fbpx
Memilih Sekolah, Menentukan Langkah: Menyiapkan Anak Menuju Jenjang SMP

Memilih Sekolah, Menentukan Langkah: Menyiapkan Anak Menuju Jenjang SMP

Pagi itu, Sabtu, 29 Agustus 2026, suasana di SD Islam Bintang Juara terasa hangat sekaligus penuh keseriusan. Puluhan orang tua siswa kelas 4, 5, dan 6 berkumpul dalam acara Parenting Class. Di antara riuh rendah tanya jawab dan lembar catatan yang siap diisi, ada satu pertanyaan menggantung di benak banyak Ayah dan Bunda yang anaknya mulai menapak usia pra-remaja: “Ke mana anak kita akan melanjutkan sekolah setelah lulus SD nanti?

Sering kali, pertanyaan tersebut memicu deretan kekhawatiran baru. Apakah anak siap dengan pergaulan SMP? Bisakah mereka mengikuti tuntutan akademik yang lebih kompleks? Ataukah justru kita, sebagai orang tua, yang sebenarnya belum siap melepaskan sebagian kendali?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukanlah hal yang berlebihan. Memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi memang membawa perubahan. Anak akan berhadapan dengan aturan yang berbeda, tuntutan akademik yang semakin kompleks, relasi sosial yang semakin luas, serta kebutuhan untuk memiliki kemandirian belajar yang lebih besar. Karena itu, persiapan menuju SMP sebenarnya bukan hanya tentang memilih sekolah, tetapi juga tentang menyiapkan anak menghadapi perubahan dan tantangan baru.

Untuk menjawab keresahan tersebut, SD Islam Bintang Juara menghadirkan Ibu Dyah Indah Noviyani, S.Psi., M.Psi., Psikolog—atau yang akrab disapa Bunda Vivi Psikolog. Beliau merupakan Ketua Yayasan Dewi Sartika sekaligus founder PAUD & SD Islam Bintang Juara. Dalam sesi berharga tersebut, Bunda Vivi membagikan wawasan mendalam tentang bagaimana orang tua seharusnya bersikap dan melangkah dalam memilih sekolah lanjutan untuk buah hati.

Parenting Class bertema “Memilih Sekolah, Menentukan Langkah” ini tidak berhenti pada pertanyaan, “SMP mana yang bagus?” Lebih jauh, orang tua diajak mengubah cara pandang: sekolah seperti apa yang tepat untuk anak kita, dan bagaimana kita menyiapkan anak agar mampu menjalani pilihan tersebut?

Pesan Bermakna dari Korsatpen Gunungpati

Parenting class kali ini sangat istimewa. Tidak hanya Bunda Vivi Psikolog yang hadir, tetapi hadir pula Ibu Sri Hartati, S.Pd., M.Pd. selaku Korsatpen Gunungpati.

Pada kesempatan tersebut, Bu Tatik menyampaikan beberapa program Dinas Pendidikan Kota Semarang berkaitan dengan memilih sekolah lanjutan. Salah satu yang disampaikan oleh beliau adalah Program ASSIK.

Bagi Ayah Bunda yang ingin putra-putrinya melanjutkan ke SMP Negeri, Bu Tatik menyampaikan jika terdapat empat jalur yang bisa dilalui, yaitu:

  • Jalur Domisili (sebelumnya zonasi): Kuota minimal 40%, untuk calon murid berdasarkan wilayah tempat tinggal.
  • Jalur Afirmasi: Kuota minimal 20%, untuk anak dari keluarga kurang mampu atau penyandang disabilitas.
  • Jalur Prestasi: Kuota minimal 25%, untuk calon murid dengan prestasi akademik maupun non-akademik.
  • Jalur Mutasi (perpindahan tugas orang tua): Kuota maksimal 5%, termasuk bagi anak guru.

Informasi mengenai jalur penerimaan tersebut menjadi salah satu bekal penting bagi orang tua untuk mulai memahami pilihan pendidikan yang tersedia. Namun, sesi bersama Bunda Vivi kemudian mengajak Ayah dan Bunda melihat bahwa jalur masuk hanyalah salah satu bagian dari perjalanan.

Sebelum sibuk mengejar sekolah tertentu, ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar:

sudahkah kita benar-benar mengenal anak kita?

galeri pembukaan kegiatan parenting class memilih sekolah

Sekolah Bukan “Pabrik” atau “Laundry”

Di awal pemaparannya, Bunda Vivi mengajak orang tua merenungkan kembali hakikat sebuah lembaga pendidikan. Ketika mencari SMP, apa hal pertama yang Ayah dan Bunda lihat? Akreditasi A? Fasilitas gedung yang megah?

