Bagi orang tua dan siswa sekolah dasar di Kota Semarang, istilah ASSIK dan TKA mungkin mulai sering terdengar. Keduanya berkaitan dengan asesmen kemampuan siswa dan menjadi bagian penting dalam upaya menghadirkan data capaian belajar yang lebih objektif.
ASSIK merupakan singkatan dari Asesmen Standar Siswa Kota Semarang, yaitu instrumen asesmen yang diinisiasi oleh Dinas Pendidikan Kota Semarang. Dalam perkembangannya, pembahasan mengenai asesmen standar siswa juga berkaitan dengan Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang merupakan asesmen dengan standar dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Lantas, apa sebenarnya tujuan asesmen ini? Mengapa siswa perlu mengikutinya? Dan bagaimana sebaiknya orang tua serta sekolah mempersiapkan anak?
Contents
Apa Itu ASSIK?
Secara sederhana, ASSIK dapat dipahami sebagai bagian dari upaya pemerintah daerah untuk memperoleh gambaran mengenai capaian kemampuan akademik siswa secara lebih terukur.
Asesmen seperti ini bukan semata-mata bertujuan mencari siapa siswa yang memperoleh nilai paling tinggi. Data yang dihasilkan dapat digunakan untuk memvalidasi capaian belajar, memetakan kemampuan siswa, serta menjadi bahan evaluasi bagi sekolah dan pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan.
Dalam konteks Kota Semarang, asesmen standar juga memiliki kaitan dengan proses Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB). Nilai atau hasil asesmen dapat menjadi salah satu informasi penting dalam proses seleksi, khususnya pada jalur yang mempertimbangkan capaian akademik.
Dinas Pendidikan Kota Semarang sendiri terus melakukan koordinasi dan penguatan persiapan teknis pelaksanaan TKA, termasuk melalui kegiatan pembekalan bagi sekolah, guru kelas, proktor, dan teknisi. Salah satunya terlihat dalam webinar persiapan teknis TKA SD yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Kota Semarang pada Maret 2026.
Apa Kaitannya ASSIK dengan TKA?
Di sinilah orang tua perlu memahami bahwa ASSIK dan TKA tidak serta-merta merupakan dua istilah untuk ujian yang sama.
ASSIK merupakan istilah yang digunakan dalam konteks asesmen standar yang diinisiasi di tingkat Kota Semarang. Sementara itu, TKA atau Tes Kemampuan Akademik merupakan asesmen yang diselenggarakan berdasarkan kebijakan dan standar Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Keduanya dapat beririsan dalam tujuan, terutama dalam memperoleh gambaran kemampuan akademik siswa secara objektif. Namun, teknis pelaksanaan, kebijakan, peserta, maupun pemanfaatan hasilnya dapat mengikuti ketentuan masing-masing.
Karena kebijakan pendidikan dapat diperbarui dari waktu ke waktu, orang tua sebaiknya selalu mengacu pada informasi terbaru dari sekolah, Dinas Pendidikan Kota Semarang, dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Mengapa Asesmen Standar Dibutuhkan?
Ada satu pertanyaan yang mungkin muncul di benak orang tua:
“Bukankah kemampuan anak sudah terlihat dari nilai rapor?”
Nilai rapor memang menjadi bagian penting dalam melihat perkembangan belajar anak. Namun, nilai tersebut berasal dari proses pembelajaran dan penilaian yang berlangsung di masing-masing sekolah.
Asesmen standar memberikan perspektif tambahan melalui instrumen yang lebih seragam. Dengan demikian, data yang diperoleh dapat membantu memberikan gambaran yang lebih objektif mengenai kemampuan akademik siswa.
Hasil asesmen juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan evaluasi. Jika ditemukan kemampuan tertentu yang masih perlu diperkuat, sekolah dapat menyusun strategi pembelajaran yang lebih tepat.
