fbpx
BBOT Kelas 4A: Mengenal Iklim, Cuaca, dan Menjaga Bumi

BBOT Kelas 4A: Mengenal Iklim, Cuaca, dan Menjaga Bumi

“Kenapa di Indonesia tidak ada musim salju seperti di beberapa negara lain?”

Pertanyaan seperti itu mungkin terdengar sederhana. Namun, di baliknya ada konsep sains yang menarik: letak suatu negara di Bumi ternyata ikut memengaruhi iklim, musim, dan kondisi cuacanya.

Hal inilah yang menjadi awal perjalanan belajar kakak-kakak kelas 4A SD Islam Bintang Juara dalam kegiatan BBOT (Belajar Bersama Orang Tua) pada Rabu, 16 September 2026.

Bersama Bunda Imas Musfiroh, Bunda dari Kak Afshiena, kakak-kakak diajak mengenal lebih dekat tentang iklim, musim, dan cuaca.

Menariknya, tanggal tersebut bertepatan dengan Hari Internasional untuk Pelestarian Lapisan Ozon atau International Day for the Preservation of the Ozone Layer yang diperingati setiap 16 September. PBB menetapkan tanggal tersebut sebagai hari internasional untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya menjaga lapisan ozon.

Maka, pembelajaran hari itu pun berkembang menjadi perjalanan yang lebih luas. Dari negara-negara di dunia, menuju lapisan ozon, kemudian berlanjut pada efek rumah kaca dan kenaikan permukaan air laut. Semua dipelajari melalui pertanyaan, diskusi, dan praktik.

Mengenal Iklim dan Musim yang Berbeda di Setiap Negara

Perjalanan dimulai dengan mengenal berbagai negara di dunia. Kakak-kakak diajak memperhatikan letak lintang negara-negara tersebut dan menghubungkannya dengan kondisi iklim, musim, serta cuaca yang mereka alami.

Dari sini, anak-anak mulai memahami bahwa Bumi bukanlah tempat yang memiliki kondisi cuaca dan musim yang sama di setiap wilayah. Ada negara yang berada di wilayah tropis dan memiliki pola musim yang berbeda dengan negara di wilayah subtropis atau lintang tinggi.

Ada negara yang mengalami musim semi, panas, gugur, dan dingin. Sementara Indonesia, yang berada di wilayah tropis, secara umum mengalami pola musim hujan dan kemarau.

Namun, pembahasan tidak berhenti pada menghafalkan nama musim. Kakak-kakak diajak memahami bahwa letak suatu wilayah dan kondisi atmosfer merupakan bagian dari sistem yang memengaruhi kehidupan manusia di Bumi.

Dari sini, pelajaran IPAS terasa lebih dekat dengan kehidupan.

Ternyata, ketika kita melihat berita tentang salju di negara lain, musim hujan di Indonesia, atau cuaca panas yang terjadi di suatu wilayah, semuanya merupakan bagian dari sistem Bumi yang saling berkaitan.

Ternyata Hari Itu adalah Hari Ozon Sedunia

Setelah berbicara mengenai Bumi dan atmosfer, ada satu hal menarik yang membuat pembelajaran hari itu semakin relevan. 16 September adalah Hari Internasional untuk Pelestarian Lapisan Ozon.

Bunda Imas kemudian mengajak kakak-kakak berpikir: “Mengapa Bumi perlu dilindungi oleh lapisan ozon?” Pertanyaan tersebut membawa kakak-kakak mengenal salah satu pelindung penting bagi kehidupan di Bumi.

Lapisan ozon berada di stratosfer dan berfungsi menyerap sebagian radiasi ultraviolet (UV) berbahaya dari Matahari. Karena itu, keberadaan ozon stratosfer sangat penting untuk melindungi manusia, hewan, tumbuhan, dan berbagai kehidupan di Bumi.

Kakak-kakak kemudian diajak membayangkan: “Kalau lapisan ozon menipis, apa yang akan terjadi?” Pertanyaan sederhana tersebut membuka ruang bagi anak untuk memahami bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tentang kebersihan di sekitar sekolah.

Ada sistem besar di atmosfer yang juga perlu dijaga.

Bagaimana Ozon Terbentuk?

Bunda Imas juga mengenalkan unsur pembentuk ozon. Secara kimia, ozon adalah O₃, yaitu molekul yang terdiri dari tiga atom oksigen. Oksigen yang kita hirup sehari-hari umumnya berbentuk O₂.

Namun, bagaimana O₃ terbentuk?

Di stratosfer, radiasi ultraviolet dari Matahari memecah molekul O₂ menjadi atom-atom oksigen. Atom oksigen tersebut kemudian bergabung dengan molekul O₂ lainnya sehingga terbentuk O₃ atau ozon. Proses ini merupakan bagian dari keseimbangan alami pembentukan dan penghancuran ozon di atmosfer.

Penjelasan tersebut menjadi kesempatan bagi kakak-kakak untuk melihat bahwa sesuatu yang sangat kecil—bahkan sampai pada tingkat atom—dapat berperan dalam menjaga kehidupan di Bumi.

Sains yang tadinya terasa jauh menjadi lebih dekat dan dapat dibayangkan.

Bersyukur Ketika Hujan Turun dan Petir Menyambar

Dalam pembelajaran, kakak-kakak juga diajak melihat fenomena alam dari sudut pandang yang lebih luas.

Petir yang terkadang membuat kita merasa takut ternyata juga memiliki peran dalam kimia atmosfer. Petir dapat menghasilkan nitrogen oksida (NOx), yang merupakan bagian dari berbagai proses kimia di atmosfer.

Namun, penting untuk memahami bahwa petir bukan mekanisme utama pembentukan lapisan ozon stratosfer. Pembentukan ozon di stratosfer terutama digerakkan oleh radiasi UV Matahari.

Dari pembahasan tersebut, kakak-kakak tetap mendapatkan sebuah pesan reflektif: alam memiliki banyak proses yang belum tentu langsung terlihat manfaatnya bagi manusia.

Maka, ketika hujan turun, ketika awan berkumpul, atau ketika petir menyambar, kita dapat belajar untuk bersyukur dan semakin kagum terhadap keteraturan ciptaan Allah, sekaligus tetap memahami fenomena tersebut berdasarkan ilmu pengetahuan.

