by admin admin | Sep 16, 2026 | Berita, Berita Utama, Kegiatan Orang Tua, Kegiatan Siswa, Pembelajaran
“Kenapa di Indonesia tidak ada musim salju seperti di beberapa negara lain?”
Pertanyaan seperti itu mungkin terdengar sederhana. Namun, di baliknya ada konsep sains yang menarik: letak suatu negara di Bumi ternyata ikut memengaruhi iklim, musim, dan kondisi cuacanya.
Hal inilah yang menjadi awal perjalanan belajar kakak-kakak kelas 4A SD Islam Bintang Juara dalam kegiatan BBOT (Belajar Bersama Orang Tua) pada Rabu, 16 September 2026.
Bersama Bunda Imas Musfiroh, Bunda dari Kak Afshiena, kakak-kakak diajak mengenal lebih dekat tentang iklim, musim, dan cuaca.
Menariknya, tanggal tersebut bertepatan dengan Hari Internasional untuk Pelestarian Lapisan Ozon atau International Day for the Preservation of the Ozone Layer yang diperingati setiap 16 September. PBB menetapkan tanggal tersebut sebagai hari internasional untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya menjaga lapisan ozon.
Maka, pembelajaran hari itu pun berkembang menjadi perjalanan yang lebih luas. Dari negara-negara di dunia, menuju lapisan ozon, kemudian berlanjut pada efek rumah kaca dan kenaikan permukaan air laut. Semua dipelajari melalui pertanyaan, diskusi, dan praktik.
Mengenal Iklim dan Musim yang Berbeda di Setiap Negara
Perjalanan dimulai dengan mengenal berbagai negara di dunia. Kakak-kakak diajak memperhatikan letak lintang negara-negara tersebut dan menghubungkannya dengan kondisi iklim, musim, serta cuaca yang mereka alami.
Dari sini, anak-anak mulai memahami bahwa Bumi bukanlah tempat yang memiliki kondisi cuaca dan musim yang sama di setiap wilayah. Ada negara yang berada di wilayah tropis dan memiliki pola musim yang berbeda dengan negara di wilayah subtropis atau lintang tinggi.
Ada negara yang mengalami musim semi, panas, gugur, dan dingin. Sementara Indonesia, yang berada di wilayah tropis, secara umum mengalami pola musim hujan dan kemarau.
Namun, pembahasan tidak berhenti pada menghafalkan nama musim. Kakak-kakak diajak memahami bahwa letak suatu wilayah dan kondisi atmosfer merupakan bagian dari sistem yang memengaruhi kehidupan manusia di Bumi.
Dari sini, pelajaran IPAS terasa lebih dekat dengan kehidupan.
Ternyata, ketika kita melihat berita tentang salju di negara lain, musim hujan di Indonesia, atau cuaca panas yang terjadi di suatu wilayah, semuanya merupakan bagian dari sistem Bumi yang saling berkaitan.
Ternyata Hari Itu adalah Hari Ozon Sedunia
Setelah berbicara mengenai Bumi dan atmosfer, ada satu hal menarik yang membuat pembelajaran hari itu semakin relevan. 16 September adalah Hari Internasional untuk Pelestarian Lapisan Ozon.
Bunda Imas kemudian mengajak kakak-kakak berpikir: “Mengapa Bumi perlu dilindungi oleh lapisan ozon?” Pertanyaan tersebut membawa kakak-kakak mengenal salah satu pelindung penting bagi kehidupan di Bumi.
Lapisan ozon berada di stratosfer dan berfungsi menyerap sebagian radiasi ultraviolet (UV) berbahaya dari Matahari. Karena itu, keberadaan ozon stratosfer sangat penting untuk melindungi manusia, hewan, tumbuhan, dan berbagai kehidupan di Bumi.
Kakak-kakak kemudian diajak membayangkan: “Kalau lapisan ozon menipis, apa yang akan terjadi?” Pertanyaan sederhana tersebut membuka ruang bagi anak untuk memahami bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tentang kebersihan di sekitar sekolah.
Ada sistem besar di atmosfer yang juga perlu dijaga.
Bagaimana Ozon Terbentuk?
Bunda Imas juga mengenalkan unsur pembentuk ozon. Secara kimia, ozon adalah O₃, yaitu molekul yang terdiri dari tiga atom oksigen. Oksigen yang kita hirup sehari-hari umumnya berbentuk O₂.
Namun, bagaimana O₃ terbentuk?
Di stratosfer, radiasi ultraviolet dari Matahari memecah molekul O₂ menjadi atom-atom oksigen. Atom oksigen tersebut kemudian bergabung dengan molekul O₂ lainnya sehingga terbentuk O₃ atau ozon. Proses ini merupakan bagian dari keseimbangan alami pembentukan dan penghancuran ozon di atmosfer.
Penjelasan tersebut menjadi kesempatan bagi kakak-kakak untuk melihat bahwa sesuatu yang sangat kecil—bahkan sampai pada tingkat atom—dapat berperan dalam menjaga kehidupan di Bumi.
Sains yang tadinya terasa jauh menjadi lebih dekat dan dapat dibayangkan.
Bersyukur Ketika Hujan Turun dan Petir Menyambar
Dalam pembelajaran, kakak-kakak juga diajak melihat fenomena alam dari sudut pandang yang lebih luas.
Petir yang terkadang membuat kita merasa takut ternyata juga memiliki peran dalam kimia atmosfer. Petir dapat menghasilkan nitrogen oksida (NOx), yang merupakan bagian dari berbagai proses kimia di atmosfer.
Namun, penting untuk memahami bahwa petir bukan mekanisme utama pembentukan lapisan ozon stratosfer. Pembentukan ozon di stratosfer terutama digerakkan oleh radiasi UV Matahari.
Dari pembahasan tersebut, kakak-kakak tetap mendapatkan sebuah pesan reflektif: alam memiliki banyak proses yang belum tentu langsung terlihat manfaatnya bagi manusia.
Maka, ketika hujan turun, ketika awan berkumpul, atau ketika petir menyambar, kita dapat belajar untuk bersyukur dan semakin kagum terhadap keteraturan ciptaan Allah, sekaligus tetap memahami fenomena tersebut berdasarkan ilmu pengetahuan.
Praktik Efek Rumah Kaca: Apa yang Terjadi pada Bumi?
Setelah mengenal lapisan ozon, pembelajaran bergerak ke topik lain yang juga sangat dekat dengan isu lingkungan: efek rumah kaca dan perubahan iklim.
Kakak-kakak diajak melakukan praktik untuk memahami bagaimana gas rumah kaca berhubungan dengan panas di atmosfer.
Efek rumah kaca sebenarnya merupakan proses alami yang membuat Bumi memiliki suhu yang memungkinkan kehidupan berlangsung. Masalah muncul ketika konsentrasi gas rumah kaca meningkat akibat aktivitas manusia sehingga semakin banyak panas tertahan dalam sistem Bumi.
CO₂ atau karbon dioksida merupakan salah satu gas rumah kaca utama yang meningkat akibat aktivitas manusia, terutama dari penggunaan bahan bakar fosil.
Di sinilah penting untuk membedakan dua persoalan:
Penipisan lapisan ozon terutama berkaitan dengan zat perusak ozon seperti CFC, sedangkan pemanasan global sangat berkaitan dengan peningkatan gas rumah kaca seperti CO₂. Keduanya merupakan persoalan lingkungan yang berbeda, meskipun memiliki keterkaitan dalam sistem atmosfer dan iklim.
Melalui praktik, konsep yang abstrak tersebut menjadi lebih mudah dibayangkan oleh kakak-kakak.
Apa yang Terjadi Jika Es Mencair?
Petualangan belajar belum selesai. Kakak-kakak kemudian diajak melakukan praktik untuk memahami dampak mencairnya es terhadap kenaikan permukaan air laut.
Melalui simulasi sederhana, anak-anak dapat mengamati perubahan permukaan air dan mendiskusikan apa yang terjadi ketika es mencair.
Dari sini, pertanyaan baru muncul: “Kalau permukaan laut naik, apa yang terjadi pada wilayah yang berada di dekat pantai?” Pertanyaan tersebut membawa anak memahami bahwa perubahan lingkungan di satu tempat dapat memberikan dampak yang lebih luas.
Bukan hanya tentang es. Bukan hanya tentang air laut. Tetapi tentang manusia, wilayah tempat tinggal, ekosistem, dan kehidupan di masa depan.
Belajar IPAS dengan Bertanya dan Bereksperimen
Yang membuat kegiatan BBOT kelas 4A terasa berbeda adalah cara belajar yang tidak berhenti pada penjelasan.
Kakak-kakak diajak bertanya, mengamati, berdiskusi, dan melakukan praktik.
- Dari peta dunia mereka belajar tentang iklim.
- Dari posisi Bumi mereka belajar tentang musim.
- Dari kondisi atmosfer mereka belajar tentang cuaca.
- Dari Hari Ozon Sedunia mereka belajar mengapa lapisan ozon penting.
- Dari praktik efek rumah kaca mereka belajar tentang panas dan atmosfer.
- Dan dari simulasi mencairnya es, mereka belajar bahwa perubahan lingkungan dapat berdampak pada kehidupan manusia.
Satu kegiatan membawa mereka pada pertanyaan berikutnya. Dan setiap pertanyaan membuka pintu menuju pengetahuan baru.
Dari BBOT, Tumbuh Rasa Ingin Tahu terhadap Bumi
Belajar tentang iklim, musim, cuaca, ozon, dan perubahan lingkungan mungkin terdengar seperti materi yang besar untuk anak kelas 4.
Namun, ketika disampaikan melalui pengalaman, percobaan, dan pertanyaan yang dekat dengan kehidupan, sains dapat terasa lebih menyenangkan.
BBOT bersama Bunda Imas Musfiroh menjadi ruang bagi kakak-kakak kelas 4A untuk menyadari bahwa Bumi yang mereka tinggali memiliki sistem yang luar biasa kompleks.
- Ada atmosfer yang melindungi.
- Ada sinar Matahari.
- Ada awan, hujan, dan petir.
- Ada musim yang berganti.
- Ada es yang menyimpan air.
- Dan ada manusia yang memiliki tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan lingkungan.
Pada akhirnya, pembelajaran hari itu bukan hanya tentang menghafal apa itu iklim, musim, cuaca, ozon, atau efek rumah kaca.
Lebih dari itu, kakak-kakak diajak memiliki rasa ingin tahu.
- Berani bertanya.
- Mau mencoba.
- Mau mencari tahu.
Dan semakin menyadari bahwa ilmu yang dipelajari di sekolah ternyata memiliki hubungan erat dengan kehidupan sehari-hari.
Karena ketika anak mulai bertanya, “Mengapa Bumi seperti ini?”, sesungguhnya di situlah perjalanan seorang pembelajar sedang dimulai.
