Guru Bercerita: Mengenal Bu Ni’mah dalam Memimpin Sekolah untuk Menumbuhkan Generasi
Setiap sekolah memiliki cerita tentang bagaimana ia bertumbuh, dan di baliknya selalu ada orang-orang yang terus belajar, bertanya, dan berupaya memberikan yang terbaik untuk anak. Dalam Guru Bercerita kali ini, SD Islam Bintang Juara mengajak Ayah Bunda mengenal lebih dekat Bu Nur Shofwatin Ni’mah, S.Pd., Gr., Kepala SD Islam Bintang Juara, tentang perjalanan beliau dalam membersamai sekolah, memaknai kepemimpinan, melihat potensi setiap anak, hingga membangun budaya belajar yang terus bertumbuh.
Bagi Bu Ni’mah, menjadi pemimpin bukan hanya tentang memberi arah, tetapi juga tentang melayani, mendampingi, dan bersama-sama menciptakan lingkungan pendidikan yang membuat setiap anak memiliki ruang untuk berkembang menjadi versi terbaik dirinya.
Mengenal Sosok Bu Nur Shofwatin Ni’mah
Tak sedikit ayah bunda yang baru berkenalan dengan SD Islam Bintang Juara bertanya-tanya siapakah guru-guru di balik Sekolah Calon Pemimpin Muslim Ini. Untuk mengawali proses ta’aruf ini, MinBin akan mengajak Ayah Bunda berkenalan lebih dekat dengan sosok perempuan muda yang diamanahi menjadi Kepala Sekolah.
1. Bisa diceritakan tentang diri Ibu, perjalanan sebagai pendidik, dan bagaimana akhirnya mendapat amanah sebagai Kepala SD Islam Bintang Juara?
Saat saya masih menjadi mahasiswa, saya sudah tertarik untuk mendalami lebih jauh tentang anak berkebutuhan khusus dan program pendidikan orangtua. Saya menulis karya ilmiah tentang program pendidikan orangtua yang lolos dalam pemilihan Mahasiswa Berprestasi kala itu. Waktu PPL, saya juga melakukan stimulasi pada anak yang terindikasi berkebutuhan khusus.
Di desa, saya juga mendirikan taman baca untuk murid ngaji orangtua saya. Lalu dari semua proses itu, akhirnya Allah SWT mempertemukan saya dengan Sekolah Islam Bintang Juara. Amanah pertama saya adalah sebagai guru pembimbing khusus, yang mana saya kala itu buta informasi dan ilmu, sempat merasa berat dan hampir menyerah. Lalu saya berusaha bertanya “apa maksud Allah memberi saya amanah ini.
Melalui shalat istikharah, Allah seolah mengingatkan “bukankah kamu ingin S2 dalam bidang psikologi perkembangan anak, ini diberi praktiknya langsung, kenapa mau menyerah?” Dari hasil istikharah ini, membulatkan tekad saya, bahwa amanah apapun adalah proses yang Allah berikan untuk menempa diri kita. InsyaAllah selalu ada hal baik.
Saya lalu membuat rancangan program dan timeline sebagai GPK untuk anak yang saya ampu, dari dia kelas 3 hingga lulus. Namun ternyata Allah berkehendak lain, saya hanya diberi amanah mendampingi dia selama 6 bulan. Bulan ke-7 saya diberi amanah menyusun kurikulum SD sekaligus membantu proses perizinan pendirian sekolah. Saya juga pernah memperoleh amanah sebagai guru kelas, guru mata pelajaran bahasa Jawa sembari menjadi humas yang mengelola media sosial sekolah, serta guru ngaji sekaligus pula kepala sekolah.
Alhamdulillah semua proses tersebut saya syukuri, karena dari proses itu saya banyak belajar, mendengar, mengamati, dan mencari solusi. Setiap amanah menempa saya untuk menjadi pribadi yang berkesadaran. Sadar bahwa saya makhluk Allah, sadar akan ketentuan Allah, saya bahwa saya juga makhluk sosial, sadar bahwa hidup di dunia ini berbatas waktu maka harus mengupayakan menjadi sebaik-baik manusia, meski selalu ada saja PR nya untuk diri saya sendiri.
