by admin admin | Oct 16, 2026 | Artikel, Berita, Berita Utama, Edukasi, Kegiatan Orang Tua
Pernahkah Ayah Bunda mengajak anak berjalan kaki di trotoar, menunggu kendaraan di tepi jalan, atau menyeberang saat bepergian bersama keluarga? Aktivitas yang terlihat sederhana ini ternyata menyimpan pelajaran penting tentang keselamatan, kedisiplinan, dan kepedulian terhadap sesama pengguna jalan.
Belajar Tertib Berlalu Lintas, Dimulai dari Kebiasaan Kecil
Memahami aturan lalu lintas bukan hanya tentang mengenali simbol pada rambu-rambu. Anak juga perlu belajar kapan harus berhenti, di mana seharusnya berjalan, serta bagaimana memastikan keadaan aman sebelum menyeberang jalan.
Semangat itulah yang menjadi bagian dari kegiatan BBOT (Belajar Bersama Orang Tua) Kelas 2C SD Islam Bintang Juara pada Jumat, 16 Oktober 2026, dengan tema “Aku Anak Tertib Berlalu Lintas”.
Kegiatan ini menghadirkan AKBP Muhammad Rosid Ridho, S.I.K., ayah dari Kak Arkan, yang turut didampingi oleh Bunda Kak Arkan. Melalui kegiatan ini, para siswa mendapatkan kesempatan untuk belajar langsung mengenai keselamatan berlalu lintas dengan cara yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Kegiatan BBOT kali ini juga berkaitan dengan Project-Based Learning (PjBL) Lalu Lintas, sehingga pembelajaran di kelas menjadi lebih bermakna melalui pengenalan materi dan praktik secara langsung.
Mengenal Rambu Lalu Lintas Melalui Poster
Kegiatan diawali dengan pengenalan berbagai rambu lalu lintas. Ayah Kak Arkan membagikan poster kepada para siswa sebagai media belajar untuk membantu mereka mengenali rambu dan memahami pentingnya aturan di jalan.
Melalui poster, anak-anak dapat mengamati bentuk dan simbol rambu yang biasa dijumpai ketika bepergian. Media visual seperti ini membantu menghubungkan materi pembelajaran dengan situasi nyata yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari.
Rambu lalu lintas bukan sekadar tanda yang dipasang di pinggir jalan. Setiap rambu memiliki fungsi untuk memberikan petunjuk, peringatan, atau larangan demi menjaga ketertiban dan keselamatan pengguna jalan.
Dengan mengenal rambu sejak usia sekolah dasar, anak-anak mulai belajar bahwa setiap pengguna jalan memiliki aturan yang perlu dipatuhi. Mereka juga diajak memahami bahwa menaati aturan bukan semata-mata karena takut ditegur, melainkan karena keselamatan diri sendiri dan orang lain harus menjadi prioritas.
Pembelajaran ini menjadi bekal penting agar anak semakin sadar bahwa sikap tertib perlu diterapkan setiap kali berada di lingkungan jalan raya.
Praktik Isyarat Berhenti dari Depan dan Belakang
Tidak berhenti pada pengenalan poster, Ayah Kak Arkan juga mengajak para siswa mempraktikkan cara memberikan isyarat berhenti dari arah depan dan belakang.
Melalui praktik ini, anak-anak mendapat kesempatan untuk mencoba gerakan secara langsung, bukan hanya mendengarkan penjelasan. Mereka belajar memperhatikan posisi tubuh, memahami isyarat, serta mengenali bahwa komunikasi di jalan memiliki peran penting dalam keselamatan.
Pengalaman praktik membantu anak menghubungkan pengetahuan dengan tindakan. Anak tidak hanya mengetahui bahwa ada isyarat tertentu dalam situasi lalu lintas, tetapi juga memperoleh gambaran tentang bagaimana isyarat tersebut diperagakan.
Pembelajaran seperti ini menjadi bagian penting dalam PjBL Lalu Lintas. Anak memperoleh pengalaman belajar yang lebih konkret melalui kegiatan mengamati, mendengarkan, dan mencoba.
Tentu saja, praktik yang dilakukan di lingkungan pembelajaran merupakan pengenalan awal. Ketika berada di jalan raya yang sebenarnya, anak tetap perlu didampingi orang dewasa dan mengikuti aturan keselamatan yang berlaku.

Memahami Aturan di Trotoar dan Jalan Raya
Selanjutnya, para siswa diajak memahami perbedaan fungsi trotoar dan jalan raya.
Trotoar merupakan ruang yang diperuntukkan bagi pejalan kaki. Karena itu, ketika berjalan di tepi jalan yang memiliki trotoar, anak perlu dibiasakan menggunakannya, bukan berjalan di jalur kendaraan.
Sementara itu, jalan raya merupakan ruang pergerakan berbagai kendaraan yang memiliki potensi bahaya bagi pejalan kaki. Anak perlu memahami bahwa bermain, berlari tanpa memperhatikan keadaan, atau berjalan sembarangan di jalur kendaraan bukanlah tindakan yang aman.
Melalui pengenalan ini, siswa belajar bahwa setiap bagian jalan memiliki fungsi masing-masing. Memahami fungsi tersebut membantu anak mengetahui tempat yang tepat untuk berjalan dan mengapa mereka harus berhati-hati ketika berada di dekat kendaraan.
Pembiasaan sederhana, seperti berjalan di trotoar, tetap berada dekat orang dewasa saat bepergian, serta tidak bermain di jalan raya, dapat menjadi langkah awal untuk menanamkan perilaku tertib berlalu lintas.
Belajar Menyeberang Jalan dengan Aman
Salah satu keterampilan penting yang perlu dipahami anak adalah tata cara menyeberang jalan.
Dalam kegiatan BBOT ini, siswa diajak mengenal pentingnya menyeberang dengan memperhatikan kondisi lalu lintas dan memilih tempat yang aman. Pengetahuan ini perlu dilatih secara berulang agar anak tidak menyeberang hanya karena melihat orang lain melakukannya.
Secara umum, beberapa kebiasaan yang perlu dikenalkan kepada anak ketika menyeberang jalan antara lain:
- Berhenti sejenak sebelum menyeberang. Jangan langsung melangkah ke jalan tanpa memperhatikan keadaan.
- Pilih tempat penyeberangan yang aman. Gunakan zebra cross atau fasilitas penyeberangan yang tersedia.
- Perhatikan kondisi lalu lintas. Lihat keadaan jalan dan pastikan kendaraan berhenti atau situasi benar-benar aman.
- Menyeberang bersama orang dewasa. Anak usia sekolah dasar tetap perlu didampingi, terutama ketika menghadapi jalan yang ramai.
- Tetap waspada selama menyeberang. Hindari bermain atau menggunakan gawai ketika berada di jalan.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia juga menyediakan materi edukasi tentang cara aman menyeberang jalan untuk membantu memperkuat pemahaman keselamatan pada anak. Baca materi Cara Aman Menyeberang Jalan.
Melalui pembelajaran ini, anak diharapkan semakin memahami bahwa menyeberang jalan membutuhkan perhatian dan kehati-hatian. Keberanian saja tidak cukup; keselamatan harus menjadi pertimbangan utama.

BBOT dan PjBL: Pembelajaran yang Dekat dengan Kehidupan Anak
Kegiatan BBOT merupakan salah satu kesempatan untuk menghadirkan pengalaman dan pengetahuan orang tua ke dalam proses pembelajaran di sekolah. Anak dapat belajar dari pengalaman nyata, sementara orang tua turut mengambil peran dalam mendukung pendidikan.
Pada BBOT Kelas 2C kali ini, keterkaitan dengan PjBL Lalu Lintas membuat materi yang dipelajari terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Rambu-rambu, trotoar, jalan raya, dan tata cara menyeberang bukanlah hal yang hanya dibahas dalam buku. Semuanya dapat ditemukan ketika anak berangkat sekolah, berjalan bersama keluarga, atau bepergian menggunakan kendaraan.
Pembelajaran berbasis pengalaman seperti ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengamati, mencoba, dan menghubungkan pengetahuan dengan situasi nyata. Anak pun memiliki bekal untuk menerapkan kebiasaan tertib berlalu lintas dalam aktivitas sehari-hari.
Lebih dari sekadar memahami aturan, anak belajar tentang disiplin, tanggung jawab, kehati-hatian, dan kepedulian terhadap keselamatan orang lain.
Menumbuhkan Generasi yang Tertib dan Bertanggung Jawab
Melalui kegiatan BBOT bertema “Aku Anak Tertib Berlalu Lintas”, siswa Kelas 2C SD Islam Bintang Juara diajak memahami bahwa keselamatan di jalan merupakan tanggung jawab bersama.
Terima kasih kepada AKBP Muhammad Rosid Ridho, S.I.K., ayah Kak Arkan, beserta Bunda Kak Arkan, yang telah berbagi pengetahuan dan mendampingi proses belajar para siswa. Kehadiran orang tua dalam kegiatan pembelajaran menjadi salah satu bentuk sinergi antara keluarga dan sekolah untuk mendukung tumbuh kembang anak.
Semoga pengalaman belajar ini menjadi langkah kecil yang bermakna dalam membiasakan anak menaati aturan, berhati-hati saat berada di jalan, dan peduli terhadap keselamatan diri sendiri maupun orang lain.
Karena menjadi anak tertib berlalu lintas bukan hanya tentang mengetahui aturan, tetapi juga membiasakan diri untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
SD Islam Bintang Juara terus berupaya menghadirkan pembelajaran yang bermakna untuk menumbuhkan generasi muslim yang berilmu, berakhlakul karimah, disiplin, dan bermanfaat bagi sesama.*** (CM-MRT)
by admin admin | Oct 13, 2026 | Berita, Berita Utama, Profil Guru
Sekolah bukan sekadar tempat belajar, tetapi juga lingkungan yang membentuk akhlak dan kebiasaan anak. Dalam Guru Bercerita kali ini, Arif Wibowo, S.H.I., S.H., M.H., Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana dan Prasarana sekaligus Guru PAI SD Islam Bintang Juara, berbagi perjalanan pengabdian serta pandangannya tentang menjaga fasilitas sekolah sebagai amanah dan bagian dari pendidikan karakter Islami.
Mengenal Perjalanan Pak Arif Bersama Bintang Juara
Pak Arif merupakan salah satu sosok assabiqunal awwalun SD Islam Bintang Juara. Perjalanan Pak Arif bersama Bintang Juara sudah dimulai bahkan sebelum sekolah ini memiliki gedung dan siswa.
1. Bisa diceritakan perjalanan Bapak hingga mendapat amanah sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarpras sekaligus Guru PAI?
Perjalanan saya bersama SD Islam Bintang Juara bermula di penghujung tahun 2016, sebuah babak awal yang dipenuhi benih tekad dan keikhlasan. Atas amanah dari Prof. Dr. Hj. Esmi Warassih, S.H., M.S., ibunda dari Bunda Vivi Psikolog (Ketua Yayasan Dewi Sartika), saya dipanggil untuk membantu merintis sebuah lembaga pendidikan Islam yang kala itu belum memiliki satu pun siswa dan gedungnya masih berupa rakitan fondasi.
Meski tanpa latar belakang pendidikan formal keguruan dan hanya berbekal perigi ilmu agama dari pesantren dan perkuliahan, Ibu Vivi membukakan pintu kesempatan yang begitu luas untuk saya bertumbuh. Saya ditempa melalui magang di Sekolah Al-Falah Cipayung Jakarta Timur di bawah bimbingan Ibunda drg. Wismiarti Tamim, menimba ilmu di Fakultas Psikologi UGM, belajar seni mendongeng, hingga menyerap kedalaman pengasuhan melalui PSPA, PDA, dan KCR di bawah bimbingan Abah Ihsan.
