Langkah-langkah kecil itu berjalan perlahan memasuki ruangan. Wajah-wajah penuh harap tampak dari para kakak shalih dan shalihah yang hari itu mengenakan pakaian serba putih dengan selempang istimewa berwarna hitam dengan hiasan emas bertuliskan “Khotmil Quran SD Islam Bintang Juara”. Di belakangnya, lantunan rebana dari tim Rebana An Najma Senior mengiringi suasana menjadi semakin khidmat.
Bukan sekadar acara seremonial. Bukan hanya tentang tampil di depan panggung. Tetapi tentang perjalanan panjang yang penuh air mata, murojaah, rasa lelah, semangat, dan doa-doa yang diam-diam dipanjatkan orang tua setiap malam.
Itulah suasana Puncak Tasmi’ SD Islam Bintang Juara Tahun Pelajaran 2025–2026.
Tahun ini, sebanyak 15 kakak shalih dan 15 kakak shalihah berhasil mencapai tahap Puncak Tasmi’. Namun satu kakak shalihah terpaksa belum bisa bergabung karena sedang sakit tifus. Meski demikian, semangat dan doa tetap mengalir untuk kesembuhannya.
Karena dalam perjalanan menghafal Al-Qur’an, setiap proses memiliki nilai perjuangan yang besar.
Puncak Tasmi’ Dibuka dengan Lantunan yang Menenangkan Hati
Kegiatan dimulai dengan pembukaan oleh dua MC, Bu Shilvi dan Bu Ulya, yang menyambut para tamu undangan, guru, dan orang tua dengan hangat.
Acara kemudian dilanjutkan dengan tilawah dan sari tilawah Surat Al-Muzammil yang dibacakan oleh Bu Ulfa. Ayat demi ayat yang dilantunkan seakan menjadi pengingat bahwa Al-Qur’an bukan sekadar untuk dihafal, tetapi juga untuk dicintai dan dijaga sepanjang hayat.
Tak lama kemudian, peserta Puncak Tasmi’ memasuki ruangan dengan penuh percaya diri. Iringan rebana membuat suasana terasa syahdu. Banyak ayah bunda tampak mengabadikan momen itu sambil menahan haru.
Prosesi Khotmil Quran yang Menggetarkan
Salah satu momen paling bermakna dalam kegiatan ini adalah prosesi Khotmil Quran.
Dipimpin oleh Pak Ali, kegiatan diawali dengan pembacaan hadhoroh, kemudian seluruh peserta bersama-sama membaca Surat Ad-Dhuha hingga An-Naas. Suara anak-anak yang membaca ayat suci Al-Qur’an secara serempak membuat ruangan terasa begitu menenangkan.
Tak sedikit orang tua yang tampak menundukkan kepala sambil menyeka air mata. Karena bagi banyak ayah bunda, mendengar anaknya membaca Al-Qur’an dengan lancar adalah hadiah yang tidak bisa diukur dengan apa pun.
Prosesi kemudian ditutup dengan doa khotmil Quran yang dipimpin oleh Pak Ali. Dalam doa tersebut, dipanjatkan harapan agar anak-anak senantiasa dijaga hatinya, dimudahkan menjaga hafalan, serta tumbuh menjadi generasi pecinta Al-Qur’an.
Sambung Ayat yang Menegangkan Sekaligus Membanggakan
Suasana yang awalnya haru berubah menjadi penuh antusias ketika memasuki sesi sambung ayat.
Panitia telah menyiapkan lintingan berisi potongan ayat Al-Qur’an. Tamu undangan dan orang tua diminta mengambil salah satu lintingan, lalu membacakan ayat tersebut. Setelah itu, peserta yang mampu melanjutkan ayat diminta mengangkat tangan dan meneruskan hingga lima ayat berikutnya.
Ruangan mendadak penuh semangat. Beberapa peserta mengangkat tangan dengan cepat. Ada yang tampak berpikir sejenak sebelum melanjutkan ayat. Ada pula yang dengan mantap menyambung tanpa ragu. Momen ini menjadi bukti bahwa hafalan Al-Qur’an bukan hanya hasil sekali dua kali belajar. Dibutuhkan murojaah, disiplin, dan pembiasaan setiap hari.
Di balik keberanian anak-anak itu, ada perjuangan panjang yang sering kali tidak terlihat. Ada waktu bermain yang dikurangi untuk murojaah. Ada rasa malas yang harus dilawan. Ada ayah bunda dan guru yang terus mendampingi dengan sabar.
Sungkeman yang Membuat Banyak Mata Berkaca-Kaca
Namun puncak keharuan benar-benar terasa ketika memasuki sesi sungkeman.
Satu per satu peserta turun dari panggung menuju tempat duduk orang tua mereka. Anak-anak itu lalu bersimpuh, menyalami tangan ayah dan bunda, meminta doa restu, lalu dipeluk erat.
Beberapa anak tampak menangis. Orang tua pun tak kuasa menahan haru. Pelukan itu terasa lebih dari sekadar ucapan selamat. Ada rasa syukur. Ada rasa bangga. Ada doa-doa yang tidak terucap lewat kata-kata.
Momen sungkeman ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan anak menghafal Al-Qur’an tidak pernah lahir dari perjuangan anak saja. Di belakangnya ada keluarga yang ikut bertumbuh bersama proses itu.
Karena sesungguhnya menghafal Al-Qur’an bukan perjalanan singkat. Ia adalah perjalanan hati.
Bagi Ayah Bunda yang terlewat menonton live Puncak Tasmi, masih bisa menyimaknya pada link berikut:
Tasmi’ Bukan Akhir, Tetapi Awal Perjalanan
Dalam sesi pesan-pesan bermakna, Kepala SD Islam Bintang Juara, Nur Shofwatin Ni’mah, S.Pd., Gr., menyampaikan bahwa Puncak Tasmi’ bukanlah garis akhir. Justru inilah awal perjalanan anak-anak untuk menjaga kedekatan dengan Al-Qur’an. Beliau mengingatkan bahwa tantangan terbesar bukan saat menghafal, tetapi saat menjaga hafalan agar tetap hidup dalam keseharian.
