fbpx

Pernahkah Ayah Bunda menghadapi situasi ketika anak tidak mau makan, sulit diminta melakukan sesuatu, atau bertengkar dengan saudaranya? Dalam kondisi lelah dan terburu-buru, suara orang tua mungkin meninggi. Nasihat berubah menjadi bentakan, sementara persoalan yang semula sederhana justru berakhir dengan tangisan dan suasana yang tidak nyaman.

Setelah semuanya berlalu, terkadang muncul pertanyaan dalam hati, “Tadi seharusnya aku bisa merespons dengan lebih baik, ya?”

Mengasuh anak memang bukan perjalanan yang selalu mudah. Orang tua juga memiliki emosi, tanggung jawab, kelelahan, dan persoalan yang perlu diselesaikan. Namun, di tengah berbagai tantangan tersebut, ada satu hal penting yang perlu terus dipelajari: bagaimana menjaga ketenangan agar dapat mendampingi anak dengan lebih bijaksana.

Inilah pesan utama dalam kegiatan Parenting Wali Murid Kelas 1 SD Islam Bintang Juara pada Sabtu, 3 Oktober 2026, dengan tema “Ketenangan Orang Tua Menumbuhkan Kematangan Perkembangan Anak”. Materi disampaikan oleh Bunda Dyah Indah Noviyani, S.Psi., M.Psi., Psikolog atau yang akrab dipanggil dengan Bunda Vivi Psikolog.

Kegiatan dipandu oleh Bu Dina sebagai pembawa acara dan diawali dengan doa yang dipimpin oleh Pak Fachry. Sebelum memasuki materi utama, Bu Nur Shofwatin Ni’mah, S.Pd., Gr., selaku Kepala SD Islam Bintang Juara menyampaikan pesan bermakna mengenai perkembangan siswa kelas 1 selama setengah semester menjalani pembelajaran di sekolah.

Melalui pertemuan ini, orang tua diajak melihat bahwa mendampingi anak bukan hanya tentang mengoreksi perilakunya, tetapi juga tentang kesediaan orang dewasa untuk terus belajar, mengevaluasi diri, dan bertumbuh bersama anak.

Pesan Bermakna Bu Ni’mah: Belajar Menali Sepatu, Belajar Mengelola Emosi

Dalam pengantarnya, Bu Ni’mah mengajak wali murid melihat perkembangan anak kelas 1 melalui pengalaman sederhana yang terjadi dalam keseharian di sekolah. Salah satunya adalah proses belajar menali sepatu.

Bagi orang dewasa, mengikat tali sepatu mungkin terlihat seperti keterampilan kecil yang mudah dilakukan. Namun, bagi anak yang sedang belajar mandiri, kegiatan tersebut membutuhkan koordinasi gerakan jari, ketelitian, konsentrasi, kesabaran, dan latihan berulang.

Ketika tali sepatu belum berhasil diikat, anak mungkin merasa kesal. Ketika simpulnya terlepas, ia perlu mencoba kembali. Ketika hasilnya berbeda dari yang diharapkan, ia belajar menghadapi rasa kecewa.

Di balik aktivitas sederhana itu, terdapat kesempatan bagi anak untuk melatih keterampilan motorik sekaligus belajar menghadapi emosi ketika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginannya.

Pengalaman tersebut mengingatkan orang tua bahwa proses perkembangan anak tidak selalu berlangsung secepat yang diharapkan orang dewasa. Ada keterampilan yang perlu dilatih berkali-kali, ada kesalahan yang perlu diperbaiki, dan ada emosi yang masih perlu didampingi.

Bu Ni’mah juga menyoroti proses anak dalam meminta dan memberikan maaf. Terkadang, persoalan yang telah berlalu masih diungkit kembali hingga beberapa hari kemudian, bahkan setelah satu minggu.

Hal ini menjadi pengingat bahwa memahami sebuah kesalahan, menerima permintaan maaf, dan belajar berdamai dengan perasaan membutuhkan proses. Anak tidak selalu langsung mampu menuntaskan persoalan emosional hanya karena orang dewasa menganggap masalahnya sudah selesai.

