fbpx
Mengajarkan 5 Cara Mengelola Emosi pada Anak, Jurnal Pagi Salah Satunya!

Mengajarkan 5 Cara Mengelola Emosi pada Anak, Jurnal Pagi Salah Satunya!

Selain kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional juga salah satu hal penting yang harus diperhatikan dalam perkembangan anak. Oleh karenanya penting bagi Ayah Bunda untuk mengajarkan cara mengelola emosi pada anak.

Sayangnya masih belum banyak orang tua yang menyadari pentingnya mengelola emosi. Bahkan tak sedikit orang tua yang hingga usia dewasa juga masih gagap mengelola emosinya sendiri.

Namun Bintang Juara yakin Ayah Bunda yang membaca artikel ini tentu sudah piawai ya dalam mengelola emosinya? Nah, kini saatnya untuk melatihkan hal tersebut kepada kakak shalih dan shalihah. Bagaimana ya caranya?

Cara Mengelola Emosi yang Bisa Dilatihkan Pada Anak

Bintang Juara telah merangkum lima cara mengelola emosi di bawah ini. Yuk lihat satu persatu, Ayah Bunda. Adakah yang sudah dilakukan di rumah?

cara meningkatkan kecerdasan emosional

1. Mengenalkan Ragam Emosi

Tentu saja hal yang mustahil bagi orang tua mengajarkan anak mengelola emosi ketika si anak belum mengenal apa itu emosi. Kalau Ayah Bunda sendiri apa yang diketahui tentang emosi?

Sebagian besar orang saat mendengar kata emosi biasanya dihubungkan dengan hal negatif. Padahal emosi tidak selalu marah lo. Bahagia, sedih, kecewa, marah, bingung adalah beberapa ragam emosi.

Anak sebaiknya mengenal beragam emosi ini. Dengan mengenal emosi, diharapkan kakak shalih dan shallihah akan lebih mudah belajar mengelolanya. Belajar mengenal emosi dari mana?

Pertama, saat anak masih bayi atau balita, Ayah Bunda bisa mencoba mengenalkan emosi dengan cara memberikan respon pada saat anak melakukan perilaku tertentu.  Misalnya, “Oh, adik sedang kesal ya karena belum berhasil mengambil bolanya? Mau dibantu Bunda?

Atau saat kakak shalih dan shalihah sedang tersenyum lebar sepulang sekolah, Ayah Bunda bisa merespon dengan, “Masya Allah, kakak bahagia sekali sore ini. Ada cerita spesial apa yang dibawa dari sekolah nih?

Kedua, selain dengan menyebutkan nama-nama emosi saat merespon perilaku anak, Ayah Bunda juga bisa mengenalkan emosi melalui cerita. Sekarang sudah banyak buku-buku untuk mengenalkan emosi pada anak. Apakah Ayah Bunda membutuhkan rekomendasi buku terkait?

2. Mengajarkan Batasan Mengekspresikan Ragam Emosi

Setelah anak diajarkan mengenal ragam emosi, latih anak juga untuk mengekspresikannya dengan batasan tertentu. Misal, kakak shalih dan shalihah tertawa terbahak-bahak karena membaca sebuah cerita lucu, Ayah Bunda bisa merespon dengan, “Bahagia sekali membaca ceritanya. Lucu ya kak? Namun akan lebih baik jika tertawanya lebih santun. Tadi  suara kakak keras sekali lo sampai Bunda di luar bisa mendengar.

Contoh lainnya, apabila kakak shalih dan shalihah sedang mengambek dan menutup pintu dengan keras, Ayah Bunda bisa merespon dengan, “Kak, Ayah Bunda tahu kamu sedang marah, namun tetap tutup pintu dengan santun ya. Pintunya bisa rusak kalau kakak perlakukan seperti itu. Selain itu juga suaranya mengganggu orang lain lo.

Tentu saja respon itu bisa diberikan saat anak sudah tenang ya, Ayah Bunda. Selain melalui respon terhadap perilaku anak, Ayah Bunda juga bisa  menyampaikan batasan kepada kakak shalih dan shalihah melalui aturan yang jelas.

Contohnya: Marah dan sedih boleh, yang tidak boleh jika ekspresinya menyakiti diri sendiri dan orang lain, merusak barang, serta mengganggu orang lain.