2. Apa yang membuat Ibu memilih dan bertahan di dunia pendidikan?
Dengan berada di dunia pendidikan, saya dapat mengingatkan diri saya untuk Iqro’ sebagaimana firman Allah yang pertama. Dunia pendidikan menjadi alarm untuk diri saya, bahwa manusia itu tidak boleh berhenti belajar, dan juga harus bermanfaat. Dunia pendidikan adalah jantung dari ditumbuhkannya iman, taqwa, adab, ilmu, serta proses kebermanfaatan. Dan saya ingin selalu diingatkan dan didekatkan dengan itu. Melihat anak didik dan teman-teman guru, sebagai proses belajar untuk diri saya.
3. Apa arti menjadi Kepala Sekolah bagi Ibu—apakah lebih banyak tentang memimpin, melayani, atau mendampingi?
Menjadi kepala sekolah adalah bagian dari proses menempa diri, sebuah amanah untuk memperluas peran, dari mendidik diri, mendidik anak biologis, mendidik anak ideologis serta sarana untuk hablun minannaas. Menjadi kepala sekolah itu tidak hanya tentang memimpin, melayani, atau mendampingi, ketiganya tentunya menjadi poin penting yang harus saya perankan dalam menjalankan amanah ini. Namun menjadi kepala sekolah tidak akan terlepas dari poin memberikan teladan, dengan teladan maka saya dapat memimpin dengan arah, melayani dan mendampingi dengan hati yang diniatkan karena Allah.
Selama proses saya menjadi guru, saya belajar bahwa mendidik membutuhkan kesabaran, kasih sayang, ketegasan, sekaligus kehadiran. Nilai-nilai itulah yang saya bawa ketika menjalankan amanah sebagai Kepala Sekolah. Saya tidak hanya ingin menjadi orang yang memberikan arahan, tetapi juga seseorang yang mampu hadir, mendengarkan, memahami, dan menguatkan. Jadi, jika ditanya apakah menjadi Kepala Sekolah lebih banyak tentang memimpin, melayani, atau mendampingi, bagi saya jawabannya adalah ketiganya tidak dapat dipisahkan.
Saya memimpin untuk memberi arah, melayani untuk menumbuhkan kepercayaan, dan mendampingi untuk menumbuhkan potensi. Menjadi Kepala Sekolah adalah sebuah amanah untuk menghadirkan perubahan yang bermakna, bukan hanya membuat sekolah menjadi lebih baik, tetapi membuat orang-orang di dalamnya merasa dihargai, didukung, bertumbuh, dan memiliki harapan. Saya ingin menjalankan amanah itu dengan memaknai bahwa setiap anak yang hadir di sekolah adalah titipan yang harus kita jaga, setiap guru adalah mitra yang harus kita kuatkan, dan setiap langkah kecil menuju kebaikan adalah bagian dari proses pendidikan.
Bagaimana Bu Nur Shofwatin Ni’mah Memandang Anak
4. Ketika melihat seorang anak, hal pertama apa yang ingin Ibu lihat selain kemampuan akademiknya?
Hal pertama yang ingin saya lihat adalah siapa dia dan bagaimana dia. Siapa dia artinya saya butuh mengenal identitas diri (nama, tempat tinggal, hal yang disukai, hal yang tidak disukai, saudara, dan teman).
Saya juga butuh mengenali kondisi emosi yang muncul pada dirinya, serta kemampuannya dalam mengidentifikasi kebutuhan diri. Sedangkan bagaimana dia, adalah saya butuh memahami bagaimana cara dia memberi respon kepada lingkungan termasuk benda-benda di sekitar serta orang yang ditemui. Sejauh mana kemampuan dia dalam beradaptasi, meregulasi diri, sehingga tumbuh kemauan untuk mau belajar dan akhirnya mampu menyesuaikan.