Di tengah deru pembangunan gedung yang belum usai, saya meniti tahun pertama dengan mencurahkan pengabdian pada pengurusan perizinan serta persiapan pembukaan sekolah. Di sela-sela perjuangan memoles fondasi itu, saya menuntun lantunan ayat-ayat suci sebagai guru mengaji sekaligus menjadi pendamping hangat bagi anak-anak di PAUD Islam Bintang Juara.
Impian tersebut akhirnya merekah pada tahun 2018 ketika SD Islam Sentra Bintang Juara resmi berdiri, menandai jejak langkah pertamanya di sebuah bangunan sewa di Jalan Lamongan Raya, Bendan Ngisor. Di tempat yang sederhana namun sarat makna itu, saya mendapat kehormatan memegang kemudi kepemimpinan sebagai Kepala Sekolah, merangkap tugas mulia menanamkan nilai-nilai kebaikan sebagai Guru PAI dan Budi Pekerti.
Memasuki tahun kedua pada 2019, langkah perjuangan kami meluas seiring perpindahan gedung ke Jalan Dewi Sartika Raya No. 17 A. Langkah demi langkah kami lalui bersama, merajut asa di setiap sudut ruang kelas yang mulai dipenuhi tawa dan semangat para murid.
Dinamika pengabdian kemudian membawa muara baru saat ketentuan kualifikasi Kepala Sekolah mengharuskan latar belakang PGSD. Tangkai kepemimpinan pun diserahkan dengan penuh keikhlasan kepada Bu Nikmah, sosok kawan seperjuangan yang telah meniti jalan bersama sejak awal sekolah ini berdiri di Jalan Lamongan.
Bagi saya, ketulusan berkarya tak pernah surut oleh bergantinya tajuk amanah. Hingga saat ini, saya terus mendedikasikan jiwa dan raga sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana dan Prasarana sekaligus Guru PAI, menjaga tempat ini agar tetap menjadi rumah yang kokoh, indah, dan mendidik bagi para Calon Pemimpin Muslim yang beriman, berilmu, berakhlak mulia serta bermanfaat bagi sesama.
2. Apa yang membuat Bapak tertarik menjadi pendidik?
Ada tiga alasan utama saya memilih menjadi pendidik: menjalankan misi para nabi dan melanjutkan risalah kebaikan, membangun investasi akhirat melalui amal jariah, menerima kemuliaan derajat dan kebajikan dari Allah Swt.
Menjaga Lingkungan, Mendukung Proses Pendidikan
Ruang belajar yang bersih, aman, nyaman, dan tertata bukan sekadar menunjang kegiatan sekolah. Bagi Pak Arif, lingkungan fisik juga berperan dalam membangun ketenangan, menumbuhkan kepedulian, dan menghadirkan suasana yang mendukung anak untuk belajar dengan baik.
3. Menurut Bapak, apa hubungan antara lingkungan sekolah dengan proses pendidikan anak?
Lingkungan sekolah bukan sekadar tempat terjadinya transfer ilmu pengetahuan, melainkan sebuah ruang penyemaian fitrah (bi’ah shalihah) yang berperan vital dalam membentuk akidah, akhlak, dan kepribadian seorang anak.
Rasulullah Saw menegaskan pentingnya pengaruh lingkungan dan teman bergaul melalui perumpamaan penjual minyak wangi dan penempa besi, di mana suasana religius, keteladanan para pendidik, serta sarana prasarana yang mendukung kebaikan di sekolah akan menyerap ke dalam jiwa murid dan membimbing mereka menuju ketakwaan.
Sebaliknya, proses pendidikan tidak akan berjalan optimal tanpa ekosistem yang suci dan kondusif, sebab kebiasaan serta nilai-nilai terpuji yang dihidupkan secara konsisten di lingkungan sekolah inilah yang menjadi wujud nyata dari upaya menjaga fitrah kesucian yang telah Allah amanahkan pada setiap diri anak SD Islam Bintang Juara.
4. Seberapa besar pengaruh ruang yang bersih, aman, nyaman, dan tertata terhadap pengalaman belajar anak?
Ruang belajar yang bersih, aman, nyaman, dan tertata rapi merupakan bentuk pengamalan nyata dari prinsip At-Thaharah (bersuci) dan manifestasi bahwa Allah itu Indah dan menyukai keindahan.
إن الله جميل يحب الجمال
Lingkungan fisik yang terjaga kebersihannya serta tertata dengan baik tidak hanya memberikan rasa aman dan ketenangan jiwa (thuma’ninah), tetapi juga melapangkan pikiran anak sehingga mereka dapat fokus menyerap ilmu dengan khusyuk dan gembira.
Suasana yang kondusif ini menumbuhkan rasa betah, memicu kreativitas, serta menanamkan karakter adab dan kepedulian terhadap lingkungan sejak dini, menjadikan setiap detik pengalaman belajar sebagai bentuk ibadah yang menghadirkan keberkahan.
5. Apa saja hal yang mungkin tidak terlihat oleh siswa tetapi sebenarnya penting dalam menjaga sekolah tetap berjalan dengan baik?
Dibalik senyum dan kenyamanan ruang kelas yang dinikmati para siswa, ada dedikasi tak terlihat dalam pengelolaan sarana prasarana, pengurusan perizinan, kesiapan fasilitas, hingga tata kelola sistem yang terus berdenyut tanpa henti demi memastikan seluruh aktivitas belajar berjalan aman, tertib, dan penuh keberkahan.
6. Apa prinsip yang Bapak pegang ketika mengelola fasilitas dan sarana sekolah?
Mengelola fasilitas dan sarana sekolah adalah bentuk menunaikan amanah (amanah), menjaga kelestarian aset tanpa pemborosan (laa tusrifu), serta menghadirkan kebaikan terbaik (ihsan) demi menciptakan lingkungan belajar yang aman, bersih, dan penuh keberkahan bagi para penuntut ilmu.
Merawat Fasilitas, Melatih Amanah
Menjaga fasilitas sekolah ternyata menyimpan pelajaran yang lebih dalam daripada sekadar merapikan barang atau menjaga kebersihan. Melalui kebiasaan sederhana, anak-anak dapat belajar tentang tanggung jawab, kepedulian, rasa memiliki, dan amanah terhadap sesuatu yang digunakan bersama.
7. Mengapa merawat fasilitas sekolah juga bisa menjadi bagian dari pendidikan karakter?
Dalam Islam merawat dan menjaga fasilitas sekolah merupakan bentuk pendidikan karakter (At-Tarbiyah Al-Khuluqiyah) yang nyata, karena mengajarkan murid untuk mempraktikkan sikap amanah, ihsan, serta rasa tanggung jawab terhadap apa yang dimanfaatkan bersama.
Ketika anak dibiasakan menjaga kebersihan meja, mematikan lampu yang tidak terpakai, hingga merawat ruang kelas, mereka sedang dilatih untuk menjauhi sikap mubazir (لا تسرفوا) dan merusak (ولا تفسدوا فى الأرض).
Pembiasaan sederhana ini menanamkan kesadaran bahwasanya setiap nikmat sarana yang digunakan adalah titipan Allah Swt. yang kelak dimintai pertanggungjawaban, sehingga karakter kepedulian, kedisiplinan, dan rasa memiliki akan tertanam kuat dalam sanubari mereka hingga dewasa.
8. Bagaimana anak dapat dilibatkan untuk belajar menjaga dan merawat lingkungan sekolah?
Anak dapat dilibatkan secara aktif melalui pembiasaan piket kelas harian, program gotong royong Jumat Bersih, serta tanggung jawab merawat satu tanaman pilihan mereka sendiri agar tumbuh rasa memiliki dan kepedulian terhadap lingkungan sekolah.
9. Apa arti “menjaga fasilitas sekolah” jika dilihat dari perspektif amanah dalam Islam?
Dalam Islam, menjaga fasilitas sekolah berarti menunaikan tanggung jawab atas titipan nikmat (amanah) dari Allah Swt. dan lembaga yang wajib dipelihara keberadaannya agar tetap memberikan manfaat secara berkelanjutan.
Fasilitas pendidikan bukan sekadar barang atau bangunan fisik, melainkan titipan yang harus dijaga dari kerusakan, kesewenang-wenangan, maupun pemborosan, sebagaimana perintah Allah untuk tidak berbuat kerusakan di muka bumi setelah Dia membaikinya.
Ketika setiap guru, staf, dan murid memperlakukan sarana sekolah dengan penuh kehati-hatian, kejujuran, dan ihsan, mereka sedang membuktikan kepatuhan iman mereka, sebab kelak setiap pemanfaatan serta pemeliharaan atas nikmat sarana tersebut akan dipertanggungjawabkan secara adil di hadapan Allah Swt.
Ilmu Agama yang Hidup dalam Perilaku
Bagi Pak Arif, pendidikan agama tidak berhenti pada pengetahuan atau hafalan. Nilai-nilai Islam perlu hadir dalam perilaku sehari-hari, mulai dari kejujuran dan kesantunan hingga kepedulian terhadap lingkungan. Keteladanan guru pun menjadi bagian penting dalam proses tersebut.
10. Sebagai guru PAI, bagaimana Bapak melihat hubungan antara ilmu agama dengan perilaku anak sehari-hari?
Dalam perspektif Islam, ilmu agama bukanlah sekadar wawasan teoritis yang berhenti di dalam benak, melainkan akar yang memancar menjadi buah berupa akhlak dan perilaku mulia (akhlakul karimah) dalam kehidupan sehari-hari anak. Ilmu agama yang dipahami dengan benar akan bertindak sebagai pelita yang menuntun pembiasaan tutur kata yang santun, kejujuran dalam bersikap, serta rasa hormat kepada orang tua dan guru.
Keterikatan erat antara ilmu dan manifestasi amalan ini ditegaskan oleh Rasulullah Saw. dalam hadis shahih riwayat Bukhari dan Muslim:
إن خياركم أحاسنكم أخلاقا
“Yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya.”
Oleh karena itu, keberhasilan penanaman ilmu agama pada anak tercermin secara nyata dari sejauh mana nilai-nilai tersebut membentuk akhlak, kedisiplinan, dan kesalehan sosial mereka saat berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.
11. Menurut Bapak, apa bedanya anak yang sekadar mengetahui ajaran agama dengan anak yang benar-benar menghidupinya?
Menurut saya perbedaan antara anak yang sekadar mengetahui ajaran agama dengan yang benar-benar menghidupinya terletak pada pengamalan yang lahir dari kedalaman khasyah (rasa takut dan hormat kepada Allah) di dalam jiwanya.
Anak yang hanya berada pada tataran pengetahuan menjadikan agama sebatas hafalan, teori di atas kertas, dan rutinitas formalitas yang belum meresap ke dalam dada. Sebaliknya, anak yang menghidupi agamanya akan menjiwai setiap nilai Islam sebagai karakter yang mengalir alami, kesadaran beribadahnya tumbuh tanpa harus dipaksa, tutur katanya terpelihara dengan adab, dan tindakannya mencerminkan kejujuran serta kepedulian.
Allah Swt. berfirman: انّما يخشى اللّٰه من عباده العلمؤا
….bahwa yang takut kepada-Nya hanyalah hamba-hamba yang berilmu (QS. Fatir: 28), ilmu agama yang dihidupi akan hidup menjadi pelita (nur) yang membimbing setiap langkah kaki dan perilaku anak sehari-hari, bukan sekadar beban ingatan di kepala.
12. Bagaimana cara mengenalkan konsep amanah kepada anak melalui hal-hal sederhana?
Akhlak amanah dapat dikenalkan sejak dini dengan membiasakan anak menjaga dan mengembalikan barang pinjaman teman atau fasilitas sekolah ke tempat semula tepat waktu. Melalui tugas-tugas kecil seperti merawat alat tulisnya sendiri atau menjalankan piket kelas, anak diajak memahami bahwa setiap tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya adalah titipan Allah yang harus dijaga dengan penuh kejujuran dan rasa bangga.
