fbpx

Pukul 08.00 pagi pada hari Rabu, 17 Mei 2023 bertepatan dengan peringatan Hari Buku Nasional, SD Islam Bintang Juara menyambut kedatangan tamu istimewa dari Universitas Wahid Hasyim (UNWAHAS). Sejumlah tiga puluh mahasiswa terjadwal untuk hadir ke Sekolah Penggerak Angkatan II Kecamatan Gunung Pati ini untuk melakukan observasi Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).

Kegiatan yang berlangsung kurang lebih dua setengah jam tersebut, diharapkan menjadi Visitasi Bermakna Mahasiswa PAI UNWAHAS. Seperti apakah rangkaian kegiatan dan pembelajaran penuh makna apa saja yang didapat melalui visitasi ini? Yuk, Ayah Bunda ikuti catatan Bintang Juara hari ini.

Momen Observasi Mahasiswa PAI UNWAHAS ke Kelas-kelas

Para mahasiswa PAI (Pendidikan Agama Islam) UNWAHAS disambut langsung oleh Ibu Nur Shofwatin Ni’mah selaku Kepala SD Islam Bintang Juara di Basement Gedung B. Bu Ni’mah memberikan paparan pembuka secara singkat sebelum ketigapuluh mahasiswa tersebut dibagi menjadi beberapa kelompok untuk melakukan observasi di kelas-kelas.

30 mahasiswa dibagi menjadi tujuh kelompok sebagai berikut;

5 mahasiswa observasi di kelas 1A

  • 5 mahasiswa observasi di kelas 1B
  • 5 mahasiswa observasi di kelas 2
  • 4 mahasiswa observasi di kelas 3
  • 5 mahasiswa observasi di kelas 4B
  • 5 mahasiswa observasi di kelas 5
  • 2 mahasiswa observasi di kelas 6

momen observasi mahasiswa PAI UNWAHAS

Dalam melakukan proses observasi, mahasiswa yang mendapat tugas di kelas 1A dan 1B didampingi oleh Bu Fia. Sementara itu, mahasiswa yang bertugas di kelas 2 dan 4B didampingi oleh Bu Ni’mah. Untuk mahasiswa yang observasi di kelas 3 dan 5 didampingi oleh Bu Siti.

Sebelum dipersilakan menuju ke kelas masing-masing, Bu Ni’mah memberikan tantangan untuk menemukan manakah murid yang memiliki special needs. Hal ini berhubungan dengan tujuan observasi yang dilakukan para mahasiswa PAI UNWAHAS untuk mengamati pendampingan SD Islam Bintang Juara kepada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).

Para mahasiswa PAI UNWAHAS diberikan waktu observasi selama 20 menit. Sepanjang proses tersebut, mahasiswa ada yang asyik mengamati kegiatan di dalam kelas, ada pula yang mencatat beberapa hal menarik di bukunya. Tak sedikit pula yang aktif bertanya-tanya terkait proses KBM kepada wali kelas.

Serunya Diskusi pada Visitasi Bermakna Mahasiswa PAI UNWAHAS

20 menit berlalu dengan cepat, para mahasiswa PAI UNWAHAS kembali ke Basement Gedung B. Kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi bersama Bu Ni’mah.

Selain memberikan informasi-informasi tambahan yang bisa melengkapi wawasan mahasiswa PAI UNWAHAS terkait pendampingan ABK di SD islam Bintang Juara, bu Ni’mah juga membuka kesempatan bagi para mahasiswa untuk mengajukan pertanyaan. Alhamdulillah, diskusi mengalir dengan asyik dan hangat.

momen diskusi mahasiswa PAI UNWAHAS dengan kepala SD Islam Bintang Juara

Berikut ini beberapa catatan menarik dari proses diskusi pada rangkaian acara visitasi bermakna PAI UNWAHAS ke SD Islam Bintang Juara:

1. Mengapa SD Islam Bintang Juara Menerima ABK?

Tidak semua sekolah berani menerima ABK. Hal tersebut yang justru menguatkan Bunda Vivi Psikolog, founder SD Islam Bintang Juara, dalam membangun sekolah ini.