3. Menerima Emosi Anak

Bagian lain dalam melatih anak mengelola emosi adalah mengajarkan kakak shalih dan shalihah menerima emosi yang hadir dalam diri. Merespon perilaku anak dengan tenang adalah salah satu caranya.

Apabila ayah dan bunda bisa menerima segala perilaku anak dengan tenang dan kepala dingin, kakak-kakak shalih dan shalihah juga secara tidak langsung belajar menerima gejolak emosi di dalam dirinya. Anak akan lebih percaya diri dengan ragam emosi yang diterimanya.

Ooh ternyata boleh lo sedih, asalkan tidak menangis keras-keras.”

Ooh ternyata marah itu wajar, selama tidak teriak-teriak dan membanting pintu.”

4. Melatih Anak untuk Tenang

Bukan hanya mengajarkan bagaimana mengekspresikan dan menerima emosi dengan tepat, Ayah Bunda juga bisa melatih kakak shalih dan shalihah cara menenangkan diri. Terutama saat emosi yang dirasakan adalah sedih, kecewa atau marah.

Ada kalanya anak mengalami tantrum, seperti teriak dan menangis berlebihan, bahkan ada pula yang sampai menyakiti badannya sendiri. Apabila anak bisa dipeluk, Ayah Bunda bisa memberikan pelukan untuk menenangkannya.

Namun apabila anak menolak dipeluk, Ayah Bunda bisa menyampaikan kepada kakak shalih dan shalihah seperti ini; “Bunda tahu kakak sedang kecewa. Silakan ekspresikan dulu rasa kecewa tersebut, ingat kan batasannya? Bunda beri waktu 5 menit ya? Setelah kakak tenang, baru kita ngobrol ya.”

Atau “Bunda mengerti kakak kecewa. Namun kakak tahu kan batasannya? Yuk, istighfar sambil olah nafas ya. Sudah tenang sekarang? Sudah bisa mengobrol?

Dengan memberikan kesempatan anak untuk menenangkan diri, beristighfar dan berlatih olah nafas, Insya Allah kakak shalih dan shalihah bisa membiasakan cara ini secara perlahan-lahan. Jangan lupa juga untuk selalu memberikan pijakan kepada anak bahwasanya dibutuhkan ketenangan untuk menemukan solusi.

5. Memberikan Apresiasi

Bagian paling akhir yang tak kalah penting adalah memberikan apresiasi kepada kakak shalih dan shalihah saat telah berhasil mengelola emosinya. Apresiasi dari orang tua bisa membuat anak lebih percaya diri dalam mengekspresikan emosi dengan baik.

Manfaat Melatih Mengelola Emosi pada Anak

Dari kelima cara mengajarkan anak mengelola emosi di atas, mana nih yang sudah Ayah Bunda praktekkan di rumah? Apabila Ayah Bunda masih on – off dalam mempraktekkannya, tidak masalah.

Hal terpenting adalah keinginan untuk selalu mau mencoba dan melatihkannya setiap hari. Agar Ayah Bunda bisa lebih konsisten untuk melatih anak mengelola emosi, yuk cari tahu dulu manfaat mengelola emosi bagi anak.

manfaat mengelola emosi untuk anak

1. Memahami Diri

Saat kakak shalih dan shalihah sudah berhasil mengelola emosi, artinya mereka sudah berhasil mengenal ragam emosi dengan baik. Dengan begitu, kakak shalih dan shalihah secara tidak langsung telah belajar memahami diri.

Diharapkan dengan anak bisa memahami dan mengenal dirinya, kakak shalih dan shalihah akan lebih mudah mengenal Rabb-nya. Tujuannya tentu saja agar lebih mudah diarahkan untuk melakukan amal sholih dan ibadah.

Hal tersebut sesuai dengan kata-kata mahsyur berikut. Beberapa ulama berpendapat kalimat ini adalah sabda Rasulullah SAW, tetapi sebagian meyakininya bukan hadits. Namun insya Allah di balik kalimat ini mengandung sebuah hikmah yang baik.

mengenal diri mengenal rabb

Siapa yang mengenal dirinya, akan mengenal Rabb-nya.

