Suasana aula sekolah pagi itu terasa berbeda. Senyum ceria, rasa penasaran, dan semangat kebersamaan memenuhi ruangan ketika kakak shalih–shalihah berkumpul untuk mengikuti Puncak Festival Ramadan Calon Pemimpin Muslim di SD Islam Bintang Juara.
Kegiatan yang dilaksanakan pada Jumat, 13 Maret 2026 ini menjadi penutup rangkaian kegiatan Ramadan yang telah berlangsung selama beberapa hari sebelumnya. Acara dipandu dengan hangat dan penuh semangat oleh Pak Amir dan Bu Laila, yang mengajak seluruh peserta menikmati setiap momen kegiatan dengan penuh kegembiraan.
Puncak Festival Ramadan tidak hanya menjadi momen pengumuman pemenang lomba. Lebih dari itu, kegiatan ini juga diisi dengan penguatan materi tentang Idulfitri, penampilan inspiratif dari para peserta terbaik, serta pembagian apresiasi kepada siswa-siswi yang telah menunjukkan bakat dan usaha terbaik mereka.
Penguatan Materi Idulfitri: Kembali kepada Kesucian
Sebelum memasuki sesi pengumuman pemenang festival, kegiatan diawali dengan penguatan materi tentang Idulfitri yang disampaikan oleh Pak Ali.
Dalam pemaparannya, Pak Ali menjelaskan bahwa Idulfitri memiliki makna yang sangat mendalam. Secara bahasa, Idulfitri berarti kembali kepada kesucian. Setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh di bulan Ramadan, umat Islam diharapkan kembali menjadi pribadi yang lebih bersih—baik hati, pikiran, maupun perbuatannya.
Pak Ali juga mengajak kakak shalih–shalihah memahami berbagai hal penting yang berkaitan dengan salat Idulfitri.
Beliau menjelaskan bahwa waktu pelaksanaan salat Idulfitri dimulai sejak matahari terbit hingga sebelum waktu zuhur. Ini berbeda dengan salat Jumat yang dilaksanakan pada waktu zuhur.
Selain waktu pelaksanaan, terdapat juga perbedaan dalam jumlah takbir pada salat Idulfitri.
Pada rakaat pertama terdapat tujuh kali takbir, dan jika ditambah dengan takbiratul ihram, maka jumlahnya menjadi delapan kali takbir. Setelah itu dilanjutkan dengan membaca surah pendek, dan yang disunnahkan adalah Surah Al-A’la.
Sedangkan pada rakaat kedua, terdapat lima kali takbir. Jika ditambah dengan takbiratul qiyam, jumlahnya menjadi enam kali takbir.
Agar penjelasan semakin mudah dipahami, Pak Ali kemudian mengajak Kak Syabil dan Kak Nadhif untuk maju ke depan menjadi model praktik salat Idulfitri. Dengan contoh langsung, kakak shalih–shalihah dapat melihat secara jelas urutan gerakan dan bacaan salat Idulfitri.
Pak Ali juga mengajarkan niat salat Idulfitri, yaitu:
“Ushalli sunnatan li ‘iidil fithri rak‘ataini ma’muuman lillaahi ta‘aalaa.”
Artinya: Saya niat salat sunnah Idulfitri dua rakaat sebagai makmum karena Allah Ta’ala.
Di akhir sesi, Pak Ali juga mengingatkan beberapa sunnah sebelum melaksanakan salat Idulfitri, di antaranya:
Makan terlebih dahulu sebelum berangkat salat
Mandi untuk menyambut Idulfitri dengan niat karena Allah Ta’ala
Berhias secukupnya, mengenakan pakaian terbaik dan wewangian
Berjalan kaki menuju tempat salat, serta dianjurkan mengambil jalur berbeda saat berangkat dan pulang
Mengumandangkan takbir sebagai bentuk pengagungan kepada Allah
Penjelasan ini menjadi bekal berharga bagi kakak shalih–shalihah agar dapat menyambut Idulfitri dengan pemahaman yang benar.
Penampilan Bermakna dari Peserta Terbaik
Setelah sesi penguatan materi, acara dilanjutkan dengan penampilan istimewa dari para peserta terbaik Festival Ramadan.
Salah satu penampilan yang menarik perhatian adalah ceramah dari Kak Akhtar, yang menjadi peserta terbaik Da’i Cilik kelas tinggi. Dalam ceramahnya, Kak Akhtar menyampaikan pesan tentang pentingnya adab seorang anak kepada orang tua dan guru.
Ia mengingatkan bahwa ridha Allah sangat bergantung pada ridha orang tua, sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW. Pesan yang sederhana namun penuh makna ini disampaikan dengan penuh percaya diri.
Selanjutnya, suasana menjadi lebih meriah dengan penampilan Kak Sena dan Kak Balya yang menyanyikan lagu Rukun Iman. Lagu tersebut mengajak semua yang hadir untuk kembali mengingat dasar-dasar keimanan dalam Islam.
Tidak kalah menarik, Kak Ayra tampil membawakan cerita Islami tentang Nabi Nuh AS, nabi yang dikenal dengan kisah bahteranya yang menyelamatkan orang-orang beriman dari banjir besar.
Penampilan lain datang dari Kak Ihsan, yang menyampaikan ceramah bertema Nuzulul Qur’an, serta Kak Ganendra yang bercerita tentang salah satu sahabat Rasulullah, Usamah bin Zaid, seorang pemimpin muda yang dipercaya Rasulullah memimpin pasukan di usia yang sangat muda.
Acara penampilan ditutup dengan duet merdu dari Kak Naura dan Kak Neyva, yang membawakan lagu Islami dengan penuh penghayatan.
