majalah, artikel, atau bacaan lain yang memang dinikmati.

Apabila setiap hari anak senantiasa terpapar aktivitas tersebut, anak bisa melihat bahwa membaca bukan aktivitas yang hanya dilakukan ketika mendapat tugas.

2. Sediakan Bacaan yang Sesuai dengan Minat Anak

Jangan memaksa semua anak menyukai jenis buku yang sama. Ada anak yang menyukai cerita. Ada yang tertarik dengan dinosaurus. Ada yang senang melihat ensiklopedia bergambar. Ada yang tertarik dengan eksperimen, tokoh, kendaraan, atau alam.

Minat dapat menjadi pintu masuk menuju kebiasaan membaca.

3. Membaca Buku bersama Anak

Membacakan buku tidak hanya berlaku untuk anak usia PAUD. Anak SD pun masih dapat menikmati aktivitas membaca bersama orang tua, terutama ketika bacaan tersebut menarik dan kemudian dilanjutkan dengan diskusi yang hangat.

Penelitian Demir-Lira dan rekan-rekannya menemukan bahwa kuantitas interaksi membaca buku antara orang tua dan anak pada usia dini berkaitan dengan kemampuan kosakata, pemahaman membaca, dan motivasi intrinsik membaca pada anak di kemudian hari.

Jadi, membaca bersama bukan sekadar membacakan kata demi kata. Namun di dalamnya, Ayah Bunda di rumah dan guru di sekolah bisa membangun percakapan dengan anak. Ada pertanyaan. Ada tawa. Ada rasa ingin tahu yang lahir dalam situasi tersebut.

Dan semua pengalaman itu bisa menjadi bagian dari memori baik anak tentang kegiatan membaca.

4. Jangan Menjadikan Membaca sebagai Hukuman

“Kalau tidak mau membereskan mainan, silakan baca buku di pojok ruangan!”

Kalimat seperti ini tanpa disadari dapat membuat membaca memiliki asosiasi negatif. Membaca sebaiknya hadir sebagai aktivitas yang bermakna, bukan sebagai hukuman.

5. Berikan Kesempatan Anak Memilih

Ketika memungkinkan, biarkan anak memilih buku yang ingin dibaca. Pilihan sederhana dapat membuat anak merasa memiliki kendali terhadap pengalaman membacanya.

Tujuannya bukan membuat anak menyukai semua buku. Tujuannya adalah membantu anak menemukan buku yang ia sukai.

6. Ajak Anak Bercerita tentang Apa yang Dibacanya

Setelah selesai membaca, tidak selalu perlu memberikan kuis. Cukup tanyakan: “Bagian mana yang paling kamu suka?” atau, “Kalau kamu menjadi tokoh dalam cerita itu, kamu akan melakukan apa?”

Pertanyaan sederhana dapat membuat membaca berubah menjadi percakapan yang menyenangkan.

Dari Perpustakaan Keliling Menuju Budaya Literasi

Kunjungan perpustakaan keliling ke SD Islam Bintang Juara menjadi salah satu pengalaman yang dapat memperkaya perjalanan literasi anak.

Namun, tentu saja, budaya membaca tidak selesai ketika kegiatan perpustakaan keliling berakhir. Justru dari sinilah kebiasaan itu dapat terus dilanjutkan.

Di sekolah, anak dapat terus diberi ruang untuk membaca, berdiskusi, mencari informasi, dan menceritakan kembali apa yang mereka temukan. Di rumah, Ayah dan Bunda dapat melanjutkan dengan menciptakan suasana yang akrab dengan buku. Sebab, sekolah dan keluarga memiliki peran yang saling melengkapi.

Membangun budaya literasi bukan hanya pekerjaan guru. Bukan pula hanya tugas orang tua. Ini adalah perjalanan bersama.

Karena Pemimpin yang Baik Juga Harus Gemar Belajar

Di SD Islam Bintang Juara, literasi tidak hanya dipandang sebagai kemampuan akademik. Membaca adalah salah satu jalan bagi anak untuk terus belajar.

