Calon pemimpin harus paham tantangan apa saja yang di depan mata. Tak hanya itu seorang calon pemimpin juga harus belajar bagaimana menemukan solusi untuk mengatasi tantangan tersebut.
Sesuai dengan tema pembelajaran yang sedang diangkat saat ini; Pembangunan yang Berkelanjutan, kakak shalih-shalihah kembali berkegiatan terkait bagaimana merawat bumi. Bumi semakin tua, sampah ada di mana-mana, apa ya yang bisa kakak shalih-shalihah lakukan untuk menghadapi tantangan tersebut?
Sebagai informasi, Eco Enzyme adalah hasil dari pengolahan sampah dapur organik yang telah difermentasi selama kurang lebih tiga bulan. Sampah dapur yang bisa digunakan yaitu kulit buah ataupun sayuran.
Eco Enzyme ini awalnya ditemukan oleh Dr. Rosukon Poompanvong. Sosok ini juga merupakan pendiri Asosiasi Pertanian Organik Thailand. Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Rosukon sudah dimulai sejak tahun 1980an.
Eco Enzyme kemudian diperkenalkan secara lebih luas oleh Dr Joean Oon, promotor Eco Enzyme International, sekaligus praktisi terapi hemeopati, naturopati, antroposofis keperawatan dan perkembangan anak dari Penang, Malaysia.
Lalu siapakah komunitas Eco Enzyme Nusantara Semarang yang menjadi partner belajar kakak shalih-shalihah pada hari Jum’at, 3 Maret 2023? Yuk, kenalan lebih lanjut, Ayah Bunda.
Berkenalan dengan Komunitas Eco Enzyme Nusantara
Menyadari semakin parahnya pemanasan global sehingga bencana alam terjadi di mana-mana, mulai muncul keinginan untuk mengajak masyarakat dalam rangka menyelamatkan bumi. Secara resmi, Komunitas Eco Enzyme Nusantara (EEN) didirikan pada tahun 2019. Mengusung visi yang sangat mulia;
Mewujudkan Bumi Kembali Indah dan Lestari untuk Kelangsungan Hidup Umat Manusia dan Segenap Makhluk.
Agar bisa berkolaborasi lebih luas dengan banyak pihak, pada tahun 2020, EEN merasa perlu memiliki legalitas. Hingga kemudian pada Agustus 2020, terbentuklah Perkumpulan EEN yang melingkupi wilayah seluruh Indonesia.
Saat ini EEN telah meluas ke 27 provinsi dengan lebih dari 80 kelompok komunitas yang tersebar di seluruh Nusantara. Semakin banyak pula yang bergabung menjadi relawan untuk menjalankan misi dari komunitas ini:
Melakukan Edukasi dan Sosialisasi Eco Enzyme secara online dan offline kepada masyarakat.
Membangun kesadaran masyarakat untuk mengasihi alam dan mengolah sampah organik.
Membentuk dan melatih Relawan EEN di seluruh Indonesia.
Melakukan kerjasama dengan Pemerintahan daerah dan pusat dalam mengolah sampah organik.
Membentuk tim litbang untuk mengembangkan keilmuan yang berkaitan dengan Eco Enzyme sehingga semakin memberikan manfaat yang lebih luas.
Ketua EEN pusat saat ini yaitu Jimuno Tanaka dari Batam. Sementara itu, Ketua EEN Semarang periode sekarang dipegang oleh Ibu Rinanita.
Pada hari Jum’at, 3 Maret 2023, berikut ini nama-nama pengurus dan relawan aktif EEN Semarang yang membagikan ilmunya tentang Eco Enzyme kepada kakak shalih-shalihah SD Islam Bintang Juara:
Ibu Yenita selaku ketua bank eco enzym semarang
Ibu Jeany selaku sekretaris EEN Semarang
Ibu Ririn selaku bendahara
Ibu Milan selaku anggota pengurus EEN semarang
Ibu Emma selaku relawan aktif
Ibu Aryanti selaku relawan aktif
Ayah Bunda, sebagai informasi, Komunitas Eco Enzyme Nusantara Semarang bekerjasama dengan Pemerintah Kota Semarang telah membangun Bank Eco Enzyme Semarang Hebat sejak tahun 2021 lo. Bank Eco Enzyme tersebut terletak di kecamatan Semarang Utara.
Bank Eco Enzym difungsikan untuk memproduksi eco enzym sebanyak-banyaknya. Bahkan sudah terlihat buktinya untuk menghilangkan bau dan menjernihkan air di polder Tawang.
Pada saat angka Covid-19 masih tinggi, komunitas EEN juga bekerjasama dengan Pemkot Semarang untuk menyemprotkan EEN ke udara untuk mengurangi penyebaran virus Corona selama beberapa kali.
