fbpx

Ibu kita Kartini, putri sejati, putri Indonesia, harum namanya

Ibu kita Kartini, pendekar bangsa, pendekar kaumnya untuk merdeka

Wahai Ibu kita Kartini, putri yang mulia

Sungguh besar cita-citanya bagi Indonesia

Tentunya lirik lagu ‘Ibu Kita Kartini’ gubahan WR. Supratman sudah  tidak asing lagi di telinga Ayah Bunda, bukan? Lagu yang sedari kecil kerap  disenandungkan, khususnya di bulan April seperti ini. Sudahkah Ayah Bunda mengajarkannya kepada kakak shalih-shalihah?

Ibu Kartini memang Pahlawan Wanita, tetapi bukan hanya kakak shalihah yang wajib tahu mengenai perannya di dunia pendidikan. Kakak shalih pun perlu tahu bahwa ada sosok perempuan yang memiliki keberanian dalam mendobrak ketidaksetaraan antara laki-laki dan perempuan di bidang pendidikan.

Ada banyak karakter positif yang dimiliki oleh Raden Ajeng Kartini. Kakak shalih-shalihah perlu tahu karakter-karakter tersebut, Ayah Bunda, agar bisa menginspirasi langkah-langkah kecil mereka ke depannya.

Namun sebelumnya, yuk ceritakan kisah Ibu Kartini kepada kakak shalih-shalihah.

Sejarah singkat Raden Ajeng Kartini

Raden Ajeng Kartini (R.A. Kartini) lahir pada tanggal 21 April 1879 di kota Jepara, Jawa Tengah. Beliau adalah putri dari salah seorang bangsawan bernama Raden Mas (R.M.) Sosroningrat yang menikah dengan wanita desa, Mas Ajeng Ngasirah. R.A. Kartini memiliki tujuh orang saudara.

Pada tahun 1885, Kartini bersekolah di Europesche Lagere School (ELS) atau setara dengan Sekolah Dasar (SD). Saat itu hanya bangsawan yang bisa mengenyam pendidikan.

Sayangnya R.A. Kartini tidak bisa meneruskan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi, karena sang ayah menentangnya.  Ibu Kartini harus menjalani kehidupan putri bangsawan sejati dengan mengikuti adat istiadat yang berlaku.

Mulai timbul kemauan dalam diri R.A. Kartini agar perempuan juga bisa merasakan pendidikan yang setara dengan laki-laki. Ibu Kartini mulai mengumpulkan para perempuan di sekitarnya untuk diajari menulis dan ilmu pengetahuan.

biodata singkat RA Kartini

R. A. Kartini juga sempat meminta beasiswa dari Pemerintah Belanda.  Belum sempat beasiswa tersebut diambilnya, Ibu Kartini kemudian menikah dengan Raden Adipati Joyodiningrat dan pindah ke Rembang.

Sang suami mendukung keinginan Ibu Kartini untuk membuka sekolah wanita. Sayangnya belum lama cita-cita itu terwujud, R.A. Kartini meninggal dunia pada usia 25 tahun setelah melahirkan putranya yang bernama Soesalit Djojoadhiningrat.

Namun cita-cita Ibu Kartini tidak terhenti. Dibentuklah Yayasan Kartini yang kemudian mendirikan Sekolah Kartini sejak 1912. Sekolah ini tersebar di beberapa kota; Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Madiun dan Cirebon.

Pada  tanggal 2 Mei 1964, Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964. Kepres tersebut untuk menetapkan R.A. Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Sejak saat itu pula, tanggal 21 April ditetapkan sebagai Hari Kartini.

5 Karakter Ibu Kartini Penuh Inspirasi

Dalam kesempatan ini, yuk sama-sama belajar lima karakter positif yang ada dalam diri seorang R.A. Kartini.

1. Senang Belajar

Perempuan yang pikirannya telah dicerdaskan, pemandangannya telah diperluas, tak akan sanggup lagi hidup di dalam dunia nenek moyangnya.

Walaupun dalam quote di atas hanya disebutkan kata ‘Perempuan,’ bukan berarti kakak shalih tidak bisa meneladaninya ya. Baik laki-laki maupun perempuan wajib memiliki semangat belajar yang tinggi.

Sebagaimana disebutkan dalam quote Ibu Kartini tersebut, semangat belajar yang tinggi akan menghadirkan pikiran yang cerdas dan wawasan luas. Pikiran dan wawasan tersebutlah yang nantinya diperlukan oleh kakak shalih-shalihah untuk tumbuh menjadi para pemimpin muslim pada zamannya.

