Sekolah bukan sekadar tempat belajar, tetapi juga lingkungan yang membentuk akhlak dan kebiasaan anak. Dalam Guru Bercerita kali ini, Arif Wibowo, S.H.I., S.H., M.H., Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana dan Prasarana sekaligus Guru PAI SD Islam Bintang Juara, berbagi perjalanan pengabdian serta pandangannya tentang menjaga fasilitas sekolah sebagai amanah dan bagian dari pendidikan karakter Islami.
Contents
- 1 Mengenal Perjalanan Pak Arif Bersama Bintang Juara
- 2 Menjaga Lingkungan, Mendukung Proses Pendidikan
- 2.1 3. Menurut Bapak, apa hubungan antara lingkungan sekolah dengan proses pendidikan anak?
- 2.2 4. Seberapa besar pengaruh ruang yang bersih, aman, nyaman, dan tertata terhadap pengalaman belajar anak?
- 2.3 5. Apa saja hal yang mungkin tidak terlihat oleh siswa tetapi sebenarnya penting dalam menjaga sekolah tetap berjalan dengan baik?
- 2.4 6. Apa prinsip yang Bapak pegang ketika mengelola fasilitas dan sarana sekolah?
- 3 Merawat Fasilitas, Melatih Amanah
- 4 Ilmu Agama yang Hidup dalam Perilaku
- 4.1 10. Sebagai guru PAI, bagaimana Bapak melihat hubungan antara ilmu agama dengan perilaku anak sehari-hari?
- 4.2 11. Menurut Bapak, apa bedanya anak yang sekadar mengetahui ajaran agama dengan anak yang benar-benar menghidupinya?
- 4.3 12. Bagaimana cara mengenalkan konsep amanah kepada anak melalui hal-hal sederhana?
- 4.4 13. Bagaimana pembiasaan kecil di sekolah dapat menjadi bagian dari pendidikan Islam?
- 5 Menghadapi Tantangan Pendidikan di Tengah Perubahan Zaman
- 6 Menjaga Amanah, Menanamkan Keteladanan
- 6.1 17. Pernahkah ada pengalaman ketika menjaga fasilitas sekolah justru membuat Bapak belajar sesuatu tentang karakter anak?
- 6.2 18. Apa fasilitas atau ruang di sekolah yang menurut Bapak memiliki cerita atau fungsi pendidikan yang menarik?
- 6.3 19. Apa yang ingin Bapak tanamkan kepada anak-anak tentang arti menjaga sesuatu yang dipercayakan kepada kita?
- 6.4 20. Apa pesan Bapak untuk kakak shalih-shalihah dan Ayah Bunda tentang menjaga sekolah sebagai bagian dari amanah?
- 6.5 21. Jika harus merangkum peran Pak Arif sebagai Wakasek Bidang Sarpras sekaligus Guru Pendidikan Agama Islam dalam satu kalimat, apa yang ingin disampaikan?
Mengenal Perjalanan Pak Arif Bersama Bintang Juara
Pak Arif merupakan salah satu sosok assabiqunal awwalun SD Islam Bintang Juara. Perjalanan Pak Arif bersama Bintang Juara sudah dimulai bahkan sebelum sekolah ini memiliki gedung dan siswa.
1. Bisa diceritakan perjalanan Bapak hingga mendapat amanah sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarpras sekaligus Guru PAI?
Perjalanan saya bersama SD Islam Bintang Juara bermula di penghujung tahun 2016, sebuah babak awal yang dipenuhi benih tekad dan keikhlasan. Atas amanah dari Prof. Dr. Hj. Esmi Warassih, S.H., M.S., ibunda dari Bunda Vivi Psikolog (Ketua Yayasan Dewi Sartika), saya dipanggil untuk membantu merintis sebuah lembaga pendidikan Islam yang kala itu belum memiliki satu pun siswa dan gedungnya masih berupa rakitan fondasi.
Meski tanpa latar belakang pendidikan formal keguruan dan hanya berbekal perigi ilmu agama dari pesantren dan perkuliahan, Ibu Vivi membukakan pintu kesempatan yang begitu luas untuk saya bertumbuh. Saya ditempa melalui magang di Sekolah Al-Falah Cipayung Jakarta Timur di bawah bimbingan Ibunda drg. Wismiarti Tamim, menimba ilmu di Fakultas Psikologi UGM, belajar seni mendongeng, hingga menyerap kedalaman pengasuhan melalui PSPA, PDA, dan KCR di bawah bimbingan Abah Ihsan.
