by admin admin | Sep 17, 2026 | Berita, Edukasi
Ada banyak cara untuk mengenalkan anak pada dunia yang lebih luas. Salah satunya adalah dengan menumbuhkan minat baca sejak dini. Minat baca ini bisa dikenalkan tentu saja melalui buku.
Lewat sebuah buku, anak bisa berkenalan dengan tempat yang belum pernah dikunjungi, mengenal tokoh yang belum pernah ditemui, memahami kehidupan orang lain, menemukan jawaban atas rasa ingin tahunya, bahkan membayangkan masa depan yang sebelumnya belum pernah terpikirkan.
Namun, membuat anak mencintai buku tentu tidak cukup hanya dengan berkata, “Ayo membaca!” Kecintaan terhadap membaca perlu ditumbuhkan melalui pengalaman yang menyenangkan, lingkungan yang mendukung, serta keteladanan dari orang-orang dewasa di sekitarnya.
Hal inilah yang turut hadir dalam kunjungan Perpustakaan Keliling ke SD Islam Bintang Juara pada Rabu, 16 September 2026.
Kegiatan ini merupakan salah satu program dari Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Semarang yang beririsan dengan upaya SD Islam Bintang Juara dalam meningkatkan budaya literasi di lingkungan sekolah.
Kehadiran perpustakaan keliling bukan sekadar menghadirkan koleksi buku ke halaman sekolah. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi kesempatan bagi anak-anak untuk mengalami secara langsung bahwa membaca dapat menjadi aktivitas yang menyenangkan, dekat, dan penuh penemuan.
Ketika Buku Datang Menjemput Anak
Bagi sebagian anak, menemukan buku yang tepat bisa menjadi awal dari sebuah kebiasaan baru. Ada anak yang menyukai cerita petualangan. Ada yang tertarik dengan hewan, sains, sejarah, tokoh, komik edukatif, atau cerita bergambar. Ada pula yang awalnya hanya tertarik karena melihat sampul buku yang menarik, kemudian mulai membuka halaman demi halaman.
Karena itu, menghadirkan perpustakaan keliling ke sekolah menjadi salah satu cara untuk memberikan pengalaman literasi yang lebih nyata. Anak tidak hanya mendengar bahwa buku itu penting. Mereka dapat melihat, memilih, membuka, membaca, dan menemukan sendiri hal-hal yang menarik perhatian mereka.
Pengalaman seperti ini penting karena membangun budaya membaca bukan semata-mata tentang membuat anak mampu membaca, tetapi juga membantu anak mau membaca.
Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Semarang dalam berbagai kajian literasinya juga menempatkan sekolah sebagai salah satu lingkungan penting dalam membangun kegemaran membaca. Lingkungan sekolah yang menyenangkan dan ramah anak dapat menjadi ruang bagi anak untuk memperluas wawasan melalui aktivitas literasi.
Maka, perpustakaan keliling dapat menjadi salah satu jembatan yang mempertemukan anak dengan pengalaman membaca yang lebih beragam.
Walaupun di sekolah sudah tersedia perpustakaan dengan beragam koleksi buku, kunjungan Perpustakaan Keliling selalu disambut penuh semangat oleh kakak shalih-shalihah. Mengambil buku yang tersusun rapi di rak dalam mobil perpustakaan, menyapa petugas perpustakaan, hingga mengembalikan buku pada petugas ternyata juga menambah pengalaman bermakna bagi para siswa.
Mengapa Menumbuhkan Minat Baca Penting bagi Anak?
Membaca sering kali dipahami sebatas kemampuan untuk mengenali huruf, mengeja kata, lalu memahami kalimat. Padahal, manfaat membaca jauh lebih luas.
1. Membantu Memperkaya Kosakata
Semakin banyak anak berinteraksi dengan buku, semakin banyak pula kata dan ungkapan yang mereka temui. Mereka berjumpa dengan kata-kata yang mungkin tidak selalu muncul dalam percakapan sehari-hari. Dari sinilah kemampuan bahasa anak dapat berkembang secara bertahap.
Penelitian Demir-Lira dan rekan-rekannya dalam Developmental Science yang dipublikasikan PubMed menemukan bahwa interaksi membaca buku antara orang tua dan anak pada usia dini berkaitan dengan kemampuan kosakata reseptif anak ketika memasuki sekolah dasar.
Artinya, pengalaman membaca bersama sejak kecil dapat memberikan bekal bahasa yang terus terbawa dalam perjalanan pendidikan anak.
2. Menguatkan Kemampuan Memahami Bacaan
Membaca bukan hanya tentang seberapa cepat anak menyelesaikan sebuah halaman. Yang lebih penting adalah apakah anak memahami apa yang dibacanya.
Ketika membaca cerita, anak belajar mengenali tokoh, memahami alur, menemukan informasi, menghubungkan sebab dan akibat, serta menarik kesimpulan dari apa yang dibacanya.
Penelitian Çalışkan dan Ulaş yang dipublikasikan IEJEE terhadap siswa kelas 4 sekolah dasar menunjukkan bahwa kegiatan membaca yang melibatkan orang tua memberikan pengaruh positif terhadap pemahaman membaca, motivasi membaca, dan sikap anak terhadap membaca.
3. Menumbuhkan Motivasi untuk Membaca Mandiri
Ada perbedaan besar antara anak yang membaca karena diperintah dan anak yang membaca karena ingin tahu. Tujuan membangun budaya literasi tentu bukan sekadar membuat anak menyelesaikan target jumlah buku. Yang ingin dibangun adalah munculnya motivasi dari dalam diri anak.
Penelitian Cubillos (2023) yang dipublikasikan pada International Literacy Association (ILA) terhadap hampir 330.000 remaja di Chile menemukan adanya hubungan positif antara motivasi membaca orang tua dan frekuensi membaca untuk kesenangan dengan motivasi membaca anak. Hubungan tersebut tetap terlihat setelah mempertimbangkan prestasi membaca anak sebelumnya dan pengaruh teman sebaya.
Dengan kata lain, kebiasaan membaca di lingkungan keluarga dapat ikut membentuk cara anak memandang aktivitas membaca.
4. Membuka Wawasan Anak
Buku memungkinkan anak bertemu dengan dunia yang lebih luas daripada pengalaman sehari-harinya. Anak dapat mengenal kehidupan di tempat lain, memahami profesi, mempelajari sejarah, mengenal berbagai budaya, memahami alam, hingga menemukan berbagai gagasan dan sudut pandang.
Inilah salah satu alasan mengapa budaya membaca penting dalam pendidikan. Anak yang membaca tidak hanya mengumpulkan informasi. Ia sedang belajar memahami dunia.

Anak Belajar Cinta Membaca dari Apa yang Dilihatnya
Ada satu hal yang sering terlupakan ketika orang dewasa berbicara tentang kebiasaan membaca anak: keteladanan. Kita dapat berkali-kali mengatakan kepada anak bahwa membaca itu penting. Namun, pesan tersebut akan jauh lebih kuat ketika anak melihat orang dewasa di sekitarnya benar-benar menikmati kegiatan membaca.
Ayah membaca buku. Ibu membaca artikel atau novel. Guru membaca sebelum pembelajaran dimulai. Orang dewasa berdiskusi tentang sesuatu yang baru saja mereka baca. Dari pengalaman sederhana tersebut, anak mendapatkan pesan bahwa membaca bukan sekadar tugas sekolah. Membaca adalah bagian dari kehidupan.
Penelitian Mullan (2010) dalam Journal of Research in Reading yang dipublikasikan Wiley Online Library menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara kebiasaan membaca orang tua dan kebiasaan membaca anak. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa orang tua dapat berperan sebagai role model dalam mempromosikan perilaku membaca.
Maka, membangun anak menjadi pembaca tidak selalu harus dimulai dari anak. Bisa jadi, langkah pertamanya justru dimulai dari orang dewasa. Lalu apa yang bisa kita lakukan?
Tidak dengan menyuruh anak, tetapi dengan menciptakan lingkungan yang gemar membaca
Kadang-kadang orang tua terlalu fokus pada pertanyaan: “Bagaimana supaya anak mau membaca?” Padahal, pertanyaan yang tidak kalah penting adalah: “Seperti apa lingkungan yang membuat anak merasa bahwa membaca itu menyenangkan?”
Membangun lingkungan membaca dapat dimulai dari hal-hal sederhana, antara lain:
1. Biarkan Anak Melihat Orang Dewasa Membaca
Tidak perlu selalu berupa buku pelajaran. Ayah Bunda dan guru di sekolah bisa membaca buku, majalah, artikel, atau bacaan lain yang memang dinikmati.
Apabila setiap hari anak senantiasa terpapar aktivitas tersebut, anak bisa melihat bahwa membaca bukan aktivitas yang hanya dilakukan ketika mendapat tugas.
2. Sediakan Bacaan yang Sesuai dengan Minat Anak
Jangan memaksa semua anak menyukai jenis buku yang sama. Ada anak yang menyukai cerita. Ada yang tertarik dengan dinosaurus. Ada yang senang melihat ensiklopedia bergambar. Ada yang tertarik dengan eksperimen, tokoh, kendaraan, atau alam.
Minat dapat menjadi pintu masuk menuju kebiasaan membaca.
3. Membaca Buku bersama Anak
Membacakan buku tidak hanya berlaku untuk anak usia PAUD. Anak SD pun masih dapat menikmati aktivitas membaca bersama orang tua, terutama ketika bacaan tersebut menarik dan kemudian dilanjutkan dengan diskusi yang hangat.
Penelitian Demir-Lira dan rekan-rekannya menemukan bahwa kuantitas interaksi membaca buku antara orang tua dan anak pada usia dini berkaitan dengan kemampuan kosakata, pemahaman membaca, dan motivasi intrinsik membaca pada anak di kemudian hari.
Jadi, membaca bersama bukan sekadar membacakan kata demi kata. Namun di dalamnya, Ayah Bunda di rumah dan guru di sekolah bisa membangun percakapan dengan anak. Ada pertanyaan. Ada tawa. Ada rasa ingin tahu yang lahir dalam situasi tersebut.
Dan semua pengalaman itu bisa menjadi bagian dari memori baik anak tentang kegiatan membaca.
4. Jangan Menjadikan Membaca sebagai Hukuman
“Kalau tidak mau membereskan mainan, silakan baca buku di pojok ruangan!”
Kalimat seperti ini tanpa disadari dapat membuat membaca memiliki asosiasi negatif. Membaca sebaiknya hadir sebagai aktivitas yang bermakna, bukan sebagai hukuman.
5. Berikan Kesempatan Anak Memilih
Ketika memungkinkan, biarkan anak memilih buku yang ingin dibaca. Pilihan sederhana dapat membuat anak merasa memiliki kendali terhadap pengalaman membacanya.
Tujuannya bukan membuat anak menyukai semua buku. Tujuannya adalah membantu anak menemukan buku yang ia sukai.
6. Ajak Anak Bercerita tentang Apa yang Dibacanya
Setelah selesai membaca, tidak selalu perlu memberikan kuis. Cukup tanyakan: “Bagian mana yang paling kamu suka?” atau, “Kalau kamu menjadi tokoh dalam cerita itu, kamu akan melakukan apa?”
Pertanyaan sederhana dapat membuat membaca berubah menjadi percakapan yang menyenangkan.