Dan semoga dari rasa ingin tahu tersebut tumbuh generasi yang tidak hanya unggul dalam ilmu, tetapi juga memiliki kesadaran untuk mensyukuri, memahami, dan menjaga Bumi sebagai amanah dari Allah.*** (CM-MRT)
by admin admin | Aug 25, 2026 | Artikel, Berita, Berita Utama, Kegiatan Guru, Profil Guru
Setiap sekolah memiliki cerita tentang bagaimana ia bertumbuh, dan di baliknya selalu ada orang-orang yang terus belajar, bertanya, dan berupaya memberikan yang terbaik untuk anak. Dalam Guru Bercerita kali ini, SD Islam Bintang Juara mengajak Ayah Bunda mengenal lebih dekat Bu Nur Shofwatin Ni’mah, S.Pd., Gr., Kepala SD Islam Bintang Juara, tentang perjalanan beliau dalam membersamai sekolah, memaknai kepemimpinan, melihat potensi setiap anak, hingga membangun budaya belajar yang terus bertumbuh.
Bagi Bu Ni’mah, menjadi pemimpin bukan hanya tentang memberi arah, tetapi juga tentang melayani, mendampingi, dan bersama-sama menciptakan lingkungan pendidikan yang membuat setiap anak memiliki ruang untuk berkembang menjadi versi terbaik dirinya.
Mengenal Sosok Bu Nur Shofwatin Ni’mah
Tak sedikit ayah bunda yang baru berkenalan dengan SD Islam Bintang Juara bertanya-tanya siapakah guru-guru di balik Sekolah Calon Pemimpin Muslim Ini. Untuk mengawali proses ta’aruf ini, MinBin akan mengajak Ayah Bunda berkenalan lebih dekat dengan sosok perempuan muda yang diamanahi menjadi Kepala Sekolah.
1. Bisa diceritakan tentang diri Ibu, perjalanan sebagai pendidik, dan bagaimana akhirnya mendapat amanah sebagai Kepala SD Islam Bintang Juara?
Saat saya masih menjadi mahasiswa, saya sudah tertarik untuk mendalami lebih jauh tentang anak berkebutuhan khusus dan program pendidikan orangtua. Saya menulis karya ilmiah tentang program pendidikan orangtua yang lolos dalam pemilihan Mahasiswa Berprestasi kala itu. Waktu PPL, saya juga melakukan stimulasi pada anak yang terindikasi berkebutuhan khusus.
Di desa, saya juga mendirikan taman baca untuk murid ngaji orangtua saya. Lalu dari semua proses itu, akhirnya Allah SWT mempertemukan saya dengan Sekolah Islam Bintang Juara. Amanah pertama saya adalah sebagai guru pembimbing khusus, yang mana saya kala itu buta informasi dan ilmu, sempat merasa berat dan hampir menyerah. Lalu saya berusaha bertanya “apa maksud Allah memberi saya amanah ini.
Melalui shalat istikharah, Allah seolah mengingatkan “bukankah kamu ingin S2 dalam bidang psikologi perkembangan anak, ini diberi praktiknya langsung, kenapa mau menyerah?” Dari hasil istikharah ini, membulatkan tekad saya, bahwa amanah apapun adalah proses yang Allah berikan untuk menempa diri kita. InsyaAllah selalu ada hal baik.
Saya lalu membuat rancangan program dan timeline sebagai GPK untuk anak yang saya ampu, dari dia kelas 3 hingga lulus. Namun ternyata Allah berkehendak lain, saya hanya diberi amanah mendampingi dia selama 6 bulan. Bulan ke-7 saya diberi amanah menyusun kurikulum SD sekaligus membantu proses perizinan pendirian sekolah. Saya juga pernah memperoleh amanah sebagai guru kelas, guru mata pelajaran bahasa Jawa sembari menjadi humas yang mengelola media sosial sekolah, serta guru ngaji sekaligus pula kepala sekolah.
Alhamdulillah semua proses tersebut saya syukuri, karena dari proses itu saya banyak belajar, mendengar, mengamati, dan mencari solusi. Setiap amanah menempa saya untuk menjadi pribadi yang berkesadaran. Sadar bahwa saya makhluk Allah, sadar akan ketentuan Allah, saya bahwa saya juga makhluk sosial, sadar bahwa hidup di dunia ini berbatas waktu maka harus mengupayakan menjadi sebaik-baik manusia, meski selalu ada saja PR nya untuk diri saya sendiri.
2. Apa yang membuat Ibu memilih dan bertahan di dunia pendidikan?
Dengan berada di dunia pendidikan, saya dapat mengingatkan diri saya untuk Iqro’ sebagaimana firman Allah yang pertama. Dunia pendidikan menjadi alarm untuk diri saya, bahwa manusia itu tidak boleh berhenti belajar, dan juga harus bermanfaat. Dunia pendidikan adalah jantung dari ditumbuhkannya iman, taqwa, adab, ilmu, serta proses kebermanfaatan. Dan saya ingin selalu diingatkan dan didekatkan dengan itu. Melihat anak didik dan teman-teman guru, sebagai proses belajar untuk diri saya.
3. Apa arti menjadi Kepala Sekolah bagi Ibu—apakah lebih banyak tentang memimpin, melayani, atau mendampingi?
Menjadi kepala sekolah adalah bagian dari proses menempa diri, sebuah amanah untuk memperluas peran, dari mendidik diri, mendidik anak biologis, mendidik anak ideologis serta sarana untuk hablun minannaas. Menjadi kepala sekolah itu tidak hanya tentang memimpin, melayani, atau mendampingi, ketiganya tentunya menjadi poin penting yang harus saya perankan dalam menjalankan amanah ini. Namun menjadi kepala sekolah tidak akan terlepas dari poin memberikan teladan, dengan teladan maka saya dapat memimpin dengan arah, melayani dan mendampingi dengan hati yang diniatkan karena Allah.
Selama proses saya menjadi guru, saya belajar bahwa mendidik membutuhkan kesabaran, kasih sayang, ketegasan, sekaligus kehadiran. Nilai-nilai itulah yang saya bawa ketika menjalankan amanah sebagai Kepala Sekolah. Saya tidak hanya ingin menjadi orang yang memberikan arahan, tetapi juga seseorang yang mampu hadir, mendengarkan, memahami, dan menguatkan. Jadi, jika ditanya apakah menjadi Kepala Sekolah lebih banyak tentang memimpin, melayani, atau mendampingi, bagi saya jawabannya adalah ketiganya tidak dapat dipisahkan.
Saya memimpin untuk memberi arah, melayani untuk menumbuhkan kepercayaan, dan mendampingi untuk menumbuhkan potensi. Menjadi Kepala Sekolah adalah sebuah amanah untuk menghadirkan perubahan yang bermakna, bukan hanya membuat sekolah menjadi lebih baik, tetapi membuat orang-orang di dalamnya merasa dihargai, didukung, bertumbuh, dan memiliki harapan. Saya ingin menjalankan amanah itu dengan memaknai bahwa setiap anak yang hadir di sekolah adalah titipan yang harus kita jaga, setiap guru adalah mitra yang harus kita kuatkan, dan setiap langkah kecil menuju kebaikan adalah bagian dari proses pendidikan.
Bagaimana Bu Nur Shofwatin Ni’mah Memandang Anak
4. Ketika melihat seorang anak, hal pertama apa yang ingin Ibu lihat selain kemampuan akademiknya?
Hal pertama yang ingin saya lihat adalah siapa dia dan bagaimana dia. Siapa dia artinya saya butuh mengenal identitas diri (nama, tempat tinggal, hal yang disukai, hal yang tidak disukai, saudara, dan teman).
Saya juga butuh mengenali kondisi emosi yang muncul pada dirinya, serta kemampuannya dalam mengidentifikasi kebutuhan diri. Sedangkan bagaimana dia, adalah saya butuh memahami bagaimana cara dia memberi respon kepada lingkungan termasuk benda-benda di sekitar serta orang yang ditemui. Sejauh mana kemampuan dia dalam beradaptasi, meregulasi diri, sehingga tumbuh kemauan untuk mau belajar dan akhirnya mampu menyesuaikan.
5. Menurut Ibu, seperti apa anak yang disebut “juara” di SD Islam Bintang Juara?
Anak juara adalah anak yang tumbuh menjadi versi terbaik dari dirinya, berkembang dari pondasi awal tahap perkembangan mereka. Anak yang berhasil beradaptasi pada proses transisi TK ke SD, anak yang berhasil bangun lebih awal untuk shalat subuh, anak yang berhasil memutuskan berbagi makanan untuk teman yang sedang lapar atau tidak membawa bekal, anak yang siap mengantri, anak yang siap berkata sesuai fakta, anak yang meminta maaf saat salah, meminta tolong saat mengalami kesulitan, anak yang mengucapkan terimakasih saat dibantu, anak yang berhasil mengatasi rasa takut, rasa malas, anak yang mengingat Allah dimanapun mereka berada, anak yang berhasil mengambil hikmah dari proses belajar mereka. Itu adalah beberapa deskripsi anak juara.
6. Bagaimana sekolah memastikan setiap anak memiliki ruang untuk berkembang sesuai potensi dan karakternya masing-masing?
Pada tahap awal kami berupaya mengenal setiap siswa melalui kegiatan profiling perkembangan baik aspek spiritual, sensori motorik, bahasa dan komunikasi, tahap kegiatan main, dan kognitif. Hasil pemetaan itu menjadi pijakan bagi guru dalam mendampingi dan merancang pengalaman belajar yang lebih tepat bagi mereka. Ruang tumbuh itu juga kami hadirkan tidak hanya melalui akademik.
Anak diberi kesempatan menemukan dan mengembangkan minat serta bakatnya melalui berbagai kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler, sementara pembelajaran akademik menggunakan beragam pendekatan seperti Project Based Learning, Problem Based Learning, Discovery Learning. Jadi anak memiliki banyak pintu untuk menunjukkan bahwa dirinya mampu dan berharga.

Memimpin Berlangsungnya Pembelajaran di SD Islam Bintang Juara
7. Apa yang ingin Ibu pastikan selalu hadir dalam setiap proses pembelajaran di SD Islam Bintang Juara?
Yang ingin saya pastikan selalu hadir dalam setiap proses pembelajaran adalah ruhiyyah guru yang menyemai makna, memberi kasih sayang dan kesempatan untuk bertumbuh. Setiap anak memperoleh ruang untuk mencintai proses belajar, mencintai dan mengenal diri dan perannya, mengenal Allah sebagai tuhannya dan memiliki keberanian untuk menjadi pribadi yang bermanfaat.