Di tengah deru pembangunan gedung yang belum usai, saya meniti tahun pertama dengan mencurahkan pengabdian pada pengurusan perizinan serta persiapan pembukaan sekolah. Di sela-sela perjuangan memoles fondasi itu, saya menuntun lantunan ayat-ayat suci sebagai guru mengaji sekaligus menjadi pendamping hangat bagi anak-anak di PAUD Islam Bintang Juara.
Impian tersebut akhirnya merekah pada tahun 2018 ketika SD Islam Sentra Bintang Juara resmi berdiri, menandai jejak langkah pertamanya di sebuah bangunan sewa di Jalan Lamongan Raya, Bendan Ngisor. Di tempat yang sederhana namun sarat makna itu, saya mendapat kehormatan memegang kemudi kepemimpinan sebagai Kepala Sekolah, merangkap tugas mulia menanamkan nilai-nilai kebaikan sebagai Guru PAI dan Budi Pekerti.
Memasuki tahun kedua pada 2019, langkah perjuangan kami meluas seiring perpindahan gedung ke Jalan Dewi Sartika Raya No. 17 A. Langkah demi langkah kami lalui bersama, merajut asa di setiap sudut ruang kelas yang mulai dipenuhi tawa dan semangat para murid.
Dinamika pengabdian kemudian membawa muara baru saat ketentuan kualifikasi Kepala Sekolah mengharuskan latar belakang PGSD. Tangkai kepemimpinan pun diserahkan dengan penuh keikhlasan kepada Bu Nikmah, sosok kawan seperjuangan yang telah meniti jalan bersama sejak awal sekolah ini berdiri di Jalan Lamongan.
Bagi saya, ketulusan berkarya tak pernah surut oleh bergantinya tajuk amanah. Hingga saat ini, saya terus mendedikasikan jiwa dan raga sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana dan Prasarana sekaligus Guru PAI, menjaga tempat ini agar tetap menjadi rumah yang kokoh, indah, dan mendidik bagi para Calon Pemimpin Muslim yang beriman, berilmu, berakhlak mulia serta bermanfaat bagi sesama.
2. Apa yang membuat Bapak tertarik menjadi pendidik?
Ada tiga alasan utama saya memilih menjadi pendidik: menjalankan misi para nabi dan melanjutkan risalah kebaikan, membangun investasi akhirat melalui amal jariah, menerima kemuliaan derajat dan kebajikan dari Allah Swt.
Menjaga Lingkungan, Mendukung Proses Pendidikan
Ruang belajar yang bersih, aman, nyaman, dan tertata bukan sekadar menunjang kegiatan sekolah. Bagi Pak Arif, lingkungan fisik juga berperan dalam membangun ketenangan, menumbuhkan kepedulian, dan menghadirkan suasana yang mendukung anak untuk belajar dengan baik.
3. Menurut Bapak, apa hubungan antara lingkungan sekolah dengan proses pendidikan anak?
Lingkungan sekolah bukan sekadar tempat terjadinya transfer ilmu pengetahuan, melainkan sebuah ruang penyemaian fitrah (bi’ah shalihah) yang berperan vital dalam membentuk akidah, akhlak, dan kepribadian seorang anak.
Rasulullah Saw menegaskan pentingnya pengaruh lingkungan dan teman bergaul melalui perumpamaan penjual minyak wangi dan penempa besi, di mana suasana religius, keteladanan para pendidik, serta sarana prasarana yang mendukung kebaikan di sekolah akan menyerap ke dalam jiwa murid dan membimbing mereka menuju ketakwaan.
Sebaliknya, proses pendidikan tidak akan berjalan optimal tanpa ekosistem yang suci dan kondusif, sebab kebiasaan serta nilai-nilai terpuji yang dihidupkan secara konsisten di lingkungan sekolah inilah yang menjadi wujud nyata dari upaya menjaga fitrah kesucian yang telah Allah amanahkan pada setiap diri anak SD Islam Bintang Juara.
