Ekspresikan cinta Ayah Bunda sebelum anak bermasalah.
Itulah pengingat manis dari Abah Ihsan sebelum memaparkan apa saja ekspresi cinta untuk remaja. Kalimat tersebut disampaikan oleh Abah Ihsan pada 6 November 2022 di sebuah parenting class bertajuk Karunia Cinta Remaja yang digelar oleh SD Islam Bintang Juara.

Selama ini sebagai orang tua, Ayah Bunda bisa saja lalai dalam mengekspresikan rasa cinta. Atau menganggap bahwa hal-hal yang sudah dilakukan sehari-hari adalah bentuk cinta, dan menganggap bahwa seharusnya kakak shalih-shalihah bisa menerima cinta tersebut.
Nyatanya, tidak selamanya begitu. Apa yang Ayah Bunda lakukan bisa jadi belum sampai menyentuh hati kakak shalih-shalihah. Bahkan bisa jadi kakak shalih-shalihah menerjemahkan semua fasilitas yang diberikan, semua larangan dan nasihat yang diberikan bukan sebagai bentuk cinta Ayah dan Bunda.
Ada kalanya orang tua baru menyadari kekeliruan dalam cara pengasuhannya saat para remaja mulai menunjukkan perilaku negatif. Saat itulah, orang tua mulai mengubah cara mengekspresikan cintanya.
Namun, apakah Ayah Bunda harus menunggu anak bermasalah terlebih dahulu baru memberikan perhatian dan cinta yang bisa menyentuh hati kakak shalih-shalihah?

Sebuah riset yang dilakukan oleh Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) pada 2022, membeberkan fakta bahwa dalam 12 bulan terakhir, satu dari tiga remaja Indonesia dengan kisaran usia 10-17 tahun bermasalah dengan kesehatan mental. Jumlah tersebut setara dengan 15,5 juta remaja yang ada di Indonesia.
Fakta lainnya, 1 dari 20 remaja pada usia 10-17 tahun mengalami gangguan mental. Jumlah ini setara dengan 2,45 juta remaja Indonesia.
Miris bukan, Ayah Bunda?
Contents
Kunci Menaklukkan Remaja dengan REM – AJA
Selain karena pengaruh lingkungan, pola pengasuhan yang terlalu permisif ataupun terlalu otoriter menjadi penyebab utama dari kesehatan mental para remaja. Oleh karenanya Abah Ihsan menyampaikan bahwasanya cara efektif agar remaja menerima cinta orang tuanya adalah dengan pola REM – AJA.
Apakah Ayah Bunda sudah membaca artikel mengenai penyebab kenakalan remaja yang diterbitkan beberapa waktu lalu? Dalam artikel tersebut, Bintang Juara sudah membeberkan hal-hal apa saja yang bisa menjerumuskan kakak shalih-shalihah berperilaku negatif.
Anak-anak yang memasuki usia pra balig dan balig memasuki masa-masa turbulensi. Dari perubahan hormon hingga tanggung jawab yang berbeda, pastikan Ayah Bunda memberikan pijakan yang kuat dan pandai-pandai ‘menggunakan rem’ di saat yang tepat.
Terlalu banyak larangan tanpa pijakan yang kuat sama bahayanya dengan terlalu permisif tanpa ada arahan. Oleh karenanya orang tua sebaiknya bisa menjadi sahabat bagi para remaja.
Dari data survery yang dilakukan I-NAMHS, salah satu hal yang membuat para remaja mudah stres adalah karena sejak pandemi mereka terbatas dalam beraktivitas. Termasuk menjadi terbatas bertemu dengan para sahabat atau teman-teman dekatnya.
Kenapa bertemu sahabat jauh lebih mengasyikkan daripada berlama-lama dengan orang tua? Bisa jadi karena Ayah Bunda terlalu sering menjadi ‘kanebo kering.’

Apa itu ‘kanebo kering?’
Tidak banyak komunikasi yang produktif, tidak asyik diajak berbincang apa saja. Lebih banyak berbicara sendiri (baca: menasihati) dibandingkan mengajak anak-anaknya berbincang dari hati ke hati. Sementara dengan para sahabatnya, kakak shalih-shalihah bisa bercerita banyak hal.
Agar bisa menjadi sahabat bagi remaja, pastikan Ayah Bunda banyak bertanya dan banyak ngobrol apa saja. Sering-seringlah berbincang tentang hal receh, agar lebih mudah dan luwes ketika mengajak remaja berbicara yang lebih serius.
