fbpx

Ada satu kegelisahan sederhana yang mungkin jarang kita sadari.

Anak-anak tumbuh di tanah Jawa. Mereka melihat tradisi Jawa, mendengar tembang Jawa, mengenal makanan khas Jawa, bahkan tinggal di lingkungan yang masih lekat dengan budaya Jawa. Namun, bagaimana dengan bahasanya?

Apakah mereka masih terbiasa mendengar dan menggunakan Bahasa Jawa dalam percakapan sehari-hari?

Pertanyaan sederhana inilah yang menjadi salah satu alasan hadirnya Sedinten Basa Jawi di SD Islam Bintang Juara.

Program ini biasanya dilaksanakan satu hingga dua bulan sekali, sebagai ruang bagi anak-anak untuk kembali dekat dengan Bahasa Jawa melalui kebiasaan sederhana. Pada bulan Agustus 2026, Sedinten Basa Jawi dilaksanakan pada Jumat, 7 Agustus 2026.

Bukan sekadar program berbahasa Jawa selama satu hari. Ada pesan yang lebih besar di baliknya: jangan sampai anak-anak tumbuh di tanah Jawa, tetapi semakin jauh dari bahasa daerahnya sendiri.

Bahasa Bukan Sekadar Alat Berbicara

Bahasa sering kali kita anggap hanya sebagai alat untuk menyampaikan pesan. Padahal, bahasa membawa sesuatu yang jauh lebih dalam.

Di dalam bahasa ada cerita. Ada cara pandang. Ada kebiasaan. Ada nilai kesopanan. Ada budaya. Bahkan ada identitas yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Begitu pula dengan Bahasa Jawa.

Ketika seorang anak belajar menggunakan Bahasa Jawa, sesungguhnya ia tidak hanya sedang mempelajari kosakata baru. Ia sedang berkenalan dengan salah satu bagian dari budaya yang tumbuh di sekitarnya.

Karena itu, menjaga Bahasa Jawa bukan berarti mengajak anak untuk meninggalkan bahasa lain. Justru sebaliknya, anak dapat tumbuh dengan kemampuan berkomunikasi dalam berbagai bahasa sekaligus tetap mengenal akar budayanya.

Di tengah dunia yang semakin terbuka, mengenal identitas lokal menjadi bagian penting agar anak tidak kehilangan pijakan.

Sedinten Basa Jawi: Memberi Ruang untuk Berlatih

Lalu, bagaimana cara mengenalkan Bahasa Jawa kepada anak agar tidak terasa seperti pelajaran yang berat?

Salah satunya adalah dengan memberikan kesempatan untuk menggunakannya secara langsung.

Itulah semangat yang dibawa melalui Sedinten Basa Jawi.

Pada hari tersebut, anak-anak mendapatkan ruang untuk kembali mendengar dan menggunakan Bahasa Jawa dalam percakapan sederhana serta kebiasaan sehari-hari.

  • Tidak harus langsung sempurna.
  • Tidak harus langsung hafal banyak kosakata.
  • Tidak harus langsung lancar menggunakan seluruh tingkatan bahasa.

Yang terpenting adalah anak-anak memiliki kesempatan untuk mencoba.

Sebab, sebuah bahasa akan lebih mudah melekat ketika tidak hanya dipelajari, tetapi juga digunakan.

Dari sapaan sederhana, percakapan dengan teman, interaksi dengan guru, hingga berbagai komunikasi kecil yang terjadi selama berada di lingkungan sekolah, Bahasa Jawa perlahan kembali hadir dalam keseharian anak.

Belajar dari Hal-Hal yang Sederhana

Bayangkan seorang anak yang biasanya berbicara dengan Bahasa Indonesia kepada temannya, kemudian mencoba menggunakan Bahasa Jawa.

  • Mungkin awalnya terasa canggung.
  • Mungkin ada kata yang lupa.
  • Mungkin pengucapannya belum tepat.

Namun, dari proses mencoba itulah pembelajaran terjadi.

Anak belajar bahwa tidak apa-apa melakukan kesalahan ketika sedang belajar.

Anak juga belajar mendengarkan bagaimana orang lain menggunakan Bahasa Jawa, kemudian mencoba mengikutinya.

  • Pelan-pelan, kosakata bertambah.
  • Pelan-pelan, rasa percaya diri tumbuh.

Dan yang tidak kalah penting, anak mulai menyadari bahwa Bahasa Jawa adalah sesuatu yang dekat dengan kehidupannya.

Inilah mengapa Sedinten Basa Jawi tidak perlu dipandang sebagai kegiatan yang harus menghasilkan kemampuan berbahasa secara instan.

Tujuannya adalah membuka pintu.

  • Memberikan pengalaman.
  • Membangun kebiasaan.
  • Menumbuhkan kedekatan.

Mengapa Bahasa Daerah Perlu Dikenalkan Sejak Anak-Anak?

Anak-anak adalah generasi yang akan membawa budaya ke masa depan. Jika sebuah bahasa tidak lagi digunakan oleh generasi penerusnya, lama-kelamaan bahasa tersebut dapat semakin jauh dari kehidupan sehari-hari.

Karena itu, pengenalan Bahasa Jawa sejak usia sekolah menjadi salah satu cara sederhana untuk menjaga keberlanjutannya. Namun, upaya menjaga bahasa daerah tentu tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah.