Puncak Festival Ramadan: Pengumuman Peserta Terbaik
Momen yang paling ditunggu-tunggu akhirnya tiba: pengumuman pemenang Festival Ramadan Calon Pemimpin Muslim. Sorak sorai dan tepuk tangan meriah mengiringi setiap nama yang dipanggil. Berikut daftar peserta terbaik dalam berbagai cabang lomba:
1. Festival Azan
A. Kelas Rendah
Juara 1: Fatih (2A)
Juara 2: Zaky (3A)
Juara 3: Dipa (2A)
B. Kelas Tinggi
Juara 1: Royan (5)
Juara 2: Naoki (4B)
Juara 3: Farabi (6)
2. Festival Da’i Cilik
A. Kelas Rendah
Juara 1: Ihsan (3B)
Juara 2: Alin (3A)
Juara 3: Hafsa (3B)
B. Kelas Tinggi
Juara 1: Akhtar (5)
Juara 2: Hasna (4A)
Juara 3: Zahra (6)
3. Festival Kaligrafi
A. Kelas Rendah
Juara 1: Afsenia (3A)
Juara 2: Jezira (3A)
Juara 3: Feisya (3B)
B. Kelas Tinggi
Juara 1: Al Kindi (4A)
Juara 2: Damar (4B)
Juara 3: Ghaza (5)
4. Festival Tahfiz
A. Kelas Rendah
Juara 1: Hisyam (3B)
Juara 2: Oki (1C)
Juara 3: Kaira (1B)
B. Kelas Tinggi
Juara 1: Hya (5)
Juara 2: Banyu (5)
Juara 3: Fakhri (4B)
5. Festival Duet Islami
A. Kelas Rendah
Juara 1: Sena – Hanya (2A)
Juara 2: Gentala – Jaziel (3A)
Juara 3: Rama – Karuna (1A)
B. Kelas Tinggi
Juara 1: Naura – Neyva (4B)
Juara 2: Satria – Gesang (5)
Juara 3: Syabil – Aqasha (6)
6. Cerita Islami
A. Kelas Rendah
Juara 1: Aira (3B)
Juara 2: Hanif (3A)
Juara 3: Abim (3B)
B. Kelas Tinggi
Juara 1: Ganendra (4A)
Juara 2: Aleena (4A)
Juara 3: Sophia (4B)
7. Pengetahuan PAI & BTQ
A. Kelas Rendah
Juara 1: Rafif (3A)
Juara 2: Nura (2A)
Juara 3: Rumaisa (1B)
B. Kelas Tinggi
Juara 1: Thalita (5)
Juara 2: Moza (4A)
Juara 3: Lina (4B)
8. Festival Tartil
Khusus untuk festival ini hanya diperuntukkan bagi kelas tinggi, terutama yang sudah belajar Qiraaty Juz 27 dan Ghorib. Dan inilah para peserta terbaiknya:
Juara 1: Yossi (5)
Juara 2: Nadhif (6)
Juara 3: Allea (5)
Menumbuhkan Calon Pemimpin Muslim
Puncak Festival Ramadan bukan hanya tentang memenangkan perlombaan. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi sarana bagi siswa untuk belajar percaya diri, berani tampil, serta menyalurkan bakat dan potensi yang dimiliki.
Dari panggung kecil tempat mereka membaca Al-Qur’an, bercerita tentang kisah para nabi, hingga menyampaikan ceramah, tumbuh benih-benih calon pemimpin Muslim masa depan. Generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak mulia, keberanian, dan semangat untuk menyebarkan kebaikan.
Karena sejatinya, Ramadan adalah waktu terbaik untuk melatih diri menjadi pribadi yang lebih baik, dan melalui kegiatan seperti inilah nilai-nilai tersebut mulai ditanamkan sejak dini kepada kakak shalih–shalihah di SD Islam Bintang Juara.*** (CM-MRT)
Ramadan bukan hanya tentang ibadah puasa, tarawih, dan tadarus Al-Qur’an. Bulan suci ini juga menyimpan kekayaan tradisi yang menjadi bagian dari perjalanan panjang Islam di Nusantara. Di Indonesia, banyak budaya yang lahir dari pertemuan nilai-nilai Islam dengan kearifan lokal masyarakat.
Hal inilah yang ingin dikenalkan kepada kakak shalih–shalihah melalui kegiatan Leadership Journey hari ke-3 dan ke-4 di SD Islam Bintang Juara. Setelah hari pertama menggelar Sehari Bersama Quran, kali ini Mengangkat tema “Jelajah Budaya Islam di Nusantara”, kegiatan ini mengajak anak-anak memahami makna di balik salah satu tradisi yang sangat identik dengan Hari Raya Idulfitri: ketupat Lebaran.
Kegiatan berlangsung secara bergantian dengan Festival Ramadan. Pada Rabu, 11 Maret 2026, kegiatan diikuti oleh kakak kelas 4 dan 5. Sementara kakak kelas 6 belum dapat bergabung karena sedang mengikuti tryout TKA. Keesokan harinya, Kamis, 12 Maret 2026, giliran kakak kelas 1 hingga 3 yang mengikuti kegiatan serupa.
Meski sederhana, kegiatan ini menjadi perjalanan menarik untuk memahami bagaimana budaya dapat menjadi sarana dakwah yang penuh makna.
Ketupat: Tradisi Lebaran yang Penuh Makna
Ketika Lebaran tiba, hampir setiap rumah di Indonesia menyajikan ketupat. Hidangan dari beras yang dibungkus anyaman daun kelapa ini biasanya disajikan bersama opor ayam, sambal goreng, atau lauk khas lainnya.