5. Menurut Ibu, seperti apa anak yang disebut “juara” di SD Islam Bintang Juara?
Anak juara adalah anak yang tumbuh menjadi versi terbaik dari dirinya, berkembang dari pondasi awal tahap perkembangan mereka. Anak yang berhasil beradaptasi pada proses transisi TK ke SD, anak yang berhasil bangun lebih awal untuk shalat subuh, anak yang berhasil memutuskan berbagi makanan untuk teman yang sedang lapar atau tidak membawa bekal, anak yang siap mengantri, anak yang siap berkata sesuai fakta, anak yang meminta maaf saat salah, meminta tolong saat mengalami kesulitan, anak yang mengucapkan terimakasih saat dibantu, anak yang berhasil mengatasi rasa takut, rasa malas, anak yang mengingat Allah dimanapun mereka berada, anak yang berhasil mengambil hikmah dari proses belajar mereka. Itu adalah beberapa deskripsi anak juara.
6. Bagaimana sekolah memastikan setiap anak memiliki ruang untuk berkembang sesuai potensi dan karakternya masing-masing?
Pada tahap awal kami berupaya mengenal setiap siswa melalui kegiatan profiling perkembangan baik aspek spiritual, sensori motorik, bahasa dan komunikasi, tahap kegiatan main, dan kognitif. Hasil pemetaan itu menjadi pijakan bagi guru dalam mendampingi dan merancang pengalaman belajar yang lebih tepat bagi mereka. Ruang tumbuh itu juga kami hadirkan tidak hanya melalui akademik.
Anak diberi kesempatan menemukan dan mengembangkan minat serta bakatnya melalui berbagai kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler, sementara pembelajaran akademik menggunakan beragam pendekatan seperti Project Based Learning, Problem Based Learning, Discovery Learning. Jadi anak memiliki banyak pintu untuk menunjukkan bahwa dirinya mampu dan berharga.
Memimpin Berlangsungnya Pembelajaran di SD Islam Bintang Juara
7. Apa yang ingin Ibu pastikan selalu hadir dalam setiap proses pembelajaran di SD Islam Bintang Juara?
Yang ingin saya pastikan selalu hadir dalam setiap proses pembelajaran adalah ruhiyyah guru yang menyemai makna, memberi kasih sayang dan kesempatan untuk bertumbuh. Setiap anak memperoleh ruang untuk mencintai proses belajar, mencintai dan mengenal diri dan perannya, mengenal Allah sebagai tuhannya dan memiliki keberanian untuk menjadi pribadi yang bermanfaat.
8. Bagaimana sekolah menjaga agar pembelajaran tidak hanya mengejar nilai, tetapi tetap joyful, mindful, dan meaningful?
Pada proses perancangan pembelajaran adaptif, kami menjadwalkan program diskusi guru berbasis tahap perkembangan anak. Ini adalah moment quality control dari tim manajemen sekolah untuk implementasi pembelajaran agar tetap joyful, mindful, meanningful. Kami memfasilitasi anak untuk tidak selalu belajar dengan duduk, mendengar, dan mengerjakan soal. Mereka dapat belajar melalui eksperimen, permainan, seni, proyek, eksplorasi lingkungan, diskusi, bahkan kegiatan di luar kelas misalnya magang adab. Dengan begitu, mereka mengalami sendiri proses menemukan pengetahuan serta memaknai pengetahuan yang mereka peroleh.
9. Bagaimana nilai-nilai Al-Qur’an dan Hadits diterjemahkan dalam kehidupan sekolah sehari-hari, bukan hanya dalam pelajaran agama?
Kami berupaya menanamkan nilai-nilai tersebut melalui pembiasaan dan keteladanan dalam keseharian dari anak kami terima hingga dijemput orangtua. Anak belajar adab kepada Allah melalui doa, ibadah, rasa syukur, dan kecintaan kepada Al-Qur’an. Mereka belajar adab kepada guru dengan menghormati dan mendengarkan. Mereka belajar adab kepada teman dengan berbagi, bekerja sama, menjaga perasaan, meminta maaf, dan menolong.
Adab, doa, hadits, surah-surah dalam Al Qur’an bukan hanya untuk dihafal, namun diterapkan selama anak berada di sekolah. Kami juga berusaha agar anak tidak berhenti pada pertanyaan ‘apa hukumnya?’, tetapi sampai pada ‘mengapa Allah mengajarkan ini kepada kita, dan bagaimana saya mengamalkannya?
Misalnya ketika belajar tentang qurban, anak tidak hanya mengetahui sejarah dan tata caranya, tetapi diajak memahami nilai ikhlas, pengendalian diri, berbagi, dan ketaatan kepada Allah. Nilai tersebut kemudian dihubungkan dengan kehidupan mereka—saat bermain, membantu orang tua, menghormati guru, maupun berbagi dengan sesama.
