fbpx

BBOT Kelas 6 kali ini menggambarkan ketika jajanan tradisional menjadi pintu masuk belajar budaya. Diawali dengan “Ini namanya apa, Kak?”

Pertanyaan sederhana itu ternyata bisa membawa kakak shalih-shalihah kelas 6 SD Islam Bintang Juara pada sebuah perjalanan belajar yang cukup panjang.

Pada Rabu, 12 Agustus 2026, kegiatan BBOT (Belajar Bersama Orang Tua) Kelas 6 menghadirkan Bunda Milan Indriani, bunda dari Kak Arkan, dengan tema “Warisan Rasa, Warisan Bangsa: Mengenal, Mencintai, dan Melestarikan Kuliner Tradisional Jawa Tengah.”

Sekilas, kegiatan ini mungkin terlihat seperti sesi mengenal makanan tradisional. Ada jajanan yang dibawa ke kelas, ada kegiatan mencicipi, ada tebak-tebakan bahan makanan, hingga berdiskusi tentang tepung.

Namun, seperti halnya pembelajaran yang bermakna, ada hal yang lebih besar di balik setiap kegiatan.

Kali ini, kakak shalih-shalihah diajak menyadari bahwa makanan bukan sekadar sesuatu yang kita makan. Di baliknya ada bahan pangan, pengetahuan, kebiasaan, budaya, bahkan cerita tentang bagaimana masyarakat Indonesia memanfaatkan kekayaan alam di sekitarnya.

Dan menariknya, kegiatan BBOT kali ini juga menjadi bagian dari Project Based Learning (PBL) kelas 6 dalam rangka mengenal dan menjaga warisan budaya.

Dari Jajanan Tradisional, Anak Diajak Mengenal Kekayaan Indonesia

Bunda Milan membawa berbagai jajanan tradisional untuk diperkenalkan secara langsung kepada kakak shalih-shalihah.

Bukan hanya melihat melalui gambar atau membaca namanya dari buku, anak-anak mendapatkan kesempatan untuk melihat, mengenali, bahkan mencicipi makanan tersebut.

Ternyata, tidak semua anak sudah mengenal jajanan tradisional yang diperkenalkan.

Ada yang bahkan menyebut lopis sebagai lontong.

Momen seperti inilah yang justru menjadi bagian menarik dari pembelajaran. Sebab, ketidaktahuan bukan sesuatu yang perlu ditertawakan. Ia bisa menjadi awal dari sebuah rasa ingin tahu.

“Ini sebenarnya terbuat dari apa?”

Pertanyaan pun bermunculan.

Kakak shalih-shalihah kemudian diajak menebak bahan yang digunakan untuk membuat makanan tersebut. Jika belum mengetahui jawabannya, mereka dapat mencari informasi menggunakan laptop.

Di sini, proses belajar tidak berhenti pada “tahu nama makanan”. Anak-anak diajak mencari tahu, bertanya, membandingkan informasi, dan menemukan jawaban.

Sebuah jajanan sederhana akhirnya menjadi pintu masuk untuk belajar lebih banyak tentang bahan pangan lokal.

Mengenal Tepung dan Karakteristiknya

Pembelajaran kemudian berlanjut pada salah satu bahan penting dalam berbagai olahan makanan, yaitu tepung. Bunda Milan mengenalkan beberapa jenis tepung, di antaranya tepung tapioka, tepung jagung, tepung singkong, dan tepung kentang.

Kakak shalih-shalihah tidak hanya dikenalkan dengan namanya. Mereka juga diajak memahami bahwa setiap jenis tepung memiliki karakteristik yang berbeda.

  • Bagaimana cara membedakannya?
  • Apa bahan dasarnya?
  • Bagaimana tekstur masing-masing tepung?
  • Dan bagaimana karakteristik tersebut memengaruhi penggunaannya dalam membuat makanan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat pembelajaran kuliner menjadi semakin luas.

Dari satu bahan, anak-anak dapat belajar tentang sains sederhana, sumber pangan, proses pengolahan, hingga kreativitas dalam membuat makanan. Di sinilah pembelajaran berbasis proyek menjadi menarik.

Satu tema tidak berdiri sendiri.

Belajar budaya dapat bertemu dengan ilmu pengetahuan. Belajar makanan dapat terhubung dengan teknologi. Belajar tentang bahan pangan dapat mengantarkan anak pada pembahasan kesehatan dan keberlanjutan.

Indonesia Punya Banyak Pilihan Sumber Karbohidrat

Salah satu hal penting yang ditemukan kakak shalih-shalihah dari kegiatan ini adalah bahwa sumber karbohidrat di Indonesia ternyata sangat beragam.

Selama ini, anak mungkin lebih akrab dengan nasi atau produk berbahan tepung tertentu. Padahal, Indonesia memiliki begitu banyak bahan pangan yang dapat diolah menjadi makanan.

Dari kegiatan BBOT ini, kakak shalih-shalihah diajak melihat bahwa bahan pangan lokal memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan.

Bahan yang selama ini mungkin dianggap sederhana dapat diolah menjadi makanan yang lebih modern, menarik, dan tetap memperhatikan aspek kesehatan.

Pesan ini menjadi penting untuk generasi muda.

Melestarikan kuliner tradisional bukan berarti harus selalu menyajikannya dengan cara yang sama persis seperti dahulu. Tradisi dapat terus hidup ketika generasi baru mau mengenalnya, menghargainya, kemudian menemukan cara kreatif untuk mengembangkannya.

