by admin admin | Jul 23, 2026 | Berita, Edukasi, Kegiatan Siswa
“Kalau ada orang yang tidak dikenal memberi permen, boleh diterima?”
Pertanyaan sederhana itu diajukan oleh kedua narasumber pada peringatan Hari Anak Nasional 2026. Sontak membuat ratusan tangan mungil terangkat. Ada yang menjawab “boleh”, ada yang mulai ragu, dan sebagian lainnya dengan lantang mengatakan, “Tidak boleh!”
Pertanyaan tersebut bukan sekadar permainan. Di baliknya tersimpan pelajaran penting yang mungkin dapat menyelamatkan masa depan seorang anak.
Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional (HAN) 2026 pada Kamis, 23 Juli 2026, SD Islam Bintang Juara menghadirkan peringatan yang berbeda. Mengusung tema “Membangun Generasi Bintang Juara BERSINAR (Bersih Narkoba)”, sekolah tidak hanya mengajak anak-anak bergembira, tetapi juga membekali mereka dengan bekal kehidupan yang sangat penting: menjaga kesehatan tubuh, berani mengatakan tidak pada narkoba, serta membangun karakter sebagai calon pemimpin muslim yang mampu menjaga diri di tengah tantangan zaman.
Menariknya, kegiatan dilaksanakan secara bersamaan di dua lokasi berbeda agar materi dapat disampaikan sesuai usia dan kebutuhan perkembangan peserta didik.
Hari Anak Nasional tahun ini benar-benar menjadi ruang belajar yang menyenangkan sekaligus bermakna.
Hari Anak Nasional 2026, Saatnya Melindungi Masa Depan Anak Indonesia
Hari Anak Nasional bukan hanya momentum untuk merayakan dunia anak. Lebih dari itu, HAN menjadi pengingat bahwa setiap anak berhak tumbuh dalam lingkungan yang sehat, aman, dan mendukung cita-citanya.
Di era sekarang, tantangan anak tidak lagi hanya sebatas belajar membaca atau berhitung. Mereka juga harus dibekali kemampuan memilih makanan sehat, mengenali bahaya narkoba yang semakin beragam bentuknya, serta berani menolak ajakan yang membahayakan dirinya.
Karena itulah SD Islam Bintang Juara memilih menghadirkan dua kegiatan edukatif yang saling melengkapi.
Anak-anak kelas rendah diperkenalkan pentingnya menjaga kesehatan tubuh melalui dongeng yang menyenangkan. Sementara kakak-kakak kelas atas memperoleh edukasi langsung mengenai bahaya narkoba bersama narasumber dari BNN Provinsi Jawa Tengah.
Semuanya bermuara pada satu tujuan: membangun generasi yang sehat, cerdas, berkarakter, dan mampu menjaga amanah Allah berupa tubuh dan masa depannya.
Belajar Lewat Dongeng: Kak Kempho Mengajak Anak Mencegah Stunting Sejak Dini
Di area kelas 2, suasana dipenuhi gelak tawa ketika Kak Kempho mulai mendongeng di hadapan siswa kelas 1-3.
Namun di balik cerita yang menghibur, tersimpan pesan yang sangat serius.
Anak-anak diajak memahami apa itu stunting, mengapa tubuh membutuhkan makanan bergizi, dan bagaimana kebiasaan makan hari ini akan menentukan kualitas hidup mereka di masa depan.
Melalui bahasa yang sederhana, Kak Kempho menjelaskan bahwa menjadi anak hebat bukan berarti selalu makan makanan yang viral atau jajanan berwarna-warni.
Sebaliknya, tubuh membutuhkan makanan yang mengandung protein, sayur, buah, susu, dan berbagai nutrisi lain agar otak berkembang optimal, tubuh tumbuh kuat, dan semangat belajar tetap terjaga.
Kak Kempho juga mengingatkan anak-anak untuk tidak terlalu sering mengonsumsi makanan dengan kandungan MSG berlebihan, gula tinggi, serta jajanan yang tidak jelas kandungan gizinya.
Anak-anak pun mulai menyadari bahwa memilih makanan sehat merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat kesehatan yang Allah berikan.

Permen Tidak Selalu Manis, Ada Bahaya yang Harus Diwaspadai
Di penghujung dongeng, suasana mendadak berubah serius. Kak Kempho menunjukkan sebuah ilustrasi sederhana.
“Kalau ada orang yang tidak dikenal memberikan permen, bagaimana?”
Anak-anak mulai berpikir.
Lalu Kak Kempho menjelaskan bahwa saat ini ada oknum yang menyalahgunakan narkoba dengan cara menyamarkannya menjadi bentuk yang sangat akrab dengan anak-anak, seperti permen, minuman, jajanan, bahkan makanan ringan.
Pesan yang disampaikan sangat jelas:
Jangan menerima makanan ataupun minuman dari orang yang tidak dikenal.
Anak-anak belajar bahwa kewaspadaan bukan berarti curiga kepada semua orang, tetapi menjadi bentuk ikhtiar menjaga diri dari hal-hal yang membahayakan.
Bersama BNN Jawa Tengah, Mengenal Bahaya Narkoba Sejak Dini
Sementara itu, di ruang kelas 4 dan kelas 6, siswa kelas 4 hingga kelas 6 mengikuti sesi edukasi bersama Pak Dela Sulistiyawan Yunior, S.I.Kom., M.A., Penggerak Swadaya Masyarakat dari BNN Provinsi Jawa Tengah.
Materi diawali dengan cara yang sangat dekat dengan kehidupan anak-anak. Pak Dela mengajak siswa menyaksikan sebuah video, kemudian berdiskusi tentang cita-cita mereka. Ada yang ingin menjadi dokter, guru, atlet, polisi, hingga programmer.
Dari sinilah Pak Dela menghubungkan satu pesan penting:
Semua cita-cita membutuhkan tubuh dan otak yang sehat. Karena itu, narkoba harus dijauhi.
Anak-anak kemudian diperkenalkan dengan pengertian narkoba, yaitu narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif lainnya yang dapat merusak tubuh maupun otak manusia.
Narkoba Kini Hadir dalam Bentuk yang Tidak Disangka
Salah satu materi yang paling menarik perhatian siswa adalah ketika Pak Dela menunjukkan bahwa narkoba tidak selalu berbentuk seperti yang sering terlihat di televisi.
Justru saat ini narkoba dapat disamarkan dalam bentuk yang sangat akrab dengan kehidupan anak, seperti:
- Permen
- Minuman
- Jajanan
- Roti atau makanan ringan
Materi tersebut membuat kakak shalih-shalihah semakin memahami mengapa mereka tidak boleh menerima makanan ataupun minuman dari orang asing.
Pesan sederhana ini sangat penting sebagai bekal menghadapi kehidupan sehari-hari.
Mengapa Orang Bisa Terjerumus Narkoba?
Melalui sesi tanya jawab interaktif, Pak Dela menjelaskan bahwa seseorang dapat terjerumus ke dalam penyalahgunaan narkoba karena berbagai faktor. Di antaranya adalah pengaruh lingkungan pertemanan, keluarga, maupun kondisi psikologis seseorang.
Anak-anak diajak memahami bahwa memilih teman yang baik juga merupakan bagian dari menjaga diri. Mereka pun belajar bahwa keputusan kecil hari ini akan sangat menentukan masa depan.

Rokok dan Minuman Keras Juga Berbahaya
Pak Dela menegaskan bahwa ancaman bagi generasi muda bukan hanya narkoba. Rokok dan minuman keras juga sama-sama berbahaya.