2. Suka Membagikan Idenya Melalui Tulisan

Siapa yang tak mengenal buku fenomenal yang merupakan kumpulan surat RA Kartini kepada Mr.J.H. Abendanon, sahabatnya di Belanda?

Ya, Habis Gelap Terbitlah Terang. Atau yang dalam bahasa Belanda disebut dengan “DOOR DUISTERNIS TOT LICHT.”

Buku tersebutlah yang kemudian menjadi awal mula dibukanya kesempatan belajar bagi perempuan. Buku ini pula yang kemudian menjadi pembeda antara Ibu Kartini dengan pahlawan perempuan lainnya, hingga namanya jauh lebih harum dan dikenal.

Pahlawan wanita memang tidak hanya R.A. Kartini,  tetapi hanya Ibu Kartini yang meninggalkan karya dalam bentuk tertulis. Oleh karenanya, perjuangannya menjadi lebih abadi.

Maka, Ayah Bunda, ajarkanlah kakak shalih-shalihah untuk mengikat ilmu dengan menulis. Karena ilmu yang tidak diikat dalam bentuk tulisan akan lebih mudah tercecer dan terlupakan.

Tentu saja agar piawai menulis, kakak shalih-shalihah juga harus dibiasakan untuk rajin membaca. Karena menulis tanpa membaca bagaikan pensil tumpul yang tak pernah diasah.

3. Patuh pada Orang Tua

Banyak hal yang bisa menjatuhkanmu, tapi satu-satunya hal yang benar dapat menjatuhkanmu adalah sikapmu sendiri.

Ayah Bunda, R.A. Kartini adalah sosok perempuan muda dengan kemauan keras dan keingintahuan yang besar. Apakah kakak shalih-shalihah juga memiliki karakter tersebut di dalam dirinya?

Wah, berarti kakak shalih-shalihah perlu tahu kisah Ibu Kartini, Ayah Bunda. Sekuat apapun R.A. Kartini memegang teguh impian dan cita-citanya, beliau tidak pernah melawan kehendak orang tua. Karakter ini tentu saja sangat penting untuk diteladani oleh kakak shalih-shalihah.

meneladani Ibu Kartini

4. Berjiwa Sosial

Karakter istimewa lainnya dari seorang R.A. Kartini yaitu jiwa sosialnya yang sangat tinggi. Walaupun beliau berdarah biru, Ibu Kartini tidak pernah melihat status seseorang.

R.A. Kartini juga merupakan sosok dengan empati yang tinggi. Hingga kemudian beliau berpikir untuk membuka sekolah khusus untuk perempuan yang tinggal di sekitarnya.

5. Memiliki Keberanian dan Daya Juang

Tahukah engkau semboyanku? ‘Aku mau.’ Dua patah kata yang ringkas itu sudah beberapa kali mendukung dan membawa aku melintasi gunung keberatan dan kesusahan. Kata ‘Aku tiada dapat’ melenyapkan rasa berani. Kalimat ‘Aku mau’ membuat kita mudah mendaki puncak gunung.

Ayah Bunda, pernahkah mendengar kakak shalih-shalihah berkata “Aku tidak bisa” ketika diminta melakukan sesuatu? Gemes bukan saat mendengarnya?

Yuk, ceritakan semboyan Ibu Kartini yang satu ini kepada kakak shalih-shalihah tentang kekuatan kata “Aku Mau.” Kemauan adalah kunci dalam mempelajari sesuatu.

Apabila sudah ada kemauan, insya Allah akan selalu ada jalan. Oleh karenanya, pastikan untuk melatih jiwa keberanian dan daya juang kakak shalih-shalihah dalam segala situasi.

Salah satunya dengan mengikutkan kakak shalih-shalihah beragam aktivitas. Juga dengan memberikan mereka tanggung jawab untuk mengerjakan chores (pekerjaan rumah tangga) ataupun mini project di dalam keluarga.

Ayah Bunda, karakter Ibu Kartini memang sangat inspiratif. Pastikan kakak shalih-shalihah untuk meneladani karakter-karakter tersebut sebagai modal perjalanan hidup mereka di masa depan.

Selain lima karakter di atas, adakah karakter Ibu Kartini lainnya yang bisa Ayah Bunda sebutkan? Yuk, bagikan di kolom komentar.***