Bagaimana cara menutup satu tahun pelajaran dengan berkesan?
Sebagian orang mungkin membayangkan hari-hari santai tanpa kegiatan belajar. Namun di SD Islam Bintang Juara, akhir semester justru menjadi momen penting untuk menanamkan nilai kepemimpinan, kebersamaan, dan refleksi diri melalui rangkaian kegiatan bertajuk Leadership Journey Akhir Semester 2 Tahun Pelajaran 2025/2026.
Selama empat hari, mulai 15 hingga 19 Juni 2026, kakak shalih dan shalihah mengikuti beragam kegiatan yang dirancang bukan sekadar untuk bersenang-senang, tetapi juga untuk memperkuat karakter sebagai calon pemimpin muslim. Ada aktivitas fisik yang menyehatkan, permainan kolaboratif yang menantang, karya kreatif penuh kenangan, hingga refleksi perjalanan belajar selama satu tahun terakhir.
Empat hari yang mungkin terlihat sederhana, tetapi menyimpan banyak pelajaran berharga di dalamnya.
Mengawali Pekan dengan Tubuh yang Sehat dan Hati yang Terinspirasi
Senin pagi, 15 Juni 2026, suasana sekolah terasa lebih semarak dari biasanya. Seluruh siswa berkumpul untuk mengikuti Senam Sehat bersama.
Gerakan demi gerakan dilakukan dengan penuh semangat. Tawa dan senyum menghiasi wajah kakak shalih-shalihah yang menikmati kebersamaan bersama teman-teman dan guru.
Namun Leadership Journey tidak berhenti pada aktivitas fisik saja.
Setelah tubuh bergerak dan energi terisi kembali, siswa kembali ke kelas masing-masing untuk mengikuti kegiatan Read Aloud Sirah Nabi dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah.
Suasana kelas berubah menjadi lebih tenang dan khidmat.
Para guru membacakan kisah-kisah inspiratif dari perjalanan hidup Rasulullah SAW. Kakak shalih-shalihah mendengarkan dengan penuh perhatian, membayangkan perjuangan, keteladanan, dan kepemimpinan Rasulullah dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Kakak juga membaca buku sirah yang telah dibawa dari rumah masing-masing.
Melalui kegiatan ini, siswa belajar bahwa pemimpin yang hebat bukan hanya mereka yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak mulia, kesabaran, keberanian, dan kepedulian kepada sesama.
Nilai-nilai itulah yang ingin ditanamkan sejak dini kepada para calon pemimpin muslim masa depan.
Belajar Menjadi Tim yang Solid Melalui Fun Match
Kemeriahan berlanjut pada Rabu, 17 Juni 2026.
Hari itu menjadi salah satu hari yang paling ditunggu karena seluruh siswa mengikuti kegiatan Fun Match dengan tema besar kebersamaan dan kerja sama tim.
Setiap permainan dirancang untuk mengajarkan satu nilai penting dalam kepemimpinan.
Satu Tim, Satu Tujuan
Melalui pertandingan futsal dan voli, siswa belajar bahwa keberhasilan tidak ditentukan oleh kemampuan individu semata. Pemain terbaik sekalipun tidak akan mampu memenangkan pertandingan tanpa dukungan tim.
Mereka belajar berkomunikasi, saling mendukung, memahami peran masing-masing, serta menghargai kontribusi teman.
Satu Tim, Satu Kekuatan
Nilai berikutnya hadir melalui permainan tarik tambang. Teriakan semangat terdengar dari berbagai sudut lapangan. Semua siswa mengerahkan tenaga terbaiknya untuk membantu kelompok masing-masing.
Dari permainan sederhana ini, mereka belajar bahwa kekuatan terbesar sering kali lahir dari kebersamaan. Ketika semua anggota tim bergerak dalam arah yang sama, tantangan yang berat pun menjadi lebih mudah dihadapi.
Satu Tim, Satu Komando
Permainan paling menarik sekaligus menantang adalah Tancap Bendera. Dalam permainan ini, satu siswa berperan sebagai robot yang matanya ditutup, sementara siswa lainnya bertugas menjadi “remote control” yang memberikan instruksi.
Agar berhasil mencapai lokasi dan menancapkan bendera, instruksi harus diberikan secara jelas, terarah, dan penuh kepercayaan. Permainan ini mengajarkan pentingnya komunikasi yang efektif.
Seorang pemimpin harus mampu memberikan arahan yang jelas, sementara anggota tim perlu belajar mendengar dan mempercayai satu sama lain. Ternyata menjadi pemimpin maupun anggota tim yang baik sama-sama membutuhkan latihan.
Mengabadikan Persahabatan dalam Sebuah Bingkai Kenangan
Kamis, 18 Juni 2026, suasana sekolah berubah menjadi lebih hangat dan penuh kreativitas. Hari itu siswa mengikuti kegiatan Bingkai Kenangan Bersama Teman Seperjuangan.
Setiap siswa membuat karya berupa bingkai foto sebagai kenang-kenangan perjalanan mereka selama satu tahun pelajaran. Tangan-tangan kecil sibuk menghias, mewarnai, dan merangkai berbagai bahan menjadi karya yang unik.
Di sela-sela proses berkarya, banyak obrolan sederhana yang muncul. Ada yang mengenang momen lucu saat belajar bersama. Ada yang tertawa mengingat permainan saat istirahat. Ada pula yang mulai menyadari bahwa sebentar lagi mereka akan naik ke jenjang kelas berikutnya.
Bingkai yang mereka buat mungkin sederhana. Namun nilai yang tersimpan di dalamnya jauh lebih berharga. Karena setiap bingkai menjadi simbol persahabatan, perjuangan, dan perjalanan belajar yang telah mereka lalui bersama.
Melalui kegiatan ini, siswa belajar menghargai proses dan mengenang perjalanan yang telah membentuk mereka menjadi pribadi yang lebih baik.
