Pagi itu, Selasa, 20 Januari 2026, suasana SD Islam Bintang Juara terasa berbeda. Ada ketenangan yang menyelimuti, namun juga semangat yang hidup di wajah kakak shalih-shalihah. Hari itu bukan sekadar hari belajar biasa, melainkan hari perenungan dan penguatan iman melalui Peringatan Hari Besar Islam Isra’ Mi’raj.
Dengan mengusung tema “Isra’ Mi’raj: Menanamkan Cinta Shalat Sejak Dini”, SD Islam Bintang Juara mengajak seluruh siswa untuk kembali menelusuri peristiwa agung yang menjadi tonggak utama kewajiban shalat. Sebuah peristiwa luar biasa yang bukan hanya layak dikenang, tetapi juga dihidupkan maknanya dalam keseharian anak-anak.
Karena sejak awal, sekolah meyakini satu hal penting:
shalat bukan hanya kewajiban, melainkan kebutuhan jiwa—dan cinta pada shalat perlu ditanamkan sedini mungkin, dengan cara yang tepat dan menggembirakan.
Contents
Isra’ Mi’raj: Peristiwa Langit yang Mengubah Kehidupan Umat
Isra’ Mi’raj adalah peristiwa agung dalam sejarah Islam. Dalam satu malam, Rasulullah ﷺ melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa (Isra’), lalu dilanjutkan naik menembus lapisan langit hingga Sidratul Muntaha (Mi’raj). Dari peristiwa inilah Allah ﷻ menghadiahkan shalat lima waktu sebagai ibadah utama umat Islam.
Berbeda dengan ibadah lain yang disampaikan melalui wahyu di bumi, shalat diberikan langsung oleh Allah kepada Rasul-Nya di langit. Ini menjadi isyarat kuat bahwa shalat memiliki kedudukan istimewa—sebagai penghubung langsung antara hamba dan Rabb-nya.
Makna inilah yang ingin ditanamkan kepada kakak shalih-shalihah: bahwa shalat bukan sekadar rutinitas, apalagi beban, tetapi hadiah penuh cinta dari Allah.
Belajar Shalat Sesuai Tahap Perkembangan Anak
Dalam peringatan Isra’ Mi’raj tahun ini, SD Islam Bintang Juara merancang rangkaian kegiatan yang disesuaikan dengan tahap perkembangan dan kebutuhan belajar setiap jenjang kelas. Anak-anak tidak hanya mendengar ceramah, tetapi diajak terlibat aktif—mendengar, mempraktikkan, berdiskusi, dan merefleksi.
Setiap jenjang memiliki pendekatan yang berbeda, namun tujuannya sama:
membangun pemahaman yang benar dan cinta yang tumbuh dari kesadaran, bukan paksaan.
Kelas 1 dan 2: Berkisah, Meniru, dan Menumbuhkan Kebiasaan
Untuk kakak shalih-shalihah kelas 1 dan 2, kegiatan diawali dengan berkisah bersama Pak Solekan Al Hafidz. Dengan gaya tutur yang hangat dan bahasa yang dekat dengan dunia anak, Pak Solekan membawa anak-anak masuk ke dalam kisah Isra’ Mi’raj.
Bukan kisah yang rumit, melainkan cerita yang penuh imajinasi dan makna. Anak-anak diajak membayangkan perjalanan Rasulullah ﷺ, langit yang luas, dan betapa istimewanya shalat yang Allah perintahkan langsung.
Dari kisah tersebut, anak-anak mulai memahami bahwa:
- shalat adalah perintah Allah,
- shalat adalah bentuk cinta kepada Allah,
- dan shalat perlu dilakukan dengan cara yang baik dan benar.
Setelah sesi berkisah, kegiatan dilanjutkan dengan pembekalan adab berwudhu dan tata cara shalat. Anak-anak diajak meniru gerakan, memperhatikan urutan, serta mengenal sikap-sikap sederhana dalam shalat, seperti berdiri rapi, tertib, dan tenang.
Di usia ini, belajar shalat bukan tentang sempurna, melainkan tentang membiasakan. Anak belajar melalui meniru, mengulang, dan merasakan bahwa shalat adalah aktivitas yang menyenangkan dan bermakna.
Kelas 3 dan 4: Aku Bisa Shalat dengan Benar
Berbeda dengan kelas bawah, kakak shalih-shalihah kelas 3 dan 4 mulai memasuki fase berpikir lebih sistematis. Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan pun lebih reflektif dan partisipatif.