Dari Perpustakaan Keliling Menuju Budaya Literasi
Kunjungan perpustakaan keliling ke SD Islam Bintang Juara menjadi salah satu pengalaman yang dapat memperkaya perjalanan literasi anak.
Namun, tentu saja, budaya membaca tidak selesai ketika kegiatan perpustakaan keliling berakhir. Justru dari sinilah kebiasaan itu dapat terus dilanjutkan.
Di sekolah, anak dapat terus diberi ruang untuk membaca, berdiskusi, mencari informasi, dan menceritakan kembali apa yang mereka temukan. Di rumah, Ayah dan Bunda dapat melanjutkan dengan menciptakan suasana yang akrab dengan buku. Sebab, sekolah dan keluarga memiliki peran yang saling melengkapi.
Membangun budaya literasi bukan hanya pekerjaan guru. Bukan pula hanya tugas orang tua. Ini adalah perjalanan bersama.
Karena Pemimpin yang Baik Juga Harus Gemar Belajar
Di SD Islam Bintang Juara, literasi tidak hanya dipandang sebagai kemampuan akademik. Membaca adalah salah satu jalan bagi anak untuk terus belajar.
Calon pemimpin muslim tidak cukup hanya memiliki keberanian untuk berbicara. Ia juga perlu memiliki kemauan untuk mendengar, membaca, memahami, berpikir, dan belajar dari berbagai pengalaman.
Buku dapat menjadi salah satu teman dalam perjalanan tersebut. Melalui buku, anak belajar bahwa dunia begitu luas. Ada banyak hal yang belum ia ketahui. Ada banyak pertanyaan yang belum ia temukan jawabannya. Dan ada banyak ilmu yang masih dapat dipelajari.
Karena itu, tujuan akhirnya bukan sekadar: “Anak saya harus rajin membaca.” Tetapi lebih jauh: “Semoga anak saya tumbuh menjadi pribadi yang senang belajar.”
Sebab ketika rasa ingin tahu tetap hidup, proses belajar tidak akan berhenti hanya karena anak meninggalkan bangku sekolah.
Kunjungan perpustakaan keliling pada 16 September 2026 mungkin hanya berlangsung dalam satu hari. Namun, harapannya jauh lebih panjang.
Semoga dari satu buku yang dibuka, lahir satu rasa ingin tahu. Dari satu cerita, lahir satu pertanyaan. Dari satu pertanyaan, lahir keinginan untuk mencari tahu.
Dan dari kebiasaan membaca yang terus tumbuh, lahir calon pemimpin muslim yang berilmu, berakhlakul karimah, tangguh, dan bermanfaat. Karena bisa jadi, sebuah buku yang dibaca hari ini adalah awal dari sebuah mimpi besar di masa depan.
Referensi:
- Mullan, K. (2010). Families that read: A time-diary analysis of young people’s and parents’ reading. Journal of Research in Reading, 33(4), 414–430. Wiley Online Library
- Cubillos, M. (2023). A Chip Off the Old Block: Do Reading-Motivated Parents Raise Reading-Motivated Children? Reading Research Quarterly, 58(4), 668–684. International Literacy Association (ILA)
- Demir-Lira, Ö. E., Applebaum, L. R., Goldin-Meadow, S., & Levine, S. C. (2019). Parents’ early book reading to children: Relation to children’s later language and literacy outcomes controlling for other parent language input. Developmental Science, 22(3), e12764. PubMed
- Çalışkan, E. F., & Ulaş, A. H. (2022). The Effect of Parent-Involved Reading Activities on Primary School Students’ Reading Comprehension Skills, Reading Motivation, and Attitudes Towards Reading. International Electronic Journal of Elementary Education, 14(4), 509–524. IEJEE
- Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Semarang. Kajian Pengukuran Tingkat Kegemaran Membaca di Kota Semarang Tahun 2024.
by admin admin | Sep 16, 2026 | Berita, Berita Utama, Kegiatan Orang Tua, Kegiatan Siswa, Pembelajaran
“Kenapa di Indonesia tidak ada musim salju seperti di beberapa negara lain?”
Pertanyaan seperti itu mungkin terdengar sederhana. Namun, di baliknya ada konsep sains yang menarik: letak suatu negara di Bumi ternyata ikut memengaruhi iklim, musim, dan kondisi cuacanya.
Hal inilah yang menjadi awal perjalanan belajar kakak-kakak kelas 4A SD Islam Bintang Juara dalam kegiatan BBOT (Belajar Bersama Orang Tua) pada Rabu, 16 September 2026.
Bersama Bunda Imas Musfiroh, Bunda dari Kak Afshiena, kakak-kakak diajak mengenal lebih dekat tentang iklim, musim, dan cuaca.
Menariknya, tanggal tersebut bertepatan dengan Hari Internasional untuk Pelestarian Lapisan Ozon atau International Day for the Preservation of the Ozone Layer yang diperingati setiap 16 September. PBB menetapkan tanggal tersebut sebagai hari internasional untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya menjaga lapisan ozon.
Maka, pembelajaran hari itu pun berkembang menjadi perjalanan yang lebih luas. Dari negara-negara di dunia, menuju lapisan ozon, kemudian berlanjut pada efek rumah kaca dan kenaikan permukaan air laut. Semua dipelajari melalui pertanyaan, diskusi, dan praktik.
Mengenal Iklim dan Musim yang Berbeda di Setiap Negara
Perjalanan dimulai dengan mengenal berbagai negara di dunia. Kakak-kakak diajak memperhatikan letak lintang negara-negara tersebut dan menghubungkannya dengan kondisi iklim, musim, serta cuaca yang mereka alami.
Dari sini, anak-anak mulai memahami bahwa Bumi bukanlah tempat yang memiliki kondisi cuaca dan musim yang sama di setiap wilayah. Ada negara yang berada di wilayah tropis dan memiliki pola musim yang berbeda dengan negara di wilayah subtropis atau lintang tinggi.
Ada negara yang mengalami musim semi, panas, gugur, dan dingin. Sementara Indonesia, yang berada di wilayah tropis, secara umum mengalami pola musim hujan dan kemarau.
Namun, pembahasan tidak berhenti pada menghafalkan nama musim. Kakak-kakak diajak memahami bahwa letak suatu wilayah dan kondisi atmosfer merupakan bagian dari sistem yang memengaruhi kehidupan manusia di Bumi.
Dari sini, pelajaran IPAS terasa lebih dekat dengan kehidupan.
Ternyata, ketika kita melihat berita tentang salju di negara lain, musim hujan di Indonesia, atau cuaca panas yang terjadi di suatu wilayah, semuanya merupakan bagian dari sistem Bumi yang saling berkaitan.
Ternyata Hari Itu adalah Hari Ozon Sedunia
Setelah berbicara mengenai Bumi dan atmosfer, ada satu hal menarik yang membuat pembelajaran hari itu semakin relevan. 16 September adalah Hari Internasional untuk Pelestarian Lapisan Ozon.
Bunda Imas kemudian mengajak kakak-kakak berpikir: “Mengapa Bumi perlu dilindungi oleh lapisan ozon?” Pertanyaan tersebut membawa kakak-kakak mengenal salah satu pelindung penting bagi kehidupan di Bumi.
Lapisan ozon berada di stratosfer dan berfungsi menyerap sebagian radiasi ultraviolet (UV) berbahaya dari Matahari. Karena itu, keberadaan ozon stratosfer sangat penting untuk melindungi manusia, hewan, tumbuhan, dan berbagai kehidupan di Bumi.
Kakak-kakak kemudian diajak membayangkan: “Kalau lapisan ozon menipis, apa yang akan terjadi?” Pertanyaan sederhana tersebut membuka ruang bagi anak untuk memahami bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tentang kebersihan di sekitar sekolah.
Ada sistem besar di atmosfer yang juga perlu dijaga.
Bagaimana Ozon Terbentuk?
Bunda Imas juga mengenalkan unsur pembentuk ozon. Secara kimia, ozon adalah O₃, yaitu molekul yang terdiri dari tiga atom oksigen. Oksigen yang kita hirup sehari-hari umumnya berbentuk O₂.
Namun, bagaimana O₃ terbentuk?
Di stratosfer, radiasi ultraviolet dari Matahari memecah molekul O₂ menjadi atom-atom oksigen. Atom oksigen tersebut kemudian bergabung dengan molekul O₂ lainnya sehingga terbentuk O₃ atau ozon. Proses ini merupakan bagian dari keseimbangan alami pembentukan dan penghancuran ozon di atmosfer.
Penjelasan tersebut menjadi kesempatan bagi kakak-kakak untuk melihat bahwa sesuatu yang sangat kecil—bahkan sampai pada tingkat atom—dapat berperan dalam menjaga kehidupan di Bumi.
Sains yang tadinya terasa jauh menjadi lebih dekat dan dapat dibayangkan.
Bersyukur Ketika Hujan Turun dan Petir Menyambar
Dalam pembelajaran, kakak-kakak juga diajak melihat fenomena alam dari sudut pandang yang lebih luas.
Petir yang terkadang membuat kita merasa takut ternyata juga memiliki peran dalam kimia atmosfer. Petir dapat menghasilkan nitrogen oksida (NOx), yang merupakan bagian dari berbagai proses kimia di atmosfer.
Namun, penting untuk memahami bahwa petir bukan mekanisme utama pembentukan lapisan ozon stratosfer. Pembentukan ozon di stratosfer terutama digerakkan oleh radiasi UV Matahari.
Dari pembahasan tersebut, kakak-kakak tetap mendapatkan sebuah pesan reflektif: alam memiliki banyak proses yang belum tentu langsung terlihat manfaatnya bagi manusia.
Maka, ketika hujan turun, ketika awan berkumpul, atau ketika petir menyambar, kita dapat belajar untuk bersyukur dan semakin kagum terhadap keteraturan ciptaan Allah, sekaligus tetap memahami fenomena tersebut berdasarkan ilmu pengetahuan.
Praktik Efek Rumah Kaca: Apa yang Terjadi pada Bumi?
Setelah mengenal lapisan ozon, pembelajaran bergerak ke topik lain yang juga sangat dekat dengan isu lingkungan: efek rumah kaca dan perubahan iklim.
Kakak-kakak diajak melakukan praktik untuk memahami bagaimana gas rumah kaca berhubungan dengan panas di atmosfer.
Efek rumah kaca sebenarnya merupakan proses alami yang membuat Bumi memiliki suhu yang memungkinkan kehidupan berlangsung. Masalah muncul ketika konsentrasi gas rumah kaca meningkat akibat aktivitas manusia sehingga semakin banyak panas tertahan dalam sistem Bumi.
CO₂ atau karbon dioksida merupakan salah satu gas rumah kaca utama yang meningkat akibat aktivitas manusia, terutama dari penggunaan bahan bakar fosil.
Di sinilah penting untuk membedakan dua persoalan:
Penipisan lapisan ozon terutama berkaitan dengan zat perusak ozon seperti CFC, sedangkan pemanasan global sangat berkaitan dengan peningkatan gas rumah kaca seperti CO₂. Keduanya merupakan persoalan lingkungan yang berbeda, meskipun memiliki keterkaitan dalam sistem atmosfer dan iklim.
Melalui praktik, konsep yang abstrak tersebut menjadi lebih mudah dibayangkan oleh kakak-kakak.
Apa yang Terjadi Jika Es Mencair?
Petualangan belajar belum selesai. Kakak-kakak kemudian diajak melakukan praktik untuk memahami dampak mencairnya es terhadap kenaikan permukaan air laut.