Cara Membuat Eco Enzyme, Yuk Praktekkan di Rumah
Ayah Bunda, mau tahu tidak bagaimana cara membuat Eco Enzyme sebagaimana yang dipraktekkan kakak shalih-shalihah pada hari Jumat, 3 Maret 2023 lalu?
Ternyata sangat mudah lo, Ayah Bunda. Jika kakak shalih-shalihah saja bisa membuat bersama-sama dengan kelompoknya, Ayah Bunda juga pasti bisa membuatnya sendiri di rumah.
Begini nih caranya, pertama-tama siapkan peralatan yang dibutuhkan:
Toples ukuran 1.7 liter
Gelas ukur
Pisau
Telenan
Setelah itu, siapkan juga bahan-bahan utama yang dibutuhkan untuk membuat Eco Enzyme:
Air 1000 ml
Gula 100 gram, diiris tipis atau dipotong kecil-kecil agar lebih mudah larut
Kulit buah 300 gram, potong atau cacah kecil-kecil dulu ya, Ayah Bunda
Apabila peralatan dan bahan-bahan sudah siap, saatnya melakukan proses pengolahan:
Bersihkan wadah dari sabun atau bahan kimia
Masukkan air bersih sebanyak 1000 ml
Masukkan gula sebanyak 100 gram
Masukkan cacahan kulit buah sebanyak 300 gram
Tutup rapat wadah/ toples
Beri label pembuatan dan tanggal panen. Eco enzyme bisa dipanen setelah difermentasi selama tiga bulan.
Simpan toples di tempat yang tidak terkena sinar matahari secara langsung
Pada saat belajar mengolah sampah organik menjadi Eco Enzyme, kakak shalih-shalihah menggunakan sampah kulit jeruk. Namun sebenarnya kulit buah apapun bisa digunakan ya, Ayah Bunda.
Hanya saja kalau berisi berbagai jenis kulit buah, sebaiknya dicatat di bagian label. Bu Emma, salah satu pemateri menyampaikan, “Beda kulit akan berbeda pula hasil jadinya. Misal kulit nanas dan pisang biasanya akan lebih banyak menghasilkan gaz dibanding kulit buah lainnya.”
Dengan melakukan pencatatan jenis kulit buah pada label, Ayah Bunda juga bisa mengajak kakak shalih-shalihah mengamati hasil jadi Eco Enzyme. Apakah akan ada bedanya Eco Enzyme yang terbuat dari kulit jeruk dengan kulit buah lainnya. Bisa jadi sarana eksplorasi untuk kakak shalih-shalihah bukan?
Pada saat proses fermentasi secara alami, bulan pertama akan menghasilkan alkohol, bulan kedua menghasilkan asam cuka, dan bulan ketiga menghasilkan enzym yang siap dipakai.
Manfaat Eco Enzyme Apa Saja Ya?
Mungkin beberapa dari Ayah Bunda ada yang belum mengetahui bahwa Eco Enzyme memiliki banyak manfaat. Selain mampu mengurangi jumlah sampah organik, berikut ini fungsi Eco Enzyme lainnya:
Menghilangkan bau tidak sedap tumpukan sampah di TPS,
Menetralisir udara dari kontaminasi virus Corona,
Penjernih dan penghilang bau air,
Campuran air mandi serta obat kumur untuk menghilangkan batuk dan flu,
Pengganti skincare, bisa menghaluskan kulit wajah,
Sebagai Hand sanitizer,
Sebagai cairan pencuci piring,
Sebagai cairan untuk mengepel lantai, dsb.
Tak hanya itu, Eco Enzyme juga bisa untuk menyembuhkan luka lo, Ayah Bunda. Saat proses belajar mengolah Eco Enzyme, Kak Akhtar, salah satu siswa kelas dua, sempat terluka.
Lalu oleh bu Emma, tangan kak Akhtar yang terluka disemprotkan eco enzyme. Alhamdulillah lukanya langsung menutup dan perdarahan berhenti.
Kata EEN tentang Calon Pemimpin Muslim SD Islam Bintang Juara
Pada saat proses belajar mengolah sampah organik menjadi Eco Enzyme, kakak shalih-shalihah dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama terdiri dari kakak shalih-shalihah kelas 1 dan 2.
Kelompok pertama melakukan aktivitasnya di lantai dua Gedung A SD Islam Bintang Juara. Sementara kelompok kedua yang terdiri dari kakak shalih-shalihah kelas 3-6 beraktivitas di basement Gedung B.
Sebelum acara dimulai, ibu bapak guru telah memberikan pijakan kepada kakak shalih-shalihah untuk mengikuti acara dengan fokus. Tidak lupa ibu bapak guru juga mengingatkan agar kakak shalih-shalihah bisa bergerak lancar.
