Kalimat seperti itu mungkin pernah terdengar ketika membicarakan pendidikan agama untuk anak-anak. Padahal justru pada usia sekolah dasar inilah nilai-nilai kehidupan mulai tertanam kuat dalam diri mereka. Apa yang dilihat, didengar, dan dipelajari hari ini akan menjadi bekal yang mereka bawa hingga dewasa.
Karena itulah SD Islam Bintang Juara menggelar kegiatan PHBI (Peringatan Hari Besar Islam) Iduladha pada Selasa, 26 Mei 2026. Kegiatan ini tidak hanya mengajak siswa mengetahui tentang Iduladha sebagai sebuah perayaan keagamaan, tetapi juga memahami makna yang terkandung di baliknya.
Sebab di SD Islam Bintang Juara, anak-anak tidak hanya diajak mengenal “apa” yang dilakukan dalam agama, tetapi juga memahami “mengapa” dan “untuk apa” ibadah itu dilakukan.
PHBI Iduladha 2026: Belajar Nilai Kehidupan dari Kisah Nabi Ibrahim
Suasana pembelajaran hari itu terasa berbeda. Kakak shalih dan shalihah diajak menyelami kembali kisah yang menjadi dasar peringatan Iduladha, yaitu keteladanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Melalui kisah tersebut, anak-anak belajar bahwa Iduladha bukan sekadar tentang hewan qurban.
Lebih dari itu, Iduladha mengajarkan tentang keikhlasan, ketaatan kepada Allah, kesabaran, pengorbanan, dan kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai inilah yang menjadi pondasi penting dalam membentuk karakter seorang calon pemimpin muslim. Namun tentu saja cara penyampaiannya disesuaikan dengan usia dan tahap perkembangan masing-masing siswa.
Kelas 1–2: Mengenal Iduladha dan Makna Ikhlas
Bagi siswa kelas 1 dan 2, pembelajaran difokuskan pada pengenalan dasar tentang Iduladha melalui cerita yang dekat dengan dunia anak-anak. Mereka diajak mendengarkan cerita Pak Ali tentang Jono dan Beki, dilanjut dengan kisah Nabi Ibrahim AS yang mendapat perintah dari Allah SWT. Dari cerita tersebut, anak-anak mulai memahami arti ikhlas dalam bentuk yang sederhana.
Guru mengajak siswa berdiskusi tentang berbagai situasi yang mereka temui sehari-hari. Misalnya ketika harus berbagi makanan dengan teman, membantu orang tua di rumah, atau menerima keputusan yang mungkin tidak sesuai keinginannya.
Dari situ anak-anak belajar bahwa ikhlas bukan hanya ada dalam cerita para nabi, tetapi juga bisa dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran yang disampaikan dengan bahasa sederhana membuat nilai-nilai besar menjadi lebih mudah dipahami oleh anak-anak.
Kelas 3–4: Memahami Haji dan Salat Id
Memasuki kelas 3 dan 4, pemahaman siswa mulai berkembang lebih luas. Pada jenjang ini, kakak shalih dan shalihah diajak mengenal berbagai ibadah yang berkaitan dengan momen Iduladha, seperti ibadah haji dan salat Id.
Mereka belajar bahwa jutaan umat Islam dari berbagai negara berkumpul di Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji. Anak-anak juga dikenalkan dengan beberapa rangkaian ibadah haji serta makna persatuan umat Islam yang terkandung di dalamnya. Selain itu, mereka juga mempelajari pelaksanaan salat Iduladha, mulai dari tata cara hingga hikmah yang terkandung di dalamnya.
Pembelajaran ini membantu siswa memahami bahwa Iduladha bukan hanya tentang satu ibadah tertentu, tetapi merupakan bagian dari rangkaian syariat Islam yang saling berkaitan. Dengan pemahaman tersebut, anak-anak tidak hanya mengetahui bahwa salat Id dan haji dilakukan saat Iduladha, tetapi juga memahami alasan dan makna di balik pelaksanaannya.
Kelas 5–6: Simulasi Proses Penyembelihan Hewan Qurban
Sementara itu, siswa kelas 5 dan 6 mendapatkan pengalaman belajar yang lebih mendalam. Mereka diajak untuk melakukan simulasi proses penyembelihan hewan qurban serta mempelajari tata cara pelaksanaannya sesuai syariat Islam.
Kegiatan ini menjadi pengalaman yang sangat berharga karena anak-anak dapat menyaksikan secara nyata proses yang selama ini mungkin hanya mereka dengar melalui cerita atau lihat melalui video.
Guru menjelaskan berbagai aspek penting dalam ibadah qurban, mulai dari syarat hewan qurban, adab penyembelihan, hingga tujuan utama dari ibadah tersebut. Melalui pengamatan langsung, siswa belajar bahwa qurban bukan sekadar menyembelih hewan.
Qurban adalah simbol ketundukan kepada Allah SWT, wujud rasa syukur atas nikmat-Nya, serta bentuk kepedulian kepada masyarakat yang membutuhkan. Pembelajaran kontekstual seperti ini membantu anak memahami agama secara lebih utuh dan bermakna.
Menanamkan Nilai Sebelum Menjadi Kebiasaan
Salah satu tantangan pendidikan karakter saat ini adalah bagaimana membantu anak memahami nilai, bukan sekadar menghafal informasi. Anak mungkin dapat menjawab pertanyaan tentang Iduladha dengan benar. Namun yang lebih penting adalah apakah mereka memahami pesan yang terkandung di dalamnya.
Karena itulah kegiatan PHBI Iduladha di SD Islam Bintang Juara dirancang tidak hanya berorientasi pada pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter.
Ketika anak belajar tentang ikhlas, mereka sedang belajar mengendalikan ego.
Ketika belajar tentang qurban, mereka sedang belajar berbagi.
