Pagi itu, suasana SD Islam Bintang Juara terasa berbeda dari biasanya. Tidak ada suara riang yang berlarian di lorong sekolah, tidak ada tawa yang pecah di sela-sela waktu istirahat. Yang ada justru langkah-langkah tenang, wajah-wajah serius, dan doa-doa yang lirih dipanjatkan dalam hati.
Senin hingga Selasa, 27 – 28 April 2026, menjadi awal dari sebuah perjalanan penting bagi kakak shalih-shalihah kelas 6. Selama dua ini mereka telah menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA), sebuah momen yang bukan sekadar ujian, tetapi pembuktian dari proses panjang yang telah mereka lalui.
Lebih dari Sekadar Ujian
Bagi sebagian orang, ujian mungkin hanya tentang angka. Tentang nilai yang akan tertera di akhir. Namun, bagi kakak kelas 6 SD Islam Bintang Juara, TKA adalah tentang perjalanan.
Perjalanan belajar yang dimulai sejak mereka pertama kali duduk di bangku sekolah dasar. Dari belajar membaca, menulis, berhitung, hingga memahami konsep-konsep yang lebih kompleks. Semua proses itu terangkai menjadi satu, dan hari itu menjadi salah satu titik penting untuk melihat sejauh mana mereka telah melangkah.
Ruang-ruang kelas disiapkan dengan rapi. Meja dan kursi ditata dengan jarak yang teratur. Lembar soal sudah tersusun, menunggu untuk dijawab dengan penuh kesungguhan. Para guru berdiri dengan penuh perhatian, memastikan setiap anak merasa siap dan nyaman.
Suasana khidmat begitu terasa.
Detik-Detik yang Penuh Makna
Ketika jam dinding menunjukkan pukul 09.00, waktu seolah berjalan lebih lambat. Kakak shalih-shalihah mulai menatap soal yang terpampang melalui layar laptop, membaca dengan saksama, lalu memberikan jawaban dengan penuh kehati-hatian.
Tidak ada lagi waktu untuk ragu. Tidak ada lagi waktu untuk menunda. Yang ada hanyalah fokus, usaha, dan keyakinan.
Beberapa anak terlihat mengernyitkan dahi, mencoba mengingat kembali materi yang pernah dipelajari. Ada yang tersenyum kecil saat menemukan soal yang terasa familiar. Ada pula yang menarik napas dalam-dalam, menenangkan diri sebelum melanjutkan.
Semua larut dalam perjuangan masing-masing.
Buah dari Proses Panjang
TKA bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri. Ia adalah hasil dari proses yang panjang dan konsisten.
Setiap tugas yang pernah dikerjakan, setiap diskusi di kelas, setiap bimbingan dari guru, hingga setiap doa dari orang tua—semuanya berperan dalam perjalanan ini.
Bahkan, bukan hanya aspek akademik yang diuji. Di balik lembar soal, ada nilai-nilai yang ikut diuji:
Kejujuran dalam mengerjakan
Ketekunan dalam berusaha
Kemandirian dalam berpikir
Kepercayaan diri dalam mengambil keputusan
Karena sejatinya, pendidikan tidak hanya membentuk anak yang pintar, tetapi juga berkarakter.
Peran Guru dan Doa Orang Tua
Di balik keseriusan suasana ujian, ada peran besar yang sering kali tidak terlihat.
Para guru yang selama ini mendampingi, tidak hanya mengajarkan materi, tetapi juga membangun kepercayaan diri siswa. Mereka memahami bahwa setiap anak memiliki cara belajar yang berbeda, dan setiap usaha layak untuk dihargai.
Di sisi lain, doa orang tua menjadi kekuatan yang tak ternilai. Meski tidak hadir secara langsung di ruang ujian, dukungan mereka terasa begitu dekat.
Setiap harapan yang dipanjatkan, setiap doa yang dilangitkan, menjadi energi yang menguatkan langkah anak-anak dalam menghadapi TKA.
Belajar Tentang Makna Usaha
Menariknya, momen seperti ini justru mengajarkan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar materi pelajaran.
Anak-anak belajar bahwa:
Proses lebih berharga dibandingkan hasil
Usaha yang diiringi dengan doa sungguh-sungguh akan selalu membawa makna
Tidak apa-apa merasa sulit, selama tidak menyerah
Dan yang terpenting, mereka belajar untuk menghargai diri sendiri atas setiap usaha yang telah dilakukan.
Hari Kedua: Tetap Fokus, Tetap Tenang
Memasuki hari kedua, suasana tetap terjaga. Meski mungkin ada rasa lelah, namun semangat tidak surut.
Kakak shalih-shalihah kembali duduk di tempat masing-masing, melanjutkan perjuangan mereka. Dengan pengalaman di hari pertama, mereka tampak lebih siap, lebih tenang, dan lebih percaya diri.
Setiap soal dikerjakan dengan lebih terarah. Setiap jawaban dipilih dengan keyakinan. Dan di balik itu semua, tersimpan harapan besar: memberikan yang terbaik.
Penutup yang Penuh Harap
Dua hari yang penuh kesungguhan akhirnya terlewati. Soal demi soal telah dijawab. Usaha demi usaha telah dilakukan. Kini, saatnya menyerahkan hasil kepada Allah SWT.
