fbpx
Semarak Hari Anak Nasional 2026 di SD Islam Bintang Juara: Membangun Generasi Bintang Juara BERSINAR (Bersih Narkoba) Sejak Dini

Semarak Hari Anak Nasional 2026 di SD Islam Bintang Juara: Membangun Generasi Bintang Juara BERSINAR (Bersih Narkoba) Sejak Dini

“Kalau ada orang yang tidak dikenal memberi permen, boleh diterima?”

Pertanyaan sederhana itu diajukan oleh kedua narasumber pada peringatan Hari Anak Nasional 2026. Sontak membuat ratusan tangan mungil terangkat. Ada yang menjawab “boleh”, ada yang mulai ragu, dan sebagian lainnya dengan lantang mengatakan, “Tidak boleh!”

Pertanyaan tersebut bukan sekadar permainan. Di baliknya tersimpan pelajaran penting yang mungkin dapat menyelamatkan masa depan seorang anak.

Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional (HAN) 2026 pada Kamis, 23 Juli 2026, SD Islam Bintang Juara menghadirkan peringatan yang berbeda. Mengusung tema “Membangun Generasi Bintang Juara BERSINAR (Bersih Narkoba)”, sekolah tidak hanya mengajak anak-anak bergembira, tetapi juga membekali mereka dengan bekal kehidupan yang sangat penting: menjaga kesehatan tubuh, berani mengatakan tidak pada narkoba, serta membangun karakter sebagai calon pemimpin muslim yang mampu menjaga diri di tengah tantangan zaman.

Menariknya, kegiatan dilaksanakan secara bersamaan di dua lokasi berbeda agar materi dapat disampaikan sesuai usia dan kebutuhan perkembangan peserta didik.

Hari Anak Nasional tahun ini benar-benar menjadi ruang belajar yang menyenangkan sekaligus bermakna.

Hari Anak Nasional 2026, Saatnya Melindungi Masa Depan Anak Indonesia

Hari Anak Nasional bukan hanya momentum untuk merayakan dunia anak. Lebih dari itu, HAN menjadi pengingat bahwa setiap anak berhak tumbuh dalam lingkungan yang sehat, aman, dan mendukung cita-citanya.

Di era sekarang, tantangan anak tidak lagi hanya sebatas belajar membaca atau berhitung. Mereka juga harus dibekali kemampuan memilih makanan sehat, mengenali bahaya narkoba yang semakin beragam bentuknya, serta berani menolak ajakan yang membahayakan dirinya.

Karena itulah SD Islam Bintang Juara memilih menghadirkan dua kegiatan edukatif yang saling melengkapi.

Anak-anak kelas rendah diperkenalkan pentingnya menjaga kesehatan tubuh melalui dongeng yang menyenangkan. Sementara kakak-kakak kelas atas memperoleh edukasi langsung mengenai bahaya narkoba bersama narasumber dari BNN Provinsi Jawa Tengah.

Semuanya bermuara pada satu tujuan: membangun generasi yang sehat, cerdas, berkarakter, dan mampu menjaga amanah Allah berupa tubuh dan masa depannya.

Belajar Lewat Dongeng: Kak Kempho Mengajak Anak Mencegah Stunting Sejak Dini

Di area kelas 2, suasana dipenuhi gelak tawa ketika Kak Kempho mulai mendongeng di hadapan siswa kelas 1-3.

Namun di balik cerita yang menghibur, tersimpan pesan yang sangat serius.

Anak-anak diajak memahami apa itu stunting, mengapa tubuh membutuhkan makanan bergizi, dan bagaimana kebiasaan makan hari ini akan menentukan kualitas hidup mereka di masa depan.

Melalui bahasa yang sederhana, Kak Kempho menjelaskan bahwa menjadi anak hebat bukan berarti selalu makan makanan yang viral atau jajanan berwarna-warni.

Sebaliknya, tubuh membutuhkan makanan yang mengandung protein, sayur, buah, susu, dan berbagai nutrisi lain agar otak berkembang optimal, tubuh tumbuh kuat, dan semangat belajar tetap terjaga.

Kak Kempho juga mengingatkan anak-anak untuk tidak terlalu sering mengonsumsi makanan dengan kandungan MSG berlebihan, gula tinggi, serta jajanan yang tidak jelas kandungan gizinya.

Anak-anak pun mulai menyadari bahwa memilih makanan sehat merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat kesehatan yang Allah berikan.

galeri HAN dongeng bersama kak Kempho

Permen Tidak Selalu Manis, Ada Bahaya yang Harus Diwaspadai

Di penghujung dongeng, suasana mendadak berubah serius. Kak Kempho menunjukkan sebuah ilustrasi sederhana.

“Kalau ada orang yang tidak dikenal memberikan permen, bagaimana?”

Anak-anak mulai berpikir.

Lalu Kak Kempho menjelaskan bahwa saat ini ada oknum yang menyalahgunakan narkoba dengan cara menyamarkannya menjadi bentuk yang sangat akrab dengan anak-anak, seperti permen, minuman, jajanan, bahkan makanan ringan.

Pesan yang disampaikan sangat jelas:

Jangan menerima makanan ataupun minuman dari orang yang tidak dikenal.

Anak-anak belajar bahwa kewaspadaan bukan berarti curiga kepada semua orang, tetapi menjadi bentuk ikhtiar menjaga diri dari hal-hal yang membahayakan.

Bersama BNN Jawa Tengah, Mengenal Bahaya Narkoba Sejak Dini

Sementara itu, di ruang kelas 4 dan kelas 6, siswa kelas 4 hingga kelas 6 mengikuti sesi edukasi bersama Pak Dela Sulistiyawan Yunior, S.I.Kom., M.A., Penggerak Swadaya Masyarakat dari BNN Provinsi Jawa Tengah.

Materi diawali dengan cara yang sangat dekat dengan kehidupan anak-anak. Pak Dela mengajak siswa menyaksikan sebuah video, kemudian berdiskusi tentang cita-cita mereka. Ada yang ingin menjadi dokter, guru, atlet, polisi, hingga programmer.

Dari sinilah Pak Dela menghubungkan satu pesan penting:

Semua cita-cita membutuhkan tubuh dan otak yang sehat. Karena itu, narkoba harus dijauhi.

Anak-anak kemudian diperkenalkan dengan pengertian narkoba, yaitu narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif lainnya yang dapat merusak tubuh maupun otak manusia.

Narkoba Kini Hadir dalam Bentuk yang Tidak Disangka

Salah satu materi yang paling menarik perhatian siswa adalah ketika Pak Dela menunjukkan bahwa narkoba tidak selalu berbentuk seperti yang sering terlihat di televisi.

Justru saat ini narkoba dapat disamarkan dalam bentuk yang sangat akrab dengan kehidupan anak, seperti:

  • Permen
  • Minuman
  • Jajanan
  • Roti atau makanan ringan

Materi tersebut membuat kakak shalih-shalihah semakin memahami mengapa mereka tidak boleh menerima makanan ataupun minuman dari orang asing.

Pesan sederhana ini sangat penting sebagai bekal menghadapi kehidupan sehari-hari.

Mengapa Orang Bisa Terjerumus Narkoba?

Melalui sesi tanya jawab interaktif, Pak Dela menjelaskan bahwa seseorang dapat terjerumus ke dalam penyalahgunaan narkoba karena berbagai faktor. Di antaranya adalah pengaruh lingkungan pertemanan, keluarga, maupun kondisi psikologis seseorang.

Anak-anak diajak memahami bahwa memilih teman yang baik juga merupakan bagian dari menjaga diri. Mereka pun belajar bahwa keputusan kecil hari ini akan sangat menentukan masa depan.

galeri HAN 2026 edukasi bahaya narkoba bersama BNN

Rokok dan Minuman Keras Juga Berbahaya

Pak Dela menegaskan bahwa ancaman bagi generasi muda bukan hanya narkoba. Rokok dan minuman keras juga sama-sama berbahaya.

Rokok dapat merusak paru-paru, memicu penyakit kronis, bahkan mengganggu kesehatan dalam jangka panjang. Sementara minuman keras dapat merusak kemampuan berpikir dan pengambilan keputusan seseorang.