Apabila ada yang ingin ditanyakan, kakak shalih-shalihah bisa mengangkat tangan terlebih dahulu. Jika pemateri sudah memberi kesempatan berbicara, kakak shalih-shalihah baru bisa mengajukan pertanyaannya.
Selain itu, ibu dan bapak guru juga memberikan pijakan untuk menggunakan pisau dengan benar agar tidak ada yang terluka. Setiap anggota kelompok juga diberikan tugas masing-masing; ada yang bertugas mengukur dan mengambil kulit jeruk, ada yang bertugas mengukur dan mengambil air, dsb.
Alhamdulillah dengan pijakan yang diberikan oleh ibu bapak guru, acara Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) pada hari Jumat, 3 Maret 2023 lalu bisa berjalan dengan lancar dan kondusif.
Bahkan para pemateri dari Komunitas Eco Enzyme Nusantara (EEN) Semarang memberikan feedback positif lo. Berikut ini beberapa respon yang sampai kepada kami;
Siswa Bintang Juara cukup kritis. Suka bertanya. Sopan dan antusias mendengarkan dan praktek. Cukup menyenangkan mengajar Eco Enzyme di SD Islam Bintang Juara.
Masya Allah, masih kelas 1 dan 2 tapi sangat tenang. Kalaupun ada yang lari-lari, bukan karena gojekan, tetapi untuk ambil barang yang dibutuhkan.
Menyenangkan sosialisasi di SD Bintang Juara. Anak-anak yang hebat, sopan semangat dan pintar. Pertanyaan yang kritis. Semoga anak-anak bisa melanjutkan membuat Eco Enzyme dan mengajarkan ke lingkungan. Semoga mereka bisa sukses.
Masya Allah, alhamdulillah. Tentunya semua ini tidak lepas juga dari sinergi Ayah Bunda dalam pengasuhan kakak shalih-shalihah di rumah.
Bagaimana Ayah Bunda, seru bukan kegiatan P5 kakak shalih-shalihah bersama Komunitas Eco Enzyme Nusantara dalam mengolah sampah organik menjadi Eco Enzyme?
Semoga dengan semakin banyaknya yang mengetahui tentang Eco Enzyme, bumi bisa terawat dengan lebih baik. Pastikan apabila Ayah Bunda sudah mempraktekkan cara membuat eco enzyme di rumah bisa didokumentasikan dan bagikan kepada kerabat ya. ***
Selain kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional juga salah satu hal penting yang harus diperhatikan dalam perkembangan anak. Oleh karenanya penting bagi Ayah Bunda untuk mengajarkan cara mengelola emosi pada anak.
Sayangnya masih belum banyak orang tua yang menyadari pentingnya mengelola emosi. Bahkan tak sedikit orang tua yang hingga usia dewasa juga masih gagap mengelola emosinya sendiri.
Namun Bintang Juara yakin Ayah Bunda yang membaca artikel ini tentu sudah piawai ya dalam mengelola emosinya? Nah, kini saatnya untuk melatihkan hal tersebut kepada kakak shalih dan shalihah. Bagaimana ya caranya?
Cara Mengelola Emosi yang Bisa Dilatihkan Pada Anak
Bintang Juara telah merangkum lima cara mengelola emosi di bawah ini. Yuk lihat satu persatu, Ayah Bunda. Adakah yang sudah dilakukan di rumah?
1. Mengenalkan Ragam Emosi
Tentu saja hal yang mustahil bagi orang tua mengajarkan anak mengelola emosi ketika si anak belum mengenal apa itu emosi. Kalau Ayah Bunda sendiri apa yang diketahui tentang emosi?
Sebagian besar orang saat mendengar kata emosi biasanya dihubungkan dengan hal negatif. Padahal emosi tidak selalu marah lo. Bahagia, sedih, kecewa, marah, bingung adalah beberapa ragam emosi.
Anak sebaiknya mengenal beragam emosi ini. Dengan mengenal emosi, diharapkan kakak shalih dan shallihah akan lebih mudah belajar mengelolanya. Belajar mengenal emosi dari mana?
Pertama, saat anak masih bayi atau balita, Ayah Bunda bisa mencoba mengenalkan emosi dengan cara memberikan respon pada saat anak melakukan perilaku tertentu. Misalnya, “Oh, adik sedang kesal ya karena belum berhasil mengambil bolanya? Mau dibantu Bunda?”
Atau saat kakak shalih dan shalihah sedang tersenyum lebar sepulang sekolah, Ayah Bunda bisa merespon dengan, “Masya Allah, kakak bahagia sekali sore ini. Ada cerita spesial apa yang dibawa dari sekolah nih?”
