by admin admin | Sep 24, 2026 | Artikel, Edukasi, Kegiatan Guru, Profil Guru
Pendidikan anak tidak hanya berlangsung di dalam ruang kelas. Ada pengalaman, interaksi, kegiatan bersama, dan berbagai proses keseharian yang ikut membentuk karakter serta kemampuan anak dalam menjalani kehidupan.
Melalui Guru Bercerita, Bu Siti Maqfiroh, S.Si., Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan sekaligus Penanggung Jawab SPMB SD Islam Bintang Juara, berbagi cerita tentang perjalanan mendampingi siswa, membangun jiwa kepemimpinan, hingga pentingnya sinergi sekolah dan orang tua dalam pendidikan.
Mengenal Bu Siti Lebih Dekat
Setiap perjalanan memiliki titik awal. Sebelum berbicara tentang kesiswaan, kepemimpinan, dan pendidikan anak, mari MinBin ajak Ayah Bunda dan kakak shalih-shalihah mengenal lebih dekat perjalanan Bu Siti bersama Bintang Juara serta hal yang membuatnya memilih untuk terus mendampingi anak-anak.
1. Bisa diceritakan perjalanan Ibu hingga mendapat amanah sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan dan PJ SPMB?
Pertemuan saya dengan Bintang Juara terjadi pada tahun 2017. Saat itu saya masih mahasiswa. Saya mendapat tawaran untuk mengisi kegiatan ekstrakurikuler di SD Islam Bintang Juara. Kemudian pada perjumpaan pertama, saya diajak untuk brainstorming dengan Bunda Vivi Psikolog, saya pun mendapat amanah menjadi guru ekstrakurikuler. Namun saat itu sifatnya masih mitra, karena saya berada di lembaga yang berbeda.
Pertama kali mengisi kegiatan ekskul, saya jatuh cinta pada pandangan pertama dengan sekolah ini. Yang saya kagumi sejak hari pertama adalah nilai-nilai yang ditanamkan ke anak-anak, walaupun saat itu SD Islam Bintang Juara belum ada bangunannya. Kemudian, setelah lulus kuliah tahun 2018 akhir, saya resmi bergabung di SD Islam Bintang Juara. Awalnya saya ditawarkan untuk membantu di pengembangan PKBM Bintang Juara.
Sebagai latihan, saya diberi amanah menjadi guru pendamping siswa berkebutuhan khusus. Kemudian, setelah itu saya mendapat amanah sebagai guru Bahasa Jawa. Selama menjadi guru pendmaping dan guru Bahasa Jawa, saya juga masih aktif untuk mengelola ekskul dan menjadi koordinator beberapa kegiatan.
Event pertama yang saya ketuai adalah kegiatan MPLS tahun 2021-2022 pada masa pandemi. Alhamdulillah di tahun 2023 SDIBJ mendapat Guru Bahasa Jawa, dan saya mendapat amanah sebagai Koordinator Bidang Kesiswaan, Humas dan SPMB hingga tahun 2026 (saat ini).
2. Apa yang membuat Bu Siti tertarik mendampingi siswa di luar ruang kelas?
Hal yang membuat saya semangat dan tertarik mendampingi siswa berkegiatan di luar kelas adalah karena begitu banyaknya ilmu yang Allah SWT hamparkan melalui beragam pengalaman di luar kelas. Saya semangat ketika mendampingi anak-anak mendapat pengalaman di lapangan, melalui praktik langsung dalam kehidupan.
Menurut saya, pembelajaran di dalam kelas bagi anak-anak itu ibarat belajar di laboratorium, di mana banyak hal yang dapat dikondisikan. Namun, ketika anak-anak berkegiatan di luar kelas melalui beragam pengalaman, seperti kunjungan ke suatu tempat, pertandingan, mengikuti pelatihan, magang, dll, disitulah karakter anak diuji dan disitulah momen mendebarkan bagi seorang guru untuk melihat perkembangan karakter anak didiknya.
3. Apa sebenarnya peran bidang kesiswaan dalam perjalanan pendidikan seorang anak?
Peran utama waka Kesiswaan adalah membantu Kepala Sekolah dalam proses merencanakan, mengkoordinasikan, membina dan melakukan evaluasi seluruh kegiatan yang berkaitan dengan peserta didik supaya berkembang secara optimal. Sehingga seluruh proses sejak awal (SPMB) hingga anak-anak lulus, tidak terlepas dari peran bidang kesiswaan.
Lebih dari Sekadar Akademik
Bagi Bu Siti, pendidikan anak tidak berhenti pada apa yang terjadi di dalam kelas. Ada iman, karakter, pengalaman, potensi, hingga berbagai keterampilan yang perlu tumbuh bersama agar anak berkembang secara utuh.
4. Menurut Ibu, apa yang perlu dibangun dari seorang anak selain kemampuan akademik?
Selain aspek akademik, tentu ada banyak sekali aspek yang perlu dibangun dari seorang anak. Hal pertama dan utama yang perlu dibangun adalah membangun kedekatan anak dengan Allah SWT (memupuk keimanan anak sejak dini).
Keimanan ini yang akan menjadi pondasi bagi orang tua dan anak untuk membangun karakter diri, kemampuan sosial dan kepemimpinan (leadership), ketahanan mental dan emosional (resilience), kemandirian dan ketrampilan hidup (life skill), serta menjadi filter diri dalam mengembangkan kreativitas dan potensi (non akademik).
5. Bagaimana sekolah membantu anak menemukan potensi, minat, dan kepercayaan dirinya?
Sebagai sebuah lembaga yang menaungi anak dengan beragam karakter dan potensi, sekolah merancang beragam program untuk melihat perkembangan potensi siswa. Baik melalui kegiatan intrakurikuler, kokurikuler atau ekstrakurikuler. Selain memberikan layanan program, tentu sekolah juga berupaya untuk membangun komunikasi dengan orang tua untuk bersama mengawal perkembangan anak dalam menemukan potensi, minat dan rasa percaya diri.
Tanpa sinergi aktif dari pihak sekolah dan orang tua, maka layanan program yang telah dirancang oleh sekolah tidak dapat tercapai secara optimal. Sebagus apapun program yang dirancang, tidak dapat terlepas dari peran orang tua untuk berpartisipasi aktif.
6. Mengapa kegiatan di luar pembelajaran seperti ekstrakurikuler, outing, dan berbagai pengalaman bersama penting bagi anak?
Kegiatan di luar kelas, sesungguhnya bukanlah kegiatan yang terpisah dengan kegiatan pembelajaran di dalam kelas. Kegiatan ini menjadi satu kesatuan dengan pembelajaran di dalam kelas dan dari pengalaman yang diperoleh anak di luar kelas akan menunjang bagaimana perkembangan anak di dalam kelas, pun sebaliknya. Setiap proses pembelajaran (baik di dalam kelas maupun di luar kelas) adalah satu kesatuan komponen yang mendukung siswa berkembang secara optimal baik dari aspek soft skill maupun hard skill.
Menumbuhkan Anak sebagai Bagian dari Komunitas
Tumbuh bersama orang lain juga merupakan bagian penting dari perjalanan anak. Di sekolah, anak tidak hanya belajar tentang dirinya sendiri, tetapi juga belajar diterima, berinteraksi, bekerja sama, dan menghadapi berbagai dinamika bersama teman.
7. Bagaimana sekolah menciptakan lingkungan yang membuat anak merasa diterima dan menjadi bagian dari komunitas?
Kunci utama dalam mewujudkan hal tersebut adalah memberikan program sesuai tahap perkembangan anak. Sehingga anak dapat berpartisipasi secara optimal. Dalam satu program besar, sekolah akan mem-breakdown program menjadi spesifik.
Misalnya, dalam kegiatan QLC (Quranic Leadership Camp), kegiatan dirancang menjadi berbeda untuk siswa kelas 3 dan siswa kelas 4-6. Kemudian dalam kegiatan Leadership Journey, dirancang sesuai kebutuhan siswa kelas 1-6.
Kegiatan bukan hanya diklasifikasikan berdasarkan perbedaan tingkatan kelas, namun secara lebih spesifik juga adalam topik-topik kegiatan disusun berdasarkan kebutuhan siswa.
8. Ketika anak menghadapi konflik dengan teman, bagaimana sekolah membantu mereka belajar menyelesaikannya?
Prinsip yang dibangun di SD Islam Bintang Juara ketika ada anak berkonflik adalah menuntaskan sebelum mereka keluar dari pintu sekolah untuk pulang. Guru akan menjadi mediator untuk siswa yang berkonflik. Budaya yang dibangun di sekolah adalah melatih seluruh warga sekolah untuk dapat memberikan informasi secara faktual. Berbekal informasi faktual yang disampaikan inilah menjadi sarana guru untuk melihat permasalahan secara objektif dan menuntaskan persoalan.
Membangun Jiwa Pemimpin Sejak Dini
Menjadi pemimpin bukan sekadar berani berdiri di depan banyak orang. Di SD Islam Bintang Juara, jiwa kepemimpinan dibangun melalui berbagai kebiasaan sederhana yang dekat dengan keseharian anak, sekaligus berlandaskan nilai-nilai Islam.
9. Bagaimana sekolah menumbuhkan jiwa kepemimpinan anak sejak usia sekolah dasar?
Sebagai sekolah yang memiliki visi untuk membangun Calon Pemimpin Muslim, SDIBJ merancang program kepemimpinan sejak anak datang hingga pulang. Ketika kita membahas tentang Jiwa Kepemimpinan, maka ini menjadi topik yang luas. InsyaaAllah seluruh program-program di SDIBJ sejak anak datang ke sekolah hingga dijemput pulang dirancang untuk menumbuhkan jiwa kepemimpinan anak.
Melatih anak menjadi seorang pemimpin, bukan hanya melatih anak untuk berani tampil di depan. Namun, bagaimana anak mampu berkembang karakter positifnya, mampu melayani dirinya sendiri (mandiri), membiasakan anak bertanggung jawab mencari solusi ketika melakukan kesalahan, bertanggung jawab dengan amanah yang diberikan, jujur (menyampaikan informasi secara faktual), dan mampu berkolaborasi dengan banyak guru dan teman adalah bekal untuk tumbuh menjadi seorang Pemimpin.
10. Apa makna “Sekolah Calon Pemimpin Muslim” dalam praktik kesiswaan sehari-hari?
Dalam praktik di Bidang Kesiswaan, Visi “Sekolah Calon Pemimpin Muslim” menjadi sebuah jangkar dalam Bidang Kesiswaan menyusun program. Setiap Program yang dirancang dipastikan memiliki ‘ruh’ untuk mengembangkan karakter Islamic Leadership peserta didik. Baik kegiatan kokurikuler atau ekstrakurikuler.
11. Bagaimana nilai-nilai Islam diterapkan dalam pembinaan siswa, bukan hanya diajarkan?
Nilai-nilai Islam di SD Islam Bintang Juara dialirkan kepada peserta didik dalam kehidupan sehari-hari di sekolah melalui kalimat pijakan. Selain melalui pijakan yang dilakukan secara intensif, juga melalui momen-momen yang telah dikondisikan, misalnya melalui insternalisasi nilai-nilai Islam melalui kegiatan pembelajaran di dalam kelas, memanfaatkan waktu-waktu transisi untuk membacakan buku dengan muatan nilai Islam, murajaah dan dengan menyediakan koleksi buku-buku bacaan berkualitas yang selaras dengan nilai-nilai ketauhidan.