Dengan begitu, warisan budaya tidak berhenti sebagai sesuatu yang hanya dikenang. Ia terus bergerak bersama zaman.

galeri kegiatan BBOT kelas 6

Ketika Junk Food Bertemu Bahan Lokal

Menariknya, sesi BBOT tidak ditutup hanya dengan kesimpulan tentang makanan tradisional. Bunda Milan justru memberikan sebuah tantangan kepada kakak shalih-shalihah.

Bagaimana jika junk food dibuat dari bahan-bahan lokal?

Pertanyaan ini menjadi pemantik bagi anak-anak untuk berpikir lebih jauh.

Selama ini, junk food sering diasosiasikan dengan makanan modern yang kurang sehat. Namun, bagaimana jika bahan-bahan lokal Indonesia digunakan untuk menciptakan makanan yang lebih sehat sekaligus tetap menarik bagi anak-anak?

Di sinilah kreativitas mulai mendapatkan ruang.

Anak-anak dapat membayangkan berbagai kemungkinan: bagaimana bahan lokal dapat dikemas dengan cara kekinian, bagaimana makanan tradisional bisa dibuat lebih menarik, dan bagaimana sebuah inovasi makanan tetap dapat membawa cerita tentang budaya Indonesia.

Pertanyaan tersebut bukan sekadar tugas membuat makanan. Lebih dari itu, anak diajak menjadi pemecah masalah.

Mereka belajar bahwa menjaga budaya tidak selalu berarti hanya mempertahankan sesuatu seperti bentuk aslinya. Ada kalanya budaya perlu dikenalkan kembali melalui bahasa dan bentuk yang dekat dengan generasi hari ini.

Belajar Bersama Orang Tua, Belajar dari Pengalaman Nyata

BBOT menjadi salah satu ruang istimewa dalam proses pendidikan di SD Islam Bintang Juara karena pembelajaran tidak hanya berlangsung bersama guru. Orang tua juga hadir membawa pengalaman, pengetahuan, dan keahliannya untuk dibagikan kepada anak-anak.

Kehadiran Bunda Milan dalam kegiatan kali ini memperlihatkan bahwa orang tua dapat menjadi bagian penting dari ekosistem belajar anak. Anak-anak tidak hanya belajar dari buku teks, tetapi juga dari pengalaman nyata orang-orang di sekitarnya.

Ketika seorang ibu membawa makanan tradisional ke kelas, anak-anak bukan hanya mendapatkan kesempatan untuk mencicipi. Mereka juga mendapatkan kesempatan untuk bertanya, berdiskusi, mencari informasi, dan melihat sebuah persoalan dari berbagai sudut pandang.

Inilah pembelajaran yang terasa dekat dengan kehidupan.

Dan ketika pembelajaran tersebut menjadi bagian dari Project Based Learning, anak-anak tidak hanya diarahkan untuk mengetahui sesuatu, tetapi juga untuk memikirkan apa yang dapat mereka lakukan setelah mengetahuinya.

Warisan Rasa yang Perlu Dijaga Bersama

Ada satu hal yang mungkin terlihat sederhana dari kegiatan hari ini: anak-anak mengenal jajanan tradisional. Tetapi jika ditarik lebih jauh, ada pertanyaan yang jauh lebih besar.

Kalau bukan generasi muda yang mengenal makanan tradisional Indonesia, lalu siapa yang akan melanjutkan ceritanya?

Warisan budaya tidak selalu hadir dalam bentuk bangunan bersejarah atau benda-benda kuno. Ia juga dapat hadir di meja makan, dalam resep keluarga, dalam bahan pangan lokal, dan dalam makanan yang dibuat oleh tangan-tangan masyarakat dari generasi ke generasi.

Karena itu, mengenal kuliner tradisional adalah salah satu cara untuk mengenal identitas bangsa. Dan mencintainya tidak cukup hanya dengan mengatakan bahwa makanan tradisional itu enak.

Anak-anak perlu diberi kesempatan untuk mengenal asalnya, memahami prosesnya, mengetahui bahan-bahannya, menghargai orang-orang yang menjaganya, dan menemukan cara agar warisan tersebut tetap relevan di masa depan.

Itulah semangat yang ingin ditumbuhkan melalui tema “Warisan Rasa, Warisan Bangsa.”

Dari Kelas 6, Menjadi Generasi yang Menjaga Warisan

Kegiatan BBOT Kelas 6 bersama Bunda Milan Indriani menjadi salah satu pengalaman belajar yang mempertemukan budaya, ilmu pengetahuan, kesehatan, kreativitas, dan kepedulian terhadap keberlanjutan.

Kakak shalih-shalihah belajar bahwa Indonesia memiliki kekayaan pangan yang luar biasa. Mereka juga belajar bahwa bahan-bahan lokal dapat diolah dengan cara yang kreatif dan modern tanpa kehilangan nilai budayanya.

Lebih dari itu, mereka diajak untuk melihat warisan budaya bukan sebagai sesuatu yang hanya dimiliki oleh masa lalu. Warisan budaya adalah amanah untuk generasi hari ini.

Dan mungkin, suatu hari nanti, dari pertanyaan sederhana tentang “lopis itu apa?”, akan lahir sebuah ide besar tentang bagaimana makanan lokal Indonesia bisa menjadi makanan sehat yang dikenal lebih luas.

Sebab di SD Islam Bintang Juara, belajar bukan hanya tentang mengumpulkan pengetahuan.

Belajar adalah tentang menumbuhkan rasa ingin tahu, menemukan solusi, berkarya, lalu menghadirkan manfaat. Dari warisan rasa, semoga tumbuh rasa cinta. Dari rasa cinta, semoga lahir kepedulian.

Dan dari kepedulian, semoga lahir generasi Bintang Juara yang tidak hanya mengenal warisan bangsanya, tetapi juga berani menjadi bagian dari orang-orang yang menjaganya.*** (CM-MRT)