Namun di balik bentuknya yang sederhana, ketupat menyimpan filosofi mendalam.
Kata ketupat berasal dari bahasa Jawa, yaitu “ngaku lepat” yang berarti mengakui kesalahan. Filosofi ini berkaitan erat dengan tradisi saling memaafkan yang menjadi ciri khas masyarakat Indonesia saat Idulfitri.
Dengan kata lain, ketupat bukan sekadar makanan Lebaran. Ia menjadi simbol kerendahan hati manusia untuk mengakui kesalahan dan saling memaafkan setelah menjalani Ramadan.
Warisan Dakwah Sunan Kalijaga
Tradisi ketupat Lebaran diyakini berkaitan dengan dakwah Sunan Kalijaga, salah satu tokoh dari Wali Songo yang menyebarkan Islam di tanah Jawa.
Sunan Kalijaga dikenal sebagai ulama yang menggunakan pendekatan budaya dalam berdakwah. Beliau memahami bahwa masyarakat Jawa pada masa itu sangat dekat dengan tradisi dan simbol-simbol budaya. Oleh karena itu, dakwah dilakukan dengan cara yang bijak, tanpa menghapus budaya lokal, tetapi mengisinya dengan nilai-nilai Islam.
Salah satu contohnya adalah tradisi Bakda Kupat, yang biasanya dilakukan beberapa hari setelah Idulfitri.
Melalui simbol ketupat, Sunan Kalijaga menyampaikan beberapa pesan penting:
Ngaku Lepat– Mengakui kesalahan dan saling memaafkan
Laku Papat – Empat tindakan penting dalam kehidupan seorang Muslim, yaitu lebaran (selesai berpuasa), luberan (berbagi rezeki), leburan (melebur dosa dengan saling memaafkan), dan laburan (membersihkan diri)
Bentuk anyaman ketupat yang rumit juga memiliki makna simbolis. Anyaman tersebut menggambarkan kesalahan manusia yang sering kali rumit dan saling terjalin. Namun ketika ketupat dibuka, terlihat nasi putih di dalamnya—melambangkan hati yang kembali bersih setelah saling memaafkan.
Melalui simbol sederhana ini, Sunan Kalijaga berhasil menyampaikan pesan dakwah yang mendalam kepada masyarakat.
Belajar Budaya Lewat Video dan Cerita
Dalam kegiatan Jelajah Budaya Islam di Nusantara, kakak shalih–shalihah terlebih dahulu diajak memahami filosofi ketupat melalui penjelasan guru dan tayangan video edukatif.
Melalui video tersebut, anak-anak melihat bagaimana ketupat dibuat dari daun kelapa yang dianyam dengan teliti. Mereka juga belajar bahwa makanan khas Lebaran ini tidak hanya ada di satu daerah, tetapi menjadi bagian dari tradisi di berbagai wilayah Indonesia.
Diskusi pun menjadi hidup. Anak-anak mulai memahami bahwa budaya dan agama bisa berjalan berdampingan untuk menyampaikan pesan kebaikan.
Tantangan Membuat Ketupat dari Pita
Setelah memahami filosofinya, kegiatan dilanjutkan dengan praktik membuat ketupat dari pita untuk kakak kelas 4 dan 5.
Sekilas terlihat mudah. Namun ketika mencoba menganyam pita menjadi bentuk ketupat, ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan.
Ada yang pita anyamannya terlepas. Ada yang bentuknya belum rapi. Ada pula yang harus mencoba berulang kali.
Namun justru di sinilah letak keseruannya.
Beberapa kakak tetap mencoba dengan penuh kesabaran. Mereka tidak mudah menyerah meskipun hasilnya belum sempurna. Pada akhirnya, hanya beberapa anak yang berhasil membuat bentuk ketupat dengan baik.
Meski begitu, semua kakak tetap mendapatkan pengalaman berharga: belajar bahwa proses membuat sesuatu membutuhkan ketekunan dan kesabaran.
Membuat Kartu Lebaran: Menebar Kebaikan
Selain membuat ketupat, kegiatan juga diisi dengan membuat kartu Lebaran.
Setiap anak mendapatkan amplop, kertas untuk menulis pesan, serta gambar hiasan berbentuk masjid yang harus digunting, diwarnai, dan ditempel.
Kartu tersebut tidak boleh diberikan kepada teman atau guru di sekolah. Sebaliknya, kartu harus diberikan kepada tetangga, orang tua, kerabat, atau orang lain di lingkungan rumah.
Tujuannya sederhana namun penuh makna: melatih anak untuk menyampaikan ucapan maaf dan doa secara langsung kepada orang-orang di sekitarnya.
Manfaat Mengirim Kartu Lebaran bagi Anak
Kegiatan membuat dan mengirim kartu Lebaran memiliki banyak manfaat bagi perkembangan anak.
Menumbuhkan rasa empati dan kepedulian: Anak belajar menghargai orang lain dengan menyampaikan ucapan maaf dan doa.
Melatih kreativitas: Proses menggunting, mewarnai, dan menghias kartu melatih keterampilan motorik dan kreativitas anak.
Menguatkan nilai silaturahmi: Dengan memberikan kartu kepada tetangga atau kerabat, anak belajar pentingnya menjaga hubungan baik dengan orang lain.
Menanamkan nilai kerendahan hati: Tradisi meminta maaf saat Lebaran mengajarkan anak untuk berani mengakui kesalahan.
Menghidupkan tradisi positif: Di era digital, kartu Lebaran menjadi cara sederhana untuk menghadirkan sentuhan personal yang hangat.