4. Seberapa besar pengaruh ruang yang bersih, aman, nyaman, dan tertata terhadap pengalaman belajar anak?
Ruang belajar yang bersih, aman, nyaman, dan tertata rapi merupakan bentuk pengamalan nyata dari prinsip At-Thaharah (bersuci) dan manifestasi bahwa Allah itu Indah dan menyukai keindahan.
إن الله جميل يحب الجمال
Lingkungan fisik yang terjaga kebersihannya serta tertata dengan baik tidak hanya memberikan rasa aman dan ketenangan jiwa (thuma’ninah), tetapi juga melapangkan pikiran anak sehingga mereka dapat fokus menyerap ilmu dengan khusyuk dan gembira.
Suasana yang kondusif ini menumbuhkan rasa betah, memicu kreativitas, serta menanamkan karakter adab dan kepedulian terhadap lingkungan sejak dini, menjadikan setiap detik pengalaman belajar sebagai bentuk ibadah yang menghadirkan keberkahan.
5. Apa saja hal yang mungkin tidak terlihat oleh siswa tetapi sebenarnya penting dalam menjaga sekolah tetap berjalan dengan baik?
Dibalik senyum dan kenyamanan ruang kelas yang dinikmati para siswa, ada dedikasi tak terlihat dalam pengelolaan sarana prasarana, pengurusan perizinan, kesiapan fasilitas, hingga tata kelola sistem yang terus berdenyut tanpa henti demi memastikan seluruh aktivitas belajar berjalan aman, tertib, dan penuh keberkahan.
6. Apa prinsip yang Bapak pegang ketika mengelola fasilitas dan sarana sekolah?
Mengelola fasilitas dan sarana sekolah adalah bentuk menunaikan amanah (amanah), menjaga kelestarian aset tanpa pemborosan (laa tusrifu), serta menghadirkan kebaikan terbaik (ihsan) demi menciptakan lingkungan belajar yang aman, bersih, dan penuh keberkahan bagi para penuntut ilmu.
Merawat Fasilitas, Melatih Amanah
Menjaga fasilitas sekolah ternyata menyimpan pelajaran yang lebih dalam daripada sekadar merapikan barang atau menjaga kebersihan. Melalui kebiasaan sederhana, anak-anak dapat belajar tentang tanggung jawab, kepedulian, rasa memiliki, dan amanah terhadap sesuatu yang digunakan bersama.
7. Mengapa merawat fasilitas sekolah juga bisa menjadi bagian dari pendidikan karakter?
Dalam Islam merawat dan menjaga fasilitas sekolah merupakan bentuk pendidikan karakter (At-Tarbiyah Al-Khuluqiyah) yang nyata, karena mengajarkan murid untuk mempraktikkan sikap amanah, ihsan, serta rasa tanggung jawab terhadap apa yang dimanfaatkan bersama.
Ketika anak dibiasakan menjaga kebersihan meja, mematikan lampu yang tidak terpakai, hingga merawat ruang kelas, mereka sedang dilatih untuk menjauhi sikap mubazir (لا تسرفوا) dan merusak (ولا تفسدوا فى الأرض).
Pembiasaan sederhana ini menanamkan kesadaran bahwasanya setiap nikmat sarana yang digunakan adalah titipan Allah Swt. yang kelak dimintai pertanggungjawaban, sehingga karakter kepedulian, kedisiplinan, dan rasa memiliki akan tertanam kuat dalam sanubari mereka hingga dewasa.
8. Bagaimana anak dapat dilibatkan untuk belajar menjaga dan merawat lingkungan sekolah?
Anak dapat dilibatkan secara aktif melalui pembiasaan piket kelas harian, program gotong royong Jumat Bersih, serta tanggung jawab merawat satu tanaman pilihan mereka sendiri agar tumbuh rasa memiliki dan kepedulian terhadap lingkungan sekolah.
9. Apa arti “menjaga fasilitas sekolah” jika dilihat dari perspektif amanah dalam Islam?
Dalam Islam, menjaga fasilitas sekolah berarti menunaikan tanggung jawab atas titipan nikmat (amanah) dari Allah Swt. dan lembaga yang wajib dipelihara keberadaannya agar tetap memberikan manfaat secara berkelanjutan.