Menutup Tahun Pelajaran dengan Jumat Berseri
Rangkaian Leadership Journey mencapai puncaknya pada Jumat, 19 Juni 2026 melalui kegiatan Jumat Berseri. Hari itu diawali dengan kegiatan bersih-bersih lingkungan sekolah. Dengan penuh semangat, siswa bekerja sama membersihkan kelas, halaman, dan berbagai sudut sekolah.
Mereka belajar bahwa menjaga kebersihan bukan hanya tugas petugas kebersihan atau guru, tetapi tanggung jawab bersama. Kegiatan sederhana ini menjadi latihan nyata untuk menumbuhkan rasa memiliki terhadap lingkungan.
Setelah bekerja bersama, kakak shalih-shalihah menikmati buah segar yang telah disiapkan. Momen makan bersama menghadirkan suasana santai sekaligus menyenangkan setelah beraktivitas.
Namun bagian yang paling bermakna justru hadir di penghujung kegiatan. Yaitu sesi refleksi satu tahun pelajaran. Para siswa diajak mengenang perjalanan mereka selama setahun terakhir.
Apa pencapaian yang membuat mereka bangga?
Tantangan apa yang pernah mereka hadapi?
Pelajaran apa yang paling berkesan?
Dan target apa yang ingin mereka raih di tahun berikutnya?
Melalui refleksi ini, siswa belajar mengenali diri sendiri, mensyukuri proses yang telah dilalui, serta menyusun langkah yang lebih baik untuk masa depan. Kemampuan merefleksi diri merupakan salah satu keterampilan penting dalam kepemimpinan yang sering kali terlupakan. Padahal pemimpin yang baik adalah mereka yang mampu belajar dari pengalaman dan terus memperbaiki diri.
Sembari melakukan refleksi, kakak shalih-shalihah juga diajak untuk makan real food rebusan bersama guru wali kelas dan pendamping. Makanan yang disajikan dalam tampah ini merupakan apresiasi bagi seluruh siswa yang telah berpartisipasi dalam Leadership Journey. Selain itu juga untuk memberikan penguatan pada kakak shalih-shalihah tentang manfaat mengonsumsi real food.
Menutup Semester, Membuka Perjalanan Baru
Leadership Journey Akhir Semester 2 SD Islam Bintang Juara bukan sekadar rangkaian kegiatan penutup tahun ajaran. Di balik senam sehat, permainan tim, karya kenangan, hingga refleksi diri, terdapat nilai-nilai besar yang sedang ditanamkan kepada para siswa.
Mereka belajar bahwa kepemimpinan tidak selalu tentang memimpin orang lain. Kepemimpinan dimulai dari kemampuan memimpin diri sendiri.
Mampu bekerja sama.
Mampu berkomunikasi.
Mampu menghargai proses.
Mampu menjaga amanah.
Dan mampu terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.
Semoga pengalaman selama Leadership Journey ini menjadi bekal berharga bagi kakak shalih-shalihah dalam melangkah ke jenjang berikutnya.
Karena setiap langkah kecil hari ini adalah bagian dari perjalanan panjang mereka menjadi generasi yang cerdas berilmu, santun berperilaku, dan siap menjadi calon pemimpin muslim di masa depan.***
Suasana haru dan penuh syukur menyelimuti aula acara pada Ahad, 14 Juni 2026. Satu per satu kakak shalih dan shalihah melangkah memasuki ruangan dengan wajah penuh kebanggaan. Mereka bukan sekadar hadir sebagai peserta acara, tetapi sebagai khatimin yang telah menuntaskan salah satu perjalanan penting dalam belajar Al-Qur’an.
Hari itu, SD Islam Bintang Juara menyelenggarakan Khotmil Qur’an & Imtihan ke-2, sebuah kegiatan yang menjadi bentuk tasyakuran atas kelulusan peserta didik dalam program EBTAQ (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Qiraaty) sekaligus momentum untuk menunjukkan kemampuan membaca Al-Qur’an, tajwid, dan gharib yang telah mereka pelajari selama bertahun-tahun.
Namun sejatinya, Khotmil Qur’an bukanlah garis akhir. Justru inilah awal perjalanan yang sesungguhnya: perjalanan menjaga, mencintai, dan mengamalkan Al-Qur’an sepanjang kehidupan.
Apa Itu Khotmil Qur’an dan Imtihan?
Bagi sebagian orang tua, istilah Khotmil Qur’an dan Imtihan mungkin masih terdengar asing.
Khotmil Qur’an adalah prosesi syukur atas keberhasilan peserta didik menyelesaikan tahapan pembelajaran membaca Al-Qur’an sesuai standar yang ditetapkan. Sementara Imtihan merupakan ujian terbuka yang bertujuan menunjukkan kemampuan peserta dalam membaca Al-Qur’an, memahami ilmu tajwid, serta mengenali bacaan gharib di hadapan para tamu undangan dan orang tua.
Melalui kegiatan ini, anak-anak belajar bahwa membaca Al-Qur’an bukan sekadar mampu melafalkan huruf demi huruf, tetapi juga memahami kaidah bacaan yang benar serta membangun kedekatan dengan Kalamullah.
Disambut Rebana, Dihantar Doa
Acara dipandu oleh Pak Ali As’ad yang mengawali kegiatan dengan suasana hangat dan khidmat.
Ketika rebana An Najma Senior mulai mengalunkan shalawat, satu per satu khatimin memasuki ruangan acara. Kehadiran mereka disambut tepuk tangan penuh bangga dari para orang tua yang telah membersamai proses belajar Al-Qur’an selama bertahun-tahun.
Setelah menempatkan diri di atas panggung, para khatimin memberikan salam kepada seluruh hadirin. Wajah-wajah cerah mereka menjadi gambaran kebahagiaan atas pencapaian yang diraih.
Prosesi kemudian dilanjutkan dengan Khotmil Qur’an yang berlangsung khusyuk. Setiap ayat yang dibaca mengalun indah memenuhi ruangan, menghadirkan suasana yang menenangkan hati.
Sebagai penutup prosesi khotmil, Ustaz Dzikron memimpin doa khotmil Qur’an. Para hadirin menengadahkan tangan, memohon keberkahan agar ilmu yang telah dipelajari menjadi cahaya dunia dan akhirat bagi seluruh peserta.