Ketika memahami kisah Nabi Ibrahim, mereka sedang belajar tentang ketaatan kepada Allah.
Nilai-nilai tersebut tidak tumbuh dalam satu hari. Ia perlu ditanamkan berulang kali melalui pengalaman belajar yang menyenangkan dan sesuai dengan perkembangan anak.
Pendidikan Agama yang Dekat dengan Kehidupan Anak
Di SD Islam Bintang Juara, pendidikan agama tidak berhenti pada hafalan atau teori di dalam kelas. Anak-anak diajak menghubungkan pelajaran agama dengan kehidupan nyata mereka sehari-hari.
Mereka belajar bahwa nilai Islam dapat diterapkan saat bermain bersama teman, membantu orang tua, menghormati guru, hingga berbagi dengan orang lain. Dengan cara inilah agama menjadi sesuatu yang hidup dan dekat dengan keseharian mereka.
Karena tujuan pendidikan Islam bukan hanya membuat anak mengetahui ajaran agama, tetapi membantu mereka menjadikan nilai-nilai tersebut sebagai bagian dari karakter dirinya.
Menyiapkan Generasi yang Memahami Makna
PHBI Iduladha tahun ini menjadi salah satu ikhtiar SD Islam Bintang Juara dalam menyiapkan generasi muslim yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki pemahaman agama yang kuat dan bermakna.
Melalui pembelajaran yang disesuaikan dengan usia, anak-anak diajak bertumbuh secara bertahap dalam memahami ajaran Islam. Mulai dari belajar tentang ikhlas, mengenal ibadah haji dan salat Id, hingga memahami makna qurban secara langsung. Karena karakter tidak dibangun dalam semalam. Ia tumbuh perlahan, dari cerita yang didengar, pengalaman yang dijalani, dan keteladanan yang dilihat setiap hari.
Semoga bekal yang ditanamkan sebelum Iduladha ini menjadi benih kebaikan yang terus tumbuh dalam hati kakak shalih dan shalihah, serta mengantarkan mereka menjadi generasi yang mencintai Allah, memahami agamanya, dan siap menebarkan manfaat bagi sesama.*** (CM-MRT)
Langkah-langkah kecil itu berjalan perlahan memasuki ruangan. Wajah-wajah penuh harap tampak dari para kakak shalih dan shalihah yang hari itu mengenakan pakaian serba putih dengan selempang istimewa berwarna hitam dengan hiasan emas bertuliskan “Khotmil Quran SD Islam Bintang Juara”. Di belakangnya, lantunan rebana dari tim Rebana An Najma Senior mengiringi suasana menjadi semakin khidmat.
Bukan sekadar acara seremonial. Bukan hanya tentang tampil di depan panggung. Tetapi tentang perjalanan panjang yang penuh air mata, murojaah, rasa lelah, semangat, dan doa-doa yang diam-diam dipanjatkan orang tua setiap malam.
Itulah suasana Puncak Tasmi’ SD Islam Bintang Juara Tahun Pelajaran 2025–2026.
Tahun ini, sebanyak 15 kakak shalih dan 15 kakak shalihah berhasil mencapai tahap Puncak Tasmi’. Namun satu kakak shalihah terpaksa belum bisa bergabung karena sedang sakit tifus. Meski demikian, semangat dan doa tetap mengalir untuk kesembuhannya.
Karena dalam perjalanan menghafal Al-Qur’an, setiap proses memiliki nilai perjuangan yang besar.
Puncak Tasmi’ Dibuka dengan Lantunan yang Menenangkan Hati
Kegiatan dimulai dengan pembukaan oleh dua MC, Bu Shilvi dan Bu Ulya, yang menyambut para tamu undangan, guru, dan orang tua dengan hangat.
Acara kemudian dilanjutkan dengan tilawah dan sari tilawah Surat Al-Muzammil yang dibacakan oleh Bu Ulfa. Ayat demi ayat yang dilantunkan seakan menjadi pengingat bahwa Al-Qur’an bukan sekadar untuk dihafal, tetapi juga untuk dicintai dan dijaga sepanjang hayat.
Tak lama kemudian, peserta Puncak Tasmi’ memasuki ruangan dengan penuh percaya diri. Iringan rebana membuat suasana terasa syahdu. Banyak ayah bunda tampak mengabadikan momen itu sambil menahan haru.
Prosesi Khotmil Quran yang Menggetarkan
Salah satu momen paling bermakna dalam kegiatan ini adalah prosesi Khotmil Quran.
Dipimpin oleh Pak Ali, kegiatan diawali dengan pembacaan hadhoroh, kemudian seluruh peserta bersama-sama membaca Surat Ad-Dhuha hingga An-Naas. Suara anak-anak yang membaca ayat suci Al-Qur’an secara serempak membuat ruangan terasa begitu menenangkan.
Tak sedikit orang tua yang tampak menundukkan kepala sambil menyeka air mata. Karena bagi banyak ayah bunda, mendengar anaknya membaca Al-Qur’an dengan lancar adalah hadiah yang tidak bisa diukur dengan apa pun.
Prosesi kemudian ditutup dengan doa khotmil Quran yang dipimpin oleh Pak Ali. Dalam doa tersebut, dipanjatkan harapan agar anak-anak senantiasa dijaga hatinya, dimudahkan menjaga hafalan, serta tumbuh menjadi generasi pecinta Al-Qur’an.
Sambung Ayat yang Menegangkan Sekaligus Membanggakan
Suasana yang awalnya haru berubah menjadi penuh antusias ketika memasuki sesi sambung ayat.
Panitia telah menyiapkan lintingan berisi potongan ayat Al-Qur’an. Tamu undangan dan orang tua diminta mengambil salah satu lintingan, lalu membacakan ayat tersebut. Setelah itu, peserta yang mampu melanjutkan ayat diminta mengangkat tangan dan meneruskan hingga lima ayat berikutnya.
