fbpx
Jelajah Budaya Islam di Nusantara: Filosofi Ketupat Lebaran

Jelajah Budaya Islam di Nusantara: Filosofi Ketupat Lebaran

Ramadan bukan hanya tentang ibadah puasa, tarawih, dan tadarus Al-Qur’an. Bulan suci ini juga menyimpan kekayaan tradisi yang menjadi bagian dari perjalanan panjang Islam di Nusantara. Di Indonesia, banyak budaya yang lahir dari pertemuan nilai-nilai Islam dengan kearifan lokal masyarakat.

Hal inilah yang ingin dikenalkan kepada kakak shalih–shalihah melalui kegiatan Leadership Journey hari ke-3 dan ke-4 di SD Islam Bintang Juara. Setelah hari pertama menggelar Sehari Bersama Quran, kali ini Mengangkat tema “Jelajah Budaya Islam di Nusantara”, kegiatan ini mengajak anak-anak memahami makna di balik salah satu tradisi yang sangat identik dengan Hari Raya Idulfitri: ketupat Lebaran.

Kegiatan berlangsung secara bergantian dengan Festival Ramadan. Pada Rabu, 11 Maret 2026, kegiatan diikuti oleh kakak kelas 4 dan 5. Sementara kakak kelas 6 belum dapat bergabung karena sedang mengikuti tryout TKA. Keesokan harinya, Kamis, 12 Maret 2026, giliran kakak kelas 1 hingga 3 yang mengikuti kegiatan serupa.

Meski sederhana, kegiatan ini menjadi perjalanan menarik untuk memahami bagaimana budaya dapat menjadi sarana dakwah yang penuh makna.

Ketupat: Tradisi Lebaran yang Penuh Makna

Ketika Lebaran tiba, hampir setiap rumah di Indonesia menyajikan ketupat. Hidangan dari beras yang dibungkus anyaman daun kelapa ini biasanya disajikan bersama opor ayam, sambal goreng, atau lauk khas lainnya.

Namun di balik bentuknya yang sederhana, ketupat menyimpan filosofi mendalam.

Kata ketupat berasal dari bahasa Jawa, yaitu “ngaku lepat” yang berarti mengakui kesalahan. Filosofi ini berkaitan erat dengan tradisi saling memaafkan yang menjadi ciri khas masyarakat Indonesia saat Idulfitri.

Dengan kata lain, ketupat bukan sekadar makanan Lebaran. Ia menjadi simbol kerendahan hati manusia untuk mengakui kesalahan dan saling memaafkan setelah menjalani Ramadan.

Warisan Dakwah Sunan Kalijaga

Tradisi ketupat Lebaran diyakini berkaitan dengan dakwah Sunan Kalijaga, salah satu tokoh dari Wali Songo yang menyebarkan Islam di tanah Jawa.

Sunan Kalijaga dikenal sebagai ulama yang menggunakan pendekatan budaya dalam berdakwah. Beliau memahami bahwa masyarakat Jawa pada masa itu sangat dekat dengan tradisi dan simbol-simbol budaya. Oleh karena itu, dakwah dilakukan dengan cara yang bijak, tanpa menghapus budaya lokal, tetapi mengisinya dengan nilai-nilai Islam.

Salah satu contohnya adalah tradisi Bakda Kupat, yang biasanya dilakukan beberapa hari setelah Idulfitri.

Melalui simbol ketupat, Sunan Kalijaga menyampaikan beberapa pesan penting:

  • Ngaku Lepat – Mengakui kesalahan dan saling memaafkan
  • Laku Papat – Empat tindakan penting dalam kehidupan seorang Muslim, yaitu lebaran (selesai berpuasa), luberan (berbagi rezeki), leburan (melebur dosa dengan saling memaafkan), dan laburan (membersihkan diri)

Bentuk anyaman ketupat yang rumit juga memiliki makna simbolis. Anyaman tersebut menggambarkan kesalahan manusia yang sering kali rumit dan saling terjalin. Namun ketika ketupat dibuka, terlihat nasi putih di dalamnya—melambangkan hati yang kembali bersih setelah saling memaafkan.

Melalui simbol sederhana ini, Sunan Kalijaga berhasil menyampaikan pesan dakwah yang mendalam kepada masyarakat.

Belajar Budaya Lewat Video dan Cerita

Dalam kegiatan Jelajah Budaya Islam di Nusantara, kakak shalih–shalihah terlebih dahulu diajak memahami filosofi ketupat melalui penjelasan guru dan tayangan video edukatif.

Melalui video tersebut, anak-anak melihat bagaimana ketupat dibuat dari daun kelapa yang dianyam dengan teliti. Mereka juga belajar bahwa makanan khas Lebaran ini tidak hanya ada di satu daerah, tetapi menjadi bagian dari tradisi di berbagai wilayah Indonesia.

Diskusi pun menjadi hidup. Anak-anak mulai memahami bahwa budaya dan agama bisa berjalan berdampingan untuk menyampaikan pesan kebaikan.

Tantangan Membuat Ketupat dari Pita

Setelah memahami filosofinya, kegiatan dilanjutkan dengan praktik membuat ketupat dari pita untuk kakak kelas 4 dan 5.

Sekilas terlihat mudah. Namun ketika mencoba menganyam pita menjadi bentuk ketupat, ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan.

Ada yang pita anyamannya terlepas. Ada yang bentuknya belum rapi. Ada pula yang harus mencoba berulang kali.

Namun justru di sinilah letak keseruannya.

Beberapa kakak tetap mencoba dengan penuh kesabaran. Mereka tidak mudah menyerah meskipun hasilnya belum sempurna. Pada akhirnya, hanya beberapa anak yang berhasil membuat bentuk ketupat dengan baik.

Meski begitu, semua kakak tetap mendapatkan pengalaman berharga: belajar bahwa proses membuat sesuatu membutuhkan ketekunan dan kesabaran.

