by admin admin | Jan 20, 2026 | Berita Utama, Edukasi, Kegiatan Siswa
Langit pada Senin pagi (19 Januari 2026) itu terasa istimewa. Bukan hanya karena cuacanya yang cerah, tetapi karena ada rasa penasaran yang berbinar di mata kakak shalih-shalihah SD Islam Bintang Juara. Hari itu, kelas 1 dan kelas 6 bersiap melakukan sebuah perjalanan belajar yang berbeda dari biasanya—bukan sekadar duduk di kelas, melainkan menjelajah alam semesta.
Melalui kegiatan Outing Class ke Planetarium & Observatorium Zubair Umar Al-Jailani, Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, anak-anak diajak mendekat pada ciptaan Allah yang begitu luas dan menakjubkan: langit dan seluruh isinya. Sebuah pengalaman belajar yang bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan rasa kagum, syukur, dan kesadaran akan kebesaran Sang Pencipta.
Belajar Sains dengan Cara yang Menghidupkan Rasa Ingin Tahu
Bagi SD Islam Bintang Juara, belajar sains bukan sekadar menghafal nama planet atau urutan tata surya. Sains adalah tentang mengamati, merasakan, bertanya, dan menemukan makna. Itulah mengapa kegiatan Outing Class ini dirancang sebagai pengalaman belajar langsung yang memberi kesan mendalam.
Planetarium & Observatorium Zubair Umar Al-Jailani dipilih karena menjadi ruang yang tepat untuk mengenalkan dunia astronomi secara nyata. Di tempat inilah, anak-anak dapat melihat, mendengar, dan merasakan bagaimana ilmu pengetahuan berpadu dengan keagungan ciptaan Allah.
Sejak langkah pertama memasuki area planetarium, kakak shalih-shalihah sudah disambut dengan suasana yang memicu rasa ingin tahu. Bangunan, alat-alat observasi, dan penjelasan awal dari pemandu membuat anak-anak semakin antusias mengikuti setiap rangkaian kegiatan.
1. Meneropong Langit: Pengalaman Tak Terlupakan Bersama Teleskop
Salah satu momen yang paling ditunggu adalah kesempatan meneropong benda langit menggunakan teleskop. Bagi banyak anak, ini adalah pengalaman pertama mereka melihat langit melalui alat observasi sungguhan.
Dengan bimbingan pemandu, kakak shalih-shalihah diajak memahami cara kerja teleskop, fungsi lensa, dan bagaimana alat ini membantu manusia mengamati benda-benda langit yang jaraknya sangat jauh dari bumi. Anak-anak bergantian mengintip melalui teleskop, wajah mereka penuh rasa takjub.
“Aku lihat cahaya terang!”
“Itu matahari ya?”
“MasyaAllah, ternyata langit luas sekali…”
Ucapan-ucapan polos itu menjadi bukti bahwa belajar langsung dari sumbernya mampu membangkitkan rasa kagum dan keingintahuan alami anak. Di momen ini, sains tidak lagi terasa abstrak—ia hadir nyata di hadapan mata.
2. Menonton Video Sistem Tata Surya: Belajar Visual yang Menguatkan Pemahaman
Setelah sesi observasi, kegiatan dilanjutkan dengan menonton video edukatif tentang sistem tata surya di ruang planetarium. Melalui visual yang menarik dan penjelasan yang mudah dipahami, anak-anak diajak menjelajah lebih jauh tentang matahari, planet-planet, serta fenomena alam yang terjadi di luar angkasa.
Video ini membantu anak memahami:
- posisi matahari sebagai pusat tata surya,
- perbedaan karakter setiap planet,
- serta keteraturan sistem yang Allah ciptakan dengan sangat sempurna.
Bagi kakak kelas 6, materi ini memperkuat konsep sains yang sudah mereka pelajari di sekolah. Sementara bagi kakak kelas 1, tayangan visual ini menjadi pengalaman awal yang menyenangkan untuk mengenal dunia luar yang begitu luas.
Outing Class Kelas 1: Pengenalan Project Based Learning
Kunjungan ke planetarium ini memiliki makna khusus bagi kakak shalih-shalihah kelas 1. Kegiatan ini menjadi Tahap Pengenalan Project Based Learning (PBL) dengan tema “Peristiwa Pagi, Siang, Sore, dan Malam”.
Di usia awal sekolah dasar, anak-anak masih belajar memahami konsep waktu dan perubahan yang terjadi dalam satu hari. Melalui Outing Class ini, mereka tidak hanya diberi penjelasan secara verbal, tetapi diajak melihat keterkaitan langsung antara matahari, cahaya, dan pergantian waktu.
Anak-anak mulai dikenalkan dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana:
- Mengapa pagi terasa terang?
- Kenapa sore langit berubah warna?