Pesan ini menjadi penguatan bahwa hidup sehat bukan sekadar menghindari narkoba, tetapi juga menjauhi seluruh kebiasaan yang merusak tubuh.

Berani Menolak Adalah Bentuk Keberanian Sejati

Bagian paling seru terjadi ketika seluruh siswa diajak mempraktikkan bagaimana cara menolak jika diberi makanan atau minuman oleh orang yang tidak dikenal.

Pak Dela memberikan tiga langkah sederhana yang mudah diingat anak-anak:

  1. Tolak dengan sopan.
  2. Tolak disertai alasan.
  3. Segera pergi atau menghindar dari situasi tersebut.

Praktik ini membuat anak-anak tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki keterampilan nyata apabila suatu saat menghadapi situasi serupa.

Inilah bentuk pendidikan yang aplikatif—belajar bukan hanya untuk mengetahui, tetapi juga untuk bertindak dengan benar.

Menjadi Generasi BERSINAR Dimulai dari Kebiasaan Sehari-hari

Dalam materinya, Pak Dela juga mengajak siswa melakukan berbagai kebiasaan positif agar terhindar dari narkoba.

Di antaranya:

  • Mengonsumsi makanan sehat dan bergizi.
  • Rajin berolahraga.
  • Tidak jajan sembarangan.
  • Belajar dengan sungguh-sungguh.
  • Mengisi waktu dengan kegiatan yang bermanfaat.
  • Tidak mengonsumsi obat tanpa arahan orang tua atau tenaga kesehatan.
  • Bergaul di lingkungan yang baik.
  • Berani menolak pemberian dari orang yang tidak dikenal.

Semua kebiasaan tersebut sesungguhnya bukan hanya untuk menghindari narkoba, tetapi juga membentuk gaya hidup sehat yang akan membawa anak-anak menuju masa depan yang lebih baik.

SD Islam Bintang Juara memilih tema “Membangun Generasi Bintang Juara Bersinar (Bersih Narkoba)” ternyata selaras dengan salah satu sub tema Hari Anak Nasional tahun ini. Ternyata,  BNN juga sedang menggalakan program BERSINAR, yang baru saja launching secara serentak hari ini. Alhamdulillah, sekolah ini senantiasa menjadi pionir dalam kebaikan.

semarak hari anak nasional di SD Islam Bintang Juara

Menjadi Calon Pemimpin Muslim yang Menjaga Amanah Allah

Hari Anak Nasional di SD Islam Bintang Juara tahun ini tidak berhenti pada slogan BERSINAR (Bersih Narkoba).

Lebih dari itu, sekolah ingin menanamkan cara pandang bahwa tubuh, akal, dan kesehatan merupakan amanah dari Allah SWT yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab.

Seorang calon pemimpin muslim bukan hanya cerdas dalam akademik, tetapi juga mampu menjaga dirinya dari pengaruh buruk, memilih lingkungan yang baik, berani berkata tidak terhadap ajakan yang salah, serta hidup sehat agar dapat terus berkarya dan memberi manfaat bagi masyarakat.

Inilah makna pendidikan karakter yang terus dihidupkan di SD Islam Bintang Juara.

Karena kami percaya, membangun generasi hebat tidak cukup hanya dengan mengajarkan ilmu pengetahuan. Anak-anak juga perlu dibekali keberanian untuk memilih yang benar, kebijaksanaan dalam mengambil keputusan, dan adab dalam setiap langkah kehidupan.

Semoga semangat Hari Anak Nasional 2026 menjadi pengingat bagi seluruh keluarga besar SD Islam Bintang Juara bahwa setiap anak adalah cahaya masa depan. Ketika mereka tumbuh sehat, beradab, bebas dari narkoba, dan memiliki cita-cita yang kuat, maka mereka tidak hanya akan menjadi generasi yang sukses, tetapi juga menjadi generasi yang membawa manfaat bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan.

Karena di SD Islam Bintang Juara, kami tidak hanya mendidik anak menjadi pintar. Kami menyiapkan mereka menjadi pemimpin muslim yang cerdas, tangguh, berakhlakul karimah, dan siap menjadi solusi bagi tantangan zamannya.*** (CM-MRT)

Pekan Ta’aruf MPLS Ramah SD Islam Bintang Juara 2026: Tumbuh dengan Adab, Bersinar dengan Ilmu Sejak Hari Pertama

Pekan Ta’aruf MPLS Ramah SD Islam Bintang Juara 2026: Tumbuh dengan Adab, Bersinar dengan Ilmu Sejak Hari Pertama

Hari pertama sekolah selalu menghadirkan perasaan yang campur aduk. Ada senyum karena akhirnya mengenakan seragam baru, tetapi ada pula rasa gugup saat memasuki lingkungan yang belum dikenal. Siapa guru kelasnya? Siapa teman duduknya? Apakah sekolah akan menjadi tempat yang menyenangkan?

Pekan Ta’aruf MPLS Ramah, Langkah Pertama Menjadi Calon Pemimpin Muslim

Di SD Islam Bintang Juara, pertanyaan-pertanyaan itu tidak dibiarkan menjadi kecemasan. Justru sejak langkah pertama memasuki gerbang sekolah, peserta didik disambut melalui Pekan Ta’aruf atau Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah yang berlangsung pada 13–17 Juli 2026 dengan mengusung tema “Tumbuh dengan Adab, Bersinar dengan Ilmu.

Mengacu pada Permendikdasmen Nomor 12 Tahun 2026 tentang MPLS Ramah, kegiatan ini dirancang bukan sekadar memperkenalkan gedung sekolah atau menyampaikan tata tertib. Pekan Ta’aruf menjadi ruang bagi anak-anak untuk mengenal diri, mengenal lingkungan belajar, membangun karakter, serta mulai membiasakan nilai-nilai positif yang akan mereka jalani selama bersekolah.

Sebanyak 301 siswa kelas 1 hingga kelas 6 mengikuti rangkaian kegiatan ini sebagai langkah awal menjadi generasi yang beradab, cerdas, kreatif, tangguh, dan siap menjadi calon pemimpin muslim di masa depan.

Selama lima hari, setiap kegiatan disusun secara bertahap. Hari demi hari, anak-anak tidak hanya diajak mengenal sekolah, tetapi juga diajak membangun kebiasaan baik, meneladani tokoh-tokoh inspiratif, hingga menumbuhkan rasa memiliki terhadap sekolah.

Hari Pertama: Mengenal Sekolah dengan Cara yang Menyenangkan

Pekan Ta’aruf diawali pada Senin, 13 Juli 2026 melalui kegiatan apel pembukaan. Apel ini menjadi pertanda bahwa telah sah diterimanya kelas 1 sejumlah 74 siswa dan 3 siswa pindahan sebagai bagian dari keluarga besar SD Islam Bintang Juara.

galeri hari pertama pekan taaruf 2026

Apel Pembukaan

Dalam kegiatan apel, Bu Ni’mah selaku Kepala SD Islam Bintang Juara menyematkan PIN sekolah kepada kak Arfinsa dan kak Athiya sebagai perwakilan siswa baru. Selain itu juga terdapat sesi penyerahan pohon mangga dari orang tua kepada pihak sekolah. Ini merupakan simbolisasi pemberian amanah dari orang tua kepada sekolah untuk mendidik kakak shalih-shalihah.

Pohon mangga dipilih bukan tanpa alasan. Ada filosofi di balik pemilihannya. Biji mangga menggambarkan bahwa setiap anak datang membawa potensi dan harapan. Setiap anak memiliki keunikan dan kemampuan yang perlu dirawat agar berkembang.

Pohon mangga juga menggambarkan karakter dan adab. Untuk bisa tumbuh dengan subur dan lebat, pohon mangga memerlukan akar yang kuat. Akar ini merupakan simbol adab, akhlak dan nilai-nilai kebaikan yang menjadi dasar utama dalam kehidupan kakak shalih-shalihah

Daun yang tumbuh dengan lebat menggambarkan semangat belajar yang terus berkembang. Sementara buah mangga merupakan gambaran hasil ilmu dan adab. Harapannya, kakak shalih-shalihah akan tumbuh menjadi pribadi yang membawa kebaikan dan kebermanfaatan, serta menjadi kebanggaan orang tua dan sekolah.

