fbpx

Pernahkah kakak-kakak mencoba menceritakan kembali sebuah pengalaman, tetapi tiba-tiba bingung harus memulai dari mana?

  • “Waktu itu kejadiannya apa dulu, ya?”
  • “Setelah itu apa?”
  • “Terus bagaimana akhirnya?”

Menceritakan sebuah pengalaman ternyata membutuhkan lebih dari sekadar mengingat apa yang pernah terjadi. Anak perlu menyusun kembali peristiwa agar orang lain dapat mengikuti ceritanya dengan mudah.

Hal inilah yang dipelajari oleh kakak-kakak kelas 4B SD Islam Bintang Juara dalam kegiatan BBOT (Belajar Bersama Orang Tua) pada Senin, 14 September 2026.

Bersama Bunda Fiqih Nindya, Bunda dari Kak Kayla, kakak-kakak diajak mengenal teks rekon melalui game interaktif dan bermakna.

Belajar teks rekon kali ini pun terasa berbeda. Bukan sekadar membuka buku, membaca pengertian, lalu mengerjakan soal. Kakak-kakak diajak bermain, berpikir, mengingat urutan kejadian, hingga akhirnya menyusun teks rekon mereka sendiri.

Dan perjalanan belajar ini nantinya akan berlanjut menjadi sebuah karya bersama: antologi teks rekon kakak-kakak kelas 4B.

Mengenal Teks Rekon dengan Cara yang Menyenangkan

Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, teks rekon berkaitan dengan bagaimana seseorang menceritakan kembali suatu pengalaman atau peristiwa.

Namun, bagi anak-anak, memahami konsep tersebut akan terasa lebih dekat ketika mereka dapat menghubungkannya dengan pengalaman yang mereka miliki sendiri.

Karena itu, kegiatan BBOT kali ini dikemas melalui game interaktif.

Kakak-kakak tidak hanya menjadi pendengar, tetapi ikut terlibat dalam proses pembelajaran. Mereka diajak berpikir, mengingat, berdiskusi, dan menyusun informasi berdasarkan peristiwa yang ada.

Dari permainan tersebut, konsep yang semula mungkin terdengar seperti istilah dalam pelajaran Bahasa Indonesia menjadi sesuatu yang lebih konkret.

Teks rekon ternyata dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Ketika kakak menceritakan kembali pengalaman liburan, kegiatan di sekolah, pengalaman mengikuti suatu acara, atau kejadian menarik bersama teman, sebenarnya kakak sedang belajar bagaimana mengomunikasikan kembali sebuah pengalaman kepada orang lain.

Dari Game, Anak Belajar Menyusun Urutan Peristiwa

Salah satu tantangan ketika menulis cerita pengalaman adalah menentukan urutan kejadian.

Sebuah pengalaman tentu memiliki rangkaian peristiwa. Ada sesuatu yang terjadi terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan kejadian berikutnya, hingga akhirnya sampai pada bagian penutup.

Jika urutannya tidak jelas, pembaca akan kesulitan memahami cerita. Melalui kegiatan yang interaktif, kakak-kakak kelas 4B mendapatkan kesempatan untuk memahami pentingnya menyusun peristiwa secara runtut.

Mereka belajar bahwa ketika ingin menceritakan kembali sesuatu, tidak cukup hanya dengan mengatakan: “Aku pergi ke sana. Terus aku melakukan ini. Terus ada itu.”

Cerita perlu disusun agar pembaca seolah-olah dapat mengikuti perjalanan yang sedang diceritakan.

Di sinilah kemampuan berpikir runtut mulai dilatih.

  • Anak belajar mengingat.
  • Anak belajar memilih informasi.
  • Anak belajar menyusun.
  • Dan anak belajar menyampaikan kembali.

Ketika Pengalaman Anak Menjadi Bahan untuk Menulis

Hal menarik dari pembelajaran teks rekon adalah bahan ceritanya dapat berasal dari pengalaman yang dekat dengan anak.

Anak tidak harus mencari cerita yang jauh atau rumit. Pengalaman mereka sendiri dapat menjadi sumber tulisan.

  • Apa yang pernah dilakukan?
  • Apa yang terjadi?
  • Siapa saja yang terlibat?
  • Bagaimana urutannya?
  • Apa yang dirasakan atau dipelajari dari pengalaman tersebut?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini dapat membantu anak menggali kembali pengalaman yang tersimpan dalam ingatan. Proses tersebut membuat kegiatan menulis menjadi lebih personal.

Anak bukan sekadar menulis karena mendapatkan tugas. Mereka sedang menceritakan sesuatu yang pernah mereka alami.