Senada dengan itu, Ketua Yayasan Dewi Sartika, Dyah Indah Noviyani, S.Psi., M.Psi., Psikolog, juga menegaskan pentingnya peran orang tua dalam mendampingi anak menjaga hafalan.
Anak-anak tetap membutuhkan suasana rumah yang dekat dengan Al-Qur’an. Tetap membutuhkan teladan. Tetap membutuhkan apresiasi. Dan tetap membutuhkan orang tua yang membersamai proses mereka.
Sementara itu, Dewan Pembina Yayasan Dewi Sartika, Prof. Dr. Hj. Esmi Warassih Puji Rahayu, S.H., M.S., menyampaikan bahwa nikmat Al-Qur’an adalah nikmat besar yang harus disyukuri. Beliau berharap anak-anak tidak hanya menjadi penghafal, tetapi juga tumbuh dengan adab, akhlak, dan kecintaan terhadap isi Al-Qur’an.
Ketiga tokoh tersebut memiliki benang merah pesan yang sama:
Tasmi’ bukan akhir perjalanan.
Tasmi’ adalah awal anak belajar mencintai Al-Qur’an sepanjang hidupnya.
Kisah Jatuh Bangun Ahmad Nadhif Ar Rayyan
Salah satu bagian paling menginspirasi dalam kegiatan ini datang dari perwakilan peserta Puncak Tasmi’, Ahmad Nadhif Ar Rayyan (Kelas 6).
Dengan suara tenang, Nadhif menceritakan bahwa dirinya pernah gagal mengikuti Puncak Tasmi’ pada tahun sebelumnya. Saat itu ia merasa sedih. Kecewa. Bahkan sempat merasa tidak percaya diri.
Namun dari kegagalan itu, Nadhif memilih belajar memperbaiki prosesnya. Ia mulai membuat jurnal harian hafalan Al-Qur’an. Menata jadwal murojaah. Mencatat target hafalan setiap hari.
Dan perlahan, kebiasaan kecil itu membantunya lebih disiplin menjaga hafalan. Hingga akhirnya tahun ini, ia berhasil lulus tasmi’ dan berdiri di panggung Puncak Tasmi’.
Kisah Nadhif menjadi pengingat berharga bagi anak-anak bahwa kegagalan bukan alasan untuk berhenti. Kadang Allah sedang mengajarkan proses bertumbuh yang lebih kuat.
Pesan Orang Tua: Jaga Adab Bersama Al-Qur’an
Acara kemudian ditutup dengan pesan dari perwakilan orang tua peserta yang diwakili oleh orang tua Kak Hasna. Dengan penuh rasa syukur, beliau menyampaikan terima kasih kepada seluruh guru yang telah mendampingi proses anak-anak selama ini.
Beliau juga mengingatkan bahwa menjaga adab sama pentingnya dengan menjaga hafalan. Karena Al-Qur’an tidak hanya dihafal oleh lisan, tetapi juga harus tercermin dalam sikap dan perilaku sehari-hari.
Pesan itu terasa begitu dalam. Sebab tujuan utama pendidikan Al-Qur’an bukan sekadar banyaknya hafalan, melainkan bagaimana Al-Qur’an hidup dalam akhlak anak-anak.
Menghafal Al-Qur’an adalah Perjalanan yang Harus Dijaga Bersama
Puncak Tasmi’ SD Islam Bintang Juara tahun ini bukan hanya meninggalkan dokumentasi indah. Tetapi juga meninggalkan pelajaran berharga tentang kesabaran, proses, dan cinta terhadap Al-Qur’an.
Di tengah dunia yang semakin sibuk dan penuh distraksi, anak-anak ini belajar menyediakan ruang dalam hatinya untuk Al-Qur’an. Dan itu bukan sesuatu yang mudah. Karena itulah mereka membutuhkan rumah yang mendukung. Guru yang membersamai. Dan orang tua yang terus menguatkan langkah mereka.
Semoga Puncak Tasmi’ ini menjadi awal perjalanan panjang bagi kakak shalih dan shalihah untuk terus menjaga hafalan, memperbaiki adab, dan tumbuh menjadi generasi yang dekat dengan Al-Qur’an. Karena sejatinya, Al-Qur’an bukan hanya untuk dihafal. Tetapi untuk dijaga, dicintai, dan diamalkan sepanjang kehidupan.*** (CM-MRT)
Suasana Kelas 5 SD Islam Bintang Juara pagi itu terasa berbeda. Anak-anak tampak antusias sejak awal kegiatan dimulai. Di depan kelas, laptop sudah disiapkan, beberapa alat tulis tertata rapi, dan wajah-wajah penuh rasa penasaran mulai memenuhi ruangan.
Hari itu, kakak shalih-shalihah Kelas 5 mengikuti kegiatan BBOT (Belajar Bersama Orang Tua) bersama Ayah Aji Purwinarko, ayah dari Kak Satria.
Bukan narasumber biasa. Ayah Aji merupakan dosen Program Studi Teknik Informatika FMIPA UNNES, peneliti sekaligus praktisi di bidang pengembangan teknologi pendidikan berbasis Artificial Intelligence (AI), dan saat ini sedang melanjutkan studi doktoral (S3) di Universitas Gadjah Mada.
Dengan tema “Aku Anak Cerdas Digital”, kegiatan ini mengajak anak-anak memahami bagaimana menggunakan teknologi dengan aman, sopan, dan bijaksana.
Karena di zaman sekarang, kemampuan menggunakan teknologi bukan lagi sekadar tambahan. Tetapi sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak-anak. Namun yang lebih penting, anak-anak perlu belajar menjadi pengguna teknologi yang cerdas, bukan sekadar pengguna yang pasif.
Anak Cerdas Digital Itu Seperti Apa?
Di awal kegiatan, Ayah Aji mengajak anak-anak berdiskusi ringan tentang kehidupan digital mereka sehari-hari.
Siapa yang suka menonton YouTube?
Siapa yang pernah menggunakan AI?
Siapa yang pernah mencari informasi lewat internet?
Hampir semua tangan terangkat.
Anak-anak memang hidup di era yang sangat dekat dengan teknologi. Namun Ayah Aji mengingatkan bahwa menjadi anak cerdas digital bukan berarti sekadar pintar mengetik, cepat menggunakan gadget, atau tahu banyak aplikasi.