Karena itu, anak membutuhkan pendampingan untuk mengenali perasaannya, memahami situasi, serta belajar menyelesaikan konflik secara lebih sehat.

Pesan Bu Ni’mah menjadi pengantar yang kuat bagi materi utama: ketika anak masih belajar mengelola dirinya, orang tua pun perlu belajar mengelola responsnya.

Ketenangan Orang Tua: Mulai Dari Menyadari Anak Terlahir Membawa Fitrah dan Potensi

Mengawali materinya, Bunda Vivi Psikolog mengingatkan bahwa nama yang diberikan kepada anak adalah doa. Di balik sebuah nama, ada harapan, nilai, dan cita-cita yang ingin ditumbuhkan orang tua dalam perjalanan hidup buah hatinya.

Namun, tugas pengasuhan tidak berhenti pada pemberian nama atau harapan baik. Anak juga membutuhkan lingkungan yang mendukung potensi fitrahnya agar dapat berkembang secara optimal.

Dalam materi yang disampaikan, Bunda Vivi mengutip hadis riwayat Bukhari dan Muslim tentang setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Pengasuhan dan lingkungan memiliki peran penting dalam perjalanan perkembangan anak.

Anak memiliki potensi untuk beriman, belajar, mengenal lingkungan, dan membangun pemahaman tentang kehidupan. Hal itu tampak dalam keseharian mereka yang penuh rasa ingin tahu: banyak bertanya, mencoba berbagai hal, bergerak aktif, dan sesekali melakukan kesalahan.

Perilaku tersebut tidak selalu berarti anak sedang membangkang atau sengaja menyulitkan orang tua. Bisa jadi, ia sedang mengeksplorasi lingkungan, belajar memahami batasan, atau mencoba melakukan sesuatu yang belum dikuasainya.

Karena itulah, Bunda Vivi mengajak orang tua melakukan refleksi sebelum mengoreksi anak.

Apakah perilaku anak memang perlu diarahkan? Apakah orang tua sedang menghadapi persoalan yang membuatnya mudah tersulut? Adakah kelelahan atau emosi yang belum terselesaikan sehingga respons terhadap anak menjadi lebih keras daripada yang diperlukan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan untuk menyalahkan orang tua, melainkan membuka ruang kesadaran bahwa pengasuhan merupakan proses dua arah. Anak membutuhkan bimbingan, sedangkan orang tua membutuhkan kesiapan untuk memberikan bimbingan tersebut.

Reaktif atau Responsif? Dua Cara Menghadapi Perilaku Anak

Salah satu pembahasan penting dalam parenting ini adalah perbedaan antara respons reaktif dan respons responsif.

Dalam situasi yang memancing emosi, orang tua yang reaktif cenderung langsung meledak, meninggikan suara, atau sibuk mencari siapa yang salah. Kritik dapat terasa seperti serangan, sementara masalah yang dihadapi anak justru semakin sulit diselesaikan.

Sebaliknya, sikap responsif berarti berusaha mengelola emosi, memahami situasi, dan mencari solusi dengan lebih tenang serta bijaksana.

Bayangkan ketika anak menolak makan.

Respons reaktif mungkin berupa bentakan, ancaman, atau desakan agar anak segera menghabiskan makanannya. Respons responsif dimulai dengan berhenti sejenak, memahami apa yang terjadi, kemudian mengajak anak berbicara dengan nada yang lebih terkendali.

Bukan berarti orang tua harus selalu menyetujui keinginan anak. Batasan tetap diperlukan. Namun, batasan dapat disampaikan tanpa mempermalukan, menakut-nakuti, atau meluapkan kemarahan secara berlebihan.

Bunda Vivi menegaskan bahwa anak tidak belajar mengelola emosi hanya dari ceramah atau nasihat, tetapi juga dari cara orang tua merespons dan bereaksi dalam kehidupan sehari-hari.