Jadi, asesmen sebaiknya tidak dipandang hanya sebagai “ujian penentu masa depan anak”, tetapi sebagai salah satu alat untuk mengetahui posisi belajar anak dan menentukan langkah pengembangan berikutnya.
Tidak Hanya untuk Kelas 6
Salah satu perkembangan menarik dalam kebijakan asesmen di Kota Semarang adalah perhatian terhadap pemetaan kemampuan siswa sejak lebih dini.
Berdasarkan informasi yang beredar mengenai integrasi ASSIK dengan Asesmen Sumatif Akhir Semester (ASAS), pelaksanaan asesmen standar juga diarahkan untuk mencakup siswa pada jenjang kelas 4 dan 5 SD/MI, tidak hanya kelas 6.
Jika diterapkan secara berkelanjutan, pendekatan ini memiliki manfaat penting. Sekolah dapat mengetahui perkembangan kemampuan literasi dan numerasi siswa sebelum mereka berada di tahun terakhir sekolah dasar.
Artinya, kelas 4 dan 5 bukan sekadar masa untuk mengejar nilai, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memperkuat fondasi akademik sebelum anak memasuki jenjang pendidikan berikutnya.
Apa yang Perlu Disiapkan Siswa SD?
Persiapan menghadapi asesmen tidak harus dimulai dengan belajar berjam-jam atau memberikan latihan soal tanpa henti.
Justru, persiapan yang baik sebaiknya dilakukan secara bertahap, konsisten, dan menyenangkan.
1. Perkuat Kemampuan Literasi
Literasi bukan hanya kemampuan membaca teks dengan lancar. Anak juga perlu belajar memahami informasi, menemukan ide pokok, menarik kesimpulan, membandingkan informasi, dan menggunakan informasi tersebut untuk menjawab persoalan.
Kebiasaan membaca buku, berdiskusi tentang isi bacaan, serta mengajak anak menceritakan kembali apa yang dibacanya dapat menjadi latihan sederhana di rumah.
2. Latih Kemampuan Numerasi
Numerasi tidak hanya berarti menghafal rumus matematika.
Anak perlu terbiasa menggunakan konsep matematika dalam situasi sehari-hari, seperti membaca tabel, memahami grafik, melakukan perhitungan, memperkirakan jumlah, atau memecahkan masalah sederhana.
Karena itu, orang tua dapat mengajak anak belajar melalui konteks kehidupan nyata.
Misalnya, ketika berbelanja, anak dapat diajak menghitung total harga atau memperkirakan uang kembalian. Ketika memasak, anak dapat belajar tentang ukuran dan perbandingan.
3. Biasakan Membaca Soal dengan Teliti
Kemampuan akademik tidak hanya diuji melalui pengetahuan, tetapi juga kemampuan memahami instruksi.
Ajarkan anak untuk tidak terburu-buru ketika membaca soal. Biasakan mereka mengidentifikasi informasi yang diketahui, memahami apa yang ditanyakan, kemudian menentukan cara menyelesaikannya.
4. Bangun Kemandirian Belajar
Persiapan asesmen merupakan kesempatan untuk membangun kebiasaan belajar mandiri.
Anak dapat dilatih membuat target belajar sederhana, mengatur waktu, memeriksa kembali pekerjaan, dan mengenali materi yang masih belum dipahami.
Kebiasaan tersebut akan jauh lebih bermanfaat dalam jangka panjang dibandingkan sekadar mengejar nilai ujian.
5. Jaga Kondisi Fisik dan Emosional
Anak yang menghadapi ujian membutuhkan kondisi tubuh dan pikiran yang baik.
Tidur cukup, makan dengan baik, bergerak aktif, dan mendapatkan dukungan emosional dari orang tua merupakan bagian dari persiapan yang tidak kalah penting.
Hindari memberikan tekanan berlebihan dengan kalimat seperti, “Kamu harus dapat nilai sempurna.”