Insya Allah dengan memosisikan diri sebagai sahabat, cinta di hati anak akan bertumbuh, hingga di dalam hatinya berkata, “I love my parents.” Saat orang tua telah berhasil dekat dan lekat dengan anak, kakak shalih-shalihah tidak akan tega menyakiti hati Ayah Bundanya.
4 Ekspresi Cinta untuk Remaja, Sudahkah Mempraktikkannya di Rumah, Ayah Bunda?
Lalu bagaimana caranya agar Ayah Bunda bisa menjadi sahabat bagi kakak shalih-shalihah? Berikut ini adalah warisan pertama yang seharusnya diberikan oleh para orang tua kepada anak-anaknya.
Warisan pertama ini disebut dengan 4 ekspresi cinta. Apa sajakah itu?
Apabila Ayah Bunda pernah mengikuti Program Sekolah Pengasuhan Anak (PSPA), empat ekspresi cinta ini sudah pernah disampaikan oleh Abah Ihsan lo. Hanya saja penerapannya untuk remaja sedikit berbeda.
1. Karunia Waktu
Setiap orang tua ingin anak memenuhi haknya, tetapi sudahkah orang tua memenuhi hak anak? Salah satu hak anak adalah menghabiskan waktu bersama kedua orang tuanya.
Ayah Bunda, pernahkah menyadari betapa cepatnya waktu bergulir? Berapa lamakah orang tua akan hidup bersama anak-anaknya?
Tidak lama, bukan? Hidup sebenarnya sangat singkat. Begitu pula kebersamaan Ayah Bunda dengan kakak shalih-shalihah. Oleh karenanya, buatlah sisa waktu yang dimiliki menjadi lebih bermakna.
Ada dua cara untuk membuat waktu lebih bermakna. Pertama, fokus pada kualitas. Bukan sekadar banyak kegiatan bersama, tapi kualitasnya rendah. Namun bisa jadi kuantitasnya terbatas, namun memiliki kualitas yang tinggi.
Cara pertama ini cocok dipraktikkan bagi Ayah Bunda yang menjalani pernikahan jarak jauh. Misal, Ayah bekerja di luar kota dan hanya bertemu sepekan, sebulan atau beberapa bulan sekali.
Dengan keterbatasan tersebut, pastikan saat memiliki waktu bersama, Ayah Bunda memusatkan perhatian hanya untuk kakak shalih-shalihah. Singkirkan dulu gadget dan segala macam pekerjaan yang bisa menjadi pengganggu.
Cara yang kedua yaitu sama-sama mementingkan poin kualitas dan kuantitas. Tentu saja cara ini jauh lebih baik. Cocok dipraktikkan bagi Ayah Bunda yang sehari-hari bisa lebih sering bertemu dengan kakak shalih-shalihah.
Bisa jadi Ayah Bunda sehari-hari selalu bertemu dan berdekatan dengan kakak shalih-shalihah. Namun apakah benar-benar bersama?
Karena dekat tidak selalu bersama, Ayah Bunda. Dekat itu ukurannya terletak pada fisik. Namun bersama ada keterlibatan di dalamnya. Ayah Bunda melakukan aktivitas yang sama dengan kakak shalih-shalihah, tidak sekadar mengawasi dan mendokumentasikannya.

Kehadiran Ayah Bunda adalah salah satu bukti cinta yang bisa diterima dan dirasakan oleh kakak shalih-shalihah. Dalam hal ini, Ayah Bunda bisa mengekpresikan cinta lewat dua bentuk:
- 1821 – Pada jam 18.00 – 21.00, singkirkan segala macam ‘benda kotak’ dan melingkar bersama keluarga. Lakukan 3B (Belajar, Bermain, Berbicara) dengan kakak shalih-shalihah. Tentunya untuk pilihan waktu bisa disesuaikan dengan budaya keluarga masing-masing. Hanya saran dari Abah Ihsan, setidaknya alokasikan waktu minimal tiga jam untuk beraktivitas bersama anak.
- Private Time – Selain 1821, untuk anak remaja diperlukan waktu khusus untuk ngobrol berdua dengan Bundanya saja atau Ayahnya saja. Ajak kakak shalih-shalihah untuk pergi berdua saja, entah makan berdua atau nonton pertandingan bola. Lakukan secara bergantian apabila memiliki dua anak usia remaja. Misal akhir pekan pertama, Ayah private time dengan kakak, Bunda private time dengan adik. Lalu pekan berikutnya, bergantian Ayah dengan adik dan Bunda dengan kakak.