Cara Bu Ni’mah Memimpin Guru dan Budaya Sekolah
10. Menurut Ibu, seperti apa guru yang ideal untuk mendampingi anak-anak di zaman sekarang?
Guru yang ideal untuk anak zaman sekarang adalah guru yang mau terus belajar, terbuka terhadap ilmu, terbuka terhadap setiap tahap perkembangan anak, kuat secara tauhid. Guru yang hangat tetapi tegas, dekat dengan siswa tetapi memiliki batas, mampu mengajar dan juga mampu mendengarkan. Guru yang tidak terburu-buru memberi label ketika anak sulit memahami informasi atau melakukan kesalahan. Guru yang melihat potensi sebelum melihat kekurangan siswa. Guru yang berhasil menyadari bahwa dirinya dan siswanya sedang sama-sama berproses untuk belajar.
11. Bagaimana Ibu membangun budaya agar guru juga terus belajar dan berkembang?
Kami memfasilitasi guru dengan diadakannya komunitas diskusi yang rutin dilakukan, minimal satu kali dalam satu pekan, yang didampingi langsung oleh Psikolog Sekolah atau Kepala Sekolah atau Koordinator Litbang Yayasan. Selain itu pada komunitas diskusi tersebut, guru dapat saling berbagi, baik tantangan maupun praktik baik yang telah dilakukan. Kepala sekolah, litbang atau psikolog sekolah bertindak sebagai pemimpin pembelajaran dan teladan dalam proses belajar tersebut.
Kami saling sharing program pelatihan bermakna untuk dapat diikuti, ketika ada guru yang tuntas mengikuti pelatihan atau seminar juga ada sesi desiminasi kepada guru lain. Dimana kami berada, disitu adalah area diskusi kami. Literatur yang mendukung baik berupa buku atau literatur digital lain juga kami sharingkan.
12. Apa yang paling Ibu jaga dalam budaya kerja dan budaya belajar di sekolah?
Yang saya upayakan jaga dalam budaya kerja dan belajar adalah saling menghormati, saling berkomunikasi yang sifatnya membangun dan semangat untuk bertumbuh, menguatkan, serta saling mengambil hikmah atau pembelajaran hidup. Saya ingin sekolah menjadi tempat di mana guru merasa aman untuk belajar, bertanya, menyampaikan pendapat, mencoba hal baru, bahkan mengakui ketika ada sesuatu yang belum berhasil.
Begitu juga anak-anak. Mereka harus merasa aman untuk bertanya, mencoba lagi, dan menjadi dirinya sendiri. Bagi saya, sekolah yang sehat adalah sekolah di mana orang dewasa di dalamnya juga merasa bertumbuh, dihargai, dan memiliki tujuan yang sama sehingga dapat memberikan yang terbaik untuk anak didiknya.
Kolaborasi Sekolah dan Keluarga
13. Mengapa kolaborasi antara sekolah dan Ayah Bunda menjadi penting dalam pendidikan anak?
Karena anak tumbuh tidak hanya dalam lingkungan sekolah, namun lingkungan rumah juga menjadi lingkungan utama dalam proses pendidikan mereka. Orang tua adalah orang yang paling mengenal anak dalam kehidupan sehari-hari, sementara guru memiliki perspektif dari pengalaman anak di lingkungan belajar. Ketika dua perspektif ini dipertemukan, kita bisa memahami anak secara lebih utuh. konsistensi antara rumah dan sekolah sangat penting dalam pembentukan karakter.
Nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, adab, kemandirian, kepedulian, dan disiplin tidak cukup diajarkan melalui satu mata pelajaran. Anak perlu melihat nilai itu dipraktikkan secara konsisten dalam kesehariannya. Maka jika kolaborasi berjalan dengan baik, sekolah dan rumah adalah laboratorium utama yang mematangkan proses pendidikan mereka.