Praktik Efek Rumah Kaca: Apa yang Terjadi pada Bumi?

Setelah mengenal lapisan ozon, pembelajaran bergerak ke topik lain yang juga sangat dekat dengan isu lingkungan: efek rumah kaca dan perubahan iklim.

Kakak-kakak diajak melakukan praktik untuk memahami bagaimana gas rumah kaca berhubungan dengan panas di atmosfer.

Efek rumah kaca sebenarnya merupakan proses alami yang membuat Bumi memiliki suhu yang memungkinkan kehidupan berlangsung. Masalah muncul ketika konsentrasi gas rumah kaca meningkat akibat aktivitas manusia sehingga semakin banyak panas tertahan dalam sistem Bumi.

CO₂ atau karbon dioksida merupakan salah satu gas rumah kaca utama yang meningkat akibat aktivitas manusia, terutama dari penggunaan bahan bakar fosil.

Di sinilah penting untuk membedakan dua persoalan:

Penipisan lapisan ozon terutama berkaitan dengan zat perusak ozon seperti CFC, sedangkan pemanasan global sangat berkaitan dengan peningkatan gas rumah kaca seperti CO₂. Keduanya merupakan persoalan lingkungan yang berbeda, meskipun memiliki keterkaitan dalam sistem atmosfer dan iklim.

Melalui praktik, konsep yang abstrak tersebut menjadi lebih mudah dibayangkan oleh kakak-kakak.

Apa yang Terjadi Jika Es Mencair?

Petualangan belajar belum selesai. Kakak-kakak kemudian diajak melakukan praktik untuk memahami dampak mencairnya es terhadap kenaikan permukaan air laut.

Melalui simulasi sederhana, anak-anak dapat mengamati perubahan permukaan air dan mendiskusikan apa yang terjadi ketika es mencair.

Dari sini, pertanyaan baru muncul: “Kalau permukaan laut naik, apa yang terjadi pada wilayah yang berada di dekat pantai?” Pertanyaan tersebut membawa anak memahami bahwa perubahan lingkungan di satu tempat dapat memberikan dampak yang lebih luas.

Bukan hanya tentang es. Bukan hanya tentang air laut. Tetapi tentang manusia, wilayah tempat tinggal, ekosistem, dan kehidupan di masa depan.

Belajar IPAS dengan Bertanya dan Bereksperimen

Yang membuat kegiatan BBOT kelas 4A terasa berbeda adalah cara belajar yang tidak berhenti pada penjelasan.

Kakak-kakak diajak bertanya, mengamati, berdiskusi, dan melakukan praktik.

  • Dari peta dunia mereka belajar tentang iklim.
  • Dari posisi Bumi mereka belajar tentang musim.
  • Dari kondisi atmosfer mereka belajar tentang cuaca.
  • Dari Hari Ozon Sedunia mereka belajar mengapa lapisan ozon penting.
  • Dari praktik efek rumah kaca mereka belajar tentang panas dan atmosfer.
  • Dan dari simulasi mencairnya es, mereka belajar bahwa perubahan lingkungan dapat berdampak pada kehidupan manusia.

Satu kegiatan membawa mereka pada pertanyaan berikutnya. Dan setiap pertanyaan membuka pintu menuju pengetahuan baru.

Dari BBOT, Tumbuh Rasa Ingin Tahu terhadap Bumi

Belajar tentang iklim, musim, cuaca, ozon, dan perubahan lingkungan mungkin terdengar seperti materi yang besar untuk anak kelas 4.

Namun, ketika disampaikan melalui pengalaman, percobaan, dan pertanyaan yang dekat dengan kehidupan, sains dapat terasa lebih menyenangkan.

BBOT bersama Bunda Imas Musfiroh menjadi ruang bagi kakak-kakak kelas 4A untuk menyadari bahwa Bumi yang mereka tinggali memiliki sistem yang luar biasa kompleks.

  • Ada atmosfer yang melindungi.
  • Ada sinar Matahari.
  • Ada awan, hujan, dan petir.
  • Ada musim yang berganti.
  • Ada es yang menyimpan air.
  • Dan ada manusia yang memiliki tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan lingkungan.

Pada akhirnya, pembelajaran hari itu bukan hanya tentang menghafal apa itu iklim, musim, cuaca, ozon, atau efek rumah kaca.

Lebih dari itu, kakak-kakak diajak memiliki rasa ingin tahu.

  • Berani bertanya.
  • Mau mencoba.
  • Mau mencari tahu.

Dan semakin menyadari bahwa ilmu yang dipelajari di sekolah ternyata memiliki hubungan erat dengan kehidupan sehari-hari.

Karena ketika anak mulai bertanya, “Mengapa Bumi seperti ini?”, sesungguhnya di situlah perjalanan seorang pembelajar sedang dimulai.

Dan semoga dari rasa ingin tahu tersebut tumbuh generasi yang tidak hanya unggul dalam ilmu, tetapi juga memiliki kesadaran untuk mensyukuri, memahami, dan menjaga Bumi sebagai amanah dari Allah.*** (CM-MRT)

Smart Farming: Saat Teknologi Ikut Menjaga Ekosistem Sekolah

Smart Farming: Saat Teknologi Ikut Menjaga Ekosistem Sekolah

Bagaimana jika teknologi tidak hanya digunakan untuk membuat pekerjaan menjadi lebih mudah, tetapi juga membantu manusia menjaga lingkungan dan memastikan makanan yang kita konsumsi tetap aman?

Pertanyaan inilah yang menjadi salah satu pintu masuk pembelajaran kakak-kakak kelas 5 SD Islam Bintang Juara dalam kegiatan Belajar Bersama Ahli (BBA) pada Kamis, 20 Agustus 2026.

Dalam kegiatan yang menjadi bagian dari Project Based Learning (PjBL) “EcoTech: Merancang Solusi, Menjaga Ekosistem Sekolah”, siswa belajar bersama Novita Kurnia N., S.Kom., M.Kom. dengan tema:

“Smart Farming & Food Defense: Bagaimana Teknologi Membantu Menjaga Ekosistem dan Keamanan Pangan?”