Memilih Sekolah yang Sejalan dengan Visi Keluarga
Memilih sekolah merupakan salah satu keputusan penting dalam perjalanan pendidikan anak. Karena itu, sebelum melihat fasilitas maupun berbagai program, ada hal yang lebih mendasar yang perlu dipertimbangkan: apakah visi pendidikan sekolah sejalan dengan visi yang dibangun keluarga?
12. Sebagai penanggungjawab SPMB, apa yang sebenarnya ingin Ibu pahami dari sebuah keluarga sebelum mereka memilih sekolah?
Sebagai PJ SPMB hal yang penting untuk diketahui dari Ayah Bunda yang sedang mencari sekolah adalah visi pendidikan yang dibangun dalam keluarga tersebut. Karena sebagai lembaga pendidikan, sekolah berperan sebagai mitra dari Ayah Bunda yang memiliki visi yang selaras dengan sekolah. Tanpa adanya visi selaras yang diperjuangkan, maka layanan yang kami berikan tidak akan mencapai hasil optimal.
13. Menurut Ibu, apa yang sebaiknya dipertimbangkan Ayah Bunda ketika memilih sekolah dasar untuk anak?
Sekolah dasar adalah jenjang sekolah yang paling panjang perjalanannya. Selama proses menempuh pendidikan di jenjang SD, peserta didik mengalami dua masa transisi yang utama yaitu fase transisi dari anak pra sekolah menjadi siswa SD dan yang kedua adalah masa transisi dari masa pra baligh menjadi baligh.
Maka, dari dua perkembangan fitrah yang krusial ini, Ayah Bunda memilih sekolah dasar yang dapat menjadi partner terbaik untuk mengawalnya. Baik dari segi pendampingan guru, program dan layanan komunikasi yang informatif dan faktual. Karena dengan bekal 3 aspek tersebut, orang tua dapat mengawal perkembangan anak dengan tenang, insyaaAllah.
14. Selain fasilitas dan prestasi, hal apa yang menurut Ibu penting dilihat orang tua dari sebuah sekolah?
Seperti yang telah saya sampaikan pada pertanyaan sebelumnya, tiga aspek penting yang perlu Ayah Bunda lihat ketika memilih sekolah:
- Bagaimana pendampingan guru
- Program-program pendidikan dari anak datang hingga pulang
- Layanan komunikasi yang informatif dan faktual
Ayah Bunda juga bisa menggunakan prinsip 5P dalam menentukan sekolah.
Ketika Sekolah dan Orang Tua Menjadi Partner
Pendidikan anak membutuhkan perjalanan yang tidak hanya ditempuh oleh sekolah. Ketika sekolah dan orang tua hadir sebagai partner, berbagai proses pendampingan dapat dilakukan dengan komunikasi, keterlibatan, dan tujuan yang sama.
15. Bagaimana sekolah memastikan anak dan keluarga yang bergabung tidak hanya menjadi “siswa baru”, tetapi menjadi bagian dari keluarga Bintang Juara?
Bagi tim Bintang Juara, orang tua adalah partner dalam pendidikan anak. Poin pertama yang harus disadari bersama bahwasanya program pendidikan ini bukanlah program transaksional, di mana ketika orang tua sudah mengeluarkan biaya kemudian dapat terlepas dari proses-proses pendampingan.
Sekolah menempatkan orang tua sebagai partner dalam memperjuangkan layanan pendidikan terbaik untuk anak. Maka sekolah menyusun program-program juga untuk mendampingi orang tua tumbuh menjadi orang tua pembelajaran sepanjang hayat, antara lain:
- mulai dari membangun komitmen orang tua di awal penerimaan,
- melakukan pendampingan hasil asesmen perkembangan anak melalui kegiatan silaturahim dan penyerahan hasil asesmen orang tua siswa baru,
- mengundang orang tua dalam kegiatan silaturahim dan pemaparan program untuk melibatkan orang tua dalam proses pendidikan selama satu tahun pelajaran yang akan dilaksanakan,
- memberikan layanan komunikasi melalui buku komunikasi,
- menyediakan program-program parenting sesuai kebutuhan orang tua.
Melalui forum-forum ini, sekolah terbuka untuk membangun diskusi komunikasi yang sehat dengan orang tua. Sehingga harapannya orang tua merasa terlibat dan sekolah merasakan kehadiran orang tua dalam proses pendidikan anak.
16. Apa tantangan terbesar dalam mendampingi karakter anak di tengah perubahan zaman dan pengaruh lingkungan?
Tantangan terbesar dalam mendampingi karakter anak di tengah perubahan zaman dan pengaruh lingkungan adalah apabila prinsip-prinsip yang dibangun di rumah belum selaras dengan prinsip-prinsip di sekolah. Kemudian aspek kedua adalah, orang tua yang belum hadir secara utuh dalam mendampingi pendidikan anak.
17. Bagaimana sekolah bekerja sama dengan orang tua ketika anak membutuhkan pendampingan khusus dalam hal perilaku atau perkembangan sosialnya?
Ketika anak membutuhkan pendampingan khusus dalam hal perilaku atau perkembangan sosial, wali kelas akan melaporkan kepada orang tua melaui daring atau luring (sesuai kebutuhan). Wali kelas akan melakukan pengamatan selama rentang waktu tertentu, apabila tidak ada perubahan, maka pendampingan akan dilakukan oleh Kepala Sekolah. Apabila telah dilakukan pendampingan oleh Kepala Sekolah dan tidak ada progres perubahan maka akan dilakukan pendampingan orang tua oleh Psikolog Sekolah.
Dari Pengalaman Hari Ini, Menuju Pemimpin Masa Depan
Setiap pengalaman dalam mendampingi anak meninggalkan cerita dan pelajaran tersendiri. Dari berbagai pengalaman tersebut, Bu Siti melihat sebuah harapan besar: bagaimana anak-anak Bintang Juara tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, berakhlakul karimah, dan mampu memberikan manfaat di masa depan.
18. Apa momen sebagai bidang kesiswaan yang paling berkesan bagi Ibu?
Alhamdulillah setiap kesempatan memberikan pengalaman bermakna yang memiliki kesan tersendiri. Setiap fase memiliki hikmah:
- Momen SPMB menjadi momentum bertemu dengan banyak Ayah Bunda yang memiliki cerita beragam, sehingga secara tidak langsung memperkaya pengalaman hidup dari cerita-cerita yang diperoleh.
- Momen berkolaborasi dengan Kepala Sekolah dalam merancang program untuk anak dan orang tua juga menjadi momentum untuk belajar banyak hal (membaca perkembangan anak untuk menentukan program yang tepat sesuai kebutuhan, menggerakkan tim untuk ekseskusi dan melakukan evaluasi untuk terus meningkatkan layanan, dan bagaimana mengambil keputusan dengan beragam pertimbangan).
- Momen berkomunikasi dengan orang tua menjadi momentum untuk memahami cara pandang orang tua dan bagaimana menyusun program dan memberikan layanan yang dapat membantu orang tua.
19. Jika membayangkan anak-anak Bintang Juara beberapa tahun ke depan, karakter seperti apa yang ingin Ibu lihat?
Saya turut mendoakan beberapa tahun ke depan visi “Sekolah Calon Pemimpin Muslim” telah tumbuh dan berkembang menjadi profil-profil anak-anak yang menjadi pemimpin masa depan.
Anak-anak yang tumbuh percaya diri dengan segala potensi terbaiknya. Anak-anak yang dapat menginspirasi bukan hanya karena prestasi, tetapi juga karena akhlakul karimah dalam dirinya yang bersinar terang dan memberikan cahaya kebaikan untuk orang-orang yang ada dalam lingkungannya.
Saya berdoa dimanapun anak-anak berkarya ke depan, mereka mampu menjadi pribadi yang berani dengan lantang menegakkan apa yang haq dan yang batil.
20. Apa pesan Ibu untuk Ayah Bunda yang sedang mempertimbangkan sekolah terbaik sebagai tempat bertumbuh putra-putrinya?
Ayah Bunda, pendidikan jenjang SD merupakan pondasi pendidikan yang panjang waktu dan perjuangannya. Sebelum memutuskan untuk memilih sekolah, mantapkan visi keluarga, kenali lebih dalam karakter anak, dan pilih sekolah yang Ayah Bunda yakin dapat menjadi teman berjuang memberikan pondasi pendidikan terbaik. Senantiasa memohon kepada Allah untuk dipertemukan dengan sekolah terbaik untuk memberikan bekal dunia akhirat.
21. Jika harus merangkum peran Bu Siti sebagai Wakasek Kesiswaan dan PJ SPMB dalam satu kalimat, apa yang ingin disampaikan?
Terus bergerak memberikan pendidikan terbaik, untuk menyiapkan generasi Calon Pemimpin Muslim penggerak peradaban terbaik, insyaaAllah.
Pada akhirnya, mendampingi anak adalah proses yang membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Sekolah dan keluarga perlu berjalan sebagai partner agar anak tidak hanya tumbuh dengan kemampuan akademik, tetapi juga memiliki keimanan, karakter, kemandirian, dan keberanian untuk memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Seperti pesan Bu Siti, terus bergerak memberikan pendidikan terbaik untuk menyiapkan generasi calon pemimpin Muslim penggerak peradaban terbaik, insyaaAllah.
Sampai jumpa pada episode Guru Bercerita berikutnya, Ayah Bunda dan kakak shalih-shalihah!*** (CM-MRT)
by admin admin | Sep 17, 2026 | Berita, Edukasi
Ada banyak cara untuk mengenalkan anak pada dunia yang lebih luas. Salah satunya adalah dengan menumbuhkan minat baca sejak dini. Minat baca ini bisa dikenalkan tentu saja melalui buku.
Lewat sebuah buku, anak bisa berkenalan dengan tempat yang belum pernah dikunjungi, mengenal tokoh yang belum pernah ditemui, memahami kehidupan orang lain, menemukan jawaban atas rasa ingin tahunya, bahkan membayangkan masa depan yang sebelumnya belum pernah terpikirkan.
Namun, membuat anak mencintai buku tentu tidak cukup hanya dengan berkata, “Ayo membaca!” Kecintaan terhadap membaca perlu ditumbuhkan melalui pengalaman yang menyenangkan, lingkungan yang mendukung, serta keteladanan dari orang-orang dewasa di sekitarnya.
Hal inilah yang turut hadir dalam kunjungan Perpustakaan Keliling ke SD Islam Bintang Juara pada Rabu, 16 September 2026.
Kegiatan ini merupakan salah satu program dari Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Semarang yang beririsan dengan upaya SD Islam Bintang Juara dalam meningkatkan budaya literasi di lingkungan sekolah.
Kehadiran perpustakaan keliling bukan sekadar menghadirkan koleksi buku ke halaman sekolah. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi kesempatan bagi anak-anak untuk mengalami secara langsung bahwa membaca dapat menjadi aktivitas yang menyenangkan, dekat, dan penuh penemuan.