14. Apa yang paling Ibu harapkan dari Ayah Bunda dalam membersamai pendidikan putra-putrinya?
Hal yang saya harapkan adalah kehadiran ayah bunda. Tidak hanya hadir secara fisik, tapi juga hadir dengan perhatian, pengertian dan doa serta hadir menanamkan tauhid. Saya berharap kita sebagai orangtua tidak terburu-buru menasehati sebelum memberikan teladan, tidak terburu-buru menuntut sebelum mengajak banyak mendengarkan dan menggali kebutuhan anak-anak, tidak terburu-buru membandingkan dengan anak lain. Tetapi kita menjadi orangtua yang melihat, menemani dan menghargai setiap proses tumbuh kembang anak kita.
Saya juga berharap kita bisa menjadi teladan dalam menanamkan tauhid dalam ruhiyyah kita serta anak kita. Tugas kita adalah membantu mereka menemukan potensi terbaik yang Allah titipkan dalam dirinya, menumbuhkannya dengan ilmu dan akhlak, lalu mempersiapkan mereka agar kelak mampu menjadi manusia yang bermanfaat. Mari kita membersamai anak, bukan sekadar mengarahkan mereka.
Mari berjalan di samping mereka, bukan selalu berjalan di depan mereka. Karena anak-anak tidak hanya membutuhkan orang dewasa yang menunjukkan jalan, tetapi juga orang dewasa yang bersedia menemani perjalanan.
Tantangan dan Refleksi Sebagai Kepala SD Islam Bintang Juara
15. Apa tantangan terbesar memimpin sekolah di tengah perubahan zaman dan kebutuhan anak yang terus berkembang?
Tantangan terbesar memimpin sekolah di tengah perubahan zaman adalah bagaimana kami bisa terus bergerak maju tanpa mematikan akar filosofi. Anak-anak kita tumbuh di dunia yang sangat cepat berubah. Teknologi berkembang, informasi begitu mudah diakses, cara anak berkomunikasi berubah, kebutuhan belajarnya pun semakin beragam. Sekolah tidak bisa mendidik anak hari ini dengan cara yang sepenuhnya sama seperti mendidik anak sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu. Tetapi di tengah semua perubahan itu, ada hal-hal yang tidak boleh ikut berubah: iman, adab, akhlak, kejujuran, rasa tanggung jawab, kepedulian, dan kecintaan kepada Allah.
Tantangan saya sebagai kepala sekolah adalah bagaimana nilai-nilai yang fundamental itu tetap kuat, sementara cara kita menghadirkannya kepada anak terus kita inovasikan. Tantangan berikutnya adalah memahami anak sebagai pribadi yang terus berkembang. Tidak ada satu pendekatan yang cocok untuk semua anak. Setiap anak memiliki potensi, karakter, kebutuhan, dan ritme perkembangan yang berbeda. Maka guru juga harus terus belajar agar tidak hanya menguasai materi, tetapi mampu membaca kebutuhan anak.
Di sinilah saya melihat bahwa memimpin sekolah sebenarnya adalah juga memimpin proses belajar orang-orang dewasa di dalamnya. Saya harus memastikan guru memiliki ruang untuk bertumbuh, mencoba pendekatan baru, dan saling belajar. Karena kita tidak mungkin meminta anak menjadi pembelajar sepanjang hayat jika gurunya sendiri berhenti belajar.
Tantangan lainnya adalah menjaga keseimbangan antara prestasi dan proses tumbuh kembang anak. Kita tentu ingin anak-anak berprestasi. Tetapi saya tidak ingin angka dan pencapaian membuat kita lupa bahwa mereka adalah anak-anak yang sedang tumbuh. Mereka membutuhkan ruang untuk bermain, bertanya, mencoba, beristirahat, membangun pertemanan, dan mengenal dirinya sendiri. Anak bukan proyek yang harus segera selesai. Mereka adalah amanah yang proses tumbuhnya perlu kita hormati.
Karena itu, bagi saya, menjadi kepala sekolah di zaman sekarang membutuhkan dua hal sekaligus: keberanian untuk berubah dan kebijaksanaan untuk tahu apa yang boleh dan tidak boleh berubah. Jadi, tantangan terbesar bukan bagaimana membuat sekolah terlihat paling modern. Tantangannya adalah bagaimana membuat sekolah tetap relevan dengan zamannya, tetapi tetap memiliki akar yang kuat.