Kalau semua sekolah memiliki fasilitas yang bagus dan terakreditasi A, bagaimana kita menentukan sekolah yang paling tepat untuk anak kita?” tutur Bunda Vivi.

Beliau menegaskan bahwa sekolah yang bagus belum tentu sekolah yang tepat untuk setiap anak. Anak bukanlah “produk” yang dimasukkan ke dalam tempat tertentu untuk langsung menghasilkan prestasi. Sekolah bukan pabrik, bukan pula tempat “laundry” di mana orang tua tinggal menyerahkan anak dan berharap keluar dalam keadaan sempurna.

Sekolah adalah lembaga pendidikan yang menjunjung tinggi nilai agama, norma sosial, ilmu pengetahuan bermanfaat, serta pembentuk karakter. Oleh karena itu, kunci utama dalam memilih sekolah terletak pada prinsip Fit with the Child—keselarasan antara sekolah dengan kebutuhan serta kondisi anak dan keluarga.

Dengan sudut pandang ini, proses memilih sekolah menjadi lebih personal. Bukan lagi sekadar, “Sekolah mana yang paling terkenal?” Melainkan: “Sekolah mana yang paling sesuai dengan anak saya?”

Apa Itu Fit with the Child?

Konsep Fit with the Child mengingatkan orang tua bahwa setiap anak memiliki profil yang berbeda. Karena itu, sekolah yang ideal perlu selaras dengan beberapa aspek penting dalam kehidupan anak dan keluarga.

Materi Parenting Class menekankan setidaknya delapan hal yang perlu dipertimbangkan:

  • Prinsip nilai dalam keluarga.
  • Keimanan dan ketauhidan.
  • Karakter positif yang ingin dibangun.
  • Kebutuhan perkembangan anak.
  • Potensi atau bakat umum dan khusus anak.
  • Minat anak.
  • Kondisi keluarga, termasuk kemampuan ekonomi.
  • Arah pendidikan dan masa depan anak.

Artinya, memilih sekolah tidak dapat dilepaskan dari konteks keluarga dan kondisi anak secara utuh. Sebab tidak ada sekolah yang sempurna. Yang perlu dicari adalah kesesuaian antara tuntutan sekolah dengan kapasitas dan kebutuhan anak.

3 Langkah Strategis Memilih Sekolah Lanjutan

Agar orang tua tidak salah arah, Bunda Vivi Psikolog merumuskan tiga langkah penting yang perlu dilakukan.

1. Mengenali Anak Secara Utuh

Sebelum bertanya “Anak saya cocok sekolah di mana?”, tanyakan dulu: “Anak saya itu seperti apa?”

Orang tua perlu memahami profil anak secara menyeluruh, meliputi karakter, potensi atau bakat, minat, dan kebutuhan. Karakter positif yang dapat diperhatikan antara lain religiusitas, kemandirian, tanggung jawab, percaya diri, empati, dan disiplin.

Kemudian, pahami pula bakat umum, yaitu kemampuan dasar yang dimiliki setiap orang, serta bakat khusus, yaitu kemampuan unik yang dapat muncul ketika dilatih secara konsisten.

Minat juga tidak kalah penting. Apa yang disukai anak? Aktivitas apa yang membuatnya bersemangat? Sementara kebutuhan perlu dilihat sesuai dengan tahapan usia dan perkembangan anak.

Bunda Vivi juga mengingatkan agar orang tua tidak hanya melihat kelebihan anak.

Anak yang memiliki kemampuan akademik tinggi belum tentu siap menghadapi tantangan di sekolah yang sangat kompleks dan kompetitif. Sebaliknya, anak dengan kemampuan akademik sedang bukan berarti tidak mampu berkembang di sekolah yang baik.

Yang perlu dicari adalah kesesuaian antara tuntutan sekolah dan kapasitas anak.

2. Mengenali Sekolah: 5P Profil Sekolah

Setelah mengenali anak, saatnya melakukan riset terhadap sekolah yang menjadi pilihan.

Bunda Vivi menyarankan orang tua tidak hanya mengandalkan informasi dari satu sumber. Ayah dan Bunda dapat mulai dengan mengunjungi website atau media sosial sekolah, melakukan survei dengan datang langsung ke sekolah, serta bertanya kepada alumni dan orang tua siswa.

Kemudian, gunakan 5P Profil Sekolah sebagai bahan pertimbangan:

  • Prinsip: Apakah prinsip nilai sekolah sesuai dengan prinsip nilai keluarga? Termasuk akidah, tauhid, akhlak, adab, dan ibadah.
  • Pendidikan: Bagaimana kualitas kurikulum dan proses pembelajarannya?
  • Pengasuhan: Bagaimana sekolah memperlakukan anak ketika anak melakukan kesalahan, kurang disiplin, atau terlibat konflik?
  • Pengembangan Potensi: Apakah sekolah memberikan ruang bagi eksplorasi dan optimalisasi bakat serta minat anak?
  • Partnership: Apakah sekolah memiliki program yang menguatkan keselarasan dan kerja sama dengan orang tua?

