Sabtu pagi, 8 November 2025, ruang kelas 2A, 2B, dan 2C SD Islam Bintang Juara tidak dipenuhi suara anak-anak seperti biasanya. Kursi-kursi kali ini dipenuhi oleh Ayah Bunda yang hadir dengan satu kesadaran yang sama: belajar kembali memahami dunia emosi anak, sekaligus emosi diri sendiri sebagai orang dewasa.
Kegiatan Parenting Kelas 2 ini dipandu oleh Bu Muhayati, wali kelas 2A, dengan tema utama mengembangkan regulasi emosi dan keterampilan sosial anak. Tema ini tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan lahir dari proses observasi panjang guru terhadap dinamika kakak shalih-shalihah kelas 2 dalam keseharian belajar, bermain, dan berinteraksi.
Sejak awal, Ayah Bunda diajak memahami bahwa pembahasan tentang emosi anak tidak bisa dilepaskan dari peran orang dewasa di sekitarnya. Sebelum berbicara tentang bagaimana anak mengelola marah, sedih, kecewa, atau takut, kita perlu bertanya pada diri sendiri: sudahkah kita mengenali dan mengelola emosi kita dengan baik?
Contents
Regulasi Emosi Anak Dimulai dari Orang Dewasa
Dalam pemaparannya, Bu Muha menegaskan bahwa pendidikan emosi tidak hanya terjadi melalui nasihat, aturan, atau konsekuensi. Anak-anak belajar regulasi emosi terutama melalui contoh nyata: bagaimana orang tua bereaksi ketika lelah, bagaimana guru merespons kesalahan, dan bagaimana orang dewasa menghadapi konflik sehari-hari.
Ayah Bunda, guru di sekolah, serta orang dewasa lain yang terlibat dalam pengasuhan kakak shalih-shalihah sesungguhnya sedang “mengajar” setiap hari—bahkan tanpa kata-kata. Karena itulah, upaya membangun regulasi emosi anak perlu dilakukan secara kolaboratif antara rumah dan sekolah.
Dalam konteks inilah Bu Muha kembali mengingatkan pentingnya playdate kelas. Bukan sekadar ajang bermain, playdate menjadi ruang bertemunya nilai, pola asuh, dan komunikasi antarorang tua agar pendampingan anak lebih selaras.
Membaca Karakteristik Perkembangan Anak Kelas 2
Paparan kemudian dilanjutkan oleh Bu Ni’mah, yang mengajak Ayah Bunda melihat lebih dekat karakteristik perkembangan kakak shalih-shalihah kelas 2 TP. 2025–2026. Pada fase ini, anak-anak berada dalam masa transisi penting menuju fase perkembangan berikutnya, sehingga banyak dinamika yang muncul secara bersamaan.
Secara umum, ditemukan bahwa sebagian besar anak shalihah kelas 2 masih mengalami tantangan dalam menampilkan ekspresi yang sesuai, terutama pada kegiatan terstruktur seperti membaca nyaring, menyampaikan ide, atau tampil di depan kelas. Menariknya, beberapa anak sebenarnya memiliki gagasan, namun lebih nyaman menyampaikannya kepada teman dibandingkan kepada guru.
Di sisi lain, kegesitan dan kemandirian anak juga masih menjadi pekerjaan rumah. Hal ini tampak dalam aktivitas sederhana seperti menyelesaikan makan siang atau menuntaskan tugas harian. Dari sisi sosial-emosi, fluktuasi emosi masih sering muncul dan membutuhkan pendampingan yang konsisten.
Sementara itu, karakteristik kakak shalih kelas 2 justru menunjukkan energi sosial yang sangat besar. Mereka dikenal solid, aktif berbicara, dan senang berinteraksi—bahkan pada situasi yang seharusnya tenang. Dari sudut pandang positif, ini menunjukkan kebutuhan sosial yang kuat. Namun, tanpa pendampingan yang tepat, anak masih kesulitan memahami batasan konteks: kapan waktunya berbicara dan kapan waktunya fokus.
Bu Ni’mah menegaskan bahwa energi besar bukanlah masalah, selama diarahkan dengan tepat. Tantangan muncul ketika anak belum memahami aturan, konteks ruang, dan kontrol diri yang sesuai dengan situasi.
Menggali Akar, Bukan Sekadar Mengatasi Permukaan
Salah satu refleksi penting dalam parenting ini adalah pemahaman bahwa perilaku anak jarang muncul secara tiba-tiba. Banyak pola yang sesungguhnya berulang sejak usia dini, hanya saja tampilannya berubah seiring bertambahnya usia.