Kedua, selain dengan menyebutkan nama-nama emosi saat merespon perilaku anak, Ayah Bunda juga bisa mengenalkan emosi melalui cerita. Sekarang sudah banyak buku-buku untuk mengenalkan emosi pada anak. Apakah Ayah Bunda membutuhkan rekomendasi buku terkait?
Setelah anak diajarkan mengenal ragam emosi, latih anak juga untuk mengekspresikannya dengan batasan tertentu. Misal, kakak shalih dan shalihah tertawa terbahak-bahak karena membaca sebuah cerita lucu, Ayah Bunda bisa merespon dengan, “Bahagia sekali membaca ceritanya. Lucu ya kak? Namun akan lebih baik jika tertawanya lebih santun. Tadi suara kakak keras sekali lo sampai Bunda di luar bisa mendengar.”
Contoh lainnya, apabila kakak shalih dan shalihah sedang mengambek dan menutup pintu dengan keras, Ayah Bunda bisa merespon dengan, “Kak, Ayah Bunda tahu kamu sedang marah, namun tetap tutup pintu dengan santun ya. Pintunya bisa rusak kalau kakak perlakukan seperti itu. Selain itu juga suaranya mengganggu orang lain lo.”
Tentu saja respon itu bisa diberikan saat anak sudah tenang ya, Ayah Bunda. Selain melalui respon terhadap perilaku anak, Ayah Bunda juga bisa menyampaikan batasan kepada kakak shalih dan shalihah melalui aturan yang jelas.
Contohnya: Marah dan sedih boleh, yang tidak boleh jika ekspresinya menyakiti diri sendiri dan orang lain, merusak barang, serta mengganggu orang lain.
3. Menerima Emosi Anak
Bagian lain dalam melatih anak mengelola emosi adalah mengajarkan kakak shalih dan shalihah menerima emosi yang hadir dalam diri. Merespon perilaku anak dengan tenang adalah salah satu caranya.
Apabila ayah dan bunda bisa menerima segala perilaku anak dengan tenang dan kepala dingin, kakak-kakak shalih dan shalihah juga secara tidak langsung belajar menerima gejolak emosi di dalam dirinya. Anak akan lebih percaya diri dengan ragam emosi yang diterimanya.
“Ooh ternyata boleh lo sedih, asalkan tidak menangis keras-keras.”
“Ooh ternyata marah itu wajar, selama tidak teriak-teriak dan membanting pintu.”
4. Melatih Anak untuk Tenang
Bukan hanya mengajarkan bagaimana mengekspresikan dan menerima emosi dengan tepat, Ayah Bunda juga bisa melatih kakak shalih dan shalihah cara menenangkan diri. Terutama saat emosi yang dirasakan adalah sedih, kecewa atau marah.
Ada kalanya anak mengalami tantrum, seperti teriak dan menangis berlebihan, bahkan ada pula yang sampai menyakiti badannya sendiri. Apabila anak bisa dipeluk, Ayah Bunda bisa memberikan pelukan untuk menenangkannya.
Namun apabila anak menolak dipeluk, Ayah Bunda bisa menyampaikan kepada kakak shalih dan shalihah seperti ini; “Bunda tahu kakak sedang kecewa. Silakan ekspresikan dulu rasa kecewa tersebut, ingat kan batasannya? Bunda beri waktu 5 menit ya? Setelah kakak tenang, baru kita ngobrol ya.”
Atau “Bunda mengerti kakak kecewa. Namun kakak tahu kan batasannya? Yuk, istighfar sambil olah nafas ya. Sudah tenang sekarang? Sudah bisa mengobrol?”
Dengan memberikan kesempatan anak untuk menenangkan diri, beristighfar dan berlatih olah nafas, Insya Allah kakak shalih dan shalihah bisa membiasakan cara ini secara perlahan-lahan. Jangan lupa juga untuk selalu memberikan pijakan kepada anak bahwasanya dibutuhkan ketenangan untuk menemukan solusi.
5. Memberikan Apresiasi
Bagian paling akhir yang tak kalah penting adalah memberikan apresiasi kepada kakak shalih dan shalihah saat telah berhasil mengelola emosinya. Apresiasi dari orang tua bisa membuat anak lebih percaya diri dalam mengekspresikan emosi dengan baik.
Manfaat Melatih Mengelola Emosi pada Anak
Dari kelima cara mengajarkan anak mengelola emosi di atas, mana nih yang sudah Ayah Bunda praktekkan di rumah? Apabila Ayah Bunda masih on – off dalam mempraktekkannya, tidak masalah.
Hal terpenting adalah keinginan untuk selalu mau mencoba dan melatihkannya setiap hari. Agar Ayah Bunda bisa lebih konsisten untuk melatih anak mengelola emosi, yuk cari tahu dulu manfaat mengelola emosi bagi anak.
