Suasana ruang Perpustakaan SD Islam Bintang Juara pada Selasa, 14 Oktober 2025 terasa berbeda. Siang itu, para guru berkumpul dengan penuh semangat dalam kegiatan In House Training (IHT) Komunitas Belajar Telaga Ilmu. Topik yang diangkat kali ini sungguh istimewa: “Refleksi Praktik Pedagogis dalam Pembelajaran Mendalam.”
Kegiatan ini menghadirkan narasumber Bu Nawang Wulan, S.Pd., M.Pd., Koordinator Penelitian dan Pengembangan Yayasan Dewi Sartika, yang membagikan pemahaman mendalam tentang bagaimana praktik pedagogis bisa menjadi kunci untuk menciptakan pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.
Contents
Menemukan Makna di Balik Praktik Mengajar
Bu Nawang membuka sesi dengan pertanyaan reflektif,
“Apakah pembelajaran yang kita lakukan selama ini sudah sungguh-sungguh memberi ruang bagi anak untuk memahami, bukan sekadar menghafal?”
Pertanyaan sederhana itu seketika membuat para guru terdiam dan merenung. Ia kemudian menjelaskan bahwa pembelajaran mendalam bukan sekadar strategi mengajar baru, tetapi cara pandang yang menempatkan pengalaman belajar siswa sebagai pusat. Guru bukan lagi satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan fasilitator yang menuntun anak menemukan makna di setiap proses belajar.
Dalam sesi diskusi, para guru berbagi praktik baik mereka masing-masing. Salah satu guru bercerita tentang bagaimana ia menggunakan pendekatan konstruktivisme untuk membantu siswa menemukan konsep matematika melalui permainan. Guru lain berbagi praktik pembelajaran kolaboratif yang menggabungkan siswa reguler dan anak berkebutuhan khusus (ABK), sehingga tercipta suasana belajar yang inklusif dan penuh empati.
Pedagogis yang Menguatkan Profil Lulusan
Bu Nawang menegaskan bahwa praktik pedagogis dalam pembelajaran mendalam sejalan dengan 8 dimensi profil lulusan SD Islam Bintang Juara: Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan YME, Kewargaan, Penalaran Kritis, Kreativitas, Kolaborasi, Kemandirian, Kesehatan, dan Komunikasi.
Untuk mewujudkan kedelapan dimensi itu, guru perlu menghadirkan pengalaman belajar yang autentik dan kontekstual — di mana siswa tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu mengaitkannya dengan kehidupan nyata.
Dalam pembelajaran mendalam, guru dapat menerapkan berbagai model pembelajaran inovatif, seperti:
- Project-Based Learning (PjBL)
- Inquiry-Based Learning (IBL)
- Problem-Based Learning (PBL)
- Discovery Learning
- Cooperative Learning
Model-model tersebut membantu siswa berpikir kritis, memecahkan masalah, berkolaborasi, dan berkreasi dalam konteks yang relevan dengan dunia mereka.
Salah satu ide inspiratif yang muncul dari sesi refleksi guru adalah tentang “janji persahabatan” — kegiatan yang bertujuan menumbuhkan inklusivitas di kelas agar semua siswa, termasuk ABK, merasa diterima dan dicintai. Ide-ide seperti ini menjadi bukti bahwa praktik pedagogis yang reflektif dapat melahirkan inovasi sederhana namun berdampak besar.
Refleksi, Kolaborasi, dan Transformasi Guru
Di sesi akhir, Bu Nawang mengajak guru melakukan refleksi pedagogis bersama. Melalui kegiatan ini, para guru SD Islam Bintang Juara diajak tidak hanya menilai apa yang sudah dilakukan, tetapi juga mengapa dan bagaimana mereka bisa memperbaikinya untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih baik.
Dari hasil refleksi, muncul kesadaran baru bahwa guru perlu terus bertransformasi menjadi pembelajar sejati — seseorang yang tidak berhenti belajar, berefleksi, dan berinovasi. Karena hanya guru yang terus tumbuhlah yang mampu menumbuhkan potensi terbaik dalam diri anak-anak.
Kegiatan IHT Kombel Telaga Ilmu hari itu bukan sekadar pelatihan, melainkan ruang tumbuh bersama. Di antara tumpukan buku dan diskusi yang hangat, para guru meneguhkan komitmennya:
✨ Untuk terus belajar agar bisa mendampingi kakak shalih-shalihah dengan lebih baik, lebih bermakna, dan lebih menggembirakan.
Semangat reflektif ini menjadi napas bagi SD Islam Bintang Juara — sekolah yang tak hanya mengajarkan ilmu, tapi juga menumbuhkan jiwa pembelajar sepanjang hayat, baik bagi siswa maupun para gurunya.***