13. Bagaimana pembiasaan kecil di sekolah dapat menjadi bagian dari pendidikan Islam?
Pembiasaan sederhana seperti merapikan sepatu, menjaga kebersihan meja atau kursi belajar, dan mengantri dengan sabar saat mengambil makan, saat berwudhu atau di toilet merupakan sarana nyata untuk menanamkan adab serta kepribadian muslim sejak dini. Ketika dilakukan secara konsisten dengan niat ibadah, setiap tindakan kecil di sekolah tersebut akan menjelma menjadi bagian tak terpisahkan dari pendidikan karakter dan pengamalan nilai-nilai Islam.

Menghadapi Tantangan Pendidikan di Tengah Perubahan Zaman
Di tengah derasnya arus informasi dan budaya digital, menanamkan nilai-nilai Islam kepada anak membutuhkan kesabaran, keteladanan, dan kerja sama. Sekolah dan keluarga memiliki peran untuk menghadirkan nilai kebaikan secara konsisten agar tidak hanya dipahami, tetapi juga dijalani anak dalam kehidupan sehari-hari.
14. Apa tantangan mengajarkan nilai-nilai agama kepada anak di tengah perubahan zaman?
Tantangan terbesar mengajarkan nilai-nilai Islam kepada anak di era modern adalah derasnya arus informasi dan budaya digital yang sering kali menyuguhkan nilai-nilai yang bertolak belakang dengan adab serta ketakwaan. Di tengah gempuran media sosial dan dunia maya, anak-anak kini lebih cepat menyerap pengaruh luar, sehingga pendidikan agama tidak lagi cukup disampaikan sekadar sebagai doktrin atau teori hafalan di kelas.
Guru dan orang tua siswa SD Islam Bintang Juara dituntut untuk ekstra bersabar, adaptif, serta mampu menghadirkan keteladanan yang relevan agar nilai-nilai Islam tetap terasa hidup, menarik, dan menjadi benteng karakter yang kokoh bagi anak di tengah gempuran perubahan zaman.
15. Bagaimana guru bisa menjadi teladan sebelum meminta anak melakukan sesuatu?
Keteladanan (uswah hasanah) adalah ruh utama pendidikan, di mana seorang guru harus terlebih dahulu mengamalkan dan menghidupkan nilai-nilai kebaikan dalam perilakunya sebelum menuntut hal yang sama dari para murid.
Teringat pesan mendalam dari Abah Ihsan Baihaqi yang menegaskan bahwa kita harus menjadi orang tua atau guru yang saleh terlebih dahulu sebelum meminta anak atau murid menjadi sosok yang saleh.
Ketika pendidik memperlihatkan kelembutan tutur kata, ketepatan waktu dalam beribadah, serta kerapian dan kepedulian terhadap lingkungan secara konsisten, pesan moral tersebut akan meresap alami ke dalam jiwa anak tanpa perlu paksaan. Sebaliknya, mengajarkan kebaikan tanpa diiringi kesalehan pribadi hanya akan menjadi seruan hampa, sebab keteladanan nyata seorang guru adalah cermin pertama yang akan dilihat dan ditiru oleh murid dalam membentuk karakter mereka.
16. Apa hubungan antara kebersihan, kerapian, tanggung jawab, dan keimanan dalam kehidupan sehari-hari?
Menurut Islam, kebersihan dan kerapian bukan sebatas indah dilihat, melainkan cerminan langsung dari kualitas keimanan seseorang yang mewujud dalam bentuk tanggung jawab sehari-hari. Sebagaimana penegasan bahwa kebersihan adalah bagian dari iman.
الطُّهور شطر الإيمان
Kepedulian seseorang terhadap kesucian diri dan kerapian lingkungannya menjadi bukti nyata kesadaran bahwa seluruh nikmat sarana yang digunakan adalah amanah Allah Swt. Ketika rasa tanggung jawab tersebut dihidupkan, seperti merapikan kembali barang yang telah dipakai atau menjaga kebersihan ruang bersama seorang muslim sedang mengamalkan nilai ihsan dan memperjelas bahwa dorongan imannya bergerak aktif dalam tindakan nyata yang membawa kemaslahatan, ketenangan, serta keberkahan bagi sesama.
Menjaga Amanah, Menanamkan Keteladanan
Setiap ruang dan fasilitas sekolah menyimpan kesempatan untuk menanamkan nilai kebaikan. Melalui pengalamannya, Pak Arif berharap anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang mampu menjaga kepercayaan, bertanggung jawab, dan mensyukuri apa yang telah Allah titipkan.
17. Pernahkah ada pengalaman ketika menjaga fasilitas sekolah justru membuat Bapak belajar sesuatu tentang karakter anak?
Pengalaman mengelola dan memelihara sarana prasarana SD Islam Bintang Juara membuka mata saya bahwa fasilitas bukan sekadar benda mati, melainkan media kejujuran yang menyingkap karakter asli anak-anak.
Sering melihat bagaimana seorang murid dengan penuh kesadaran spontan mematikan kran air yang meluap, merapikan kembali kursi yang miring, atau melaporkan alat belajar yang rusak dengan nada penuh rasa bersalah, saya belajar bahwa rasa memiliki dan amanah tidak bisa dibentuk melalui teori di dalam kelas semata.
Momen-momen kecil saat mereka memperlakukan sarana sekolah inilah yang menjadi panggung nyata tempat benih kepedulian, keikhlasan, dan tanggung jawab yang kita tanamkan benar-benar memunculkan buahnya.
18. Apa fasilitas atau ruang di sekolah yang menurut Bapak memiliki cerita atau fungsi pendidikan yang menarik?
Menurut saya setiap sudut ruang dan fasilitas di SD Islam Bintang Juara bukan sekadar benda mati, melainkan lembaran kisah yang menyimpan jejak tawa, perjuangan, serta proses tumbuh kembang para murid.
Tanpa disadari, setiap sudut tempat tersebut memegang fungsi pendidikan yang ampuh dalam membingkai adab, melatih kedisiplinan, dan menanamkan kenangan manis yang membentuk akhlak mereka hingga masa depan.
Ruangan yang paling memiliki kesan bagi saya adalah ruangan kelas siswa angkatan pertama di sebuah gedung sewaan di Jl.Lamongan Raya Bendan Ngisor Gajahmungkur Semarang
19. Apa yang ingin Bapak tanamkan kepada anak-anak tentang arti menjaga sesuatu yang dipercayakan kepada kita?
Melalui setiap sarana dan ruang di SD Islam Bintang Juara, saya ingin menanamkan ke dalam jiwa anak-anak bahwa menjaga setiap hal yang dipercayakan kepada kita adalah wujud tertinggi dari rasa syukur dan cerminan akhlak seorang muslim yang sejati.
Saya rindu melihat mereka memahami bahwa merawat meja belajar, menjaga kebersihan sudut kelas, hingga merapikan kembali alat-alat yang digunakan bukan sekadar kewajiban sekolah, melainkan latihan jiwa untuk memegang teguh sifat amanah.
Dengan membiasakan diri menjaga titipan-titipan kecil ini sejak dini, mereka sedang menata fondasi akhlak yang kuat agar kelak tumbuh menjadi pribadi yang jujur, penuh tanggung jawab, dan dapat diandalkan dalam mengemban amanah yang lebih besar di masa depan.
20. Apa pesan Bapak untuk kakak shalih-shalihah dan Ayah Bunda tentang menjaga sekolah sebagai bagian dari amanah?
Mari kita bersama-sama merawat dan menjaga SD Islam Bintang Juara dengan penuh kasih sayang, karena setiap sudut sekolah ini adalah amanah dan titipan dari Allah Swt. yang menjadi sarana lahirnya kebaikan serta keberkahan bagi tumbuh kembang anak-anak kita.
21. Jika harus merangkum peran Pak Arif sebagai Wakasek Bidang Sarpras sekaligus Guru Pendidikan Agama Islam dalam satu kalimat, apa yang ingin disampaikan?
Menjaga sarana sekolah adalah da’wah bil hal, di saat fisik bangunan dirawat dengan ihsan, di situlah jiwa anak-anak dididik dengan keteladanan.
Bagi Pak Arif, menjaga sarana sekolah bukan hanya tentang merawat bangunan, tetapi juga tentang menghadirkan pendidikan melalui tindakan nyata. Sebab, ketika orang dewasa mencontohkan amanah dan kepedulian, anak-anak memiliki kesempatan untuk belajar menghidupkan nilai-nilai tersebut dalam keseharian.
Setiap orang di SD Islam Bintang Juara memiliki cerita dan peran yang mungkin belum banyak diketahui. Setelah mendengar kisah Pak Arif, siapa lagi yang akan berbagi kisah di episode Guru Bercerita berikutnya? Nantikan jalinan perjalanan inspiratif lainnya dari orang-orang yang terus bertumbuh dan membersamai perjalanan pendidikan di Bintang Juara, Ayah Bunda. *** (CM-MRT)
by admin admin | Oct 6, 2026 | Artikel, Berita, Berita Utama, Edukasi, Kegiatan Orang Tua
Memilih sekolah untuk anak bukan sekadar menentukan tempat belajar membaca, menulis, dan berhitung. Ada hal lain yang tak kalah penting: bagaimana anak belajar bersosialisasi, mengelola emosi, membangun kebiasaan baik, dan tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak mulia.
Karena itu, mengenal sekolah secara langsung menjadi langkah penting bagi orang tua sebelum menentukan pilihan pendidikan untuk buah hati.
Semangat inilah yang terasa dalam kegiatan School Touring Batch 1 SD Islam Bintang Juara yang merupakan rangkaian SPMB TP. 2027/2028 pada Selasa, 6 Oktober 2026. Melalui kegiatan ini, sekitar 30 pasang calon orang tua siswa mendapat kesempatan untuk melihat lebih dekat suasana pembelajaran, mengenal manfaat program-program sekolah, sekaligus berdiskusi mengenai perkembangan anak bersama Bunda Vivi Psikolog.
Tidak hanya tentang pembelajaran di kelas, kegiatan ini juga membuka ruang diskusi mengenai persoalan yang kerap menjadi perhatian orang tua, salah satunya bagaimana memahami dan menyikapi konflik antaranak di lingkungan sekolah.
Mengenal Sekolah Bukan Hanya dari Brosur
Informasi tentang sekolah memang dapat diperoleh melalui website, media sosial, maupun brosur. Namun, melihat langsung proses pembelajaran memberikan pengalaman yang berbeda.
Dalam School Touring, orang tua berkesempatan mengamati bagaimana kegiatan belajar berlangsung, bagaimana guru mendampingi siswa, serta bagaimana nilai-nilai pendidikan diterapkan dalam keseharian.
SD Islam Bintang Juara mengembangkan pembelajaran yang tidak hanya berfokus pada penguatan akademik, tetapi juga pada pembentukan adab, akhlak, kecakapan hidup, dan nilai-nilai kepemimpinan Islam. Proses pendidikan dirancang agar anak dapat belajar sesuai tahap perkembangannya sekaligus membangun kebiasaan baik yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui penjelasan mengenai program-program sekolah, orang tua diajak memahami bahwa setiap kegiatan memiliki tujuan pendidikan. Anak tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga mendapat kesempatan untuk melatih kemandirian, kreativitas, fokus, kontrol diri, dan kemampuan bekerja sama.
Dengan melihat langsung lingkungan belajar, orang tua dapat memperoleh gambaran yang lebih utuh tentang proses pendidikan yang akan dijalani anak.
Memahami Perkembangan Anak Bersama Bunda Vivi Psikolog
Salah satu sesi yang menjadi bagian penting dari School Touring Batch 1 adalah diskusi mengenai tumbuh kembang anak bersama Bunda Vivi Psikolog.