Sejak bayi, anak mulai mengenali pola emosi melalui ekspresi wajah, bahasa tubuh, ucapan, dan tindakan orang-orang terdekatnya. Cara orang tua menghadapi kekecewaan, konflik, dan kelelahan menjadi bagian dari pengalaman yang diamati anak.

Artinya, ketika orang tua ingin anak belajar berbicara dengan tenang, meminta maaf, atau menghadapi masalah tanpa melukai orang lain, orang tua juga perlu berusaha memperlihatkan keterampilan tersebut.

Ketenangan Orang Tua dan Perkembangan Emosi Anak

Ketenangan bukan berarti orang tua tidak pernah marah. Orang tua tetap manusia yang bisa merasa kesal, kecewa, sedih, dan lelah.

Yang penting adalah kemampuan mengenali emosi tersebut, tidak bereaksi secara berlebihan, dan memilih tindakan yang lebih bijaksana.

Dalam materinya, Bunda Vivi memperkenalkan konsep emotion coaching, yaitu pendampingan agar anak mampu mengenali, memahami, dan mengelola emosinya dengan bantuan orang dewasa.

Pendekatan ini sejalan dengan penelitian tentang pelatihan orang tua berbasis emotion coaching yang diterbitkan pada 2022. Uji terkontrol terhadap 119 orang tua yang mengalami kesulitan menangani perilaku anak usia sekolah dasar menemukan bahwa kelompok yang mengikuti pelatihan menunjukkan penurunan perilaku oposisi anak dan gejala ADHD yang dilaporkan orang tua, serta peningkatan aspek positif dalam hubungan orang tua dan anak. Temuan ini mendukung pentingnya keterampilan orang tua dalam mendampingi perilaku dan emosi anak. (Sumber: PubMed, 2022)

Dalam praktiknya, anak perlu belajar bahwa semua emosi dapat dikenali dan dibicarakan, tetapi tidak semua perilaku boleh dilakukan.

Anak boleh merasa marah, tetapi tidak boleh memukul. Anak boleh merasa kecewa, tetapi tetap perlu belajar menyampaikan perasaannya tanpa menyakiti orang lain.

Dengan pendampingan yang konsisten, anak mendapatkan kesempatan untuk memahami perbedaan antara perasaan yang sedang dialami dan tindakan yang dipilihnya.

galeri kegiatan parenting kelas 1

Dampak Ketenangan Orang Tua pada Perkembangan Kognitif Anak

Ketenangan dalam pengasuhan tidak hanya berkaitan dengan perkembangan emosi. Materi Bunda Vivi juga membahas kaitannya dengan perkembangan kognitif anak usia sekolah dasar.

Salah satu konsep yang diperkenalkan adalah executive function, yaitu keterampilan kognitif yang membantu anak mengendalikan dorongan, mengatur pikiran dan perilaku, serta memilih respons yang sesuai dengan situasi.

Keterampilan ini mencakup memori kerja (working memory), fleksibilitas kognitif, perencanaan, dan pengambilan keputusan.

Dalam kehidupan sehari-hari, keterampilan tersebut dibutuhkan ketika anak perlu mengikuti instruksi, menyelesaikan tugas, menunggu giliran, berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain, atau mencari solusi saat menghadapi kesulitan.

Materi parenting yang disampaikan Bunda Vivi merujuk pada penelitian Neukomm dan Jacquin (2025) yang melibatkan 481 pasangan orang tua dan anak. Penelitian tersebut melaporkan korelasi positif antara regulasi emosi orang tua dan kemampuan anak dalam memusatkan perhatian serta memori.

Materi juga mengutip penelitian longitudinal Rungsattatharm dan rekan-rekan (2025) yang menganalisis 195 anak ketika berusia sembilan tahun. Pengasuhan positif pada usia empat dan enam tahun—termasuk kehangatan, kepekaan, responsivitas, dukungan, dan interaksi positif—berhubungan dengan lebih sedikit kesulitan fungsi eksekutif dan masalah perilaku, serta regulasi diri dan resiliensi yang lebih baik.

