Belakangan ini, kasus bullying atau perundungan semakin sering terdengar di masyarakat. Mulai dari ejekan verbal, pengucilan sosial, hingga perundungan yang melibatkan media digital. Fenomena ini menjadi pengingat bagi semua pihak bahwa sekolah bukan hanya tempat belajar akademik, tetapi juga ruang penting untuk membentuk karakter, adab, dan kesehatan emosional anak-anak.
Kesadaran inilah yang menggugah SD Islam Bintang Juara untuk mengambil langkah preventif dan edukatif. Bukan menunggu masalah terjadi, melainkan mencegah sejak dini melalui pembelajaran yang tepat, kontekstual, dan menyentuh dunia anak. Salah satu ikhtiar tersebut diwujudkan melalui Kelas Inspirasi bersama Bunda Vivi, Psikolog, dengan fokus utama pada pencegahan bullying melalui penguatan adab berteman, regulasi emosi, dan literasi digital.
Kelas Inspirasi ini dirancang untuk menjangkau seluruh jenjang, dengan pendekatan yang disesuaikan dengan tahap perkembangan anak. Kegiatan dilaksanakan dalam dua sesi:
- Sesi 1: Selasa, 6 Januari 2026 untuk kelas 1–3
- Sesi 2: Rabu, 7 Januari 2026 untuk kelas 4–6
Dua hari yang penuh makna ini menjadi ruang belajar, refleksi, sekaligus penguatan nilai-nilai persahabatan yang sehat bagi kakak shalih-shalihah.
Contents
Bullying Berawal dari Konflik yang Tidak Terselesaikan
Dalam dunia anak-anak, konflik adalah hal yang wajar. Berebut mainan, berbeda pendapat, merasa tidak adil, atau tersinggung oleh perkataan teman merupakan bagian dari proses tumbuh kembang sosial. Namun, konflik yang tidak disikapi dengan tepat dan dilakukan berulang—baik oleh anak maupun oleh orang dewasa di sekitarnya—dapat berkembang menjadi perundungan.
Bullying sering kali tidak dimulai dari niat jahat, tetapi dari:
- emosi yang tidak terkelola,
- kurangnya keterampilan berkomunikasi,
- serta minimnya pemahaman tentang adab berteman.
Oleh karena itu, anak-anak perlu dibekali bukan hanya dengan larangan “jangan mengejek” atau “jangan memukul”, melainkan dengan pemahaman mendalam tentang bagaimana bersikap sebagai teman yang baik, bagaimana menyampaikan emosi, serta bagaimana merespons konflik secara sehat.
Sesi Kelas 1–3: Aku Sayang dan Peduli pada Teman
Pada Selasa, 6 Januari 2026, suasana sekolah terasa berbeda. Kakak shalih-shalihah kelas 1 hingga 3 berkumpul dengan penuh antusias. Sesi pertama Kelas Inspirasi ini mengangkat tema “Aku Sayang dan Peduli pada Teman”, tema yang sederhana namun sangat fundamental bagi anak usia awal SD.
Bunda Vivi Psikolog menyadari bahwa anak-anak kelas 1–3 masih berada pada fase belajar mengenali diri dan orang lain. Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan pun tidak bersifat ceramah, melainkan melalui gerak, lagu, dan interaksi yang menyenangkan.
Melalui lagu dan aktivitas sederhana, kakak shalih-shalihah diajak mengenal adab-adab berteman, seperti:
- menyapa dengan ramah,
- bergantian saat bermain,
- meminta maaf ketika melakukan kesalahan,
- serta membantu teman yang sedang kesulitan.
Dengan bahasa yang mudah dipahami anak, Bunda Vivi menekankan bahwa menyayangi teman bukan hanya lewat kata-kata, tetapi juga melalui sikap dan perbuatan sehari-hari. Anak-anak diajak merasakan bahwa memiliki teman itu menyenangkan ketika kita saling peduli dan menghargai.
Gelak tawa, gerakan tangan, dan nyanyian ceria mengisi sesi ini. Namun di balik keseruannya, tersimpan pesan penting: setiap anak berharga dan layak diperlakukan dengan baik.
Menanamkan Adab Berteman Sejak Dini
Pada usia kelas 1–3, anak-anak sedang belajar membentuk konsep tentang benar dan salah dalam hubungan sosial. Di fase ini, keteladanan dan pembiasaan menjadi kunci utama.
Bunda Vivi mengajak kakak shalih-shalihah untuk memahami bahwa:
- mengejek bisa melukai perasaan,
- mendorong teman bukanlah solusi,
- dan diam saat melihat teman disakiti bukanlah sikap yang benar.
Anak-anak dilatih untuk peka terhadap perasaan teman, meskipun masih dalam bentuk sederhana. Dengan pendekatan yang hangat, mereka belajar bahwa konflik bisa diselesaikan dengan bicara, bukan dengan menyakiti.
