fbpx

“Kenapa di Indonesia tidak ada musim salju seperti di beberapa negara lain?”

Pertanyaan seperti itu mungkin terdengar sederhana. Namun, di baliknya ada konsep sains yang menarik: letak suatu negara di Bumi ternyata ikut memengaruhi iklim, musim, dan kondisi cuacanya.

Hal inilah yang menjadi awal perjalanan belajar kakak-kakak kelas 4A SD Islam Bintang Juara dalam kegiatan BBOT (Belajar Bersama Orang Tua) pada Rabu, 16 September 2026.

Bersama Bunda Imas Musfiroh, Bunda dari Kak Afshiena, kakak-kakak diajak mengenal lebih dekat tentang iklim, musim, dan cuaca.

Menariknya, tanggal tersebut bertepatan dengan Hari Internasional untuk Pelestarian Lapisan Ozon atau International Day for the Preservation of the Ozone Layer yang diperingati setiap 16 September. PBB menetapkan tanggal tersebut sebagai hari internasional untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya menjaga lapisan ozon.

Maka, pembelajaran hari itu pun berkembang menjadi perjalanan yang lebih luas. Dari negara-negara di dunia, menuju lapisan ozon, kemudian berlanjut pada efek rumah kaca dan kenaikan permukaan air laut. Semua dipelajari melalui pertanyaan, diskusi, dan praktik.

Mengenal Iklim dan Musim yang Berbeda di Setiap Negara

Perjalanan dimulai dengan mengenal berbagai negara di dunia. Kakak-kakak diajak memperhatikan letak lintang negara-negara tersebut dan menghubungkannya dengan kondisi iklim, musim, serta cuaca yang mereka alami.

Dari sini, anak-anak mulai memahami bahwa Bumi bukanlah tempat yang memiliki kondisi cuaca dan musim yang sama di setiap wilayah. Ada negara yang berada di wilayah tropis dan memiliki pola musim yang berbeda dengan negara di wilayah subtropis atau lintang tinggi.

Ada negara yang mengalami musim semi, panas, gugur, dan dingin. Sementara Indonesia, yang berada di wilayah tropis, secara umum mengalami pola musim hujan dan kemarau.

Namun, pembahasan tidak berhenti pada menghafalkan nama musim. Kakak-kakak diajak memahami bahwa letak suatu wilayah dan kondisi atmosfer merupakan bagian dari sistem yang memengaruhi kehidupan manusia di Bumi.

Dari sini, pelajaran IPAS terasa lebih dekat dengan kehidupan.

Ternyata, ketika kita melihat berita tentang salju di negara lain, musim hujan di Indonesia, atau cuaca panas yang terjadi di suatu wilayah, semuanya merupakan bagian dari sistem Bumi yang saling berkaitan.

Ternyata Hari Itu adalah Hari Ozon Sedunia

Setelah berbicara mengenai Bumi dan atmosfer, ada satu hal menarik yang membuat pembelajaran hari itu semakin relevan. 16 September adalah Hari Internasional untuk Pelestarian Lapisan Ozon.

Bunda Imas kemudian mengajak kakak-kakak berpikir: “Mengapa Bumi perlu dilindungi oleh lapisan ozon?” Pertanyaan tersebut membawa kakak-kakak mengenal salah satu pelindung penting bagi kehidupan di Bumi.

Lapisan ozon berada di stratosfer dan berfungsi menyerap sebagian radiasi ultraviolet (UV) berbahaya dari Matahari. Karena itu, keberadaan ozon stratosfer sangat penting untuk melindungi manusia, hewan, tumbuhan, dan berbagai kehidupan di Bumi.

Kakak-kakak kemudian diajak membayangkan: “Kalau lapisan ozon menipis, apa yang akan terjadi?” Pertanyaan sederhana tersebut membuka ruang bagi anak untuk memahami bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tentang kebersihan di sekitar sekolah.

Ada sistem besar di atmosfer yang juga perlu dijaga.

Bagaimana Ozon Terbentuk?

Bunda Imas juga mengenalkan unsur pembentuk ozon. Secara kimia, ozon adalah O₃, yaitu molekul yang terdiri dari tiga atom oksigen. Oksigen yang kita hirup sehari-hari umumnya berbentuk O₂.

Namun, bagaimana O₃ terbentuk?

Di stratosfer, radiasi ultraviolet dari Matahari memecah molekul O₂ menjadi atom-atom oksigen. Atom oksigen tersebut kemudian bergabung dengan molekul O₂ lainnya sehingga terbentuk O₃ atau ozon. Proses ini merupakan bagian dari keseimbangan alami pembentukan dan penghancuran ozon di atmosfer.

Penjelasan tersebut menjadi kesempatan bagi kakak-kakak untuk melihat bahwa sesuatu yang sangat kecil—bahkan sampai pada tingkat atom—dapat berperan dalam menjaga kehidupan di Bumi.

Sains yang tadinya terasa jauh menjadi lebih dekat dan dapat dibayangkan.

Bersyukur Ketika Hujan Turun dan Petir Menyambar

Dalam pembelajaran, kakak-kakak juga diajak melihat fenomena alam dari sudut pandang yang lebih luas.

Petir yang terkadang membuat kita merasa takut ternyata juga memiliki peran dalam kimia atmosfer. Petir dapat menghasilkan nitrogen oksida (NOx), yang merupakan bagian dari berbagai proses kimia di atmosfer.

Namun, penting untuk memahami bahwa petir bukan mekanisme utama pembentukan lapisan ozon stratosfer. Pembentukan ozon di stratosfer terutama digerakkan oleh radiasi UV Matahari.