Calon pemimpin muslim tidak cukup hanya memiliki keberanian untuk berbicara. Ia juga perlu memiliki kemauan untuk mendengar, membaca, memahami, berpikir, dan belajar dari berbagai pengalaman.

Buku dapat menjadi salah satu teman dalam perjalanan tersebut. Melalui buku, anak belajar bahwa dunia begitu luas. Ada banyak hal yang belum ia ketahui. Ada banyak pertanyaan yang belum ia temukan jawabannya. Dan ada banyak ilmu yang masih dapat dipelajari.

Karena itu, tujuan akhirnya bukan sekadar: “Anak saya harus rajin membaca.” Tetapi lebih jauh: “Semoga anak saya tumbuh menjadi pribadi yang senang belajar.”

Sebab ketika rasa ingin tahu tetap hidup, proses belajar tidak akan berhenti hanya karena anak meninggalkan bangku sekolah.

Kunjungan perpustakaan keliling pada 16 September 2026 mungkin hanya berlangsung dalam satu hari. Namun, harapannya jauh lebih panjang.

Semoga dari satu buku yang dibuka, lahir satu rasa ingin tahu. Dari satu cerita, lahir satu pertanyaan. Dari satu pertanyaan, lahir keinginan untuk mencari tahu.

Dan dari kebiasaan membaca yang terus tumbuh, lahir calon pemimpin muslim yang berilmu, berakhlakul karimah, tangguh, dan bermanfaat. Karena bisa jadi, sebuah buku yang dibaca hari ini adalah awal dari sebuah mimpi besar di masa depan.

Referensi:

  • Mullan, K. (2010). Families that read: A time-diary analysis of young people’s and parents’ reading. Journal of Research in Reading, 33(4), 414–430. Wiley Online Library
  • Cubillos, M. (2023). A Chip Off the Old Block: Do Reading-Motivated Parents Raise Reading-Motivated Children? Reading Research Quarterly, 58(4), 668–684. International Literacy Association (ILA)
  • Demir-Lira, Ö. E., Applebaum, L. R., Goldin-Meadow, S., & Levine, S. C. (2019). Parents’ early book reading to children: Relation to children’s later language and literacy outcomes controlling for other parent language input. Developmental Science, 22(3), e12764. PubMed
  • Çalışkan, E. F., & Ulaş, A. H. (2022). The Effect of Parent-Involved Reading Activities on Primary School Students’ Reading Comprehension Skills, Reading Motivation, and Attitudes Towards Reading. International Electronic Journal of Elementary Education, 14(4), 509–524. IEJEE
  • Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Semarang. Kajian Pengukuran Tingkat Kegemaran Membaca di Kota Semarang Tahun 2024.
BBOT Kelas 4B: Mengenal Teks Rekon melalui Game Interaktif dan Bermakna

BBOT Kelas 4B: Mengenal Teks Rekon melalui Game Interaktif dan Bermakna

Pernahkah kakak-kakak mencoba menceritakan kembali sebuah pengalaman, tetapi tiba-tiba bingung harus memulai dari mana?

  • “Waktu itu kejadiannya apa dulu, ya?”
  • “Setelah itu apa?”
  • “Terus bagaimana akhirnya?”

Menceritakan sebuah pengalaman ternyata membutuhkan lebih dari sekadar mengingat apa yang pernah terjadi. Anak perlu menyusun kembali peristiwa agar orang lain dapat mengikuti ceritanya dengan mudah.

Hal inilah yang dipelajari oleh kakak-kakak kelas 4B SD Islam Bintang Juara dalam kegiatan BBOT (Belajar Bersama Orang Tua) pada Senin, 14 September 2026.

Bersama Bunda Fiqih Nindya, Bunda dari Kak Kayla, kakak-kakak diajak mengenal teks rekon melalui game interaktif dan bermakna.

Belajar teks rekon kali ini pun terasa berbeda. Bukan sekadar membuka buku, membaca pengertian, lalu mengerjakan soal. Kakak-kakak diajak bermain, berpikir, mengingat urutan kejadian, hingga akhirnya menyusun teks rekon mereka sendiri.