Setelah kakak shalih dan shalihah mengenal dirinya dan Rabb-nya, mereka akan belajar untuk mengenal dan memahami tujuan penciptaannya sesuai yang ada dalam Al Quran Adz-Dzariyat: 56;

Dan tidaklah Aku telah menciptakan jin dan manusia, kecuali untuk mengabdi kepada-Ku.

2. Menumbuhkan Empati

Kakak shalih dan shalihah yang telah mampu mengelola emosi juga akan lebih mudah dalam menumbuhkan empati. Mereka akan lebih mudah menerima perbedaan yang ada di sekelilingnya, juga lebih mampu beradaptasi dengan beragam lingkungan.

3. Melatih Tanggung Jawab dan Mencari Solusi

Dengan belajar mengelola emosi, kakak shalih dan shalihah juga belajar bertanggungjawab atas perasaannya sendiri. Rasa kecewa dan marah bisa jadi disebabkan oleh perilaku atau perkataan orang lain, namun kakak shalih dan shalihah harus belajar memahami respon atas hal yang tidak baik tergantung pada diri sendiri.

Apabila kakak shalih dan shalihah telah mampu mengelola emosi, tentu saja mereka jadi lebih mudah tenang. Saat sudah tenang, mereka jadi akan lebih mudah menemukan solusi atas hal-hal yang tadinya membuat marah, kecewa ataupun sedih.

Jurnal Pagi, Cara Anak Belajar Mengekspresikan dan Mengelola Emosi

Ayah Bunda, kolaborasi antara sekolah dan  orang tua sangat diperlukan dalam menumbuhkan kecerdasan emosional kakak shalih dan shalihah. Apabila di rumah, kakak shalih dan shalihah sudah diajak untuk melatih emosi sesuai dengan kelima cara di atas, di sekolah kakak shalih dan shalihah dilatih mengelola emosi, salah satunya dengan membangun habit jurnal pagi.

Jurnal pagi adalah sebuah kegiatan pembuka yang bisa ditemukan dalam pembelajaran dengan metode sentra. Bukan hanya di SD Islam Bintang Juara, sejak kakak shalih dan shalihah berkegiatan di PAUD Islam Bintang Juara, mereka juga sudah terbiasa melakukan jurnal pagi. Kegiatan ini sangat sederhana, tetapi memiliki manfaat yang luar biasa. Pada saat jurnal pagi, kakak shalih shalihah akan duduk melingkar. Sementara itu guru menyiapkan kertas kosong dan alat tulis/ gambar.

Setelah itu guru mempersilakan kakak shalih dan shalihah untuk mengambil kertas dan alat tulis/ gambar yang diperlukan. Anak kemudian dipersilakan untuk menuangkan isi pikiran dan perasaan, boleh dalam bentuk coretan, gambar ataupun dalam bentuk tulisan.

jurnal pagi untuk mengelola emosi

Saat anak masih di  jenjang PAUD atau kelas 1-2 SD, biasanya mereka akan lebih banyak menuangkan isi pikiran dan perasaannya melalui bentuk coretan atau gambar. Namun saat kakak shalih dan shalihah sudah lancar menulis dan merangkai kata, mereka bisa melakukan jurnal pagi dengan menyusun cerita.

Mungkin saat Ayah Bunda melihat coretan atau gambar yang dibuat oleh kakak shalih dan shalihah pada saat jurnal pagi akan menganggapnya sebagai hal biasa. Namun seorang guru bisa mendapatkan banyak hal lo dari jurnal pagi yang dibuat oleh anak. Berikut ini hal-hal yang bisa dilihat oleh guru melalui coretan, gambar ataupun tulisan kakak shalihah pada jurnal pagi:

  • Kesiapan kakak shalih dan shalihah memulai aktivitas di sekolah.
  • Informasi perasaan anak saat tiba ke sekolah, apakah kakak sedang sedih, marah, bahagia, dsb.
  • Masalah yang dihadapi oleh anak, misal apakah seorang anak terpapar gadget atau tayangan televisi.

Setelah membuat jurnal pagi, guru biasanya akan mempersilakan anak untuk menceritakan hasil coretan atau tulisannya. Saat anak bercerita, secara tidak langsung ia sedang belajar untuk mengekspresikan emosi. Guru akan memberikan respon dan pijakan yang tepat pada cerita kakak shalih dan shalihah.