8. Bagaimana sekolah menjaga agar pembelajaran tidak hanya mengejar nilai, tetapi tetap joyful, mindful, dan meaningful?
Pada proses perancangan pembelajaran adaptif, kami menjadwalkan program diskusi guru berbasis tahap perkembangan anak. Ini adalah moment quality control dari tim manajemen sekolah untuk implementasi pembelajaran agar tetap joyful, mindful, meanningful. Kami memfasilitasi anak untuk tidak selalu belajar dengan duduk, mendengar, dan mengerjakan soal. Mereka dapat belajar melalui eksperimen, permainan, seni, proyek, eksplorasi lingkungan, diskusi, bahkan kegiatan di luar kelas misalnya magang adab. Dengan begitu, mereka mengalami sendiri proses menemukan pengetahuan serta memaknai pengetahuan yang mereka peroleh.
9. Bagaimana nilai-nilai Al-Qur’an dan Hadits diterjemahkan dalam kehidupan sekolah sehari-hari, bukan hanya dalam pelajaran agama?
Kami berupaya menanamkan nilai-nilai tersebut melalui pembiasaan dan keteladanan dalam keseharian dari anak kami terima hingga dijemput orangtua. Anak belajar adab kepada Allah melalui doa, ibadah, rasa syukur, dan kecintaan kepada Al-Qur’an. Mereka belajar adab kepada guru dengan menghormati dan mendengarkan. Mereka belajar adab kepada teman dengan berbagi, bekerja sama, menjaga perasaan, meminta maaf, dan menolong.
Adab, doa, hadits, surah-surah dalam Al Qur’an bukan hanya untuk dihafal, namun diterapkan selama anak berada di sekolah. Kami juga berusaha agar anak tidak berhenti pada pertanyaan ‘apa hukumnya?’, tetapi sampai pada ‘mengapa Allah mengajarkan ini kepada kita, dan bagaimana saya mengamalkannya?
Misalnya ketika belajar tentang qurban, anak tidak hanya mengetahui sejarah dan tata caranya, tetapi diajak memahami nilai ikhlas, pengendalian diri, berbagi, dan ketaatan kepada Allah. Nilai tersebut kemudian dihubungkan dengan kehidupan mereka—saat bermain, membantu orang tua, menghormati guru, maupun berbagi dengan sesama.
Cara Bu Ni’mah Memimpin Guru dan Budaya Sekolah
10. Menurut Ibu, seperti apa guru yang ideal untuk mendampingi anak-anak di zaman sekarang?
Guru yang ideal untuk anak zaman sekarang adalah guru yang mau terus belajar, terbuka terhadap ilmu, terbuka terhadap setiap tahap perkembangan anak, kuat secara tauhid. Guru yang hangat tetapi tegas, dekat dengan siswa tetapi memiliki batas, mampu mengajar dan juga mampu mendengarkan. Guru yang tidak terburu-buru memberi label ketika anak sulit memahami informasi atau melakukan kesalahan. Guru yang melihat potensi sebelum melihat kekurangan siswa. Guru yang berhasil menyadari bahwa dirinya dan siswanya sedang sama-sama berproses untuk belajar.
11. Bagaimana Ibu membangun budaya agar guru juga terus belajar dan berkembang?
Kami memfasilitasi guru dengan diadakannya komunitas diskusi yang rutin dilakukan, minimal satu kali dalam satu pekan, yang didampingi langsung oleh Psikolog Sekolah atau Kepala Sekolah atau Koordinator Litbang Yayasan. Selain itu pada komunitas diskusi tersebut, guru dapat saling berbagi, baik tantangan maupun praktik baik yang telah dilakukan. Kepala sekolah, litbang atau psikolog sekolah bertindak sebagai pemimpin pembelajaran dan teladan dalam proses belajar tersebut.
Kami saling sharing program pelatihan bermakna untuk dapat diikuti, ketika ada guru yang tuntas mengikuti pelatihan atau seminar juga ada sesi desiminasi kepada guru lain. Dimana kami berada, disitu adalah area diskusi kami. Literatur yang mendukung baik berupa buku atau literatur digital lain juga kami sharingkan.
12. Apa yang paling Ibu jaga dalam budaya kerja dan budaya belajar di sekolah?
Yang saya upayakan jaga dalam budaya kerja dan belajar adalah saling menghormati, saling berkomunikasi yang sifatnya membangun dan semangat untuk bertumbuh, menguatkan, serta saling mengambil hikmah atau pembelajaran hidup. Saya ingin sekolah menjadi tempat di mana guru merasa aman untuk belajar, bertanya, menyampaikan pendapat, mencoba hal baru, bahkan mengakui ketika ada sesuatu yang belum berhasil.
Begitu juga anak-anak. Mereka harus merasa aman untuk bertanya, mencoba lagi, dan menjadi dirinya sendiri. Bagi saya, sekolah yang sehat adalah sekolah di mana orang dewasa di dalamnya juga merasa bertumbuh, dihargai, dan memiliki tujuan yang sama sehingga dapat memberikan yang terbaik untuk anak didiknya.
Kolaborasi Sekolah dan Keluarga
13. Mengapa kolaborasi antara sekolah dan Ayah Bunda menjadi penting dalam pendidikan anak?
Karena anak tumbuh tidak hanya dalam lingkungan sekolah, namun lingkungan rumah juga menjadi lingkungan utama dalam proses pendidikan mereka. Orang tua adalah orang yang paling mengenal anak dalam kehidupan sehari-hari, sementara guru memiliki perspektif dari pengalaman anak di lingkungan belajar. Ketika dua perspektif ini dipertemukan, kita bisa memahami anak secara lebih utuh. konsistensi antara rumah dan sekolah sangat penting dalam pembentukan karakter.
Nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, adab, kemandirian, kepedulian, dan disiplin tidak cukup diajarkan melalui satu mata pelajaran. Anak perlu melihat nilai itu dipraktikkan secara konsisten dalam kesehariannya. Maka jika kolaborasi berjalan dengan baik, sekolah dan rumah adalah laboratorium utama yang mematangkan proses pendidikan mereka.
14. Apa yang paling Ibu harapkan dari Ayah Bunda dalam membersamai pendidikan putra-putrinya?
Hal yang saya harapkan adalah kehadiran ayah bunda. Tidak hanya hadir secara fisik, tapi juga hadir dengan perhatian, pengertian dan doa serta hadir menanamkan tauhid. Saya berharap kita sebagai orangtua tidak terburu-buru menasehati sebelum memberikan teladan, tidak terburu-buru menuntut sebelum mengajak banyak mendengarkan dan menggali kebutuhan anak-anak, tidak terburu-buru membandingkan dengan anak lain. Tetapi kita menjadi orangtua yang melihat, menemani dan menghargai setiap proses tumbuh kembang anak kita.
Saya juga berharap kita bisa menjadi teladan dalam menanamkan tauhid dalam ruhiyyah kita serta anak kita. Tugas kita adalah membantu mereka menemukan potensi terbaik yang Allah titipkan dalam dirinya, menumbuhkannya dengan ilmu dan akhlak, lalu mempersiapkan mereka agar kelak mampu menjadi manusia yang bermanfaat. Mari kita membersamai anak, bukan sekadar mengarahkan mereka.
Mari berjalan di samping mereka, bukan selalu berjalan di depan mereka. Karena anak-anak tidak hanya membutuhkan orang dewasa yang menunjukkan jalan, tetapi juga orang dewasa yang bersedia menemani perjalanan.

Tantangan dan Refleksi Sebagai Kepala SD Islam Bintang Juara
15. Apa tantangan terbesar memimpin sekolah di tengah perubahan zaman dan kebutuhan anak yang terus berkembang?
Tantangan terbesar memimpin sekolah di tengah perubahan zaman adalah bagaimana kami bisa terus bergerak maju tanpa mematikan akar filosofi. Anak-anak kita tumbuh di dunia yang sangat cepat berubah. Teknologi berkembang, informasi begitu mudah diakses, cara anak berkomunikasi berubah, kebutuhan belajarnya pun semakin beragam. Sekolah tidak bisa mendidik anak hari ini dengan cara yang sepenuhnya sama seperti mendidik anak sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu. Tetapi di tengah semua perubahan itu, ada hal-hal yang tidak boleh ikut berubah: iman, adab, akhlak, kejujuran, rasa tanggung jawab, kepedulian, dan kecintaan kepada Allah.
Tantangan saya sebagai kepala sekolah adalah bagaimana nilai-nilai yang fundamental itu tetap kuat, sementara cara kita menghadirkannya kepada anak terus kita inovasikan. Tantangan berikutnya adalah memahami anak sebagai pribadi yang terus berkembang. Tidak ada satu pendekatan yang cocok untuk semua anak. Setiap anak memiliki potensi, karakter, kebutuhan, dan ritme perkembangan yang berbeda. Maka guru juga harus terus belajar agar tidak hanya menguasai materi, tetapi mampu membaca kebutuhan anak.
Di sinilah saya melihat bahwa memimpin sekolah sebenarnya adalah juga memimpin proses belajar orang-orang dewasa di dalamnya. Saya harus memastikan guru memiliki ruang untuk bertumbuh, mencoba pendekatan baru, dan saling belajar. Karena kita tidak mungkin meminta anak menjadi pembelajar sepanjang hayat jika gurunya sendiri berhenti belajar.
Tantangan lainnya adalah menjaga keseimbangan antara prestasi dan proses tumbuh kembang anak. Kita tentu ingin anak-anak berprestasi. Tetapi saya tidak ingin angka dan pencapaian membuat kita lupa bahwa mereka adalah anak-anak yang sedang tumbuh. Mereka membutuhkan ruang untuk bermain, bertanya, mencoba, beristirahat, membangun pertemanan, dan mengenal dirinya sendiri. Anak bukan proyek yang harus segera selesai. Mereka adalah amanah yang proses tumbuhnya perlu kita hormati.
Karena itu, bagi saya, menjadi kepala sekolah di zaman sekarang membutuhkan dua hal sekaligus: keberanian untuk berubah dan kebijaksanaan untuk tahu apa yang boleh dan tidak boleh berubah. Jadi, tantangan terbesar bukan bagaimana membuat sekolah terlihat paling modern. Tantangannya adalah bagaimana membuat sekolah tetap relevan dengan zamannya, tetapi tetap memiliki akar yang kuat.
Dan saya berharap SD Islam Bintang Juara menjadi sekolah yang seperti itu: akarnya kuat pada iman dan nilai-nilai Islam, tetapi cabang-cabangnya terus tumbuh mengikuti kebutuhan zaman.
Karena dunia yang akan dimasuki anak-anak kita mungkin belum bisa kita prediksi. Tetapi kita bisa mempersiapkan mereka dengan bekal yang tidak lekang oleh zaman: iman yang kokoh, akhlak yang baik, kemampuan belajar, keberanian menghadapi perubahan, dan hati yang selalu ingin memberikan manfaat.