Melalui simulasi sederhana, anak-anak dapat mengamati perubahan permukaan air dan mendiskusikan apa yang terjadi ketika es mencair.
Dari sini, pertanyaan baru muncul: “Kalau permukaan laut naik, apa yang terjadi pada wilayah yang berada di dekat pantai?” Pertanyaan tersebut membawa anak memahami bahwa perubahan lingkungan di satu tempat dapat memberikan dampak yang lebih luas.
Bukan hanya tentang es. Bukan hanya tentang air laut. Tetapi tentang manusia, wilayah tempat tinggal, ekosistem, dan kehidupan di masa depan.
Belajar IPAS dengan Bertanya dan Bereksperimen
Yang membuat kegiatan BBOT kelas 4A terasa berbeda adalah cara belajar yang tidak berhenti pada penjelasan.
Kakak-kakak diajak bertanya, mengamati, berdiskusi, dan melakukan praktik.
- Dari peta dunia mereka belajar tentang iklim.
- Dari posisi Bumi mereka belajar tentang musim.
- Dari kondisi atmosfer mereka belajar tentang cuaca.
- Dari Hari Ozon Sedunia mereka belajar mengapa lapisan ozon penting.
- Dari praktik efek rumah kaca mereka belajar tentang panas dan atmosfer.
- Dan dari simulasi mencairnya es, mereka belajar bahwa perubahan lingkungan dapat berdampak pada kehidupan manusia.
Satu kegiatan membawa mereka pada pertanyaan berikutnya. Dan setiap pertanyaan membuka pintu menuju pengetahuan baru.
Dari BBOT, Tumbuh Rasa Ingin Tahu terhadap Bumi
Belajar tentang iklim, musim, cuaca, ozon, dan perubahan lingkungan mungkin terdengar seperti materi yang besar untuk anak kelas 4.
Namun, ketika disampaikan melalui pengalaman, percobaan, dan pertanyaan yang dekat dengan kehidupan, sains dapat terasa lebih menyenangkan.
BBOT bersama Bunda Imas Musfiroh menjadi ruang bagi kakak-kakak kelas 4A untuk menyadari bahwa Bumi yang mereka tinggali memiliki sistem yang luar biasa kompleks.
- Ada atmosfer yang melindungi.
- Ada sinar Matahari.
- Ada awan, hujan, dan petir.
- Ada musim yang berganti.
- Ada es yang menyimpan air.
- Dan ada manusia yang memiliki tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan lingkungan.
Pada akhirnya, pembelajaran hari itu bukan hanya tentang menghafal apa itu iklim, musim, cuaca, ozon, atau efek rumah kaca.
Lebih dari itu, kakak-kakak diajak memiliki rasa ingin tahu.
- Berani bertanya.
- Mau mencoba.
- Mau mencari tahu.
Dan semakin menyadari bahwa ilmu yang dipelajari di sekolah ternyata memiliki hubungan erat dengan kehidupan sehari-hari.
Karena ketika anak mulai bertanya, “Mengapa Bumi seperti ini?”, sesungguhnya di situlah perjalanan seorang pembelajar sedang dimulai.
Dan semoga dari rasa ingin tahu tersebut tumbuh generasi yang tidak hanya unggul dalam ilmu, tetapi juga memiliki kesadaran untuk mensyukuri, memahami, dan menjaga Bumi sebagai amanah dari Allah.*** (CM-MRT)
by admin admin | Aug 28, 2026 | Artikel, Berita, Edukasi
Bagi orang tua dan siswa sekolah dasar di Kota Semarang, istilah ASSIK dan TKA mungkin mulai sering terdengar. Keduanya berkaitan dengan asesmen kemampuan siswa dan menjadi bagian penting dalam upaya menghadirkan data capaian belajar yang lebih objektif.
ASSIK merupakan singkatan dari Asesmen Standar Siswa Kota Semarang, yaitu instrumen asesmen yang diinisiasi oleh Dinas Pendidikan Kota Semarang. Dalam perkembangannya, pembahasan mengenai asesmen standar siswa juga berkaitan dengan Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang merupakan asesmen dengan standar dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Lantas, apa sebenarnya tujuan asesmen ini? Mengapa siswa perlu mengikutinya? Dan bagaimana sebaiknya orang tua serta sekolah mempersiapkan anak?
Apa Itu ASSIK?
Secara sederhana, ASSIK dapat dipahami sebagai bagian dari upaya pemerintah daerah untuk memperoleh gambaran mengenai capaian kemampuan akademik siswa secara lebih terukur.
Asesmen seperti ini bukan semata-mata bertujuan mencari siapa siswa yang memperoleh nilai paling tinggi. Data yang dihasilkan dapat digunakan untuk memvalidasi capaian belajar, memetakan kemampuan siswa, serta menjadi bahan evaluasi bagi sekolah dan pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan.
Dalam konteks Kota Semarang, asesmen standar juga memiliki kaitan dengan proses Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB). Nilai atau hasil asesmen dapat menjadi salah satu informasi penting dalam proses seleksi, khususnya pada jalur yang mempertimbangkan capaian akademik.
Dinas Pendidikan Kota Semarang sendiri terus melakukan koordinasi dan penguatan persiapan teknis pelaksanaan TKA, termasuk melalui kegiatan pembekalan bagi sekolah, guru kelas, proktor, dan teknisi. Salah satunya terlihat dalam webinar persiapan teknis TKA SD yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Kota Semarang pada Maret 2026.
Apa Kaitannya ASSIK dengan TKA?
Di sinilah orang tua perlu memahami bahwa ASSIK dan TKA tidak serta-merta merupakan dua istilah untuk ujian yang sama.
ASSIK merupakan istilah yang digunakan dalam konteks asesmen standar yang diinisiasi di tingkat Kota Semarang. Sementara itu, TKA atau Tes Kemampuan Akademik merupakan asesmen yang diselenggarakan berdasarkan kebijakan dan standar Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Keduanya dapat beririsan dalam tujuan, terutama dalam memperoleh gambaran kemampuan akademik siswa secara objektif. Namun, teknis pelaksanaan, kebijakan, peserta, maupun pemanfaatan hasilnya dapat mengikuti ketentuan masing-masing.
Karena kebijakan pendidikan dapat diperbarui dari waktu ke waktu, orang tua sebaiknya selalu mengacu pada informasi terbaru dari sekolah, Dinas Pendidikan Kota Semarang, dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Mengapa Asesmen Standar Dibutuhkan?
Ada satu pertanyaan yang mungkin muncul di benak orang tua:
“Bukankah kemampuan anak sudah terlihat dari nilai rapor?”
Nilai rapor memang menjadi bagian penting dalam melihat perkembangan belajar anak. Namun, nilai tersebut berasal dari proses pembelajaran dan penilaian yang berlangsung di masing-masing sekolah.
Asesmen standar memberikan perspektif tambahan melalui instrumen yang lebih seragam. Dengan demikian, data yang diperoleh dapat membantu memberikan gambaran yang lebih objektif mengenai kemampuan akademik siswa.
Hasil asesmen juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan evaluasi. Jika ditemukan kemampuan tertentu yang masih perlu diperkuat, sekolah dapat menyusun strategi pembelajaran yang lebih tepat.
Jadi, asesmen sebaiknya tidak dipandang hanya sebagai “ujian penentu masa depan anak”, tetapi sebagai salah satu alat untuk mengetahui posisi belajar anak dan menentukan langkah pengembangan berikutnya.
Tidak Hanya untuk Kelas 6
Salah satu perkembangan menarik dalam kebijakan asesmen di Kota Semarang adalah perhatian terhadap pemetaan kemampuan siswa sejak lebih dini.
Berdasarkan informasi yang beredar mengenai integrasi ASSIK dengan Asesmen Sumatif Akhir Semester (ASAS), pelaksanaan asesmen standar juga diarahkan untuk mencakup siswa pada jenjang kelas 4 dan 5 SD/MI, tidak hanya kelas 6.
Jika diterapkan secara berkelanjutan, pendekatan ini memiliki manfaat penting. Sekolah dapat mengetahui perkembangan kemampuan literasi dan numerasi siswa sebelum mereka berada di tahun terakhir sekolah dasar.
Artinya, kelas 4 dan 5 bukan sekadar masa untuk mengejar nilai, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memperkuat fondasi akademik sebelum anak memasuki jenjang pendidikan berikutnya.

ASSIK Semarang
Apa yang Perlu Disiapkan Siswa SD?
Persiapan menghadapi asesmen tidak harus dimulai dengan belajar berjam-jam atau memberikan latihan soal tanpa henti.
Justru, persiapan yang baik sebaiknya dilakukan secara bertahap, konsisten, dan menyenangkan.
1. Perkuat Kemampuan Literasi
Literasi bukan hanya kemampuan membaca teks dengan lancar. Anak juga perlu belajar memahami informasi, menemukan ide pokok, menarik kesimpulan, membandingkan informasi, dan menggunakan informasi tersebut untuk menjawab persoalan.
Kebiasaan membaca buku, berdiskusi tentang isi bacaan, serta mengajak anak menceritakan kembali apa yang dibacanya dapat menjadi latihan sederhana di rumah.
2. Latih Kemampuan Numerasi
Numerasi tidak hanya berarti menghafal rumus matematika.
Anak perlu terbiasa menggunakan konsep matematika dalam situasi sehari-hari, seperti membaca tabel, memahami grafik, melakukan perhitungan, memperkirakan jumlah, atau memecahkan masalah sederhana.
Karena itu, orang tua dapat mengajak anak belajar melalui konteks kehidupan nyata.
Misalnya, ketika berbelanja, anak dapat diajak menghitung total harga atau memperkirakan uang kembalian. Ketika memasak, anak dapat belajar tentang ukuran dan perbandingan.
3. Biasakan Membaca Soal dengan Teliti
Kemampuan akademik tidak hanya diuji melalui pengetahuan, tetapi juga kemampuan memahami instruksi.
Ajarkan anak untuk tidak terburu-buru ketika membaca soal. Biasakan mereka mengidentifikasi informasi yang diketahui, memahami apa yang ditanyakan, kemudian menentukan cara menyelesaikannya.
4. Bangun Kemandirian Belajar
Persiapan asesmen merupakan kesempatan untuk membangun kebiasaan belajar mandiri.
Anak dapat dilatih membuat target belajar sederhana, mengatur waktu, memeriksa kembali pekerjaan, dan mengenali materi yang masih belum dipahami.
Kebiasaan tersebut akan jauh lebih bermanfaat dalam jangka panjang dibandingkan sekadar mengejar nilai ujian.
5. Jaga Kondisi Fisik dan Emosional
Anak yang menghadapi ujian membutuhkan kondisi tubuh dan pikiran yang baik.
Tidur cukup, makan dengan baik, bergerak aktif, dan mendapatkan dukungan emosional dari orang tua merupakan bagian dari persiapan yang tidak kalah penting.
Hindari memberikan tekanan berlebihan dengan kalimat seperti, “Kamu harus dapat nilai sempurna.”
Sebaliknya, orang tua dapat mengatakan bahwa ujian adalah kesempatan bagi anak untuk menunjukkan apa yang sudah dipelajari dan berusaha sebaik mungkin.
“TKA: Jujur & Gembira”
Semangat pelaksanaan TKA juga membawa pesan yang menarik: “TKA: Jujur & Gembira.”