Rokok dapat merusak paru-paru, memicu penyakit kronis, bahkan mengganggu kesehatan dalam jangka panjang. Sementara minuman keras dapat merusak kemampuan berpikir dan pengambilan keputusan seseorang.
Pesan ini menjadi penguatan bahwa hidup sehat bukan sekadar menghindari narkoba, tetapi juga menjauhi seluruh kebiasaan yang merusak tubuh.
Berani Menolak Adalah Bentuk Keberanian Sejati
Bagian paling seru terjadi ketika seluruh siswa diajak mempraktikkan bagaimana cara menolak jika diberi makanan atau minuman oleh orang yang tidak dikenal.
Pak Dela memberikan tiga langkah sederhana yang mudah diingat anak-anak:
- Tolak dengan sopan.
- Tolak disertai alasan.
- Segera pergi atau menghindar dari situasi tersebut.
Praktik ini membuat anak-anak tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki keterampilan nyata apabila suatu saat menghadapi situasi serupa.
Inilah bentuk pendidikan yang aplikatif—belajar bukan hanya untuk mengetahui, tetapi juga untuk bertindak dengan benar.
Menjadi Generasi BERSINAR Dimulai dari Kebiasaan Sehari-hari
Dalam materinya, Pak Dela juga mengajak siswa melakukan berbagai kebiasaan positif agar terhindar dari narkoba.
Di antaranya:
- Mengonsumsi makanan sehat dan bergizi.
- Rajin berolahraga.
- Tidak jajan sembarangan.
- Belajar dengan sungguh-sungguh.
- Mengisi waktu dengan kegiatan yang bermanfaat.
- Tidak mengonsumsi obat tanpa arahan orang tua atau tenaga kesehatan.
- Bergaul di lingkungan yang baik.
- Berani menolak pemberian dari orang yang tidak dikenal.
Semua kebiasaan tersebut sesungguhnya bukan hanya untuk menghindari narkoba, tetapi juga membentuk gaya hidup sehat yang akan membawa anak-anak menuju masa depan yang lebih baik.
SD Islam Bintang Juara memilih tema “Membangun Generasi Bintang Juara Bersinar (Bersih Narkoba)” ternyata selaras dengan salah satu sub tema Hari Anak Nasional tahun ini. Ternyata, BNN juga sedang menggalakan program BERSINAR, yang baru saja launching secara serentak hari ini. Alhamdulillah, sekolah ini senantiasa menjadi pionir dalam kebaikan.

Menjadi Calon Pemimpin Muslim yang Menjaga Amanah Allah
Hari Anak Nasional di SD Islam Bintang Juara tahun ini tidak berhenti pada slogan BERSINAR (Bersih Narkoba).
Lebih dari itu, sekolah ingin menanamkan cara pandang bahwa tubuh, akal, dan kesehatan merupakan amanah dari Allah SWT yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab.
Seorang calon pemimpin muslim bukan hanya cerdas dalam akademik, tetapi juga mampu menjaga dirinya dari pengaruh buruk, memilih lingkungan yang baik, berani berkata tidak terhadap ajakan yang salah, serta hidup sehat agar dapat terus berkarya dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Inilah makna pendidikan karakter yang terus dihidupkan di SD Islam Bintang Juara.
Karena kami percaya, membangun generasi hebat tidak cukup hanya dengan mengajarkan ilmu pengetahuan. Anak-anak juga perlu dibekali keberanian untuk memilih yang benar, kebijaksanaan dalam mengambil keputusan, dan adab dalam setiap langkah kehidupan.
Semoga semangat Hari Anak Nasional 2026 menjadi pengingat bagi seluruh keluarga besar SD Islam Bintang Juara bahwa setiap anak adalah cahaya masa depan. Ketika mereka tumbuh sehat, beradab, bebas dari narkoba, dan memiliki cita-cita yang kuat, maka mereka tidak hanya akan menjadi generasi yang sukses, tetapi juga menjadi generasi yang membawa manfaat bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan.
Karena di SD Islam Bintang Juara, kami tidak hanya mendidik anak menjadi pintar. Kami menyiapkan mereka menjadi pemimpin muslim yang cerdas, tangguh, berakhlakul karimah, dan siap menjadi solusi bagi tantangan zamannya.*** (CM-MRT)
by admin admin | Jul 17, 2026 | Artikel, Berita, Berita Utama, Edukasi, Kegiatan Siswa
Hari pertama sekolah selalu menghadirkan perasaan yang campur aduk. Ada senyum karena akhirnya mengenakan seragam baru, tetapi ada pula rasa gugup saat memasuki lingkungan yang belum dikenal. Siapa guru kelasnya? Siapa teman duduknya? Apakah sekolah akan menjadi tempat yang menyenangkan?
Pekan Ta’aruf MPLS Ramah, Langkah Pertama Menjadi Calon Pemimpin Muslim
Di SD Islam Bintang Juara, pertanyaan-pertanyaan itu tidak dibiarkan menjadi kecemasan. Justru sejak langkah pertama memasuki gerbang sekolah, peserta didik disambut melalui Pekan Ta’aruf atau Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah yang berlangsung pada 13–17 Juli 2026 dengan mengusung tema “Tumbuh dengan Adab, Bersinar dengan Ilmu.”
Mengacu pada Permendikdasmen Nomor 12 Tahun 2026 tentang MPLS Ramah, kegiatan ini dirancang bukan sekadar memperkenalkan gedung sekolah atau menyampaikan tata tertib. Pekan Ta’aruf menjadi ruang bagi anak-anak untuk mengenal diri, mengenal lingkungan belajar, membangun karakter, serta mulai membiasakan nilai-nilai positif yang akan mereka jalani selama bersekolah.
Sebanyak 301 siswa kelas 1 hingga kelas 6 mengikuti rangkaian kegiatan ini sebagai langkah awal menjadi generasi yang beradab, cerdas, kreatif, tangguh, dan siap menjadi calon pemimpin muslim di masa depan.
Selama lima hari, setiap kegiatan disusun secara bertahap. Hari demi hari, anak-anak tidak hanya diajak mengenal sekolah, tetapi juga diajak membangun kebiasaan baik, meneladani tokoh-tokoh inspiratif, hingga menumbuhkan rasa memiliki terhadap sekolah.
Hari Pertama: Mengenal Sekolah dengan Cara yang Menyenangkan
Pekan Ta’aruf diawali pada Senin, 13 Juli 2026 melalui kegiatan apel pembukaan. Apel ini menjadi pertanda bahwa telah sah diterimanya kelas 1 sejumlah 74 siswa dan 3 siswa pindahan sebagai bagian dari keluarga besar SD Islam Bintang Juara.

Apel Pembukaan
Dalam kegiatan apel, Bu Ni’mah selaku Kepala SD Islam Bintang Juara menyematkan PIN sekolah kepada kak Arfinsa dan kak Athiya sebagai perwakilan siswa baru. Selain itu juga terdapat sesi penyerahan pohon mangga dari orang tua kepada pihak sekolah. Ini merupakan simbolisasi pemberian amanah dari orang tua kepada sekolah untuk mendidik kakak shalih-shalihah.
Pohon mangga dipilih bukan tanpa alasan. Ada filosofi di balik pemilihannya. Biji mangga menggambarkan bahwa setiap anak datang membawa potensi dan harapan. Setiap anak memiliki keunikan dan kemampuan yang perlu dirawat agar berkembang.