- Mengapa malam gelap dan muncul bulan serta bintang?
Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi pintu masuk bagi proses Project Based Learning, di mana anak akan diajak mengamati, berdiskusi, dan menyimpulkan berdasarkan pengalaman nyata.
Belajar Mengamati Alam Sejak Dini
Bagi kelas 1, pengalaman ini menjadi langkah awal untuk melatih keterampilan observasi. Anak-anak belajar bahwa peristiwa pagi, siang, sore, dan malam bukanlah hal yang terjadi begitu saja, melainkan bagian dari sistem alam yang teratur.
Dengan pendekatan ini, pembelajaran tidak berhenti di planetarium. Sepulang dari kegiatan, anak-anak akan diajak:
- mengamati langit di rumah,
- memperhatikan perubahan cahaya,
- dan menceritakan kembali apa yang mereka lihat dan rasakan.
Inilah esensi Project Based Learning: belajar yang berkelanjutan dan bermakna.
Kelas 6: Menguatkan Konsep dan Rasa Tanggung Jawab Belajar
Sementara itu, bagi kakak shalih-shalihah kelas 6, Outing Class ini menjadi sarana untuk menguatkan pemahaman sains sekaligus melatih sikap belajar yang lebih dewasa. Mereka tidak hanya menikmati kegiatan, tetapi juga diajak berpikir kritis dan reflektif.
Kelas 6 mulai memahami bahwa:
- ilmu pengetahuan berkembang melalui observasi dan penelitian,
- manusia diberi akal untuk mengkaji alam semesta,
- dan setiap penemuan seharusnya mendekatkan diri kepada Allah, bukan sebaliknya.
Melalui pengalaman ini, kakak kelas 6 belajar bahwa sains dan iman bukanlah dua hal yang terpisah, melainkan saling menguatkan.
Menumbuhkan Rasa Kagum dan Syukur kepada Allah
Salah satu tujuan utama dari kegiatan ini adalah menumbuhkan rasa kagum terhadap kebesaran Allah. Ketika anak-anak melihat luasnya langit, jauhnya benda-benda angkasa, dan keteraturan sistem tata surya, mereka diajak menyadari betapa kecilnya manusia di hadapan ciptaan-Nya.
Rasa kagum ini menjadi awal dari sikap:
- rendah hati,
- bersyukur,
- dan semangat untuk terus belajar.
Belajar sains bukan hanya tentang mengetahui, tetapi juga tentang merasakan kehadiran Allah dalam setiap ciptaan-Nya.
Outing Class sebagai Pengalaman Belajar Holistik
Outing Class ke Planetarium & Observatorium Zubair Umar Al-Jailan bukan sekadar kunjungan edukatif. Ia menjadi pengalaman belajar holistik yang mencakup:
- aspek kognitif melalui pemahaman sains,
- aspek afektif melalui rasa kagum dan syukur,
- serta aspek sosial melalui kebersamaan dan kedisiplinan selama kegiatan.
Anak-anak belajar mengikuti aturan, bergantian, mendengarkan penjelasan, dan menghargai lingkungan belajar di luar sekolah.
Belajar Tidak Selalu Harus di Dalam Kelas
Melalui kegiatan ini, SD Islam Bintang Juara kembali menegaskan bahwa belajar tidak selalu harus dilakukan di dalam kelas. Alam, lingkungan, dan tempat-tempat edukatif seperti planetarium adalah sumber belajar yang sangat kaya.
Dengan membawa anak keluar dari rutinitas kelas, sekolah memberi ruang bagi anak untuk:
- merasakan pengalaman baru,
- memperluas wawasan,
- dan menemukan bahwa belajar itu menyenangkan.
Menyalakan Mimpi dan Cita-Cita Sejak Dini
Siapa tahu, dari kunjungan sederhana ini, kelak akan tumbuh:
- ilmuwan,
- peneliti,
- atau generasi yang mencintai ilmu pengetahuan dan alam semesta.
Petualangan menjelajah sistem tata surya ini bukan hanya tentang hari ini, tetapi tentang menyalakan mimpi dan rasa ingin tahu yang akan terus hidup dalam diri kakak shalih-shalihah.
Penutup: Belajar dari Langit, Bertumbuh untuk Masa Depan
Melalui Outing Class ke Planetarium & Observatorium Zubair Umar Al-Jailan UIN Walisongo, kakak shalih-shalihah kelas 1 dan 6 mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna dan berkesan.
Dari meneropong benda langit, menonton video sistem tata surya, hingga mengenal konsep waktu dan peristiwa alam, anak-anak belajar bahwa alam semesta adalah ruang belajar yang tak terbatas.
Semoga petualangan ini menjadi pijakan awal bagi lahirnya generasi pembelajar yang:
- kritis dalam berpikir,
- kuat dalam iman,
- dan luas dalam wawasan.