Dan saya berharap SD Islam Bintang Juara menjadi sekolah yang seperti itu: akarnya kuat pada iman dan nilai-nilai Islam, tetapi cabang-cabangnya terus tumbuh mengikuti kebutuhan zaman.
Karena dunia yang akan dimasuki anak-anak kita mungkin belum bisa kita prediksi. Tetapi kita bisa mempersiapkan mereka dengan bekal yang tidak lekang oleh zaman: iman yang kokoh, akhlak yang baik, kemampuan belajar, keberanian menghadapi perubahan, dan hati yang selalu ingin memberikan manfaat.
16. Ketika sebuah program atau kebijakan sekolah tidak berjalan sesuai harapan, bagaimana Ibu menyikapinya?
Ketika sebuah program atau kebijakan tidak berjalan sesuai harapan, maka hal yang saya lakukan adalah bertanya pada diri saya sendiri “Apa yang dapat kami pelajari dari situasi ini?”
Saya ingin membangun budaya di mana evaluasi bukan ruang untuk menghakimi, tetapi ruang untuk belajar. Guru dan tim perlu merasa aman untuk mengatakan, ‘Bagian ini belum berjalan’, tanpa takut langsung disalahkan. Dari sana kami bisa melihat data, mendengarkan pengalaman guru, melihat respons anak, dan bila diperlukan meminta masukan dari Ayah Bunda. Setelah itu, kami mencoba membedakan: apa yang perlu diperbaiki, apa yang perlu disederhanakan, apa yang perlu dihentikan, dan apa yang justru perlu dilanjutkan dengan cara yang berbeda.
Saya juga berusaha menjaga agar evaluasi tetap kembali pada pertanyaan utama: “Apakah ini benar-benar memberikan dampak baik bagi anak?” Karena program sekolah bukan dibuat untuk membuat sekolah terlihat sibuk atau memiliki banyak kegiatan. Setiap kebijakan seharusnya bermuara pada tumbuh kembang anak.
Sebagai kepala sekolah, saya pun harus siap menerima bahwa tidak semua keputusan saya selalu benar. Memimpin bukan berarti harus selalu memiliki jawaban. Kadang-kadang justru kita perlu mengatakan, “Mari kita lihat lagi. Mungkin ada cara yang lebih baik. Bagaimana menurut analisa bapak ibu guru?” Saya ingin guru-guru juga belajar bahwa refleksi adalah bagian dari profesionalitas. Kita mencoba, mengamati, mengevaluasi, memperbaiki, lalu mencoba lagi. Begitu pula dalam mendampingi anak. Karena sekolah yang baik bukan sekolah yang tidak pernah mengalami kegagalan. Sekolah yang baik adalah sekolah yang mau belajar dari setiap kegagalan dan terbuka untuk memperbaiki diri.
17. Apa hal yang paling membuat Ibu merasa “inilah alasan saya menjadi pendidik”?
Ketika menjadi pendidik, saya senantiasa menyiapkan cermin di depan diri saya, bahwa saya harus terus mendidik diri. Dengan menjadi pendidik berarti saya diberi kesempatan untuk hadir pada fase kehidupan seseorang yang sangat penting. saya ikut menyaksikan ketika seorang anak sedang mencari tahu siapa dirinya, apa yang ia sukai, apa yang ia mampu, bagaimana ia menghadapi kesulitan, bagaimana ia memperlakukan orang lain, dan bagaimana ia belajar menjadi manusia.
Saya melihat setiap anak di sekolah bukan hanya sebagai siswa. Saya membayangkan, mereka adalah anak yang juga sangat dicintai oleh Ayah Bundanya. Ada keluarga yang menitipkan harapan kepada kami. Ada orang tua yang percaya bahwa sekolah akan membantu anaknya tumbuh menjadi pribadi yang baik.
Maka ketika melihat seorang anak berkembang meskipun mungkin hanya dalam hal kecil, saya merasa bahwa amanah ini begitu berharga. Ada anak yang hari ini akhirnya berani tampil di depan kelas. Ada yang mulai mampu meminta maaf. Ada yang belajar berbagi. Ada yang sebelumnya selalu mengatakan ‘aku tidak bisa’, kemudian mau mencoba sekali lagi. Ada yang menemukan bahwa ternyata ia memiliki bakat yang selama ini belum ia sadari.