1. Memahami Diri
Saat kakak shalih dan shalihah sudah berhasil mengelola emosi, artinya mereka sudah berhasil mengenal ragam emosi dengan baik. Dengan begitu, kakak shalih dan shalihah secara tidak langsung telah belajar memahami diri.
Diharapkan dengan anak bisa memahami dan mengenal dirinya, kakak shalih dan shalihah akan lebih mudah mengenal Rabb-nya. Tujuannya tentu saja agar lebih mudah diarahkan untuk melakukan amal sholih dan ibadah.
Hal tersebut sesuai dengan kata-kata mahsyur berikut. Beberapa ulama berpendapat kalimat ini adalah sabda Rasulullah SAW, tetapi sebagian meyakininya bukan hadits. Namun insya Allah di balik kalimat ini mengandung sebuah hikmah yang baik.
Siapa yang mengenal dirinya, akan mengenal Rabb-nya.
Setelah kakak shalih dan shalihah mengenal dirinya dan Rabb-nya, mereka akan belajar untuk mengenal dan memahami tujuan penciptaannya sesuai yang ada dalam Al Quran Adz-Dzariyat: 56;
Dan tidaklah Aku telah menciptakan jin dan manusia, kecuali untuk mengabdi kepada-Ku.
2. Menumbuhkan Empati
Kakak shalih dan shalihah yang telah mampu mengelola emosi juga akan lebih mudah dalam menumbuhkan empati. Mereka akan lebih mudah menerima perbedaan yang ada di sekelilingnya, juga lebih mampu beradaptasi dengan beragam lingkungan.
3. Melatih Tanggung Jawab dan Mencari Solusi
Dengan belajar mengelola emosi, kakak shalih dan shalihah juga belajar bertanggungjawab atas perasaannya sendiri. Rasa kecewa dan marah bisa jadi disebabkan oleh perilaku atau perkataan orang lain, namun kakak shalih dan shalihah harus belajar memahami respon atas hal yang tidak baik tergantung pada diri sendiri.
Apabila kakak shalih dan shalihah telah mampu mengelola emosi, tentu saja mereka jadi lebih mudah tenang. Saat sudah tenang, mereka jadi akan lebih mudah menemukan solusi atas hal-hal yang tadinya membuat marah, kecewa ataupun sedih.
Jurnal Pagi, Cara Anak Belajar Mengekspresikan dan Mengelola Emosi
Ayah Bunda, kolaborasi antara sekolah dan orang tua sangat diperlukan dalam menumbuhkan kecerdasan emosional kakak shalih dan shalihah. Apabila di rumah, kakak shalih dan shalihah sudah diajak untuk melatih emosi sesuai dengan kelima cara di atas, di sekolah kakak shalih dan shalihah dilatih mengelola emosi, salah satunya dengan membangun habit jurnal pagi.
Jurnal pagi adalah sebuah kegiatan pembuka yang bisa ditemukan dalam pembelajaran dengan metode sentra. Bukan hanya di SD Islam Bintang Juara, sejak kakak shalih dan shalihah berkegiatan di PAUD Islam Bintang Juara, mereka juga sudah terbiasa melakukan jurnal pagi. Kegiatan ini sangat sederhana, tetapi memiliki manfaat yang luar biasa. Pada saat jurnal pagi, kakak shalih shalihah akan duduk melingkar. Sementara itu guru menyiapkan kertas kosong dan alat tulis/ gambar.
Setelah itu guru mempersilakan kakak shalih dan shalihah untuk mengambil kertas dan alat tulis/ gambar yang diperlukan. Anak kemudian dipersilakan untuk menuangkan isi pikiran dan perasaan, boleh dalam bentuk coretan, gambar ataupun dalam bentuk tulisan.
Saat anak masih di jenjang PAUD atau kelas 1-2 SD, biasanya mereka akan lebih banyak menuangkan isi pikiran dan perasaannya melalui bentuk coretan atau gambar. Namun saat kakak shalih dan shalihah sudah lancar menulis dan merangkai kata, mereka bisa melakukan jurnal pagi dengan menyusun cerita.
Mungkin saat Ayah Bunda melihat coretan atau gambar yang dibuat oleh kakak shalih dan shalihah pada saat jurnal pagi akan menganggapnya sebagai hal biasa. Namun seorang guru bisa mendapatkan banyak hal lo dari jurnal pagi yang dibuat oleh anak. Berikut ini hal-hal yang bisa dilihat oleh guru melalui coretan, gambar ataupun tulisan kakak shalihah pada jurnal pagi:
Kesiapan kakak shalih dan shalihah memulai aktivitas di sekolah.
Informasi perasaan anak saat tiba ke sekolah, apakah kakak sedang sedih, marah, bahagia, dsb.
Masalah yang dihadapi oleh anak, misal apakah seorang anak terpapar gadget atau tayangan televisi.