Karena ketika anak-anak diajak mengenal langit, sejatinya mereka sedang diajak mengenal kebesaran Allah dan potensi diri mereka sendiri.***(CM-MRT)
by admin admin | Jan 7, 2026 | Berita Utama, Edukasi, Kegiatan Siswa
Belakangan ini, kasus bullying atau perundungan semakin sering terdengar di masyarakat. Mulai dari ejekan verbal, pengucilan sosial, hingga perundungan yang melibatkan media digital. Fenomena ini menjadi pengingat bagi semua pihak bahwa sekolah bukan hanya tempat belajar akademik, tetapi juga ruang penting untuk membentuk karakter, adab, dan kesehatan emosional anak-anak.
Kesadaran inilah yang menggugah SD Islam Bintang Juara untuk mengambil langkah preventif dan edukatif. Bukan menunggu masalah terjadi, melainkan mencegah sejak dini melalui pembelajaran yang tepat, kontekstual, dan menyentuh dunia anak. Salah satu ikhtiar tersebut diwujudkan melalui Kelas Inspirasi bersama Bunda Vivi, Psikolog, dengan fokus utama pada pencegahan bullying melalui penguatan adab berteman, regulasi emosi, dan literasi digital.
Kelas Inspirasi ini dirancang untuk menjangkau seluruh jenjang, dengan pendekatan yang disesuaikan dengan tahap perkembangan anak. Kegiatan dilaksanakan dalam dua sesi:
- Sesi 1: Selasa, 6 Januari 2026 untuk kelas 1–3
- Sesi 2: Rabu, 7 Januari 2026 untuk kelas 4–6
Dua hari yang penuh makna ini menjadi ruang belajar, refleksi, sekaligus penguatan nilai-nilai persahabatan yang sehat bagi kakak shalih-shalihah.
Bullying Berawal dari Konflik yang Tidak Terselesaikan
Dalam dunia anak-anak, konflik adalah hal yang wajar. Berebut mainan, berbeda pendapat, merasa tidak adil, atau tersinggung oleh perkataan teman merupakan bagian dari proses tumbuh kembang sosial. Namun, konflik yang tidak disikapi dengan tepat dan dilakukan berulang—baik oleh anak maupun oleh orang dewasa di sekitarnya—dapat berkembang menjadi perundungan.
Bullying sering kali tidak dimulai dari niat jahat, tetapi dari:
- emosi yang tidak terkelola,
- kurangnya keterampilan berkomunikasi,
- serta minimnya pemahaman tentang adab berteman.
Oleh karena itu, anak-anak perlu dibekali bukan hanya dengan larangan “jangan mengejek” atau “jangan memukul”, melainkan dengan pemahaman mendalam tentang bagaimana bersikap sebagai teman yang baik, bagaimana menyampaikan emosi, serta bagaimana merespons konflik secara sehat.
Sesi Kelas 1–3: Aku Sayang dan Peduli pada Teman
Pada Selasa, 6 Januari 2026, suasana sekolah terasa berbeda. Kakak shalih-shalihah kelas 1 hingga 3 berkumpul dengan penuh antusias. Sesi pertama Kelas Inspirasi ini mengangkat tema “Aku Sayang dan Peduli pada Teman”, tema yang sederhana namun sangat fundamental bagi anak usia awal SD.
Bunda Vivi Psikolog menyadari bahwa anak-anak kelas 1–3 masih berada pada fase belajar mengenali diri dan orang lain. Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan pun tidak bersifat ceramah, melainkan melalui gerak, lagu, dan interaksi yang menyenangkan.
Melalui lagu dan aktivitas sederhana, kakak shalih-shalihah diajak mengenal adab-adab berteman, seperti:
- menyapa dengan ramah,
- bergantian saat bermain,
- meminta maaf ketika melakukan kesalahan,
- serta membantu teman yang sedang kesulitan.
Dengan bahasa yang mudah dipahami anak, Bunda Vivi menekankan bahwa menyayangi teman bukan hanya lewat kata-kata, tetapi juga melalui sikap dan perbuatan sehari-hari. Anak-anak diajak merasakan bahwa memiliki teman itu menyenangkan ketika kita saling peduli dan menghargai.
Gelak tawa, gerakan tangan, dan nyanyian ceria mengisi sesi ini. Namun di balik keseruannya, tersimpan pesan penting: setiap anak berharga dan layak diperlakukan dengan baik.

Menanamkan Adab Berteman Sejak Dini
Pada usia kelas 1–3, anak-anak sedang belajar membentuk konsep tentang benar dan salah dalam hubungan sosial. Di fase ini, keteladanan dan pembiasaan menjadi kunci utama.