Lima hal ini membantu orang tua melihat sekolah secara lebih menyeluruh. Bukan hanya gedungnya, bukan hanya prestasinya, tetapi juga bagaimana sekolah mendidik, mengasuh, mengembangkan, dan bekerja sama dengan keluarga.

Akidah dan Tauhid sebagai Pondasi

Bagi keluarga Muslim, keselarasan nilai menjadi bagian yang sangat penting. Pertanyaannya bukan sekadar, “Apakah sekolah mengajarkan agama?” Tetapi lebih jauh: “Apakah prinsip agama hadir dalam kehidupan sehari-hari di sekolah?”

Dalam materi Parenting Class, Bunda Vivi mengajak orang tua memperhatikan tiga hal: apa yang diajarkan, apa yang dibiasakan, dan apa yang diteladankan.

Agama bukan hanya pengetahuan. Nilai tersebut diharapkan hadir dalam ibadah, perilaku, akhlak, dan adab. Keteladanan guru dan seluruh warga sekolah juga menjadi bagian penting dari budaya pendidikan.

Dengan demikian, bagi keluarga Muslim, alurnya bukan sekadar: belajar agama → tahu agama. Tetapi diharapkan berkembang menjadi: akidah & tauhid → akhlak & adab → ibadah → kebiasaan → karakter.

Kenali Beragam Pilihan Sekolah

Saat memilih sekolah lanjutan, orang tua juga perlu mengetahui bahwa pilihan tidak hanya terbatas pada satu jenis SMP.

Dalam materi Parenting Class, beberapa pilihan yang dapat dipertimbangkan antara lain SMP Negeri, SMP Islam Swasta, MTs, SMP Islam plus boarding/pondok pesantren, pondok pesantren, hingga PKBM. Masing-masing memiliki karakteristik dan fokus yang berbeda.

Begitu pula dengan kurikulum. Sekolah dapat memiliki kurikulum nasional, internasional, maupun kekhasan sekolah.

Karena itu, pertanyaannya kembali kepada anak dan keluarga:

Kebutuhan apa yang ingin dipenuhi? Nilai apa yang ingin dijaga? Potensi apa yang ingin dikembangkan? Dan seperti apa arah pendidikan yang ingin ditempuh?

3. Menyelaraskan dan Menentukan Pilihan

Setelah mengenali anak dan sekolah, langkah berikutnya adalah menyelaraskan dan menentukan pilihan. Diskusikan pilihan tersebut bersama anak.

Dengarkan pendapatnya dengan terbuka. Jika terdapat pemahaman yang kurang tepat, orang tua dapat membantu meluruskan. Namun, Bunda Vivi juga menegaskan bahwa orang tua tetap memiliki kewenangan dalam mengambil keputusan. Setelah berikhtiar dan berdiskusi, pilihan tersebut dapat dikuatkan dengan istikharah.

Ini menjadi pengingat penting: melibatkan anak bukan berarti seluruh keputusan diserahkan kepada anak.

Anak didengarkan. Orang tua membimbing. Kemudian keluarga menentukan langkah bersama dengan mempertimbangkan nilai, kebutuhan, dan kemaslahatan anak.

Sekolah sebagai Partner Orang Tua

Memilih sekolah juga berarti memilih partner dalam pendidikan anak.

Bunda Vivi mengingatkan bahwa pendidik terbaik tetaplah orang tua, sedangkan lembaga pendidikan terbaik tetaplah rumah. Rumah dan sekolah perlu saling selaras dan bersinergi.

Maka, setelah memilih sekolah, tanggung jawab orang tua tidak selesai. Justru perjalanan baru dimulai.

Akan ada beragam tantangan, bahkan mungkin ujian. Karena itu, orang tua perlu terus menguatkan keselarasan prinsip nilai antara rumah dan sekolah, mengutamakan akhlak dan adab, menjaga komunikasi, membiasakan konfirmasi, serta terlibat aktif dalam kegiatan sekolah.

Yang tidak kalah penting: terus belajar, berikhtiar, dan berdoa.

Pesan bermakna kegiatan parenting class memilih sekolah

Kesiapan Anak Tidak Sama dengan Kesiapan Orang Tua

Ada satu bagian dalam Parenting Class yang mungkin menjadi bahan perenungan bagi banyak Ayah dan Bunda.

Kadang-kadang, anak sebenarnya sudah siap. Tetapi orang tua yang masih khawatir.

  • “Bagaimana kalau anak saya tidak bisa?”
  • “Bagaimana kalau salah pergaulan?”
  • “Bagaimana kalau tidak bisa mengikuti pelajaran?”
  • “Bagaimana kalau jauh dari rumah lalu sakit?”