Dua kata tersebut mengingatkan bahwa asesmen akademik tidak harus selalu identik dengan ketegangan.
Jujur berarti mengerjakan asesmen berdasarkan kemampuan sendiri. Sementara gembira mengajak anak menjalani proses evaluasi tanpa ketakutan atau tekanan yang berlebihan.
Prinsip ini penting karena hasil asesmen akan lebih bermakna ketika benar-benar menggambarkan kemampuan anak.
Jika anak dibiasakan mengandalkan usaha sendiri, maka nilai yang diperoleh dapat menjadi cermin yang lebih jujur mengenai kemampuan dan bagian yang masih perlu dikembangkan.
Peran Sekolah dan Orang Tua Sama Pentingnya
Mempersiapkan anak menghadapi asesmen bukan hanya tugas guru.
Sekolah berperan memberikan pembelajaran yang bermakna, melakukan pendampingan, memberikan penguatan pada kompetensi yang dibutuhkan, serta menciptakan suasana belajar yang positif.
Di sisi lain, orang tua dapat memperkuatnya melalui kebiasaan sederhana di rumah.
Membaca bersama, mengobrol tentang buku, bermain permainan logika, mengajak anak berhitung dalam aktivitas sehari-hari, atau sekadar memberikan ruang bagi anak untuk bertanya merupakan bentuk dukungan yang sangat berarti.
Dengan begitu, persiapan asesmen tidak terasa seperti program belajar tambahan yang membebani anak.
Bagaimana dengan Jadwal ASSIK 2027?
Untuk orang tua yang mulai mempersiapkan anak menghadapi asesmen pada tahun 2027, penting untuk membedakan antara jadwal resmi dan perkiraan berdasarkan pola pelaksanaan sebelumnya.
Kalender Pendidikan Kota Semarang Tahun Ajaran 2026/2027 telah dipublikasikan oleh Dinas Pendidikan Kota Semarang. Namun, detail jadwal khusus asesmen berikut tahapan teknisnya tetap perlu menunggu pengumuman resmi dari pihak berwenang.
Karena itu, informasi seperti sosialisasi, pendaftaran peserta, simulasi, gladi, pelaksanaan ujian, hingga pengumuman hasil sebaiknya tidak dianggap sebagai jadwal pasti sebelum diterbitkan secara resmi.
Bagi sekolah dan orang tua, langkah terbaik saat ini adalah mempersiapkan kemampuan anak secara bertahap, bukan menunggu mendekati hari ujian.
ASSIK dan TKA Bukan Sekadar Tentang Nilai
Pada akhirnya, asesmen standar seperti ASSIK dan TKA sebaiknya ditempatkan sebagai bagian dari perjalanan belajar anak.
Nilai memang penting. Namun, yang jauh lebih penting adalah kemampuan yang berada di balik nilai tersebut: kemampuan membaca dan memahami informasi, berpikir logis, memecahkan masalah, bernalar, serta menggunakan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, persiapan terbaik bukanlah membuat anak takut terhadap ujian.
Persiapan terbaik adalah membantu anak tumbuh menjadi pembelajar yang percaya diri, mandiri, jujur, dan siap menghadapi tantangan.
Di Sekolah Islam Bintang Juara, proses tersebut dapat terus dibangun melalui pembelajaran yang bermakna, pembiasaan positif, serta pendampingan yang memperhatikan perkembangan anak secara utuh.
Sebab, menjadi juara bukan hanya tentang mendapatkan nilai terbaik.
Menjadi juara adalah tentang terus bertumbuh, berusaha dengan jujur, dan berani memberikan kemampuan terbaik dalam setiap proses belajar.
by admin admin | Aug 25, 2026 | Artikel, Berita, Berita Utama, Kegiatan Guru, Profil Guru
Setiap sekolah memiliki cerita tentang bagaimana ia bertumbuh, dan di baliknya selalu ada orang-orang yang terus belajar, bertanya, dan berupaya memberikan yang terbaik untuk anak. Dalam Guru Bercerita kali ini, SD Islam Bintang Juara mengajak Ayah Bunda mengenal lebih dekat Bu Nur Shofwatin Ni’mah, S.Pd., Gr., Kepala SD Islam Bintang Juara, tentang perjalanan beliau dalam membersamai sekolah, memaknai kepemimpinan, melihat potensi setiap anak, hingga membangun budaya belajar yang terus bertumbuh.
Bagi Bu Ni’mah, menjadi pemimpin bukan hanya tentang memberi arah, tetapi juga tentang melayani, mendampingi, dan bersama-sama menciptakan lingkungan pendidikan yang membuat setiap anak memiliki ruang untuk berkembang menjadi versi terbaik dirinya.
Mengenal Sosok Bu Nur Shofwatin Ni’mah
Tak sedikit ayah bunda yang baru berkenalan dengan SD Islam Bintang Juara bertanya-tanya siapakah guru-guru di balik Sekolah Calon Pemimpin Muslim Ini. Untuk mengawali proses ta’aruf ini, MinBin akan mengajak Ayah Bunda berkenalan lebih dekat dengan sosok perempuan muda yang diamanahi menjadi Kepala Sekolah.
1. Bisa diceritakan tentang diri Ibu, perjalanan sebagai pendidik, dan bagaimana akhirnya mendapat amanah sebagai Kepala SD Islam Bintang Juara?
Saat saya masih menjadi mahasiswa, saya sudah tertarik untuk mendalami lebih jauh tentang anak berkebutuhan khusus dan program pendidikan orangtua. Saya menulis karya ilmiah tentang program pendidikan orangtua yang lolos dalam pemilihan Mahasiswa Berprestasi kala itu. Waktu PPL, saya juga melakukan stimulasi pada anak yang terindikasi berkebutuhan khusus.
Di desa, saya juga mendirikan taman baca untuk murid ngaji orangtua saya. Lalu dari semua proses itu, akhirnya Allah SWT mempertemukan saya dengan Sekolah Islam Bintang Juara. Amanah pertama saya adalah sebagai guru pembimbing khusus, yang mana saya kala itu buta informasi dan ilmu, sempat merasa berat dan hampir menyerah. Lalu saya berusaha bertanya “apa maksud Allah memberi saya amanah ini.
Melalui shalat istikharah, Allah seolah mengingatkan “bukankah kamu ingin S2 dalam bidang psikologi perkembangan anak, ini diberi praktiknya langsung, kenapa mau menyerah?” Dari hasil istikharah ini, membulatkan tekad saya, bahwa amanah apapun adalah proses yang Allah berikan untuk menempa diri kita. InsyaAllah selalu ada hal baik.
Saya lalu membuat rancangan program dan timeline sebagai GPK untuk anak yang saya ampu, dari dia kelas 3 hingga lulus. Namun ternyata Allah berkehendak lain, saya hanya diberi amanah mendampingi dia selama 6 bulan. Bulan ke-7 saya diberi amanah menyusun kurikulum SD sekaligus membantu proses perizinan pendirian sekolah. Saya juga pernah memperoleh amanah sebagai guru kelas, guru mata pelajaran bahasa Jawa sembari menjadi humas yang mengelola media sosial sekolah, serta guru ngaji sekaligus pula kepala sekolah.
Alhamdulillah semua proses tersebut saya syukuri, karena dari proses itu saya banyak belajar, mendengar, mengamati, dan mencari solusi. Setiap amanah menempa saya untuk menjadi pribadi yang berkesadaran. Sadar bahwa saya makhluk Allah, sadar akan ketentuan Allah, saya bahwa saya juga makhluk sosial, sadar bahwa hidup di dunia ini berbatas waktu maka harus mengupayakan menjadi sebaik-baik manusia, meski selalu ada saja PR nya untuk diri saya sendiri.
2. Apa yang membuat Ibu memilih dan bertahan di dunia pendidikan?
Dengan berada di dunia pendidikan, saya dapat mengingatkan diri saya untuk Iqro’ sebagaimana firman Allah yang pertama. Dunia pendidikan menjadi alarm untuk diri saya, bahwa manusia itu tidak boleh berhenti belajar, dan juga harus bermanfaat. Dunia pendidikan adalah jantung dari ditumbuhkannya iman, taqwa, adab, ilmu, serta proses kebermanfaatan. Dan saya ingin selalu diingatkan dan didekatkan dengan itu. Melihat anak didik dan teman-teman guru, sebagai proses belajar untuk diri saya.
3. Apa arti menjadi Kepala Sekolah bagi Ibu—apakah lebih banyak tentang memimpin, melayani, atau mendampingi?
Menjadi kepala sekolah adalah bagian dari proses menempa diri, sebuah amanah untuk memperluas peran, dari mendidik diri, mendidik anak biologis, mendidik anak ideologis serta sarana untuk hablun minannaas. Menjadi kepala sekolah itu tidak hanya tentang memimpin, melayani, atau mendampingi, ketiganya tentunya menjadi poin penting yang harus saya perankan dalam menjalankan amanah ini. Namun menjadi kepala sekolah tidak akan terlepas dari poin memberikan teladan, dengan teladan maka saya dapat memimpin dengan arah, melayani dan mendampingi dengan hati yang diniatkan karena Allah.
Selama proses saya menjadi guru, saya belajar bahwa mendidik membutuhkan kesabaran, kasih sayang, ketegasan, sekaligus kehadiran. Nilai-nilai itulah yang saya bawa ketika menjalankan amanah sebagai Kepala Sekolah. Saya tidak hanya ingin menjadi orang yang memberikan arahan, tetapi juga seseorang yang mampu hadir, mendengarkan, memahami, dan menguatkan. Jadi, jika ditanya apakah menjadi Kepala Sekolah lebih banyak tentang memimpin, melayani, atau mendampingi, bagi saya jawabannya adalah ketiganya tidak dapat dipisahkan.
Saya memimpin untuk memberi arah, melayani untuk menumbuhkan kepercayaan, dan mendampingi untuk menumbuhkan potensi. Menjadi Kepala Sekolah adalah sebuah amanah untuk menghadirkan perubahan yang bermakna, bukan hanya membuat sekolah menjadi lebih baik, tetapi membuat orang-orang di dalamnya merasa dihargai, didukung, bertumbuh, dan memiliki harapan. Saya ingin menjalankan amanah itu dengan memaknai bahwa setiap anak yang hadir di sekolah adalah titipan yang harus kita jaga, setiap guru adalah mitra yang harus kita kuatkan, dan setiap langkah kecil menuju kebaikan adalah bagian dari proses pendidikan.
Bagaimana Bu Nur Shofwatin Ni’mah Memandang Anak
4. Ketika melihat seorang anak, hal pertama apa yang ingin Ibu lihat selain kemampuan akademiknya?
Hal pertama yang ingin saya lihat adalah siapa dia dan bagaimana dia. Siapa dia artinya saya butuh mengenal identitas diri (nama, tempat tinggal, hal yang disukai, hal yang tidak disukai, saudara, dan teman).
Saya juga butuh mengenali kondisi emosi yang muncul pada dirinya, serta kemampuannya dalam mengidentifikasi kebutuhan diri. Sedangkan bagaimana dia, adalah saya butuh memahami bagaimana cara dia memberi respon kepada lingkungan termasuk benda-benda di sekitar serta orang yang ditemui. Sejauh mana kemampuan dia dalam beradaptasi, meregulasi diri, sehingga tumbuh kemauan untuk mau belajar dan akhirnya mampu menyesuaikan.