Contoh respon yang diberikan oleh guru, seperti:

  • Ada ide apa hari ini, kakak shalih?
  • Oh kakak shalihah menggambar pelangi. Apakah akan menambahkan obyek lain pada gambar tersebut untuk melengkapi pelangi?
  • Apa punya pengalaman tentang yang digambar?
  • Dengan siapa saja kakak shalihah pergi ke tempat tersebut, bisa digambarkan objeknya pada jurnal pagi?

Dengan respon dan pijakan yang tepat, kakak shalih dan shalihah diharapkan sudah mampu mengelola emosinya sehingga siap melakukan aktivitas belajar di sekolah. Selain bermanfaat untuk mengelola emosi, jurnal pagi secara tidak langsung juga punya manfaat lain, seperti:

  • Melatih motorik kasar pada tangan
  • Melatih koordinasi otot motorik kasar – halus
  • Mengembangkan kemampuan klasifikasi
  • Mengembangkan kemampuan untuk fokus
  • Meningkatkan kecerdasan bahasa

meningkatkan kecerdasan emosi lewat jurnal pagi

Nah, Ayah Bunda juga bisa lo mempraktekkan membuat jurnal di rumah bersama kakak shalih dan shalihah. Saat  anak merasa sulit mengungkapkan perasaannya, berikan kertas dan alat tulis kepadanya dan biarkan anak meluapkannya pada kertas tersebut.

Setelah anak selesai menuangkan isi pikiran dan perasaan, jangan lupa Ayah Bunda mengajak kakak shalih dan shalihah berdialog tentang jurnal yang dibuatnya. Pada saat berdialog, Ayah Bunda bisa memberikan respon dan pijakan yang tepat untuk ceritanya.

Jika di sekolah jurnal dilakukan tiap pagi, Ayah Bunda bisa membiasakan kakak shalih dan shalihah membuat jurnal sebelum tidur malam. Diharapkan dengan mereka terbiasa menuangkan pikiran dan perasaan sebelum menutup hari, mereka bisa mengelola emosi sebelum tidur. Akhirnya saat bangun di keesokan harinya, kakak shalih dan shalihah telah memiliki perasaan yang lebih baik dan siap beraktivitas dengan semangat.

Apabila Ayah Bunda ingin melihat langsung bagaimana aktivitas jurnal pagi di SD Islam Bintang Juara, jangan lupa untuk mengikuti School Touring batch 4 yang akan diselenggarakan pada hari Selasa, 28 Februari 2023. Klik link berikut untuk daftar: Ikut School Touring. school touring batch 4

Demikian catatan mengenai cara mengelola emosi anak. Semoga membantu Ayah Bunda dalam mendampingi kakak shalih dan shalihah ya.***

Referensi:

  • http://yd.blog.um.ac.id/pentingnya-anak-belajar-mengelola-emosi-dan-cara-mengajarinya/
  • https://www.popmama.com/kid/4-5-years-old/anindya-miriati-hasanah/cara-mengajarkan-anak-mengelola-emosi-agar-tidak-mudah-tantrum
  • https://rapafm.pakpakbharatkab.go.id/rapafm/read/493/10-cara-mengatasi-emosi-anak-yang-meledak-ledak- https://dosenpsikologi.com/cara-mengajari-anak-mengelola-emosi
  • https://kumparan.com/kumparanmom/mengajarkan-anak-mengelola-emosi
  • https://metodesentra.com/2018/03/apa-itu-jurnal-pagi/
  • https://journal.unj.ac.id/unj/index.php/psdpd/article/view/17785
  • https://pgsd.umk.ac.id/files/semnas-pgsd-umk-2021/25-30-mari-utami.pdf
Allah, Kusebut Asma-Mu di Antara Luasnya Langit Dunia

Allah, Kusebut Asma-Mu di Antara Luasnya Langit Dunia

Oleh : Siti Maqfiroh 

“Klik” terdengar suara teman diseberang mematikan sakelar lampu-lampu ruangan. Cahaya yang semula terang benderang beranjak menjadi redup. Lampu yang redup menjadi pertanda datangnya malam dan beriringan perintah Allah untuk memberikan jasad dan pikiran untuk beristirahat. Tiba-tiba masuk pesan dari Kepala Sekolah, sebuah gambar screenshoot percakapan antara beliau dengan seorang wali murid. Kira-kira seperti ini isi percakapan yang beliau screenshoot.

