Belajar tidak selalu harus duduk rapi sambil membuka buku. Terkadang, belajar justru paling bermakna saat anak bergerak, mendengar, mencoba, dan merasakan langsung. Inilah yang dirasakan kakak shalih–shalihah Kelas 1A SD Islam Bintang Juara dalam kegiatan BBOT (Bintang Juara Bersama Orang Tua) yang berlangsung pada Jumat, 6 Februari 2026.
Hari itu, suasana kelas 1A terasa berbeda. Bukan suara pensil atau halaman buku yang terdengar, melainkan bunyi tak… dum… tap… yang berpadu ceria. Ya, kakak shalih–shalihah sedang belajar ritme musik bersama Ayah Eka, Ayah dari Kak Hiro, yang hadir sebagai narasumber kegiatan BBOT.
Contents
- 1 Mengenal Ritme Lewat Alat Musik Sungguhan
- 2 Belajar Musik Bisa dari Apa Saja di Sekitar Kita
- 3 Saatnya Praktik dan Bekerja Sama dalam Kelompok
- 4 Momen Spesial: Mengiringi Mars Sekolah Islam Bintang Juara
- 5 Belajar Seni, Menumbuhkan Karakter
- 6 Orang Tua sebagai Inspirasi di Ruang Kelas
- 7 Belajar yang Berbunyi, Bergerak, dan Bermakna
Mengenal Ritme Lewat Alat Musik Sungguhan
Sejak awal kegiatan, antusiasme kakak shalih–shalihah sudah terlihat. Ayah Eka datang membawa beberapa alat musik sederhana namun menarik perhatian: stik drum, tamborine, dan wave drum. Satu per satu alat diperkenalkan sambil menunjukkan cara memainkannya.
Kakak shalih–shalihah mendengarkan dengan penuh rasa ingin tahu. Mereka belajar bahwa ritme adalah pola bunyi yang teratur, yang membuat musik terdengar hidup dan menyenangkan. Bukan sekadar bunyi keras atau pelan, tapi ada aturan, tempo, dan kekompakan di dalamnya.
Anak-anak pun diajak mencoba secara bergantian. Ada yang masih ragu-ragu memukul stik drum, ada pula yang langsung percaya diri mengikuti ketukan. Semua proses ini menjadi bagian penting dari belajar—tidak harus sempurna, yang penting berani mencoba.
Belajar Musik Bisa dari Apa Saja di Sekitar Kita
Yang membuat kegiatan ini semakin seru adalah saat Ayah Eka mengajak kakak shalih–shalihah berpikir kreatif. Ia menjelaskan bahwa untuk menghasilkan ritme, tidak harus selalu menggunakan alat musik mahal atau khusus.
“Benda di sekitar kita juga bisa jadi alat musik,” ujar Ayah Eka.
Tak lama kemudian, sebuah galon air pun dijadikan contoh. Ketika dipukul dengan pola tertentu, galon menghasilkan bunyi yang unik dan menarik. Kakak shalih–shalihah pun terkejut sekaligus kagum. Ternyata, benda sehari-hari pun bisa menjadi sumber bunyi dan ritme.
Dari sini, anak-anak belajar bahwa kreativitas bisa lahir dari hal sederhana. Musik tidak terbatas di panggung besar, tetapi bisa hadir di kelas, di rumah, bahkan dari benda yang sering mereka temui.
Saatnya Praktik dan Bekerja Sama dalam Kelompok
Setelah mengenal ritme dan berbagai sumber bunyi, tibalah saat yang paling ditunggu: praktik bersama kelompok. Kakak shalih–shalihah dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil. Setiap kelompok mendapat alat-alat yang tersedia—baik alat musik maupun benda sekitar.
Tantangannya bukan sekadar menghasilkan bunyi, tetapi menciptakan ritme yang indah dan selaras. Dengan arahan Ayah Eka dan pendampingan guru, kakak shalih–shalihah mulai berlatih memainkan ritme secara bergantian dan bersama-sama.
Proses ini melatih banyak hal sekaligus. Anak-anak belajar mendengarkan teman, menunggu giliran, menjaga tempo, dan bekerja sama. Mereka menyadari bahwa ritme yang bagus tidak bisa dihasilkan sendiri, melainkan perlu kekompakan.
Momen Spesial: Mengiringi Mars Sekolah Islam Bintang Juara
Puncak kegiatan BBOT hari itu terasa sangat istimewa. Setelah cukup berlatih, kakak shalih–shalihah diajak memainkan ritme untuk mengiringi Mars Sekolah Islam Bintang Juara.
Nada mars yang sudah familiar kini terdengar berbeda—lebih hidup, lebih bersemangat, karena diiringi oleh ritme hasil karya tangan-tangan kecil penuh percaya diri. Wajah kakak shalih–shalihah tampak berbinar saat mereka menyadari bahwa bunyi yang mereka hasilkan bisa berpadu menjadi musik yang indah.
Momen ini bukan hanya tentang musik, tetapi juga tentang rasa bangga. Bangga karena bisa berkontribusi, bangga karena bisa berkarya bersama teman-teman.
Belajar Seni, Menumbuhkan Karakter
Melalui kegiatan BBOT Kelas 1A ini, pembelajaran seni musik tidak berhenti pada pengenalan alat atau ritme semata. Lebih dari itu, kakak shalih–shalihah belajar nilai-nilai penting seperti keberanian mencoba, kerja sama, disiplin, dan kreativitas.
Belajar ritme juga membantu anak melatih konsentrasi dan koordinasi. Mereka belajar bahwa setiap bunyi memiliki waktu yang tepat untuk dimainkan. Semua ini menjadi bekal penting dalam tumbuh kembang anak, baik secara akademik maupun karakter.
Orang Tua sebagai Inspirasi di Ruang Kelas
Kehadiran Ayah Eka sebagai orang tua dalam kegiatan BBOT kembali menegaskan bahwa pendidikan adalah hasil kolaborasi antara sekolah dan keluarga. Anak-anak melihat langsung bahwa orang tua juga bisa menjadi sumber ilmu dan inspirasi.
Interaksi hangat antara Ayah Eka dan kakak shalih–shalihah menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan penuh kedekatan. Anak-anak merasa dihargai, didukung, dan semakin termotivasi untuk belajar.
Belajar yang Berbunyi, Bergerak, dan Bermakna
Kegiatan BBOT Kelas 1A: Belajar Ritme bersama Ayah Eka menjadi bukti bahwa belajar bisa hadir dalam bentuk yang menyenangkan tanpa kehilangan makna. Musik menjadi jembatan untuk mengenalkan ritme, kerja sama, dan kreativitas sejak dini.
Di SD Islam Bintang Juara, setiap pembelajaran dirancang untuk menyentuh akal dan hati. Karena ketika anak belajar dengan gembira, maka pengalaman itu akan tinggal lebih lama dalam ingatan.
Dan hari itu, melalui bunyi stik drum, tamborine, wave drum, bahkan galon air, kakak shalih–shalihah Kelas 1A belajar satu hal penting:
belajar bisa berbunyi, bergerak, dan sangat menyenangkan.***