Setelah membuat jurnal pagi, guru biasanya akan mempersilakan anak untuk menceritakan hasil coretan atau tulisannya. Saat anak bercerita, secara tidak langsung ia sedang belajar untuk mengekspresikan emosi. Guru akan memberikan respon dan pijakan yang tepat pada cerita kakak shalih dan shalihah.
Contoh respon yang diberikan oleh guru, seperti:
Ada ide apa hari ini, kakak shalih?
Oh kakak shalihah menggambar pelangi. Apakah akan menambahkan obyek lain pada gambar tersebut untuk melengkapi pelangi?
Apa punya pengalaman tentang yang digambar?
Dengan siapa saja kakak shalihah pergi ke tempat tersebut, bisa digambarkan objeknya pada jurnal pagi?
Dengan respon dan pijakan yang tepat, kakak shalih dan shalihah diharapkan sudah mampu mengelola emosinya sehingga siap melakukan aktivitas belajar di sekolah. Selain bermanfaat untuk mengelola emosi, jurnal pagi secara tidak langsung juga punya manfaat lain, seperti:
Melatih motorik kasar pada tangan
Melatih koordinasi otot motorik kasar – halus
Mengembangkan kemampuan klasifikasi
Mengembangkan kemampuan untuk fokus
Meningkatkan kecerdasan bahasa
Nah, Ayah Bunda juga bisa lo mempraktekkan membuat jurnal di rumah bersama kakak shalih dan shalihah. Saat anak merasa sulit mengungkapkan perasaannya, berikan kertas dan alat tulis kepadanya dan biarkan anak meluapkannya pada kertas tersebut.
Setelah anak selesai menuangkan isi pikiran dan perasaan, jangan lupa Ayah Bunda mengajak kakak shalih dan shalihah berdialog tentang jurnal yang dibuatnya. Pada saat berdialog, Ayah Bunda bisa memberikan respon dan pijakan yang tepat untuk ceritanya.
Jika di sekolah jurnal dilakukan tiap pagi, Ayah Bunda bisa membiasakan kakak shalih dan shalihah membuat jurnal sebelum tidur malam. Diharapkan dengan mereka terbiasa menuangkan pikiran dan perasaan sebelum menutup hari, mereka bisa mengelola emosi sebelum tidur. Akhirnya saat bangun di keesokan harinya, kakak shalih dan shalihah telah memiliki perasaan yang lebih baik dan siap beraktivitas dengan semangat.
Apabila Ayah Bunda ingin melihat langsung bagaimana aktivitas jurnal pagi di SD Islam Bintang Juara, jangan lupa untuk mengikuti School Touring batch 4 yang akan diselenggarakan pada hari Selasa, 28 Februari 2023. Klik link berikut untuk daftar: Ikut School Touring.
Demikian catatan mengenai cara mengelola emosi anak. Semoga membantu Ayah Bunda dalam mendampingi kakak shalih dan shalihah ya.***
“Klik” terdengar suara teman diseberang mematikan sakelar lampu-lampu ruangan. Cahaya yang semula terang benderang beranjak menjadi redup. Lampu yang redup menjadi pertanda datangnya malam dan beriringan perintah Allah untuk memberikan jasad dan pikiran untuk beristirahat. Tiba-tiba masuk pesan dari Kepala Sekolah, sebuah gambar screenshoot percakapan antara beliau dengan seorang wali murid. Kira-kira seperti ini isi percakapan yang beliau screenshoot.
…“Iya Bu, seneng banget Alwi sekolah disana. Bacaan sholatnya, sikap sholatnya perlahan-lahan makin sempurna. Bahkan kemarin waktu naik pesawat Alwi kan takut, terus dia ndremimilnya Asmaul Husna. Saya sama kakaknya sempat geli karena saya suruh baca do’a perjalanan, dibacanya Asmaul Husna sambil merem. Pas saya tanya belajar dimana? Alwi menjawab diajarin di sekolahku laah kalau habis sholat kan bacanya itu. Alhamdulillah senang sekali saya Bu. Anak disleksia saya sudah mulai bisa menghafal bacaan-bacaan sholat dan Asmaul Husna.”
Membaca isi pesan beliau, rasanya seperti menghabiskan segelas air putih setelah seharian berpuasa di Kota Semarang yang Panas. Segar tiada terkira. Bagaimana tidak, ketika mengingat perjalanan bagaimana Allah mempertemukan kami (Orang tua, anak, dan pihak sekolah), masih teringat betul dulu saat kegiatan observasi, calon siswa kami ini menolak untuk diajak shalat fardhu. Setelah menjadi siswa kami, perlahan-lahan bersama teman-temannya ia mau ikut serta melakukan Shalat Dhuha dan Shalat Dzuhur berjamaah di sekolah. Kalau kata pepatah lama, sekeras-kerasnya batu akan berlubang jika terus menerus ditetesi dengan air. Begitu juga dengan hati, hati lebih lembut daripada batu maka dengan program-program positif yang diberikan sebagai pembiasaan akan menggerakkan hati anak-anak untuk kembali ke fitrah (mencintai kebaikan).