16. Ketika sebuah program atau kebijakan sekolah tidak berjalan sesuai harapan, bagaimana Ibu menyikapinya?
Ketika sebuah program atau kebijakan tidak berjalan sesuai harapan, maka hal yang saya lakukan adalah bertanya pada diri saya sendiri “Apa yang dapat kami pelajari dari situasi ini?”
Saya ingin membangun budaya di mana evaluasi bukan ruang untuk menghakimi, tetapi ruang untuk belajar. Guru dan tim perlu merasa aman untuk mengatakan, ‘Bagian ini belum berjalan’, tanpa takut langsung disalahkan. Dari sana kami bisa melihat data, mendengarkan pengalaman guru, melihat respons anak, dan bila diperlukan meminta masukan dari Ayah Bunda. Setelah itu, kami mencoba membedakan: apa yang perlu diperbaiki, apa yang perlu disederhanakan, apa yang perlu dihentikan, dan apa yang justru perlu dilanjutkan dengan cara yang berbeda.
Saya juga berusaha menjaga agar evaluasi tetap kembali pada pertanyaan utama: “Apakah ini benar-benar memberikan dampak baik bagi anak?” Karena program sekolah bukan dibuat untuk membuat sekolah terlihat sibuk atau memiliki banyak kegiatan. Setiap kebijakan seharusnya bermuara pada tumbuh kembang anak.
Sebagai kepala sekolah, saya pun harus siap menerima bahwa tidak semua keputusan saya selalu benar. Memimpin bukan berarti harus selalu memiliki jawaban. Kadang-kadang justru kita perlu mengatakan, “Mari kita lihat lagi. Mungkin ada cara yang lebih baik. Bagaimana menurut analisa bapak ibu guru?” Saya ingin guru-guru juga belajar bahwa refleksi adalah bagian dari profesionalitas. Kita mencoba, mengamati, mengevaluasi, memperbaiki, lalu mencoba lagi. Begitu pula dalam mendampingi anak. Karena sekolah yang baik bukan sekolah yang tidak pernah mengalami kegagalan. Sekolah yang baik adalah sekolah yang mau belajar dari setiap kegagalan dan terbuka untuk memperbaiki diri.
17. Apa hal yang paling membuat Ibu merasa “inilah alasan saya menjadi pendidik”?
Ketika menjadi pendidik, saya senantiasa menyiapkan cermin di depan diri saya, bahwa saya harus terus mendidik diri. Dengan menjadi pendidik berarti saya diberi kesempatan untuk hadir pada fase kehidupan seseorang yang sangat penting. saya ikut menyaksikan ketika seorang anak sedang mencari tahu siapa dirinya, apa yang ia sukai, apa yang ia mampu, bagaimana ia menghadapi kesulitan, bagaimana ia memperlakukan orang lain, dan bagaimana ia belajar menjadi manusia.
Saya melihat setiap anak di sekolah bukan hanya sebagai siswa. Saya membayangkan, mereka adalah anak yang juga sangat dicintai oleh Ayah Bundanya. Ada keluarga yang menitipkan harapan kepada kami. Ada orang tua yang percaya bahwa sekolah akan membantu anaknya tumbuh menjadi pribadi yang baik.
Maka ketika melihat seorang anak berkembang meskipun mungkin hanya dalam hal kecil, saya merasa bahwa amanah ini begitu berharga. Ada anak yang hari ini akhirnya berani tampil di depan kelas. Ada yang mulai mampu meminta maaf. Ada yang belajar berbagi. Ada yang sebelumnya selalu mengatakan ‘aku tidak bisa’, kemudian mau mencoba sekali lagi. Ada yang menemukan bahwa ternyata ia memiliki bakat yang selama ini belum ia sadari.
Hal-hal kecil itulah yang sering kali menjadi kemenangan terbesar seorang pendidik. Ketika ia semakin dekat dengan Allah, semakin menghormati orang lain, semakin mandiri, dan mulai bertanya, ‘Apa yang bisa saya lakukan untuk membantu?’ Di situlah saya merasa bahwa pendidikan sedang benar-benar terjadi. Semoga dengan menjadi pendidik, saya ikut menyalakan cahaya kecil dalam diri setiap anak, membantu mereka percaya bahwa mereka berharga, mereka mampu, dan Allah menitipkan sesuatu yang istimewa dalam diri mereka.
Visi dan Pesan Bermakna Bu Ni’mah untuk Kakak Shalih-shalihah dan Ayah Bunda
18. Jika suatu hari anak-anak yang sekarang belajar di sini sudah dewasa, seperti apa sosok yang ingin Ibu lihat dari mereka?
Saya berharap dimanapun mereka berada kelak, mereka membawa jejak dari nilai-nilai yang pernah mereka dapatkan di sekolah, berupa iman, akhlak, kemauan untuk belajar, peduli dan yakin bahwa dirinya mampu memberikan manfaat. Semoga mereka menjadi pribadi yang dekat dengan Allah, anak yang ketika memiliki ilmu, tidak menjadikannya alasan untuk merasa lebih tinggi, justru semakin rendah hati dan semakin ingin bermanfaat. Menjadi orang yang percaya diri tetapi tidak sombong, mampu memimpin tetapi juga mau melayani, memiliki prinsip tetapi tetap terbuka untuk belajar, teguh dan tangguh saat menghadapi tantangan.
19. Apa yang ingin Ibu wariskan kepada SD Islam Bintang Juara selama mendapat amanah sebagai Kepala Sekolah?
Kalau suatu hari nanti amanah saya sebagai Kepala Sekolah di Bintang Juara selesai, saya berharap tidak hanya meninggalkan program atau capaian. Saya ingin meninggalkan budaya. Budaya yang membuat setiap orang di sekolah memaknai bahwa setiap anak adalah amanah, setiap anak memiliki potensi, dan setiap anak berhak bertumbuh dengan cara terbaiknya.
Saya juga ingin meninggalkan budaya belajar dan bertumbuh bersama. Saya berharap guru-guru di Bintang Juara tidak pernah merasa bahwa mereka sudah selesai belajar. Mereka terus belajar, mencoba, memperbaiki, dan saling menguatkan. Karena sekolah yang baik bukan sekolah yang merasa sudah hebat, tetapi sekolah yang selalu merasa masih punya ruang untuk menjadi lebih baik.
Saya ingin budaya kerja yang saya tinggalkan adalah budaya yang memiliki standar yang tinggi, tetapi tidak kehilangan empati. Kita boleh mengejar prestasi, tetapi jangan mengorbankan proses tumbuh anak. Kita boleh berbeda pendapat, tetapi tetap saling menghormati.
Saya juga berharap dapat meninggalkan budaya kolaborasi yang kuat dengan Ayah Bunda. Bahwa sekolah dan keluarga bukan dua pihak yang saling menuntut, tetapi dua pihak yang bergandengan tangan karena memiliki tujuan yang sama: memberikan yang terbaik untuk anak.
Dan yang paling saya harapkan, saya ingin meninggalkan semangat untuk terus menjaga ruh Bintang Juara. Bahwa di tengah perubahan zaman, teknologi, tuntutan prestasi, dan berbagai perkembangan pendidikan, kita tidak kehilangan akar yakni iman, Al-Qur’an dan Hadits, adab, cinta kepada anak, dan keyakinan bahwa setiap anak adalah bintang.
Semoga ketika suatu hari saya sudah tidak lagi berada pada amanah ini, nilai-nilai baik yang pernah kita perjuangkan tetap hidup bahkan tumbuh lebih besar daripada ketika saya masih menjabat. Saya ingin terus melihat guru-gurunya masih saling menguatkan, anak-anaknya masih belajar dengan bahagia dan bermakna, Ayah Bunda masih merasa menjadi bagian dari perjalanan pendidikan, dan setiap orang masih percaya bahwa pendidikan adalah tentang menumbuhkan manusia.
Mungkin itulah warisan yang paling ingin saya tinggalkan. Karena pada akhirnya, jabatan kepala sekolah akan selesai, tetapi budaya yang kita bangun semoga terus berjalan. Program bisa berganti, pemimpin bisa berganti, generasi bisa berganti tetapi semangat untuk menjadikan Bintang Juara sebagai rumah tumbuh bagi anak-anak dan setiap orang yang ada dalam naungannya semoga tidak pernah berhenti. Jika kelak Bintang Juara menjadi sekolah yang terus bertumbuh, tetapi tetap hangat, berakar pada iman, menghargai setiap anak, dan melahirkan manusia-manusia yang membawa manfaat bagi kehidupan, saya akan merasa bahwa amanah ini telah meninggalkan jejak yang berarti.
20. Jika harus menyampaikan satu pesan kepada setiap anak dan Ayah Bunda di SD Islam Bintang Juara, apa yang ingin Ibu katakan?
Untuk anak-anak tersayang, jangan pernah lalai tempat kembali kita melalui sujud terdalam kita kepada Allah. Nak, setiap dari kalian jika hari ini belum bisa, bukan berarti tidak mampu. Kalian butuh waktu untuk mengenali diri kalian, kembangkan dan pantang menyerahlah, suatu saat akan ada hasil dari apa yang kalian upayakan. Setiap orang punya waktunya sendiri untuk tumbuh, dan Allah telah menyiapkan jalannya melalui ikhtiar yang kalian lakukan. Jadilah anak yang tidak hanya menjadi pintar sesuai potensi kalian, tetapi juga menjadi bermanfaat dengan ilmu yang membuat kalian semakin dekat dengan Allah. Nak, setiap kalian adalah bintang, yang memiliki cahayanya sendiri.
Untuk Ayah Bunda, terimakasih telah menjadi partner tumbuh bersama menjadi orangtua. Ayah Bunda, saya tahu menjadi orangtua tidaklah mudah, tapi mari kita upayakan untuk menjadi orangtua yang mau belajar. Belajar hadir, belajar mendengarkan, belajar memaknai proses anak-anak kita. Setiap perkembangan kecil hari ini ada upaya besar dari mereka, dan juga sebuah kemenangan besar yang berarti bagi anak kita. Kita perlu mengingat bahwa pendidikan adalah perjalanan bukan perlombaan. Semoga Allah selalu memampukan kita senantiasa bersyukur menjadi orangtua dan menguatkan diri kita agar amanah mengemban tanggungjawab sebagai orangtua.
MasyaAllah… jawaban-jawaban Bu Ni’mah memberikan secercah cahaya bagi Ayah Bunda yang masih bertanya-tanya bagaimana sih kurikulum SD Islam Bintang Juara dibuat, seperti apa sih orang-orang di baliknya. Dan seperti inilah sosok yang diamanahi menjadi pemimpin di sekolah ini. InsyaAllah melalui tanya jawab ini bisa memberikan gambaran bagaimana ruang tumbuh di Sekolah Islam Bintang Juara dibangun. Bukan hanya untuk muridnya, tetapi juga untuk guru dan orang tuanya.