Bunda Vivi mengajak kakak shalih-shalihah untuk memahami bahwa:
- mengejek bisa melukai perasaan,
- mendorong teman bukanlah solusi,
- dan diam saat melihat teman disakiti bukanlah sikap yang benar.
Anak-anak dilatih untuk peka terhadap perasaan teman, meskipun masih dalam bentuk sederhana. Dengan pendekatan yang hangat, mereka belajar bahwa konflik bisa diselesaikan dengan bicara, bukan dengan menyakiti.
Langkah kecil ini menjadi fondasi penting dalam upaya pencegahan bullying sejak usia dini.
Sesi Kelas 4–6: Cerdas Mengelola Emosi dan Literasi Digital dalam Pertemanan
Berbeda dengan sesi pertama, Kelas Inspirasi untuk kelas 4–6 pada Rabu, 7 Januari 2026 hadir dengan nuansa yang lebih reflektif. Tema yang diangkat adalah “Cerdas Mengelola Emosi dan Literasi Digital dalam Pertemanan”, menyesuaikan dengan tantangan sosial anak usia akhir SD.
Pada fase ini, anak-anak mulai:
- lebih sadar terhadap penilaian teman,
- lebih intens dalam pergaulan,
- serta mulai bersentuhan dengan dunia digital secara lebih luas.
Bunda Vivi mengajak kakak shalih-shalihah mengenali ragam emosi yang sering muncul dalam pertemanan: marah, sedih, kecewa, cemburu, hingga rasa tidak dihargai. Anak-anak diajak untuk bercermin pada diri sendiri.
Apakah ketika marah, emosinya meledak-ledak?
Apakah ketika sedih dan kecewa, perasaannya lama sekali hilang?
Pesan penting yang disampaikan adalah:
marah boleh, sedih boleh, kecewa juga boleh—asal tahu cara mengelolanya dengan tepat.

Mengelola Emosi agar Tidak Menyakiti
Dalam sesi ini, Bunda Vivi menekankan bahwa emosi bukanlah musuh. Emosi justru menjadi sinyal yang membantu manusia memahami apa yang sedang terjadi di dalam dirinya. Masalah muncul ketika emosi:
- tidak dikenali,
- dipendam terlalu lama,
- atau diekspresikan secara tidak tepat.
Kakak kelas 4–6 diajak mempelajari cara-cara sederhana untuk menenangkan diri, seperti:
- menarik napas perlahan,
- mengambil jeda sebelum bereaksi,
- serta menyampaikan perasaan dengan kata-kata yang baik.
Dengan cara ini, anak-anak belajar bahwa emosi yang terkelola dengan baik akan melahirkan pertemanan yang sehat, sementara emosi yang meledak-ledak berisiko melukai diri sendiri dan orang lain.
Literasi Digital sebagai Bagian dari Pencegahan Bullying
Salah satu pembahasan penting dalam sesi kedua adalah literasi digital. Bunda Vivi mengajak kakak shalih-shalihah menyadari bahwa pertemanan hari ini tidak hanya terjadi di dunia nyata, tetapi juga di dunia maya.
Komentar, pesan singkat, emoji, dan unggahan di media sosial bisa menjadi sumber kebahagiaan—namun juga bisa menjadi sarana perundungan jika tidak digunakan dengan bijak.
Anak-anak diajak memahami bahwa:
- kata-kata di dunia digital tetap memiliki dampak emosional,
- menyebarkan pesan tanpa berpikir bisa melukai orang lain,
- dan tidak semua hal perlu dibagikan atau ditanggapi.
Literasi digital ini menjadi bekal penting agar kakak shalih-shalihah mampu bersikap bijak, empatik, dan bertanggung jawab dalam berinteraksi secara online.
Sekolah sebagai Ruang Aman untuk Bertumbuh
Melalui Kelas Inspirasi ini, SD Islam Bintang Juara menegaskan komitmennya untuk menjadikan sekolah sebagai ruang aman, tempat anak-anak dapat belajar, berekspresi, dan bertumbuh tanpa rasa takut.
Pencegahan bullying bukanlah tugas satu pihak saja. Ia membutuhkan:
- keterlibatan sekolah,
- dukungan orang tua,
- serta kesadaran anak-anak itu sendiri.
Dengan membekali kakak shalih-shalihah pemahaman tentang adab berteman, regulasi emosi, dan literasi digital, sekolah berharap anak-anak tidak hanya mampu menghindari perundungan, tetapi juga menjadi agen kebaikan di lingkungannya.
Menjadi Teman yang Baik adalah Keterampilan Hidup
Pada akhirnya, Kelas Inspirasi bersama Bunda Vivi Psikolog bukan sekadar kegiatan tematik. Ia adalah bagian dari proses panjang membentuk karakter anak agar:
- mampu memahami dirinya,
- menghargai orang lain,
- dan menyelesaikan konflik dengan cara yang bermartabat.