Bu Ni’mah menjelaskan bahwa pola perilaku tertentu bisa muncul di usia 3 tahun, muncul kembali di usia 6 tahun, lalu kembali terlihat di usia 12 atau 13 tahun. Karena itu, dalam menangani konflik atau perilaku berulang, guru tidak hanya fokus pada kejadian saat ini, tetapi juga berupaya menarik akar permasalahan.
Pendekatan ini membantu sekolah dan orang tua untuk tidak terjebak pada reaksi sesaat, melainkan membangun strategi pendampingan jangka panjang—terutama sebelum anak memasuki masa pra pubertas dan pubertas.
Perspektif Psikolog: Regulasi Emosi sebagai Pondasi Kehidupan
Materi inti kemudian disampaikan oleh Bunda Vivi Psikolog, yang menegaskan bahwa isu regulasi emosi dan keterampilan sosial bukanlah hal baru. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kasus yang ditangani semakin kompleks dan sering kali baru ditangani ketika anak sudah remaja atau dewasa.
Karena itulah, pendampingan sejak usia SD menjadi sangat penting. Bunda Vivi mengingatkan bahwa masa pra pubertas sering kali terlewatkan, padahal pada fase inilah gejolak emosi mulai muncul. Anak perempuan, misalnya, umumnya memasuki pra pubertas lebih cepat dibandingkan anak laki-laki. Artinya, anak usia kelas 2–3 sebenarnya sudah perlu dipersiapkan secara emosional.
Salah satu perhatian khusus adalah kondisi emosi yang datar sejak dini. Anak belajar ekspresi pertama kali dari orang tuanya—dari cara orang tua bermain, berbicara, dan menunjukkan emosi. Jika orang tua minim ekspresi, anak pun berisiko meniru pola yang sama.
Mengenali, Mengelola, dan Mengekspresikan Emosi secara Sehat
Dalam regulasi emosi, Bunda Vivi Psikolog menekankan bahwa prosesnya tidak berhenti pada mengenali dan mengelola emosi saja. Anak juga perlu belajar mengekspresikan emosi dengan cara yang tepat dan bermanfaat.
Sedih boleh, marah boleh, bahkan melawan boleh—selama dilakukan sesuai konteks dan tidak berlebihan. Anak juga perlu dilatih menyampaikan cerita berdasarkan fakta, bukan sekadar label emosi. Kemampuan ini sangat berpengaruh terhadap cara anak menyelesaikan konflik dan berinteraksi secara sosial.
Terkait gadget, Ayah Bunda diingatkan untuk menerapkan prinsip 4D:
- dibutuhkan,
- dipinjami,
- didampingi,
- dan dibatasi.
Paparan berlebihan terhadap gadget terbukti berdampak pada emosi, kualitas tidur, dan daya juang anak.
Sentuhan, Kegiatan, dan Kelekatan Emosi
Sebagai penutup, Bunda Vivi mengingatkan dua hal sederhana namun fundamental: sentuhan dan kegiatan. Pelukan, pijatan, kehadiran fisik, serta keterlibatan orang tua dalam aktivitas anak menjadi fondasi penting dalam membangun kelekatan emosi.
Anak yang merasa didengar, ditemani, dan dipahami akan lebih mudah belajar mengelola emosinya. Dari kelekatan inilah tumbuh kepercayaan, resiliensi, dan kemampuan sosial yang sehat.
Bunda Vivi Psikolog menyampaikan bahwa 3 K-si masih menjadi tiga kunci utama dalam membangun hubungan dengan anak; kelekatan emosi, komunikasi efektif dan konsistensi.
Menjaga Fitrah, Menguatkan Ikhtiar Bersama
Parenting Kelas 2 SD Islam Bintang Juara menjadi ruang refleksi bahwa mendampingi anak bukan soal siapa yang paling benar, tetapi siapa yang bersedia terus belajar dan berproses. Anak-anak kelas 2 masih berada dalam fase fitrah yang kuat. Tugas kita bersama adalah menjaga fitrah itu tetap tumbuh sesuai tahapannya.
Dengan menguatkan kelekatan emosi, komunikasi empati, dan konsistensi, insyaAllah kakak shalih-shalihah tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, beradab, dan siap menghadapi fase berikutnya—dengan hati yang sehat dan emosi yang terkelola.
Dengan menguatkan kelekatan emosi, komunikasi empatik, dan konsistensi antara rumah dan sekolah, insyaAllah kakak shalih-shalihah siap melangkah ke fase berikutnya dengan hati yang lebih matang dan emosi yang lebih terkelola.
Karena pada akhirnya, mendidik regulasi emosi anak adalah perjalanan bersama—antara anak, orang tua, dan guru—yang saling menguatkan dalam ikhtiar dan doa.*** (CM-MRT)