Kegiatan ini dirancang untuk membawa siswa melihat hubungan antara teknologi, lingkungan, pertanian, dan pangan melalui persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

BBA Smart Farming Dimulai dari Driving Question

Setiap proyek yang bermakna biasanya berangkat dari sebuah pertanyaan yang mendorong siswa untuk berpikir.

Dalam PjBL EcoTech, kakak-kakak kelas 5 diajak menjawab Driving Question:

“Bagaimana teknologi dapat membantu menjaga keseimbangan ekosistem, khususnya di lingkungan sekolah?”

Pertanyaan tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun, ketika dicermati lebih jauh, ada banyak hal yang dapat dieksplorasi.

  • Bagaimana cara menggunakan air secara lebih bijak?
  • Bagaimana mengetahui kondisi tanaman?
  • Bisakah teknologi membantu mengurangi pemborosan?
  • Bagaimana lingkungan sekolah dapat menjadi tempat yang lebih ramah bagi tumbuhan dan makhluk hidup lainnya?
  • Dan bagaimana memastikan makanan yang dihasilkan atau dikonsumsi tetap aman?

Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, siswa mulai memahami bahwa teknologi bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Teknologi dapat digunakan sebagai alat untuk membantu manusia mengamati masalah, mencari solusi, dan membuat keputusan yang lebih tepat.

Mengenal Smart Farming

Salah satu topik yang diperkenalkan dalam BBA adalah Smart Farming atau pertanian cerdas.

Secara sederhana, Smart Farming merupakan pendekatan dalam pertanian yang memanfaatkan teknologi dan data untuk membantu proses budidaya menjadi lebih efektif dan efisien.

Teknologi dapat membantu manusia memantau berbagai kondisi yang berkaitan dengan tanaman dan lingkungan, misalnya kelembapan tanah, kebutuhan air, kondisi cuaca, hingga pertumbuhan tanaman.

Bagi siswa sekolah dasar, konsep ini tentu tidak harus langsung dipelajari secara rumit.

Yang terpenting adalah anak mulai memahami sebuah prinsip:

Teknologi dapat digunakan untuk mengenali kebutuhan lingkungan dan membantu manusia merawatnya dengan lebih tepat.

Misalnya, daripada menyiram tanaman secara berlebihan, bagaimana jika kita dapat mengetahui apakah tanah masih cukup lembap? Daripada hanya menebak kondisi tanaman, bagaimana jika kita dapat menggunakan data untuk membantu mengambil keputusan?

Pertanyaan seperti ini membuat siswa belajar melihat teknologi dari perspektif yang lebih luas.

  • Teknologi bukan hanya tentang komputer atau gawai.
  • Teknologi juga dapat menjadi alat untuk merawat bumi.

Lalu, Apa Itu Food Defense?

Selain Smart Farming, siswa juga diperkenalkan dengan konsep Food Defense atau pertahanan pangan.

Food Defense berkaitan dengan upaya melindungi makanan dari berbagai ancaman yang dapat membuat pangan menjadi tidak aman.

Bagi anak-anak, konsep ini dapat dikaitkan dengan hal-hal sederhana yang mereka temui setiap hari.

  • Mengapa kita perlu mencuci tangan sebelum makan?
  • Mengapa bahan makanan perlu disimpan dengan baik?
  • Mengapa kebersihan tempat pengolahan makanan perlu diperhatikan?
  • Mengapa makanan tidak boleh diletakkan sembarangan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu anak memahami bahwa keamanan pangan tidak dimulai ketika makanan sudah berada di atas meja.

Keamanan pangan merupakan bagian dari sebuah proses panjang. Mulai dari bagaimana bahan pangan diproduksi, disimpan, diolah, hingga akhirnya dikonsumsi.

Di sinilah siswa dapat melihat hubungan antara lingkungan yang sehat, teknologi, proses produksi pangan, dan kesehatan manusia.

Ketika Teknologi Bertemu Ekosistem

Salah satu hal menarik dari PjBL EcoTech adalah siswa tidak hanya mempelajari teknologi sebagai sebuah konsep. Mereka diajak melihat bagaimana teknologi dapat digunakan untuk membantu menyelesaikan persoalan lingkungan.

Bayangkan lingkungan sekolah sebagai sebuah ekosistem. Di dalamnya terdapat manusia, tumbuhan, tanah, air, udara, serta berbagai makhluk hidup lainnya yang saling berinteraksi.

Jika salah satu bagian terganggu, bagian lainnya dapat ikut terdampak.

Misalnya, penggunaan air yang tidak bijak dapat menyebabkan pemborosan. Pengelolaan sampah yang kurang baik dapat mengganggu kebersihan lingkungan. Kondisi tanah yang tidak terjaga dapat memengaruhi pertumbuhan tanaman.

Teknologi dapat menjadi salah satu alat untuk membantu mengidentifikasi dan mengatasi persoalan tersebut. Namun, teknologi bukan satu-satunya jawaban. Siswa juga perlu memahami bahwa solusi lingkungan membutuhkan kesadaran, tanggung jawab, dan perubahan kebiasaan manusia.

Teknologi membantu. Manusia yang menentukan bagaimana teknologi tersebut digunakan.

Belajar Bersama Ahli, Memperluas Cara Pandang Anak

Kegiatan Belajar Bersama Ahli (BBA) memberikan pengalaman belajar yang berbeda dari pembelajaran di dalam kelas.

Melalui kehadiran praktisi atau ahli, siswa mendapatkan kesempatan untuk melihat bagaimana pengetahuan yang dipelajari di sekolah dapat digunakan dalam kehidupan nyata.

Pada BBA kali ini, Novita Kurnia N., S.Kom., M.Kom. membantu siswa melihat topik Smart Farming dan Food Defense dari perspektif teknologi.

Pengalaman seperti ini penting karena anak dapat memahami bahwa profesi dan ilmu pengetahuan saling terhubung.

  • Ilmu komputer dapat bertemu dengan pertanian.
  • Teknologi dapat bertemu dengan lingkungan.
  • Data dapat membantu pengambilan keputusan.
  • Dan pendidikan dapat menjadi awal untuk menciptakan solusi atas persoalan di sekitar kita.

Dengan demikian, anak tidak hanya belajar “apa”, tetapi juga mulai bertanya “mengapa” dan “bagaimana”.