Setiap anak memiliki karakter, pengalaman, dan tahap perkembangan yang berbeda. Karena itu, perilaku yang muncul dalam keseharian perlu dipahami dengan melihat konteksnya, bukan hanya dari apa yang terlihat di permukaan.
Anak yang marah ketika mainannya diambil, misalnya, mungkin masih belajar menyampaikan keinginan dengan tepat. Anak yang kesulitan menunggu giliran bisa jadi masih membutuhkan pendampingan untuk mengembangkan kontrol diri. Sementara itu, perilaku yang menyakiti teman tetap perlu dihentikan dan diarahkan agar anak memahami batasan serta dampak tindakannya.
Di sinilah pentingnya peran orang dewasa. Orang tua dan guru perlu membantu anak mengenali emosi, memahami aturan, belajar menyampaikan kebutuhan, serta menemukan cara yang lebih baik untuk menyelesaikan masalah.
Memahami perkembangan anak bukan berarti membiarkan perilaku yang tidak tepat. Sebaliknya, pemahaman tersebut membantu orang dewasa memberikan respons yang lebih sesuai dengan kebutuhan anak, tanpa mengabaikan keamanan dan kenyamanan orang lain.

Mengapa Anak Tidak Boleh Terburu-buru Diberi Label?
Dalam diskusi mengenai persoalan antaranak, Kepala SD Islam Bintang Juara, Bu Ni’mah, mengingatkan bahwa orang dewasa tidak seharusnya terburu-buru melabeli seorang anak sebagai pelaku bullying ketika terjadi perselisihan.
Sebelum mengambil kesimpulan, kita perlu memahami apa yang sebenarnya terjadi. Apakah anak sedang mengalami konflik dengan temannya? Apakah ia kesulitan mengendalikan emosi? Apakah perilaku tersebut sudah terjadi berulang kali? Adakah ketimpangan kekuatan di antara anak-anak yang terlibat?
Pertanyaan-pertanyaan ini penting agar respons yang diberikan tidak keliru.
Konflik dapat terjadi ketika kontrol diri anak masih berkembang
Pada usia sekolah dasar, kemampuan mengelola emosi, mengendalikan impuls, dan menyelesaikan masalah masih perlu terus dilatih. Ketika keinginannya tidak terpenuhi, anak mungkin bereaksi secara spontan, seperti merebut barang, berteriak, mendorong, atau mengucapkan kata-kata yang menyakiti temannya.
Sebagian anak masih membutuhkan banyak kesempatan untuk berlatih menunggu giliran, menerima penolakan, berbagi, dan mengungkapkan perasaan dengan kata-kata yang tepat.
Dukungan terhadap perkembangan sensori motorik juga menjadi salah satu bagian dari stimulasi yang dapat diberikan sesuai kebutuhan anak. Melalui aktivitas seperti bergerak, bermain di luar ruangan, menyusun balok, melakukan permainan koordinasi, dan kegiatan fisik terarah, anak memperoleh kesempatan untuk melatih kemampuan tubuh serta belajar merespons rangsangan dan situasi dengan lebih terarah.
Namun, stimulasi sensori motorik bukan satu-satunya cara untuk mengatasi kesulitan kontrol diri. Anak tetap membutuhkan pendampingan dalam mengenali emosi, memahami aturan, berkomunikasi, dan memperbaiki perilaku yang keliru.
Konflik dan bullying perlu dibedakan
Konflik antarteman dapat muncul karena perbedaan keinginan, kesalahpahaman, atau kemampuan bekerja sama yang masih berkembang. Sementara itu, bullying atau perundungan memiliki karakteristik yang lebih spesifik.
Menurut StopBullying.gov, bullying melibatkan perilaku agresif yang tidak diinginkan, adanya ketimpangan kekuatan, serta perilaku yang terjadi berulang kali atau berpotensi berulang. Bentuknya dapat berupa tindakan fisik, ucapan yang menyakitkan, ancaman, penyebaran rumor, maupun pengucilan yang disengaja. Baca penjelasan tentang karakteristik bullying.
Meskipun demikian, bukan berarti konflik biasa boleh diabaikan. Perilaku seperti memukul, mendorong, atau menghina tetap perlu ditangani, sekalipun belum memenuhi karakteristik bullying.
Yang perlu dihindari adalah memberi label pada identitas anak sebelum memahami situasinya. Anak perlu belajar bertanggung jawab atas perilakunya, tetapi ia juga membutuhkan kesempatan untuk memperbaiki diri.
Pendekatan yang lebih tepat adalah berfokus pada tindakan yang terjadi, mendengarkan pihak-pihak yang terlibat, memastikan semua anak aman, dan memberikan pendampingan yang sesuai. StopBullying.gov juga mengingatkan pentingnya memahami situasi sebelum menentukan apakah suatu kejadian termasuk bullying. Pelajari panduan merespons bullying.
Dengan cara ini, orang dewasa tidak hanya berusaha menghentikan masalah yang sedang terjadi, tetapi juga membantu anak belajar menyelesaikan persoalan dengan lebih sehat.
Pengaruh Gadget terhadap Perilaku Anak: Apa yang Perlu Diwaspadai?
Selain interaksi langsung dengan teman, lingkungan digital juga menjadi hal yang perlu diperhatikan dalam memahami perilaku anak.
Dari berbagai kejadian yang ditemui di lingkungan sekolah, terdapat anak-anak yang menggunakan kosakata buruk atau menunjukkan perilaku kasar yang menyerupai hal-hal yang mereka lihat dalam video maupun permainan digital.
Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa konten yang dikonsumsi anak perlu mendapat perhatian serius. Anak bisa meniru kata-kata, gaya bicara, gerakan, maupun cara menyelesaikan masalah yang dilihatnya. Sementara itu, kemampuan mereka untuk menilai apakah suatu perilaku pantas ditiru masih terus berkembang.
Hal ini bukan berarti setiap anak yang menggunakan gadget pasti akan menunjukkan perilaku negatif. Namun, tanpa pemilihan konten dan pendampingan yang memadai, anak dapat terpapar bahasa atau perilaku yang belum sesuai dengan usianya.
Karena itu, mengontrol penggunaan gadget bukan hanya soal membatasi durasi, tetapi juga memastikan apa yang ditonton dan dimainkan anak.
Apa yang dapat dilakukan orang tua di rumah?
Ada beberapa langkah yang dapat diterapkan untuk membantu anak membangun kebiasaan digital yang lebih sehat.
1. Periksa konten sebelum diberikan kepada anak.
Jangan hanya melihat judul atau tampilan awal video. Perhatikan juga bahasa, adegan, dan perilaku yang muncul di dalamnya. Hal serupa berlaku untuk permainan digital yang dimainkan anak.
2. Dampingi anak saat menggunakan gadget.
Sesekali, orang tua dapat menonton atau bermain bersama anak. Jika muncul kata-kata kasar atau tindakan yang tidak pantas, jelaskan dengan bahasa sederhana mengapa perilaku tersebut tidak baik untuk ditiru.
3. Buat aturan penggunaan gadget yang konsisten.
Tentukan kapan anak boleh menggunakan perangkat, berapa lama penggunaannya, serta situasi ketika gadget perlu disimpan, misalnya saat makan, belajar, beribadah, atau berinteraksi bersama keluarga.
4. Sediakan kegiatan alternatif yang menarik.
Anak tetap membutuhkan kesempatan untuk bergerak, bermain bersama teman, membaca buku, membuat karya, dan melakukan aktivitas fisik. Kegiatan-kegiatan ini memberi ruang bagi anak untuk belajar melalui pengalaman nyata dan interaksi langsung.
5. Berikan teladan dalam berkata dan bersikap.
Anak belajar dari apa yang dilihatnya setiap hari, termasuk cara orang dewasa berbicara ketika marah, menyelesaikan perselisihan, dan menggunakan perangkat digital. Keteladanan di rumah menjadi bagian penting dari pendidikan karakter.
Pendampingan ini tidak perlu dilakukan dengan memarahi anak setiap kali ia meniru sesuatu yang kurang tepat. Orang tua dapat menjadikan momen tersebut sebagai kesempatan untuk menjelaskan, mengarahkan, dan membangun kebiasaan yang lebih baik.
Pendidikan Anak Membutuhkan Kerja Sama Sekolah dan Orang Tua
Sekolah memiliki peran dalam mendampingi anak belajar, membangun adab, mengembangkan kontrol diri, dan menciptakan lingkungan yang aman. Namun, proses tersebut tidak berhenti ketika anak pulang ke rumah.
Apa yang dibiasakan di sekolah perlu diperkuat melalui pendampingan keluarga. Sebaliknya, kebiasaan dan pengalaman anak di rumah juga penting untuk dipahami oleh guru agar pendampingan yang diberikan dapat berjalan lebih selaras.
Ketika sekolah menemukan perilaku yang perlu mendapat perhatian, komunikasi dengan orang tua membantu kedua pihak memahami situasi secara lebih utuh. Orang tua pun dapat menyampaikan kebiasaan anak di rumah, termasuk pola penggunaan gadget dan jenis konten yang dikonsumsi.
Kerja sama ini bukan untuk saling menyalahkan, melainkan untuk mencari langkah yang paling bermanfaat bagi perkembangan anak.
Dengan komunikasi yang terbuka dan konsisten, sekolah dan keluarga dapat membantu anak memahami batasan, mengelola emosi, menghargai orang lain, serta belajar bertanggung jawab atas tindakannya.
Pada akhirnya, tujuan pendidikan bukan sekadar membuat anak mengetahui mana perilaku yang benar dan salah. Lebih dari itu, anak perlu dibimbing agar memahami alasan di balik aturan, mampu memperbaiki kesalahan, dan tumbuh menjadi pribadi yang berilmu, berakhlakul karimah, serta bermanfaat bagi sesama.
Nilai-nilai inilah yang terus diupayakan melalui proses pendidikan di SD Islam Bintang Juara.
Yuk, Kenali SD Islam Bintang Juara Lebih Dekat!
School Touring Batch 1 pada Selasa, 6 Oktober 2026 menjadi kesempatan bagi calon orang tua siswa untuk melihat langsung proses pembelajaran, mengenal program-program sekolah, dan berdiskusi mengenai perkembangan anak bersama Bunda Vivi Psikolog.
Bagi Ayah Bunda yang belum berkesempatan hadir, masih ada kesempatan untuk mengenal SD Islam Bintang Juara lebih dekat melalui School Touring Batch 2 pada Selasa, 20 Oktober 2026.

Mari mengenal lebih dekat lingkungan belajar yang mendukung tumbuh kembang anak, menguatkan nilai-nilai Islami, dan menumbuhkan karakter calon pemimpin muslim masa depan.
Untuk informasi dan pendaftaran School Touring Batch 2, Ayah Bunda dapat menghubungi admin SD Islam Bintang Juara melalui kanal resmi sekolah.
Sebab, memilih sekolah bukan hanya tentang tempat anak menuntut ilmu, tetapi juga tentang lingkungan tempat mereka belajar menjadi pribadi yang lebih baik.*** (CM-MRT)
by admin admin | Oct 3, 2026 | Artikel, Berita Utama, Edukasi, Kegiatan Orang Tua
Pernahkah Ayah Bunda menghadapi situasi ketika anak tidak mau makan, sulit diminta melakukan sesuatu, atau bertengkar dengan saudaranya? Dalam kondisi lelah dan terburu-buru, suara orang tua mungkin meninggi. Nasihat berubah menjadi bentakan, sementara persoalan yang semula sederhana justru berakhir dengan tangisan dan suasana yang tidak nyaman.
Setelah semuanya berlalu, terkadang muncul pertanyaan dalam hati, “Tadi seharusnya aku bisa merespons dengan lebih baik, ya?”
Mengasuh anak memang bukan perjalanan yang selalu mudah. Orang tua juga memiliki emosi, tanggung jawab, kelelahan, dan persoalan yang perlu diselesaikan. Namun, di tengah berbagai tantangan tersebut, ada satu hal penting yang perlu terus dipelajari: bagaimana menjaga ketenangan agar dapat mendampingi anak dengan lebih bijaksana.
