Ada getaran berbeda pada Kamis, 5 Februari 2026. Bukan sekadar kegiatan luar kelas biasa, tetapi sebuah perjalanan untuk menyelami akar budaya. Dengan semangat bertajuk “Menjaga Warisan, Menyuarakan Budaya”, kakak shalih–shalihah kelas 5 SD Islam Bintang Juara melakukan eksplorasi seni ke Sanggar Teater Lingkar.
Langkah mereka disambut hangat oleh Om Pay, Pak Dadi, dan Kak Sindhu. Senyum ramah dan suasana sanggar yang penuh nuansa tradisional langsung membuat kakak shalih–shalihah merasa sedang memasuki ruang istimewa—tempat seni dan budaya hidup serta diwariskan.
Contents
Belajar Fokus dan Teknik Vokal Bersama Om Pay
Kegiatan dimulai dengan sesi seni teater bersama Om Pay. Sosoknya tidak asing bagi sebagian kakak, terutama yang pernah mengikuti proyek film Hari Guru. Pertemuan ini terasa seperti reuni kecil sekaligus kesempatan belajar yang lebih dalam.
Om Pay mengajak kakak-kakak berdiri membentuk lingkaran. Tidak langsung berakting, mereka justru diajak melakukan olah napas. Tarik napas perlahan, tahan, lalu hembuskan. Awalnya terdengar sederhana, namun perlahan kakak menyadari bahwa napas adalah fondasi utama dalam teater.
Setelah itu, mereka belajar teknik vokal. Suara harus jelas, lantang, tetapi tetap terkontrol. “Teater itu bukan berteriak,” ujar Om Pay, “tetapi bagaimana menyampaikan pesan dengan penuh kesadaran.” Kakak shalih–shalihah pun mencoba mengucapkan kalimat dengan intonasi berbeda—marah, sedih, bahagia—dan suasana pun penuh tawa sekaligus pembelajaran.
Latihan fokus ini bukan hanya untuk seni, tetapi juga melatih konsentrasi dan kepercayaan diri. Seni teater ternyata menjadi jembatan untuk membangun karakter.
Mengenal Karawitan dan Etika yang Menyertainya
Setelah sesi teater, kakak kelas 5 diajak memasuki dunia karawitan bersama Pak Dadi. Suara gamelan yang lembut terdengar memenuhi ruangan. Satu per satu alat musik diperkenalkan:
Peking, Saron, Demung, Gong, Kempul (gong kecil), Rebab, Gambang, Gendher, Bonang, Kenong, Slenthem, Kepyak, Kendhang (termasuk kendhang ludruk dan kendhang jaipong dari Jawa Barat), Kethuk, hingga Gong Cina.
Kakak shalih–shalihah tidak hanya melihat, tetapi mendengar dan merasakan resonansi setiap alat. Setiap instrumen memiliki peran unik dalam menciptakan harmoni.
Namun sebelum praktik, Pak … menekankan etika dalam karawitan. Untuk anak shalih, duduk bersila dengan kaki kanan ditumpangkan di paha kiri. Untuk shalihah, duduk timpuh—kedua kaki ditekuk ke belakang dan ditumpuk satu sisi, dengan posisi tubuh tegak dan tenang.
Etika ini bukan sekadar aturan posisi duduk, tetapi bentuk penghormatan terhadap seni dan budaya. Tubuh harus tenang, hati harus fokus.
Dan MasyaAllah, meski baru pertama kali mencoba, kakak shalih–shalihah sudah mampu memainkan pola sederhana. Ketukan demi ketukan terdengar menyatu. Wajah mereka tampak takjub—ternyata gamelan bisa dimainkan bersama dengan kompak.
Menjelajah Dunia Pedalangan Bersama Kak Sindhu
Petualangan budaya belum selesai. Setelah karawitan, kakak kelas 5 diajak memasuki dunia pedalangan bersama Kak Sindhu.
Di hadapan mereka terbentang kelir—layar putih tempat bayangan wayang dimainkan. Kak Sindhu memperkenalkan berbagai istilah penting dalam dunia pedalangan:
- Cempala: alat untuk membuka pertunjukan wayang
- Keprak: alat yang digoyangkan dalang untuk membangun suasana
- Gebog: tempat menaruh wayang
- Kelir: layar putih tempat wayang dimainkan
- Blenchong: lampu penerangan dalam pertunjukan
- Gunungan/Kayon: simbol kehidupan, bisa bermakna gunung, angin, api
- Gapit: pegangan gunungan dari tanduk kerbau
- Cepengan: teknik memegang wayang
- Tudhing: penggerak tangan wayang
- Gegel: penggerak siku wayang dari kuningan
Setiap istilah membawa kakak lebih dalam pada filosofi dan teknik pedalangan.
Bertemu Tokoh Punakawan
Tak lengkap rasanya belajar wayang tanpa mengenal tokohnya. Kak Sindhu memperkenalkan tokoh Punakawan: Bagong, Petruk, Gareng (Dengklang dan Ceko), serta Semar.
Anak-anak tertawa saat mendengar karakter unik masing-masing tokoh. Namun di balik kelucuan Punakawan, tersimpan pesan kebijaksanaan. Wayang bukan hanya hiburan, tetapi media penyampai nilai moral dan filosofi kehidupan.
Belajar Solah: Menggerakkan Wayang dengan Rasa
Kakak shalih–shalihah tidak hanya menonton demonstrasi, tetapi juga praktik langsung melakukan solah—teknik menggerakkan wayang. Tangan-tangan kecil itu belajar mengatur gerakan agar tampak hidup di balik kelir.
Tidak mudah. Butuh koordinasi, fokus, dan rasa. Namun ketika satu tokoh wayang mulai bergerak luwes, senyum bangga pun merekah.
Menutup Hari dengan Pesan Bermakna
Di akhir kegiatan, Kak Sindhu menyampaikan pesan penting: budaya adalah warisan yang harus dijaga. Jika generasi muda tidak mengenalnya, maka perlahan ia bisa hilang.
Kegiatan hari itu bukan sekadar kunjungan, tetapi pengalaman yang menanamkan kesadaran. Kakak shalih–shalihah belajar bahwa budaya bukan sesuatu yang kuno, melainkan identitas yang perlu dibanggakan.
Budaya yang Disuarakan, Warisan yang Dijaga
Melalui eksplorasi pedalangan, karawitan, dan teater di Sanggar Teater Lingkar, kakak kelas 5 tidak hanya belajar seni. Mereka belajar tentang disiplin, etika, kerja sama, dan penghormatan terhadap tradisi.
Suara gamelan yang mengalun, bayangan wayang di kelir, dan napas yang teratur dalam latihan teater menjadi saksi bahwa warisan budaya masih hidup—dan kini disuarakan oleh generasi muda.
Karena menjaga budaya bukan hanya tentang melestarikan masa lalu, tetapi juga tentang menyiapkan masa depan yang berakar kuat pada jati diri bangsa.***