fbpx

“Anak hebat bukan yang paling banyak followers atau paling viral di media sosial, tetapi yang paling baik adabnya.”

Kalimat sederhana itu menjadi penutup sekaligus pesan paling membekas dalam Kelas Penguatan Adab “Jadi Calon Pemimpin Muslim yang Cerdas Digital Yuk!” yang diikuti siswa kelas 4 hingga kelas 6 SD Islam Bintang Juara pada Rabu, 15 Juli 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Pekan Ta’aruf (MPLS Ramah) Tahun Ajaran 2026/2027 dengan menghadirkan Marita Ningtyas, S.S., Leader Team Cipta Media Digital Bintang Juara, sebagai narasumber.

Di era ketika anak-anak tumbuh bersama gawai dan media sosial, sekolah tidak hanya memiliki tanggung jawab mengajarkan kemampuan akademik, tetapi juga membentuk karakter digital. Sebab, teknologi hanyalah alat. Yang menentukan apakah ia menjadi jalan menuju kebaikan atau sebaliknya adalah adab penggunanya.

Melalui kelas yang dikemas interaktif, penuh permainan, diskusi, dan refleksi, siswa diajak memahami bahwa menjadi generasi digital berarti juga menjadi pribadi yang bertanggung jawab di hadapan Allah SWT dan sesama manusia.

Internet adalah Amanah, Bukan Sekadar Hiburan

Kegiatan diawali dengan sebuah pertanyaan yang mengundang rasa ingin tahu.

“Mengapa Allah mengizinkan internet ada di muka bumi?”

Pertanyaan tersebut membawa siswa memahami bahwa internet merupakan nikmat sekaligus amanah dari Allah SWT. Teknologi dapat menjadi ladang pahala ketika digunakan untuk belajar, berbagi ilmu, mempererat silaturahmi, serta menyebarkan kebaikan. Sebaliknya, internet juga dapat menjadi ujian apabila dipenuhi konten negatif, perundungan, hoaks, ataupun aktivitas yang menjauhkan diri dari nilai-nilai Islam.

Melalui pendekatan ini, siswa tidak diajak untuk takut terhadap teknologi, melainkan belajar menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

Menjadi Pengguna Media Sosial yang Punya Tujuan

Media sosial sering kali dipandang sebagai tempat hiburan semata. Dalam sesi ini, siswa diajak mengubah cara pandang tersebut. Bu Marita menjelaskan bahwa media sosial seharusnya memiliki tiga tujuan utama, yaitu:

  • belajar dan menambah wawasan,
  • mempererat silaturahmi dengan keluarga maupun teman,
  • menyebarkan konten positif yang bermanfaat bagi banyak orang.

Pesan ini menjadi bekal penting agar anak-anak tidak sekadar menjadi penonton dunia digital, tetapi mampu menjadi pembawa manfaat melalui setiap jejak digital yang mereka tinggalkan.

Belajar Bersyukur, Bukan Sibuk Membandingkan Diri

Salah satu aktivitas yang paling menarik adalah permainan “Harta Karun Temanku.” Dalam permainan tersebut, siswa diminta menemukan satu kelebihan teman di sampingnya. Satu per satu mereka menyampaikan apresiasi dengan tulus.

Aktivitas sederhana ini ternyata memiliki makna yang sangat dalam.

Anak-anak diajak memahami bahwa hati akan dipenuhi rasa syukur ketika terbiasa melihat kelebihan orang lain. Sebaliknya, media sosial sering kali membuat seseorang sibuk membandingkan hidupnya dengan kehidupan orang lain sehingga memunculkan rasa iri, minder, hingga tidak percaya diri.

Melalui refleksi ini, siswa belajar bahwa ukuran kebahagiaan bukanlah jumlah “like” ataupun pengikut, melainkan rasa syukur atas nikmat yang Allah berikan.

infografis jadi calon pemimpin muslim yang cerdas digital yuk

Dunia Maya Memiliki Jejak yang Sulit Dihapus

Kelas semakin hidup ketika siswa mengikuti permainan Game Bisik Berantai.