Membuat Kartu Lebaran: Menebar Kebaikan

Selain membuat ketupat, kegiatan juga diisi dengan membuat kartu Lebaran.

Setiap anak mendapatkan amplop, kertas untuk menulis pesan, serta gambar hiasan berbentuk masjid yang harus digunting, diwarnai, dan ditempel.

Kartu tersebut tidak boleh diberikan kepada teman atau guru di sekolah. Sebaliknya, kartu harus diberikan kepada tetangga, orang tua, kerabat, atau orang lain di lingkungan rumah.

Tujuannya sederhana namun penuh makna: melatih anak untuk menyampaikan ucapan maaf dan doa secara langsung kepada orang-orang di sekitarnya.

Manfaat Mengirim Kartu Lebaran bagi Anak

Kegiatan membuat dan mengirim kartu Lebaran memiliki banyak manfaat bagi perkembangan anak.

  1. Menumbuhkan rasa empati dan kepedulian: Anak belajar menghargai orang lain dengan menyampaikan ucapan maaf dan doa.
  2. Melatih kreativitas: Proses menggunting, mewarnai, dan menghias kartu melatih keterampilan motorik dan kreativitas anak.
  3. Menguatkan nilai silaturahmi: Dengan memberikan kartu kepada tetangga atau kerabat, anak belajar pentingnya menjaga hubungan baik dengan orang lain.
  4. Menanamkan nilai kerendahan hati: Tradisi meminta maaf saat Lebaran mengajarkan anak untuk berani mengakui kesalahan.
  5. Menghidupkan tradisi positif: Di era digital, kartu Lebaran menjadi cara sederhana untuk menghadirkan sentuhan personal yang hangat.

Belajar Budaya, Memahami Makna

Kegiatan Jelajah Budaya Islam di Nusantara bukan hanya tentang mengenal ketupat atau membuat kerajinan tangan. Lebih dari itu, kegiatan ini mengajak anak memahami bahwa budaya dapat menjadi sarana untuk menyampaikan nilai-nilai Islam.

Dari ketupat, anak belajar tentang mengakui kesalahan dan saling memaafkan.
Dari membuat kartu Lebaran, anak belajar tentang silaturahmi dan berbagi kebaikan.

Tradisi yang tampak sederhana ternyata menyimpan pesan yang sangat dalam.

Dan dari kegiatan kecil seperti ini, kakak shalih–shalihah belajar bahwa menjadi Muslim bukan hanya tentang menjalankan ibadah, tetapi juga tentang menjaga budaya kebaikan yang diwariskan para ulama dan pendahulu kita.

Semoga dari kegiatan ini tumbuh generasi yang tidak hanya mencintai agamanya, tetapi juga bangga dengan kekayaan budaya Islam di Nusantara.*** (CM-MRT)

Cerita Ramadan Bermakna 2026: Berbagi Pengalaman Puasa dari Finlandia & Inggris

Cerita Ramadan Bermakna 2026: Berbagi Pengalaman Puasa dari Finlandia & Inggris

Ramadan selalu menghadirkan cerita yang berbeda bagi setiap orang. Ada yang menjalani Ramadan dengan suasana kampung halaman yang hangat, ada pula yang merasakannya di negeri yang jauh dari tanah air.

Hal inilah yang menjadi tema menarik dalam kegiatan CERANA (Cerita Ramadan Bermakna) 2026 yang diselenggarakan oleh SD Islam Bintang Juara. Kegiatan ini disiarkan secara langsung melalui Instagram @sdislambintangjuara pada Sabtu, 7 Maret 2026 pukul 16.00–17.00 WIB.

CERANA sendiri sudah rutin dilakukan sejak tahun 2020, tepatnya ketika pandemi. Alhamdulillah, kegiatan ini terus berlangsung hingga tahun ini.

Cerita Ramadan Bermakna dari Kak Aleen dan Kak Khansa

Mengangkat tema “Puasa Ramadan di Dua Belahan Dunia: Pengalaman Berbeda, Semangat yang Sama”, CERANA menghadirkan dua narasumber istimewa yang pernah merasakan pengalaman menjalani Ramadan di luar negeri.

Mereka adalah Kak Khansa, yang saat ini sedang tinggal di Finlandia, serta Kak Aleen, yang pernah merasakan kehidupan di Inggris. Acara ini dipandu oleh Bu Nawang, Koordinator Litbang Yayasan Dewi Sartika, yang juga merupakan ibunda dari Kak Aleen.

Melalui obrolan santai namun penuh makna, para narasumber berbagi cerita tentang bagaimana rasanya menjalani ibadah puasa jauh dari Indonesia.

Ramadan di Negeri dengan Waktu Puasa Lebih Panjang

Salah satu hal paling menarik dari diskusi ini adalah perbedaan durasi waktu puasa.

Kak Khansa yang tinggal di Finlandia bercerita bahwa di beberapa negara Eropa, terutama di wilayah yang berada cukup jauh di utara, durasi puasa bisa lebih panjang dibandingkan di Indonesia.

Di Indonesia, umat Muslim biasanya berpuasa sekitar 13–14 jam. Namun di negara seperti Finlandia atau Inggris, durasi puasa bisa lebih lama, tergantung musim dan panjangnya waktu siang.

Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi umat Muslim yang tinggal di sana. Mereka harus tetap menjaga stamina, mengatur waktu istirahat, dan memastikan tubuh tetap kuat menjalani aktivitas sehari-hari.

Namun meskipun durasi puasanya lebih panjang, semangat menjalankan ibadah Ramadan tetap terasa. Hal ini menunjukkan bahwa ibadah puasa bukan hanya soal waktu yang dijalani, tetapi tentang niat dan keteguhan hati dalam menjalankannya.

Menu Sahur dan Berbuka yang Berbeda

CERANA juga membahas hal yang tidak kalah menarik: menu sahur dan berbuka puasa di luar negeri. Kak Khansa dan Kak Aleen berbagi cerita tentang makanan yang biasanya mereka konsumsi saat sahur dan berbuka ketika tinggal di luar negeri.