Anak cerdas digital adalah anak yang mampu menggunakan teknologi dengan aman, sopan, bertanggung jawab, dan bijaksana.
Mereka tahu mana informasi yang baik.
Tahu bagaimana berkomunikasi dengan benar.
Dan tahu kapan teknologi digunakan untuk belajar, bukan sekadar hiburan.
Belajar Jadi Robot dan Programmer
Kegiatan semakin seru ketika anak-anak diajak praktik menjadi robot dan programmer. Dalam permainan ini, beberapa anak berperan sebagai “robot”, sementara yang lain menjadi “programmer”.
Tugas programmer adalah memberikan instruksi yang jelas dan berurutan agar robot dapat menyelesaikan tugas dengan benar. Awalnya suasana langsung ramai dengan tawa.
Ada robot yang salah jalan. Ada yang berhenti karena instruksinya tidak jelas. Ada pula yang justru melakukan hal lucu karena perintah yang diberikan terlalu ambigu.
Dari permainan sederhana itu, anak-anak belajar tentang algoritma. Ayah Aji menjelaskan bahwa komputer bekerja berdasarkan instruksi yang runtut dan jelas. Jika perintahnya salah atau tidak lengkap, maka hasilnya juga tidak sesuai.
Di sinilah anak-anak mulai memahami bahwa kecerdasan digital bukan hanya tentang bisa menggunakan teknologi. Tetapi juga tentang kemampuan berpikir runtut, logis, dan teliti.
“Anak cerdas digital bukan sekadar bisa ngetik,” jelas Ayah Aji. “Tapi mampu memberikan perintah yang urut, tepat, dan benar.”
Belajar Cerdas Digital dengan Aplikasi Buatan Ayah Aji
Kegiatan selanjutnya makin menarik. Ayah Aji telah mempersiapkan aplikasi istimewa untuk mengenalkan kakak-kakak tentang cerdas digital dengan cara yang interaktif. Ada empat misi di dalamnya:
Misi 1: Mengurutkan Algoritma
Setelah memahami konsep dasar algoritma melalui permainan, anak-anak melanjutkan ke Misi 1: Mengurutkan Algoritma. Dalam tantangan ini, setiap kelompok diminta menyusun langkah-langkah suatu aktivitas secara berurutan.
Kegiatan ini melatih anak-anak untuk berpikir sistematis dan memahami bahwa teknologi bekerja berdasarkan pola yang terstruktur. Tanpa disadari, kemampuan seperti ini juga sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Karena berpikir runtut membantu anak belajar menyelesaikan masalah dengan lebih baik.
Misi 2: Menjadi Detektif Pesan Digital
Suasana semakin menantang saat masuk ke Misi 2: Detektif Pesan Digital. Pada sesi ini, anak-anak diminta memilih mana pesan digital yang aman, mencurigakan, atau berbahaya.
Beberapa contoh pesan yang diberikan ternyata cukup mirip dengan situasi nyata yang sering ditemui anak-anak di internet. Kakak belajar untuk mewaspadai bila ada pesan dari orang tidak dikenal, adanya tautan mencurigakan, serta pesan yang tampak ramah tetapi sebenarnya berpotensi membahayakan.
Anak-anak terlihat serius berdiskusi bersama kelompoknya. Mereka mulai memahami bahwa dunia digital tidak selalu aman.
Karena itu, penting bagi anak-anak untuk berhati-hati sebelum membalas pesan, membagikan informasi pribadi, atau membuka tautan tertentu. Kegiatan ini menjadi latihan penting agar anak-anak memiliki kesadaran digital sejak dini.
Misi 3: AI Teman Belajar atau Jalan Pintas?
Salah satu sesi yang paling menarik adalah Misi 3 tentang penggunaan Artificial Intelligence (AI).
Di era sekarang, banyak anak mulai mengenal AI untuk mencari jawaban, membuat gambar, hingga membantu mengerjakan tugas. Namun Ayah Aji mengajak anak-anak memahami bahwa AI harus digunakan dengan bijak.
Anak-anak diminta memilih aktivitas mana yang boleh dilakukan menggunakan AI, mana yang tidak boleh, dan mana yang harus didampingi orang tua atau guru.
Diskusi pun berlangsung seru. Ada yang berpendapat apakah AI boleh membantu mencari ide cerita. Di lain sisi, ada yang memberikan pendapat tentang penggunaan AI untuk tugas sekolah. Ada pula yang mulai memahami bahwa AI seharusnya menjadi teman belajar, bukan jalan pintas untuk menghindari proses berpikir.
Ayah Aji menjelaskan bahwa teknologi seharusnya membantu manusia berkembang, bukan membuat manusia malas berpikir. Karena itu, anak-anak perlu tetap belajar memahami proses, bukan hanya mengejar hasil instan.
Misi 4: Membuat Poster Janji Digital
Sebagai penutup, anak-anak mendapatkan Misi 4: Membuat Poster Janji Digital.
Sebelum membuat poster di atas kertas, setiap kelompok terlebih dahulu menuliskan ide dan rancangan menggunakan laptop. Setelah itu, rancangan tersebut diwujudkan menjadi poster kreatif yang penuh warna dan pesan positif.
Isi poster pun beragam. Ada yang menulis janji untuk menggunakan gadget seperlunya. Ada yang mengingatkan pentingnya sopan santun saat bermain internet. Ada pula yang menuliskan ajakan menggunakan teknologi untuk belajar dan berkarya.
Kegiatan ini bukan hanya melatih kreativitas anak, tetapi juga membantu mereka merefleksikan bagaimana seharusnya bersikap di dunia digital.
Kelompok tercepat dan paling kompak mendapatkan apresiasi khusus dari Ayah Aji. Namun lebih dari sekadar hadiah, seluruh anak sebenarnya sudah mendapatkan pengalaman belajar yang sangat berharga.
Teknologi Harus Diiringi Karakter
BBOT kali ini menjadi pengingat bahwa pendidikan digital tidak cukup hanya mengajarkan anak cara menggunakan teknologi. Yang jauh lebih penting adalah membentuk karakter mereka saat menggunakan teknologi tersebut.
Anak-anak perlu belajar tentang tanggung jawab.