…“Iya Bu, seneng banget Alwi sekolah disana. Bacaan sholatnya, sikap sholatnya perlahan-lahan makin sempurna. Bahkan kemarin waktu naik pesawat Alwi kan takut, terus dia ndremimilnya Asmaul Husna. Saya sama kakaknya sempat geli karena saya suruh baca do’a perjalanan, dibacanya Asmaul Husna sambil merem. Pas saya tanya belajar dimana? Alwi menjawab diajarin di sekolahku laah kalau habis sholat kan bacanya itu. Alhamdulillah senang sekali saya Bu. Anak disleksia saya sudah mulai bisa menghafal bacaan-bacaan sholat dan Asmaul Husna.”

Membaca isi pesan beliau, rasanya seperti menghabiskan segelas air putih setelah seharian berpuasa di Kota Semarang yang Panas. Segar tiada terkira. Bagaimana tidak, ketika mengingat perjalanan bagaimana Allah mempertemukan kami (Orang tua, anak, dan pihak sekolah), masih teringat betul dulu saat kegiatan observasi, calon siswa kami ini menolak untuk diajak shalat fardhu. Setelah menjadi siswa kami, perlahan-lahan bersama teman-temannya ia mau ikut serta melakukan Shalat Dhuha dan Shalat Dzuhur berjamaah di sekolah. Kalau kata pepatah lama, sekeras-kerasnya batu akan berlubang jika terus menerus ditetesi dengan air. Begitu juga dengan hati, hati lebih lembut daripada batu maka dengan program-program positif yang diberikan sebagai pembiasaan akan menggerakkan hati anak-anak untuk kembali ke fitrah (mencintai kebaikan). 

Melalui program Shalat Duha dan Dzuhur berjamaah, guru memiliki ruang untuk mengoreksi bacaan shalat dan gerakan shalat siswa. Setelah melaksanakan Shalat Duha, siswa diajarkan juga untuk membaca Asmaul Husna dan murajaah surah pendek. Semoga dengan adanya program ini di sekolah dapat membantu orang tua dalam mendidik anak untuk mencintai shalat.

PUJIAN ATAU BENTAKAN?

PUJIAN ATAU BENTAKAN?

Pujian atau Bentakan?

Pujian dan bentakan adalah dua hal yang saling bertolak belakang, masing-masing memiliki konsekwensi sendiri apabila kita lakukan kepada anak.

Seorang Ahli Psikolog pendidikan anak Titi P. Natalia, M.Psi, mengatakan bahwa “Jika anak merasa dirinya berharga, maka kepercayaan dirinya pasti akan tumbuh. Kalau sudah percaya diri, mereka akan berkembang menjadi anak yang berani dan mandiri.

“Beliau pun juga menyatakan “Ketika anak merasa dirinya dicintai, maka motivasi belajarnya bisa ikut meningkat. Ini juga merupakan dampak positif tidak langsung dari pujian.”
Maka orang tua di rumah agar membiasakan unutk mengapresiasi / memuji anak saat anak melakukan suatu kebaikan, atau melakukan kewajibanya. Misalnya saat anak meletakan pakaian kotor dikeranjang, atau anak menghabiskan makanannya, kita bisa berucap “Maa Shaa Allah, terimakasih kaka sholih telah meletakan pakaian di keranjang kotor / menghabiskan makanan yang diambil sendiri”. Maka tentunya anak akan merasa dihargai kebaikannya, dan kedepan akan lebih bersemangat dalam berbuat kebaikan maupun mengemban kewajibannya sendiri.

Namun sebaliknya, perhatikan akibat apa yang bisa ditimbulkan ketika seorang anak dibentak. Salah satu penelitian yang dilakukan oleh Lise Elliot, ahli syaraf di Chicago Medical School mengungkap satu kali bentakan dapat merusak milyaran sel otak anak-anak. Pada usia anak 2-3 tahun, menerima bentakan dapat menggugurkan perkembangan sel-sel otaknya.

