fbpx

Ada pertemuan yang memang ditakdirkan untuk berakhir pada perpisahan. Namun bukan berarti perpisahan selalu menyisakan kesedihan. Kadang, ia justru menjadi ruang untuk mensyukuri perjalanan panjang yang telah dilalui bersama.

Suasana itulah yang terasa begitu kuat dalam kegiatan Tasyakuran dan Akhirussanah Kelas VI Angkatan ke-4 SD Islam Bintang Juara yang diselenggarakan pada Sabtu, 6 Juni 2026 di Gedung BBGP Jawa Tengah, Jalan Mr. Koesbiyono Tjondrowibowo, Pakintelan, Gunungpati, Semarang.

Mengusung tema “Jejak Sang Calon Pemimpin Tangguh: Cerdas Berilmu, Santun Berperilaku”, kegiatan ini menjadi penanda berakhirnya perjalanan enam tahun pendidikan dasar bagi 16 kakak shalih dan shalihah Angkatan IV SD Islam Bintang Juara.

Namun lebih dari sekadar acara kelulusan, akhirussanah ini menjadi perayaan perjalanan tumbuh, belajar, berjuang, dan bermimpi bersama.

Enam Tahun yang Penuh Cerita

Enam tahun lalu, mereka datang dengan seragam yang masih kebesaran. Ada yang masih malu berbicara di depan kelas. Ada yang belum lancar membaca. Ada yang masih perlu ditemani saat beradaptasi dengan lingkungan sekolah.

Hari itu, semua kenangan itu seolah diputar kembali. Dalam setiap senyum yang terlihat, tersimpan ribuan cerita yang tidak akan pernah terlupakan. Cerita tentang tugas pertama. Cerita tentang sahabat pertama. Cerita tentang guru-guru yang sabar mendampingi. Dan cerita tentang mimpi-mimpi yang mulai tumbuh sejak mereka duduk di bangku sekolah dasar.

Pesan-Pesan Bermakna yang Mengaduk Perasaan

Rangkaian acara dipenuhi berbagai pesan penuh makna dari wali kelas, kepala sekolah, hingga Ketua Yayasan Dewi Sartika. Masing-masing menyampaikan pesan yang bukan hanya menjadi bekal untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya, tetapi juga bekal kehidupan.

Mereka mengingatkan bahwa kecerdasan akademik penting, tetapi akhlak mulia jauh lebih penting. Bahwa kesuksesan sejati bukan hanya tentang prestasi yang diraih, tetapi tentang manfaat yang diberikan kepada orang lain. Bahwa perjalanan setelah lulus SD justru baru dimulai.

Namun di antara semua pesan yang disampaikan hari itu, ada satu momen yang membuat suasana ruangan berubah menjadi begitu haru.

Ketika Kak Daffa Tak Kuasa Menahan Haru

Perwakilan siswa kelas VI angkatan IV, Kak Daffa, maju ke depan untuk menyampaikan pesan dan kesan. Awalnya ia tampak tenang. Namun perlahan suaranya mulai bergetar.

Ia mencoba melanjutkan kalimat demi kalimat, tetapi rasa haru yang selama ini tersimpan akhirnya tak mampu lagi disembunyikan. Bagaimana mungkin tidak?

Enam tahun bukan waktu yang singkat. Sebentar lagi ia dan teman-temannya akan melanjutkan perjalanan ke sekolah yang berbeda-beda. Mereka yang selama ini belajar, bermain, bercanda, dan bertumbuh bersama akan menempuh jalan masing-masing.

Dalam pesannya, Kak Daffa menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh guru yang telah mendidik mereka sejak kelas 1 hingga menyelesaikan pendidikan di kelas 6. Ucapan sederhana itu terdengar begitu tulus. Dan mungkin menjadi representasi dari perasaan seluruh siswa Angkatan IV pada hari itu.

Untaian Nada yang Menyimpan Banyak Kenangan

Suasana haru semakin terasa melalui berbagai penampilan istimewa yang dipersembahkan sepanjang acara.

Kelas VI membuka rangkaian penampilan dengan “Senandung Perpisahan” yang dipersembahkan untuk guru-guru tercinta, teman-teman sekelas, serta adik-adik kelas.

Setiap lirik yang dinyanyikan seakan membawa hadirin menelusuri kembali perjalanan panjang mereka selama enam tahun terakhir. Tak lama kemudian, giliran perwakilan adik kelas mempersembahkan lagu “Sayonara”.

Penampilan sederhana itu justru menjadi salah satu momen paling menyentuh.

Usai bernyanyi, adik-adik kelas memberikan kenang-kenangan kepada seluruh kakak kelas VI sebagai simbol cinta, penghormatan, dan doa untuk perjalanan mereka selanjutnya.

