fbpx

Menjadi guru bukan hanya tentang mengajar, tetapi juga tentang terus belajar dan menjadi ruang aman bagi murid untuk bertumbuh. Dalam episode Guru Bercerita kali ini, Aliffia Indah Fitriana, S.Pd., Gr. atau Bu Fia, berbagi perjalanan mendampingi siswa kelas 6, merancang pembelajaran bermakna, hingga menguatkan kolaborasi antarguru di SD Islam Bintang Juara.

Contents

A. Mengenal Bu Fia Lebih Dekat

Perjalanan Bu Fia di SD Islam Bintang Juara dimulai sejak 2017. Selama bertahun-tahun mendampingi berbagai angkatan, ia menemukan bahwa menjadi guru bukan hanya kesempatan untuk berbagi ilmu, tetapi juga ruang untuk terus bertumbuh dan belajar dari anak-anak.

1. Bisa diceritakan perjalanan Bu Fia hingga menjadi guru di SD Islam Bintang Juara? Mulai kapan bergabung dan bagaimana awalnya mendapatkan amanah sebagai guru?

Bergabung dengan SD Islam Bintang Juara sejak tahun 2017. Satu angkatan dengan Bu Ni’mah. Ketika bergabung dengan SD Islam Bintang Juara mendapatkan amanah mendampingi kelas 1 dan kelas 2 (angkatan Kak Ninda). Kemudian mendapatkan amanah mendampingi kelas 5 (Angkatan pertama), kemudian lanjut kelas 6 sampai mendampingi angkatan 1 lulus.

2. Apa yang pertama kali membuat Bu Fia tertarik dengan Bintang Juara? Adakah hal tertentu dari sekolah ini yang membuat Bu Fia ingin menjadi bagian di dalamnya?

Yang membuat saya tertarik dengan SD Islam Bintang Juara sangat banyak. Namun ketika saya bergabung dengan SD Islam Bintang Juara saya banyak belajar dan memperoleh ilmu di sini.

Karena saya bergabung dengan sekolah ini sebelum menikah, di sini mulanya saya mengenal pola pengasuhan anak dan ilmu parenting. Rasanya pada waktu itu saya membutuhkan SD Islam Bintang Juara karena disini ilmunya sangat banyak. Bukan sekedar ilmu akademis, melainkan ilmu kehidupan. Tidak hanya sekedar mengajar, di sini saya juga menemukan keluarga baru yang selalu mengingatkan pada hal-hal kebaikan.

3. Selama perjalanan di Bintang Juara, pernahkah ada momen yang membuat Bu Fia berpikir untuk berhenti atau menyerah? Apa yang kemudian membuat Bu Fia memilih untuk tetap bertahan hingga sekarang?

Pasti ada momen di mana saya ingin berhenti atau resign. Namun menjadi guru menurut saya adalah kebutuhan saya. Ketika saya menjadi guru, saya akan terus belajar banyak hal. Ketika menjumpai anak-anak saya juga banyak belajar dari mereka.

Rasanya saya ingin menjadi salah satu orang yang pahalanya terus mengalir dengan memberikan ilmu-ilmu yang bermanfaat. Salah satunya adalah dengan menjadi seorang guru

4. Setelah menjalani perjalanan selama ini, apa yang paling berubah dari cara Bu Fia memandang profesi guru?

Ternyata menjadi guru itu sebuah profesi yang sangat mulia. Sebuah profesi yang menjadi pondasi untuk pemimpin-pemimpin masa depan. Jadi seorang guru itu dapat memberikan dampak yang sangat besar untuk peserta didik. Bagaimana sikap, tutur kata, value yang selalu disampaikan guru bisa menjadi karakter atau teladan baik bagi peserta didik.

B. Suka Duka Menjadi Guru

Di balik kegiatan belajar mengajar, ada pengalaman yang membentuk cara Bu Fia memahami murid-muridnya. Baginya, menjadi guru juga berarti membangun kepercayaan, mendengarkan cerita, dan menghadirkan ruang nyaman bagi anak untuk menyampaikan perasaannya.