Karena sejatinya, tugas manusia adalah berikhtiar, dan hasil adalah hak Allah.
Momen TKA ini bukanlah akhir, melainkan bagian dari perjalanan panjang menuju masa depan. Apa pun hasilnya nanti, setiap anak telah melalui proses yang luar biasa.
Untuk Ayah Bunda, mari kita terus iringi langkah mereka dengan doa terbaik.
Semoga setiap usaha yang telah dilakukan membuahkan hasil yang membahagiakan.
Semoga setiap langkah mereka dimudahkan.
Dan semoga mereka tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga kuat, jujur, dan penuh semangat juang.
Siang itu, suasana Perpustakaan SD Islam Bintang Juara terasa berbeda. Tidak ada suara riuh siswa seperti biasanya, namun energi yang hadir tetap terasa hidup. Para guru duduk melingkar, membawa buku catatan, laptop, dan tentu saja semangat untuk belajar. Hari itu, Selasa, 21 April 2026, menjadi salah satu momen penting dalam perjalanan peningkatan kualitas pembelajaran melalui kegiatan Kombel Telaga Ilmu dengan tema “Merancang Asesmen Pembelajaran Mendalam” bersama Bu Nawang Wulan, M.Pd., dari Litbang Yayasan Dewi Sartika.
Kegiatan ini bukan sekadar forum diskusi biasa. Ia menjadi ruang refleksi, ruang bertumbuh, sekaligus ruang untuk menyadari kembali makna sejati dari sebuah proses belajar.
Merancang Asesmen Bermakna: Bukan Sekadar Nilai
Selama ini, asesmen sering kali dipahami sebagai angka. Sebuah hasil akhir yang menunjukkan sejauh mana siswa “berhasil” dalam belajar. Namun, dalam sesi ini, perspektif tersebut perlahan digeser.
Bu Nawang membuka sesi dengan sebuah pertanyaan sederhana, namun menggugah, “Apakah asesmen yang kita lakukan benar-benar mencerminkan pemahaman anak?”
Pertanyaan itu membuat ruangan sejenak hening.
Karena pada kenyataannya, tidak semua nilai tinggi menunjukkan pemahaman yang mendalam. Dan tidak semua nilai rendah berarti anak tidak mampu. Di sinilah pentingnya merancang asesmen yang tidak hanya mengukur hasil, tetapi juga memahami proses.
Asesmen pembelajaran mendalam menekankan bahwa belajar bukan sekadar mengingat, tetapi memahami, mengaitkan, dan menerapkan.
Belajar Melihat dari Perspektif Siswa
Dalam sesi ini, para guru diajak untuk “berpindah posisi”. Tidak lagi sebagai pengajar, tetapi sebagai pembelajar.
Bagaimana rasanya menjadi siswa yang hanya dinilai dari angka?
Bagaimana rasanya ketika usaha tidak terlihat, hanya hasil yang diperhatikan?
Diskusi demi diskusi mengalir. Dari pengalaman pribadi, hingga refleksi di kelas masing-masing. Di sinilah mulai terlihat bahwa asesmen yang baik adalah asesmen yang:
Memberi ruang bagi proses berpikir
Menghargai usaha, bukan hanya hasil
Membantu siswa memahami dirinya sendiri
Karena sejatinya, asesmen bukan untuk menghakimi, tetapi untuk membimbing.
Menggali Makna “Pembelajaran Mendalam”
Pembelajaran mendalam bukan tentang materi yang banyak, tetapi tentang pemahaman yang kuat. Bu Nawang menjelaskan bahwa pembelajaran mendalam terjadi ketika siswa:
Mampu mengaitkan materi dengan kehidupan nyata
Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi
Terlibat aktif dalam proses belajar
Mampu merefleksikan apa yang dipelajari
Dalam konteks ini, asesmen harus selaras dengan tujuan tersebut.
Artinya, bentuk asesmen tidak harus selalu berupa tes tertulis. Bisa berupa:
Proyek
Presentasi
Diskusi
Refleksi diri
Observasi proses
Pendekatan ini membuka wawasan baru bagi para guru. Bahwa ternyata, banyak cara untuk “melihat” pemahaman siswa.
Dari Teori ke Praktik
Yang membuat kegiatan ini semakin bermakna adalah sesi praktik langsung. Para guru dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil. Setiap kelompok diminta untuk merancang contoh asesmen pembelajaran mendalam sesuai dengan mata pelajaran masing-masing.
Diskusi menjadi semakin hidup. Ide-ide bermunculan. Ada yang merancang asesmen berbasis proyek, ada yang membuat rubrik penilaian reflektif, ada pula yang mengembangkan asesmen berbasis studi kasus.
Menariknya, dalam proses ini, para guru tidak hanya berpikir tentang “apa yang dinilai”, tetapi juga:
Bagaimana cara menilai
Mengapa hal tersebut penting
Apa dampaknya bagi siswa
Di sinilah terlihat bahwa asesmen yang baik lahir dari pemahaman yang utuh.