Ujian Terbuka yang Menguji Kepercayaan Diri
Setelah prosesi khotmil selesai, acara berlanjut pada sesi Imtihan.
Pada tahap ini, para khatimin menunjukkan kemampuan membaca gharib dan tajwid yang telah mereka pelajari selama proses pembelajaran Qiraaty.
Menariknya, sesi Imtihan tidak hanya berupa pembacaan materi. Para hadirin juga diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan tajwid maupun bacaan gharib.
Suasana menjadi semakin hidup. Satu per satu pertanyaan diajukan. Para khatimin mengangkat tangan dengan penuh percaya diri untuk menjawab. Sesekali terdengar tepuk tangan dan lirih suara hamdallah penuh syukur ketika jawaban yang diberikan tepat dan meyakinkan.
Dari seluruh peserta yang hadir, sebanyak 13 khatimin berhasil menjawab tantangan yang diberikan dan mendapatkan apresiasi dari panitia. Momen ini menunjukkan bahwa pembelajaran Al-Qur’an yang mereka jalani bukan sekadar hafalan teori, tetapi benar-benar dipahami dan mampu diterapkan.
Saat Air Mata Tak Lagi Bisa Disembunyikan
Puncak haru acara terjadi ketika seluruh khatimin turun dari panggung untuk meminta restu kepada kedua orang tua. Langkah kaki yang sebelumnya mantap mendadak terasa berat.
Beberapa anak mulai menundukkan kepala. Sebagian orang tua tampak berusaha menahan air mata. Ketika tangan-tangan kecil itu mencium tangan ayah dan bunda, suasana berubah menjadi sangat emosional.
Pelukan hangat menjadi bahasa cinta yang tidak memerlukan banyak kata. Ada perjuangan yang teringat. Ada doa-doa yang selama ini dipanjatkan diam-diam. Ada kesabaran mendampingi anak belajar membaca huruf demi huruf hingga akhirnya berdiri di panggung sebagai khatimin.
Banyak mata yang berkaca-kaca menyaksikan momen tersebut. Karena setiap keberhasilan anak selalu menyimpan cerita perjuangan keluarga di belakangnya.
Menjaga Hafalan Lebih Berat daripada Menghafal
Setelah prosesi sungkem selesai, acara dilanjutkan dengan pesan bermakna dari Kepala SD Islam Bintang Juara, Nur Shofwatin Ni’mah, S.Pd., Gr., dan Ketua Yayasan Dewi Sartika Semarang, Dyah Indah Noviyani, S.Psi., M.Psi., Psikolog.
Keduanya menyampaikan pesan yang memiliki benang merah yang sama. Bahwa keberhasilan menyelesaikan pembelajaran Qiraaty dan mengikuti Khotmil Qur’an bukanlah akhir perjalanan.
Justru tantangan berikutnya adalah menjaga. Menjaga hafalan. Menjaga bacaan. Menjaga kebiasaan berinteraksi dengan Al-Qur’an setiap hari. Orang tua memiliki peran yang sangat besar dalam proses tersebut.
Anak-anak membutuhkan lingkungan yang mendukung agar kedekatan mereka dengan Al-Qur’an tetap tumbuh hingga dewasa. Karena sejatinya, keberhasilan pendidikan Al-Qur’an tidak diukur dari seberapa cepat anak menyelesaikan jilid atau lulus ujian, tetapi dari seberapa lama nilai-nilai Al-Qur’an hidup dalam kesehariannya.
Penyerahan Ijazah dan Kebanggaan Keluarga
Sebagai penanda kelulusan program EBTAQ, seluruh khatimin menerima ijazah secara bergantian. Senyum bangga terlihat dari wajah anak-anak maupun orang tua yang mendampingi. Setelah menerima ijazah, setiap keluarga mengabadikan momen istimewa melalui sesi foto bersama.
Bagi sebagian orang tua, ini bukan sekadar foto kelulusan. Ini adalah dokumentasi perjalanan panjang mendampingi anak belajar membaca Al-Qur’an sejak awal. Perjalanan yang dipenuhi kesabaran, pengulangan, motivasi, dan doa yang tak pernah putus.
Selamat kepada 37 Khatimin
SD Islam Bintang Juara mengucapkan selamat kepada seluruh khatimin yang telah menyelesaikan tahapan pembelajaran Qiraaty dan mengikuti Khotmil Qur’an & Imtihan ke-2:
Semoga pencapaian ini menjadi awal dari perjalanan yang lebih indah bersama Al-Qur’an. Karena Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca ketika kecil, tetapi untuk dicintai sepanjang hayat. Dan semoga setiap huruf yang telah dipelajari menjadi cahaya yang menerangi langkah mereka, dunia hingga akhirat.***
Kalimat seperti itu mungkin pernah terdengar ketika membicarakan pendidikan agama untuk anak-anak. Padahal justru pada usia sekolah dasar inilah nilai-nilai kehidupan mulai tertanam kuat dalam diri mereka. Apa yang dilihat, didengar, dan dipelajari hari ini akan menjadi bekal yang mereka bawa hingga dewasa.
Karena itulah SD Islam Bintang Juara menggelar kegiatan PHBI (Peringatan Hari Besar Islam) Iduladha pada Selasa, 26 Mei 2026. Kegiatan ini tidak hanya mengajak siswa mengetahui tentang Iduladha sebagai sebuah perayaan keagamaan, tetapi juga memahami makna yang terkandung di baliknya.
Sebab di SD Islam Bintang Juara, anak-anak tidak hanya diajak mengenal “apa” yang dilakukan dalam agama, tetapi juga memahami “mengapa” dan “untuk apa” ibadah itu dilakukan.
PHBI Iduladha 2026: Belajar Nilai Kehidupan dari Kisah Nabi Ibrahim
Suasana pembelajaran hari itu terasa berbeda. Kakak shalih dan shalihah diajak menyelami kembali kisah yang menjadi dasar peringatan Iduladha, yaitu keteladanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Melalui kisah tersebut, anak-anak belajar bahwa Iduladha bukan sekadar tentang hewan qurban.