5. Menurut Ibu, seperti apa anak yang disebut “juara” di SD Islam Bintang Juara?
Anak juara adalah anak yang tumbuh menjadi versi terbaik dari dirinya, berkembang dari pondasi awal tahap perkembangan mereka. Anak yang berhasil beradaptasi pada proses transisi TK ke SD, anak yang berhasil bangun lebih awal untuk shalat subuh, anak yang berhasil memutuskan berbagi makanan untuk teman yang sedang lapar atau tidak membawa bekal, anak yang siap mengantri, anak yang siap berkata sesuai fakta, anak yang meminta maaf saat salah, meminta tolong saat mengalami kesulitan, anak yang mengucapkan terimakasih saat dibantu, anak yang berhasil mengatasi rasa takut, rasa malas, anak yang mengingat Allah dimanapun mereka berada, anak yang berhasil mengambil hikmah dari proses belajar mereka. Itu adalah beberapa deskripsi anak juara.
6. Bagaimana sekolah memastikan setiap anak memiliki ruang untuk berkembang sesuai potensi dan karakternya masing-masing?
Pada tahap awal kami berupaya mengenal setiap siswa melalui kegiatan profiling perkembangan baik aspek spiritual, sensori motorik, bahasa dan komunikasi, tahap kegiatan main, dan kognitif. Hasil pemetaan itu menjadi pijakan bagi guru dalam mendampingi dan merancang pengalaman belajar yang lebih tepat bagi mereka. Ruang tumbuh itu juga kami hadirkan tidak hanya melalui akademik.
Anak diberi kesempatan menemukan dan mengembangkan minat serta bakatnya melalui berbagai kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler, sementara pembelajaran akademik menggunakan beragam pendekatan seperti Project Based Learning, Problem Based Learning, Discovery Learning. Jadi anak memiliki banyak pintu untuk menunjukkan bahwa dirinya mampu dan berharga.

Memimpin Berlangsungnya Pembelajaran di SD Islam Bintang Juara
7. Apa yang ingin Ibu pastikan selalu hadir dalam setiap proses pembelajaran di SD Islam Bintang Juara?
Yang ingin saya pastikan selalu hadir dalam setiap proses pembelajaran adalah ruhiyyah guru yang menyemai makna, memberi kasih sayang dan kesempatan untuk bertumbuh. Setiap anak memperoleh ruang untuk mencintai proses belajar, mencintai dan mengenal diri dan perannya, mengenal Allah sebagai tuhannya dan memiliki keberanian untuk menjadi pribadi yang bermanfaat.
8. Bagaimana sekolah menjaga agar pembelajaran tidak hanya mengejar nilai, tetapi tetap joyful, mindful, dan meaningful?
Pada proses perancangan pembelajaran adaptif, kami menjadwalkan program diskusi guru berbasis tahap perkembangan anak. Ini adalah moment quality control dari tim manajemen sekolah untuk implementasi pembelajaran agar tetap joyful, mindful, meanningful. Kami memfasilitasi anak untuk tidak selalu belajar dengan duduk, mendengar, dan mengerjakan soal. Mereka dapat belajar melalui eksperimen, permainan, seni, proyek, eksplorasi lingkungan, diskusi, bahkan kegiatan di luar kelas misalnya magang adab. Dengan begitu, mereka mengalami sendiri proses menemukan pengetahuan serta memaknai pengetahuan yang mereka peroleh.
9. Bagaimana nilai-nilai Al-Qur’an dan Hadits diterjemahkan dalam kehidupan sekolah sehari-hari, bukan hanya dalam pelajaran agama?
Kami berupaya menanamkan nilai-nilai tersebut melalui pembiasaan dan keteladanan dalam keseharian dari anak kami terima hingga dijemput orangtua. Anak belajar adab kepada Allah melalui doa, ibadah, rasa syukur, dan kecintaan kepada Al-Qur’an. Mereka belajar adab kepada guru dengan menghormati dan mendengarkan. Mereka belajar adab kepada teman dengan berbagi, bekerja sama, menjaga perasaan, meminta maaf, dan menolong.
Adab, doa, hadits, surah-surah dalam Al Qur’an bukan hanya untuk dihafal, namun diterapkan selama anak berada di sekolah. Kami juga berusaha agar anak tidak berhenti pada pertanyaan ‘apa hukumnya?’, tetapi sampai pada ‘mengapa Allah mengajarkan ini kepada kita, dan bagaimana saya mengamalkannya?
Misalnya ketika belajar tentang qurban, anak tidak hanya mengetahui sejarah dan tata caranya, tetapi diajak memahami nilai ikhlas, pengendalian diri, berbagi, dan ketaatan kepada Allah. Nilai tersebut kemudian dihubungkan dengan kehidupan mereka—saat bermain, membantu orang tua, menghormati guru, maupun berbagi dengan sesama.
Cara Bu Ni’mah Memimpin Guru dan Budaya Sekolah
10. Menurut Ibu, seperti apa guru yang ideal untuk mendampingi anak-anak di zaman sekarang?
Guru yang ideal untuk anak zaman sekarang adalah guru yang mau terus belajar, terbuka terhadap ilmu, terbuka terhadap setiap tahap perkembangan anak, kuat secara tauhid. Guru yang hangat tetapi tegas, dekat dengan siswa tetapi memiliki batas, mampu mengajar dan juga mampu mendengarkan. Guru yang tidak terburu-buru memberi label ketika anak sulit memahami informasi atau melakukan kesalahan. Guru yang melihat potensi sebelum melihat kekurangan siswa. Guru yang berhasil menyadari bahwa dirinya dan siswanya sedang sama-sama berproses untuk belajar.
11. Bagaimana Ibu membangun budaya agar guru juga terus belajar dan berkembang?
Kami memfasilitasi guru dengan diadakannya komunitas diskusi yang rutin dilakukan, minimal satu kali dalam satu pekan, yang didampingi langsung oleh Psikolog Sekolah atau Kepala Sekolah atau Koordinator Litbang Yayasan. Selain itu pada komunitas diskusi tersebut, guru dapat saling berbagi, baik tantangan maupun praktik baik yang telah dilakukan. Kepala sekolah, litbang atau psikolog sekolah bertindak sebagai pemimpin pembelajaran dan teladan dalam proses belajar tersebut.
Kami saling sharing program pelatihan bermakna untuk dapat diikuti, ketika ada guru yang tuntas mengikuti pelatihan atau seminar juga ada sesi desiminasi kepada guru lain. Dimana kami berada, disitu adalah area diskusi kami. Literatur yang mendukung baik berupa buku atau literatur digital lain juga kami sharingkan.
12. Apa yang paling Ibu jaga dalam budaya kerja dan budaya belajar di sekolah?
Yang saya upayakan jaga dalam budaya kerja dan belajar adalah saling menghormati, saling berkomunikasi yang sifatnya membangun dan semangat untuk bertumbuh, menguatkan, serta saling mengambil hikmah atau pembelajaran hidup. Saya ingin sekolah menjadi tempat di mana guru merasa aman untuk belajar, bertanya, menyampaikan pendapat, mencoba hal baru, bahkan mengakui ketika ada sesuatu yang belum berhasil.
Begitu juga anak-anak. Mereka harus merasa aman untuk bertanya, mencoba lagi, dan menjadi dirinya sendiri. Bagi saya, sekolah yang sehat adalah sekolah di mana orang dewasa di dalamnya juga merasa bertumbuh, dihargai, dan memiliki tujuan yang sama sehingga dapat memberikan yang terbaik untuk anak didiknya.
Kolaborasi Sekolah dan Keluarga
13. Mengapa kolaborasi antara sekolah dan Ayah Bunda menjadi penting dalam pendidikan anak?
Karena anak tumbuh tidak hanya dalam lingkungan sekolah, namun lingkungan rumah juga menjadi lingkungan utama dalam proses pendidikan mereka. Orang tua adalah orang yang paling mengenal anak dalam kehidupan sehari-hari, sementara guru memiliki perspektif dari pengalaman anak di lingkungan belajar. Ketika dua perspektif ini dipertemukan, kita bisa memahami anak secara lebih utuh. konsistensi antara rumah dan sekolah sangat penting dalam pembentukan karakter.
Nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, adab, kemandirian, kepedulian, dan disiplin tidak cukup diajarkan melalui satu mata pelajaran. Anak perlu melihat nilai itu dipraktikkan secara konsisten dalam kesehariannya. Maka jika kolaborasi berjalan dengan baik, sekolah dan rumah adalah laboratorium utama yang mematangkan proses pendidikan mereka.
14. Apa yang paling Ibu harapkan dari Ayah Bunda dalam membersamai pendidikan putra-putrinya?
Hal yang saya harapkan adalah kehadiran ayah bunda. Tidak hanya hadir secara fisik, tapi juga hadir dengan perhatian, pengertian dan doa serta hadir menanamkan tauhid. Saya berharap kita sebagai orangtua tidak terburu-buru menasehati sebelum memberikan teladan, tidak terburu-buru menuntut sebelum mengajak banyak mendengarkan dan menggali kebutuhan anak-anak, tidak terburu-buru membandingkan dengan anak lain. Tetapi kita menjadi orangtua yang melihat, menemani dan menghargai setiap proses tumbuh kembang anak kita.
Saya juga berharap kita bisa menjadi teladan dalam menanamkan tauhid dalam ruhiyyah kita serta anak kita. Tugas kita adalah membantu mereka menemukan potensi terbaik yang Allah titipkan dalam dirinya, menumbuhkannya dengan ilmu dan akhlak, lalu mempersiapkan mereka agar kelak mampu menjadi manusia yang bermanfaat. Mari kita membersamai anak, bukan sekadar mengarahkan mereka.
Mari berjalan di samping mereka, bukan selalu berjalan di depan mereka. Karena anak-anak tidak hanya membutuhkan orang dewasa yang menunjukkan jalan, tetapi juga orang dewasa yang bersedia menemani perjalanan.

Tantangan dan Refleksi Sebagai Kepala SD Islam Bintang Juara
15. Apa tantangan terbesar memimpin sekolah di tengah perubahan zaman dan kebutuhan anak yang terus berkembang?
Tantangan terbesar memimpin sekolah di tengah perubahan zaman adalah bagaimana kami bisa terus bergerak maju tanpa mematikan akar filosofi. Anak-anak kita tumbuh di dunia yang sangat cepat berubah. Teknologi berkembang, informasi begitu mudah diakses, cara anak berkomunikasi berubah, kebutuhan belajarnya pun semakin beragam. Sekolah tidak bisa mendidik anak hari ini dengan cara yang sepenuhnya sama seperti mendidik anak sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu. Tetapi di tengah semua perubahan itu, ada hal-hal yang tidak boleh ikut berubah: iman, adab, akhlak, kejujuran, rasa tanggung jawab, kepedulian, dan kecintaan kepada Allah.
Tantangan saya sebagai kepala sekolah adalah bagaimana nilai-nilai yang fundamental itu tetap kuat, sementara cara kita menghadirkannya kepada anak terus kita inovasikan. Tantangan berikutnya adalah memahami anak sebagai pribadi yang terus berkembang. Tidak ada satu pendekatan yang cocok untuk semua anak. Setiap anak memiliki potensi, karakter, kebutuhan, dan ritme perkembangan yang berbeda. Maka guru juga harus terus belajar agar tidak hanya menguasai materi, tetapi mampu membaca kebutuhan anak.
