Pagi itu, Sabtu, 29 Agustus 2026, suasana di SD Islam Bintang Juara terasa hangat sekaligus penuh keseriusan. Puluhan orang tua siswa kelas 4, 5, dan 6 berkumpul dalam acara Parenting Class. Di antara riuh rendah tanya jawab dan lembar catatan yang siap diisi, ada satu pertanyaan menggantung di benak banyak Ayah dan Bunda yang anaknya mulai menapak usia pra-remaja: “Ke mana anak kita akan melanjutkan sekolah setelah lulus SD nanti?”
Sering kali, pertanyaan tersebut memicu deretan kekhawatiran baru. Apakah anak siap dengan pergaulan SMP? Bisakah mereka mengikuti tuntutan akademik yang lebih kompleks? Ataukah justru kita, sebagai orang tua, yang sebenarnya belum siap melepaskan sebagian kendali?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukanlah hal yang berlebihan. Memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi memang membawa perubahan. Anak akan berhadapan dengan aturan yang berbeda, tuntutan akademik yang semakin kompleks, relasi sosial yang semakin luas, serta kebutuhan untuk memiliki kemandirian belajar yang lebih besar. Karena itu, persiapan menuju SMP sebenarnya bukan hanya tentang memilih sekolah, tetapi juga tentang menyiapkan anak menghadapi perubahan dan tantangan baru.
Untuk menjawab keresahan tersebut, SD Islam Bintang Juara menghadirkan Ibu Dyah Indah Noviyani, S.Psi., M.Psi., Psikolog—atau yang akrab disapa Bunda Vivi Psikolog. Beliau merupakan Ketua Yayasan Dewi Sartika sekaligus founder PAUD & SD Islam Bintang Juara. Dalam sesi berharga tersebut, Bunda Vivi membagikan wawasan mendalam tentang bagaimana orang tua seharusnya bersikap dan melangkah dalam memilih sekolah lanjutan untuk buah hati.
Parenting Class bertema “Memilih Sekolah, Menentukan Langkah” ini tidak berhenti pada pertanyaan, “SMP mana yang bagus?” Lebih jauh, orang tua diajak mengubah cara pandang: sekolah seperti apa yang tepat untuk anak kita, dan bagaimana kita menyiapkan anak agar mampu menjalani pilihan tersebut?
Contents
Pesan Bermakna dari Korsatpen Gunungpati
Parenting class kali ini sangat istimewa. Tidak hanya Bunda Vivi Psikolog yang hadir, tetapi hadir pula Ibu Sri Hartati, S.Pd., M.Pd. selaku Korsatpen Gunungpati.
Pada kesempatan tersebut, Bu Tatik menyampaikan beberapa program Dinas Pendidikan Kota Semarang berkaitan dengan memilih sekolah lanjutan. Salah satu yang disampaikan oleh beliau adalah Program ASSIK.
Bagi Ayah Bunda yang ingin putra-putrinya melanjutkan ke SMP Negeri, Bu Tatik menyampaikan jika terdapat empat jalur yang bisa dilalui, yaitu:
- Jalur Domisili (sebelumnya zonasi): Kuota minimal 40%, untuk calon murid berdasarkan wilayah tempat tinggal.
- Jalur Afirmasi: Kuota minimal 20%, untuk anak dari keluarga kurang mampu atau penyandang disabilitas.
- Jalur Prestasi: Kuota minimal 25%, untuk calon murid dengan prestasi akademik maupun non-akademik.
- Jalur Mutasi (perpindahan tugas orang tua): Kuota maksimal 5%, termasuk bagi anak guru.
Informasi mengenai jalur penerimaan tersebut menjadi salah satu bekal penting bagi orang tua untuk mulai memahami pilihan pendidikan yang tersedia. Namun, sesi bersama Bunda Vivi kemudian mengajak Ayah dan Bunda melihat bahwa jalur masuk hanyalah salah satu bagian dari perjalanan.