Ruangan mendadak penuh semangat. Beberapa peserta mengangkat tangan dengan cepat. Ada yang tampak berpikir sejenak sebelum melanjutkan ayat. Ada pula yang dengan mantap menyambung tanpa ragu. Momen ini menjadi bukti bahwa hafalan Al-Qur’an bukan hanya hasil sekali dua kali belajar. Dibutuhkan murojaah, disiplin, dan pembiasaan setiap hari.
Di balik keberanian anak-anak itu, ada perjuangan panjang yang sering kali tidak terlihat. Ada waktu bermain yang dikurangi untuk murojaah. Ada rasa malas yang harus dilawan. Ada ayah bunda dan guru yang terus mendampingi dengan sabar.
Sungkeman yang Membuat Banyak Mata Berkaca-Kaca
Namun puncak keharuan benar-benar terasa ketika memasuki sesi sungkeman.
Satu per satu peserta turun dari panggung menuju tempat duduk orang tua mereka. Anak-anak itu lalu bersimpuh, menyalami tangan ayah dan bunda, meminta doa restu, lalu dipeluk erat.
Beberapa anak tampak menangis. Orang tua pun tak kuasa menahan haru. Pelukan itu terasa lebih dari sekadar ucapan selamat. Ada rasa syukur. Ada rasa bangga. Ada doa-doa yang tidak terucap lewat kata-kata.
Momen sungkeman ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan anak menghafal Al-Qur’an tidak pernah lahir dari perjuangan anak saja. Di belakangnya ada keluarga yang ikut bertumbuh bersama proses itu.
Karena sesungguhnya menghafal Al-Qur’an bukan perjalanan singkat. Ia adalah perjalanan hati.
Bagi Ayah Bunda yang terlewat menonton live Puncak Tasmi, masih bisa menyimaknya pada link berikut:
Tasmi’ Bukan Akhir, Tetapi Awal Perjalanan
Dalam sesi pesan-pesan bermakna, Kepala SD Islam Bintang Juara, Nur Shofwatin Ni’mah, S.Pd., Gr., menyampaikan bahwa Puncak Tasmi’ bukanlah garis akhir. Justru inilah awal perjalanan anak-anak untuk menjaga kedekatan dengan Al-Qur’an. Beliau mengingatkan bahwa tantangan terbesar bukan saat menghafal, tetapi saat menjaga hafalan agar tetap hidup dalam keseharian.
Senada dengan itu, Ketua Yayasan Dewi Sartika, Dyah Indah Noviyani, S.Psi., M.Psi., Psikolog, juga menegaskan pentingnya peran orang tua dalam mendampingi anak menjaga hafalan.
Anak-anak tetap membutuhkan suasana rumah yang dekat dengan Al-Qur’an. Tetap membutuhkan teladan. Tetap membutuhkan apresiasi. Dan tetap membutuhkan orang tua yang membersamai proses mereka.
Sementara itu, Dewan Pembina Yayasan Dewi Sartika, Prof. Dr. Hj. Esmi Warassih Puji Rahayu, S.H., M.S., menyampaikan bahwa nikmat Al-Qur’an adalah nikmat besar yang harus disyukuri. Beliau berharap anak-anak tidak hanya menjadi penghafal, tetapi juga tumbuh dengan adab, akhlak, dan kecintaan terhadap isi Al-Qur’an.
Ketiga tokoh tersebut memiliki benang merah pesan yang sama:
Tasmi’ bukan akhir perjalanan.
Tasmi’ adalah awal anak belajar mencintai Al-Qur’an sepanjang hidupnya.
Kisah Jatuh Bangun Ahmad Nadhif Ar Rayyan
Salah satu bagian paling menginspirasi dalam kegiatan ini datang dari perwakilan peserta Puncak Tasmi’, Ahmad Nadhif Ar Rayyan (Kelas 6).
Dengan suara tenang, Nadhif menceritakan bahwa dirinya pernah gagal mengikuti Puncak Tasmi’ pada tahun sebelumnya. Saat itu ia merasa sedih. Kecewa. Bahkan sempat merasa tidak percaya diri.
Namun dari kegagalan itu, Nadhif memilih belajar memperbaiki prosesnya. Ia mulai membuat jurnal harian hafalan Al-Qur’an. Menata jadwal murojaah. Mencatat target hafalan setiap hari.
Dan perlahan, kebiasaan kecil itu membantunya lebih disiplin menjaga hafalan. Hingga akhirnya tahun ini, ia berhasil lulus tasmi’ dan berdiri di panggung Puncak Tasmi’.
Kisah Nadhif menjadi pengingat berharga bagi anak-anak bahwa kegagalan bukan alasan untuk berhenti. Kadang Allah sedang mengajarkan proses bertumbuh yang lebih kuat.
Pesan Orang Tua: Jaga Adab Bersama Al-Qur’an
Acara kemudian ditutup dengan pesan dari perwakilan orang tua peserta yang diwakili oleh orang tua Kak Hasna. Dengan penuh rasa syukur, beliau menyampaikan terima kasih kepada seluruh guru yang telah mendampingi proses anak-anak selama ini.
Beliau juga mengingatkan bahwa menjaga adab sama pentingnya dengan menjaga hafalan. Karena Al-Qur’an tidak hanya dihafal oleh lisan, tetapi juga harus tercermin dalam sikap dan perilaku sehari-hari.
Pesan itu terasa begitu dalam. Sebab tujuan utama pendidikan Al-Qur’an bukan sekadar banyaknya hafalan, melainkan bagaimana Al-Qur’an hidup dalam akhlak anak-anak.
Menghafal Al-Qur’an adalah Perjalanan yang Harus Dijaga Bersama
Puncak Tasmi’ SD Islam Bintang Juara tahun ini bukan hanya meninggalkan dokumentasi indah. Tetapi juga meninggalkan pelajaran berharga tentang kesabaran, proses, dan cinta terhadap Al-Qur’an.