Menjadi teman yang baik adalah keterampilan hidup yang perlu dilatih sejak dini. Ketika anak-anak belajar mengelola emosi dan bersikap empatik, mereka tidak hanya terhindar dari perilaku bullying, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang kuat secara emosional, sehat secara sosial, dan berakhlak mulia.
Melalui ikhtiar ini, SD Islam Bintang Juara berharap setiap kakak shalih-shalihah dapat tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih, saling peduli, dan saling menjaga—karena sekolah yang aman adalah pondasi bagi masa depan yang lebih baik.***
by admin admin | Dec 19, 2025 | Kegiatan Siswa
Liburan sekolah sering kali identik dengan waktu istirahat, bermain gawai, atau bepergian. Namun di SD Islam Bintang Juara, liburan justru dimaknai sebagai momen berharga untuk menumbuhkan karakter, kreativitas, dan kepemimpinan anak. Melalui rangkaian kegiatan Leadership Journey, kakak shalih-shalihah belajar bahwa liburan bisa tetap seru sekaligus bermakna.
Menggali Ide Liburan Inspiratif dari Kegiatan Leadership Journey
Perlu Ayah Bunda ketahui, Leadership Journey adalah istilah khusus untuk menamai class meeting di SD Islam Bintang Juara. Pada akhir Semester 1 TP. 2025-2026 ini, kegiatan Leadership Journey dilaksanakan selama satu pekan penuh, mulai Senin, 15 Desember hingga Jumat, 19 Desember 2025. Selama periode tersebut, siswa mengikuti beragam aktivitas yang dirancang untuk melatih kemandirian, kepedulian, kreativitas, dan keberanian mencoba hal baru.
Kabar baiknya, seluruh rangkaian kegiatan Leadership Journey ini bisa banget dijadikan ide pengisi waktu libur kakak shalih-shalihah di rumah, lho! Yuk, intip inspirasinya, Ayah Bunda!
1. Crafting: Belajar Berkarya, Belajar Menghargai
Salah satu kegiatan favorit dalam Leadership Journey adalah crafting, seperti membuat gantungan kunci dan gelang. Kegiatan ini dilakukan dalam rangka menyiapkan hadiah sederhana namun penuh makna untuk Hari Ibu.
Di rumah, Ayah Bunda bisa mengajak kakak membuat kerajinan tangan dari bahan sederhana—benang, manik-manik, atau kertas warna. Selain melatih motorik halus dan kreativitas, crafting juga mengajarkan anak tentang makna memberi, usaha, dan rasa syukur. Hadiah buatan sendiri akan terasa jauh lebih berharga karena dibuat dengan cinta.
2. Membatik: Mengenal Budaya, Menumbuhkan Kebanggaan
Leadership Journey juga menghadirkan kegiatan membatik, sebagai bentuk pengenalan kearifan lokal. Anak-anak belajar bahwa batik bukan sekadar kain bermotif, tetapi warisan budaya yang patut dijaga.
Ayah Bunda bisa mengadaptasinya di rumah dengan aktivitas membatik sederhana, seperti teknik jumputan atau menggambar motif batik di kertas. Lewat kegiatan ini, kakak belajar menghargai budaya Indonesia sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas bangsa.
3. Bintang Juara Bersinar: Panggung Kecil, Percaya Diri Besar
Dalam kegiatan Bintang Juara Bersinar, kakak shalih-shalihah diajak mengekspresikan diri melalui pertunjukan sederhana. Mulai dari bernyanyi, membaca puisi, bercerita, hingga menari.
Ide ini sangat cocok diterapkan di rumah. Ajak seluruh anggota keluarga membuat pagelaran mini. Setiap anggota keluarga bisa unjuk bakat, lalu saling memberi apresiasi. Dari sini, anak belajar percaya diri, berani tampil, dan menghargai kelebihan orang lain.
4. Bintang Juara Mengajar: Ilmu Akan Tumbuh Saat Dibagikan
Leadership Journey kali ini juga menghadirkan kegiatan Bintang Juara Mengajar, di mana kakak SD mengajarkan metode Kauny kepada adik-adik.
Di rumah, Ayah Bunda bisa mengajak kakak melakukan recalling metode Kauny, lalu mengajarkannya kepada adik, sepupu, atau teman bermain. Aktivitas ini melatih kepemimpinan, kesabaran, kemampuan komunikasi, sekaligus memperkuat pemahaman anak terhadap materi yang sudah dipelajari.
5. Jumat Berseri: Bersih, Sehat, dan Rapi Bersama Keluarga
Program Jumat Berseri (Bersih, Sehat, dan Rapi) menjadi penutup yang sederhana namun bermakna. Anak-anak diajak menjaga kebersihan lingkungan dan diri sendiri.
