“Tabu bukan berarti tidak Dibicarakan. (Abah Ihsan Baihaqi)
Alhamdulillahirrobil’alamin, Webinar Islamic Parenting bersama Abah Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari yang bertajuk Tarbiah Pubertas dan Literasi Cinta Remaja telah tuntas terlaksana. Eksklusif hanya untuk orang tua murid Sekolah Islam Bintang Juara dan peserta umum yang telah mendaftar.
Hari Ahad, 26 Maret 2023, Abah Ihsan menyampaikan banyak sekali materi yang sayang untuk dilewatkan. Bagi Ayah Bunda yang pernah mengikuti parenting workshop Karunia Cinta Remaja pada 6 November tahun lalu, webinar kali ini menjadi sarana murojaah yang semakin menguatkan azzam untuk mendampingi kakak shalih-shalihah memasuki masa-masa remajanya.
Acara dibuka secara resmi pada pukul 08.25. Ibu Marita Ningtyas selaku MC membacakan susunan acara, tata tertib webinar dan membuka forum belajar tersebut dengan bacaan basmallah bersama-sama.

Dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al Quran Surat An Nur ayat 54 dan 59 oleh Kak Raffasya dari Kelas 5 dan saritilawah oleh Kak Frasca dari Kelas 5. Dua ayat yang dibacakan tersebut menjadi prolog betapa pentingnya untuk mengajarkan kakak shalih-shalihah menjadi umat yang taat dan menjaga kesantunan dalam perilaku sehari-hari.
Acara berikutnya yaitu sambutan oleh Pembina Yayasan Dewi Sartika, Ibu Prof. Dr. Esmi Warassih, SH. MS. Dibuka dengan salam sapa yang hangat, kemudian dilanjutkan dengan penyampaian tantangan dan bahaya pergaulan bebas dari lingkungan.

Eyang Esmi menyampaikan bahwa sebagai orangtua wajib mempersiapkan diri untuk menangani anak saat memasuki masa pubertas. Kewajiban kita sebagai manusia itu mencari ilmu di manapun tempatnya.
Sebelum memasuki acara inti, MC membacakan CV moderator dan mempersilakannya untuk menyampaikan sepatah dua patah kata sebagai prolog webinar. Ibu Dyah Indah Noviyani, S.Psi, M.Psi, Psikolog sebagai moderator, sekaligus Ketua Yayasan Dewi Sartika, menyampaikan bahwa segala macam permasalahan remaja yang ada saat ini adalah cara Allah SWT agar para orang tua mau belajar dan menemukan solusi untuk menghadapinya.
Disampaikan pula oleh sosok ibu empat orang anak yang akrab dipanggil Bunda Vivi ini, hal tersebutlah yang menjadi alasan mengapa mengangkat “Tarbiah Pubertas dan Literasi Cinta Remaja” sebagai tema Webinar Islamic Seminar.
Contents
Padatnya Materi Abah Ihsan dalam “Tarbiah Pubertas dan Literasi Cinta Remaja”
Puber berbeda dengan masa aqil baligh. Istilah puber lebih tepat mengacu pada kata baligh, tanpa aqil. Puber lebih ke perubahan fisik, berdasarkan kata asalnya yaitu ‘pubic’, yang berarti tumbuhnya bulu kemaluan.
Adapun tanda-tanda baligh yang utama pada anak laki-laki yaitu mengalami mimpi basah dan kemampuan untuk memproduksi sperma. Sedangkan pada anak perempuan, tanda-tanda baligh yang utama yaitu munculnya menstruasi.
Perubahan fisik pada bagian-bagian tubuh, seperti payudara dan tumbuhnya bulu kemaluan, suara yang makin ngebas pada anak laki-laki adalah tanda-tanda baligh yang sekunder. Sebenarnya, untuk mempersiapkan masa pubertas tidak perlu menunggu kakak shalih-shalihah memunculkan tanda-tanda tersebut, Ayah Bunda.
Bahkan sebaiknya Ayah Bunda mulai mempersiapkan kakak shalihah ketika usianya memasuki 7 tahun. Sementara untuk kakak shalih bisa mulai diajak ngobrol mengenai tanda-tanda pubertas pada usia ke 10.
3 Alasan Penting Mengapa Membekali Anak Tarbiah Pubertas
Mungkin sebagian besar Ayah Bunda merasa aneh atau bingung untuk memulai pembicaraan mengenai tanda-tanda pubertas. Nah, agar menguatkan Ayah Bunda dalam menyampaikan Tarbiah Pubertas kepada kakak shalih-shalihah, Abah Ihsan Baihaqi dalam pemaparannya menyebutkan tiga alasan penting mengapa anak harus dibekali ilmu sebelum memasuki masa pubertas:

1. Kenal Diri
Kakak shalih-shalihah harus diberikan bekal tentang siapa dirinya, apa gendernya, ada apa saja dalam tubuhnya. Bekal ini bertujuan supaya kakak shalih-shalihah mengenal dirinya dengan baik.
Mereka harus paham apa reaksinya, apa yang akan terjadi dan untuk apa mengenal tubuhnya. Anak perlu tahu apa yang sudah, tengah dan akan terjadi pada tubuhnya.
Oleh karenanya pastikan untuk tidak menjadikan candaan dalam proses awal pembentukan diri seorang anak. Contoh, memakaikan kerudung kepada anak lelaki hanya untuk lucu-lucuan.
Atau mengatakan pada anak bahwasanya dulu Ayah Bunda menginginkan anak perempuan, tetapi yang terlahir justru anak lelaki. Candaan dan kalimat-kalimat yang memberi kesan penyesalan bisa memberikan dampak buruk dalam tahap perkembangan seorang anak.
Ketika kakak shalih-shalihah mampu mengenal dirinya dengan baik, mereka jadi bisa tahu tujuan dirinya diciptakan oleh Allah SWT. Hal ini adalah bagian dari aqidah.
2. Jaga Diri
Setelah anak bisa mengenal dirinya dan kebutuhannya, ajarkan pula mereka tentang bagaimana menjaga diri. Terkait batasan aurat, batasan berteman dengan siapa saja, mahram mereka siapa saja, adab meminta izin, dan adab pergaulan yang harus senantiasa dijaga.
Kakak shalih-shalihah wajib dibimbing untuk mengenali lingkungan dan paham bagaimana menjaga dirinya, bukan hanya sekadar menjaga tubuhnya.
3. Siap Diri
Ada banyak perubahan yang terjadi saat memasuki masa pubertas. Oleh karenanya kakak shalih-shalihah harus dibekali agar siap menerima perubahan-perubahan yang terjadi.
Anak yang tidak disiapkan lebih dulu akan merasa kaget dengan perubahan fisiknya. Bahkan yang berubah bukan hanya fisik, tetapi juga hormon di dalam dirinya yang mempengaruhi perkembangan emosi dan mental.
Apabila anak telah dipersiapkan oleh orang tuanya, kakak shalih-shalihah tidak perlu mencari referensi dan informasi dari luar. Penting bagi orang tua untuk bisa menjadi sahabat yang nyaman bagi kakak shalih-shalihah untuk bercerita apa saja.
4 Prinsip Dasar Tarbiah Pubertas
Untuk membangun remaja yang siap diri, diperlukan beberapa prinsip dasar, yaitu:

1. Harus Tahu Meski Tabu
“Dibahas meski tidak ditanyakan.”
Ayah Bunda tentu sepakat bahwa masalah seksualitas adalah hal yang tabu untuk dibicarakan. Namun bukan berarti hal tersebut tidak perlu diobrolkan dan anak dibiarkan mencari tahu sendiri.
Karena ini adalah permasalahan yang sensitif, maka pastikan kakak shalih-shalihah hanya membicarakan hal ini dengan orang tertentu saja. Yang terpenting adalah orang tersebut memiliki kredibilitas yang bisa dipercaya, yaitu orang tua, guru, atau konselor.
Bahkan meski kakak shalih-shalihah tidak menanyakan hal ini, Ayah Bunda harus tetap membahasnya. Karena sangat membahayakan apabila anak mengetahui hal-hal sensitif ini dari referensi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.
2. Jangan Dibiarkan, Tapi Disiapkan
Pastikan Ayah Bunda tidak membiarkan anak mencari jati dirinya sendiri, tapi harus bisa membantu menemukan jati dirinya. Caranya yaitu dengan membangun diskusi, bukan sekadar memberikan informasi secara searah.
Ajak anak untuk berpikir secara aktif, lalu beri kesempatan untuk menyampaikan pendapat atau mengajukan pertanyaan. Kemudian, akhiri dengan pemberian pijakan untuk penguatan adab dan akhlaq.
3. Bukan Penasaran tapi Tentang Pemahaman
Tarbiah pubertas seharusnya disampaikan bukan sekedar mengenalkan (taaruf), tapi juga tafahum (pemahaman). Kakak shalih-shalihah perlu tahu hal-hal dasar mengenai fungsi kemaluannya, mengapa manusia memiliki gairah, pengertian cinta, perbedaan cinta dengan nafsu, dan hal-hal penting lainnya.
4. Sehat Reproduksi, Sehat Mental
“Iman di hati sebelum reproduksi. Mengelola malu sebelum menyalurkan nafsu.”
Kesenangan hanya akan terjaga nilainya jika terbatas. Di sinilah pentingnya kakak-kakak shalihah mengetahui perbedaan antara kebutuhan dan kesenangan. Kesenangan itu harus dibatasi, sementara kebutuhan harus dipenuhi.
Oleh karenanya anak perlu tahu bahwa cinta akan menjadi sehat apabila ditumbuhkan setelah pernikahan. Apabila cinta diumbar sebelum pernikahan, tidak akan ada nikmatnya. Hanya akan ada kesedihan dan penyesalan karena telah melanggar aturan yang ditetapkan Allah SWT.
Ayah Bunda, semua catatan ini barulah bagian pembuka dari Webinar Islamic Seminar bersama Abah Ihsan. Sudah demikian bermanfaat bukan?
Sementara terkait apa saja tahapan dalam edukasi masa baligh, ada enam cara yang disampaikan oleh Abah Ihsan pada pemaparan materi “Tarbiah Pubertas dan Literasi Cinta Remaja.” Untuk mengetahui informasi selengkapnya, silakan membaca artikel “6 Cara Edukasi Masa Baligh agar Anak Mampu Mengekspresikan Cinta dengan Tepat.”

Webinar Islamic Parenting adalah kegiatan yang rutin diadakan oleh Sekolah Islam Bintang Juara. Terutama SD Islam Bintang Juara sebagai satu-satunya Sekolah Penggerak Angkatan 2 di Kecamatan Gunung Pati yang telah menerapkan filosofi kurikulum merdeka jauh sebelum kurikulum ini ditetapkan oleh pemerintah.
Program parenting merupakan salah satu penerapan dari kurikulum merdeka, yaitu sebagai bentuk keterlibatan orang tua secara aktif dalam kegiatan yang ada di sekolah. Oleh karenanya, kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Ayah Bunda yang telah mendukung sehingga acara ini bisa berjalan dengan lancar.
Tak lupa kami juga berterima kasih kepada segenap pihak sponsor dan donatur yang telah dengan ikhlas memberikan support, baik secara materiil maupun immateriil. Semoga Allah SWT mudahkan dan lancarkan segala urusannya.
Ayah Bunda, semoga Allah SWT mudahkan untuk mengambil hikmah dari webinar “Tarbiah Pubertas dan Literasi Cinta Remaja” sehingga bisa mempraktikkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari. Nantikan acara-acara parenting dari SD dan PAUD Islam Bintang Juara selanjutnya.***