Apa yang bisa dilakukan anak-anak untuk ikut menjaga bumi? Apakah harus menanam banyak pohon, mengolah sampah dalam jumlah besar, atau melakukan aksi lingkungan yang rumit?
Ternyata, menjaga alam dapat dimulai dari memahami persoalan di sekitar dan mengenal berbagai cara sederhana untuk mengatasinya. Anak-anak pun bisa mengambil peran sebagai bagian dari solusi.
Pengalaman inilah yang diperoleh siswa Kelas 4A dan 4B SD Islam Bintang Juara melalui kegiatan Outing Class ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang pada Selasa, 27 Oktober 2026.
Berlokasi di Dinas Lingkungan Hidup, Jalan Tapak Raya, Tugurejo, Kecamatan Tugu, Kota Semarang, kegiatan ini menjadi bagian dari tahap kontekstualisasi dalam Project-Based Learning (PjBL) bertema “Pahlawan Kecil Penjaga Alam: Upaya Mitigasi Perubahan Iklim”.
Melalui kunjungan ini, siswa mendapatkan kesempatan untuk melihat secara langsung berbagai praktik pengelolaan lingkungan. Tidak hanya mendengarkan penjelasan, mereka juga diajak mengamati, bertanya, dan mencoba kegiatan di empat pos edukasi yang telah disiapkan.
Contents
Mengenal Lingkungan Lebih Dekat di Dinas Lingkungan Hidup
Setibanya di Dinas Lingkungan Hidup, rombongan siswa disambut oleh pihak dinas melalui sesi pembukaan. Anak-anak mendapatkan pengantar mengenai kegiatan yang akan mereka ikuti.
Setelah pembukaan, siswa dibagi menjadi dua kelompok, yaitu Kelas 4A dan Kelas 4B. Masing-masing kelompok kemudian mengunjungi empat pos edukasi secara bergantian.
Pembagian kelompok ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengikuti setiap kegiatan dengan lebih terarah. Setiap pos menghadirkan pengalaman berbeda, mulai dari mengolah sampah organik, mengenal peran organisme dalam pengelolaan sampah, membuat lubang biopori, hingga mempelajari pemanenan air hujan.
Empat pengalaman tersebut membantu siswa memahami bahwa menjaga lingkungan membutuhkan berbagai upaya yang saling berkaitan.
Pos 1: Membuat Eco Enzyme dari Sampah Organik
Di pos pertama, siswa dikenalkan dengan eco enzyme dan proses pembuatannya.
Eco enzyme merupakan cairan hasil fermentasi bahan organik, seperti sisa buah dan sayuran, dengan gula dan air. Proses ini menjadi salah satu cara memanfaatkan sisa bahan organik agar tidak langsung berakhir sebagai sampah.
Melalui kegiatan ini, siswa belajar bahwa sebagian sampah yang dihasilkan dalam kehidupan sehari-hari masih dapat diolah dan dimanfaatkan kembali.
Sisa buah yang biasanya dibuang setelah dikonsumsi ternyata memiliki potensi untuk diolah melalui proses tertentu. Anak-anak pun diajak melihat bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai dari kebiasaan memilah dan memanfaatkan kembali bahan yang tersedia di sekitar.
Pengalaman membuat eco enzyme menjadi pengingat bahwa setiap orang dapat mengambil bagian dalam mengurangi sampah organik, dimulai dari rumah masing-masing.
Pos 2: Mengenal Maggot dan Manfaatnya bagi Lingkungan
Selanjutnya, siswa mengunjungi pos edukasi maggot. Di sini, anak-anak berkesempatan mengenal lebih dekat larva lalat Black Soldier Fly (BSF) yang sering dimanfaatkan dalam pengolahan sampah organik.
Mungkin bagi sebagian anak, melihat maggot secara langsung merupakan pengalaman yang cukup menarik sekaligus baru. Namun, di balik bentuknya yang unik, maggot memiliki peran penting dalam membantu menguraikan berbagai jenis bahan organik yang sesuai sebagai pakannya.
Pada pos ini, siswa belajar mengenai siklus hidup maggot serta manfaatnya bagi lingkungan.
Maggot merupakan salah satu fase dalam siklus hidup lalat BSF. Dalam proses budidayanya, larva dapat dimanfaatkan untuk membantu mengolah sisa makanan dan bahan organik tertentu. Hasil pengolahannya juga dapat dimanfaatkan lebih lanjut sesuai kebutuhan.
Melalui pengenalan ini, siswa memahami bahwa makhluk hidup yang sering dianggap menjijikkan ternyata memiliki manfaat dalam pengelolaan lingkungan.
Pembelajaran tersebut mengajak anak untuk melihat alam dari sudut pandang yang lebih luas. Setiap makhluk hidup memiliki peran dalam ekosistem, termasuk organisme yang membantu proses penguraian bahan organik.
Pos 3: Praktik Membuat Biopori dan Mengenal Peran Cacing Tanah
Berikutnya, siswa diajak mengenal salah satu cara meningkatkan kemampuan tanah dalam menyerap air, yaitu melalui lubang biopori.
