Pagi itu, suasana ruang Kelas 4A terasa berbeda. Bukan hanya karena meja dan kursi tertata rapi, tetapi karena rasa penasaran yang terpancar dari wajah kakak shalih-shalihah. Senin, 27 Januari 2026, menjadi hari yang istimewa bagi siswa kelas 4A. Mereka tidak hanya belajar dari guru di kelas, tetapi juga mendapatkan pengalaman belajar langsung dari orang tua murid melalui kegiatan BBOT (Belajar Bersama Orang Tua).
Kegiatan BBOT kali ini menghadirkan Ayah Feni Tutut, orang tua dari Kak Kaysa Lani, yang berbagi pengalaman dan ilmu dengan tema “Teknisi Elektromedis: Menjaga Alat Medis Tetap Aman”. Sebuah tema yang terdengar kompleks, namun justru menjadi pintu masuk pembelajaran yang seru, kontekstual, dan penuh makna bagi anak-anak.
Contents
Belajar Profesi dari Dunia Nyata
Kegiatan diawali dengan pengenalan profesi teknisi elektromedis. Dengan bahasa yang sederhana dan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, Ayah Feni mengajak kakak shalih-shalihah memahami bahwa di balik alat-alat medis yang sering mereka lihat di rumah sakit—seperti alat cek jantung, alat infus, hingga monitor pasien—ada profesi penting yang bertugas memastikan semua alat tersebut aman dan berfungsi dengan baik.
Kakak shalih-shalihah tampak antusias saat Ayah Feni menjelaskan apa saja tugas seorang teknisi elektromedis;
- Mulai dari memasang alat medis,
- melakukan pengecekan rutin,
- memperbaiki jika ada kerusakan,
- hingga memastikan alat tersebut aman digunakan oleh pasien dan tenaga kesehatan.
Dari sini, kakak shalih-shalihah belajar bahwa sebuah profesi tidak hanya tentang pekerjaan, tetapi juga tentang tanggung jawab dan dampak bagi keselamatan orang lain.
Tak hanya bercerita, Ayah Feni juga mengenalkan berbagai alat yang digunakan oleh teknisi elektromedis. Kakak shalih-shalihah diajak membayangkan bagaimana alat-alat tersebut digunakan dalam pekerjaan sehari-hari. Pembelajaran pun terasa hidup, karena kakak tidak hanya mendengar, tetapi juga membangun imajinasi dan pemahaman tentang dunia kerja yang nyata.
Belajar Berpikir Kritis: Fakta atau Opini?
Setelah pengenalan profesi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi yang tak kalah menarik. Ayah Feni menyampaikan beberapa statement seputar dunia elektromedis, lalu kakak shalih-shalihah diminta untuk menentukan apakah pernyataan tersebut termasuk fakta atau opini.
Di sinilah kemampuan berpikir kritis kakak mulai terasah. Mereka belajar bahwa tidak semua informasi bisa langsung dipercaya begitu saja. Ada pernyataan yang berdasarkan data dan kenyataan (fakta), ada pula yang berupa pandangan atau pendapat pribadi (opini).
Diskusi kecil pun terjadi. Beberapa siswa mengangkat tangan, menyampaikan alasan mengapa mereka memilih fakta atau opini. Kakak shalih-shalihah belajar menyampaikan pendapat dengan alasan yang logis, sekaligus belajar menghargai pandangan teman-temannya. Kegiatan sederhana ini menjadi latihan penting dalam membangun literasi informasi dan nalar kritis, keterampilan yang sangat dibutuhkan di era digital saat ini.
Debat Seru: Manusia vs Robot
Puncak keseruan kegiatan BBOT kelas 4A terjadi saat Ayah Feni membagi siswa menjadi dua kelompok besar: kelompok shalih dan kelompok shalihah. Masing-masing kelompok mendapatkan tantangan yang sama menariknya, yaitu berdebat dengan topik:
“Di masa depan, dunia akan lebih membutuhkan teknisi manusia atau teknisi dalam bentuk robot?”
Satu kelompok berperan sebagai tim pendukung teknisi manusia, sementara kelompok lainnya menjadi tim pendukung teknisi robot. Kakak shalih-shalihah diminta menyusun argumen, berdiskusi dengan kelompoknya, lalu memaparkan alasan di depan kelas.
Suasana kelas pun berubah menjadi arena diskusi yang hidup. Ada yang berpendapat bahwa teknisi manusia tetap dibutuhkan karena memiliki empati, bisa berpikir fleksibel, dan memahami situasi secara mendalam. Di sisi lain, tim pendukung robot menyampaikan argumen bahwa robot lebih presisi, tidak mudah lelah, dan bisa bekerja dengan tingkat akurasi tinggi.
Yang membuat kegiatan ini istimewa bukan soal siapa yang menang, melainkan prosesnya. Kakak shalih-shalihah belajar berani berbicara, menyampaikan pendapat secara terstruktur, dan mendengarkan sudut pandang yang berbeda. Mereka juga belajar bahwa dalam sebuah diskusi, perbedaan pendapat adalah hal yang wajar dan justru memperkaya pemikiran.
Pembelajaran Kontekstual yang Bermakna
Melalui kegiatan BBOT ini, siswa kelas 4A tidak hanya mengenal satu profesi baru, tetapi juga mendapatkan pengalaman belajar yang utuh. Mereka belajar mengaitkan pelajaran di kelas dengan kehidupan nyata, memahami peran teknologi dalam dunia kerja, serta merenungkan masa depan yang akan mereka hadapi.
Kehadiran orang tua sebagai narasumber juga memberi kesan mendalam. Kakak shalih-shalihah melihat langsung bahwa orang tua mereka memiliki peran, keahlian, dan kontribusi nyata bagi masyarakat. Ini menjadi inspirasi tersendiri dan menumbuhkan rasa bangga serta motivasi untuk terus belajar.
Belajar Hari Ini, Menyiapkan Masa Depan
Kegiatan BBOT kelas 4A bersama Ayah Feni Tutut menjadi contoh nyata bagaimana pembelajaran dapat berlangsung aktif, menyenangkan, dan bermakna. Dari mengenal profesi teknisi elektromedis, membedakan fakta dan opini, hingga berdebat tentang masa depan teknologi, semua proses ini menanamkan keterampilan abad ke-21 dalam diri anak-anak.
Hari itu, kelas 4A tidak hanya belajar tentang alat medis atau robot. Mereka belajar tentang berpikir kritis, berkomunikasi, bekerja sama, dan menghargai perbedaan. Sebuah bekal penting untuk perjalanan belajar mereka ke depan—karena pendidikan sejatinya bukan hanya tentang apa yang diketahui anak hari ini, tetapi tentang bagaimana mereka memandang dan mempersiapkan masa depan.*** (CM-MRT)