Tentang keamanan digital.
Tentang etika berkomunikasi.
Dan tentang bagaimana tetap menjadi pribadi yang baik meskipun hidup di era serba digital.
Karena teknologi akan terus berkembang. AI akan semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Namun nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, dan kebijaksanaan tetap menjadi pondasi utama yang harus dimiliki anak-anak.
Belajar Teknologi dengan Cara Menyenangkan
Melalui kegiatan BBOT ini, anak-anak belajar bahwa teknologi bukan sesuatu yang harus ditakuti. Teknologi bisa menjadi alat yang sangat bermanfaat jika digunakan dengan benar. Dan belajar tentang dunia digital ternyata bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan, interaktif, dan dekat dengan kehidupan anak-anak sehari-hari.
Tawa yang terdengar selama permainan, diskusi kelompok yang seru, hingga poster-poster penuh warna menjadi bukti bahwa belajar tidak selalu harus membosankan. Semoga melalui kegiatan ini, kakak shalih-shalihah Kelas 5 semakin tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga memiliki adab dan tanggung jawab dalam menggunakannya.
Karena di masa depan nanti, dunia tidak hanya membutuhkan anak-anak yang pandai menggunakan teknologi. Tetapi juga anak-anak yang bijak saat memegangnya.*** (CM-MRT)
Pagi itu suasana SD Islam Bintang Juara terasa berbeda. Jumat, 8 Mei 2026, halaman sekolah dipenuhi wajah-wajah ceria kakak shalih-shalihah yang datang membawa semangat berkarya dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional atau Hardiknas.
Namun peringatan Hardiknas tahun ini tidak hanya diisi dengan lomba atau kegiatan seremonial biasa.SD Islam Bintang Juara menghadirkan tema yang sangat dekat dengan tantangan pendidikan masa kini:
“High Tech, High Manners for My Teacher.”
Sebuah tema sederhana, tetapi memiliki makna yang mendalam.
Di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat, anak-anak tidak hanya perlu tumbuh menjadi generasi yang cerdas secara akademik dan digital. Mereka juga perlu memiliki adab, empati, serta rasa hormat kepada guru dan orang-orang di sekitarnya.
Karena teknologi tanpa akhlak bisa kehilangan arah. Dan kecerdasan tanpa adab tidak akan membawa keberkahan.
Melalui kegiatan Hardiknas ini, seluruh siswa dari kelas 1 hingga kelas 6 diajak mengekspresikan rasa cinta dan penghormatan kepada guru melalui karya kreatif yang sesuai dengan jenjang usia mereka.
Hardiknas 2026 di SD Islam Bintang Juara: Ketika Pendidikan Tidak Hanya Tentang Nilai
Sejak pagi, suasana kelas dipenuhi antusiasme. Anak-anak terlihat sibuk mempersiapkan alat gambar, kertas warna, hingga ide-ide kreatif yang akan mereka tuangkan dalam karya masing-masing.
Ada yang berdiskusi dengan teman.
Ada yang mulai menggambar perlahan.
Ada pula yang terlihat berpikir serius menentukan pesan terbaik untuk gurunya.
Di balik kegiatan sederhana itu, sebenarnya ada proses pendidikan yang sedang tumbuh. Anak-anak belajar mengekspresikan rasa hormat. Belajar menuangkan pikiran dengan kreatif.
Dan belajar bahwa guru bukan sekadar orang yang mengajar di kelas, tetapi juga sosok yang membersamai proses tumbuh mereka setiap hari.
Kelas 1 dan 2: “Untuk Guruku: Karya dan Sikap Terbaikku”
Untuk kakak-kakak kelas 1 dan 2, kegiatan Hardiknas mengangkat tema “Untuk Guruku: Karya dan Sikap Terbaikku”.
Pada usia ini, anak-anak masih belajar memahami bagaimana cara menunjukkan kasih sayang dan penghormatan kepada guru melalui tindakan sederhana.
Ada yang membuat gambar penuh warna untuk gurunya.
Ada yang menuliskan pesan singkat penuh ketulusan.
Ada pula yang berusaha menunjukkan sikap terbaiknya sepanjang kegiatan berlangsung.
Beberapa anak tampak begitu serius menggambar sosok guru kesayangannya di depan kelas. Ada gambar guru dengan senyum lebar, ada yang menggambar dirinya sedang belajar bersama guru, bahkan ada yang menambahkan hati dan tulisan “Terima Kasih Guruku”.
Meski sederhana, karya-karya itu terasa sangat tulus. Karena bagi anak-anak usia awal sekolah dasar, cinta sering kali hadir lewat gambar, warna, dan tindakan kecil yang jujur dari hati mereka.
Melalui kegiatan ini, anak-anak belajar bahwa menghormati guru tidak hanya lewat ucapan, tetapi juga melalui sikap sehari-hari.
Kelas 3: “Poster Karyaku, Pesan Manis untuk Guruku”
Berbeda dengan kelas kecil, kakak-kakak kelas 3 mulai diajak menuangkan gagasan mereka melalui poster kreatif bertema “Poster Karyaku, Pesan Manis untuk Guruku”.
Kegiatan ini melatih anak-anak untuk menyampaikan pesan positif dengan lebih terstruktur dan komunikatif. Poster-poster yang dibuat pun beragam.
Ada yang menuliskan ajakan untuk menghormati guru.
Ada yang membuat ilustrasi tentang pentingnya sopan santun di sekolah.
Ada pula yang menuliskan pesan terima kasih kepada guru yang telah sabar membimbing mereka belajar.
Warna-warni poster memenuhi ruang kelas dengan suasana hangat dan penuh semangat. Menariknya, banyak anak mulai memahami bahwa guru bukan hanya mengajarkan pelajaran matematika atau bahasa Indonesia.
Tetapi juga mengajarkan kesabaran, kedisiplinan, hingga cara menjadi pribadi yang baik. Dan pemahaman seperti inilah yang menjadi pondasi penting dalam pendidikan karakter anak.
Kelas 4–6: “Komik Adab: The Heroic Student”
Sementara itu, kakak-kakak kelas 4 hingga 6 mendapatkan tantangan yang lebih kompleks dan kreatif melalui kegiatan “Komik Adab: The Heroic Student”.