Sebelum sibuk mengejar sekolah tertentu, ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar:
sudahkah kita benar-benar mengenal anak kita?
Sekolah Bukan “Pabrik” atau “Laundry”
Di awal pemaparannya, Bunda Vivi mengajak orang tua merenungkan kembali hakikat sebuah lembaga pendidikan. Ketika mencari SMP, apa hal pertama yang Ayah dan Bunda lihat? Akreditasi A? Fasilitas gedung yang megah?
“Kalau semua sekolah memiliki fasilitas yang bagus dan terakreditasi A, bagaimana kita menentukan sekolah yang paling tepat untuk anak kita?” tutur Bunda Vivi.
Beliau menegaskan bahwa sekolah yang bagus belum tentu sekolah yang tepat untuk setiap anak. Anak bukanlah “produk” yang dimasukkan ke dalam tempat tertentu untuk langsung menghasilkan prestasi. Sekolah bukan pabrik, bukan pula tempat “laundry” di mana orang tua tinggal menyerahkan anak dan berharap keluar dalam keadaan sempurna.
Sekolah adalah lembaga pendidikan yang menjunjung tinggi nilai agama, norma sosial, ilmu pengetahuan bermanfaat, serta pembentuk karakter. Oleh karena itu, kunci utama dalam memilih sekolah terletak pada prinsip Fit with the Child—keselarasan antara sekolah dengan kebutuhan serta kondisi anak dan keluarga.
Dengan sudut pandang ini, proses memilih sekolah menjadi lebih personal. Bukan lagi sekadar, “Sekolah mana yang paling terkenal?” Melainkan: “Sekolah mana yang paling sesuai dengan anak saya?”
Apa Itu Fit with the Child?
Konsep Fit with the Child mengingatkan orang tua bahwa setiap anak memiliki profil yang berbeda. Karena itu, sekolah yang ideal perlu selaras dengan beberapa aspek penting dalam kehidupan anak dan keluarga.
Materi Parenting Class menekankan setidaknya delapan hal yang perlu dipertimbangkan:
- Prinsip nilai dalam keluarga.
- Keimanan dan ketauhidan.
- Karakter positif yang ingin dibangun.
- Kebutuhan perkembangan anak.
- Potensi atau bakat umum dan khusus anak.
- Minat anak.
- Kondisi keluarga, termasuk kemampuan ekonomi.
- Arah pendidikan dan masa depan anak.
Artinya, memilih sekolah tidak dapat dilepaskan dari konteks keluarga dan kondisi anak secara utuh. Sebab tidak ada sekolah yang sempurna. Yang perlu dicari adalah kesesuaian antara tuntutan sekolah dengan kapasitas dan kebutuhan anak.
3 Langkah Strategis Memilih Sekolah Lanjutan
Agar orang tua tidak salah arah, Bunda Vivi Psikolog merumuskan tiga langkah penting yang perlu dilakukan.
1. Mengenali Anak Secara Utuh
Sebelum bertanya “Anak saya cocok sekolah di mana?”, tanyakan dulu: “Anak saya itu seperti apa?”
Orang tua perlu memahami profil anak secara menyeluruh, meliputi karakter, potensi atau bakat, minat, dan kebutuhan. Karakter positif yang dapat diperhatikan antara lain religiusitas, kemandirian, tanggung jawab, percaya diri, empati, dan disiplin.
Kemudian, pahami pula bakat umum, yaitu kemampuan dasar yang dimiliki setiap orang, serta bakat khusus, yaitu kemampuan unik yang dapat muncul ketika dilatih secara konsisten.
Minat juga tidak kalah penting. Apa yang disukai anak? Aktivitas apa yang membuatnya bersemangat? Sementara kebutuhan perlu dilihat sesuai dengan tahapan usia dan perkembangan anak.