Tak hanya itu, warna mangga mencerminkan bahwa setiap anak merupakan pribadi yang bersinar, memiliki ilmu, akhlak baik, percaya diri, dan mampu memberikan nilai kebaikan pada lingkungan sekitar.

Pesona Bintang Juara

Usai tuntas melaksanakan apel. Kakak shalih-shalihah menunaikan salat Dhuha dan makan bekal pagi, lalu dilanjutkan dengan mengikuti kegiatan Pesona Bintang Juara di lantai dua.

Suasana sekolah dipenuhi wajah-wajah antusias yang ingin memulai perjalanan baru. Seluruh siswa kelas 1 hingga kelas 6 mengikuti pembukaan Pekan Ta’aruf dengan penuh semangat.

Pada kesempatan ini, peserta didik diperkenalkan dengan berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang dapat mereka ikuti selama bersekolah di SD Islam Bintang Juara. Mereka juga mengenal penggunaan seragam sekolah dari hari Senin hingga Jumat sehingga lebih siap menjalani rutinitas belajar.

Suasana semakin meriah dengan penampilan menyanyi, tari, dan dongeng yang memberikan hiburan sekaligus inspirasi kepada seluruh siswa.

Hari pertama ini sengaja dirancang untuk menghadirkan pengalaman yang menyenangkan. Sebab ketika anak merasa nyaman sejak awal, mereka akan lebih mudah membangun rasa percaya diri dan semangat untuk belajar.

Hari Kedua: Mengenal Lingkungan, Adab, dan Tokoh Inspiratif

Pada Selasa, 14 Juli 2026, kegiatan diawali dengan Senam Ceria yang dipimpin oleh Pak Aria. Kegiatan ini merupakan salah satu penguatan Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Selanjutnya, masing-masing kelas melanjutkan aktivitas yang telah disesuai dengan tahap perkembangan.

Siswa kelas 1 mengikuti kegiatan Jejak Petualangan Pemimpin Cilik. Mereka diajak menjelajahi berbagai sudut sekolah sambil mengenal fungsi setiap fasilitas yang ada, mulai dari ruang kelas, perpustakaan, UKS, masjid, hingga area bermain. Bersamaan dengan itu, anak-anak juga mulai belajar adab ketika berada di lingkungan sekolah, seperti menjaga kebersihan, menghormati fasilitas umum, dan bersikap santun kepada siapa pun yang ditemui.

galeri hari kedua pekan taaruf 2026

Sementara itu, siswa kelas 2 dan 3 mengikuti Kelas Penguatan Adab bersama Bu Nawang dengan tema “Bijak Bermedia Sosial.” Meskipun masih duduk di bangku sekolah dasar, anak-anak diajak memahami bahwa dunia digital juga membutuhkan adab. Mereka belajar menggunakan media sosial secara bijaksana, menjaga tutur kata, menghormati orang lain, serta berpikir sebelum membagikan sesuatu di dunia maya.

Berbeda dengan kelas bawah, siswa kelas 4 hingga kelas 6 mengikuti kegiatan Bedah Profil Filosofi Nama Kelas. Mereka mengenal lebih dekat sosok-sosok ilmuwan muslim dan khalifah yang menjadi nama kelas masing-masing, seperti Umar bin Abdul Aziz, hingga Umar bin Khattab. Dari kisah-kisah tersebut, siswa belajar bahwa ilmu pengetahuan, kepemimpinan, dan kontribusi kepada masyarakat merupakan warisan besar peradaban Islam yang patut diteladani.

Hari Ketiga: Memuliakan Guru dan Meneladani Ilmu

Memasuki Rabu, 15 Juli 2026, fokus kegiatan bergeser pada pentingnya memuliakan guru dan menghargai ilmu.

Siswa kelas 1 mengikuti kegiatan Mengenal Guru, Memuliakan Ilmu. Mereka berkenalan lebih dekat dengan bapak dan ibu guru serta tenaga kependidikan. Anak-anak juga belajar cara duduk yang benar, memegang pensil dengan tepat, dan memahami bahwa menghormati guru merupakan bagian dari adab dalam menuntut ilmu.

galeri hari ketiga pekan taaruf 2026

Pada hari yang sama, siswa kelas 2 dan 3 mendapat giliran mengikuti Bedah Profil Nama Kelas. Mereka diajak mengenal sosok inspiratif yang namanya mereka gunakan selama satu tahun pelajaran. Harapannya, nama kelas tidak hanya menjadi identitas, tetapi juga menjadi doa dan motivasi agar mereka tumbuh menjadi generasi yang memberi manfaat.

Adapun siswa kelas 4 hingga kelas 6 mengikuti Kelas Penguatan Adab bersama Bu Marita dengan tema yang sama, yaitu “Bijak Bermedia Sosial.” Melalui diskusi yang interaktif, siswa diajak menyadari bahwa karakter seorang muslim juga tercermin melalui jejak digital yang mereka tinggalkan.

Hari Keempat: Merayakan Milad dengan Syukur dan Berbagi

Suasana Pekan Ta’aruf semakin istimewa pada Kamis, 16 Juli 2026, karena seluruh warga sekolah memperingati Milad ke-9 SD Islam Bintang Juara.

Perayaan diawali dengan istighasah dan doa khataman sebagai bentuk rasa syukur atas perjalanan sekolah yang telah memasuki usia sembilan tahun.

Kegiatan dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng, sambutan, serta penayangan video perjalanan SD Islam Bintang Juara yang mengingatkan seluruh warga sekolah tentang proses panjang yang telah dilalui bersama.

galeri hari keempat pekan taaruf 2026

Sebagai wujud kepedulian sosial, seluruh warga sekolah juga mengikuti gerakan infaq minimal Rp9.000 yang akan disalurkan kepada sembilan titik PAUD dan TPQ.

Tidak hanya itu, setiap siswa menuliskan harapan terbaiknya untuk sekolah melalui kegiatan Tree of Hope. Daun-daun harapan yang ditempel di pohon menjadi simbol doa bersama agar SD Islam Bintang Juara terus tumbuh menjadi sekolah yang memberi manfaat bagi masyarakat.

Melalui peringatan Milad ini, anak-anak belajar bahwa bertambahnya usia bukan hanya tentang perayaan, tetapi juga tentang rasa syukur, berbagi, dan terus memperbaiki diri.

Hari Kelima: Menutup Pekan dengan Kebiasaan Baik

Rangkaian Pekan Ta’aruf ditutup pada Jumat, 17 Juli 2026 melalui kegiatan JUMAYUR (Jumat Buah dan Sayur) dan Jumat Berseri (Bersih dan Rapi)

Sejak pagi, siswa membawa bekal sehat berupa sayur dan buah sebagai bagian dari pembiasaan gaya hidup sehat. Setelah itu mereka bersama-sama membersihkan lingkungan sekolah, menumbuhkan rasa tanggung jawab sekaligus kepedulian terhadap kebersihan tempat belajar.

galeri hari kelima pekan taaruf 2026

Kegiatan kemudian ditutup dengan penyusunan Kesepakatan Kelas bersama wali kelas. Setiap kelas berdiskusi mengenai aturan dan nilai yang akan dijaga selama satu tahun pelajaran, seperti disiplin, saling menghargai, bertanggung jawab, menjaga kebersihan, dan semangat belajar.

Menariknya, kesepakatan tersebut bukan sekadar aturan yang dibuat guru, melainkan hasil diskusi bersama sehingga siswa merasa memiliki tanggung jawab untuk menjalankannya.

Membentuk Kebiasaan Baik Sejak Hari Pertama

Seluruh rangkaian Pekan Ta’aruf dirancang untuk membangun budaya sekolah melalui pembiasaan sederhana namun bermakna.

Anak-anak mulai belajar mengucapkan salam ketika bertemu guru, tersenyum kepada teman, mengucapkan kata “tolong”, “maaf”, “permisi”, dan “terima kasih”, membiasakan antre, memakai sepatu secara mandiri, menjaga kebersihan toilet, hingga makan sesuai adab.

Kebiasaan-kebiasaan kecil inilah yang kelak menjadi pondasi karakter mereka.