PjBL Membuat Anak Belajar dari Masalah Nyata

Kegiatan BBA ini merupakan bagian dari Project Based Learning (PjBL).

Dalam pembelajaran berbasis proyek, siswa tidak hanya menerima informasi kemudian mengerjakan soal. Mereka diajak menghadapi sebuah pertanyaan atau permasalahan, melakukan eksplorasi, berdiskusi, mencari informasi, kemudian merancang solusi.

PjBL EcoTech membawa siswa pada konteks yang dekat dengan kehidupan mereka sendiri: lingkungan sekolah.

Dengan Driving Question “Bagaimana teknologi dapat membantu menjaga keseimbangan ekosistem, khususnya di lingkungan sekolah?”, siswa memiliki arah untuk mengeksplorasi berbagai kemungkinan solusi.

Proses tersebut juga melatih berbagai keterampilan penting, seperti:

  • Critical thinking, untuk memahami masalah dan mencari penyebabnya.
  • Problem solving, untuk merancang solusi yang dapat diterapkan.
  • Collaboration, melalui kerja sama dengan teman.
  • Communication, ketika menyampaikan ide dan hasil pemikiran.
  • Creativity, dalam merancang gagasan baru.
  • Literasi teknologi, untuk memahami pemanfaatan teknologi secara bijak.

Keterampilan tersebut merupakan bagian penting dari proses pendidikan karena tantangan masa depan tidak selalu memiliki jawaban yang bisa ditemukan hanya dengan menghafal.

Anak perlu belajar berpikir dan menciptakan solusi.

Dari Sekolah untuk Masa Depan

Apa yang dipelajari kakak-kakak kelas 5 melalui kegiatan ini mungkin terlihat sederhana hari ini. Namun, kebiasaan berpikir yang dibangun dapat menjadi bekal untuk masa depan.

  • Ketika melihat tanaman, mereka dapat bertanya bagaimana cara merawatnya dengan lebih baik.
  • Ketika melihat air terbuang, mereka dapat berpikir bagaimana cara menghematnya.
  • Ketika melihat sampah, mereka dapat mencari cara mengelolanya.
  • Ketika menggunakan teknologi, mereka dapat mulai bertanya apakah teknologi tersebut dapat memberikan manfaat bagi lingkungan.

Inilah salah satu tujuan penting dari pembelajaran: membantu anak menjadi manusia yang peka terhadap masalah di sekitarnya dan berani mencari solusi.

Teknologi yang Digunakan untuk Kebaikan

Perkembangan teknologi akan terus berlangsung. Anak-anak hari ini akan tumbuh di dunia yang semakin terhubung dengan teknologi, data, dan kecerdasan buatan.

Karena itu, mereka tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi. Mereka juga perlu belajar menjadi pengguna yang bijak sekaligus pencipta solusi.

Melalui PjBL EcoTech, kakak-kakak kelas 5 diajak melihat bahwa teknologi dapat memiliki peran positif ketika digunakan untuk tujuan yang tepat.

  • Menjaga lingkungan.
  • Menghemat sumber daya.
  • Mendukung pertanian.
  • Menjaga keamanan pangan.
  • Dan menciptakan lingkungan sekolah yang lebih baik.

Semua itu berawal dari satu pertanyaan sederhana:

“Bagaimana kita bisa menggunakan apa yang kita punya untuk membuat lingkungan menjadi lebih baik?”

Terus Bertanya, Terus Mencoba, Terus Menciptakan

Kegiatan Belajar Bersama Ahli bersama Novita Kurnia N., S.Kom., M.Kom. menjadi salah satu pengalaman yang memperkaya perjalanan belajar kakak-kakak kelas 5 SD Islam Bintang Juara.

Semoga setelah kegiatan ini, semakin banyak pertanyaan yang muncul di benak mereka.

Karena anak yang bertanya sedang belajar. Anak yang mencoba sedang bertumbuh. Dan anak yang berani mencari solusi sedang mempersiapkan dirinya untuk menghadapi masa depan.

Dari Smart Farming, anak belajar bahwa teknologi dapat membantu merawat kehidupan.

  • Dari Food Defense, anak belajar bahwa keamanan pangan membutuhkan perhatian dan tanggung jawab.
  • Dari EcoTech, anak belajar bahwa lingkungan di sekitar mereka adalah bagian dari kehidupan yang perlu dijaga.

Dan dari seluruh proses tersebut, mereka belajar satu hal yang sangat penting:

Menjadi bagian dari solusi dimulai dari keberanian untuk peduli, bertanya, dan mencoba.

Rahasia Perbandingan Terbongkar! BBOT 4B Bikin Cairan Pembersih Sendiri

Rahasia Perbandingan Terbongkar! BBOT 4B Bikin Cairan Pembersih Sendiri

Matematika sering dianggap rumit. Pecahan, perbandingan, angka desimal—semuanya terdengar serius. Namun di kelas 4B, Senin, 9 Februari 2026, pelajaran pecahan berubah menjadi pengalaman seru dan penuh rasa ingin tahu.

Melalui kegiatan BBOT (Belajar Bersama Orang Tua), kakak shalih–shalihah kelas 4B belajar bersama Ayah Arief Radityo Cahyo Bawono, orang tua dari Kak Xaquil. Tema yang diangkat pun unik: “Membedah Rahasia Perbandingan Bahan Pembersih.”

Alih-alih mengerjakan soal di buku, kakak diajak langsung bereksperimen membuat cairan pembersih lantai dan cairan cuci piring. Dari sinilah konsep pecahan dan perbandingan menjadi nyata.

Pecahan Itu Nyata, Bukan Sekadar Angka

Ayah Kak Xaquil memulai dengan pertanyaan sederhana: “Kenapa cairan pembersih tidak digunakan langsung tanpa dicampur air?”

Diskusi pun dimulai. Anak-anak mulai menyadari bahwa cairan pembersih biasanya harus diencerkan agar aman dan efektif. Dari sinilah muncul istilah baru yang diperkenalkan:

  • Dilusi: campuran antara air dan chemical (bahan kimia).
  • Residu: sisa dari bahan yang digunakan.