Menguatkan Peran Guru sebagai Pembimbing
Salah satu poin penting yang ditekankan dalam kegiatan ini adalah perubahan peran guru. Guru bukan lagi sekadar pemberi materi, tetapi menjadi fasilitator, pembimbing, dan pengamat proses belajar.
Dalam asesmen pembelajaran mendalam, guru dituntut untuk:
Lebih peka terhadap proses belajar siswa
Memberikan umpan balik yang konstruktif\
Mendorong refleksi diri siswa
Menjadi teladan dalam berpikir kritis
Peran ini memang tidak mudah. Namun, justru di sinilah letak keindahannya. Karena ketika guru bertumbuh, siswa pun ikut bertumbuh.
Refleksi: Belajar Tidak Pernah Selesai
Menjelang akhir sesi, suasana kembali hening. Namun kali ini bukan karena bingung, melainkan karena penuh makna.
Setiap guru diminta untuk menuliskan refleksi pribadi:
Apa yang dipelajari hari ini?
Apa yang ingin diperbaiki ke depan?
Jawaban yang muncul begitu beragam, namun memiliki satu benang merah yang sama: keinginan untuk menjadi lebih baik.
Ada yang menyadari bahwa selama ini terlalu fokus pada hasil.
Ada yang ingin mulai memberi ruang refleksi bagi siswa.
Ada pula yang merasa tertantang untuk mencoba metode baru.
Dan semua itu berawal dari satu kesadaran: belajar adalah proses yang tidak pernah selesai.
Dampak Nyata bagi Pembelajaran
Kegiatan Kombel Telaga Ilmu ini bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi membawa dampak nyata bagi pembelajaran di kelas. Dengan asesmen yang lebih bermakna:
Siswa merasa lebih dihargai
Proses belajar menjadi lebih hidup
Guru lebih memahami kebutuhan siswa
Pembelajaran menjadi lebih relevan dengan kehidupan nyata
Ini bukan perubahan instan. Namun, langkah kecil yang konsisten akan membawa perubahan besar.
Menutup dengan Harapan
Belajar merancang asesmen pembelajaran mendalam mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Namun, makna yang dibawa akan terus hidup dalam setiap proses belajar di kelas. Kombel Telaga Ilmu telah menjadi ruang yang mengingatkan kembali bahwa: mengajar bukan hanya tentang menyampaikan, tetapi tentang memahami. Dan asesmen bukan hanya tentang menilai, tetapi tentang membimbing.
Semoga langkah kecil ini menjadi awal dari perubahan besar. Menuju pembelajaran yang lebih bermakna. Menuju generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga sadar akan proses belajarnya.
Karena pada akhirnya, pendidikan bukan tentang siapa yang paling cepat, tetapi siapa yang paling memahami.*** (CM-MRT)
Ramadan selalu menghadirkan cerita yang berbeda bagi setiap orang. Ada yang menjalani Ramadan dengan suasana kampung halaman yang hangat, ada pula yang merasakannya di negeri yang jauh dari tanah air.
Hal inilah yang menjadi tema menarik dalam kegiatan CERANA (Cerita Ramadan Bermakna) 2026 yang diselenggarakan oleh SD Islam Bintang Juara. Kegiatan ini disiarkan secara langsung melalui Instagram @sdislambintangjuara pada Sabtu, 7 Maret 2026 pukul 16.00–17.00 WIB.
CERANA sendiri sudah rutin dilakukan sejak tahun 2020, tepatnya ketika pandemi. Alhamdulillah, kegiatan ini terus berlangsung hingga tahun ini.
Cerita Ramadan Bermakna dari Kak Aleen dan Kak Khansa
Mengangkat tema “Puasa Ramadan di Dua Belahan Dunia: Pengalaman Berbeda, Semangat yang Sama”, CERANA menghadirkan dua narasumber istimewa yang pernah merasakan pengalaman menjalani Ramadan di luar negeri.
Mereka adalah Kak Khansa, yang saat ini sedang tinggal di Finlandia, serta Kak Aleen, yang pernah merasakan kehidupan di Inggris. Acara ini dipandu oleh Bu Nawang, Koordinator Litbang Yayasan Dewi Sartika, yang juga merupakan ibunda dari Kak Aleen.
Melalui obrolan santai namun penuh makna, para narasumber berbagi cerita tentang bagaimana rasanya menjalani ibadah puasa jauh dari Indonesia.
Ramadan di Negeri dengan Waktu Puasa Lebih Panjang
Salah satu hal paling menarik dari diskusi ini adalah perbedaan durasi waktu puasa.
Kak Khansa yang tinggal di Finlandia bercerita bahwa di beberapa negara Eropa, terutama di wilayah yang berada cukup jauh di utara, durasi puasa bisa lebih panjang dibandingkan di Indonesia.
Di Indonesia, umat Muslim biasanya berpuasa sekitar 13–14 jam. Namun di negara seperti Finlandia atau Inggris, durasi puasa bisa lebih lama, tergantung musim dan panjangnya waktu siang.
Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi umat Muslim yang tinggal di sana. Mereka harus tetap menjaga stamina, mengatur waktu istirahat, dan memastikan tubuh tetap kuat menjalani aktivitas sehari-hari.