Dikisahkan oleh Bu Ni’mah, pada awal sekolah ini berdiri, jumlah murid yang diterima adalah 11 orang. Siswa terakhir yang diterima pada kala itu adalah ABK yang sebelumnya telah ditolak 13 sekolah.

Dari pengalaman tersebut, Bunda Vivi Psikolog yang saat ini juga menjadi dosen praktisi di UNNES dan UICI menguatkan niat agar SD Islam Bintang Juara bisa mendampingi semua anak, baik reguler maupun special needs.

Bu Ni’mah kemudian mengajukan pertanyaan kepada para mahasiswa UNWAHAS, terkait tujuan sekolah inklusi. Beberapa mahasiswa bersuara memberikan jawaban yang berbeda-beda. Dari jawaban tersebut, Bu Ni’mah menyimpulkan bahwasanya sekolah inklusi harus ada demi memenuhi semua hak anak untuk mendapat pendidikan secara setara, baik reguler ataupun special needs.

Sekolah inklusi juga memiliki manfaat yang dahsyat, Ayah Bunda. Kakak-kakak shalihah yang reguler menjadi paham bahwa Allah SWT menciptakan manusia dengan kondisi beragam. Akhirnya, akan timbul simpati dan empati terhadap sesama di dalam diri kakak shalih-shalihah.

Sementara untuk siswa ABK, mereka akan merasa diterima kehadirannya, sehingga muncul trust. Ketika trust tersebut tumbuh, kepercayaan diri ABK terhadap lingkungan akan meningkat. ABK akan mengamati dan mencontoh perilaku anak-anak reguler. Hal ini secara tidak langsung menjadi proses terapi bagi ABK.

pertanyaan dari Alwi mahasiswa PAI UNWAHAS

Sebuah pertanyaan menarik disampaikan oleh Alwi, salah satu mahasiswa UNWAHAS yang hadir pagi itu. Dia tertarik dengan kurikulum yang digunakan di SD Islam Bintang Juara, apakah mengikuti kurikulum nasional yang berlaku, atau menggunakan kurikulum sendiri.  Alwi merasa penasaran karena meyakini pasti bukan hal mudah mendidik siswa dengan konsep inklusi.

Mengacu pada peraturan tentang sekolah inklusi, dalam menyiapkan kurikulum untuk ABK, satuan pendidikan bisa menggunakan sistem yang adaptif:

  • Eskalasi – Cara ini ditujukan khusus untuk anak-anak gifted/ superior. Biasanya pada ABK yang memiliki IQ lebih tinggi dibandingkan teman-teman sekelasnya, misal anak-anak yang terdiagnosa Dyslexia, guru bisa menaikkan materi belajar dibanding teman-temannya.
  • Modifikasi – Dalam hal ini, siswa berkebutuhan khusus menjalani kurikulum yang disesuaikan dengan kondisi, kebutuhan dan kemampuan mereka. Misal, ada ABK dengan kemampuan akademis baik, tetapi perilakunya kurang baik, maka diberikan stimulasi pada perilakunya.
  • Substitusi – Mengganti sesuatu yang ada dalam kurikulum umum dengan sesuatu yang lain. Penggantian dilakukan karena hal tersebut tidak mungkin dilakukan oleh siswa berkebutuhan pendidikan khusus, tetapi masih bisa diganti dengan hal lain yang memiliki bobot sama.
  • Omisi – Ada beberapa hal yang terdapat dalam kurikulum umum tetapi tidak disampaikan kepada siswa berkebutuhan pendidikan khusus. Hal ini karena sifatnya terlalu sulit dilakukan oleh ABK.

Dijelaskan pula oleh bu Ni’mah, selain menerapkan kurikulum yang bersistem adaptif untuk ABK, sebagai Sekolah Penggerak, SD Islam Bintang Juara telah menerapkan Kurikulum Merdeka. Salah satu kelebihan kurikulum ini adalah sekolah bisa menyiapkan pembelajaran sesuai dengan profil siswa.

2. Mengapa SD Islam Bintang Juara Menerapkan Konsep Full Day School?

Alasan utama mengapa SD Islam Bintang Juara menerapkan konsep full day school karena agar bisa membiasakan 2 shalat wajib (Dhuhur – Ashar) dan 1 shalat sunnah (Dhuha). Sementara sisanya adalah tugas orang tua sebagai madrasah utama kakak shalih-shalihah.