Di rumah, kegiatan ini bisa diadopsi menjadi agenda bersih-bersih bersama seluruh anggota keluarga. Selain menanamkan tanggung jawab, kegiatan ini juga mempererat kebersamaan dan menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Liburan yang Menumbuhkan Karakter
Leadership Journey SD Islam Bintang Juara mengajarkan bahwa liburan bukan sekadar jeda dari belajar, melainkan kesempatan untuk belajar dengan cara yang berbeda. Melalui kegiatan sederhana namun bermakna, anak-anak diajak tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, kreatif, peduli, dan berani mencoba.
Nah, ada ide lain, Ayah Bunda? Liburan kali ini, yuk ciptakan momen berkesan di rumah—karena ketika anak diberi ruang untuk tumbuh, liburan pun menjadi perjalanan belajar yang tak terlupakan*** (CM-MRT)
by admin admin | Dec 18, 2025 | Kegiatan Siswa
Suasana Kamis pagi, 18 Desember 2025, terasa berbeda di lingkungan PAUD Islam Bintang Juara. Tawa ceria adik-adik KB–TK berpadu dengan wajah antusias kakak-kakak dari SD Islam Bintang Juara. Hari itu bukan sekadar hari belajar biasa, melainkan momen istimewa dalam rangkaian Bintang Juara Mengajar, sebuah program yang dirancang untuk menumbuhkan jiwa kepemimpinan dan semangat menebar manfaat sejak dini.
Dengan tema “Menjadi Pemimpin Muslim yang Menebar Manfaat”, kegiatan ini menjadi bagian penting dari perjalanan pembentukan karakter kakak-kakak SD. Mereka tidak hanya belajar memimpin, tetapi juga mempraktikkan nilai kepemimpinan secara nyata: berbagi ilmu, melayani dengan hati, dan bersabar dalam membersamai adik-adik yang masih belajar mengenal dunia.
Persiapan Panjang Menuju Hari Bermakna
Jauh sebelum hari pelaksanaan, kakak-kakak SD telah melalui proses persiapan yang tidak singkat. Selama kurang lebih satu bulan, mereka berlatih bersama Bu Laila, mempelajari cara mengajar yang tepat, memahami karakter anak usia dini, serta memperdalam materi yang akan disampaikan.
Materi utama yang diajarkan adalah metode Kauny untuk QS Al-Fatihah dan QS Al-Ashr, sebuah metode pembelajaran Al-Qur’an yang memadukan gerakan, visualisasi, dan makna ayat sehingga lebih mudah dipahami anak-anak. Bagi kakak SD, ini bukan hanya tentang menghafal, tetapi juga tentang bagaimana menyampaikan dengan bahasa yang sederhana dan penuh kasih.
Latihan demi latihan dilakukan dengan penuh kesungguhan. Kakak belajar mengatur suara, ekspresi, serta kesabaran—karena mengajar adik PAUD tentu membutuhkan pendekatan yang berbeda.
Bintang Juara Mengajar: Belajar Mengajar, Belajar Bersabar
Pada hari H, kakak-kakak SD dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil untuk mendampingi adik-adik KB–TK. Dengan wajah ramah dan sikap lembut, mereka mulai memandu pembelajaran Al-Qur’an menggunakan metode Kauny.
Pemandangan yang menghangatkan hati pun terlihat: kakak membimbing tangan adik saat mengikuti gerakan, mengulang ayat dengan nada lembut, serta memberi semangat ketika adik mulai kehilangan fokus. Tidak ada nada tinggi, tidak ada paksaan—yang ada hanyalah kesabaran dan keteladanan.
Alhamdulillah, kakak-kakak SD mampu menjalankan peran mereka dengan sangat baik. Mereka tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga menjadi contoh akhlak, adab, dan sikap seorang Muslim yang peduli pada sesama.
Menebar Manfaat, Menumbuhkan Kepemimpinan
Kegiatan Bintang Juara Mengajar bukan hanya memberi manfaat bagi adik-adik PAUD, tetapi juga membawa dampak besar bagi kakak-kakak SD. Dari kegiatan ini, mereka belajar banyak hal berharga, antara lain:
- Melatih kepemimpinan berbasis keteladanan
- Mengasah kesabaran dan empati
- Meningkatkan kepercayaan diri dalam berbicara dan membimbing
- Memahami bahwa ilmu akan semakin bermakna ketika dibagikan
- Menyadari bahwa menjadi pemimpin bukan tentang memerintah, tetapi tentang melayani dan memberi manfaat
Melalui pengalaman langsung ini, kakak SD belajar bahwa kepemimpinan sejati adalah ketika kehadirannya membawa kebaikan bagi orang lain, sekecil apa pun bentuknya.