Tidak selalu ada makanan khas Ramadan seperti di Indonesia. Kadang mereka harus menyesuaikan dengan bahan makanan yang tersedia di sana.

Menu sahur bisa berupa makanan sederhana seperti roti, telur, atau makanan hangat yang mudah disiapkan. Begitu juga saat berbuka, pilihan makanan sering kali berbeda dari yang biasa dinikmati di Indonesia.

Berbeda dengan suasana di tanah air yang penuh dengan aneka takjil seperti kolak, gorengan, atau es buah. Meski begitu, pengalaman ini justru mengajarkan banyak hal, terutama tentang kesederhanaan dan rasa syukur.

Suka Duka Ramadan di Luar Negeri

Selain berbagi tentang makanan dan durasi puasa, Kak Khansa dan Kak Aleen juga menceritakan berbagai suka dan duka menjalani Ramadan di luar negeri. Salah satu tantangan terbesar adalah rasa rindu terhadap suasana Ramadan di Indonesia.

Di Indonesia, Ramadan terasa sangat meriah. Ada suara adzan dari masjid, kegiatan tadarus bersama, pasar Ramadan, hingga momen berbuka puasa bersama teman dan keluarga.

Sementara di beberapa negara non-Muslim, suasana Ramadan tidak selalu terlihat secara langsung di lingkungan sekitar. Hal ini membuat pengalaman Ramadan terasa berbeda.

Namun di sisi lain, pengalaman tersebut juga memberikan pelajaran berharga tentang menjaga semangat ibadah meskipun berada di lingkungan yang berbeda.

Ramadan di Indonesia Lebih Seru

Dalam sesi CERANA tersebut, Kak Khansa dan Kak Aleen juga berbagi pendapat yang menarik. Menurut mereka, menjalani Ramadan di Indonesia terasa lebih seru.

Salah satu alasannya adalah karena banyak teman dan lingkungan yang sama-sama menjalankan ibadah puasa. Suasana kebersamaan ini membuat Ramadan terasa lebih hidup dan menyenangkan.

Selain itu, di Indonesia mereka juga bisa menikmati berbagai makanan favorit saat berbuka puasa. Mulai dari aneka takjil hingga makanan khas yang sering menjadi bagian dari tradisi Ramadan di Indonesia.

Hal-hal sederhana seperti berbuka bersama keluarga atau bermain dengan teman-teman setelah tarawih menjadi kenangan yang sangat berharga.

Nah, buat Ayah Bunda dan kakak shalih-shalihah yang Sabtu lalu tertinggal menonton live-nya, silakan bisa menonton siaran ulangnya di sini:

CERANA: Belajar dari Cerita, Menguatkan Makna Ramadan

Kegiatan CERANA bukan sekadar acara berbagi cerita. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi sarana edukasi bagi siswa untuk memahami bahwa Ramadan dijalani oleh umat Muslim di berbagai belahan dunia dengan pengalaman yang berbeda-beda.

Melalui cerita Kak Khansa dan Kak Aleen, para penonton belajar bahwa meskipun kondisi lingkungan, cuaca, dan budaya berbeda, semangat menjalankan ibadah Ramadan tetap sama.

Puasa mengajarkan kesabaran, rasa syukur, dan kekuatan hati untuk menjalankan perintah Allah SWT di mana pun kita berada.

Menumbuhkan Perspektif Global Sejak Dini

Kegiatan seperti CERANA juga membantu siswa memiliki wawasan global sejak usia dini.

Mereka tidak hanya belajar tentang Ramadan dari lingkungan sekitar, tetapi juga memahami bagaimana umat Muslim di berbagai negara menjalankan ibadah yang sama.

Dengan cara ini, anak-anak dapat belajar menghargai perbedaan sekaligus memperkuat identitas mereka sebagai bagian dari umat Muslim di dunia.

Ramadan yang Menghubungkan Umat Muslim di Seluruh Dunia

Pada akhirnya, CERANA 2026 mengingatkan kita bahwa Ramadan adalah bulan yang menyatukan umat Muslim di seluruh dunia.

Meskipun berada di negara yang berbeda, dengan cuaca yang berbeda, dan durasi puasa yang berbeda, tujuan ibadahnya tetap sama. Semua umat Muslim berusaha menjalankan puasa dengan penuh keikhlasan dan harapan untuk meraih keberkahan.

Dari Finlandia hingga Inggris, dari Indonesia hingga berbagai penjuru dunia lainnya; semangat Ramadan selalu menghadirkan makna yang sama: mendekatkan diri kepada Allah SWT.*** (CM-MRT)

Sehari Bersama Al-Qur’an: Menumbuhkan Generasi Qurani Sejak Dini

Sehari Bersama Al-Qur’an: Menumbuhkan Generasi Qurani Sejak Dini

Pekan terakhir sebelum pembagian rapor tengah semester dua selalu menjadi waktu yang dinanti oleh kakak shalih–shalihah di SD Islam Bintang Juara. Biasanya, pekan ini diisi dengan program Leadership Journey, sebuah rangkaian kegiatan pembelajaran yang dirancang untuk menumbuhkan karakter kepemimpinan, kemandirian, dan kedewasaan pada anak.

Namun kali ini terasa berbeda. Kalender menunjukkan bahwa pekan tersebut bertepatan dengan bulan Ramadan—bulan yang penuh keberkahan. Maka kegiatan Leadership Journey pun disesuaikan dengan nuansa Ramadan.

Hari pertama, Senin, 9 Maret 2026, dibuka dengan kegiatan istimewa bernama SBQ (Sehari Bersama Al-Qur’an). Tujuannya sederhana tetapi sangat mendalam:

mengajak kakak shalih–shalihah lebih dekat dengan Al-Qur’an, bukan hanya membaca, tetapi juga memahami, merasakan, dan menumbuhkan kecintaan terhadap kitab suci umat Islam itu.