Fasilitas pendidikan bukan sekadar barang atau bangunan fisik, melainkan titipan yang harus dijaga dari kerusakan, kesewenang-wenangan, maupun pemborosan, sebagaimana perintah Allah untuk tidak berbuat kerusakan di muka bumi setelah Dia membaikinya.
Ketika setiap guru, staf, dan murid memperlakukan sarana sekolah dengan penuh kehati-hatian, kejujuran, dan ihsan, mereka sedang membuktikan kepatuhan iman mereka, sebab kelak setiap pemanfaatan serta pemeliharaan atas nikmat sarana tersebut akan dipertanggungjawabkan secara adil di hadapan Allah Swt.
Ilmu Agama yang Hidup dalam Perilaku
Bagi Pak Arif, pendidikan agama tidak berhenti pada pengetahuan atau hafalan. Nilai-nilai Islam perlu hadir dalam perilaku sehari-hari, mulai dari kejujuran dan kesantunan hingga kepedulian terhadap lingkungan. Keteladanan guru pun menjadi bagian penting dalam proses tersebut.
10. Sebagai guru PAI, bagaimana Bapak melihat hubungan antara ilmu agama dengan perilaku anak sehari-hari?
Dalam perspektif Islam, ilmu agama bukanlah sekadar wawasan teoritis yang berhenti di dalam benak, melainkan akar yang memancar menjadi buah berupa akhlak dan perilaku mulia (akhlakul karimah) dalam kehidupan sehari-hari anak. Ilmu agama yang dipahami dengan benar akan bertindak sebagai pelita yang menuntun pembiasaan tutur kata yang santun, kejujuran dalam bersikap, serta rasa hormat kepada orang tua dan guru.
Keterikatan erat antara ilmu dan manifestasi amalan ini ditegaskan oleh Rasulullah Saw. dalam hadis shahih riwayat Bukhari dan Muslim:
إن خياركم أحاسنكم أخلاقا
“Yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya.”
Oleh karena itu, keberhasilan penanaman ilmu agama pada anak tercermin secara nyata dari sejauh mana nilai-nilai tersebut membentuk akhlak, kedisiplinan, dan kesalehan sosial mereka saat berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.
11. Menurut Bapak, apa bedanya anak yang sekadar mengetahui ajaran agama dengan anak yang benar-benar menghidupinya?
Menurut saya perbedaan antara anak yang sekadar mengetahui ajaran agama dengan yang benar-benar menghidupinya terletak pada pengamalan yang lahir dari kedalaman khasyah (rasa takut dan hormat kepada Allah) di dalam jiwanya.
Anak yang hanya berada pada tataran pengetahuan menjadikan agama sebatas hafalan, teori di atas kertas, dan rutinitas formalitas yang belum meresap ke dalam dada. Sebaliknya, anak yang menghidupi agamanya akan menjiwai setiap nilai Islam sebagai karakter yang mengalir alami, kesadaran beribadahnya tumbuh tanpa harus dipaksa, tutur katanya terpelihara dengan adab, dan tindakannya mencerminkan kejujuran serta kepedulian.
Allah Swt. berfirman: انّما يخشى اللّٰه من عباده العلمؤا
….bahwa yang takut kepada-Nya hanyalah hamba-hamba yang berilmu (QS. Fatir: 28), ilmu agama yang dihidupi akan hidup menjadi pelita (nur) yang membimbing setiap langkah kaki dan perilaku anak sehari-hari, bukan sekadar beban ingatan di kepala.
12. Bagaimana cara mengenalkan konsep amanah kepada anak melalui hal-hal sederhana?
Akhlak amanah dapat dikenalkan sejak dini dengan membiasakan anak menjaga dan mengembalikan barang pinjaman teman atau fasilitas sekolah ke tempat semula tepat waktu. Melalui tugas-tugas kecil seperti merawat alat tulisnya sendiri atau menjalankan piket kelas, anak diajak memahami bahwa setiap tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya adalah titipan Allah yang harus dijaga dengan penuh kejujuran dan rasa bangga.
13. Bagaimana pembiasaan kecil di sekolah dapat menjadi bagian dari pendidikan Islam?
Pembiasaan sederhana seperti merapikan sepatu, menjaga kebersihan meja atau kursi belajar, dan mengantri dengan sabar saat mengambil makan, saat berwudhu atau di toilet merupakan sarana nyata untuk menanamkan adab serta kepribadian muslim sejak dini. Ketika dilakukan secara konsisten dengan niat ibadah, setiap tindakan kecil di sekolah tersebut akan menjelma menjadi bagian tak terpisahkan dari pendidikan karakter dan pengamalan nilai-nilai Islam.
