fbpx

Memilih sekolah untuk anak bukan sekadar menentukan tempat belajar membaca, menulis, dan berhitung. Ada hal lain yang tak kalah penting: bagaimana anak belajar bersosialisasi, mengelola emosi, membangun kebiasaan baik, dan tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak mulia.

Karena itu, mengenal sekolah secara langsung menjadi langkah penting bagi orang tua sebelum menentukan pilihan pendidikan untuk buah hati.

Semangat inilah yang terasa dalam kegiatan School Touring Batch 1 SD Islam Bintang Juara yang merupakan rangkaian SPMB TP. 2027/2028 pada Selasa, 6 Oktober 2026. Melalui kegiatan ini, sekitar 30 pasang calon orang tua siswa mendapat kesempatan untuk melihat lebih dekat suasana pembelajaran, mengenal manfaat program-program sekolah, sekaligus berdiskusi mengenai perkembangan anak bersama Bunda Vivi Psikolog.

Tidak hanya tentang pembelajaran di kelas, kegiatan ini juga membuka ruang diskusi mengenai persoalan yang kerap menjadi perhatian orang tua, salah satunya bagaimana memahami dan menyikapi konflik antaranak di lingkungan sekolah.

Mengenal Sekolah Bukan Hanya dari Brosur

Informasi tentang sekolah memang dapat diperoleh melalui website, media sosial, maupun brosur. Namun, melihat langsung proses pembelajaran memberikan pengalaman yang berbeda.

Dalam School Touring, orang tua berkesempatan mengamati bagaimana kegiatan belajar berlangsung, bagaimana guru mendampingi siswa, serta bagaimana nilai-nilai pendidikan diterapkan dalam keseharian.

SD Islam Bintang Juara mengembangkan pembelajaran yang tidak hanya berfokus pada penguatan akademik, tetapi juga pada pembentukan adab, akhlak, kecakapan hidup, dan nilai-nilai kepemimpinan Islam. Proses pendidikan dirancang agar anak dapat belajar sesuai tahap perkembangannya sekaligus membangun kebiasaan baik yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui penjelasan mengenai program-program sekolah, orang tua diajak memahami bahwa setiap kegiatan memiliki tujuan pendidikan. Anak tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga mendapat kesempatan untuk melatih kemandirian, kreativitas, fokus, kontrol diri, dan kemampuan bekerja sama.

Dengan melihat langsung lingkungan belajar, orang tua dapat memperoleh gambaran yang lebih utuh tentang proses pendidikan yang akan dijalani anak.

Memahami Perkembangan Anak Bersama Bunda Vivi Psikolog

Salah satu sesi yang menjadi bagian penting dari School Touring Batch 1 adalah diskusi mengenai tumbuh kembang anak bersama Bunda Vivi Psikolog.

Setiap anak memiliki karakter, pengalaman, dan tahap perkembangan yang berbeda. Karena itu, perilaku yang muncul dalam keseharian perlu dipahami dengan melihat konteksnya, bukan hanya dari apa yang terlihat di permukaan.

Anak yang marah ketika mainannya diambil, misalnya, mungkin masih belajar menyampaikan keinginan dengan tepat. Anak yang kesulitan menunggu giliran bisa jadi masih membutuhkan pendampingan untuk mengembangkan kontrol diri. Sementara itu, perilaku yang menyakiti teman tetap perlu dihentikan dan diarahkan agar anak memahami batasan serta dampak tindakannya.

Di sinilah pentingnya peran orang dewasa. Orang tua dan guru perlu membantu anak mengenali emosi, memahami aturan, belajar menyampaikan kebutuhan, serta menemukan cara yang lebih baik untuk menyelesaikan masalah.

Memahami perkembangan anak bukan berarti membiarkan perilaku yang tidak tepat. Sebaliknya, pemahaman tersebut membantu orang dewasa memberikan respons yang lebih sesuai dengan kebutuhan anak, tanpa mengabaikan keamanan dan kenyamanan orang lain.

galeri kegiatan school touring batch 1 spmb 20272028

Mengapa Anak Tidak Boleh Terburu-buru Diberi Label?

Dalam diskusi mengenai persoalan antaranak, Kepala SD Islam Bintang Juara, Bu Ni’mah, mengingatkan bahwa orang dewasa tidak seharusnya terburu-buru melabeli seorang anak sebagai pelaku bullying ketika terjadi perselisihan.

Sebelum mengambil kesimpulan, kita perlu memahami apa yang sebenarnya terjadi. Apakah anak sedang mengalami konflik dengan temannya? Apakah ia kesulitan mengendalikan emosi? Apakah perilaku tersebut sudah terjadi berulang kali? Adakah ketimpangan kekuatan di antara anak-anak yang terlibat?