Rumah memiliki peran yang sangat besar.

Sekolah dapat memberikan pengalaman dan ruang belajar, sementara keluarga dapat membantu menghadirkan Bahasa Jawa dalam percakapan sehari-hari.

Misalnya, Ayah Bunda dapat sesekali menyapa anak menggunakan Bahasa Jawa, mengajak berbincang dengan kosakata sederhana, atau mengenalkan ungkapan-ungkapan Jawa yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Tidak perlu menunggu anak fasih. Mulai saja dari satu atau dua percakapan sederhana. Karena pelestarian bahasa sering kali dimulai dari sesuatu yang sangat kecil: sebuah percakapan di rumah.

Dari Bahasa, Anak Belajar Mengenal Budaya

Menariknya, ketika anak semakin dekat dengan sebuah bahasa, mereka juga berkesempatan mengenal budaya yang menyertainya. Bahasa Jawa memiliki banyak bentuk ungkapan yang mengajarkan kesantunan dalam berkomunikasi.

Dengan demikian, penggunaan Bahasa Jawa juga dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan nilai-nilai dalam interaksi sosial.

Anak belajar bahwa berbicara dengan orang lain perlu memperhatikan siapa lawan bicaranya, bagaimana cara menyampaikan sesuatu, dan bagaimana menjaga perasaan orang lain.

Tentu, Sedinten Basa Jawi bukan satu-satunya cara untuk membangun karakter tersebut.

Namun, melalui kebiasaan berbahasa, anak mendapatkan pengalaman nyata bahwa cara berbicara juga merupakan bagian dari cara menghargai orang lain.

Tidak Harus Sempurna, yang Penting Mau Mencoba

Salah satu hal yang ingin dijaga melalui Sedinten Basa Jawi adalah suasana belajar yang tidak membuat anak takut mencoba.

Sebab, ketika anak merasa bahwa setiap kesalahan akan langsung dianggap salah, mereka justru bisa kehilangan keberanian untuk menggunakan Bahasa Jawa.

Padahal, proses belajar membutuhkan ruang untuk mencoba. Hari ini mungkin baru berani mengucapkan satu kalimat. Besok mungkin sudah berani berbicara lebih panjang.

Di kesempatan berikutnya, mungkin sudah mulai terbiasa menggunakan Bahasa Jawa ketika bertemu guru atau teman.

Sedikit demi sedikit. Pelan-pelan. Yang penting, ada pengalaman yang terus berulang. Karena kebiasaan yang sederhana, jika dilakukan secara konsisten, dapat tumbuh menjadi sesuatu yang bermakna.

Sedinten Basa Jawi, Sebuah Pengingat untuk Kita Semua

Program yang hadir di sekolah tentu memiliki alasan di baliknya. Begitu pula Sedinten Basa Jawi.

Program ini lahir dari kegelisahan sederhana: jangan sampai anak-anak tumbuh di tanah Jawa, tetapi semakin jauh dari bahasa daerahnya sendiri. Maka, satu hari diberikan sebagai ruang untuk kembali mendekat.

  • Mendengar.
  • Mencoba.
  • Berbicara.
  • Dan menikmati kembali Bahasa Jawa sebagai bagian dari keseharian.

Bukan untuk membuat anak merasa bahwa bahasa daerah lebih baik daripada bahasa lainnya. Bukan pula untuk membatasi mereka dari perkembangan zaman.

Justru sebaliknya.

Anak-anak perlu tumbuh menjadi generasi yang mampu melangkah ke dunia yang luas tanpa kehilangan akar yang membuat mereka mengenal siapa dirinya.

  • Mereka boleh menguasai bahasa Indonesia.
  • Mereka boleh belajar bahasa asing.
  • Mereka boleh hidup di tengah perkembangan teknologi dan budaya global.

Namun, semoga mereka tetap tahu dari mana mereka berasal. Tetap mengenal budaya di sekitarnya.

Dan tetap mampu berkata dengan bangga:

“Iki basaku. Iki budayaku.”

Menjaga Bahasa, Menjaga Cerita

Pada akhirnya, Sedinten Basa Jawi bukan sekadar tentang satu hari menggunakan Bahasa Jawa di sekolah.

Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa ada warisan yang perlu terus dikenalkan kepada anak-anak.

  • Sebab bahasa membawa cerita.
  • Bahasa membawa budaya.
  • Bahasa membawa identitas.

Dan ketika anak-anak diberi kesempatan untuk menggunakan Bahasa Jawa, sesungguhnya kita sedang memberi mereka kesempatan untuk mengenal salah satu bagian dari dirinya sendiri.

Semoga dari percakapan-percakapan kecil di sekolah, tumbuh rasa cinta yang lebih besar terhadap budaya.

Semoga dari satu hari Sedinten Basa Jawi, lahir kebiasaan-kebiasaan baik yang terus terbawa ke rumah.

Dan semoga anak-anak Bintang Juara tumbuh menjadi generasi yang berilmu, beradab, percaya diri, terbuka terhadap dunia, tetapi tetap mengenal dan mencintai akar budayanya.

Karena menjadi generasi hebat bukan berarti harus meninggalkan apa yang diwariskan. Justru generasi hebat adalah mereka yang mampu membawa warisan baik dari masa lalu untuk terus hidup di masa depan.*** (CM-MRT)