Hal-hal kecil itulah yang sering kali menjadi kemenangan terbesar seorang pendidik. Ketika ia semakin dekat dengan Allah, semakin menghormati orang lain, semakin mandiri, dan mulai bertanya, ‘Apa yang bisa saya lakukan untuk membantu?’ Di situlah saya merasa bahwa pendidikan sedang benar-benar terjadi. Semoga dengan menjadi pendidik, saya ikut menyalakan cahaya kecil dalam diri setiap anak, membantu mereka percaya bahwa mereka berharga, mereka mampu, dan Allah menitipkan sesuatu yang istimewa dalam diri mereka.
Visi dan Pesan Bermakna Bu Ni’mah untuk Kakak Shalih-shalihah dan Ayah Bunda
18. Jika suatu hari anak-anak yang sekarang belajar di sini sudah dewasa, seperti apa sosok yang ingin Ibu lihat dari mereka?
Saya berharap dimanapun mereka berada kelak, mereka membawa jejak dari nilai-nilai yang pernah mereka dapatkan di sekolah, berupa iman, akhlak, kemauan untuk belajar, peduli dan yakin bahwa dirinya mampu memberikan manfaat. Semoga mereka menjadi pribadi yang dekat dengan Allah, anak yang ketika memiliki ilmu, tidak menjadikannya alasan untuk merasa lebih tinggi, justru semakin rendah hati dan semakin ingin bermanfaat. Menjadi orang yang percaya diri tetapi tidak sombong, mampu memimpin tetapi juga mau melayani, memiliki prinsip tetapi tetap terbuka untuk belajar, teguh dan tangguh saat menghadapi tantangan.
19. Apa yang ingin Ibu wariskan kepada SD Islam Bintang Juara selama mendapat amanah sebagai Kepala Sekolah?
Kalau suatu hari nanti amanah saya sebagai Kepala Sekolah di Bintang Juara selesai, saya berharap tidak hanya meninggalkan program atau capaian. Saya ingin meninggalkan budaya. Budaya yang membuat setiap orang di sekolah memaknai bahwa setiap anak adalah amanah, setiap anak memiliki potensi, dan setiap anak berhak bertumbuh dengan cara terbaiknya.
Saya juga ingin meninggalkan budaya belajar dan bertumbuh bersama. Saya berharap guru-guru di Bintang Juara tidak pernah merasa bahwa mereka sudah selesai belajar. Mereka terus belajar, mencoba, memperbaiki, dan saling menguatkan. Karena sekolah yang baik bukan sekolah yang merasa sudah hebat, tetapi sekolah yang selalu merasa masih punya ruang untuk menjadi lebih baik.
Saya ingin budaya kerja yang saya tinggalkan adalah budaya yang memiliki standar yang tinggi, tetapi tidak kehilangan empati. Kita boleh mengejar prestasi, tetapi jangan mengorbankan proses tumbuh anak. Kita boleh berbeda pendapat, tetapi tetap saling menghormati.
Saya juga berharap dapat meninggalkan budaya kolaborasi yang kuat dengan Ayah Bunda. Bahwa sekolah dan keluarga bukan dua pihak yang saling menuntut, tetapi dua pihak yang bergandengan tangan karena memiliki tujuan yang sama: memberikan yang terbaik untuk anak.
Dan yang paling saya harapkan, saya ingin meninggalkan semangat untuk terus menjaga ruh Bintang Juara. Bahwa di tengah perubahan zaman, teknologi, tuntutan prestasi, dan berbagai perkembangan pendidikan, kita tidak kehilangan akar yakni iman, Al-Qur’an dan Hadits, adab, cinta kepada anak, dan keyakinan bahwa setiap anak adalah bintang.
Semoga ketika suatu hari saya sudah tidak lagi berada pada amanah ini, nilai-nilai baik yang pernah kita perjuangkan tetap hidup bahkan tumbuh lebih besar daripada ketika saya masih menjabat. Saya ingin terus melihat guru-gurunya masih saling menguatkan, anak-anaknya masih belajar dengan bahagia dan bermakna, Ayah Bunda masih merasa menjadi bagian dari perjalanan pendidikan, dan setiap orang masih percaya bahwa pendidikan adalah tentang menumbuhkan manusia.