Temuan tersebut menjadi pengingat bahwa pengalaman anak di rumah turut berperan dalam proses perkembangannya. Lingkungan yang mendukung dan interaksi yang positif memberikan kesempatan bagi anak untuk berlatih mengatur diri, menyelesaikan persoalan, dan belajar menghadapi tantangan.

Orang Tua Adalah Guru Pertama dan Utama

Bunda Vivi mengingatkan bahwa rumah merupakan lembaga pendidikan pertama dan utama bagi anak. Di rumah, anak mulai mengenal nilai, prinsip kehidupan, kebiasaan, dan ajaran agama.

Orang tua bukan hanya penyedia kebutuhan fisik, tetapi juga teladan yang diamati anak setiap hari.

Dalam konteks pendidikan Islam, pengasuhan ini berkaitan erat dengan tanggung jawab menjaga keluarga sebagaimana diingatkan dalam QS. At-Tahrim ayat 6. Tanggung jawab tersebut tidak hanya menyangkut keselamatan fisik, tetapi juga pembinaan jiwa, akhlak, dan emosi.

Bunda Vivi juga mengajak orang tua meneladani Rasulullah ﷺ dalam mengelola amarah. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, orang kuat digambarkan bukan semata-mata sebagai orang yang menang dalam pergulatan, melainkan orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.

Nilai ini relevan dalam kehidupan keluarga. Orang tua mungkin memiliki alasan untuk kecewa atau marah, tetapi tetap perlu berusaha memilih kata dan tindakan yang tidak melukai anak.

QS. Ali Imran ayat 134 juga mengingatkan tentang keutamaan menahan amarah dan memaafkan orang lain. Sementara itu, QS. Ali Imran ayat 159 menekankan pentingnya kelembutan dalam berinteraksi.

Melalui nilai-nilai tersebut, anak dapat melihat bahwa pengendalian emosi bukan sekadar keterampilan psikologis, tetapi juga bagian dari pembentukan akhlak seorang muslim.

Tiga Kesalahan Pengasuhan yang Perlu Dievaluasi

Dalam sesi materi, Bunda Vivi mengajak orang tua mengenali beberapa respons yang dapat menghambat proses belajar emosi anak.

Pertama, membentak atau menyuruh anak diam ketika sedang emosi.

Ketika anak sedang menangis atau marah, ia membutuhkan bantuan untuk memahami perasaannya. Bentakan dapat membuat situasi semakin tegang dan menyulitkan percakapan yang sehat.

Kedua, mengabaikan emosi anak atau langsung menawarkan hadiah.

Ketika anak kecewa, orang tua mungkin ingin segera menghentikan tangisnya dengan iming-iming hadiah. Padahal, anak juga perlu belajar mengenali dan menghadapi perasaan yang muncul, bukan hanya mengalihkannya.

Ketiga, menggunakan gadget sebagai penenang instan.

Gadget mungkin dapat mengalihkan perhatian anak untuk sementara. Namun, jika selalu digunakan untuk menghentikan tangisan atau kemarahan, anak kehilangan sebagian kesempatan untuk berlatih mengenali dan mengelola emosinya bersama orang tua.

Emosi anak usia sekolah dasar masih berkembang. Karena itu, mereka membutuhkan orang tua sebagai pelatih emosi, bukan sekadar pemberi perintah.

Tujuannya bukan menghilangkan semua emosi negatif, melainkan membantu anak melewatinya dengan cara yang aman dan konstruktif.

Emotion Coaching: Mendampingi Anak Tanpa Mengabaikan Batasan

Lalu, bagaimana orang tua dapat menjadi pelatih emosi bagi anak?

Bunda Vivi menjelaskan beberapa langkah yang dapat dilakukan dalam pendekatan emotion coaching.