Di sinilah saya melihat bahwa memimpin sekolah sebenarnya adalah juga memimpin proses belajar orang-orang dewasa di dalamnya. Saya harus memastikan guru memiliki ruang untuk bertumbuh, mencoba pendekatan baru, dan saling belajar. Karena kita tidak mungkin meminta anak menjadi pembelajar sepanjang hayat jika gurunya sendiri berhenti belajar.
Tantangan lainnya adalah menjaga keseimbangan antara prestasi dan proses tumbuh kembang anak. Kita tentu ingin anak-anak berprestasi. Tetapi saya tidak ingin angka dan pencapaian membuat kita lupa bahwa mereka adalah anak-anak yang sedang tumbuh. Mereka membutuhkan ruang untuk bermain, bertanya, mencoba, beristirahat, membangun pertemanan, dan mengenal dirinya sendiri. Anak bukan proyek yang harus segera selesai. Mereka adalah amanah yang proses tumbuhnya perlu kita hormati.
Karena itu, bagi saya, menjadi kepala sekolah di zaman sekarang membutuhkan dua hal sekaligus: keberanian untuk berubah dan kebijaksanaan untuk tahu apa yang boleh dan tidak boleh berubah. Jadi, tantangan terbesar bukan bagaimana membuat sekolah terlihat paling modern. Tantangannya adalah bagaimana membuat sekolah tetap relevan dengan zamannya, tetapi tetap memiliki akar yang kuat.
Dan saya berharap SD Islam Bintang Juara menjadi sekolah yang seperti itu: akarnya kuat pada iman dan nilai-nilai Islam, tetapi cabang-cabangnya terus tumbuh mengikuti kebutuhan zaman.
Karena dunia yang akan dimasuki anak-anak kita mungkin belum bisa kita prediksi. Tetapi kita bisa mempersiapkan mereka dengan bekal yang tidak lekang oleh zaman: iman yang kokoh, akhlak yang baik, kemampuan belajar, keberanian menghadapi perubahan, dan hati yang selalu ingin memberikan manfaat.
16. Ketika sebuah program atau kebijakan sekolah tidak berjalan sesuai harapan, bagaimana Ibu menyikapinya?
Ketika sebuah program atau kebijakan tidak berjalan sesuai harapan, maka hal yang saya lakukan adalah bertanya pada diri saya sendiri “Apa yang dapat kami pelajari dari situasi ini?”
Saya ingin membangun budaya di mana evaluasi bukan ruang untuk menghakimi, tetapi ruang untuk belajar. Guru dan tim perlu merasa aman untuk mengatakan, ‘Bagian ini belum berjalan’, tanpa takut langsung disalahkan. Dari sana kami bisa melihat data, mendengarkan pengalaman guru, melihat respons anak, dan bila diperlukan meminta masukan dari Ayah Bunda. Setelah itu, kami mencoba membedakan: apa yang perlu diperbaiki, apa yang perlu disederhanakan, apa yang perlu dihentikan, dan apa yang justru perlu dilanjutkan dengan cara yang berbeda.
Saya juga berusaha menjaga agar evaluasi tetap kembali pada pertanyaan utama: “Apakah ini benar-benar memberikan dampak baik bagi anak?” Karena program sekolah bukan dibuat untuk membuat sekolah terlihat sibuk atau memiliki banyak kegiatan. Setiap kebijakan seharusnya bermuara pada tumbuh kembang anak.
Sebagai kepala sekolah, saya pun harus siap menerima bahwa tidak semua keputusan saya selalu benar. Memimpin bukan berarti harus selalu memiliki jawaban. Kadang-kadang justru kita perlu mengatakan, “Mari kita lihat lagi. Mungkin ada cara yang lebih baik. Bagaimana menurut analisa bapak ibu guru?” Saya ingin guru-guru juga belajar bahwa refleksi adalah bagian dari profesionalitas. Kita mencoba, mengamati, mengevaluasi, memperbaiki, lalu mencoba lagi. Begitu pula dalam mendampingi anak. Karena sekolah yang baik bukan sekolah yang tidak pernah mengalami kegagalan. Sekolah yang baik adalah sekolah yang mau belajar dari setiap kegagalan dan terbuka untuk memperbaiki diri.
17. Apa hal yang paling membuat Ibu merasa “inilah alasan saya menjadi pendidik”?
Ketika menjadi pendidik, saya senantiasa menyiapkan cermin di depan diri saya, bahwa saya harus terus mendidik diri. Dengan menjadi pendidik berarti saya diberi kesempatan untuk hadir pada fase kehidupan seseorang yang sangat penting. saya ikut menyaksikan ketika seorang anak sedang mencari tahu siapa dirinya, apa yang ia sukai, apa yang ia mampu, bagaimana ia menghadapi kesulitan, bagaimana ia memperlakukan orang lain, dan bagaimana ia belajar menjadi manusia.
Saya melihat setiap anak di sekolah bukan hanya sebagai siswa. Saya membayangkan, mereka adalah anak yang juga sangat dicintai oleh Ayah Bundanya. Ada keluarga yang menitipkan harapan kepada kami. Ada orang tua yang percaya bahwa sekolah akan membantu anaknya tumbuh menjadi pribadi yang baik.
Maka ketika melihat seorang anak berkembang meskipun mungkin hanya dalam hal kecil, saya merasa bahwa amanah ini begitu berharga. Ada anak yang hari ini akhirnya berani tampil di depan kelas. Ada yang mulai mampu meminta maaf. Ada yang belajar berbagi. Ada yang sebelumnya selalu mengatakan ‘aku tidak bisa’, kemudian mau mencoba sekali lagi. Ada yang menemukan bahwa ternyata ia memiliki bakat yang selama ini belum ia sadari.
Hal-hal kecil itulah yang sering kali menjadi kemenangan terbesar seorang pendidik. Ketika ia semakin dekat dengan Allah, semakin menghormati orang lain, semakin mandiri, dan mulai bertanya, ‘Apa yang bisa saya lakukan untuk membantu?’ Di situlah saya merasa bahwa pendidikan sedang benar-benar terjadi. Semoga dengan menjadi pendidik, saya ikut menyalakan cahaya kecil dalam diri setiap anak, membantu mereka percaya bahwa mereka berharga, mereka mampu, dan Allah menitipkan sesuatu yang istimewa dalam diri mereka.
Visi dan Pesan Bermakna Bu Ni’mah untuk Kakak Shalih-shalihah dan Ayah Bunda
18. Jika suatu hari anak-anak yang sekarang belajar di sini sudah dewasa, seperti apa sosok yang ingin Ibu lihat dari mereka?
Saya berharap dimanapun mereka berada kelak, mereka membawa jejak dari nilai-nilai yang pernah mereka dapatkan di sekolah, berupa iman, akhlak, kemauan untuk belajar, peduli dan yakin bahwa dirinya mampu memberikan manfaat. Semoga mereka menjadi pribadi yang dekat dengan Allah, anak yang ketika memiliki ilmu, tidak menjadikannya alasan untuk merasa lebih tinggi, justru semakin rendah hati dan semakin ingin bermanfaat. Menjadi orang yang percaya diri tetapi tidak sombong, mampu memimpin tetapi juga mau melayani, memiliki prinsip tetapi tetap terbuka untuk belajar, teguh dan tangguh saat menghadapi tantangan.
19. Apa yang ingin Ibu wariskan kepada SD Islam Bintang Juara selama mendapat amanah sebagai Kepala Sekolah?
Kalau suatu hari nanti amanah saya sebagai Kepala Sekolah di Bintang Juara selesai, saya berharap tidak hanya meninggalkan program atau capaian. Saya ingin meninggalkan budaya. Budaya yang membuat setiap orang di sekolah memaknai bahwa setiap anak adalah amanah, setiap anak memiliki potensi, dan setiap anak berhak bertumbuh dengan cara terbaiknya.
Saya juga ingin meninggalkan budaya belajar dan bertumbuh bersama. Saya berharap guru-guru di Bintang Juara tidak pernah merasa bahwa mereka sudah selesai belajar. Mereka terus belajar, mencoba, memperbaiki, dan saling menguatkan. Karena sekolah yang baik bukan sekolah yang merasa sudah hebat, tetapi sekolah yang selalu merasa masih punya ruang untuk menjadi lebih baik.
Saya ingin budaya kerja yang saya tinggalkan adalah budaya yang memiliki standar yang tinggi, tetapi tidak kehilangan empati. Kita boleh mengejar prestasi, tetapi jangan mengorbankan proses tumbuh anak. Kita boleh berbeda pendapat, tetapi tetap saling menghormati.
Saya juga berharap dapat meninggalkan budaya kolaborasi yang kuat dengan Ayah Bunda. Bahwa sekolah dan keluarga bukan dua pihak yang saling menuntut, tetapi dua pihak yang bergandengan tangan karena memiliki tujuan yang sama: memberikan yang terbaik untuk anak.
Dan yang paling saya harapkan, saya ingin meninggalkan semangat untuk terus menjaga ruh Bintang Juara. Bahwa di tengah perubahan zaman, teknologi, tuntutan prestasi, dan berbagai perkembangan pendidikan, kita tidak kehilangan akar yakni iman, Al-Qur’an dan Hadits, adab, cinta kepada anak, dan keyakinan bahwa setiap anak adalah bintang.
Semoga ketika suatu hari saya sudah tidak lagi berada pada amanah ini, nilai-nilai baik yang pernah kita perjuangkan tetap hidup bahkan tumbuh lebih besar daripada ketika saya masih menjabat. Saya ingin terus melihat guru-gurunya masih saling menguatkan, anak-anaknya masih belajar dengan bahagia dan bermakna, Ayah Bunda masih merasa menjadi bagian dari perjalanan pendidikan, dan setiap orang masih percaya bahwa pendidikan adalah tentang menumbuhkan manusia.
Mungkin itulah warisan yang paling ingin saya tinggalkan. Karena pada akhirnya, jabatan kepala sekolah akan selesai, tetapi budaya yang kita bangun semoga terus berjalan. Program bisa berganti, pemimpin bisa berganti, generasi bisa berganti tetapi semangat untuk menjadikan Bintang Juara sebagai rumah tumbuh bagi anak-anak dan setiap orang yang ada dalam naungannya semoga tidak pernah berhenti. Jika kelak Bintang Juara menjadi sekolah yang terus bertumbuh, tetapi tetap hangat, berakar pada iman, menghargai setiap anak, dan melahirkan manusia-manusia yang membawa manfaat bagi kehidupan, saya akan merasa bahwa amanah ini telah meninggalkan jejak yang berarti.
20. Jika harus menyampaikan satu pesan kepada setiap anak dan Ayah Bunda di SD Islam Bintang Juara, apa yang ingin Ibu katakan?
Untuk anak-anak tersayang, jangan pernah lalai tempat kembali kita melalui sujud terdalam kita kepada Allah. Nak, setiap dari kalian jika hari ini belum bisa, bukan berarti tidak mampu. Kalian butuh waktu untuk mengenali diri kalian, kembangkan dan pantang menyerahlah, suatu saat akan ada hasil dari apa yang kalian upayakan. Setiap orang punya waktunya sendiri untuk tumbuh, dan Allah telah menyiapkan jalannya melalui ikhtiar yang kalian lakukan. Jadilah anak yang tidak hanya menjadi pintar sesuai potensi kalian, tetapi juga menjadi bermanfaat dengan ilmu yang membuat kalian semakin dekat dengan Allah. Nak, setiap kalian adalah bintang, yang memiliki cahayanya sendiri.