Dalam kegiatan ini, siswa diminta membuat komik bertema adab dan perilaku baik seorang pelajar.
Suasana kelas terlihat begitu hidup. Anak-anak mulai berdiskusi menentukan alur cerita, tokoh, hingga pesan moral yang ingin disampaikan melalui komik mereka.
Ada yang membuat cerita tentang siswa yang membantu guru.
Ada yang mengangkat kisah tentang meminta maaf ketika berbuat salah.
Ada pula yang membuat cerita tentang pentingnya sopan santun terhadap teman dan guru di era digital.
Menariknya, banyak siswa mulai menghubungkan kehidupan sehari-hari mereka dengan tantangan zaman sekarang. Tentang bagaimana tetap menjaga adab meskipun teknologi semakin dekat.
Tentang bagaimana menjadi pelajar yang cerdas tanpa kehilangan rasa hormat kepada orang lain. Dan tentang bagaimana menjadi “heroic student” bukan karena paling hebat atau paling terkenal, tetapi karena memiliki akhlak yang baik.
High Tech Harus Diimbangi High Manners
Tema “High Tech, High Manners” terasa sangat relevan dengan kehidupan anak-anak hari ini.
Mereka hidup di era yang penuh teknologi.
Belajar menggunakan gadget.
Dekat dengan media sosial.
Cepat mendapatkan informasi dari internet.
Namun di tengah semua kemajuan itu, pendidikan adab tetap menjadi pondasi utama.
Melalui kegiatan Hardiknas ini, SD Islam Bintang Juara ingin menanamkan bahwa kemampuan teknologi harus berjalan seiring dengan kemampuan menjaga sikap dan akhlak.
Karena kecanggihan teknologi tidak akan bermakna tanpa hati yang baik. Anak-anak perlu belajar menggunakan teknologi untuk hal positif, sekaligus tetap menghormati guru, orang tua, dan sesama.
Pendidikan Karakter Dimulai dari Hal Sederhana
Kegiatan Hardiknas ini juga menjadi pengingat bahwa pendidikan karakter tidak selalu harus dilakukan melalui ceramah panjang. Kadang, nilai-nilai penting justru tumbuh lewat kegiatan sederhana yang menyenangkan.
Lewat gambar.
Lewat poster.
Lewat cerita komik.
Dan lewat interaksi kecil yang dilakukan anak-anak setiap hari.
Saat anak belajar membuat karya untuk guru, mereka sedang belajar menghargai. Saat anak menulis pesan baik, mereka sedang belajar empati. Dan saat anak membuat komik tentang adab, mereka sedang belajar memahami mana perilaku yang baik dan mana yang perlu diperbaiki.
Menjadi Generasi Cerdas dan Berakhlak
Menjelang kegiatan selesai, hasil karya anak-anak dipenuhi warna, kreativitas, dan pesan-pesan penuh makna.
Namun lebih dari sekadar hasil akhir, yang paling penting adalah proses yang mereka jalani selama kegiatan berlangsung.
Proses berpikir.
Proses merasakan.
Dan proses memahami bahwa pendidikan bukan hanya tentang nilai akademik.
Tetapi juga tentang bagaimana menjadi manusia yang beradab.
Melalui peringatan Hardiknas 2026 ini, SD Islam Bintang Juara terus berikhtiar menghadirkan pendidikan yang tidak hanya membentuk anak-anak cerdas, tetapi juga memiliki hati yang lembut, sikap yang baik, dan karakter yang kuat.
Karena di masa depan nanti, dunia bukan hanya membutuhkan generasi yang pintar menggunakan teknologi. Tetapi juga generasi yang tetap menjaga adab di tengah pesatnya perkembangan zaman.*** (CM-MRT)
Hari itu suasana berbeda terasa sejak pagi di SD Islam Bintang Juara. Kakak shalih-shalihah kelas 3 tampak begitu antusias. Ada yang sibuk memastikan topinya sudah dipakai, ada yang menggenggam botol minum erat-erat, dan ada pula yang tidak berhenti bertanya,
“Benarkah nanti bisa naik mobil evakuasi?”
Kamis, 7 Mei 2026 menjadi pengalaman belajar yang tidak biasa bagi kakak kelas 3. Melalui kegiatan Outing Class, mereka diajak mengunjungi Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Semarang yang berlokasi di Kompleks Terminal Penggaron, Kota Semarang.
Bukan sekadar jalan-jalan, outing class kali ini menjadi petualangan penuh ilmu tentang kebencanaan, keselamatan, dan bagaimana cara menyelamatkan diri saat bencana terjadi.
Kelas 3 Belajar Mitigasi Bencana Langsung Bersama Ahlinya
Sesampainya di lokasi BPBD, kakak shalih-shalihah disambut hangat oleh para petugas. Wajah penasaran langsung terlihat ketika mereka melihat berbagai kendaraan besar terparkir di area BPBD.
“Ini mobil apa?”
“Kalau banjir pakainya yang mana?”
“Kalau gempa bagaimana menyelamatkan orang?”
Pertanyaan demi pertanyaan terus bermunculan.
Kegiatan pertama dimulai dengan touring mengenal kendaraan dan alat-alat yang digunakan dalam proses evakuasi bencana. Kakak diajak melihat langsung:
Truk evakuasi
Jeep penyelamat
Kapal karet
Tenda darurat
Dapur umum bencana
Berbagai perlengkapan keselamatan lainnya
Tidak sedikit yang terpukau ketika melihat ukuran kendaraan evakuasi yang besar dan kokoh. Petugas BPBD menjelaskan bahwa setiap alat memiliki fungsi yang berbeda, tergantung jenis bencana yang terjadi.
Dari sini kakak mulai memahami bahwa penanganan bencana membutuhkan kerja sama banyak pihak dan peralatan yang tepat.
Merasakan Jadi Korban Evakuasi
Salah satu momen yang paling seru adalah ketika kakak diberi kesempatan naik truk evakuasi.
Dengan tertib, mereka naik satu per satu ke atas kendaraan. Sepanjang perjalanan singkat itu, kakak diajak membayangkan bagaimana situasi saat terjadi bencana.