Bintang Juara Mengajar menjadi bukti bahwa proses membentuk pemimpin Muslim tidak harus menunggu dewasa. Ia bisa dimulai dari ruang kelas sederhana, dari interaksi hangat dengan adik-adik, dan dari niat tulus untuk menebar manfaat. Dari sinilah, langkah-langkah kecil menuju pemimpin masa depan yang berakhlak dan berdampak mulai ditanamkan.*** (CM-MRT)
by admin admin | Dec 16, 2025 | Kegiatan Siswa
Di tengah padatnya aktivitas belajar, ada satu momen istimewa yang menjadi ruang jeda sekaligus ruang makna bagi para siswa Bintang Juara. Selasa, 16 Desember 2025, menjadi hari penuh warna melalui kegiatan “Eksplorasi Kearifan Lokal bersama Batik Salma”, yang merupakan bagian dari rangkaian Leadership Journey Semester 1.
Sejak pagi, suasana sekolah terasa berbeda. Aroma malam batik, kain putih yang terbentang, serta canting-canting kecil di tangan anak-anak menghadirkan pengalaman belajar yang tidak biasa. Hari itu, siswa tidak hanya belajar tentang budaya, tetapi juga menyelami nilai kepemimpinan melalui proses, ketekunan, dan rasa bangga terhadap warisan bangsa.
Batik sebagai Warisan Budaya Bernilai Tinggi
Sebelum praktik dimulai, siswa mendapatkan pengenalan tentang batik bersama Bu Endang dan Tim Batik Salma. Batik dijelaskan sebagai karya seni warisan leluhur Indonesia yang dibuat dengan teknik perintangan warna menggunakan malam (lilin), dan telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia.
Anak-anak juga dikenalkan dengan beberapa jenis batik, antara lain:
- Batik Tulis, dibuat secara manual menggunakan canting, membutuhkan ketelitian dan kesabaran tinggi.
- Batik Cap, menggunakan stempel khusus untuk mempercepat proses pembuatan motif.
- Batik Jumputan, teknik ikat celup yang lebih sederhana dan menyenangkan, sangat cocok untuk anak-anak usia awal.
Pemaparan ini membuka wawasan siswa bahwa setiap motif batik memiliki cerita, filosofi, dan nilai kehidupan.
Pembagian Lokasi, Pembelajaran yang Terstruktur
Agar kegiatan berjalan optimal dan nyaman, praktik membatik dibagi ke beberapa lokasi sesuai jenjang kelas:
1. Pengenalan Batik
Kegiatan pengenalan batik berlangsung di Connecting Lantai 2 ruang kelas 4A, 5, dan 6, dipandu langsung oleh Bu Endang dari Batik Salma.
2. Praktik Membatik Kelas 1 dan 2
Setelah mendapat pemaparan singkat, kakak kelas 1 dan 2 menuju Connecting Lantai 1 untuk praktik membatik dengan teknik jumputan. Tangan-tangan kecil itu dengan penuh antusias mengikat kain, memilih warna, dan menunggu hasilnya dengan rasa penasaran.
3. Praktik Membatik Kelas 3
Sementara itu, kakak kelas 3 melaksanakan praktik membatik di Ruang Kelas 3A dan 3B Lantai 1. Mereka mulai belajar proses yang lebih detail, mengenal pola, dan memahami tahapan membatik secara runtut.
4. Praktik Membatik Kelas 4–6
Di Connecting Lantai 2, kakak kelas 4 hingga 6 mendapat tantangan lebih tinggi: batik tulis menggunakan canting. Dengan penuh konsentrasi, mereka menuangkan malam mengikuti motif yang telah ditentukan. Proses ini melatih kesabaran, ketelitian, dan fokus—nilai penting dalam kepemimpinan.
Lebih dari Sekadar Membatik
Kegiatan ini dirancang tidak hanya sebagai sarana belajar, tetapi juga:
- Refreshing yang bermanfaat, memberi ruang ekspresi dan kegembiraan.
- Melestarikan kearifan lokal, agar budaya tidak hanya dikenang, tetapi dialami langsung.
- Menumbuhkan rasa bangga, sehingga siswa mencintai dan percaya diri menggunakan batik sebagai identitas bangsa.
Melalui kegiatan ini, siswa belajar bahwa kepemimpinan tidak selalu tentang memimpin orang lain, tetapi juga tentang menghargai proses, menjaga warisan, dan bertanggung jawab terhadap nilai budaya.
Mengajak Orang Tua Ikut Belajar Batik
Bagi Ayah dan Bunda yang ingin mengenal lebih dekat dunia batik, Batik Salma Semarang membuka kesempatan untuk belajar langsung di kampung batik:
Jl. Malon, Gunungpati, Kec. Gn. Pati, Kota Semarang, Jawa Tengah 50229.