Lebih dari itu, Iduladha mengajarkan tentang keikhlasan, ketaatan kepada Allah, kesabaran, pengorbanan, dan kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai inilah yang menjadi pondasi penting dalam membentuk karakter seorang calon pemimpin muslim. Namun tentu saja cara penyampaiannya disesuaikan dengan usia dan tahap perkembangan masing-masing siswa.
Kelas 1–2: Mengenal Iduladha dan Makna Ikhlas
Bagi siswa kelas 1 dan 2, pembelajaran difokuskan pada pengenalan dasar tentang Iduladha melalui cerita yang dekat dengan dunia anak-anak. Mereka diajak mendengarkan cerita Pak Ali tentang Jono dan Beki, dilanjut dengan kisah Nabi Ibrahim AS yang mendapat perintah dari Allah SWT. Dari cerita tersebut, anak-anak mulai memahami arti ikhlas dalam bentuk yang sederhana.
Guru mengajak siswa berdiskusi tentang berbagai situasi yang mereka temui sehari-hari. Misalnya ketika harus berbagi makanan dengan teman, membantu orang tua di rumah, atau menerima keputusan yang mungkin tidak sesuai keinginannya.
Dari situ anak-anak belajar bahwa ikhlas bukan hanya ada dalam cerita para nabi, tetapi juga bisa dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran yang disampaikan dengan bahasa sederhana membuat nilai-nilai besar menjadi lebih mudah dipahami oleh anak-anak.
Kelas 3–4: Memahami Haji dan Salat Id
Memasuki kelas 3 dan 4, pemahaman siswa mulai berkembang lebih luas. Pada jenjang ini, kakak shalih dan shalihah diajak mengenal berbagai ibadah yang berkaitan dengan momen Iduladha, seperti ibadah haji dan salat Id.
Mereka belajar bahwa jutaan umat Islam dari berbagai negara berkumpul di Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji. Anak-anak juga dikenalkan dengan beberapa rangkaian ibadah haji serta makna persatuan umat Islam yang terkandung di dalamnya. Selain itu, mereka juga mempelajari pelaksanaan salat Iduladha, mulai dari tata cara hingga hikmah yang terkandung di dalamnya.
Pembelajaran ini membantu siswa memahami bahwa Iduladha bukan hanya tentang satu ibadah tertentu, tetapi merupakan bagian dari rangkaian syariat Islam yang saling berkaitan. Dengan pemahaman tersebut, anak-anak tidak hanya mengetahui bahwa salat Id dan haji dilakukan saat Iduladha, tetapi juga memahami alasan dan makna di balik pelaksanaannya.
Kelas 5–6: Simulasi Proses Penyembelihan Hewan Qurban
Sementara itu, siswa kelas 5 dan 6 mendapatkan pengalaman belajar yang lebih mendalam. Mereka diajak untuk melakukan simulasi proses penyembelihan hewan qurban serta mempelajari tata cara pelaksanaannya sesuai syariat Islam.
Kegiatan ini menjadi pengalaman yang sangat berharga karena anak-anak dapat menyaksikan secara nyata proses yang selama ini mungkin hanya mereka dengar melalui cerita atau lihat melalui video.
Guru menjelaskan berbagai aspek penting dalam ibadah qurban, mulai dari syarat hewan qurban, adab penyembelihan, hingga tujuan utama dari ibadah tersebut. Melalui pengamatan langsung, siswa belajar bahwa qurban bukan sekadar menyembelih hewan.
Qurban adalah simbol ketundukan kepada Allah SWT, wujud rasa syukur atas nikmat-Nya, serta bentuk kepedulian kepada masyarakat yang membutuhkan. Pembelajaran kontekstual seperti ini membantu anak memahami agama secara lebih utuh dan bermakna.
Menanamkan Nilai Sebelum Menjadi Kebiasaan
Salah satu tantangan pendidikan karakter saat ini adalah bagaimana membantu anak memahami nilai, bukan sekadar menghafal informasi. Anak mungkin dapat menjawab pertanyaan tentang Iduladha dengan benar. Namun yang lebih penting adalah apakah mereka memahami pesan yang terkandung di dalamnya.
Karena itulah kegiatan PHBI Iduladha di SD Islam Bintang Juara dirancang tidak hanya berorientasi pada pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter.
Ketika anak belajar tentang ikhlas, mereka sedang belajar mengendalikan ego.
Ketika belajar tentang qurban, mereka sedang belajar berbagi.
Ketika memahami kisah Nabi Ibrahim, mereka sedang belajar tentang ketaatan kepada Allah.
Nilai-nilai tersebut tidak tumbuh dalam satu hari. Ia perlu ditanamkan berulang kali melalui pengalaman belajar yang menyenangkan dan sesuai dengan perkembangan anak.
Pendidikan Agama yang Dekat dengan Kehidupan Anak
Di SD Islam Bintang Juara, pendidikan agama tidak berhenti pada hafalan atau teori di dalam kelas. Anak-anak diajak menghubungkan pelajaran agama dengan kehidupan nyata mereka sehari-hari.
Mereka belajar bahwa nilai Islam dapat diterapkan saat bermain bersama teman, membantu orang tua, menghormati guru, hingga berbagi dengan orang lain. Dengan cara inilah agama menjadi sesuatu yang hidup dan dekat dengan keseharian mereka.
Karena tujuan pendidikan Islam bukan hanya membuat anak mengetahui ajaran agama, tetapi membantu mereka menjadikan nilai-nilai tersebut sebagai bagian dari karakter dirinya.
Menyiapkan Generasi yang Memahami Makna
PHBI Iduladha tahun ini menjadi salah satu ikhtiar SD Islam Bintang Juara dalam menyiapkan generasi muslim yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki pemahaman agama yang kuat dan bermakna.
