Ada banyak cara untuk mengenalkan anak pada dunia yang lebih luas. Salah satunya adalah dengan menumbuhkan minat baca sejak dini. Minat baca ini bisa dikenalkan tentu saja melalui buku.
Lewat sebuah buku, anak bisa berkenalan dengan tempat yang belum pernah dikunjungi, mengenal tokoh yang belum pernah ditemui, memahami kehidupan orang lain, menemukan jawaban atas rasa ingin tahunya, bahkan membayangkan masa depan yang sebelumnya belum pernah terpikirkan.
Namun, membuat anak mencintai buku tentu tidak cukup hanya dengan berkata, “Ayo membaca!” Kecintaan terhadap membaca perlu ditumbuhkan melalui pengalaman yang menyenangkan, lingkungan yang mendukung, serta keteladanan dari orang-orang dewasa di sekitarnya.
Hal inilah yang turut hadir dalam kunjungan Perpustakaan Keliling ke SD Islam Bintang Juara pada Rabu, 16 September 2026.
Kegiatan ini merupakan salah satu program dari Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Semarang yang beririsan dengan upaya SD Islam Bintang Juara dalam meningkatkan budaya literasi di lingkungan sekolah.
Kehadiran perpustakaan keliling bukan sekadar menghadirkan koleksi buku ke halaman sekolah. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi kesempatan bagi anak-anak untuk mengalami secara langsung bahwa membaca dapat menjadi aktivitas yang menyenangkan, dekat, dan penuh penemuan.
Contents
Ketika Buku Datang Menjemput Anak
Bagi sebagian anak, menemukan buku yang tepat bisa menjadi awal dari sebuah kebiasaan baru. Ada anak yang menyukai cerita petualangan. Ada yang tertarik dengan hewan, sains, sejarah, tokoh, komik edukatif, atau cerita bergambar. Ada pula yang awalnya hanya tertarik karena melihat sampul buku yang menarik, kemudian mulai membuka halaman demi halaman.
Karena itu, menghadirkan perpustakaan keliling ke sekolah menjadi salah satu cara untuk memberikan pengalaman literasi yang lebih nyata. Anak tidak hanya mendengar bahwa buku itu penting. Mereka dapat melihat, memilih, membuka, membaca, dan menemukan sendiri hal-hal yang menarik perhatian mereka.
Pengalaman seperti ini penting karena membangun budaya membaca bukan semata-mata tentang membuat anak mampu membaca, tetapi juga membantu anak mau membaca.
Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Semarang dalam berbagai kajian literasinya juga menempatkan sekolah sebagai salah satu lingkungan penting dalam membangun kegemaran membaca. Lingkungan sekolah yang menyenangkan dan ramah anak dapat menjadi ruang bagi anak untuk memperluas wawasan melalui aktivitas literasi.
Maka, perpustakaan keliling dapat menjadi salah satu jembatan yang mempertemukan anak dengan pengalaman membaca yang lebih beragam.
Walaupun di sekolah sudah tersedia perpustakaan dengan beragam koleksi buku, kunjungan Perpustakaan Keliling selalu disambut penuh semangat oleh kakak shalih-shalihah. Mengambil buku yang tersusun rapi di rak dalam mobil perpustakaan, menyapa petugas perpustakaan, hingga mengembalikan buku pada petugas ternyata juga menambah pengalaman bermakna bagi para siswa.
Mengapa Menumbuhkan Minat Baca Penting bagi Anak?
Membaca sering kali dipahami sebatas kemampuan untuk mengenali huruf, mengeja kata, lalu memahami kalimat. Padahal, manfaat membaca jauh lebih luas.
1. Membantu Memperkaya Kosakata
Semakin banyak anak berinteraksi dengan buku, semakin banyak pula kata dan ungkapan yang mereka temui. Mereka berjumpa dengan kata-kata yang mungkin tidak selalu muncul dalam percakapan sehari-hari. Dari sinilah kemampuan bahasa anak dapat berkembang secara bertahap.
Penelitian Demir-Lira dan rekan-rekannya dalam Developmental Science yang dipublikasikan PubMed menemukan bahwa interaksi membaca buku antara orang tua dan anak pada usia dini berkaitan dengan kemampuan kosakata reseptif anak ketika memasuki sekolah dasar.
Artinya, pengalaman membaca bersama sejak kecil dapat memberikan bekal bahasa yang terus terbawa dalam perjalanan pendidikan anak.
2. Menguatkan Kemampuan Memahami Bacaan
Membaca bukan hanya tentang seberapa cepat anak menyelesaikan sebuah halaman. Yang lebih penting adalah apakah anak memahami apa yang dibacanya.
Ketika membaca cerita, anak belajar mengenali tokoh, memahami alur, menemukan informasi, menghubungkan sebab dan akibat, serta menarik kesimpulan dari apa yang dibacanya.
Penelitian Çalışkan dan Ulaş yang dipublikasikan IEJEE terhadap siswa kelas 4 sekolah dasar menunjukkan bahwa kegiatan membaca yang melibatkan orang tua memberikan pengaruh positif terhadap pemahaman membaca, motivasi membaca, dan sikap anak terhadap membaca.