Ketika Buku Datang Menjemput Anak
Bagi sebagian anak, menemukan buku yang tepat bisa menjadi awal dari sebuah kebiasaan baru. Ada anak yang menyukai cerita petualangan. Ada yang tertarik dengan hewan, sains, sejarah, tokoh, komik edukatif, atau cerita bergambar. Ada pula yang awalnya hanya tertarik karena melihat sampul buku yang menarik, kemudian mulai membuka halaman demi halaman.
Karena itu, menghadirkan perpustakaan keliling ke sekolah menjadi salah satu cara untuk memberikan pengalaman literasi yang lebih nyata. Anak tidak hanya mendengar bahwa buku itu penting. Mereka dapat melihat, memilih, membuka, membaca, dan menemukan sendiri hal-hal yang menarik perhatian mereka.
Pengalaman seperti ini penting karena membangun budaya membaca bukan semata-mata tentang membuat anak mampu membaca, tetapi juga membantu anak mau membaca.
Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Semarang dalam berbagai kajian literasinya juga menempatkan sekolah sebagai salah satu lingkungan penting dalam membangun kegemaran membaca. Lingkungan sekolah yang menyenangkan dan ramah anak dapat menjadi ruang bagi anak untuk memperluas wawasan melalui aktivitas literasi.
Maka, perpustakaan keliling dapat menjadi salah satu jembatan yang mempertemukan anak dengan pengalaman membaca yang lebih beragam.
Walaupun di sekolah sudah tersedia perpustakaan dengan beragam koleksi buku, kunjungan Perpustakaan Keliling selalu disambut penuh semangat oleh kakak shalih-shalihah. Mengambil buku yang tersusun rapi di rak dalam mobil perpustakaan, menyapa petugas perpustakaan, hingga mengembalikan buku pada petugas ternyata juga menambah pengalaman bermakna bagi para siswa.
Mengapa Menumbuhkan Minat Baca Penting bagi Anak?
Membaca sering kali dipahami sebatas kemampuan untuk mengenali huruf, mengeja kata, lalu memahami kalimat. Padahal, manfaat membaca jauh lebih luas.
1. Membantu Memperkaya Kosakata
Semakin banyak anak berinteraksi dengan buku, semakin banyak pula kata dan ungkapan yang mereka temui. Mereka berjumpa dengan kata-kata yang mungkin tidak selalu muncul dalam percakapan sehari-hari. Dari sinilah kemampuan bahasa anak dapat berkembang secara bertahap.
Penelitian Demir-Lira dan rekan-rekannya dalam Developmental Science yang dipublikasikan PubMed menemukan bahwa interaksi membaca buku antara orang tua dan anak pada usia dini berkaitan dengan kemampuan kosakata reseptif anak ketika memasuki sekolah dasar.
Artinya, pengalaman membaca bersama sejak kecil dapat memberikan bekal bahasa yang terus terbawa dalam perjalanan pendidikan anak.
2. Menguatkan Kemampuan Memahami Bacaan
Membaca bukan hanya tentang seberapa cepat anak menyelesaikan sebuah halaman. Yang lebih penting adalah apakah anak memahami apa yang dibacanya.
Ketika membaca cerita, anak belajar mengenali tokoh, memahami alur, menemukan informasi, menghubungkan sebab dan akibat, serta menarik kesimpulan dari apa yang dibacanya.
Penelitian Çalışkan dan Ulaş yang dipublikasikan IEJEE terhadap siswa kelas 4 sekolah dasar menunjukkan bahwa kegiatan membaca yang melibatkan orang tua memberikan pengaruh positif terhadap pemahaman membaca, motivasi membaca, dan sikap anak terhadap membaca.
3. Menumbuhkan Motivasi untuk Membaca Mandiri
Ada perbedaan besar antara anak yang membaca karena diperintah dan anak yang membaca karena ingin tahu. Tujuan membangun budaya literasi tentu bukan sekadar membuat anak menyelesaikan target jumlah buku. Yang ingin dibangun adalah munculnya motivasi dari dalam diri anak.
Penelitian Cubillos (2023) yang dipublikasikan pada International Literacy Association (ILA) terhadap hampir 330.000 remaja di Chile menemukan adanya hubungan positif antara motivasi membaca orang tua dan frekuensi membaca untuk kesenangan dengan motivasi membaca anak. Hubungan tersebut tetap terlihat setelah mempertimbangkan prestasi membaca anak sebelumnya dan pengaruh teman sebaya.
Dengan kata lain, kebiasaan membaca di lingkungan keluarga dapat ikut membentuk cara anak memandang aktivitas membaca.
4. Membuka Wawasan Anak
Buku memungkinkan anak bertemu dengan dunia yang lebih luas daripada pengalaman sehari-harinya. Anak dapat mengenal kehidupan di tempat lain, memahami profesi, mempelajari sejarah, mengenal berbagai budaya, memahami alam, hingga menemukan berbagai gagasan dan sudut pandang.
Inilah salah satu alasan mengapa budaya membaca penting dalam pendidikan. Anak yang membaca tidak hanya mengumpulkan informasi. Ia sedang belajar memahami dunia.

Anak Belajar Cinta Membaca dari Apa yang Dilihatnya
Ada satu hal yang sering terlupakan ketika orang dewasa berbicara tentang kebiasaan membaca anak: keteladanan. Kita dapat berkali-kali mengatakan kepada anak bahwa membaca itu penting. Namun, pesan tersebut akan jauh lebih kuat ketika anak melihat orang dewasa di sekitarnya benar-benar menikmati kegiatan membaca.
Ayah membaca buku. Ibu membaca artikel atau novel. Guru membaca sebelum pembelajaran dimulai. Orang dewasa berdiskusi tentang sesuatu yang baru saja mereka baca. Dari pengalaman sederhana tersebut, anak mendapatkan pesan bahwa membaca bukan sekadar tugas sekolah. Membaca adalah bagian dari kehidupan.
Penelitian Mullan (2010) dalam Journal of Research in Reading yang dipublikasikan Wiley Online Library menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara kebiasaan membaca orang tua dan kebiasaan membaca anak. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa orang tua dapat berperan sebagai role model dalam mempromosikan perilaku membaca.
Maka, membangun anak menjadi pembaca tidak selalu harus dimulai dari anak. Bisa jadi, langkah pertamanya justru dimulai dari orang dewasa. Lalu apa yang bisa kita lakukan?
Tidak dengan menyuruh anak, tetapi dengan menciptakan lingkungan yang gemar membaca
Kadang-kadang orang tua terlalu fokus pada pertanyaan: “Bagaimana supaya anak mau membaca?” Padahal, pertanyaan yang tidak kalah penting adalah: “Seperti apa lingkungan yang membuat anak merasa bahwa membaca itu menyenangkan?”
Membangun lingkungan membaca dapat dimulai dari hal-hal sederhana, antara lain:
1. Biarkan Anak Melihat Orang Dewasa Membaca
Tidak perlu selalu berupa buku pelajaran. Ayah Bunda dan guru di sekolah bisa membaca buku, majalah, artikel, atau bacaan lain yang memang dinikmati.
Apabila setiap hari anak senantiasa terpapar aktivitas tersebut, anak bisa melihat bahwa membaca bukan aktivitas yang hanya dilakukan ketika mendapat tugas.
2. Sediakan Bacaan yang Sesuai dengan Minat Anak
Jangan memaksa semua anak menyukai jenis buku yang sama. Ada anak yang menyukai cerita. Ada yang tertarik dengan dinosaurus. Ada yang senang melihat ensiklopedia bergambar. Ada yang tertarik dengan eksperimen, tokoh, kendaraan, atau alam.
Minat dapat menjadi pintu masuk menuju kebiasaan membaca.
3. Membaca Buku bersama Anak
Membacakan buku tidak hanya berlaku untuk anak usia PAUD. Anak SD pun masih dapat menikmati aktivitas membaca bersama orang tua, terutama ketika bacaan tersebut menarik dan kemudian dilanjutkan dengan diskusi yang hangat.
Penelitian Demir-Lira dan rekan-rekannya menemukan bahwa kuantitas interaksi membaca buku antara orang tua dan anak pada usia dini berkaitan dengan kemampuan kosakata, pemahaman membaca, dan motivasi intrinsik membaca pada anak di kemudian hari.
Jadi, membaca bersama bukan sekadar membacakan kata demi kata. Namun di dalamnya, Ayah Bunda di rumah dan guru di sekolah bisa membangun percakapan dengan anak. Ada pertanyaan. Ada tawa. Ada rasa ingin tahu yang lahir dalam situasi tersebut.
Dan semua pengalaman itu bisa menjadi bagian dari memori baik anak tentang kegiatan membaca.
4. Jangan Menjadikan Membaca sebagai Hukuman
“Kalau tidak mau membereskan mainan, silakan baca buku di pojok ruangan!”
Kalimat seperti ini tanpa disadari dapat membuat membaca memiliki asosiasi negatif. Membaca sebaiknya hadir sebagai aktivitas yang bermakna, bukan sebagai hukuman.
5. Berikan Kesempatan Anak Memilih
Ketika memungkinkan, biarkan anak memilih buku yang ingin dibaca. Pilihan sederhana dapat membuat anak merasa memiliki kendali terhadap pengalaman membacanya.
Tujuannya bukan membuat anak menyukai semua buku. Tujuannya adalah membantu anak menemukan buku yang ia sukai.
6. Ajak Anak Bercerita tentang Apa yang Dibacanya
Setelah selesai membaca, tidak selalu perlu memberikan kuis. Cukup tanyakan: “Bagian mana yang paling kamu suka?” atau, “Kalau kamu menjadi tokoh dalam cerita itu, kamu akan melakukan apa?”
Pertanyaan sederhana dapat membuat membaca berubah menjadi percakapan yang menyenangkan.
Dari Perpustakaan Keliling Menuju Budaya Literasi
Kunjungan perpustakaan keliling ke SD Islam Bintang Juara menjadi salah satu pengalaman yang dapat memperkaya perjalanan literasi anak.
Namun, tentu saja, budaya membaca tidak selesai ketika kegiatan perpustakaan keliling berakhir. Justru dari sinilah kebiasaan itu dapat terus dilanjutkan.
Di sekolah, anak dapat terus diberi ruang untuk membaca, berdiskusi, mencari informasi, dan menceritakan kembali apa yang mereka temukan. Di rumah, Ayah dan Bunda dapat melanjutkan dengan menciptakan suasana yang akrab dengan buku. Sebab, sekolah dan keluarga memiliki peran yang saling melengkapi.
Membangun budaya literasi bukan hanya pekerjaan guru. Bukan pula hanya tugas orang tua. Ini adalah perjalanan bersama.
Karena Pemimpin yang Baik Juga Harus Gemar Belajar
Di SD Islam Bintang Juara, literasi tidak hanya dipandang sebagai kemampuan akademik. Membaca adalah salah satu jalan bagi anak untuk terus belajar.
Calon pemimpin muslim tidak cukup hanya memiliki keberanian untuk berbicara. Ia juga perlu memiliki kemauan untuk mendengar, membaca, memahami, berpikir, dan belajar dari berbagai pengalaman.