Di tengah dunia yang semakin sibuk dan penuh distraksi, anak-anak ini belajar menyediakan ruang dalam hatinya untuk Al-Qur’an. Dan itu bukan sesuatu yang mudah. Karena itulah mereka membutuhkan rumah yang mendukung. Guru yang membersamai. Dan orang tua yang terus menguatkan langkah mereka.
Semoga Puncak Tasmi’ ini menjadi awal perjalanan panjang bagi kakak shalih dan shalihah untuk terus menjaga hafalan, memperbaiki adab, dan tumbuh menjadi generasi yang dekat dengan Al-Qur’an. Karena sejatinya, Al-Qur’an bukan hanya untuk dihafal. Tetapi untuk dijaga, dicintai, dan diamalkan sepanjang kehidupan.*** (CM-MRT)
Siang itu, suasana Perpustakaan SD Islam Bintang Juara terasa berbeda. Tidak ada suara riuh siswa seperti biasanya, namun energi yang hadir tetap terasa hidup. Para guru duduk melingkar, membawa buku catatan, laptop, dan tentu saja semangat untuk belajar. Hari itu, Selasa, 21 April 2026, menjadi salah satu momen penting dalam perjalanan peningkatan kualitas pembelajaran melalui kegiatan Kombel Telaga Ilmu dengan tema “Merancang Asesmen Pembelajaran Mendalam” bersama Bu Nawang Wulan, M.Pd., dari Litbang Yayasan Dewi Sartika.
Kegiatan ini bukan sekadar forum diskusi biasa. Ia menjadi ruang refleksi, ruang bertumbuh, sekaligus ruang untuk menyadari kembali makna sejati dari sebuah proses belajar.
Merancang Asesmen Bermakna: Bukan Sekadar Nilai
Selama ini, asesmen sering kali dipahami sebagai angka. Sebuah hasil akhir yang menunjukkan sejauh mana siswa “berhasil” dalam belajar. Namun, dalam sesi ini, perspektif tersebut perlahan digeser.
Bu Nawang membuka sesi dengan sebuah pertanyaan sederhana, namun menggugah, “Apakah asesmen yang kita lakukan benar-benar mencerminkan pemahaman anak?”
Pertanyaan itu membuat ruangan sejenak hening.
Karena pada kenyataannya, tidak semua nilai tinggi menunjukkan pemahaman yang mendalam. Dan tidak semua nilai rendah berarti anak tidak mampu. Di sinilah pentingnya merancang asesmen yang tidak hanya mengukur hasil, tetapi juga memahami proses.
Asesmen pembelajaran mendalam menekankan bahwa belajar bukan sekadar mengingat, tetapi memahami, mengaitkan, dan menerapkan.
Belajar Melihat dari Perspektif Siswa
Dalam sesi ini, para guru diajak untuk “berpindah posisi”. Tidak lagi sebagai pengajar, tetapi sebagai pembelajar.
Bagaimana rasanya menjadi siswa yang hanya dinilai dari angka?
Bagaimana rasanya ketika usaha tidak terlihat, hanya hasil yang diperhatikan?
Diskusi demi diskusi mengalir. Dari pengalaman pribadi, hingga refleksi di kelas masing-masing. Di sinilah mulai terlihat bahwa asesmen yang baik adalah asesmen yang:
Memberi ruang bagi proses berpikir
Menghargai usaha, bukan hanya hasil
Membantu siswa memahami dirinya sendiri
Karena sejatinya, asesmen bukan untuk menghakimi, tetapi untuk membimbing.
Menggali Makna “Pembelajaran Mendalam”
Pembelajaran mendalam bukan tentang materi yang banyak, tetapi tentang pemahaman yang kuat. Bu Nawang menjelaskan bahwa pembelajaran mendalam terjadi ketika siswa:
Mampu mengaitkan materi dengan kehidupan nyata
Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi
Terlibat aktif dalam proses belajar
Mampu merefleksikan apa yang dipelajari
Dalam konteks ini, asesmen harus selaras dengan tujuan tersebut.
Artinya, bentuk asesmen tidak harus selalu berupa tes tertulis. Bisa berupa:
Proyek
Presentasi
Diskusi
Refleksi diri
Observasi proses
Pendekatan ini membuka wawasan baru bagi para guru. Bahwa ternyata, banyak cara untuk “melihat” pemahaman siswa.
Dari Teori ke Praktik
Yang membuat kegiatan ini semakin bermakna adalah sesi praktik langsung. Para guru dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil. Setiap kelompok diminta untuk merancang contoh asesmen pembelajaran mendalam sesuai dengan mata pelajaran masing-masing.
Diskusi menjadi semakin hidup. Ide-ide bermunculan. Ada yang merancang asesmen berbasis proyek, ada yang membuat rubrik penilaian reflektif, ada pula yang mengembangkan asesmen berbasis studi kasus.
Menariknya, dalam proses ini, para guru tidak hanya berpikir tentang “apa yang dinilai”, tetapi juga:
Bagaimana cara menilai
Mengapa hal tersebut penting
Apa dampaknya bagi siswa
Di sinilah terlihat bahwa asesmen yang baik lahir dari pemahaman yang utuh.
Menguatkan Peran Guru sebagai Pembimbing
Salah satu poin penting yang ditekankan dalam kegiatan ini adalah perubahan peran guru. Guru bukan lagi sekadar pemberi materi, tetapi menjadi fasilitator, pembimbing, dan pengamat proses belajar.
Dalam asesmen pembelajaran mendalam, guru dituntut untuk:
Lebih peka terhadap proses belajar siswa
Memberikan umpan balik yang konstruktif\
Mendorong refleksi diri siswa
Menjadi teladan dalam berpikir kritis
Peran ini memang tidak mudah. Namun, justru di sinilah letak keindahannya. Karena ketika guru bertumbuh, siswa pun ikut bertumbuh.