Inilah pesan utama dalam kegiatan Parenting Wali Murid Kelas 1 SD Islam Bintang Juara pada Sabtu, 3 Oktober 2026, dengan tema “Ketenangan Orang Tua Menumbuhkan Kematangan Perkembangan Anak”. Materi disampaikan oleh Bunda Dyah Indah Noviyani, S.Psi., M.Psi., Psikolog atau yang akrab dipanggil dengan Bunda Vivi Psikolog.
Kegiatan dipandu oleh Bu Dina sebagai pembawa acara dan diawali dengan doa yang dipimpin oleh Pak Fachry. Sebelum memasuki materi utama, Bu Nur Shofwatin Ni’mah, S.Pd., Gr., selaku Kepala SD Islam Bintang Juara menyampaikan pesan bermakna mengenai perkembangan siswa kelas 1 selama setengah semester menjalani pembelajaran di sekolah.
Melalui pertemuan ini, orang tua diajak melihat bahwa mendampingi anak bukan hanya tentang mengoreksi perilakunya, tetapi juga tentang kesediaan orang dewasa untuk terus belajar, mengevaluasi diri, dan bertumbuh bersama anak.
Pesan Bermakna Bu Ni’mah: Belajar Menali Sepatu, Belajar Mengelola Emosi
Dalam pengantarnya, Bu Ni’mah mengajak wali murid melihat perkembangan anak kelas 1 melalui pengalaman sederhana yang terjadi dalam keseharian di sekolah. Salah satunya adalah proses belajar menali sepatu.
Bagi orang dewasa, mengikat tali sepatu mungkin terlihat seperti keterampilan kecil yang mudah dilakukan. Namun, bagi anak yang sedang belajar mandiri, kegiatan tersebut membutuhkan koordinasi gerakan jari, ketelitian, konsentrasi, kesabaran, dan latihan berulang.
Ketika tali sepatu belum berhasil diikat, anak mungkin merasa kesal. Ketika simpulnya terlepas, ia perlu mencoba kembali. Ketika hasilnya berbeda dari yang diharapkan, ia belajar menghadapi rasa kecewa.
Di balik aktivitas sederhana itu, terdapat kesempatan bagi anak untuk melatih keterampilan motorik sekaligus belajar menghadapi emosi ketika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginannya.
Pengalaman tersebut mengingatkan orang tua bahwa proses perkembangan anak tidak selalu berlangsung secepat yang diharapkan orang dewasa. Ada keterampilan yang perlu dilatih berkali-kali, ada kesalahan yang perlu diperbaiki, dan ada emosi yang masih perlu didampingi.
Bu Ni’mah juga menyoroti proses anak dalam meminta dan memberikan maaf. Terkadang, persoalan yang telah berlalu masih diungkit kembali hingga beberapa hari kemudian, bahkan setelah satu minggu.
Hal ini menjadi pengingat bahwa memahami sebuah kesalahan, menerima permintaan maaf, dan belajar berdamai dengan perasaan membutuhkan proses. Anak tidak selalu langsung mampu menuntaskan persoalan emosional hanya karena orang dewasa menganggap masalahnya sudah selesai.
Karena itu, anak membutuhkan pendampingan untuk mengenali perasaannya, memahami situasi, serta belajar menyelesaikan konflik secara lebih sehat.
Pesan Bu Ni’mah menjadi pengantar yang kuat bagi materi utama: ketika anak masih belajar mengelola dirinya, orang tua pun perlu belajar mengelola responsnya.
Ketenangan Orang Tua: Mulai Dari Menyadari Anak Terlahir Membawa Fitrah dan Potensi
Mengawali materinya, Bunda Vivi Psikolog mengingatkan bahwa nama yang diberikan kepada anak adalah doa. Di balik sebuah nama, ada harapan, nilai, dan cita-cita yang ingin ditumbuhkan orang tua dalam perjalanan hidup buah hatinya.
Namun, tugas pengasuhan tidak berhenti pada pemberian nama atau harapan baik. Anak juga membutuhkan lingkungan yang mendukung potensi fitrahnya agar dapat berkembang secara optimal.
Dalam materi yang disampaikan, Bunda Vivi mengutip hadis riwayat Bukhari dan Muslim tentang setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Pengasuhan dan lingkungan memiliki peran penting dalam perjalanan perkembangan anak.
Anak memiliki potensi untuk beriman, belajar, mengenal lingkungan, dan membangun pemahaman tentang kehidupan. Hal itu tampak dalam keseharian mereka yang penuh rasa ingin tahu: banyak bertanya, mencoba berbagai hal, bergerak aktif, dan sesekali melakukan kesalahan.
Perilaku tersebut tidak selalu berarti anak sedang membangkang atau sengaja menyulitkan orang tua. Bisa jadi, ia sedang mengeksplorasi lingkungan, belajar memahami batasan, atau mencoba melakukan sesuatu yang belum dikuasainya.
Karena itulah, Bunda Vivi mengajak orang tua melakukan refleksi sebelum mengoreksi anak.
Apakah perilaku anak memang perlu diarahkan? Apakah orang tua sedang menghadapi persoalan yang membuatnya mudah tersulut? Adakah kelelahan atau emosi yang belum terselesaikan sehingga respons terhadap anak menjadi lebih keras daripada yang diperlukan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan untuk menyalahkan orang tua, melainkan membuka ruang kesadaran bahwa pengasuhan merupakan proses dua arah. Anak membutuhkan bimbingan, sedangkan orang tua membutuhkan kesiapan untuk memberikan bimbingan tersebut.
Reaktif atau Responsif? Dua Cara Menghadapi Perilaku Anak
Salah satu pembahasan penting dalam parenting ini adalah perbedaan antara respons reaktif dan respons responsif.
Dalam situasi yang memancing emosi, orang tua yang reaktif cenderung langsung meledak, meninggikan suara, atau sibuk mencari siapa yang salah. Kritik dapat terasa seperti serangan, sementara masalah yang dihadapi anak justru semakin sulit diselesaikan.
Sebaliknya, sikap responsif berarti berusaha mengelola emosi, memahami situasi, dan mencari solusi dengan lebih tenang serta bijaksana.
Bayangkan ketika anak menolak makan.
Respons reaktif mungkin berupa bentakan, ancaman, atau desakan agar anak segera menghabiskan makanannya. Respons responsif dimulai dengan berhenti sejenak, memahami apa yang terjadi, kemudian mengajak anak berbicara dengan nada yang lebih terkendali.
Bukan berarti orang tua harus selalu menyetujui keinginan anak. Batasan tetap diperlukan. Namun, batasan dapat disampaikan tanpa mempermalukan, menakut-nakuti, atau meluapkan kemarahan secara berlebihan.
Bunda Vivi menegaskan bahwa anak tidak belajar mengelola emosi hanya dari ceramah atau nasihat, tetapi juga dari cara orang tua merespons dan bereaksi dalam kehidupan sehari-hari.
Sejak bayi, anak mulai mengenali pola emosi melalui ekspresi wajah, bahasa tubuh, ucapan, dan tindakan orang-orang terdekatnya. Cara orang tua menghadapi kekecewaan, konflik, dan kelelahan menjadi bagian dari pengalaman yang diamati anak.
Artinya, ketika orang tua ingin anak belajar berbicara dengan tenang, meminta maaf, atau menghadapi masalah tanpa melukai orang lain, orang tua juga perlu berusaha memperlihatkan keterampilan tersebut.
Ketenangan Orang Tua dan Perkembangan Emosi Anak
Ketenangan bukan berarti orang tua tidak pernah marah. Orang tua tetap manusia yang bisa merasa kesal, kecewa, sedih, dan lelah.
Yang penting adalah kemampuan mengenali emosi tersebut, tidak bereaksi secara berlebihan, dan memilih tindakan yang lebih bijaksana.
Dalam materinya, Bunda Vivi memperkenalkan konsep emotion coaching, yaitu pendampingan agar anak mampu mengenali, memahami, dan mengelola emosinya dengan bantuan orang dewasa.
Pendekatan ini sejalan dengan penelitian tentang pelatihan orang tua berbasis emotion coaching yang diterbitkan pada 2022. Uji terkontrol terhadap 119 orang tua yang mengalami kesulitan menangani perilaku anak usia sekolah dasar menemukan bahwa kelompok yang mengikuti pelatihan menunjukkan penurunan perilaku oposisi anak dan gejala ADHD yang dilaporkan orang tua, serta peningkatan aspek positif dalam hubungan orang tua dan anak. Temuan ini mendukung pentingnya keterampilan orang tua dalam mendampingi perilaku dan emosi anak. (Sumber: PubMed, 2022)
Dalam praktiknya, anak perlu belajar bahwa semua emosi dapat dikenali dan dibicarakan, tetapi tidak semua perilaku boleh dilakukan.
Anak boleh merasa marah, tetapi tidak boleh memukul. Anak boleh merasa kecewa, tetapi tetap perlu belajar menyampaikan perasaannya tanpa menyakiti orang lain.
Dengan pendampingan yang konsisten, anak mendapatkan kesempatan untuk memahami perbedaan antara perasaan yang sedang dialami dan tindakan yang dipilihnya.

Dampak Ketenangan Orang Tua pada Perkembangan Kognitif Anak
Ketenangan dalam pengasuhan tidak hanya berkaitan dengan perkembangan emosi. Materi Bunda Vivi juga membahas kaitannya dengan perkembangan kognitif anak usia sekolah dasar.
Salah satu konsep yang diperkenalkan adalah executive function, yaitu keterampilan kognitif yang membantu anak mengendalikan dorongan, mengatur pikiran dan perilaku, serta memilih respons yang sesuai dengan situasi.
Keterampilan ini mencakup memori kerja (working memory), fleksibilitas kognitif, perencanaan, dan pengambilan keputusan.
Dalam kehidupan sehari-hari, keterampilan tersebut dibutuhkan ketika anak perlu mengikuti instruksi, menyelesaikan tugas, menunggu giliran, berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain, atau mencari solusi saat menghadapi kesulitan.
Materi parenting yang disampaikan Bunda Vivi merujuk pada penelitian Neukomm dan Jacquin (2025) yang melibatkan 481 pasangan orang tua dan anak. Penelitian tersebut melaporkan korelasi positif antara regulasi emosi orang tua dan kemampuan anak dalam memusatkan perhatian serta memori.
Materi juga mengutip penelitian longitudinal Rungsattatharm dan rekan-rekan (2025) yang menganalisis 195 anak ketika berusia sembilan tahun. Pengasuhan positif pada usia empat dan enam tahun—termasuk kehangatan, kepekaan, responsivitas, dukungan, dan interaksi positif—berhubungan dengan lebih sedikit kesulitan fungsi eksekutif dan masalah perilaku, serta regulasi diri dan resiliensi yang lebih baik.
Temuan tersebut menjadi pengingat bahwa pengalaman anak di rumah turut berperan dalam proses perkembangannya. Lingkungan yang mendukung dan interaksi yang positif memberikan kesempatan bagi anak untuk berlatih mengatur diri, menyelesaikan persoalan, dan belajar menghadapi tantangan.
Orang Tua Adalah Guru Pertama dan Utama
Bunda Vivi mengingatkan bahwa rumah merupakan lembaga pendidikan pertama dan utama bagi anak. Di rumah, anak mulai mengenal nilai, prinsip kehidupan, kebiasaan, dan ajaran agama.
Orang tua bukan hanya penyedia kebutuhan fisik, tetapi juga teladan yang diamati anak setiap hari.
Dalam konteks pendidikan Islam, pengasuhan ini berkaitan erat dengan tanggung jawab menjaga keluarga sebagaimana diingatkan dalam QS. At-Tahrim ayat 6. Tanggung jawab tersebut tidak hanya menyangkut keselamatan fisik, tetapi juga pembinaan jiwa, akhlak, dan emosi.