Namun meskipun durasi puasanya lebih panjang, semangat menjalankan ibadah Ramadan tetap terasa. Hal ini menunjukkan bahwa ibadah puasa bukan hanya soal waktu yang dijalani, tetapi tentang niat dan keteguhan hati dalam menjalankannya.
Menu Sahur dan Berbuka yang Berbeda
CERANA juga membahas hal yang tidak kalah menarik: menu sahur dan berbuka puasa di luar negeri. Kak Khansa dan Kak Aleen berbagi cerita tentang makanan yang biasanya mereka konsumsi saat sahur dan berbuka ketika tinggal di luar negeri.
Tidak selalu ada makanan khas Ramadan seperti di Indonesia. Kadang mereka harus menyesuaikan dengan bahan makanan yang tersedia di sana.
Menu sahur bisa berupa makanan sederhana seperti roti, telur, atau makanan hangat yang mudah disiapkan. Begitu juga saat berbuka, pilihan makanan sering kali berbeda dari yang biasa dinikmati di Indonesia.
Berbeda dengan suasana di tanah air yang penuh dengan aneka takjil seperti kolak, gorengan, atau es buah. Meski begitu, pengalaman ini justru mengajarkan banyak hal, terutama tentang kesederhanaan dan rasa syukur.
Suka Duka Ramadan di Luar Negeri
Selain berbagi tentang makanan dan durasi puasa, Kak Khansa dan Kak Aleen juga menceritakan berbagai suka dan duka menjalani Ramadan di luar negeri. Salah satu tantangan terbesar adalah rasa rindu terhadap suasana Ramadan di Indonesia.
Di Indonesia, Ramadan terasa sangat meriah. Ada suara adzan dari masjid, kegiatan tadarus bersama, pasar Ramadan, hingga momen berbuka puasa bersama teman dan keluarga.
Sementara di beberapa negara non-Muslim, suasana Ramadan tidak selalu terlihat secara langsung di lingkungan sekitar. Hal ini membuat pengalaman Ramadan terasa berbeda.
Namun di sisi lain, pengalaman tersebut juga memberikan pelajaran berharga tentang menjaga semangat ibadah meskipun berada di lingkungan yang berbeda.
Ramadan di Indonesia Lebih Seru
Dalam sesi CERANA tersebut, Kak Khansa dan Kak Aleen juga berbagi pendapat yang menarik. Menurut mereka, menjalani Ramadan di Indonesia terasa lebih seru.
Salah satu alasannya adalah karena banyak teman dan lingkungan yang sama-sama menjalankan ibadah puasa. Suasana kebersamaan ini membuat Ramadan terasa lebih hidup dan menyenangkan.
Selain itu, di Indonesia mereka juga bisa menikmati berbagai makanan favorit saat berbuka puasa. Mulai dari aneka takjil hingga makanan khas yang sering menjadi bagian dari tradisi Ramadan di Indonesia.
Hal-hal sederhana seperti berbuka bersama keluarga atau bermain dengan teman-teman setelah tarawih menjadi kenangan yang sangat berharga.
Nah, buat Ayah Bunda dan kakak shalih-shalihah yang Sabtu lalu tertinggal menonton live-nya, silakan bisa menonton siaran ulangnya di sini:
CERANA: Belajar dari Cerita, Menguatkan Makna Ramadan
Kegiatan CERANA bukan sekadar acara berbagi cerita. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi sarana edukasi bagi siswa untuk memahami bahwa Ramadan dijalani oleh umat Muslim di berbagai belahan dunia dengan pengalaman yang berbeda-beda.
Melalui cerita Kak Khansa dan Kak Aleen, para penonton belajar bahwa meskipun kondisi lingkungan, cuaca, dan budaya berbeda, semangat menjalankan ibadah Ramadan tetap sama.
Puasa mengajarkan kesabaran, rasa syukur, dan kekuatan hati untuk menjalankan perintah Allah SWT di mana pun kita berada.
Menumbuhkan Perspektif Global Sejak Dini
Kegiatan seperti CERANA juga membantu siswa memiliki wawasan global sejak usia dini.
Mereka tidak hanya belajar tentang Ramadan dari lingkungan sekitar, tetapi juga memahami bagaimana umat Muslim di berbagai negara menjalankan ibadah yang sama.
Dengan cara ini, anak-anak dapat belajar menghargai perbedaan sekaligus memperkuat identitas mereka sebagai bagian dari umat Muslim di dunia.
Ramadan yang Menghubungkan Umat Muslim di Seluruh Dunia
Pada akhirnya, CERANA 2026 mengingatkan kita bahwa Ramadan adalah bulan yang menyatukan umat Muslim di seluruh dunia.
Meskipun berada di negara yang berbeda, dengan cuaca yang berbeda, dan durasi puasa yang berbeda, tujuan ibadahnya tetap sama. Semua umat Muslim berusaha menjalankan puasa dengan penuh keikhlasan dan harapan untuk meraih keberkahan.
Dari Finlandia hingga Inggris, dari Indonesia hingga berbagai penjuru dunia lainnya; semangat Ramadan selalu menghadirkan makna yang sama: mendekatkan diri kepada Allah SWT.*** (CM-MRT)
Suasana sore di halaman SD Islam Bintang Juara terasa berbeda pada Jumat, 6 Maret 2026. Para kakak shalih dan shalihah datang dengan ransel kecil di punggung, wajah penuh antusias, dan rasa penasaran tentang pengalaman yang akan mereka jalani.