Belajar Budaya, Memahami Makna
Kegiatan Jelajah Budaya Islam di Nusantara bukan hanya tentang mengenal ketupat atau membuat kerajinan tangan. Lebih dari itu, kegiatan ini mengajak anak memahami bahwa budaya dapat menjadi sarana untuk menyampaikan nilai-nilai Islam.
Dari ketupat, anak belajar tentang mengakui kesalahan dan saling memaafkan.
Dari membuat kartu Lebaran, anak belajar tentang silaturahmi dan berbagi kebaikan.
Tradisi yang tampak sederhana ternyata menyimpan pesan yang sangat dalam.
Dan dari kegiatan kecil seperti ini, kakak shalih–shalihah belajar bahwa menjadi Muslim bukan hanya tentang menjalankan ibadah, tetapi juga tentang menjaga budaya kebaikan yang diwariskan para ulama dan pendahulu kita.
Semoga dari kegiatan ini tumbuh generasi yang tidak hanya mencintai agamanya, tetapi juga bangga dengan kekayaan budaya Islam di Nusantara.*** (CM-MRT)
Ramadan selalu menghadirkan cerita yang berbeda bagi setiap orang. Ada yang menjalani Ramadan dengan suasana kampung halaman yang hangat, ada pula yang merasakannya di negeri yang jauh dari tanah air.
Hal inilah yang menjadi tema menarik dalam kegiatan CERANA (Cerita Ramadan Bermakna) 2026 yang diselenggarakan oleh SD Islam Bintang Juara. Kegiatan ini disiarkan secara langsung melalui Instagram @sdislambintangjuara pada Sabtu, 7 Maret 2026 pukul 16.00–17.00 WIB.
CERANA sendiri sudah rutin dilakukan sejak tahun 2020, tepatnya ketika pandemi. Alhamdulillah, kegiatan ini terus berlangsung hingga tahun ini.
Cerita Ramadan Bermakna dari Kak Aleen dan Kak Khansa
Mengangkat tema “Puasa Ramadan di Dua Belahan Dunia: Pengalaman Berbeda, Semangat yang Sama”, CERANA menghadirkan dua narasumber istimewa yang pernah merasakan pengalaman menjalani Ramadan di luar negeri.
Mereka adalah Kak Khansa, yang saat ini sedang tinggal di Finlandia, serta Kak Aleen, yang pernah merasakan kehidupan di Inggris. Acara ini dipandu oleh Bu Nawang, Koordinator Litbang Yayasan Dewi Sartika, yang juga merupakan ibunda dari Kak Aleen.
Melalui obrolan santai namun penuh makna, para narasumber berbagi cerita tentang bagaimana rasanya menjalani ibadah puasa jauh dari Indonesia.
Ramadan di Negeri dengan Waktu Puasa Lebih Panjang
Salah satu hal paling menarik dari diskusi ini adalah perbedaan durasi waktu puasa.
Kak Khansa yang tinggal di Finlandia bercerita bahwa di beberapa negara Eropa, terutama di wilayah yang berada cukup jauh di utara, durasi puasa bisa lebih panjang dibandingkan di Indonesia.
Di Indonesia, umat Muslim biasanya berpuasa sekitar 13–14 jam. Namun di negara seperti Finlandia atau Inggris, durasi puasa bisa lebih lama, tergantung musim dan panjangnya waktu siang.
Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi umat Muslim yang tinggal di sana. Mereka harus tetap menjaga stamina, mengatur waktu istirahat, dan memastikan tubuh tetap kuat menjalani aktivitas sehari-hari.
Namun meskipun durasi puasanya lebih panjang, semangat menjalankan ibadah Ramadan tetap terasa. Hal ini menunjukkan bahwa ibadah puasa bukan hanya soal waktu yang dijalani, tetapi tentang niat dan keteguhan hati dalam menjalankannya.
Menu Sahur dan Berbuka yang Berbeda
CERANA juga membahas hal yang tidak kalah menarik: menu sahur dan berbuka puasa di luar negeri. Kak Khansa dan Kak Aleen berbagi cerita tentang makanan yang biasanya mereka konsumsi saat sahur dan berbuka ketika tinggal di luar negeri.
Tidak selalu ada makanan khas Ramadan seperti di Indonesia. Kadang mereka harus menyesuaikan dengan bahan makanan yang tersedia di sana.
Menu sahur bisa berupa makanan sederhana seperti roti, telur, atau makanan hangat yang mudah disiapkan. Begitu juga saat berbuka, pilihan makanan sering kali berbeda dari yang biasa dinikmati di Indonesia.
Berbeda dengan suasana di tanah air yang penuh dengan aneka takjil seperti kolak, gorengan, atau es buah. Meski begitu, pengalaman ini justru mengajarkan banyak hal, terutama tentang kesederhanaan dan rasa syukur.
Suka Duka Ramadan di Luar Negeri
Selain berbagi tentang makanan dan durasi puasa, Kak Khansa dan Kak Aleen juga menceritakan berbagai suka dan duka menjalani Ramadan di luar negeri. Salah satu tantangan terbesar adalah rasa rindu terhadap suasana Ramadan di Indonesia.
Di Indonesia, Ramadan terasa sangat meriah. Ada suara adzan dari masjid, kegiatan tadarus bersama, pasar Ramadan, hingga momen berbuka puasa bersama teman dan keluarga.
Sementara di beberapa negara non-Muslim, suasana Ramadan tidak selalu terlihat secara langsung di lingkungan sekitar. Hal ini membuat pengalaman Ramadan terasa berbeda.
Namun di sisi lain, pengalaman tersebut juga memberikan pelajaran berharga tentang menjaga semangat ibadah meskipun berada di lingkungan yang berbeda.