Permainan tersebut menggambarkan bagaimana sebuah informasi dapat berubah ketika berpindah dari satu orang ke orang lain. Dari sini siswa memahami bahwa berita yang belum tentu benar dapat menyebar begitu cepat apabila tidak dilakukan pengecekan terlebih dahulu.

Selanjutnya, siswa diajak mengenali karakteristik dunia maya.

Internet bersifat cepat, global, mudah dimanipulasi, viral, bahkan jejak digitalnya sulit dihapus. Karena itulah setiap komentar, unggahan, maupun pesan harus dipikirkan dengan matang sebelum dibagikan kepada orang lain.

Bermain Sambil Belajar Menjadi Netizen yang Beradab

Belajar adab digital tidak dilakukan melalui ceramah panjang.

Marita mengajak siswa mengikuti berbagai permainan seperti Jempol Pintar dan Detektif Konten, yaitu aktivitas memilih apakah suatu unggahan termasuk perilaku yang baik atau tidak baik di media sosial. Melalui diskusi kelompok, siswa belajar memberikan alasan dan berpikir kritis terhadap berbagai situasi yang sering mereka temui di dunia digital.

Pendekatan ini membuat materi terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga lebih mudah dipahami dan diterapkan.

Adab Bermedia Sosial Dimulai dari Hal-Hal Sederhana

Siswa kemudian diajak menyusun kembali kebiasaan baik saat menggunakan media sosial.

Di antaranya adalah:

  • tidak mengejek atau menghina orang lain,
  • tidak membuka aib teman,
  • tidak menggunakan kata-kata kasar,
  • tidak menyebarkan hoaks,
  • tidak pamer secara berlebihan,
  • meminta izin sebelum mengunggah foto orang lain,
  • mengucapkan terima kasih,
  • menghargai perbedaan pendapat.

Selain itu, siswa juga belajar memilih konten yang layak dikonsumsi dengan metode THINK, BAIK dan lima prinsip cerdas berinternet.

adab bermedia sosialsiap berinternet baik5 prinsip cerdas berinternet

Mereka diajak memeriksa sumber informasi, memilih konten edukatif, serta menghindari tayangan yang mengandung kekerasan, kebencian, maupun hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Menjadi Generasi Digital yang Beradab

Sebagai penutup, seluruh siswa bersama-sama mengucapkan Ikrar Calon Pemimpin Muslim Cerdas Digital.

Mereka berkomitmen menggunakan gawai secara bijak, menjaga lisan meskipun melalui tulisan, memilih konten yang bermanfaat, tidak membandingkan diri dengan orang lain di media sosial, serta berharap Allah SWT menjadikan mereka anak yang beradab, berilmu, dan membawa manfaat bagi sesama.

Komitmen tersebut selaras dengan visi SD Islam Bintang Juara sebagai Sekolah Calon Pemimpin Muslim. Sekolah percaya bahwa kepemimpinan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual, tetapi juga oleh karakter, adab, serta kemampuan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

Di tengah derasnya arus informasi digital, anak-anak membutuhkan bekal yang lebih dari sekadar kemampuan mengoperasikan gawai. Mereka membutuhkan kompas moral agar mampu memilih yang benar, berkata santun, menghargai orang lain, dan menghadirkan manfaat melalui teknologi.

Karena pada akhirnya, dunia digital bukan sekadar tempat untuk menunjukkan siapa diri kita, tetapi ruang untuk membuktikan nilai-nilai yang kita pegang.

Dan sebagaimana pesan yang terus diingat oleh seluruh peserta hari itu, calon pemimpin muslim yang hebat bukanlah yang paling viral, melainkan yang paling baik adabnya.*** (CM-MRT)