Bunda Vivi juga mengajak orang tua meneladani Rasulullah ﷺ dalam mengelola amarah. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, orang kuat digambarkan bukan semata-mata sebagai orang yang menang dalam pergulatan, melainkan orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.
Nilai ini relevan dalam kehidupan keluarga. Orang tua mungkin memiliki alasan untuk kecewa atau marah, tetapi tetap perlu berusaha memilih kata dan tindakan yang tidak melukai anak.
QS. Ali Imran ayat 134 juga mengingatkan tentang keutamaan menahan amarah dan memaafkan orang lain. Sementara itu, QS. Ali Imran ayat 159 menekankan pentingnya kelembutan dalam berinteraksi.
Melalui nilai-nilai tersebut, anak dapat melihat bahwa pengendalian emosi bukan sekadar keterampilan psikologis, tetapi juga bagian dari pembentukan akhlak seorang muslim.
Tiga Kesalahan Pengasuhan yang Perlu Dievaluasi
Dalam sesi materi, Bunda Vivi mengajak orang tua mengenali beberapa respons yang dapat menghambat proses belajar emosi anak.
Pertama, membentak atau menyuruh anak diam ketika sedang emosi.
Ketika anak sedang menangis atau marah, ia membutuhkan bantuan untuk memahami perasaannya. Bentakan dapat membuat situasi semakin tegang dan menyulitkan percakapan yang sehat.
Kedua, mengabaikan emosi anak atau langsung menawarkan hadiah.
Ketika anak kecewa, orang tua mungkin ingin segera menghentikan tangisnya dengan iming-iming hadiah. Padahal, anak juga perlu belajar mengenali dan menghadapi perasaan yang muncul, bukan hanya mengalihkannya.
Ketiga, menggunakan gadget sebagai penenang instan.
Gadget mungkin dapat mengalihkan perhatian anak untuk sementara. Namun, jika selalu digunakan untuk menghentikan tangisan atau kemarahan, anak kehilangan sebagian kesempatan untuk berlatih mengenali dan mengelola emosinya bersama orang tua.
Emosi anak usia sekolah dasar masih berkembang. Karena itu, mereka membutuhkan orang tua sebagai pelatih emosi, bukan sekadar pemberi perintah.
Tujuannya bukan menghilangkan semua emosi negatif, melainkan membantu anak melewatinya dengan cara yang aman dan konstruktif.
Emotion Coaching: Mendampingi Anak Tanpa Mengabaikan Batasan
Lalu, bagaimana orang tua dapat menjadi pelatih emosi bagi anak?
Bunda Vivi menjelaskan beberapa langkah yang dapat dilakukan dalam pendekatan emotion coaching.
- Menyadari emosi anak. Perhatikan perubahan ekspresi wajah, gerakan tubuh, ucapan, dan perilaku anak.
- Melihat emosi sebagai kesempatan untuk terhubung. Ketika anak marah atau sedih, orang tua dapat menggunakan momen tersebut untuk membangun kedekatan dan mengajarkan keterampilan emosi.
- Mendengarkan dengan empati. Berikan perhatian penuh dan usahakan memahami apa yang dirasakan anak sebelum memberikan nasihat.
- Membantu anak memberi nama pada emosinya. Misalnya, “Kamu kecewa karena belum mendapat giliran, ya?”
- Menetapkan batasan dan mencari solusi. Terima perasaannya, tetapi tetap arahkan perilakunya agar aman dan tidak menyakiti orang lain.
Dalam praktiknya, orang tua dapat mengatakan, “Ayah tahu kamu sedang marah karena mainan itu dipakai adik. Kamu boleh marah, tetapi tidak boleh merebut atau memukul. Yuk, kita cari cara agar kalian bisa bergantian.”
Kalimat semacam ini membantu anak merasa didengarkan sekaligus memahami batasan yang perlu dihormati.
Pendekatan emotion coaching juga mendapat dukungan dari penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Affective Science pada 2025. Penelitian tersebut mengamati interaksi ibu dan anak usia tiga hingga empat tahun dan menemukan hubungan dinamis antara pendampingan emosi oleh ibu dan beberapa perilaku regulasi anak, seperti keterlibatan dan kepatuhan pada kondisi tertentu. Hasilnya juga menunjukkan bahwa hubungan tersebut dapat berbeda sesuai usia dan jenis emosi, sehingga pendampingan perlu disesuaikan dengan kebutuhan anak. (Sumber: Affective Science, 2025)

Simulasi Bersama Wali Kelas: Belajar Merespons Situasi Nyata
Materi tidak berhenti pada penjelasan teori. Dalam sesi simulasi, Bu Ni’mah bersama wali kelas 1—Bu Yayuk, Bu Novi, dan Bu Dina—mempraktikkan cara menghadapi berbagai situasi yang mungkin muncul dalam keseharian anak.
Beberapa contoh yang dibahas antara lain ketika anak tidak mau makan atau ketika dua anak berebut sesuatu.
Melalui simulasi tersebut, orang tua mendapatkan kesempatan untuk melihat perbedaan antara respons yang reaktif dan respons yang lebih tenang.
Ketika anak tidak mau makan, misalnya, orang tua dapat mulai dengan memahami situasinya, bukan langsung memarahi. Ketika anak berebut, orang tua dapat membantu mengenali perasaan masing-masing, menetapkan batasan, dan mengarahkan mereka mencari solusi.
Simulasi ini menjadi pengingat bahwa keterampilan pengasuhan perlu dilatih. Mengetahui teori saja belum tentu membuat seseorang mampu menerapkannya ketika sedang lelah atau menghadapi situasi yang memancing emosi.
Karena itu, latihan, refleksi, dan kesediaan untuk mencoba kembali menjadi bagian penting dari perjalanan menjadi orang tua yang lebih responsif.
Tiga Tahap Mengelola Emosi Orang Tua
Bunda Vivi juga memperkenalkan tiga tahapan regulasi emosi yang dapat dilatih orang tua dalam kehidupan sehari-hari.
1. Memantau emosi
Sadari apa yang sedang dirasakan. Apakah sedang marah, kecewa, cemas, atau kelelahan? Mengenali emosi membantu orang tua memahami kondisi dirinya sebelum merespons anak.
2. Mengevaluasi emosi
Berhenti sejenak untuk melihat situasi dengan lebih jernih. Apakah respons yang ingin diberikan akan membantu menyelesaikan masalah, atau justru memperbesar konflik?
3. Mengubah respons emosi
Setelah memahami situasi, pilih tindakan yang lebih positif dan konstruktif. Orang tua dapat menurunkan volume suara, mengatur napas, atau menunda percakapan sampai dirinya lebih siap.
Dalam materi, Bunda Vivi juga membagikan beberapa cara menghadapi emosi negatif, yaitu diam dan menjaga lisan, mengubah posisi tubuh serta mengatur napas, membaca ta’awudz dan berwudu, memilih aktivitas yang membuat tubuh dan pikiran lebih rileks, kemudian kembali menghadapi masalah dengan pikiran yang lebih jernih.
Jika orang tua merasa sangat lelah, beristirahat sejenak juga dapat menjadi pilihan yang bijaksana selama anak tetap berada dalam kondisi aman.
Hal yang perlu dihindari adalah memendam emosi tanpa mengolahnya atau justru meluapkannya secara berlebihan. Orang tua perlu menyadari kondisi diri dan menjaga kesehatan agar stres tidak terus menumpuk.
Bangun Koneksi Sebelum Mengoreksi Anak
Salah satu pesan yang ditekankan Bunda Vivi adalah pentingnya membangun koneksi sebelum melakukan koreksi.
Koneksi tersebut dimulai dengan memperkuat hubungan dengan Allah SWT melalui pembiasaan salat, doa, zikir, tilawah, dan murajaah. Rutinitas pagi yang terarah dapat menjadi bagian dari upaya membangun kesiapan jiwa sebelum menjalani aktivitas sehari-hari.
Keluarga juga dapat menyepakati rutinitas yang mendukung kesehatan jiwa dan raga, seperti berolahraga, berbincang, bermain bersama, menulis jurnal harian, serta berbagi tugas rumah tangga.
Aturan dan konsekuensi juga perlu dibicarakan dengan jelas agar anak memahami batasan yang berlaku di rumah. Dalam menyampaikan pesan, orang tua dapat menggunakan kalimat yang ringkas, jelas, dan sesuai dengan usia anak, disertai perhatian penuh ketika berkomunikasi.
Koneksi bukan berarti orang tua selalu menuruti keinginan anak. Koneksi berarti membangun hubungan yang membuat anak merasa aman untuk menyampaikan perasaannya, sementara orang tua tetap menjalankan perannya dalam memberikan arahan.
Ketika hubungan emosional terjaga, koreksi dapat menjadi bagian dari proses belajar, bukan sekadar pengalaman dimarahi.
Menjadi Orang Tua yang Terus Belajar
Parenting wali murid kelas 1 SD Islam Bintang Juara bersama Bunda Vivi Psikolog mengajak orang tua melihat kembali makna ketenangan dalam pengasuhan.
Ketenangan bukan tanda bahwa orang tua tidak pernah menghadapi kesulitan. Ketenangan adalah kemampuan untuk menyadari emosi, mengelola respons, dan tetap berusaha membimbing anak dengan bijaksana.
Perjalanan itu dapat dimulai dari hal sederhana: berhenti sejenak sebelum membentak, mendengarkan sebelum menasihati, menerima perasaan sebelum memberikan solusi, serta meminta maaf ketika orang tua melakukan kesalahan.
Anak tidak membutuhkan orang tua yang selalu sempurna. Anak membutuhkan orang tua yang bersedia menyadari perannya, memperbaiki diri, dan terus belajar membangun komunikasi yang sehat.
Melalui kegiatan ini, SD Islam Bintang Juara berharap sinergi antara sekolah dan keluarga semakin kuat dalam mendampingi tumbuh kembang siswa. Sebab, kematangan perkembangan anak tidak hanya dibentuk melalui pembelajaran di kelas, tetapi juga melalui pengalaman dan keteladanan yang mereka temui di rumah.
Mari menjadi orang tua yang terus bertumbuh, agar anak memiliki ruang yang aman untuk belajar, mengenali emosinya, dan berkembang sesuai fitrahnya.
Karena ketika orang tua belajar mengelola diri, mereka sedang memberikan salah satu bekal berharga bagi anak: teladan untuk menghadapi kehidupan dengan tenang, tangguh, dan berakhlakul karimah.*** (CM-MRT)
by admin admin | Oct 2, 2026 | Artikel, Berita, Berita Utama, Kegiatan Siswa
Menjadi seorang pemimpin tidak selalu dimulai dari berdiri di depan banyak orang atau memberikan arahan kepada sebuah kelompok. Terkadang, kepemimpinan justru tumbuh ketika seorang anak bersedia berbagi ide, membantu temannya, mencoba sesuatu yang baru, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan di sekitarnya.
Nilai-nilai inilah yang menjadi semangat Leadership Journey Tengah Semester 1 SD Islam Bintang Juara dengan tema “Calon Pemimpin Muslim Aktif Berkolaborasi dan Berkreasi”. Selama lima hari, Senin–Jumat, 28 September–2 Oktober 2026, para siswa mengikuti rangkaian kegiatan yang mengajak mereka belajar melalui pengalaman nyata.
Rangkaian Kegiatan Leadership Journey Tengah Semester 1 TP. 2026/2027
Mulai dari mengolah kain perca menjadi karya kreatif, mengikuti permainan kolaboratif, mengenal peran Dokter Kecil, mempelajari kesehatan gigi dan THT, hingga melakukan refleksi perjalanan belajar. Setiap kegiatan dirancang untuk memberikan ruang bagi siswa agar berani mencoba, belajar bersama, dan menemukan makna dari setiap proses.