Bunda Vivi juga mengingatkan agar orang tua tidak hanya melihat kelebihan anak.
Anak yang memiliki kemampuan akademik tinggi belum tentu siap menghadapi tantangan di sekolah yang sangat kompleks dan kompetitif. Sebaliknya, anak dengan kemampuan akademik sedang bukan berarti tidak mampu berkembang di sekolah yang baik.
Yang perlu dicari adalah kesesuaian antara tuntutan sekolah dan kapasitas anak.
2. Mengenali Sekolah: 5P Profil Sekolah
Setelah mengenali anak, saatnya melakukan riset terhadap sekolah yang menjadi pilihan.
Bunda Vivi menyarankan orang tua tidak hanya mengandalkan informasi dari satu sumber. Ayah dan Bunda dapat mulai dengan mengunjungi website atau media sosial sekolah, melakukan survei dengan datang langsung ke sekolah, serta bertanya kepada alumni dan orang tua siswa.
Kemudian, gunakan 5P Profil Sekolah sebagai bahan pertimbangan:
- Prinsip: Apakah prinsip nilai sekolah sesuai dengan prinsip nilai keluarga? Termasuk akidah, tauhid, akhlak, adab, dan ibadah.
- Pendidikan: Bagaimana kualitas kurikulum dan proses pembelajarannya?
- Pengasuhan: Bagaimana sekolah memperlakukan anak ketika anak melakukan kesalahan, kurang disiplin, atau terlibat konflik?
- Pengembangan Potensi: Apakah sekolah memberikan ruang bagi eksplorasi dan optimalisasi bakat serta minat anak?
- Partnership: Apakah sekolah memiliki program yang menguatkan keselarasan dan kerja sama dengan orang tua?
Lima hal ini membantu orang tua melihat sekolah secara lebih menyeluruh. Bukan hanya gedungnya, bukan hanya prestasinya, tetapi juga bagaimana sekolah mendidik, mengasuh, mengembangkan, dan bekerja sama dengan keluarga.
Akidah dan Tauhid sebagai Pondasi
Bagi keluarga Muslim, keselarasan nilai menjadi bagian yang sangat penting. Pertanyaannya bukan sekadar, “Apakah sekolah mengajarkan agama?” Tetapi lebih jauh: “Apakah prinsip agama hadir dalam kehidupan sehari-hari di sekolah?”
Dalam materi Parenting Class, Bunda Vivi mengajak orang tua memperhatikan tiga hal: apa yang diajarkan, apa yang dibiasakan, dan apa yang diteladankan.
Agama bukan hanya pengetahuan. Nilai tersebut diharapkan hadir dalam ibadah, perilaku, akhlak, dan adab. Keteladanan guru dan seluruh warga sekolah juga menjadi bagian penting dari budaya pendidikan.
Dengan demikian, bagi keluarga Muslim, alurnya bukan sekadar: belajar agama → tahu agama. Tetapi diharapkan berkembang menjadi: akidah & tauhid → akhlak & adab → ibadah → kebiasaan → karakter.
Kenali Beragam Pilihan Sekolah
Saat memilih sekolah lanjutan, orang tua juga perlu mengetahui bahwa pilihan tidak hanya terbatas pada satu jenis SMP.
Dalam materi Parenting Class, beberapa pilihan yang dapat dipertimbangkan antara lain SMP Negeri, SMP Islam Swasta, MTs, SMP Islam plus boarding/pondok pesantren, pondok pesantren, hingga PKBM. Masing-masing memiliki karakteristik dan fokus yang berbeda.
Begitu pula dengan kurikulum. Sekolah dapat memiliki kurikulum nasional, internasional, maupun kekhasan sekolah.
Karena itu, pertanyaannya kembali kepada anak dan keluarga:
Kebutuhan apa yang ingin dipenuhi? Nilai apa yang ingin dijaga? Potensi apa yang ingin dikembangkan? Dan seperti apa arah pendidikan yang ingin ditempuh?