Di pos ini, anak-anak mendapatkan penjelasan mengenai cara membuat biopori, jenis limbah organik yang dapat dimasukkan, serta manfaatnya bagi lingkungan.
Tidak berhenti pada penjelasan, siswa juga berkesempatan mempraktikkan proses menggali lubang biopori. Pengalaman ini membuat mereka dapat melihat secara langsung bagaimana sebuah lubang sederhana di tanah dapat dimanfaatkan untuk membantu pengelolaan air dan sampah organik.
Salah satu hal menarik yang ditemukan saat praktik adalah keberadaan cacing tanah.
Anak-anak pun diajak mengenal fungsi cacing dalam proses biopori. Cacing tanah membantu menggemburkan tanah melalui aktivitasnya, membuat rongga-rongga kecil yang dapat mendukung peresapan air dan pergerakan udara di dalam tanah.
Melalui pengalaman ini, siswa belajar bahwa tanah bukan sekadar tempat berpijak. Di dalamnya terdapat berbagai organisme yang berperan menjaga kesuburan dan keseimbangan lingkungan.
Mereka juga memahami bahwa biopori dapat menjadi salah satu upaya sederhana untuk membantu mengurangi genangan air sekaligus memanfaatkan sampah organik.
Pos 4: Mengenal Pemanenan Air Hujan dan Proses Filtrasi
Di pos terakhir, siswa belajar mengenai pemanenan air hujan atau rainwater harvesting.
Air hujan yang selama ini sering dianggap hanya sebagai bagian dari cuaca ternyata dapat dimanfaatkan melalui sistem penampungan dan pengolahan yang tepat.
Pada sesi ini, siswa dikenalkan dengan proses filtrasi atau penyaringan air. Mereka mempelajari urutan tahapan penyaringan serta bagaimana proses tersebut membantu menghasilkan air yang lebih bersih untuk kebutuhan tertentu.
Salah satu pemanfaatan yang diperkenalkan adalah penggunaan air hasil pengolahan untuk mencuci tangan.
Melalui penjelasan ini, siswa belajar bahwa air merupakan sumber daya penting yang perlu dijaga dan digunakan secara bijak. Pemanenan air hujan juga dapat menjadi salah satu alternatif untuk membantu memenuhi kebutuhan air nonkonsumsi setelah melalui proses pengolahan yang sesuai.
Pengalaman di pos ini mengajak anak-anak memahami pentingnya menghemat air sekaligus mengenal teknologi sederhana yang dapat mendukung pengelolaan sumber daya alam.
Dari Empat Pos, Memahami Aksi Nyata Menjaga Bumi
Setelah mengunjungi empat pos edukasi, siswa mendapatkan gambaran yang lebih konkret tentang berbagai upaya menjaga lingkungan.
Mereka belajar bahwa sampah organik dapat diolah menjadi eco enzyme, maggot dapat membantu menguraikan bahan organik, biopori mendukung peresapan air, dan air hujan dapat ditampung serta disaring untuk dimanfaatkan kembali sesuai peruntukannya.
Keempat materi tersebut saling terhubung dengan tema PjBL “Pahlawan Kecil Penjaga Alam: Upaya Mitigasi Perubahan Iklim”.
Melalui tahap kontekstualisasi ini, siswa tidak hanya mengenal istilah atau konsep tentang perubahan iklim. Mereka juga melihat contoh praktik nyata yang dapat dilakukan untuk mengelola sampah, menjaga tanah, dan memanfaatkan air secara lebih bijak.
Pengalaman belajar secara langsung seperti ini membantu anak menghubungkan materi yang dipelajari di sekolah dengan persoalan lingkungan di kehidupan sehari-hari.
Menjadi Pahlawan Kecil Penjaga Alam Dimulai dari Sekarang
Kegiatan Outing Class ke Dinas Lingkungan Hidup Kota Semarang memberikan pengalaman berharga bagi siswa Kelas 4A dan 4B SD Islam Bintang Juara.
Melalui empat pos edukasi, anak-anak diajak memahami bahwa menjaga bumi bukan hanya tugas pemerintah, petugas kebersihan, atau orang dewasa. Setiap orang, termasuk anak-anak, dapat mengambil peran melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Mulai dari memilah sampah, mengurangi sisa makanan, menjaga kebersihan lingkungan, hingga menggunakan air secukupnya. Semua dapat menjadi langkah kecil yang bermakna.
Terima kasih kepada Dinas Lingkungan Hidup Kota Semarang atas kesempatan belajar dan pengalaman yang diberikan kepada kakak shalih-shalihah.
Semoga kegiatan ini menjadi bekal bagi siswa untuk semakin peduli terhadap lingkungan dan berani mengambil tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Karena menjadi pahlawan kecil penjaga alam bukan tentang melakukan hal besar seorang diri, melainkan tentang membiasakan diri melakukan kebaikan untuk bumi, mulai dari sekarang.*** (CM-MRT)