3. Menumbuhkan Motivasi untuk Membaca Mandiri
Ada perbedaan besar antara anak yang membaca karena diperintah dan anak yang membaca karena ingin tahu. Tujuan membangun budaya literasi tentu bukan sekadar membuat anak menyelesaikan target jumlah buku. Yang ingin dibangun adalah munculnya motivasi dari dalam diri anak.
Penelitian Cubillos (2023) yang dipublikasikan pada International Literacy Association (ILA) terhadap hampir 330.000 remaja di Chile menemukan adanya hubungan positif antara motivasi membaca orang tua dan frekuensi membaca untuk kesenangan dengan motivasi membaca anak. Hubungan tersebut tetap terlihat setelah mempertimbangkan prestasi membaca anak sebelumnya dan pengaruh teman sebaya.
Dengan kata lain, kebiasaan membaca di lingkungan keluarga dapat ikut membentuk cara anak memandang aktivitas membaca.
4. Membuka Wawasan Anak
Buku memungkinkan anak bertemu dengan dunia yang lebih luas daripada pengalaman sehari-harinya. Anak dapat mengenal kehidupan di tempat lain, memahami profesi, mempelajari sejarah, mengenal berbagai budaya, memahami alam, hingga menemukan berbagai gagasan dan sudut pandang.
Inilah salah satu alasan mengapa budaya membaca penting dalam pendidikan. Anak yang membaca tidak hanya mengumpulkan informasi. Ia sedang belajar memahami dunia.
Anak Belajar Cinta Membaca dari Apa yang Dilihatnya
Ada satu hal yang sering terlupakan ketika orang dewasa berbicara tentang kebiasaan membaca anak: keteladanan. Kita dapat berkali-kali mengatakan kepada anak bahwa membaca itu penting. Namun, pesan tersebut akan jauh lebih kuat ketika anak melihat orang dewasa di sekitarnya benar-benar menikmati kegiatan membaca.
Ayah membaca buku. Ibu membaca artikel atau novel. Guru membaca sebelum pembelajaran dimulai. Orang dewasa berdiskusi tentang sesuatu yang baru saja mereka baca. Dari pengalaman sederhana tersebut, anak mendapatkan pesan bahwa membaca bukan sekadar tugas sekolah. Membaca adalah bagian dari kehidupan.
Penelitian Mullan (2010) dalam Journal of Research in Reading yang dipublikasikan Wiley Online Library menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara kebiasaan membaca orang tua dan kebiasaan membaca anak. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa orang tua dapat berperan sebagai role model dalam mempromosikan perilaku membaca.
Maka, membangun anak menjadi pembaca tidak selalu harus dimulai dari anak. Bisa jadi, langkah pertamanya justru dimulai dari orang dewasa. Lalu apa yang bisa kita lakukan?
Tidak dengan menyuruh anak, tetapi dengan menciptakan lingkungan yang gemar membaca
Kadang-kadang orang tua terlalu fokus pada pertanyaan: “Bagaimana supaya anak mau membaca?” Padahal, pertanyaan yang tidak kalah penting adalah: “Seperti apa lingkungan yang membuat anak merasa bahwa membaca itu menyenangkan?”
Membangun lingkungan membaca dapat dimulai dari hal-hal sederhana, antara lain:
1. Biarkan Anak Melihat Orang Dewasa Membaca
Tidak perlu selalu berupa buku pelajaran. Ayah Bunda dan guru di sekolah bisa membaca buku, majalah, artikel, atau bacaan lain yang memang dinikmati.
Apabila setiap hari anak senantiasa terpapar aktivitas tersebut, anak bisa melihat bahwa membaca bukan aktivitas yang hanya dilakukan ketika mendapat tugas.
2. Sediakan Bacaan yang Sesuai dengan Minat Anak
Jangan memaksa semua anak menyukai jenis buku yang sama. Ada anak yang menyukai cerita. Ada yang tertarik dengan dinosaurus. Ada yang senang melihat ensiklopedia bergambar. Ada yang tertarik dengan eksperimen, tokoh, kendaraan, atau alam.
Minat dapat menjadi pintu masuk menuju kebiasaan membaca.
3. Membaca Buku bersama Anak
Membacakan buku tidak hanya berlaku untuk anak usia PAUD. Anak SD pun masih dapat menikmati aktivitas membaca bersama orang tua, terutama ketika bacaan tersebut menarik dan kemudian dilanjutkan dengan diskusi yang hangat.
Penelitian Demir-Lira dan rekan-rekannya menemukan bahwa kuantitas interaksi membaca buku antara orang tua dan anak pada usia dini berkaitan dengan kemampuan kosakata, pemahaman membaca, dan motivasi intrinsik membaca pada anak di kemudian hari.
Jadi, membaca bersama bukan sekadar membacakan kata demi kata. Namun di dalamnya, Ayah Bunda di rumah dan guru di sekolah bisa membangun percakapan dengan anak. Ada pertanyaan. Ada tawa. Ada rasa ingin tahu yang lahir dalam situasi tersebut.