Refleksi: Belajar Tidak Pernah Selesai
Menjelang akhir sesi, suasana kembali hening. Namun kali ini bukan karena bingung, melainkan karena penuh makna.
Setiap guru diminta untuk menuliskan refleksi pribadi:
Apa yang dipelajari hari ini?
Apa yang ingin diperbaiki ke depan?
Jawaban yang muncul begitu beragam, namun memiliki satu benang merah yang sama: keinginan untuk menjadi lebih baik.
Ada yang menyadari bahwa selama ini terlalu fokus pada hasil.
Ada yang ingin mulai memberi ruang refleksi bagi siswa.
Ada pula yang merasa tertantang untuk mencoba metode baru.
Dan semua itu berawal dari satu kesadaran: belajar adalah proses yang tidak pernah selesai.
Dampak Nyata bagi Pembelajaran
Kegiatan Kombel Telaga Ilmu ini bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi membawa dampak nyata bagi pembelajaran di kelas. Dengan asesmen yang lebih bermakna:
Siswa merasa lebih dihargai
Proses belajar menjadi lebih hidup
Guru lebih memahami kebutuhan siswa
Pembelajaran menjadi lebih relevan dengan kehidupan nyata
Ini bukan perubahan instan. Namun, langkah kecil yang konsisten akan membawa perubahan besar.
Menutup dengan Harapan
Belajar merancang asesmen pembelajaran mendalam mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Namun, makna yang dibawa akan terus hidup dalam setiap proses belajar di kelas. Kombel Telaga Ilmu telah menjadi ruang yang mengingatkan kembali bahwa: mengajar bukan hanya tentang menyampaikan, tetapi tentang memahami. Dan asesmen bukan hanya tentang menilai, tetapi tentang membimbing.
Semoga langkah kecil ini menjadi awal dari perubahan besar. Menuju pembelajaran yang lebih bermakna. Menuju generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga sadar akan proses belajarnya.
Karena pada akhirnya, pendidikan bukan tentang siapa yang paling cepat, tetapi siapa yang paling memahami.*** (CM-MRT)
Pagi itu, suasana kelas 4A dan 4B SD Islam Bintang Juara terasa berbeda dari biasanya. Bukan hanya buku dan alat tulis yang tersusun rapi di meja, tetapi juga gelas ukur, cangkir, sumbu lilin, hingga cairan berwarna kuning yang mungkin sering kita temui di dapur: minyak jelantah.
Namun siapa sangka, dari bahan yang sering dianggap limbah ini, kakak shalih-shalihah akan belajar sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar praktik membuat lilin.
Kegiatan Belajar Bersama Ahli (BBA) kali ini menghadirkan sosok inspiratif, Yuli Kuswanti, S.I.Pust., seorang pegiat literasi yang juga memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan hidup. Tema yang diangkat pun sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari, yaitu “Aroma Terapi dari Minyak Jelantah: Mengubah Limbah Menjadi Produk Bernilai.”
Dari Limbah Menjadi Peluang
Sebelum praktik dimulai, Bunda Yuli membuka sesi dengan sebuah pertanyaan sederhana, “Kalau minyak bekas dipakai menggoreng, biasanya dibuang ke mana?”
Beragam jawaban pun muncul. Ada yang bilang dibuang ke selokan, ada juga yang menyimpannya untuk dipakai kembali. Dari sini, kakak shalih-shalihah mulai diajak berpikir lebih dalam: apakah kebiasaan tersebut sudah tepat?
Bunda Yuli kemudian menjelaskan bahwa minyak jelantah yang dibuang sembarangan dapat mencemari lingkungan, terutama air dan tanah. Jika terus dibiarkan, limbah ini bisa berdampak buruk bagi kehidupan makhluk hidup.
Namun di balik itu, tersimpan potensi besar. Minyak jelantah ternyata bisa diolah menjadi berbagai produk bermanfaat, seperti sabun hingga lilin aromaterapi.
Di sinilah pembelajaran menjadi hidup. Kakak tidak hanya mendengar teori, tetapi juga memahami makna di baliknya—bahwa setiap masalah bisa menjadi peluang jika kita mau berpikir kreatif.
Menghidupkan Konsep Melalui Praktik Nyata
Kegiatan ini merupakan bagian dari kontekstualisasi Project Based Learning dengan tema “Perubahan Energi dan Wujud Zat.” Apa yang sebelumnya hanya dipelajari melalui buku, kini benar-benar bisa dilihat dan dirasakan langsung.
Proses pembuatan lilin aromaterapi dimulai dengan langkah pertama: menyaring minyak jelantah. Kakak shalih-shalihah terlihat antusias saat melihat bagaimana minyak yang awalnya keruh perlahan menjadi lebih bersih.
Langkah berikutnya adalah mencampurkan minyak jelantah dengan asam stearat. Perbandingannya cukup sederhana, yaitu 3:1. Untuk 300 ml minyak, dibutuhkan 100 gram asam stearat.
Ketika campuran tersebut dipanaskan, kakak-kakak mulai menyaksikan perubahan wujud yang nyata. Dari cair, perlahan menjadi lebih kental, lalu siap dituangkan ke dalam cetakan.
Beberapa kakak menambahkan pewarna agar lilin terlihat lebih menarik. Ada yang memilih warna cerah, ada pula yang tetap mempertahankan warna alami. Sumbu pun dipasang dengan hati-hati, menjadi penanda bahwa lilin siap digunakan.
Momen paling ditunggu akhirnya tiba. Ketika lilin mulai mengeras, rasa bangga terlihat jelas di wajah kakak shalih-shalihah. Mereka tidak hanya berhasil membuat sebuah produk, tetapi juga memahami proses ilmiah di baliknya.