Melalui pembelajaran yang disesuaikan dengan usia, anak-anak diajak bertumbuh secara bertahap dalam memahami ajaran Islam. Mulai dari belajar tentang ikhlas, mengenal ibadah haji dan salat Id, hingga memahami makna qurban secara langsung. Karena karakter tidak dibangun dalam semalam. Ia tumbuh perlahan, dari cerita yang didengar, pengalaman yang dijalani, dan keteladanan yang dilihat setiap hari.
Semoga bekal yang ditanamkan sebelum Iduladha ini menjadi benih kebaikan yang terus tumbuh dalam hati kakak shalih dan shalihah, serta mengantarkan mereka menjadi generasi yang mencintai Allah, memahami agamanya, dan siap menebarkan manfaat bagi sesama.*** (CM-MRT)
Langkah-langkah kecil itu berjalan perlahan memasuki ruangan. Wajah-wajah penuh harap tampak dari para kakak shalih dan shalihah yang hari itu mengenakan pakaian serba putih dengan selempang istimewa berwarna hitam dengan hiasan emas bertuliskan “Khotmil Quran SD Islam Bintang Juara”. Di belakangnya, lantunan rebana dari tim Rebana An Najma Senior mengiringi suasana menjadi semakin khidmat.
Bukan sekadar acara seremonial. Bukan hanya tentang tampil di depan panggung. Tetapi tentang perjalanan panjang yang penuh air mata, murojaah, rasa lelah, semangat, dan doa-doa yang diam-diam dipanjatkan orang tua setiap malam.
Itulah suasana Puncak Tasmi’ SD Islam Bintang Juara Tahun Pelajaran 2025–2026.
Tahun ini, sebanyak 15 kakak shalih dan 15 kakak shalihah berhasil mencapai tahap Puncak Tasmi’. Namun satu kakak shalihah terpaksa belum bisa bergabung karena sedang sakit tifus. Meski demikian, semangat dan doa tetap mengalir untuk kesembuhannya.
Karena dalam perjalanan menghafal Al-Qur’an, setiap proses memiliki nilai perjuangan yang besar.
Puncak Tasmi’ Dibuka dengan Lantunan yang Menenangkan Hati
Kegiatan dimulai dengan pembukaan oleh dua MC, Bu Shilvi dan Bu Ulya, yang menyambut para tamu undangan, guru, dan orang tua dengan hangat.
Acara kemudian dilanjutkan dengan tilawah dan sari tilawah Surat Al-Muzammil yang dibacakan oleh Bu Ulfa. Ayat demi ayat yang dilantunkan seakan menjadi pengingat bahwa Al-Qur’an bukan sekadar untuk dihafal, tetapi juga untuk dicintai dan dijaga sepanjang hayat.
Tak lama kemudian, peserta Puncak Tasmi’ memasuki ruangan dengan penuh percaya diri. Iringan rebana membuat suasana terasa syahdu. Banyak ayah bunda tampak mengabadikan momen itu sambil menahan haru.
Prosesi Khotmil Quran yang Menggetarkan
Salah satu momen paling bermakna dalam kegiatan ini adalah prosesi Khotmil Quran.
Dipimpin oleh Pak Ali, kegiatan diawali dengan pembacaan hadhoroh, kemudian seluruh peserta bersama-sama membaca Surat Ad-Dhuha hingga An-Naas. Suara anak-anak yang membaca ayat suci Al-Qur’an secara serempak membuat ruangan terasa begitu menenangkan.
Tak sedikit orang tua yang tampak menundukkan kepala sambil menyeka air mata. Karena bagi banyak ayah bunda, mendengar anaknya membaca Al-Qur’an dengan lancar adalah hadiah yang tidak bisa diukur dengan apa pun.
Prosesi kemudian ditutup dengan doa khotmil Quran yang dipimpin oleh Pak Ali. Dalam doa tersebut, dipanjatkan harapan agar anak-anak senantiasa dijaga hatinya, dimudahkan menjaga hafalan, serta tumbuh menjadi generasi pecinta Al-Qur’an.
Sambung Ayat yang Menegangkan Sekaligus Membanggakan
Suasana yang awalnya haru berubah menjadi penuh antusias ketika memasuki sesi sambung ayat.
Panitia telah menyiapkan lintingan berisi potongan ayat Al-Qur’an. Tamu undangan dan orang tua diminta mengambil salah satu lintingan, lalu membacakan ayat tersebut. Setelah itu, peserta yang mampu melanjutkan ayat diminta mengangkat tangan dan meneruskan hingga lima ayat berikutnya.
Ruangan mendadak penuh semangat. Beberapa peserta mengangkat tangan dengan cepat. Ada yang tampak berpikir sejenak sebelum melanjutkan ayat. Ada pula yang dengan mantap menyambung tanpa ragu. Momen ini menjadi bukti bahwa hafalan Al-Qur’an bukan hanya hasil sekali dua kali belajar. Dibutuhkan murojaah, disiplin, dan pembiasaan setiap hari.
Di balik keberanian anak-anak itu, ada perjuangan panjang yang sering kali tidak terlihat. Ada waktu bermain yang dikurangi untuk murojaah. Ada rasa malas yang harus dilawan. Ada ayah bunda dan guru yang terus mendampingi dengan sabar.
Sungkeman yang Membuat Banyak Mata Berkaca-Kaca
Namun puncak keharuan benar-benar terasa ketika memasuki sesi sungkeman.
Satu per satu peserta turun dari panggung menuju tempat duduk orang tua mereka. Anak-anak itu lalu bersimpuh, menyalami tangan ayah dan bunda, meminta doa restu, lalu dipeluk erat.
Beberapa anak tampak menangis. Orang tua pun tak kuasa menahan haru. Pelukan itu terasa lebih dari sekadar ucapan selamat. Ada rasa syukur. Ada rasa bangga. Ada doa-doa yang tidak terucap lewat kata-kata.
Momen sungkeman ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan anak menghafal Al-Qur’an tidak pernah lahir dari perjuangan anak saja. Di belakangnya ada keluarga yang ikut bertumbuh bersama proses itu.
Karena sesungguhnya menghafal Al-Qur’an bukan perjalanan singkat. Ia adalah perjalanan hati.