5. Selama menjadi guru, apa pengalaman yang paling membahagiakan atau membuat Bu Fia merasa, “Oh, ternyata menjadi guru itu berarti”?

Ketika saya menjadi rumah aman dan nyaman untuk bercerita. Tidak hanya sekedar menyampaikan hal akademis, melainkan keterbukaan peserta didik yang menjadikan saya ruang untuk menyampaikan apa yang ia rasakan. Walaupun sudah lulus menyampaikan “Bu Fia, lagi sibuk ndak? Aku mau cerita boleh ndak bu?”

6. Sebaliknya, apa tantangan atau momen paling berat yang pernah Bu Fia hadapi sebagai guru? Bagaimana Bu Fia melewatinya?

Tantangan yang paling berat sebagai seorang guru adalah ketika siswa masih tertutup dengan saya. Seperti belum menyampaikan apa masalahnya, kenapa ketika di kelas tidak bersemangat, belum mau bercerita (karena jika itu terjadi pasti akan memilki dampak yang tidak baik dalam hal akademisnya).

Sehingga yang saya lakukan adalah mencoba untuk menjadi temannya, tidak terus membicarakan hal akademis. Mulai dari bahasa yang saya sampaikan, gestur tubuh saya mencoba menjadi teman yang nyaman untuk mereka.

7. Apa pelajaran terbesar yang justru Bu Fia dapatkan dari murid-murid selama menjadi guru?

Ternyata terkadang kakak-kakak itu tidak butuh dinasehati panjang lebar. Mereka hanya butuh diberikan ruang untuk menyampaikan apa yang ia rasakan. Terkadang kakak-kakak hanya butuh apresiasi sederhana untuk meningkatkan semangatnya.

8. Ada nggak momen sederhana dari murid yang sampai sekarang masih Bu Fia ingat?

Ini cerita dari salah satu siswa kelas 6 angkatan 5 ini. Ketika mereka mengetahui saya tidak memilki pendamping, mereka seperti saling mengajak temannya untuk “membantu Bu Fia” dengan menjaga sikapnya, membantu yang dibutuhkan Bu Fia (mereka diskusi sendiri lo tanpa sepengetahuan saya).

Kemudian ada salah satu siswa yang menyampaikan “Bu Fia aku mau membelikan sesuatu untuk Bu Fia tapi jangan dilihat harganya ya bu. Lihat manfaatnya…”

Eh, ternyata dibelikan microfon kecil untuk membuat konten. Maksudnya bukan tentang barangnya tapi tentang perhatiannya. Mereka menyampaikan “Biar Bu Fia klo rekaman tidak perlu kenceng kenceng suaranya, hehe.” Sederhana tapi perhatiannya luar biasa.

C. Menjadi Guru Kelas 6: Mendampingi di Fase Akhir SD

Mendampingi siswa kelas 6 menghadirkan tantangan sekaligus kesempatan untuk menciptakan kenangan bermakna sebelum mereka melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Bagi Bu Fia, persiapan anak tidak berhenti pada akademik, tetapi juga mencakup adab, karakter, dan kebiasaan menebar kebaikan.

9. Apa yang paling berbeda ketika mengajar kelas 6 dibandingkan kelas-kelas sebelumnya?

Dulu pernah mendampingi kelas 1 dan kelas 2. Baru empat tahun terakhir mendampingi kelas 6. Ternyata menjadi guru kelas 6 itu tidak hanya sekedar menyampaikan akademis. Melainkan menciptakan momen-momen bermakna sebelum mereka lulus. Ternyata menjadi guru kelas 6 itu harus bisa menjadi teman mereka.

10. Kelas 6 berada di fase menuju jenjang berikutnya. Selain akademik, hal apa yang menurut Bu Fia paling penting dipersiapkan sebelum anak meninggalkan SD?

Saya selalu menyampaikan kepada anak-anak bahwa adab itu nomor 1. Ketika kita menjaga adab dan terus menanamkan kebaikan. Kalian kelak akan memetik atau menuai kebaikan yang kalian tanam. Jadi dimanapun kakak-kakak berada terus menjaga adab dan terus menanamkan kebaikan.