Dan perjalanan belajar ini nantinya akan berlanjut menjadi sebuah karya bersama: antologi teks rekon kakak-kakak kelas 4B.

Mengenal Teks Rekon dengan Cara yang Menyenangkan

Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, teks rekon berkaitan dengan bagaimana seseorang menceritakan kembali suatu pengalaman atau peristiwa.

Namun, bagi anak-anak, memahami konsep tersebut akan terasa lebih dekat ketika mereka dapat menghubungkannya dengan pengalaman yang mereka miliki sendiri.

Karena itu, kegiatan BBOT kali ini dikemas melalui game interaktif.

Kakak-kakak tidak hanya menjadi pendengar, tetapi ikut terlibat dalam proses pembelajaran. Mereka diajak berpikir, mengingat, berdiskusi, dan menyusun informasi berdasarkan peristiwa yang ada.

Dari permainan tersebut, konsep yang semula mungkin terdengar seperti istilah dalam pelajaran Bahasa Indonesia menjadi sesuatu yang lebih konkret.

Teks rekon ternyata dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Ketika kakak menceritakan kembali pengalaman liburan, kegiatan di sekolah, pengalaman mengikuti suatu acara, atau kejadian menarik bersama teman, sebenarnya kakak sedang belajar bagaimana mengomunikasikan kembali sebuah pengalaman kepada orang lain.

Dari Game, Anak Belajar Menyusun Urutan Peristiwa

Salah satu tantangan ketika menulis cerita pengalaman adalah menentukan urutan kejadian.

Sebuah pengalaman tentu memiliki rangkaian peristiwa. Ada sesuatu yang terjadi terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan kejadian berikutnya, hingga akhirnya sampai pada bagian penutup.

Jika urutannya tidak jelas, pembaca akan kesulitan memahami cerita. Melalui kegiatan yang interaktif, kakak-kakak kelas 4B mendapatkan kesempatan untuk memahami pentingnya menyusun peristiwa secara runtut.

Mereka belajar bahwa ketika ingin menceritakan kembali sesuatu, tidak cukup hanya dengan mengatakan: “Aku pergi ke sana. Terus aku melakukan ini. Terus ada itu.”

Cerita perlu disusun agar pembaca seolah-olah dapat mengikuti perjalanan yang sedang diceritakan.

Di sinilah kemampuan berpikir runtut mulai dilatih.

  • Anak belajar mengingat.
  • Anak belajar memilih informasi.
  • Anak belajar menyusun.
  • Dan anak belajar menyampaikan kembali.

Ketika Pengalaman Anak Menjadi Bahan untuk Menulis

Hal menarik dari pembelajaran teks rekon adalah bahan ceritanya dapat berasal dari pengalaman yang dekat dengan anak.

Anak tidak harus mencari cerita yang jauh atau rumit. Pengalaman mereka sendiri dapat menjadi sumber tulisan.

  • Apa yang pernah dilakukan?
  • Apa yang terjadi?
  • Siapa saja yang terlibat?
  • Bagaimana urutannya?
  • Apa yang dirasakan atau dipelajari dari pengalaman tersebut?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini dapat membantu anak menggali kembali pengalaman yang tersimpan dalam ingatan. Proses tersebut membuat kegiatan menulis menjadi lebih personal.

Anak bukan sekadar menulis karena mendapatkan tugas. Mereka sedang menceritakan sesuatu yang pernah mereka alami.

Dengan begitu, menulis dapat menjadi ruang bagi anak untuk mengolah pengalaman menjadi sebuah cerita yang dapat dipahami dan dinikmati orang lain.

Dari Menyusun Teks Rekon Menuju Sebuah Karya

Setelah mengenal konsep dan berlatih melalui kegiatan interaktif, perjalanan belajar kakak-kakak kelas 4B tidak berhenti pada satu kali kegiatan.

Kakak-kakak kemudian diajak untuk menyusun teks rekon. Setiap tulisan akan menjadi bagian dari proses menghasilkan karya bersama. InsyaAllah, hasil akhir dari pembelajaran ini akan dikembangkan menjadi antologi teks rekon karya kakak-kakak kelas 4B.