Sebab, calon pemimpin muslim tidak hanya perlu memiliki pengetahuan, tetapi juga kepedulian, kreativitas, kemampuan bekerja sama, dan kemauan untuk terus memperbaiki diri.
Perca Berdaya: Mengubah Sisa Kain Menjadi Karya Bermakna
Senin, 28 September 2026, Leadership Journey dibuka dengan kegiatan Perca Berdaya. Melalui kegiatan ini, siswa diajak melihat bahwa bahan yang tampak sederhana dan tidak lagi digunakan ternyata masih memiliki peluang untuk diolah menjadi sesuatu yang bernilai.
Siswa kelas 1–3 membawa kain perca batik atau pakaian batik yang sudah tidak terpakai, beserta lem dan gunting. Dengan bahan tersebut, mereka membuat karya dengan menempelkan potongan kain pada gambar yang telah disediakan. Potongan kain perca digunakan untuk menghias gambar orang sehingga menghasilkan karya yang lebih berwarna dan menarik.
Sementara itu, siswa kelas 4–6 mendapatkan ruang yang lebih luas untuk mengembangkan ide. Mereka dapat membawa kain perca atau pakaian yang tidak terpakai, gunting, lem, serta bahan pendukung lain sesuai kebutuhan. Karya yang dibuat bebas mengikuti kreativitas masing-masing, dengan satu unsur penting yang harus ada, yaitu menjahit.
Perbedaan aktivitas ini memberikan kesempatan kepada setiap kelompok usia untuk berkarya sesuai tahap perkembangannya. Siswa kelas kecil berlatih mengenali bentuk, memadukan bahan, dan menyusun potongan kain. Sementara itu, siswa kelas besar mendapatkan tantangan untuk merancang karya secara mandiri dengan menggabungkan berbagai bahan dan keterampilan.
Lebih dari sekadar menghasilkan produk, Perca Berdaya mengajak siswa memahami bahwa kreativitas tidak selalu membutuhkan bahan baru atau mahal. Barang yang tidak terpakai pun dapat memiliki nilai ketika seseorang mampu melihat peluang dan mengolahnya dengan ide yang tepat.
Di sinilah semangat calon pemimpin muslim mulai dilatih: berani mencoba, tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan, serta mampu mengubah keterbatasan menjadi kesempatan untuk berkarya.
Petualang Pemimpin Muslim: Belajar Bekerja Sama Melalui Permainan
Selasa, 29 September 2026, siswa kelas 1–3 mengikuti kegiatan Fun Game: Petualang Pemimpin Muslim. Melalui permainan luar ruangan, anak-anak diajak mempraktikkan kolaborasi dan kerja sama dalam suasana yang menyenangkan.
Permainan menjadi ruang belajar yang berbeda dari kegiatan di dalam kelas. Anak tidak hanya perlu memahami instruksi, tetapi juga belajar berkomunikasi, memperhatikan teman, dan menyesuaikan tindakan agar dapat mencapai tujuan bersama.
Dalam sebuah tim, setiap anak memiliki peran. Ada kalanya mereka perlu menyampaikan ide, ada kalanya harus mendengarkan arahan teman, dan ada kalanya perlu memberi dukungan ketika anggota kelompok menghadapi kesulitan.
Pengalaman tersebut membantu anak mengenal bahwa keberhasilan kelompok tidak selalu ditentukan oleh siapa yang paling cepat atau paling menonjol. Kerja sama membutuhkan kesediaan untuk saling membantu dan menghargai kontribusi setiap anggota.
Pada hari yang sama, siswa kelas 4–6 mengikuti kegiatan PELITA (Peduli, Lindungi dan Tangguh) melalui penyuluhan dari Puskesmas Sekaran tentang peran Dokter Kecil. Siswa diperkenalkan pada pentingnya kepedulian terhadap kesehatan serta peran yang dapat mereka jalankan untuk mendukung kebiasaan hidup sehat di lingkungan sekolah.
Melalui kegiatan ini, kepemimpinan diperkenalkan dari sisi yang berbeda. Seorang calon pemimpin tidak hanya belajar mengarahkan orang lain, tetapi juga memahami bagaimana menjaga diri, peduli terhadap sesama, dan mengambil bagian dalam menciptakan lingkungan yang sehat.
PELITA: Mengenal Kesehatan Gigi dan THT Bersama UNNES
Rabu, 30 September 2026, giliran siswa kelas 1–3 mengikuti kegiatan PELITA. Kali ini, narasumber dari Universitas Negeri Semarang (UNNES) memberikan edukasi mengenai kesehatan gigi dan THT, yaitu telinga, hidung, dan tenggorokan.
Kesehatan merupakan bagian penting dari kesiapan anak untuk belajar dan beraktivitas. Mengenali cara menjaga kebersihan gigi serta memahami pentingnya merawat telinga, hidung, dan tenggorokan menjadi bekal agar anak semakin sadar terhadap kebutuhan tubuhnya.
Pengenalan kesehatan sejak usia sekolah juga membuka kesempatan bagi anak untuk membangun kebiasaan baik dalam keseharian. Anak belajar bahwa menjaga kesehatan bukan hanya dilakukan ketika tubuh terasa tidak nyaman, tetapi perlu menjadi bagian dari rutinitas.
Pada saat yang sama, siswa kelas 4–6 mengikuti Fun Game: Petualang Pemimpin Muslim. Mereka mendapatkan kesempatan untuk belajar melalui permainan luar ruangan, mengembangkan kerja sama, serta mempraktikkan komunikasi dan koordinasi bersama teman.
Pergantian kegiatan antarkelompok ini memberikan pengalaman yang beragam bagi siswa. Ada yang belajar tentang kesehatan melalui penyuluhan, ada pula yang menguatkan keterampilan sosial melalui permainan. Keduanya sama-sama menjadi bagian dari perjalanan membentuk calon pemimpin muslim yang peduli dan mampu bekerja bersama orang lain.

Hari Kesaktian Pancasila: Menguatkan Semangat Kebangsaan
Kamis, 1 Oktober 2026, rangkaian Leadership Journey diawali dengan apel peringatan Hari Kesaktian Pancasila.
Momentum ini menjadi kesempatan bagi siswa untuk kembali mengenal pentingnya Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Nilai kebangsaan dapat ditumbuhkan melalui pembiasaan menghormati simbol negara, mengikuti kegiatan bersama dengan tertib, dan memahami pentingnya menjaga persatuan.
Bagi calon pemimpin muslim, kecintaan terhadap agama dan kepedulian terhadap bangsa dapat berjalan beriringan. Sikap saling menghormati, menjaga kebersamaan, serta bertanggung jawab terhadap lingkungan merupakan bagian dari karakter yang perlu terus dilatih sejak usia sekolah.
Senam Sehat Ceria dan Bekal Sehat dari Rumah
Setelah apel, siswa mengikuti Senam Sehat Ceria bersama Cimory. Suasana bergerak bersama menjadi kesempatan untuk menjaga kebugaran sekaligus membangun semangat positif dalam menjalani aktivitas sekolah.
Kegiatan dilanjutkan dengan menikmati bekal sehat berupa buah dan sayur yang telah dibawa dari rumah. Melalui kebiasaan sederhana ini, siswa mendapatkan kesempatan untuk mempraktikkan kepedulian terhadap kesehatan melalui pilihan makanan yang mereka konsumsi.
Belajar hidup sehat tidak harus selalu berlangsung melalui penjelasan panjang. Anak juga membutuhkan pengalaman langsung, mulai dari bergerak aktif hingga membiasakan diri menikmati buah dan sayur.
Kegiatan ini sekaligus mengingatkan bahwa calon pemimpin perlu belajar merawat dirinya sendiri. Dengan tubuh yang terjaga dan kebiasaan yang baik, anak memiliki bekal untuk menjalani proses belajar dan beraktivitas dengan lebih optimal.
My Next Step: Berhenti Sejenak untuk Melihat Perjalanan
Sebelum rangkaian hari itu berakhir, siswa mengikuti kegiatan My Next Step, yaitu refleksi perjalanan belajar di sekolah selama setengah semester.
Refleksi memberikan ruang bagi anak untuk melihat kembali pengalaman yang telah dilalui. Apa yang sudah dipelajari? Hal apa yang mulai dikuasai? Pengalaman apa yang terasa menantang? Dan kebiasaan baik apa yang masih perlu diperkuat?
Proses ini penting karena belajar bukan hanya tentang menyelesaikan tugas atau mendapatkan hasil akhir. Anak juga perlu mengenali perkembangan dirinya, menyadari hal-hal yang masih perlu diperbaiki, dan berani menentukan langkah berikutnya.
Melalui My Next Step, siswa diajak memahami bahwa setiap orang memiliki proses pertumbuhan masing-masing. Tidak semua hal harus langsung dikuasai, tetapi setiap pengalaman dapat menjadi bekal untuk melangkah lebih baik.
Inilah salah satu fondasi kepemimpinan: kemampuan mengenali diri, menerima proses, dan memiliki kemauan untuk terus berkembang.
Bintang Juara Bersinar dan Bersih Berseri: Berkarya serta Peduli Lingkungan
Jumat, 2 Oktober 2026, rangkaian Leadership Journey Tengah Semester 1 ditutup melalui dua kegiatan yang menguatkan semangat berkarya dan kepedulian terhadap lingkungan.
Bintang Juara Bersinar: Penampilan Bermakna dari Kelas 2B
Melalui Bintang Juara Bersinar, siswa kelas 2B mendapatkan kesempatan untuk menampilkan karya atau potensi mereka dalam sebuah penampilan bermakna.
Ruang seperti ini penting bagi anak untuk belajar membangun keberanian, mengekspresikan diri, dan menghargai proses persiapan. Setiap kesempatan tampil dapat menjadi pengalaman untuk mengenali potensi diri sekaligus belajar menghargai kemampuan teman.
Tidak semua anak menunjukkan potensi dengan cara yang sama. Karena itu, kesempatan untuk berkarya dan tampil menjadi bagian dari upaya memberikan ruang tumbuh bagi setiap siswa.
Bintang Juara Bersih Berseri: Tanggung Jawab Dimulai dari Lingkungan Terdekat
Rangkaian hari Jumat juga diisi dengan Bintang Juara Bersih Berseri, yaitu kegiatan bersih-bersih sekolah.
Melalui kegiatan ini, siswa diajak mengambil bagian dalam menjaga kebersihan lingkungan tempat mereka belajar setiap hari. Sekolah bukan hanya tempat untuk memperoleh ilmu, tetapi juga ruang bersama yang perlu dirawat dan dijaga.
Kebiasaan sederhana seperti membersihkan area sekolah mengajarkan bahwa tanggung jawab tidak berhenti pada diri sendiri. Setiap anak memiliki kesempatan untuk berkontribusi terhadap kenyamanan bersama.
Seorang calon pemimpin muslim perlu memahami bahwa kepedulian dapat diwujudkan melalui tindakan nyata. Tidak harus menunggu mendapatkan jabatan atau instruksi besar; merawat lingkungan di sekitar pun merupakan bentuk tanggung jawab.
Leadership Journey: Setiap Pengalaman Menjadi Bekal Kepemimpinan
Lima hari Leadership Journey Tengah Semester 1 menghadirkan pengalaman belajar yang beragam. Melalui Perca Berdaya, siswa berlatih mengembangkan kreativitas. Melalui Petualang Pemimpin Muslim, mereka belajar berkolaborasi. Melalui PELITA, mereka mengenal pentingnya kesehatan dan kepedulian. Sementara itu, apel Hari Kesaktian Pancasila, My Next Step, Bintang Juara Bersinar, dan Bintang Juara Bersih Berseri memberikan ruang untuk menguatkan karakter, refleksi diri, keberanian, serta tanggung jawab.
Seluruh kegiatan tersebut berpadu dalam satu tujuan: mendampingi anak bertumbuh melalui pengalaman yang bermakna.