Menghadapi Tantangan Pendidikan di Tengah Perubahan Zaman
Di tengah derasnya arus informasi dan budaya digital, menanamkan nilai-nilai Islam kepada anak membutuhkan kesabaran, keteladanan, dan kerja sama. Sekolah dan keluarga memiliki peran untuk menghadirkan nilai kebaikan secara konsisten agar tidak hanya dipahami, tetapi juga dijalani anak dalam kehidupan sehari-hari.
14. Apa tantangan mengajarkan nilai-nilai agama kepada anak di tengah perubahan zaman?
Tantangan terbesar mengajarkan nilai-nilai Islam kepada anak di era modern adalah derasnya arus informasi dan budaya digital yang sering kali menyuguhkan nilai-nilai yang bertolak belakang dengan adab serta ketakwaan. Di tengah gempuran media sosial dan dunia maya, anak-anak kini lebih cepat menyerap pengaruh luar, sehingga pendidikan agama tidak lagi cukup disampaikan sekadar sebagai doktrin atau teori hafalan di kelas.
Guru dan orang tua siswa SD Islam Bintang Juara dituntut untuk ekstra bersabar, adaptif, serta mampu menghadirkan keteladanan yang relevan agar nilai-nilai Islam tetap terasa hidup, menarik, dan menjadi benteng karakter yang kokoh bagi anak di tengah gempuran perubahan zaman.
15. Bagaimana guru bisa menjadi teladan sebelum meminta anak melakukan sesuatu?
Keteladanan (uswah hasanah) adalah ruh utama pendidikan, di mana seorang guru harus terlebih dahulu mengamalkan dan menghidupkan nilai-nilai kebaikan dalam perilakunya sebelum menuntut hal yang sama dari para murid.
Teringat pesan mendalam dari Abah Ihsan Baihaqi yang menegaskan bahwa kita harus menjadi orang tua atau guru yang saleh terlebih dahulu sebelum meminta anak atau murid menjadi sosok yang saleh.
Ketika pendidik memperlihatkan kelembutan tutur kata, ketepatan waktu dalam beribadah, serta kerapian dan kepedulian terhadap lingkungan secara konsisten, pesan moral tersebut akan meresap alami ke dalam jiwa anak tanpa perlu paksaan. Sebaliknya, mengajarkan kebaikan tanpa diiringi kesalehan pribadi hanya akan menjadi seruan hampa, sebab keteladanan nyata seorang guru adalah cermin pertama yang akan dilihat dan ditiru oleh murid dalam membentuk karakter mereka.
16. Apa hubungan antara kebersihan, kerapian, tanggung jawab, dan keimanan dalam kehidupan sehari-hari?
Menurut Islam, kebersihan dan kerapian bukan sebatas indah dilihat, melainkan cerminan langsung dari kualitas keimanan seseorang yang mewujud dalam bentuk tanggung jawab sehari-hari. Sebagaimana penegasan bahwa kebersihan adalah bagian dari iman.
الطُّهور شطر الإيمان
Kepedulian seseorang terhadap kesucian diri dan kerapian lingkungannya menjadi bukti nyata kesadaran bahwa seluruh nikmat sarana yang digunakan adalah amanah Allah Swt. Ketika rasa tanggung jawab tersebut dihidupkan, seperti merapikan kembali barang yang telah dipakai atau menjaga kebersihan ruang bersama seorang muslim sedang mengamalkan nilai ihsan dan memperjelas bahwa dorongan imannya bergerak aktif dalam tindakan nyata yang membawa kemaslahatan, ketenangan, serta keberkahan bagi sesama.
Menjaga Amanah, Menanamkan Keteladanan
Setiap ruang dan fasilitas sekolah menyimpan kesempatan untuk menanamkan nilai kebaikan. Melalui pengalamannya, Pak Arif berharap anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang mampu menjaga kepercayaan, bertanggung jawab, dan mensyukuri apa yang telah Allah titipkan.
17. Pernahkah ada pengalaman ketika menjaga fasilitas sekolah justru membuat Bapak belajar sesuatu tentang karakter anak?