Di sisi lain, guru juga melaksanakan asesmen awal pembelajaran untuk memetakan kemampuan, karakteristik, serta kebutuhan belajar setiap siswa. Dengan demikian, proses pembelajaran sepanjang tahun dapat dirancang lebih tepat, bermakna, dan sesuai dengan potensi masing-masing anak.

Awal Perjalanan Menuju Masa Depan yang Bermakna

Pekan Ta’aruf di SD Islam Bintang Juara membuktikan bahwa Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah bukan sekadar orientasi, tetapi awal perjalanan pendidikan yang sesungguhnya.

Di sinilah anak belajar bahwa sekolah bukan hanya tempat memperoleh ilmu, tetapi juga tempat menumbuhkan adab, membangun karakter, melatih kemandirian, mempererat persahabatan, serta belajar menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain.

Melalui tema “Tumbuh dengan Adab, Bersinar dengan Ilmu,” SD Islam Bintang Juara berharap setiap langkah kecil yang dimulai pada pekan pertama sekolah akan menjadi bekal bagi anak-anak untuk terus bertumbuh menjadi generasi yang mencintai ilmu, menjunjung tinggi akhlak, serta siap menjadi calon pemimpin muslim yang mampu memberikan cahaya dan manfaat bagi masyarakat di masa depan.*** (CM-MRT)

Bukan Nama Kelas Biasa, Ini Alasan SD Islam Bintang Juara Memilih Nama Ilmuwan Muslim

Bukan Nama Kelas Biasa, Ini Alasan SD Islam Bintang Juara Memilih Nama Ilmuwan Muslim

Kalimat sederhana yang menyebutkan nama-nama ilmuwan muslim kini terdengar saat tahun ajaran baru dimulai. “Bu, aku kelas Ibnu Sina.”

Mungkin bagi sebagian orang, itu hanyalah nama kelas. Tidak berbeda dengan kelas Melati, Anggrek, Aster, atau bahkan nama warna dan tokoh kartun yang lazim digunakan di banyak sekolah. Namun di SD Islam Bintang Juara, setiap nama kelas dipilih dengan penuh pertimbangan.

Karena kami percaya, apa yang sering disebut, didengar, dan dikenal anak setiap hari akan perlahan membentuk cara mereka berpikir tentang siapa yang layak dijadikan teladan.

Di tengah derasnya arus digital, anak-anak masa kini begitu akrab dengan tokoh superhero, karakter animasi, hingga tokoh-tokoh dalam gim daring. Sebagian memang menghibur, tetapi tidak semuanya membawa nilai yang membangun karakter.

Di sisi lain, sejarah Islam justru dipenuhi oleh tokoh-tokoh luar biasa yang nyata. Mereka adalah ilmuwan, pemimpin, dokter, matematikawan, astronom, hingga penemu yang karya-karyanya masih digunakan dunia hingga hari ini.

Inilah yang menjadi latar belakang lahirnya filosofi nama ilmuwan muslim menjadi nama-nama kelas pada Tahun Pelajaran 2026/2027 SD Islam Bintang Juara.

Menghidupkan Kembali Keteladanan yang Nyaris Terlupakan

Ada satu keresahan yang sering muncul di kalangan para guru. Banyak anak mampu menyebut puluhan nama karakter fiksi, tetapi belum mengenal siapa Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, atau Al-Biruni.

Padahal, tokoh-tokoh tersebut merupakan bagian penting dari peradaban dunia. Mereka bukan sekadar nama dalam buku sejarah. Mereka adalah sosok yang berhasil menjadikan ilmu pengetahuan sebagai jalan ibadah dan manfaat bagi umat manusia.

Karena itulah, SD Islam Bintang Juara memilih nama-nama ilmuwan muslim dan khalifah sebagai identitas setiap kelas. Harapannya sederhana, tetapi penuh makna. Semoga setiap kali anak menyebut nama kelasnya, mereka sekaligus mengenal sosok besar yang menjadi inspirasi di balik nama tersebut.

filosofi nama kelas SD Islam Bintang Juara TP 2026-2027 alasan

Nama Ilmuwan Muslim yang Menjadi Doa

Di SD Islam Bintang Juara, nama bukan sekadar identitas. Nama adalah doa. Nama adalah harapan. Nama adalah pengingat tentang nilai yang ingin ditanamkan.

Kami berharap kakak shalih-shalihah tidak hanya tumbuh menjadi pribadi yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter tangguh, cinta ilmu, berani berkarya, dan mampu menghadirkan solusi bagi masyarakat.

Sebagaimana para ilmuwan muslim dahulu menggunakan ilmunya untuk memberi manfaat bagi dunia, kami berharap kelak para siswa juga menjadi generasi yang karya dan kontribusinya membawa keberkahan.

Karena sekolah bukan hanya tempat memperoleh nilai tinggi, melainkan tempat menumbuhkan mimpi besar.

Mengenal Sosok Inspiratif di Balik Nama Setiap Kelas

Setiap jenjang memiliki tokoh yang dipilih berdasarkan kontribusi besar mereka terhadap peradaban Islam dan dunia.

Kelas 1: Memulai Perjalanan dengan Semangat Mencintai Ilmu

  • Kelas 1A – Ibnu Sina : Dikenal sebagai Bapak Kedokteran Modern, Ibnu Sina menulis Al-Qanun fi al-Tibb, kitab kedokteran yang menjadi rujukan dunia selama berabad-abad. Harapannya, anak-anak belajar bahwa ilmu yang dipelajari hari ini dapat menjadi manfaat bagi banyak orang di masa depan.
  • Kelas 1B – Al-Khawarizmi : Tokoh besar yang dikenal sebagai Bapak Aljabar sekaligus pelopor konsep algoritma dan angka nol. Di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), nama Al-Khawarizmi menjadi semakin relevan karena istilah algorithm berasal dari namanya.
  • Kelas 1C – Ibnu Al-Haytham ; Ilmuwan yang dikenal sebagai Bapak Optik Modern. Beliau merumuskan teori penglihatan dan hukum pembiasan cahaya yang menjadi dasar perkembangan ilmu optik hingga saat ini.

Kelas 2: Berani Berkarya dan Bereksperimen

  • Kelas 2A – Abu Qasim Al-Zahrawi : Pelopor ilmu bedah modern yang merancang berbagai alat bedah yang menjadi inspirasi dunia medis.
  • Kelas 2B – Jabir bin Hayyan : Dikenal sebagai Bapak Kimia Modern melalui penemuan proses distilasi, kristalisasi, serta pengembangan berbagai metode eksperimen ilmiah.
  • Kelas 2C – Abbas bin Firnas : Sosok visioner yang dikenal sebagai pelopor penerbangan melalui percobaan glider atau pesawat layang jauh sebelum teknologi penerbangan berkembang.

Kelas 3: Mengajarkan Rasa Ingin Tahu terhadap Alam Semesta

  • Kelas 3A – Al-Battani : Astronom dan matematikawan muslim yang berhasil menghitung panjang satu tahun matahari dengan tingkat akurasi yang mengagumkan.
  • Kelas 3B – Ibnu Al-Nafis : Dokter muslim pertama yang menjelaskan secara ilmiah tentang sirkulasi darah melalui paru-paru, jauh sebelum ditemukan kembali oleh ilmuwan Barat.
  • Kelas 3C – Al-Biruni : Ahli geologi sekaligus astronom yang berhasil mengukur keliling bumi dengan metode ilmiah yang sangat mendekati hasil pengukuran modern.

filosofi nama kelas -2

Kelas 4–6: Belajar Kepemimpinan dari Para Khalifah

Tidak hanya ilmuwan, kakak shalih-shalihah juga dikenalkan kepada para pemimpin Islam yang meninggalkan warisan luar biasa.

