Langkah-langkah kecil itu berjalan perlahan memasuki ruangan. Wajah-wajah penuh harap tampak dari para kakak shalih dan shalihah yang hari itu mengenakan pakaian serba putih dengan selempang istimewa berwarna hitam dengan hiasan emas bertuliskan “Khotmil Quran SD Islam Bintang Juara”. Di belakangnya, lantunan rebana dari tim Rebana An Najma Senior mengiringi suasana menjadi semakin khidmat.
Bukan sekadar acara seremonial. Bukan hanya tentang tampil di depan panggung. Tetapi tentang perjalanan panjang yang penuh air mata, murojaah, rasa lelah, semangat, dan doa-doa yang diam-diam dipanjatkan orang tua setiap malam.
Itulah suasana Puncak Tasmi’ SD Islam Bintang Juara Tahun Pelajaran 2025–2026.
Tahun ini, sebanyak 15 kakak shalih dan 15 kakak shalihah berhasil mencapai tahap Puncak Tasmi’. Namun satu kakak shalihah terpaksa belum bisa bergabung karena sedang sakit tifus. Meski demikian, semangat dan doa tetap mengalir untuk kesembuhannya.
Karena dalam perjalanan menghafal Al-Qur’an, setiap proses memiliki nilai perjuangan yang besar.
Contents
Puncak Tasmi’ Dibuka dengan Lantunan yang Menenangkan Hati
Kegiatan dimulai dengan pembukaan oleh dua MC, Bu Shilvi dan Bu Ulya, yang menyambut para tamu undangan, guru, dan orang tua dengan hangat.
Acara kemudian dilanjutkan dengan tilawah dan sari tilawah Surat Al-Muzammil yang dibacakan oleh Bu Ulfa. Ayat demi ayat yang dilantunkan seakan menjadi pengingat bahwa Al-Qur’an bukan sekadar untuk dihafal, tetapi juga untuk dicintai dan dijaga sepanjang hayat.
Tak lama kemudian, peserta Puncak Tasmi’ memasuki ruangan dengan penuh percaya diri. Iringan rebana membuat suasana terasa syahdu. Banyak ayah bunda tampak mengabadikan momen itu sambil menahan haru.
Prosesi Khotmil Quran yang Menggetarkan
Salah satu momen paling bermakna dalam kegiatan ini adalah prosesi Khotmil Quran.
Dipimpin oleh Pak Ali, kegiatan diawali dengan pembacaan hadhoroh, kemudian seluruh peserta bersama-sama membaca Surat Ad-Dhuha hingga An-Naas. Suara anak-anak yang membaca ayat suci Al-Qur’an secara serempak membuat ruangan terasa begitu menenangkan.
Tak sedikit orang tua yang tampak menundukkan kepala sambil menyeka air mata. Karena bagi banyak ayah bunda, mendengar anaknya membaca Al-Qur’an dengan lancar adalah hadiah yang tidak bisa diukur dengan apa pun.
Prosesi kemudian ditutup dengan doa khotmil Quran yang dipimpin oleh Pak Ali. Dalam doa tersebut, dipanjatkan harapan agar anak-anak senantiasa dijaga hatinya, dimudahkan menjaga hafalan, serta tumbuh menjadi generasi pecinta Al-Qur’an.
Sambung Ayat yang Menegangkan Sekaligus Membanggakan
Suasana yang awalnya haru berubah menjadi penuh antusias ketika memasuki sesi sambung ayat.
Panitia telah menyiapkan lintingan berisi potongan ayat Al-Qur’an. Tamu undangan dan orang tua diminta mengambil salah satu lintingan, lalu membacakan ayat tersebut. Setelah itu, peserta yang mampu melanjutkan ayat diminta mengangkat tangan dan meneruskan hingga lima ayat berikutnya.
Ruangan mendadak penuh semangat. Beberapa peserta mengangkat tangan dengan cepat. Ada yang tampak berpikir sejenak sebelum melanjutkan ayat. Ada pula yang dengan mantap menyambung tanpa ragu. Momen ini menjadi bukti bahwa hafalan Al-Qur’an bukan hanya hasil sekali dua kali belajar. Dibutuhkan murojaah, disiplin, dan pembiasaan setiap hari.
Di balik keberanian anak-anak itu, ada perjuangan panjang yang sering kali tidak terlihat. Ada waktu bermain yang dikurangi untuk murojaah. Ada rasa malas yang harus dilawan. Ada ayah bunda dan guru yang terus mendampingi dengan sabar.
Sungkeman yang Membuat Banyak Mata Berkaca-Kaca
Namun puncak keharuan benar-benar terasa ketika memasuki sesi sungkeman.
Satu per satu peserta turun dari panggung menuju tempat duduk orang tua mereka. Anak-anak itu lalu bersimpuh, menyalami tangan ayah dan bunda, meminta doa restu, lalu dipeluk erat.
Beberapa anak tampak menangis. Orang tua pun tak kuasa menahan haru. Pelukan itu terasa lebih dari sekadar ucapan selamat. Ada rasa syukur. Ada rasa bangga. Ada doa-doa yang tidak terucap lewat kata-kata.
Momen sungkeman ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan anak menghafal Al-Qur’an tidak pernah lahir dari perjuangan anak saja. Di belakangnya ada keluarga yang ikut bertumbuh bersama proses itu.