Lebih dari Sekadar Praktik
Kegiatan ini bukan hanya tentang membuat lilin. Ada banyak nilai yang tertanam secara perlahan namun mendalam.
Kakak belajar bahwa ilmu tidak berhenti di buku. Mereka belajar bahwa perubahan energi dan wujud zat bukan sekadar konsep, tetapi sesuatu yang terjadi di sekitar mereka setiap hari.
Lebih dari itu, mereka juga belajar tentang tanggung jawab terhadap lingkungan. Bahwa menjaga bumi bisa dimulai dari langkah kecil, seperti tidak membuang limbah sembarangan dan mencoba mengolahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat.
Interaksi dengan narasumber juga membuka wawasan baru. Kakak melihat bahwa profesi dan minat bisa saling terhubung—bahwa seorang pegiat literasi pun bisa berkontribusi dalam isu lingkungan.
Menumbuhkan Pola Pikir Kreatif dan Solutif
Di era saat ini, kemampuan berpikir kreatif dan solutif menjadi salah satu keterampilan penting yang perlu dimiliki anak-anak. Kegiatan seperti ini menjadi salah satu cara efektif untuk menumbuhkan kemampuan tersebut.
Ketika kakak melihat minyak jelantah, mereka tidak lagi hanya melihat limbah. Mereka mulai melihat potensi. Mereka mulai bertanya, “Apa lagi yang bisa kita buat dari ini?”
Pertanyaan sederhana ini adalah awal dari pola pikir inovatif.
Belajar yang Bermakna, Dampak yang Nyata
Kegiatan BBA ini menjadi bukti bahwa belajar bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan sekaligus bermakna. Kakak tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga pengalaman yang akan mereka ingat dalam jangka panjang.
Dari sebuah lilin kecil, kakak belajar tentang ilmu, lingkungan, kreativitas, hingga tanggung jawab. Semua terangkai dalam satu kegiatan yang sederhana namun penuh makna.
Ke depan, harapannya kakak shalih-shalihah tidak hanya berhenti pada pengalaman ini. Mereka bisa membawa semangat ini ke rumah, bahkan mengajak keluarga untuk mulai peduli terhadap pengelolaan limbah.
Karena sejatinya, perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Dan hari itu, langkah kecil itu dimulai dari minyak jelantah… yang berubah menjadi cahaya.*** (CM-MRT)
Sabtu pagi, 18 April 2026, suasana SD Islam Bintang Juara terasa berbeda. Tidak ada hiruk pikuk anak-anak seperti biasanya. Kursi-kursi tersusun rapi, dan satu per satu Ayah Bunda mulai hadir dengan wajah penuh harap. Hari itu bukan sekadar pertemuan biasa—melainkan ruang belajar bersama untuk memahami satu hal penting: emosi anak ternyata berakar dari ketenangan orang tua.
Acara dimulai tepat waktu, meskipun peserta belum sepenuhnya hadir. Bu Ni’mah membuka kegiatan dengan pesan sederhana namun mengena—bahwa kedisiplinan waktu adalah bagian dari pendidikan calon pemimpin muslim. Dari awal, Ayah Bunda diajak untuk menyadari bahwa setiap kebiasaan kecil yang ditanamkan hari ini akan membentuk karakter anak di masa depan.
Lalu, suasana menjadi lebih hening ketika Bu Ni’mah mengajak semua yang hadir untuk menengok kembali teladan terbaik dalam mengelola emosi—Rasulullah ﷺ. Sosok yang tetap tenang bahkan ketika dihina dan disakiti. Dari sini, Ayah Bunda diajak merenung, bahwa regulasi emosi bukan sekadar teori, tapi bagian dari keimanan dan kedekatan kepada Allah.
Cerita demi cerita mengalir, membuka kesadaran bahwa seringkali kita sebagai orang tua tanpa sadar memperlakukan anak seperti orang dewasa. Kita berharap mereka langsung memahami, langsung patuh, langsung bisa mengelola diri. Padahal, anak-anak masih dalam proses belajar—dan mereka belajar dari siapa? Dari kita.
Di sinilah titik balik pemahaman itu muncul. Apa yang terjadi pada anak, sejatinya adalah cermin bagi orang tuanya. Ketika anak mengalami kesulitan, sakit, atau konflik, itu bukan sekadar “masalah anak”, melainkan juga panggilan refleksi bagi orang tua. Sudahkah kita cukup hadir? Sudahkah kita cukup tenang?
Ketika Ketenangan Orang Tua Menjadi Pondasi Emosi Anak
Materi utama disampaikan oleh Ibu Diah Indah Noviyani, S.Psi., M.Psi., Psikolog atau yang akrab dipanggil dengan Bunda Vivi Psikolog—seorang praktisi yang telah lama mendampingi perkembangan anak dan keluarga. Dengan gaya penyampaian yang hangat dan membumi, beliau mengajak Ayah Bunda memahami bahwa emosi anak tidak muncul begitu saja. Ia dipelajari, ditiru, dan dibentuk dari lingkungan terdekatnya—terutama orang tua.
Sejak bayi, anak merekam ekspresi. Cara kita tersenyum, cara kita berbicara, bahkan cara kita merespon masalah—semuanya tersimpan dalam memori mereka. Maka tidak heran, jika anak mudah marah, bisa jadi karena ia sering melihat kemarahan. Jika anak sulit tenang, mungkin karena ia jarang melihat ketenangan.
Ketenangan bukan berarti tanpa emosi. Marah, sedih, kecewa—semuanya adalah hal yang wajar. Namun yang menjadi pembeda adalah bagaimana emosi itu dikelola. Di sinilah peran orang tua menjadi sangat krusial.