Perihal shalat menjadi perhatian utama bagi SD Islam Bintang Juara, dikarenakan pembiasaan adab akhlak yang pertama berkaitan dari kedisiplinan pelaksanaan shalat fardhu. Apabila shalatnya saja masih keteteran, apalagi hal-hal lainnya bukan?

Pembiasaan adab akhlak di SD Islam Bintang Juara tidak menunggu PAI, kakak shalih-shalihah belajar adab akhlak dalam setiap aktivitas harian. Contohnya, dalam kegiatan Toilet Training, kakak shalih-shalihah belajar adab keluar masuk kamar mandi dan belajar istinja sesuai syari’at.

Selain pembiasaan adab dan akhlak, SD Islam Bintang Juara juga memiliki kegiatan khas berupa Jurnal Pagi. Kegiatan ini rupanya juga menarik hati mahasiswa PAI UNWAHAS. Diwakilli oleh Alwi, mereka menanyakan apa itu jurnal pagi dan fungsinya.

Bu Ni’mah kemudian menjelaskan bahwa jurnal pagi bukanlah salah satu mata pelajaran (mapel). Jurnal pagi adalah kegiatan transisi yang berfungsi untuk menyiapkan psikis siswa didik dan merilis emosi sebelum masuk kegiatan berikutnya. Jurnal pagi dilakukan pada pukul 07.30 – 08.00. Pada kegiatan ini, kakak shalih-shalihah boleh menggambar, menulis dan berbicara.

Tugas guru pada saat kakak shalih-shalihah mengerjakan jurnal paginya adalah menguatkan konsep-konsep. Misal, saat kakak shalih-shalihah memilih menjurnal melalui gambar, guru mengecek sudah sampai tahap berapa hasil gambarnya. Sebagai informasi, dari sisi psikologis, menggambar memiliki 12 tahapan.Tahap gambar kakak shalih-shalihah bisa menampilkan informasi tumbuh kembang mereka, selain tentunya hasil gambarnya bisa merefleksikan suasana hati mereka pagi itu.

Begitu juga ketika kakak shalih-shalihah memilih berbicara saat jurnal paginya, guru tidak hanya menerima emosi yang disampaikan, tetapi juga mengecek apakah susunan kalimatnya sudah mengandung S-P-O-K, dan volume suaranya sudah terdengar jelas. Kakak shalih-shalihah belajar untuk berani menyampaikan ide dan perasaannya.

3. Mengenal 6 Aspek yang Dikuatkan di SD Islam Bintang Juara

Pada momen diskusi, Bu Ni’mah memutar sebuah video. Video tersebut memperlihatkan proses pembelajaran individual dari seorang ABK. Bu Ni’mah kemudian mengajak para mahasiswa UNWAHAS untuk membagikan ide mereka terkait video yang dilihatnya.

video pembelajaran SD Islam Bintang Juara

Bu Ni’mah mengapresiasi respon yang disampaikan oleh para mahasiswa, dilanjutkan dengan memberikan penjelasan mengenai isi video tersebut. Dalam video itu, guru pendamping sedang memberikan stimulasi sensori motorik kepada murid berkebutuhan khusus, berupa kegiatan main peran kecil menggunakan APE (Alat Permainan Edukasi) potong-memotong.

Selain sensori motorik, dalam kegiatan tersebut juga terdapat penguatan aspek kognitif, khususnya matematika. Guru bisa memberikan pijakan seperti, apa nama buahnya, kalau buah ini mau dibagikan kepada guru berarti harus dipotong jadi berapa, dsb.

Bu Ni’mah juga kemudian memberikan penjelasan bahwa terdapat enam aspek yang harus dikuatkan melalui aktivitas-aktivitas harian yang ada di SD Islam Bintang Juara:

1. Spiritual

Dikuatkan melalui pembiasaan adab akhlak seperti doa pagi, pembacaan Asmaul Husna, murojaah, berwudhu, toilet training, sholat dhuha, sholat dhuhur dan ashar berjamaah, adab makan dan minum, dan hal-hal lain dalam keseharian. Tak hanya itu, sekolah juga melibatkan peran orang tua dalam menjaga shalat kakak shalih-shalihah agar akhlaknya terjaga.