3. Menyelaraskan dan Menentukan Pilihan
Setelah mengenali anak dan sekolah, langkah berikutnya adalah menyelaraskan dan menentukan pilihan. Diskusikan pilihan tersebut bersama anak.
Dengarkan pendapatnya dengan terbuka. Jika terdapat pemahaman yang kurang tepat, orang tua dapat membantu meluruskan. Namun, Bunda Vivi juga menegaskan bahwa orang tua tetap memiliki kewenangan dalam mengambil keputusan. Setelah berikhtiar dan berdiskusi, pilihan tersebut dapat dikuatkan dengan istikharah.
Ini menjadi pengingat penting: melibatkan anak bukan berarti seluruh keputusan diserahkan kepada anak.
Anak didengarkan. Orang tua membimbing. Kemudian keluarga menentukan langkah bersama dengan mempertimbangkan nilai, kebutuhan, dan kemaslahatan anak.
Sekolah sebagai Partner Orang Tua
Memilih sekolah juga berarti memilih partner dalam pendidikan anak.
Bunda Vivi mengingatkan bahwa pendidik terbaik tetaplah orang tua, sedangkan lembaga pendidikan terbaik tetaplah rumah. Rumah dan sekolah perlu saling selaras dan bersinergi.
Maka, setelah memilih sekolah, tanggung jawab orang tua tidak selesai. Justru perjalanan baru dimulai.
Akan ada beragam tantangan, bahkan mungkin ujian. Karena itu, orang tua perlu terus menguatkan keselarasan prinsip nilai antara rumah dan sekolah, mengutamakan akhlak dan adab, menjaga komunikasi, membiasakan konfirmasi, serta terlibat aktif dalam kegiatan sekolah.
Yang tidak kalah penting: terus belajar, berikhtiar, dan berdoa.
Kesiapan Anak Tidak Sama dengan Kesiapan Orang Tua
Ada satu bagian dalam Parenting Class yang mungkin menjadi bahan perenungan bagi banyak Ayah dan Bunda.
Kadang-kadang, anak sebenarnya sudah siap. Tetapi orang tua yang masih khawatir.
- “Bagaimana kalau anak saya tidak bisa?”
- “Bagaimana kalau salah pergaulan?”
- “Bagaimana kalau tidak bisa mengikuti pelajaran?”
- “Bagaimana kalau jauh dari rumah lalu sakit?”
Kekhawatiran tersebut sangat manusiawi. Namun, orang tua perlu belajar membedakan antara kekhawatiran orang tua dan kebutuhan anak.
Pertanyaan yang perlu direnungkan bukan hanya: “Apakah anak saya sudah siap?” Tetapi juga: “Apakah anak yang belum siap, atau kita sebagai orang tua yang belum siap melepaskan sebagian kendali?”
Inilah mengapa persiapan menuju SMP sebaiknya dilakukan sejak anak masih berada di kelas 4, 5, dan 6. Tidak perlu menunggu beberapa bulan menjelang kelulusan.
5 Dimensi Kesiapan Anak Menuju SMP
Lantas, apa saja yang perlu disiapkan?
Disampaikan oleh Bunda Vivi, kesiapan anak dipetakan ke dalam beberapa dimensi penting, yaitu spiritual-moral, kemandirian, emosional, sosial, kognitif, dan akademik.
- Spiritual-Moral: Anak belajar menjalankan nilai agama dengan kesadaran diri yang semakin berkembang dan matang.
- Kemandirian: Anak belajar mengelola diri, waktu, barang pribadi, serta tanggung jawabnya.
- Emosional: Anak belajar menghadapi perubahan, mengelola stres, dan menyikapi kegagalan.
- Sosial: Anak perlu memiliki kemampuan membangun relasi yang sehat dan menyelesaikan konflik dengan bijak.
- Kognitif: Anak perlu siap memahami berbagai konsep yang semakin kompleks.