  • Menyadari emosi anak. Perhatikan perubahan ekspresi wajah, gerakan tubuh, ucapan, dan perilaku anak.
  • Melihat emosi sebagai kesempatan untuk terhubung. Ketika anak marah atau sedih, orang tua dapat menggunakan momen tersebut untuk membangun kedekatan dan mengajarkan keterampilan emosi.
  • Mendengarkan dengan empati. Berikan perhatian penuh dan usahakan memahami apa yang dirasakan anak sebelum memberikan nasihat.
  • Membantu anak memberi nama pada emosinya. Misalnya, “Kamu kecewa karena belum mendapat giliran, ya?”
  • Menetapkan batasan dan mencari solusi. Terima perasaannya, tetapi tetap arahkan perilakunya agar aman dan tidak menyakiti orang lain.

Dalam praktiknya, orang tua dapat mengatakan, “Ayah tahu kamu sedang marah karena mainan itu dipakai adik. Kamu boleh marah, tetapi tidak boleh merebut atau memukul. Yuk, kita cari cara agar kalian bisa bergantian.”

Kalimat semacam ini membantu anak merasa didengarkan sekaligus memahami batasan yang perlu dihormati.

Pendekatan emotion coaching juga mendapat dukungan dari penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Affective Science pada 2025. Penelitian tersebut mengamati interaksi ibu dan anak usia tiga hingga empat tahun dan menemukan hubungan dinamis antara pendampingan emosi oleh ibu dan beberapa perilaku regulasi anak, seperti keterlibatan dan kepatuhan pada kondisi tertentu. Hasilnya juga menunjukkan bahwa hubungan tersebut dapat berbeda sesuai usia dan jenis emosi, sehingga pendampingan perlu disesuaikan dengan kebutuhan anak. (Sumber: Affective Science, 2025)

galeri kegiatan parenting kelas 1 part 2

Simulasi Bersama Wali Kelas: Belajar Merespons Situasi Nyata

Materi tidak berhenti pada penjelasan teori. Dalam sesi simulasi, Bu Ni’mah bersama wali kelas 1—Bu Yayuk, Bu Novi, dan Bu Dina—mempraktikkan cara menghadapi berbagai situasi yang mungkin muncul dalam keseharian anak.

Beberapa contoh yang dibahas antara lain ketika anak tidak mau makan atau ketika dua anak berebut sesuatu.

Melalui simulasi tersebut, orang tua mendapatkan kesempatan untuk melihat perbedaan antara respons yang reaktif dan respons yang lebih tenang.

Ketika anak tidak mau makan, misalnya, orang tua dapat mulai dengan memahami situasinya, bukan langsung memarahi. Ketika anak berebut, orang tua dapat membantu mengenali perasaan masing-masing, menetapkan batasan, dan mengarahkan mereka mencari solusi.

Simulasi ini menjadi pengingat bahwa keterampilan pengasuhan perlu dilatih. Mengetahui teori saja belum tentu membuat seseorang mampu menerapkannya ketika sedang lelah atau menghadapi situasi yang memancing emosi.

Karena itu, latihan, refleksi, dan kesediaan untuk mencoba kembali menjadi bagian penting dari perjalanan menjadi orang tua yang lebih responsif.

Tiga Tahap Mengelola Emosi Orang Tua

Bunda Vivi juga memperkenalkan tiga tahapan regulasi emosi yang dapat dilatih orang tua dalam kehidupan sehari-hari.

1. Memantau emosi

Sadari apa yang sedang dirasakan. Apakah sedang marah, kecewa, cemas, atau kelelahan? Mengenali emosi membantu orang tua memahami kondisi dirinya sebelum merespons anak.

2. Mengevaluasi emosi

Berhenti sejenak untuk melihat situasi dengan lebih jernih. Apakah respons yang ingin diberikan akan membantu menyelesaikan masalah, atau justru memperbesar konflik?

3. Mengubah respons emosi

Setelah memahami situasi, pilih tindakan yang lebih positif dan konstruktif. Orang tua dapat menurunkan volume suara, mengatur napas, atau menunda percakapan sampai dirinya lebih siap.