Buku dapat menjadi salah satu teman dalam perjalanan tersebut. Melalui buku, anak belajar bahwa dunia begitu luas. Ada banyak hal yang belum ia ketahui. Ada banyak pertanyaan yang belum ia temukan jawabannya. Dan ada banyak ilmu yang masih dapat dipelajari.
Karena itu, tujuan akhirnya bukan sekadar: “Anak saya harus rajin membaca.” Tetapi lebih jauh: “Semoga anak saya tumbuh menjadi pribadi yang senang belajar.”
Sebab ketika rasa ingin tahu tetap hidup, proses belajar tidak akan berhenti hanya karena anak meninggalkan bangku sekolah.
Kunjungan perpustakaan keliling pada 16 September 2026 mungkin hanya berlangsung dalam satu hari. Namun, harapannya jauh lebih panjang.
Semoga dari satu buku yang dibuka, lahir satu rasa ingin tahu. Dari satu cerita, lahir satu pertanyaan. Dari satu pertanyaan, lahir keinginan untuk mencari tahu.
Dan dari kebiasaan membaca yang terus tumbuh, lahir calon pemimpin muslim yang berilmu, berakhlakul karimah, tangguh, dan bermanfaat. Karena bisa jadi, sebuah buku yang dibaca hari ini adalah awal dari sebuah mimpi besar di masa depan.
Referensi:
- Mullan, K. (2010). Families that read: A time-diary analysis of young people’s and parents’ reading. Journal of Research in Reading, 33(4), 414–430. Wiley Online Library
- Cubillos, M. (2023). A Chip Off the Old Block: Do Reading-Motivated Parents Raise Reading-Motivated Children? Reading Research Quarterly, 58(4), 668–684. International Literacy Association (ILA)
- Demir-Lira, Ö. E., Applebaum, L. R., Goldin-Meadow, S., & Levine, S. C. (2019). Parents’ early book reading to children: Relation to children’s later language and literacy outcomes controlling for other parent language input. Developmental Science, 22(3), e12764. PubMed
- Çalışkan, E. F., & Ulaş, A. H. (2022). The Effect of Parent-Involved Reading Activities on Primary School Students’ Reading Comprehension Skills, Reading Motivation, and Attitudes Towards Reading. International Electronic Journal of Elementary Education, 14(4), 509–524. IEJEE
- Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Semarang. Kajian Pengukuran Tingkat Kegemaran Membaca di Kota Semarang Tahun 2024.
by admin admin | Sep 14, 2026 | Artikel, Edukasi, Kegiatan Orang Tua, Kegiatan Siswa
Pernahkah kakak-kakak mencoba menceritakan kembali sebuah pengalaman, tetapi tiba-tiba bingung harus memulai dari mana?
- “Waktu itu kejadiannya apa dulu, ya?”
- “Setelah itu apa?”
- “Terus bagaimana akhirnya?”
Menceritakan sebuah pengalaman ternyata membutuhkan lebih dari sekadar mengingat apa yang pernah terjadi. Anak perlu menyusun kembali peristiwa agar orang lain dapat mengikuti ceritanya dengan mudah.
Hal inilah yang dipelajari oleh kakak-kakak kelas 4B SD Islam Bintang Juara dalam kegiatan BBOT (Belajar Bersama Orang Tua) pada Senin, 14 September 2026.
Bersama Bunda Fiqih Nindya, Bunda dari Kak Kayla, kakak-kakak diajak mengenal teks rekon melalui game interaktif dan bermakna.
Belajar teks rekon kali ini pun terasa berbeda. Bukan sekadar membuka buku, membaca pengertian, lalu mengerjakan soal. Kakak-kakak diajak bermain, berpikir, mengingat urutan kejadian, hingga akhirnya menyusun teks rekon mereka sendiri.
Dan perjalanan belajar ini nantinya akan berlanjut menjadi sebuah karya bersama: antologi teks rekon kakak-kakak kelas 4B.
Mengenal Teks Rekon dengan Cara yang Menyenangkan
Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, teks rekon berkaitan dengan bagaimana seseorang menceritakan kembali suatu pengalaman atau peristiwa.
Namun, bagi anak-anak, memahami konsep tersebut akan terasa lebih dekat ketika mereka dapat menghubungkannya dengan pengalaman yang mereka miliki sendiri.
Karena itu, kegiatan BBOT kali ini dikemas melalui game interaktif.
Kakak-kakak tidak hanya menjadi pendengar, tetapi ikut terlibat dalam proses pembelajaran. Mereka diajak berpikir, mengingat, berdiskusi, dan menyusun informasi berdasarkan peristiwa yang ada.
Dari permainan tersebut, konsep yang semula mungkin terdengar seperti istilah dalam pelajaran Bahasa Indonesia menjadi sesuatu yang lebih konkret.
Teks rekon ternyata dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Ketika kakak menceritakan kembali pengalaman liburan, kegiatan di sekolah, pengalaman mengikuti suatu acara, atau kejadian menarik bersama teman, sebenarnya kakak sedang belajar bagaimana mengomunikasikan kembali sebuah pengalaman kepada orang lain.
Dari Game, Anak Belajar Menyusun Urutan Peristiwa
Salah satu tantangan ketika menulis cerita pengalaman adalah menentukan urutan kejadian.
Sebuah pengalaman tentu memiliki rangkaian peristiwa. Ada sesuatu yang terjadi terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan kejadian berikutnya, hingga akhirnya sampai pada bagian penutup.
Jika urutannya tidak jelas, pembaca akan kesulitan memahami cerita. Melalui kegiatan yang interaktif, kakak-kakak kelas 4B mendapatkan kesempatan untuk memahami pentingnya menyusun peristiwa secara runtut.
Mereka belajar bahwa ketika ingin menceritakan kembali sesuatu, tidak cukup hanya dengan mengatakan: “Aku pergi ke sana. Terus aku melakukan ini. Terus ada itu.”
Cerita perlu disusun agar pembaca seolah-olah dapat mengikuti perjalanan yang sedang diceritakan.
Di sinilah kemampuan berpikir runtut mulai dilatih.
- Anak belajar mengingat.
- Anak belajar memilih informasi.
- Anak belajar menyusun.
- Dan anak belajar menyampaikan kembali.
Ketika Pengalaman Anak Menjadi Bahan untuk Menulis
Hal menarik dari pembelajaran teks rekon adalah bahan ceritanya dapat berasal dari pengalaman yang dekat dengan anak.
Anak tidak harus mencari cerita yang jauh atau rumit. Pengalaman mereka sendiri dapat menjadi sumber tulisan.
- Apa yang pernah dilakukan?
- Apa yang terjadi?
- Siapa saja yang terlibat?
- Bagaimana urutannya?
- Apa yang dirasakan atau dipelajari dari pengalaman tersebut?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini dapat membantu anak menggali kembali pengalaman yang tersimpan dalam ingatan. Proses tersebut membuat kegiatan menulis menjadi lebih personal.
Anak bukan sekadar menulis karena mendapatkan tugas. Mereka sedang menceritakan sesuatu yang pernah mereka alami.
Dengan begitu, menulis dapat menjadi ruang bagi anak untuk mengolah pengalaman menjadi sebuah cerita yang dapat dipahami dan dinikmati orang lain.
Dari Menyusun Teks Rekon Menuju Sebuah Karya
Setelah mengenal konsep dan berlatih melalui kegiatan interaktif, perjalanan belajar kakak-kakak kelas 4B tidak berhenti pada satu kali kegiatan.
Kakak-kakak kemudian diajak untuk menyusun teks rekon. Setiap tulisan akan menjadi bagian dari proses menghasilkan karya bersama. InsyaAllah, hasil akhir dari pembelajaran ini akan dikembangkan menjadi antologi teks rekon karya kakak-kakak kelas 4B.
Bayangkan ketika nanti setiap tulisan terkumpul menjadi satu buku.
- Ada banyak pengalaman.
- Ada banyak sudut pandang.
- Ada banyak cerita.
Dan semuanya berasal dari kakak-kakak yang belajar menuliskan pengalaman mereka sendiri.
Buku tersebut nantinya bukan sekadar kumpulan tugas Bahasa Indonesia. Ia dapat menjadi jejak proses belajar—sebuah bukti bahwa pengalaman sederhana yang dimiliki anak dapat diolah menjadi karya yang bermakna.
Menulis Juga Melatih Anak Menghargai Pengalaman
Ada satu pembelajaran lain yang secara tidak langsung tumbuh melalui proses menulis teks rekon. Ketika anak diminta mengingat kembali sebuah peristiwa, mereka belajar bahwa pengalaman memiliki cerita.
Sebuah kegiatan yang sebelumnya terasa biasa saja dapat menjadi sesuatu yang menarik ketika diceritakan kembali dari sudut pandang mereka.
Proses menulis juga mengajak anak memperhatikan detail. Mereka perlu mengingat apa yang terjadi, memilih bagian yang ingin diceritakan, kemudian mengubahnya menjadi kata-kata.
Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya berkaitan dengan kemampuan berbahasa. Anak juga belajar mengorganisasi pikiran dan mengomunikasikan pengalaman.
BBOT: Ketika Orang Tua Menjadi Bagian dari Perjalanan Belajar
Kehadiran Bunda Fiqih Nindya dalam kegiatan BBOT menjadi bagian dari semangat Belajar Bersama Orang Tua di SD Islam Bintang Juara.
Melalui kegiatan seperti ini, orang tua tidak hanya hadir dalam kehidupan sekolah anak sebagai pendamping, tetapi juga dapat menjadi bagian dari pengalaman belajar yang memberikan warna berbeda.
Anak mendapatkan pengalaman bahwa belajar dapat dilakukan bersama banyak orang.
- Ada guru.
- Ada orang tua.
- Ada teman.
- Dan ada berbagai pengalaman yang dapat menjadi sumber pengetahuan.
Kolaborasi tersebut juga menjadi pengingat bahwa proses pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam kelas. Pengalaman belajar dapat hadir melalui percakapan, permainan, interaksi, dan karya yang dibuat bersama.
Dari Satu Kegiatan, Menjadi Cerita yang Bisa Dibaca Banyak Orang
BBOT kelas 4B kali ini mungkin hanya berlangsung dalam satu hari. Namun, proses belajar yang dimulai dari kegiatan tersebut diharapkan dapat terus berlanjut.
Dari mengenal teks rekon. Kemudian bermain dan memahami konsep. Lalu menyusun kembali pengalaman. Hingga akhirnya menghasilkan tulisan.
Dan insyaAllah, tulisan-tulisan tersebut akan dikumpulkan menjadi sebuah antologi teks rekon. Sebuah karya yang suatu hari nanti dapat dibaca kembali oleh kakak-kakak dan mengingatkan mereka pada proses belajar yang pernah dilalui bersama.
Sebab, pendidikan bukan hanya tentang berapa banyak materi yang berhasil diingat.
Pendidikan juga tentang bagaimana anak mampu mengolah pengalaman menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi keterampilan, dan keterampilan menjadi sebuah karya.