Hari itu bukan sekadar kegiatan sekolah biasa. Mereka akan mengikuti Ramadan Leadership Camp (RLC) 2026, sebuah program yang selalu menjadi salah satu momen paling dinanti setiap Ramadan.
Selama dua hari, Jumat–Sabtu (6–7 Maret 2026), para siswa akan menjalani serangkaian kegiatan yang dirancang untuk menumbuhkan nilai kepemimpinan, kemandirian, tanggung jawab, serta kedekatan dengan Allah SWT.
Bukan hanya belajar di kelas, tetapi belajar melalui pengalaman langsung.
Pembukaan Ramadan Leadership Camp yang Penuh Makna
Kegiatan Ramadan Leadership Camp diawali dengan pembukaan acara yang hangat dan penuh makna. Para peserta menyaksikan berbagai penampilan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengandung pesan-pesan kebaikan.
Di sinilah suasana kebersamaan mulai terasa. Kakak shalih-shalihah duduk bersama, saling menyimak, dan menikmati setiap penampilan yang mengingatkan bahwa Ramadan adalah bulan yang penuh keberkahan.
Kegiatan pembukaan ini menjadi pengantar untuk perjalanan dua hari yang sarat nilai.
Kebersamaan dalam Iftar Jama’i
Menjelang magrib, suasana semakin khidmat ketika seluruh peserta bersiap untuk iftar jama’i atau berbuka puasa bersama.
Di momen ini, para siswa belajar tentang kebersamaan dan kesederhanaan. Mereka duduk bersama teman-teman, menunggu waktu berbuka sambil saling berbagi cerita.
Ketika adzan magrib berkumandang, wajah-wajah ceria langsung tampak. Mereka berbuka dengan penuh rasa syukur, menyadari bahwa nikmat sederhana seperti segelas air dan makanan berbuka adalah karunia dari Allah SWT.
Setelah berbuka, kegiatan dilanjutkan dengan shalat magrib berjamaah, yang menjadi pengingat bahwa Ramadan adalah waktu terbaik untuk memperkuat ibadah.
Menghidupkan Malam dengan Ibadah
Malam hari di Ramadan Leadership Camp diisi dengan berbagai kegiatan spiritual yang menenangkan hati.
Para peserta melaksanakan shalat Isya dan Tarawih berjamaah, kemudian dilanjutkan dengan tadarus Al-Qur’an bersama. Suara lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar dari berbagai sudut ruangan, menciptakan suasana yang khusyuk dan damai.
Bagi sebagian anak, ini mungkin menjadi pengalaman pertama merasakan kebersamaan dalam ibadah malam seperti ini.
Namun justru di situlah nilai pembelajaran muncul; mereka belajar bahwa ibadah tidak selalu dilakukan sendirian, tetapi juga bisa menjadi pengalaman yang menguatkan ketika dilakukan bersama.
Qiyamul Lail di Sepertiga Malam
Ketika malam semakin larut dan sebagian orang masih terlelap, kegiatan Ramadan Leadership Camp justru memasuki salah satu momen paling istimewa.
Sekitar pukul 02.30 dini hari, kakak shalih-shalihah dibangunkan untuk melaksanakan qiyamul lail.
Meskipun rasa kantuk masih terasa, para peserta tetap berusaha bangkit. Mereka berwudhu, kemudian berdiri bersama dalam shalat malam.
Di waktu yang sunyi itu, mereka belajar satu hal penting: kedekatan dengan Allah sering kali dimulai dari langkah kecil yang penuh kesungguhan.
Setelah qiyamul lail, kegiatan dilanjutkan dengan sahur bersama. Suasana sahur terasa hangat dan penuh kebersamaan. Anak-anak saling bercanda ringan sambil menikmati hidangan sahur.
Pagi pun ditutup dengan shalat subuh berjamaah, menandai awal hari baru yang penuh semangat.
Pagi yang Enerjik dan Menguatkan
Ketika matahari mulai terbit, para peserta menyambut hari dengan senam bersama. Gerakan-gerakan ringan membuat tubuh kembali segar setelah malam yang penuh aktivitas ibadah.
Kegiatan fisik ini menjadi cara menyenangkan untuk mengawali pagi sekaligus menjaga kesehatan selama menjalankan ibadah puasa.
Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan kajian yang menguatkan iman dan karakter.
Kajian dibagi ke dalam beberapa forum sesuai jenjang kelas.
1. Da’i Cilik dari Palestina (Kelas 1–2)
Untuk kakak kelas 1 dan 2, mereka mengikuti sesi inspiratif bersama Da’i Cilik dari Palestina. Dalam sesi ini, anak-anak diajak memahami nilai keberanian, keteguhan iman, dan semangat untuk mencintai Al-Qur’an sejak usia dini.
Cerita-cerita yang disampaikan menjadi inspirasi bagi anak-anak untuk tetap semangat belajar dan beribadah.