  • Kelas 4A – Umar bin Abdul Aziz : Pemimpin yang dikenal dengan reformasi administrasi pemerintahan, penguatan kodifikasi hadis, serta komitmennya dalam memberantas korupsi dan menegakkan keadilan.
  • Kelas 4B – Ali bin Abi Thalib : Khalifah yang dikenal karena kebijaksanaan, kecerdasan, serta pembenahan sistem administrasi dan tata kelola negara.
  • Kelas 5A – Utsman bin Affan : Sosok yang berjasa dalam kodifikasi mushaf Al-Qur’an sehingga umat Islam hingga kini memiliki bacaan Al-Qur’an yang terjaga keseragamannya.
  • Kelas 5B – Umar bin Khattab : Pemimpin visioner yang menetapkan Kalender Hijriah sebagai sistem penanggalan resmi umat Islam.
  • Kelas 6 – Abu Bakar Ash-Shiddiq : Khalifah pertama yang dikenal karena keteguhan iman, kejujuran, serta keberaniannya menegakkan kewajiban zakat demi menjaga persatuan umat.

Agar kakak shalih-shalihah mengenal lebih dekat dan bisa meneladani karakter tokoh-tokoh di atas, pada Pekan Taaruf hari ketiga dan keempat, kakak diajak untuk membedah profil masing-masing kelas. Bukan hanya sekadar mendengarkan informasi satu arah dari guru di kelas, tetapi juga melalui beragam tantangan dan permainan yang seru, bermakna, juga menyenangkan.

Pendidikan Karakter Dimulai dari Hal-Hal Sederhana

Mungkin bagi sebagian orang, pergantian nama kelas terlihat sederhana. Namun dalam dunia pendidikan, simbol memiliki kekuatan.

Ketika setiap hari anak memasuki kelas “Ibnu Sina”, “Al-Khawarizmi”, atau “Al-Biruni”, rasa ingin tahu akan perlahan tumbuh.

  • Siapa beliau?
  • Apa jasanya?
  • Mengapa namanya digunakan sebagai nama kelas?

Pertanyaan-pertanyaan kecil seperti itulah yang menjadi pintu masuk pembelajaran karakter, sejarah, dan kecintaan terhadap peradaban Islam. Kakak shalih-shalihah akan belajar bahwa menjadi muslim berarti juga menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Menyiapkan Generasi yang Menjadi Solusi

Di SD Islam Bintang Juara, kami memiliki keyakinan bahwa dunia tidak membutuhkan lebih banyak generasi yang sekadar mengikuti tren. Dunia membutuhkan generasi yang mampu menghadirkan solusi.

  • Generasi yang berilmu sekaligus berakhlak.
  • Generasi yang berani bermimpi besar namun tetap rendah hati.
  • Generasi yang menjadikan ilmu sebagai bentuk ibadah dan pengabdian kepada Allah SWT.

Karena itu, filosofi nama kelas ini bukan hanya tentang mengenalkan tokoh sejarah. Ini adalah doa yang dipanjatkan setiap hari.

Semoga setiap anak yang belajar di bawah nama para ilmuwan dan pemimpin besar Islam tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, tidak mudah rapuh oleh zaman, serta kelak mampu melahirkan karya-karya yang membawa manfaat bagi masyarakat, bangsa, bahkan dunia.

Sebab setiap anak adalah bintang. Dan setiap bintang berhak menjadi juara.*** (CM-MRT)

Akhirussanah Angkatan IV: Jejak Calon Pemimpin Tangguh  yang Mengharu Biru

Akhirussanah Angkatan IV: Jejak Calon Pemimpin Tangguh yang Mengharu Biru

Ada pertemuan yang memang ditakdirkan untuk berakhir pada perpisahan. Namun bukan berarti perpisahan selalu menyisakan kesedihan. Kadang, ia justru menjadi ruang untuk mensyukuri perjalanan panjang yang telah dilalui bersama.

Suasana itulah yang terasa begitu kuat dalam kegiatan Tasyakuran dan Akhirussanah Kelas VI Angkatan ke-4 SD Islam Bintang Juara yang diselenggarakan pada Sabtu, 6 Juni 2026 di Gedung BBGP Jawa Tengah, Jalan Mr. Koesbiyono Tjondrowibowo, Pakintelan, Gunungpati, Semarang.

Mengusung tema “Jejak Sang Calon Pemimpin Tangguh: Cerdas Berilmu, Santun Berperilaku”, kegiatan ini menjadi penanda berakhirnya perjalanan enam tahun pendidikan dasar bagi 16 kakak shalih dan shalihah Angkatan IV SD Islam Bintang Juara.

Namun lebih dari sekadar acara kelulusan, akhirussanah ini menjadi perayaan perjalanan tumbuh, belajar, berjuang, dan bermimpi bersama.

Enam Tahun yang Penuh Cerita

Enam tahun lalu, mereka datang dengan seragam yang masih kebesaran. Ada yang masih malu berbicara di depan kelas. Ada yang belum lancar membaca. Ada yang masih perlu ditemani saat beradaptasi dengan lingkungan sekolah.

Hari itu, semua kenangan itu seolah diputar kembali. Dalam setiap senyum yang terlihat, tersimpan ribuan cerita yang tidak akan pernah terlupakan. Cerita tentang tugas pertama. Cerita tentang sahabat pertama. Cerita tentang guru-guru yang sabar mendampingi. Dan cerita tentang mimpi-mimpi yang mulai tumbuh sejak mereka duduk di bangku sekolah dasar.

Pesan-Pesan Bermakna yang Mengaduk Perasaan

Rangkaian acara dipenuhi berbagai pesan penuh makna dari wali kelas, kepala sekolah, hingga Ketua Yayasan Dewi Sartika. Masing-masing menyampaikan pesan yang bukan hanya menjadi bekal untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya, tetapi juga bekal kehidupan.

Mereka mengingatkan bahwa kecerdasan akademik penting, tetapi akhlak mulia jauh lebih penting. Bahwa kesuksesan sejati bukan hanya tentang prestasi yang diraih, tetapi tentang manfaat yang diberikan kepada orang lain. Bahwa perjalanan setelah lulus SD justru baru dimulai.

Namun di antara semua pesan yang disampaikan hari itu, ada satu momen yang membuat suasana ruangan berubah menjadi begitu haru.

Ketika Kak Daffa Tak Kuasa Menahan Haru

Perwakilan siswa kelas VI angkatan IV, Kak Daffa, maju ke depan untuk menyampaikan pesan dan kesan. Awalnya ia tampak tenang. Namun perlahan suaranya mulai bergetar.

Ia mencoba melanjutkan kalimat demi kalimat, tetapi rasa haru yang selama ini tersimpan akhirnya tak mampu lagi disembunyikan. Bagaimana mungkin tidak?

Enam tahun bukan waktu yang singkat. Sebentar lagi ia dan teman-temannya akan melanjutkan perjalanan ke sekolah yang berbeda-beda. Mereka yang selama ini belajar, bermain, bercanda, dan bertumbuh bersama akan menempuh jalan masing-masing.

Dalam pesannya, Kak Daffa menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh guru yang telah mendidik mereka sejak kelas 1 hingga menyelesaikan pendidikan di kelas 6. Ucapan sederhana itu terdengar begitu tulus. Dan mungkin menjadi representasi dari perasaan seluruh siswa Angkatan IV pada hari itu.

Untaian Nada yang Menyimpan Banyak Kenangan

Suasana haru semakin terasa melalui berbagai penampilan istimewa yang dipersembahkan sepanjang acara.

Kelas VI membuka rangkaian penampilan dengan “Senandung Perpisahan” yang dipersembahkan untuk guru-guru tercinta, teman-teman sekelas, serta adik-adik kelas.

Setiap lirik yang dinyanyikan seakan membawa hadirin menelusuri kembali perjalanan panjang mereka selama enam tahun terakhir. Tak lama kemudian, giliran perwakilan adik kelas mempersembahkan lagu “Sayonara”.

Penampilan sederhana itu justru menjadi salah satu momen paling menyentuh.

Usai bernyanyi, adik-adik kelas memberikan kenang-kenangan kepada seluruh kakak kelas VI sebagai simbol cinta, penghormatan, dan doa untuk perjalanan mereka selanjutnya.

Resik Sesarengan dan Makna Silaturahim

Keindahan budaya Nusantara turut hadir melalui penampilan Tari Resik Sesarengan. Tarian ini menggambarkan pentingnya kerja sama dalam menjaga lingkungan dan kehidupan bersama.