Langkah kecil ini menjadi fondasi penting dalam upaya pencegahan bullying sejak usia dini.
Sesi Kelas 4–6: Cerdas Mengelola Emosi dan Literasi Digital dalam Pertemanan
Berbeda dengan sesi pertama, Kelas Inspirasi untuk kelas 4–6 pada Rabu, 7 Januari 2026 hadir dengan nuansa yang lebih reflektif. Tema yang diangkat adalah “Cerdas Mengelola Emosi dan Literasi Digital dalam Pertemanan”, menyesuaikan dengan tantangan sosial anak usia akhir SD.
Pada fase ini, anak-anak mulai:
- lebih sadar terhadap penilaian teman,
- lebih intens dalam pergaulan,
- serta mulai bersentuhan dengan dunia digital secara lebih luas.
Bunda Vivi mengajak kakak shalih-shalihah mengenali ragam emosi yang sering muncul dalam pertemanan: marah, sedih, kecewa, cemburu, hingga rasa tidak dihargai. Anak-anak diajak untuk bercermin pada diri sendiri.
Apakah ketika marah, emosinya meledak-ledak?
Apakah ketika sedih dan kecewa, perasaannya lama sekali hilang?
Pesan penting yang disampaikan adalah:
marah boleh, sedih boleh, kecewa juga boleh—asal tahu cara mengelolanya dengan tepat.
Mengelola Emosi agar Tidak Menyakiti
Dalam sesi ini, Bunda Vivi menekankan bahwa emosi bukanlah musuh. Emosi justru menjadi sinyal yang membantu manusia memahami apa yang sedang terjadi di dalam dirinya. Masalah muncul ketika emosi:
- tidak dikenali,
- dipendam terlalu lama,
- atau diekspresikan secara tidak tepat.
Kakak kelas 4–6 diajak mempelajari cara-cara sederhana untuk menenangkan diri, seperti:
- menarik napas perlahan,
- mengambil jeda sebelum bereaksi,
- serta menyampaikan perasaan dengan kata-kata yang baik.
Dengan cara ini, anak-anak belajar bahwa emosi yang terkelola dengan baik akan melahirkan pertemanan yang sehat, sementara emosi yang meledak-ledak berisiko melukai diri sendiri dan orang lain.
Literasi Digital sebagai Bagian dari Pencegahan Bullying
Salah satu pembahasan penting dalam sesi kedua adalah literasi digital. Bunda Vivi mengajak kakak shalih-shalihah menyadari bahwa pertemanan hari ini tidak hanya terjadi di dunia nyata, tetapi juga di dunia maya.
Komentar, pesan singkat, emoji, dan unggahan di media sosial bisa menjadi sumber kebahagiaan—namun juga bisa menjadi sarana perundungan jika tidak digunakan dengan bijak.
Anak-anak diajak memahami bahwa:
- kata-kata di dunia digital tetap memiliki dampak emosional,
- menyebarkan pesan tanpa berpikir bisa melukai orang lain,
- dan tidak semua hal perlu dibagikan atau ditanggapi.
Literasi digital ini menjadi bekal penting agar kakak shalih-shalihah mampu bersikap bijak, empatik, dan bertanggung jawab dalam berinteraksi secara online.
Sekolah sebagai Ruang Aman untuk Bertumbuh
Melalui Kelas Inspirasi ini, SD Islam Bintang Juara menegaskan komitmennya untuk menjadikan sekolah sebagai ruang aman, tempat anak-anak dapat belajar, berekspresi, dan bertumbuh tanpa rasa takut.
Pencegahan bullying bukanlah tugas satu pihak saja. Ia membutuhkan:
- keterlibatan sekolah,
- dukungan orang tua,
- serta kesadaran anak-anak itu sendiri.
Dengan membekali kakak shalih-shalihah pemahaman tentang adab berteman, regulasi emosi, dan literasi digital, sekolah berharap anak-anak tidak hanya mampu menghindari perundungan, tetapi juga menjadi agen kebaikan di lingkungannya.
Menjadi Teman yang Baik adalah Keterampilan Hidup
Pada akhirnya, Kelas Inspirasi bersama Bunda Vivi Psikolog bukan sekadar kegiatan tematik. Ia adalah bagian dari proses panjang membentuk karakter anak agar:
- mampu memahami dirinya,
- menghargai orang lain,
- dan menyelesaikan konflik dengan cara yang bermartabat.
Menjadi teman yang baik adalah keterampilan hidup yang perlu dilatih sejak dini. Ketika anak-anak belajar mengelola emosi dan bersikap empatik, mereka tidak hanya terhindar dari perilaku bullying, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang kuat secara emosional, sehat secara sosial, dan berakhlak mulia.
Melalui ikhtiar ini, SD Islam Bintang Juara berharap setiap kakak shalih-shalihah dapat tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih, saling peduli, dan saling menjaga—karena sekolah yang aman adalah pondasi bagi masa depan yang lebih baik.***