Mungkin itulah warisan yang paling ingin saya tinggalkan. Karena pada akhirnya, jabatan kepala sekolah akan selesai, tetapi budaya yang kita bangun semoga terus berjalan. Program bisa berganti, pemimpin bisa berganti, generasi bisa berganti tetapi semangat untuk menjadikan Bintang Juara sebagai rumah tumbuh bagi anak-anak dan setiap orang yang ada dalam naungannya semoga tidak pernah berhenti. Jika kelak Bintang Juara menjadi sekolah yang terus bertumbuh, tetapi tetap hangat, berakar pada iman, menghargai setiap anak, dan melahirkan manusia-manusia yang membawa manfaat bagi kehidupan, saya akan merasa bahwa amanah ini telah meninggalkan jejak yang berarti.
20. Jika harus menyampaikan satu pesan kepada setiap anak dan Ayah Bunda di SD Islam Bintang Juara, apa yang ingin Ibu katakan?
Untuk anak-anak tersayang, jangan pernah lalai tempat kembali kita melalui sujud terdalam kita kepada Allah. Nak, setiap dari kalian jika hari ini belum bisa, bukan berarti tidak mampu. Kalian butuh waktu untuk mengenali diri kalian, kembangkan dan pantang menyerahlah, suatu saat akan ada hasil dari apa yang kalian upayakan. Setiap orang punya waktunya sendiri untuk tumbuh, dan Allah telah menyiapkan jalannya melalui ikhtiar yang kalian lakukan. Jadilah anak yang tidak hanya menjadi pintar sesuai potensi kalian, tetapi juga menjadi bermanfaat dengan ilmu yang membuat kalian semakin dekat dengan Allah. Nak, setiap kalian adalah bintang, yang memiliki cahayanya sendiri.
Untuk Ayah Bunda, terimakasih telah menjadi partner tumbuh bersama menjadi orangtua. Ayah Bunda, saya tahu menjadi orangtua tidaklah mudah, tapi mari kita upayakan untuk menjadi orangtua yang mau belajar. Belajar hadir, belajar mendengarkan, belajar memaknai proses anak-anak kita. Setiap perkembangan kecil hari ini ada upaya besar dari mereka, dan juga sebuah kemenangan besar yang berarti bagi anak kita. Kita perlu mengingat bahwa pendidikan adalah perjalanan bukan perlombaan. Semoga Allah selalu memampukan kita senantiasa bersyukur menjadi orangtua dan menguatkan diri kita agar amanah mengemban tanggungjawab sebagai orangtua.
MasyaAllah… jawaban-jawaban Bu Ni’mah memberikan secercah cahaya bagi Ayah Bunda yang masih bertanya-tanya bagaimana sih kurikulum SD Islam Bintang Juara dibuat, seperti apa sih orang-orang di baliknya. Dan seperti inilah sosok yang diamanahi menjadi pemimpin di sekolah ini. InsyaAllah melalui tanya jawab ini bisa memberikan gambaran bagaimana ruang tumbuh di Sekolah Islam Bintang Juara dibangun. Bukan hanya untuk muridnya, tetapi juga untuk guru dan orang tuanya.
Pada akhirnya, sekolah bukanlah tempat yang pernah benar-benar selesai belajar. Ada anak yang terus bertumbuh, guru yang terus belajar, orang tua yang terus membersamai, dan sistem pendidikan yang perlu terus dievaluasi agar tetap relevan dengan kebutuhan zaman. Melalui perjalanan dan pemikiran Bu Ni’mah, kita kembali diingatkan bahwa menjadi Sekolah Calon Pemimpin Muslim bukan sekadar tentang capaian hari ini, tetapi tentang bagaimana seluruh ekosistem sekolah terus bertumbuh dengan tetap berpegang pada nilai-nilai Islam. Sebab bagi SD Islam Bintang Juara, setiap proses belajar, setiap refleksi, dan setiap upaya memperbaiki diri pada akhirnya bermuara pada satu tujuan: membersamai setiap anak untuk tumbuh sebagai pribadi yang berilmu, berakhlakul karimah, dan bermanfaat.*** (CM-MRT)

