Pekan terakhir sebelum pembagian rapor tengah semester dua selalu menjadi waktu yang dinanti oleh kakak shalih–shalihah di SD Islam Bintang Juara. Biasanya, pekan ini diisi dengan program Leadership Journey, sebuah rangkaian kegiatan pembelajaran yang dirancang untuk menumbuhkan karakter kepemimpinan, kemandirian, dan kedewasaan pada anak.
Namun kali ini terasa berbeda. Kalender menunjukkan bahwa pekan tersebut bertepatan dengan bulan Ramadan—bulan yang penuh keberkahan. Maka kegiatan Leadership Journey pun disesuaikan dengan nuansa Ramadan.
Hari pertama, Senin, 9 Maret 2026, dibuka dengan kegiatan istimewa bernama SBQ (Sehari Bersama Al-Qur’an). Tujuannya sederhana tetapi sangat mendalam:
mengajak kakak shalih–shalihah lebih dekat dengan Al-Qur’an, bukan hanya membaca, tetapi juga memahami, merasakan, dan menumbuhkan kecintaan terhadap kitab suci umat Islam itu.
Contents
Sehari Bersama al-Qur’an dalam Tiga Bentuk Berbeda
Agar kegiatan lebih fokus dan sesuai dengan tahap perkembangan anak, SBQ dibagi menjadi tiga titik kegiatan berdasarkan jenjang kelas.
Kelas 1 & 2: Mengenal Makna Surah Al-Qadr
Di ruang kelas 2A dan 2B, kakak kelas 1 dan 2 berkumpul bersama Pak Ali. Suasana terasa hangat dan penuh semangat.
Pak Ali memulai kegiatan dengan mengajak anak-anak mengenal salah satu surah yang sangat istimewa dalam Al-Qur’an, yaitu Surah Al-Qadr. Dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, kakak shalih–shalihah diajak memahami makna turunnya Al-Qur’an pada malam Lailatul Qadr.
Pak Ali menjelaskan bahwa malam Lailatul Qadr adalah malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Anak-anak mendengarkan dengan penuh perhatian, membayangkan betapa besarnya keutamaan malam tersebut.
Setelah memahami maknanya, kegiatan dilanjutkan dengan penyimakan bacaan salat. Kakak dipanggil satu per satu untuk menemui guru mengaji. Di sana, bacaan salat mereka disimak dengan teliti.
Kegiatan ini sangat penting. Karena membaca Al-Qur’an dan bacaan salat dengan benar merupakan fondasi ibadah seorang Muslim sejak kecil. Anak-anak belajar memperbaiki tajwid, pelafalan huruf, dan kelancaran membaca.
Dari ruang kelas sederhana itu, proses kecil sedang terjadi: menanamkan cinta Al-Qur’an sejak dini.
Kelas 3 & 4: Mengenal Keutamaan Tilawah Al-Qur’an
Sementara itu di ruang kelas 3A dan 3B, kakak kelas 3 dan 4 mengikuti sesi bersama Pak Solekan. Kegiatan dimulai dengan membahas 10 keutamaan membaca Al-Qur’an (tilawah).
Dengan gaya penyampaian yang penuh semangat, Pak Solekan menjelaskan bahwa membaca Al-Qur’an bukan sekadar ibadah biasa. Ia memiliki keutamaan yang luar biasa, di antaranya:
- Mendapat ketenangan hati
- Mendapat 10 kebaikan untuk setiap huruf yang dibaca
- Menghilangkan sifat iri dan dengki
- Mendapat syafaat di hari akhir
- Dimasukkan ke surga oleh Allah SWT
- Menjadi sebaik-baik manusia
- Akan ditemani malaikat
- Mendapat dua pahala bagi orang yang belajar membaca Al-Qur’an; pahala membaca al-Qur’an dan pahala tekad belajar
- Diangkat derajatnya oleh Allah
- Dijauhkan dari siksa kubur dan api neraka
Kakak shalih–shalihah tampak kagum mendengar betapa besar keutamaan membaca Al-Qur’an.
