fbpx

Setelah di hari pertama kakak shalih-shalihah diajak Senam Sehat Juara dan Membuat Mading Kemerdekaan, pada Pekan Kemerdekaan hari kedua kakak shalih-shalihah diberi tantangan untuk mengikuti beragam festival. Ada tiga festival yang diselenggarakan, yaitu Festival Musikalisasi Puisi, Pidato Kemerdekaan dan Membaca Teks Proklamasi.

Rangkaian Pekan Kemerdekaan Hari Kedua

Masing-masing kelas harus mengirim perwakilannya. Dikarenakan ketiga festival tersebut dilangsungkan dalam waktu yang bersamaan di tiga tempat berbeda, maka perwakilan tiap kelas haruslah berbeda orangnya. Seperti apakah keseruannya? Yuk, baca artikel ini untuk mengetahuinya, Ayah Bunda.

Festival Musikalisasi Puisi

Secara arti bahasa, musikalisasi puisi adalah puisi yang dinyanyikan. Tetapi pada festival kali ini, tantangannya lebih disederhanakan, yaitu kakak shalih-shalihah diperbolehkan untuk membaca puisi bersama-sama dengan diiringi nada atau lagu.

Setiap kelas bisa diwakili satu kelompok yang terdiri minimal lima orang kakak shalih-shalihah. Wajib mengenakan pakaian yang sopan, rapi dan sesuai ide siswa dengan tema “Kemerdekaan.” Kakak shalih-shalihah juga diperbolehkkan menggunakan media/peraga sederhana ketika penampilan.

Adapun puisi yang dibacakan haruslah bertemakan “Kemerdekaan”. Festival Musikalisasi Puisi bertempat di Gedung A lantai 2. Sebelum tampil, kakak shalih-shalihah harus mengambil nomor undian terlebih dahulu.

Masya Allah, Ayah Bunda, kakak shalih-shalihah berani menaklukkan rasa takut dan malunya di festival ini. Selain itu, kakak shalih-shalihah juga berusaha untuk menampilkan yang terbaik untuk mewakili kelasnya.
Semua penampilan memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, tetapi dipilih dua penampil terbaik yang dinilai berdasarkan;

  • Kesesuaian tema
  • Kelancaran
  • Gesture dan mimik wajah
  • Penghayatan
  • Vokal (artikulasi dan intonasi)

Siapakah penampil terbaik pada festival musikalisasi puisi? Tunggu jawabannya saat Upacara Peringatan HUT RI ke-78 ya, Ayah Bunda. Insya Allah penampil terbaik akan menunjukkan aksinya pada saat upacara.

festival kemerdekaan

Pidato Tema Kemerdekaan

Berbeda dengan Festival Musikalisasi Puisi yang diwakili secara kelompok, untuk festival pidato masing-masing kelas harus mengirimkan satu orang siswa saja. Sama halnya dengan festival musikalisasi puisi, kakak shalih-shalihah bebas berkreasi pada penampilannya, pun boleh menggunakan media peraga sederhana.

Pidato yang ditampilkan juga harus bertemakan “Kemerdekaan.” Bertempat di Gedung A lantai 1, sembilan peserta festival pidato kemerdekaan menunjukkan kepiawaian mereka dalam menyampaikan materi.

Bahkan kakak kelas 1 pun berani lo, Ayah Bunda. Ketika teksnya tertinggal, kakak kelas 1 ini mampu mencari cara untuk tetap menampilkan yang terbaik. Masya Allah luar biasa.

Momen bermakna lainnya yaitu adanya peserta dari kelas 6 yang menyampaikan pidato kemerdekaan menggunakan bahasa Inggris yang cukup lancar. Keren kan?

Nah, siapakah penampil terbaik? Pastinya dua penampil terbaik dipilih berdasarkan:

  • Kesesuaian tema
  • Kelancaran
  • Gesture dan mimik wajah
  • Keterampilan isi
  • Ketersampaian pesan

Membaca Teks Proklamasi

Festival yang ketiga ini bertempat di selasar Gedung B. Setiap kelas juga wajib diwakili oleh satu siswa saja.

Kakak shalih-shalihah diperbolehkan untuk mengenakan kostum bertema kemerdekaan. Pada festival ini, kakak shalih-shalihah ditantang untuk membacakan teks proklamasi dengan lantang.

Berikut ini unsur penilaian untuk festival membaca teks proklamasi:

  • Kelancaran
  • Gesture dan mimik wajah
  • Penghayatan
  • Vokal (artikulasi dan intonasi)

Festival-festival yang digelar pada Pekan Kemerdekaan ini bukan sekadar untuk mencari pemenang. Namun lebih dari itu, festival ini diharapkan melatih keberanian kakak shalih-shalihah untuk unjuk diri di depan publik. Mengalahkan rasa malu, takut dan grogi membutuhkan latihan yang tidak sebentar.

galeri kegiatan festival kemerdekaan

Alhamdulillah kakak shalih-shalihah mampu menaklukkan perasaan tersebut dan tampil menjadi JUARA bagi masing-masing individu. Terima kasih Ayah Bunda yang senantiasa mendukung kakak shalih-shalihah untuk berani berkarya dan berekspresi.***