Kekhawatiran tersebut sangat manusiawi. Namun, orang tua perlu belajar membedakan antara kekhawatiran orang tua dan kebutuhan anak.

Pertanyaan yang perlu direnungkan bukan hanya: “Apakah anak saya sudah siap?” Tetapi juga: “Apakah anak yang belum siap, atau kita sebagai orang tua yang belum siap melepaskan sebagian kendali?”

Inilah mengapa persiapan menuju SMP sebaiknya dilakukan sejak anak masih berada di kelas 4, 5, dan 6. Tidak perlu menunggu beberapa bulan menjelang kelulusan.

5 Dimensi Kesiapan Anak Menuju SMP

Lantas, apa saja yang perlu disiapkan?

Disampaikan oleh Bunda Vivi, kesiapan anak dipetakan ke dalam beberapa dimensi penting, yaitu spiritual-moral, kemandirian, emosional, sosial, kognitif, dan akademik.

  • Spiritual-Moral: Anak belajar menjalankan nilai agama dengan kesadaran diri yang semakin berkembang dan matang.
  • Kemandirian: Anak belajar mengelola diri, waktu, barang pribadi, serta tanggung jawabnya.
  • Emosional: Anak belajar menghadapi perubahan, mengelola stres, dan menyikapi kegagalan.
  • Sosial: Anak perlu memiliki kemampuan membangun relasi yang sehat dan menyelesaikan konflik dengan bijak.
  • Kognitif: Anak perlu siap memahami berbagai konsep yang semakin kompleks.
  • Akademik: Anak perlu memiliki kesiapan mengikuti tuntutan pembelajaran pada jenjang yang lebih tinggi.

Jadi, kesiapan masuk SMP tidak hanya tentang nilai rapor atau kemampuan mengerjakan soal. Ada manusia utuh yang perlu dipersiapkan.

Bagaimana Melatih Kesiapan Anak Sejak SD?

Kabar baiknya, kesiapan tersebut tidak harus dibangun dalam waktu singkat. Ada banyak hal yang dapat mulai dilatih sejak anak berada di kelas 4, 5, dan 6.

  • Pertama, bangun growth mindset atau pola pikir berkembang. Ajarkan anak bahwa kemampuan bukan sesuatu yang selalu tetap. Anak dapat belajar, berlatih, melakukan kesalahan, dan berkembang.
  • Kedua, mulai melatih kemandirian tingkat lanjut. Berikan kepercayaan secara bertahap agar anak semakin mampu mengelola dirinya, waktunya, barang-barangnya, serta tanggung jawabnya.
  • Ketiga, bukalah ruang diskusi terbuka atau deep talk mengenai dinamika dunia remaja. Jangan menunggu anak menghadapi masalah baru kemudian membicarakannya. Jadikan rumah sebagai ruang aman untuk bertanya, bercerita, dan berdiskusi.

Ketenangan dan keterbukaan menjadi kunci.

Anak yang tahu bahwa rumah adalah tempat yang aman untuk kembali akan memiliki ruang untuk belajar menghadapi dunia yang semakin luas.

galeri kegiatan parenting class memilih sekolah

Memilih Sekolah, Sesungguhnya Menentukan Langkah

Menjelang akhir Parenting Class, pesan yang disampaikan terasa sederhana, tetapi sangat dalam:

Saat kita memilih sekolah, maka kita sedang menentukan langkah.

Bukan berarti pilihan sekolah akan menentukan seluruh masa depan anak. Namun, pilihan tersebut menjadi salah satu lingkungan yang akan menemani anak bertumbuh, belajar, membangun relasi, mengenal dirinya, dan mengembangkan potensi.

Karena itu, ada enam hal yang perlu terus diingat orang tua:

  • Kenali anak.
  • Selaraskan nilai.
  • Siapkan langkah.
  • Libatkan anak.
  • Dampingi perjalanan anak.
  • Doakan, doakan, terus doakan—mohon ridho Allah.

Pada akhirnya, menjadi orang tua pun merupakan proses pembelajaran sepanjang hayat.

Anak belajar tumbuh. Orang tua belajar mendampingi. Sekolah belajar menjadi partner. Dan semuanya membutuhkan proses, kesabaran, komunikasi, serta doa.

Memilih sekolah lanjutan bukan tentang mencari sekolah yang paling sempurna. Bukan pula tentang mengejar sekolah yang paling bergengsi. Tetapi tentang menemukan lingkungan yang selaras dengan nilai keluarga, kebutuhan anak, potensi yang dimiliki, serta arah pendidikan yang ingin ditempuh.