Bahkan dari pengalaman Bu Ni’mah, ABK yang rutin diajak shalat subuh berjamaah di masjid, terlihat progress yang signifikan dalam tumbuh kembangnya. “Wudhu dan shalat adalah terapi utama yang datangnya langsung dari Allah SWT,” sambung Bu Ni’mah.

Sebelum diajak shalat, berikan informasi kepada kakak shalih-shalihah apa fungsi shalat. Hal ini tentu saja tidak berjalan secara instan, guru dan Ayah Bunda harus memberikan pijakan berulang secara konsisten hingga menghasilkan kebiasaan. Anak yang rutin diajak sholat jama’ah, energinya menjadi lebih tenang, sehingga anak bisa lebih fokus dan tidak mudah tantrum.

2. Bahasa

Penguatan aspek bahasa khususnya untuk ABK adalah tantangan tersendiri. Beberapa ABK mengalami kesulitan dalam berkomunikasi. Ada ABK yang ditanya malah menirukan pertanyaan gurunya, saat seperti ini, guru harus meminta anak untuk fokus dan melihat mata pendamping.

Selain itu, guru juga harus bisa memberikan informasi dalam kalimat pendek alias KISS (Keep Information Short and Simple). Tidak menggunakan banyak kata, tapi langsung dipahami maksudnya oleh kakak shalih-shalihah.

3. Sensori Motorik Kasar

Sensori motorik terbagi menjadi dua bagian, pada motorik kasar, yang distimulasi adalah otot-otot besar. Cara stimulasinya bisa dengan melakukan  lari zig zag, lompat tali, loncat, lari, naik turun tangga, dan berjalan di atas titian.

4. Sensori Motorik Halus

Sedangkan untuk motorik halus, yang distimulasi adalah otot-otot kecilnya. Cara menstimulasinya yaitu dengan meronce, menggunting, mengelem, melipat, meremas kertas atau spons dan masih banyak lagi.

Stimulasi motorik halus berfungsi untuk melatih fokus, koordinasi kanan dan kiri, serta koordinasi mata dan tangan.

5. Kognitif

Kognitif di sini bukan sekadar dilihat dari sisi akademis, bisa baca, tulis dan hitung. Akademis hanya bagian kecil dari aspek kognitif.

Kognitif sendiri sangat luas cakupannya. Kemampuan adaptasi, menentukan pilihan dan menyelesaikan masalah masuk dalam lingkup kognitif.

6. Tahap Perkembangan Main

ABK biasanya bermasalah dengan sensori motorik. Apabila belum tuntas sesuai milestone, biasanya para ABK akan memiliki tantangan dalam hal fokus, yang kemudian berpengaruh pada kognitifnya. Oleh karena itu, guru harus mampu melihat sampai mana tahap perkembangan main kakak shalih-shalihah. Dengan mengetahui tahapan tersebut, guru bisa memberikan stimulasi yang tepat.

Alhamdulillah, selama mendampingi beberapa ABK di SD Islam Bintang Juara telah terlihat kemajuan yang pesat. Dalam kisaran waktu 1.5 – 3 bulan, kakak shalih-shalihah yang memiliki kebutuhan khusus sudah bisa melalukan aktivitas sesuai aturan.

4. Cara Guru SD Islam Bintang Juara Memberikan Pijakan

Hal berbeda yang bisa ditemukan di SD Islam Bintang Juara dan tidak ditemukan di sekolah lain adalah cara para gurunya memberikan pijakan. Sepertinya hal ini ditangkap pula oleh para mahasiswa PAI UNWAHAS selama proses obeservasi.

Tak heran jika kemudian banjir pertanyaan terkait cara guru SD Islam Bintang Juara memberikan pijakan. Berikut ini beberapa pertanyaan menarik yang diajukan oleh para mahasiswa.

tujuan pendidikan SD Islam Bintang Juara

Pertanyaan pertama dari Siti Khoiriyah terkait apakah orang tua ABK mendampingi putra-putrinya di awal masuk sekolah. Pertanyaan ini muncul karena Siti Khoiriyah merasa kalau menenangkan ABK jelas tidak mudah. Sementara di sekolah inklusi, tidak hanya ABK yang harus diberikan perhatian, ada juga siswa reguler di dalamnya.