Bayangkan ketika nanti setiap tulisan terkumpul menjadi satu buku.

  • Ada banyak pengalaman.
  • Ada banyak sudut pandang.
  • Ada banyak cerita.

Dan semuanya berasal dari kakak-kakak yang belajar menuliskan pengalaman mereka sendiri.

Buku tersebut nantinya bukan sekadar kumpulan tugas Bahasa Indonesia. Ia dapat menjadi jejak proses belajar—sebuah bukti bahwa pengalaman sederhana yang dimiliki anak dapat diolah menjadi karya yang bermakna.

Menulis Juga Melatih Anak Menghargai Pengalaman

Ada satu pembelajaran lain yang secara tidak langsung tumbuh melalui proses menulis teks rekon. Ketika anak diminta mengingat kembali sebuah peristiwa, mereka belajar bahwa pengalaman memiliki cerita.

Sebuah kegiatan yang sebelumnya terasa biasa saja dapat menjadi sesuatu yang menarik ketika diceritakan kembali dari sudut pandang mereka.

Proses menulis juga mengajak anak memperhatikan detail. Mereka perlu mengingat apa yang terjadi, memilih bagian yang ingin diceritakan, kemudian mengubahnya menjadi kata-kata.

Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya berkaitan dengan kemampuan berbahasa. Anak juga belajar mengorganisasi pikiran dan mengomunikasikan pengalaman.

BBOT: Ketika Orang Tua Menjadi Bagian dari Perjalanan Belajar

Kehadiran Bunda Fiqih Nindya dalam kegiatan BBOT menjadi bagian dari semangat Belajar Bersama Orang Tua di SD Islam Bintang Juara.

Melalui kegiatan seperti ini, orang tua tidak hanya hadir dalam kehidupan sekolah anak sebagai pendamping, tetapi juga dapat menjadi bagian dari pengalaman belajar yang memberikan warna berbeda.

Anak mendapatkan pengalaman bahwa belajar dapat dilakukan bersama banyak orang.

  • Ada guru.
  • Ada orang tua.
  • Ada teman.
  • Dan ada berbagai pengalaman yang dapat menjadi sumber pengetahuan.

Kolaborasi tersebut juga menjadi pengingat bahwa proses pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam kelas. Pengalaman belajar dapat hadir melalui percakapan, permainan, interaksi, dan karya yang dibuat bersama.

Dari Satu Kegiatan, Menjadi Cerita yang Bisa Dibaca Banyak Orang

BBOT kelas 4B kali ini mungkin hanya berlangsung dalam satu hari. Namun, proses belajar yang dimulai dari kegiatan tersebut diharapkan dapat terus berlanjut.

Dari mengenal teks rekon. Kemudian bermain dan memahami konsep. Lalu menyusun kembali pengalaman. Hingga akhirnya menghasilkan tulisan.

Dan insyaAllah, tulisan-tulisan tersebut akan dikumpulkan menjadi sebuah antologi teks rekon. Sebuah karya yang suatu hari nanti dapat dibaca kembali oleh kakak-kakak dan mengingatkan mereka pada proses belajar yang pernah dilalui bersama.

Sebab, pendidikan bukan hanya tentang berapa banyak materi yang berhasil diingat.

Pendidikan juga tentang bagaimana anak mampu mengolah pengalaman menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi keterampilan, dan keterampilan menjadi sebuah karya.

Melalui BBOT kelas 4B, kakak-kakak belajar bahwa setiap pengalaman memiliki cerita. Dan setiap cerita, ketika disusun dengan baik, dapat menjadi karya yang bermakna.

Hari ini belajar menulis pengalaman. Esok, pengalaman itu menjadi sebuah karya.

Semoga proses menyusun antologi teks rekon ini menjadi perjalanan yang menyenangkan bagi kakak-kakak kelas 4B—sekaligus menjadi pengingat bahwa setiap anak memiliki cerita, setiap cerita memiliki makna, dan setiap karya adalah bagian dari perjalanan untuk terus tumbuh menjadi bintang dan juara.*** (CM-MRT)