Melalui program Shalat Duha dan Dzuhur berjamaah, guru memiliki ruang untuk mengoreksi bacaan shalat dan gerakan shalat siswa. Setelah melaksanakan Shalat Duha, siswa diajarkan juga untuk membaca Asmaul Husna dan murajaah surah pendek. Semoga dengan adanya program ini di sekolah dapat membantu orang tua dalam mendidik anak untuk mencintai shalat.
Pujian dan bentakan adalah dua hal yang saling bertolak belakang, masing-masing memiliki konsekwensi sendiri apabila kita lakukan kepada anak.
Seorang Ahli Psikolog pendidikan anak Titi P. Natalia, M.Psi, mengatakan bahwa “Jika anak merasa dirinya berharga, maka kepercayaan dirinya pasti akan tumbuh. Kalau sudah percaya diri, mereka akan berkembang menjadi anak yang berani dan mandiri.
“Beliau pun juga menyatakan “Ketika anak merasa dirinya dicintai, maka motivasi belajarnya bisa ikut meningkat. Ini juga merupakan dampak positif tidak langsung dari pujian.” Maka orang tua di rumah agar membiasakan unutk mengapresiasi / memuji anak saat anak melakukan suatu kebaikan, atau melakukan kewajibanya. Misalnya saat anak meletakan pakaian kotor dikeranjang, atau anak menghabiskan makanannya, kita bisa berucap “Maa Shaa Allah, terimakasih kaka sholih telah meletakan pakaian di keranjang kotor / menghabiskan makanan yang diambil sendiri”. Maka tentunya anak akan merasa dihargai kebaikannya, dan kedepan akan lebih bersemangat dalam berbuat kebaikan maupun mengemban kewajibannya sendiri.
Namun sebaliknya, perhatikan akibat apa yang bisa ditimbulkan ketika seorang anak dibentak. Salah satu penelitian yang dilakukan oleh Lise Elliot, ahli syaraf di Chicago Medical School mengungkap satu kali bentakan dapat merusak milyaran sel otak anak-anak. Pada usia anak 2-3 tahun, menerima bentakan dapat menggugurkan perkembangan sel-sel otaknya.
Sebaliknya saat anak diberikan stimulus positif seperti dengan lembut menerima kasih sayang, milyaran sel-sel otaknya pun tumbuh berkembang dengan baik.
Maka marilah kita berusaha sebaik mungkin untuk menjadi orang tua yang berkesadaran, dan senantiasa doakan agar anak-anak kita tumbuh menjadi insan yang kamil, berakhlakul karimah, dan mandiri.
⭐⭐⭐ Mari berkolaborasi mewujudkan pendidikan terbaik bagi putra putri kita di SD Islam Bintang Juara. Sekolahnya calon pemimpin muslim masa depan. ⭐⭐⭐ Facebook: https://www.facebook.com/sdislambintangjuara/ Instagram: https://www.instagram.com/sdislambintangjuara/ Website: sd.islambintangjuara.sch.id Email: sdislambintangjuara@gmail Admin SD: wa.me/6282314930833 ⭐⭐⭐
Bulan Dzulhijjah adalah satu dari dua belas bulan dalam Islam, yang memiliki keutamaan yang agung. Dzulhijjah adalah satu dari empat bulan yang diharamkan / diagungkan dalam syariat agama Islam.
Di bulan Dzulhijjah pula, banyak sekali amalan-amalan yang disyariatkan untuk dilakukan bagi kaum muslimin sebagai tambahan pundi-pundi pahala yang bisa meningkatkan derajat kita di akhirat kelak. Khususnya di sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah.
Berikut beberapa amalan yang bisa kita lakukan sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah:
(1) Memperbanyak berdzikir di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ… Dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentuka… (QS. Al-An’am: 28)
(2) Memperbanyak puasa sunnah عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ تِسْعَ ذِى الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ Dari sebagian istri Nabi, mereka berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, dan pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), dan berpuasa tiga hari setiap bulannya (13, 14, 15 tiap bulan)
(3) Berpuasa di hari A’rafah (9 Dzulhijjah) صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ “Puasa Arofah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162)
(4) Memperbanyak beramal shalih مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعَمَلُ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ “Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan amal shalih di dalamnya lebih dicintai oleh-Nya daripada hari yang sepuluh (sepuluh hari pertama dari Dzulhijjah).” (HR. Ahmad, dishahihkan Syaikh Ahmad Syakir)
⭐⭐⭐ Mari berkolaborasi mewujudkan pendidikan terbaik bagi putra putri kita di SD Islam Bintang Juara. Sekolahnya calon pemimpin muslim masa depan. ⭐⭐⭐ Facebook: https://www.facebook.com/sdislambintangjuara/ Instagram: https://www.instagram.com/sdislambintangjuara/ Website: sd.islambintangjuara.sch.id Email: sdislambintangjuara@gmail Admin SD: wa.me/6282314930833 ⭐⭐⭐
Setiap orang tua tentu tidak menginginkan keburukan pada anaknya. Ini merupakan fitrah yang Allah Ta’ala tanamkan sebagai salah satu tanda dari sifat rahmah Allah Ta’ala.