Pada akhirnya, sekolah bukanlah tempat yang pernah benar-benar selesai belajar. Ada anak yang terus bertumbuh, guru yang terus belajar, orang tua yang terus membersamai, dan sistem pendidikan yang perlu terus dievaluasi agar tetap relevan dengan kebutuhan zaman. Melalui perjalanan dan pemikiran Bu Ni’mah, kita kembali diingatkan bahwa menjadi Sekolah Calon Pemimpin Muslim bukan sekadar tentang capaian hari ini, tetapi tentang bagaimana seluruh ekosistem sekolah terus bertumbuh dengan tetap berpegang pada nilai-nilai Islam. Sebab bagi SD Islam Bintang Juara, setiap proses belajar, setiap refleksi, dan setiap upaya memperbaiki diri pada akhirnya bermuara pada satu tujuan: membersamai setiap anak untuk tumbuh sebagai pribadi yang berilmu, berakhlakul karimah, dan bermanfaat.*** (CM-MRT)
by admin admin | Aug 21, 2026 | Artikel, Berita, Berita Utama, Prestasi
Alhamdulillahirabbil‘alamin. Baarakallah, Kak Kia!
Kabar membanggakan kembali hadir dari keluarga besar SD Islam Bintang Juara. Salah satu kakak shalihah, Kak Kia, berhasil membawa nama Kota Semarang hingga ke panggung Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) tingkat nasional.
Perjalanan tersebut bukanlah perjalanan singkat.
Setelah melewati rangkaian kompetisi dari tingkat kecamatan hingga kota, Kak Kia akhirnya berhasil melaju ke tingkat nasional dan berkesempatan bertanding bersama siswa-siswa terbaik dari berbagai daerah di Indonesia.
Di tingkat nasional, Kak Kia berhasil menorehkan prestasi dengan meraih peringkat 4 dan peringkat 6.
Sebuah pencapaian yang tentu sangat membanggakan.
Namun, di balik pencapaian tersebut terdapat cerita yang jauh lebih panjang: tentang proses belajar, latihan, keberanian mencoba, dan konsistensi yang telah dibangun sejak usia dini.
Belajar Renang Sejak TK
Perjalanan Kak Kia dalam dunia renang ternyata telah dimulai sejak jenjang Taman Kanak-Kanak (TK).
Sejak usia dini, Kak Kia sudah mulai belajar dan mengenal olahraga renang. Apa yang pada awalnya mungkin hanya menjadi sebuah aktivitas untuk belajar berenang, perlahan berkembang menjadi kemampuan yang terus diasah.
Tahun demi tahun, pengalaman Kak Kia di dunia renang semakin bertambah. Dari belajar mengenal air, memahami teknik dasar, berlatih secara rutin, hingga akhirnya berani mengikuti kompetisi.
Proses panjang tersebut menjadi salah satu pengingat bahwa sebuah prestasi sering kali tidak lahir secara instan.
Apa yang terlihat hari ini sebagai seorang siswa yang mampu bertanding di tingkat nasional, sebenarnya merupakan hasil dari proses yang telah dimulai sejak bertahun-tahun sebelumnya.
Sedikit demi sedikit. Latihan demi latihan. Pengalaman demi pengalaman. Hingga akhirnya, kesempatan besar itu datang.
Dari Kecamatan, Kota, hingga Nasional
Untuk mencapai O2SN tingkat nasional, Kak Kia harus melewati serangkaian tahapan kompetisi.
Perjalanan dimulai dari tingkat kecamatan. Setelah berhasil melewati tahap tersebut, perjuangan berlanjut ke tingkat Kota Semarang. Di setiap jenjang, tantangan semakin besar.
Peserta yang dihadapi semakin beragam. Persaingan semakin ketat. Tekanan pertandingan pun bisa semakin terasa. Namun, Kak Kia terus melangkah.
Hingga akhirnya berhasil mendapatkan kesempatan untuk mewakili Kota Semarang di O2SN tingkat nasional. Sampai pada tahap ini saja sudah merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa.
Sebab, perjalanan menuju tingkat nasional bukan hanya tentang kemampuan teknis dalam olahraga. Ada proses seleksi, latihan, persiapan mental, kedisiplinan, dan keberanian untuk tampil di tengah persaingan yang semakin tinggi.
Bertanding di Panggung Nasional
Tingkat nasional menjadi pengalaman baru bagi Kak Kia. Bertemu dengan peserta dari berbagai daerah di Indonesia memberikan kesempatan untuk melihat kemampuan yang lebih beragam sekaligus belajar dari pengalaman orang lain.
Di tengah kompetisi tersebut, Kak Kia berhasil menempati peringkat 4 dan peringkat 6.
Hasil ini menjadi pencapaian yang sangat membanggakan bagi Kak Kia, keluarga, dan seluruh keluarga besar SD Islam Bintang Juara.
Namun, pencapaian tersebut bukan hanya tentang angka di papan peringkat.
- Ada keberanian yang telah dibangun.
- Ada pengalaman yang telah didapat.
- Ada proses latihan yang telah dilalui.
Dan ada pelajaran yang akan terus dibawa bahkan setelah kompetisi selesai.
O2SN Bukan Hanya Tentang Menang dan Kalah
Ajang O2SN memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan potensi olahraga sekaligus belajar berbagai nilai kehidupan. Dalam olahraga, anak belajar bahwa kemampuan perlu dilatih.
- Mereka belajar bahwa hasil tidak selalu datang sesuai harapan.
- Mereka belajar menerima kemenangan tanpa menjadi tinggi hati dan menerima kekalahan tanpa kehilangan semangat.
- Mereka juga belajar bahwa setiap pertandingan memiliki cerita.
- Ada hari ketika latihan terasa mudah.
- Ada hari ketika tubuh terasa lelah.
- Ada momen ketika hasil latihan mulai terlihat.
- Ada pula saat ketika hasil pertandingan belum sesuai dengan target.
Semua pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses tumbuh.
Karena itulah, olahraga di usia sekolah tidak hanya berbicara mengenai prestasi. Olahraga juga dapat menjadi ruang untuk membangun disiplin, ketekunan, sportivitas, keberanian, tanggung jawab, dan daya juang.
Prestasi Hari Ini, Proses yang Dimulai Sejak Dini
Perjalanan Kak Kia juga memberikan satu pelajaran penting bagi kita sebagai orang tua dan pendidik.
Potensi anak perlu diberi ruang untuk tumbuh.
Ketika anak menunjukkan ketertarikan terhadap suatu bidang, kesempatan untuk mencoba dan berlatih dapat menjadi awal dari perjalanan yang panjang.
Tidak semua anak yang belajar olahraga sejak dini akan menjadi atlet. Tidak semua anak yang mengikuti kompetisi akan langsung meraih juara.
Dan itu tidak masalah. Yang terpenting adalah anak mendapatkan kesempatan untuk mengenali dirinya sendiri.
- Apa yang ia sukai?
- Apa yang ingin ia pelajari?
- Apa yang ingin ia kembangkan?
Dari proses tersebut, anak dapat belajar mengenali potensi sekaligus membangun kepercayaan diri.
Kisah Kak Kia menjadi contoh bahwa sesuatu yang dimulai sederhana sejak TK dapat berkembang menjadi pengalaman luar biasa ketika terus dirawat melalui proses dan latihan.
Juara Bukan Hanya Tentang Seberapa Tinggi Podium
Peringkat 4 dan 6 di tingkat nasional tentu patut dirayakan. Namun, ada pesan yang lebih besar dari sekadar peringkat tersebut.
- Juara bukan tentang seberapa tinggi podium.
- Juara adalah ketika seorang anak berani mencoba.
- Juara adalah ketika ia mau terus berlatih meskipun tidak selalu mudah.
- Juara adalah ketika ia mampu bangkit setelah menghadapi tantangan.
- Dan juara adalah ketika ia terus berusaha menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri. Karena setiap anak memiliki garis start yang berbeda.
Ada yang lebih dulu menemukan bakatnya. Ada yang membutuhkan waktu lebih panjang. Ada yang langsung percaya diri. Ada pula yang membutuhkan dukungan lebih banyak untuk berani tampil.
Tugas kita bukan membandingkan perjalanan mereka. Tugas kita adalah mendampingi mereka agar terus bertumbuh.
Terima Kasih untuk Setiap Dukungan
Prestasi Kak Kia tentu tidak lahir dari perjuangannya seorang diri.
- Ada orang tua yang mendampingi dan memberikan dukungan.
- Ada pelatih yang membantu mengembangkan kemampuan.
- Ada guru yang memberikan semangat.
- Ada keluarga dan teman-teman yang terus memberikan doa dan dukungan.
Setiap dukungan tersebut menjadi bagian dari perjalanan hingga Kak Kia mampu berdiri di panggung O2SN tingkat nasional.
Untuk seluruh pihak yang telah mendampingi perjalanan Kak Kia, terima kasih atas setiap waktu, tenaga, doa, dan kepercayaan yang diberikan. Semoga setiap kebaikan tersebut menjadi keberkahan.
Baarakallah, Kak Kia! Terima kasih telah membawa nama Kota Semarang hingga ke tingkat nasional. Terima kasih telah memberikan ikhtiar terbaik. Terima kasih telah menunjukkan bahwa perjalanan panjang yang dimulai sejak dini dapat membawa kita menuju pengalaman-pengalaman luar biasa.
Peringkat 4 dan 6 adalah sebuah pencapaian yang membanggakan. Namun, pengalaman dan pelajaran yang Kak Kia dapatkan sepanjang perjalanan tentu jauh lebih berharga.
Semoga prestasi ini menjadi pijakan untuk terus melangkah, bukan alasan untuk berhenti.
- Teruslah berlatih dengan tekun.
- Teruslah belajar dengan rendah hati.
- Teruslah berani mencoba.
- Dan tetaplah menikmati setiap prosesnya.
Untuk Kak Kia dan seluruh kakak shalih-shalihah SD Islam Bintang Juara:
Tidak harus selalu menjadi yang pertama untuk menjadi juara. Karena juara adalah mereka yang berani mencoba, memberikan ikhtiar terbaik, dan terus bertumbuh menjadi versi terbaik dirinya.