Lebih dari itu, tarian tersebut menjadi simbol bahwa meskipun kelak berada di tempat yang berbeda, silaturahim harus tetap dijaga. Karena persahabatan yang dibangun dengan kebaikan tidak akan pernah dibatasi oleh jarak.

Untuk Ayah dan Bunda, Terima Kasih

Jika ada satu sosok yang paling banyak berkorban sepanjang perjalanan pendidikan anak, tentu mereka adalah ayah dan bunda. Karena itu, salah satu penampilan paling menyentuh datang dari kelas VI yang secara khusus dipersembahkan untuk orang tua mereka.

Setelah penampilan selesai, kakak shalih dan shalihah memberikan bunga kepada ayah dan bunda masing-masing. Ada pelukan. Ada senyum. Ada air mata. Dan ada begitu banyak rasa syukur yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Momen sederhana itu menjadi pengingat bahwa keberhasilan anak tidak pernah lepas dari doa, perjuangan, dan cinta tanpa syarat dari orang tua.

Ketika Orang Tua Turut Menyampaikan Cinta

Suasana haru berlanjut ketika perwakilan orang tua kelas VI mempersembahkan lagu “Saat Kau Telah Mengerti”. Lagu tersebut dinyanyikan oleh para bunda dengan penuh penghayatan.

Bagi banyak orang tua yang hadir, lagu itu terasa seperti surat cinta yang selama ini tersimpan untuk anak-anak mereka. Penampilan tersebut kemudian dilanjutkan dengan pemberian apresiasi kepada seluruh kakak shalih dan shalihah kelas VI.

Monolog Ibu Pertiwi yang Menggugah Kesadaran

Menjelang penghujung acara, hadirin kembali dibuat terpukau melalui penampilan pamungkas. Kak Syabil membawakan Monolog Ibu Pertiwi, diiringi paduan suara kelas VI yang menyanyikan lagu “Ibu Pertiwi”.

Penampilan ini tidak hanya indah secara artistik, tetapi juga menghadirkan refleksi mendalam tentang kondisi bangsa dan peran generasi muda di masa depan. Seolah menjadi pengingat bahwa anak-anak yang hari itu lulus dari sekolah dasar adalah generasi yang kelak akan menentukan arah negeri ini.

Penyematan Samir yang Sarat Makna

Prosesi penyematan samir dan penyerahan ijazah menjadi salah satu puncak acara yang paling dinanti. Satu per satu siswa dipanggil ke atas panggung.

Bu Shilvi membacakan profil masing-masing siswa dengan hangat dan penuh kebanggaan. Di layar besar, ditampilkan slideshow yang menggambarkan perjalanan mereka.

Menariknya, tayangan tersebut memperlihatkan transformasi dari sosok anak berseragam toga menuju berbagai profesi dan cita-cita yang mereka impikan di masa depan.

Ada yang bercita-cita menjadi dokter. Ada yang ingin menjadi guru. Ada yang ingin menjadi pengusaha. Ada pula yang bermimpi menjadi pemimpin yang membawa manfaat bagi banyak orang.

Visual tersebut menjadi simbol bahwa pendidikan bukan hanya tentang apa yang dicapai hari ini, tetapi tentang mimpi besar yang sedang dipersiapkan untuk masa depan.

Perpisahan yang Menjadi Awal Perjalanan Baru

Kegiatan ditutup dengan pemutaran video dokumenter perjalanan siswa sejak kelas 1 hingga kelas 6.

Tawa, tingkah lucu masa kecil, kegiatan belajar, perlombaan, outing class, hingga momen-momen kebersamaan selama enam tahun diputar kembali di hadapan seluruh hadirin.

Beberapa tersenyum. Beberapa tertawa. Dan tak sedikit yang diam-diam menyeka air mata. Karena mereka sadar, sebuah babak telah selesai. Namun kisah mereka belum berakhir.

Akhirussanah Angkatan IV SD Islam Bintang Juara bukanlah garis akhir. Ini adalah awal dari perjalanan baru bagi para calon pemimpin tangguh yang telah ditempa selama enam tahun.

Selamat melangkah, kakak shalih dan shalihah. Teruslah menjadi pribadi yang cerdas berilmu, santun berperilaku, dan bermanfaat bagi sesama. Semoga setiap jejak langkah yang kalian tinggalkan hari ini menjadi awal dari jejak-jejak kebaikan yang lebih besar di masa depan.***

Puncak Tasmi’: Ketika Pelukan Orang Tua Menjadi Penguat Hafalan Al-Qur’an

Puncak Tasmi’: Ketika Pelukan Orang Tua Menjadi Penguat Hafalan Al-Qur’an

Langkah-langkah kecil itu berjalan perlahan memasuki ruangan. Wajah-wajah penuh harap tampak dari para kakak shalih dan shalihah yang hari itu mengenakan pakaian serba putih dengan selempang istimewa berwarna hitam dengan hiasan emas bertuliskan “Khotmil Quran SD Islam Bintang Juara”. Di belakangnya, lantunan rebana dari tim Rebana An Najma Senior mengiringi suasana menjadi semakin khidmat.

Bukan sekadar acara seremonial. Bukan hanya tentang tampil di depan panggung. Tetapi tentang perjalanan panjang yang penuh air mata, murojaah, rasa lelah, semangat, dan doa-doa yang diam-diam dipanjatkan orang tua setiap malam.

Itulah suasana Puncak Tasmi’ SD Islam Bintang Juara Tahun Pelajaran 2025–2026.

Tahun ini, sebanyak 15 kakak shalih dan 15 kakak shalihah berhasil mencapai tahap Puncak Tasmi’. Namun satu kakak shalihah terpaksa belum bisa bergabung karena sedang sakit tifus. Meski demikian, semangat dan doa tetap mengalir untuk kesembuhannya.

Karena dalam perjalanan menghafal Al-Qur’an, setiap proses memiliki nilai perjuangan yang besar.

Puncak Tasmi’ Dibuka dengan Lantunan yang Menenangkan Hati

Kegiatan dimulai dengan pembukaan oleh dua MC, Bu Shilvi dan Bu Ulya, yang menyambut para tamu undangan, guru, dan orang tua dengan hangat.

Acara kemudian dilanjutkan dengan tilawah dan sari tilawah Surat Al-Muzammil yang dibacakan oleh Bu Ulfa. Ayat demi ayat yang dilantunkan seakan menjadi pengingat bahwa Al-Qur’an bukan sekadar untuk dihafal, tetapi juga untuk dicintai dan dijaga sepanjang hayat.

Tak lama kemudian, peserta Puncak Tasmi’ memasuki ruangan dengan penuh percaya diri. Iringan rebana membuat suasana terasa syahdu. Banyak ayah bunda tampak mengabadikan momen itu sambil menahan haru.

Prosesi Khotmil Quran yang Menggetarkan

Salah satu momen paling bermakna dalam kegiatan ini adalah prosesi Khotmil Quran.

Dipimpin oleh Pak Ali, kegiatan diawali dengan pembacaan hadhoroh, kemudian seluruh peserta bersama-sama membaca Surat Ad-Dhuha hingga An-Naas. Suara anak-anak yang membaca ayat suci Al-Qur’an secara serempak membuat ruangan terasa begitu menenangkan.

Tak sedikit orang tua yang tampak menundukkan kepala sambil menyeka air mata. Karena bagi banyak ayah bunda, mendengar anaknya membaca Al-Qur’an dengan lancar adalah hadiah yang tidak bisa diukur dengan apa pun.

Prosesi kemudian ditutup dengan doa khotmil Quran yang dipimpin oleh Pak Ali. Dalam doa tersebut, dipanjatkan harapan agar anak-anak senantiasa dijaga hatinya, dimudahkan menjaga hafalan, serta tumbuh menjadi generasi pecinta Al-Qur’an.

Sambung Ayat yang Menegangkan Sekaligus Membanggakan

Suasana yang awalnya haru berubah menjadi penuh antusias ketika memasuki sesi sambung ayat.

Panitia telah menyiapkan lintingan berisi potongan ayat Al-Qur’an. Tamu undangan dan orang tua diminta mengambil salah satu lintingan, lalu membacakan ayat tersebut. Setelah itu, peserta yang mampu melanjutkan ayat diminta mengangkat tangan dan meneruskan hingga lima ayat berikutnya.