Melalui BBOT kelas 4B, kakak-kakak belajar bahwa setiap pengalaman memiliki cerita. Dan setiap cerita, ketika disusun dengan baik, dapat menjadi karya yang bermakna.
Hari ini belajar menulis pengalaman. Esok, pengalaman itu menjadi sebuah karya.
Semoga proses menyusun antologi teks rekon ini menjadi perjalanan yang menyenangkan bagi kakak-kakak kelas 4B—sekaligus menjadi pengingat bahwa setiap anak memiliki cerita, setiap cerita memiliki makna, dan setiap karya adalah bagian dari perjalanan untuk terus tumbuh menjadi bintang dan juara.*** (CM-MRT)
by admin admin | Sep 8, 2026 | Artikel, Edukasi, Kegiatan Guru, Profil Guru
Memasuki jenjang sekolah dasar bukan hanya tentang berpindah dari satu lingkungan belajar ke lingkungan yang baru. Bagi anak, ini adalah langkah pertama menuju pengalaman belajar yang lebih luas—mengenal rutinitas baru, membangun kemandirian, berinteraksi dengan lebih banyak orang, sekaligus mulai menghadapi berbagai tantangan dalam proses belajar.
Karena itu, pembelajaran di kelas 1 membutuhkan lebih dari sekadar target akademik. Bu Yayuk Fitriani, S.Pd., Gr., Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum sekaligus Wali Kelas 1A SD Islam Bintang Juara, melihat bahwa setiap proses pembelajaran perlu dirancang dengan memahami karakteristik dan perkembangan anak. Bagi beliau, kurikulum bukan sekadar dokumen, melainkan ruh pendidikan yang menjadi ikhtiar untuk menentukan arah tumbuhnya anak sebagai calon pemimpin muslim.
Mengenal Lebih Dekat Sosok Bu Yayuk Fitriani
Setelah sebelumnya kita mengenal Bu Ni’mah lebih dekat, hari ini MinBin akan mengajak Ayah Bunda untuk berkenalan lebih dekat dengan salah satu assabiqunal awwalun lainnya dari SD Islam Bintang Juara. Yuk, kita kulik bagaimana perjalanan Bu Yayuk Fitriani bertumbuh bersama SD Islam Bintang Juara!
1. Bisa diceritakan perjalanan Ibu hingga mendapat amanah sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum sekaligus Wali Kelas 1A?
Pertama kali bergabung pada Juni 2018, SD Islam Bintang Juara akan berusia 1 tahun. Saat itu saya mendapat amanah untuk membantu Bu Ni’mah dalam mengurus perizinan SD Islam Bintang Juara. Kemudian di tahun ajaran 2018/2029 saya mulai menerima amahan untuk membersamai Kakak kelas 1 angkatan 2 dan sampai saat ini masih mendampingi Kakak-kakak kelas 1 SD Islam Bintang Juara.
2. Apa yang membuat Ibu tertarik pada dunia pendidikan dan pengembangan pembelajaran?
Bagi saya pendidikan merupakan dunia yang penuh warna dan dinamis seperti manusia. Dunia pendidikan menjadi tempat untuk terus belajar dan berkembang. Saya merasakan beragam pengalaman interpersonal dan intrapersonal diperoleh dalam dunia pendidikan. Saya berharap kehadiran saya di dunia pendidikan dapat memberikan warna, kebermanfaatan dan menjadi tempat calon pemimpin berproses.
Sudut Pandang Sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum
Selain diamanahi sebagai Wali Kelas 1A, Bu Yayuk Fitriani juga mendapat peran bermakna sebagai seorang Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum. Seperti apa ya beliau memandang sebuah kurikulum sekolah?
3. Apa arti kurikulum bagi Ibu? Apakah sekadar dokumen pembelajaran atau sesuatu yang lebih besar?
Bagi saya kurikulum bukan sekedar dokumen pembelajaran. Kurikulum adalah ruh dalam pendidikan. Dimana guru berikhtiar merancang dan menentukan arah pendidikan sebagai alat, ide dan doa yang akan digunakan untuk mencerdaskan insan manusia.
4. Ketika merancang pembelajaran, apa yang paling Ibu pertimbangkan agar sesuai dengan kebutuhan anak?
Karakteristik siswa sebagai profil serta perkembangan anak menjadi pertimbangan besar dalam merancang pembelajaran. Karena hal tersebut dapat membantu saya sebagai guru untuk menentukan stimulasi pembelajaran yang dapat diterapkan di kelas.
5. Bagaimana sekolah memastikan pembelajaran tidak hanya mengejar capaian akademik?
Pembelajaran tidak hanya berbicara tentang akademik, namun stimulasi fisik motorik bagi kelas-kelas rendah (kelas 1 – 3) juga adanya nilai-nilai ketauhidan yang butuh disampaikan dalam setiap pertemuan pembelajaran. Hal ini sejalan dan selaras dengan visi Bintang Juara yang hendak membersamai anak-anak dalam prosesnya menjadi calon pemimpin muslim yang berilmu dan berakhlakul karimah serta bermanfaat.
6. Apa makna pembelajaran yang joyful, mindful, dan meaningful bagi Ibu dalam praktik sehari-hari?
Pembelajaran yang joyful, mindful, dan meaningful dalam setiap pembelajaran dihadirkan agar anak merasakan bahwa belajar merupakan kegiatan yang menyenangkan sehingga anak dapat memperoleh hal-hal bermakna untuk dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Anak-anak diajak untuk mencintai ilmu dengan beragam aktivitas dalam pembelajaran yang tidak hanya mendengarkan guru berbicara dan mencatat namun juga kegiatan yang bermakna untuk kehidupannya saat ini dan akan datang.
7. Bagaimana sekolah memberikan ruang agar anak dapat belajar melalui pengalaman, bukan hanya mendengarkan penjelasan guru?
Sekolah tak hanya memberikan teori namun juga praktik langsung dalam pembelajaran melalui kegiatan percobaan, observasi lingkungan, diskusi dengan teman, pengamatan, wawancara dengan warga sekolah yang bahkan mulai dikenalkan sejak anak kelas 1 SD.
8. Seberapa penting memberikan kesempatan kepada anak untuk bertanya, mencoba, dan menemukan jawabannya sendiri?
Dalam setiap pembelajaran anak diberikan kesempatan untuk bergantian berpendapat. Anak dipantik oleh guru untuk menyampaikan pengalaman belajar yang telah dimiliki untuk menemukan pengalaman belajar baru dalam kelas.
9. Bagaimana kurikulum memberi ruang bagi perbedaan potensi dan gaya belajar setiap anak?
Dalam penyusunan pembelajaran kurikulum berperan untuk memberikan ragam aktivitas dengan tujuan pembelajaran yang sama. Hal ini sebagai wadah bagi anak belajar dengan stimulasi ragam gaya belajar sehingga belajar akan lebih bermakna.

Sudut Pandang Bu Yayuk Fitriani Sebagai Guru Kelas 1
Mengajar kelas awal tentu saja memiliki beragam tantangan. Yuk, kita simak lebih dalam bagaimana perjalanan bu Yayuk Fitriani mendampingi kakak shalih-shalihah melewati transisi PAUD – SD
10. Sebagai Wali Kelas 1A, apa tantangan paling menarik ketika mendampingi anak-anak yang baru memasuki jenjang SD?
Tantangan mendampingi kelas 1A muncul di awal adalah membaca pola belajar dalam proses adaptasi anak. Memahami kondisi sosial emosi anak dengan kondisi di rumah sehingga pendampingan ketika di sekolah dapat bersinergi dan menguatkan.
11. Apa yang sebenarnya perlu dibangun terlebih dahulu pada anak kelas 1 selain kemampuan membaca, menulis, dan berhitung?
Hal-hal yang mendasar yang butuh dibangun dari kelas 1 diantaranya adalah kemandirian misalnya dengan datang ke sekolah dan lancar berpisah, juga kesiapan motorik anak.
12. Bagaimana membantu anak beradaptasi dari dunia PAUD menuju kehidupan sekolah dasar?
Untuk membantu proses adaptasi anak, saya sebagai guru butuh terus menemukan formula dalam mendampingi proses diantaranya dengan bridging kurikulum. Kegiatan transisi jenjang PAUD butuh disiapkan dengan ragam stimulasi fisik, motorik dan menyisipkan materi SD. Hal ini menjadi penting untuk dikembangkan dan terus dievaluasi agar anak-anak optimal dalam belajar.
13. Bagaimana Ibu melihat hubungan antara kemandirian anak dengan keberhasilan mereka dalam belajar?
Kemandirian merupakan aspek basic yang butuh terus dipupuk. Karena kemandirian anak memberikan dampak pada kesiapan belajar yang penuh dengan tantangan kedepannya. Maka sebelum terjun pada tantangan yang lebih challenging, anak butuh kita siapkan dengan ragam kemandirian terutama dalam memenuhi kebutuhan diri seperti mudah berpisah dengan orang tua saat hari pertama, mengenali dan menjaga barang milik sendiri, berani menyampaikan kebutuhan diri pada guru seperti izin ke toilet atau izin mengisi botol minum, mulai menyiapkan perlengkapan belajar, mulai belajar mencuci alat makan yang digunakan, mulai belajar menyapu dan mengepel.
14. Ketika anak mengalami kesulitan belajar, bagaimana sebaiknya guru merespons?
Kesulitan belajar merupakan tantangan yang membutuhkan proses pendampingan. Setiap anak memiliki tantangan masing-masing dalam belajar dan berinteraksi. Sebagai guru, kita perlu mengidentifikasi kebutuhan siswa dengan melakukan beragam pendekatan. Misalnya dengan mengajak ngobrol dan menceritakan kegiatan di rumah, menanyakan perasaan di sekolah, menggali informasi tentang pendampingan orang tua dari cerita anak dan melakukan proses konfirmasi dengan orang tua agar dapat menemukan alternatif cara untuk mendampingi kesulitan yang dialami anak.
15. Bagaimana sekolah melihat kesalahan anak dalam proses pembelajaran?
Sekolah merupakan wadah untuk menerima dan memberikan rasa aman untuk terus bertumbuh. Guru sebagai orang dewasa senantiasa memberikan pijakan dan pendampingan kepada setiap proses yang sedang dialami anak. Guru memberikan ragam pijakan pada anak baik dalam berupa teladan, pijakan ilmiah melalui buku maupun nasihat yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah untuk mendampingi anak ketika melakukan kesalahan agar dapat menemukan solusi dan hikmah sehingga anak dapat berproses untuk memperbaiki diri.
16. Bagaimana nilai-nilai Islam diintegrasikan ke dalam pembelajaran sehari-hari?
Pembelajaran di SD Islam Bintang Juara yang holistik dengan perkembangan siswa, kami rancang untuk selalu terkait dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Tidak hanya pada saat materi pembelajaran Pendidikan Agama Islam & Budi Pekerti. Namun semua mata pelajaran, kegiatan dan proses interaksi anak kami upayakan untuk terhubung dengan nilai-nilai ketauhidan sesuai Al-Qur’an dan Sunnah.