Dalam materi, Bunda Vivi juga membagikan beberapa cara menghadapi emosi negatif, yaitu diam dan menjaga lisan, mengubah posisi tubuh serta mengatur napas, membaca ta’awudz dan berwudu, memilih aktivitas yang membuat tubuh dan pikiran lebih rileks, kemudian kembali menghadapi masalah dengan pikiran yang lebih jernih.

Jika orang tua merasa sangat lelah, beristirahat sejenak juga dapat menjadi pilihan yang bijaksana selama anak tetap berada dalam kondisi aman.

Hal yang perlu dihindari adalah memendam emosi tanpa mengolahnya atau justru meluapkannya secara berlebihan. Orang tua perlu menyadari kondisi diri dan menjaga kesehatan agar stres tidak terus menumpuk.

Bangun Koneksi Sebelum Mengoreksi Anak

Salah satu pesan yang ditekankan Bunda Vivi adalah pentingnya membangun koneksi sebelum melakukan koreksi.

Koneksi tersebut dimulai dengan memperkuat hubungan dengan Allah SWT melalui pembiasaan salat, doa, zikir, tilawah, dan murajaah. Rutinitas pagi yang terarah dapat menjadi bagian dari upaya membangun kesiapan jiwa sebelum menjalani aktivitas sehari-hari.

Keluarga juga dapat menyepakati rutinitas yang mendukung kesehatan jiwa dan raga, seperti berolahraga, berbincang, bermain bersama, menulis jurnal harian, serta berbagi tugas rumah tangga.

Aturan dan konsekuensi juga perlu dibicarakan dengan jelas agar anak memahami batasan yang berlaku di rumah. Dalam menyampaikan pesan, orang tua dapat menggunakan kalimat yang ringkas, jelas, dan sesuai dengan usia anak, disertai perhatian penuh ketika berkomunikasi.

Koneksi bukan berarti orang tua selalu menuruti keinginan anak. Koneksi berarti membangun hubungan yang membuat anak merasa aman untuk menyampaikan perasaannya, sementara orang tua tetap menjalankan perannya dalam memberikan arahan.

Ketika hubungan emosional terjaga, koreksi dapat menjadi bagian dari proses belajar, bukan sekadar pengalaman dimarahi.

Menjadi Orang Tua yang Terus Belajar

Parenting wali murid kelas 1 SD Islam Bintang Juara bersama Bunda Vivi Psikolog mengajak orang tua melihat kembali makna ketenangan dalam pengasuhan.

Ketenangan bukan tanda bahwa orang tua tidak pernah menghadapi kesulitan. Ketenangan adalah kemampuan untuk menyadari emosi, mengelola respons, dan tetap berusaha membimbing anak dengan bijaksana.

Perjalanan itu dapat dimulai dari hal sederhana: berhenti sejenak sebelum membentak, mendengarkan sebelum menasihati, menerima perasaan sebelum memberikan solusi, serta meminta maaf ketika orang tua melakukan kesalahan.

Anak tidak membutuhkan orang tua yang selalu sempurna. Anak membutuhkan orang tua yang bersedia menyadari perannya, memperbaiki diri, dan terus belajar membangun komunikasi yang sehat.

Melalui kegiatan ini, SD Islam Bintang Juara berharap sinergi antara sekolah dan keluarga semakin kuat dalam mendampingi tumbuh kembang siswa. Sebab, kematangan perkembangan anak tidak hanya dibentuk melalui pembelajaran di kelas, tetapi juga melalui pengalaman dan keteladanan yang mereka temui di rumah.

Mari menjadi orang tua yang terus bertumbuh, agar anak memiliki ruang yang aman untuk belajar, mengenali emosinya, dan berkembang sesuai fitrahnya.

Karena ketika orang tua belajar mengelola diri, mereka sedang memberikan salah satu bekal berharga bagi anak: teladan untuk menghadapi kehidupan dengan tenang, tangguh, dan berakhlakul karimah.*** (CM-MRT)