Sehari Bersama al-Qur’an dalam Tiga Bentuk Berbeda

Agar kegiatan lebih fokus dan sesuai dengan tahap perkembangan anak, SBQ dibagi menjadi tiga titik kegiatan berdasarkan jenjang kelas.

Kelas 1 & 2: Mengenal Makna Surah Al-Qadr

Di ruang kelas 2A dan 2B, kakak kelas 1 dan 2 berkumpul bersama Pak Ali. Suasana terasa hangat dan penuh semangat.

Pak Ali memulai kegiatan dengan mengajak anak-anak mengenal salah satu surah yang sangat istimewa dalam Al-Qur’an, yaitu Surah Al-Qadr. Dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, kakak shalih–shalihah diajak memahami makna turunnya Al-Qur’an pada malam Lailatul Qadr.

Pak Ali menjelaskan bahwa malam Lailatul Qadr adalah malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Anak-anak mendengarkan dengan penuh perhatian, membayangkan betapa besarnya keutamaan malam tersebut.

Setelah memahami maknanya, kegiatan dilanjutkan dengan penyimakan bacaan salat. Kakak dipanggil satu per satu untuk menemui guru mengaji. Di sana, bacaan salat mereka disimak dengan teliti.

Kegiatan ini sangat penting. Karena membaca Al-Qur’an dan bacaan salat dengan benar merupakan fondasi ibadah seorang Muslim sejak kecil. Anak-anak belajar memperbaiki tajwid, pelafalan huruf, dan kelancaran membaca.

Dari ruang kelas sederhana itu, proses kecil sedang terjadi: menanamkan cinta Al-Qur’an sejak dini.

Kelas 3 & 4: Mengenal Keutamaan Tilawah Al-Qur’an

Sementara itu di ruang kelas 3A dan 3B, kakak kelas 3 dan 4 mengikuti sesi bersama Pak Solekan. Kegiatan dimulai dengan membahas 10 keutamaan membaca Al-Qur’an (tilawah).

Dengan gaya penyampaian yang penuh semangat, Pak Solekan menjelaskan bahwa membaca Al-Qur’an bukan sekadar ibadah biasa. Ia memiliki keutamaan yang luar biasa, di antaranya:

  1. Mendapat ketenangan hati
  2. Mendapat 10 kebaikan untuk setiap huruf yang dibaca
  3. Menghilangkan sifat iri dan dengki
  4. Mendapat syafaat di hari akhir
  5. Dimasukkan ke surga oleh Allah SWT
  6. Menjadi sebaik-baik manusia
  7. Akan ditemani malaikat
  8. Mendapat dua pahala bagi orang yang belajar membaca Al-Qur’an; pahala membaca al-Qur’an dan pahala tekad belajar
  9. Diangkat derajatnya oleh Allah
  10. Dijauhkan dari siksa kubur dan api neraka

Kakak shalih–shalihah tampak kagum mendengar betapa besar keutamaan membaca Al-Qur’an.

Namun pembelajaran tidak berhenti di sana. Pak Solekan kemudian mengenalkan seni membaca Al-Qur’an atau An-Naghom fil Quran—teknik memperindah suara saat tilawah. Anak-anak diajak memahami bahwa membaca Al-Qur’an juga bisa dilakukan dengan irama yang indah tanpa mengubah makna.

Beliau menjelaskan sejarah munculnya seni membaca Al-Qur’an, yang dipengaruhi oleh budaya syair dalam tradisi Arab serta berbagai perkembangan sejarah Islam.

Anak-anak kemudian diperkenalkan dengan beberapa jenis ragam lagu dalam tilawah, di antaranya:

  • Lagu Bayyati
  • Lagu Shoba
  • Lagu Hijjazi

Melalui video contoh, kakak shalih–shalihah mendengarkan bagaimana setiap lagu memiliki nuansa yang berbeda. Setelah itu, mereka diajak mencoba menirukan irama tersebut.

Ruang kelas pun berubah menjadi tempat belajar yang penuh semangat. Ada yang masih malu-malu, ada yang mulai berani mencoba. Semua belajar memperindah bacaan Al-Qur’an dengan cara yang menyenangkan.

Kelas 5 & 6: Muhasabah dan Refleksi Diri

Di titik ketiga, kakak kelas 5 dan 6 mengikuti sesi bersama Pak Zaki. Kegiatan dimulai dengan sebuah pengingat yang sangat mendalam: bersyukur atas nikmat usia. Pak Zaki mengajak kakak shalih–shalihah merenungkan waktu yang telah Allah berikan.

  • Apakah waktu itu sudah digunakan dengan baik?
  • Apakah fasilitas yang Allah berikan sudah dimanfaatkan untuk kebaikan?

Pertanyaan-pertanyaan itu mengajak anak-anak melakukan muhasabah diri.

Pak Zaki juga mengingatkan bahwa saat belajar agama atau menuntut ilmu (tholabul ilmi), yang paling utama adalah memperbaiki diri sendiri sebelum memperbaiki orang lain.

Dalam sesi ini, kakak juga dikenalkan dengan empat golongan manusia yang dirindukan oleh surga, yaitu:

  • Ahli Al-Qur’an (orang yang rajin membaca Al-Qur’an)
  • Orang yang menjaga lisannya
  • Orang yang memberi makan kepada orang lapar
  • Orang yang berpuasa di bulan Ramadan

Pak Zaki menjelaskan bahwa orang yang membaca Al-Qur’an dengan penuh keyakinan akan mendapatkan pertolongan dari Al-Qur’an itu sendiri. Bahkan disebutkan bahwa orang yang khatam Al-Qur’an di bulan Ramadan akan didoakan oleh 60.000 malaikat.

Sebagai penutup, Pak Zaki mengajak kakak shalih–shalihah untuk menjadi orang yang bertakwa—yaitu mereka yang menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, baik ketika sendirian maupun di tengah keramaian.