Dalam praktik sederhana, Ayah Bunda diajak untuk mulai dari hal kecil. Misalnya, ketika emosi memuncak, beri jeda 30 detik sebelum merespon anak. Waktu singkat ini ternyata sangat berharga untuk menghindari respon impulsif yang bisa melukai hati anak.
Anak Butuh Dibimbing, Bukan Sekadar Dikontrol
Salah satu poin penting yang menguat dalam sesi ini adalah perbedaan antara mengontrol, mengarahkan, dan membimbing. Mengontrol itu mudah—cukup dengan perintah. Mengarahkan sedikit lebih baik—memberi instruksi. Namun membimbing adalah level tertinggi, karena membutuhkan keteladanan, kesabaran, dan kesadaran penuh.
Membimbing berarti orang tua juga terus belajar. Tidak bisa hanya menyuruh tanpa memberi contoh. Tidak bisa hanya menuntut tanpa memahami.
Di sinilah tantangan terbesar parenting modern muncul. Di tengah kesibukan dan distraksi, terutama gadget, seringkali kehadiran orang tua menjadi “setengah”. Secara fisik ada, tapi secara emosi tidak sepenuhnya terhubung.
Padahal, anak sangat membutuhkan koneksi. Koneksi yang dibangun melalui percakapan hangat, sentuhan, dan kebersamaan sederhana.
Arah Diri: Bekal Penting Sejak Dini
Dalam sesi ini juga dibahas tentang pentingnya self-direction atau arahan diri. Banyak anak, bahkan hingga remaja dan dewasa, yang belum memiliki kemampuan ini. Mereka tidak benar-benar memahami apa yang mereka butuhkan, apa tujuan hidupnya, dan bagaimana mengambil keputusan.
Akar dari masalah ini seringkali sudah muncul sejak kecil—ketika anak tidak dilatih untuk mengenali dirinya sendiri.
Anak yang memiliki arahan diri akan lebih mandiri, lebih tangguh, dan tidak mudah terpengaruh lingkungan. Namun untuk mencapai itu, orang tua perlu membangun fondasi sejak dini.
Caranya? Dengan memberi ruang anak untuk berpikir, berdiskusi, dan mengambil keputusan sederhana. Bukan dengan selalu mengontrol atau memaksakan kehendak.
Regulasi Emosi Itu Dilatih, Bukan Dituntut
Regulasi emosi bukan kemampuan instan. Ia harus dilatih secara bertahap. Dalam praktiknya, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan di rumah:
Mulai dari mengenali emosi anak—membantu mereka memberi nama pada perasaan yang muncul. Lalu mengelola emosi dengan cara yang tepat, seperti menarik napas, berbicara, atau menenangkan diri. Dan yang tidak kalah penting, mengekspresikan emosi dengan cara yang baik dan tidak merugikan orang lain.
Ketika anak tantrum, jangan melabeli dirinya nakal. Bisa jadi ia belum tahu cara mengekspresikan emosinya. Di sinilah peran orang tua untuk hadir, bukan menghakimi.
Validasi perasaan anak, bantu ia tenang, lalu ajak refleksi. Dari sinilah anak belajar bahwa setiap emosi punya tempat, tapi juga punya batas.
Gadget, Lingkungan, dan Tantangan Zaman
Salah satu isu yang juga dibahas adalah pengaruh gadget terhadap emosi anak. Paparan berlebihan dapat membuat anak lebih mudah marah, sulit fokus, bahkan kehilangan daya juang.
Namun solusi bukan sekadar melarang. Orang tua perlu bijak mengelola—memberi batasan, mendampingi, dan yang terpenting, mengganti waktu layar dengan interaksi nyata.
Selain itu, lingkungan pergaulan juga menjadi faktor yang tidak bisa dikontrol sepenuhnya. Maka yang bisa dilakukan adalah memperkuat pondasi di rumah—dengan komunikasi terbuka, aturan yang jelas, dan kedekatan emosional.
Menjadi Orang Tua yang Terus Belajar
Menutup sesi, Ayah Bunda diajak untuk kembali pada satu kesadaran penting—tidak ada orang tua yang sempurna. Semua sedang belajar, bertumbuh, dan berproses.
Namun satu hal yang bisa diupayakan adalah terus memperbaiki diri. Karena perubahan pada orang tua, akan diikuti perubahan pada anak. Ketenangan bukan hanya membuat suasana rumah lebih damai, tapi juga menjadi investasi jangka panjang bagi masa depan anak. Karena pada akhirnya, anak tidak hanya butuh orang tua yang pintar, tapi orang tua yang hadir, tenang, dan mampu membimbing dengan hati.
Di akhir kegiatan, satu pesan terasa begitu kuat dan membekas:
Ketenangan orang tua adalah kekuatan pengasuhan. Dan dari ketenangan itulah, anak-anak belajar menjadi pribadi yang matang, tangguh, dan siap menghadapi masa depan.
Karena membesarkan anak bukan tentang menjadi sempurna—melainkan tentang terus belajar, bersama.*** (CM-MRT)
Pagi itu suasana kelas 4B di SD Islam Bintang Juara terasa berbeda. Tidak hanya buku dan alat tulis yang disiapkan, tetapi juga semangat baru untuk belajar sesuatu yang unik dan penuh makna. Pada Kamis, 16 April 2026, kakak shalih–shalihah mengikuti kegiatan BBA (Belajar Bersama Ahli) bersama narasumber istimewa, Ayah Ari Setyawan, seorang Guru Bahasa Jawa dari SMA 6 sekaligus ayah dari Kak Neyva.
Tema yang diangkat kali ini begitu khas dan sarat nilai budaya: Belajar Menyanyikan Tembang Macapat Gambuh.
Namun, kegiatan ini bukan sekadar belajar menyanyi. Lebih dari itu, kakak shalih–shalihah diajak menyelami makna di balik setiap bait tembang, memahami aturan-aturannya, hingga merasakan bagaimana budaya lokal bisa menjadi sarana pembentukan karakter.