Sebab, menjadi pemimpin bukan hanya tentang kemampuan berbicara atau mengarahkan orang lain. Kepemimpinan juga terlihat dari kesediaan untuk bekerja sama, keberanian mencoba ide baru, kepedulian terhadap kesehatan dan lingkungan, serta kemauan untuk terus memperbaiki diri.
Melalui Leadership Journey, SD Islam Bintang Juara terus memberikan ruang bagi siswa untuk mengenali potensi dan mengembangkan karakter mereka.
Karena calon pemimpin muslim yang tangguh tidak hanya belajar untuk menjadi hebat bagi dirinya sendiri, tetapi juga belajar berkarya, berkolaborasi, dan memberikan manfaat bagi orang lain.*** (CM-MRT)
by admin admin | Sep 16, 2026 | Berita, Berita Utama, Kegiatan Orang Tua, Kegiatan Siswa, Pembelajaran
“Kenapa di Indonesia tidak ada musim salju seperti di beberapa negara lain?”
Pertanyaan seperti itu mungkin terdengar sederhana. Namun, di baliknya ada konsep sains yang menarik: letak suatu negara di Bumi ternyata ikut memengaruhi iklim, musim, dan kondisi cuacanya.
Hal inilah yang menjadi awal perjalanan belajar kakak-kakak kelas 4A SD Islam Bintang Juara dalam kegiatan BBOT (Belajar Bersama Orang Tua) pada Rabu, 16 September 2026.
Bersama Bunda Imas Musfiroh, Bunda dari Kak Afshiena, kakak-kakak diajak mengenal lebih dekat tentang iklim, musim, dan cuaca.
Menariknya, tanggal tersebut bertepatan dengan Hari Internasional untuk Pelestarian Lapisan Ozon atau International Day for the Preservation of the Ozone Layer yang diperingati setiap 16 September. PBB menetapkan tanggal tersebut sebagai hari internasional untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya menjaga lapisan ozon.
Maka, pembelajaran hari itu pun berkembang menjadi perjalanan yang lebih luas. Dari negara-negara di dunia, menuju lapisan ozon, kemudian berlanjut pada efek rumah kaca dan kenaikan permukaan air laut. Semua dipelajari melalui pertanyaan, diskusi, dan praktik.
Mengenal Iklim dan Musim yang Berbeda di Setiap Negara
Perjalanan dimulai dengan mengenal berbagai negara di dunia. Kakak-kakak diajak memperhatikan letak lintang negara-negara tersebut dan menghubungkannya dengan kondisi iklim, musim, serta cuaca yang mereka alami.
Dari sini, anak-anak mulai memahami bahwa Bumi bukanlah tempat yang memiliki kondisi cuaca dan musim yang sama di setiap wilayah. Ada negara yang berada di wilayah tropis dan memiliki pola musim yang berbeda dengan negara di wilayah subtropis atau lintang tinggi.
Ada negara yang mengalami musim semi, panas, gugur, dan dingin. Sementara Indonesia, yang berada di wilayah tropis, secara umum mengalami pola musim hujan dan kemarau.
Namun, pembahasan tidak berhenti pada menghafalkan nama musim. Kakak-kakak diajak memahami bahwa letak suatu wilayah dan kondisi atmosfer merupakan bagian dari sistem yang memengaruhi kehidupan manusia di Bumi.
Dari sini, pelajaran IPAS terasa lebih dekat dengan kehidupan.
Ternyata, ketika kita melihat berita tentang salju di negara lain, musim hujan di Indonesia, atau cuaca panas yang terjadi di suatu wilayah, semuanya merupakan bagian dari sistem Bumi yang saling berkaitan.
Ternyata Hari Itu adalah Hari Ozon Sedunia
Setelah berbicara mengenai Bumi dan atmosfer, ada satu hal menarik yang membuat pembelajaran hari itu semakin relevan. 16 September adalah Hari Internasional untuk Pelestarian Lapisan Ozon.
Bunda Imas kemudian mengajak kakak-kakak berpikir: “Mengapa Bumi perlu dilindungi oleh lapisan ozon?” Pertanyaan tersebut membawa kakak-kakak mengenal salah satu pelindung penting bagi kehidupan di Bumi.
Lapisan ozon berada di stratosfer dan berfungsi menyerap sebagian radiasi ultraviolet (UV) berbahaya dari Matahari. Karena itu, keberadaan ozon stratosfer sangat penting untuk melindungi manusia, hewan, tumbuhan, dan berbagai kehidupan di Bumi.
Kakak-kakak kemudian diajak membayangkan: “Kalau lapisan ozon menipis, apa yang akan terjadi?” Pertanyaan sederhana tersebut membuka ruang bagi anak untuk memahami bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tentang kebersihan di sekitar sekolah.
Ada sistem besar di atmosfer yang juga perlu dijaga.
Bagaimana Ozon Terbentuk?
Bunda Imas juga mengenalkan unsur pembentuk ozon. Secara kimia, ozon adalah O₃, yaitu molekul yang terdiri dari tiga atom oksigen. Oksigen yang kita hirup sehari-hari umumnya berbentuk O₂.
Namun, bagaimana O₃ terbentuk?
Di stratosfer, radiasi ultraviolet dari Matahari memecah molekul O₂ menjadi atom-atom oksigen. Atom oksigen tersebut kemudian bergabung dengan molekul O₂ lainnya sehingga terbentuk O₃ atau ozon. Proses ini merupakan bagian dari keseimbangan alami pembentukan dan penghancuran ozon di atmosfer.
Penjelasan tersebut menjadi kesempatan bagi kakak-kakak untuk melihat bahwa sesuatu yang sangat kecil—bahkan sampai pada tingkat atom—dapat berperan dalam menjaga kehidupan di Bumi.
Sains yang tadinya terasa jauh menjadi lebih dekat dan dapat dibayangkan.
Bersyukur Ketika Hujan Turun dan Petir Menyambar
Dalam pembelajaran, kakak-kakak juga diajak melihat fenomena alam dari sudut pandang yang lebih luas.
Petir yang terkadang membuat kita merasa takut ternyata juga memiliki peran dalam kimia atmosfer. Petir dapat menghasilkan nitrogen oksida (NOx), yang merupakan bagian dari berbagai proses kimia di atmosfer.
Namun, penting untuk memahami bahwa petir bukan mekanisme utama pembentukan lapisan ozon stratosfer. Pembentukan ozon di stratosfer terutama digerakkan oleh radiasi UV Matahari.
Dari pembahasan tersebut, kakak-kakak tetap mendapatkan sebuah pesan reflektif: alam memiliki banyak proses yang belum tentu langsung terlihat manfaatnya bagi manusia.
Maka, ketika hujan turun, ketika awan berkumpul, atau ketika petir menyambar, kita dapat belajar untuk bersyukur dan semakin kagum terhadap keteraturan ciptaan Allah, sekaligus tetap memahami fenomena tersebut berdasarkan ilmu pengetahuan.
Praktik Efek Rumah Kaca: Apa yang Terjadi pada Bumi?
Setelah mengenal lapisan ozon, pembelajaran bergerak ke topik lain yang juga sangat dekat dengan isu lingkungan: efek rumah kaca dan perubahan iklim.
Kakak-kakak diajak melakukan praktik untuk memahami bagaimana gas rumah kaca berhubungan dengan panas di atmosfer.
Efek rumah kaca sebenarnya merupakan proses alami yang membuat Bumi memiliki suhu yang memungkinkan kehidupan berlangsung. Masalah muncul ketika konsentrasi gas rumah kaca meningkat akibat aktivitas manusia sehingga semakin banyak panas tertahan dalam sistem Bumi.
CO₂ atau karbon dioksida merupakan salah satu gas rumah kaca utama yang meningkat akibat aktivitas manusia, terutama dari penggunaan bahan bakar fosil.
Di sinilah penting untuk membedakan dua persoalan:
Penipisan lapisan ozon terutama berkaitan dengan zat perusak ozon seperti CFC, sedangkan pemanasan global sangat berkaitan dengan peningkatan gas rumah kaca seperti CO₂. Keduanya merupakan persoalan lingkungan yang berbeda, meskipun memiliki keterkaitan dalam sistem atmosfer dan iklim.
Melalui praktik, konsep yang abstrak tersebut menjadi lebih mudah dibayangkan oleh kakak-kakak.
Apa yang Terjadi Jika Es Mencair?
Petualangan belajar belum selesai. Kakak-kakak kemudian diajak melakukan praktik untuk memahami dampak mencairnya es terhadap kenaikan permukaan air laut.
Melalui simulasi sederhana, anak-anak dapat mengamati perubahan permukaan air dan mendiskusikan apa yang terjadi ketika es mencair.
Dari sini, pertanyaan baru muncul: “Kalau permukaan laut naik, apa yang terjadi pada wilayah yang berada di dekat pantai?” Pertanyaan tersebut membawa anak memahami bahwa perubahan lingkungan di satu tempat dapat memberikan dampak yang lebih luas.
Bukan hanya tentang es. Bukan hanya tentang air laut. Tetapi tentang manusia, wilayah tempat tinggal, ekosistem, dan kehidupan di masa depan.
Belajar IPAS dengan Bertanya dan Bereksperimen
Yang membuat kegiatan BBOT kelas 4A terasa berbeda adalah cara belajar yang tidak berhenti pada penjelasan.
Kakak-kakak diajak bertanya, mengamati, berdiskusi, dan melakukan praktik.
- Dari peta dunia mereka belajar tentang iklim.
- Dari posisi Bumi mereka belajar tentang musim.
- Dari kondisi atmosfer mereka belajar tentang cuaca.
- Dari Hari Ozon Sedunia mereka belajar mengapa lapisan ozon penting.
- Dari praktik efek rumah kaca mereka belajar tentang panas dan atmosfer.
- Dan dari simulasi mencairnya es, mereka belajar bahwa perubahan lingkungan dapat berdampak pada kehidupan manusia.
Satu kegiatan membawa mereka pada pertanyaan berikutnya. Dan setiap pertanyaan membuka pintu menuju pengetahuan baru.
Dari BBOT, Tumbuh Rasa Ingin Tahu terhadap Bumi
Belajar tentang iklim, musim, cuaca, ozon, dan perubahan lingkungan mungkin terdengar seperti materi yang besar untuk anak kelas 4.
Namun, ketika disampaikan melalui pengalaman, percobaan, dan pertanyaan yang dekat dengan kehidupan, sains dapat terasa lebih menyenangkan.
BBOT bersama Bunda Imas Musfiroh menjadi ruang bagi kakak-kakak kelas 4A untuk menyadari bahwa Bumi yang mereka tinggali memiliki sistem yang luar biasa kompleks.
- Ada atmosfer yang melindungi.
- Ada sinar Matahari.
- Ada awan, hujan, dan petir.
- Ada musim yang berganti.
- Ada es yang menyimpan air.
- Dan ada manusia yang memiliki tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan lingkungan.
Pada akhirnya, pembelajaran hari itu bukan hanya tentang menghafal apa itu iklim, musim, cuaca, ozon, atau efek rumah kaca.
Lebih dari itu, kakak-kakak diajak memiliki rasa ingin tahu.
- Berani bertanya.
- Mau mencoba.
- Mau mencari tahu.
Dan semakin menyadari bahwa ilmu yang dipelajari di sekolah ternyata memiliki hubungan erat dengan kehidupan sehari-hari.
Karena ketika anak mulai bertanya, “Mengapa Bumi seperti ini?”, sesungguhnya di situlah perjalanan seorang pembelajar sedang dimulai.
Dan semoga dari rasa ingin tahu tersebut tumbuh generasi yang tidak hanya unggul dalam ilmu, tetapi juga memiliki kesadaran untuk mensyukuri, memahami, dan menjaga Bumi sebagai amanah dari Allah.*** (CM-MRT)