Pohon mangga juga menggambarkan karakter dan adab. Untuk bisa tumbuh dengan subur dan lebat, pohon mangga memerlukan akar yang kuat. Akar ini merupakan simbol adab, akhlak dan nilai-nilai kebaikan yang menjadi dasar utama dalam kehidupan kakak shalih-shalihah
Daun yang tumbuh dengan lebat menggambarkan semangat belajar yang terus berkembang. Sementara buah mangga merupakan gambaran hasil ilmu dan adab. Harapannya, kakak shalih-shalihah akan tumbuh menjadi pribadi yang membawa kebaikan dan kebermanfaatan, serta menjadi kebanggaan orang tua dan sekolah.
Tak hanya itu, warna mangga mencerminkan bahwa setiap anak merupakan pribadi yang bersinar, memiliki ilmu, akhlak baik, percaya diri, dan mampu memberikan nilai kebaikan pada lingkungan sekitar.
Pesona Bintang Juara
Usai tuntas melaksanakan apel. Kakak shalih-shalihah menunaikan salat Dhuha dan makan bekal pagi, lalu dilanjutkan dengan mengikuti kegiatan Pesona Bintang Juara di lantai dua.
Suasana sekolah dipenuhi wajah-wajah antusias yang ingin memulai perjalanan baru. Seluruh siswa kelas 1 hingga kelas 6 mengikuti pembukaan Pekan Ta’aruf dengan penuh semangat.
Pada kesempatan ini, peserta didik diperkenalkan dengan berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang dapat mereka ikuti selama bersekolah di SD Islam Bintang Juara. Mereka juga mengenal penggunaan seragam sekolah dari hari Senin hingga Jumat sehingga lebih siap menjalani rutinitas belajar.
Suasana semakin meriah dengan penampilan menyanyi, tari, dan dongeng yang memberikan hiburan sekaligus inspirasi kepada seluruh siswa.
Hari pertama ini sengaja dirancang untuk menghadirkan pengalaman yang menyenangkan. Sebab ketika anak merasa nyaman sejak awal, mereka akan lebih mudah membangun rasa percaya diri dan semangat untuk belajar.
Hari Kedua: Mengenal Lingkungan, Adab, dan Tokoh Inspiratif
Pada Selasa, 14 Juli 2026, kegiatan diawali dengan Senam Ceria yang dipimpin oleh Pak Aria. Kegiatan ini merupakan salah satu penguatan Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Selanjutnya, masing-masing kelas melanjutkan aktivitas yang telah disesuai dengan tahap perkembangan.
Siswa kelas 1 mengikuti kegiatan Jejak Petualangan Pemimpin Cilik. Mereka diajak menjelajahi berbagai sudut sekolah sambil mengenal fungsi setiap fasilitas yang ada, mulai dari ruang kelas, perpustakaan, UKS, masjid, hingga area bermain. Bersamaan dengan itu, anak-anak juga mulai belajar adab ketika berada di lingkungan sekolah, seperti menjaga kebersihan, menghormati fasilitas umum, dan bersikap santun kepada siapa pun yang ditemui.

Sementara itu, siswa kelas 2 dan 3 mengikuti Kelas Penguatan Adab bersama Bu Nawang dengan tema “Bijak Bermedia Sosial.” Meskipun masih duduk di bangku sekolah dasar, anak-anak diajak memahami bahwa dunia digital juga membutuhkan adab. Mereka belajar menggunakan media sosial secara bijaksana, menjaga tutur kata, menghormati orang lain, serta berpikir sebelum membagikan sesuatu di dunia maya.
Berbeda dengan kelas bawah, siswa kelas 4 hingga kelas 6 mengikuti kegiatan Bedah Profil Filosofi Nama Kelas. Mereka mengenal lebih dekat sosok-sosok ilmuwan muslim dan khalifah yang menjadi nama kelas masing-masing, seperti Umar bin Abdul Aziz, hingga Umar bin Khattab. Dari kisah-kisah tersebut, siswa belajar bahwa ilmu pengetahuan, kepemimpinan, dan kontribusi kepada masyarakat merupakan warisan besar peradaban Islam yang patut diteladani.
Hari Ketiga: Memuliakan Guru dan Meneladani Ilmu
Memasuki Rabu, 15 Juli 2026, fokus kegiatan bergeser pada pentingnya memuliakan guru dan menghargai ilmu.
Siswa kelas 1 mengikuti kegiatan Mengenal Guru, Memuliakan Ilmu. Mereka berkenalan lebih dekat dengan bapak dan ibu guru serta tenaga kependidikan. Anak-anak juga belajar cara duduk yang benar, memegang pensil dengan tepat, dan memahami bahwa menghormati guru merupakan bagian dari adab dalam menuntut ilmu.

Pada hari yang sama, siswa kelas 2 dan 3 mendapat giliran mengikuti Bedah Profil Nama Kelas. Mereka diajak mengenal sosok inspiratif yang namanya mereka gunakan selama satu tahun pelajaran. Harapannya, nama kelas tidak hanya menjadi identitas, tetapi juga menjadi doa dan motivasi agar mereka tumbuh menjadi generasi yang memberi manfaat.
Adapun siswa kelas 4 hingga kelas 6 mengikuti Kelas Penguatan Adab bersama Bu Marita dengan tema yang sama, yaitu “Bijak Bermedia Sosial.” Melalui diskusi yang interaktif, siswa diajak menyadari bahwa karakter seorang muslim juga tercermin melalui jejak digital yang mereka tinggalkan.
Hari Keempat: Merayakan Milad dengan Syukur dan Berbagi
Suasana Pekan Ta’aruf semakin istimewa pada Kamis, 16 Juli 2026, karena seluruh warga sekolah memperingati Milad ke-9 SD Islam Bintang Juara.
Perayaan diawali dengan istighasah dan doa khataman sebagai bentuk rasa syukur atas perjalanan sekolah yang telah memasuki usia sembilan tahun.
Kegiatan dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng, sambutan, serta penayangan video perjalanan SD Islam Bintang Juara yang mengingatkan seluruh warga sekolah tentang proses panjang yang telah dilalui bersama.

Sebagai wujud kepedulian sosial, seluruh warga sekolah juga mengikuti gerakan infaq minimal Rp9.000 yang akan disalurkan kepada sembilan titik PAUD dan TPQ.
Tidak hanya itu, setiap siswa menuliskan harapan terbaiknya untuk sekolah melalui kegiatan Tree of Hope. Daun-daun harapan yang ditempel di pohon menjadi simbol doa bersama agar SD Islam Bintang Juara terus tumbuh menjadi sekolah yang memberi manfaat bagi masyarakat.
Melalui peringatan Milad ini, anak-anak belajar bahwa bertambahnya usia bukan hanya tentang perayaan, tetapi juga tentang rasa syukur, berbagi, dan terus memperbaiki diri.
Hari Kelima: Menutup Pekan dengan Kebiasaan Baik
Rangkaian Pekan Ta’aruf ditutup pada Jumat, 17 Juli 2026 melalui kegiatan JUMAYUR (Jumat Buah dan Sayur) dan Jumat Berseri (Bersih dan Rapi)
Sejak pagi, siswa membawa bekal sehat berupa sayur dan buah sebagai bagian dari pembiasaan gaya hidup sehat. Setelah itu mereka bersama-sama membersihkan lingkungan sekolah, menumbuhkan rasa tanggung jawab sekaligus kepedulian terhadap kebersihan tempat belajar.