11. Bagaimana cara Bu Fia menjaga anak-anak kelas 6 tetap semangat belajar ketika tuntutan akademik mulai semakin besar?

Menciptakan kegiatan pembelajaran yang bervariatif, menyenangkan dan dekat dengan peserta didik.

12. Menurut Bu Fia, apa yang sering kali orang dewasa salah pahami tentang anak kelas 6?

Terkadang orang dewasa menganggap kelas 6 itu suka melanggar aturan, dibanding-bandingkan dengan adik kelasnya. Namun ketika kita mau lebih dekat dan mendengarkan mereka, mereka hanya butuh ruang untuk menyampaikan apa yang ia tahu dengan versi mereka.

13. Jika melihat perjalanan anak-anak dari kelas 1 sampai kelas 6, perubahan seperti apa yang paling membuat Bu Fia bangga ketika melihat mereka di kelas 6?

Ketika siswa kelas 6 memilki sopan dan santun terhadap guru, menjaga adab dan juga ketauhidan yang semakin matang.

galeri bu fia bersama murid sd islam bintang juara

D. Kurikulum: Merancang Pembelajaran yang Bermakna

Sebagai staf kurikulum, Bu Fia turut berperan dalam mendukung guru merancang pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Kurikulum menjadi landasan, sementara pemahaman terhadap kebutuhan anak tetap menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran.

14. Selain menjadi guru kelas 6, Bu Fia juga mendapat amanah sebagai Staff Kurikulum. Apa saja yang menjadi bagian dari peran Bu Fia dalam bidang kurikulum?

Mencoba untuk memberikan contoh kegiatan-kegiatan pembelajaran yang bermakna. Mendengarkan masukan teman-teman dan mencoba untuk menjadi ruang diskusi untuk teman-teman guru.

15. Menurut Bu Fia, seberapa penting kurikulum dalam memastikan pembelajaran benar-benar sesuai dengan kebutuhan anak?

Kurikulum menjadi pondasi yang kuat dalam merancang kegiatan pembelajaran. Namun yang paling penting adalah memahami kebutuhan peserta didik dan sebagai seorang guru mampu memfasilitasi kebutuhan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran.

16. Dalam menyusun atau mendampingi proses pembelajaran, bagaimana tim kurikulum memastikan guru tidak hanya mengejar materi, tetapi juga perkembangan anak secara utuh?

Memberikan ruang diskusi kepaa guru, bagaimana proses kegiatan pembelajaran yang sudah dirancang. Memberikan feedback dari rancangan guru yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

E. Komunitas Belajar: Guru Juga Harus Terus Belajar

Perkembangan anak dan perubahan zaman menuntut guru untuk terus memperbarui pengetahuan serta cara mengajar. Melalui Komunitas Belajar Telaga Ilmu, para guru memiliki ruang untuk berdiskusi, berbagi praktik baik, dan saling menguatkan dalam menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna.

17. Bu Fia juga sering mengatur jadwal Komunitas Belajar. Sebenarnya, apa tujuan utama Komunitas Belajar bagi guru-guru di Bintang Juara?

Tujuan KOMBEL TELAGA ILMU adalah sebagai wadah atau ruang guru-guru SD Islam Bintang Juara untuk terus belajar, berdiskusi, berbagi praktik baik antar guru

18. Mengapa guru perlu terus belajar bersama, bahkan ketika sudah memiliki pengalaman mengajar bertahun-tahun?

Karena ilmu sangat luas. Sebagai seorang guru, wajib untuk terus belajar dan mengupgrade ilmu yang dimilki. Tidak bisa kita sebagai seorang guru mengajar dengan metode yang sama. Anak-anak kita berubah maka seorang guru harus terus belajar.