Pertanyaan-pertanyaan ini penting agar respons yang diberikan tidak keliru.

Konflik dapat terjadi ketika kontrol diri anak masih berkembang

Pada usia sekolah dasar, kemampuan mengelola emosi, mengendalikan impuls, dan menyelesaikan masalah masih perlu terus dilatih. Ketika keinginannya tidak terpenuhi, anak mungkin bereaksi secara spontan, seperti merebut barang, berteriak, mendorong, atau mengucapkan kata-kata yang menyakiti temannya.

Sebagian anak masih membutuhkan banyak kesempatan untuk berlatih menunggu giliran, menerima penolakan, berbagi, dan mengungkapkan perasaan dengan kata-kata yang tepat.

Dukungan terhadap perkembangan sensori motorik juga menjadi salah satu bagian dari stimulasi yang dapat diberikan sesuai kebutuhan anak. Melalui aktivitas seperti bergerak, bermain di luar ruangan, menyusun balok, melakukan permainan koordinasi, dan kegiatan fisik terarah, anak memperoleh kesempatan untuk melatih kemampuan tubuh serta belajar merespons rangsangan dan situasi dengan lebih terarah.

Namun, stimulasi sensori motorik bukan satu-satunya cara untuk mengatasi kesulitan kontrol diri. Anak tetap membutuhkan pendampingan dalam mengenali emosi, memahami aturan, berkomunikasi, dan memperbaiki perilaku yang keliru.

Konflik dan bullying perlu dibedakan

Konflik antarteman dapat muncul karena perbedaan keinginan, kesalahpahaman, atau kemampuan bekerja sama yang masih berkembang. Sementara itu, bullying atau perundungan memiliki karakteristik yang lebih spesifik.

Menurut StopBullying.gov, bullying melibatkan perilaku agresif yang tidak diinginkan, adanya ketimpangan kekuatan, serta perilaku yang terjadi berulang kali atau berpotensi berulang. Bentuknya dapat berupa tindakan fisik, ucapan yang menyakitkan, ancaman, penyebaran rumor, maupun pengucilan yang disengaja. Baca penjelasan tentang karakteristik bullying.

Meskipun demikian, bukan berarti konflik biasa boleh diabaikan. Perilaku seperti memukul, mendorong, atau menghina tetap perlu ditangani, sekalipun belum memenuhi karakteristik bullying.

Yang perlu dihindari adalah memberi label pada identitas anak sebelum memahami situasinya. Anak perlu belajar bertanggung jawab atas perilakunya, tetapi ia juga membutuhkan kesempatan untuk memperbaiki diri.

Pendekatan yang lebih tepat adalah berfokus pada tindakan yang terjadi, mendengarkan pihak-pihak yang terlibat, memastikan semua anak aman, dan memberikan pendampingan yang sesuai. StopBullying.gov juga mengingatkan pentingnya memahami situasi sebelum menentukan apakah suatu kejadian termasuk bullying. Pelajari panduan merespons bullying.

Dengan cara ini, orang dewasa tidak hanya berusaha menghentikan masalah yang sedang terjadi, tetapi juga membantu anak belajar menyelesaikan persoalan dengan lebih sehat.

Pengaruh Gadget terhadap Perilaku Anak: Apa yang Perlu Diwaspadai?

Selain interaksi langsung dengan teman, lingkungan digital juga menjadi hal yang perlu diperhatikan dalam memahami perilaku anak.

Dari berbagai kejadian yang ditemui di lingkungan sekolah, terdapat anak-anak yang menggunakan kosakata buruk atau menunjukkan perilaku kasar yang menyerupai hal-hal yang mereka lihat dalam video maupun permainan digital.

Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa konten yang dikonsumsi anak perlu mendapat perhatian serius. Anak bisa meniru kata-kata, gaya bicara, gerakan, maupun cara menyelesaikan masalah yang dilihatnya. Sementara itu, kemampuan mereka untuk menilai apakah suatu perilaku pantas ditiru masih terus berkembang.

Hal ini bukan berarti setiap anak yang menggunakan gadget pasti akan menunjukkan perilaku negatif. Namun, tanpa pemilihan konten dan pendampingan yang memadai, anak dapat terpapar bahasa atau perilaku yang belum sesuai dengan usianya.

Karena itu, mengontrol penggunaan gadget bukan hanya soal membatasi durasi, tetapi juga memastikan apa yang ditonton dan dimainkan anak.

Apa yang dapat dilakukan orang tua di rumah?

Ada beberapa langkah yang dapat diterapkan untuk membantu anak membangun kebiasaan digital yang lebih sehat.