Kegiatan kemudian ditutup dengan penyusunan Kesepakatan Kelas bersama wali kelas. Setiap kelas berdiskusi mengenai aturan dan nilai yang akan dijaga selama satu tahun pelajaran, seperti disiplin, saling menghargai, bertanggung jawab, menjaga kebersihan, dan semangat belajar.
Menariknya, kesepakatan tersebut bukan sekadar aturan yang dibuat guru, melainkan hasil diskusi bersama sehingga siswa merasa memiliki tanggung jawab untuk menjalankannya.
Membentuk Kebiasaan Baik Sejak Hari Pertama
Seluruh rangkaian Pekan Ta’aruf dirancang untuk membangun budaya sekolah melalui pembiasaan sederhana namun bermakna.
Anak-anak mulai belajar mengucapkan salam ketika bertemu guru, tersenyum kepada teman, mengucapkan kata “tolong”, “maaf”, “permisi”, dan “terima kasih”, membiasakan antre, memakai sepatu secara mandiri, menjaga kebersihan toilet, hingga makan sesuai adab.
Kebiasaan-kebiasaan kecil inilah yang kelak menjadi pondasi karakter mereka.
Di sisi lain, guru juga melaksanakan asesmen awal pembelajaran untuk memetakan kemampuan, karakteristik, serta kebutuhan belajar setiap siswa. Dengan demikian, proses pembelajaran sepanjang tahun dapat dirancang lebih tepat, bermakna, dan sesuai dengan potensi masing-masing anak.
Awal Perjalanan Menuju Masa Depan yang Bermakna
Pekan Ta’aruf di SD Islam Bintang Juara membuktikan bahwa Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah bukan sekadar orientasi, tetapi awal perjalanan pendidikan yang sesungguhnya.
Di sinilah anak belajar bahwa sekolah bukan hanya tempat memperoleh ilmu, tetapi juga tempat menumbuhkan adab, membangun karakter, melatih kemandirian, mempererat persahabatan, serta belajar menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain.
Melalui tema “Tumbuh dengan Adab, Bersinar dengan Ilmu,” SD Islam Bintang Juara berharap setiap langkah kecil yang dimulai pada pekan pertama sekolah akan menjadi bekal bagi anak-anak untuk terus bertumbuh menjadi generasi yang mencintai ilmu, menjunjung tinggi akhlak, serta siap menjadi calon pemimpin muslim yang mampu memberikan cahaya dan manfaat bagi masyarakat di masa depan.*** (CM-MRT)
by admin admin | Jul 16, 2026 | Artikel, Berita Utama, Edukasi
Ada perayaan yang identik dengan balon, hadiah, dan kemeriahan. Namun ada pula perayaan yang justru mengajak setiap orang untuk berhenti sejenak, menengok perjalanan yang telah dilalui, lalu menengadahkan tangan memohon keberkahan untuk langkah berikutnya.
Suasana itulah yang terasa pada Kamis, 16 Juli 2026, ketika keluarga besar SD Islam Bintang Juara memperingati Milad ke-9 dengan mengusung tema “9 Tahun Menebar Cahaya, Menyatukan Doa dan Menumbuhkan Harapan.” Momen istimewa ini bertepatan dengan hari keempat rangkaian Pekan Ta’aruf (MPLS Ramah) Tahun Ajaran 2026/2027, sehingga menjadi pengalaman bermakna bagi seluruh kakak shalih-shalihah, guru, tenaga kependidikan, serta yayasan.
Bukan sekadar merayakan bertambahnya usia sekolah, tetapi juga mensyukuri setiap proses, mengenang perjuangan para pendiri, sekaligus menanamkan kepada generasi muda bahwa sebuah sekolah besar lahir dari doa, pengorbanan, dan cita-cita yang terus dijaga.
9 Tahun Menebar Cahaya: Memulai Hari dengan Istighosah dan Khataman Al-Qur’an
Rangkaian Milad diawali dengan istighosah dan khataman Al-Qur’an yang diikuti seluruh warga sekolah. Lantunan doa memenuhi ruangan, menghadirkan suasana khusyuk yang mengingatkan bahwa keberhasilan sebuah lembaga pendidikan bukan hanya dibangun oleh strategi dan kerja keras, tetapi juga oleh pertolongan Allah SWT.
Bagi siswa, kegiatan ini menjadi pembelajaran nyata bahwa setiap langkah penting dalam kehidupan sebaiknya diawali dengan rasa syukur dan doa. Nilai-nilai spiritual yang ditanamkan sejak dini inilah yang menjadi salah satu ciri khas pendidikan di SD Islam Bintang Juara.
Di tengah perkembangan zaman yang serba cepat, sekolah ingin menunjukkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan tetap harus berjalan berdampingan dengan kekuatan iman dan adab.
Potong Tumpeng, Simbol Syukur atas Perjalanan Sembilan Tahun
Usai doa bersama, suasana berubah menjadi hangat ketika dilaksanakan prosesi potong tumpeng sebagai ungkapan rasa syukur atas perjalanan sembilan tahun SD Islam Bintang Juara.
Potongan tumpeng diserahkan secara simbolis oleh Bunda Vivi Psikolog, selaku Ketua Yayasan Dewi Sartika, kepada Bu Ni’mah, Kepala SD Islam Bintang Juara, kemudian dilanjutkan kepada seluruh tim manajemen sekolah.
Prosesi sederhana tersebut memiliki makna yang mendalam. Tumpeng bukan hanya simbol perayaan, melainkan ungkapan syukur atas amanah yang telah dijalankan, sekaligus doa agar sekolah terus diberi kekuatan untuk menghadirkan pendidikan yang berkualitas, berkarakter, dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Selama sembilan tahun, SD Islam Bintang Juara telah menjadi rumah belajar bagi ratusan anak untuk bertumbuh menjadi pribadi yang beradab, berilmu, kreatif, dan siap menjadi calon pemimpin muslim.
Mengenang Jejak Para Perintis, Menghargai Sejarah
Salah satu bagian paling mengharukan dalam peringatan Milad adalah ketika Bunda Vivi Psikolog mengajak seluruh siswa untuk mengenang orang-orang yang memiliki sejarah dan kontribusi besar dalam berdirinya SD Islam Bintang Juara.
Beliau mengingatkan bahwa sebuah sekolah tidak lahir begitu saja. Di balik bangunan, ruang kelas, dan berbagai prestasi yang diraih hari ini, ada banyak tangan yang bekerja, banyak doa yang dipanjatkan, dan banyak pengorbanan yang mungkin tidak diketahui oleh generasi sekarang.
Secara khusus, Bunda Vivi mengenang jasa Eyang Esmi Warassih dan Almarhum Eyang Abdullah Shodiq, dua sosok yang memiliki kontribusi penting dalam perjalanan berdirinya SD Islam Bintang Juara.
Pesan tersebut menjadi pelajaran berharga bagi para siswa bahwa menghormati sejarah merupakan bagian dari adab. Anak-anak belajar bahwa keberhasilan hari ini tidak lepas dari perjuangan orang-orang yang datang lebih dahulu.
Nilai inilah yang ingin terus diwariskan kepada seluruh warga sekolah: menjadi pribadi hebat bukan berarti melupakan akar perjuangan, melainkan mampu menghargai setiap orang yang telah membuka jalan.
Belajar Sejarah dengan Cara yang Menyenangkan
Suasana semakin hidup ketika Bunda Vivi mengajak seluruh kakak shalih-shalihah berinteraksi melalui berbagai pertanyaan sederhana namun bermakna.
- “Siapa yang hafal jargon SD Islam Bintang Juara?”