Bagi Ayah Bunda yang terlewat menonton live Puncak Tasmi, masih bisa menyimaknya pada link berikut:
Tasmi’ Bukan Akhir, Tetapi Awal Perjalanan
Dalam sesi pesan-pesan bermakna, Kepala SD Islam Bintang Juara, Nur Shofwatin Ni’mah, S.Pd., Gr., menyampaikan bahwa Puncak Tasmi’ bukanlah garis akhir. Justru inilah awal perjalanan anak-anak untuk menjaga kedekatan dengan Al-Qur’an. Beliau mengingatkan bahwa tantangan terbesar bukan saat menghafal, tetapi saat menjaga hafalan agar tetap hidup dalam keseharian.
Senada dengan itu, Ketua Yayasan Dewi Sartika, Dyah Indah Noviyani, S.Psi., M.Psi., Psikolog, juga menegaskan pentingnya peran orang tua dalam mendampingi anak menjaga hafalan.
Anak-anak tetap membutuhkan suasana rumah yang dekat dengan Al-Qur’an. Tetap membutuhkan teladan. Tetap membutuhkan apresiasi. Dan tetap membutuhkan orang tua yang membersamai proses mereka.
Sementara itu, Dewan Pembina Yayasan Dewi Sartika, Prof. Dr. Hj. Esmi Warassih Puji Rahayu, S.H., M.S., menyampaikan bahwa nikmat Al-Qur’an adalah nikmat besar yang harus disyukuri. Beliau berharap anak-anak tidak hanya menjadi penghafal, tetapi juga tumbuh dengan adab, akhlak, dan kecintaan terhadap isi Al-Qur’an.
Ketiga tokoh tersebut memiliki benang merah pesan yang sama:
Tasmi’ bukan akhir perjalanan.
Tasmi’ adalah awal anak belajar mencintai Al-Qur’an sepanjang hidupnya.
Kisah Jatuh Bangun Ahmad Nadhif Ar Rayyan
Salah satu bagian paling menginspirasi dalam kegiatan ini datang dari perwakilan peserta Puncak Tasmi’, Ahmad Nadhif Ar Rayyan (Kelas 6).
Dengan suara tenang, Nadhif menceritakan bahwa dirinya pernah gagal mengikuti Puncak Tasmi’ pada tahun sebelumnya. Saat itu ia merasa sedih. Kecewa. Bahkan sempat merasa tidak percaya diri.
Namun dari kegagalan itu, Nadhif memilih belajar memperbaiki prosesnya. Ia mulai membuat jurnal harian hafalan Al-Qur’an. Menata jadwal murojaah. Mencatat target hafalan setiap hari.
Dan perlahan, kebiasaan kecil itu membantunya lebih disiplin menjaga hafalan. Hingga akhirnya tahun ini, ia berhasil lulus tasmi’ dan berdiri di panggung Puncak Tasmi’.
Kisah Nadhif menjadi pengingat berharga bagi anak-anak bahwa kegagalan bukan alasan untuk berhenti. Kadang Allah sedang mengajarkan proses bertumbuh yang lebih kuat.
Pesan Orang Tua: Jaga Adab Bersama Al-Qur’an
Acara kemudian ditutup dengan pesan dari perwakilan orang tua peserta yang diwakili oleh orang tua Kak Hasna. Dengan penuh rasa syukur, beliau menyampaikan terima kasih kepada seluruh guru yang telah mendampingi proses anak-anak selama ini.
Beliau juga mengingatkan bahwa menjaga adab sama pentingnya dengan menjaga hafalan. Karena Al-Qur’an tidak hanya dihafal oleh lisan, tetapi juga harus tercermin dalam sikap dan perilaku sehari-hari.
Pesan itu terasa begitu dalam. Sebab tujuan utama pendidikan Al-Qur’an bukan sekadar banyaknya hafalan, melainkan bagaimana Al-Qur’an hidup dalam akhlak anak-anak.
Menghafal Al-Qur’an adalah Perjalanan yang Harus Dijaga Bersama
Puncak Tasmi’ SD Islam Bintang Juara tahun ini bukan hanya meninggalkan dokumentasi indah. Tetapi juga meninggalkan pelajaran berharga tentang kesabaran, proses, dan cinta terhadap Al-Qur’an.
Di tengah dunia yang semakin sibuk dan penuh distraksi, anak-anak ini belajar menyediakan ruang dalam hatinya untuk Al-Qur’an. Dan itu bukan sesuatu yang mudah. Karena itulah mereka membutuhkan rumah yang mendukung. Guru yang membersamai. Dan orang tua yang terus menguatkan langkah mereka.
Semoga Puncak Tasmi’ ini menjadi awal perjalanan panjang bagi kakak shalih dan shalihah untuk terus menjaga hafalan, memperbaiki adab, dan tumbuh menjadi generasi yang dekat dengan Al-Qur’an. Karena sejatinya, Al-Qur’an bukan hanya untuk dihafal. Tetapi untuk dijaga, dicintai, dan diamalkan sepanjang kehidupan.*** (CM-MRT)
Siang itu, suasana Perpustakaan SD Islam Bintang Juara terasa berbeda. Tidak ada suara riuh siswa seperti biasanya, namun energi yang hadir tetap terasa hidup. Para guru duduk melingkar, membawa buku catatan, laptop, dan tentu saja semangat untuk belajar. Hari itu, Selasa, 21 April 2026, menjadi salah satu momen penting dalam perjalanan peningkatan kualitas pembelajaran melalui kegiatan Kombel Telaga Ilmu dengan tema “Merancang Asesmen Pembelajaran Mendalam” bersama Bu Nawang Wulan, M.Pd., dari Litbang Yayasan Dewi Sartika.
Kegiatan ini bukan sekadar forum diskusi biasa. Ia menjadi ruang refleksi, ruang bertumbuh, sekaligus ruang untuk menyadari kembali makna sejati dari sebuah proses belajar.