2. Forum Ar Rijal (Kelas 3–6)
Sementara itu, kakak shalih kelas 3 hingga 6 mengikuti Forum Ar Rijal, sebuah sesi diskusi yang menanamkan nilai-nilai kepemimpinan, tanggung jawab, serta peran laki-laki sebagai pemimpin yang amanah.
Dalam forum ini, para peserta diajak memahami bahwa menjadi pemimpin bukan hanya tentang memimpin orang lain, tetapi juga mampu memimpin diri sendiri.
3. Forum An Nisa (Kelas 3–6)
Untuk kakak shalihah kelas 3 hingga 6, kegiatan berlangsung dalam Forum An Nisa.
Forum ini memberikan ruang bagi para siswi untuk belajar tentang peran perempuan muslimah yang kuat, cerdas, dan berakhlak mulia.
Diskusi-diskusi yang berlangsung membantu mereka memahami bahwa perempuan juga memiliki peran penting dalam membangun masyarakat yang lebih baik.
Testimoni Orang Tua: Pengalaman yang Membentuk Karakter
Kegiatan Ramadan Leadership Camp tidak hanya memberikan kesan bagi para peserta, tetapi juga dirasakan manfaatnya oleh para orang tua.
Salah satu testimoni datang dari Bunda Kak Fahri, yang menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat bagi anak-anak.
Menurut beliau, kegiatan seperti ini membantu anak-anak belajar tentang kedisiplinan, tanggung jawab, serta pembentukan karakter sebagai calon pemimpin Muslim.
Bagi orang tua, melihat anak-anak tumbuh dengan nilai-nilai positif seperti ini tentu menjadi kebahagiaan tersendiri. Tentu ini selaras dengan tema yang diangkat pada RLC tahun ini; Aktif Membangun Karakter Positif di Bulan Ramadan.
Menanamkan Nilai Kepemimpinan Sejak Dini
Ramadan Leadership Camp bukan sekadar kegiatan bermalam di sekolah.
Setiap aktivitas yang dilakukan—mulai dari berbuka bersama, shalat berjamaah, hingga kajian kepemimpinan—dirancang untuk menanamkan nilai-nilai penting dalam kehidupan anak.
Melalui pengalaman ini, kakak shalih-shalihah belajar tentang:
Kepemimpinan, dengan memahami tanggung jawab terhadap diri sendiri dan orang lain
Kedisiplinan, melalui jadwal kegiatan yang teratur
Kemandirian, saat menjalani berbagai aktivitas bersama teman-teman
Kebersamaan, dalam setiap ibadah dan kegiatan yang dilakukan bersama
Akhlak mulia, yang menjadi dasar karakter seorang Muslim
Bagi Ayah Bunda yang penasaran seperti apa sih rangkaian kegiatan di Ramadan Leadership Camp 2026, silakan bisa menyimak video berikut:
Ramadan: Bukan Hanya Menahan Diri, Tapi Membentuk Diri
Dua hari mungkin terasa singkat, tetapi pengalaman yang dirasakan selama Ramadan Leadership Camp meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta.
Langkah-langkah kecil yang mereka lakukan; bangun di sepertiga malam, berdiri dalam shalat, membaca Al-Qur’an, dan belajar bersama—perlahan membentuk karakter mereka.
Karena sejatinya, Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus. Ramadan adalah tentang melatih hati, membentuk diri, dan menumbuhkan generasi yang siap menjadi pemimpin masa depan.
Dan melalui kegiatan seperti Ramadan Leadership Camp, benih-benih kepemimpinan itu mulai tumbuh dalam diri kakak shalih-shalihah di SD Islam Bintang Juara.*** (CM-MRT)
Bagi sebagian orang, Jumat mungkin hanya penutup pekan sekolah. Namun di SD Islam Bintang Juara, Jumat justru menjadi hari istimewa—hari pembentukan karakter, penguatan kebiasaan baik, dan ruang bagi potensi untuk tumbuh.
Setiap pekan, kegiatan Jumat dilakukan secara bergantian. Beda pekan, beda kegiatan. Anak-anak pun selalu menanti dengan antusias, “Hari ini Jumat apa?”
Rangkaian Kegiatan Jumat di SD Islam Bintang Juara
Empat program utama mengisi rangkaian Hari Jumat di sekolah ini: Jumat Literasi, Jumat Sehat, Jumat Bersih, dan Bintang Juara Bersinar. Masing-masing bukan sekadar kegiatan rutin, tetapi bagian dari pembelajaran hidup.
Suasana kelas terasa lebih hening dari biasanya. Di tangan kakak shalih–shalihah bukan hanya buku bacaan, tetapi juga lembar tantangan literasi numerasi.
Dalam Jumat Literasi, anak-anak diajak mengikuti beragam tantangan yang mengasah kemampuan membaca, memahami informasi, berpikir kritis, hingga memecahkan masalah numerasi. Tidak selalu dalam bentuk soal tertulis. Kadang berupa teka-teki logika, permainan kata, analisis cerita pendek, atau tantangan menghitung berbasis kehidupan sehari-hari.
Misalnya, kakak diminta membaca sebuah cerita lalu menemukan pesan moralnya. Atau memecahkan persoalan sederhana yang berkaitan dengan perbandingan, pengukuran, hingga pengolahan data ringan.