Kakak kelas 4B terlihat antusias saat menyadari bahwa pelajaran pecahan ternyata digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Eksperimen Membuat Cairan Pembersih Lantai & Cuci Piring

Ayah Arief kemudian menjelaskan perbandingan untuk membuat cairan pembersih lantai, yaitu 1:40 (chemical : air). Artinya, untuk setiap 1 bagian chemical, dibutuhkan 40 bagian air. Jika menggunakan botol ukuran 300 ml, maka perhitungannya, dibutuhkan 7.5 ml chemical untuk diisikan dalam botol tersebut.

Anak-anak mulai menghitung bersama. Pecahan dan desimal yang biasanya terlihat sulit, kini menjadi bagian dari eksperimen nyata.

Ayah juga memberikan contoh praktis: jika menggunakan ember, kira-kira dibutuhkan 2 tutup botol cairan pembersih lantai untuk campuran air yang sesuai.

Eksperimen berlanjut dengan membuat cairan cuci piring. Kali ini perbandingannya berbeda: 1:2 (chemical : air). Artinya, jika menggunakan 1 bagian chemical, maka ditambahkan 2 bagian air.

Namun ada catatan penting. Cairan cuci piring sebaiknya dibuat secukupnya saja. Jika masih ada sisa dan disimpan terlalu lama, justru bisa menjadi tempat berkembangnya bakteri.

Pelajaran pun semakin lengkap. Kakak tidak hanya belajar menghitung, tetapi juga memahami prinsip kebersihan dan kesehatan.

Satu hal penting yang ditekankan adalah urutan mencampur: Masukkan air terlebih dahulu, baru kemudian chemical. Ini untuk keamanan dan hasil campuran yang lebih stabil. Selain itu agar tidak menghasilkan banyak busa, alih-alih dikocok, botol bisa dinaikturunkan dengan pelan.

Belajar Aman: Pentingnya Label dan Keselamatan

Selain belajar perbandingan, kakak kelas 4B juga belajar tentang keselamatan.

Ayah menyarankan menggunakan botol air minum bekas sebagai wadah cairan pembersih agar lebih hemat dan ramah lingkungan. Namun label bawaan harus dilepas agar tidak membingungkan.

Botol tidak boleh dibiarkan polos. Harus diberi label baru yang jelas bertuliskan “Cairan Pembersih”. Mengapa? Karena jika tidak diberi tanda, bisa saja ada yang salah mengira itu air minum dan meminumnya. Tentu berbahaya.

Di sini, anak-anak belajar bahwa matematika dan sains selalu berjalan berdampingan dengan tanggung jawab.

Pembelajaran Kontekstual yang Bermakna

BBOT 4B hari itu membuktikan bahwa matematika tidak berdiri sendiri. Pecahan dan perbandingan hadir dalam kehidupan sehari-hari—di dapur, di kamar mandi, bahkan di ruang kelas.

Anak-anak belajar:

  • Menghitung perbandingan secara nyata
  • Memahami konsep dilusi
  • Menjaga keselamatan penggunaan bahan kimia
  • Bertanggung jawab terhadap lingkungan

Wajah kakak shalih–shalihah terlihat puas. Mereka tidak hanya mengerti rumus, tetapi tahu bagaimana menerapkannya.

Kegiatan bersama Ayah Arief Radityo Cahyo Bawono menjadi pengalaman belajar yang tak terlupakan. Dari botol bekas, cairan pembersih, dan hitungan sederhana, kakak kelas 4B memahami bahwa ilmu itu hidup dan dekat.

Hari itu, rahasia perbandingan benar-benar terbongkar. Dan kakak kelas 4B pulang bukan hanya membawa catatan, tetapi juga pemahaman bahwa belajar bisa hadir dalam bentuk yang praktis, berguna, dan menyenangkan.***

Serunya BBOT 1C! Belajar Cuaca & Hujan Lewat Eksperimen Sederhana

Serunya BBOT 1C! Belajar Cuaca & Hujan Lewat Eksperimen Sederhana

“Sedia payung sebelum hujan.”

Kalimat yang sering didengar itu ternyata menyimpan pelajaran penting bagi kakak shalih–shalihah kelas 1C. Pada Senin, 9 Februari 2026, kegiatan BBOT (Belajar Bersama Orang Tua) 1C menghadirkan narasumber istimewa: Bunda Surya Wilantika, orang tua dari Kak Ghumaisa.

Tema yang diangkat sederhana namun sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: Cuaca.

Pagi itu, suasana kelas terasa berbeda. Meja sudah disiapkan untuk praktik kecil. Wajah kakak shalih–shalihah tampak penasaran. Apa hubungannya payung, hujan, dan cuaca?

Mengenal Cuaca Lewat Gambar yang Dekat dengan Anak

Bunda Surya memulai sesi dengan mengajak kakak mengenal apa itu cuaca. Tidak langsung dengan definisi panjang, tetapi melalui gambar-gambar menarik—matahari bersinar cerah, awan mendung, hujan turun, dan angin bertiup.

“Kalau langitnya cerah dan panas, itu cuaca apa?” tanya Bunda.

“Cerah!” jawab kakak serempak.

“Kalau banyak awan hitam?”

“Hujan!”

Diskusi ringan itu membuat anak-anak menyadari bahwa cuaca adalah kondisi udara yang bisa berubah setiap hari. Kadang panas, kadang mendung, kadang hujan. Dari sini, mereka mulai memahami mengapa kita perlu bersiap—termasuk membawa payung saat langit terlihat gelap.

Saatnya Praktik: Bagaimana Hujan Terjadi?

Bagian yang paling ditunggu pun tiba: eksperimen proses terjadinya hujan.

Bunda Surya menyiapkan:

  • Segelas air panas
  • Kertas bekas bungkus snack
  • Beberapa potong es batu

Air panas dimasukkan ke dalam gelas. Uap tipis mulai terlihat naik perlahan. Gelas kemudian ditutup dengan kertas snack. Di atas kertas itu, Bunda meletakkan es batu.

Kakak shalih–shalihah mengamati dengan penuh perhatian. Perlahan, es batu mulai mencair. Tak lama kemudian, titik-titik air muncul di bagian bawah kertas.

“Lihat! Tetesan hujan!” seru salah satu kakak.