Merancang Asesmen Bermakna: Bukan Sekadar Nilai
Selama ini, asesmen sering kali dipahami sebagai angka. Sebuah hasil akhir yang menunjukkan sejauh mana siswa “berhasil” dalam belajar. Namun, dalam sesi ini, perspektif tersebut perlahan digeser.
Bu Nawang membuka sesi dengan sebuah pertanyaan sederhana, namun menggugah, “Apakah asesmen yang kita lakukan benar-benar mencerminkan pemahaman anak?”
Pertanyaan itu membuat ruangan sejenak hening.
Karena pada kenyataannya, tidak semua nilai tinggi menunjukkan pemahaman yang mendalam. Dan tidak semua nilai rendah berarti anak tidak mampu. Di sinilah pentingnya merancang asesmen yang tidak hanya mengukur hasil, tetapi juga memahami proses.
Asesmen pembelajaran mendalam menekankan bahwa belajar bukan sekadar mengingat, tetapi memahami, mengaitkan, dan menerapkan.
Belajar Melihat dari Perspektif Siswa
Dalam sesi ini, para guru diajak untuk “berpindah posisi”. Tidak lagi sebagai pengajar, tetapi sebagai pembelajar.
Bagaimana rasanya menjadi siswa yang hanya dinilai dari angka?
Bagaimana rasanya ketika usaha tidak terlihat, hanya hasil yang diperhatikan?
Diskusi demi diskusi mengalir. Dari pengalaman pribadi, hingga refleksi di kelas masing-masing. Di sinilah mulai terlihat bahwa asesmen yang baik adalah asesmen yang:
Memberi ruang bagi proses berpikir
Menghargai usaha, bukan hanya hasil
Membantu siswa memahami dirinya sendiri
Karena sejatinya, asesmen bukan untuk menghakimi, tetapi untuk membimbing.
Menggali Makna “Pembelajaran Mendalam”
Pembelajaran mendalam bukan tentang materi yang banyak, tetapi tentang pemahaman yang kuat. Bu Nawang menjelaskan bahwa pembelajaran mendalam terjadi ketika siswa:
Mampu mengaitkan materi dengan kehidupan nyata
Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi
Terlibat aktif dalam proses belajar
Mampu merefleksikan apa yang dipelajari
Dalam konteks ini, asesmen harus selaras dengan tujuan tersebut.
Artinya, bentuk asesmen tidak harus selalu berupa tes tertulis. Bisa berupa:
Proyek
Presentasi
Diskusi
Refleksi diri
Observasi proses
Pendekatan ini membuka wawasan baru bagi para guru. Bahwa ternyata, banyak cara untuk “melihat” pemahaman siswa.
Dari Teori ke Praktik
Yang membuat kegiatan ini semakin bermakna adalah sesi praktik langsung. Para guru dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil. Setiap kelompok diminta untuk merancang contoh asesmen pembelajaran mendalam sesuai dengan mata pelajaran masing-masing.
Diskusi menjadi semakin hidup. Ide-ide bermunculan. Ada yang merancang asesmen berbasis proyek, ada yang membuat rubrik penilaian reflektif, ada pula yang mengembangkan asesmen berbasis studi kasus.
Menariknya, dalam proses ini, para guru tidak hanya berpikir tentang “apa yang dinilai”, tetapi juga:
Bagaimana cara menilai
Mengapa hal tersebut penting
Apa dampaknya bagi siswa
Di sinilah terlihat bahwa asesmen yang baik lahir dari pemahaman yang utuh.
Menguatkan Peran Guru sebagai Pembimbing
Salah satu poin penting yang ditekankan dalam kegiatan ini adalah perubahan peran guru. Guru bukan lagi sekadar pemberi materi, tetapi menjadi fasilitator, pembimbing, dan pengamat proses belajar.
Dalam asesmen pembelajaran mendalam, guru dituntut untuk:
Lebih peka terhadap proses belajar siswa
Memberikan umpan balik yang konstruktif\
Mendorong refleksi diri siswa
Menjadi teladan dalam berpikir kritis
Peran ini memang tidak mudah. Namun, justru di sinilah letak keindahannya. Karena ketika guru bertumbuh, siswa pun ikut bertumbuh.
Refleksi: Belajar Tidak Pernah Selesai
Menjelang akhir sesi, suasana kembali hening. Namun kali ini bukan karena bingung, melainkan karena penuh makna.
Setiap guru diminta untuk menuliskan refleksi pribadi:
Apa yang dipelajari hari ini?
Apa yang ingin diperbaiki ke depan?
Jawaban yang muncul begitu beragam, namun memiliki satu benang merah yang sama: keinginan untuk menjadi lebih baik.
Ada yang menyadari bahwa selama ini terlalu fokus pada hasil.
Ada yang ingin mulai memberi ruang refleksi bagi siswa.
Ada pula yang merasa tertantang untuk mencoba metode baru.
Dan semua itu berawal dari satu kesadaran: belajar adalah proses yang tidak pernah selesai.
Dampak Nyata bagi Pembelajaran
Kegiatan Kombel Telaga Ilmu ini bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi membawa dampak nyata bagi pembelajaran di kelas. Dengan asesmen yang lebih bermakna:
Siswa merasa lebih dihargai
Proses belajar menjadi lebih hidup
Guru lebih memahami kebutuhan siswa
Pembelajaran menjadi lebih relevan dengan kehidupan nyata
Ini bukan perubahan instan. Namun, langkah kecil yang konsisten akan membawa perubahan besar.
Menutup dengan Harapan
Belajar merancang asesmen pembelajaran mendalam mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Namun, makna yang dibawa akan terus hidup dalam setiap proses belajar di kelas. Kombel Telaga Ilmu telah menjadi ruang yang mengingatkan kembali bahwa: mengajar bukan hanya tentang menyampaikan, tetapi tentang memahami. Dan asesmen bukan hanya tentang menilai, tetapi tentang membimbing.
Semoga langkah kecil ini menjadi awal dari perubahan besar. Menuju pembelajaran yang lebih bermakna. Menuju generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga sadar akan proses belajarnya.