Guru Ideal dan Kolaborasi dengan Orang Tua dalam Kacamata Bu Yayuk Fitriani
Seperti apa sosok guru ideal di masa sekarang menurut Bu Yayuk dan bagaimana cara beliau berkolaborasi dengan orang tua?
17. Menurut Ibu, seperti apa guru yang ideal di tengah perubahan kebutuhan anak dan perkembangan zaman?
Guru yang dapat dinamis dengan perkembangan zaman dengan menghadirkan pembelajaran yang bermakna. Mampu memilah dan terus mencoba berinovasi dalam menghadirkan pembelajaran yang update issue dan tetap membawa nilai ketauhidan. Guru yang mau mencoba menjalin kedekatan dengan anak dan orang tua demi terwujudnya pendidikan optimal bagi anak.
18. Apa peran Ayah Bunda dalam mendukung proses pembelajaran anak di rumah?
Melalui buku komunikasi tiap pekan dan penyampaian laporan hasil belajar tiap 3 bulan sekali, orang tua dapat memantau perkembangan anaknya dan memberikan pendampingan sesuai dengan catatan yang telah diberikan oleh wali kelas. Orang tua sebagai pendidik utama dapat berkontribusi aktif dalam proses tumbuh kembang serta proses belajar yang sedang dilakukan Kakak melalui kegiatan recalling di rumah.
Bahkan recalling tidak hanya ditujukan sebatas tentang pelajaran apa yang didapatkan anak namun juga sebagai proses pendampingan anak untuk menggali perasaan anak, memberikan validasi perasaan anak dan melakukan diskusi terbimbing ketika anak mengalami kesulitan. Baik kesulitan dalam bersosialisasi atau beradaptasi dengan teman, kegiatan atau pembelajaran di sekolah.
Visi dan Pesan Bermakna Bu Yayuk Fitriani untuk Kakak Shalih-shalihah dan Ayah Bunda
Menutup perbincangan MinBin dengan Bu Yayuk Fitriani, ada pesan-pesan bermakna yang beliau sampaikan untuk kakak shalih-shalihah dan ayah bunda.
19. Jika anak-anak kelas 1A kelak berada di kelas 6, perubahan seperti apa yang ingin Ibu lihat dari mereka?
Semoga Kakak kelas 1A kelak sudah mulai memahami dan mempraktikan nilai ketauhidan dengan tidak malu berbuat baik tanpa banyak pijakan, menghargai semua teman, saling membantu dalam kebaikan, kematangan emosi dengan mulai inisiatif mencari solusi ketika mengalami sebuah kendala atau tantangan. Mulai menemukan bidang yang sesuai dengan potensi yang dimiliki.
20. Apa pesan Ibu untuk Ayah Bunda yang sedang membersamai anak memasuki fase awal sekolah dasar?
Mari Ayah Bunda kita dampingi putra putri yang merupakan amanah terbesar dari Allah SWT. Mari persiapkan diri Kakak untuk memasuki masa pendidikan sekolah dasar dengan bekal kelekatan emosi sehingga proses adaptasi dan kemandirian Kakak akan lebih mudah untuk berkembang.
21. Jika harus merangkum peran Bu Yayuk sebagai Wakasek Bidang Kurikulum sekaligus wali kelas 1A dalam satu kalimat, apa yang ingin disampaikan?
Menjadi guru adalah jalan untuk terus menjadi pembelajar yang terus bertumbuh menjadi diri yang lebih baik dalam membersamai benih-benih calon pemimpin muslim masa depan.
Pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang apa yang berhasil anak kuasai, tetapi tentang siapa yang sedang mereka tumbuhkan menjadi. Kemandirian, kemampuan beradaptasi, keberanian berkomunikasi, pengalaman belajar yang bermakna, serta nilai-nilai ketauhidan menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut.
Sekolah dan keluarga pun memiliki peran yang saling menguatkan agar anak dapat melalui setiap tahap perkembangan dengan lebih siap dan percaya diri. Sebagaimana pesan Bu Yayuk, menjadi guru adalah jalan untuk terus menjadi pembelajar yang bertumbuh menjadi diri yang lebih baik dalam membersamai benih-benih calon pemimpin muslim masa depan.
Sampai jumpa pada episode Guru Bercerita selanjutnya. Ayah Bunda mau berkenalan lebih dekat dengan siapa nih?***(CM-MRT)
by admin admin | Sep 5, 2026 | Artikel, Edukasi, Ekstrakurikuler
Tenda mungkin berdiri di lapangan. Api dan perlengkapan memasak mungkin menjadi bagian dari kegiatan. Alam menjadi tempat untuk menjelajah dan bermain.
Namun, Qur’anic Leadership Camp (QLC) dan Qur’anic Leadership Journey (QLJ) dalam Pramutara 2026 bukan sekadar tentang itu. Ada perjalanan yang lebih panjang sedang dimulai. Perjalanan untuk belajar menjadi pemimpin muslim.
Bukan hanya pemimpin yang berani berdiri di depan dan memberikan arahan, tetapi pemimpin yang terus bertumbuh dengan iman, ilmu, dan akhlak.
Inilah semangat yang hadir dalam diri Pramutara (Pramuka Bintang Juara) pada rangkaian kegiatan Qur’anic Leadership Camp & Journey 2026.
Rangkaian Kegiatan Qur’anic Leadership Camp dan Journey 2026
Kegiatan ini dirancang dengan pengalaman yang berbeda sesuai dengan jenjang kelas. Kakak kelas 3–6 mengikuti Qur’anic Leadership Camp, sementara kakak kelas 1–2 mengikuti Qur’anic Leadership Journey.
- Tempatnya berbeda.
- Aktivitasnya berbeda.
- Tantangannya pun berbeda.
Tetapi tujuan akhirnya tetap sama: menumbuhkan calon pemimpin muslim yang mampu memberi manfaat bagi sesama.
QLC: Belajar Memimpin Melalui Sebuah Perjalanan
Bagi kakak kelas 3–6, Qur’anic Leadership Camp menjadi bagian dari pengalaman belajar yang lebih luas. QLC bukan hanya tentang siapa yang paling kuat mendirikan tenda, paling cepat menyelesaikan tantangan, atau paling berani menjelajah.
Di dalamnya ada kesempatan untuk belajar tentang diri sendiri dan orang lain. Ada proses bekerja bersama. Ada tantangan yang perlu diselesaikan. Ada pengalaman yang menuntut keberanian, tanggung jawab, dan kemandirian.
Semua pengalaman tersebut menjadi ruang belajar untuk mengenal arti kepemimpinan secara lebih nyata.
Karena seorang pemimpin tidak selalu berada di posisi paling depan. Terkadang, pemimpin adalah seseorang yang mau membantu temannya. Terkadang, pemimpin adalah seseorang yang tetap berusaha ketika menghadapi kesulitan.
Dan terkadang, pemimpin adalah seseorang yang mampu mengingatkan dirinya sendiri untuk tetap melakukan sesuatu yang benar meskipun tidak ada yang melihat.
Di sinilah nilai iman dan akhlak menjadi bagian penting dalam kepemimpinan.
Kelas 3: Pengalaman Pertama Menjadi Bagian dari QLC
Tahun ini, kakak-kakak kelas 3 mendapatkan pengalaman yang istimewa. Mereka menjalani pengalaman pertama mengikuti Qur’anic Leadership Camp di lapangan SD Islam Bintang Juara.
Lokasinya memang berbeda dari kakak kelas 4–6 yang menjalani QLC di alam terbuka, tetapi pengalaman pertama ini tetap menjadi sebuah langkah penting.
Kelas 3 mulai mengenal bagaimana rasanya mengikuti kegiatan kepemimpinan dalam suasana yang berbeda dari pembelajaran sehari-hari.
Bagi mereka, ini adalah kesempatan untuk mencoba.
- Mencoba lebih mandiri.
- Mencoba bekerja bersama.
- Mencoba menghadapi tantangan.
- Mencoba bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan kelompok.
Pengalaman pertama tidak harus langsung sempurna. Justru dari pengalaman pertama itulah anak belajar bahwa menjadi seorang pemimpin adalah sebuah proses.
Kelas 4–6: Bertumbuh Bersama di Bumi Perkemahan Medini
Sementara itu, kakak kelas 4–6 menjalani QLC di Bumi Perkemahan Medini. Berada di lingkungan yang berbeda memberikan pengalaman yang berbeda pula.
Alam menjadi bagian dari ruang belajar mereka. Berbagai aktivitas yang dilakukan bersama menjadi kesempatan untuk mengembangkan keberanian, kemandirian, kerja sama, dan tanggung jawab.
Namun, sekali lagi, pengalaman bermalam di alam bukanlah tujuan akhir. Tenda hanyalah tempat mereka belajar. Perjalanan dan tantangan hanyalah media. Yang jauh lebih penting adalah nilai yang mereka bawa dari setiap pengalaman tersebut.
- Ketika seorang anak belajar menyelesaikan tugas bersama kelompok, ia sedang belajar tentang tanggung jawab.
- Ketika ia membantu teman yang mengalami kesulitan, ia sedang belajar tentang kepedulian.
- Ketika ia berani mencoba sesuatu yang baru, ia sedang belajar tentang keberanian.
- Dan ketika ia mampu tetap menjaga adab dalam setiap prosesnya, ia sedang belajar bahwa kepemimpinan tidak dapat dipisahkan dari akhlak.
QLJ Kelas 1–2: Belajar Memimpin dari Hal-Hal Sederhana
Bagaimana dengan kakak kelas 1–2?
Mereka belum mengikuti camp seperti kakak kelas 3–6. Sebagai gantinya, mereka mengikuti Qur’anic Leadership Journey (QLJ) dengan kegiatan yang berlangsung di lingkungan sekolah.
Meski lebih sederhana, bukan berarti pengalaman belajarnya lebih kecil. Kakak kelas 1–2 diajak mengenal beragam tepuk Pramuka dan mengikuti leadership games.
Aktivitas tersebut menjadi cara yang sesuai dengan usia mereka untuk mulai mengenal nilai-nilai kepemimpinan.
Pada usia ini, kepemimpinan dapat diperkenalkan melalui hal-hal sederhana.
- Belajar mengikuti aturan.
- Belajar menunggu giliran.
- Belajar bekerja sama.
- Belajar berani mencoba.
- Belajar mendengarkan.
- Belajar menghargai teman.
Dari permainan sederhana, anak mulai mengenal bahwa melakukan sesuatu bersama-sama membutuhkan komunikasi dan sikap saling menghargai. Inilah perjalanan awal sebelum mereka nantinya tumbuh menuju tantangan kepemimpinan yang lebih besar.
Dari Pramuka Menuju Kepemimpinan Qur’ani
Jika diperhatikan, QLJ dan QLC memiliki tahapan pengalaman yang berbeda sesuai perkembangan anak.
- Kelas 1–2 mulai mengenal kepemimpinan melalui permainan dan aktivitas sederhana.
- Kelas 3 mendapatkan pengalaman pertama mengikuti QLC.
- Kelas 4–6 mulai menghadapi pengalaman yang lebih luas melalui kegiatan di Bumi Perkemahan Medini.
Tahapan tersebut menggambarkan bahwa kepemimpinan tidak dibentuk dalam satu kegiatan.