Momen itu menjadi ajaib. Anak-anak menyaksikan langsung bagaimana uap air naik, bertemu suhu dingin, lalu berubah menjadi titik-titik air—mirip proses hujan di alam.

Bunda Surya menjelaskan dengan bahasa sederhana: ketika air di bumi terkena panas matahari, air menguap naik ke langit. Di atas, udara lebih dingin. Uap itu berubah menjadi titik air, berkumpul menjadi awan, lalu turun sebagai hujan.

Eksperimen sederhana ini membuat konsep yang biasanya sulit menjadi mudah dipahami.

Belajar Sains dengan Cara Menyenangkan

Kegiatan BBOT 1C ini menunjukkan bahwa belajar sains tidak harus rumit. Dengan alat sederhana yang mudah ditemukan di rumah, anak-anak bisa memahami proses alam yang luar biasa.

Lebih dari itu, kakak shalih–shalihah belajar untuk mengamati, bertanya, dan menyimpulkan. Mereka tidak hanya mendengar penjelasan, tetapi melihat langsung perubahan yang terjadi.

Rasa ingin tahu pun tumbuh. Ada yang bertanya kenapa es bisa mencair. Ada yang penasaran apakah semua awan pasti turun hujan. Diskusi kecil itu menjadi bukti bahwa pembelajaran bermakna sedang terjadi.

Peran Orang Tua dalam Pembelajaran Anak

Kehadiran Bunda Surya sebagai narasumber memperlihatkan betapa pentingnya kolaborasi antara sekolah dan orang tua. Anak-anak merasa bangga karena orang tua temannya bisa berbagi ilmu di kelas.

BBOT bukan sekadar program, tetapi ruang kebersamaan. Anak belajar bahwa ilmu bisa datang dari siapa saja—termasuk dari orang tua yang peduli dan mau terlibat.

Dari Cuaca ke Karakter

“Sedia payung sebelum hujan” ternyata bukan hanya tentang cuaca. Ini juga tentang kesiapan. Anak-anak belajar bahwa penting untuk bersiap sebelum sesuatu terjadi.

  • Belajar membawa payung saat mendung.
  • Belajar menjaga kesehatan saat cuaca berubah.
  • Dan belajar memahami alam sebagai ciptaan Allah yang penuh hikmah.

Alhamdulillah, sesi BBOT 1C hari itu berjalan dengan penuh keceriaan. Kakak shalih–shalihah pulang membawa pemahaman baru tentang cuaca—dan mungkin juga cerita seru untuk dibagikan di rumah.

Karena belajar tentang hujan hari itu bukan hanya soal air yang turun dari langit, tetapi tentang rasa ingin tahu yang terus bertumbuh.***

MasyaAllah! Rangkaian Tarbiyah Ramadan 1447 Hijriah Ini Bikin Hati Siap Berubah

MasyaAllah! Rangkaian Tarbiyah Ramadan 1447 Hijriah Ini Bikin Hati Siap Berubah

Ramadan memang belum tiba, tetapi getarannya sudah terasa kuat di lingkungan SD Islam Bintang Juara. Ada semangat yang tumbuh perlahan. Ada hati-hati kecil yang mulai dipersiapkan. Karena menyambut Ramadan bukan sekadar menunggu tanggal di kalender—melainkan menyiapkan diri agar menjadi lebih baik.

Rangkaian Tarbiyah Ramadan 1447 Hijriah di SD Islam Bintang Juara

Selama tiga hari berturut-turut, mulai Rabu hingga Jumat, 11–13 Februari 2026, kakak shalih–shalihah mengikuti Rangkaian Tarbiyah Ramadan SD Islam Bintang Juara. Setiap harinya menghadirkan pengalaman yang berbeda, namun memiliki tujuan yang sama: menumbuhkan kesiapan ilmu, hati, dan amal dalam menyambut bulan suci.

Rabu, 11 Februari 2026: Tarbiyah Ramadan & Pembagian Buku Ramadan

Hari pertama dibuka dengan kegiatan Tarbiyah Ramadan dan Pembagian Buku Ramadan. Kegiatan ini dibagi menjadi dua kelompok besar agar materi sesuai dengan tahap perkembangan anak.

Kelas Tinggi (Kelas 4–6): Menguatkan Pemahaman dan Kesadaran

Kakak kelas 4–6 didampingi oleh Pak Zaki. Sesi dimulai bukan dengan ceramah panjang, melainkan dengan recalling—mengajak kakak mengingat kembali apa saja yang penting diketahui tentang Ramadan.

  • “Ramadan itu bulan apa?”
  • “Apa tujuan kita berpuasa?”
  • “Selain puasa, ibadah apa saja yang dianjurkan?”

Tangan-tangan terangkat. Jawaban mengalir: puasa, tarawih, tadarus, zakat, sedekah, menahan amarah. Diskusi terasa hidup. Kakak tidak hanya menyebutkan, tetapi mulai memahami makna di baliknya.

Pak Zaki kemudian menguatkan kembali esensi Ramadan sebagai bulan pembinaan diri. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga menjaga lisan, pikiran, dan perbuatan. Ramadan adalah kesempatan memperbaiki diri.

Kelas Rendah (Kelas 1–3): Memahami Ramadan dengan Ceria

Sementara itu, kakak kelas 1–3 didampingi oleh Pak Ali dan Pak Rizki. Pendekatannya tentu berbeda. Anak-anak diajak menonton video animasi Rico tentang berpuasa.

Melalui tayangan yang ringan dan menyenangkan, kakak belajar tentang apa itu puasa, kapan waktu berpuasa, serta hal-hal sederhana yang perlu dijaga selama Ramadan. Setelah menonton, Pak Ali dan Pak Rizki memberikan penjelasan dasar dengan bahasa yang mudah dipahami.

  • Apa itu niat?
  • Kenapa tidak boleh makan dan minum saat puasa?
  • Bagaimana jika lupa?

Semua dijelaskan sesuai kebutuhan usia mereka. Tidak terlalu berat, tetapi cukup untuk membangun pemahaman awal yang kuat.

Di akhir sesi, baik di kelas tinggi maupun rendah, kakak menerima Buku Ramadan yang akan menjadi panduan ibadah dan refleksi selama bulan suci. Buku ini bukan sekadar lembaran tugas, melainkan sahabat perjalanan spiritual mereka.