1. Periksa konten sebelum diberikan kepada anak.

Jangan hanya melihat judul atau tampilan awal video. Perhatikan juga bahasa, adegan, dan perilaku yang muncul di dalamnya. Hal serupa berlaku untuk permainan digital yang dimainkan anak.

2. Dampingi anak saat menggunakan gadget.

Sesekali, orang tua dapat menonton atau bermain bersama anak. Jika muncul kata-kata kasar atau tindakan yang tidak pantas, jelaskan dengan bahasa sederhana mengapa perilaku tersebut tidak baik untuk ditiru.

3. Buat aturan penggunaan gadget yang konsisten.

Tentukan kapan anak boleh menggunakan perangkat, berapa lama penggunaannya, serta situasi ketika gadget perlu disimpan, misalnya saat makan, belajar, beribadah, atau berinteraksi bersama keluarga.

4. Sediakan kegiatan alternatif yang menarik.

Anak tetap membutuhkan kesempatan untuk bergerak, bermain bersama teman, membaca buku, membuat karya, dan melakukan aktivitas fisik. Kegiatan-kegiatan ini memberi ruang bagi anak untuk belajar melalui pengalaman nyata dan interaksi langsung.

5. Berikan teladan dalam berkata dan bersikap.

Anak belajar dari apa yang dilihatnya setiap hari, termasuk cara orang dewasa berbicara ketika marah, menyelesaikan perselisihan, dan menggunakan perangkat digital. Keteladanan di rumah menjadi bagian penting dari pendidikan karakter.

Pendampingan ini tidak perlu dilakukan dengan memarahi anak setiap kali ia meniru sesuatu yang kurang tepat. Orang tua dapat menjadikan momen tersebut sebagai kesempatan untuk menjelaskan, mengarahkan, dan membangun kebiasaan yang lebih baik.

Pendidikan Anak Membutuhkan Kerja Sama Sekolah dan Orang Tua

Sekolah memiliki peran dalam mendampingi anak belajar, membangun adab, mengembangkan kontrol diri, dan menciptakan lingkungan yang aman. Namun, proses tersebut tidak berhenti ketika anak pulang ke rumah.

Apa yang dibiasakan di sekolah perlu diperkuat melalui pendampingan keluarga. Sebaliknya, kebiasaan dan pengalaman anak di rumah juga penting untuk dipahami oleh guru agar pendampingan yang diberikan dapat berjalan lebih selaras.

Ketika sekolah menemukan perilaku yang perlu mendapat perhatian, komunikasi dengan orang tua membantu kedua pihak memahami situasi secara lebih utuh. Orang tua pun dapat menyampaikan kebiasaan anak di rumah, termasuk pola penggunaan gadget dan jenis konten yang dikonsumsi.

Kerja sama ini bukan untuk saling menyalahkan, melainkan untuk mencari langkah yang paling bermanfaat bagi perkembangan anak.

Dengan komunikasi yang terbuka dan konsisten, sekolah dan keluarga dapat membantu anak memahami batasan, mengelola emosi, menghargai orang lain, serta belajar bertanggung jawab atas tindakannya.

Pada akhirnya, tujuan pendidikan bukan sekadar membuat anak mengetahui mana perilaku yang benar dan salah. Lebih dari itu, anak perlu dibimbing agar memahami alasan di balik aturan, mampu memperbaiki kesalahan, dan tumbuh menjadi pribadi yang berilmu, berakhlakul karimah, serta bermanfaat bagi sesama.

Nilai-nilai inilah yang terus diupayakan melalui proses pendidikan di SD Islam Bintang Juara.

Yuk, Kenali SD Islam Bintang Juara Lebih Dekat!

School Touring Batch 1 pada Selasa, 6 Oktober 2026 menjadi kesempatan bagi calon orang tua siswa untuk melihat langsung proses pembelajaran, mengenal program-program sekolah, dan berdiskusi mengenai perkembangan anak bersama Bunda Vivi Psikolog.

Bagi Ayah Bunda yang belum berkesempatan hadir, masih ada kesempatan untuk mengenal SD Islam Bintang Juara lebih dekat melalui School Touring Batch 2 pada Selasa, 20 Oktober 2026.

SD School Touring Batch 2

Mari mengenal lebih dekat lingkungan belajar yang mendukung tumbuh kembang anak, menguatkan nilai-nilai Islami, dan menumbuhkan karakter calon pemimpin muslim masa depan.

Untuk informasi dan pendaftaran School Touring Batch 2, Ayah Bunda dapat menghubungi admin SD Islam Bintang Juara melalui kanal resmi sekolah.

Sebab, memilih sekolah bukan hanya tentang tempat anak menuntut ilmu, tetapi juga tentang lingkungan tempat mereka belajar menjadi pribadi yang lebih baik.*** (CM-MRT)