Petugas menjelaskan bahwa kendaraan seperti ini digunakan untuk membantu masyarakat menuju tempat yang lebih aman saat banjir, longsor, atau kondisi darurat lainnya.
Meski dilakukan dalam suasana aman dan menyenangkan, pengalaman ini membuat kakak belajar berempati. Bahwa di luar sana, ada banyak orang yang benar-benar harus dievakuasi saat terjadi bencana.
Mengenal Risiko Bencana Kota Semarang
Kegiatan berikutnya berlangsung di ruang Pusdatin (Pusat Data dan Informasi). Di ruangan ini, kakak melihat peta besar Kota Semarang yang menunjukkan berbagai wilayah dengan risiko bencana tertentu.
Petugas menjelaskan:
Wilayah yang rawan banjir
Area yang memiliki potensi longsor
Daerah dengan risiko genangan air tinggi
Kakak tampak serius memperhatikan penjelasan tersebut.
Melalui kegiatan ini, mereka belajar tentang bentang alam Kota Semarang dan memahami bahwa kondisi geografis sangat memengaruhi risiko bencana di suatu wilayah.
Belajar jadi terasa lebih nyata karena tidak hanya membaca dari buku, tetapi melihat langsung data dan penjelasannya.
Belajar Evakuasi Diri dengan Benar
Setelah itu, kegiatan dilanjutkan di aula utama BPBD. Di sinilah kakak mendapatkan materi penting tentang mitigasi bencana dan evakuasi diri.
Petugas mengajak kakak berdiskusi:
“Apa yang harus dilakukan kalau terjadi gempa?”
“Kenapa tidak boleh panik?”
“Bagaimana cara melindungi diri?”
Kakak juga diajak menonton video simulasi penyelamatan diri saat terjadi gempa bumi. Dari video tersebut, mereka belajar langkah-langkah penting, seperti:
Berlindung di bawah meja
Melindungi kepala
Tidak berebut saat evakuasi
Mengikuti jalur penyelamatan
Petugas juga memberikan contoh sederhana bagaimana melindungi kepala menggunakan benda di sekitar, termasuk ember atau tas sekolah. Kegiatan ini membuat kakak memahami bahwa keselamatan diri dimulai dari pengetahuan yang benar.
Simulasi Gempa yang Menegangkan tapi Seru
Puncak kegiatan hari itu adalah simulasi bencana gempa bumi.
Sirine pertama berbunyi. Dengan sigap, kakak segera memakai sepatu dan melindungi kepala menggunakan tas masing-masing. Wajah mereka tampak serius mengikuti arahan petugas.
Sirine kedua berbunyi. Kakak mulai mencari tempat aman sesuai instruksi. Ada yang berlindung, ada yang memastikan temannya aman.
Sirine ketiga berbunyi. Satu per satu kakak berjalan tertib mengikuti jalur evakuasi menuju titik kumpul aman.
Simulasi ini terasa begitu nyata. Meski dilakukan dalam suasana pembelajaran, kakak belajar bahwa saat bencana terjadi, ketenangan dan kesiapan sangat penting.
Belajar yang Tidak Terlupakan
Outing Class ke BPBD ini bukan hanya tentang melihat kendaraan atau mencoba simulasi. Lebih dari itu, kakak belajar:
Mengenali tanda-tanda bencana
Pentingnya menjaga keselamatan diri
Cara bersikap tenang saat kondisi darurat
Pentingnya kerja sama dalam situasi bencana
Kegiatan seperti ini menjadi pembelajaran kontekstual yang sangat bermakna bagi anak-anak. Karena ilmu tentang keselamatan bukan hanya untuk dihafal, tetapi untuk dipahami dan dipraktikkan.
Menumbuhkan Kepedulian Sejak Dini
Di akhir kegiatan, kakak shalih-shalihah tampak masih antusias menceritakan pengalaman mereka.
Ada yang paling senang naik truk evakuasi.
Ada yang terkesan dengan simulasi gempa.
Ada pula yang mulai memahami mengapa kita harus siap menghadapi bencana.
Dari kegiatan ini, tumbuh satu hal penting dalam diri anak-anak: kepedulian. Bahwa menjaga diri sendiri juga berarti menjaga orang lain. Bahwa kesiapsiagaan adalah bagian dari tanggung jawab bersama.
Semoga pengalaman belajar di Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Semarang ini menjadi bekal berharga bagi kakak shalih-shalihah. Tidak hanya menambah ilmu, tetapi juga membangun keberanian, kepedulian, dan kesiapan menghadapi berbagai situasi di kehidupan nyata.*** (CM-MRT)
Langit pagi di Desa Wisata Kandri tampak cerah ketika rombongan kakak shalih-shalihah Kelas 2 SD Islam Bintang Juara tiba dengan wajah penuh semangat. Berlokasi di Jl. Kandri Barat No.58, Kandri, Kecamatan Gunung Pati, Kota Semarang, suasana desa yang asri langsung menyambut anak-anak dengan hamparan sawah hijau, udara segar, dan suara alam yang jarang mereka temui di tengah hiruk pikuk kota.
Hari itu bukan sekadar jalan-jalan. Bukan hanya kegiatan refreshing bersama teman-teman. Tetapi sebuah perjalanan belajar yang membawa anak-anak melihat langsung bagaimana alam, cuaca, dan kehidupan petani saling terhubung dalam kehidupan sehari-hari.
Outing Class kali ini menjadi pengalaman yang sangat berkesan. Ada yang untuk pertama kalinya turun ke sawah, menginjak lumpur, menanam padi, hingga heboh menangkap lele bersama.
Dan dari pengalaman sederhana itu, anak-anak belajar banyak hal yang tidak selalu bisa ditemukan di dalam buku pelajaran.
Outing Class Kelas 2: Belajar dari Alam yang Sesungguhnya
Sejak turun dari kendaraan, rasa penasaran langsung terlihat di wajah kakak-kakak Kelas 2. Beberapa anak tampak sibuk melihat area persawahan, sementara yang lain menunjuk petani yang sedang bekerja di sawah.
“Lumpurnya banyak banget!”
“Aku belum pernah masuk sawah!”
Suara-suara antusias terdengar hampir sepanjang perjalanan.