Hari pertama ditutup dengan senyum dan rasa penasaran. Ramadan terasa semakin dekat.

Kamis, 12 Februari 2026: BBM – Bersih-bersih Masjid dan Musala

Hari kedua diisi dengan kegiatan penuh makna: BBM (Bersih-bersih Masjid dan Musala).

Kakak kelas 3–5 berangkat ke masjid dan musala sekitar sekolah. Sapu di tangan, lap kain dibawa, dan hati yang siap beramal. Membersihkan karpet, merapikan sajadah, menyapu halaman—semua dilakukan bersama.

Kegiatan ini bukan sekadar kerja bakti. Dari hal sederhana ini, kakak shalih–shalihah belajar menjadi muslim yang peduli dan bermanfaat bagi masyarakat.

Membersihkan rumah Allah menjadi jalan untuk membersihkan hati. Setiap debu yang disapu seolah mengingatkan bahwa hati pun perlu dibersihkan dari iri, malas, dan amarah.

Ini adalah amalan spesial menyambut Ramadan.

Sementara itu, kakak kelas 1–2 dan kelas 6 mendapat tugas membersihkan area sekolah. Kelas 6 sebelumnya harus menuntaskan ujian praktik, sehingga mereka kemudian mendapat amanah mendampingi adik-adik kelas 1 dan 2.

Pemandangan yang indah terlihat: kakak kelas 6 membimbing adik-adiknya. Mengajarkan cara menyapu, mengingatkan untuk berhati-hati, dan bekerja sama. Ramadan benar-benar menjadi momen pembinaan karakter.

Jumat, 13 Februari 2026: Pawai Ramadan – Syiar yang Berjalan

Hari ketiga menjadi puncak yang paling meriah: Pawai Ramadan.

Bersama PAUD Islam Bintang Juara, kakak shalih–shalihah berbaris rapi. Mereka membawa manggar yang telah dibuat di rumah masing-masing. Warna-warni hiasan menghiasi barisan, menciptakan suasana penuh semangat.

Langkah kecil mereka menyusuri area perkampungan dekat sekolah. Shalawat dilantunkan bersama. Suaranya mungkin sederhana, tetapi getarannya terasa kuat.

Ini bukan sekadar pawai. Ini adalah syiar. Doa yang berjalan. Harapan yang dikibarkan bersama. Harapan untuk hati yang lebih bersih. Ibadah yang lebih kuat. Dan diri yang lebih baik dari kemarin.

Warga sekitar menyambut dengan senyum. Ada kebahagiaan yang menular. Anak-anak belajar bahwa Ramadan bukan hanya tentang diri sendiri, tetapi juga tentang menghadirkan kebaikan bagi lingkungan sekitar.

Ramadan Dimulai dari Persiapan Hati

Rangkaian Tarbiyah Ramadan ini menunjukkan bahwa menyambut bulan suci tidak cukup dengan menunggu hilal terlihat. Persiapan harus dimulai jauh-jauh hari—dengan ilmu, amal, dan kebersamaan.

  • Melalui tarbiyah, kakak memahami makna Ramadan.
  • Melalui bersih masjid, kakak belajar peduli dan beramal.
  • Melalui pawai, kakak belajar bersyiar dan berbagi semangat.

Di SD Islam Bintang Juara, Ramadan bukan sekadar agenda tahunan, tetapi proses pembinaan karakter yang berkelanjutan.

Kini, Ramadan semakin dekat. Dan pertanyaannya bukan lagi, “Kapan Ramadan tiba?” Tetapi, “Sudah sejauh mana kita menyiapkan diri?”

Kalau ayah bunda, sudah menyiapkan kegiatan apa di rumah untuk menyambut Ramadan bersama kakak shalih–shalihah?***

Belajar Mengenal Energi Jadi Super Seru! BBOT Kelas 3A Bikin Mobil Angin Melaju

Belajar Mengenal Energi Jadi Super Seru! BBOT Kelas 3A Bikin Mobil Angin Melaju

“Siapa yang tahu apa itu energi?”

Pertanyaan sederhana itu membuka pagi yang penuh rasa ingin tahu di kelas 3A SD Islam Bintang Juara, Jumat, 6 Februari 2026. Bukan pelajaran IPA biasa, hari itu kakak shalih–shalihah mengikuti kegiatan BBOT (Belajar Bersama Orang Tua) bersama Ayah Tri Widatma, Ayah dari Kak Zaki. Tema yang diangkat pun sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: energi.

Energi sering disebut, sering digunakan, tapi jarang benar-benar dipahami maknanya oleh anak-anak. Melalui BBOT ini, kakak kelas 3A diajak bukan hanya menghafal definisi, tetapi merasakan, memikirkan, dan mempraktikkan apa itu energi—dengan cara yang seru dan membekas.

Energi Ada di Sekitar Kita

Ayah Tri membuka sesi dengan mengajak kakak-kakak berdiskusi. Tidak langsung memberi definisi, Ayah justru meminta kakak shalih–shalihah menjelaskan energi dengan bahasa mereka sendiri. Kelas pun menjadi hidup. Tangan-tangan kecil mulai terangkat, wajah-wajah penuh semangat ingin menyampaikan pendapat.

Salah satu kakak yang dengan percaya diri mengangkat tangan adalah Kak Nazril. Ia menyebutkan bahwa energi panas adalah salah satu contoh energi. Jawaban itu langsung disambut dengan antusias. Ayah Tri kemudian menambahkan contoh-contoh sederhana dari energi panas yang dekat dengan kehidupan anak-anak: panas matahari, api kompor, hingga tubuh yang terasa hangat setelah berlari.

Dari diskusi ini, kakak shalih–shalihah mulai menyadari bahwa energi bukanlah konsep jauh dan abstrak. Energi selalu hadir dalam aktivitas mereka sehari-hari.

Apa Itu Energi? Definisi yang Mudah Dipahami Anak

Untuk menguatkan pemahaman, Ayah Tri kemudian menjelaskan dengan bahasa yang sederhana namun bermakna:

“Energi adalah daya atau kekuatan yang bisa membuat sesuatu bergerak, menyala, atau berubah.”