- Akademik: Anak perlu memiliki kesiapan mengikuti tuntutan pembelajaran pada jenjang yang lebih tinggi.
Jadi, kesiapan masuk SMP tidak hanya tentang nilai rapor atau kemampuan mengerjakan soal. Ada manusia utuh yang perlu dipersiapkan.
Bagaimana Melatih Kesiapan Anak Sejak SD?
Kabar baiknya, kesiapan tersebut tidak harus dibangun dalam waktu singkat. Ada banyak hal yang dapat mulai dilatih sejak anak berada di kelas 4, 5, dan 6.
- Pertama, bangun growth mindset atau pola pikir berkembang. Ajarkan anak bahwa kemampuan bukan sesuatu yang selalu tetap. Anak dapat belajar, berlatih, melakukan kesalahan, dan berkembang.
- Kedua, mulai melatih kemandirian tingkat lanjut. Berikan kepercayaan secara bertahap agar anak semakin mampu mengelola dirinya, waktunya, barang-barangnya, serta tanggung jawabnya.
- Ketiga, bukalah ruang diskusi terbuka atau deep talk mengenai dinamika dunia remaja. Jangan menunggu anak menghadapi masalah baru kemudian membicarakannya. Jadikan rumah sebagai ruang aman untuk bertanya, bercerita, dan berdiskusi.
Ketenangan dan keterbukaan menjadi kunci.
Anak yang tahu bahwa rumah adalah tempat yang aman untuk kembali akan memiliki ruang untuk belajar menghadapi dunia yang semakin luas.
Memilih Sekolah, Sesungguhnya Menentukan Langkah
Menjelang akhir Parenting Class, pesan yang disampaikan terasa sederhana, tetapi sangat dalam:
Saat kita memilih sekolah, maka kita sedang menentukan langkah.
Bukan berarti pilihan sekolah akan menentukan seluruh masa depan anak. Namun, pilihan tersebut menjadi salah satu lingkungan yang akan menemani anak bertumbuh, belajar, membangun relasi, mengenal dirinya, dan mengembangkan potensi.
Karena itu, ada enam hal yang perlu terus diingat orang tua:
- Kenali anak.
- Selaraskan nilai.
- Siapkan langkah.
- Libatkan anak.
- Dampingi perjalanan anak.
- Doakan, doakan, terus doakan—mohon ridho Allah.
Pada akhirnya, menjadi orang tua pun merupakan proses pembelajaran sepanjang hayat.
Anak belajar tumbuh. Orang tua belajar mendampingi. Sekolah belajar menjadi partner. Dan semuanya membutuhkan proses, kesabaran, komunikasi, serta doa.
Memilih sekolah lanjutan bukan tentang mencari sekolah yang paling sempurna. Bukan pula tentang mengejar sekolah yang paling bergengsi. Tetapi tentang menemukan lingkungan yang selaras dengan nilai keluarga, kebutuhan anak, potensi yang dimiliki, serta arah pendidikan yang ingin ditempuh.
Maka, untuk Ayah dan Bunda kelas 4, 5, dan 6 SD Islam Bintang Juara, perjalanan menuju SMP tidak perlu dimulai dengan kepanikan. Mulailah dengan mengenali. Kemudian memahami. Lalu berdiskusi. Setelah itu, menyiapkan.
Dan ketika waktunya tiba, melangkahlah bersama anak dengan keyakinan bahwa setiap ikhtiar telah dilakukan sebaik mungkin. Sebab anak tidak hanya membutuhkan sekolah yang tepat. Anak membutuhkan orang tua yang bersedia terus belajar menjadi partner terbaik dalam setiap langkahnya.
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing setiap ikhtiar Ayah dan Bunda dalam mengantarkan putra-putri tercinta menjadi generasi yang saleh, bertauhid kokoh, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi sesama. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin. (CM-MRT)