Maka, untuk Ayah dan Bunda kelas 4, 5, dan 6 SD Islam Bintang Juara, perjalanan menuju SMP tidak perlu dimulai dengan kepanikan. Mulailah dengan mengenali. Kemudian memahami. Lalu berdiskusi. Setelah itu, menyiapkan.

Dan ketika waktunya tiba, melangkahlah bersama anak dengan keyakinan bahwa setiap ikhtiar telah dilakukan sebaik mungkin. Sebab anak tidak hanya membutuhkan sekolah yang tepat. Anak membutuhkan orang tua yang bersedia terus belajar menjadi partner terbaik dalam setiap langkahnya.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing setiap ikhtiar Ayah dan Bunda dalam mengantarkan putra-putri tercinta menjadi generasi yang saleh, bertauhid kokoh, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi sesama. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin. (CM-MRT)

Anak Cerdas Digital Itu Bukan Sekadar Jago Gadget

Anak Cerdas Digital Itu Bukan Sekadar Jago Gadget

Suasana Kelas 5 SD Islam Bintang Juara pagi itu terasa berbeda. Anak-anak tampak antusias sejak awal kegiatan dimulai. Di depan kelas, laptop sudah disiapkan, beberapa alat tulis tertata rapi, dan wajah-wajah penuh rasa penasaran mulai memenuhi ruangan.

Hari itu, kakak shalih-shalihah Kelas 5 mengikuti kegiatan BBOT (Belajar Bersama Orang Tua) bersama Ayah Aji Purwinarko, ayah dari Kak Satria.

Bukan narasumber biasa. Ayah Aji merupakan dosen Program Studi Teknik Informatika FMIPA UNNES, peneliti sekaligus praktisi di bidang pengembangan teknologi pendidikan berbasis Artificial Intelligence (AI), dan saat ini sedang melanjutkan studi doktoral (S3) di Universitas Gadjah Mada.

Dengan tema “Aku Anak Cerdas Digital”, kegiatan ini mengajak anak-anak memahami bagaimana menggunakan teknologi dengan aman, sopan, dan bijaksana.

Karena di zaman sekarang, kemampuan menggunakan teknologi bukan lagi sekadar tambahan. Tetapi sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak-anak. Namun yang lebih penting, anak-anak perlu belajar menjadi pengguna teknologi yang cerdas, bukan sekadar pengguna yang pasif.

Anak Cerdas Digital Itu Seperti Apa?

Di awal kegiatan, Ayah Aji mengajak anak-anak berdiskusi ringan tentang kehidupan digital mereka sehari-hari.

  • Siapa yang suka menonton YouTube?
  • Siapa yang pernah menggunakan AI?
  • Siapa yang pernah mencari informasi lewat internet?

Hampir semua tangan terangkat.

Anak-anak memang hidup di era yang sangat dekat dengan teknologi. Namun Ayah Aji mengingatkan bahwa menjadi anak cerdas digital bukan berarti sekadar pintar mengetik, cepat menggunakan gadget, atau tahu banyak aplikasi.

Anak cerdas digital adalah anak yang mampu menggunakan teknologi dengan aman, sopan, bertanggung jawab, dan bijaksana.

  • Mereka tahu mana informasi yang baik.
  • Tahu bagaimana berkomunikasi dengan benar.
  • Dan tahu kapan teknologi digunakan untuk belajar, bukan sekadar hiburan.

Belajar Jadi Robot dan Programmer

Kegiatan semakin seru ketika anak-anak diajak praktik menjadi robot dan programmer. Dalam permainan ini, beberapa anak berperan sebagai “robot”, sementara yang lain menjadi “programmer”.

Tugas programmer adalah memberikan instruksi yang jelas dan berurutan agar robot dapat menyelesaikan tugas dengan benar. Awalnya suasana langsung ramai dengan tawa.

Ada robot yang salah jalan. Ada yang berhenti karena instruksinya tidak jelas. Ada pula yang justru melakukan hal lucu karena perintah yang diberikan terlalu ambigu.

Dari permainan sederhana itu, anak-anak belajar tentang algoritma. Ayah Aji menjelaskan bahwa komputer bekerja berdasarkan instruksi yang runtut dan jelas. Jika perintahnya salah atau tidak lengkap, maka hasilnya juga tidak sesuai.

Di sinilah anak-anak mulai memahami bahwa kecerdasan digital bukan hanya tentang bisa menggunakan teknologi. Tetapi juga tentang kemampuan berpikir runtut, logis, dan teliti.

“Anak cerdas digital bukan sekadar bisa ngetik,” jelas Ayah Aji. “Tapi mampu memberikan perintah yang urut, tepat, dan benar.”