Untuk Ayah Bunda, terimakasih telah menjadi partner tumbuh bersama menjadi orangtua. Ayah Bunda, saya tahu menjadi orangtua tidaklah mudah, tapi mari kita upayakan untuk menjadi orangtua yang mau belajar. Belajar hadir, belajar mendengarkan, belajar memaknai proses anak-anak kita. Setiap perkembangan kecil hari ini ada upaya besar dari mereka, dan juga sebuah kemenangan besar yang berarti bagi anak kita. Kita perlu mengingat bahwa pendidikan adalah perjalanan bukan perlombaan. Semoga Allah selalu memampukan kita senantiasa bersyukur menjadi orangtua dan menguatkan diri kita agar amanah mengemban tanggungjawab sebagai orangtua.
MasyaAllah… jawaban-jawaban Bu Ni’mah memberikan secercah cahaya bagi Ayah Bunda yang masih bertanya-tanya bagaimana sih kurikulum SD Islam Bintang Juara dibuat, seperti apa sih orang-orang di baliknya. Dan seperti inilah sosok yang diamanahi menjadi pemimpin di sekolah ini. InsyaAllah melalui tanya jawab ini bisa memberikan gambaran bagaimana ruang tumbuh di Sekolah Islam Bintang Juara dibangun. Bukan hanya untuk muridnya, tetapi juga untuk guru dan orang tuanya.
Pada akhirnya, sekolah bukanlah tempat yang pernah benar-benar selesai belajar. Ada anak yang terus bertumbuh, guru yang terus belajar, orang tua yang terus membersamai, dan sistem pendidikan yang perlu terus dievaluasi agar tetap relevan dengan kebutuhan zaman. Melalui perjalanan dan pemikiran Bu Ni’mah, kita kembali diingatkan bahwa menjadi Sekolah Calon Pemimpin Muslim bukan sekadar tentang capaian hari ini, tetapi tentang bagaimana seluruh ekosistem sekolah terus bertumbuh dengan tetap berpegang pada nilai-nilai Islam. Sebab bagi SD Islam Bintang Juara, setiap proses belajar, setiap refleksi, dan setiap upaya memperbaiki diri pada akhirnya bermuara pada satu tujuan: membersamai setiap anak untuk tumbuh sebagai pribadi yang berilmu, berakhlakul karimah, dan bermanfaat.*** (CM-MRT)
by admin admin | Aug 24, 2026 | Artikel, Berita, Edukasi, Kegiatan Siswa, Religi
Senin, 24 Agustus 2026, suasana SD Islam Bintang Juara terasa berbeda. Pagi itu, peserta didik berkumpul dalam satu suasana yang penuh ketenangan sekaligus semangat. Bukan sekadar untuk mengikuti agenda rutin sekolah, tetapi untuk memperingati salah satu momentum penting bagi umat Islam: Maulid Nabi Muhammad saw.
Peringatan Maulid Nabi di SD Islam Bintang Juara tahun ini menjadi ruang bagi peserta didik untuk kembali mengenal sosok Rasulullah saw., menghadirkan rasa cinta kepada beliau, sekaligus mengambil pelajaran dari salah satu peristiwa penting yang berkaitan dengan kelahiran Nabi Muhammad saw.
Kegiatan diawali dengan berselawat bersama.
Suara anak-anak dan seluruh warga sekolah berpadu dalam lantunan selawat. Suasana semakin semarak dengan kehadiran Grup Rebana An Najma Senior yang dipimpin oleh Pak Zakki Akmal Al Hafidz.
Alunan rebana mengiringi lantunan selawat, menciptakan suasana yang hangat dan penuh penghormatan.
Namun, selawat pada pagi itu bukan sekadar lantunan yang dinyanyikan bersama. Ada sebuah rasa yang ingin dihadirkan. Rasa cinta kepada Rasulullah Muhammad saw.
Berselawat, Menghadirkan Cinta kepada Rasulullah saw.
Bagi anak-anak, mengenal Rasulullah saw. tidak cukup hanya dengan mengetahui nama, tempat kelahiran, atau kisah perjalanan hidup beliau.
Mereka juga perlu memiliki kesempatan untuk menumbuhkan rasa cinta kepada Rasulullah saw. Salah satunya melalui selawat.
Ketika anak-anak berselawat bersama, mereka belajar bahwa Rasulullah saw. adalah sosok yang begitu mulia dan dicintai oleh umat Islam. Lantunan selawat menjadi pengingat untuk terus mengenal pribadi beliau, mempelajari akhlaknya, serta berusaha meneladaninya dalam kehidupan sehari-hari.
Karena cinta tidak berhenti pada ucapan. Cinta kepada Rasulullah saw. juga perlu perlahan diwujudkan melalui perilaku.
- Belajar berkata jujur.
- Belajar menyayangi sesama.
- Belajar menjaga amanah.
- Belajar menghormati orang lain.
- Belajar menjadi pribadi yang membawa kebaikan.
Nilai-nilai tersebut menjadi bagian dari pendidikan karakter yang ingin terus ditumbuhkan dalam keseharian peserta didik.
Dari Selawat Menuju Tadabbur
Setelah berselawat bersama, kegiatan dilanjutkan dengan tadabbur Surah Al-Fil bersama Pak Ali As’ad.
Jika selawat mengajak anak-anak menghadirkan rasa cinta kepada Rasulullah saw., tadabbur kali ini mengajak mereka melihat kembali sebuah peristiwa besar yang memiliki kaitan dengan kelahiran beliau.
Tahun ini, kegiatan Maulid Nabi mengangkat tema:
“Hancurnya Pasukan Abrahah dan Lahirnya Pemimpin Ummat”
Tema tersebut membawa peserta didik untuk mengenal kembali kisah Pasukan Abrahah dan peristiwa yang diabadikan dalam Surah Al-Fil.
Bagi anak-anak, kisah ini tentu bukan sekadar cerita sejarah. Ada banyak hal yang dapat direnungkan dari peristiwa tersebut.
Mengenal Kisah Pasukan Abrahah melalui Surah Al-Fil
Surah Al-Fil mengabadikan peristiwa ketika Pasukan Abrahah datang menuju Makkah dengan tujuan menghancurkan Ka’bah. Dalam kisah tersebut, Allah menunjukkan kekuasaan-Nya. Pasukan yang datang dengan kekuatan besar tidak mampu mewujudkan tujuannya.
Bagi kakak shalih-shalihah, kisah ini menjadi kesempatan untuk memahami bahwa sebesar apa pun kekuatan manusia, tetap ada kekuasaan Allah SWT.
Tadabbur tidak berhenti pada mengetahui apa yang terjadi. Anak-anak diajak untuk melihat makna di balik sebuah kisah.
Apa yang dapat kita pelajari? Bagaimana seharusnya seorang Muslim memandang kekuasaan Allah? Dan bagaimana sebuah peristiwa yang terjadi menjelang kelahiran Rasulullah saw. dapat menjadi bagian dari perjalanan sejarah yang sangat penting?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini membuat pembelajaran Al-Qur’an menjadi lebih dari sekadar membaca dan menghafal ayat. Anak diajak untuk merenungkan dan mengambil pelajaran.
Ketika Sejarah Bertemu dengan Kelahiran Pemimpin Umat
Tema “Hancurnya Pasukan Abrahah dan Lahirnya Pemimpin Ummat” juga membawa peserta didik pada konteks yang lebih luas. Peristiwa Pasukan Abrahah dikenal sebagai salah satu peristiwa yang berkaitan dengan tahun kelahiran Nabi Muhammad saw.
Di tengah peristiwa besar tersebut, lahirlah sosok yang kelak menjadi pemimpin umat dan Rasul terakhir. Di sinilah kakak shalih-shalihah dapat diajak memahami bahwa kepemimpinan bukan sekadar tentang memiliki kekuasaan atau berada di posisi paling depan.
Kepemimpinan juga tentang akhlak, amanah, keberanian, kasih sayang, dan memberikan manfaat bagi orang lain. Nilai tersebut sangat dekat dengan semangat pendidikan di SD Islam Bintang Juara sebagai Sekolah Calon Pemimpin Muslim.
Anak-anak tidak hanya dipersiapkan untuk menjadi pribadi yang memiliki pengetahuan luas, tetapi juga memiliki karakter dan nilai yang menjadi bekal dalam kehidupannya.
Maulid Nabi sebagai Ruang Pendidikan Karakter
Peringatan Maulid Nabi di sekolah dapat menjadi momentum untuk menghadirkan pembelajaran Islam dengan cara yang dekat dengan dunia anak.
- Ada selawat yang dapat mereka lantunkan.
- Ada kisah yang dapat mereka dengarkan.
- Ada ayat Al-Qur’an yang dapat mereka tadabburi.
- Dan ada nilai yang dapat mereka bawa dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, Maulid Nabi bukan hanya kegiatan seremonial yang berlangsung satu hari. Momentum ini dapat menjadi pengingat bagi anak-anak untuk terus mengenal Rasulullah saw. dan menjadikan beliau sebagai teladan.
Sebab semakin seseorang mengenal sosok yang dicintainya, semakin banyak pula nilai yang dapat ia pelajari dan teladani.
Dari Kisah Rasulullah, Belajar Menjadi Pemimpin
Ada satu benang merah yang menarik dari tema Maulid Nabi tahun ini: kepemimpinan.
Rasulullah saw. adalah teladan dalam kepemimpinan. Namun, bagaimana mengenalkan kepemimpinan kepada anak usia SD?
Tentu tidak harus melalui konsep yang berat. Kepemimpinan dapat dimulai dari hal-hal sederhana.
- Berani bertanggung jawab ketika melakukan kesalahan.
- Mau membantu teman.
- Mampu menjaga amanah.
- Berani mengatakan yang benar.
- Mau mendengarkan orang lain.
- Tidak menggunakan kekuatan untuk menyakiti.
- Dan mampu memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Nilai-nilai tersebut dapat mulai dilatih sejak anak berada di lingkungan sekolah dan keluarga. Karena seorang pemimpin tidak tiba-tiba menjadi pemimpin ketika dewasa. Karakter kepemimpinan dibangun sedikit demi sedikit sejak masa kanak-kanak.
Menghidupkan Maulid dalam Kehidupan Sehari-hari
Setelah kegiatan Maulid Nabi selesai, harapannya bukan berarti pembelajaran pun ikut berakhir. Justru, selawat yang dilantunkan dan kisah yang dipelajari dapat menjadi awal untuk menghadirkan kecintaan kepada Rasulullah saw. dalam keseharian.
- Ketika anak belajar bersikap santun kepada guru, ia sedang belajar akhlak.
- Ketika ia mau berbagi dengan teman, ia sedang belajar kasih sayang.
- Ketika ia mengakui kesalahan, ia sedang belajar kejujuran.
- Ketika ia menjaga titipan, ia sedang belajar amanah.
- Ketika ia membantu tanpa diminta, ia sedang belajar memberikan manfaat.
Hal-hal sederhana tersebut dapat menjadi bentuk nyata dari proses meneladani Rasulullah saw.
Sebab tujuan mengenal Nabi bukan hanya agar anak mengetahui kisah beliau, tetapi agar kisah tersebut hidup dalam perilaku mereka.