Kegiatan kemudian ditutup dengan membaca Surah Yasin bersama-sama, menghadirkan suasana yang khusyuk dan penuh ketenangan.

Menumbuhkan Generasi Qurani Sejak Dini

Kegiatan Sehari Bersama Al-Qur’an bukan sekadar agenda Ramadan. Kegiatan ini adalah upaya membangun fondasi spiritual anak-anak sejak usia dini. Melalui SBQ, kakak shalih–shalihah belajar bahwa Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca saat pelajaran agama.

Al-Qur’an adalah pedoman hidup. Mereka belajar membaca dengan benar. Belajar memahami makna. Belajar merasakan kedekatan dengan firman Allah.

Dari ruang-ruang kelas sederhana itu, benih-benih generasi Qurani sedang ditanam. Generasi yang hatinya dekat dengan Al-Qur’an. Generasi yang menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya dalam hidupnya.

Karena ketika anak-anak tumbuh bersama Al-Qur’an, insyaAllah mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang kuat, berakhlak mulia, dan mampu memberi manfaat bagi umat.***

Ramadan Leadership Camp 2026: Dua Hari Membentuk Calon Pemimpin Muslim

Ramadan Leadership Camp 2026: Dua Hari Membentuk Calon Pemimpin Muslim

Suasana sore di halaman SD Islam Bintang Juara terasa berbeda pada Jumat, 6 Maret 2026. Para kakak shalih dan shalihah datang dengan ransel kecil di punggung, wajah penuh antusias, dan rasa penasaran tentang pengalaman yang akan mereka jalani.

Hari itu bukan sekadar kegiatan sekolah biasa. Mereka akan mengikuti Ramadan Leadership Camp (RLC) 2026, sebuah program yang selalu menjadi salah satu momen paling dinanti setiap Ramadan.

Selama dua hari, Jumat–Sabtu (6–7 Maret 2026), para siswa akan menjalani serangkaian kegiatan yang dirancang untuk menumbuhkan nilai kepemimpinan, kemandirian, tanggung jawab, serta kedekatan dengan Allah SWT.

Bukan hanya belajar di kelas, tetapi belajar melalui pengalaman langsung.

Pembukaan Ramadan Leadership Camp yang Penuh Makna

Kegiatan Ramadan Leadership Camp diawali dengan pembukaan acara yang hangat dan penuh makna. Para peserta menyaksikan berbagai penampilan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengandung pesan-pesan kebaikan.

Di sinilah suasana kebersamaan mulai terasa. Kakak shalih-shalihah duduk bersama, saling menyimak, dan menikmati setiap penampilan yang mengingatkan bahwa Ramadan adalah bulan yang penuh keberkahan.

Kegiatan pembukaan ini menjadi pengantar untuk perjalanan dua hari yang sarat nilai.

Kebersamaan dalam Iftar Jama’i

Menjelang magrib, suasana semakin khidmat ketika seluruh peserta bersiap untuk iftar jama’i atau berbuka puasa bersama.

Di momen ini, para siswa belajar tentang kebersamaan dan kesederhanaan. Mereka duduk bersama teman-teman, menunggu waktu berbuka sambil saling berbagi cerita.

Ketika adzan magrib berkumandang, wajah-wajah ceria langsung tampak. Mereka berbuka dengan penuh rasa syukur, menyadari bahwa nikmat sederhana seperti segelas air dan makanan berbuka adalah karunia dari Allah SWT.

Setelah berbuka, kegiatan dilanjutkan dengan shalat magrib berjamaah, yang menjadi pengingat bahwa Ramadan adalah waktu terbaik untuk memperkuat ibadah.

Menghidupkan Malam dengan Ibadah

Malam hari di Ramadan Leadership Camp diisi dengan berbagai kegiatan spiritual yang menenangkan hati.

Para peserta melaksanakan shalat Isya dan Tarawih berjamaah, kemudian dilanjutkan dengan tadarus Al-Qur’an bersama. Suara lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar dari berbagai sudut ruangan, menciptakan suasana yang khusyuk dan damai.

Bagi sebagian anak, ini mungkin menjadi pengalaman pertama merasakan kebersamaan dalam ibadah malam seperti ini.

Namun justru di situlah nilai pembelajaran muncul; mereka belajar bahwa ibadah tidak selalu dilakukan sendirian, tetapi juga bisa menjadi pengalaman yang menguatkan ketika dilakukan bersama.

Qiyamul Lail di Sepertiga Malam

Ketika malam semakin larut dan sebagian orang masih terlelap, kegiatan Ramadan Leadership Camp justru memasuki salah satu momen paling istimewa.

Sekitar pukul 02.30 dini hari, kakak shalih-shalihah dibangunkan untuk melaksanakan qiyamul lail.

Meskipun rasa kantuk masih terasa, para peserta tetap berusaha bangkit. Mereka berwudhu, kemudian berdiri bersama dalam shalat malam.

Di waktu yang sunyi itu, mereka belajar satu hal penting: kedekatan dengan Allah sering kali dimulai dari langkah kecil yang penuh kesungguhan.

Setelah qiyamul lail, kegiatan dilanjutkan dengan sahur bersama. Suasana sahur terasa hangat dan penuh kebersamaan. Anak-anak saling bercanda ringan sambil menikmati hidangan sahur.

Pagi pun ditutup dengan shalat subuh berjamaah, menandai awal hari baru yang penuh semangat.

Pagi yang Enerjik dan Menguatkan

Ketika matahari mulai terbit, para peserta menyambut hari dengan senam bersama. Gerakan-gerakan ringan membuat tubuh kembali segar setelah malam yang penuh aktivitas ibadah.

Kegiatan fisik ini menjadi cara menyenangkan untuk mengawali pagi sekaligus menjaga kesehatan selama menjalankan ibadah puasa.

Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan kajian yang menguatkan iman dan karakter.