Ia tumbuh sedikit demi sedikit.
- Dari kebiasaan kecil.
- Dari keberanian mencoba.
- Dari pengalaman bekerja sama.
- Dari kemampuan bertanggung jawab.
- Dari belajar mengambil keputusan.
- Dan dari proses memahami bahwa ilmu yang dimiliki seharusnya membawa manfaat bagi orang lain.
Karena itu, Pramutara di SD Islam Bintang Juara tidak hanya ditempatkan sebagai kegiatan kepramukaan. Ia menjadi salah satu ruang pendidikan karakter untuk mempersiapkan anak menghadapi kehidupan dengan bekal yang lebih utuh.
Qur’anic Youth Leader: Tumbuh dengan Iman, Unggul dengan Ilmu
Seluruh perjalanan QLJ dan QLC bermuara pada satu tujuan yang sama:
“Qur’anic Youth Leader: Tumbuh dengan Iman, Unggul dengan Ilmu, Santun dalam Akhlak, Berdampak bagi Sesama.”
Kalimat tersebut menjadi pengingat bahwa kepemimpinan dalam perspektif Qur’ani bukan hanya tentang kemampuan memimpin orang lain.
Sebelum mampu memimpin orang lain, seorang anak perlu belajar memimpin dirinya sendiri.
- Memimpin keinginannya.
- Memimpin sikapnya.
- Memimpin tanggung jawabnya.
- Dan belajar memilih apa yang benar dan bermanfaat.
Ilmu membuat anak memiliki bekal untuk melangkah. Iman menjadi arah. Akhlak menjadi cara. Dan kebermanfaatan menjadi tujuan.
Membawa Pulang Lebih dari Sekadar Cerita
Setelah kegiatan selesai, mungkin ada cerita tentang tenda yang didirikan, permainan yang berhasil dimenangkan, perjalanan yang melelahkan, atau momen seru bersama teman.
Namun, semoga ada sesuatu yang jauh lebih penting yang ikut dibawa pulang.
Semoga kakak-kakak shalih-shalihah pulang dengan sedikit lebih mandiri daripada ketika berangkat.
- Sedikit lebih berani.
- Sedikit lebih peduli.
- Sedikit lebih bertanggung jawab.
- Dan sedikit lebih memahami bahwa menjadi pemimpin bukan tentang menjadi yang paling hebat di antara yang lain.
Menjadi pemimpin adalah tentang bagaimana kemampuan yang kita miliki dapat digunakan untuk membawa kebaikan dan memberi manfaat bagi sesama.
Pramutara 2026 melalui Qur’anic Leadership Camp & Journey menjadi salah satu bagian dari perjalanan panjang tersebut. Sebab calon pemimpin masa depan tidak lahir hanya dari ruang kelas.
Mereka tumbuh dari pengalaman, tantangan, keteladanan, pembiasaan, ilmu, iman, dan akhlak yang terus ditanamkan sejak dini.
Semoga setiap langkah dalam QLJ dan QLC tahun ini menjadi bekal bagi kakak-kakak shalih-shalihah untuk terus bertumbuh.
Tumbuh dengan iman. Unggul dengan ilmu. Santun dalam akhlak. Dan kelak, menjadi pemimpin yang mampu memberi dampak bagi sesama.*** (CM-MRT)
by admin admin | Aug 29, 2026 | Artikel, Edukasi, Kegiatan Orang Tua
Pagi itu, Sabtu, 29 Agustus 2026, suasana di SD Islam Bintang Juara terasa hangat sekaligus penuh keseriusan. Puluhan orang tua siswa kelas 4, 5, dan 6 berkumpul dalam acara Parenting Class. Di antara riuh rendah tanya jawab dan lembar catatan yang siap diisi, ada satu pertanyaan menggantung di benak banyak Ayah dan Bunda yang anaknya mulai menapak usia pra-remaja: “Ke mana anak kita akan melanjutkan sekolah setelah lulus SD nanti?”
Sering kali, pertanyaan tersebut memicu deretan kekhawatiran baru. Apakah anak siap dengan pergaulan SMP? Bisakah mereka mengikuti tuntutan akademik yang lebih kompleks? Ataukah justru kita, sebagai orang tua, yang sebenarnya belum siap melepaskan sebagian kendali?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukanlah hal yang berlebihan. Memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi memang membawa perubahan. Anak akan berhadapan dengan aturan yang berbeda, tuntutan akademik yang semakin kompleks, relasi sosial yang semakin luas, serta kebutuhan untuk memiliki kemandirian belajar yang lebih besar. Karena itu, persiapan menuju SMP sebenarnya bukan hanya tentang memilih sekolah, tetapi juga tentang menyiapkan anak menghadapi perubahan dan tantangan baru.
Untuk menjawab keresahan tersebut, SD Islam Bintang Juara menghadirkan Ibu Dyah Indah Noviyani, S.Psi., M.Psi., Psikolog—atau yang akrab disapa Bunda Vivi Psikolog. Beliau merupakan Ketua Yayasan Dewi Sartika sekaligus founder PAUD & SD Islam Bintang Juara. Dalam sesi berharga tersebut, Bunda Vivi membagikan wawasan mendalam tentang bagaimana orang tua seharusnya bersikap dan melangkah dalam memilih sekolah lanjutan untuk buah hati.
Parenting Class bertema “Memilih Sekolah, Menentukan Langkah” ini tidak berhenti pada pertanyaan, “SMP mana yang bagus?” Lebih jauh, orang tua diajak mengubah cara pandang: sekolah seperti apa yang tepat untuk anak kita, dan bagaimana kita menyiapkan anak agar mampu menjalani pilihan tersebut?
Pesan Bermakna dari Korsatpen Gunungpati
Parenting class kali ini sangat istimewa. Tidak hanya Bunda Vivi Psikolog yang hadir, tetapi hadir pula Ibu Sri Hartati, S.Pd., M.Pd. selaku Korsatpen Gunungpati.
Pada kesempatan tersebut, Bu Tatik menyampaikan beberapa program Dinas Pendidikan Kota Semarang berkaitan dengan memilih sekolah lanjutan. Salah satu yang disampaikan oleh beliau adalah Program ASSIK.
Bagi Ayah Bunda yang ingin putra-putrinya melanjutkan ke SMP Negeri, Bu Tatik menyampaikan jika terdapat empat jalur yang bisa dilalui, yaitu:
- Jalur Domisili (sebelumnya zonasi): Kuota minimal 40%, untuk calon murid berdasarkan wilayah tempat tinggal.
- Jalur Afirmasi: Kuota minimal 20%, untuk anak dari keluarga kurang mampu atau penyandang disabilitas.
- Jalur Prestasi: Kuota minimal 25%, untuk calon murid dengan prestasi akademik maupun non-akademik.
- Jalur Mutasi (perpindahan tugas orang tua): Kuota maksimal 5%, termasuk bagi anak guru.
Informasi mengenai jalur penerimaan tersebut menjadi salah satu bekal penting bagi orang tua untuk mulai memahami pilihan pendidikan yang tersedia. Namun, sesi bersama Bunda Vivi kemudian mengajak Ayah dan Bunda melihat bahwa jalur masuk hanyalah salah satu bagian dari perjalanan.
Sebelum sibuk mengejar sekolah tertentu, ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar:
sudahkah kita benar-benar mengenal anak kita?

Sekolah Bukan “Pabrik” atau “Laundry”
Di awal pemaparannya, Bunda Vivi mengajak orang tua merenungkan kembali hakikat sebuah lembaga pendidikan. Ketika mencari SMP, apa hal pertama yang Ayah dan Bunda lihat? Akreditasi A? Fasilitas gedung yang megah?
“Kalau semua sekolah memiliki fasilitas yang bagus dan terakreditasi A, bagaimana kita menentukan sekolah yang paling tepat untuk anak kita?” tutur Bunda Vivi.
Beliau menegaskan bahwa sekolah yang bagus belum tentu sekolah yang tepat untuk setiap anak. Anak bukanlah “produk” yang dimasukkan ke dalam tempat tertentu untuk langsung menghasilkan prestasi. Sekolah bukan pabrik, bukan pula tempat “laundry” di mana orang tua tinggal menyerahkan anak dan berharap keluar dalam keadaan sempurna.
Sekolah adalah lembaga pendidikan yang menjunjung tinggi nilai agama, norma sosial, ilmu pengetahuan bermanfaat, serta pembentuk karakter. Oleh karena itu, kunci utama dalam memilih sekolah terletak pada prinsip Fit with the Child—keselarasan antara sekolah dengan kebutuhan serta kondisi anak dan keluarga.
Dengan sudut pandang ini, proses memilih sekolah menjadi lebih personal. Bukan lagi sekadar, “Sekolah mana yang paling terkenal?” Melainkan: “Sekolah mana yang paling sesuai dengan anak saya?”
Apa Itu Fit with the Child?
Konsep Fit with the Child mengingatkan orang tua bahwa setiap anak memiliki profil yang berbeda. Karena itu, sekolah yang ideal perlu selaras dengan beberapa aspek penting dalam kehidupan anak dan keluarga.
Materi Parenting Class menekankan setidaknya delapan hal yang perlu dipertimbangkan:
- Prinsip nilai dalam keluarga.
- Keimanan dan ketauhidan.
- Karakter positif yang ingin dibangun.
- Kebutuhan perkembangan anak.
- Potensi atau bakat umum dan khusus anak.
- Minat anak.
- Kondisi keluarga, termasuk kemampuan ekonomi.
- Arah pendidikan dan masa depan anak.
Artinya, memilih sekolah tidak dapat dilepaskan dari konteks keluarga dan kondisi anak secara utuh. Sebab tidak ada sekolah yang sempurna. Yang perlu dicari adalah kesesuaian antara tuntutan sekolah dengan kapasitas dan kebutuhan anak.
3 Langkah Strategis Memilih Sekolah Lanjutan
Agar orang tua tidak salah arah, Bunda Vivi Psikolog merumuskan tiga langkah penting yang perlu dilakukan.
1. Mengenali Anak Secara Utuh
Sebelum bertanya “Anak saya cocok sekolah di mana?”, tanyakan dulu: “Anak saya itu seperti apa?”
Orang tua perlu memahami profil anak secara menyeluruh, meliputi karakter, potensi atau bakat, minat, dan kebutuhan. Karakter positif yang dapat diperhatikan antara lain religiusitas, kemandirian, tanggung jawab, percaya diri, empati, dan disiplin.
Kemudian, pahami pula bakat umum, yaitu kemampuan dasar yang dimiliki setiap orang, serta bakat khusus, yaitu kemampuan unik yang dapat muncul ketika dilatih secara konsisten.
Minat juga tidak kalah penting. Apa yang disukai anak? Aktivitas apa yang membuatnya bersemangat? Sementara kebutuhan perlu dilihat sesuai dengan tahapan usia dan perkembangan anak.
Bunda Vivi juga mengingatkan agar orang tua tidak hanya melihat kelebihan anak.
Anak yang memiliki kemampuan akademik tinggi belum tentu siap menghadapi tantangan di sekolah yang sangat kompleks dan kompetitif. Sebaliknya, anak dengan kemampuan akademik sedang bukan berarti tidak mampu berkembang di sekolah yang baik.