- “Siapa saja nama pendiri SD Islam Bintang Juara?”
Dengan penuh semangat, tangan-tangan kecil terangkat. Anak-anak berlomba menjawab, diselingi tawa dan tepuk tangan yang membuat suasana semakin hangat.
Cara ini menunjukkan bahwa mengenalkan sejarah sekolah tidak harus melalui ceramah panjang. Melalui dialog interaktif, anak-anak justru lebih mudah memahami identitas sekolah yang mereka cintai.
Mereka belajar bahwa menjadi bagian dari SD Islam Bintang Juara berarti ikut menjaga nilai-nilai yang telah dibangun sejak awal berdirinya.
Menatap Masa Depan dengan Harapan Baru
Sebagai penutup, seluruh warga sekolah menyaksikan video ucapan Milad ke-9 SD Islam Bintang Juara yang berisi doa, harapan, dan apresiasi dari berbagai pihak.
Video tersebut menjadi pengingat bahwa perjalanan sembilan tahun hanyalah awal dari langkah yang lebih panjang. Masih banyak generasi yang akan tumbuh, banyak mimpi yang akan diwujudkan, dan banyak karya yang akan lahir dari sekolah ini.
Tema “9 Tahun Menebar Cahaya, Menyatukan Doa dan Menumbuhkan Harapan” benar-benar terasa sepanjang rangkaian kegiatan. Cahaya itu hadir melalui ilmu yang terus diajarkan. Doa dipersatukan melalui istighosah dan khataman. Harapan ditanamkan kepada setiap anak agar kelak mampu menjadi pemimpin muslim yang memberi solusi bagi masyarakat.
Usai prosesi peringatan milad tuntas, kakak shalih-shalihah kembali ke kelas untuk membuat Tree of Hope alias Pohon Harapan. Masing-masing kakak menuliskan harapannya untuk SD Islam Bintang Juara. Ada yang mendoakan agar Bintang Juara memiliki SMP, ada yang mendoakan agar para gurunya diberkahi kebaikan, dan masih banyak lagi doa serta harapan yang mengharu biru.
Pendidikan Dimulai dari Nilai, Bertumbuh Menjadi Peradaban
Peringatan Milad bukan sekadar mengenang tanggal berdirinya sekolah. Lebih dari itu, Milad menjadi momentum untuk memperkuat jati diri bahwa pendidikan adalah proses membangun peradaban.
Di SD Islam Bintang Juara, keberhasilan tidak hanya diukur dari nilai akademik, tetapi juga dari tumbuhnya karakter, rasa syukur, penghormatan terhadap sejarah, kepedulian kepada sesama, serta keberanian bermimpi besar demi kemaslahatan umat.
Sembilan tahun perjalanan telah dilalui. InsyaAllah, perjalanan berikutnya akan menghadirkan lebih banyak cahaya, lebih banyak manfaat, dan lebih banyak generasi yang siap menjadi calon pemimpin muslim yang beradab, cerdas, kreatif, tangguh, dan berprestasi.
Kami juga mengucapkan terima kasih atas partisipasi Ayah Bunda dalam Program Berbagi yang telah terlaksana. InsyaAllah, pekan depan infaq yang Ayah Bunda berikan akan kami sampaikan kepada 9 POS PAUD dan panti asuhan yang membutuhkan.

Doa Terbaik untuk SD Islam Bintang Juara
Kalau Ayah dan Bunda memiliki doa untuk SD Islam Bintang Juara di usia ke-9 ini, apa harapan yang ingin disampaikan?
Semoga setiap doa menjadi energi kebaikan yang mengiringi langkah SD Islam Bintang Juara untuk terus menghadirkan pendidikan yang memuliakan adab, menguatkan ilmu, dan melahirkan generasi yang membawa manfaat bagi agama, bangsa, dan dunia. Aamiin.*** (CM-MRT)
by admin admin | Jul 15, 2026 | Artikel, Edukasi, Kegiatan Siswa
“Anak hebat bukan yang paling banyak followers atau paling viral di media sosial, tetapi yang paling baik adabnya.”
Kalimat sederhana itu menjadi penutup sekaligus pesan paling membekas dalam Kelas Penguatan Adab “Jadi Calon Pemimpin Muslim yang Cerdas Digital Yuk!” yang diikuti siswa kelas 4 hingga kelas 6 SD Islam Bintang Juara pada Rabu, 15 Juli 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Pekan Ta’aruf (MPLS Ramah) Tahun Ajaran 2026/2027 dengan menghadirkan Marita Ningtyas, S.S., Leader Team Cipta Media Digital Bintang Juara, sebagai narasumber.
Di era ketika anak-anak tumbuh bersama gawai dan media sosial, sekolah tidak hanya memiliki tanggung jawab mengajarkan kemampuan akademik, tetapi juga membentuk karakter digital. Sebab, teknologi hanyalah alat. Yang menentukan apakah ia menjadi jalan menuju kebaikan atau sebaliknya adalah adab penggunanya.
Melalui kelas yang dikemas interaktif, penuh permainan, diskusi, dan refleksi, siswa diajak memahami bahwa menjadi generasi digital berarti juga menjadi pribadi yang bertanggung jawab di hadapan Allah SWT dan sesama manusia.
Internet adalah Amanah, Bukan Sekadar Hiburan
Kegiatan diawali dengan sebuah pertanyaan yang mengundang rasa ingin tahu.
“Mengapa Allah mengizinkan internet ada di muka bumi?”
Pertanyaan tersebut membawa siswa memahami bahwa internet merupakan nikmat sekaligus amanah dari Allah SWT. Teknologi dapat menjadi ladang pahala ketika digunakan untuk belajar, berbagi ilmu, mempererat silaturahmi, serta menyebarkan kebaikan. Sebaliknya, internet juga dapat menjadi ujian apabila dipenuhi konten negatif, perundungan, hoaks, ataupun aktivitas yang menjauhkan diri dari nilai-nilai Islam.
Melalui pendekatan ini, siswa tidak diajak untuk takut terhadap teknologi, melainkan belajar menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
Menjadi Pengguna Media Sosial yang Punya Tujuan
Media sosial sering kali dipandang sebagai tempat hiburan semata. Dalam sesi ini, siswa diajak mengubah cara pandang tersebut. Bu Marita menjelaskan bahwa media sosial seharusnya memiliki tiga tujuan utama, yaitu:
- belajar dan menambah wawasan,
- mempererat silaturahmi dengan keluarga maupun teman,
- menyebarkan konten positif yang bermanfaat bagi banyak orang.
Pesan ini menjadi bekal penting agar anak-anak tidak sekadar menjadi penonton dunia digital, tetapi mampu menjadi pembawa manfaat melalui setiap jejak digital yang mereka tinggalkan.
Belajar Bersyukur, Bukan Sibuk Membandingkan Diri
Salah satu aktivitas yang paling menarik adalah permainan “Harta Karun Temanku.” Dalam permainan tersebut, siswa diminta menemukan satu kelebihan teman di sampingnya. Satu per satu mereka menyampaikan apresiasi dengan tulus.
Aktivitas sederhana ini ternyata memiliki makna yang sangat dalam.
Anak-anak diajak memahami bahwa hati akan dipenuhi rasa syukur ketika terbiasa melihat kelebihan orang lain. Sebaliknya, media sosial sering kali membuat seseorang sibuk membandingkan hidupnya dengan kehidupan orang lain sehingga memunculkan rasa iri, minder, hingga tidak percaya diri.