Manfaat Jumat Literasi tidak hanya pada peningkatan kemampuan akademik. Anak-anak belajar:
Memahami informasi dengan cermat
Berpikir runtut dan logis
Meningkatkan konsentrasi
Menguatkan daya analisis
Di era banjir informasi seperti sekarang, kemampuan literasi dan numerasi adalah bekal penting agar anak tidak sekadar menerima informasi, tetapi mampu memahaminya dengan bijak.
2. Jumat Sehat: Menumbuhkan Cinta pada Gaya Hidup Sehat
Pekan berikutnya, suasana Jumat berubah menjadi lebih segar. Anak-anak datang membawa bekal sehat dari rumah—buah potong, sayur rebus, salad sederhana, atau makanan bernutrisi lainnya.
Dalam Jumat Sehat, kakak shalih–shalihah diajak membangun kebiasaan hidup sehat sejak dini. Mereka duduk bersama, menikmati bekal yang dibawa, dan saling berbagi cerita tentang manfaat makanan sehat.
Guru juga mengingatkan pentingnya gizi seimbang: karbohidrat, protein, vitamin, mineral, dan serat. Anak-anak belajar bahwa makanan bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang energi dan kesehatan tubuh.
Selain itu Jumat Sehat juga bisa diisi dengan senam pagi bersama seluruh siswa dari kelas 1 – 6 bersama ibu bapak guru.
Manfaat Jumat Sehat sangat terasa:
Membiasakan pola makan sehat
Mengurangi konsumsi makanan instan berlebihan
Meningkatkan kesadaran gizi
Menguatkan kebersamaan saat makan bersama
Membiasakan berolahraga
Anak-anak yang terbiasa membawa dan menikmati bekal sehat cenderung lebih sadar terhadap pilihan makanannya. Anak yang sudah terbiasa berolahraga sejak kecil juga akan lebih mudah membiasakan olahraga di masa dewasanya. Kebiasaan kecil ini bisa menjadi fondasi gaya hidup sehat hingga dewasa.
3. Jumat Bersih: Menanamkan Kepedulian dan Tanggung Jawab
Ada Jumat yang diisi dengan suara sapu menyapu halaman, kain lap yang membersihkan meja, dan tawa ringan saat bekerja bersama.
Dalam Jumat Bersih, kakak shalih–shalihah membersihkan area sekolah—kelas, halaman, taman, dan sudut-sudut yang perlu dirapikan. Kegiatan ini bukan sekadar kerja bakti, tetapi bagian dari pendidikan karakter.
Anak belajar bahwa kebersihan bukan hanya tugas petugas kebersihan. Lingkungan yang nyaman adalah tanggung jawab bersama.
Dari Jumat Bersih, anak-anak mendapatkan banyak pelajaran:
Tanggung jawab terhadap lingkungan
Kerja sama tim
Kepedulian terhadap fasilitas bersama
Disiplin menjaga kebersihan
Ketika anak terbiasa menjaga lingkungan sekolah, diharapkan kebiasaan itu terbawa hingga ke rumah dan masyarakat.
4. Bintang Juara Bersinar: Ruang untuk Unjuk Bakat
Ada Jumat yang terasa lebih meriah. Panggung sederhana disiapkan. Wajah-wajah penuh percaya diri maju satu per satu.
Dalam program Bintang Juara Bersinar, setiap kelas mendapatkan giliran untuk menampilkan bakat dan potensi terbaiknya. Ada yang membaca puisi, menyanyi, menari, bermain musik, bercerita, hingga menampilkan karya kreatif lainnya.
Kegiatan ini memberi ruang bagi setiap anak untuk bersinar sesuai keunikan masing-masing. Tidak semua anak unggul di bidang akademik, tetapi setiap anak memiliki potensi.
Manfaat Bintang Juara Bersinar sangat besar:
Meningkatkan rasa percaya diri
Melatih keberanian tampil di depan umum
Mengasah kreativitas
Menghargai bakat teman
Anak belajar bahwa setiap orang punya kelebihan. Tugas kita bukan membandingkan, tetapi mengembangkan potensi diri sebaik mungkin.
Jumat yang Mendidik Sepenuh Hati: Beda Pekan, Beda Pengalaman
Keempat kegiatan ini dilakukan secara bergantian. Satu pekan bisa diisi Jumat Literasi, pekan berikutnya Jumat Sehat, lalu Jumat Bersih, dan seterusnya.
Pergantian ini membuat anak-anak tidak bosan. Mereka belajar bahwa pembentukan karakter tidak dilakukan dalam satu cara saja, melainkan melalui beragam pengalaman.
Hari Jumat di SD Islam Bintang Juara bukan sekadar pengisi jadwal. Ia adalah ruang tumbuh.
Melalui literasi, anak menguatkan akal.
Melalui pola hidup sehat, anak menjaga kesehatan tubuh.
Melalui kebersihan, anak membentuk tanggung jawab.
Melalui panggung bakat, anak menemukan percaya diri.
Pendidikan sejati bukan hanya soal nilai rapor, tetapi tentang kebiasaan baik yang terus ditanamkan.