Dipandu oleh Pak Zakki Akmal Al Hafidz, kegiatan diawali dengan pemaparan materi bertema “Aku Bisa Shalat dengan Benar”. Anak-anak diajak memahami kembali:
- rukun shalat,
- urutan gerakan,
- serta hal-hal yang perlu diperhatikan agar shalat sah sesuai syariat.
Yang menarik, setelah pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan simulasi shalat dan penilaian teman sebaya. Anak-anak saling bergantian menjadi pelaku dan pengamat. Dengan panduan yang jelas, mereka belajar mengamati apakah shalat temannya sudah sesuai atau belum.
Melalui kegiatan ini, anak-anak tidak hanya belajar dari guru, tetapi juga:
- belajar mengamati,
- belajar memberi masukan dengan santun,
- dan belajar menerima koreksi dengan lapang dada.
Inilah proses penting dalam pembelajaran: belajar bersama, bukan saling menghakimi.
Kelas 5 dan 6: Mengapa Kita Harus Shalat?
Memasuki kelas 5 dan 6, anak-anak mulai memiliki kemampuan berpikir kritis dan reflektif. Mereka tidak lagi cukup hanya tahu “bagaimana”, tetapi juga mulai bertanya “mengapa”.
Untuk itu, SD Islam Bintang Juara menghadirkan sesi Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Mengapa Kita Harus Shalat?”, dipandu oleh Pak Ali As’ad Al Hafidz.
Dalam sesi ini, anak-anak dibagi ke dalam kelompok kecil. Masing-masing kelompok diminta mengambil kertas berisi studi kasus yang berkaitan dengan shalat dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu contoh kasus yang dibahas:
“Jika sedang shalat, ada cicak yang buang kotoran di bahu kita, apakah batal shalat kita?”
Melalui diskusi ini, anak-anak diajak berpikir, berdiskusi, dan menyampaikan pendapat berdasarkan pemahaman yang mereka miliki. Setelah itu, Pak Ali memberikan penjelasan yang meluruskan pemahaman, sekaligus mencontohkan gerakan shalat yang tuma’ninah—tenang, tidak tergesa-gesa, dan penuh kesadaran.
Di sinilah anak-anak belajar bahwa shalat bukan sekadar gerakan fisik, tetapi ibadah yang menuntut kehadiran hati.
Refleksi Bersama: Menilai dan Memperbaiki Kualitas Shalat
Setelah seluruh rangkaian kegiatan per jenjang selesai, kegiatan dilanjutkan dengan penilaian praktik shalat secara individu untuk semua kelas. Penilaian ini bukan untuk mencari kesalahan, melainkan sebagai sarana refleksi.
Anak-anak diajak:
- mengingat kembali apa yang telah dipelajari,
- memperbaiki gerakan yang masih keliru,
- dan menyadari bahwa kualitas shalat bisa terus ditingkatkan.
Refleksi ini menjadi penutup yang kuat, karena anak-anak tidak hanya pulang membawa cerita tentang Isra’ Mi’raj, tetapi juga kesadaran untuk memperbaiki shalat dalam keseharian.
Menanamkan Makna: Shalat adalah Kebutuhan, Bukan Sekadar Kewajiban
Dari seluruh rangkaian kegiatan, satu pesan utama terus dikuatkan:
shalat bukan hanya kewajiban, tetapi kebutuhan.
Shalat adalah:
- tempat mengadu,
- ruang menenangkan diri,
- dan sarana mendekatkan hati kepada Allah.
Sebagaimana nasihat yang sering kita dengar dan kembali digaungkan dalam kegiatan ini:
“Perbaiki shalatmu, maka Allah SWT akan memperbaiki hidupmu.”
Pesan ini tidak hanya ditujukan kepada anak-anak, tetapi juga menjadi pengingat bagi seluruh orang dewasa yang membersamai mereka.
Penutup: Menumbuhkan Cinta Shalat sebagai Bekal Kehidupan
Peringatan Isra’ Mi’raj di SD Islam Bintang Juara bukan sekadar kegiatan seremonial. Ia adalah proses pendidikan yang dirancang untuk menyentuh akal, hati, dan kebiasaan anak.
Melalui kisah, praktik, diskusi, dan refleksi, kakak shalih-shalihah belajar bahwa shalat adalah bagian penting dari kehidupan seorang muslim. Bukan karena takut dimarahi, tetapi karena cinta yang tumbuh dari pemahaman.
Semoga dari kegiatan ini, tumbuh generasi yang:
- mengenal shalat sejak dini,
- mencintai shalat dengan sadar,
- dan menjadikan shalat sebagai penopang hidupnya di masa depan.
Karena ketika shalat sudah tertanam di hati anak, insyaAllah ia akan menjadi cahaya yang menuntun langkah mereka ke mana pun mereka pergi.*** (CM-MRT)