Melalui refleksi ini, siswa belajar bahwa ukuran kebahagiaan bukanlah jumlah “like” ataupun pengikut, melainkan rasa syukur atas nikmat yang Allah berikan.

Dunia Maya Memiliki Jejak yang Sulit Dihapus
Kelas semakin hidup ketika siswa mengikuti permainan Game Bisik Berantai.
Permainan tersebut menggambarkan bagaimana sebuah informasi dapat berubah ketika berpindah dari satu orang ke orang lain. Dari sini siswa memahami bahwa berita yang belum tentu benar dapat menyebar begitu cepat apabila tidak dilakukan pengecekan terlebih dahulu.
Selanjutnya, siswa diajak mengenali karakteristik dunia maya.
Internet bersifat cepat, global, mudah dimanipulasi, viral, bahkan jejak digitalnya sulit dihapus. Karena itulah setiap komentar, unggahan, maupun pesan harus dipikirkan dengan matang sebelum dibagikan kepada orang lain.
Bermain Sambil Belajar Menjadi Netizen yang Beradab
Belajar adab digital tidak dilakukan melalui ceramah panjang.
Marita mengajak siswa mengikuti berbagai permainan seperti Jempol Pintar dan Detektif Konten, yaitu aktivitas memilih apakah suatu unggahan termasuk perilaku yang baik atau tidak baik di media sosial. Melalui diskusi kelompok, siswa belajar memberikan alasan dan berpikir kritis terhadap berbagai situasi yang sering mereka temui di dunia digital.
Pendekatan ini membuat materi terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga lebih mudah dipahami dan diterapkan.
Adab Bermedia Sosial Dimulai dari Hal-Hal Sederhana
Siswa kemudian diajak menyusun kembali kebiasaan baik saat menggunakan media sosial.
Di antaranya adalah:
- tidak mengejek atau menghina orang lain,
- tidak membuka aib teman,
- tidak menggunakan kata-kata kasar,
- tidak menyebarkan hoaks,
- tidak pamer secara berlebihan,
- meminta izin sebelum mengunggah foto orang lain,
- mengucapkan terima kasih,
- menghargai perbedaan pendapat.
Selain itu, siswa juga belajar memilih konten yang layak dikonsumsi dengan metode THINK, BAIK dan lima prinsip cerdas berinternet.



Mereka diajak memeriksa sumber informasi, memilih konten edukatif, serta menghindari tayangan yang mengandung kekerasan, kebencian, maupun hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Menjadi Generasi Digital yang Beradab
Sebagai penutup, seluruh siswa bersama-sama mengucapkan Ikrar Calon Pemimpin Muslim Cerdas Digital.
Mereka berkomitmen menggunakan gawai secara bijak, menjaga lisan meskipun melalui tulisan, memilih konten yang bermanfaat, tidak membandingkan diri dengan orang lain di media sosial, serta berharap Allah SWT menjadikan mereka anak yang beradab, berilmu, dan membawa manfaat bagi sesama.
Komitmen tersebut selaras dengan visi SD Islam Bintang Juara sebagai Sekolah Calon Pemimpin Muslim. Sekolah percaya bahwa kepemimpinan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual, tetapi juga oleh karakter, adab, serta kemampuan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
Di tengah derasnya arus informasi digital, anak-anak membutuhkan bekal yang lebih dari sekadar kemampuan mengoperasikan gawai. Mereka membutuhkan kompas moral agar mampu memilih yang benar, berkata santun, menghargai orang lain, dan menghadirkan manfaat melalui teknologi.
Karena pada akhirnya, dunia digital bukan sekadar tempat untuk menunjukkan siapa diri kita, tetapi ruang untuk membuktikan nilai-nilai yang kita pegang.
Dan sebagaimana pesan yang terus diingat oleh seluruh peserta hari itu, calon pemimpin muslim yang hebat bukanlah yang paling viral, melainkan yang paling baik adabnya.*** (CM-MRT)
by admin admin | Jul 14, 2026 | Artikel, Berita, Edukasi
Kalimat sederhana yang menyebutkan nama-nama ilmuwan muslim kini terdengar saat tahun ajaran baru dimulai. “Bu, aku kelas Ibnu Sina.”
Mungkin bagi sebagian orang, itu hanyalah nama kelas. Tidak berbeda dengan kelas Melati, Anggrek, Aster, atau bahkan nama warna dan tokoh kartun yang lazim digunakan di banyak sekolah. Namun di SD Islam Bintang Juara, setiap nama kelas dipilih dengan penuh pertimbangan.
Karena kami percaya, apa yang sering disebut, didengar, dan dikenal anak setiap hari akan perlahan membentuk cara mereka berpikir tentang siapa yang layak dijadikan teladan.
Di tengah derasnya arus digital, anak-anak masa kini begitu akrab dengan tokoh superhero, karakter animasi, hingga tokoh-tokoh dalam gim daring. Sebagian memang menghibur, tetapi tidak semuanya membawa nilai yang membangun karakter.
Di sisi lain, sejarah Islam justru dipenuhi oleh tokoh-tokoh luar biasa yang nyata. Mereka adalah ilmuwan, pemimpin, dokter, matematikawan, astronom, hingga penemu yang karya-karyanya masih digunakan dunia hingga hari ini.
Inilah yang menjadi latar belakang lahirnya filosofi nama ilmuwan muslim menjadi nama-nama kelas pada Tahun Pelajaran 2026/2027 SD Islam Bintang Juara.
Menghidupkan Kembali Keteladanan yang Nyaris Terlupakan
Ada satu keresahan yang sering muncul di kalangan para guru. Banyak anak mampu menyebut puluhan nama karakter fiksi, tetapi belum mengenal siapa Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, atau Al-Biruni.
Padahal, tokoh-tokoh tersebut merupakan bagian penting dari peradaban dunia. Mereka bukan sekadar nama dalam buku sejarah. Mereka adalah sosok yang berhasil menjadikan ilmu pengetahuan sebagai jalan ibadah dan manfaat bagi umat manusia.
Karena itulah, SD Islam Bintang Juara memilih nama-nama ilmuwan muslim dan khalifah sebagai identitas setiap kelas. Harapannya sederhana, tetapi penuh makna. Semoga setiap kali anak menyebut nama kelasnya, mereka sekaligus mengenal sosok besar yang menjadi inspirasi di balik nama tersebut.

Nama Ilmuwan Muslim yang Menjadi Doa
Di SD Islam Bintang Juara, nama bukan sekadar identitas. Nama adalah doa. Nama adalah harapan. Nama adalah pengingat tentang nilai yang ingin ditanamkan.
Kami berharap kakak shalih-shalihah tidak hanya tumbuh menjadi pribadi yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter tangguh, cinta ilmu, berani berkarya, dan mampu menghadirkan solusi bagi masyarakat.
Sebagaimana para ilmuwan muslim dahulu menggunakan ilmunya untuk memberi manfaat bagi dunia, kami berharap kelak para siswa juga menjadi generasi yang karya dan kontribusinya membawa keberkahan.
Karena sekolah bukan hanya tempat memperoleh nilai tinggi, melainkan tempat menumbuhkan mimpi besar.
Mengenal Sosok Inspiratif di Balik Nama Setiap Kelas
Setiap jenjang memiliki tokoh yang dipilih berdasarkan kontribusi besar mereka terhadap peradaban Islam dan dunia.