Yang perlu dicari adalah kesesuaian antara tuntutan sekolah dan kapasitas anak.
2. Mengenali Sekolah: 5P Profil Sekolah
Setelah mengenali anak, saatnya melakukan riset terhadap sekolah yang menjadi pilihan.
Bunda Vivi menyarankan orang tua tidak hanya mengandalkan informasi dari satu sumber. Ayah dan Bunda dapat mulai dengan mengunjungi website atau media sosial sekolah, melakukan survei dengan datang langsung ke sekolah, serta bertanya kepada alumni dan orang tua siswa.
Kemudian, gunakan 5P Profil Sekolah sebagai bahan pertimbangan:
- Prinsip: Apakah prinsip nilai sekolah sesuai dengan prinsip nilai keluarga? Termasuk akidah, tauhid, akhlak, adab, dan ibadah.
- Pendidikan: Bagaimana kualitas kurikulum dan proses pembelajarannya?
- Pengasuhan: Bagaimana sekolah memperlakukan anak ketika anak melakukan kesalahan, kurang disiplin, atau terlibat konflik?
- Pengembangan Potensi: Apakah sekolah memberikan ruang bagi eksplorasi dan optimalisasi bakat serta minat anak?
- Partnership: Apakah sekolah memiliki program yang menguatkan keselarasan dan kerja sama dengan orang tua?
Lima hal ini membantu orang tua melihat sekolah secara lebih menyeluruh. Bukan hanya gedungnya, bukan hanya prestasinya, tetapi juga bagaimana sekolah mendidik, mengasuh, mengembangkan, dan bekerja sama dengan keluarga.
Akidah dan Tauhid sebagai Pondasi
Bagi keluarga Muslim, keselarasan nilai menjadi bagian yang sangat penting. Pertanyaannya bukan sekadar, “Apakah sekolah mengajarkan agama?” Tetapi lebih jauh: “Apakah prinsip agama hadir dalam kehidupan sehari-hari di sekolah?”
Dalam materi Parenting Class, Bunda Vivi mengajak orang tua memperhatikan tiga hal: apa yang diajarkan, apa yang dibiasakan, dan apa yang diteladankan.
Agama bukan hanya pengetahuan. Nilai tersebut diharapkan hadir dalam ibadah, perilaku, akhlak, dan adab. Keteladanan guru dan seluruh warga sekolah juga menjadi bagian penting dari budaya pendidikan.
Dengan demikian, bagi keluarga Muslim, alurnya bukan sekadar: belajar agama → tahu agama. Tetapi diharapkan berkembang menjadi: akidah & tauhid → akhlak & adab → ibadah → kebiasaan → karakter.
Kenali Beragam Pilihan Sekolah
Saat memilih sekolah lanjutan, orang tua juga perlu mengetahui bahwa pilihan tidak hanya terbatas pada satu jenis SMP.
Dalam materi Parenting Class, beberapa pilihan yang dapat dipertimbangkan antara lain SMP Negeri, SMP Islam Swasta, MTs, SMP Islam plus boarding/pondok pesantren, pondok pesantren, hingga PKBM. Masing-masing memiliki karakteristik dan fokus yang berbeda.
Begitu pula dengan kurikulum. Sekolah dapat memiliki kurikulum nasional, internasional, maupun kekhasan sekolah.
Karena itu, pertanyaannya kembali kepada anak dan keluarga:
Kebutuhan apa yang ingin dipenuhi? Nilai apa yang ingin dijaga? Potensi apa yang ingin dikembangkan? Dan seperti apa arah pendidikan yang ingin ditempuh?
3. Menyelaraskan dan Menentukan Pilihan
Setelah mengenali anak dan sekolah, langkah berikutnya adalah menyelaraskan dan menentukan pilihan. Diskusikan pilihan tersebut bersama anak.
Dengarkan pendapatnya dengan terbuka. Jika terdapat pemahaman yang kurang tepat, orang tua dapat membantu meluruskan. Namun, Bunda Vivi juga menegaskan bahwa orang tua tetap memiliki kewenangan dalam mengambil keputusan. Setelah berikhtiar dan berdiskusi, pilihan tersebut dapat dikuatkan dengan istikharah.
Ini menjadi pengingat penting: melibatkan anak bukan berarti seluruh keputusan diserahkan kepada anak.
Anak didengarkan. Orang tua membimbing. Kemudian keluarga menentukan langkah bersama dengan mempertimbangkan nilai, kebutuhan, dan kemaslahatan anak.
Sekolah sebagai Partner Orang Tua
Memilih sekolah juga berarti memilih partner dalam pendidikan anak.
Bunda Vivi mengingatkan bahwa pendidik terbaik tetaplah orang tua, sedangkan lembaga pendidikan terbaik tetaplah rumah. Rumah dan sekolah perlu saling selaras dan bersinergi.
Maka, setelah memilih sekolah, tanggung jawab orang tua tidak selesai. Justru perjalanan baru dimulai.
Akan ada beragam tantangan, bahkan mungkin ujian. Karena itu, orang tua perlu terus menguatkan keselarasan prinsip nilai antara rumah dan sekolah, mengutamakan akhlak dan adab, menjaga komunikasi, membiasakan konfirmasi, serta terlibat aktif dalam kegiatan sekolah.
Yang tidak kalah penting: terus belajar, berikhtiar, dan berdoa.

Kesiapan Anak Tidak Sama dengan Kesiapan Orang Tua
Ada satu bagian dalam Parenting Class yang mungkin menjadi bahan perenungan bagi banyak Ayah dan Bunda.
Kadang-kadang, anak sebenarnya sudah siap. Tetapi orang tua yang masih khawatir.
- “Bagaimana kalau anak saya tidak bisa?”
- “Bagaimana kalau salah pergaulan?”
- “Bagaimana kalau tidak bisa mengikuti pelajaran?”
- “Bagaimana kalau jauh dari rumah lalu sakit?”
Kekhawatiran tersebut sangat manusiawi. Namun, orang tua perlu belajar membedakan antara kekhawatiran orang tua dan kebutuhan anak.
Pertanyaan yang perlu direnungkan bukan hanya: “Apakah anak saya sudah siap?” Tetapi juga: “Apakah anak yang belum siap, atau kita sebagai orang tua yang belum siap melepaskan sebagian kendali?”
Inilah mengapa persiapan menuju SMP sebaiknya dilakukan sejak anak masih berada di kelas 4, 5, dan 6. Tidak perlu menunggu beberapa bulan menjelang kelulusan.
5 Dimensi Kesiapan Anak Menuju SMP
Lantas, apa saja yang perlu disiapkan?
Disampaikan oleh Bunda Vivi, kesiapan anak dipetakan ke dalam beberapa dimensi penting, yaitu spiritual-moral, kemandirian, emosional, sosial, kognitif, dan akademik.
- Spiritual-Moral: Anak belajar menjalankan nilai agama dengan kesadaran diri yang semakin berkembang dan matang.
- Kemandirian: Anak belajar mengelola diri, waktu, barang pribadi, serta tanggung jawabnya.
- Emosional: Anak belajar menghadapi perubahan, mengelola stres, dan menyikapi kegagalan.
- Sosial: Anak perlu memiliki kemampuan membangun relasi yang sehat dan menyelesaikan konflik dengan bijak.
- Kognitif: Anak perlu siap memahami berbagai konsep yang semakin kompleks.
- Akademik: Anak perlu memiliki kesiapan mengikuti tuntutan pembelajaran pada jenjang yang lebih tinggi.
Jadi, kesiapan masuk SMP tidak hanya tentang nilai rapor atau kemampuan mengerjakan soal. Ada manusia utuh yang perlu dipersiapkan.
Bagaimana Melatih Kesiapan Anak Sejak SD?
Kabar baiknya, kesiapan tersebut tidak harus dibangun dalam waktu singkat. Ada banyak hal yang dapat mulai dilatih sejak anak berada di kelas 4, 5, dan 6.
- Pertama, bangun growth mindset atau pola pikir berkembang. Ajarkan anak bahwa kemampuan bukan sesuatu yang selalu tetap. Anak dapat belajar, berlatih, melakukan kesalahan, dan berkembang.
- Kedua, mulai melatih kemandirian tingkat lanjut. Berikan kepercayaan secara bertahap agar anak semakin mampu mengelola dirinya, waktunya, barang-barangnya, serta tanggung jawabnya.
- Ketiga, bukalah ruang diskusi terbuka atau deep talk mengenai dinamika dunia remaja. Jangan menunggu anak menghadapi masalah baru kemudian membicarakannya. Jadikan rumah sebagai ruang aman untuk bertanya, bercerita, dan berdiskusi.
Ketenangan dan keterbukaan menjadi kunci.
Anak yang tahu bahwa rumah adalah tempat yang aman untuk kembali akan memiliki ruang untuk belajar menghadapi dunia yang semakin luas.

Memilih Sekolah, Sesungguhnya Menentukan Langkah
Menjelang akhir Parenting Class, pesan yang disampaikan terasa sederhana, tetapi sangat dalam:
Saat kita memilih sekolah, maka kita sedang menentukan langkah.
Bukan berarti pilihan sekolah akan menentukan seluruh masa depan anak. Namun, pilihan tersebut menjadi salah satu lingkungan yang akan menemani anak bertumbuh, belajar, membangun relasi, mengenal dirinya, dan mengembangkan potensi.
Karena itu, ada enam hal yang perlu terus diingat orang tua:
- Kenali anak.
- Selaraskan nilai.
- Siapkan langkah.
- Libatkan anak.
- Dampingi perjalanan anak.
- Doakan, doakan, terus doakan—mohon ridho Allah.
Pada akhirnya, menjadi orang tua pun merupakan proses pembelajaran sepanjang hayat.
Anak belajar tumbuh. Orang tua belajar mendampingi. Sekolah belajar menjadi partner. Dan semuanya membutuhkan proses, kesabaran, komunikasi, serta doa.
Memilih sekolah lanjutan bukan tentang mencari sekolah yang paling sempurna. Bukan pula tentang mengejar sekolah yang paling bergengsi. Tetapi tentang menemukan lingkungan yang selaras dengan nilai keluarga, kebutuhan anak, potensi yang dimiliki, serta arah pendidikan yang ingin ditempuh.
Maka, untuk Ayah dan Bunda kelas 4, 5, dan 6 SD Islam Bintang Juara, perjalanan menuju SMP tidak perlu dimulai dengan kepanikan. Mulailah dengan mengenali. Kemudian memahami. Lalu berdiskusi. Setelah itu, menyiapkan.
Dan ketika waktunya tiba, melangkahlah bersama anak dengan keyakinan bahwa setiap ikhtiar telah dilakukan sebaik mungkin. Sebab anak tidak hanya membutuhkan sekolah yang tepat. Anak membutuhkan orang tua yang bersedia terus belajar menjadi partner terbaik dalam setiap langkahnya.
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing setiap ikhtiar Ayah dan Bunda dalam mengantarkan putra-putri tercinta menjadi generasi yang saleh, bertauhid kokoh, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi sesama. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin. (CM-MRT)