Karena sesungguhnya menghafal Al-Qur’an bukan perjalanan singkat. Ia adalah perjalanan hati.
Bagi Ayah Bunda yang terlewat menonton live Puncak Tasmi, masih bisa menyimaknya pada link berikut:
Tasmi’ Bukan Akhir, Tetapi Awal Perjalanan
Dalam sesi pesan-pesan bermakna, Kepala SD Islam Bintang Juara, Nur Shofwatin Ni’mah, S.Pd., Gr., menyampaikan bahwa Puncak Tasmi’ bukanlah garis akhir. Justru inilah awal perjalanan anak-anak untuk menjaga kedekatan dengan Al-Qur’an. Beliau mengingatkan bahwa tantangan terbesar bukan saat menghafal, tetapi saat menjaga hafalan agar tetap hidup dalam keseharian.
Senada dengan itu, Ketua Yayasan Dewi Sartika, Dyah Indah Noviyani, S.Psi., M.Psi., Psikolog, juga menegaskan pentingnya peran orang tua dalam mendampingi anak menjaga hafalan.
Anak-anak tetap membutuhkan suasana rumah yang dekat dengan Al-Qur’an. Tetap membutuhkan teladan. Tetap membutuhkan apresiasi. Dan tetap membutuhkan orang tua yang membersamai proses mereka.
Sementara itu, Dewan Pembina Yayasan Dewi Sartika, Prof. Dr. Hj. Esmi Warassih Puji Rahayu, S.H., M.S., menyampaikan bahwa nikmat Al-Qur’an adalah nikmat besar yang harus disyukuri. Beliau berharap anak-anak tidak hanya menjadi penghafal, tetapi juga tumbuh dengan adab, akhlak, dan kecintaan terhadap isi Al-Qur’an.
Ketiga tokoh tersebut memiliki benang merah pesan yang sama:
- Tasmi’ bukan akhir perjalanan.
- Tasmi’ adalah awal anak belajar mencintai Al-Qur’an sepanjang hidupnya.
Kisah Jatuh Bangun Ahmad Nadhif Ar Rayyan
Salah satu bagian paling menginspirasi dalam kegiatan ini datang dari perwakilan peserta Puncak Tasmi’, Ahmad Nadhif Ar Rayyan (Kelas 6).
Dengan suara tenang, Nadhif menceritakan bahwa dirinya pernah gagal mengikuti Puncak Tasmi’ pada tahun sebelumnya. Saat itu ia merasa sedih. Kecewa. Bahkan sempat merasa tidak percaya diri.
Namun dari kegagalan itu, Nadhif memilih belajar memperbaiki prosesnya. Ia mulai membuat jurnal harian hafalan Al-Qur’an. Menata jadwal murojaah. Mencatat target hafalan setiap hari.
Dan perlahan, kebiasaan kecil itu membantunya lebih disiplin menjaga hafalan. Hingga akhirnya tahun ini, ia berhasil lulus tasmi’ dan berdiri di panggung Puncak Tasmi’.
Kisah Nadhif menjadi pengingat berharga bagi anak-anak bahwa kegagalan bukan alasan untuk berhenti. Kadang Allah sedang mengajarkan proses bertumbuh yang lebih kuat.
Pesan Orang Tua: Jaga Adab Bersama Al-Qur’an
Acara kemudian ditutup dengan pesan dari perwakilan orang tua peserta yang diwakili oleh orang tua Kak Hasna. Dengan penuh rasa syukur, beliau menyampaikan terima kasih kepada seluruh guru yang telah mendampingi proses anak-anak selama ini.
Beliau juga mengingatkan bahwa menjaga adab sama pentingnya dengan menjaga hafalan. Karena Al-Qur’an tidak hanya dihafal oleh lisan, tetapi juga harus tercermin dalam sikap dan perilaku sehari-hari.
Pesan itu terasa begitu dalam. Sebab tujuan utama pendidikan Al-Qur’an bukan sekadar banyaknya hafalan, melainkan bagaimana Al-Qur’an hidup dalam akhlak anak-anak.
Menghafal Al-Qur’an adalah Perjalanan yang Harus Dijaga Bersama
Puncak Tasmi’ SD Islam Bintang Juara tahun ini bukan hanya meninggalkan dokumentasi indah. Tetapi juga meninggalkan pelajaran berharga tentang kesabaran, proses, dan cinta terhadap Al-Qur’an.
Di tengah dunia yang semakin sibuk dan penuh distraksi, anak-anak ini belajar menyediakan ruang dalam hatinya untuk Al-Qur’an. Dan itu bukan sesuatu yang mudah. Karena itulah mereka membutuhkan rumah yang mendukung. Guru yang membersamai. Dan orang tua yang terus menguatkan langkah mereka.
Semoga Puncak Tasmi’ ini menjadi awal perjalanan panjang bagi kakak shalih dan shalihah untuk terus menjaga hafalan, memperbaiki adab, dan tumbuh menjadi generasi yang dekat dengan Al-Qur’an. Karena sejatinya, Al-Qur’an bukan hanya untuk dihafal. Tetapi untuk dijaga, dicintai, dan diamalkan sepanjang kehidupan.*** (CM-MRT)