Dari Maulid untuk Generasi Calon Pemimpin Muslim
Peringatan Maulid Nabi di SD Islam Bintang Juara pada Senin, 24 Agustus 2026 akhirnya menjadi perjalanan belajar yang memadukan selawat, Al-Qur’an, sejarah, dan pendidikan karakter.
Dari lantunan selawat bersama Grup Rebana An Najma Senior yang dipimpin Pak Zakki Akmal Al Hafidz, anak-anak diajak menghadirkan rasa cinta kepada Rasulullah saw.
Dari tadabbur Surah Al-Fil bersama Pak Ali As’ad, mereka diajak mengenal kembali kisah Pasukan Abrahah dan merenungkan kekuasaan Allah SWT.
Dan dari tema “Hancurnya Pasukan Abrahah dan Lahirnya Pemimpin Ummat”, anak-anak mendapatkan pengingat bahwa kehidupan seorang Muslim tidak hanya tentang menjadi pintar, tetapi juga tentang menjadi pribadi yang memiliki nilai, akhlak, dan keberanian untuk memberikan manfaat.
- Semoga dari setiap selawat yang dilantunkan, tumbuh cinta.
- Dari setiap ayat yang ditadabburi, tumbuh pemahaman.
- Dari setiap kisah Nabi yang dipelajari, tumbuh keteladanan.
- Dan dari setiap pembiasaan kecil yang dilakukan hari ini, tumbuh calon pemimpin Muslim yang berilmu, berakhlakul karimah, dan bermanfaat bagi sesama.
Karena mengenal Rasulullah saw. bukan hanya tentang mengetahui kisahnya. Tetapi tentang belajar mencintai, meneladani, dan meneruskan kebaikan yang beliau ajarkan. ﷺ
Selamat memperingati Maulid Nabi Muhammad saw.
Semoga cinta kepada Rasulullah saw. senantiasa tumbuh di hati setiap anak dan menjadi cahaya yang menuntun langkah mereka dalam menjalani kehidupan. Aamiin.*** (CM-MRT)
by admin admin | Aug 21, 2026 | Artikel, Berita, Berita Utama, Prestasi
Alhamdulillahirabbil‘alamin. Baarakallah, Kak Kia!
Kabar membanggakan kembali hadir dari keluarga besar SD Islam Bintang Juara. Salah satu kakak shalihah, Kak Kia, berhasil membawa nama Kota Semarang hingga ke panggung Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) tingkat nasional.
Perjalanan tersebut bukanlah perjalanan singkat.
Setelah melewati rangkaian kompetisi dari tingkat kecamatan hingga kota, Kak Kia akhirnya berhasil melaju ke tingkat nasional dan berkesempatan bertanding bersama siswa-siswa terbaik dari berbagai daerah di Indonesia.
Di tingkat nasional, Kak Kia berhasil menorehkan prestasi dengan meraih peringkat 4 dan peringkat 6.
Sebuah pencapaian yang tentu sangat membanggakan.
Namun, di balik pencapaian tersebut terdapat cerita yang jauh lebih panjang: tentang proses belajar, latihan, keberanian mencoba, dan konsistensi yang telah dibangun sejak usia dini.
Belajar Renang Sejak TK
Perjalanan Kak Kia dalam dunia renang ternyata telah dimulai sejak jenjang Taman Kanak-Kanak (TK).
Sejak usia dini, Kak Kia sudah mulai belajar dan mengenal olahraga renang. Apa yang pada awalnya mungkin hanya menjadi sebuah aktivitas untuk belajar berenang, perlahan berkembang menjadi kemampuan yang terus diasah.
Tahun demi tahun, pengalaman Kak Kia di dunia renang semakin bertambah. Dari belajar mengenal air, memahami teknik dasar, berlatih secara rutin, hingga akhirnya berani mengikuti kompetisi.
Proses panjang tersebut menjadi salah satu pengingat bahwa sebuah prestasi sering kali tidak lahir secara instan.
Apa yang terlihat hari ini sebagai seorang siswa yang mampu bertanding di tingkat nasional, sebenarnya merupakan hasil dari proses yang telah dimulai sejak bertahun-tahun sebelumnya.
Sedikit demi sedikit. Latihan demi latihan. Pengalaman demi pengalaman. Hingga akhirnya, kesempatan besar itu datang.
Dari Kecamatan, Kota, hingga Nasional
Untuk mencapai O2SN tingkat nasional, Kak Kia harus melewati serangkaian tahapan kompetisi.
Perjalanan dimulai dari tingkat kecamatan. Setelah berhasil melewati tahap tersebut, perjuangan berlanjut ke tingkat Kota Semarang. Di setiap jenjang, tantangan semakin besar.
Peserta yang dihadapi semakin beragam. Persaingan semakin ketat. Tekanan pertandingan pun bisa semakin terasa. Namun, Kak Kia terus melangkah.
Hingga akhirnya berhasil mendapatkan kesempatan untuk mewakili Kota Semarang di O2SN tingkat nasional. Sampai pada tahap ini saja sudah merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa.
Sebab, perjalanan menuju tingkat nasional bukan hanya tentang kemampuan teknis dalam olahraga. Ada proses seleksi, latihan, persiapan mental, kedisiplinan, dan keberanian untuk tampil di tengah persaingan yang semakin tinggi.
Bertanding di Panggung Nasional
Tingkat nasional menjadi pengalaman baru bagi Kak Kia. Bertemu dengan peserta dari berbagai daerah di Indonesia memberikan kesempatan untuk melihat kemampuan yang lebih beragam sekaligus belajar dari pengalaman orang lain.
Di tengah kompetisi tersebut, Kak Kia berhasil menempati peringkat 4 dan peringkat 6.
Hasil ini menjadi pencapaian yang sangat membanggakan bagi Kak Kia, keluarga, dan seluruh keluarga besar SD Islam Bintang Juara.
Namun, pencapaian tersebut bukan hanya tentang angka di papan peringkat.
- Ada keberanian yang telah dibangun.
- Ada pengalaman yang telah didapat.
- Ada proses latihan yang telah dilalui.
Dan ada pelajaran yang akan terus dibawa bahkan setelah kompetisi selesai.
O2SN Bukan Hanya Tentang Menang dan Kalah
Ajang O2SN memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan potensi olahraga sekaligus belajar berbagai nilai kehidupan. Dalam olahraga, anak belajar bahwa kemampuan perlu dilatih.
- Mereka belajar bahwa hasil tidak selalu datang sesuai harapan.
- Mereka belajar menerima kemenangan tanpa menjadi tinggi hati dan menerima kekalahan tanpa kehilangan semangat.
- Mereka juga belajar bahwa setiap pertandingan memiliki cerita.
- Ada hari ketika latihan terasa mudah.
- Ada hari ketika tubuh terasa lelah.
- Ada momen ketika hasil latihan mulai terlihat.
- Ada pula saat ketika hasil pertandingan belum sesuai dengan target.
Semua pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses tumbuh.
Karena itulah, olahraga di usia sekolah tidak hanya berbicara mengenai prestasi. Olahraga juga dapat menjadi ruang untuk membangun disiplin, ketekunan, sportivitas, keberanian, tanggung jawab, dan daya juang.
Prestasi Hari Ini, Proses yang Dimulai Sejak Dini
Perjalanan Kak Kia juga memberikan satu pelajaran penting bagi kita sebagai orang tua dan pendidik.
Potensi anak perlu diberi ruang untuk tumbuh.
Ketika anak menunjukkan ketertarikan terhadap suatu bidang, kesempatan untuk mencoba dan berlatih dapat menjadi awal dari perjalanan yang panjang.
Tidak semua anak yang belajar olahraga sejak dini akan menjadi atlet. Tidak semua anak yang mengikuti kompetisi akan langsung meraih juara.
Dan itu tidak masalah. Yang terpenting adalah anak mendapatkan kesempatan untuk mengenali dirinya sendiri.
- Apa yang ia sukai?
- Apa yang ingin ia pelajari?
- Apa yang ingin ia kembangkan?
Dari proses tersebut, anak dapat belajar mengenali potensi sekaligus membangun kepercayaan diri.
Kisah Kak Kia menjadi contoh bahwa sesuatu yang dimulai sederhana sejak TK dapat berkembang menjadi pengalaman luar biasa ketika terus dirawat melalui proses dan latihan.
Juara Bukan Hanya Tentang Seberapa Tinggi Podium
Peringkat 4 dan 6 di tingkat nasional tentu patut dirayakan. Namun, ada pesan yang lebih besar dari sekadar peringkat tersebut.
- Juara bukan tentang seberapa tinggi podium.
- Juara adalah ketika seorang anak berani mencoba.
- Juara adalah ketika ia mau terus berlatih meskipun tidak selalu mudah.
- Juara adalah ketika ia mampu bangkit setelah menghadapi tantangan.
- Dan juara adalah ketika ia terus berusaha menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri. Karena setiap anak memiliki garis start yang berbeda.
Ada yang lebih dulu menemukan bakatnya. Ada yang membutuhkan waktu lebih panjang. Ada yang langsung percaya diri. Ada pula yang membutuhkan dukungan lebih banyak untuk berani tampil.
Tugas kita bukan membandingkan perjalanan mereka. Tugas kita adalah mendampingi mereka agar terus bertumbuh.
Terima Kasih untuk Setiap Dukungan
Prestasi Kak Kia tentu tidak lahir dari perjuangannya seorang diri.
- Ada orang tua yang mendampingi dan memberikan dukungan.
- Ada pelatih yang membantu mengembangkan kemampuan.
- Ada guru yang memberikan semangat.
- Ada keluarga dan teman-teman yang terus memberikan doa dan dukungan.
Setiap dukungan tersebut menjadi bagian dari perjalanan hingga Kak Kia mampu berdiri di panggung O2SN tingkat nasional.
Untuk seluruh pihak yang telah mendampingi perjalanan Kak Kia, terima kasih atas setiap waktu, tenaga, doa, dan kepercayaan yang diberikan. Semoga setiap kebaikan tersebut menjadi keberkahan.
Baarakallah, Kak Kia! Terima kasih telah membawa nama Kota Semarang hingga ke tingkat nasional. Terima kasih telah memberikan ikhtiar terbaik. Terima kasih telah menunjukkan bahwa perjalanan panjang yang dimulai sejak dini dapat membawa kita menuju pengalaman-pengalaman luar biasa.
Peringkat 4 dan 6 adalah sebuah pencapaian yang membanggakan. Namun, pengalaman dan pelajaran yang Kak Kia dapatkan sepanjang perjalanan tentu jauh lebih berharga.
Semoga prestasi ini menjadi pijakan untuk terus melangkah, bukan alasan untuk berhenti.
- Teruslah berlatih dengan tekun.
- Teruslah belajar dengan rendah hati.
- Teruslah berani mencoba.
- Dan tetaplah menikmati setiap prosesnya.
Untuk Kak Kia dan seluruh kakak shalih-shalihah SD Islam Bintang Juara:
Tidak harus selalu menjadi yang pertama untuk menjadi juara. Karena juara adalah mereka yang berani mencoba, memberikan ikhtiar terbaik, dan terus bertumbuh menjadi versi terbaik dirinya.
Semoga semakin banyak Langkah Juara yang lahir dari SD Islam Bintang Juara. Bintang Juara — tumbuh dengan iman, unggul dengan ilmu, santun dalam akhlak, dan berdampak bagi sesama.*** (CM-MRT)