Pada saat anak berusia 0-7 tahun, Ayah Bunda bisa fokus menemani main. Sementara pada usia 7-12 tahun, sudah saatnya Ayah Bunda memeriksa bagaimana wudhu dan sholatnya.
Salah satu permasalahan besar yang dihadapi para remaja zaman now adalah tergerusnya keimanan. Tak sedikit yang mengaku sebagai agnostik dan atheis. Di sinilah peran orang tua sebagai sahabat diperlukan untuk mengantisipasi hal tersebut.
Ayah Bunda, baik saat 1821 ataupun Private Time, sering-seringlah mengajak kakak shalih-shalihah untuk berdialog iman, seperti, kenapa manusia beribadah kepada Allah? Arahkan kakak shalih-shalihah untuk menemukan fakta bahwasanya ibadah dilakukan bukan sekadar kewajiban, tetapi untuk menemukan ketenangan hati.
2. Karunia Sentuhan
Sentuhan adalah wujud dari ribuan kata ‘sayang’. Sentuhan adalah cara mengomunikasikan cinta yang paling universal.
Semua orang pada usia berapapun membutuhkan sentuhan. Namun tanpa disadari Ayah Bunda lebih sering menyentuh anak-anak usia dini dibandingkan anak remajanya, bukan?
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh oasisadvancedwellness.com menyebutkan bahwa sentuhan memiliki manfaat sebagai berikut:
- Mengurangi kecemasan dan ketegangan
- Membantu mengatasi migrain
- Menyehatkan pencernaan
Bukankah hal ini sesuai dengan fakta dari I-NAMHS di atas? Bahwa pada 12 bulan terakhir banyak remaja mengalami masalah kesehatan dan gangguan mental. Salah satunya yaitu memiliki masalah dengan kecemasan.
Artinya, apabila banyak orang tua memberikan sentuhan yang tepat kepada para remaja, bisa jadi permasalahan terkait kesehatan dan gangguan mental tidak pernah terjadi.
Saat kakak shalih-shalihah masih berusia di bawah 10 tahun, orang tua bisa bebas menyentuh. Namun Abah Ihsan menyarankan dua waktu terbaik untuk memberikan sentuhan pada anak, yaitu saat anak hendak pergi tidur dan saat anak berangkat sekolah.

Sementara untuk kakak shalih-shalihah yang sudah memasuki usia remaja, berikut ini waktu-waktu terbaik untuk memberikan sentuhan:
- Saat hendak berpisah (orang tua atau anak hendak melakukan safar/ bepergian yang agak lama).
- Saat baru berjumpa setelah terpisah cukup lama.
- Saat Ayah Bunda merasa bersyukur atas kehadiran kakak shalih-shalihah.
- Saat kakak shalih-shalihah merasa kelelahan.
- Saat kakak shalih-shalihah merasa bersedih.
- Saat kakak shalih-shalihah merasa kecewa pada dirinya atau mengalami kegagalan.
- Saat Ayah Bunda dan kakak shalih-shalihah saling bermaaf-maafan.
- Saat kakak shalih-shalihah mendekat (memberikan kode untuk dipeluk).
- Saat kakak shalih-shalihah memintanya.
Pastikan pula Ayah Bunda tidak menyentuh kakak shalih-shalihah saat:
- Mereka sedang marah.
- Mereka berbicara sambil menjauh.
- Mereka membanting pintu.
- Mereka sedang di depan teman-temannya.
Hargai dan berikan privasi kepada anak untuk mengelola emosinya. Setelah kakak shalih-shalihah sudah tenang, barulah Ayah Bunda bisa mendekat dan bertanya tentang perasaan mereka.
Selain mempertimbangkan waktu yang tepat untuk memberikan sentuhan, Ayah Bunda juga perlu memperhatikan cara menyentuh, khususnya antara orang tua yang berbeda gender dengan anaknya. Cara menyentuh sejatinya fleksibel, bisa berupa rangkulan, kecupan ataupun usapan.
Namun apabila Ayah ingin menyentuh kakak shalihah atau sebaliknya Bunda ingin menyentuh kakak shalih, pastikan dada tidak saling menempel. Hindari pula memegang area dada, pinggul dan pantat.