Kelas 1: Memulai Perjalanan dengan Semangat Mencintai Ilmu
- Kelas 1A – Ibnu Sina : Dikenal sebagai Bapak Kedokteran Modern, Ibnu Sina menulis Al-Qanun fi al-Tibb, kitab kedokteran yang menjadi rujukan dunia selama berabad-abad. Harapannya, anak-anak belajar bahwa ilmu yang dipelajari hari ini dapat menjadi manfaat bagi banyak orang di masa depan.
- Kelas 1B – Al-Khawarizmi : Tokoh besar yang dikenal sebagai Bapak Aljabar sekaligus pelopor konsep algoritma dan angka nol. Di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), nama Al-Khawarizmi menjadi semakin relevan karena istilah algorithm berasal dari namanya.
- Kelas 1C – Ibnu Al-Haytham ; Ilmuwan yang dikenal sebagai Bapak Optik Modern. Beliau merumuskan teori penglihatan dan hukum pembiasan cahaya yang menjadi dasar perkembangan ilmu optik hingga saat ini.
Kelas 2: Berani Berkarya dan Bereksperimen
- Kelas 2A – Abu Qasim Al-Zahrawi : Pelopor ilmu bedah modern yang merancang berbagai alat bedah yang menjadi inspirasi dunia medis.
- Kelas 2B – Jabir bin Hayyan : Dikenal sebagai Bapak Kimia Modern melalui penemuan proses distilasi, kristalisasi, serta pengembangan berbagai metode eksperimen ilmiah.
- Kelas 2C – Abbas bin Firnas : Sosok visioner yang dikenal sebagai pelopor penerbangan melalui percobaan glider atau pesawat layang jauh sebelum teknologi penerbangan berkembang.
Kelas 3: Mengajarkan Rasa Ingin Tahu terhadap Alam Semesta
- Kelas 3A – Al-Battani : Astronom dan matematikawan muslim yang berhasil menghitung panjang satu tahun matahari dengan tingkat akurasi yang mengagumkan.
- Kelas 3B – Ibnu Al-Nafis : Dokter muslim pertama yang menjelaskan secara ilmiah tentang sirkulasi darah melalui paru-paru, jauh sebelum ditemukan kembali oleh ilmuwan Barat.
- Kelas 3C – Al-Biruni : Ahli geologi sekaligus astronom yang berhasil mengukur keliling bumi dengan metode ilmiah yang sangat mendekati hasil pengukuran modern.

Kelas 4–6: Belajar Kepemimpinan dari Para Khalifah
Tidak hanya ilmuwan, kakak shalih-shalihah juga dikenalkan kepada para pemimpin Islam yang meninggalkan warisan luar biasa.
- Kelas 4A – Umar bin Abdul Aziz : Pemimpin yang dikenal dengan reformasi administrasi pemerintahan, penguatan kodifikasi hadis, serta komitmennya dalam memberantas korupsi dan menegakkan keadilan.
- Kelas 4B – Ali bin Abi Thalib : Khalifah yang dikenal karena kebijaksanaan, kecerdasan, serta pembenahan sistem administrasi dan tata kelola negara.
- Kelas 5A – Utsman bin Affan : Sosok yang berjasa dalam kodifikasi mushaf Al-Qur’an sehingga umat Islam hingga kini memiliki bacaan Al-Qur’an yang terjaga keseragamannya.
- Kelas 5B – Umar bin Khattab : Pemimpin visioner yang menetapkan Kalender Hijriah sebagai sistem penanggalan resmi umat Islam.
- Kelas 6 – Abu Bakar Ash-Shiddiq : Khalifah pertama yang dikenal karena keteguhan iman, kejujuran, serta keberaniannya menegakkan kewajiban zakat demi menjaga persatuan umat.
Agar kakak shalih-shalihah mengenal lebih dekat dan bisa meneladani karakter tokoh-tokoh di atas, pada Pekan Taaruf hari ketiga dan keempat, kakak diajak untuk membedah profil masing-masing kelas. Bukan hanya sekadar mendengarkan informasi satu arah dari guru di kelas, tetapi juga melalui beragam tantangan dan permainan yang seru, bermakna, juga menyenangkan.
Pendidikan Karakter Dimulai dari Hal-Hal Sederhana
Mungkin bagi sebagian orang, pergantian nama kelas terlihat sederhana. Namun dalam dunia pendidikan, simbol memiliki kekuatan.
Ketika setiap hari anak memasuki kelas “Ibnu Sina”, “Al-Khawarizmi”, atau “Al-Biruni”, rasa ingin tahu akan perlahan tumbuh.
- Siapa beliau?
- Apa jasanya?
- Mengapa namanya digunakan sebagai nama kelas?
Pertanyaan-pertanyaan kecil seperti itulah yang menjadi pintu masuk pembelajaran karakter, sejarah, dan kecintaan terhadap peradaban Islam. Kakak shalih-shalihah akan belajar bahwa menjadi muslim berarti juga menjadi pembelajar sepanjang hayat.
Menyiapkan Generasi yang Menjadi Solusi
Di SD Islam Bintang Juara, kami memiliki keyakinan bahwa dunia tidak membutuhkan lebih banyak generasi yang sekadar mengikuti tren. Dunia membutuhkan generasi yang mampu menghadirkan solusi.
- Generasi yang berilmu sekaligus berakhlak.
- Generasi yang berani bermimpi besar namun tetap rendah hati.
- Generasi yang menjadikan ilmu sebagai bentuk ibadah dan pengabdian kepada Allah SWT.
Karena itu, filosofi nama kelas ini bukan hanya tentang mengenalkan tokoh sejarah. Ini adalah doa yang dipanjatkan setiap hari.
Semoga setiap anak yang belajar di bawah nama para ilmuwan dan pemimpin besar Islam tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, tidak mudah rapuh oleh zaman, serta kelak mampu melahirkan karya-karya yang membawa manfaat bagi masyarakat, bangsa, bahkan dunia.
Sebab setiap anak adalah bintang. Dan setiap bintang berhak menjadi juara.*** (CM-MRT)
by admin admin | Jun 19, 2026 | Artikel, Berita Utama, Edukasi
Bagaimana cara menutup satu tahun pelajaran dengan berkesan?
Sebagian orang mungkin membayangkan hari-hari santai tanpa kegiatan belajar. Namun di SD Islam Bintang Juara, akhir semester justru menjadi momen penting untuk menanamkan nilai kepemimpinan, kebersamaan, dan refleksi diri melalui rangkaian kegiatan bertajuk Leadership Journey Akhir Semester 2 Tahun Pelajaran 2025/2026.
Selama empat hari, mulai 15 hingga 19 Juni 2026, kakak shalih dan shalihah mengikuti beragam kegiatan yang dirancang bukan sekadar untuk bersenang-senang, tetapi juga untuk memperkuat karakter sebagai calon pemimpin muslim. Ada aktivitas fisik yang menyehatkan, permainan kolaboratif yang menantang, karya kreatif penuh kenangan, hingga refleksi perjalanan belajar selama satu tahun terakhir.
Empat hari yang mungkin terlihat sederhana, tetapi menyimpan banyak pelajaran berharga di dalamnya.
Mengawali Pekan dengan Tubuh yang Sehat dan Hati yang Terinspirasi
Senin pagi, 15 Juni 2026, suasana sekolah terasa lebih semarak dari biasanya. Seluruh siswa berkumpul untuk mengikuti Senam Sehat bersama.
Gerakan demi gerakan dilakukan dengan penuh semangat. Tawa dan senyum menghiasi wajah kakak shalih-shalihah yang menikmati kebersamaan bersama teman-teman dan guru.