Bu Ni’mah kemudian menyampaikan bahwa sejak awal kakak shalih-shalihah yang berkebutuhan khusus masuk sekolah tidak diperkenankan didampingi orang tua. Orang tua belajar untuk mempercayakan kakak shalih-shalihah kepada sekolah, kakak shalih-shalihah juga belajar untuk mandiri.

Khusus untuk ABK, tujuan pendidikan di SD Islam Bintang Juara adalah agar siswa bisa survive tanpa orang tua. Bukan hanya pada hal akademis, tapi juga bisa menguasai life skill.

Hanya saja di awal proses PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru), calon siswa akan diobservasi terlebih dahulu. Di situ akan terlihat apakah siswa tersebut membutuhkan pendamping khusus atau tidak.

Selanjutnya, pertanyaan dari mahasiswa yang memiliki nama sama dengan Bu Ni’mah. Mahasiswi bernama Nikmah tersebut bertanya terkait pijakan-pijakan yang diberikan di SD Islam Bintang Juara.

cara guru SD Islam Bintang Juara memberikan pijakan

Bu Ni’mah menerangkan bahwa hal pertama yang dilakukan selaku kepala sekolah adalah menguatkan tim bahwa setiap kakak shalih-shalihah yang berkebutuhan khusus bisa ditata. Setiap guru juga harus memberikan pijakan yang sama, termasuk dalam tampilan ekspresi yang muncul. Harus pas dan tidak berlebihan.

Beberapa contoh pijakan yang juga bisa diterapkan Ayah Bunda di rumah;

  • Apabila kakak shalih-shalihah mengucapkan kalimat tidak sopan, Ayah Bunda bisa meresponnya dengan, “Maaf kak, Ayah/ Bunda tidak nyaman.” Tidak perlu dijelaskan panjang lebar, cukup dengan memberikan pijakan yang konsisten secara berulang, insya Allah kakak shalih-shalihah akan memahami seiring berjalannya waktu.
  • Ada kakak shalih-shalihah berkebutuhan khusus yang memiliki cara menyapa dengan memukul. Pijakan yang diberikan; “Mohon maaf kak, ada caranya untuk menyapa. Tidak dengan tangan. Tangan ada fungsinya. Jika ingin menyapa, kakak bisa bertanya,”Bapak/ ibu namanya siapa?”
  • Tidak melabel ABK dan anak-anak sebelum baligh. Misal, ada kakak shalih-shalihah yang mengambil penghapus milik temannya. Pastikan untuk tidak buru-buru berujar, “Kamu mencuri ya?” Ganti kalimat tersebut dengan, “Maaf, penghapus ini milik siapa? Apakah kakak sudah izin?” Begitu juga saat melihat kakak shalih-shalihah ada yang melirik jawaban temannya, alih-alih berkata “Jangan mencontek,” ucapkan saja “Kakak, silakan tuntaskan tantangan dengan idenya sendiri.”
  • Ada siswa yang suka mengacungkan jari tengah. Daripada berkata, “Itu tidak baik” atau “Itu saru/ tidak sopan.” Berikan pijakan: “Ini lebih baik, kak,” sambil berujar demikian guru menunjukkan jempolnya. Dalam satu setengah bulan, siswa tersebut tidak lagi mengacungkan jari tengahnya.

Selain memberikan beberapa contoh pijakan yang biasa diberikan oleh para guru SD Islam Bintang Juara kepada kakak shalih-shalihah, Bu Ni’mah juga memberikan informasi bahwasanya untuk menghadapi siswa, khususnya ABK, diperlukan hati yang tenang. Saat hati seorang guru atau orang tua bergejolak, kakak shalih-shalihah juga semakin bergejolak dan susah ditenangkan.

“Setiap memulai sesuatu, koneksikan semuanya dengan Allah SWT.”