Sebaliknya saat anak diberikan stimulus positif seperti dengan lembut menerima kasih sayang, milyaran sel-sel otaknya pun tumbuh berkembang dengan baik.

Maka marilah kita berusaha sebaik mungkin untuk menjadi orang tua yang berkesadaran, dan senantiasa doakan agar anak-anak kita tumbuh menjadi insan yang kamil, berakhlakul karimah, dan mandiri.

⭐⭐⭐
Mari berkolaborasi mewujudkan pendidikan terbaik bagi putra putri kita di SD Islam Bintang Juara. Sekolahnya calon pemimpin muslim masa depan.
⭐⭐⭐
Facebook: https://www.facebook.com/sdislambintangjuara/
Instagram: https://www.instagram.com/sdislambintangjuara/
Website: sd.islambintangjuara.sch.id
Email: sdislambintangjuara@gmail
Admin SD: wa.me/6282314930833
⭐⭐⭐

Keutamaan Bulan Dzulhijjah

Keutamaan Bulan Dzulhijjah

Bulan Dzulhijjah adalah satu dari dua belas bulan dalam Islam, yang memiliki keutamaan yang agung. Dzulhijjah adalah satu dari empat bulan yang diharamkan / diagungkan dalam syariat agama Islam.

Di bulan Dzulhijjah pula, banyak sekali amalan-amalan yang disyariatkan untuk dilakukan bagi kaum muslimin sebagai tambahan pundi-pundi pahala yang bisa meningkatkan derajat kita di akhirat kelak. Khususnya di sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah.

Berikut beberapa amalan yang bisa kita lakukan sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah:

(1) Memperbanyak berdzikir di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah
وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ…
Dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentuka… (QS. Al-An’am: 28)

(2) Memperbanyak puasa sunnah
عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ تِسْعَ ذِى الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ
Dari sebagian istri Nabi, mereka berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, dan pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), dan berpuasa tiga hari setiap bulannya (13, 14, 15 tiap bulan)

(3) Berpuasa di hari A’rafah (9 Dzulhijjah)
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ
“Puasa Arofah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162)

(4) Memperbanyak beramal shalih
مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعَمَلُ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ
“Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan amal shalih di dalamnya lebih dicintai oleh-Nya daripada hari yang sepuluh (sepuluh hari pertama dari Dzulhijjah).” (HR. Ahmad, dishahihkan Syaikh Ahmad Syakir)

⭐⭐⭐
Mari berkolaborasi mewujudkan pendidikan terbaik bagi putra putri kita di SD Islam Bintang Juara. Sekolahnya calon pemimpin muslim masa depan.
⭐⭐⭐
Facebook: https://www.facebook.com/sdislambintangjuara/
Instagram: https://www.instagram.com/sdislambintangjuara/
Website: sd.islambintangjuara.sch.id
Email: sdislambintangjuara@gmail
Admin SD: wa.me/6282314930833
⭐⭐⭐

Jangan Mendoakan Keburukan Pada Anak

Jangan Mendoakan Keburukan Pada Anak

Setiap orang tua tentu tidak menginginkan keburukan pada anaknya. Ini merupakan fitrah yang Allah Ta’ala tanamkan sebagai salah satu tanda dari sifat rahmah Allah Ta’ala.

Terdapat dalam shahihain, dari ‘Umar bin Al–Khaththab radhiyallahu ‘anhubeliau berkata,

قَدِمَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم– بِسَبْىٍ فَإِذَا امْرَأَةٌ مِنَ السَّبْىِ تَبْتَغِى إِذَا وَجَدَتْ صَبِيًّا فِى السَّبْىِ أَخَذَتْهُ فَأَلْصَقَتْهُ بِبَطْنِهَا وَأَرْضَعَتْهُ فَقَالَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم– « أَتَرَوْنَ هَذِهِ الْمَرْأَةَ طَارِحَةً وَلَدَهَا فِى النَّارِ ». قُلْنَا لاَ وَاللَّهِ وَهِىَ تَقْدِرُ عَلَى أَنْ لاَ تَطْرَحَهُ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم– « لَلَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا ».