Guru pendamping kemudian mengajak anak-anak berkumpul untuk mendengarkan penjelasan singkat mengenai kegiatan yang akan dilakukan hari itu. Anak-anak diajak memahami bahwa sawah bukan hanya tempat menanam padi, tetapi juga bagian penting dari kehidupan manusia.
Dari sawah itulah nasi yang setiap hari dimakan berasal. Dan di balik sepiring nasi, ada kerja keras para petani yang harus menghadapi panas, hujan, hingga perubahan cuaca. Anak-anak pun mulai memahami bahwa alam dan manusia saling terhubung satu sama lain.
Pengalaman Pertama Menanam Padi
Salah satu kegiatan yang paling ditunggu adalah praktik menanam padi langsung di sawah.
Dengan hati-hati, anak-anak mulai turun ke area sawah berlumpur. Ada yang langsung berani melangkah, tetapi tidak sedikit yang awalnya ragu-ragu karena belum pernah merasakan lumpur di kaki mereka.
Begitu kaki mulai masuk ke lumpur, suasana langsung pecah dengan tawa.
“Astaghfirullah, licin!”
“Sepatuku tenggelam!”
Ada yang tertawa geli, ada pula yang berusaha menjaga keseimbangan sambil berpegangan pada temannya.
Namun perlahan, rasa takut berubah menjadi keberanian. Anak-anak mulai mencoba menancapkan bibit padi satu per satu seperti yang dicontohkan oleh pendamping.
Momen ini menjadi pengalaman baru yang sangat berharga. Sebab banyak anak yang selama ini hanya melihat sawah dari jalan atau televisi, kini bisa merasakan langsung bagaimana proses menanam padi dilakukan.
Melalui kegiatan ini, anak-anak belajar bahwa makanan yang mereka makan setiap hari tidak hadir begitu saja.
Ada proses panjang.
Ada kerja keras.
Ada kesabaran.
Dan ada peran alam yang harus dijaga bersama.
Mengenal Hubungan Alam, Cuaca, dan Kehidupan Petani
Selain praktik di sawah, kakak-kakak juga diajak memahami bagaimana cuaca sangat memengaruhi kehidupan petani.
Pemandu menjelaskan bahwa petani harus memperhatikan musim hujan dan musim kemarau sebelum mulai menanam padi. Jika hujan terlalu sedikit, tanaman bisa kekurangan air. Namun jika hujan terlalu deras, tanaman juga dapat rusak.
Anak-anak terlihat serius mendengarkan penjelasan tersebut.
Mereka mulai memahami bahwa alam bukan sesuatu yang bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Ketika alam dijaga dengan baik, manusia juga akan mendapatkan manfaatnya. Sebaliknya, jika lingkungan rusak, maka kehidupan manusia ikut terdampak.
Pembelajaran seperti ini membantu anak memahami konsep secara nyata, bukan hanya lewat teori di kelas.
Heboh Menangkap Lele Bersama
Jika menanam padi menghadirkan pengalaman penuh tantangan, maka sesi menangkap lele menjadi momen paling heboh sepanjang kegiatan.
Begitu melihat kolam lele, anak-anak langsung bersorak antusias. Dengan penuh semangat, mereka turun bersama-sama mencoba menangkap lele menggunakan tangan kosong.
Suasana langsung ramai dipenuhi tawa dan teriakan lucu.
“Aku dapat!”
“Eh lepas lagi!”
“Lele-nya cepat banget!”
Beberapa anak tampak begitu bersemangat mengejar lele ke sana kemari. Ada juga yang awalnya takut memegang lele, tetapi akhirnya memberanikan diri setelah melihat teman-temannya mencoba.
Kegiatan sederhana ini ternyata melatih banyak hal.
Anak-anak belajar keberanian.
Belajar kerja sama.
Belajar mencoba meskipun awalnya takut.
Dan yang paling penting, mereka belajar menikmati proses tanpa takut kotor.
Di era ketika banyak anak lebih akrab dengan layar gadget dibanding permainan alam, pengalaman seperti ini menjadi sesuatu yang sangat berharga.
Belajar Tidak Selalu Duduk dan Menulis
Outing Class ke Desa Wisata Kandri menjadi salah satu bentuk pembelajaran kontekstual yang diterapkan di SD Islam Bintang Juara. Anak-anak tidak hanya mendengarkan penjelasan guru, tetapi juga mengalami langsung apa yang sedang dipelajari.
Melalui pengalaman nyata, pembelajaran menjadi lebih hidup dan membekas dalam ingatan mereka. Anak-anak belajar tentang pertanian bukan hanya dari gambar di buku. Tetapi dari lumpur yang mereka pijak sendiri. Dari bibit padi yang mereka tanam langsung. Dan dari cerita para petani yang mereka temui di lapangan.
Hal-hal seperti inilah yang membantu anak memahami bahwa ilmu pengetahuan sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Menumbuhkan Rasa Syukur Sejak Kecil
Di balik seluruh keseruan kegiatan, ada nilai penting yang ingin ditanamkan kepada anak-anak, yaitu rasa syukur.
Ketika anak melihat langsung proses menanam padi, mereka belajar menghargai makanan. Ketika anak melihat kerja keras petani, mereka belajar bahwa setiap nikmat berasal dari usaha yang tidak mudah. Dan ketika anak menikmati alam yang hijau dan asri, mereka belajar pentingnya menjaga lingkungan.
Nilai-nilai seperti ini sangat penting dikenalkan sejak usia dini agar anak tumbuh menjadi pribadi yang peduli, bertanggung jawab, dan menghargai proses kehidupan.
Pulang Membawa Cerita dan Pengalaman Baru
Menjelang kegiatan selesai, wajah anak-anak terlihat lelah tetapi bahagia. Baju yang terkena lumpur dan kaki yang basah justru menjadi bagian dari cerita seru yang ingin segera mereka bagikan kepada ayah bunda di rumah.
Ada yang bangga karena berhasil menanam padi untuk pertama kalinya.
Ada yang terus bercerita tentang lele yang licin dan sulit ditangkap.
Ada pula yang mulai memahami bahwa pekerjaan petani ternyata tidak mudah.
