fbpx

Ramadan selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Udara terasa lebih tenang. Hati lebih mudah tersentuh. Di tengah suasana penuh keberkahan itu, ada satu kegiatan rutin yang menjadi momen istimewa bagi kakak shalih–shalihah di SD Islam Bintang Juara: kultum Ramadan.

Bukan ustaz atau guru yang selalu berdiri di depan. Bukan pula tamu khusus dari luar sekolah. Justru anak-anak sendiri yang maju menyampaikan pesan kebaikan.

Setiap hari selama Ramadan, dua anak secara bergantian menyampaikan kultum (kuliah tujuh menit) di depan kelas. Sederhana, singkat, tetapi sarat makna.

Dari Rasa Gugup Menjadi Berani

Suatu pagi suasana kelas sedikit berbeda. Di depan, seorang kakak berdiri dengan membawa secarik kertas kecil. Wajahnya terlihat tegang, tetapi matanya penuh tekad.

Ia menarik napas pelan. Mengucapkan salam. Lalu mulai berbicara tentang pentingnya menjaga lisan saat berpuasa. Teman-temannya menyimak dengan tenang.

Mungkin kalimatnya belum sempurna. Mungkin intonasinya belum sepenuhnya mantap. Tetapi keberaniannya melangkah ke depan adalah langkah besar. Di sinilah proses pembentukan karakter terjadi.

Kultum Ramadan, Belajar Berdakwah Sejak Dini

Kultum Ramadan bukan sekadar agenda pengisi waktu sebelum pelajaran dimulai. Ia adalah ruang latihan untuk menjadi calon pemimpin Muslim.

Karena pemimpin bukan hanya tentang memimpin organisasi atau kelompok. Pemimpin adalah mereka yang mampu menyampaikan kebaikan, memberi teladan, dan menginspirasi orang lain.

Melalui kultum, kakak shalih–shalihah belajar:

  • Menyusun materi sederhana
  • Memahami isi pesan yang akan disampaikan
  • Melatih keberanian berbicara di depan umum
  • Mengelola rasa gugup
  • Menyampaikan dakwah dengan santun

Topik yang diangkat pun beragam dan dekat dengan kehidupan anak-anak: keutamaan puasa, pentingnya salat tepat waktu, menjaga akhlak, bersedekah, hingga menghormati orang tua.

Satu Hari, Dua – Empat Dai Cilik Menunjukkan Talentanya

Setiap hari, dua anak mendapat giliran menyampaikan kultum. Sistem bergiliran ini memastikan semua anak memiliki kesempatan yang sama untuk belajar tampil dan berdakwah.

Ada yang memilih membaca teks, ada pula yang mulai berani berbicara tanpa melihat catatan. Prosesnya bertahap, sesuai dengan kesiapan masing-masing anak.

Guru mendampingi dan memberikan arahan agar materi sesuai dengan pemahaman usia mereka. Dakwah yang disampaikan bukan dalam bahasa berat, melainkan dengan bahasa yang sederhana, membumi, dan mudah dipahami teman sebaya.

Manfaat Kultum Ramadan bagi Anak

Kegiatan ini memiliki banyak manfaat, baik secara spiritual maupun keterampilan hidup.

  1. Melatih Public Speaking Sejak Dini: Berbicara di depan kelas melatih kepercayaan diri. Anak belajar mengatur suara, intonasi, dan bahasa tubuh.
  2. Menguatkan Pemahaman Agama: Ketika anak menyiapkan materi kultum, ia tidak hanya membaca, tetapi juga memahami isi pesan. Proses ini memperdalam pemahaman agama.
  3. Menanamkan Jiwa Kepemimpinan: Pemimpin adalah mereka yang mampu memberi pengaruh positif. Dengan kultum, anak belajar memengaruhi teman-temannya dalam kebaikan.
  4. Membiasakan Berdakwah dengan Santun: Anak belajar bahwa menyampaikan kebaikan tidak harus keras. Bisa dengan lembut, penuh senyum, dan penuh hikmah.
  5. Menguatkan Karakter Tanggung Jawab: Saat mendapat giliran, anak bertanggung jawab mempersiapkan materi. Ia belajar disiplin dan menghargai kesempatan.

Dakwah yang Tumbuh dari Hati

Yang paling indah dari kegiatan ini adalah melihat bagaimana pesan kebaikan tidak hanya berhenti di depan kelas.

Seorang anak yang menyampaikan tentang pentingnya menjaga lisan, kemudian terlihat lebih berhati-hati dalam berbicara. Anak yang membahas sedekah, mulai lebih ringan berbagi.

Dakwah bukan lagi teori. Ia menjadi praktik. Kultum Ramadan menjadi ruang latihan kecil untuk membangun kebiasaan besar.

Membentuk Generasi yang Siap Memimpin

Di masa depan, anak-anak ini akan tumbuh menjadi bagian dari masyarakat. Sebagian mungkin menjadi guru, pengusaha, profesional, atau pemimpin di berbagai bidang.

Namun yang lebih penting, mereka adalah Muslim yang memiliki tanggung jawab menyebarkan kebaikan. Latihan kultum sejak dini adalah investasi karakter. Anak belajar bahwa berbicara itu bukan sekadar menyampaikan kata, tetapi membawa pesan.

Ramadan di SD Islam Bintang Juara bukan hanya tentang menahan lapar dan haus. Ia menjadi sekolah kepemimpinan.

Melalui kultum:

  • Anak belajar berdiri tegak.
  • Anak belajar menyampaikan kebenaran.
  • Anak belajar bertanggung jawab atas kata-katanya.

Dan mungkin, dari ruang kelas sederhana itu, sedang tumbuh dai, pemimpin, dan penggerak kebaikan masa depan.

Karena calon pemimpin Muslim tidak lahir secara instan. Mereka dilatih, dibimbing, dan diberi kesempatan untuk belajar—bahkan dari tujuh menit yang penuh keberanian.*** (CM-MRT)