Namun pembelajaran tidak berhenti di sana. Pak Solekan kemudian mengenalkan seni membaca Al-Qur’an atau An-Naghom fil Quran—teknik memperindah suara saat tilawah. Anak-anak diajak memahami bahwa membaca Al-Qur’an juga bisa dilakukan dengan irama yang indah tanpa mengubah makna.
Beliau menjelaskan sejarah munculnya seni membaca Al-Qur’an, yang dipengaruhi oleh budaya syair dalam tradisi Arab serta berbagai perkembangan sejarah Islam.
Anak-anak kemudian diperkenalkan dengan beberapa jenis ragam lagu dalam tilawah, di antaranya:
- Lagu Bayyati
- Lagu Shoba
- Lagu Hijjazi
Melalui video contoh, kakak shalih–shalihah mendengarkan bagaimana setiap lagu memiliki nuansa yang berbeda. Setelah itu, mereka diajak mencoba menirukan irama tersebut.
Ruang kelas pun berubah menjadi tempat belajar yang penuh semangat. Ada yang masih malu-malu, ada yang mulai berani mencoba. Semua belajar memperindah bacaan Al-Qur’an dengan cara yang menyenangkan.
Kelas 5 & 6: Muhasabah dan Refleksi Diri
Di titik ketiga, kakak kelas 5 dan 6 mengikuti sesi bersama Pak Zaki. Kegiatan dimulai dengan sebuah pengingat yang sangat mendalam: bersyukur atas nikmat usia. Pak Zaki mengajak kakak shalih–shalihah merenungkan waktu yang telah Allah berikan.
- Apakah waktu itu sudah digunakan dengan baik?
- Apakah fasilitas yang Allah berikan sudah dimanfaatkan untuk kebaikan?
Pertanyaan-pertanyaan itu mengajak anak-anak melakukan muhasabah diri.
Pak Zaki juga mengingatkan bahwa saat belajar agama atau menuntut ilmu (tholabul ilmi), yang paling utama adalah memperbaiki diri sendiri sebelum memperbaiki orang lain.
Dalam sesi ini, kakak juga dikenalkan dengan empat golongan manusia yang dirindukan oleh surga, yaitu:
- Ahli Al-Qur’an (orang yang rajin membaca Al-Qur’an)
- Orang yang menjaga lisannya
- Orang yang memberi makan kepada orang lapar
- Orang yang berpuasa di bulan Ramadan
Pak Zaki menjelaskan bahwa orang yang membaca Al-Qur’an dengan penuh keyakinan akan mendapatkan pertolongan dari Al-Qur’an itu sendiri. Bahkan disebutkan bahwa orang yang khatam Al-Qur’an di bulan Ramadan akan didoakan oleh 60.000 malaikat.
Sebagai penutup, Pak Zaki mengajak kakak shalih–shalihah untuk menjadi orang yang bertakwa—yaitu mereka yang menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, baik ketika sendirian maupun di tengah keramaian.
Kegiatan kemudian ditutup dengan membaca Surah Yasin bersama-sama, menghadirkan suasana yang khusyuk dan penuh ketenangan.
Menumbuhkan Generasi Qurani Sejak Dini
Kegiatan Sehari Bersama Al-Qur’an bukan sekadar agenda Ramadan. Kegiatan ini adalah upaya membangun fondasi spiritual anak-anak sejak usia dini. Melalui SBQ, kakak shalih–shalihah belajar bahwa Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca saat pelajaran agama.
Al-Qur’an adalah pedoman hidup. Mereka belajar membaca dengan benar. Belajar memahami makna. Belajar merasakan kedekatan dengan firman Allah.
Dari ruang-ruang kelas sederhana itu, benih-benih generasi Qurani sedang ditanam. Generasi yang hatinya dekat dengan Al-Qur’an. Generasi yang menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya dalam hidupnya.
Karena ketika anak-anak tumbuh bersama Al-Qur’an, insyaAllah mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang kuat, berakhlak mulia, dan mampu memberi manfaat bagi umat.***