Ramadan di Indonesia Lebih Seru
Dalam sesi CERANA tersebut, Kak Khansa dan Kak Aleen juga berbagi pendapat yang menarik. Menurut mereka, menjalani Ramadan di Indonesia terasa lebih seru.
Salah satu alasannya adalah karena banyak teman dan lingkungan yang sama-sama menjalankan ibadah puasa. Suasana kebersamaan ini membuat Ramadan terasa lebih hidup dan menyenangkan.
Selain itu, di Indonesia mereka juga bisa menikmati berbagai makanan favorit saat berbuka puasa. Mulai dari aneka takjil hingga makanan khas yang sering menjadi bagian dari tradisi Ramadan di Indonesia.
Hal-hal sederhana seperti berbuka bersama keluarga atau bermain dengan teman-teman setelah tarawih menjadi kenangan yang sangat berharga.
Nah, buat Ayah Bunda dan kakak shalih-shalihah yang Sabtu lalu tertinggal menonton live-nya, silakan bisa menonton siaran ulangnya di sini:
CERANA: Belajar dari Cerita, Menguatkan Makna Ramadan
Kegiatan CERANA bukan sekadar acara berbagi cerita. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi sarana edukasi bagi siswa untuk memahami bahwa Ramadan dijalani oleh umat Muslim di berbagai belahan dunia dengan pengalaman yang berbeda-beda.
Melalui cerita Kak Khansa dan Kak Aleen, para penonton belajar bahwa meskipun kondisi lingkungan, cuaca, dan budaya berbeda, semangat menjalankan ibadah Ramadan tetap sama.
Puasa mengajarkan kesabaran, rasa syukur, dan kekuatan hati untuk menjalankan perintah Allah SWT di mana pun kita berada.
Menumbuhkan Perspektif Global Sejak Dini
Kegiatan seperti CERANA juga membantu siswa memiliki wawasan global sejak usia dini.
Mereka tidak hanya belajar tentang Ramadan dari lingkungan sekitar, tetapi juga memahami bagaimana umat Muslim di berbagai negara menjalankan ibadah yang sama.
Dengan cara ini, anak-anak dapat belajar menghargai perbedaan sekaligus memperkuat identitas mereka sebagai bagian dari umat Muslim di dunia.
Ramadan yang Menghubungkan Umat Muslim di Seluruh Dunia
Pada akhirnya, CERANA 2026 mengingatkan kita bahwa Ramadan adalah bulan yang menyatukan umat Muslim di seluruh dunia.
Meskipun berada di negara yang berbeda, dengan cuaca yang berbeda, dan durasi puasa yang berbeda, tujuan ibadahnya tetap sama. Semua umat Muslim berusaha menjalankan puasa dengan penuh keikhlasan dan harapan untuk meraih keberkahan.
Dari Finlandia hingga Inggris, dari Indonesia hingga berbagai penjuru dunia lainnya; semangat Ramadan selalu menghadirkan makna yang sama: mendekatkan diri kepada Allah SWT.*** (CM-MRT)
Suasana sore di halaman SD Islam Bintang Juara terasa berbeda pada Jumat, 6 Maret 2026. Para kakak shalih dan shalihah datang dengan ransel kecil di punggung, wajah penuh antusias, dan rasa penasaran tentang pengalaman yang akan mereka jalani.
Hari itu bukan sekadar kegiatan sekolah biasa. Mereka akan mengikuti Ramadan Leadership Camp (RLC) 2026, sebuah program yang selalu menjadi salah satu momen paling dinanti setiap Ramadan.
Selama dua hari, Jumat–Sabtu (6–7 Maret 2026), para siswa akan menjalani serangkaian kegiatan yang dirancang untuk menumbuhkan nilai kepemimpinan, kemandirian, tanggung jawab, serta kedekatan dengan Allah SWT.
Bukan hanya belajar di kelas, tetapi belajar melalui pengalaman langsung.
Pembukaan Ramadan Leadership Camp yang Penuh Makna
Kegiatan Ramadan Leadership Camp diawali dengan pembukaan acara yang hangat dan penuh makna. Para peserta menyaksikan berbagai penampilan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengandung pesan-pesan kebaikan.
Di sinilah suasana kebersamaan mulai terasa. Kakak shalih-shalihah duduk bersama, saling menyimak, dan menikmati setiap penampilan yang mengingatkan bahwa Ramadan adalah bulan yang penuh keberkahan.
Kegiatan pembukaan ini menjadi pengantar untuk perjalanan dua hari yang sarat nilai.
Kebersamaan dalam Iftar Jama’i
Menjelang magrib, suasana semakin khidmat ketika seluruh peserta bersiap untuk iftar jama’i atau berbuka puasa bersama.
Di momen ini, para siswa belajar tentang kebersamaan dan kesederhanaan. Mereka duduk bersama teman-teman, menunggu waktu berbuka sambil saling berbagi cerita.
Ketika adzan magrib berkumandang, wajah-wajah ceria langsung tampak. Mereka berbuka dengan penuh rasa syukur, menyadari bahwa nikmat sederhana seperti segelas air dan makanan berbuka adalah karunia dari Allah SWT.
Setelah berbuka, kegiatan dilanjutkan dengan shalat magrib berjamaah, yang menjadi pengingat bahwa Ramadan adalah waktu terbaik untuk memperkuat ibadah.
Menghidupkan Malam dengan Ibadah
Malam hari di Ramadan Leadership Camp diisi dengan berbagai kegiatan spiritual yang menenangkan hati.
Para peserta melaksanakan shalat Isya dan Tarawih berjamaah, kemudian dilanjutkan dengan tadarus Al-Qur’an bersama. Suara lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar dari berbagai sudut ruangan, menciptakan suasana yang khusyuk dan damai.