Semoga semakin banyak Langkah Juara yang lahir dari SD Islam Bintang Juara. Bintang Juara — tumbuh dengan iman, unggul dengan ilmu, santun dalam akhlak, dan berdampak bagi sesama.*** (CM-MRT)
by admin admin | Aug 19, 2026 | Artikel, Berita Utama, Prestasi
Alhamdulillahirabbil‘alamin! Kabar membanggakan kembali datang dari keluarga besar SD Islam Bintang Juara. Kakak-kakak shalih dan shalihah yang menjadi delegasi dalam ajang MAPSI (Mata Pelajaran dan Seni Islami) berhasil membawa pulang 9 piala dari berbagai cabang lomba.
Prestasi ini menjadi bukti bahwa setiap anak memiliki potensi untuk bersinar ketika diberikan kesempatan, pendampingan, dan ruang untuk berkembang. Bukan hanya tentang memenangkan perlombaan, perjalanan kakak-kakak delegasi MAPSI juga menjadi proses belajar untuk berani tampil, berlatih dengan tekun, menjaga semangat, dan memberikan ikhtiar terbaik.
Yang lebih membanggakan, capaian tersebut membawa delegasi SD Islam Bintang Juara melaju ke tingkat MAPSI Kota Semarang.
9 Piala dari Berbagai Cabang Lomba MAPSI Kecamatan Gunungpati
Sembilan prestasi berhasil diraih kakak-kakak shalih dan shalihah dalam berbagai cabang MAPSI Kecamatan Gunungpati. Berikut daftar lengkapnya:
- PAI-BTQ Putra Juara I – Kak Akhtar Kelas 6
- PAI-BTQ Putri Juara II – Kak Hya Kelas 6
- Shalat Putra Juara II – Kak Rafif Al Kelas 4
- TIKI Putra Juara III – Kak Arkan Kelas 6
- Rebana Juara I – An Najma
- Hifdzil Putra Juara II – Kak Ahmar Azzam Kelas 5
- Hifdzil Putri Juara I – Kak Nura Kelas 3
- Khitobah Putra Juara II – Kak Ihsan Kelas 4
- Khitobah Putri Juara I – Kak Aleena Kelas 5
Dari sembilan capaian tersebut, terdapat beberapa Juara I yang berhasil diraih dalam cabang PAI-BTQ Putra, Rebana, Hifdzil Putri, dan Khitobah Putri.
Setiap piala tentu memiliki cerita. Ada waktu yang digunakan untuk berlatih, mengulang materi, memperbaiki teknik, belajar mengendalikan rasa gugup, hingga mempersiapkan diri agar dapat tampil sebaik mungkin di hadapan para juri.
Karena itu, setiap piala yang dibawa pulang bukan sekadar benda penghargaan. Di baliknya terdapat proses panjang yang layak diapresiasi.
MAPSI, Ruang Mengembangkan Potensi Islami Anak
MAPSI atau Mata Pelajaran dan Seni Islami menjadi salah satu ruang bagi siswa untuk mengembangkan berbagai potensi yang berkaitan dengan pendidikan agama Islam dan seni Islami.
Beragam cabang yang diikuti kakak-kakak SD Islam Bintang Juara menunjukkan bahwa kemampuan anak dalam pendidikan Islam dapat berkembang melalui berbagai bentuk.
Ada yang mengasah kemampuan membaca dan memahami Al-Qur’an melalui PAI-BTQ. Ada yang memperkuat hafalan melalui Hifdzil Qur’an. Ada pula yang belajar menyampaikan pesan kebaikan melalui Khitobah.
Sementara itu, cabang seperti shalat, TIKI, dan rebana memberikan pengalaman yang berbeda. Anak belajar mempraktikkan pengetahuan, menunjukkan keterampilan, bekerja bersama, serta tampil percaya diri.
Dengan demikian, kompetisi seperti MAPSI dapat menjadi bagian dari pengalaman belajar yang lebih luas. Anak tidak hanya belajar mengenai teori, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk mempraktikkan kemampuan yang telah dipelajari.
Dari Latihan Menjadi Pengalaman Berharga
Setiap prestasi yang terlihat di atas panggung sebenarnya dimulai dari proses yang sederhana: latihan.
Anak perlu mengulang materi, mencoba kembali ketika melakukan kesalahan, menerima masukan dari guru, dan berlatih hingga semakin percaya diri.
Dalam proses tersebut, anak belajar bahwa hasil yang baik membutuhkan usaha. Mereka juga belajar bahwa kemampuan tidak selalu langsung muncul dalam satu kali latihan. Ada kalanya anak merasa kesulitan. Ada kalanya rasa percaya diri naik turun. Bahkan, ada kemungkinan hasil yang diperoleh belum sesuai dengan harapan.
Namun, justru dari proses itulah karakter dapat tumbuh. Anak belajar disiplin, tanggung jawab, ketekunan, keberanian, dan kemampuan menerima hasil dengan lapang dada.
Nilai-nilai tersebut jauh lebih panjang manfaatnya dibandingkan sekadar sebuah piala.
Bukan Hanya Tentang Siapa yang Menjadi Juara
Dalam sebuah perlombaan, tentu ada yang mendapatkan Juara I, II, III, dan seterusnya. Namun, pendidikan mengajarkan kita bahwa keberhasilan anak tidak selalu dapat diukur dari posisi yang tertera di papan pengumuman.
Bagi kakak-kakak yang berhasil meraih juara, prestasi ini adalah buah dari ikhtiar yang patut disyukuri sekaligus menjadi motivasi untuk terus belajar dan meningkatkan kemampuan.
Sementara bagi kakak-kakak yang belum berhasil membawa pulang piala, jangan berkecil hati. Kalian tetaplah Bintang dan Juara.
Mengapa?
Karena keberanian untuk mengikuti perlombaan, kesediaan untuk berlatih, keberanian tampil di depan orang lain, serta usaha memberikan kemampuan terbaik merupakan sebuah kemenangan tersendiri.
Tidak semua usaha langsung menghasilkan piala. Terkadang, hasil dari sebuah perjuangan hadir dalam bentuk pengalaman, keberanian yang bertambah, kemampuan yang semakin terasah, atau pelajaran berharga yang akan berguna di kemudian hari.
Melesat ke MAPSI Tingkat Kota Semarang
Sembilan prestasi yang berhasil diraih menjadi langkah berikutnya bagi delegasi SD Islam Bintang Juara untuk melanjutkan perjuangan ke MAPSI tingkat Kota Semarang.
Tantangan tentu akan semakin beragam. Peserta yang dihadapi juga akan datang dari berbagai sekolah dengan kemampuan terbaik masing-masing. Namun, semangat yang perlu dibawa bukan hanya semangat untuk menjadi juara.
Lebih dari itu, kakak-kakak delegasi diharapkan dapat membawa semangat untuk belajar, berani mencoba, menjaga adab, dan memberikan ikhtiar terbaik.
Menang adalah sebuah kebahagiaan. Tetapi proses menuju kemenangan juga merupakan bagian penting dari perjalanan pendidikan.
Di tingkat kota nanti, semoga pengalaman dari tahap sebelumnya menjadi bekal untuk tampil lebih percaya diri. Kesalahan yang pernah terjadi dapat menjadi bahan evaluasi, sementara keberhasilan yang sudah diraih menjadi motivasi untuk terus berkembang.
Terima Kasih, Para Pejuang MAPSI!
Prestasi sembilan piala ini tentu tidak lahir dari perjuangan siswa seorang diri.
Ada guru yang mendampingi, melatih, memberikan arahan, dan menyemangati. Ada orang tua yang memberikan dukungan dari rumah. Ada teman-teman yang ikut memberikan semangat. Ada pula seluruh keluarga besar SD Islam Bintang Juara yang turut mendoakan.
Untuk itu, terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh kakak delegasi, guru pendamping, orang tua, dan semua pihak yang telah memberikan dukungan dalam perjalanan MAPSI ini.
Semoga setiap langkah yang telah dilalui menjadi pengalaman yang bermakna dan membawa keberkahan.
Untuk kakak-kakak yang akan melanjutkan perjuangan ke MAPSI tingkat Kota Semarang, terus semangat! Berlatih dengan sungguh-sungguh, tampil dengan percaya diri, tetap rendah hati, dan jangan lupa menikmati prosesnya.
Dan untuk seluruh kakak shalih-shalihah yang telah berjuang:
Tidak apa-apa jika hari ini belum membawa pulang piala. Kalian tetaplah Bintang. Kalian tetaplah Juara. Karena di SD Islam Bintang Juara, kami percaya bahwa setiap anak memiliki cahaya dan potensi untuk bersinar dengan caranya masing-masing.
Selamat atas 9 piala yang diraih! Terus bertumbuh, terus berproses, dan terus memberikan ikhtiar terbaik. Bintang Juara, berprestasi dengan ilmu, tumbuh dalam iman, dan berakhlak mulia.*** (CM-MRT)
by admin admin | Aug 12, 2026 | Berita, Berita Utama, Kegiatan Siswa
BBOT Kelas 6 kali ini menggambarkan ketika jajanan tradisional menjadi pintu masuk belajar budaya. Diawali dengan “Ini namanya apa, Kak?”
Pertanyaan sederhana itu ternyata bisa membawa kakak shalih-shalihah kelas 6 SD Islam Bintang Juara pada sebuah perjalanan belajar yang cukup panjang.
Pada Rabu, 12 Agustus 2026, kegiatan BBOT (Belajar Bersama Orang Tua) Kelas 6 menghadirkan Bunda Milan Indriani, bunda dari Kak Arkan, dengan tema “Warisan Rasa, Warisan Bangsa: Mengenal, Mencintai, dan Melestarikan Kuliner Tradisional Jawa Tengah.”
Sekilas, kegiatan ini mungkin terlihat seperti sesi mengenal makanan tradisional. Ada jajanan yang dibawa ke kelas, ada kegiatan mencicipi, ada tebak-tebakan bahan makanan, hingga berdiskusi tentang tepung.
Namun, seperti halnya pembelajaran yang bermakna, ada hal yang lebih besar di balik setiap kegiatan.
Kali ini, kakak shalih-shalihah diajak menyadari bahwa makanan bukan sekadar sesuatu yang kita makan. Di baliknya ada bahan pangan, pengetahuan, kebiasaan, budaya, bahkan cerita tentang bagaimana masyarakat Indonesia memanfaatkan kekayaan alam di sekitarnya.
Dan menariknya, kegiatan BBOT kali ini juga menjadi bagian dari Project Based Learning (PBL) kelas 6 dalam rangka mengenal dan menjaga warisan budaya.
Dari Jajanan Tradisional, Anak Diajak Mengenal Kekayaan Indonesia
Bunda Milan membawa berbagai jajanan tradisional untuk diperkenalkan secara langsung kepada kakak shalih-shalihah.
Bukan hanya melihat melalui gambar atau membaca namanya dari buku, anak-anak mendapatkan kesempatan untuk melihat, mengenali, bahkan mencicipi makanan tersebut.
Ternyata, tidak semua anak sudah mengenal jajanan tradisional yang diperkenalkan.