Ruangan mendadak penuh semangat. Beberapa peserta mengangkat tangan dengan cepat. Ada yang tampak berpikir sejenak sebelum melanjutkan ayat. Ada pula yang dengan mantap menyambung tanpa ragu. Momen ini menjadi bukti bahwa hafalan Al-Qur’an bukan hanya hasil sekali dua kali belajar. Dibutuhkan murojaah, disiplin, dan pembiasaan setiap hari.

Di balik keberanian anak-anak itu, ada perjuangan panjang yang sering kali tidak terlihat. Ada waktu bermain yang dikurangi untuk murojaah. Ada rasa malas yang harus dilawan. Ada ayah bunda dan guru yang terus mendampingi dengan sabar.

Sungkeman yang Membuat Banyak Mata Berkaca-Kaca

Namun puncak keharuan benar-benar terasa ketika memasuki sesi sungkeman.

Satu per satu peserta turun dari panggung menuju tempat duduk orang tua mereka. Anak-anak itu lalu bersimpuh, menyalami tangan ayah dan bunda, meminta doa restu, lalu dipeluk erat.

Beberapa anak tampak menangis. Orang tua pun tak kuasa menahan haru. Pelukan itu terasa lebih dari sekadar ucapan selamat. Ada rasa syukur. Ada rasa bangga. Ada doa-doa yang tidak terucap lewat kata-kata.

Momen sungkeman ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan anak menghafal Al-Qur’an tidak pernah lahir dari perjuangan anak saja. Di belakangnya ada keluarga yang ikut bertumbuh bersama proses itu.

Karena sesungguhnya menghafal Al-Qur’an bukan perjalanan singkat. Ia adalah perjalanan hati.

Bagi Ayah Bunda yang terlewat menonton live Puncak Tasmi, masih bisa menyimaknya pada link berikut:

Tasmi’ Bukan Akhir, Tetapi Awal Perjalanan

Dalam sesi pesan-pesan bermakna, Kepala SD Islam Bintang Juara, Nur Shofwatin Ni’mah, S.Pd., Gr., menyampaikan bahwa Puncak Tasmi’ bukanlah garis akhir. Justru inilah awal perjalanan anak-anak untuk menjaga kedekatan dengan Al-Qur’an. Beliau mengingatkan bahwa tantangan terbesar bukan saat menghafal, tetapi saat menjaga hafalan agar tetap hidup dalam keseharian.

Senada dengan itu, Ketua Yayasan Dewi Sartika, Dyah Indah Noviyani, S.Psi., M.Psi., Psikolog, juga menegaskan pentingnya peran orang tua dalam mendampingi anak menjaga hafalan.

Anak-anak tetap membutuhkan suasana rumah yang dekat dengan Al-Qur’an. Tetap membutuhkan teladan. Tetap membutuhkan apresiasi. Dan tetap membutuhkan orang tua yang membersamai proses mereka.

Sementara itu, Dewan Pembina Yayasan Dewi Sartika, Prof. Dr. Hj. Esmi Warassih Puji Rahayu, S.H., M.S., menyampaikan bahwa nikmat Al-Qur’an adalah nikmat besar yang harus disyukuri. Beliau berharap anak-anak tidak hanya menjadi penghafal, tetapi juga tumbuh dengan adab, akhlak, dan kecintaan terhadap isi Al-Qur’an.

Ketiga tokoh tersebut memiliki benang merah pesan yang sama:

  • Tasmi’ bukan akhir perjalanan.
  • Tasmi’ adalah awal anak belajar mencintai Al-Qur’an sepanjang hidupnya.

Kisah Jatuh Bangun Ahmad Nadhif Ar Rayyan

Salah satu bagian paling menginspirasi dalam kegiatan ini datang dari perwakilan peserta Puncak Tasmi’, Ahmad Nadhif Ar Rayyan (Kelas 6).

Dengan suara tenang, Nadhif menceritakan bahwa dirinya pernah gagal mengikuti Puncak Tasmi’ pada tahun sebelumnya. Saat itu ia merasa sedih. Kecewa. Bahkan sempat merasa tidak percaya diri.

Namun dari kegagalan itu, Nadhif memilih belajar memperbaiki prosesnya. Ia mulai membuat jurnal harian hafalan Al-Qur’an. Menata jadwal murojaah. Mencatat target hafalan setiap hari.

Dan perlahan, kebiasaan kecil itu membantunya lebih disiplin menjaga hafalan. Hingga akhirnya tahun ini, ia berhasil lulus tasmi’ dan berdiri di panggung Puncak Tasmi’.

Kisah Nadhif menjadi pengingat berharga bagi anak-anak bahwa kegagalan bukan alasan untuk berhenti. Kadang Allah sedang mengajarkan proses bertumbuh yang lebih kuat.

Pesan Orang Tua: Jaga Adab Bersama Al-Qur’an

Acara kemudian ditutup dengan pesan dari perwakilan orang tua peserta yang diwakili oleh orang tua Kak Hasna. Dengan penuh rasa syukur, beliau menyampaikan terima kasih kepada seluruh guru yang telah mendampingi proses anak-anak selama ini.

Beliau juga mengingatkan bahwa menjaga adab sama pentingnya dengan menjaga hafalan. Karena Al-Qur’an tidak hanya dihafal oleh lisan, tetapi juga harus tercermin dalam sikap dan perilaku sehari-hari.

Pesan itu terasa begitu dalam. Sebab tujuan utama pendidikan Al-Qur’an bukan sekadar banyaknya hafalan, melainkan bagaimana Al-Qur’an hidup dalam akhlak anak-anak.

Menghafal Al-Qur’an adalah Perjalanan yang Harus Dijaga Bersama

Puncak Tasmi’ SD Islam Bintang Juara tahun ini bukan hanya meninggalkan dokumentasi indah. Tetapi juga meninggalkan pelajaran berharga tentang kesabaran, proses, dan cinta terhadap Al-Qur’an.

Di tengah dunia yang semakin sibuk dan penuh distraksi, anak-anak ini belajar menyediakan ruang dalam hatinya untuk Al-Qur’an. Dan itu bukan sesuatu yang mudah. Karena itulah mereka membutuhkan rumah yang mendukung. Guru yang membersamai. Dan orang tua yang terus menguatkan langkah mereka.

Semoga Puncak Tasmi’ ini menjadi awal perjalanan panjang bagi kakak shalih dan shalihah untuk terus menjaga hafalan, memperbaiki adab, dan tumbuh menjadi generasi yang dekat dengan Al-Qur’an. Karena sejatinya, Al-Qur’an bukan hanya untuk dihafal. Tetapi untuk dijaga, dicintai, dan diamalkan sepanjang kehidupan.*** (CM-MRT)

Anak Cerdas Digital Itu Bukan Sekadar Jago Gadget

Anak Cerdas Digital Itu Bukan Sekadar Jago Gadget

Suasana Kelas 5 SD Islam Bintang Juara pagi itu terasa berbeda. Anak-anak tampak antusias sejak awal kegiatan dimulai. Di depan kelas, laptop sudah disiapkan, beberapa alat tulis tertata rapi, dan wajah-wajah penuh rasa penasaran mulai memenuhi ruangan.

Hari itu, kakak shalih-shalihah Kelas 5 mengikuti kegiatan BBOT (Belajar Bersama Orang Tua) bersama Ayah Aji Purwinarko, ayah dari Kak Satria.

Bukan narasumber biasa. Ayah Aji merupakan dosen Program Studi Teknik Informatika FMIPA UNNES, peneliti sekaligus praktisi di bidang pengembangan teknologi pendidikan berbasis Artificial Intelligence (AI), dan saat ini sedang melanjutkan studi doktoral (S3) di Universitas Gadjah Mada.

Dengan tema “Aku Anak Cerdas Digital”, kegiatan ini mengajak anak-anak memahami bagaimana menggunakan teknologi dengan aman, sopan, dan bijaksana.

Karena di zaman sekarang, kemampuan menggunakan teknologi bukan lagi sekadar tambahan. Tetapi sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak-anak. Namun yang lebih penting, anak-anak perlu belajar menjadi pengguna teknologi yang cerdas, bukan sekadar pengguna yang pasif.