Belajar Cerdas Digital dengan Aplikasi Buatan Ayah Aji

Kegiatan selanjutnya makin menarik. Ayah Aji telah mempersiapkan aplikasi istimewa untuk mengenalkan kakak-kakak tentang cerdas digital dengan cara yang interaktif. Ada empat misi di dalamnya:

Misi 1: Mengurutkan Algoritma

Setelah memahami konsep dasar algoritma melalui permainan, anak-anak melanjutkan ke Misi 1: Mengurutkan Algoritma. Dalam tantangan ini, setiap kelompok diminta menyusun langkah-langkah suatu aktivitas secara berurutan.

Kegiatan ini melatih anak-anak untuk berpikir sistematis dan memahami bahwa teknologi bekerja berdasarkan pola yang terstruktur. Tanpa disadari, kemampuan seperti ini juga sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Karena berpikir runtut membantu anak belajar menyelesaikan masalah dengan lebih baik.

Misi 2: Menjadi Detektif Pesan Digital

Suasana semakin menantang saat masuk ke Misi 2: Detektif Pesan Digital. Pada sesi ini, anak-anak diminta memilih mana pesan digital yang aman, mencurigakan, atau berbahaya.

Beberapa contoh pesan yang diberikan ternyata cukup mirip dengan situasi nyata yang sering ditemui anak-anak di internet. Kakak belajar untuk mewaspadai bila ada pesan dari orang tidak dikenal, adanya tautan mencurigakan, serta pesan yang tampak ramah tetapi sebenarnya berpotensi membahayakan.

Anak-anak terlihat serius berdiskusi bersama kelompoknya. Mereka mulai memahami bahwa dunia digital tidak selalu aman.

Karena itu, penting bagi anak-anak untuk berhati-hati sebelum membalas pesan, membagikan informasi pribadi, atau membuka tautan tertentu. Kegiatan ini menjadi latihan penting agar anak-anak memiliki kesadaran digital sejak dini.

Misi 3: AI Teman Belajar atau Jalan Pintas?

Salah satu sesi yang paling menarik adalah Misi 3 tentang penggunaan Artificial Intelligence (AI).

Di era sekarang, banyak anak mulai mengenal AI untuk mencari jawaban, membuat gambar, hingga membantu mengerjakan tugas. Namun Ayah Aji mengajak anak-anak memahami bahwa AI harus digunakan dengan bijak.

Anak-anak diminta memilih aktivitas mana yang boleh dilakukan menggunakan AI, mana yang tidak boleh, dan mana yang harus didampingi orang tua atau guru.

Diskusi pun berlangsung seru. Ada yang berpendapat apakah AI boleh membantu mencari ide cerita. Di lain sisi, ada yang memberikan pendapat tentang penggunaan AI untuk tugas sekolah. Ada pula yang mulai memahami bahwa AI seharusnya menjadi teman belajar, bukan jalan pintas untuk menghindari proses berpikir.

Ayah Aji menjelaskan bahwa teknologi seharusnya membantu manusia berkembang, bukan membuat manusia malas berpikir. Karena itu, anak-anak perlu tetap belajar memahami proses, bukan hanya mengejar hasil instan.

Misi 4: Membuat Poster Janji Digital

Sebagai penutup, anak-anak mendapatkan Misi 4: Membuat Poster Janji Digital.

Sebelum membuat poster di atas kertas, setiap kelompok terlebih dahulu menuliskan ide dan rancangan menggunakan laptop. Setelah itu, rancangan tersebut diwujudkan menjadi poster kreatif yang penuh warna dan pesan positif.

Isi poster pun beragam. Ada yang menulis janji untuk menggunakan gadget seperlunya. Ada yang mengingatkan pentingnya sopan santun saat bermain internet. Ada pula yang menuliskan ajakan menggunakan teknologi untuk belajar dan berkarya.

Kegiatan ini bukan hanya melatih kreativitas anak, tetapi juga membantu mereka merefleksikan bagaimana seharusnya bersikap di dunia digital.

Kelompok tercepat dan paling kompak mendapatkan apresiasi khusus dari Ayah Aji. Namun lebih dari sekadar hadiah, seluruh anak sebenarnya sudah mendapatkan pengalaman belajar yang sangat berharga.

Teknologi Harus Diiringi Karakter

BBOT kali ini menjadi pengingat bahwa pendidikan digital tidak cukup hanya mengajarkan anak cara menggunakan teknologi. Yang jauh lebih penting adalah membentuk karakter mereka saat menggunakan teknologi tersebut.

  • Anak-anak perlu belajar tentang tanggung jawab.
  • Tentang keamanan digital.
  • Tentang etika berkomunikasi.
  • Dan tentang bagaimana tetap menjadi pribadi yang baik meskipun hidup di era serba digital.

Karena teknologi akan terus berkembang. AI akan semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Namun nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, dan kebijaksanaan tetap menjadi pondasi utama yang harus dimiliki anak-anak.