3. Karunia Hadiah
Hadiah adalah bentuk emosional untuk menunjukkan kasih sayang orang tua kepada anak. Sekaligus ekspresi “I Love You” dari orang tua ke anak.
Dalam bahasa Inggris, hadiah bisa diartikan baik sebagai gift ataupun reward. Namun Ayah Bunda harus bisa membedakan makna ‘gift’ dan ‘reward.’
Reward diberikan sebagai hadiah ketika anak mencapai sesuatu. Misal, kakak shalih-shalihah baru saja menyelesaikan hafalan juz 30, hadiah yang diberikan berarti sebagai reward atas prestasinya.

Sementara gift adalah bentuk hadiah yang diberikan tanpa ada syarat apapun. Ayah Bunda memberikannya tanpa tendensi, spontan untuk menunjukkan kasih sayang kepada kakak shalih-shalihah.
Gift adalah bentuk hadiah yang diberikan kepada anak tanpa waktu khusus, bukan karena balasan prestasi, tidak ada momen tertentu, sesuatu yang disenangi anak tapi tidak diminta olehnya, bukan sebagai barter atas perilaku baik mereka.
Bahkan bisa jadi gift adalah sesuatu yang tidak pantas diterima oleh anak. Misal diberikan pada saat anak baru saja melakukan kesalahan.
Pastikan sebelum memberi hadiah, Ayah Bunda mempertimbangkan hal-hal berikut:
- Apakah hadiah tersebut bermanfaat untuk kakak shalih-shalihah?
- Pastikan hadiah tersebut berkedok kepalsuan, misal untuk menyogok agar kakak shalih-shalihah berhenti ngambek.
- Pastikan hadiah tidak diberikan ala kadarnya, bungkuslah dengan rapi dan istimewa.
- Khusus untuk hadiah berupa uang, berikan pijakan yang lebih spesifik kepada kakak shalih-shalihah untuk menggunakannya dengan tepat dan bijak.
Hadiah yang diberikan spontan, dadakan dan tidak diduga oleh anak akan lebih meninggalkan kesan di hati kakak shalih-shalihah. Pesan cinta Ayah Bunda akan lebih diterima dibandingkan dengan pemberian reward.
Jadi Ayah Bunda sudah punya ide untuk memberikan hadiah apa nih untuk kakak shalih-shalihah?
4. Karunia Mendengar
Berbeda dengan balita dan anak, remaja membutuhkan orang tua yang sedikit bicara dan banyak mendengar.
Pada saat anak masih balita, orang tua harus lebih banyak bicara dan sedikit mendengar, karena di masa-masa ini anak membutuhkan banyak stimulasi dan belajar kosa kata. Sedangkan di masa anak-anak (5-10 tahun), orang tua harus lebih banyak bicara sekaligus banyak mendengar.
Sementara dalam menghadapi remaja, orang tua harus lebih banyak mendengar. Ingat Ayah Bunda, masa remaja adalah masa turbulensi. Masa di mana emosinya lebih sering bergejolak dan sering marah.
Sebagian besar penyebab kemarahan dalam diri anak remaja yang berhubungan dengan orang tua karena remaja berpikir Ayah Bundanya melakukan kesalahan, dan merasa diperlakukan tidak adil.
Saat remaja sedang marah, atasi dengan tiga hal ini;
- A – Akui marahnya: Terima rasa marahnya, tetapi tetap berikan pijakan bahwa sesuatu yang berlebihan tidak baik. Luapkan kemarahan dengan batasan; tidak boleh menyakiti diri sendiri dan orang lain, tidak boleh melanggar norma, dan tidak boleh mengganggu.
- B – Berikan klarifikasi: Setelah anak berhasil menenangkan diri, berikan kesempatan baginya untuk menceritakan penyebab dari rasa marahnya tersebut.
- G – Gali Solusi: Ketika anak sudah puas menceritakan penyebab kemarahannya, ajak anak untuk menemukan solusi untuk permasalahannya.
Beberapa remaja menunjukkan kemarahan kepada orang tuanya dengan teknik bisu. Tujuan dari perilaku tersebut untuk mengontrol orang tuanya.
Saat Ayah Bunda menemui kasus seperti ini, ada dua hal yang bisa dilakukan. Pertama, berikan space kepada anak terlebih dahulu. Apabila anak terus menghindar untuk berbincang dari hati ke hati, saatnya untuk melakukan hal kedua.