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperoleh banyak tawanan perang. Tiba-tiba ada seorang perempuan dari mereka yang mencari bayinya dalam kelompok tawanan tersebut. Kemudian dia mengambil bayi itu, memeluknya kemudian menyusuinya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada kami, “Menurut kalian, apakah perempuan ini tega melemparkan anaknya itu ke dalam api?” Kami pun menjawab, “Demi Allah, tidak akan melemparkannya ke api selama dia masih mampu untuk tidak melemparnya.

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Sungguh Allah lebih sayang kepada para hambaNyamelebihi kasih sayang perempuan ini terhadap anaknya.(HR. Bukhari no 5999 dan Muslim no. 2754).

Demikianlah fitrah orang tua yang akan senantiasa menyayangi anaknya. Keselamatan sang anak menjadi suatu hal yang selalu terngiang di benaknya.

Pada seri sebelumnya telah dipaparkan beberapa kisah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mendoakan kebaikan untuk anak keturunan beliau secara khusus dan anak kaum muslimin secara umum. Kebalikan dari hal tersebut, wahai para orang tua, berhati-hatilah dan waspadalah dari mendoakan keburukan kepada anak-anak kita. Karena boleh jadi doa (atau ungkapan) buruk kita tersebut bertepatan dengan waktu dikabulkannya doa. Sehingga doa buruk tersebut pun terkabul dan kita akhirnya akan memetik hasilnya.

Terkait hal ini terdapat sebuah hadits yang panjang di kitab Shahih Muslim. Berikut ini kami cuplikkan petikan kisah ringkasnya.

Ada seorang lelaki yang berucap kepada untanya,

شَأْ لَعَنَكَ اللَّهُ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم– « مَنْ هَذَا اللاَّعِنُ بَعِيرَهُ ». قَالَ أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ . قَالَ « انْزِلْ عَنْهُ فَلاَ تَصْحَبْنَا بِمَلْعُونٍ لاَ تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ وَلاَ تَدْعُوا عَلَى أَوْلاَدِكُمْ وَلاَ تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ لاَ تُوَافِقُوا مِنَ اللَّهِ سَاعَةً يُسْأَلُ فِيهَا عَطَاءٌ فَيَسْتَجِيبُ لَكُمْ ».

Hus (kalimat hardikan kepada unta agar jalannya cepat -pen), semoga Allah melaknatmu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Siapa yang melaknat untanya itu?” Lelaki itu menjawab, “Aku, wahai Rasulullah.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Turunlah (dan turunkanlah barang-barangmu darinya -pen) [1] Janganlah Engkau menyertai sesuatu yang terlaknat. Janganlah Engkau mendoakan keburukan untuk dirimu sendiri. Janganlah Engkaumendoakan keburukan kepada anak-anakmu.[2] Jangalah engkau mendoakan keburukan pada harta-hartamu[3]Agar (doa tersebut) tidak bertepatan dengan saat-saat dimana Allah memberikan dan mengabulkan doa dan permintaan kalian.(HR. Muslim no. 3009).

Guru kami, Ustadz Aris Munandar hafizhahullah,menceritakan sebuah kisah berikut.

Perlu diketahui bahwa salah satu kebiasaan orang Arab yang mengenal agama Islam ketika mereka sedang marah besar, mereka sering mengucapkan ‘Allahu Yahdik’ (Semoga Allah Ta’ala memberikanmu hidayah). Kalimat ini secara bahasa tidak menganduk makna keburukan. Namun berdasarkan adat kebiasaan orang Arab, kalimat ini merupakan ungkapan kemarahan mereka.

Disebutkan bahwa salah satu sebab Syaikh Muqbil bin Hadi Al–Wadi’i rahimahullah menjadi seorang ulama besar ahlu sunnah adalah bahwa orang tuanya pernah marah besar kepadanya lantas mengucapkan, Allahu Yahdik. Kemudian Allah Ta’ala pun mengabulkan doa orang tua beliau sehingga kita mengenal beliau merupakan salah seorang ulama besar ahlu sunnah yang tidak tercemar lingkungan syi’ah zaidiyah.