Karena pada akhirnya, yang diharapkan bukan hanya anak yang cerdas secara akademik, tetapi juga sehat, peduli, dan berani bersinar sesuai potensi yang Allah titipkan.***
Matematika sering dianggap rumit. Pecahan, perbandingan, angka desimal—semuanya terdengar serius. Namun di kelas 4B, Senin, 9 Februari 2026, pelajaran pecahan berubah menjadi pengalaman seru dan penuh rasa ingin tahu.
Melalui kegiatan BBOT (Belajar Bersama Orang Tua), kakak shalih–shalihah kelas 4B belajar bersama Ayah Arief Radityo Cahyo Bawono, orang tua dari Kak Xaquil. Tema yang diangkat pun unik: “Membedah Rahasia Perbandingan Bahan Pembersih.”
Alih-alih mengerjakan soal di buku, kakak diajak langsung bereksperimen membuat cairan pembersih lantai dan cairan cuci piring. Dari sinilah konsep pecahan dan perbandingan menjadi nyata.
Pecahan Itu Nyata, Bukan Sekadar Angka
Ayah Kak Xaquil memulai dengan pertanyaan sederhana: “Kenapa cairan pembersih tidak digunakan langsung tanpa dicampur air?”
Diskusi pun dimulai. Anak-anak mulai menyadari bahwa cairan pembersih biasanya harus diencerkan agar aman dan efektif. Dari sinilah muncul istilah baru yang diperkenalkan:
Dilusi: campuran antara air dan chemical (bahan kimia).
Residu: sisa dari bahan yang digunakan.
Kakak kelas 4B terlihat antusias saat menyadari bahwa pelajaran pecahan ternyata digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Eksperimen Membuat Cairan Pembersih Lantai & Cuci Piring
Ayah Arief kemudian menjelaskan perbandingan untuk membuat cairan pembersih lantai, yaitu 1:40 (chemical : air). Artinya, untuk setiap 1 bagian chemical, dibutuhkan 40 bagian air. Jika menggunakan botol ukuran 300 ml, maka perhitungannya, dibutuhkan 7.5 ml chemical untuk diisikan dalam botol tersebut.
Anak-anak mulai menghitung bersama. Pecahan dan desimal yang biasanya terlihat sulit, kini menjadi bagian dari eksperimen nyata.
Ayah juga memberikan contoh praktis: jika menggunakan ember, kira-kira dibutuhkan 2 tutup botol cairan pembersih lantai untuk campuran air yang sesuai.
Eksperimen berlanjut dengan membuat cairan cuci piring. Kali ini perbandingannya berbeda: 1:2 (chemical : air). Artinya, jika menggunakan 1 bagian chemical, maka ditambahkan 2 bagian air.
Namun ada catatan penting. Cairan cuci piring sebaiknya dibuat secukupnya saja. Jika masih ada sisa dan disimpan terlalu lama, justru bisa menjadi tempat berkembangnya bakteri.
Pelajaran pun semakin lengkap. Kakak tidak hanya belajar menghitung, tetapi juga memahami prinsip kebersihan dan kesehatan.
Satu hal penting yang ditekankan adalah urutan mencampur: Masukkan air terlebih dahulu, baru kemudian chemical. Ini untuk keamanan dan hasil campuran yang lebih stabil. Selain itu agar tidak menghasilkan banyak busa, alih-alih dikocok, botol bisa dinaikturunkan dengan pelan.
Belajar Aman: Pentingnya Label dan Keselamatan
Selain belajar perbandingan, kakak kelas 4B juga belajar tentang keselamatan.
Ayah menyarankan menggunakan botol air minum bekas sebagai wadah cairan pembersih agar lebih hemat dan ramah lingkungan. Namun label bawaan harus dilepas agar tidak membingungkan.
Botol tidak boleh dibiarkan polos. Harus diberi label baru yang jelas bertuliskan “Cairan Pembersih”. Mengapa? Karena jika tidak diberi tanda, bisa saja ada yang salah mengira itu air minum dan meminumnya. Tentu berbahaya.
Di sini, anak-anak belajar bahwa matematika dan sains selalu berjalan berdampingan dengan tanggung jawab.
Pembelajaran Kontekstual yang Bermakna
BBOT 4B hari itu membuktikan bahwa matematika tidak berdiri sendiri. Pecahan dan perbandingan hadir dalam kehidupan sehari-hari—di dapur, di kamar mandi, bahkan di ruang kelas.
Anak-anak belajar:
Menghitung perbandingan secara nyata
Memahami konsep dilusi
Menjaga keselamatan penggunaan bahan kimia
Bertanggung jawab terhadap lingkungan
Wajah kakak shalih–shalihah terlihat puas. Mereka tidak hanya mengerti rumus, tetapi tahu bagaimana menerapkannya.
Kegiatan bersama Ayah Arief Radityo Cahyo Bawono menjadi pengalaman belajar yang tak terlupakan. Dari botol bekas, cairan pembersih, dan hitungan sederhana, kakak kelas 4B memahami bahwa ilmu itu hidup dan dekat.
Hari itu, rahasia perbandingan benar-benar terbongkar. Dan kakak kelas 4B pulang bukan hanya membawa catatan, tetapi juga pemahaman bahwa belajar bisa hadir dalam bentuk yang praktis, berguna, dan menyenangkan.***