fbpx

Suasana ruang kelas 6 SD Islam Bintang Juara pada Selasa, 27 Januari 2026 terasa berbeda dari biasanya. Meja dan kursi tertata rapi, wajah kakak shalih-shalihah tampak antusias, dan di depan kelas berdiri seorang sosok yang tak asing namun membawa perspektif baru: Ayah Mustafa, orang tua dari Kak Nadhif. Hari itu, kegiatan BBOT (Bintang Juara Bersama Orang Tua) kembali digelar, mengangkat tema yang relevan dengan fase belajar kakak kelas 6:

“TKA Bukan Sekadar Tes: Membangun Karakter dan Daya Juang.”

Tema ini bukan tanpa alasan. Kakak kelas 6 sedang berada pada fase penting dalam perjalanan akademiknya. Di hadapan mereka, ada tantangan baru bernama TKA (Tes Kemampuan Akademik) — sebuah asesmen yang sering kali dipersepsikan sebagai ujian menegangkan. Namun, melalui sesi BBOT ini, Ayah Mustafa mengajak kakak shalih-shalihah memandang TKA dari sudut yang lebih luas dan bermakna.

Mengenal TKA: Lebih dari Sekadar Angka di Kertas

Di awal sesi, Ayah Mustafa mengajak kakak shalih-shalihah untuk memahami terlebih dahulu: apa itu TKA? Dengan bahasa yang sederhana dan dekat dengan dunia anak, beliau menjelaskan bahwa TKA bukanlah tes untuk mencari siapa yang paling pintar, melainkan sarana untuk melihat sejauh mana kemampuan akademik siswa berkembang

Dari sini, kakak shalih-shalihah mulai memahami bahwa TKA bukan sesuatu yang harus ditakuti. Sebaliknya, TKA adalah bagian dari proses belajar yang membantu siswa mengenali kekuatan dan area yang masih perlu ditingkatkan.

Dua Pondasi Penting: Kompetensi dan Kompetisi

Setelah pemahaman dasar tentang TKA, Ayah Mustafa mengajak kakak shalih-shalihah menyelami dua pondasi penting untuk “menaklukkan” TKA, yaitu kompetensi dan kompetisi.

Kompetensi dimaknai sebagai kemampuan diri — hasil dari proses belajar, berlatih, dan memahami materi secara konsisten. Ayah Mustafa menekankan bahwa kompetensi tidak dibangun dalam semalam. Ia tumbuh dari kebiasaan kecil: mau mencoba soal, mau bertanya saat belum paham, dan mau memperbaiki kesalahan.

Sementara itu, kompetisi bukan tentang mengalahkan teman, melainkan tentang bersaing secara sehat dengan diri sendiri. Apakah hari ini lebih baik dari kemarin? Apakah sudah berani mencoba soal yang sebelumnya terasa sulit? Perspektif ini membuat kakak shalih-shalihah menyadari bahwa kompetisi sejati bukan soal ranking, tetapi tentang proses bertumbuh.

Belajar Daya Juang Lewat Latihan Soal Bersama

Sesi semakin seru ketika Ayah Mustafa mengajak kakak shalih-shalihah untuk langsung mempraktikkan latihan soal. Namun, yang membuat sesi ini berbeda adalah pendekatannya. Latihan soal tidak dilakukan secara individual dan sunyi, melainkan melalui diskusi dan kerja bersama.

Di sinilah nilai daya juang benar-benar ditanamkan. Kakak shalih-shalihah diajak untuk tidak menyerah ketika menemui soal sulit. Mereka didorong untuk mencoba, berdiskusi, dan mencari strategi bersama. Ketika ada yang belum paham, teman lain membantu. Ketika ada yang ragu, yang lain memberi semangat.

Ayah Mustafa mengingatkan dengan kalimat yang membekas di benak kakak shalih-shalihah:

“Nggak perlu nunggu jadi anak super pinter untuk berbagi. Meski tahunya cuma sedikit, berbagi saja.”

Kalimat sederhana ini mengajarkan bahwa berbagi ilmu bukan soal seberapa banyak yang kita tahu, tetapi tentang keberanian untuk membantu dan kepedulian terhadap sesama.

Saling Bantu, Saling Menguatkan

Nilai kebersamaan terasa kental sepanjang sesi. Kakak shalih-shalihah belajar bahwa dalam menghadapi TKA — dan tantangan hidup lainnya — mereka tidak harus berjalan sendiri. Budaya saling bantu menjadi kekuatan besar.

Ada kakak yang awalnya ragu menjawab soal, namun menjadi lebih percaya diri setelah berdiskusi. Ada pula yang awalnya cepat memahami, lalu belajar bersabar saat membantu temannya. Dari sini, karakter empati, kepemimpinan, dan kerja sama tumbuh secara alami.

BBOT hari itu membuktikan bahwa pembelajaran karakter tidak selalu harus melalui ceramah panjang. Justru melalui aktivitas sederhana yang nyata, nilai-nilai itu bisa tertanam lebih kuat.

Menutup dengan Contoh Soal TKA: Berani Mencoba Sampai Akhir

Sebagai penutup, Ayah Mustafa mengajak kakak shalih-shalihah mengerjakan contoh soal TKA. Kali ini, suasana kelas terasa lebih tenang dan percaya diri. Bukan karena semua soal terasa mudah, tetapi karena kakak shalih-shalihah sudah dibekali mindset yang tepat: mencoba dengan sungguh-sungguh, tidak takut salah, dan siap belajar dari proses.

Di akhir sesi, terlihat senyum lega di wajah kakak shalih-shalihah. Mereka pulang dengan pemahaman baru bahwa TKA bukan sekadar tes akademik, melainkan media untuk melatih daya juang, karakter, dan semangat belajar sepanjang hayat.

BBOT: Kolaborasi Sekolah dan Orang Tua untuk Pendidikan Bermakna

Kegiatan BBOT kelas 6 bersama Ayah Mustafa menjadi contoh nyata bagaimana kolaborasi antara sekolah dan orang tua mampu menghadirkan pembelajaran yang utuh. Tidak hanya fokus pada hasil akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter anak.

Melalui tema “TKA Bukan Sekadar Tes: Membangun Karakter dan Daya Juang”, kakak shalih-shalihah belajar bahwa keberhasilan bukan hanya soal nilai, tetapi tentang proses, usaha, dan sikap pantang menyerah. Bekal inilah yang diharapkan akan mereka bawa, tidak hanya saat menghadapi TKA, tetapi juga dalam perjalanan hidup selanjutnya.

Karena sejatinya, anak yang berdaya juang tinggi akan selalu siap menghadapi tantangan apa pun, dengan atau tanpa tes.***