fbpx

Belajar matematika tak selalu harus duduk rapi di bangku sambil menatap buku. Di SD Islam Bintang Juara, pembelajaran bisa terjadi di mana saja—bahkan di dapur. Itulah yang dirasakan oleh kakak shalih–shalihah kelas 3B pada Rabu, 4 Februari 2026, saat mengikuti kegiatan BBOT (Bintang Juara Bersama Orang Tua) bertajuk “Petualangan di Dapur, Mencari Pecahan.”

Hari itu, suasana kelas berubah menjadi ruang eksplorasi yang penuh rasa penasaran. Bunda Dian, orang tua dari Kak Ayman, hadir membawa bahan-bahan sederhana yang biasa digunakan di dapur: tepung dan minyak. Dari bahan sederhana inilah, kakak shalih–shalihah diajak memahami konsep pecahan dengan cara yang nyata, bisa disentuh, dan terasa menyenangkan.

Dari Dapur ke Konsep Matematika

Kegiatan diawali dengan obrolan ringan. Bunda Dian mengajak kakak shalih–shalihah membayangkan aktivitas yang sering dilakukan di rumah, seperti membantu bunda membuat kue. Anak-anak pun langsung terhubung dengan cerita tersebut. Dari sini, pembelajaran dimulai—bukan dari rumus, melainkan dari pengalaman sehari-hari.

Perlahan, Bunda Dian memperkenalkan adonan kue sebagai media belajar. Tepung dan minyak dicampur, diaduk bersama, lalu diuleni. Proses ini bukan hanya menyenangkan, tetapi juga menjadi sarana melatih sensori motorik kakak shalih–shalihah. Tangan bergerak, otot bekerja, dan fokus pun terbangun secara alami.

Mengenal Pecahan Lewat Sentuhan dan Rasa

Saat adonan sudah terbentuk, petualangan matematika pun dimulai. Bunda Dian mengajak kakak shalih–shalihah mengamati adonan secara utuh. “Kalau ini satu adonan penuh,” tanya Bunda Dian, “lalu bagaimana kalau kita bagi menjadi dua?”

Dengan penuh antusias, kakak shalih–shalihah melihat adonan tersebut dibagi menjadi dua bagian yang sama besar. Dari sinilah konsep setengah (½) diperkenalkan—bukan sebagai simbol di papan tulis, melainkan sebagai adonan yang benar-benar ada di hadapan mereka.

Petualangan berlanjut. “Kalau seperempat bagaimana?” Adonan pun dibagi lagi. Kakak shalih–shalihah mulai memahami bahwa semakin kecil bagian, semakin banyak potongan yang terbentuk. Konsep pecahan yang sebelumnya terasa abstrak kini menjadi sangat nyata.

Belajar dengan Bertanya dan Bereksplorasi

Bunda Dian tidak hanya memberi contoh, tetapi juga mengajak kakak shalih–shalihah berpikir dan bertanya. Anak-anak diajak menebak, menghitung, dan membandingkan: mana yang lebih banyak, setengah atau seperempat? Mana yang lebih kecil?

Proses ini melatih logika berpikir dan pemahaman konsep, bukan sekadar hafalan. Kakak shalih–shalihah belajar bahwa pecahan adalah bagian dari satu kesatuan, dan setiap bagian memiliki ukuran yang berbeda.

Kesalahan pun menjadi bagian dari proses. Ketika ada adonan yang terbagi tidak sama rata, Bunda Dian mengajak kakak untuk memperbaiki bersama. Dari sini, anak-anak belajar bahwa mencoba ulang adalah hal yang wajar dalam belajar.

Sensori Motorik dan Konsentrasi yang Terlatih

Selain memahami pecahan, kegiatan ini juga memberikan manfaat besar dalam pengembangan sensori motorik. Menguleni adonan, membaginya, dan membentuk bagian-bagian kecil melatih koordinasi tangan dan mata.

Aktivitas ini juga menuntut konsentrasi. Kakak shalih–shalihah belajar fokus pada instruksi, bekerja dengan teliti, dan menyelesaikan tugas dengan sabar. Tanpa disadari, keterampilan penting ini terasah melalui kegiatan yang menyenangkan.

Matematika yang Hidup dan Bermakna

Kegiatan BBOT kelas 3B membuktikan bahwa matematika bisa “hidup” ketika dikaitkan dengan pengalaman nyata. Pecahan bukan lagi sekadar angka di buku latihan, melainkan bagian dari aktivitas sehari-hari yang bisa ditemukan di dapur rumah.

Pendekatan ini membuat kakak shalih–shalihah lebih mudah memahami dan mengingat konsep. Mereka tidak hanya tahu arti setengah dan seperempat, tetapi juga merasakan perbedaannya secara langsung.

Peran Orang Tua dalam Proses Belajar Anak

Kehadiran Bunda Dian sebagai orang tua sekaligus fasilitator belajar memberikan dampak positif bagi anak-anak. Mereka melihat contoh nyata bahwa belajar bisa dilakukan bersama orang tua, dengan cara yang hangat dan menyenangkan.

BBOT menjadi ruang kolaborasi antara sekolah dan keluarga. Orang tua tidak hanya menjadi penonton, tetapi turut berperan aktif dalam proses pendidikan anak. Hal ini menumbuhkan rasa percaya diri dan motivasi belajar pada kakak shalih–shalihah.

Petualangan yang Meninggalkan Kesan

Di akhir kegiatan, kakak shalih–shalihah kelas 3B pulang dengan senyum lebar dan cerita seru. Mereka telah menjelajah dapur, mengenal pecahan, melatih motorik, dan merasakan bahwa belajar itu bisa sangat menyenangkan.

Kegiatan “Petualangan di Dapur, Mencari Pecahan” menjadi bukti bahwa pembelajaran yang kreatif mampu menumbuhkan pemahaman yang lebih dalam. Di SD Islam Bintang Juara, setiap pengalaman belajar dirancang untuk menguatkan ilmu sekaligus membangun karakter.

Karena ketika anak belajar dengan gembira, konsep akan lebih mudah dipahami—dan kecintaan terhadap belajar pun tumbuh sejak di