Anak Cerdas Digital Itu Seperti Apa?

Di awal kegiatan, Ayah Aji mengajak anak-anak berdiskusi ringan tentang kehidupan digital mereka sehari-hari.

  • Siapa yang suka menonton YouTube?
  • Siapa yang pernah menggunakan AI?
  • Siapa yang pernah mencari informasi lewat internet?

Hampir semua tangan terangkat.

Anak-anak memang hidup di era yang sangat dekat dengan teknologi. Namun Ayah Aji mengingatkan bahwa menjadi anak cerdas digital bukan berarti sekadar pintar mengetik, cepat menggunakan gadget, atau tahu banyak aplikasi.

Anak cerdas digital adalah anak yang mampu menggunakan teknologi dengan aman, sopan, bertanggung jawab, dan bijaksana.

  • Mereka tahu mana informasi yang baik.
  • Tahu bagaimana berkomunikasi dengan benar.
  • Dan tahu kapan teknologi digunakan untuk belajar, bukan sekadar hiburan.

Belajar Jadi Robot dan Programmer

Kegiatan semakin seru ketika anak-anak diajak praktik menjadi robot dan programmer. Dalam permainan ini, beberapa anak berperan sebagai “robot”, sementara yang lain menjadi “programmer”.

Tugas programmer adalah memberikan instruksi yang jelas dan berurutan agar robot dapat menyelesaikan tugas dengan benar. Awalnya suasana langsung ramai dengan tawa.

Ada robot yang salah jalan. Ada yang berhenti karena instruksinya tidak jelas. Ada pula yang justru melakukan hal lucu karena perintah yang diberikan terlalu ambigu.

Dari permainan sederhana itu, anak-anak belajar tentang algoritma. Ayah Aji menjelaskan bahwa komputer bekerja berdasarkan instruksi yang runtut dan jelas. Jika perintahnya salah atau tidak lengkap, maka hasilnya juga tidak sesuai.

Di sinilah anak-anak mulai memahami bahwa kecerdasan digital bukan hanya tentang bisa menggunakan teknologi. Tetapi juga tentang kemampuan berpikir runtut, logis, dan teliti.

“Anak cerdas digital bukan sekadar bisa ngetik,” jelas Ayah Aji. “Tapi mampu memberikan perintah yang urut, tepat, dan benar.”

Belajar Cerdas Digital dengan Aplikasi Buatan Ayah Aji

Kegiatan selanjutnya makin menarik. Ayah Aji telah mempersiapkan aplikasi istimewa untuk mengenalkan kakak-kakak tentang cerdas digital dengan cara yang interaktif. Ada empat misi di dalamnya:

Misi 1: Mengurutkan Algoritma

Setelah memahami konsep dasar algoritma melalui permainan, anak-anak melanjutkan ke Misi 1: Mengurutkan Algoritma. Dalam tantangan ini, setiap kelompok diminta menyusun langkah-langkah suatu aktivitas secara berurutan.

Kegiatan ini melatih anak-anak untuk berpikir sistematis dan memahami bahwa teknologi bekerja berdasarkan pola yang terstruktur. Tanpa disadari, kemampuan seperti ini juga sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Karena berpikir runtut membantu anak belajar menyelesaikan masalah dengan lebih baik.

Misi 2: Menjadi Detektif Pesan Digital

Suasana semakin menantang saat masuk ke Misi 2: Detektif Pesan Digital. Pada sesi ini, anak-anak diminta memilih mana pesan digital yang aman, mencurigakan, atau berbahaya.

Beberapa contoh pesan yang diberikan ternyata cukup mirip dengan situasi nyata yang sering ditemui anak-anak di internet. Kakak belajar untuk mewaspadai bila ada pesan dari orang tidak dikenal, adanya tautan mencurigakan, serta pesan yang tampak ramah tetapi sebenarnya berpotensi membahayakan.

Anak-anak terlihat serius berdiskusi bersama kelompoknya. Mereka mulai memahami bahwa dunia digital tidak selalu aman.

Karena itu, penting bagi anak-anak untuk berhati-hati sebelum membalas pesan, membagikan informasi pribadi, atau membuka tautan tertentu. Kegiatan ini menjadi latihan penting agar anak-anak memiliki kesadaran digital sejak dini.

Misi 3: AI Teman Belajar atau Jalan Pintas?

Salah satu sesi yang paling menarik adalah Misi 3 tentang penggunaan Artificial Intelligence (AI).

Di era sekarang, banyak anak mulai mengenal AI untuk mencari jawaban, membuat gambar, hingga membantu mengerjakan tugas. Namun Ayah Aji mengajak anak-anak memahami bahwa AI harus digunakan dengan bijak.

Anak-anak diminta memilih aktivitas mana yang boleh dilakukan menggunakan AI, mana yang tidak boleh, dan mana yang harus didampingi orang tua atau guru.

Diskusi pun berlangsung seru. Ada yang berpendapat apakah AI boleh membantu mencari ide cerita. Di lain sisi, ada yang memberikan pendapat tentang penggunaan AI untuk tugas sekolah. Ada pula yang mulai memahami bahwa AI seharusnya menjadi teman belajar, bukan jalan pintas untuk menghindari proses berpikir.

Ayah Aji menjelaskan bahwa teknologi seharusnya membantu manusia berkembang, bukan membuat manusia malas berpikir. Karena itu, anak-anak perlu tetap belajar memahami proses, bukan hanya mengejar hasil instan.

Misi 4: Membuat Poster Janji Digital

Sebagai penutup, anak-anak mendapatkan Misi 4: Membuat Poster Janji Digital.

Sebelum membuat poster di atas kertas, setiap kelompok terlebih dahulu menuliskan ide dan rancangan menggunakan laptop. Setelah itu, rancangan tersebut diwujudkan menjadi poster kreatif yang penuh warna dan pesan positif.

Isi poster pun beragam. Ada yang menulis janji untuk menggunakan gadget seperlunya. Ada yang mengingatkan pentingnya sopan santun saat bermain internet. Ada pula yang menuliskan ajakan menggunakan teknologi untuk belajar dan berkarya.

Kegiatan ini bukan hanya melatih kreativitas anak, tetapi juga membantu mereka merefleksikan bagaimana seharusnya bersikap di dunia digital.

Kelompok tercepat dan paling kompak mendapatkan apresiasi khusus dari Ayah Aji. Namun lebih dari sekadar hadiah, seluruh anak sebenarnya sudah mendapatkan pengalaman belajar yang sangat berharga.

Teknologi Harus Diiringi Karakter

BBOT kali ini menjadi pengingat bahwa pendidikan digital tidak cukup hanya mengajarkan anak cara menggunakan teknologi. Yang jauh lebih penting adalah membentuk karakter mereka saat menggunakan teknologi tersebut.

  • Anak-anak perlu belajar tentang tanggung jawab.
  • Tentang keamanan digital.
  • Tentang etika berkomunikasi.
  • Dan tentang bagaimana tetap menjadi pribadi yang baik meskipun hidup di era serba digital.

Karena teknologi akan terus berkembang. AI akan semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Namun nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, dan kebijaksanaan tetap menjadi pondasi utama yang harus dimiliki anak-anak.

Belajar Teknologi dengan Cara Menyenangkan

Melalui kegiatan BBOT ini, anak-anak belajar bahwa teknologi bukan sesuatu yang harus ditakuti. Teknologi bisa menjadi alat yang sangat bermanfaat jika digunakan dengan benar. Dan belajar tentang dunia digital ternyata bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan, interaktif, dan dekat dengan kehidupan anak-anak sehari-hari.

Tawa yang terdengar selama permainan, diskusi kelompok yang seru, hingga poster-poster penuh warna menjadi bukti bahwa belajar tidak selalu harus membosankan. Semoga melalui kegiatan ini, kakak shalih-shalihah Kelas 5 semakin tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga memiliki adab dan tanggung jawab dalam menggunakannya.

Karena di masa depan nanti, dunia tidak hanya membutuhkan anak-anak yang pandai menggunakan teknologi. Tetapi juga anak-anak yang bijak saat memegangnya.*** (CM-MRT)