Bagi sebagian anak, ini mungkin menjadi pengalaman pertama merasakan kebersamaan dalam ibadah malam seperti ini.
Namun justru di situlah nilai pembelajaran muncul; mereka belajar bahwa ibadah tidak selalu dilakukan sendirian, tetapi juga bisa menjadi pengalaman yang menguatkan ketika dilakukan bersama.
Qiyamul Lail di Sepertiga Malam
Ketika malam semakin larut dan sebagian orang masih terlelap, kegiatan Ramadan Leadership Camp justru memasuki salah satu momen paling istimewa.
Sekitar pukul 02.30 dini hari, kakak shalih-shalihah dibangunkan untuk melaksanakan qiyamul lail.
Meskipun rasa kantuk masih terasa, para peserta tetap berusaha bangkit. Mereka berwudhu, kemudian berdiri bersama dalam shalat malam.
Di waktu yang sunyi itu, mereka belajar satu hal penting: kedekatan dengan Allah sering kali dimulai dari langkah kecil yang penuh kesungguhan.
Setelah qiyamul lail, kegiatan dilanjutkan dengan sahur bersama. Suasana sahur terasa hangat dan penuh kebersamaan. Anak-anak saling bercanda ringan sambil menikmati hidangan sahur.
Pagi pun ditutup dengan shalat subuh berjamaah, menandai awal hari baru yang penuh semangat.
Pagi yang Enerjik dan Menguatkan
Ketika matahari mulai terbit, para peserta menyambut hari dengan senam bersama. Gerakan-gerakan ringan membuat tubuh kembali segar setelah malam yang penuh aktivitas ibadah.
Kegiatan fisik ini menjadi cara menyenangkan untuk mengawali pagi sekaligus menjaga kesehatan selama menjalankan ibadah puasa.
Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan kajian yang menguatkan iman dan karakter.
Kajian dibagi ke dalam beberapa forum sesuai jenjang kelas.
1. Da’i Cilik dari Palestina (Kelas 1–2)
Untuk kakak kelas 1 dan 2, mereka mengikuti sesi inspiratif bersama Da’i Cilik dari Palestina. Dalam sesi ini, anak-anak diajak memahami nilai keberanian, keteguhan iman, dan semangat untuk mencintai Al-Qur’an sejak usia dini.
Cerita-cerita yang disampaikan menjadi inspirasi bagi anak-anak untuk tetap semangat belajar dan beribadah.
2. Forum Ar Rijal (Kelas 3–6)
Sementara itu, kakak shalih kelas 3 hingga 6 mengikuti Forum Ar Rijal, sebuah sesi diskusi yang menanamkan nilai-nilai kepemimpinan, tanggung jawab, serta peran laki-laki sebagai pemimpin yang amanah.
Dalam forum ini, para peserta diajak memahami bahwa menjadi pemimpin bukan hanya tentang memimpin orang lain, tetapi juga mampu memimpin diri sendiri.
3. Forum An Nisa (Kelas 3–6)
Untuk kakak shalihah kelas 3 hingga 6, kegiatan berlangsung dalam Forum An Nisa.
Forum ini memberikan ruang bagi para siswi untuk belajar tentang peran perempuan muslimah yang kuat, cerdas, dan berakhlak mulia.
Diskusi-diskusi yang berlangsung membantu mereka memahami bahwa perempuan juga memiliki peran penting dalam membangun masyarakat yang lebih baik.
Testimoni Orang Tua: Pengalaman yang Membentuk Karakter
Kegiatan Ramadan Leadership Camp tidak hanya memberikan kesan bagi para peserta, tetapi juga dirasakan manfaatnya oleh para orang tua.
Salah satu testimoni datang dari Bunda Kak Fahri, yang menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat bagi anak-anak.
Menurut beliau, kegiatan seperti ini membantu anak-anak belajar tentang kedisiplinan, tanggung jawab, serta pembentukan karakter sebagai calon pemimpin Muslim.
Bagi orang tua, melihat anak-anak tumbuh dengan nilai-nilai positif seperti ini tentu menjadi kebahagiaan tersendiri. Tentu ini selaras dengan tema yang diangkat pada RLC tahun ini; Aktif Membangun Karakter Positif di Bulan Ramadan.
Menanamkan Nilai Kepemimpinan Sejak Dini
Ramadan Leadership Camp bukan sekadar kegiatan bermalam di sekolah.
Setiap aktivitas yang dilakukan—mulai dari berbuka bersama, shalat berjamaah, hingga kajian kepemimpinan—dirancang untuk menanamkan nilai-nilai penting dalam kehidupan anak.
Melalui pengalaman ini, kakak shalih-shalihah belajar tentang:
Kepemimpinan, dengan memahami tanggung jawab terhadap diri sendiri dan orang lain
Kedisiplinan, melalui jadwal kegiatan yang teratur
Kemandirian, saat menjalani berbagai aktivitas bersama teman-teman
Kebersamaan, dalam setiap ibadah dan kegiatan yang dilakukan bersama
Akhlak mulia, yang menjadi dasar karakter seorang Muslim
Bagi Ayah Bunda yang penasaran seperti apa sih rangkaian kegiatan di Ramadan Leadership Camp 2026, silakan bisa menyimak video berikut:
Ramadan: Bukan Hanya Menahan Diri, Tapi Membentuk Diri
Dua hari mungkin terasa singkat, tetapi pengalaman yang dirasakan selama Ramadan Leadership Camp meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta.
Langkah-langkah kecil yang mereka lakukan; bangun di sepertiga malam, berdiri dalam shalat, membaca Al-Qur’an, dan belajar bersama—perlahan membentuk karakter mereka.