Kajian dibagi ke dalam beberapa forum sesuai jenjang kelas.

1. Da’i Cilik dari Palestina (Kelas 1–2)

Untuk kakak kelas 1 dan 2, mereka mengikuti sesi inspiratif bersama Da’i Cilik dari Palestina. Dalam sesi ini, anak-anak diajak memahami nilai keberanian, keteguhan iman, dan semangat untuk mencintai Al-Qur’an sejak usia dini.

Cerita-cerita yang disampaikan menjadi inspirasi bagi anak-anak untuk tetap semangat belajar dan beribadah.

2. Forum Ar Rijal (Kelas 3–6)

Sementara itu, kakak shalih kelas 3 hingga 6 mengikuti Forum Ar Rijal, sebuah sesi diskusi yang menanamkan nilai-nilai kepemimpinan, tanggung jawab, serta peran laki-laki sebagai pemimpin yang amanah.

Dalam forum ini, para peserta diajak memahami bahwa menjadi pemimpin bukan hanya tentang memimpin orang lain, tetapi juga mampu memimpin diri sendiri.

3. Forum An Nisa (Kelas 3–6)

Untuk kakak shalihah kelas 3 hingga 6, kegiatan berlangsung dalam Forum An Nisa.

Forum ini memberikan ruang bagi para siswi untuk belajar tentang peran perempuan muslimah yang kuat, cerdas, dan berakhlak mulia.

Diskusi-diskusi yang berlangsung membantu mereka memahami bahwa perempuan juga memiliki peran penting dalam membangun masyarakat yang lebih baik.

Testimoni Orang Tua: Pengalaman yang Membentuk Karakter

Kegiatan Ramadan Leadership Camp tidak hanya memberikan kesan bagi para peserta, tetapi juga dirasakan manfaatnya oleh para orang tua.

Salah satu testimoni datang dari Bunda Kak Fahri, yang menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat bagi anak-anak.

Menurut beliau, kegiatan seperti ini membantu anak-anak belajar tentang kedisiplinan, tanggung jawab, serta pembentukan karakter sebagai calon pemimpin Muslim.

Bagi orang tua, melihat anak-anak tumbuh dengan nilai-nilai positif seperti ini tentu menjadi kebahagiaan tersendiri. Tentu ini selaras dengan tema yang diangkat pada RLC tahun ini; Aktif Membangun Karakter Positif di Bulan Ramadan.

Menanamkan Nilai Kepemimpinan Sejak Dini

Ramadan Leadership Camp bukan sekadar kegiatan bermalam di sekolah.

Setiap aktivitas yang dilakukan—mulai dari berbuka bersama, shalat berjamaah, hingga kajian kepemimpinan—dirancang untuk menanamkan nilai-nilai penting dalam kehidupan anak.

Melalui pengalaman ini, kakak shalih-shalihah belajar tentang:

  • Kepemimpinan, dengan memahami tanggung jawab terhadap diri sendiri dan orang lain
  • Kedisiplinan, melalui jadwal kegiatan yang teratur
  • Kemandirian, saat menjalani berbagai aktivitas bersama teman-teman
  • Kebersamaan, dalam setiap ibadah dan kegiatan yang dilakukan bersama
  • Akhlak mulia, yang menjadi dasar karakter seorang Muslim

Bagi Ayah Bunda yang penasaran seperti apa sih rangkaian kegiatan di Ramadan Leadership Camp 2026, silakan bisa menyimak video berikut:

Ramadan: Bukan Hanya Menahan Diri, Tapi Membentuk Diri

Dua hari mungkin terasa singkat, tetapi pengalaman yang dirasakan selama Ramadan Leadership Camp meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta.

Langkah-langkah kecil yang mereka lakukan; bangun di sepertiga malam, berdiri dalam shalat, membaca Al-Qur’an, dan belajar bersama—perlahan membentuk karakter mereka.

Karena sejatinya, Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus. Ramadan adalah tentang melatih hati, membentuk diri, dan menumbuhkan generasi yang siap menjadi pemimpin masa depan.

Dan melalui kegiatan seperti Ramadan Leadership Camp, benih-benih kepemimpinan itu mulai tumbuh dalam diri kakak shalih-shalihah di SD Islam Bintang Juara.*** (CM-MRT)

Kultum Ramadan: Cara Calon Pemimpin Muslim Belajar Berdakwah

Kultum Ramadan: Cara Calon Pemimpin Muslim Belajar Berdakwah

Ramadan selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Udara terasa lebih tenang. Hati lebih mudah tersentuh. Di tengah suasana penuh keberkahan itu, ada satu kegiatan rutin yang menjadi momen istimewa bagi kakak shalih–shalihah di SD Islam Bintang Juara: kultum Ramadan.

Bukan ustaz atau guru yang selalu berdiri di depan. Bukan pula tamu khusus dari luar sekolah. Justru anak-anak sendiri yang maju menyampaikan pesan kebaikan.

Setiap hari selama Ramadan, dua anak secara bergantian menyampaikan kultum (kuliah tujuh menit) di depan kelas. Sederhana, singkat, tetapi sarat makna.

Dari Rasa Gugup Menjadi Berani

Suatu pagi suasana kelas sedikit berbeda. Di depan, seorang kakak berdiri dengan membawa secarik kertas kecil. Wajahnya terlihat tegang, tetapi matanya penuh tekad.

Ia menarik napas pelan. Mengucapkan salam. Lalu mulai berbicara tentang pentingnya menjaga lisan saat berpuasa. Teman-temannya menyimak dengan tenang.

Mungkin kalimatnya belum sempurna. Mungkin intonasinya belum sepenuhnya mantap. Tetapi keberaniannya melangkah ke depan adalah langkah besar. Di sinilah proses pembentukan karakter terjadi.

Kultum Ramadan, Belajar Berdakwah Sejak Dini

Kultum Ramadan bukan sekadar agenda pengisi waktu sebelum pelajaran dimulai. Ia adalah ruang latihan untuk menjadi calon pemimpin Muslim.