Dengan begitu, menulis dapat menjadi ruang bagi anak untuk mengolah pengalaman menjadi sebuah cerita yang dapat dipahami dan dinikmati orang lain.

Dari Menyusun Teks Rekon Menuju Sebuah Karya

Setelah mengenal konsep dan berlatih melalui kegiatan interaktif, perjalanan belajar kakak-kakak kelas 4B tidak berhenti pada satu kali kegiatan.

Kakak-kakak kemudian diajak untuk menyusun teks rekon. Setiap tulisan akan menjadi bagian dari proses menghasilkan karya bersama. InsyaAllah, hasil akhir dari pembelajaran ini akan dikembangkan menjadi antologi teks rekon karya kakak-kakak kelas 4B.

Bayangkan ketika nanti setiap tulisan terkumpul menjadi satu buku.

  • Ada banyak pengalaman.
  • Ada banyak sudut pandang.
  • Ada banyak cerita.

Dan semuanya berasal dari kakak-kakak yang belajar menuliskan pengalaman mereka sendiri.

Buku tersebut nantinya bukan sekadar kumpulan tugas Bahasa Indonesia. Ia dapat menjadi jejak proses belajar—sebuah bukti bahwa pengalaman sederhana yang dimiliki anak dapat diolah menjadi karya yang bermakna.

Menulis Juga Melatih Anak Menghargai Pengalaman

Ada satu pembelajaran lain yang secara tidak langsung tumbuh melalui proses menulis teks rekon. Ketika anak diminta mengingat kembali sebuah peristiwa, mereka belajar bahwa pengalaman memiliki cerita.

Sebuah kegiatan yang sebelumnya terasa biasa saja dapat menjadi sesuatu yang menarik ketika diceritakan kembali dari sudut pandang mereka.

Proses menulis juga mengajak anak memperhatikan detail. Mereka perlu mengingat apa yang terjadi, memilih bagian yang ingin diceritakan, kemudian mengubahnya menjadi kata-kata.

Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya berkaitan dengan kemampuan berbahasa. Anak juga belajar mengorganisasi pikiran dan mengomunikasikan pengalaman.

BBOT: Ketika Orang Tua Menjadi Bagian dari Perjalanan Belajar

Kehadiran Bunda Fiqih Nindya dalam kegiatan BBOT menjadi bagian dari semangat Belajar Bersama Orang Tua di SD Islam Bintang Juara.

Melalui kegiatan seperti ini, orang tua tidak hanya hadir dalam kehidupan sekolah anak sebagai pendamping, tetapi juga dapat menjadi bagian dari pengalaman belajar yang memberikan warna berbeda.

Anak mendapatkan pengalaman bahwa belajar dapat dilakukan bersama banyak orang.

  • Ada guru.
  • Ada orang tua.
  • Ada teman.
  • Dan ada berbagai pengalaman yang dapat menjadi sumber pengetahuan.

Kolaborasi tersebut juga menjadi pengingat bahwa proses pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam kelas. Pengalaman belajar dapat hadir melalui percakapan, permainan, interaksi, dan karya yang dibuat bersama.

Dari Satu Kegiatan, Menjadi Cerita yang Bisa Dibaca Banyak Orang

BBOT kelas 4B kali ini mungkin hanya berlangsung dalam satu hari. Namun, proses belajar yang dimulai dari kegiatan tersebut diharapkan dapat terus berlanjut.

Dari mengenal teks rekon. Kemudian bermain dan memahami konsep. Lalu menyusun kembali pengalaman. Hingga akhirnya menghasilkan tulisan.

Dan insyaAllah, tulisan-tulisan tersebut akan dikumpulkan menjadi sebuah antologi teks rekon. Sebuah karya yang suatu hari nanti dapat dibaca kembali oleh kakak-kakak dan mengingatkan mereka pada proses belajar yang pernah dilalui bersama.

Sebab, pendidikan bukan hanya tentang berapa banyak materi yang berhasil diingat.

Pendidikan juga tentang bagaimana anak mampu mengolah pengalaman menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi keterampilan, dan keterampilan menjadi sebuah karya.

Melalui BBOT kelas 4B, kakak-kakak belajar bahwa setiap pengalaman memiliki cerita. Dan setiap cerita, ketika disusun dengan baik, dapat menjadi karya yang bermakna.

Hari ini belajar menulis pengalaman. Esok, pengalaman itu menjadi sebuah karya.

Semoga proses menyusun antologi teks rekon ini menjadi perjalanan yang menyenangkan bagi kakak-kakak kelas 4B—sekaligus menjadi pengingat bahwa setiap anak memiliki cerita, setiap cerita memiliki makna, dan setiap karya adalah bagian dari perjalanan untuk terus tumbuh menjadi bintang dan juara.*** (CM-MRT)