Karena sejatinya, Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus. Ramadan adalah tentang melatih hati, membentuk diri, dan menumbuhkan generasi yang siap menjadi pemimpin masa depan.
Dan melalui kegiatan seperti Ramadan Leadership Camp, benih-benih kepemimpinan itu mulai tumbuh dalam diri kakak shalih-shalihah di SD Islam Bintang Juara.*** (CM-MRT)
Ramadan selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Udara terasa lebih tenang. Hati lebih mudah tersentuh. Di tengah suasana penuh keberkahan itu, ada satu kegiatan rutin yang menjadi momen istimewa bagi kakak shalih–shalihah di SD Islam Bintang Juara: kultum Ramadan.
Bukan ustaz atau guru yang selalu berdiri di depan. Bukan pula tamu khusus dari luar sekolah. Justru anak-anak sendiri yang maju menyampaikan pesan kebaikan.
Setiap hari selama Ramadan, dua anak secara bergantian menyampaikan kultum (kuliah tujuh menit) di depan kelas. Sederhana, singkat, tetapi sarat makna.
Dari Rasa Gugup Menjadi Berani
Suatu pagi suasana kelas sedikit berbeda. Di depan, seorang kakak berdiri dengan membawa secarik kertas kecil. Wajahnya terlihat tegang, tetapi matanya penuh tekad.
Ia menarik napas pelan. Mengucapkan salam. Lalu mulai berbicara tentang pentingnya menjaga lisan saat berpuasa. Teman-temannya menyimak dengan tenang.
Mungkin kalimatnya belum sempurna. Mungkin intonasinya belum sepenuhnya mantap. Tetapi keberaniannya melangkah ke depan adalah langkah besar. Di sinilah proses pembentukan karakter terjadi.
Kultum Ramadan, Belajar Berdakwah Sejak Dini
Kultum Ramadan bukan sekadar agenda pengisi waktu sebelum pelajaran dimulai. Ia adalah ruang latihan untuk menjadi calon pemimpin Muslim.
Karena pemimpin bukan hanya tentang memimpin organisasi atau kelompok. Pemimpin adalah mereka yang mampu menyampaikan kebaikan, memberi teladan, dan menginspirasi orang lain.
Melalui kultum, kakak shalih–shalihah belajar:
Menyusun materi sederhana
Memahami isi pesan yang akan disampaikan
Melatih keberanian berbicara di depan umum
Mengelola rasa gugup
Menyampaikan dakwah dengan santun
Topik yang diangkat pun beragam dan dekat dengan kehidupan anak-anak: keutamaan puasa, pentingnya salat tepat waktu, menjaga akhlak, bersedekah, hingga menghormati orang tua.
Satu Hari, Dua – Empat Dai Cilik Menunjukkan Talentanya
Setiap hari, dua anak mendapat giliran menyampaikan kultum. Sistem bergiliran ini memastikan semua anak memiliki kesempatan yang sama untuk belajar tampil dan berdakwah.
Ada yang memilih membaca teks, ada pula yang mulai berani berbicara tanpa melihat catatan. Prosesnya bertahap, sesuai dengan kesiapan masing-masing anak.
Guru mendampingi dan memberikan arahan agar materi sesuai dengan pemahaman usia mereka. Dakwah yang disampaikan bukan dalam bahasa berat, melainkan dengan bahasa yang sederhana, membumi, dan mudah dipahami teman sebaya.
Manfaat Kultum Ramadan bagi Anak
Kegiatan ini memiliki banyak manfaat, baik secara spiritual maupun keterampilan hidup.
Melatih Public Speaking Sejak Dini: Berbicara di depan kelas melatih kepercayaan diri. Anak belajar mengatur suara, intonasi, dan bahasa tubuh.
Menguatkan Pemahaman Agama: Ketika anak menyiapkan materi kultum, ia tidak hanya membaca, tetapi juga memahami isi pesan. Proses ini memperdalam pemahaman agama.
Menanamkan Jiwa Kepemimpinan: Pemimpin adalah mereka yang mampu memberi pengaruh positif. Dengan kultum, anak belajar memengaruhi teman-temannya dalam kebaikan.
Membiasakan Berdakwah dengan Santun: Anak belajar bahwa menyampaikan kebaikan tidak harus keras. Bisa dengan lembut, penuh senyum, dan penuh hikmah.
Menguatkan Karakter Tanggung Jawab: Saat mendapat giliran, anak bertanggung jawab mempersiapkan materi. Ia belajar disiplin dan menghargai kesempatan.
Dakwah yang Tumbuh dari Hati
Yang paling indah dari kegiatan ini adalah melihat bagaimana pesan kebaikan tidak hanya berhenti di depan kelas.
Seorang anak yang menyampaikan tentang pentingnya menjaga lisan, kemudian terlihat lebih berhati-hati dalam berbicara. Anak yang membahas sedekah, mulai lebih ringan berbagi.
Dakwah bukan lagi teori. Ia menjadi praktik. Kultum Ramadan menjadi ruang latihan kecil untuk membangun kebiasaan besar.
Membentuk Generasi yang Siap Memimpin
Di masa depan, anak-anak ini akan tumbuh menjadi bagian dari masyarakat. Sebagian mungkin menjadi guru, pengusaha, profesional, atau pemimpin di berbagai bidang.
Namun yang lebih penting, mereka adalah Muslim yang memiliki tanggung jawab menyebarkan kebaikan. Latihan kultum sejak dini adalah investasi karakter. Anak belajar bahwa berbicara itu bukan sekadar menyampaikan kata, tetapi membawa pesan.
Ramadan di SD Islam Bintang Juara bukan hanya tentang menahan lapar dan haus. Ia menjadi sekolah kepemimpinan.