Sebaliknya, orang tua dapat mengatakan bahwa ujian adalah kesempatan bagi anak untuk menunjukkan apa yang sudah dipelajari dan berusaha sebaik mungkin.
“TKA: Jujur & Gembira”
Semangat pelaksanaan TKA juga membawa pesan yang menarik: “TKA: Jujur & Gembira.”
Dua kata tersebut mengingatkan bahwa asesmen akademik tidak harus selalu identik dengan ketegangan.
Jujur berarti mengerjakan asesmen berdasarkan kemampuan sendiri. Sementara gembira mengajak anak menjalani proses evaluasi tanpa ketakutan atau tekanan yang berlebihan.
Prinsip ini penting karena hasil asesmen akan lebih bermakna ketika benar-benar menggambarkan kemampuan anak.
Jika anak dibiasakan mengandalkan usaha sendiri, maka nilai yang diperoleh dapat menjadi cermin yang lebih jujur mengenai kemampuan dan bagian yang masih perlu dikembangkan.
Peran Sekolah dan Orang Tua Sama Pentingnya
Mempersiapkan anak menghadapi asesmen bukan hanya tugas guru.
Sekolah berperan memberikan pembelajaran yang bermakna, melakukan pendampingan, memberikan penguatan pada kompetensi yang dibutuhkan, serta menciptakan suasana belajar yang positif.
Di sisi lain, orang tua dapat memperkuatnya melalui kebiasaan sederhana di rumah.
Membaca bersama, mengobrol tentang buku, bermain permainan logika, mengajak anak berhitung dalam aktivitas sehari-hari, atau sekadar memberikan ruang bagi anak untuk bertanya merupakan bentuk dukungan yang sangat berarti.
Dengan begitu, persiapan asesmen tidak terasa seperti program belajar tambahan yang membebani anak.
Bagaimana dengan Jadwal ASSIK 2027?
Untuk orang tua yang mulai mempersiapkan anak menghadapi asesmen pada tahun 2027, penting untuk membedakan antara jadwal resmi dan perkiraan berdasarkan pola pelaksanaan sebelumnya.
Kalender Pendidikan Kota Semarang Tahun Ajaran 2026/2027 telah dipublikasikan oleh Dinas Pendidikan Kota Semarang. Namun, detail jadwal khusus asesmen berikut tahapan teknisnya tetap perlu menunggu pengumuman resmi dari pihak berwenang.
Karena itu, informasi seperti sosialisasi, pendaftaran peserta, simulasi, gladi, pelaksanaan ujian, hingga pengumuman hasil sebaiknya tidak dianggap sebagai jadwal pasti sebelum diterbitkan secara resmi.
Bagi sekolah dan orang tua, langkah terbaik saat ini adalah mempersiapkan kemampuan anak secara bertahap, bukan menunggu mendekati hari ujian.
ASSIK dan TKA Bukan Sekadar Tentang Nilai
Pada akhirnya, asesmen standar seperti ASSIK dan TKA sebaiknya ditempatkan sebagai bagian dari perjalanan belajar anak.
Nilai memang penting. Namun, yang jauh lebih penting adalah kemampuan yang berada di balik nilai tersebut: kemampuan membaca dan memahami informasi, berpikir logis, memecahkan masalah, bernalar, serta menggunakan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, persiapan terbaik bukanlah membuat anak takut terhadap ujian.
Persiapan terbaik adalah membantu anak tumbuh menjadi pembelajar yang percaya diri, mandiri, jujur, dan siap menghadapi tantangan.
Di Sekolah Islam Bintang Juara, proses tersebut dapat terus dibangun melalui pembelajaran yang bermakna, pembiasaan positif, serta pendampingan yang memperhatikan perkembangan anak secara utuh.
Sebab, menjadi juara bukan hanya tentang mendapatkan nilai terbaik.
Menjadi juara adalah tentang terus bertumbuh, berusaha dengan jujur, dan berani memberikan kemampuan terbaik dalam setiap proses belajar.