Dari pembahasan tersebut, kakak-kakak tetap mendapatkan sebuah pesan reflektif: alam memiliki banyak proses yang belum tentu langsung terlihat manfaatnya bagi manusia.

Maka, ketika hujan turun, ketika awan berkumpul, atau ketika petir menyambar, kita dapat belajar untuk bersyukur dan semakin kagum terhadap keteraturan ciptaan Allah, sekaligus tetap memahami fenomena tersebut berdasarkan ilmu pengetahuan.

Praktik Efek Rumah Kaca: Apa yang Terjadi pada Bumi?

Setelah mengenal lapisan ozon, pembelajaran bergerak ke topik lain yang juga sangat dekat dengan isu lingkungan: efek rumah kaca dan perubahan iklim.

Kakak-kakak diajak melakukan praktik untuk memahami bagaimana gas rumah kaca berhubungan dengan panas di atmosfer.

Efek rumah kaca sebenarnya merupakan proses alami yang membuat Bumi memiliki suhu yang memungkinkan kehidupan berlangsung. Masalah muncul ketika konsentrasi gas rumah kaca meningkat akibat aktivitas manusia sehingga semakin banyak panas tertahan dalam sistem Bumi.

CO₂ atau karbon dioksida merupakan salah satu gas rumah kaca utama yang meningkat akibat aktivitas manusia, terutama dari penggunaan bahan bakar fosil.

Di sinilah penting untuk membedakan dua persoalan:

Penipisan lapisan ozon terutama berkaitan dengan zat perusak ozon seperti CFC, sedangkan pemanasan global sangat berkaitan dengan peningkatan gas rumah kaca seperti CO₂. Keduanya merupakan persoalan lingkungan yang berbeda, meskipun memiliki keterkaitan dalam sistem atmosfer dan iklim.

Melalui praktik, konsep yang abstrak tersebut menjadi lebih mudah dibayangkan oleh kakak-kakak.

Apa yang Terjadi Jika Es Mencair?

Petualangan belajar belum selesai. Kakak-kakak kemudian diajak melakukan praktik untuk memahami dampak mencairnya es terhadap kenaikan permukaan air laut.

Melalui simulasi sederhana, anak-anak dapat mengamati perubahan permukaan air dan mendiskusikan apa yang terjadi ketika es mencair.

Dari sini, pertanyaan baru muncul: “Kalau permukaan laut naik, apa yang terjadi pada wilayah yang berada di dekat pantai?” Pertanyaan tersebut membawa anak memahami bahwa perubahan lingkungan di satu tempat dapat memberikan dampak yang lebih luas.

Bukan hanya tentang es. Bukan hanya tentang air laut. Tetapi tentang manusia, wilayah tempat tinggal, ekosistem, dan kehidupan di masa depan.

Belajar IPAS dengan Bertanya dan Bereksperimen

Yang membuat kegiatan BBOT kelas 4A terasa berbeda adalah cara belajar yang tidak berhenti pada penjelasan.

Kakak-kakak diajak bertanya, mengamati, berdiskusi, dan melakukan praktik.

  • Dari peta dunia mereka belajar tentang iklim.
  • Dari posisi Bumi mereka belajar tentang musim.
  • Dari kondisi atmosfer mereka belajar tentang cuaca.
  • Dari Hari Ozon Sedunia mereka belajar mengapa lapisan ozon penting.
  • Dari praktik efek rumah kaca mereka belajar tentang panas dan atmosfer.
  • Dan dari simulasi mencairnya es, mereka belajar bahwa perubahan lingkungan dapat berdampak pada kehidupan manusia.

Satu kegiatan membawa mereka pada pertanyaan berikutnya. Dan setiap pertanyaan membuka pintu menuju pengetahuan baru.

Dari BBOT, Tumbuh Rasa Ingin Tahu terhadap Bumi

Belajar tentang iklim, musim, cuaca, ozon, dan perubahan lingkungan mungkin terdengar seperti materi yang besar untuk anak kelas 4.

Namun, ketika disampaikan melalui pengalaman, percobaan, dan pertanyaan yang dekat dengan kehidupan, sains dapat terasa lebih menyenangkan.

BBOT bersama Bunda Imas Musfiroh menjadi ruang bagi kakak-kakak kelas 4A untuk menyadari bahwa Bumi yang mereka tinggali memiliki sistem yang luar biasa kompleks.

  • Ada atmosfer yang melindungi.
  • Ada sinar Matahari.
  • Ada awan, hujan, dan petir.
  • Ada musim yang berganti.
  • Ada es yang menyimpan air.
  • Dan ada manusia yang memiliki tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan lingkungan.

Pada akhirnya, pembelajaran hari itu bukan hanya tentang menghafal apa itu iklim, musim, cuaca, ozon, atau efek rumah kaca.

Lebih dari itu, kakak-kakak diajak memiliki rasa ingin tahu.

  • Berani bertanya.
  • Mau mencoba.
  • Mau mencari tahu.

Dan semakin menyadari bahwa ilmu yang dipelajari di sekolah ternyata memiliki hubungan erat dengan kehidupan sehari-hari.

Karena ketika anak mulai bertanya, “Mengapa Bumi seperti ini?”, sesungguhnya di situlah perjalanan seorang pembelajar sedang dimulai.

Dan semoga dari rasa ingin tahu tersebut tumbuh generasi yang tidak hanya unggul dalam ilmu, tetapi juga memiliki kesadaran untuk mensyukuri, memahami, dan menjaga Bumi sebagai amanah dari Allah.*** (CM-MRT)