Namun Leadership Journey tidak berhenti pada aktivitas fisik saja.
Setelah tubuh bergerak dan energi terisi kembali, siswa kembali ke kelas masing-masing untuk mengikuti kegiatan Read Aloud Sirah Nabi dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah.
Suasana kelas berubah menjadi lebih tenang dan khidmat.
Para guru membacakan kisah-kisah inspiratif dari perjalanan hidup Rasulullah SAW. Kakak shalih-shalihah mendengarkan dengan penuh perhatian, membayangkan perjuangan, keteladanan, dan kepemimpinan Rasulullah dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Kakak juga membaca buku sirah yang telah dibawa dari rumah masing-masing.
Melalui kegiatan ini, siswa belajar bahwa pemimpin yang hebat bukan hanya mereka yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak mulia, kesabaran, keberanian, dan kepedulian kepada sesama.
Nilai-nilai itulah yang ingin ditanamkan sejak dini kepada para calon pemimpin muslim masa depan.
Belajar Menjadi Tim yang Solid Melalui Fun Match
Kemeriahan berlanjut pada Rabu, 17 Juni 2026.
Hari itu menjadi salah satu hari yang paling ditunggu karena seluruh siswa mengikuti kegiatan Fun Match dengan tema besar kebersamaan dan kerja sama tim.
Setiap permainan dirancang untuk mengajarkan satu nilai penting dalam kepemimpinan.
Satu Tim, Satu Tujuan
Melalui pertandingan futsal dan voli, siswa belajar bahwa keberhasilan tidak ditentukan oleh kemampuan individu semata. Pemain terbaik sekalipun tidak akan mampu memenangkan pertandingan tanpa dukungan tim.
Mereka belajar berkomunikasi, saling mendukung, memahami peran masing-masing, serta menghargai kontribusi teman.
Satu Tim, Satu Kekuatan
Nilai berikutnya hadir melalui permainan tarik tambang. Teriakan semangat terdengar dari berbagai sudut lapangan. Semua siswa mengerahkan tenaga terbaiknya untuk membantu kelompok masing-masing.
Dari permainan sederhana ini, mereka belajar bahwa kekuatan terbesar sering kali lahir dari kebersamaan. Ketika semua anggota tim bergerak dalam arah yang sama, tantangan yang berat pun menjadi lebih mudah dihadapi.
Satu Tim, Satu Komando
Permainan paling menarik sekaligus menantang adalah Tancap Bendera. Dalam permainan ini, satu siswa berperan sebagai robot yang matanya ditutup, sementara siswa lainnya bertugas menjadi “remote control” yang memberikan instruksi.
Agar berhasil mencapai lokasi dan menancapkan bendera, instruksi harus diberikan secara jelas, terarah, dan penuh kepercayaan. Permainan ini mengajarkan pentingnya komunikasi yang efektif.
Seorang pemimpin harus mampu memberikan arahan yang jelas, sementara anggota tim perlu belajar mendengar dan mempercayai satu sama lain. Ternyata menjadi pemimpin maupun anggota tim yang baik sama-sama membutuhkan latihan.
Mengabadikan Persahabatan dalam Sebuah Bingkai Kenangan
Kamis, 18 Juni 2026, suasana sekolah berubah menjadi lebih hangat dan penuh kreativitas. Hari itu siswa mengikuti kegiatan Bingkai Kenangan Bersama Teman Seperjuangan.
Setiap siswa membuat karya berupa bingkai foto sebagai kenang-kenangan perjalanan mereka selama satu tahun pelajaran. Tangan-tangan kecil sibuk menghias, mewarnai, dan merangkai berbagai bahan menjadi karya yang unik.
Di sela-sela proses berkarya, banyak obrolan sederhana yang muncul. Ada yang mengenang momen lucu saat belajar bersama. Ada yang tertawa mengingat permainan saat istirahat. Ada pula yang mulai menyadari bahwa sebentar lagi mereka akan naik ke jenjang kelas berikutnya.
Bingkai yang mereka buat mungkin sederhana. Namun nilai yang tersimpan di dalamnya jauh lebih berharga. Karena setiap bingkai menjadi simbol persahabatan, perjuangan, dan perjalanan belajar yang telah mereka lalui bersama.
Melalui kegiatan ini, siswa belajar menghargai proses dan mengenang perjalanan yang telah membentuk mereka menjadi pribadi yang lebih baik.
Menutup Tahun Pelajaran dengan Jumat Berseri
Rangkaian Leadership Journey mencapai puncaknya pada Jumat, 19 Juni 2026 melalui kegiatan Jumat Berseri. Hari itu diawali dengan kegiatan bersih-bersih lingkungan sekolah. Dengan penuh semangat, siswa bekerja sama membersihkan kelas, halaman, dan berbagai sudut sekolah.
Mereka belajar bahwa menjaga kebersihan bukan hanya tugas petugas kebersihan atau guru, tetapi tanggung jawab bersama. Kegiatan sederhana ini menjadi latihan nyata untuk menumbuhkan rasa memiliki terhadap lingkungan.
Setelah bekerja bersama, kakak shalih-shalihah menikmati buah segar yang telah disiapkan. Momen makan bersama menghadirkan suasana santai sekaligus menyenangkan setelah beraktivitas.
Namun bagian yang paling bermakna justru hadir di penghujung kegiatan. Yaitu sesi refleksi satu tahun pelajaran. Para siswa diajak mengenang perjalanan mereka selama setahun terakhir.
- Apa pencapaian yang membuat mereka bangga?
- Tantangan apa yang pernah mereka hadapi?
- Pelajaran apa yang paling berkesan?
Dan target apa yang ingin mereka raih di tahun berikutnya?
Melalui refleksi ini, siswa belajar mengenali diri sendiri, mensyukuri proses yang telah dilalui, serta menyusun langkah yang lebih baik untuk masa depan. Kemampuan merefleksi diri merupakan salah satu keterampilan penting dalam kepemimpinan yang sering kali terlupakan. Padahal pemimpin yang baik adalah mereka yang mampu belajar dari pengalaman dan terus memperbaiki diri.
Sembari melakukan refleksi, kakak shalih-shalihah juga diajak untuk makan real food rebusan bersama guru wali kelas dan pendamping. Makanan yang disajikan dalam tampah ini merupakan apresiasi bagi seluruh siswa yang telah berpartisipasi dalam Leadership Journey. Selain itu juga untuk memberikan penguatan pada kakak shalih-shalihah tentang manfaat mengonsumsi real food.
Menutup Semester, Membuka Perjalanan Baru
Leadership Journey Akhir Semester 2 SD Islam Bintang Juara bukan sekadar rangkaian kegiatan penutup tahun ajaran. Di balik senam sehat, permainan tim, karya kenangan, hingga refleksi diri, terdapat nilai-nilai besar yang sedang ditanamkan kepada para siswa.
Mereka belajar bahwa kepemimpinan tidak selalu tentang memimpin orang lain. Kepemimpinan dimulai dari kemampuan memimpin diri sendiri.
- Mampu bekerja sama.
- Mampu berkomunikasi.
- Mampu menghargai proses.
- Mampu menjaga amanah.
- Dan mampu terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.
Semoga pengalaman selama Leadership Journey ini menjadi bekal berharga bagi kakak shalih-shalihah dalam melangkah ke jenjang berikutnya.
Karena setiap langkah kecil hari ini adalah bagian dari perjalanan panjang mereka menjadi generasi yang cerdas berilmu, santun berperilaku, dan siap menjadi calon pemimpin muslim di masa depan.***