Mengenal Tembang Macapat: Warisan Budaya yang Sarat Makna
Ayah Ari membuka sesi dengan memperkenalkan apa itu tembang macapat. Beliau menjelaskan bahwa macapat adalah salah satu bentuk puisi tradisional Jawa yang tidak hanya indah untuk didengar, tetapi juga penuh dengan pesan kehidupan.
Salah satu jenis tembang macapat yang dipelajari hari itu adalah Gambuh.
Tembang Gambuh dikenal sebagai tembang yang mengandung pesan tentang kecocokan, keharmonisan, dan kebijaksanaan dalam menjalin hubungan. Nilai-nilai ini sangat relevan untuk kehidupan sehari-hari, terutama dalam membangun hubungan dengan teman, keluarga, maupun lingkungan sekitar.
Sejak awal, kakak shalih–shalihah mulai memahami bahwa belajar macapat bukan hanya tentang suara yang merdu, tetapi juga tentang memahami pesan yang ingin disampaikan.
Memahami Aturan: Guru Gatra, Guru Wilangan, dan Guru Lagu
Agar bisa menyanyikan tembang macapat dengan baik dan benar, Ayah Ari memperkenalkan tiga unsur penting yang harus dipahami, yaitu:
Guru Gatra: Guru gatra adalah jumlah baris dalam satu bait tembang.
Guru Wilangan: Guru wilangan adalah jumlah suku kata dalam setiap baris.
Guru Lagu: Guru lagu adalah bunyi vokal di akhir setiap baris.
Ketiga unsur ini menjadi aturan utama dalam tembang macapat. Tanpa memahami ketiganya, tembang tidak akan sesuai dengan pakem atau aturan yang berlaku.
Melalui penjelasan yang sederhana dan contoh yang mudah dipahami, Ayah Ari membantu kakak shalih–shalihah mengenal struktur tembang dengan cara yang menyenangkan.
Beberapa kakak bahkan terlihat mencoba menghitung jumlah suku kata sambil tersenyum, seolah menemukan tantangan baru yang seru.
Menyanyi dengan Rasa: Memahami Lirik adalah Kunci
Salah satu pesan penting yang disampaikan oleh Ayah Ari adalah bahwa menyanyikan tembang macapat tidak cukup hanya dengan suara yang merdu. Yang lebih penting adalah memahami makna dari lirik yang dinyanyikan.
Tanpa memahami maknanya, tembang hanya akan terdengar sebagai rangkaian nada tanpa jiwa. Namun ketika maknanya dipahami, setiap bait akan terasa hidup dan mampu menyampaikan pesan kepada pendengar.
Ayah Ari mengajak kakak shalih–shalihah untuk mencoba merasakan isi tembang Gambuh. Dengan pendekatan ini, mereka tidak hanya belajar seni, tetapi juga belajar empati, penghayatan, dan kepekaan terhadap makna.
Belajar Disiplin melalui Aturan Tembang
Selain memahami struktur dan makna, kakak shalih–shalihah juga diajak untuk mengenal aturan-aturan saat menyanyikan tembang macapat. Dalam tembang macapat, ada tata cara yang harus diperhatikan, mulai dari ketepatan nada, pengucapan, hingga kesesuaian dengan guru lagu.
Hal ini secara tidak langsung melatih anak-anak untuk menjadi pribadi yang teliti, disiplin, dan bertanggung jawab terhadap apa yang mereka pelajari. Mereka belajar bahwa dalam seni sekalipun, ada aturan yang harus dihormati. Dan justru dari aturan itulah keindahan bisa tercipta.
Momen Paling Ditunggu: Menyanyikan Gambuh Bersama
Setelah memahami teori dan mencoba berlatih, tibalah momen yang paling ditunggu-tunggu: menyanyikan tembang Gambuh bersama-sama.
Suasana kelas berubah menjadi lebih hidup. Dengan penuh semangat, kakak shalih–shalihah mengikuti arahan Ayah Ari untuk melantunkan tembang Gambuh.
Meskipun masih dalam tahap belajar, suara mereka terdengar kompak dan penuh antusias. Ada yang masih malu-malu, ada yang mulai percaya diri, namun semuanya larut dalam pengalaman belajar yang menyenangkan.
Momen ini menjadi bukti bahwa belajar budaya tidak harus membosankan. Justru bisa menjadi pengalaman yang seru, berkesan, dan penuh makna.
Belajar Budaya, Membentuk Karakter
Kegiatan BBA ini memberikan lebih dari sekadar pengetahuan tentang tembang macapat. Melalui kegiatan ini, kakak shalih–shalihah belajar banyak hal penting, seperti:
Menghargai warisan budaya lokal
Melatih kepekaan rasa dan empati
Mengembangkan kedisiplinan melalui aturan
Meningkatkan kepercayaan diri saat tampil
Memahami bahwa setiap karya memiliki makna dan pesan
Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, kegiatan seperti ini menjadi sangat penting untuk menjaga agar generasi muda tetap mengenal dan mencintai budayanya sendiri.
Menjaga Budaya, Menjaga Identitas
Kegiatan Belajar Bersama Ahli (BBA) bersama Ayah Ari Setyawan menjadi salah satu langkah nyata dalam mengenalkan budaya kepada anak-anak sejak dini. Karena sejatinya, budaya bukan hanya tentang masa lalu. Budaya adalah bagian dari identitas yang harus dijaga dan diwariskan.
Melalui tembang macapat Gambuh, kakak shalih–shalihah tidak hanya belajar menyanyi. Mereka belajar memahami kehidupan, merasakan makna, dan menanamkan nilai-nilai kebaikan dalam diri mereka.
Dan dari kelas sederhana di hari itu, sebuah langkah kecil telah dimulai; menjaga budaya, sambil membentuk generasi yang berkarakter.*** (CM-MRT)