Karena pemimpin bukan hanya tentang memimpin organisasi atau kelompok. Pemimpin adalah mereka yang mampu menyampaikan kebaikan, memberi teladan, dan menginspirasi orang lain.

Melalui kultum, kakak shalih–shalihah belajar:

  • Menyusun materi sederhana
  • Memahami isi pesan yang akan disampaikan
  • Melatih keberanian berbicara di depan umum
  • Mengelola rasa gugup
  • Menyampaikan dakwah dengan santun

Topik yang diangkat pun beragam dan dekat dengan kehidupan anak-anak: keutamaan puasa, pentingnya salat tepat waktu, menjaga akhlak, bersedekah, hingga menghormati orang tua.

Satu Hari, Dua – Empat Dai Cilik Menunjukkan Talentanya

Setiap hari, dua anak mendapat giliran menyampaikan kultum. Sistem bergiliran ini memastikan semua anak memiliki kesempatan yang sama untuk belajar tampil dan berdakwah.

Ada yang memilih membaca teks, ada pula yang mulai berani berbicara tanpa melihat catatan. Prosesnya bertahap, sesuai dengan kesiapan masing-masing anak.

Guru mendampingi dan memberikan arahan agar materi sesuai dengan pemahaman usia mereka. Dakwah yang disampaikan bukan dalam bahasa berat, melainkan dengan bahasa yang sederhana, membumi, dan mudah dipahami teman sebaya.

Manfaat Kultum Ramadan bagi Anak

Kegiatan ini memiliki banyak manfaat, baik secara spiritual maupun keterampilan hidup.

  1. Melatih Public Speaking Sejak Dini: Berbicara di depan kelas melatih kepercayaan diri. Anak belajar mengatur suara, intonasi, dan bahasa tubuh.
  2. Menguatkan Pemahaman Agama: Ketika anak menyiapkan materi kultum, ia tidak hanya membaca, tetapi juga memahami isi pesan. Proses ini memperdalam pemahaman agama.
  3. Menanamkan Jiwa Kepemimpinan: Pemimpin adalah mereka yang mampu memberi pengaruh positif. Dengan kultum, anak belajar memengaruhi teman-temannya dalam kebaikan.
  4. Membiasakan Berdakwah dengan Santun: Anak belajar bahwa menyampaikan kebaikan tidak harus keras. Bisa dengan lembut, penuh senyum, dan penuh hikmah.
  5. Menguatkan Karakter Tanggung Jawab: Saat mendapat giliran, anak bertanggung jawab mempersiapkan materi. Ia belajar disiplin dan menghargai kesempatan.

Dakwah yang Tumbuh dari Hati

Yang paling indah dari kegiatan ini adalah melihat bagaimana pesan kebaikan tidak hanya berhenti di depan kelas.

Seorang anak yang menyampaikan tentang pentingnya menjaga lisan, kemudian terlihat lebih berhati-hati dalam berbicara. Anak yang membahas sedekah, mulai lebih ringan berbagi.

Dakwah bukan lagi teori. Ia menjadi praktik. Kultum Ramadan menjadi ruang latihan kecil untuk membangun kebiasaan besar.

Membentuk Generasi yang Siap Memimpin

Di masa depan, anak-anak ini akan tumbuh menjadi bagian dari masyarakat. Sebagian mungkin menjadi guru, pengusaha, profesional, atau pemimpin di berbagai bidang.

Namun yang lebih penting, mereka adalah Muslim yang memiliki tanggung jawab menyebarkan kebaikan. Latihan kultum sejak dini adalah investasi karakter. Anak belajar bahwa berbicara itu bukan sekadar menyampaikan kata, tetapi membawa pesan.

Ramadan di SD Islam Bintang Juara bukan hanya tentang menahan lapar dan haus. Ia menjadi sekolah kepemimpinan.

Melalui kultum:

  • Anak belajar berdiri tegak.
  • Anak belajar menyampaikan kebenaran.
  • Anak belajar bertanggung jawab atas kata-katanya.

Dan mungkin, dari ruang kelas sederhana itu, sedang tumbuh dai, pemimpin, dan penggerak kebaikan masa depan.

Karena calon pemimpin Muslim tidak lahir secara instan. Mereka dilatih, dibimbing, dan diberi kesempatan untuk belajar—bahkan dari tujuh menit yang penuh keberanian.*** (CM-MRT)

Bukan Sekadar Hari Biasa! Ini Ragam Kegiatan Jumat di SD Islam Bintang Juara

Bukan Sekadar Hari Biasa! Ini Ragam Kegiatan Jumat di SD Islam Bintang Juara

Bagi sebagian orang, Jumat mungkin hanya penutup pekan sekolah. Namun di SD Islam Bintang Juara, Jumat justru menjadi hari istimewa—hari pembentukan karakter, penguatan kebiasaan baik, dan ruang bagi potensi untuk tumbuh.

Setiap pekan, kegiatan Jumat dilakukan secara bergantian. Beda pekan, beda kegiatan. Anak-anak pun selalu menanti dengan antusias, “Hari ini Jumat apa?”

Rangkaian Kegiatan Jumat di SD Islam Bintang Juara

Empat program utama mengisi rangkaian Hari Jumat di sekolah ini: Jumat Literasi, Jumat Sehat, Jumat Bersih, dan Bintang Juara Bersinar. Masing-masing bukan sekadar kegiatan rutin, tetapi bagian dari pembelajaran hidup.

1. Jumat Literasi: Menantang Pikiran, Menguatkan Nalar

Suasana kelas terasa lebih hening dari biasanya. Di tangan kakak shalih–shalihah bukan hanya buku bacaan, tetapi juga lembar tantangan literasi numerasi.