Eksplorasi kearifan lokal ini menjadi bukti bahwa pembelajaran bermakna lahir dari pengalaman nyata. Dari kain putih yang polos, anak-anak belajar memberi makna—seperti perjalanan mereka menumbuhkan karakter dan kepemimpinan sejak dini. Karena mencintai budaya adalah bagian dari mencintai jati diri bangsa.*** (CM-MRT)
by admin admin | Dec 3, 2025 | Kegiatan Siswa
Belajar tidak selalu tentang duduk rapi di kelas dan mengerjakan soal di atas kertas. Pada Rabu, 3 Desember 2025, kakak-kakak kelas 6 SD Islam Bintang Juara merasakan pengalaman belajar yang berbeda, menantang, dan penuh makna melalui kegiatan Sumatif PJOK Inspiratif: Belajar Descending bersama Atlet Nasional di Wall Climbing Unwahas.
Sejak pagi, wajah antusias bercampur tegang tampak jelas. Dinding tinggi dengan tali-tali pengaman berdiri kokoh di hadapan mereka. Hari itu bukan sekadar ujian, tetapi menjadi ruang pembuktian keberanian, kemandirian, dan kepercayaan diri.
Sumatif PJOK Inspiratif: Dari Teori ke Praktik Nyata
Sebelum terjun langsung ke arena wall climbing, kakak shalih-shalihah telah dibekali pengetahuan teori di kelas. Mereka mempelajari berbagai istilah penting dalam olahraga panjat tebing, seperti tali karmentel, carabiner, eight figure, webbing, harness, hingga teknik ascending dan descending.
Teori tersebut tidak berhenti sebagai hafalan. Melalui kegiatan sumatif ini, kakak diajak membuktikan pemahaman mereka dalam praktik nyata. Inilah wujud pembelajaran yang autentik, ketika pengetahuan diuji melalui pengalaman langsung.
Mengenakan Harness, Menguatkan Mental
Satu per satu kakak kelas 6 mengenakan harness dengan bantuan instruktur dan atlet nasional. Tali pengaman dipasang, carabiner dikaitkan, dan alat descending dipastikan terpasang dengan benar. Di titik ini, jantung mulai berdegup lebih kencang.
Tantangan utama pun dimulai: melakukan descending dari atas dinding turun ke bawah.
Beberapa kakak tampak mantap melangkah. Namun ada pula yang ragu, kakinya gemetar, bahkan meneteskan air mata. Rasa takut itu nyata. Tapi yang lebih nyata adalah keberanian mereka untuk tetap mencoba.
Dengan arahan atlet dan dukungan guru, kakak-kakak belajar mengatur napas, memercayai alat keselamatan, dan yang terpenting—memercayai diri sendiri. MasyaAllah, semua kakak berhasil menuntaskan tantangan descending hingga menyentuh tanah dengan senyum lega dan bangga.
Guru Ikut Turun, Semangat Makin Naik
Kegiatan ini semakin seru karena bukan hanya siswa yang mencoba. Bu Fia, Pak Aria, dan Bu Nisa turut mengenakan harness dan menjajal teknik descending. Kehadiran guru sebagai peserta membuat suasana semakin hangat dan membangun keberanian kakak-kakak.
Ketika melihat guru mereka juga berani mencoba, rasa takut kakak perlahan berubah menjadi motivasi. Belajar hari itu benar-benar terasa setara: guru dan murid sama-sama belajar, sama-sama menantang diri.
Lebih dari Sekadar Nilai PJOK
Sumatif PJOK ini bukan hanya tentang keterampilan olahraga. Melalui wall climbing, kakak kelas 6 belajar banyak hal penting:
- Keberanian menghadapi rasa takut
- Kemandirian dalam mengambil keputusan
- Kepercayaan diri saat menyelesaikan tantangan
- Komunikasi dan kepatuhan terhadap instruksi keselamatan
- Pengalaman ini menjadi bekal berharga bagi kakak-kakak dalam menghadapi tantangan yang lebih besar di masa depan.
Pembelajaran Bermakna yang Membekas
Belajar descending di ketinggian mengajarkan bahwa setiap anak punya rasa takut, tetapi juga punya potensi untuk menaklukkannya. Dengan pendampingan yang tepat dan lingkungan yang aman, anak mampu tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan percaya diri.
Sumatif PJOK Inspiratif ini menjadi bukti bahwa pembelajaran yang bermakna akan selalu dikenang. Bukan karena nilainya semata, tetapi karena proses, perjuangan, dan keberanian yang dilalui bersama.
MasyaAllah, hari itu bukan hanya tentang turun dari dinding, tetapi tentang naik kelas dalam keberanian dan karakter 🌟*** (CM-MRT)