Ada yang bahkan menyebut lopis sebagai lontong.
Momen seperti inilah yang justru menjadi bagian menarik dari pembelajaran. Sebab, ketidaktahuan bukan sesuatu yang perlu ditertawakan. Ia bisa menjadi awal dari sebuah rasa ingin tahu.
“Ini sebenarnya terbuat dari apa?”
Pertanyaan pun bermunculan.
Kakak shalih-shalihah kemudian diajak menebak bahan yang digunakan untuk membuat makanan tersebut. Jika belum mengetahui jawabannya, mereka dapat mencari informasi menggunakan laptop.
Di sini, proses belajar tidak berhenti pada “tahu nama makanan”. Anak-anak diajak mencari tahu, bertanya, membandingkan informasi, dan menemukan jawaban.
Sebuah jajanan sederhana akhirnya menjadi pintu masuk untuk belajar lebih banyak tentang bahan pangan lokal.
Mengenal Tepung dan Karakteristiknya
Pembelajaran kemudian berlanjut pada salah satu bahan penting dalam berbagai olahan makanan, yaitu tepung. Bunda Milan mengenalkan beberapa jenis tepung, di antaranya tepung tapioka, tepung jagung, tepung singkong, dan tepung kentang.
Kakak shalih-shalihah tidak hanya dikenalkan dengan namanya. Mereka juga diajak memahami bahwa setiap jenis tepung memiliki karakteristik yang berbeda.
- Bagaimana cara membedakannya?
- Apa bahan dasarnya?
- Bagaimana tekstur masing-masing tepung?
- Dan bagaimana karakteristik tersebut memengaruhi penggunaannya dalam membuat makanan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat pembelajaran kuliner menjadi semakin luas.
Dari satu bahan, anak-anak dapat belajar tentang sains sederhana, sumber pangan, proses pengolahan, hingga kreativitas dalam membuat makanan. Di sinilah pembelajaran berbasis proyek menjadi menarik.
Satu tema tidak berdiri sendiri.
Belajar budaya dapat bertemu dengan ilmu pengetahuan. Belajar makanan dapat terhubung dengan teknologi. Belajar tentang bahan pangan dapat mengantarkan anak pada pembahasan kesehatan dan keberlanjutan.
Indonesia Punya Banyak Pilihan Sumber Karbohidrat
Salah satu hal penting yang ditemukan kakak shalih-shalihah dari kegiatan ini adalah bahwa sumber karbohidrat di Indonesia ternyata sangat beragam.
Selama ini, anak mungkin lebih akrab dengan nasi atau produk berbahan tepung tertentu. Padahal, Indonesia memiliki begitu banyak bahan pangan yang dapat diolah menjadi makanan.
Dari kegiatan BBOT ini, kakak shalih-shalihah diajak melihat bahwa bahan pangan lokal memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan.
Bahan yang selama ini mungkin dianggap sederhana dapat diolah menjadi makanan yang lebih modern, menarik, dan tetap memperhatikan aspek kesehatan.
Pesan ini menjadi penting untuk generasi muda.
Melestarikan kuliner tradisional bukan berarti harus selalu menyajikannya dengan cara yang sama persis seperti dahulu. Tradisi dapat terus hidup ketika generasi baru mau mengenalnya, menghargainya, kemudian menemukan cara kreatif untuk mengembangkannya.
Dengan begitu, warisan budaya tidak berhenti sebagai sesuatu yang hanya dikenang. Ia terus bergerak bersama zaman.

Ketika Junk Food Bertemu Bahan Lokal
Menariknya, sesi BBOT tidak ditutup hanya dengan kesimpulan tentang makanan tradisional. Bunda Milan justru memberikan sebuah tantangan kepada kakak shalih-shalihah.
Bagaimana jika junk food dibuat dari bahan-bahan lokal?
Pertanyaan ini menjadi pemantik bagi anak-anak untuk berpikir lebih jauh.
Selama ini, junk food sering diasosiasikan dengan makanan modern yang kurang sehat. Namun, bagaimana jika bahan-bahan lokal Indonesia digunakan untuk menciptakan makanan yang lebih sehat sekaligus tetap menarik bagi anak-anak?
Di sinilah kreativitas mulai mendapatkan ruang.
Anak-anak dapat membayangkan berbagai kemungkinan: bagaimana bahan lokal dapat dikemas dengan cara kekinian, bagaimana makanan tradisional bisa dibuat lebih menarik, dan bagaimana sebuah inovasi makanan tetap dapat membawa cerita tentang budaya Indonesia.
Pertanyaan tersebut bukan sekadar tugas membuat makanan. Lebih dari itu, anak diajak menjadi pemecah masalah.
Mereka belajar bahwa menjaga budaya tidak selalu berarti hanya mempertahankan sesuatu seperti bentuk aslinya. Ada kalanya budaya perlu dikenalkan kembali melalui bahasa dan bentuk yang dekat dengan generasi hari ini.
Belajar Bersama Orang Tua, Belajar dari Pengalaman Nyata
BBOT menjadi salah satu ruang istimewa dalam proses pendidikan di SD Islam Bintang Juara karena pembelajaran tidak hanya berlangsung bersama guru. Orang tua juga hadir membawa pengalaman, pengetahuan, dan keahliannya untuk dibagikan kepada anak-anak.
Kehadiran Bunda Milan dalam kegiatan kali ini memperlihatkan bahwa orang tua dapat menjadi bagian penting dari ekosistem belajar anak. Anak-anak tidak hanya belajar dari buku teks, tetapi juga dari pengalaman nyata orang-orang di sekitarnya.
Ketika seorang ibu membawa makanan tradisional ke kelas, anak-anak bukan hanya mendapatkan kesempatan untuk mencicipi. Mereka juga mendapatkan kesempatan untuk bertanya, berdiskusi, mencari informasi, dan melihat sebuah persoalan dari berbagai sudut pandang.
Inilah pembelajaran yang terasa dekat dengan kehidupan.
Dan ketika pembelajaran tersebut menjadi bagian dari Project Based Learning, anak-anak tidak hanya diarahkan untuk mengetahui sesuatu, tetapi juga untuk memikirkan apa yang dapat mereka lakukan setelah mengetahuinya.
Warisan Rasa yang Perlu Dijaga Bersama
Ada satu hal yang mungkin terlihat sederhana dari kegiatan hari ini: anak-anak mengenal jajanan tradisional. Tetapi jika ditarik lebih jauh, ada pertanyaan yang jauh lebih besar.
Kalau bukan generasi muda yang mengenal makanan tradisional Indonesia, lalu siapa yang akan melanjutkan ceritanya?
Warisan budaya tidak selalu hadir dalam bentuk bangunan bersejarah atau benda-benda kuno. Ia juga dapat hadir di meja makan, dalam resep keluarga, dalam bahan pangan lokal, dan dalam makanan yang dibuat oleh tangan-tangan masyarakat dari generasi ke generasi.
Karena itu, mengenal kuliner tradisional adalah salah satu cara untuk mengenal identitas bangsa. Dan mencintainya tidak cukup hanya dengan mengatakan bahwa makanan tradisional itu enak.
Anak-anak perlu diberi kesempatan untuk mengenal asalnya, memahami prosesnya, mengetahui bahan-bahannya, menghargai orang-orang yang menjaganya, dan menemukan cara agar warisan tersebut tetap relevan di masa depan.
Itulah semangat yang ingin ditumbuhkan melalui tema “Warisan Rasa, Warisan Bangsa.”
Dari Kelas 6, Menjadi Generasi yang Menjaga Warisan
Kegiatan BBOT Kelas 6 bersama Bunda Milan Indriani menjadi salah satu pengalaman belajar yang mempertemukan budaya, ilmu pengetahuan, kesehatan, kreativitas, dan kepedulian terhadap keberlanjutan.
Kakak shalih-shalihah belajar bahwa Indonesia memiliki kekayaan pangan yang luar biasa. Mereka juga belajar bahwa bahan-bahan lokal dapat diolah dengan cara yang kreatif dan modern tanpa kehilangan nilai budayanya.
Lebih dari itu, mereka diajak untuk melihat warisan budaya bukan sebagai sesuatu yang hanya dimiliki oleh masa lalu. Warisan budaya adalah amanah untuk generasi hari ini.
Dan mungkin, suatu hari nanti, dari pertanyaan sederhana tentang “lopis itu apa?”, akan lahir sebuah ide besar tentang bagaimana makanan lokal Indonesia bisa menjadi makanan sehat yang dikenal lebih luas.
Sebab di SD Islam Bintang Juara, belajar bukan hanya tentang mengumpulkan pengetahuan.
Belajar adalah tentang menumbuhkan rasa ingin tahu, menemukan solusi, berkarya, lalu menghadirkan manfaat. Dari warisan rasa, semoga tumbuh rasa cinta. Dari rasa cinta, semoga lahir kepedulian.
Dan dari kepedulian, semoga lahir generasi Bintang Juara yang tidak hanya mengenal warisan bangsanya, tetapi juga berani menjadi bagian dari orang-orang yang menjaganya.*** (CM-MRT)
by admin admin | Aug 10, 2026 | Artikel, Berita, Berita Utama, Kegiatan Siswa
Selama ini, mungkin batik lebih sering dikenal kakak shalih-shalihah melalui buku pelajaran, gambar, atau kain yang mereka kenakan pada hari tertentu di sekolah. Namun, bagaimana jika mereka bisa melihat langsung proses di balik selembar kain batik?
Bagaimana jika mereka dapat menyentuh bahan pewarna alaminya, mencoba membuat pola, memegang canting, melihat proses pewarnaan, hingga memahami bagaimana limbah produksi batik dapat diolah kembali?
Pengalaman itulah yang didapatkan kakak shalih-shalihah kelas 6 SD Islam Bintang Juara dalam Outing Class ke Galeri Batik Zie pada Senin, 10 Agustus 2026.
Berlokasi di Kampung, Jl. Malon, RT 03/RW 06, Gunungpati, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, Jawa Tengah 50225, kunjungan ini menjadi bagian dari Project Based Learning (PjBL) “Pengenalan Warisan Budaya”.
Bukan sekadar berjalan-jalan, kegiatan ini dirancang agar anak-anak dapat mengenal warisan budaya Indonesia melalui pengalaman nyata. Sebab, mengenal budaya tidak cukup hanya dengan mengetahui namanya. Anak-anak juga perlu memahami proses, sejarah, nilai, dan orang-orang yang menjaganya agar tetap hidup.
Mengenal Sejarah Batik dari Galeri Batik Zie
Sesampainya di Galeri Batik Zie, perjalanan belajar dimulai dari sebuah cerita.