Belajar Teknologi dengan Cara Menyenangkan

Melalui kegiatan BBOT ini, anak-anak belajar bahwa teknologi bukan sesuatu yang harus ditakuti. Teknologi bisa menjadi alat yang sangat bermanfaat jika digunakan dengan benar. Dan belajar tentang dunia digital ternyata bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan, interaktif, dan dekat dengan kehidupan anak-anak sehari-hari.

Tawa yang terdengar selama permainan, diskusi kelompok yang seru, hingga poster-poster penuh warna menjadi bukti bahwa belajar tidak selalu harus membosankan. Semoga melalui kegiatan ini, kakak shalih-shalihah Kelas 5 semakin tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga memiliki adab dan tanggung jawab dalam menggunakannya.

Karena di masa depan nanti, dunia tidak hanya membutuhkan anak-anak yang pandai menggunakan teknologi. Tetapi juga anak-anak yang bijak saat memegangnya.*** (CM-MRT)

Tenang Itu Kekuatan: Rahasia Emosi Anak Dimulai dari Orang Tua

Tenang Itu Kekuatan: Rahasia Emosi Anak Dimulai dari Orang Tua

Sabtu pagi, 18 April 2026, suasana SD Islam Bintang Juara terasa berbeda. Tidak ada hiruk pikuk anak-anak seperti biasanya. Kursi-kursi tersusun rapi, dan satu per satu Ayah Bunda mulai hadir dengan wajah penuh harap. Hari itu bukan sekadar pertemuan biasa—melainkan ruang belajar bersama untuk memahami satu hal penting: emosi anak ternyata berakar dari ketenangan orang tua.

Acara dimulai tepat waktu, meskipun peserta belum sepenuhnya hadir. Bu Ni’mah membuka kegiatan dengan pesan sederhana namun mengena—bahwa kedisiplinan waktu adalah bagian dari pendidikan calon pemimpin muslim. Dari awal, Ayah Bunda diajak untuk menyadari bahwa setiap kebiasaan kecil yang ditanamkan hari ini akan membentuk karakter anak di masa depan.

Lalu, suasana menjadi lebih hening ketika Bu Ni’mah mengajak semua yang hadir untuk menengok kembali teladan terbaik dalam mengelola emosi—Rasulullah ﷺ. Sosok yang tetap tenang bahkan ketika dihina dan disakiti. Dari sini, Ayah Bunda diajak merenung, bahwa regulasi emosi bukan sekadar teori, tapi bagian dari keimanan dan kedekatan kepada Allah.

Cerita demi cerita mengalir, membuka kesadaran bahwa seringkali kita sebagai orang tua tanpa sadar memperlakukan anak seperti orang dewasa. Kita berharap mereka langsung memahami, langsung patuh, langsung bisa mengelola diri. Padahal, anak-anak masih dalam proses belajar—dan mereka belajar dari siapa? Dari kita.

Di sinilah titik balik pemahaman itu muncul. Apa yang terjadi pada anak, sejatinya adalah cermin bagi orang tuanya. Ketika anak mengalami kesulitan, sakit, atau konflik, itu bukan sekadar “masalah anak”, melainkan juga panggilan refleksi bagi orang tua. Sudahkah kita cukup hadir? Sudahkah kita cukup tenang?

Ketika Ketenangan Orang Tua Menjadi Pondasi Emosi Anak

Materi utama disampaikan oleh Ibu Diah Indah Noviyani, S.Psi., M.Psi., Psikolog atau yang akrab dipanggil dengan Bunda Vivi Psikolog—seorang praktisi yang telah lama mendampingi perkembangan anak dan keluarga. Dengan gaya penyampaian yang hangat dan membumi, beliau mengajak Ayah Bunda memahami bahwa emosi anak tidak muncul begitu saja. Ia dipelajari, ditiru, dan dibentuk dari lingkungan terdekatnya—terutama orang tua.

Sejak bayi, anak merekam ekspresi. Cara kita tersenyum, cara kita berbicara, bahkan cara kita merespon masalah—semuanya tersimpan dalam memori mereka. Maka tidak heran, jika anak mudah marah, bisa jadi karena ia sering melihat kemarahan. Jika anak sulit tenang, mungkin karena ia jarang melihat ketenangan.

Ketenangan bukan berarti tanpa emosi. Marah, sedih, kecewa—semuanya adalah hal yang wajar. Namun yang menjadi pembeda adalah bagaimana emosi itu dikelola. Di sinilah peran orang tua menjadi sangat krusial.

Dalam praktik sederhana, Ayah Bunda diajak untuk mulai dari hal kecil. Misalnya, ketika emosi memuncak, beri jeda 30 detik sebelum merespon anak. Waktu singkat ini ternyata sangat berharga untuk menghindari respon impulsif yang bisa melukai hati anak.