Karena pada akhirnya, pendidikan bukan tentang siapa yang paling cepat, tetapi siapa yang paling memahami.*** (CM-MRT)
Pagi itu, suasana kelas 4A dan 4B SD Islam Bintang Juara terasa berbeda dari biasanya. Bukan hanya buku dan alat tulis yang tersusun rapi di meja, tetapi juga gelas ukur, cangkir, sumbu lilin, hingga cairan berwarna kuning yang mungkin sering kita temui di dapur: minyak jelantah.
Namun siapa sangka, dari bahan yang sering dianggap limbah ini, kakak shalih-shalihah akan belajar sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar praktik membuat lilin.
Kegiatan Belajar Bersama Ahli (BBA) kali ini menghadirkan sosok inspiratif, Yuli Kuswanti, S.I.Pust., seorang pegiat literasi yang juga memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan hidup. Tema yang diangkat pun sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari, yaitu “Aroma Terapi dari Minyak Jelantah: Mengubah Limbah Menjadi Produk Bernilai.”
Dari Limbah Menjadi Peluang
Sebelum praktik dimulai, Bunda Yuli membuka sesi dengan sebuah pertanyaan sederhana, “Kalau minyak bekas dipakai menggoreng, biasanya dibuang ke mana?”
Beragam jawaban pun muncul. Ada yang bilang dibuang ke selokan, ada juga yang menyimpannya untuk dipakai kembali. Dari sini, kakak shalih-shalihah mulai diajak berpikir lebih dalam: apakah kebiasaan tersebut sudah tepat?
Bunda Yuli kemudian menjelaskan bahwa minyak jelantah yang dibuang sembarangan dapat mencemari lingkungan, terutama air dan tanah. Jika terus dibiarkan, limbah ini bisa berdampak buruk bagi kehidupan makhluk hidup.
Namun di balik itu, tersimpan potensi besar. Minyak jelantah ternyata bisa diolah menjadi berbagai produk bermanfaat, seperti sabun hingga lilin aromaterapi.
Di sinilah pembelajaran menjadi hidup. Kakak tidak hanya mendengar teori, tetapi juga memahami makna di baliknya—bahwa setiap masalah bisa menjadi peluang jika kita mau berpikir kreatif.
Menghidupkan Konsep Melalui Praktik Nyata
Kegiatan ini merupakan bagian dari kontekstualisasi Project Based Learning dengan tema “Perubahan Energi dan Wujud Zat.” Apa yang sebelumnya hanya dipelajari melalui buku, kini benar-benar bisa dilihat dan dirasakan langsung.
Proses pembuatan lilin aromaterapi dimulai dengan langkah pertama: menyaring minyak jelantah. Kakak shalih-shalihah terlihat antusias saat melihat bagaimana minyak yang awalnya keruh perlahan menjadi lebih bersih.
Langkah berikutnya adalah mencampurkan minyak jelantah dengan asam stearat. Perbandingannya cukup sederhana, yaitu 3:1. Untuk 300 ml minyak, dibutuhkan 100 gram asam stearat.
Ketika campuran tersebut dipanaskan, kakak-kakak mulai menyaksikan perubahan wujud yang nyata. Dari cair, perlahan menjadi lebih kental, lalu siap dituangkan ke dalam cetakan.
Beberapa kakak menambahkan pewarna agar lilin terlihat lebih menarik. Ada yang memilih warna cerah, ada pula yang tetap mempertahankan warna alami. Sumbu pun dipasang dengan hati-hati, menjadi penanda bahwa lilin siap digunakan.
Momen paling ditunggu akhirnya tiba. Ketika lilin mulai mengeras, rasa bangga terlihat jelas di wajah kakak shalih-shalihah. Mereka tidak hanya berhasil membuat sebuah produk, tetapi juga memahami proses ilmiah di baliknya.
Lebih dari Sekadar Praktik
Kegiatan ini bukan hanya tentang membuat lilin. Ada banyak nilai yang tertanam secara perlahan namun mendalam.
Kakak belajar bahwa ilmu tidak berhenti di buku. Mereka belajar bahwa perubahan energi dan wujud zat bukan sekadar konsep, tetapi sesuatu yang terjadi di sekitar mereka setiap hari.
Lebih dari itu, mereka juga belajar tentang tanggung jawab terhadap lingkungan. Bahwa menjaga bumi bisa dimulai dari langkah kecil, seperti tidak membuang limbah sembarangan dan mencoba mengolahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat.
Interaksi dengan narasumber juga membuka wawasan baru. Kakak melihat bahwa profesi dan minat bisa saling terhubung—bahwa seorang pegiat literasi pun bisa berkontribusi dalam isu lingkungan.
Menumbuhkan Pola Pikir Kreatif dan Solutif
Di era saat ini, kemampuan berpikir kreatif dan solutif menjadi salah satu keterampilan penting yang perlu dimiliki anak-anak. Kegiatan seperti ini menjadi salah satu cara efektif untuk menumbuhkan kemampuan tersebut.
Ketika kakak melihat minyak jelantah, mereka tidak lagi hanya melihat limbah. Mereka mulai melihat potensi. Mereka mulai bertanya, “Apa lagi yang bisa kita buat dari ini?”
Pertanyaan sederhana ini adalah awal dari pola pikir inovatif.
Belajar yang Bermakna, Dampak yang Nyata
Kegiatan BBA ini menjadi bukti bahwa belajar bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan sekaligus bermakna. Kakak tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga pengalaman yang akan mereka ingat dalam jangka panjang.
Dari sebuah lilin kecil, kakak belajar tentang ilmu, lingkungan, kreativitas, hingga tanggung jawab. Semua terangkai dalam satu kegiatan yang sederhana namun penuh makna.
Ke depan, harapannya kakak shalih-shalihah tidak hanya berhenti pada pengalaman ini. Mereka bisa membawa semangat ini ke rumah, bahkan mengajak keluarga untuk mulai peduli terhadap pengelolaan limbah.
Karena sejatinya, perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Dan hari itu, langkah kecil itu dimulai dari minyak jelantah… yang berubah menjadi cahaya.*** (CM-MRT)