Melalui kultum:
Anak belajar berdiri tegak.
Anak belajar menyampaikan kebenaran.
Anak belajar bertanggung jawab atas kata-katanya.
Dan mungkin, dari ruang kelas sederhana itu, sedang tumbuh dai, pemimpin, dan penggerak kebaikan masa depan.
Karena calon pemimpin Muslim tidak lahir secara instan. Mereka dilatih, dibimbing, dan diberi kesempatan untuk belajar—bahkan dari tujuh menit yang penuh keberanian.*** (CM-MRT)
Matematika sering dianggap rumit. Pecahan, perbandingan, angka desimal—semuanya terdengar serius. Namun di kelas 4B, Senin, 9 Februari 2026, pelajaran pecahan berubah menjadi pengalaman seru dan penuh rasa ingin tahu.
Melalui kegiatan BBOT (Belajar Bersama Orang Tua), kakak shalih–shalihah kelas 4B belajar bersama Ayah Arief Radityo Cahyo Bawono, orang tua dari Kak Xaquil. Tema yang diangkat pun unik: “Membedah Rahasia Perbandingan Bahan Pembersih.”
Alih-alih mengerjakan soal di buku, kakak diajak langsung bereksperimen membuat cairan pembersih lantai dan cairan cuci piring. Dari sinilah konsep pecahan dan perbandingan menjadi nyata.
Pecahan Itu Nyata, Bukan Sekadar Angka
Ayah Kak Xaquil memulai dengan pertanyaan sederhana: “Kenapa cairan pembersih tidak digunakan langsung tanpa dicampur air?”
Diskusi pun dimulai. Anak-anak mulai menyadari bahwa cairan pembersih biasanya harus diencerkan agar aman dan efektif. Dari sinilah muncul istilah baru yang diperkenalkan:
Dilusi: campuran antara air dan chemical (bahan kimia).
Residu: sisa dari bahan yang digunakan.
Kakak kelas 4B terlihat antusias saat menyadari bahwa pelajaran pecahan ternyata digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Eksperimen Membuat Cairan Pembersih Lantai & Cuci Piring
Ayah Arief kemudian menjelaskan perbandingan untuk membuat cairan pembersih lantai, yaitu 1:40 (chemical : air). Artinya, untuk setiap 1 bagian chemical, dibutuhkan 40 bagian air. Jika menggunakan botol ukuran 300 ml, maka perhitungannya, dibutuhkan 7.5 ml chemical untuk diisikan dalam botol tersebut.
Anak-anak mulai menghitung bersama. Pecahan dan desimal yang biasanya terlihat sulit, kini menjadi bagian dari eksperimen nyata.
Ayah juga memberikan contoh praktis: jika menggunakan ember, kira-kira dibutuhkan 2 tutup botol cairan pembersih lantai untuk campuran air yang sesuai.
Eksperimen berlanjut dengan membuat cairan cuci piring. Kali ini perbandingannya berbeda: 1:2 (chemical : air). Artinya, jika menggunakan 1 bagian chemical, maka ditambahkan 2 bagian air.
Namun ada catatan penting. Cairan cuci piring sebaiknya dibuat secukupnya saja. Jika masih ada sisa dan disimpan terlalu lama, justru bisa menjadi tempat berkembangnya bakteri.
Pelajaran pun semakin lengkap. Kakak tidak hanya belajar menghitung, tetapi juga memahami prinsip kebersihan dan kesehatan.
Satu hal penting yang ditekankan adalah urutan mencampur: Masukkan air terlebih dahulu, baru kemudian chemical. Ini untuk keamanan dan hasil campuran yang lebih stabil. Selain itu agar tidak menghasilkan banyak busa, alih-alih dikocok, botol bisa dinaikturunkan dengan pelan.
Belajar Aman: Pentingnya Label dan Keselamatan
Selain belajar perbandingan, kakak kelas 4B juga belajar tentang keselamatan.
Ayah menyarankan menggunakan botol air minum bekas sebagai wadah cairan pembersih agar lebih hemat dan ramah lingkungan. Namun label bawaan harus dilepas agar tidak membingungkan.
Botol tidak boleh dibiarkan polos. Harus diberi label baru yang jelas bertuliskan “Cairan Pembersih”. Mengapa? Karena jika tidak diberi tanda, bisa saja ada yang salah mengira itu air minum dan meminumnya. Tentu berbahaya.
Di sini, anak-anak belajar bahwa matematika dan sains selalu berjalan berdampingan dengan tanggung jawab.
Pembelajaran Kontekstual yang Bermakna
BBOT 4B hari itu membuktikan bahwa matematika tidak berdiri sendiri. Pecahan dan perbandingan hadir dalam kehidupan sehari-hari—di dapur, di kamar mandi, bahkan di ruang kelas.
Anak-anak belajar:
Menghitung perbandingan secara nyata
Memahami konsep dilusi
Menjaga keselamatan penggunaan bahan kimia
Bertanggung jawab terhadap lingkungan
Wajah kakak shalih–shalihah terlihat puas. Mereka tidak hanya mengerti rumus, tetapi tahu bagaimana menerapkannya.
Kegiatan bersama Ayah Arief Radityo Cahyo Bawono menjadi pengalaman belajar yang tak terlupakan. Dari botol bekas, cairan pembersih, dan hitungan sederhana, kakak kelas 4B memahami bahwa ilmu itu hidup dan dekat.
Hari itu, rahasia perbandingan benar-benar terbongkar. Dan kakak kelas 4B pulang bukan hanya membawa catatan, tetapi juga pemahaman bahwa belajar bisa hadir dalam bentuk yang praktis, berguna, dan menyenangkan.***