fbpx

Pagi itu, suasana kelas 4A dan 4B SD Islam Bintang Juara terasa berbeda dari biasanya. Bukan hanya buku dan alat tulis yang tersusun rapi di meja, tetapi juga gelas ukur, cangkir, sumbu lilin, hingga cairan berwarna kuning yang mungkin sering kita temui di dapur: minyak jelantah.

Namun siapa sangka, dari bahan yang sering dianggap limbah ini, kakak shalih-shalihah akan belajar sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar praktik membuat lilin.

Kegiatan Belajar Bersama Ahli (BBA) kali ini menghadirkan sosok inspiratif, Yuli Kuswanti, S.I.Pust., seorang pegiat literasi yang juga memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan hidup. Tema yang diangkat pun sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari, yaitu “Aroma Terapi dari Minyak Jelantah: Mengubah Limbah Menjadi Produk Bernilai.”

Dari Limbah Menjadi Peluang

Sebelum praktik dimulai, Bunda Yuli membuka sesi dengan sebuah pertanyaan sederhana, “Kalau minyak bekas dipakai menggoreng, biasanya dibuang ke mana?”

Beragam jawaban pun muncul. Ada yang bilang dibuang ke selokan, ada juga yang menyimpannya untuk dipakai kembali. Dari sini, kakak shalih-shalihah mulai diajak berpikir lebih dalam: apakah kebiasaan tersebut sudah tepat?

Bunda Yuli kemudian menjelaskan bahwa minyak jelantah yang dibuang sembarangan dapat mencemari lingkungan, terutama air dan tanah. Jika terus dibiarkan, limbah ini bisa berdampak buruk bagi kehidupan makhluk hidup.

Namun di balik itu, tersimpan potensi besar. Minyak jelantah ternyata bisa diolah menjadi berbagai produk bermanfaat, seperti sabun hingga lilin aromaterapi.

Di sinilah pembelajaran menjadi hidup. Kakak tidak hanya mendengar teori, tetapi juga memahami makna di baliknya—bahwa setiap masalah bisa menjadi peluang jika kita mau berpikir kreatif.

Menghidupkan Konsep Melalui Praktik Nyata

Kegiatan ini merupakan bagian dari kontekstualisasi Project Based Learning dengan tema “Perubahan Energi dan Wujud Zat.” Apa yang sebelumnya hanya dipelajari melalui buku, kini benar-benar bisa dilihat dan dirasakan langsung.

Proses pembuatan lilin aromaterapi dimulai dengan langkah pertama: menyaring minyak jelantah. Kakak shalih-shalihah terlihat antusias saat melihat bagaimana minyak yang awalnya keruh perlahan menjadi lebih bersih.

Langkah berikutnya adalah mencampurkan minyak jelantah dengan asam stearat. Perbandingannya cukup sederhana, yaitu 3:1. Untuk 300 ml minyak, dibutuhkan 100 gram asam stearat.

Ketika campuran tersebut dipanaskan, kakak-kakak mulai menyaksikan perubahan wujud yang nyata. Dari cair, perlahan menjadi lebih kental, lalu siap dituangkan ke dalam cetakan.

Beberapa kakak menambahkan pewarna agar lilin terlihat lebih menarik. Ada yang memilih warna cerah, ada pula yang tetap mempertahankan warna alami. Sumbu pun dipasang dengan hati-hati, menjadi penanda bahwa lilin siap digunakan.

Momen paling ditunggu akhirnya tiba. Ketika lilin mulai mengeras, rasa bangga terlihat jelas di wajah kakak shalih-shalihah. Mereka tidak hanya berhasil membuat sebuah produk, tetapi juga memahami proses ilmiah di baliknya.

Lebih dari Sekadar Praktik

Kegiatan ini bukan hanya tentang membuat lilin. Ada banyak nilai yang tertanam secara perlahan namun mendalam.

Kakak belajar bahwa ilmu tidak berhenti di buku. Mereka belajar bahwa perubahan energi dan wujud zat bukan sekadar konsep, tetapi sesuatu yang terjadi di sekitar mereka setiap hari.

Lebih dari itu, mereka juga belajar tentang tanggung jawab terhadap lingkungan. Bahwa menjaga bumi bisa dimulai dari langkah kecil, seperti tidak membuang limbah sembarangan dan mencoba mengolahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Interaksi dengan narasumber juga membuka wawasan baru. Kakak melihat bahwa profesi dan minat bisa saling terhubung—bahwa seorang pegiat literasi pun bisa berkontribusi dalam isu lingkungan.

Menumbuhkan Pola Pikir Kreatif dan Solutif

Di era saat ini, kemampuan berpikir kreatif dan solutif menjadi salah satu keterampilan penting yang perlu dimiliki anak-anak. Kegiatan seperti ini menjadi salah satu cara efektif untuk menumbuhkan kemampuan tersebut.

Ketika kakak melihat minyak jelantah, mereka tidak lagi hanya melihat limbah. Mereka mulai melihat potensi. Mereka mulai bertanya, “Apa lagi yang bisa kita buat dari ini?”

Pertanyaan sederhana ini adalah awal dari pola pikir inovatif.

Belajar yang Bermakna, Dampak yang Nyata

Kegiatan BBA ini menjadi bukti bahwa belajar bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan sekaligus bermakna. Kakak tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga pengalaman yang akan mereka ingat dalam jangka panjang.

Dari sebuah lilin kecil, kakak belajar tentang ilmu, lingkungan, kreativitas, hingga tanggung jawab. Semua terangkai dalam satu kegiatan yang sederhana namun penuh makna.

Ke depan, harapannya kakak shalih-shalihah tidak hanya berhenti pada pengalaman ini. Mereka bisa membawa semangat ini ke rumah, bahkan mengajak keluarga untuk mulai peduli terhadap pengelolaan limbah.

Karena sejatinya, perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Dan hari itu, langkah kecil itu dimulai dari minyak jelantah… yang berubah menjadi cahaya.*** (CM-MRT)