Itu adalah pesan penting bu Ni’mah kepada para mahasiswa PAI UNWAHAS. Rutinitas yang dilakukan Bu Ni’mah dan para guru SD Islam Bintang Juara setiap hendak mendampingi ABK yaitu mengambil wudhu, mendirikan sholat dhuha, mengaji dan mengirim al fatihah khusus untuk anak-anak special needs tersebut.

5. Mempersiapkan Pengasuhan Anak dari Pra Hamil

Tak hanya memberikan informasi terkait teknis mendidik ABK di SD Islam Bintang Juara, bu NI’mah juga membagikan informasi bahwasanya ABK diawali sejak pra hamil. Oleh karenanya sebagai calon ibu dan calon ayah, bu Ni’mah titip pesan kepada para PAI UNWAHAS untuk senantiasa menjaga rahim dengan sebaik mungkin.

Maksudnya adalah dengan menjaga makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh, karena nutrisi sebelum hamil juga berpengaruh pada tumbuh kembang bayi. Selain itu, penting untuk menjaga hubungan dengan orang tua, khususnya bagi para calon ibu. Bagaimana menjalin komunikasi dan sosialisasi dengan sang ibu dan perempuan lain berpengaruh pada proses kehamilan dan kelahiran.

proses pengasuhan pra hamil - pasca lahir

Riwayat kesehatan mental saat hamil juga mempengaruhi janin. Apabila sang ibu rentan stress, otot rahim akan mengencang dan janin akan ikut merasakan ketegangan tersebut. Oleh karenanya, saat hamil, harus memperbanyak ibadah, diusahakan untuk khatam Al Quran sepanjang kehamilan dan memohon pada Allah SWT untuk diberikan kelancaran dalam proses kehamilan dan kelahiran.

Sejak janin di dalam perut, rutin diajak berkomunikasi. Misal, saat trimester awal, biasanya ibu hamil akan mengalami morning sicknes. Ajak janin bicara,  “Alhamdulillah bunda muntah, nak. Ini tandanya tubuh bunda sedang beradaptasi. Mari nak kita berjuang bersama hingga nanti bertemu di dunia.”

Pasca bayi lahir, sesuai anjuran para ahli, pastikan untuk tidak memberikan gadget pada anak usia 0 – 5 tahun. Sekarang ini semakin banyak kasus ABK bermunculan.  Sebagian besar disebabkan pola pengasuhan orang tua yang kurang tepat, karena memberikan gadget terlalu dini. Akibatnya, anak kurang stimulasi.

Anak-anak yang speech delay, biasanya karena kurang diajak ngomong dua arah oleh orang tuanya. Atau kalau sudah diajak ngomong, bisa jadi orang tuanya tidak fokus saat mengajak bayinya ngomong. Misal, disambi dengan scrolling gadget atau melakukan aktivitas lainnya.

Penutup yang Bermakna dari Kepala SD Islam Bintang Juara

Pukul 10.15, visitasi dari mahasiswa PAI UNWAHAS pun diakhiri. Bu Ni’mah memberikan pesan penutup yang sangat bermakna;

Dunia pendidikan adalah dunia yang indah dan nikmat. Menggeluti dunia pendidikan bukan sekadar untuk mengejar penghasilan, tetapi mencari keberkahan. Saat suatu aktivitas itu berkah, maka sedikitnya akan mencukupkan, dan banyaknya tidak melenakan

quote dari nur shofwatin ni'mah

Bu Ni’mah juga menyampaikan bahwa memberikan stimulasi terbaik adalah ikhtiar yang bisa dilakukan manusia, tapi hak Allah SWT yang menentukan hasil akhirnya. Tak hanya itu, Bu Ni’mah juga berpesan, sebagai mahasiswa PAI UNWAHAS, ruhiyah Islam harus senantiasa dibawa. Apabila setiap aktivitas dikoneksikan kepada Allah SWT, semua yang tidak mungkin, insya Allah bisa menjadi mungkin.

Semoga catatan Bintang Juara terkait visitasi bermakna dari mahasiswa PAI UNWAHAS bisa memberikan manfaat bagi Ayah Bunda. Semoga Allah SWT selalu memberikan kekuatan kepada para guru dan Ayah Bunda dalam mendidik dan mengasuh kakak shalih-shalihah calon pemimpin muslim.***