Hal kedua yang harus dilakukan adalah membalikkan keadaan. Saatnya orang tua mendiamkan anak selama beberapa waktu. Hal ini untuk menunjukkan bahwasanya sosok yang memiliki power di rumah adalah orang tua.
Biasanya anak akan merasa tidak tenang saat orang tuanya menggunakan teknik diam. Hal tersebut karena anak masih merasa butuh uang saku dan butuh diajak bicara oleh orang tuanya.

Namun hal tersebut hanya bisa dilakukan saat orang tua sudah bersikap sebagai sahabat. Nah, saat ini apakah Ayah Bunda sudah menjadi sahabat untuk kakak shalih-shalihah?
Agar bisa menjadi sahabat, Ayah Bunda harus memberikan kesempatan remaja untuk lebih banyak bicara. Apabila orang tua sudah terlanjur seperti ‘kanebo kering,’ tentunya butuh waktu bagi anak untuk memulai dialog dengan Ayah Bunda.
Oleh karenanya, Ayah Bunda harus memulainya terlebih dahulu. Mulailah dengan;
- Bebas bercerita hal-hal apapun. Misal, tentang buku yang sedang dibacanya, klub bola favoritnya, dan lain-lain. Apabila anak sudah biasa berani bercerita hal-hal sepele kepada orang tuanya, ia juga akan berani bercerita tentang hal-hal yang lebih serius.
- Ajak anak berbincang tentang masalah sebelum bermasalah. Saat ini ada banyak permasalahan yang muncul dalam pergaulan remaja, buka topik tentang permasalahan tersebut lalu ajak mereka untuk memberikan pendapat, pandangan dan solusinya tentang masalah-masalah itu. Dengan sering melakukan perbincangan semacam ini, para remaja akan berpikir ulang untuk bermasalah karena sudah diberikan pijakan sebelumnya.
- Banyak bertanya tapi bukan menginterogasi. Buka diskusi dengan pertanyaan-pertanyaan menggelitik agar berkembang menjadi diskusi yang hangat antara orang tua dan anak. Bisa jadi orang tua telah mengetahui jawaban atas pertanyaan yang diajukan, tetapi tidak masalah, karena tujuannya untuk memancing obrolan bukan untuk mendapat jawaban.
- Tanyakan pendapat anak sebelum menasihati. Saat Ayah Bunda ingin menasehati kakak shalih-shalihah atas sebuah perilaku yang kurang tepat, tanyakan dulu pendapat mereka tentang perilaku tersebut. Misal, “Kak, kalau ada temannya kakak ke rumah, lalu Bunda berwajah masam, menurut kakak bagaimana?”
Membangun hubungan dengan remaja memang membutuhkan banyak ilmu. Oleh karenanya apa yang disampaikan melalui artikel ini tentu saja masih belum cukup.

Yuk, Ayah Bunda, saatnya menambah ilmu untuk mendampingi remaja dengan menghadiri Webinar Islamic Parenting “Tarbiah Pubertas dan Literasi Cinta Remaja” bersama Abah Ihsan Baihaqi pada hari Ahad, 26 Maret 2023. Untuk pendaftaran, silakan klik link berikut: Mau Dong Mendaftar Webinar Abah Ihsan.
Semoga artikel tentang ekspresi cinta untuk remaja ini bermanfaat. Sampai jumpa pada catatan Bintang Juara berikutnya. Mohon bagikan juga informasi ini kepada kerabat dan sahabat ya, Ayah Bunda. Terima kasih.***
Referensi:
- Materi Karunia Cinta Remaja oleh Abah Ihsan, disampaikan pada Hotel Grand Candi Indah Semarang, 6 November 2022
- https://www.ugm.ac.id/id/berita/23086-hasil-survei-i-namhs-satu-dari-tiga-remaja-indonesia-memiliki-masalah-kesehatan-mental
- https://dataindonesia.id/ragam/detail/survei-1-dari-3-remaja-indonesia-punya-masalah-kesehatan-mental
- https://www.halodoc.com/artikel/benarkah-remaja-indonesia-rentan-alami-gangguan-mental
- https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20221212142530-255-886337/studi-245-juta-remaja-indonesia-kena-gangguan-jiwa
- https://theconversation.com/riset-usia-16-24-tahun-adalah-periode-kritis-untuk-kesehatan-mental-remaja-dan-anak-muda-indonesia-169658
- https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/362/mengenal-pentingnya-kesehatan-mental-pada-remaja