Contoh-contoh pun langsung diberikan:

  • Saat kakak berlari, tubuh membutuhkan energi.
  • Saat lampu menyala, ada energi listrik yang bekerja.
  • Saat kipas angin berputar, ada energi yang menggerakkannya.

Penjelasan ini membuat kakak shalih–shalihah mengangguk-angguk paham. Energi tidak lagi sekadar kata di buku pelajaran, tetapi sesuatu yang benar-benar mereka alami.

Macam-Macam Energi yang Ada di Sekitar Kita

Ayah Tri kemudian mengajak kakak kelas 3A menjelajah berbagai jenis energi yang ada di sekitar mereka.

Energi Angin

Angin disebut sebagai sumber energi. Angin yang bergerak dapat menggerakkan kincir angin, lalu menghasilkan energi lain berupa listrik. Dari sini, kakak belajar bahwa satu jenis energi bisa berubah menjadi bentuk energi lainnya.

Energi Cahaya

Energi cahaya alami berasal dari matahari. Matahari membantu manusia melihat, menghangatkan bumi, dan bahkan membantu tumbuhan tumbuh dengan baik.

Energi Air

Air yang mengalir bisa menggerakkan kincir air dan menghasilkan listrik. Diskusi pun berkembang hingga membahas manfaat pohon, yang membantu menjaga ketersediaan air. Kakak belajar bahwa menjaga lingkungan juga berarti menjaga sumber energi.

Energi dari Makanan: Kenapa Harus Mau Makan?

Bagian ini menjadi salah satu momen paling “kena” di hati kakak shalih–shalihah. Ayah Tri menyentil dengan pertanyaan yang sangat relate:

“Kenapa ya, kadang kakak susah banget diminta makan?”

Pertanyaan ini disambut tawa kecil dan wajah-wajah malu. Ayah kemudian menjelaskan bahwa makanan adalah sumber energi utama tubuh. Agar tubuh bisa beraktivitas dengan baik, dibutuhkan makanan dengan kandungan:

  • Karbohidrat
  • Protein
  • Vitamin
  • Mineral
  • Lemak

Semua zat gizi tersebut membantu tubuh menghasilkan energi. Tanpa energi dari makanan, tubuh akan lemas dan sulit fokus belajar. Pesan sederhana ini menjadi pengingat penting bagi kakak shalih–shalihah untuk lebih menghargai makanan yang tersedia.

Energi Bahan Bakar dan Cara Menghemat Energi

Ayah Tri juga mengenalkan energi bahan bakar, seperti bensin dan gas, yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Dari sini, diskusi berlanjut pada cara menghemat energi.

Kakak diajak berpikir: mematikan lampu saat tidak digunakan, menggunakan air secukupnya, dan tidak boros energi. Nilai kepedulian terhadap lingkungan pun ditanamkan sejak dini melalui diskusi sederhana namun bermakna.

Yang Paling Ditunggu: Waktunya Eksperimen!

Setelah diskusi panjang yang penuh interaksi, tibalah momen yang paling dinanti: eksperimen membuat mobil angin. Wajah kakak kelas 3A langsung berbinar. Inilah saatnya membuktikan bahwa energi benar-benar bisa dilihat dan dirasakan.

Kakak dibagi menjadi beberapa kelompok, masing-masing terdiri dari empat anak. Mereka belajar bekerja sama, berbagi tugas, dan saling membantu sejak proses awal.

Bahan yang Digunakan:

  • Botol bekas
  • Empat tutup botol
  • Dua sumpit atau tusuk sate
  • Balon
  • Dua sedotan (salah satunya sedotan tekuk)
  • Lem tembak

Proses Membuat Mobil Angin: Belajar Teliti dan Kerja Sama

Ayah Tri memandu langkah demi langkah dengan sabar:

  • Sedotan dipotong menjadi dua bagian.
  • Lem tembak dipanaskan.
  • Sedotan ditempel presisi di bagian bawah botol agar mobil bisa seimbang.
  • Sedotan tekuk dimasukkan ke balon, lalu diikat kuat.
  • Tutup botol dilubangi dan dipasang pada sumpit sebagai roda.
  • Balon dimasukkan ke bagian atas botol.

Setiap langkah mengajarkan ketelitian, kesabaran, dan kerja sama. Tidak semua kelompok langsung berhasil, tapi justru di situlah proses belajar terjadi.

Balon Ditiup, Mobil Pun Melaju!

Saat balon ditiup dan dilepaskan, terdengar sorak sorai di kelas. Mobil dari botol bekas pun melaju! Kakak shalih–shalihah menyaksikan langsung bagaimana energi angin dari balon dapat menggerakkan mobil.

Ayah Tri kemudian mengajak seluruh kelompok untuk bertanding. Mobil mana yang melaju paling cepat? Namun penilaian tidak hanya soal kecepatan. Kelompok yang dinilai terbaik adalah kelompok yang sejak awal bekerja sama dengan baik.

Kelompok terbaik hari itu adalah kelompok Kak Wildan. Namun Ayah Tri menutup dengan pesan yang sangat menenangkan:

“Hari ini semua kakak kelas 3A adalah pemenang. Karena semuanya sudah berusaha, fokus, dan saling bekerja sama.”

Belajar Energi, Belajar Kehidupan

BBOT Kelas 3A hari itu bukan sekadar belajar tentang energi. Kakak shalih–shalihah belajar tentang:

  • Berani mengemukakan pendapat
  • Menghargai ide teman
  • Bekerja sama dalam kelompok
  • Tidak menyerah saat mencoba hal baru

Melalui eksperimen mobil angin, konsep energi tidak hanya dipahami secara teori, tetapi dipraktikkan langsung dengan penuh kegembiraan.

Penutup: Energi yang Menyalakan Semangat Belajar

Alhamdulillah, sesi BBOT bersama Ayah Tri Widatma berjalan dengan sangat seru dan bermakna. Kakak kelas 3A pulang dengan senyum lebar, cerita baru, dan pemahaman yang lebih utuh tentang energi.

Belajar hari itu membuktikan bahwa ketika sekolah, orang tua, dan anak berjalan bersama, pembelajaran menjadi lebih hidup, bermakna, dan menggembirakan.

Karena energi bukan hanya tentang panas, cahaya, atau angin—tetapi juga tentang semangat belajar yang terus menyala.***