Resik Sesarengan dan Makna Silaturahim

Keindahan budaya Nusantara turut hadir melalui penampilan Tari Resik Sesarengan. Tarian ini menggambarkan pentingnya kerja sama dalam menjaga lingkungan dan kehidupan bersama.

Lebih dari itu, tarian tersebut menjadi simbol bahwa meskipun kelak berada di tempat yang berbeda, silaturahim harus tetap dijaga. Karena persahabatan yang dibangun dengan kebaikan tidak akan pernah dibatasi oleh jarak.

Untuk Ayah dan Bunda, Terima Kasih

Jika ada satu sosok yang paling banyak berkorban sepanjang perjalanan pendidikan anak, tentu mereka adalah ayah dan bunda. Karena itu, salah satu penampilan paling menyentuh datang dari kelas VI yang secara khusus dipersembahkan untuk orang tua mereka.

Setelah penampilan selesai, kakak shalih dan shalihah memberikan bunga kepada ayah dan bunda masing-masing. Ada pelukan. Ada senyum. Ada air mata. Dan ada begitu banyak rasa syukur yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Momen sederhana itu menjadi pengingat bahwa keberhasilan anak tidak pernah lepas dari doa, perjuangan, dan cinta tanpa syarat dari orang tua.

Ketika Orang Tua Turut Menyampaikan Cinta

Suasana haru berlanjut ketika perwakilan orang tua kelas VI mempersembahkan lagu “Saat Kau Telah Mengerti”. Lagu tersebut dinyanyikan oleh para bunda dengan penuh penghayatan.

Bagi banyak orang tua yang hadir, lagu itu terasa seperti surat cinta yang selama ini tersimpan untuk anak-anak mereka. Penampilan tersebut kemudian dilanjutkan dengan pemberian apresiasi kepada seluruh kakak shalih dan shalihah kelas VI.

Monolog Ibu Pertiwi yang Menggugah Kesadaran

Menjelang penghujung acara, hadirin kembali dibuat terpukau melalui penampilan pamungkas. Kak Syabil membawakan Monolog Ibu Pertiwi, diiringi paduan suara kelas VI yang menyanyikan lagu “Ibu Pertiwi”.

Penampilan ini tidak hanya indah secara artistik, tetapi juga menghadirkan refleksi mendalam tentang kondisi bangsa dan peran generasi muda di masa depan. Seolah menjadi pengingat bahwa anak-anak yang hari itu lulus dari sekolah dasar adalah generasi yang kelak akan menentukan arah negeri ini.

Penyematan Samir yang Sarat Makna

Prosesi penyematan samir dan penyerahan ijazah menjadi salah satu puncak acara yang paling dinanti. Satu per satu siswa dipanggil ke atas panggung.

Bu Shilvi membacakan profil masing-masing siswa dengan hangat dan penuh kebanggaan. Di layar besar, ditampilkan slideshow yang menggambarkan perjalanan mereka.

Menariknya, tayangan tersebut memperlihatkan transformasi dari sosok anak berseragam toga menuju berbagai profesi dan cita-cita yang mereka impikan di masa depan.

Ada yang bercita-cita menjadi dokter. Ada yang ingin menjadi guru. Ada yang ingin menjadi pengusaha. Ada pula yang bermimpi menjadi pemimpin yang membawa manfaat bagi banyak orang.

Visual tersebut menjadi simbol bahwa pendidikan bukan hanya tentang apa yang dicapai hari ini, tetapi tentang mimpi besar yang sedang dipersiapkan untuk masa depan.

Perpisahan yang Menjadi Awal Perjalanan Baru

Kegiatan ditutup dengan pemutaran video dokumenter perjalanan siswa sejak kelas 1 hingga kelas 6.

Tawa, tingkah lucu masa kecil, kegiatan belajar, perlombaan, outing class, hingga momen-momen kebersamaan selama enam tahun diputar kembali di hadapan seluruh hadirin.

Beberapa tersenyum. Beberapa tertawa. Dan tak sedikit yang diam-diam menyeka air mata. Karena mereka sadar, sebuah babak telah selesai. Namun kisah mereka belum berakhir.

Akhirussanah Angkatan IV SD Islam Bintang Juara bukanlah garis akhir. Ini adalah awal dari perjalanan baru bagi para calon pemimpin tangguh yang telah ditempa selama enam tahun.

Selamat melangkah, kakak shalih dan shalihah. Teruslah menjadi pribadi yang cerdas berilmu, santun berperilaku, dan bermanfaat bagi sesama. Semoga setiap jejak langkah yang kalian tinggalkan hari ini menjadi awal dari jejak-jejak kebaikan yang lebih besar di masa depan.***