19. Dalam mengatur Komunitas Belajar, apa tantangan yang paling sering muncul dan bagaimana Bu Fia mengatasinya?

Tantangan yang sering muncul adalah menghidupkan semangat guru-guru untuk terus belajar. Cara mengatasinya dengan menghadirkan ragam kegiatan di KOMBEL yang sesuai kebutuhan guru dan lebih bervariasi

20. Pernahkah ada hasil diskusi atau pembelajaran dari Komunitas Belajar yang kemudian langsung mengubah atau memperbaiki praktik pembelajaran di kelas?

Pernah. Justru di situlah salah satu fungsi Kombel, untuk membuat guru tidak berhenti belajar dan terus mau memperbaiki kualitas caranya mendidik dan mendampingi murid-murid.

F. TKA: Bukan Sekadar Mengejar Hasil

Menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA), anak membutuhkan pendampingan yang tidak hanya berfokus pada latihan soal. Bu Fia mengingatkan pentingnya ikhtiar, doa, penguatan nilai tauhid, serta apresiasi terhadap proses yang telah dilalui anak.

21. Saat ini banyak orang tua mulai mempersiapkan anak menghadapi TKA. Menurut Bu Fia, apa yang sebenarnya perlu dipersiapkan orang tua selain kemampuan akademik anak?

Menanamkan ketauhidan kepada anak.

Bahwa ketika kita menginginkan sesuatu ikhtiar kita tidak hanya sekedar belajar dengan tekun. Melainkan kita harus terus meminta kepada Allah, mengajak anak-anak untuk memperbanyak sunnah bukan sekedar melaksanakan kewajiban seperti mengajak mereka shalat tahajud dan melaksanakan puasa sunnah.

22. Bagaimana sebaiknya Ayah Bunda mendampingi anak menghadapi TKA tanpa membuat anak merasa terlalu terbebani atau takut dengan hasil?

Mendampingi secara konsisten, bukan hanya ketika ada ujian atau tryout saja. Memberikan apresiasi atas setiap usaha atau proses yang sudah dilakukan oleh kakak-kakak tanpa menghakimi nilai.

23. Apa yang ingin Bu Fia sampaikan kepada orang tua yang mungkin terlalu fokus pada nilai TKA hingga lupa melihat proses dan kondisi anak?

TKA hanya NILAI. Namun dibalik nilai yang terlihat ada sebuah perjuangan, ikhtiar, doa dan semangat kakak-kakak yang terkadang tidak ditunjukkan.

G. Menutup Perjalanan: Pesan Bu Fia untuk Anak dan Orang Tua

Menjelang kelulusan dan masa transisi ke jenjang berikutnya, Bu Fia menitipkan harapan agar anak-anak tumbuh dengan adab yang baik dan mampu menebar manfaat. Ia juga mengajak Ayah Bunda untuk tetap hadir sebagai pendamping yang memberikan ruang aman bagi anak, termasuk ketika mereka menghadapi kegagalan.

24. Jika melihat anak-anak kelas 6 yang sebentar lagi melanjutkan ke jenjang berikutnya, karakter seperti apa yang paling Bu Fia harapkan mereka bawa setelah lulus dari Bintang Juara?

Memilki adab yang bagus, dapat menjadi pemimpin yang amanah, bisa menebar kebaikan walupun hanya sedikit.

25. Jika hanya boleh menitipkan satu pesan kepada Ayah Bunda yang sedang mendampingi anak di kelas 6, terutama dalam menghadapi TKA dan masa transisi ke jenjang berikutnya, apa yang ingin Bu Fia sampaikan?

Menemani anak tidak hanya sekedar mendampingi proses belajar akademik saja. Namun kakak-kakak butuh ruang nyaman untuk bercerita ketika ia mengalami kegagalan

Kisah Bu Fia mengingatkan kita bahwa pendidikan bukan semata tentang nilai dan pencapaian, melainkan juga tentang adab, keteladanan, dan proses bertumbuh. Ketika guru terus belajar dan Ayah Bunda hadir mendampingi dengan konsisten, anak memiliki bekal yang lebih utuh untuk melangkah ke masa depan. Sebab, setiap anak tidak hanya perlu dipersiapkan untuk berhasil, tetapi juga untuk menjadi pribadi yang amanah dan bermanfaat.*** (CM-MRT)