Hari itu, kakak shalih-shalihah Kelas 2 tidak hanya pulang membawa foto-foto kegiatan. Mereka pulang membawa pengalaman. Membawa pelajaran kehidupan. Dan membawa kenangan yang mungkin akan terus mereka ingat hingga dewasa nanti.
Karena terkadang, pembelajaran terbaik memang lahir dari pengalaman sederhana yang dirasakan langsung dengan hati.*** (CM-MRT)
Pagi itu, suasana SD Islam Bintang Juara terasa berbeda dari biasanya. Tidak ada suara riang yang berlarian di lorong sekolah, tidak ada tawa yang pecah di sela-sela waktu istirahat. Yang ada justru langkah-langkah tenang, wajah-wajah serius, dan doa-doa yang lirih dipanjatkan dalam hati.
Senin hingga Selasa, 27 – 28 April 2026, menjadi awal dari sebuah perjalanan penting bagi kakak shalih-shalihah kelas 6. Selama dua ini mereka telah menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA), sebuah momen yang bukan sekadar ujian, tetapi pembuktian dari proses panjang yang telah mereka lalui.
Lebih dari Sekadar Ujian
Bagi sebagian orang, ujian mungkin hanya tentang angka. Tentang nilai yang akan tertera di akhir. Namun, bagi kakak kelas 6 SD Islam Bintang Juara, TKA adalah tentang perjalanan.
Perjalanan belajar yang dimulai sejak mereka pertama kali duduk di bangku sekolah dasar. Dari belajar membaca, menulis, berhitung, hingga memahami konsep-konsep yang lebih kompleks. Semua proses itu terangkai menjadi satu, dan hari itu menjadi salah satu titik penting untuk melihat sejauh mana mereka telah melangkah.
Ruang-ruang kelas disiapkan dengan rapi. Meja dan kursi ditata dengan jarak yang teratur. Lembar soal sudah tersusun, menunggu untuk dijawab dengan penuh kesungguhan. Para guru berdiri dengan penuh perhatian, memastikan setiap anak merasa siap dan nyaman.
Suasana khidmat begitu terasa.
Detik-Detik yang Penuh Makna
Ketika jam dinding menunjukkan pukul 09.00, waktu seolah berjalan lebih lambat. Kakak shalih-shalihah mulai menatap soal yang terpampang melalui layar laptop, membaca dengan saksama, lalu memberikan jawaban dengan penuh kehati-hatian.
Tidak ada lagi waktu untuk ragu. Tidak ada lagi waktu untuk menunda. Yang ada hanyalah fokus, usaha, dan keyakinan.
Beberapa anak terlihat mengernyitkan dahi, mencoba mengingat kembali materi yang pernah dipelajari. Ada yang tersenyum kecil saat menemukan soal yang terasa familiar. Ada pula yang menarik napas dalam-dalam, menenangkan diri sebelum melanjutkan.
Semua larut dalam perjuangan masing-masing.
Buah dari Proses Panjang
TKA bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri. Ia adalah hasil dari proses yang panjang dan konsisten.
Setiap tugas yang pernah dikerjakan, setiap diskusi di kelas, setiap bimbingan dari guru, hingga setiap doa dari orang tua—semuanya berperan dalam perjalanan ini.
Bahkan, bukan hanya aspek akademik yang diuji. Di balik lembar soal, ada nilai-nilai yang ikut diuji:
Kejujuran dalam mengerjakan
Ketekunan dalam berusaha
Kemandirian dalam berpikir
Kepercayaan diri dalam mengambil keputusan
Karena sejatinya, pendidikan tidak hanya membentuk anak yang pintar, tetapi juga berkarakter.
Peran Guru dan Doa Orang Tua
Di balik keseriusan suasana ujian, ada peran besar yang sering kali tidak terlihat.
Para guru yang selama ini mendampingi, tidak hanya mengajarkan materi, tetapi juga membangun kepercayaan diri siswa. Mereka memahami bahwa setiap anak memiliki cara belajar yang berbeda, dan setiap usaha layak untuk dihargai.
Di sisi lain, doa orang tua menjadi kekuatan yang tak ternilai. Meski tidak hadir secara langsung di ruang ujian, dukungan mereka terasa begitu dekat.
Setiap harapan yang dipanjatkan, setiap doa yang dilangitkan, menjadi energi yang menguatkan langkah anak-anak dalam menghadapi TKA.
Belajar Tentang Makna Usaha
Menariknya, momen seperti ini justru mengajarkan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar materi pelajaran.
Anak-anak belajar bahwa:
Proses lebih berharga dibandingkan hasil
Usaha yang diiringi dengan doa sungguh-sungguh akan selalu membawa makna
Tidak apa-apa merasa sulit, selama tidak menyerah
Dan yang terpenting, mereka belajar untuk menghargai diri sendiri atas setiap usaha yang telah dilakukan.
Hari Kedua: Tetap Fokus, Tetap Tenang
Memasuki hari kedua, suasana tetap terjaga. Meski mungkin ada rasa lelah, namun semangat tidak surut.
Kakak shalih-shalihah kembali duduk di tempat masing-masing, melanjutkan perjuangan mereka. Dengan pengalaman di hari pertama, mereka tampak lebih siap, lebih tenang, dan lebih percaya diri.
Setiap soal dikerjakan dengan lebih terarah. Setiap jawaban dipilih dengan keyakinan. Dan di balik itu semua, tersimpan harapan besar: memberikan yang terbaik.
Penutup yang Penuh Harap
Dua hari yang penuh kesungguhan akhirnya terlewati. Soal demi soal telah dijawab. Usaha demi usaha telah dilakukan. Kini, saatnya menyerahkan hasil kepada Allah SWT.
Karena sejatinya, tugas manusia adalah berikhtiar, dan hasil adalah hak Allah.
Momen TKA ini bukanlah akhir, melainkan bagian dari perjalanan panjang menuju masa depan. Apa pun hasilnya nanti, setiap anak telah melalui proses yang luar biasa.
Untuk Ayah Bunda, mari kita terus iringi langkah mereka dengan doa terbaik.
Semoga setiap usaha yang telah dilakukan membuahkan hasil yang membahagiakan.
Semoga setiap langkah mereka dimudahkan.
Dan semoga mereka tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga kuat, jujur, dan penuh semangat juang.