Dan semua pengalaman itu bisa menjadi bagian dari memori baik anak tentang kegiatan membaca.
4. Jangan Menjadikan Membaca sebagai Hukuman
“Kalau tidak mau membereskan mainan, silakan baca buku di pojok ruangan!”
Kalimat seperti ini tanpa disadari dapat membuat membaca memiliki asosiasi negatif. Membaca sebaiknya hadir sebagai aktivitas yang bermakna, bukan sebagai hukuman.
5. Berikan Kesempatan Anak Memilih
Ketika memungkinkan, biarkan anak memilih buku yang ingin dibaca. Pilihan sederhana dapat membuat anak merasa memiliki kendali terhadap pengalaman membacanya.
Tujuannya bukan membuat anak menyukai semua buku. Tujuannya adalah membantu anak menemukan buku yang ia sukai.
6. Ajak Anak Bercerita tentang Apa yang Dibacanya
Setelah selesai membaca, tidak selalu perlu memberikan kuis. Cukup tanyakan: “Bagian mana yang paling kamu suka?” atau, “Kalau kamu menjadi tokoh dalam cerita itu, kamu akan melakukan apa?”
Pertanyaan sederhana dapat membuat membaca berubah menjadi percakapan yang menyenangkan.
Dari Perpustakaan Keliling Menuju Budaya Literasi
Kunjungan perpustakaan keliling ke SD Islam Bintang Juara menjadi salah satu pengalaman yang dapat memperkaya perjalanan literasi anak.
Namun, tentu saja, budaya membaca tidak selesai ketika kegiatan perpustakaan keliling berakhir. Justru dari sinilah kebiasaan itu dapat terus dilanjutkan.
Di sekolah, anak dapat terus diberi ruang untuk membaca, berdiskusi, mencari informasi, dan menceritakan kembali apa yang mereka temukan. Di rumah, Ayah dan Bunda dapat melanjutkan dengan menciptakan suasana yang akrab dengan buku. Sebab, sekolah dan keluarga memiliki peran yang saling melengkapi.
Membangun budaya literasi bukan hanya pekerjaan guru. Bukan pula hanya tugas orang tua. Ini adalah perjalanan bersama.
Karena Pemimpin yang Baik Juga Harus Gemar Belajar
Di SD Islam Bintang Juara, literasi tidak hanya dipandang sebagai kemampuan akademik. Membaca adalah salah satu jalan bagi anak untuk terus belajar.
Calon pemimpin muslim tidak cukup hanya memiliki keberanian untuk berbicara. Ia juga perlu memiliki kemauan untuk mendengar, membaca, memahami, berpikir, dan belajar dari berbagai pengalaman.
Buku dapat menjadi salah satu teman dalam perjalanan tersebut. Melalui buku, anak belajar bahwa dunia begitu luas. Ada banyak hal yang belum ia ketahui. Ada banyak pertanyaan yang belum ia temukan jawabannya. Dan ada banyak ilmu yang masih dapat dipelajari.
Karena itu, tujuan akhirnya bukan sekadar: “Anak saya harus rajin membaca.” Tetapi lebih jauh: “Semoga anak saya tumbuh menjadi pribadi yang senang belajar.”
Sebab ketika rasa ingin tahu tetap hidup, proses belajar tidak akan berhenti hanya karena anak meninggalkan bangku sekolah.
Kunjungan perpustakaan keliling pada 16 September 2026 mungkin hanya berlangsung dalam satu hari. Namun, harapannya jauh lebih panjang.
Semoga dari satu buku yang dibuka, lahir satu rasa ingin tahu. Dari satu cerita, lahir satu pertanyaan. Dari satu pertanyaan, lahir keinginan untuk mencari tahu.
Dan dari kebiasaan membaca yang terus tumbuh, lahir calon pemimpin muslim yang berilmu, berakhlakul karimah, tangguh, dan bermanfaat. Karena bisa jadi, sebuah buku yang dibaca hari ini adalah awal dari sebuah mimpi besar di masa depan.
Referensi:
- Mullan, K. (2010). Families that read: A time-diary analysis of young people’s and parents’ reading. Journal of Research in Reading, 33(4), 414–430. Wiley Online Library
- Cubillos, M. (2023). A Chip Off the Old Block: Do Reading-Motivated Parents Raise Reading-Motivated Children? Reading Research Quarterly, 58(4), 668–684. International Literacy Association (ILA)
- Demir-Lira, Ö. E., Applebaum, L. R., Goldin-Meadow, S., & Levine, S. C. (2019). Parents’ early book reading to children: Relation to children’s later language and literacy outcomes controlling for other parent language input. Developmental Science, 22(3), e12764. PubMed
- Çalışkan, E. F., & Ulaş, A. H. (2022). The Effect of Parent-Involved Reading Activities on Primary School Students’ Reading Comprehension Skills, Reading Motivation, and Attitudes Towards Reading. International Electronic Journal of Elementary Education, 14(4), 509–524. IEJEE
- Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Semarang. Kajian Pengukuran Tingkat Kegemaran Membaca di Kota Semarang Tahun 2024.