Terdapat dalam shahihain, dari ‘Umar bin Al–Khaththab radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperoleh banyak tawanan perang. Tiba-tiba ada seorang perempuan dari mereka yang mencari bayinya dalam kelompok tawanan tersebut. Kemudian dia mengambil bayi itu, memeluknya kemudian menyusuinya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada kami, “Menurut kalian, apakah perempuan ini tega melemparkan anaknya itu ke dalam api?” Kami pun menjawab, “Demi Allah, tidak akan melemparkannya ke api selama dia masih mampu untuk tidak melemparnya.”
Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh Allah lebih sayang kepada para hamba–Nya, melebihi kasih sayang perempuan ini terhadap anaknya.”(HR. Bukhari no 5999 dan Muslim no. 2754).
Demikianlah fitrah orang tua yang akan senantiasa menyayangi anaknya. Keselamatan sang anak menjadi suatu hal yang selalu terngiang di benaknya.
Pada seri sebelumnya telah dipaparkan beberapa kisah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mendoakan kebaikan untuk anak keturunan beliau secara khusus dan anak kaum muslimin secara umum. Kebalikan dari hal tersebut, wahai para orang tua, berhati-hatilah dan waspadalah dari mendoakan keburukan kepada anak-anak kita. Karena boleh jadi doa (atau ungkapan) buruk kita tersebut bertepatan dengan waktu dikabulkannya doa. Sehingga doa buruk tersebut pun terkabul dan kita akhirnya akan memetik hasilnya.
Terkait hal ini terdapat sebuah hadits yang panjang di kitab Shahih Muslim. Berikut ini kami cuplikkan petikan kisah ringkasnya.
“Hus (kalimat hardikan kepada unta agar jalannya cepat -pen), semoga Allah melaknatmu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Siapa yang melaknat untanya itu?” Lelaki itu menjawab, “Aku, wahai Rasulullah.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Turunlah (dan turunkanlah barang-barangmu darinya -pen) [1] Janganlah Engkau menyertai sesuatu yang terlaknat. Janganlah Engkau mendoakan keburukan untuk dirimu sendiri. Janganlah Engkaumendoakan keburukan kepada anak-anakmu.[2] Jangalah engkau mendoakan keburukan pada harta-hartamu[3]. Agar (doa tersebut) tidak bertepatan dengan saat-saat dimana Allah memberikan dan mengabulkan doa dan permintaan kalian.”(HR. Muslim no. 3009).
Guru kami, Ustadz Aris Munandar hafizhahullah,menceritakan sebuah kisah berikut.
Perlu diketahui bahwa salah satu kebiasaan orang Arab yang mengenal agama Islam ketika mereka sedang marah besar, mereka sering mengucapkan ‘Allahu Yahdik’ (Semoga Allah Ta’ala memberikanmu hidayah). Kalimat ini secara bahasa tidak menganduk makna keburukan. Namun berdasarkan adat kebiasaan orang Arab, kalimat ini merupakan ungkapan kemarahan mereka.
Disebutkan bahwa salah satu sebab Syaikh Muqbil bin Hadi Al–Wadi’i rahimahullah menjadi seorang ulama besar ahlu sunnah adalah bahwa orang tuanya pernah marah besar kepadanya lantas mengucapkan, “Allahu Yahdik.” Kemudian Allah Ta’ala pun mengabulkan doa orang tua beliau sehingga kita mengenal beliau merupakan salah seorang ulama besar ahlu sunnah yang tidak tercemar lingkungan syi’ah zaidiyah.
Oleh karena itu, mari jaga lisan kita dari mengucapkan doa atau ungkapan keburukan pada anak keturunan kita. Marilah kita ganti doa keburukan tersebut dengan ucapan yang baik, walaupun kita sedang marah besar kepada anak. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,
“Tiga doa yang akan dikabulkan dan tidak ada keraguan pada terkabulnya:doa orang yang dizhalimi, doa orang yang safar dan doa kebaikan orang tua kepada anaknya.”(HR. Muslim no. 3009).