Kakak shalih-shalihah diajak berkenalan dengan sejarah Zie Batik dan perjalanan galeri tersebut dalam menjaga tradisi membatik. Salah satu hal yang menarik perhatian adalah bahwa galeri ini telah berdiri sebelum UNESCO mengakui batik sebagai warisan budaya.
Dari sini, anak-anak diajak melihat bahwa sebuah warisan budaya tidak tiba-tiba menjadi terkenal dan kemudian perlu dilestarikan. Ada proses panjang, ada orang-orang yang memilih untuk terus berkarya, dan ada generasi yang mau belajar untuk meneruskannya.
Batik bukan hanya tentang motif yang indah. Di balik setiap kain, ada pengetahuan, keterampilan, ketekunan, kreativitas, dan cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Inilah salah satu nilai penting yang ingin dikenalkan melalui Project Based Learning “Pengenalan Warisan Budaya”. Anak-anak tidak hanya bertanya, “Apa itu batik?”, tetapi juga mulai diajak berpikir, “Mengapa batik perlu kita kenal dan lestarikan?”
Dari Daun, Kayu, hingga Menjadi Warna
Pembelajaran semakin menarik ketika kakak shalih-shalihah dikenalkan pada pewarna alami yang digunakan dalam proses membatik.
Ternyata, warna tidak selalu harus berasal dari bahan sintetis. Alam di sekitar kita juga menyimpan banyak sumber warna yang dapat dimanfaatkan.
Kakak dikenalkan dengan beberapa bahan pewarna alami, di antaranya:
- Daun indigo, yang melalui proses fermentasi dapat menghasilkan warna biru.
- Mahoni, yang dapat menghasilkan warna cokelat.
- Secang, yang dapat menghasilkan warna merah.
Bagi anak-anak, pengalaman ini tentu membuka sudut pandang baru. Sesuatu yang terlihat sederhana seperti daun atau kayu ternyata dapat melalui proses tertentu hingga menghasilkan warna yang digunakan untuk mempercantik kain.
Dari sini, pembelajaran tentang batik sekaligus menjadi pembelajaran tentang sains, lingkungan, dan kreativitas.
Anak-anak dapat melihat bahwa budaya dan ilmu pengetahuan bukanlah dua hal yang terpisah. Di dalam proses membatik terdapat pengamatan, percobaan, proses, ketelitian, hingga kreativitas.
Batik Tulis, Batik Cap, Ecoprint, dan Tekstil: Apa Bedanya?
Setelah mengenal bahan pewarna, kakak shalih-shalihah diajak mengenali berbagai jenis kain dan teknik pembuatannya. Mereka belajar membedakan batik tulis, batik cap, ecoprint, dan kain tekstil.
Salah satu pemahaman penting yang dikenalkan adalah ciri batik dari proses pewarnaannya. Dalam kegiatan ini, anak-anak dikenalkan bahwa batik memiliki warna yang menembus hingga bagian belakang kain, sementara ecoprint dan tekstil bukan termasuk batik.
Bagi sebagian orang dewasa, perbedaan tersebut mungkin terasa sederhana. Namun bagi anak-anak, kemampuan membedakan karya budaya berdasarkan proses pembuatannya merupakan bagian penting dari literasi budaya.
Sebab, jangan sampai kita hanya mengenal sesuatu karena motifnya terlihat seperti batik. Dengan belajar langsung, kakak shalih-shalihah dapat memahami bahwa setiap karya memiliki proses dan karakteristiknya sendiri.
Pengetahuan seperti ini menjadi bekal agar anak-anak tumbuh sebagai generasi yang tidak hanya bangga menggunakan produk budaya, tetapi juga memahami apa yang mereka gunakan.
Saat Kakak Kelas 6 Mencoba Menjadi Pembatik
Bagian yang paling ditunggu akhirnya tiba: praktik membatik. Kakak shalih-shalihah tidak hanya melihat demonstrasi dari dekat. Mereka juga mendapatkan kesempatan untuk mencoba sendiri proses membatik.
Dimulai dari membuat pola, anak-anak belajar menuangkan ide ke dalam bentuk visual. Setelah pola siap, perjalanan dilanjutkan dengan nyanting.
Memegang canting dan mengaplikasikan malam tentu membutuhkan ketelitian. Tangan perlu bergerak dengan hati-hati agar malam dapat mengikuti pola yang sudah dibuat.
Di sinilah anak-anak belajar bahwa menghasilkan sebuah karya membutuhkan kesabaran.
- Tidak bisa terburu-buru.
- Tidak bisa asal jadi.
- Ada proses yang harus dilalui tahap demi tahap.
Setelah proses mencanting, kain kemudian masuk ke tahap pewarnaan dan selanjutnya dijemur.
Bagi kakak shalih-shalihah, pengalaman ini mungkin hanya berlangsung dalam satu kunjungan. Namun dari pengalaman tersebut, mereka dapat melihat betapa panjang proses yang dibutuhkan untuk menghasilkan selembar kain batik.
Sebuah kain yang selama ini mungkin hanya mereka lihat sebagai pakaian, ternyata menyimpan proses panjang di baliknya.

Belajar Menjaga Lingkungan dari Proses Membatik
Ada satu pelajaran lain yang tidak kalah menarik dari kunjungan ini: kepedulian terhadap lingkungan.
Di Zie Batik, limbah dari proses produksi tidak langsung dibuang begitu saja. Konsep zero waste diterapkan dengan mengolah kembali bahan yang masih dapat dimanfaatkan.
Salah satunya adalah malam yang digunakan untuk mencanting. Bahan tersebut dapat digunakan kembali sehingga tidak langsung menjadi limbah.
Pembelajaran ini menjadi sangat relevan bagi anak-anak saat ini. Pelestarian budaya ternyata tidak harus bertentangan dengan kepedulian terhadap lingkungan. Justru keduanya dapat berjalan bersama.
Dari proses membatik, kakak shalih-shalihah dapat belajar sebuah prinsip sederhana:
Gunakan dengan bijak. Jangan buru-buru membuang. Cari tahu apakah sesuatu masih bisa dimanfaatkan kembali.
Nilai tersebut sejalan dengan semangat membangun gaya hidup yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Batik yang Aman untuk Beribadah
Kunjungan ke Galeri Batik Zie juga memberikan pengetahuan lain yang dekat dengan keseharian kakak shalih-shalihah sebagai pelajar muslim.
Batik Zie telah memiliki sertifikasi halal, sehingga kainnya aman digunakan untuk salat dan beribadah.
Hal ini menjadi pengingat bahwa bagi seorang muslim, memilih sesuatu bukan hanya tentang apakah benda tersebut terlihat bagus atau menarik. Ada pula aspek keamanan dan kesesuaian dengan nilai-nilai yang diyakini.
Dengan demikian, pengalaman belajar di Galeri Batik Zie tidak berhenti pada aspek budaya dan keterampilan, tetapi juga dapat dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari sebagai seorang muslim.
Belajar Warisan Budaya Sambil Bertanya, Menjawab, dan Membawa Pulang Pengalaman
Setelah mengikuti berbagai rangkaian kegiatan, suasana semakin seru dengan sesi tanya jawab dan doorprize. Kakak shalih-shalihah diberi kesempatan untuk menjawab berbagai pertanyaan seputar materi yang telah dipelajari.
Di sinilah terlihat bahwa belajar di luar kelas memberikan pengalaman yang berbeda. Anak-anak tidak hanya duduk mendengarkan penjelasan, tetapi juga mengamati, mencoba, bertanya, mengingat kembali informasi, dan menyampaikan jawaban.
Dua kakak shalih-shalihah, Gesang dan Hya, berhasil membawa pulang bingkisan istimewa dari Galeri Batik Zie. Bukan sekadar hadiah, bingkisan tersebut menjadi semacam tanda kecil dari perjalanan belajar yang mereka lalui hari itu.
Sebab, hadiah yang paling berharga dari sebuah outing class sebenarnya bukan hanya sesuatu yang bisa dibawa pulang. Melainkan pengalaman dan pengetahuan yang menetap lebih lama dalam ingatan.
Dari Galeri Batik Zie, Pulang Membawa Cara Pandang Baru
Outing Class kelas 6 SD Islam Bintang Juara ke Galeri Batik Zie menjadi salah satu bentuk pembelajaran bermakna dalam Project Based Learning “Pengenalan Warisan Budaya”.
Melalui kegiatan ini, kakak shalih-shalihah belajar bahwa warisan budaya bukan sekadar sesuatu yang perlu diketahui untuk menjawab soal ujian.
Warisan budaya adalah sesuatu yang perlu dikenal, dihargai, dipahami, dan dilestarikan.
Anak-anak belajar tentang sejarah batik, mengenal pewarna alami, membedakan batik dengan ecoprint dan tekstil, mencoba proses membatik, memahami pentingnya menjaga lingkungan melalui konsep zero waste, hingga mengenal aspek kehalalan produk.
Semua pengalaman tersebut kemudian menjadi bagian dari perjalanan mereka dalam memahami kekayaan budaya di sekitar.
Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika kakak shalih-shalihah mengenakan batik, mereka tidak lagi hanya melihat sebuah kain dengan motif yang indah.
Mereka akan mengingat bahwa di balik kain tersebut ada tangan yang berkarya, pengetahuan yang diwariskan, alam yang menyediakan warna, proses panjang yang membutuhkan kesabaran, serta budaya yang perlu dijaga bersama.
Menjadi Generasi yang Mengenal, Mencintai, dan Melestarikan
Bagi SD Islam Bintang Juara, pembelajaran tidak berhenti ketika bel sekolah berbunyi.
Anak-anak perlu diberi kesempatan untuk melihat dunia secara langsung, bertemu dengan para pelaku budaya, mencoba prosesnya, lalu menemukan makna dari pengalaman tersebut.
Sebab generasi tangguh bukan hanya generasi yang cerdas menjawab pertanyaan, tetapi juga generasi yang mampu mengenali akar budayanya, menghargai karya orang lain, peduli terhadap lingkungan, dan memiliki kemauan untuk meneruskan kebaikan.
Melalui Project Based Learning “Pengenalan Warisan Budaya”, kakak shalih-shalihah kelas 6 diajak untuk mengenal salah satu kekayaan budaya Indonesia lebih dekat.
Dari Kampung Malon, Gunungpati, semoga tumbuh kesadaran kecil yang kelak menjadi langkah besar:
- Aku mengenal budayaku.
- Aku menghargai prosesnya.
- Aku menjaga warisannya.
- Dan suatu hari nanti, aku ingin ikut berkarya untuk Indonesia.
Karena di Bintang Juara, belajar bukan hanya tentang menjadi tahu. Belajar adalah perjalanan untuk menjadi pribadi yang berilmu, beradab, kreatif, tangguh, dan mampu memberi manfaat.*** (CM-MRT)