Oleh karena itu, mari jaga lisan kita dari mengucapkan doa atau ungkapan keburukan pada anak keturunan kita. Marilah kita ganti doa keburukan tersebut dengan ucapan yang baik, walaupun kita sedang marah besar kepada anak. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

ثَلَاثُ دَعْوَاتٍ يُسْتَجَابُ لَهُنَّ لَا شَكَّ فِيْهِنَّ : دَعْوَةُ المَظْلُوْمِ وَ دَعْوَةُ المُسَافِرِ وَ دَعْوَةُ الوَالِدِ لِوَلَدِهِ.

Tiga doa yang akan dikabulkan dan tidak ada keraguan pada terkabulnya:doa orang yang dizhalimi, doa orang yang safar dan doa kebaikan orang tua kepada anaknya.(HR. Muslim no. 3009).

Mudah-mudahan kita dapat mengamalkannya.

Penulis: Aditya Budiman dan M. Saifudin Hakim

Mendoakan Kebaikan Untuk Anak-Anak Kita

Mendoakan Kebaikan Untuk Anak-Anak Kita

Ketika kita telah memahami bahwa hidayah taufik hanyalah khusus milik Allah Ta’ala, maka wajib bagi kita untuk mengarahkan doa, memohon kepada Allah Ta’ala agar memperbaiki keturunan kita, memberkahi dan menjaga mereka dari hal-hal yang buruk dan tidak kita inginkan. Menjaga mereka dari gangguan setan dari kalangan manusia dan jin [1]. Demikianlah kebiasaan dan amalan yang ditempuh oleh orang-orang shalih.

Lihatlah doa para hamba Allah (‘ibadurrahman) dalam Al Qur’an.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami istri-istri dan keturunan kami sebagai penyenang hati (jiwa) kami [2], dan jadikanlah kami teladan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan [25]: 74)

Lihat pula doa Nabi Zakariya ‘alaihissalam,

فَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا (5) يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنْ آَلِ يَعْقُوبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا

Anugerahilah kepadaku dari sisi-Mu seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi (ilmu dan kenabian [3]) dari sebagian keluarga Ya’qub. Dan jadikanlah dia, ya Rabbku, seorang yang diridhai di sisi-Mu.” (QS. Maryam [19]: 5-6)

Beliau ‘alaihissalam juga berdoa,

رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

Ya Tuhanku, anugerahilah kepadaku dari sisi-Mu seorang anak yang shalih. Sesungguhnya Engkau Maha Mengabulkan doa.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 38)

Lihat pula doa Nabi Ibrahim dan Isma’il ‘alaihimassalam,

رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ

Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada-Mu dan (jadikanlah) di antara anak keturunan kami umat yang tunduk patuh kepada-Mu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 128)

Lihat pula do’a kekasih Allah, Ibrahim ‘alaihissalam,

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.” (QS. Ash-Shaffat [37]: 100)

Demikian pula doa beliau yang lain,

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan dari anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Tuhan kami, kabulkanlah doaku” (QS. Ibrahim [14]: 40).

Beliau juga berdoa,

وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

Jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala.” (QS. Ibrahim [14]: 35)

Lihat pula doa orang yang telah mencapai usia matang, yaitu usia 40 tahun [4],

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي

Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat beramal shalih yang Engkau ridhai. Berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku.” (QS. Al-Ahqaf [46]: 15)

Diantara faidah yang berkaitan dengan pendidikan anak pada ayat yang mulia ini adalah :

  1. Doa untuk mendapat anak keturuan yang baik bukanlah sebatas hanya doa ketika pasangan suami istri hendak melakukan hubungan atau masih pengantin baru. Lihatlah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Meskipun usia beliau tidak lagi muda, beliau tetap berdoa untuk mendapatkan keturunan yang baik atau memperbaiki keturunan beliau kepada Allah Ta’ala.
  2. Doa kebaikan untuk anak bukan hanya ketika sang anak masih di usia kecil.

Wahai saudaraku, para hamba Allah … Perbanyaklah meminta untuk diberikan anak yang shalih dan perbanyaklah doa kepada Allah Ta’ala untuk memperbaiki anak keturanan kita. Sesungguhnya Dia adalah Dzat Yang Maha Mengabulkan Doa.

[Bersambung]

Disempurnakan menjelang maghrib, Rotterdam 29 Dzulhijjah 1437

Penulis: Aditya Budiman dan M. Saifudin Hakim

Artikel Muslimah.or.id