Anak Butuh Dibimbing, Bukan Sekadar Dikontrol

Salah satu poin penting yang menguat dalam sesi ini adalah perbedaan antara mengontrol, mengarahkan, dan membimbing. Mengontrol itu mudah—cukup dengan perintah. Mengarahkan sedikit lebih baik—memberi instruksi. Namun membimbing adalah level tertinggi, karena membutuhkan keteladanan, kesabaran, dan kesadaran penuh.

Membimbing berarti orang tua juga terus belajar. Tidak bisa hanya menyuruh tanpa memberi contoh. Tidak bisa hanya menuntut tanpa memahami.

Di sinilah tantangan terbesar parenting modern muncul. Di tengah kesibukan dan distraksi, terutama gadget, seringkali kehadiran orang tua menjadi “setengah”. Secara fisik ada, tapi secara emosi tidak sepenuhnya terhubung.

Padahal, anak sangat membutuhkan koneksi. Koneksi yang dibangun melalui percakapan hangat, sentuhan, dan kebersamaan sederhana.

Arah Diri: Bekal Penting Sejak Dini

Dalam sesi ini juga dibahas tentang pentingnya self-direction atau arahan diri. Banyak anak, bahkan hingga remaja dan dewasa, yang belum memiliki kemampuan ini. Mereka tidak benar-benar memahami apa yang mereka butuhkan, apa tujuan hidupnya, dan bagaimana mengambil keputusan.

Akar dari masalah ini seringkali sudah muncul sejak kecil—ketika anak tidak dilatih untuk mengenali dirinya sendiri.

Anak yang memiliki arahan diri akan lebih mandiri, lebih tangguh, dan tidak mudah terpengaruh lingkungan. Namun untuk mencapai itu, orang tua perlu membangun fondasi sejak dini.

Caranya? Dengan memberi ruang anak untuk berpikir, berdiskusi, dan mengambil keputusan sederhana. Bukan dengan selalu mengontrol atau memaksakan kehendak.

Regulasi Emosi Itu Dilatih, Bukan Dituntut

Regulasi emosi bukan kemampuan instan. Ia harus dilatih secara bertahap. Dalam praktiknya, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan di rumah:

Mulai dari mengenali emosi anak—membantu mereka memberi nama pada perasaan yang muncul. Lalu mengelola emosi dengan cara yang tepat, seperti menarik napas, berbicara, atau menenangkan diri. Dan yang tidak kalah penting, mengekspresikan emosi dengan cara yang baik dan tidak merugikan orang lain.

Ketika anak tantrum, jangan melabeli dirinya nakal. Bisa jadi ia belum tahu cara mengekspresikan emosinya. Di sinilah peran orang tua untuk hadir, bukan menghakimi.

Validasi perasaan anak, bantu ia tenang, lalu ajak refleksi. Dari sinilah anak belajar bahwa setiap emosi punya tempat, tapi juga punya batas.

Gadget, Lingkungan, dan Tantangan Zaman

Salah satu isu yang juga dibahas adalah pengaruh gadget terhadap emosi anak. Paparan berlebihan dapat membuat anak lebih mudah marah, sulit fokus, bahkan kehilangan daya juang.

Namun solusi bukan sekadar melarang. Orang tua perlu bijak mengelola—memberi batasan, mendampingi, dan yang terpenting, mengganti waktu layar dengan interaksi nyata.

Selain itu, lingkungan pergaulan juga menjadi faktor yang tidak bisa dikontrol sepenuhnya. Maka yang bisa dilakukan adalah memperkuat pondasi di rumah—dengan komunikasi terbuka, aturan yang jelas, dan kedekatan emosional.

Menjadi Orang Tua yang Terus Belajar

Menutup sesi, Ayah Bunda diajak untuk kembali pada satu kesadaran penting—tidak ada orang tua yang sempurna. Semua sedang belajar, bertumbuh, dan berproses.

Namun satu hal yang bisa diupayakan adalah terus memperbaiki diri. Karena perubahan pada orang tua, akan diikuti perubahan pada anak. Ketenangan bukan hanya membuat suasana rumah lebih damai, tapi juga menjadi investasi jangka panjang bagi masa depan anak. Karena pada akhirnya, anak tidak hanya butuh orang tua yang pintar, tapi orang tua yang hadir, tenang, dan mampu membimbing dengan hati.

Di akhir kegiatan, satu pesan terasa begitu kuat dan membekas:

Ketenangan orang tua adalah kekuatan pengasuhan. Dan dari ketenangan itulah, anak-anak belajar menjadi pribadi yang matang, tangguh, dan siap menghadapi masa depan.

Karena membesarkan anak bukan tentang menjadi sempurna—melainkan tentang terus belajar, bersama.*** (CM-MRT)