Pengalaman mengelola dan memelihara sarana prasarana SD Islam Bintang Juara membuka mata saya bahwa fasilitas bukan sekadar benda mati, melainkan media kejujuran yang menyingkap karakter asli anak-anak.
Sering melihat bagaimana seorang murid dengan penuh kesadaran spontan mematikan kran air yang meluap, merapikan kembali kursi yang miring, atau melaporkan alat belajar yang rusak dengan nada penuh rasa bersalah, saya belajar bahwa rasa memiliki dan amanah tidak bisa dibentuk melalui teori di dalam kelas semata.
Momen-momen kecil saat mereka memperlakukan sarana sekolah inilah yang menjadi panggung nyata tempat benih kepedulian, keikhlasan, dan tanggung jawab yang kita tanamkan benar-benar memunculkan buahnya.
Menurut saya setiap sudut ruang dan fasilitas di SD Islam Bintang Juara bukan sekadar benda mati, melainkan lembaran kisah yang menyimpan jejak tawa, perjuangan, serta proses tumbuh kembang para murid.
Tanpa disadari, setiap sudut tempat tersebut memegang fungsi pendidikan yang ampuh dalam membingkai adab, melatih kedisiplinan, dan menanamkan kenangan manis yang membentuk akhlak mereka hingga masa depan.
Ruangan yang paling memiliki kesan bagi saya adalah ruangan kelas siswa angkatan pertama di sebuah gedung sewaan di Jl.Lamongan Raya Bendan Ngisor Gajahmungkur Semarang
19. Apa yang ingin Bapak tanamkan kepada anak-anak tentang arti menjaga sesuatu yang dipercayakan kepada kita?
Melalui setiap sarana dan ruang di SD Islam Bintang Juara, saya ingin menanamkan ke dalam jiwa anak-anak bahwa menjaga setiap hal yang dipercayakan kepada kita adalah wujud tertinggi dari rasa syukur dan cerminan akhlak seorang muslim yang sejati.
Saya rindu melihat mereka memahami bahwa merawat meja belajar, menjaga kebersihan sudut kelas, hingga merapikan kembali alat-alat yang digunakan bukan sekadar kewajiban sekolah, melainkan latihan jiwa untuk memegang teguh sifat amanah.
Dengan membiasakan diri menjaga titipan-titipan kecil ini sejak dini, mereka sedang menata fondasi akhlak yang kuat agar kelak tumbuh menjadi pribadi yang jujur, penuh tanggung jawab, dan dapat diandalkan dalam mengemban amanah yang lebih besar di masa depan.
20. Apa pesan Bapak untuk kakak shalih-shalihah dan Ayah Bunda tentang menjaga sekolah sebagai bagian dari amanah?
Mari kita bersama-sama merawat dan menjaga SD Islam Bintang Juara dengan penuh kasih sayang, karena setiap sudut sekolah ini adalah amanah dan titipan dari Allah Swt. yang menjadi sarana lahirnya kebaikan serta keberkahan bagi tumbuh kembang anak-anak kita.
21. Jika harus merangkum peran Pak Arif sebagai Wakasek Bidang Sarpras sekaligus Guru Pendidikan Agama Islam dalam satu kalimat, apa yang ingin disampaikan?
Menjaga sarana sekolah adalah da’wah bil hal, di saat fisik bangunan dirawat dengan ihsan, di situlah jiwa anak-anak dididik dengan keteladanan.
Bagi Pak Arif, menjaga sarana sekolah bukan hanya tentang merawat bangunan, tetapi juga tentang menghadirkan pendidikan melalui tindakan nyata. Sebab, ketika orang dewasa mencontohkan amanah dan kepedulian, anak-anak memiliki kesempatan untuk belajar menghidupkan nilai-nilai tersebut dalam keseharian.
Setiap orang di SD Islam Bintang Juara memiliki cerita dan peran yang mungkin belum banyak diketahui. Setelah mendengar kisah Pak Arif, siapa lagi yang akan berbagi kisah di episode Guru Bercerita berikutnya? Nantikan jalinan perjalanan inspiratif lainnya dari orang-orang yang terus bertumbuh dan membersamai perjalanan pendidikan di Bintang Juara, Ayah Bunda. *** (CM-MRT)