Dalam Jumat Literasi, anak-anak diajak mengikuti beragam tantangan yang mengasah kemampuan membaca, memahami informasi, berpikir kritis, hingga memecahkan masalah numerasi. Tidak selalu dalam bentuk soal tertulis. Kadang berupa teka-teki logika, permainan kata, analisis cerita pendek, atau tantangan menghitung berbasis kehidupan sehari-hari.

Misalnya, kakak diminta membaca sebuah cerita lalu menemukan pesan moralnya. Atau memecahkan persoalan sederhana yang berkaitan dengan perbandingan, pengukuran, hingga pengolahan data ringan.

Manfaat Jumat Literasi tidak hanya pada peningkatan kemampuan akademik. Anak-anak belajar:

  • Memahami informasi dengan cermat
  • Berpikir runtut dan logis
  • Meningkatkan konsentrasi
  • Menguatkan daya analisis

Di era banjir informasi seperti sekarang, kemampuan literasi dan numerasi adalah bekal penting agar anak tidak sekadar menerima informasi, tetapi mampu memahaminya dengan bijak.

2. Jumat Sehat: Menumbuhkan Cinta pada Gaya Hidup Sehat

Pekan berikutnya, suasana Jumat berubah menjadi lebih segar. Anak-anak datang membawa bekal sehat dari rumah—buah potong, sayur rebus, salad sederhana, atau makanan bernutrisi lainnya.

Dalam Jumat Sehat, kakak shalih–shalihah diajak membangun kebiasaan hidup sehat sejak dini. Mereka duduk bersama, menikmati bekal yang dibawa, dan saling berbagi cerita tentang manfaat makanan sehat.

Guru juga mengingatkan pentingnya gizi seimbang: karbohidrat, protein, vitamin, mineral, dan serat. Anak-anak belajar bahwa makanan bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang energi dan kesehatan tubuh.

Selain itu Jumat Sehat juga bisa diisi dengan senam pagi bersama seluruh siswa dari kelas 1 – 6 bersama ibu bapak guru.

Manfaat Jumat Sehat sangat terasa:

  • Membiasakan pola makan sehat
  • Mengurangi konsumsi makanan instan berlebihan
  • Meningkatkan kesadaran gizi
  • Menguatkan kebersamaan saat makan bersama
  • Membiasakan berolahraga

Anak-anak yang terbiasa membawa dan menikmati bekal sehat cenderung lebih sadar terhadap pilihan makanannya. Anak yang sudah terbiasa berolahraga sejak kecil juga akan lebih mudah membiasakan olahraga di masa dewasanya. Kebiasaan kecil ini bisa menjadi fondasi gaya hidup sehat hingga dewasa.

3. Jumat Bersih: Menanamkan Kepedulian dan Tanggung Jawab

Ada Jumat yang diisi dengan suara sapu menyapu halaman, kain lap yang membersihkan meja, dan tawa ringan saat bekerja bersama.

Dalam Jumat Bersih, kakak shalih–shalihah membersihkan area sekolah—kelas, halaman, taman, dan sudut-sudut yang perlu dirapikan. Kegiatan ini bukan sekadar kerja bakti, tetapi bagian dari pendidikan karakter.

Anak belajar bahwa kebersihan bukan hanya tugas petugas kebersihan. Lingkungan yang nyaman adalah tanggung jawab bersama.

Dari Jumat Bersih, anak-anak mendapatkan banyak pelajaran:

  • Tanggung jawab terhadap lingkungan
  • Kerja sama tim
  • Kepedulian terhadap fasilitas bersama
  • Disiplin menjaga kebersihan

Ketika anak terbiasa menjaga lingkungan sekolah, diharapkan kebiasaan itu terbawa hingga ke rumah dan masyarakat.

4.  Bintang Juara Bersinar: Ruang untuk Unjuk Bakat

Ada Jumat yang terasa lebih meriah. Panggung sederhana disiapkan. Wajah-wajah penuh percaya diri maju satu per satu.

Dalam program Bintang Juara Bersinar, setiap kelas mendapatkan giliran untuk menampilkan bakat dan potensi terbaiknya. Ada yang membaca puisi, menyanyi, menari, bermain musik, bercerita, hingga menampilkan karya kreatif lainnya.

Kegiatan ini memberi ruang bagi setiap anak untuk bersinar sesuai keunikan masing-masing. Tidak semua anak unggul di bidang akademik, tetapi setiap anak memiliki potensi.

Manfaat Bintang Juara Bersinar sangat besar:

  • Meningkatkan rasa percaya diri
  • Melatih keberanian tampil di depan umum
  • Mengasah kreativitas
  • Menghargai bakat teman

Anak belajar bahwa setiap orang punya kelebihan. Tugas kita bukan membandingkan, tetapi mengembangkan potensi diri sebaik mungkin.

Jumat yang Mendidik Sepenuh Hati: Beda Pekan, Beda Pengalaman

Keempat kegiatan ini dilakukan secara bergantian. Satu pekan bisa diisi Jumat Literasi, pekan berikutnya Jumat Sehat, lalu Jumat Bersih, dan seterusnya.

Pergantian ini membuat anak-anak tidak bosan. Mereka belajar bahwa pembentukan karakter tidak dilakukan dalam satu cara saja, melainkan melalui beragam pengalaman.

Hari Jumat di SD Islam Bintang Juara bukan sekadar pengisi jadwal. Ia adalah ruang tumbuh.

  • Melalui literasi, anak menguatkan akal.
  • Melalui pola hidup sehat, anak menjaga kesehatan tubuh.
  • Melalui kebersihan, anak membentuk tanggung jawab.
  • Melalui panggung bakat, anak menemukan percaya diri.

Pendidikan sejati bukan hanya soal nilai rapor, tetapi tentang kebiasaan baik yang terus ditanamkan.

Karena pada akhirnya, yang diharapkan bukan hanya anak yang cerdas secara akademik, tetapi juga sehat, peduli, dan berani bersinar sesuai potensi yang Allah titipkan.***